Anda di halaman 1dari 49

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Asuhan Prenatal


Hampir satu abad sejak kemunculannya, asuhan antenatal menjadi salah satu
pelayanan kesehatan paling sering di Amerika Serikat. Pada 2001, terdapat hampir
50 juta kunjungan antenatal-nilai median adalah 12,3 kunjungan tiap kehamilan-
dan seperti diperlihatkan dalam gambar 8-1, banyak wanita memiliki jumlah 17
atau lebih kunjungan. Lebih dari 83 persen wanita memulai asuhan antenatal
dalam trimester pertama, dan semua, kecuali 1,1 persen menerima asuhan
antenatal. Dalam dekade terakhir, waktu asuhan antenatal terbesar terdapat di
antara kelompok minoritas. Faktor risiko atau komplikasi obstetrik dan medis
yang signifikan dikenali dalam asuhan antenatal. Banyak dari komplikasi ini
bersifat mengancam.

2.1.1 Definisi
Asuhan prenatal atau yang juga dikenal dengan antenatal care adalah
program asuhan sepanjang masa kehamilan yang melibatkan pendekatan medis
dan dukungan psikososial yang optimal sejak perkonsepsi dan berlangsung
sepanjang masa kehamilan.
Pengertian lain yang biasanya diberikan kepada ibu hamil yaitu asuhan pada
ibu hamil dan janin selama masa kehamilan dengan tujuan memastikan keduanya
sehat sampai masa persalinan.

2.1.2 Tujuan
Tujuan dari asuhan prenatal adalah untuk mempersiapkan sebaik mungkin
kehamilan, persalinan dan melahirkan bayi hidup dan sehat tanpa adanya
komplikasi, menentukan dan menangani faktor resiko, menentukan tingkat asuhan
secara individu, membantu ibu hamil dalam persiapan melahirkan dan mengasuh
anaknya, skrining terhadap penyakit-penyakit yang mempengaruhi kesehatan ibu
dan anak yang dikandungnya, menerapkan gaya hidup sehat kepada ibu hamil dan
keluarganya.

3
2.1.3 Asuhan prenatal yang kurang memadai
Sistem yang umum dikerjakan untuk mengukur kecukupan asuhan antenatal
adalah indeks Kessner. Seperti diperlihatkan pada tabel 8-2, indeks ini
menggabungkan informasi dari ketiga bagian yang ada pada sertifikat lahir : lama
kehamilan, waktu kunjungan antenatal pertama, dan jumlah kunjungan. Walaupun
indeks mengukur kuantitas asuhan lebih baik dibandingkan jumlah atau waktu
kunjungan sendiri-sendiri, indeks tersebut tidak mengukur kualitas asuhan.

Tabel 2.1 Kriteria Index Kessner

Hal yang serupa, indeks tidak mempertimbangkan risiko relatif ibu. Selain
batasan ini, indeks tersebut tetap merupakan indeks pengukur yang berguna untuk
kecukupan asuhan antenatal. Menggunakan indeks Kessner, Pusat Nasional untuk
Statistik Kesehatan menyimpulkan bahwa 12 persen wanita Amerika yang
melahirkan pada 2000 menerima asuhan antenatal yang tidak adekuat.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit menganalisa sertifikat lahir
tahun 1989 sampai 1997 dan menyimpulkan bahwa separuh wanita yang
terlambat atau tidak mendapat asuhan antenatal sebenarnya menginginkan

4
perawatan lebih dini. Alasan untuk asuhan antenatal yang tidak adekuat
bermacam-macam karena faktor kelompok sosial dan etnik, usia, dan metode
pembayaran. Alasan yang paling sering adalah bahwa wanita tersebut tidak
mengetahui dirinya sedang mengandung. Alasan paling sering kedua adalah tidak
memiliki cukup biaya atau asuransi untuk asuhan tersebut. Ketiga adalah
ketidakmampuan mendapatkan perjanjian pemeriksaan.

2.1.3 Efektifitas Asuhan Antenatal


Dalam beberapa dekade terakhir, beberapa telah menyimpulkan bahwa
asuhan antenatal tidak bermanfaat, dan bahkan merugikan. Dalam sebuah tinjauan
ulang, Fiscella tidak menemukan adanya bukti kesimpulan bahwa asuhan
antenatal meningkatkan hasil kelahiran. Kekhawatiran peneliti lain meningkat
mengenai efektifitas asuhan antenatal karena pada 1980an dan 1990an, ketika
penerapan asuhan antenatal meningkat, angka berat badan lahir rendah dan lahir
prematur meningkat di Amerika Serikat.
Sebaliknya, Herbst dkk. menemukan bahwa kegagalan mendapatkan asuhan
antenatal berhubungan dengan meningkatnya risiko kelahiran prematur. Schramm
membandingkan keuntungan dan kerugian asuhan antenatal dari 12.000 pasien
Medicaaid di Missouri pada 1988. Ia menemukan bahwa untuk setiap 1$
digunakan untuk asuhan antenatal, merekan menabung jira-kira 1,49$ untuk bayi
dan biaya post partum. Vintzileos dkk. meneliti data tahun 1995 sampai 1997 dari
Pusat Nasional untuk Statistik Kesehatan untuk mengukur hubungan antara
asuhan antenatal dan risiko kematian janin. Mereka menemukan bahwa asuhan
antenatal berhubungan dengan angka kematian janin, yaitu 2,7 dari 1000
dibandingkan dengan 14,1 dari 1000 wanita tanpa asuhan antenatal. Pernyataan
yang berbeda, kegagalan mendapat asuhan antenatal meningkatkan risiko
stillbirth. Vintzileos dkk. kemudian melaporkan asuhan antenatal secara signifikan
menurunkan angka kematian neonatus yang berhubungan dengan beberapa
kondisi risiko tinggi, termasuk plasenta previa, pertumbuhan janin terhambat, dan
kehamilan postterm. Mereka juga menemukan bahwa asuhan antenatal
berhubungan dengan kelahiran prematur yang lebih sedikit.

5
Harus diingat juga bahwa asuhan antenatal dirancang pada awal 1900an
yang difokuskan untuk menurunkan insidensi kematian ibu yang tinggi. Tidak
diragukan bahwa asuhan antenatal berperan menurunkan mortalitas ibu dari 690
tiap 100.000 kelahiran pada 1920 menjadi 50 tiap 100.000 pada 1955. Angka
mortalitas ibu saat ini sekitar 8 tiap 100.000, diperkirakan berhubungan dengan
tingginya penerapan asuhan antenatal. Pada penelitian berbasis populasi di
Carolina Utara, Harper dkk menemukan bahwa risiko kehamilan berhubungan
dengan kematian ibu menurun pada penerima asuhan antenatal.
Secara logis, efektifitas asuhan antenatal tidak dapat dipisahkan dengan
penemuan lain. Pada edisi ketujuh Williams Obstetrics, asuhan antenatal
dirancang sebagai bagian dari program wanita hamil. Walaupun dalam konteks
ini, asuhan antenatal bukan sebuah akhir, namun merupakan langkah awal untuk
mengatur asuhan intrapartum dan postpartum yang sering memanjang sampai
kehidupan lanjut seorang wanita.

2.2 Prosedur Asuhan Prenatal


American Academy of Pediatrics dan American College of Obstetricians
and Gynecologists mendefinisikan asuhan antenatal sebagai berikut: "Suatu pro-
gram perawatan antepartum komprehensif yang melibatkan pendekatan terpadu
perawatan medis dan dukungan psikososial yang secara optimal dimulai sebelum
konsepsi dan meluas ke periode antepartum". Isi dari perawatan komprehensif
semacam ini mencakup penilaian selama :
a. Masa prakonsepsi
b. Diagnosis kehamilan
c. Kunjungan awal perawatan kehaMilan
d. Selama kunjungan tindak-lanjut prenatal.
Masing-masing komponen ini dibahas dalam bagian berikut :
1. Perawatan Prakonsepsi
Karena kesehatan selama kehamilan tergantung pada kesehatan
sebelum kehamilan, secara logika perawatan prakonsepsi harus menjadi
bagian integral dari asuhan antenatal. Sebuah program perawatan
komprehensif prakonsepsi memiliki potensi membantu wanita dengan

6
mengurangi risiko, meningkatkan gaya hidup sehat, dan meningkatkan
persiapan kehamilan.
2. Diagnosis Kehamilan
Diagnosis kehamilan biasanya dimulai ketika seorang wanita datang
dengan gejala, dan kemungkinan hasil tes urin di rumah positif. Biasanya,
wanita mengkonfirmasi human chorionic gonadotropin (hCG) dengan tes
air seni atau darah. Terdapat banyak dugaan atau temuan diagnostik
kehamilan pada pemeriksaan. Ultrasonografi sering digunakan, terutama
dalam kasus di mana ada pertanyaan tentang kelangsungan atau lokasi dari
kehamilan.
a. Tanda dan Gejala
Beberapa temuan klinis dan gejala klinis dapat menunjukkan awal
kehamilan
1) Berhentinya menstruasi
Menstruasi yang tiba-tiba berhenti pada wanita usia
reproduksi sehat yang sebelumnya telah mengalami menstruasi
spontan, siklus, prediksi menstruasi merupakan perkiraan
kehamilan. Terdapat variasi dalam perkiraan panjang siklus ovum,
siklus menstruasi di antara wanita, dan bahkan pada wanita yang
sama. Walau demikian, tidak adanya menstruasi bukan merupakan
indikasi yang dapat diandalkan dari kehamilan sampai 10 hari atau
lebih setelah waktu yang diperkirakan untuk menstruasi. Ketika
masa menstruasi kedua terlewat, kemungkinan hamil lebih besar.
Perdarahan dari uterus terkadang dapat memberi kesan terjadi
menstruasi setelah konsepsi. Satu atau dua episode dari adanya
sekret darah, terkadang dapat keliru dengan menstruasi, hal ini
tidak jarang selama pertengahan awal kehamilan. Episode seperti
ini merupakan episode fisiologis dan kemungkinan konsekuensi
dari implantasi blastocyst.
2) Perubahan pada mukus serviks
Jika mukus serviks diaspirasi, diletakkan pada kaca objek,
dapat kering dalam beberapa menit, dan kemudian diperiksa

7
dengan mikroskop, bentuk karakteristik yang tampak tergantung
pada tahap siklus ovum dan ada atau tidaknya kehamilan. Pada hari
ke-7 sampai hari ke-18 dari siklus menstruasi, terdapat bentuk
seperti daun pakis dari mukus serviks yang kering. Setelah hampir
hari ke 21, pola yang berbeda yaitu bentuk manik-manik atau
selular. Pola ini juga biasanya ditemui selama kehamilan.
Kristalisasi dari lendir, yang diperlukan untuk produksi dari
bentuk daun pakis, tergantung pada peningkatan konsentrasi
sodium klorida. Konsentrasi ini, menunjukkan ada atau tidaknya
dari bentuk daun pakis ditentukan oleh serviks. Secara khusus,
mukus serviks relatif kaya sodium klorida daripada estrogen, tetapi
tidak dengan progesteron, selalu diproduksi. Sekresi progesteron
bahkan tanpa pengurangan sekresi estrogen segera untuk
menurunkan konsentrasi sodium klorida ke level yang ferning tidak
akan terjadi. Selama kehamilan, progesteron biasanya mempunyai
efek yang sama, meskipun jumlah estrogen yang dihasilkan besar.
Dengan demikian, jika berlebihan mukus tipis hadir dan jika
bentuk daun pakis mengembangkan pada pengeringan, awal
kehamilan adalah tidak mungkin.

Gambar 2.1 Mikroskop Elektron Lendir Cervix Pada Hari


Ke 11 Siklus Menstruasi

8
Gambar 2.2 Fotomikrograph Lendir Mukosa Yang Mengering
Pada Wanita Hamil 32-33 Minggu.

3) Perubahan pada payudara


Secara umum, perubahan anatomi pada dada yang merupakan
ciri kehamilan selama kehamilan pertama. Hal ini kurang jelas
pada multipara, payudara mungkin berisi sejumlah kecil bahan
susu atau kolostrum pada bulan atau tahun setelah kelahiran anak
terakhir mereka, terutama jika ASI merupakan pilihan.
4) Pewarnaan pada mucosa vagina
Selama kehamilan, yang biasanya muncul mucosa vagina
berwarna biru tua atau merah tua dan kongesti, yang disebut tanda
Chadwick. Bentuk sepeti ini merupakan dugaan kehamilan, tetapi
tidak pasti.
5) Perubahan kulit
Peningkatan pewarnaan pigmen dan perubahan dalam bentuk
strie pada abdomen adalah wajar, namun bukan merupakan
diagnosis kehamilan, mungkin juga tidak ada selama kehamilan,
bisa juga didapatkan pada wanita yang menggunakan kontrasepsi
estrogen-progestin.
6) Perubahan pada uterus
Selama beberapa minggu pertama kehamilan, peningkatan
ukuran uterus prinsipnya adalah diameter anteroposterior. Pada
bulan ke-12, uterus hampir bulat, dan rata-rata uterus mencapai
diameter 8 cm. Pada pemeriksaan bimanual, uterus selama

9
kehamilan terasa seperti adonan atau elastis dan kadang-kadang
menjadi sangat lembut. Sekitar 6 sampai 8 minggu usia gestasi,
pemeriksaan bimanual cervix adalah lebih kontras dimana sekarang
lebih lembut, ini adalah tanda Hegar. Pada kenyataannya,
pemeriksaan dapat salah jika menyimpulkan bahwa cervix
merupakan uterus kecil, dan bahwa fundus yang lembut merupakan
massa adneksa.
7) Perubahan dalam serviks
Pada serviks bertambahnya kelembutan atau elastis
merupakan tanda kemajuan kehamilan. Pada primigravida,
konsistensi dari jaringan serviks lebih mirip dengan bibir dari
mulut dibandingkan dengan tulang rawan hidung yang merupakan
karakteristik dari nonpregnansi serviks. Kondisi lainnya, seperti
pada kontrasepsi estrogen-progestin, dapat menyebabkan
pelembutan serviks. Pada kehamilan berlangsung, kanalis serviks
melebar sehingga ujung jari dapat masuk.
8) Denyut jantung janin
Denyut jantung janin yang dapat dideteksi dengan auskultasi
dengan standar nonamplified stetoskop yaitu pada minggu ke-17
dan minggu ke-19 pada hampir semua kehamilan pada perempuan
nonobesitas. Denyut jantung janin berkisar 110-160 denyut/ menit
dan terdengar suara ganda. Karena janin bergerak bebas dalam
cairan amnion pada perut ibu dimana variasi denyut jantung janin
dapat didengar paling baik. Dengan ultrasonografi Doppler sering
digunakan untuk mendeteksi bunyi jantung dengan mudah. Denyut
jantung janin dapat terdeteksi pada minggu ke-10 dengan peralatan
Doppler. Menggunakan real-time sonography dengan vaginal
probe, denyut jantung didengar pada minggu ke-5 amenorrhea.
Pada kehamilan bulan berikutnya, maka pemeriksa mungkin sering
mendengar suara lainnya, yang paling umum di antaranya adalah :
tali pusat "soepel.", uterin "soepel.", suara yang dihasilkan dari
gerakan janin, denyut jantung janin dan suara dari ibu yaitu gerak
peristaltik usus.

10
Funic souffle yang disebabkan oleh gerakan darah melalui
arteri umbilicalis suaranya dapat menyerupai dengan denyut
jantung janin. sehingga tidak mendengar secara konsisten, bahkan
dalam satu kehamilan. Souffle uterine adalah lembut, suaranya
terdengar sama dengan denyut jantung ibu. Biasanya terdengar
paling dekat pada bagian portio uterus. Ini adalah suara yang
dihasilkan oleh aliran darah melalui dilatasi uterus. Hal ini juga
dapat terdengar pada aliran darah yang sangat meningkat,
misalnya, myoma uterus atau tumor ovarium. Sering kali, denyut
ibu dapat didengar khas pada auskultasi dari perut, pada beberapa
wanita denyut aorta luar biasa keras. Ada kalanya denyut dari ibu
menjadi begitu cepat untuk menstimulasikan denyut jantung janin.
9) Persepsi gerakan janin
Persepsi ibu terhadap gerakan janin tergantung pada faktor-
faktor seperti paritas dan habitus. Secara umum, setelah kehamilan
pertama yang berhasil, seorang wanita pertama bisa merasakan
gerakan janin antara 16 dan 18 minggu. Pada primigravida
mungkin tidak merasakan gerakan janin sampai kira-kira 2 minggu
kemudian (18 sampai 20 minggu). Pada sekitar 20 hari, maka
pemeriksaan dapat dimulai untuk mendeteksi gerakan janin.
10) Tes Kehamilan
Deteksi dari hCG dalam darah dan air seni ibu merupakan
dasar kelenjar endokrin pada tes kehamilan. Hormon ini
merupakan hormon glycoprotein dengan kandungan karbohidrat
yang tinggi. Merupakan molekul heterodimer terdiri dari dua
subunit berbeda-beda, dan . Pada -subunit sama dengan
luteinizing hormon (LH), follicle-stimulating hormon (FSH), dan
merangsang thyroid-stimulating hormon (TSH).
HCG mencegah involusi dari korpus luteum, merupakan
prinsip bentuk progesteron selama 6 minggu pertama. Sel
trophoblast memproduksi hCG dalam jumlah yang besar
merupakan pemasukan eksponensial berikut. Dengan tes sensitif,
hormon yang dapat dideteksi dalam plasma ibu atau urine pada 8

11
sampai 9 hari setelah ovulasi. merupakan dua kali lipat dari
konsentrasi plasma hCG adalah 1,4-2,0 bulan. Meningkat saat hari
implantasi dan mencapai puncaknya pada tingkat sekitar 60 hingga
70 hari. Setelah itu, konsentrasi berkurang perlahan sampai
mencapai titik terendah adalah sekitar minggu 14-16.
11) Pengukuran HCG
Dengan pengakuan bahwa LH dan hCG, keduanya terdiri dari
-subunit dan -subunit, tetapi -subunit merupakan struktur
subunit berbeda, antibodi dikembangkan dengan spesifik tinggi
untuk -subunit dari hCG. Ketegasan ini merupakan dasar dari
deteksi HCG dalam darah atau urin. Sejumlah immunoassays
komersial yang tersedia untuk mengukur serum dan air seni pada
tingkat hCG, masing-masing sedikit berbeda manfaatnya berbeda
pada setiap kombinasi antibodi. Meskipun deteksi yang sedikit
berbeda dari hormon campuran, merupakan subunit bebas, atau
metabolit, semua immunoassays sesuai untuk tes kehamilan
normal. Salah satu teknik yang umum digunakan untuk mendeteksi
dari HCG adalah jenis sandwich immunoassay.
Tes ini menggunakan monoklonal antibodi terhadap -subunit
yang terikat pada tahap yang solid. Terikat antibodi dengan hCG
dalam serum atau contoh air seni. Kedua antibodi ini kemudian
ditambahkan ke "sandwich" yang terikat HCG. Pada beberapa
pengujian, kedua antibodi ini berhubungan dengan enzim, yaitu
alkali phosphatase. Ketika substrat untuk enzim yang ditambahkan,
warna bertambah, intensitas yang proporsional dengan jumlah
enzim sehingga jumlah kedua antibodi terikat. Pada gilirannya,
merupakan fungsi dari jumlah HCG dalam uji sampel. Yang
sensitif pada deteksi laboratorium dari hCG dalam serum adalah
rendah 1,0 mIU/mL dengan menggunakan teknik ini, sangat
sensitif dengan immunoradiometric assays, dengan batas deteksi
bahkan lebih rendah.
False positif hasil tes HCG yang langka. Namun, beberapa
wanita mempunyai sikulasi beberapa faktor dalam serum yang

12
dapat berinteraksi dengan antibodi hCG. Yang paling umum adalah
antibodi heterophilic, yang ditujukan terhadap antibodi manusia
berasal antigen hewan yang digunakan dalam immunoassays.
Wanita yang bekerja dekat dengan hewan lebih besar untuk
terjadinya antibodi heterophilic. American College of Obstetricians
and Gynecologists menyarankan laboratorium alternatif jika
antibodi heterophilic yang dicurigai.
12) Tes Kehamilan di Rumah
Pada tahun 1999, sekitar 19 juta lebih tes kehamilan yang
dijual di Amerika Serikat, dengan penjualan sekitar $ 230 juta.
Bastian dkk menyebutka bahwa hasil evaluasi dari 16 rumah untuk
tes kehamilan, dimana hanya lima kriteria yang ditemukan.
Pengujian yang telah dilakukan oleh para relawan, menunjukkan
91 persen sensitivitas.. Penting, sebenarnya pasien yang diperoleh
hanya 75 persen sensitivitas. Cole dkk juga mempertanyakan
keperluan dari rumah uji. Mereka menemukan bahwa batas deteksi
12,5 mIU / mL akan diperlukan untuk mendiagnosa 95 persen dari
kehamilan pada saat terlambat menstruasi. Dalam kajian terhadap
akurasi dari 18 rumah tes kehamilan, mereka juga menemukan
bahwa hanya satu merek yang memiliki tingkat sensitivitas. Dua
merek lain memberikan keterangan palsu atau tidak sah hasil
positif. Sebenarnya, hasil positif yang diberikan hanya 44 persen
dari merek pada hCG konsentrasi 100 mIU/mL tes ini hanya
mampu mendeteksi tingkat yang diharapkan untuk
mengidentifikasi hanya sekitar 15 persen dari kehamilan pada saat
terlambat menstruasi.
13) Ultrasonik Pada Kehamilan
Penggunaan transvaginal sonography telah mengalami
revolusi gambar mulai dari awal kehamilan serta pertumbuhan dan
perkembangannya. Gestational sac dapat dilihat dengan abdominal
sonography setelah 4 sampai 5 minggu usia kehamilan. 35 hari,
normal kantung kehamilan harus terlihat, dan setelah 6 minggu,
denyut jantung harus terdeteksi.

13
Gambar 2.3 USG Abdomen Yang Menunjukan Kantung
Kehamilan Usia 4-5 Minggu

3. Pemeriksaan Prenatal Awal


Asuhan prenatal seyogyanya dimulai segera setelah diperkirakan
terjadi kehamilan. Perawatan ini dapat dilakukan dalam beberapa hari
setelah terlambat menstruasi. Tujuan utama tindakan ini adalah
menentukann status kesehatan ibu dan janin, menentukan usia gestasi janin
dan memulai rencana untuk melanjutkan perawatan obstetrik.
a. Rekam Medis Prenatal
Dalam sistem perawatan kesehatan perinatal, pemakaian rekam medis
prenatal yang standar sangat membantu penatalaksanaan antepartum
dan intrapartum. Berikut beberapa definis penting untuk
mengahasilkan rekam medik prenatal adalah :
1) Primipara adalah seorang wanita yang pernah sekali melahirkan
janin (-janin) yang mencapai viabilitas. Dengan demikian
penghentian kehamilan setelah tahap abortus memberikan paritas
bagi wanita yang bersangkutan.
2) Mutipara adalah seorang wanita yang pernah dua kali atau lebih
hamil samapi usia viabilitas. Paritas ditentukan oleh jumlah
kehamilan yang mencapai viabilitas bukan jumlah janin yang
dilahirkan.

14
3) Nuligravida adalah seorang wanita yang saat ini tidak sedang atau
tidak pernah hamil.
4) Gravida adalah seorang wanita yang sedang atau pernah hamil,
apapun hasil kehamilannya.
5) Nulipara adalah seorang wanita yang belum pernah menyelesaikan
kehamilannya melebihi usia 20 minggu. Ia mungkin pernah hamil
atau belum pernah mengalami abortus (-abortus) elektif atau
spontan.
6) Parturien adalah seorang wanita yang sedang melahirkan
7) Puerpera adalah seorang wanita yang baru melahirkan.
b. Durasi Normal Kehamilan
Durasi rerata kehamilan yang dihitung dari hari pertama
menstruasi terakhir adalah sekitar 280 hari atau 40 minggu. Biasanya
perkiraan tanggal persalinan diperoleh dengan menambahkan 7 hari ke
hari pertama menstruasi terakhir dan menghitung mundur 3 bulan
(rumus Naegle).
Biasanya kehamilan dibagi menjadi tiga trimester setara yang
masing-masing berlangsung selama 3 bulan kalender. Secara historis
trimester pertama berlangsung sampai selesainya minggu ke-14,
trimester kedua sampai minggu ke-28 dan trimester ketiga mencakup
minggu ke-29 sampai 42 kehamilan. Trimester dapat diperoleh dengan
membagi 42 menjadi tiga periode yang masing-masing lamanya 14
minggu.
c. Anamnesis
Anamneses yang cermat terhadap wanita hamil juga merupakan
hal yang penting. Anamnesis yang dilakukan tanpa tergesa-gesa dan
dalam lingkungan yang tersendiri untuk menghasilkan hubungan
personal yang baik merupakan hal penting untuk memperoleh hasil
maksimal. Informasi terinci mengenai riwayat obstetris sebelumnya,
apabila ada sangatlah penting karena banyak penyulit yang terjadi pada
kehamilan sebelumnya cenderung kambuh pada kehamilan berikutnya.

15
Riwayat menstruasi sangatlah penting. Wanita yang mengalami
menstruasi secara spontan dan teratur setiap sekitar 28 hari
kemungkinan besar berovulasi pada pertengahan daur. Usia gestasi
(usia menstruasi) secara langsung menjadi jumlah minggu setelah
menstruasi terakhir. Apabila daur menstruasinya secara bermakna lebih
lama daripada 28 sampai 30 hari, maka ovulasi lebih besar
kemungkinannya terjadi jauh setelah setelah 14 hari, atau apabila
interval terlalu lama dan tidak teratur maka kemungkinan besar
sebagian dari episode-episode perdarahan vagina yang diidentifikasi
sebagai menstruasi didahului oleh anovulasi kronik. Tanpa menstruasi
yang teratur, spontan, siklik dan dapat diperkirakan yang
mengisyaratkan siklus ovulatorik maka usia kehamilan yang akurat
sulit ditentukan dengan pemeriksaan fisik.
d. Penapisan Psikososial
American College of Obstetrician and Gynocologist telah
mengkaji pentingnya penapisan psikososial selama asuhan prenatal.
Badan ini menyimpulkan bahwa membahas masalah psikososial
merupakan langkah penting untuk memperbaiki kesehatan wanita dan
hasil akhir kehamilan.
Tabel 2.2 Pertanyaan Penapisan Prenatal Psikososial
1. Apakah anda masalah yang menghambat anda melakukan kunjungan
perawatan kesehatan
2. Seberapa sering anda pindah tempat tinggal dalam 12 bulan terakhir? 0
123>
3. Apakah anda merasa tidak aman di tempat tinggal anda?
4. Apakah anda atau anggota keluarga anda tidur dalam keadaan lapar?
5. Dalam 2 bulan terakhir, apakah anda pernah menggunakan salah satu
bentuk olahan tembakau?
6. Dalam 2 bulan terakhir, apakah anda menggunakan obat atau alcohol
(termasuk bir, anggur atau minuman campuran)?
7. Dalam tahun sebelumnya apakah ada orang yang memukul atau
mencoba melukai anda?
8. Bagaimana anda menggambarkan tingkat stress yang sedang anda
alamai, rendah atau tinggi?
9. Jika anda dapat mengubah waktu kehamilan ini, apakah anda
menginginkannya lebih awal, belakangan, tidak ingin hamil sama
sekali, atau tidak ingin mengubahnya sama sekali?
e.Merokok selama kehamilan

16
Ibu yang merokok mempunyai risiko dua kali lipat terjadinya
plasenta previa dan ketuban pecah dini dibandingkan dengan bukan
perokok. Selanjutnya, bayi yang lahir dari ibu yang merokok sekitar 30
persen mungkin untuk dilahirkan prematur, berat rata-rata setengah
pon lebih dan sampai tiga kali lebih mungkin untuk meninggal karena
sindrom kematian bayi mendadak (SIDS) dibandingkan bayi yang lahir
dari bukan perokok (Center foe disease, control and prevention, 2007).
Penghentian merokok antar waktu kehamilan berkaitan dengan
penurunan risiko rekurensi persalinan prematur. Upaya penghentian
merokok yang paling sukses selama kehamilan melibatkan intervensi
yang menekankan bagaimana untuk menghentikan. Salah satu contoh
adalah sesi 5-langkah yang berlangsung 15 menit atau kurang di mana
penyedia: (1) Menanyakan tentang status merokok; (2) Sarankan
orang-orang yang merokok untuk berhenti, (3) Menilai kesediaan
untuk berhenti dalam 30 hari ke depan, (4) Membantu pasien untuk
tertarik dengan menyediakan bahan swadaya kehamilan yang spesifik
dan (5) Mengatur tindak lanjut kunjungan untuk melacak kemajuan
(American College of Obstetricians dan Gynecologists, 2005b).
f. Alkohol dan obat terlarang selama kehamilan
Etanol adalah teratogen potensial dan dapat menyebabkan
sindrom alkohol pada janin yang ditandai dengan restriksi
pertumbuhan, kelainan wajah dan disfungsi sistem saraf pusat. Wanita
yang sedang hamil
atau mempertimbangkan kehamilan harus menjauhkan diri dari
menggunakan minuman beralkohol. Penggunaan tersebut secara
substantif tidak dilaporkan pada kelahiran sertifikat-kurang dari 1
persen wanita dilaporkan penggunaan alkohol selama kehamilan pada
tahun 2001 (Martin dan koleganya, 2002b). Menurut Centers for
Disease control and prevention (2002a), sekitar 13 persen dari wanita
hamil menggunakan alkohol pada tahun 1999. Diperkirakan bahwa 10
persen dari janin yang terkena satu atau lebih obat-obatan terlarang
(American Academy of Pediatrics dan American College of

17
Obstetricians dan Gynecologists, 2007). Agen mungkin termasuk
heroin dan opiat lainnya, kokain, amfetamin, barbiturat dan ganja.
Penggunaan kronis dalam jumlah besar berbahaya bagi janin.
g. Penapisan Kekerasan dalam rumah tangga
Kekerasan dalam rumah tangga jangka biasanya mengacu pada
kekerasan terhadap perempuan remaja dan dewasa dalam konteks
keluarga atau hubungan intim. Demikian kekerasan telah semakin
diakui sebagai masalah kesehatan publik utama. Sayangnya, sebagian
besar perempuan korban kekerasan terus menjadi korban selama
kehamilan.
Dengan kemungkinan pengecualian dari preeklamsia, kekerasan
dalam rumah tangga yang lebih menonjol daripada kondisi medis
utama terdeteksi melalui pemeriksaan kehamilan rutin (American
Academy of Pediatrics dan American College of Obstetricians dan
Gynecologists, 2007). Prevalensi selama kehamilan adalah
diperkirakan antara 4 dan 8 persen. Kekerasan pasangan intim
dikaitkan dengan peningkatan risiko dari sejumlah hasil perinatal yang
merugikan termasuk kelahiran prematur, gangguan pertumbuhan janin
dan perinatal kematian. The American College of Obstetricians dan
Gynecologists (2006) telah memberikan metode skrining untuk
kekerasan dalam rumah tangga dan merekomendasikan
penggunaannya pada kunjungan prenatal pertama, kemudian paling
tidak sekali per trimester dan diulang pada kunjungan postpartum.
h. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik yang dilakukan yaitu penentuan tinggi badan,
berat badan, tekanan darah, pemeriksaan fisik lengkap (head to toe).
Pemeriksaan tinggi badan dilakukan pada kunjungan prenatal awal.
Pemeriksaan berat badan dicatat pada tiap kunjungan. Jika berat badan
berlebih atau kurang dari perkiraan sesuai masa kehamilan
dipertimbangkan untuk intervensi untuk makan ibu. Pemeriksaan
tekanan darah dilakukan pada kunjungan prenatal awal dan diperiksa
pada tiap kunjungan. Perlu dipertimbangkan adanya kemungkinan

18
penyakit hipertensi dalam kehamilan jika didapatkan tekanan sistolik
140 mmHg, tekanan darah diastolik 90 mmHg atau peningkatan
sistolik 30 mmHg, peningkatan tekanan darah diastolik 15 mmHg.
Perlu dilakukan pemeriksaan protein uri jika didapatkan keadaan
tersebut. Pemeriksaan fisik lengkap termasuk mammae perlu dilakukan
pada kunjungan prenatal awal
i. Pemeriksaan obstetris
Pemeriksaan obsteri yang dilakukan meliputi denyut jantung
janin, tinggi fundus uteri, posisi janin, pemeriksaan pelvis,
pemeriksaan cervix.
Penentuan denyut jantung janin dilakukan pada usia kehamilan
16-19 minggu dengan stetoskop DeLee atau 12 minggu dengan
Doptone dan diperiksa setiap kunjungan. Beberapa hal yang
mempengaruhi antara lain ukuran tubuh pasien dan kemampuan
mendengar pemeriksa. Denyut jantung janin dapat didengar pada usia
kehamilan 20 minggu pada 80% wanita. Pada usia kehamilan 21
minggu, denyut jantung janin dapat terdengan pada 95% wanita dan
pada usia kehamilan 22 minggu telah dapat didengar pada seluruh
wanita. Jika pada pemeriksaan pada kunjungan awal tidak didapatkan
denyut jantung janin perlu ditentukan lagi usia kehamilan.
Pemeriksaaan NST ( non-stress test ) dilakukan pada usia kehamilan
41 minggu sebanyak 2x/ minggu selain menghitung jumlah cairan
amnion dengan USG. Jika didapatkan hasil NST non reaktif, perlu
dilakukan pemeriksaan profil biofisik dan USG untuk menentukan
denyut jantung janin, gerakan janin, pergerakan nafas janin, dan
volume cairan amnion.
Pemeriksaan tinggi fundus uteri dan pertambahannya perlu
dilakukan sejak usia kehamilan 20-32 minggu. Hal ini karena
pengukuran tinggi fundus uteri sesuai dengan usia kehamilan dalam
minggu. Hal yang perlu diketahui yaitu untuk selalu mengosongkan
kandung kemih sebelum pengukuran karena dapat mengakibatkan
penambahan tinggi fundus uteri.1,9). Tinggi fundus uteri ternyata

19
dipengaruhi oleh usia kehamilan dan karakteristik ibu meliputi berat
ibu, paritas dan jenis kelamin janin.
Pemeriksaan posisi janin dilakukan pada usia kehamilan 32
minggu dan pada kunjungan selanjutnya. Jika letak terendah bukanlah
puncak kepala, pemeriksaaan USG untuk mengkonfirmasi posisi dan
menentukan volume cairan amnion perlu dilakukan.
Penentuan usia kehamilan merupakan hal yang penting pada
kunjungan prenatal awal. Penentuan usia kehamilan dapat dilakukan
dengan (1) menentukan dari hari pertama haid terakhir dan
pemeriksaan tinggi fundus uteri yang berurutan, (2) dengan USG jika
usia kehamilan tidak dapat dipastikan dengan cara (1) serta hasil
penghitungan dengan HPHT dan ukuran uterus tidak sesuai atau jikan
kunjungan awal lebih dari trimester pertama.
j. Tes Laboratorium
The Institute of Medicine merekomendasikan kebijakan nasional
penapisan universal untuk human immunodeficiency virus (HIV)
disertai pemberitahuan kepada pasien sebagai bagian rutin dari
perawatan prenatal. Jika seorang wanita menolak pemeriksaan, maka
hal ini harus dicatat dalam rekam medis prenatal. Semua wanita hamil
juga harus diskrining untuk virus hepatitis B.
Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan pada kinjungan
prenatal awal yaitu pemeriksaan hemogloin (hematokrit), urinalisis,
kultur urin, golongan darah, Rhesus, skrining antibodi, skrining PMS
yaitu sifilis dan rubella, pemeriksaaan HbsAg, dan skrining diabetes.
Pemeriksaaan hemoglobin dilakukan pada kunjungan awal dan diulang
sekali lagi setelah 24 minggu untuk menyingkirkan kemungkinan
terjadinya anemia pada kehamilan. Jikan nilai Hb 10 g/dL dan
dikatehui adanya risiko hemoglobinopati maka suplemetasi zat besi
(60-120 mg/hari) harus dilakukan, Urinalisis dan kultur urin perlu
dilakukan untuk menegakkan adanya kemungkinan infeksi saluran
kemih sehingga dapat ditangani dengan antibiotoka yang tepat.
Pemeriksaan golongan darah dan rhesus dilakukan untuk memikirkan

20
kemungkinan adanya isoimunisasi rhesus. Skrining PMS dilakukan
pada kunjungan prenatal awal dan diulangi pada usia kehamilan 36
minggu pada pasien dengan risiko tinggi yaitu riwayat infeksi
sebelumnya, partner seks baru atau lebih dari satu.
k. Kehamilan risiko tinggi
Dalam penetalaksanaan kehamilan, terdapat beberapa kategori utama
yang memiliki risiko tinggi serta dapat diidentifikasi dan diberi
perhatian yang sesuai. Kategori tersebut adalah :
1) mengidap penyait diabetes.
2) Riwayat kehamilan sebelumnya buruk, misalnya kematian
perinatal, persalinan prematur, gangguan pertumbuhan janin,
malformasi, gangguan plasenta atau perdarahan ibu.
3) Tanda-tanda malnutrisi pada ibu.
4. Kunjungan Prenatal Selanjutnya
b. Kunjungan ulang
Secara tradisional penentuan waktu pemeriksaan prenatal selanjutnya
dijadwalkan setiap interval 4 sampai 28 minggu dan kemudian setiap
2 minggu sampai 36 minggu dan setelah itu setiap minggu. Wanita
dengan kehamilan tanpa penyulit jumlah kunjungan dapat lebih sedikit
dan sebaliknya wanita dengan kehamilan penyulit sering memerlukan
kunjungan ulang setiap 1 sampai 2 minggu.
c. Bunyi Jantung Janin
Pada dasarnya bunyi jantung janin dapat didengar pertama kali antara
minggu ke-16 dan 19 apabila dilakukan dengan cermat menggunakan
sebuah stetoskop janin DeLee. Kemampuan untuk mendengar bunyi
denyut jantung janin tanpa amplifikasi akan bergantung pada beberapa
faktor termasuk ukuran pasien dan ketajaman pendengeran pemeriksa.
Herbert dkk (1987) melaporkan bahwa bunyi jantung janin sudah
dapat didengar pada minggu ke-20 pada 80 persen wanita. Pada
minggu ke-21 bunyi jantung janin sudah terdengar pada 95 persen dan
pada minggu ke-22 pada semua wanita hamil.
d. Tinggi Fundus

21
Pengukuran tinggi fundus uteri diatas simpisis dapat memberi
informasi yang bermanfaat. Jimenez dan rekan (1983) membuktikan
bahwa antara minggu ke-20 sampai 31 tinggi fundus uteri dalam
sentimeter setara dengan usia gestasi dalam minggu. Sebelum
melakukan pengukuran, kandung kemih harus dikosongkan.
e. Usia Gestasi
Salah satu hal yang penting ditentukan pada pemeriksaan
prenatal adalah perkiraan usia janin. Kita dapat mengidentifikasi hal
ini dengan presisi yang cukup baik melalui pemeriksaan klinis yang
tepat waktu dan cermat, disertai informasi tentang waktu awitan
menstruasi terakhir. Apabila tanggal ini dan tinggi fundus berulang-
ulang memperlihatkan kesesuaian waktu, maka durasi gestasi dapat
ditentukan dengan pasti. Apabila usia gestasi tidak dapat ditentukan
dengan jelas, maka sonografi mungkin sangat membantu.
Pada tahap kehamilan lebih lanjut, pengetahuan yang jelas
tentang usia gestasi mungkin sangat penting, karena dapat timbul
sejumlah penyulit kehamilan yang penanganannya bergantung pada
usia janin. Sebagai contoh, apabila terjadi preeklamsia pada usia 38
minggu, maka persalinan akan sangat bermanfaat bagi ibu maupun
janinnya. Namun, apabila durasi gestasi barn 28 minggu saat timbul
preeklamsia maka upaya konservatif dan penundaan persalinan
mungkin lebih bermanfaat.
f. Surveilans Prenatal
Pada setup kunjungan ulang, dilakukan langkah-langkah untuk
menentukan kesejahteraan ibu dan janinnya. Informasi tertentu, yang
diperoleh dari anamnesis dan pemeriksaan fisik sangatlah penting.
Tipe evaluasi termasuk :
1) Janin meliputi a) Bunyi jantung b) ukuran saat ini dan
laju perubahannya c) Jumlah cairan ketuban d) Bagian terbawah
janin dan penurunannya/ station (pada kehamilan tahap lanjut) e)
Aktivitas.
2) Ibu meliputi a) Tekanan darah saat ini dan besar
perubahannya b) Berat badan saat ini dan besar perubahannya c)

22
Gejala termasuk nyeri kepala, gangguan penglihatan, nyeri
abdomen, mual dan muntah, perdarahan, cairan dari vagina, disuria
d) Tinggi fundus dari simfisis dalam cm e) Pemeriksaan dalam
(vaginal touche) pada kehamilan tahap lanjut sering memberikan
informasi berharga f) Memastikan bagian terbawah janin g)
Penurunan bagian terbawah janin h) Perkiraan klinis kapasitas
panggul dan konfigurasi umumnya i) Konsistensi, pendataran, dan
pembukaan serviks.
g. Pemeriksaan Laboratorium Selanjutnya
Apabila hasilnya normal, maka sebagian besar pemeriksaan awal
tidak perlu diulang. Pengukuran hematokrit (atau hemoglobin) dan
serologi sifilis, apabila sering ditemukan dalam populasi, harus diulang
pada usia gestasi sekitar 8 sampai 32 minggu. Pengukuran konsentrasi
alfa-fetoprotein di dalam serum ibu pada usia gestasi 16 sampai 18
minggu (15 sampai 20 minggu dapat diterima) dianjurkan untuk
menapis kemungkinan defek tabung saraf (neural tube) terbuka dan
beberapa anomali kromosom. Pengetahuan tentang usia gestasi yang
pasti sangat penting untuk keakuratan penapisan ini.
h. Kebutuhan Prenatal Spesifik
Berbagai kebutuhan atau masalah yang spesifik bagi wanita yang
bersangkutari dapat ditemukan selama kunjungan prenatal awal apabila
kebutuhan tersebut belum ditangani selama pemeriksaan prakonsepsi.
Remaja usia sekolah menengah (11 sampai 15 tahun) berisiko tinggi
mengalami persalinan prematur serta berbagai masalah psikososial.
5. Kunjungan Prenatal Tambahan
a. Diabetes Gestasional
Bagi wanita yang berisiko mengidap diabetes gestasional, pemeriksaan
penapis dianjurkan dilakukan pada usia gestasi 24 sampai 28 minggu.
b. Chlamydia Irachomatis
Pemeriksaan universal untuk mendeteksi infeksi klamidia terhadap
semua wanita hamil tidak dianjurkan (American Academy of
Pediatrics dan American College of Obstetricians and Gynecologists,
1997). Pada wanita berisiko tinggi dari status sosioekonomi lemah, in-

23
feks pada usia gestasi 24 minggu berkaitan dengan penmgkatan
insiden persalinan prematur sebanyak dua sampai tiga kali lipat.
c. Vaginosis Bakterialis
Pemeriksaan penapis rutin untuk vaginosis bakterialis tidak dianjurkan
(American College of Obstetricians and Gynecologists, 1998a). Carey
dkk'. (2000b), dalam sebuah studi yang disponsori oleh National
Institute of Child Health and Human Development, mengambil 1953
wanita secara acak dari populasi obstetric umum dengan vaginosis
bakterialis asimtomatik untuk mendapat metronidazol dosis 2 g atau
placebo pada gestasi 16 sampai 24 minggu. Terapi tidak mengurangi
persalinan prematur. Pada uji klinis yang sama, terapi metronidazol
meningkatkan risiko persalinan prematur pada wanita dengan infeksi
trikomonas asimtomatik (Carey dkk, 2000a). Penapisan untuk
vaginosis bakterialis dapat dipertimbangkan pada wanita yang berisiko
tinggi mengalami persalinan prematur.
d. Fibronektin Janin
Pengukuran protein ini dalam cairan vagina pernah digunakan untuk
memperkirakan persalinan prematur pada wanita dengan kontraksi.
Committee on Obstetric Practice dari American College of
Obstetricians and Gynecologists (1997a) tidak merekomendasikan
penapisan rutin pada populasi obstetrik umum.
e. Streptokokus Grup B.
Eradikasi organisms ini selama persalinan secara substansial
mengurangi sepsis neonatorum awitan dini. Namun, saat ini belum ada
konsensus yang jelas mengenai penapisan biakan untuk kolonisasi
streptokokus. American College of Obstetricians and Gynecologists
Committee on Obstetrics (1996) dan Centers for Disease Control and
Prevention (1996) menganjurkan salah satu dari dua strategi. Yang
pertama adalah mengobati wanita dengan kemoprofilaksis semata--
mata berdasarkan faktor risiko tanpa melakukan penapisan pembiakan.
Yang kedua adalah melakukan penapisan biakan pada minggu ke-35
sampai 37 dan menawarkan terapi intrapartum dengan penisilin apabila
biakan positif. Di Parkland Hospital, wanita dengan faktor risiko untuk

24
infeksi neonatus oleh streptokokus grup B diberi ampisilin intravena
intrapartum dan semua bayi diberi penisilin G di kamar bersalin.
Rejimen ini berhasil mengeliminasi hampir semua infeksi streptokokus
grup B pada neonatus.
f. Penapisan Untuk Penyakit Genetik
Penapisan ini dapat ditawarkan berdasarkan riwayat keluarga atau latar
belakang etnik/ras pasangan (American College of Obstetricians and
Gynecologists, 1995b). Contoh-contohnya adalah pemeriksaan untuk
penyakit Tay-Sachs bagi keturunan Yahudi Eropa Timur atau Kanada
keturunan Perancis; talasemia-P untuk keturunan Mediterrania, Asia
Tenggara, India, Pakistan, atau Afrika; talasemia- untuk keturunan
Asia Tenggara atau Afrika dan anemia sel sabit untuk keturunan
Afrika, Mediterrania, Timur Tengah, Karibia, Amerika Latin atau
India. Penapisan untuk fibrosis kistik dapat ditawarkan kepada mereka
yang memiliki riwayat keluarga mengidap penyakit ini.

2.3 Nutrisi
Pertambahan berat ibu selama kehamilan memang mempengaruhi berat
lahir bayi. Abrams dan Laros (1986) mempelajari efek pertambahan berat ibu
terhadap berat lahir pada 2946 kehamilan dengan persalinan aterm. Hanya delapan
wanita tidak mengalami pertambahan berat. Dilakukan analisis regresi multipel
untuk mengendalikan faktor usia ibu, ras, paritas, status sosioekonomi, konsumsi
rokok dan usia gestasi. Pertambahan berat ibu mempengaruhi berat lahir, wanita
yang beratnya kurang melahirkan bayi yang lebih kecil sedangkan yang
sebaliknya berlaku pada wanita yang berat badannya berlebih. Rerata
pertambahan berat ibu selama kehamilan adalah 33 lb (15 kg). Temuan penting
dalam studi ini adalah bahwa pertambahan berat tampaknya tidak merupakan
syarat bagi pertumbuhan janin pada wanita kegemukan.
Pada tahun 1998 sebagian besar wanita (64 persen) bertambah 26 lb (sekitar
12 kg) atau lebih selama hamil. Median pertambahan berat adalah 30,5.1b,
(sekitar 14 kg). Pertambahan berat ibu memiliki korelasi positif dengan berat
lahir, dan wanita yang berisiko paling besar melahirkan bayi berat lahir rendah
(<2500 g) adalah mereka yang pertambahan beratnya kurang dari 16 lb (sekitar 7

25
kg). Memang benar, 1 dari 7 wanita yang pertambahan beratnya kurang dari 16 lb
melahirkan bayi yang beratnya kurang dari 2500 g, insiden ini adalah 1 dari 5
pada wanita Amerika Afrika.
1. Rekomendasi Pertambahan Berat
Selama paruh pertama abad ke-20, pertambahan berat yang
direkomendasikan selama kehamilan dibatasi sampai di bawah 20 lb (9,1
kg). Saat itu dianggap bahwa restriksi ini dapat mencegah timbulnya
hipertensi dalam kehamilan dan makrosomia janin yang menyebabkan
harus dilakukannya seksio sesarea. Namun pada tahun 1970an, wanita
dianjurkan untuk menambah beratnya paling sedikit 25 lb (11,4 kg) untuk
mencegah kelahiran prematur dan gangguan pertumbuhan janin. pada
tahun 1990, Institute of Medicine merekomendasikan pertambahan berat
25 sampai 35 lb (11,5 sampai 16 kg) untuk wanita dengan indeks massa
tubuh/IMT (body mass index, BMI) prahamil normal.
Tidak semua pertambahan berat yang terjadi selama kehamilan
hilang selama atau segera setelah persalinan (Hytten, 1991). Wanita
normal yang bertambah sebanyak 12,5 kg (27,5 lb) selama hamil memiliki
berat 4,4 kg (9 lb) lebih besar daripada berat prahamil sewaktu ia pulang
pascapartum. Schauberger dkk. (1992) meneliti berat prenatal dan
postnatal pada 795 wanita yang melahirkan di Wiscousin. Rata-rata
pertambahan berat adalah 13,0 + 4,8 kg (28,6 + 10,6 lb). Sebagian besar
penurunan berat ibu (sekitar 5,5 kg atau 12,1 lb) terjadi saat persalinan dan
dalam 2 minggu berikutnya (sekitar 4 kg atau 8,8 lb). Sebanyak 2,5 kg (5,5
lb) lain hilang antara 2 minggu sampai 6,bulan postpartum. Rerata penu-
runan berat total adalah 12,2 + 4,6 kg (26,8 + 10,1 lb), sehingga retensi
berat rerata akibat kehamilan adalah 1,4 + 4,8 kg (3 + 10,5 lb).

Tabel 2.3 BB/TB Rekomendasi Penambahan Berat Badan (kg)


Underweight (BMI < 12,5-18)
Normal weight (BMI =19,8-26)
Overweight (BMI >26-29)
2. Asupan Makanan yang Dianjurkan

26
Secara berkala, Food and Nutrition Board dari National Research
Council merekomendasi asupan gizi (dietary allowances) untuk wanita,
termasuk mereka yang hamil atau menyusui. Asupan harian yang
dianjurkan tidak dimaksudkan untuk aplikasi pada individu, tetapi sebagai
petunjuk tentang kebutuhan populasi dan kelompok, karena kebutuhan
masing-masing orang jelas sangat bervariasi. Beberapa suplemen vitamin-
mineral prenatal dapat menimbulkan asupan yang jauh melebihi anjuran
ini. Hal ini mungkin tidak mudah diketahui baik oleh konsumen maupun
dokter yang meresepkan, karena informasi label dinyatakan berdasarkan
US Recommended Daily Allowances dari Food and Drug Administration
(FDA), yang secara substansial berbeda untuk beberapa nutrien (Institute
of Medicine, 1990).

Tabel 2.4 Asupan Makanan Harian Yang Dianjurkan Untuk Wanita


Sebelum Dan Selama Hamil Dan Menyusui

27
Selain itu, penggunaan suplemen yang berlebihan (misalnya, 10 kali
daripada asupan harian yang dianjurkan) yang sering dibeli sendiri oleh
cukup banyak anggota masyarakat, menimbulkan kekhawatiran terjadinya
toksisitas nutrien selama kehamilan. Zat-zat gizi yang berpotensi
menimbulkan efek toksik adalah besi, seng, selenium dan vitamin A, B6,
C, dan D.
a. Suplementasi vitamin dan mineral prenatal
Sebelum munculnya rekomendasi untuk suplementasi folat untuk
mencegah defek tabung saraf (neural tube), satu-satunya nutrien yang
kebutuhannya selama kehamilan tidak dapat terpenuhi hanya oleh diet
adalah besi (Institute of Medicine, 1990). Suplemen harian 30 mg besi
elemental merupakan profilaksis yang dianjurkan untuk defisiensi besi
pada wanita yang berisiko rendah mengalami defisiensi gizi. Konsumsi
saat perut kosong akan mempermudah penyerapan besi untuk
profilaksis atau tempi anemia defisiensi besi. Pada tahun 1997, FDA
mensyaratkan bahwa preparat besi yang mengandung 30 mg atau lebih
besi elemental per dosis harus dikemas sebagai dosis individual (mis.
kemasan blister). Aturan ini ditujukan untuk mencegah keracunan besi
secara tidak sengaja pada anak.
American Academy of Pediatrics dan American College of
Obstetricians and Gynecologists (1997) tidak menganjurkan
suplementasi multivitamin rutin, kecuali apabila diet ibu diragukan
atau is berisiko mengalami defisiensi nutrisi. Yang terakhir mencakup
gestasi multipel, penyalahgunaan obat terlarang, vegetarian total,
pengidap epilepsi, dan wanita dengan hemoglobinopati. Pada para
wanita berisiko tinggi ini, dianjurkan suplementasi multivitamin-
mineral setiap hari dimulai pada trimester kedua. Komposisi suplemen
multivitamin-mineral yang dianjurkan adalah 30 sampai 60 mg besi,
15 mg seng, 2 mg tembaga, 250 mg kalsium, 10 g (400 IU) vitamin
D, 50 mg vitamin C, 2 mg vitamin B6, 300 g folat, dan 2g vitamin
B.

28
b. Kalori
Kehamilan memerlukan tambahan 80.000 kkal yang terutama
terakumulasi pada 20 minggu terakhir. National Research. Council
(1989) menganjurkan peningkatan asupan kalori 300 kkal sepanjang
kehamilan. Kalori diperlukan untuk energi dan apabila asupan kalori
tidak adekuat, maka protein akan dimetabolisasi untuk menghasilkan
energi dan tidak digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan
janin. Kebutuhan fisiologis total selama kehamilan tidak harus
merupakan penjumlahan dari kebutuhan biasa saat tidak hamil
ditambah kebutuhan yang spesifik untuk kehamilan.
c. Protein
Kenaikan kebutuhan protein pada ibu hamil dipakai untuk
pertumbuhan janin, plasenta, uterus, payudara dan penambahan
volume darah. Pada serum ibu kadar asam amino yang ditemukan
menurun antara lain ornitin, glisin, taurine dan prolin, sedangkan kadar
alanin dan glutamate ditemukan meningkat.
Sebagian besar protein yang dibutuhkan didapat dari protein
hewani seperti daging, telur, keju, ikan laut yang diketahui
mengandung asam amino yang diperlukan saat hamil. Adapun jumlah
kebutuhan protein selama hamil 60 g/hari, tetapi harus diwaspadai
kelebihan intake protein dalam diet selama hamil.
d. Mineral
Hampir semua makanan yang menghasilkan cukup kalori untuk
menghasilkan pertambahan berat yang memadai mengandung cukup,
mineral untuk mencegah defisiensi apabila yang digunakan adalah
garam beriodium.
e. Besi
Dari sekitar 300 mg besi yang dipindahkan ke janin dan plasenta
dan 500 mg yang diserap, apabila tersedia, hampir semua digunakan
setelah pertengahan kehamilan. Selama waktu itu, kebutuhan besi yang

29
ditimbulkan oleh kehamilan dan ekskresi ibu berjumlah total 7 mg per
hari (Pritchard dan Scott, 1970).
Hemoglobin dan hematrokit akan menurun sedikit selama hamil,
sehingga kekentalan darah secara keseluruhan akan berkurang. Kadar
hemoglobin yang diharapkan pada usia hamil cukup bulan (aterm)
adalah 12,5 g% dan dapat ditemukan pada 6% wanita hamil dengan
kadar Hb <> hamil normal sekitar 1000 mg dimana 300 mg secara
aktif ditransfer ke janin dan plasenta sedangkan 200 mg hilang dalam
sirkulasi. Peningkatan rata-rata volume sel darah merah (eritrosit)
selama hamil 450 mL dimana 1 mL sel darah merah normal berisi 1,1
mg zat besi (Fe) sehingga 500 mg kenaikan zat besi yang dibutuhkan
digunakan untuk pembentukan sel darah merah. Dengan demikian
kebutuhan Fe rata-rata selama hamil; normal antara 6-7 mg/ hari.
Dalam memenuhi kebutuhan zat besi ini dipakai preparat besi dalam
bentuk ferrous sulfat, glukonat, dan fumarat. Untuk ibu hamil dengan
berat badan berlebih, kehamilan ganda, yang tidak mengkomsumsi Fe
sebelumnya sampai dengan kehamilan lanjut memerlukan 60-
100mg/hari prepareat Fe. Ak
Akan tetapi bila dalam keadaan anemia diperlukan sampai 200
mg/hari untuk mengatasi keadaaan anemia. Pada trimester 1 kebutuhan
zat besi ini minimal sehingga tidak membutuhkan suplemen, yang
menguntungkan pada ibu hamil karena tidak akan memperberat
keluhan mual muntah yang biasa muncul.
f. Kalsium
Wanita hamil meretensi sekitar 30 g kalsium yang sebagian besar
mengendap di janin pada akhir kehamilan (Pitkin, 1985). Jumlah
kalsium ini mencerminkan hanya sekitar 2,5 persen dari total kalsium
ibu, yang sebagian besar terdapat di tulang dan mudah dimobilisasi
untuk pertumbuhan janin. Selain itu, Heaney dan Skillman (1971)
membuktikan adanya peningkatan-penyerapan kalsium oleh usus dan
retensi progresif sepanjang kehamilan. Menurut Pitkin (1985), kadar

30
kalsium terikat, dan bukan kadar kalsium terionisasi, sedikit menurun
di dalam plasma ibu seiring dengan berkurangnya konsentrasi albumin.
g. Fosfor
Distribusi fosfor yang meluas memastikan bahwa asupan mineral ini
adekuat sepanjang keha,milan. Kadar fosfor inorganik dalam plasma
tidak banyak, berbeda dari kadar non hamil.
h. Seng
Defisiensi seng yang parah dapat menyebabkan penurunan nafsu
makan, pertumbuhan suboptimal, dan gangguan penyembuhan luka.
Defisiensi seng yang berat dapat menyebabkan kecebolan dan
hipogonadisme. Hal ini juga dapat menyebabkan gangguan kulit
spesifik, akrodermatitis enteropatik, yang disebabkan oleh defisiensi
seng kongenital parah yang jarang dijumpai. Walaupun janin hewan
yang mengalami defisiensi seng memperlihatkan peningkatan insiden
malformasi susunan saraf pusat, namun peran seng dalam menentukan
hasil akhir kehamilan pada manusia masih belum jelas (Goldenberg
dkk., 1995).
Jumlah seng dalam plasma hanya sekitar 1 persen dari total seng
dalam tubuh. Selain itu, seng plasma hampir seluruhnya terikat ke
beberapa asam amino dan protein plasma. Dengan demikian,
konsentrasi yang rendah di plasma umumnya lebih disebabkan oleh
perubahan konsentrasi berbagai zat pengikat di plasma daripada oleh
kekurangan seng sejati (Swanson dan King, 1983). Walaupun konsen-
trasinya berkurang, kompartemen seng total dalam plasma pada wanita
hamil normal sebenarnya meningkat akibat sangat meningkatnya
volume plasma selama kehamilan.
Goldenberg dkk (1995) memberikan suplementasi seng (25 mg)
dalam sebuah studi teracak pada 580 wanita tunawisma yang rata-rata
dimulai pada kehamilan 19 minggu. Kadar seng plasma sedikit dan
secara bermakna lebih tinggi pada wanita yang mendapat
suplementasi. Bayi yang lahir dari wanita yang mendapat suplemen
seng sedikit lebih besar (rata-rata 125 g) dan lingkar kepalanya sedikit

31
lebih besar (peningkatan rerata 4 mm). Walaupun kadar suplementasi
seng yang aman bagi wanita hamil belum dipastikan, namun asupan
harian yang dianjurkan selama kehamilan adalah 15 mg.
i. Yodium
Semua wanita hamil dianjurkan memakai garam beryodium
untuk memenuhi kebutuhan bayi dan mengatasi meningkatnya
pengeluaran yodium melalui urin ibu. Di Amerika Serikat, asupan
yodium diperkirakan sudah memadai, walaupun dalam 15 tahun
terakhir terjadi penurunan yang bermakna (Utiger, 1999). Perhatian
terhadap peningkatan yodium dalam makanan selama kehamilan
diperkuat oleh laporan terakhir yang mengaitkan hipotiroidisme ibu
dengan retardasi mental pada anak mereka.
Defisiensi yodium yang parah pada ibu hamil menimbulkan
predisposisi kretinisme endemik pada janin, yang ditandai oleh defek
neurologic berat dan multipel. Pada beberapa daerah di Cina dan
Afrika, tempat defisiensi ini menjadi endemik, suplementasi yodium
pada awal kehamilan dapat mencegah kretinisme (Cao dkk., 1994).
Ingesti yodium dalam jumlah farmakologis selama kehamilan dapat
menekan fungsi tiroid dan memicu gondok yang cukup besar pada
janin. Konsumsi rumput laut dalam jumlah besar oleh pars pengikut
mode makanan juga dapat menimbulkan efek serupa.
j. Magnesium
Defisiensi magnesium akibat kehamilan belum pernah
dilaporkan. Tidak diragukan lagi bahwa selama sakit berkepanjangan
disertai tidak adanya asupan magnesium, kadar plasma dapat sangat
rendah, seperti yang akan terjadi pada keadaan tidak hamil. Kami
pernah menjumpai defisiensi magnesium selama kehamilan yang
dipersulit oleh konsekuensi riwayat bedah pintas usus. Sibai dkk
(1989) membagi secara acak 400 wanita primigravida normotensif
untuk mendapat tablet plasebo atau suplementasi magnesium elemental
365 mg dari 13 sampai 24 minggu. Suplementasi tidak memperbaiki
satupun parameter hasil akhir kehamilan.

32
k. Tembaga
Enzim-enzim yang mengandung tembaga, misalnya sitokrom oksidase,
berperan penting dalam banyak proses oksidatif dan oleh karenanya
penting dalam produksi sebagian besar energi yang dibutuhkan untuk
metabolisme. Kehamilan menimbulkan dampak besar pada
metabolisme tembaga ibu, disertai peningkatan mencolok kadar serulo-
plasmin serum dan tembaga plasma. Defisiensi tembaga selama
kehamilan pada manusia belum pernah dilaporkan. Belum ada
dilaporkan adanya studi mengenai suplementasi tembaga pada wanita
hamil, namun saat ini beberapa suplemen prenatal mengandung 2 mg
tembaga per tabletnya.
l. Selenium
Ini adalah komponen esensial pada enzim glutation peroksidase, yang
mengkatalisis perubahan hidrogen peroksida menjadi air. Selenium
adalah komponen pertahanan yang penting terhadap kerusakan akibat
radikal bebas. Defisiensi selenium pernah dijumpai di suatu daerah
yang lugs di Cina, tempat terjadinya suatu defisiensi geokimiawi yang
parch. Defisiensi selenium bermanifestasi sebagai kardiomiopati yang
sering fatal pada anak dan wanita usia subur. Sebaliknya, juga pernah
dijumpai toksisitas selenium akibat suplementasi berlebihan. Belum
pernah ada laporan tentang perlunya suplementasi selenium pada
wanita hamil di Amerika Serikat.
m. Kromium
Kromium diperkirakan memiliki peran fisiologik sebagai kofaktor
untuk insulin, mempermudah perlekatan awal hormon ke reseptornya
di perifer. Seberapa penting kromium dalam nutrisi manusia masih
belum diketahui, dan belum ada data yang mengisyaratkan bahwa
wanita hamil perlu diberi suplemen kromium.
n. Mangan
Logam mi berfungsi sebagai kofaktor untuk enzim-enzim seperti
glikosiltransferase, yang penting untuk sintesis polisakarida dan

33
glikoprotein. Defisiensi mangan belum pernah dijumpai pada orang
dewasa, dan suplemen tidak diindikasikan selama kehamilan.
o. Kalium
Konsentrasi kalium dalam plasma ibu menurun sekitar 0,5 mEq/1 pada
pertengahan kehamilan (Brown dkk., 1986). Defisiensi kalium terjadi
pada keadaan-keadaan yang sama seperti apabila wanita tidak sedang
hamil. Mual dan muntah yang berkepanjangan dapat menyebabkan
hipokalemia dan alkalosis metabolik. Kausa yang dulu sering
dijumpai, yaitu pemakaian diuretik, sekarang sudah hampir tidak
pernah ditemukan.
p. Natrium
Defisiensi selama kehamilan kecil kemungkinannya terjadi kecuali
apabila pasien mengkonsumsi diuretik atau asupan natrium dalam ma-
kanan menurun secara drastis. Secara umum, mengasinkan makanan
agar terasa lezat akan memberikan natrium dalam jumlah besar.
Konsentrasi natrium plasma dalam keadaan normal menurun beberapa
mEq selama kehamilan; namun, ekskresi natrium tidak berubah, dan
berkisar antara 100 sampai 110 mEq/hari (Brown dkk, 1986).
q. Flourida
Manfaat suplementasi fluorida selama kehamilan telah
dipertanyakan. Horowitz dan Heifetz (1967) meneliti prevalensi karies
pada gigi susu dan gigi tetap pada anak-anak yang setelah lahir
mendapat pajanan yang sama terhadap air terfluorinisasi optimal tetapi
sebelum lahir mengalami pola pemajanan yang berbeda-beda. Mereka
menyimpulkan bahwa tidak terdapat manfaat tambahan dari ingesti air
berfluor oleh ibu hamil apabila anak mengkonsumsi air yang sama
setelah lahir.
Glenn dkk. (1982) melaporkan insiden karies yang jauh lebih
rendah (99 persen) pada anak yang ibunya mengkonsumsi 2,2 mg
natrium fluorida per hari selama hamil, dibandingkan dengan mereka
yang ibunya hanya menggunakan air berfluor. Suplementasi fluorida
selama kehamilan belum disahkan oleh American Dental Association

34
(Institute of Medicine, 1990). Suplemen fluorida yang dikonsumsi oleh
ibu menyusui tidak meningkatkan konsentrasi fluorida dalam ASI
(Ekstrand, 1981).
r. Vitamin
Sebagian besar bukti mengenai pentingnya vitamin untuk
keberhasilan reproduksi diperoleh dari hewan percobaan. Biasanya,
defisiensi yang parch pada hewan ditimbulkan dengan penghentian
sama sekali asupan vitamin, dimulai jauh sebelum saat kehamilan atau
dengan memberikan antagonis vitamin yang sangat poten. Pemberian
sebagian vitamin dalam jumlah berlebihan kepada hewan hamil
dibuktikan menimbulkan efek yang merugikan pada janin dan
neonatus.
s. Asam Folat
Asam folat diperlukan untuk mencegah terjadinya kelainan pada
susunan syaraf (neural tube defect) dimana dengan pemberian 0,4
mg/hari asam folat selama periode perikonsepsi dapat mencegah lebih
dari 50% kejadian NTD. Ada perbedaan pendapat mengenai dosis
terendah pemberian asam folat, yaitu 200 ug/hari atau 240 ug/hari.
Pada wanita dengan risiko tinggi untuk terjadinya kelainan bawaan
pada susunan syaraf pusat dianjurkan pemberian 4 mg (4000 ug)/hari
dimulai 1 bulan sebelum kehamilan sampai trimester 1.
t. Vitamin A
Pemberian vitamin A tidak dianjurkan pada ibu hamil karena
pemberian vitamin A yang berlebihan sampai dengan 15.000 IU atau
lebih/hari akan berisiko terjadinya kecacatan pada bayi karena
dilaporkan pemberian derivat vitamin A (isotretionin) mempunyai efek
teratogenik. Vitamin A hanya diberikan bila dinilai ada tanda-tanda
kekurangan selama hamil dan diberikan dalam bentuk beta-carotene
yang merupakan bahan dasar vitamin A yang terdapat pada buah-
buahan dan sayur-sayuran karena tidak akan memberikan efek
samping kelebihan vitamin A.

35
u. Vitamin B12
Konsentrasi vitamin B 12 dalam plasma ibu menurun pada
kehamilan karena penurunan konsentrasi transkobalamin dan hanya
biasa diatasi dengan suplementasi selama hamil. Vitamin B 12 hanya
bias didapat pada makanan yang berasal dari hewan. Oleh karena itu
pada vegetarian konsentrasi vitamin B12 dalam darah sangat rendah
demikian pula dalam ASI ibu yang sedang menyusui. Pemakaian
vitamin C yang berlebihan juga bisa menurunkan konsentrasi dalam
darah.
v. Vitamin B6
Sebagian besar uji klinis pada wanita hamil gagal membuktikan
adanya manfaat suplementasi vitamin B6 (Institute of Medicine, 1990).
Bagi wanita yang berisiko mengalami kurang gizi mis.
penyalahgunaan obat, remaja dan mereka dengan gestasi multipel
dianjurkan suplementasi 2 mg vitamin 136 harian.
w. Vitamin C
Asupan harian yang dianjurkan untuk vitamin C selama kehamilan
adalah 70 mg/hari, atau sekitar 20 persen lebih banyak daripada wanita
tidak hamil. Makanan yang wajar umumnya mengandung sejumlah ini.
Kadar di dalam plasma ibu berkurang selama kehamilan sedangkan
kadar di tali pusat lebih tinggi, suatu fenomena yang dijumpai pada
sebagian besar vitamin larut air.

3. Surveilans Gizi Pragmatik


Walaupun ilmu gizi terus berusaha mengidentifikasi jumlah ideal
protein, kalori, vitamin dan mineral bagi wanita ha-mil dan janinnya,
namun mereka yang bertanggung jawab langsung merawat wanita hamil
mungkin sebaiknya melakukan tugasnya sebagai berikut :
a. Secara umum, nasehati wanita hamil untuk makan apa yang ia
inginkan dalam jumlah sesuai kebutuhannya, makanan diberi garam
agar lezat.
b. Pastikan bahwa tersedia cukup makanan untuk dikonsumsi,
terutama pada kasus wanita yang keadaan sosioekonominya kurang.

36
c. Pastikan bahwa ia mengalami pertambahan berat, dengan sasaran
sekitar 25 sampai 35 pon (11,5-16 kg) pada wanita dengan indeks
massa tubuh normal.
d. Secara berkala, nilai asupan makanan dengan anamnesis. Dengan
cara ini, kadang-kadang kita dapat mengungkapkan diet kandungan
nutrisinya tidak sesuai.
e. Berikan tablet garam besi yang mengandung paling sedikit 30 mg
besi setiap hari. Berikan suplementasi folat sebelum dan pada minggu-
minggu awal kehamilan.
f. Periksa ulang hematokrit atau konsentrasi hemoglobin pada
minggu ke-28 sampai 32 untuk mendeteksi adanya penurunan yang
bermakna aerobik baru atau meningkatkan intensitas olah raga.
Sebagai contoh, pada wanita yang sebelumnya tidak banyak berolah
raga, aktivitas aerobik yang lebih berat daripada berjalan tidak
dianjurkan.
g. Pada beberapa penyulit kehamilan, ibu dan janin mungkin
memperoleh manfaat apabila ibu tidak banyak beraktivitas. Sebagai
contoh, wanita dengan hipertensi dalam kehamilan sebaiknya tidak
banyak beraktivitas, demikian juga wanita dengan dua atau lebih janin,
wanita yang pertumbuhan janinnya diperkirakan terganggu dan mereka
yang mengidap penyakit jantung berat.

2.4 Kekhawatiran Umum


1. Olah raga
Secara umum, wanita hamil tidak harus membatasi olah raga,
asalkan ia tidak mengalami kelelahan atau berisiko cedera bagi diri
atau janinnya. Saat ini, antusiasme terhadap jogging juga menulari
sejumlah wanita hamil. Bahkan, beberapa wanita, pernah ikut maraton
dengan aman, meski saat itu sedang hamil tua. Clapp (1989)
melaporkan bahwa 18 wanita hamil yang terjaga kesehatannya malah
mengalami perbaikan dalam efisiensi metabolik mereka
selama berolah raga.

37
Secara spesifik, jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk
menyelesaikan satu sesi latihan treadmill malah menurun selama hamil
Pivarnik dkk (1990) menggunakan pemantauan hemodinamik invasif
dan merribandingkan respons kardiovaskuler tujuh wanita sehat
terhadap olah raga aerobik (sepeda atau treadmill) selama hamil tua
dan sekali lagi pada 3 bulan pospartum. Konsumsi oksigen, denyut
nadi, isi sekuncup dan curah jantung semua meningkat secara wajar
sebagai respons terhadapolah raga. Pivarnik dkk. kemudian memper-
lihatkan bahwa wanita hamil yang berolah raga secara teratur memiliki
volume darah yang lebih besarsecara bermakna.
Clapp dan asosiasi yang ditugaskan secara acak 46 wanita yang
tidak baik untuk latihan secara teratur tidak berat atau untuk latihan-
latihan awal peluru di 8 minggu. Latihan terdiri dari pekerjaan yg
membosankan berjalan, langkah aerobics, atau anak tangga stepper
digunakan selama 20 menit tiga sampai lima kali setiap minggu.
Mereka melakukan ini sepanjang kehamilan pada intensitas antara 55
dan 60 persen dari preconceptional kapasitas maksimal aerobik.
Placental baik ukuran dan birthweight yang lebih signifikan dalam
latihan grup. Sebaliknya, Magann dkk prospektif, informasi yang
dikumpulkan di dalam latihan perilaku sehat 750 perempuan mereka
selama kehamilan. Di kalangan perempuan bekerja, latihan yang
berkaitan dengan bayi yang lebih kecil, lebih dysfunsi persalinan, dan
lebih sering infeksi pernafasan atas.
American College of Obstetricians and Gynecologist nasihat
yang klinis evaluasi menyeluruh akan dilakukan sebelum
merekomendasikan sebuah program latihan. Karena tidak ada
kontraindikasi), ibu hamil harus didorong untuk terlibat, sedang
intensitas kegiatan fisik 30 menit atau lebih sehari. Setiap kegiatan
harus dibahas secara terpisah dengan potensi resiko. Kegiatan yang
tinggi dengan risiko jatuh atau trauma abdomen harus dihindari.
Demikian pula, scuba diving harus dihindari pada janin adalah
peningkatan risiko untuk dekompresi sakit. Sebagai contoh, pada

38
wanita yang sebelumnya tidak banyak berolah raga, aktivitas aerobik
yang lebih berat daripada berjalan tidak dianjurkan.
Pada beberapa penyulit kehamilan, ibu dan janin mungkin
memperoleh manfaat apabila ibu tidak banyak beraktivitas. Sebagai
contoh, wanita dengan hipertensi dalam kehamilan sebaiknya tidak
banyakberaktivitas, demikian juga wanita dengan dua atau lebih janin,
wanita yang pertumbuhan janinnya diperkirakan terganggu, dan
mereka yang mengidap penyakit jantung berat.
2. Pekerjaan
Gerakan sosial dan hukum untuk memperjuangkan persamaan
kesempatan di tempat kerja di Amerika Serikat telah mencakup wanita
Yang sedang atau mungkin hamil. Annas (1991) mengulas masalah-
masalah hukum yang berkaitan dengan pekerjaan selama hamil. Yang
utama, Mahkamah Agung Amerika Serikat mendukung Pregnancy
Discrimination Act tahun 1978 dengan menetapkan pada tahun 1991
bahwa hukum federal melarang majikan menolak wanita untuk bekerja
di suatu kategori pekerjaan berdasarkan keadaan atau kemungkinan
hamil.
Lebih dari 120 negara di seluruh dunia saat ini menetapkan
secara hukum adanya cuti hamil yang ditanggung perusahaan dan
pemberian tunjangan kesehatan, termasuk sebagian besar negara
industri kecuali Amerika Serikat, Australia dan Selandia Baru (Luke
dkk., 1999). Walaupun Family and Medical Leave Act (FMLA =
Undang-undang Cuti Medis dan Keluarga) telah disetujui pada tahun
1993, namun sebuah laporan terakhir yang dikirim ke Kongres
menjelaskan bahwa karena cuti ini tanpa dibayar, maka wanita yang
berhak cuti tidak mengambilnya atas alasan keuangan. Diperkirakan
hampir separuh wanita usia subur di Amerika Serikat termasuk dalam
angkatan kerja. Bahkan pada kelompok sosioekonomi kurang, lebih
banyak lagi wanita yang bekerja.
Manshande dkk (1987) melaporkan peningkatan insiden janin
berat lahir rendah sebesar tujuh kah lipat pada wanita dari Zaire yang

39
bekerja di ladang. Teitelman dkk. (1990) mengevaluasi aktivitas kerja
ibu dan hasil akhir kehamilan pada 4186 wanita yang melahirkan di
Yale-New Haven Hospital. Wanita digolongkan sesuai jenis pekerjaan
yang mereka jalani. Pekerjaan berdiri, misalnya sebagai kasir, teller
bank atau dokter gigi, yang memerlukan berdiri dalam posisi yang
sama selama lebih dari 3 jam sehari. Pekerjaan aktif, misalnya dokter,
pelayan dan agen real estat, yang mengharuskan berjalan secara
kontinu atau intermiten.
Pekerjaan sedentary misalnya pustakawan, petugas pembukuan
atau sopir bis yang memerlukan berdiri kurang dari 1 jam per hari.
Mereka mendapatkan bahwa wanita hamil yang melakukan pekerjaan
yang mengharuskan mereka berdiri lama berisiko lebih besar meng-
alami persalinan prematur, tetapi tidak terdapat efek pada pertumbuhan
janin. Mozurkewich dkk. (2000) mengkaji 29 penelitian terhadap lebih
dari 160.000 kehamilan. Mereka memastikan adanya peningkatan 20
sampai 60 persen persalinan prematur, restriksi pertumbuhan janin atau
hipertensi pada pekerjaan yang banyak menuntut kegiatan fisik.
Gabbe dan Turner (1997) melakukan pengkajian terhadap kerja
selama kehamilan. Paul (1997) menelaah pajanan terhadap zat-zat
yang berbahaya di tempat kerja selama kehamilan. Akal sehat
mengatakan bahwa setiap pekerjaan yang menyebabkan wanita hamil
mengalami tekanan fisik hebat harus dihindari. Secara ideal, pekerjaan
atau permainan apapun yang menyebabkan timbulnya kelelahan fisik
harus dihentikan. Selama hari kela, harus disediakan periode istirahat
yang memadai. Wanita yang kehamilan sebelumnya bermasalah yang
besar kemungkinannya berulang, misalnya berat lahir bayi rendah,
mungkin harus meminimalkan kerja fisik.
3. Bepergian
Wanita sehat yang bepergian tidak berefek buruk bagi kehamilan.
Perjalanan di dalam pesawat udara yang tekanan udaranya memadai
tidak menimbulkan risiko spesifik dan American Airlines mengijinkan
perjalanan tanpa restriksi selama wanita yang bersangkutan merasa

40
sehat dan tidak dalam 7 hari menjelang tanggal perkiraan persalinan.
Delta Airlines tidak memiliki aturan pembatasan perjalanan, tetapi
menganjurkan bahwa wanita hamil memeriksakan diri ke dokter
mereka apabila akan bepergian setelah "bulan kedelapan". Paling tidak
setiap 2 jam is harus berjalan-jalan. Mungkin risiko terbesar pada
perjalanan, terutama perjalanan mancanegara, adalah timbulnya
penyulit saat berada jauh dari fasilitas yang memadai untuk menangani
penyulit tersebut.
4. Mandi
Tidak ada larangan untuk mandi selama hamil atau masa nifas. Selama
trimester terakhir, uterus yang berat biasanya mengganggu keseim-
bangan wanita hamil dan meningkatkan kemungkinan wanita hamil
terpeleset dan jatuh di bathtub kamar mandi. Karena itu, menjelang
akhir kehamilan wanita dianjurkan menggunakan shower.
5. Busana
Secara umum direkomendasikan bahwa busana yang digunakan
selama hamil seyogyanya nyaman dan tidak ketat. Namun, menurut
para pakar busana, busana ibu hamil telah banyak berubah akhir-akhir
ini (Morgan, 2000). Salah satu perancang mode menyatakan:
Biasanya [baju hamil] bersifat menutupi, tetapi sekarang menjadi
mempertunjukkan. Keelokan ibu hamil saat ini adalah pada busana
ketat yang tidak menyembunyikan tubuh. Meningkatnya massa
payudara dapat menyebabkan payudara menggantung dan terasa nyeri,
dan untuk menjaga kenyamanan diindikasikan penggunaan bra yang
menopang secara pas. Stocking yang ketat sebaiknya dihindari.
6. Kebiasaan Buang Air Besar
Konstipasi sering terjadi, mungkin karena memanjangnya waktu
transit dan tertekannya usus bagian bawah oleh uterus atau oleh bagian
presentasi janin. Selain rasa tidak nyaman yang disebabkan oleh
lewatnya bahan feses yang keras, dapat terjadi perdarahan dan fisura
yang nyeri di mukosa rektum yang edematosa dan hiperemik.

41
Frekuensi hemoroid juga meningkat dan dapat terjadi prolaps mukosa
rektum, walaupun lebih jarang.
Wanita yang kebiasaan buang air besarnya normal selama tidak
hamil dapat mencegah konstipasi selama hamil dengan memperhatikan
lebih seksama kebiasaan buang air besar, mengkonsumsi cairan dalam
jumlah memadai, dan cukup berolahraga setiap hari serta, apabila
diperlukan, penggunaan laksatif ringan, misalnya jus prem, larutan
pencahar yang mengandung magnesium, zat penambah massa atau
pelunak tinja.
7. Koitus
Apabila ada ancaman abortus atau partus prematurus, koitus
harus dihindari. Di luar itu, hubungan seks pada wanita hamil yang
sehat umumnya dianggap tidak berbahaya sebelum sekitar 4 minggu
terakhir kehamilan. Dalam wawancara kepada hampir 10.000 wanita
yang ikut serta dalam suatu penelitian prospektif, Vaginal Infection and
Prematurity Study Group mendapatkan penurunan frekuensi hubungan
seks yang bermakna seiring dengan usia gestasi (Read dan Klebanoff,
1993). Pada minggu ke-36, 72 persen melaporkan frekuensi hubungan
seks kurang dari sekali seminggu. Bartellas dkk. (2000) melaporkan
bahwa hal ini disebabkan oleh berkurangnya hasrat (58 persen) dan
khawatir akan bahaya terhadap kehamilan (48 persen).
Risiko akibat hubungan kelamin menjelang akhir kehamilan
belum sepenuhnya diketahui. Grudzinkas dkk. (1979) tidak
menemukan keterkaitan antara usia gestasi saat persalinan dengan
frekuensi koitus selama 4 minggu terakhir kehamilan. Naeye (1979),
dengan menggunakan data dari Collaborative Perinatal Project,
melaporkan bahwa infeksi cairan ketuban dan mortalitas perinatal
secara bermakna meningkat apabila ibu berhubungan seks sekali atau
lebih setiap minggu selama bulan terakhir. Dalam studi kolaboratif
besar yang dilaporkan di atas oleh Read dan Klebanoff (1993), tidak
terdapat keterkaitan antara frekuensi koitus dengan persalinan
prematur. Ekwo dkk. (1993) mewawancarai lebih dari 1350 wanita dan

42
mendapatkan bahwa sebagian besar posisi dan aktivitas hubungan seks
tidak berkaitan dengan gangguan pada hasil akhir kehamilan. Terdapat
peningkatan dua kali lipat insiders pecahnya selaput ketuban pada
posisi prig di atas.
Kadang-kadang, hasrat seksual di tengah larangan melakukan
hubungan kelamin menjelang akhir kehamilan mendorong
dilakukannya praktek-praktek seks yang membahayakan. Aronson dan
Nelson (1967) melaporkan satu kasus embolisms udara yang fatal
menjelang akhir kehamilan akibat tertiupnya udara ke dalam vagina
selama cunnilingus (seks oral yang dilakukan pada wanita). Kasus-
kasus lain yang hampir fatal juga pernah dilaporkan (Bernhardt dkk.,
1988).
8. Perawatan gigiI
Pemeriksaan gigi hares tercakup dalam pemeriksaan fisik umum
prenatal. Kehamilan jarang menjadi kontraindikasi terapi gigi. Konsep
bahwa karies gigi diperparah oleh kehamilan tidak terbukti.
9. Imunisasi
Terdapat beberapa kekhawatiran mengenai keamanan berbagai
imunisasi selama kehamilan. Vaksinasi dianjurkan untuk untuk
digunakan pada saat kehamilan.dan informasi tentang vaksinasi dapat
terjadi berubah rubah. Semua wanita yang akan hamil pada musim
influenza perlu direkomendasikan vaksinasi tanpa memandang tahap
kehamilan. Vaksinasi pada ibu prenatal mengurangi insidensi influenza
dalam 6 bulan pertama dan juga dapat menurunkan penyakit
pernafasan dan demam pada anak anak.
Wanita yang rentan terhadap rubella selama kehamilan perlu
mendapatkan vaksinasi MMR (measles mumps rubella)
pascapersalinan, tidak dianjurkan diberikan saat hamil
(ketidaksengajaan tidak menyebabkan kelainan kongenital) dan tidak
terdapat kontraindikasi pada ibu yang menyusui.
10. Merokok

43
Sejak tahun 1984 Surgeon General telah memasang label pada
kemasan rokok: "Merokok oleh wanita hamil dapat menyebabkan
cedera janin, persalinan prematur, dan berat lahir rendah". Berbagai
gangguan terhadap hasil akhir kehamilan dilaporkan berkaitan dengan
merokok selama hamil. Gangguan-gangguan tersebut adalah berat lahir
rendah akibat persalinan prematur atau gangguan pertumbuhan janin,
kematian janin dan bayi, serta solusio.
Mekanisme patofisiologi yang diperkirakan berperan menim-
bulkan gangguan kehamilan ini antara lain meningkatnya kadar
karboksihemoglobin janin, berkurangnya aliran darah uteroplasenta
dan hipoksia janin. Untuk meletakkan masalah merokok dalam per-
spektif nasional, pada tahun 1998, 12 persen wanita Amerika yang
dilaporkan merokok selama hamil merupakan penyebab satu dari lima
bayi yang berat lahirnya kurang dari 2500 g (Ventura dkk., 2000).
11. Alkohol
Etanol adalah teratogen yang kuat. Karena pemakaian alkohol
selama kehamilan dapat menyebabkan sindrorn alkohol janin (fetal
alcohol syndrome), maka Surgeon General merekomendasikan agar
wanita hamil atau ingin hamil berhenti mengkonsumsi segala minuman
beralkohol. Sindrom alkohol janin ditandai dengan adanya gangguan
pertumbuhan, kelainan wajah, dan disfungsi susunan saraf pusat. Dari
bukti yang ada, nasehat terbaik bagi wanita hamil atau akan hamil
adalah tidak mengkonsumsi alkohol. Diharapkan bahwa efek samping
alkohol pada kehamilan akan hilang setelah wanita yang bersangkutan
berhenti minum.
12. Kafein
Pada tahun 1980, Food and Drug Administration menasehati
wanita hamil untuk membatasi asupan kafein. Segera sesudahnya,
Fourth International Caffeine Workshop menyimpulkan bahwa tidak
terdapat bukti bahwa kafein meningkatkan risiko reproduktif atau
teratogenik (Dews dkk., 1984). Pada hewan percobaan kecil, kafein
bukan teratogen, tetapi zat ini memang memperkuat efek mutagenik
dari radiasi dan beberapa zat kimia apabila diberikan dalam jumlah

44
masif. Apabila diinfuskan secara intravena ke domba, kafein
menurunkan aliran darah uterus sebesar 5 sampai 10 persen (Conover
dkk, 1983).
Apakah konsumsi kafein selama hamil meningkatkan risiko
abortus spontan masih diperdebatkan. Klebanoff dkk (1999)
menggunakan suatu penanda serum biologic konsumsi kafein
(paraxantin) untuk memperkirakan dosis kafein pada 487 wanita de-
ngan abortus spontan dan pada 2087 kontrol. Hanya konsentrasi
paraxantin serum yang sangat tinggi yang berkaitan dengan. abortus.
Kadar setinggi itu ekivalen dengan minum lebih dari 5 cangkir kopi
per hari.
13. Obat Terlarang
Pemakaian kronik obat-obat terlarang, termasuk turunan opium,
barbiturat, dan amfetamin dalam dosis besar selama hamil memba-
hayakan janin. Gawat janin, berat lahir rendah, dan gangguan series
akibat putus obat segera setelah lahir sudah banyak dilaporkan. Para
ibu yang menggunakan obat-obat keras ini sering tidak mengikuti
asuhan prenatal, dan kalaupun ya, is mungkin tidak mengaku
menggunakan obat-obat tersebut. Deteksi jaringan parut bekas pungsi
vena mungkin merupakan petunjuk awal. Penatalaksanaan kehamilan
dan persalinan serta perawatan neonates selanjutnya mungkin sangat
sulit.
14. Obat
Sebagian obat yang sering dikonsumsi selama kehamilan, dan
kemungkinan efek samping pada janin, dibahas secara lebih rinci pada
Bab 38. Hampir semua obat yang menimbulkan efek sistemik pada ibu
akan menembus placenta untuk mencapai mudigah dan janin. Semua
dokter harus mengembangkan kebiasaan memastikan kemungkinan
kehamilan sebelum meresepkan obat kepada semua wanita, karena
sejumlah obat yang sering digunakan dapat mencederai mudigah dan
janin. Dokter harus terlebih dahulu meneliti lembar keterangan obat
yang disediakan oleh perusahaan obat dan disetujui oleh FDA sebelum
meresepkannya kepada wanita hamil. Apabila suatu obat diberikan

45
selama kehamilan, maka keuntungan yang diperoleh harus jelas lebih
besar daripada semua risiko yang terkandung dalam pemakaiannya.

15. Mual dan Muntah


Keduanya merupakan keluhan yang sangat sering selama paruh
pertama kehamilan. Biasanya mual dan muntah dimulai antara
terlambat haid pertama dan kedua dan berlanjut sampai sekitar 14
minggu. Meal dan muntah biasanya lebih parch pada pagi hari, tetapi
mungkin berlanjut sepanjang hari. Lacroix dkk. (2000) mendapatkan
bahwa mual dan muntah dilaporkan oleh tiga perempat wanita hamil
dan rata-rata berlangsung selama 35 hari. Separuh dari mereka
membaik pada minggu ke-14 gestasi, dan 90 persen pada minggu ke-
22. Menurut penelitian ini, morning sickness merupakan istilah yang
salah karena 80 persen wanita melaporkan bahwa mual berlangsung
sepanjang hari.
Walaupun kadar gonadotropin korionik yang tinggi diduga
menjadi penyebabnya, namun mual mungkin sebenarnya dipicu oleh
kadar estrogen yang mengimbangi kadar gonadotropin. Flaxman dan
Sherman (2000) berpendapat bahwa mual dan muntah pada awal
kehamilan muncul sebagai mekanisme untuk melindungi janin yang
sedang tumbuh dengan mendorong ibunya menghindari makanan-
makanan yang berbahaya. Belum ada bukti ilmiah yang mendukung
pandangan ini jarang ada terapi untuk mual dan muntah pada
kehamilan yang dapat menyebabkan calon ibu benar-benar terbebas
dari keluhan ini.
16. Nyeri Punggung
Nyeri punggung bawah sampai tahap tertentu dilaporkan oleh
separuh dari wanita hamil. Nyeri yang ringan timbul akibat peregangan
berlebihan atau kelelahan serta membungkuk, mengangkat atau
berjalan berlebihan. Nyeri punggung dapat dikurangi dengan mena-
sihati wanita yang bersangkutan untuk berjongkok dan bukan
membungkuk saat mengambil sesuatu di bawah, meletakkan bantal

46
sebagai sandaran punggung saat duduk, dan menghindari pemakaian
sepatu hak tinggi.
Nyeri punggung yang parah seyogyanya jangan dipandang
semata-mata disebabkan oleh kehamilan sampai dilakukan
pemeriksaan ortopedik yang menyeluruh. Kejang dan nyeri otot, yang
secara klinis sering diklasifikasikan sebagai fibrositis akut atau
keseleo, berespons, baik terhadap analgetik, terapi panas, dan. istirahat.
Pada sebagian wanita, dapat dibuktikan adanya gerakan simfisis
pubis dan sendi lumbosakral, serta relaksasi umum ligamentum-
ligamentum panggul. Pada kasus yang parch, wanita hamil yang ber-
sangkutan mungkin tidak mampu berjalan atau tetap merasa nyaman
tanpa ditopang oleh korset dan istirahat yang lama. Kadang-kadang,
ditemukan kelainan anatomis, kongenital, atau traumatik. Nyeri akibat
herniasi diskus intervertebralis terjadi pada kehamilan dengan
frekuensi yang kurang lebih sama dengan pada waktu lain.
17. Varises
Varises umumnya terjadi karena adanya predisposisi kongenital,
dan diperparah ofeh berdiri lama, kehamilan, dan usia lanjut. Varises
biasanya menjadi lebih jelas terlihat seiring dengan usia kehamilan,
peningkatan berat, dan lama waktu yang dihabiskan dalam posisi
berdiri. Tekanan vena femoralis meningkat cukup bermakna seiring
dengan usia kehamilan. Gejala yang ditimbulkan oleh varises
bervariasi dari gangguan kosmetik di ekstremitas bawah dan rasa tidak
nyaman ringan menjelang sore hari sampai nyeri hebat yang
memerlukan istirahat lama dengan kaki terangkat.
Terapi varises ekstremitas bawah umumnya terbatas pada
istirahat berkala disertai elevasi tungkai, penggunaan stocking elastik,
atau keduanya. Koreksi penyakit secara bedah selama kehamilan
umumnya tidak dianjurkan, walaupun kadang-kadang gejala dapat
sedemikian hebat sehingga diperlukan penyuntikan, ligasi, atau bahkan
stripping vena agar wanita yang bersangkutan tetap dapat beraktivitas.
Secara umum, tindakan-tindakan ini harus ditunda sampai setelah
melahirkan. Varises di vulva dapat dikurangi dengan penggunaan

47
bantalan karet berbusa yang ditekankan ke vulva dengan bantuan
sabuk dari jenis yang biasa digunakan untuk bantalan perineum.

18. Hemoroid
Varises di vena-vena rektum kadangkadang pertama kah timbul
scat hamil. Yang lebih sering adalah kehamilan menyebabkan kekarn-
buhan atau rekurensi hemoroid yang sebelumnya sudah ada. Timbul
atau semakin parahnya hemoroid selama kehamilan jelas berkaitan
dengan meningkatnya tekanan di vena-vena rektum akibat obstruksi
aliran balik vena oleh uterus yang membesar dan dengan
kecenderungan terjadinya konstipasi selama kehamilan. Nyeri dan
pembengkakan biasanya dapat diatasi dengan anestetik topikal,
kompres hangat, dan obat-obat yang melunakkan tinja. Trombosis di
vena rektum dapat menimbulkan nyeri hebat, tetapi bekuan biasanya
dapat dikeluarkan dengan melakukan insisi pada dinding vena yang
terkena dengan skalpel di bawah anestesia topikal.
19. Nyeri Ulu Hati
Nyeri ulu hati adalah salah satu keluhan tersering pada wanita
hamil, dan disebabkan oleh refluks isi lambung ke dalam esofagus.
Meningkatnya frekuensi regurgitasi selama kehamilan kemungkinan
besar disebabkan oleh pergeseran ke atas dan penekanan lambung oleh
uterus disertai melemasnya sfingter esofagus bawah. Pada sebagian
besar wanita hamil, gejala bersifat ringan dan hilang dengan makan
dalam porsi kecil tetapi sering serta menghindari posisi membungkuk
atau berbaring datar. Preparat antasida dapat sangat mengurangi gejala.
Lebih baik digunakan alumunium hidroksida, magnesium trisilikat,
atau magnesium hidroksida, sendiri-sendiri atau berkombinasi,
daripada natrium bikarbonat. Wanita hamil yang cenderung menahan
natrium dapat menjadi edematosa apabila mengkonsumsi natrium
bikarbonat dalam jumlah berlebihan.
20. Pika

48
Secara historis, cukup banyak perhatian yang ditujukan kepada
kemungkinan wanita hamil mengidam makanan-makanan aneh dan,
kadangkadang bukan makanan (pika) misalnya terhadap es
(pagofagia), kanji (amilofagia), atau tanah liat (geofagia). Keinginan
untuk makan gumpalan kanji kering, tanah liat, potongan es, atau
bahkan bunga es oleh sebagian orang dianggap dipicu oleh defisiensi
besi yang parah. Walaupun sebagian wanita mengidam makanan-
makanan aneh ini, dan walaupun mengidam ini biasanya hilang setelah
defisiensi besinya diperbaiki, namun tidak semua wanita dengan pika
mengalami defisiensi besi. Jelaslah, apabila "makanan-makanan" aneh
ini yang mendominasi diet, maka defisiensi besi akan semakin parah
atau akhirnya terjadi.
21. Ptialisme
Wanita kadang-kadang tertekan oleh meningkatnya air liar selama
kehamilannya. Penyebab ptialisme ini tampaknya adalah stimulasi
kelenjar liar oleh ingesti kanji. Kausa ini harus dicari dan dihilangkan
apabila ditemukan. Sebagian besar kasus tidak diketahui sebabnya.
22. Kelelahan
Pada awal kehamilan, sebagian'besar wanita mengeluh kelelahan dan
ingin tidur terus menerus. Keadaan ini biasanya mereda dengan sen-
dirinya pada bulan keempat kehamilan dan tidak memiliki makna
tertentu. Hal ini mungkin disebabkan oleh efek mengantuk yang
ditimbulkan oleh progesteron (progesteron).
23. Nyeri Kepala
Gejala ini sering dikeluhkan pada awal kehamilan. Beberapa kasus
mungkin disebabkan oleh sinusitis atau kelelahan mata yang dise-
babkan kelainan refraksi. Namun, pada sebagian besar kasus, tidak ada
kausa yang dapat ditemukan. Terapi umumnya simtomatik. Pada
pertengahan kehamilan, sebagian besar nyeri kepala berkurang atau
menghilang.
24. Keputihan (Leukorea)

49
Wanita hamil sering mengalami peningkatan duh vagina, yang pada
banyak kasus tidak bersifat patologis. Meningkatnya pembentukan
mukus oleh kelenjar serviks sebagai respons terhadap
hiperestrogenemia jelas ikut berperan. Apabila sekresi ini
mengganggu, maka wanita yang bersangkutan dinasehati untuk mem-
basuh vagina dengan air yang sedikit diasamkan dengan cuka. Kadang-
kadang leukorea yang mengganggu disebabkan oleh Trichomonas
vaginalis atau Candida albicans.
25. Trikomoniasis
Pada hampir 20 persen wanita, T. vaginalis dapat ditemui selama
pemeriksaan prenatal. Infeksi simtomatik jauh lebih j arang dijumpai,
dan vaginitisnya ditandai oleh leukorea berbusa disertai pruritus dan
iritasi. Trikomonad mudah ditemukan pada sekret vagina segar berupa
organisms motil berflagela yang berbentuk buah pir dan sedikit lebih
besar daripada leukosit. Metronidazol terbukti efektif untuk
melenyapkan T. vaginalis. Obat ini dapat diberikan per oral atau per
vagina. Apabila dikonsumsi per oral oleh ibu, metronidazol menembus
placenta dan masuk ke dalam sirkulasi janin. Sebagian pihak menge-
mukakan kemungkinan teratogenisitas akibat pada janan pada trimester
pertama.
26. Kandidiasis
C. albicans dapat dibiak dari vagina pada sekitar 25 persen
wanita menjelang aterm. Kandidiasis vagina asimtomatik tidak
memerlukan pengobatan, tetapi kandida kadang-kadang menimbulkan
duh iritatif yang sangat banyak. Mikonazol, klotrimazol, dan nistatin
efektif untuk mengobati kandidiasis selama kehamilan. Infeksi
kemungkinan besar kambuh, sehingga tetapi perlu diulang selama
kehamilan; tetapi kandidiasis biasanya mereda pada akhir gestasi.
27. Vaginosis Bakterialis
Suatu infeksi dalam arti biasa, vaginosis bakterialis merupakan
maldistribusi populasi bakteri yang mengganggu flora normal vagina.
Laktobasilus berkurang, sementara species yang meningkat jumlahnya

50
cenderung merupakan bakteri anaerobik, misalnya Gardnerella
vaginalis, Mobiluncus, dan spesies Bacteriodes. Vaginal Infections and
Prematurity Study Group (Hillier dkk, 1995) mengidentifikasi kelainan
ini pada 16 persen dari lebih 10.000 wanita hamil yang diperiksa pada
usia kehamilan 23 sampai 26 minggu. Terapi diberikan terbatas pada
wanita simtomatik yang biasanya mengeluh duh berbau amis.
Metronidazol, 500 mg dua kah sehari per oral selama 7 hari, akan
menghasilkan kesembuhan pada sekitar 90 persen kasus.

51