Anda di halaman 1dari 147

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

INDUKSI KALUS EKSPLAN DAUN SIRIH HITAM (Piper betle L.) DENGAN KOMBINASI KONSENTRASI ZAT PENGATUR TUMBUH INDOLE-3-ACETIC ACID (IAA) DAN BENZYL AMINO PURIN (BAP)

SKRIPSI

NABILAH ISTIGHFARI ZURAIDASSANAAZ
NABILAH ISTIGHFARI ZURAIDASSANAAZ

SKRIPSI

PROGRAM STUDI S-1 BIOLOGI DEPARTEMEN BIOLOGI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS AIRLANGGA

2016

i

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA INDUKSI KALUS EKSPLAN
ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
INDUKSI KALUS EKSPLAN

SKRIPSI

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA INDUKSI KALUS EKSPLAN
ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
INDUKSI KALUS EKSPLAN

SKRIPSI

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

SKRIPSI

PEDOMAN PENGGUNAAN SKRIPSI

Skripsi ini tidak dipublikasikan, namun tersedia di perpustakaan dalam lingkungan Universitas Airlangga, diperkenankan untuk dipakai sebagai referensi kepustakaan, tetapi pengutipan harus seizin penyusun dan harus menyebutkan sumbernya sesuai kebiasaan ilmiah. Dokumen skripsi ini merupakan hak milik Universitas Airlangga.

ilmiah. Dokumen skripsi ini merupakan hak milik Universitas Airlangga. iv INDUKSI KALUS EKSPLAN NABILAH ISTIGHFARI Z.

iv

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

SKRIPSI

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala karena telah melimpahkan rahmat, karunia, dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul Induksi Kalus Eksplan Daun Sirih Hitam (Piper betle L.) dengan Kombinasi Konsentrasi Zat Pengatur Tumbuh Indole-3-Acetic Acid (IAA) dan Benzyl Amino Purin (BAP)dengan baik. Penyusunan skripsi ini merupakan syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains bidang biologi pada Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih banyak kekurangan, sehingga penulis mengharapkan masukan berupa saran dan kritik yang konstruktif demi perbaikan dan kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi dunia ilmu pengetahuan dan riset di bidang kultur jaringan dan aplikasinya dalam pemuliaan tanaman.

Surabaya, 26 Juli 2016 Penulis Nabilah Istighfari Z.
Surabaya, 26 Juli 2016
Penulis
Nabilah Istighfari Z.

v

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

UCAPAN TERIMAKASIH

Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada berbagai pihak yang telah banyak memberikan bantuan, bimbingan, dan semangat sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini, yaitu kepada:

1. Dr. Junairiah, S.Si., M.Kes. sebagai pembimbing I yang telah senantiasa mencurahkan segenap ilmu, waktu,
1. Dr. Junairiah, S.Si., M.Kes. sebagai pembimbing I yang telah
senantiasa mencurahkan segenap ilmu, waktu, dan tenaga untuk
memberikan bimbingan, pengarahan yang sangat berharga selama
penelitian dan penyusunan skripsi ini.
2. Dr. Yosephine Sri Wulan Manuhara, M.Si. sebagai pembimbing II
yang telah memberikan ilmu dan saran yang sangat berharga kepada
penulis selama penyusunan skripsi ini.
3. Dr. Edy Setiti W. U., Dra., M.S. selaku penguji III yang telah
memberikan kritik dan saran yang membangun dalam penulisan
skripsi ini.
4. M. Hilman Fuadil A., S.Si., M.Si. selaku penguji IV yang telah
memberikan kritik dan saran yang membangun dalam penulisan
skripsi ini.
5. Dr. Alfiah Hayati sebagai dosen wali yang telah memberikan
bimbingan dan dukungan dalam menempuh pendidikan akademik.

6. Dr. Sucipto Hariyanto, DEA., selaku Ketua Departemen Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga yang senantiasa memberikan motivasi dan semangat agar dapat menyusun skripsi ini dengan baik.

7. Segenap Bapak dan Ibu dosen staf pengajar Departemen Biologi yang telah mengajarkan banyak ilmu, pengalaman, dan kebaikan.

SKRIPSI

vi

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

8. Kedua orang tua tercinta, Ayah Ir. Achmad Sulthoni dan Ibu Ainur Rochimah, S.T., terimakasih atas segala do’a, perhatian, kasih sayang, dan semangat yang tak putus-putusnya diberikan.

9. Adik-adik tercinta, Niemas Izdihari Roudhotushshofiy dan Elmassalafi Iftitahi Aualfatih Elfath, terimakasih atas
9. Adik-adik tercinta, Niemas Izdihari Roudhotushshofiy dan
Elmassalafi Iftitahi Aualfatih Elfath, terimakasih atas do’a, dan
semangat yang selalu diberikan.
Rekan satu tim penelitian, Umul Fatin, Artifa Rachmah, Fairuz Nabil
Izdihar, dan Purnomo, terimakasih atas kerja samanya selama
penelitian hingga skripsi.
Teman seperjuangan Biologi angkatan 2012 yang telah memberikan
keceriaan dan menjadi teman berbagi cerita yang saling menguatkan
khususnya Riza Anggriani, Sugianti Rohmanah, Risca Wulandari,
Nadyatul Ilma Indah Savira, dan Manikya Pramudya yang telah
menjadi teman terbaik empat tahun lalu sampai seterusnya.
Teman, Kakak, dan Adik anggota Kelompok Studi Botani
Universitas Airlangga periode 2010-2016, terimakasih atas
kebersamaan, keceriaan dan semangatnya, terimakasih telah
memberikan penulis kesempatan menjadi salah satu ketua dari
kelompok studi ini.
Segenap warga HIMBIO yang selama ini telah memberikan ilmu dan
ajaran diluar akademik yang sangat berharga. Bio Life Himbio Jaya!
10.
11.
12.
13.

14. Seluruh karyawan Departemen Biologi, Bapak M. Sujoko, Bapak Suwarni, Bapak Sunarto, Bapak Eko Suyanto, Bapak Sukadji, Bapak Setyanto, Bapak Catur, Ibu Yatminah dan Ibu Arie atas bantuan pelayanan dan kerjasamanya.

15. Semua pihak yang telah membantu yang tidak bisa disebutkan penulis satu per satu.

SKRIPSI

vii

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Nabilah Istighfari Zuraidassanaaz. 2016. Induksi Kalus Eksplan Daun Sirih Hitam (Piper betle L.) Dengan Kombinasi Konsentrasi Zat Pengatur Tumbuh Indole-3- Acetic Acid (IAA) dan Benzyl Amino Purin (BAP). Skripsi ini dibawah bimbingan Dr. Junairiah, S.Si., M.Kes. dan Dr. Yosephine Sri Wulan Manuhara, M.Si., Departemen Biologi Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga, Surabaya.

Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga, Surabaya. SKRIPSI ABSTRAK terhadap pertumbuhan eksplan daun Piper
Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga, Surabaya. SKRIPSI ABSTRAK terhadap pertumbuhan eksplan daun Piper

SKRIPSI

ABSTRAK terhadap pertumbuhan eksplan daun Piper betle L
ABSTRAK
terhadap pertumbuhan eksplan daun Piper betle L

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA dan BAP terhadap induksi dan pertumbuhan kalus eksplan daun Piper betle L. serta untuk menentukan kombinasi konsentrasi IAA dan BAP yang tepat dalam menginduksi kalus eksplan daun Piper betle L Eksplan dari daun Piper betle L. ditumbuhkan pada media MS yang diperkaya 25 zat pengatur tumbuh IAA dan BAP dengan kombinasi konsentrasi masing-masing 0,0;0,5;1,0;1,5;2,0 mg/L. Rancangan penelitian yang dilakukan adalah eksperimen laboratoris berupa rancangan acak lengkap (RAL). Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif, data kualitatif didapatkan dari deskripsi morfologi kalus daun Piper betle L., data kuantitaif didapatkan dari persentase eksplan membentuk kalus, pengamatan waktu induksi kalus, berat segar kalus, dan berat kering kalus, kemudian data kuantitatif tersebut dianalisis secara statistik menggunakan uji Mann-Whitney dengan nilai signifikansi (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa zat pengatur tumbuh IAA dan BAP berpengaruh

Penambahan kombinasi

konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA 0,5 mg/L dan BAP 2,0 mg/L menunjukkan respon terbentuknya kalus paling cepat yaitu 8,5 hari. Penambahan kombinasi konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA 1,0 mg/L dan BAP 1,5 mg/L merupakan konsentrasi yang menghasilkan berat segar terbaik yakni 0,6596 gram, sedangkan pada kombinasi konsentrasi IAA 0,5 mg/L dan BAP 0,5 mg/L merupakan konsentrasi yang menghasilkan berat kering terbaik yakni 0,0727 gram. Sehingga didapatkan kombinasi konsentrasi zat pengatur tumbuh yang sesuai untuk daun Piper betle L. adalah IAA 0,5 mg/L dan BAP 0,5 mg/L. Kalus daun Piper betle L. membentuk dua tekstur kalus yakni kompak dan friabel, serta memunculkan berbagai macam warna seperti putih, putih kehijauan, putih kekuningan, putih kecokelatan, cokelat dan hitam.

Kata kunci: Induksi kalus, Piper betle L., IAA, dan BAP.

viii

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Nabilah Istighfari Zuraidassanaaz. 2016. Callus Induction of Black Betel’s Leaf (Piper betle L.) Explant with Combination of Growth Regulators Indole-3-Acetic Acid (IAA) and Benzyl Amino Purin (BAP). This script is guided by Dr. Junairiah, S.Si., M.Kes., and Dr. Yosephine Sri Wulan Manuhara, M.Si., Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Airlangga University, Surabaya.

of Science and Technology, Airlangga University, Surabaya. SKRIPSI ABSTRACT Key words: BAP, Callus induction, IAA,
of Science and Technology, Airlangga University, Surabaya. SKRIPSI ABSTRACT Key words: BAP, Callus induction, IAA,

SKRIPSI

ABSTRACT Key words: BAP, Callus induction, IAA, Piper betle L.
ABSTRACT
Key words: BAP, Callus induction, IAA, Piper betle L.

The purpose of this research was to know the influence of growth regulator combination IAA and BAP towards induction and growth of callus from Piper betle L’s leaf explant and to determine the best combination of IAA and BAP concentration for inducing of callus from Piper betle L’s leaf explant. Explant from leaf of Piper betle L. was grown on MS media augmented with growth regulators IAA and BAP with 0.0;0.5;1.0;1.5;2.0 mg/L concentration respectively. This study was an experimental study with a completely randomaized design. The data were analyzed qualitatively and quantitatively. Qualitative data were obtained from the leaf callus morphological descriptions Piper betle L. Quantitative data were obtained from a percentage of callus formed by explant, observation time of callus induction, callus fresh weight and callus dry weight, then the quantitative data were statistically analyzed using a Mann- Whitney test with significance value (α = 0.05). The result of this research showed that IAA and BAP had effects explant growth on leaf of Piper betle L Combination of concentration 0.5 mg/L IAA and 2.0 mg/L BAP showed the fastest induction at 8.5 days. Combination of concentration 1.0 mg/L IAA and 1.5 mg/L BAP showed the best of fresh weight at 0.6596 grams, meanwhile the combination of concentration 0.5 mg/L IAA and 0.5 mg/L BAP showed the best dry weight at 0.0727 grams. The conclusion of this research was that concentration 0.5 mg/L IAA and 0.5 mg/L BAP was the best combination for induction of callus from leaf of Piper betle L. Callus of Piper betle L. had two textures, that were compact and friable, and also showed various kind of color, like white, greenish white, yellowish white, tanned white, brown and black.

ix

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

SKRIPSI

DAFTAR ISI

LEMBAR JUDUL LEMBAR PERNYATAAN LEMBAR PENGESAHAN LEMBAR PEDOMAN PENGGUNAAN SKRIPSI KATA PENGANTAR UCAPAN TERIMAKASIH ABSTRAK ABSTRACT DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang 1.2 Rumusan masalah 1.3 Asumsi penelitian 1.4 Hipotesis penelitian 1.4.1 Hipotesis kerja
1.1 Latar belakang
1.2 Rumusan masalah
1.3 Asumsi penelitian
1.4 Hipotesis penelitian
1.4.1 Hipotesis kerja
1.4.2 Hipotesis statistik
1.5 Tujuan penelitian
1.6 Manfaat penelitian
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan umum tentang sirih hitam (Piper betle L.)

2.1.1 Sistematika sirih hitam (Piper betle L.)

2.1.2 Morfologi sirih hitam (Piper betle L.)

2.1.3 Kandungan sirih hitam (Piper betle L.)

2.1.4 Pemanfaatan sirih hitam (Piper betle L.)

2.2 Tinjauan umum tentang kultur jaringan tanaman

2.2.1 Induksi kalus

i

ii

iii

iv

v

vi

viii

ix

x

xiii

xv

xvii

1

1

5

6

7

7

8

8

9

10

10

11

11

12

13

13

15

x

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

2.3 Media kultur jaringan 17 2.4 Zat pengatur tumbuh 18 2.5 Mekanisme kerja IAA dan
2.3 Media kultur jaringan
17
2.4 Zat pengatur tumbuh
18
2.5 Mekanisme kerja IAA dan BAP
20
BAB III METODE PENELITIAN
23
3.1 Waktu dan tempat penelitian
23
3.2 Alat dan bahan penelitian
23
3.2.1 Alat penelitian
23
3.2.2 Bahan penelitian
23
3.3 Tahap penelitian
24
3.3.1 Pembuatan larutan stok mikronutrien
24
3.3.2 Pembuatan larutan stok zat besi
24
3.3.3 Pembuatan larutan stok vitamin
25
3.3.4 Pembuatan larutan stok zat pengatur tumbuh IAA
25
3.3.5 Pembuatan larutan stok zat pengatur tumbuh BAP
26
3.3.6 Pembuatan media kultur
27
3.3.7 Sterilisasi alat dan ruang kerja
28
3.3.8 Penanaman eksplan
28
3.4 Variabel penelitian
30
3.5 Rancangan penelitian
30
3.6 Pengumpulan data
31
3.7 Analisis data
33
3.8 Diagram alir penelitian
34
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
35
35
4.1.1
Lama waktu induksi kalus dan persentase eksplan
membentuk kalus daun sirih hitam (Piper betle L.) pada
media MS
dengan
berbagai
macam
kombinasi
konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA dan BAP
35
4.1.2
Berat segar dan berat kering kalus sirih hitam (Piper
betle L.) dengan kombinasi konsentrasi zat pengatur
tumbuh IAA dan BAP
38

SKRIPSI

xi

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

SKRIPSI

4.1.3 Morfologi kalus sirih hitam (Piper betle L.) dengan kombinasi konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA dan BAP

Pembahasan

4.2.1

Pengaruh pemberian kombinasi konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA dan BAP terhadap lama waktu induksi kalus dan persentase eksplan membentuk kalus daun sirih hitam (Piper betle L.) Pengaruh pemberian kombinasi konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA dan BAP terhadap berat segar dan berat kering kalus sirih hitam (Piper betle L.) Pengaruh pemberian kombinasi konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA dan BAP terhadap morfologi kalus sirih hitam (Piper betle L.)

4.2

4.2.2 4.2.3 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan 5.2 Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
4.2.2
4.2.3
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

44

79

79

83

86

92

92

93

94

xii

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

DAFTAR TABEL

Nomor

Judul tabel

Halaman

3.5

31

4.1

 

36

Rancangan kombinasi konsentrasi IAA dan BAP Rerata lama waktu induksi dan persentase kalus yang terbentuk dari eksplan sirih hitam pada media MS berbagai kombinasi konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA dan BAP Rerata berat segar dan berat kering kalus sirih hitam selama delapan minggu masa kultur Morfologi kalus daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA 0,0 mg/L dan BAP 0,0 Morfologi kalus daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA 0,0 mg/L dan BAP 0,5 Morfologi kalus daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA 0,0 mg/L dan BAP 1,0 Morfologi kalus daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA 0,0 mg/L dan BAP 1,5 Morfologi kalus daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA 0,0 mg/L dan BAP 2,0 Morfologi kalus daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA 0,5 mg/L dan BAP 0,0 Morfologi kalus daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA 0,5 mg/L dan BAP 0,5 Morfologi kalus daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA 0,5 mg/L dan BAP 1,0 Morfologi kalus daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA 0,5 mg/L dan BAP 1,5 Morfologi kalus daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA 0,5 mg/L dan BAP 2,0 Morfologi kalus daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA 1,0 mg/L dan BAP 0,0 Morfologi kalus daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA 1,0 mg/L dan BAP 0,5 Morfologi kalus daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA 1,0 mg/L dan BAP 1,0

4.2 39 4.3 44 4.4 46 4.5 47 4.6 48 4.7 50 4.8 52 4.9
4.2
39
4.3
44
4.4
46
4.5
47
4.6
48
4.7
50
4.8
52
4.9
53
4.10
55
4.11
56
4.12
57
4.13
59
4.14
60
4.15
62

4.16 Morfologi kalus daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA 1,0 mg/L dan BAP 1,5

63

4.17 Morfologi kalus daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA 1,0 mg/L dan BAP 2,0

64

4.18 Morfologi kalus daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA 1,5 mg/L dan BAP 0,0

66

4.19 Morfologi kalus daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA 1,5 mg/L dan BAP 0,5

67

4.20 Morfologi kalus daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA 1,5 mg/L dan BAP 1,0

68

SKRIPSI

xiii

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

70 4.25 4.26 4.27 4.21 Morfologi kalus daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA 1,5 mg/L
70
4.25
4.26
4.27
4.21 Morfologi kalus daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA
1,5 mg/L dan BAP 1,5
4.22 Morfologi kalus daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA
1,5 mg/L dan BAP 2,0
4.23 Morfologi kalus daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA
2,0 mg/L dan BAP 0,0
4.24 Morfologi kalus daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA
2,0 mg/L dan BAP 0,5
Morfologi kalus daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA
2,0 mg/L dan BAP 1,0
Morfologi kalus daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA
2,0 mg/L dan BAP 1,5
Morfologi kalus daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA
2,0 mg/L dan BAP 2,0
71
73
74
75
77
78

SKRIPSI

xiv

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul gambar Halaman 2.1 Habitus sirih hitam 10 2.4 (a) Struktur kimia IAA dan
Nomor
Judul gambar
Halaman
2.1
Habitus sirih hitam
10
2.4
(a) Struktur kimia IAA dan (b) Struktur kimia BAP
19
2.5
Mekanisme sitokinin terhadap pembelahan sel
21
2.6
3.8
Mekanisme auksin terhadap pembesaran sel
Diagram alir penelitian
Rerata lama waktu induksi kalus pada eksplan sirih hitam
terhadap berbagai kombinasi konsentrasi zat pengatur tumbuh
22
34
4.1
IAA dan
BAP
37
4.2
Rerata berat segar kalus sirih hitam dan perlakuan berbagai
kombinasi konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA dan BAP
40
4.3
Rerata berat kering kalus sirih hitam dan perlakuan berbagai
kombinasi konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA dan BAP
41
4.4
Morfologi kalus eksplan daun sirih hitam dengan konsentrasi
IAA 0,0 mg/L dan BAP 0,0 mg/L
45
4.5
Morfologi kalus eksplan daun sirih hitam dengan konsentrasi
IAA 0,0 mg/L dan BAP 0,5 mg/L
47
4.6
Morfologi kalus eksplan daun sirih hitam dengan konsentrasi
IAA 0,0 mg/L dan BAP 1,0 mg/L
48
4.7
Morfologi kalus eksplan daun sirih hitam dengan konsentrasi
IAA 0,0 mg/L dan BAP 1,5 mg/L
49
4.8
Morfologi kalus eksplan daun sirih hitam dengan konsentrasi
IAA 0,0 mg/L dan BAP 2,0 mg/L
51
4.9
Morfologi kalus eksplan daun sirih hitam dengan konsentrasi
IAA 0,5 mg/L dan BAP 0,0 mg/L
53
4.10
Morfologi kalus eksplan daun sirih hitam dengan konsentrasi
IAA 0,5 mg/L dan BAP 0,5 mg/L
54
4.11
Morfologi kalus eksplan daun sirih hitam dengan konsentrasi
IAA 0,5 mg/L dan BAP 1,0 mg/L
55
4.12
Morfologi kalus eksplan daun sirih hitam dengan konsentrasi
IAA 0,5 mg/L dan BAP 1,5 mg/L
56
4.13
Morfologi kalus eksplan daun sirih hitam dengan konsentrasi
IAA 0,5 mg/L dan BAP 2,0 mg/L
58

4.14 Morfologi kalus eksplan daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA 1,0 mg/L dan BAP 0,0 mg/L

60

4.15 Morfologi kalus eksplan daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA 1,0 mg/L dan BAP 0,5 mg/L

61

4.16 Morfologi kalus eksplan daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA 1,0 mg/L dan BAP 1,0 mg/L

62

4.17 Morfologi kalus eksplan daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA 1,0 mg/L dan BAP 1,5 mg/L

64

4.18 Morfologi kalus eksplan daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA 1,0 mg/L dan BAP 2,0 mg/L

65

SKRIPSI

xv

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

4.19 Morfologi kalus eksplan daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA 1,5 mg/L dan BAP 0,0
4.19 Morfologi kalus eksplan daun sirih hitam dengan konsentrasi
IAA 1,5 mg/L dan BAP 0,0 mg/L
4.20 Morfologi kalus eksplan daun sirih hitam dengan konsentrasi
IAA 1,5 mg/L dan BAP 0,5 mg/L
4.21 Morfologi kalus eksplan daun sirih hitam dengan konsentrasi
IAA 1,5 mg/L dan BAP 1,0 mg/L
4.22 Morfologi kalus eksplan daun sirih hitam dengan konsentrasi
IAA 1,5 mg/L dan BAP 1,5 mg/L
Morfologi kalus eksplan daun sirih hitam dengan konsentrasi
IAA 1,5 mg/L dan BAP 2,0 mg/L
Morfologi kalus eksplan daun sirih hitam dengan konsentrasi
IAA 2,0 mg/L dan BAP 0,0 mg/L
Morfologi kalus eksplan daun sirih hitam dengan konsentrasi
IAA 2,0 mg/L dan BAP 0,5 mg/L
Morfologi kalus eksplan daun sirih hitam dengan konsentrasi
IAA 2,0 mg/L dan BAP 1,0 mg/L
Morfologi kalus eksplan daun sirih hitam dengan konsentrasi
IAA 2,0 mg/L dan BAP 1,5 mg/L
Morfologi kalus eksplan daun sirih hitam dengan konsentrasi
IAA 2,0 mg/L dan BAP 2,0 mg/L
67
68
69
70
4.23
72
4.24
74
4.25
75
4.26
76
4.27
77
4.28
78

SKRIPSI

xvi

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

SKRIPSI

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor

Judul lampiran

AIRLANGGA SKRIPSI DAFTAR LAMPIRAN Nomor Judul lampiran 1 Komposisi media Murashige and Skoog (MS) Padat 2
AIRLANGGA SKRIPSI DAFTAR LAMPIRAN Nomor Judul lampiran 1 Komposisi media Murashige and Skoog (MS) Padat 2

1 Komposisi media Murashige and Skoog (MS) Padat

2 Tabel waktu induksi kalus eksplan sirih hitam (Piper betle L.) pada berbagai kombinasi konsentrasi IAA dan BAP

3 Tabel persentase eksplan sirih hitam (Piper betle L.) membentuk kalus pada berbagai kombinasi konsentrasi IAA dan BAP

4 5 6 7 Tabel Uji distribusi normalitas 8 9 10 11
4
5
6
7
Tabel Uji distribusi normalitas
8
9
10
11

Tabel berat segar dan berat kering kalus sirih hitam (Piper betle L.) pada berbagai kombinasi konsentrasi IAA dan BAP

Tabel morfologi kalus sirih hitam (Piper betle L.) pada berbagai kombinasi konsentrasi IAA dan BAP (minggu ke-1 sampai dengan minggu ke-4)

Tabel morfologi kalus sirih hitam (Piper betle L.) pada berbagai kombinasi konsentrasi IAA dan BAP (minggu ke-5 sampai dengan minggu ke-8)

Tabel signifikansi lama waktu induksi kalus eksplan sirih hitam (Piper betle L.) berdasarkan uji Mann-Whitney

Tabel signifikansi berat segar induksi kalus eksplan sirih hitam (Piper betle L.) berdasarkan uji Mann-Whitney Tabel signifikansi berat kering induksi kalus eksplan sirih hitam (Piper betle L.) berdasarkan uji Mann-Whitney Tabel Uji homogenitas varians

xvii

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

pada organisme host individu. Pada hal tertentu, penyakit infeksi 2012). Peraturan Menteri Kesehatan Republik
pada
organisme
host
individu.
Pada
hal
tertentu,
penyakit
infeksi
2012).
Peraturan
Menteri
Kesehatan
Republik
Indonesia

Penyakit infeksi merupakan salah satu masalah kesehatan yang utama di

berbagai negara berkembang termasuk Indonesia. Berdasarkan hasil pendataan

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2010, penyakit infeksi

(29,5%) merupakan penyebab kematian penduduk Indonesia terbesar kedua.

Penyakit ini terjadi akibat keberadaan dan pertumbuhan agen biologik patogenik

dapat

berlangsung sepanjang waktu. Patogen penginfeksi meliputi virus, bakteri, jamur,

dan protozoa. Patogen ini merupakan penyebab epidemi penyakit (Wardani,

Selama ini penggunaan antibiotik mampu membunuh bakteri patogen,

tetapi perlu disadari bahwa upaya membunuh bakteri penyebab penyakit saja

ternyata tidak cukup memadai, hal tersebut disebabkan akibat kurang tepatnya

pemilihan antibiotik dan munculnya resistensi (Nasronuddin, 2007). Berdasarkan

nomor

2406/MENKES/PER/XII/2011

menyatakan

bahwa

intensitas

penggunaan

antibiotik yang relatif tinggi menimbulkan berbagai permasalahan dan merupakan

ancaman global bagi kesehatan terutama resistensi bakteri terhadap antibiotik.

Hasil

penelitian

Antimicrobial

Resistant

in

Indonesia

(AMRIN-Study)

menyebutkan bahwa dari 2.494 individu di masyarakat, 43% Escherichia coli

SKRIPSI

1

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

2

resisten terhadap berbagai jenis antibiotik yakni ampisilin, kotrimoksazol, dan

kloramfenikol. Hal inilah yang mendorong dan mendasari pencarian sumber obat-

obatan alami yang murah dan memiliki potensi aktivitas antimikroba (Kumala dan

Siswanto, 2007).

berbahan baku tanaman obat dalam lima tahun terakhir contoh tanaman yang biasa digunakan masyarakat adalah
berbahan
baku
tanaman
obat
dalam
lima
tahun
terakhir
contoh
tanaman
yang
biasa
digunakan
masyarakat
adalah
dan
terbukti
mampu
melindungi
hati
dari
efek
negatif
galaktosamin
melancarkan
fungsi
organ
pernafasan,
menurunkan
kadar
gula,

Pemanfaatan tanaman sebagai bahan baku obat alami terus meningkat.

Saat ini masyarakat lebih tertarik untuk menggunakan obat-obatan alami yang

memiliki efek samping lebih rendah dari antibiotik dengan khasiat pengobatan

multifungsi berbagai penyakit. Hal ini terbukti bahwa perkembangan industri

menunjukkan

pertumbuhan yang signifikan dan hasil penjualan produksinya selama kurun

waktu tersebut meningkat sebesar 2,530% per tahun (Pribadi, 2009). Salah satu

sambiloto

(Andrographis paniculata) yang memiliki sifat melindungi hati (hepatoprotektif),

dan

parasetamol. Selain berkhasiat melindungi hati, sambiloto juga dapat menekan

pertumbuhan sel kanker. Contoh lainnya yakni tanaman brotowali (Tinospora

crispa, L.) merupakan tumbuhan obat herbal yang mempunyai manfaat untuk

pengobatan

rematik, memar, demam, merangsang nafsu makan, sakit kuning, cacingan, dan

batuk (Nursiyah, 2013). Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai tanaman obat

adalah sirih hitam.

Sirih hitam (Piper betle L.) merupakan tanaman multifungsi yakni selain

sebagai tanaman hias juga bermanfaat sebagai obat berbagai penyakit. Seperti

SKRIPSI

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

3

halnya antibiotika, kandungan minyak atsiri pada daun sirih bermanfaat sebagai

obat penyakit periodontal dan penyakit saluran pernapasan manusia (Hermawan,

2007). Kandungan fenol juga berperan sebagai racun bagi mikroba dengan

menghambat aktivitas enzimnya (Suliantari et al., 2008), selain itu juga terdapat

kandungan saponin dan tannin yang bersifat sebagai antiseptik pada (Yanti, 2012). mahal. Salah satu
kandungan
saponin
dan
tannin
yang
bersifat
sebagai
antiseptik
pada
(Yanti, 2012).
mahal.
Salah
satu
alternatif
yang
dapat
dilakukan
untuk
tetap

luka

permukaan, bekerja sebagai bakteriostatik yang biasanya digunakan untuk infeksi

pada kulit, mukosa dan melawan infeksi pada luka serta flavanoid selain berfungsi

sebagai bakteriostatik juga berfungsi sebagai antiinflamasi (Mursito, 2002). Selain

itu juga mengandung nitrogen, protein, karbohidrat, serat, vitamin A, B kompleks,

C, D, E, natrium, kalium, kalsium, magnesium, fosfor, besi, tembaga, dan seng

Sirih hitam sebagai tanaman obat memiliki prospek yang menarik untuk

dikembangkan. Menurut Kartika (2013), selama ini senyawa metabolit sekunder

diperoleh melalui cara ekstraksi organ tumbuhan secara langsung, akan tetapi cara

ini membutuhkan pasokan bahan segar tumbuhan dalam skala besar selain itu juga

proses ekstraksi, isolasi, dan pemurniannya membutuhkan biaya yang relatif

menjaga

ketersediaannya serta meningkatkan produksi metabolit sekunder tanpa harus

membutuhkan waktu yang lama adalah melalui kultur kalus.

Sejauh ini penelitian yang terkait dengan sirih hitam adalah tentang

kandungan senyawa metabolit sekunder yang dilakukan oleh Rija’i (2015) dan uji

daya

antifungal

ekstrak

etanol

daun

sirih

hitam

terhadap

penghambatan

pertumbuhan Candida albicans oleh Ummah (2014). Sedangkan penelitian sirih

SKRIPSI

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

4

hitam terkait perbanyakan tanaman secara in vitro belum banyak dilakukan,

sehingga pada penelitian ini dilakukan perbanyakan tanaman secara in vitro

menggunakan zat pengatur tumbuh Indole-3-Acetic Acid (IAA) dan Benzyl Amino

Purin (BAP). Hormon IAA merupakan hormon golongan auksin yang berperan

untuk merangsang pembesaran sel, sedangkan hormon BAP merupakan hormon

golongan sitokinin yang berperan merangsang pembelahan sel-sel tanaman. IAA dan BAP, hasilnya mengungkapkan bahwa
golongan sitokinin yang berperan merangsang pembelahan sel-sel tanaman.
IAA
dan
BAP,
hasilnya
mengungkapkan
bahwa
eksplan
gandum
(Piper crocatum Ruiz dan Pav.).

Rashid et al. (2009) telah melakukan penelitian mengenai peran hormon

Pakistan

(Triticum aestivum) varietas Tatara menunjukkan hasil induksi kalus maksimum,

selain itu pada penelitian dari Abdelmageed et al. (2012) menunjukkan hasil

induksi yang maksimum juga pada konsentrasi hormon IAA dan BAP terhadap

eksplan cempaka wangi. Salah satu keluarga dari Piperaceae yang sudah pernah

dilakukan penelitian mengenai perbanyakan secara in vitro adalah sirih merah

Pada penelitian yang dilakukan oleh Suaibah (2014) menjelaskan bahwa

induksi kalus sirih merah paling cepat oleh kombinasi zat pengatur tumbuh NAA

3 mg/L dan BAP 0 mg/L, sedangkan Mujahidah (2014) menyebutkan bahwa zat

pengatur tumbuh 2,4-D 3 mg/L dan NAA 2,5 mg/L menginduksi kalus sirih

merah paling cepat. Penggunaan zat pengatur tumbuh IAA yang dikombinasikan

dengan BAP pada tanaman sirih belum dilakukan sehingga pada penelitian ini

akan melakukan kombinasi konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA dan BAP, serta

tanaman yang digunakan merupakan dari keluarga Piperaceae lainnya yakni sirih

SKRIPSI

hitam

(Piper

betle

L.).

Penelitian

sebelumnya

belum

INDUKSI KALUS EKSPLAN

ditemukan

mengenai

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

5

perbanyakan sirih hitam dengan pengaruh kombinasi pemberian zat pengatur

tumbuh. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh

kombinasi konsentrasi zat pengatur tumbuh, melalui kombinasi konsentrasi zat

pengatur tumbuh yaitu IAA dan BAP pada induksi kalus sirih hitam.

1.2 Rumusan masalah berikut: 1. Apakah kombinasi konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA dan kalus pada
1.2 Rumusan masalah
berikut:
1.
Apakah
kombinasi
konsentrasi
zat
pengatur
tumbuh
IAA
dan
kalus pada kultur eksplan daun sirih hitam (Piper betle L.)?
2.
Apakah
kombinasi
konsentrasi
zat
pengatur
tumbuh
IAA
dan
eksplan daun sirih hitam (Piper betle L.)?
3.
tumbuh IAA dan BAP?
4.

Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah sebagai

BAP

berpengaruh terhadap waktu induksi dan persentase eksplan membentuk

BAP

berpengaruh terhadap berat segar dan berat kering kalus pada kultur

Bagaimanakah morfologi kalus pada kultur eksplan daun sirih hitam

(Piper betle L.) setelah pemberian kombinasi konsentrasi zat pengatur

Berapakah kombinasi konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA dan BAP

yang sesuai untuk induksi kalus pada kultur eksplan daun sirih hitam

SKRIPSI

(Piper betle L.)?

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

 

6

1.3

Asumsi penelitian

 

Zat

pengatur

tumbuh

merupakan

salah

satu

komponen

media

yang

menentukan keberhasilan kultur jaringan (Yusnita, 2003). Peranan auksin dan

sitokinin sangat nyata dalam pengaturan pembelahan sel, pemanjangan sel, dan

diferensiasi sel (Zulkarnain, 2009). Auksin sangat dikenal sebagai hormon yang

dalam menyerap air, sehingga dapat meningkatkan potensial air (Salisbury dan Ross, 1995).
dalam
menyerap
air,
sehingga
dapat
meningkatkan
potensial
air
(Salisbury dan Ross, 1995).

mampu berperan menginduksi terjadinya kalus, mendorong proses morfogenesis

kalus membentuk akar atau tunas, mendorong proses embriogenesis, dan dapat

memengaruhi kestabilan genetik sel tanaman (Santoso dan Nursandi, 2002). IAA

digunakan untuk mendorong pemanjangan sel serta menambah kemampuan sel

jaringan

akibatnya sel akan mengalami pemanjangan. Kemampuan IAA dalam proses

pengembangan sel terkait dengan kehadiran zat lain, dimana interaksi antara IAA

dan sitokinin yang terbentuk secara alami dapat mendorong pembelahan sel

Sitokinin merupakan hormon tumbuhan turunan adenin dan berfungsi

untuk merangsang pembelahan sel dan diferensiasi mitosis, disintesis pada ujung

akar dan ditranslokasi melalui pembuluh xilem (Hendaryono dan Wijayani, 1994).

Pemberian sitokinin kedalam media kultur jaringan penting untuk menginduksi

perkembangan dan pertumbuhan eksplan. Apabila ketersediaan sitokinin dalam

medium

kultur

sangat

terbatas

maka

pembelahan

sel

pada

jaringan

yang

dikulturkan akan terhambat. Akan tetapi, apabila jaringan tersebut disubkulturkan

pada medium dengan kandungan sitokinin yang memadai maka pembelahan sel

akan berlangsung secara sinkron (George dan Sherington, 1984). BAP merupakan

SKRIPSI

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

7

salah satu sitokinin sintetik yang aktif dan daya merangsangnya lebih lama karena

tidak mudah dirombak oleh enzim dalam tanaman (Yusnita, 2003).

Pada beberapa penelitian seperti penelitian dari Rashid et al. (2009)

mengatakan

bahwa

kombinasi

dari

BAP

(2,0

mg/L)

dan

IAA

(0,1

mg/L)

memberikan hasil induksi kalus gandum Pakistan (Triticum aestivum) secara

dengan teknik kultur jaringan menjelaskan bahwa konsentrasi zat berpengaruh terhadap induksi kalus eksplan daun
dengan
teknik
kultur
jaringan
menjelaskan
bahwa
konsentrasi
zat
berpengaruh terhadap induksi kalus eksplan daun sirih hitam.
1.4
Hipotesis penelitian
1.4.1
Hipotesis kerja
Jika
kombinasi
konsentrasi
zat
pengatur
tumbuh
IAA
dan

maksimum. Selain itu hal yang sama terjadi pada penelitian dari Abdelmageed et

al. (2012) mengenai induksi kalus tanaman cempaka wangi (Michelia champaca)

pengatur

tumbuh IAA (0,5 mg/L) dan BAP (2,0 mg/L). Berdasarkan data tersebut dapat

diasumsikan bahwa kombinasi konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA dan BAP

BAP

berpengaruh terhadap waktu induksi kalus, persentase eksplan membentuk kalus,

berat segar dan berat kering kalus pada kultur eksplan daun sirih hitam (Piper

betle L.), maka akan memberikan hasil yang berbeda pada waktu induksi kalus,

persentase eksplan membentuk kalus, berat segar dan berat kering kalus pada

SKRIPSI

kultur eksplan daun sirih hitam.

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

8

1.4.2 Hipotesis statistik

H 0

:

Tidak ada pengaruh pemberian konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA dan

BAP terhadap waktu induksi kalus, persentase eksplan membentuk kalus,

berat segar dan berat kering kalus pada kultur eksplan daun sirih hitam

(Piper betle L.). H : Ada pengaruh pemberian konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA dan BAP
(Piper betle L.).
H
:
Ada pengaruh pemberian konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA dan BAP
0
terhadap waktu induksi kalus, persentase eksplan membentuk kalus, berat
segar dan berat kering kalus pada kultur eksplan daun sirih hitam (Piper
betle L.).
1.5
Tujuan penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk:
1.
Mengetahui pengaruh kombinasi konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA dan
BAP terhadap waktu induksi dan persentase eksplan membentuk kalus pada
kultur eksplan daun sirih hitam (Piper betle L.).
2.
Mengetahui pengaruh kombinasi konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA dan
BAP terhadap berat segar dan berat kering kalus pada kultur eksplan daun
sirih hitam (Piper betle L.).

3. Mengetahui pengaruh kombinasi konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA dan

SKRIPSI

BAP

terhadap

morfologi

(Piper betle L.).

kalus

pada

kultur

eksplan

INDUKSI KALUS EKSPLAN

daun

sirih

hitam

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

9

4. Mengetahui pengaruh kombinasi konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA dan

BAP yang sesuai untuk induksi kalus pada kultur eksplan daun sirih hitam

SKRIPSI

(Piper betle L.).

1.6 Manfaat penelitian (Piper betle L.).
1.6 Manfaat penelitian
(Piper betle L.).

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperoleh kombinasi zat pengatur

tumbuh IAA dan BAP yang tepat untuk kultur kalus eksplan daun sirih hitam

(Piper betle L.), selain itu juga penelitian ini diharapkan dapat memberikan

informasi ilmiah mengenai induksi kalus yang dapat digunakan sebagai dasar

pengembangan produksi metabolit sekunder yang berasal dari tanaman sirih hitam

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Tinjauan umum tentang sirih hitam (Piper betle L.)

Sirih hitam merupakan tanaman tahunan dan termasuk dalam Gambar 2.1.
Sirih
hitam
merupakan
tanaman
tahunan
dan
termasuk
dalam
Gambar 2.1.
tanaman tahunan dan termasuk dalam Gambar 2.1. keluarga Piperaceae dan genus Piper . Tanaman merambat ini

keluarga

Piperaceae dan genus Piper. Tanaman merambat ini memiliki ciri pada batangnya

yang berwarna merah kehitaman dan daun yang hijau kehitaman seperti terlihat pada

Gambar 2.1 Habitus sirih hitam, skala bar = 5 cm (Budiman, 2013).

SKRIPSI

10

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

11

2.1.1 Sistematika sirih hitam (Piper betle L.)

Klasifikasi ilmiah sirih hitam menurut Backer dan Bakhuizen van den Brink

jr (1963) dalam buku Flora of Java dan Cronquist (1981) dalam buku An Integrated

System of Classification of Flowering Plants adalah:

Kingdom : Plantae Divisio : Magnoliophyta Classis : Magnoliopsida Subclassis : Magnoliidae Ordo : Piperales
Kingdom
: Plantae
Divisio
: Magnoliophyta
Classis
: Magnoliopsida
Subclassis
: Magnoliidae
Ordo
: Piperales
Familia
: Piperaceae
Genus
: Piper
Species
: Piper betle L.
2.1.2
Morfologi sirih hitam (Piper betle L.)

Piper betle L. merupakan tanaman herba yang menjalar dan merambat pada

batang pokok di sekelilingnya. Daunnya termasuk daun tunggal bertangkai yang

lunak dengan duduk daun yang berseling, helaian daunnya berwarna hijau kehitaman,

pangkal daun berbentuk jantung dan ujung meruncing, tepi daunnya rata, memiliki

pertulangan daun menyirip. Daun ini memiliki kisaran panjang antara 5 - 8 cm dan

lebarnya antara 2 - 5 cm, saat penumpu daun rontok akan meninggalkan tanda bekas

berbentuk cincin pada batang, daunnya memiliki bau aromatis yang khas (Abdullah,

SKRIPSI

2011).

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

12

Bentuk batangnya bulat dengan permukaannya kasar dan beruas, panjang

batangnya berkisar 5 - 15 m, berwarna merah kehitaman. Bunganya termasuk dalam

bunga majemuk berbentuk bulir dan terdapat daun pelindung ± 1 mm berbentuk bulat

panjang. Bulir jantan memiliki tangkai sepanjang 1,5 - 3 cm dengan dua benang sari,

kekuningan (Steenis, 2002). 2.1.3 Kandungan sirih hitam (Piper betle L.)
kekuningan (Steenis, 2002).
2.1.3 Kandungan sirih hitam (Piper betle L.)

Bonin, kepulauan Fuji, dan kepulauan Indonesia (Moeljanto dan Mulyono, 2004).

sedangkan panjang tangkai bulir betina berkisar 2,5 - 6 cm dengan 3 - 5 buah kepala

putik. Tipe buahnya adalah buah buni dengan ujung bebas dan membulat. Bulir

masak berbentuk bulat, berambut abu-abu, rapat dan tebalnya 1 - 1,5 cm. Akar dari

sirih hitam ini termasuk akar tunggang, berbentuk bulat dan berwarna cokelat

Menurut Abdullah (2011), Sirih dapat hidup subur jika ditanam diatas tanah

gembur yang tidak terlalu lembab dan memerlukan cuaca tropika dengan air yang

mencukupi. Sirih secara umum tumbuh subur di sepanjang Asia hingga Afrika Timur.

Sirih dapat ditemukan di bagian timur pantai Afrika, di Pulau Zanzibar, kepulauan

Piper betle L. diduga memiliki banyak efek farmakologi namun belum

banyak dilakukan penelitian. Menurut penelitian dari Rija’i (2015) ditemukan bahwa

metabolit sekunder dalam daun sirih hitam yang terdeteksi yaitu alkaloid, flavonoid,

saponin, tanin, steroid, triterpenoid, dan polifenolat. Aroma khas pada daun sirih

hitam dikarenakan adanya kandungan kavikol yang merupakan senyawa turunan dari

fenol. Selain kandungan zat kimia, sirih hitam juga mengandung beberapa nutrisi

SKRIPSI

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

13

seperti magnesium, tembaga, zat besi dan pati. Selain itu daun ini juga mengandung

serat serta Vitamin A, B kompleks, C, D, dan E (Yanti, 2012).

2.1.4 Pemanfaatan sirih hitam (Piper betle L.)

Daun sirih hitam juga memiliki khasiat yang dimiliki oleh daun sirih jenis

penyembuhan luka pada kulit, sifat lainnya yakni mengerutkan yang dan darah tinggi (Moeljanto dan Mulyono,
penyembuhan
luka
pada
kulit,
sifat
lainnya
yakni
mengerutkan
yang
dan darah tinggi (Moeljanto dan Mulyono, 2004).
2.2 Tinjauan umum tentang kultur jaringan tanaman

lain, secara umum daun ini mampu membantu menghilangkan bau pada badan yang

sumbernya karena cendawan serta bakteri, selain itu dapat juga untuk membersihkan

organ kewanitaan. Daun ini mampu menahan perdarahan sehingga mempercepat

berarti

mengencerkan dan mengeluarkan dahak, meluruhkan ludah, kegunaan lainnya adalah

untuk obat epistaksis, selain itu juga untuk cuci darah, asma, bronchitis, batuk rejan,

Kultur jaringan terdiri atas dua kata yakni kultur yang berarti budidaya dan

jaringan berarti sekelompok sel yang mempunyai bentuk dan fungsi yang sama

(Nugroho dan Sugito, 2005). Kultur jaringan tanaman atau teknik in vitro adalah

teknik menumbuh-kembangkan bagian tanaman, baik berupa sel, jaringan, atau organ

tanaman dalam kondisi aseptik. Selain dicirikan keadaan yang aseptik, penggunaan

media kultur buatan dengan kandungan nutrisi lengkap dan zat pengatur tumbuh

(ZPT) juga menjadi ciri lain dari teknik in vitro ini (Yusnita, 2003).

SKRIPSI

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

14

Pada Zulkarnain (2009) menjelaskan bahwa prinsip dasar pertumbuhan dan

perkembangan kultur jaringan secara in vitro dimulai ketika Schwann dan Schleiden

pada tahun 1838 mengemukakan teori totipotensi yang menyatakan bahwa sel-sel

bersifat otonom dan mampu berregenerasi menjadi tanaman lengkap. Sel bersifat

untuk berregenerasi menjadi tanaman lengkap kembali (Yusnita, 2003).
untuk berregenerasi menjadi tanaman lengkap kembali (Yusnita, 2003).

dengan

ukuran

kecil

mudah

disterilisasi

dan

kemungkinan

kecil

autonom artinya dapat melakukan metabolisme, tumbuh, dan berkembang secara

independen, jika diisolasi dari jaringan induknya. Totipotensi diartikan sebagai

kemampuan dari sel tumbuhan (baik sel somatik, sel vegetatif, maupun sel gametik)

Eksplan adalah bagian tanaman yang dijadikan bahan inokulum awal yang

ditanam dalam media yang akan menunjukkan pertumbuhan dan perkembangan

tertentu. Eksplan ini menjadi bahan dasar bagi pembentukan kalus yaitu bentuk awal

calon tunas yang kemudian mengalami proses pelengkapan tanaman seperti daun,

batang dan akar (Nusmawarhaeni et al., 1991). Eksplan yang digunakan pada kultur

jaringan harus yang masih muda (primordia), sel-selnya masih bersifat meristematis

dan sudah mengalami proses diferensiasi (Yuliarti, 2010). Umumnya eksplan yang

berasal dari jaringan tanaman yang masih muda lebih muda tumbuh dan beregenerasi.

Ukuran eksplan juga memengaruhi laju keberhasilan kultur jaringan. Apabila eksplan

terjadinya

kontaminasi, namun kemampuannya untuk beregenerasi juga lebih kecil sehingga

SKRIPSI

dibutuhkan

media

yang

(Zulkarnain, 2009).

lebih

kompleks

untuk pertumbuhan

INDUKSI KALUS EKSPLAN

dan

regenerasinya

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

15

Respon yang terlihat pertama kali yaitu terbentuknya jaringan penutup luka,

sel-selnya terus membelah, jika pembelahannya tidak terkendali akan membentuk

massa sel yang tidak terorganisir yang biasa disebut dengan kalus. Pembelahan sel-

sel yang tidak terkendali disebabkan sel-sel tumbuhan yang secara alamiah bersifat

cukup kompleks didalam medium kultur. Sel-sel kalus ini berbeda (Yuliarti, 2010). 2.2.1 Induksi kalus langkah
cukup
kompleks
didalam
medium
kultur.
Sel-sel
kalus
ini
berbeda
(Yuliarti, 2010).
2.2.1 Induksi kalus
langkah
yang
penting.
Setelah
itu
diusahakan
rangsangan
agar
membentuk
tunas
dan
akar.
Proses
mulai
terjadinya kalus
sampai
pada medium dasar (Suryowinoto, 1996).

autotrof, dikondisikan menjadi heterotrof dengan cara memberikan nutrisi yang

dengan

eksplannya, sel-selnya menjadi tidak terdiferensiasi, proses ini disebut dediferensiasi

Pada budidaya in vitro, menginduksi terbentuknya kalus merupakan salah satu

berdiferensiasi

diferensiasi

berbeda-beda, tergantung macam dan bagian tanaman yang dipakai untuk eksplan,

metode budidaya in vitro yang digunakan dan zat-zat tanaman yang dicampurkan

Tanaman dapat diperbanyak secara vegetatif menggunakan teknik kultur

jaringan dengan teknik kultur kalus atau kultur sel. Jika suatu eksplan ditanam pada

medium padat atau dalam medium cair yang sesuai, dalam waktu 24 minggu,

tergantung spesiesnya maka akan terbentuk kalus yang merupakan massa amorf dan

tersusun atas sel-sel parenkim berdinding sel tipis yang berkembang dari hasil

SKRIPSI

poliferasi

sel-sel

jaringan

induk

akibat

adanya

perlukaan

INDUKSI KALUS EKSPLAN

pada

jaringan

organ

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

16

(Yuwono, 2006). Beberapa jaringan tanaman dapat digunakan untuk membentuk

biakkan kalus seperti akar, batang, dan daun. Untuk membentuk kalus, jaringan

dipisahkan

dari

tanaman

dan

permukaan

sayatan

disterilkan

untuk

membunuh

pengkontaminasi biakkan (Nasir, 2002).

lain sesuai yang diinginkan. Sitokinin sering pula digunakan sebagai berperan dalam merangsang pertumbuhan
lain
sesuai
yang
diinginkan.
Sitokinin
sering
pula
digunakan
sebagai
berperan
dalam
merangsang
pertumbuhan
sel
dengan
cepat.
Kebutuhan
dan mikro (Santoso dan Nursandi, 2004).

Membuat kalus berarti menginduksi dari bagian tanaman tertentu, biasanya

dengan jalan dirangsang secara hormonal. Hormon yang banyak digunakan untuk

induksi kalus adalah auksin. Induksi kalus dipengaruhi oleh auksin. Tahapan induksi

kalus adalah suatu tahapan yang penting dalam budidaya kultur jaringan. Tahapan

inilah yang merupakan tahapan untuk mendapatkan tanaman utuh atau untuk tujuan

bahan

kombinasi untuk induksi kalus, untuk menghasilkan kalus yang baik, zat hara sangat

nutrisi

mineral untuk tanaman yang dikulturkan secara in vitro pada dasarnya sama dengan

kebutuhan hara tanaman yang ditumbuhkan di tanah, yaitu meliputi hara-hara makro

Unsur hara esensial ada dua yaitu unsur hara makro dan unsur hara mikro.

Unsur hara makro adalah unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang

besar (1 - 15 mg/berat kering tanaman) seperti nitrogen, kalium, kalsium, fosfor,

magnesium, dan sulfur. Sedangkan hara mikro adalah unsur hara yang dibutuhkan

tanaman dalam jumlah yang sangat sedikit (0,1 µg - 0,1 mg/berat kering tanaman)

seperti Fe, Cu, Mn, Zn, B, Mo, Co dan Cl (Goerge dan Klerk, 2008).

SKRIPSI

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

 

17

2.3

Media kultur jaringan

 

Media

merupakan

salah

satu

faktor

penentu

keberhasilan

perbanyakan

tanaman

secara

kultur

jaringan.

Berbagai

komposisi

media

kultur

telah

diformulasikan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman

2003).
2003).

yang dikulturkan. Media kultur secara fisik dapat berbentuk cair atau padat (Yusnita,

Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan

hormon. Selain itu diperlukan pula bahan tambahan seperti agar, gula dan lain-lain.

Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya juga

jumlahnya tergantung dengan kebutuhan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan.

Medium MS merupakan media yang secara luas dikembangkan pada tahun 1962.

Dari berbagai komposisi dasar ini kadang-kadang dibuat modifikasi, misalnya hanya

menggunakan setengah dari konsentrasi garam-garam makro yang digunakan atau

menggunakan komponen garam-garam makro berdasarkan MS yang disesuaikan

(Gunawan, 1994). Medium yang dikembangkan oleh Murashige dan Skoog (MS)

untuk kultur jaringan tanaman digunakan secara luas untuk kultivasi kalus pada agar

demikian juga kultur suspensi sel dalam medium cair. Keistimewaan medium ini

yaitu kandungan nitrat, kalium dan amoniumnya yang tinggi (Wetter dan Constabel,

1991). Selain medium MS ada beberapa contoh medium lainnya yaitu komposisi

Knudson C (1946), Heller (1953), Nitsch dan Nitsch (1972), Gamborg B5 (1976),

SKRIPSI

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

18

Linsmaier dan Skoog-LS (1965), serta Woody Plant Medium-WPM (Lloyd dan

McCown, 1980) (Yusnita, 2003).

2.4

Zat pengatur tumbuh

Zat pengatur tumbuh (ZPT) didalam tanaman mengatur berbagai bentuk (Wattimena, 1991). Pada kultur jaringan zat
Zat
pengatur
tumbuh
(ZPT)
didalam
tanaman
mengatur
berbagai bentuk (Wattimena, 1991).
Pada
kultur
jaringan
zat
pengatur
tumbuh
auksin
dan
sitokinin
berpengaruh.
Auksin
merupakan
salah
satu
jenis
hormon
yang
dapat

pertumbuhan

dan

perkembangan tanaman pada setiap tingkat pertumbuhan dan perkembangan. Pada

tanaman terdapat fitohormon yang menghambat, zat pengatur tumbuh akan bekerja

secara aditif (sinergis) dengan fitohormon (pendorong) atau antagonis dengan fitohormon

yang menghambat. Resultan dari interaksi ini akan tampak dalam pertumbuhan dan

perkembangan tanaman. Zat pengatur tumbuh dibedakan menjadi ZPT endogen dan ZPT

eksogen. ZPT endogen disebut fitohormon, sedangkan ZPT eksogen atau sintetik terdiri

dari lima golongan yaitu auksin, giberelin, sitokinin, asam absisat, dan etilen dalam

sangat

memacu

pertumbuhan tanaman dengan meningkatkan proses elongasi sel dan perpanjangan

batang seperti halnya diferensiasi sel (Tarabily et al., 2003). IAA adalah hormon auksin

endogen yang disintesis dalam batang dan akar. Prinsip karakterisasi adalah mengontrol

proses fisiologis dan menstimulasi kapasitas perpanjangan sel dalam batang dan bagian

koleoptil

mempengaruhi

inang

pada

respon

perkembangan

termasuk

inisiasi

akar,

differensiasi vaskular, perkembangan bunga maupun buah, bertanggung jawab dalam

pola gravitasi dan pencahayaan (Ekowahyuni, 2002).

SKRIPSI

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

19

Menurut Rao (1994), bahwa asam indol asetat (IAA) merupakan salah satu

contoh auksin dengan rumus kimia C 10 H 9 O 2 N (Gambar 2.4).

rumus kimia C 1 0 H 9 O 2 N (Gambar 2.4). (a) (b) Gambar 2.4
(a) (b)
(a)
(b)

Gambar 2.4 (a) Struktur kimia IAA dan (b) Struktur kimia BAP (Rao, 1994).

Selain IAA, zat pengatur tumbuh yang penting lainnya adalah dari golongan

sitokinin. Salah satu jenis ZPT dari golongan sitokinin yang sering dipakai dalam

kultur jaringan yaitu BAP (6-benzylaminopurine) (Gambar 2.4). Menurut George dan

Sherrington (1984) 6-benzylaminopurine (BAP) merupakan salah satu sitokinin

sintetik yang aktif dan daya merangsangnya lebih lama karena tidak mudah dirombak

oleh enzim dalam tanaman. Sedangkan menurut Noggle dan Fritz (1983) BAP

memiliki struktur yang mirip dengan kinetin dan juga aktif dalam pertumbuhan dan

proliferasi kalus. sehingga BAP merupakan sitokinin yang paling aktif. Selain itu

kultur tunas pucuk pada medium MS, baik yang mengandung sitokinin (BAP)

SKRIPSI

tunggal maupun kombinasi menunjukkan respon yang bervariasi.

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

2.5 Mekanisme kerja IAA dan BAP

20

Eksplan yang diinokulasikan pada medium dengan kombinasi IAA dan BAP

terinduksi pertumbuhan kalusnya. Keseimbangan antara auksin dan sitokinin akan

menghasilkan pertumbuhan yang optimal (Werner, 2009). Menurut George (1993)

menyatakan bahwa jika rasio auksin lebih rendah daripada sitokinin pembentukan akar. morfogenesis dan
menyatakan
bahwa
jika
rasio
auksin
lebih
rendah
daripada
sitokinin
pembentukan akar.
morfogenesis
dan
pertumbuhan
merupakan
proses
yang
sangat
penting

tunas yang dipicu oleh adanya cahaya.

maka

organogenesis akan mengarah ke tunas. Sedangkan jika rasio auksin seimbang

dengan sitokinin maka akan mengarah ke pembentukan kalus sedangkan jika rasio

auksin lebih tinggi daripada sitokinin organogenesis akan cenderung mengarah ke

Menurut Lee (2002), Auksin dan sitokinin dapat mengalami beberapa jenis

interaksi yaitu interaksi yang bersifat antagonis, maupun sinergis. Pada pembentukan

kalus antara auksin (IAA) dan sitokinin (BAP) bersifat sinergis. Auksin berperan

dalam mengatur pertumbuhan dan pemanjangan sel, sedangkan sitokinin berperan

dalam pembelahan sel. Hal ini mudah dimengerti karena secara seluler auksin

berperan dalam pemanjangan sel, sedangkan sitokinin memicu pembelahan sel,

dalam

pembetukan kalus dan selanjutnya diikuti rediferensiasi kalus menuju pembentukan

Menurut

D’Agostino

(1999),

menyatakan

bahwa

dalam

pembelahan

sel

sitokinin berperan dalam transisi fase G1→S dan fase G2M dengan meningkatkan

aktifitas fosforilasi sel. George (1993) menyebutkan bahwa (G1 = Gap1) merupakan

SKRIPSI

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

21

fase dimana pertumbuhan terjadi meningkatnya kuantitas organela dan meningkatnya

volume sitoplasma. Setelah fase G1 siap maka sel akan segera memasuki fase S. Fase

S adalah saat terjadinya sintesa DNA yang menghasilkan replikasi DNA yang identik

dengan DNA induk. Fase S diikuti oleh fase G2 dimana sel mempersiapkan diri

berikut merupakan mekanisme sitonikin terhadap pembelahan sel:
berikut merupakan mekanisme sitonikin terhadap pembelahan sel:

untuk melakukan mitosis. Sedangkan fase M adalah fase mitosis dimana terjadi

pembelahan inti (pemisahan kromosom) dan pemisahan sitoplasma. Pada Gambar 2.5

Gambar 2.5 Mekanisme sitokinin terhadap pembelahan sel (D’Agostino, 1999).

Skoog dan Miller (1957) dalam Kieber (2002) mengatakan sitokinin terlibat

SKRIPSI

dalam

berbagai

aspek

pada

pertumbuhan

dan

perkembangan

INDUKSI KALUS EKSPLAN

tanaman.

Dalam

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

22

perkembangan seluler sitokinin berperan dalam meningkatkan aktivitas pembelahan

sel. Sedangkan auksin berperan dalam pembesaran sel melalui hipotesa pertumbuhan

asam, dimana auksin dapat memicu pompa proton untuk meningkatkan jumlah H + ke

dalam sel sehingga sitoplasma sel menjadi lebih asam kemudian menyebabkan

sitoplasma sel menjadi lebih asam kemudian menyebabkan melonggarnya ikatan polisakarida pada dinding sel, sehingga

melonggarnya ikatan polisakarida pada dinding sel, sehingga air dengan mudah

berosmosis ke dalam sel dan menyebabkan sel mengalami pembesaran. Pada Gambar

2.6 berikut ini adalah gambar skematik mekanisme auksin terhadap pembesaran sel:

gambar skematik mekanisme auksin terhadap pembesaran sel: Gambar 2.6 Mekanisme auksin terhadap pembesaran sel

Gambar 2.6 Mekanisme auksin terhadap pembesaran sel (Campbell et.al., 2003).

Rasio auksin yang lebih tinggi pada medium akan memicu pertumbuhan kalus

dan menginisiasi terbentuknya akar (George, 1993). Interaksi antara sitokinin dan

auksin berperan dalam mengontrol banyak aspek pertumbuhan dan differensasi sel.

Ketika

dikombinasikan

dengan

auksin,

sitokinin

memicu

differensiasi

dan

perkembangan sel, organ dan seluruh bagian tanaman (Hendaryono, 1994).

SKRIPSI

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan tempat penelitian

Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga. 3.2 Alat dan bahan penelitian 3.2.1 Alat penelitian
Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga.
3.2
Alat dan bahan penelitian
3.2.1
Alat penelitian
magnetic
stirrer,
magnetic
stirrer,
micropipette,
kompor
listrik,
Laminar Air Flow (LAF), dan kamera.
3.2.2 Bahan penelitian

Penelitian dilakukan selama enam bulan, yaitu pada Bulan Januari sampai

dengan Bulan Juni 2016 di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan, Departemen

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi erlenmeyer, gelas

ukur, gelas beaker, cawan petri, botol kultur, pengaduk kaca, pipet, bunsen, korek

api, pinset, gunting, spatula, kertas saring, kertas payung, kertas label, tissue,

plastik, alumunium foil, sprayer, kain bersih, timbangan analitik, oven, hot plate

autoclave,

Bahan yang digunakan sebagai eksplan adalah daun sirih hitam (Piper

betle L.) yang masih muda, terdapat pada urutan daun kedua sampai keempat dari

bagian pucuk tanaman. Sirih hitam ini diperoleh dari Pasar Bunga Bratang,

Surabaya.

Bahan

kimia

yang

digunakan

adalah

bahan-bahan

penyusun

media

Murashige and Skoog (MS) (Lampiran 1), serta zat pengatur tumbuh Indole-3-

SKRIPSI

23

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

24

Acetic Acid (IAA) dan Benzyl Amino Purin (BAP), liquid detergent, spiritus,

aquades steril, kloroks 20%, dan alkohol 70%.

3.3 Tahap penelitian

3.3.1 Pembuatan larutan stok mikronutrien Pembuatan larutan stok mikronutrien dilakukan dengan erlenmeyer ukuran 200
3.3.1 Pembuatan larutan stok mikronutrien
Pembuatan
larutan
stok
mikronutrien
dilakukan
dengan
erlenmeyer ukuran 200

pembuatan

persediaan dalam 100 ml atau 100 kali konsentrasi, yakni dengan menimbang

bahan-bahan kimia mikronutrien (2230 mg MnSO 4 .H 2 O; 860 mg ZnSO 4 .4 H 2 O;

620 mg H 3 BO 3 ; 83 mg KI; 25 mg NaMoO 4 .2 H 2 O; 2,5 mg CuSO 4 .5 H 2 O; 2,5 mg

CoCl 2 .6 H 2 O), kemudian bahan-bahan tersebut dimasukkan satu per satu ke dalam

mL yang berisi 80 mL aquades steril. Setiap kali

memasukkan bahan kimia harus segera dilarutkan dengan diaduk menggunakan

pengaduk kaca secara perlahan, kemudian bahan berikutnya dimasukkan. Apabila

semua bahan dimasukkan secara bersamaan akan terbentuk endapan (presipitat).

Setelah itu larutan yang sudah jadi ditambahkan aquades steril hingga volume 100

mL. Selanjutnya larutan tersebut ditutup dengan alumunium foil dan diberi label:

Mikronutrien MS 100X, 1 mL/L, artinya untuk setiap pembuatan 1 liter media MS

memerlukan 1 mL larutan stok mikronutrien. Setelah itu disimpan dalam lemari

pendingin (Manuhara, 2014).

3.3.2 Pembuatan larutan stok zat besi

Pembuatan larutan stok zat besi dengan volume 200 mL atau 40 kali

konsentrasi, yakni dengan menimbang bahan-bahan kimia 1112 mg FeSO 4 .7H 2 O

dan 1492 mg Na 2 EDTA, kemudian bahan-bahan tersebut dimasukkan dalam

SKRIPSI

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

25

erlenmeyer ukuran 200 mL untuk dilarutkan dalam aquades steril sebanyak 75 mL

secara terpisah dan larutan FeSO 4 .7H 2 O dipanaskan sampai hampir mendidih,

selanjutnya

larutan

Na 2 EDTA

dimasukkan

sedikit

demi

sedikit

dan

diaduk

menggunakan

magnetic

stirrer.

Larutan

berwarna kuning emas.

Setelah

itu

menambahkan aquades steril hingga volume akhir menjadi 200 mL. Selanjutnya

stok zat besi. Setelah itu disimpan dalam lemari pendingin (Manuhara, 2014). 3.3.3 Pembuatan larutan stok
stok zat besi. Setelah itu disimpan dalam lemari pendingin (Manuhara, 2014).
3.3.3 Pembuatan larutan stok vitamin

larutan tersebut ditutup dengan alumunium foil dan diberi label: Zat besi MS 40X,

5 mL/L, artinya untuk setiap pembuatan 1 liter media memerlukan 5 mL larutan

Pembuatan larutan stok vitamin dengan volume 200 mL atau 50 kali

konsentrasi, yakni dengan menimbang bahan-bahan kimia (100 mg Glycine; 25

mg Nicotinic acid; 25 mg Pyridoxine-HCl; 5 mg Thiamine-HCl), kemudian

bahan-bahan tersebut dimasukkan dalam erlenmeyer ukuran 200 mL yang berisi

aquades steril sebanyak 100 mL satu per satu hingga homogen menggunakan

magnetic stirrer. Setelah itu menambahkan aquades steril hingga volume akhir

menjadi 200 ml. Selanjutnya larutan tersebut ditutup dengan alumunium foil dan

diberi label: Vitamin MS 50X, 4 mL/L, artinya untuk setiap pembuatan 1 liter

media memerlukan 4 mL larutan stok vitamin. Setelah itu disimpan dalam lemari

pendingin (Manuhara, 2014).

3.3.4 Pembuatan larutan stok zat pengatur tumbuh IAA

Pembuatan larutan zat pengatur tumbuh Indole-3-Acetic Acid

(IAA)

sebanyak

100

mL

dilakukan

dengan

menimbang

50

mg

IAA,

kemudian

dimasukkan kedalam erlenmeyer ukuran 100 mL dengan ditambahkan beberapa

SKRIPSI

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

26

tetes KOH 1N dan dipanaskan hingga larut (jernih), setelah itu ditambahkan 20

mL aquades steril sambil diaduk dan dipanaskan hingga larutan jernih. Kemudian

setelah dingin, ditambahkan aquades steril hingga volume akhir sebanyak 100 mL

sambil terus diaduk menggunakan magnetic stirrer. Stok yang telah siap ditutup

SKRIPSI

dengan alumunium foil dan diberi label: IAA, 500 ppm (500 mg/l), setelah itu

disimpan dalam lemari pendingin (Manuhara, 2014). 3.3.5 Pembuatan larutan stok zat pengatur tumbuh BAP sebanyak
disimpan dalam lemari pendingin (Manuhara, 2014).
3.3.5 Pembuatan larutan stok zat pengatur tumbuh BAP
sebanyak
100
mL
dilakukan
dengan
menimbang
50
mg
BAP,
dalam lemari pendingin (Manuhara, 2014).
Untuk
membuat
medium
dengan
konsentrasi
IAA/BAP
menggunakan rumus sebagai berikut:

Pembuatan larutan zat pengatur tumbuh Benzyl Amino Purin (BAP)

kemudian

dimasukkan ke dalam erlenmeyer ukuran 100 mL dengan ditambahkan beberapa

tetes HCl 1N dan dipanaskan hingga larut, setelah itu ditambahkan 20 mL aquades

steril sambil diaduk dan dipanaskan hingga larutan jernih. Kemudian setelah

dingin, ditambahkan aquades steril hingga volume akhir sebanyak 100 mL sambil

terus diaduk menggunakan magnetic stirrer. Stok yang telah siap ditutup dengan

alumunium foil dan diberi label: BAP, 500 ppm (500 mg/L), setelah itu disimpan

tertentu,

V 1 . M 1 = V 2 . M 2

Keterangan:

V 1

: Volume IAA/BAP yang belum diketahui

M 1

: Konsentrasi stok IAA/BAP

V 2

: Volume total medium yang akan dibuat

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

27

M 2

: Konsentrasi IAA/BAP yang dikehendaki

3.3.6

Pembuatan media kultur

Pembuatan media Murashige and Skoog (MS) dengan volume 1000 mL,

dimulai dengan menimbang bahan kimia makronutrien (1650 mg NH 4 NO 3 ; 1900

mg KNO 3 ; 440 mg CaCl 2 .2H 2 O; 370 mg MgSO 4 .7H 2 O; 170 mg KH 2 PO 4 ) dan

menggunakan magnetic stirrer. Setelah seluruh bahan larut, ditambahkan stok zat besi, 1 mL stok mikronutrien
menggunakan magnetic stirrer. Setelah seluruh bahan larut, ditambahkan
stok
zat besi,
1
mL stok
mikronutrien
dan
4
mL stok
vitamin
apabila
aquades hingga volume akhir 1000 mL (Manuhara, 2014).
perlu
menambahkan
8
gram
agar,
kemudian

dilarutkan satu per satu dalam erlenmeyer 1000 mL yang berisi 500 mL aquades

5 mL

kemudian

ditambahkan 100 mg myo-inositol dan 30 gram sukrosa. Zat pengatur tumbuh

IAA dan BAP ditambahkan pada media sesuai konsentrasi yang diinginkan.

Setelah itu mengukur pH dengan kertas pH, pH optimal dalam pembuatan media

MS berkisar 5,6-5,8. Apabila terlalu asam, maka ditambahkan KOH 1N dan

terlalu basa, maka ditambahkan HCl 1N, kemudian menambahkan

Media pertumbuhan MS yang dibuat merupakan media padat, sehingga

memanaskannya menggunakan

kompor listrik hingga agar larut. Pada keadaan cair, media dibagi dalam botol

kultur ± 10 mL/botol. Botol kultur ditutup dengan alumunium foil dan diberi label

sesuai

dengan

perlakuan.

Botol

kultur

berisi

media

yang

telah

memadat

disterilisasi menggunakan autoclave pada suhu 121 0 C selama 15 menit dan

tekanan 1,2 atm dan selanjutnya disimpan dalam ruangan penyimpanan/ruang

SKRIPSI

inkubasi (Manuhara, 2014).

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

3.3.7 Sterilisasi alat dan ruang kerja

28

Peralatan yang dibutuhkan untuk kultur jaringan, sebelumnya dicuci bersih

menggunakan sabun cuci dan dibilas dengan air bersih kemudian dikeringkan.

Alat-alat seperti dissecting-set (pinset dan scalpel) serta cawan petri dibungkus

rapi menggunakan kertas payung, sedangkan untuk peralatan seperti erlenmeyer

dan gelas ukur bagian mulut gelas cukup ditutup dengan alumunium dalam oven sebelum digunakan.
dan
gelas
ukur
bagian
mulut
gelas
cukup
ditutup
dengan
alumunium
dalam oven sebelum digunakan.

foil.

Kemudian seluruh alat tersebut dan botol kultur yang tadi sudah berisi media

disterilisasi dengan autoclave (suhu 121 0 C, tekanan 1,2 atm) selama 15 menit.

Setelah proses autoclave berakhir, peralatan yang telah steril tersebut disimpan

Selain alat-alat diatas yang perlu disterilkan, ruang kerja juga harus tetap

bersih dan steril seperti dinding dan lantai ruangan yang dibersihkan dengan

desinfektan, selain itu Laminar Air Flow (LAF) sebagai tempat proses penanaman

eksplan juga perlu untuk disterilkan dengan kain bersih yang telah dibasahi

dengan alkohol 70% yang diratakan ke meja dan dinding kaca LAF. Setelah itu

semua alat yang tadi sudah disterilkan dengan autoclave dimasukkan kedalam

LAF yang sebelumnya sudah diratakan dengan kain bersih yang dibasahi alkohol

70%. Kemudian lampu Ultraviolet (UV) dinyalakan dan dibiarkan selama 15-20

menit. Setelah itu, lampu UV dimatikan diganti menyalakan lampu neon dan

blower (Manuhara, 2014).

3.3.8 Penanaman eksplan

Proses penanaman eksplan dilakukan secara aseptis dalam Laminar Air

Flow (LAF). Eksplan yang digunakan adalah daun sirih hitam yang masih muda

SKRIPSI

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

29

(daun urutan kedua sampai keempat dari bagian pucuk). Permukaan daun sirih

hitam tersebut dicuci dengan cara daun direndam dalam detergen dan digoyang-

goyang selama 5 menit, kemudian dibilas dengan air mengalir sambil digosok

dengan tangan secara perlahan, kemudian direndam pada larutan alkohol 70% dan

digoyang-goyang selama 6 menit, lalu dibilas dengan aquades sebanyak 3 kali,

dibilas dengan aquades steril sebanyak 3 kali (Saputri, 2011). luka jaringan telah sembuh, maka pemakaian
dibilas dengan aquades steril sebanyak 3 kali (Saputri, 2011).
luka
jaringan
telah
sembuh,
maka
pemakaian
suhu
tinggi
akan
(Saputri, 2011).

selanjutnya daun direndam dalam larutan kloroks 20% dan digoyang-goyang

selama 10 menit, setelah itu larutan kloroks dibuang dan daun sirih hitam tersebut

Daun sirih hitam dipindahkan kedalam cawan petri yang telah dialasi

dengan kertas saring. Daun sirih hitam dipotong dengan ukuran ±1 cm 2 , kemudian

diletakkan dalam botol kultur sesuai dengan perlakuan. Setiap botol kultur diisi

dengan 3 eksplan, kemudian diletakkan dalam ruang inkubasi dengan suhu 20-25

0 C. Penggunaan suhu yang rendah dapat mengurangi aktivitas enzim peroksidase

dan oksidase yang bertindak sebagai katalisator dalam proses oksidasi senyawa

fenol. Akibatnya, keracunan oleh eksudat toksik ini dapat ditekan. Namun apabila

lebih

menguntungkan karena pada suhu tersebut aktivitas metabolisme sel lebih tinggi

Pencahayaan yang diperlukan sebagai syarat pokok proses fotosintesis,

intensitas cahaya yang dibutuhkan berkisar 400-3000 lux. Cahaya yang digunakan

dapat berasal dari cahaya matahari difus, lampu neon, dan lampu cool white.

Ukuran umum yang sering digunakan ialah lampu neon putih 40 watt diletakkan

1,5 2 meter dari rak tempat botol kultur. Semakin kecil daya lampu yang

SKRIPSI

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

30

digunakan maka semakin dekat jarak lampu ke tanaman. Peranan cahaya terhadap

pertumbuhan eksplan ditentukan oleh intensitas dan kualitas cahaya serta lamanya

penyinaran (Saputri, 2011).

3.4 Variabel penelitian Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Variabel bebas, berupa kombinasi
3.4
Variabel penelitian
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1.
Variabel bebas, berupa kombinasi zat pengatur tumbuh IAA dan BAP
dengan lima konsentrasi yaitu 0,0 mg/L; 0,5 mg/L; 1,0 mg/L; 1,5 mg/L;
2,0 mg/L.
2.
Variabel
terikat,
meliputi
waktu
eksplan
membentuk
kalus
(hari),
persentase (%) eksplan membentuk kalus, warna dan tekstur kalus yang
terbentuk, berat segar kalus, dan berat kering kalus (gram).
3.
Variabel terkendali, meliputi ukuran eksplan, media kultur, pH media,
suhu, dan intensitas cahaya.
3.5
Rancangan penelitian
Rancangan penelitian yang dilakukan adalah eksperimen laboratoris, yakni
berupa
rancangan
acak
lengkap.
Penelitian
ini
menggunakan
faktor
berupa

konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA dan konsentrasi zat pengatur tumbuh BAP.

Penelitian ini terdiri atas 25 perlakuan, masing-masing perlakuan dilakukan

pengulangan sebanyak 6 kali dengan jumlah eksplan disetiap botol berisi 3 potong

SKRIPSI

eksplan.

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

 

31

Penelitian

ini

menggunakan

berbagai

perbandingan

konsentrasi

zat

pengatur tumbuh IAA dan BAP dengan rancangan kombinasi sebagai berikut

(Tabel 3.5):

Tabel 3.5 Rancangan kombinasi konsentrasi IAA dan BAP. Konsentrasi Konsentrasi ZPT BAP (mg/L) ZPT IAA
Tabel 3.5 Rancangan kombinasi konsentrasi IAA dan BAP.
Konsentrasi
Konsentrasi ZPT BAP (mg/L)
ZPT IAA
0,0
0,5
1,0
1,5
2,0
(mg/L)
0,0
I 0,0 B 0,0
I 0,0 B 0,5
I 0,0 B 1,0
I 0,0 B 1,5
I 0,0 B 2,0
0,5
I 0,5 B 0,0
I 0,5 B 0,5
I 0,5 B 1,0
I 0,5 B 1,5
I 0,5 B 2,0
1,0
I 1,0 B 0,0
I 1,0 B 0,5
I 1,0 B 1,0
I 1,0 B 1,5
I 1,0 B 2,0
1,5
I 1,5 B 0,0
I 1,5 B 0,5
I 1,5 B 1,0
I 1,5 B 1,5
I 1,5 B 2,0
2,0
I 2,0 B 0,0
I 2,0 B 0,5
I 2,0 B 1,0
I 2,0 B 1,5
I 2,0 B 2,0
Keterangan:
= Konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA
I (x)
B (x) = Konsentrasi zat pengatur tumbuh BAP
3.6 Pengumpulan data
parameter yang diamati:

Pada penelitian ini, pengamatan dilakukan selama 8 minggu dengan

1. Pengamatan terbentuknya kalus (hari)

Menentukan

hari

mulai

terbentuknya

kalus

dengan

mengamati

lamanya pembentukan kalus pada eksplan (lampiran 2), dihitung mulai dari

satu hari setelah penanaman eksplan pada media dengan zat pengatur tumbuh

SKRIPSI

dan diamati setiap hari sampai terbentuknya kalus.

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

2. Persentase (%) eksplan terbentuk kalus

32

Menentukan persentase (%) eksplan terbentuk kalus yang dihitung dari

jumlah eksplan yang membentuk kalus dibagi dengan jumlah eksplan yang

ditanam pada media kemudian dikali 100% (lampiran 3).

3. Penentuan berat segar dan berat kering kalus (gram) kalus setelah dikultur selama 8 minggu
3. Penentuan berat segar dan berat kering kalus (gram)
kalus setelah dikultur selama 8 minggu tanpa botol kultur dan
tanamnya,
setelah
itu
dilakukan
penimbangan
berat
kering
kalus
2014) (lampiran 4).
4. Pengamatan morfologi kalus
hijau
kekuningan,
cokelat,
dan
sebagainya
(Mudyantini
et
al.,

Menentukan berat segar kalus dengan cara menimbang berat segar

media

yang

sebelumnya telah di oven selama 48 jam dengan suhu 60 70 0 C (Andriani,

Pengamatan morfologi kalus dengan cara mengamati kalus secara

visual, baik warna maupun tekstur kalus yang terbentuk dari eksplan. Kalus

memiliki macam-macam warna, seperti hijau, hijau keputihan, putih kuning,

2004).

Sedangkan untuk macam-macam tekstur kalus yaitu kompak dan friabel.

Kalus friabel yang terbentuk ikatan antar selnya tampak renggang, mudah

dipisahkan dan jika diambil dengan pinset, kalus mudah pecah dan ada yang

menempel pada pinset, sedangkan kalus yang kompak mempunyai tekstur

yang sulit untuk dipisahkan dan terlihat padat (Fitriani, 2008).

SKRIPSI

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

33

3.7 Analisis data

Data

yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data kualitatif dan

kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dari pengamatan secara visual meliputi warna

dan tekstur kalus yang dianalisis secara deskriptif. Data kuantitatif diperoleh dari

persentase eksplan membentuk kalus, pengamatan waktu induksi kalus, berat segar kalus, dan berat kering kalus.
persentase eksplan membentuk kalus, pengamatan waktu induksi kalus, berat
segar kalus, dan berat kering kalus. Pada data tiga terkahir yang disebutkan akan
dianalisis secara statistik menggunakan program SPSS versi 22.
Data tersebut terlebih
dahulu dilakukan uji normalitas menggunakan
Kolmogorov-Smirnov untuk mengetahui bahwa data berasal dari populasi yang
berdistribusi
normal.
Kemudian
dilanjutkan
uji
homogenitas
variannya
menggunakan
Test
Homogenity
of
Variance
untuk
mengetahui
data
yang
diperoleh
merupakan
data
homogen
yakni
dengan
Levene’s
Test.
Data
berdistribusi normal dan bervariasi homogen jika derajat signifikannya > 0,05
yang kemudian dilanjut dengan analisis uji parametrik yakni ANOVA untuk
mengetahui
pengaruh
kelompok-kelompok
perlakuan
yang menggunakan
uji
Duncan. Jika derajat signifikansi pada hasil analisis varians menunjukkan > 0,05
maka data bervariasi homogen, namun jika data tidak bervariasi homogen akan
dilanjutkan uji Brown-Forsythe (p < 0,05) dan dilanjutkan uji Games-Howell. Jika

data tidak berdistribusi normal maka dianalisis menggunakan uji nonparametrik

yakni uji Kruskal-Wallis (p < 0,05) untuk mengetahui ada/tidaknya pengaruh pada

setiap perlakuan yang kemudian dilanjut dengan uji lanjutan yakni Mann-Whitney.

Pada uji Mann-Whitney, jika derajat signifikannya < 0,05 maka antar perlakuan

yang dibandingkan menunjukkan adanya pengaruh (Nazir, 1999).

SKRIPSI

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

3.8 Diagram alir penelitian

34

Diagram alir penelitian ini dapat dilihat pada gambar 3.8:

Gambar 3.8 Diagram alir penelitian.
Gambar 3.8 Diagram alir penelitian.

SKRIPSI

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

SKRIPSI

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1

Hasil Penelitian

kultur eksplan.
kultur eksplan.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh kombinasi konsentrasi

zat pengatur tumbuh IAA dan BAP terhadap waktu induksi kalus, persentase eksplan

membentuk kalus, berat segar kalus, berat kering kalus, dan morfologi kalus daun

sirih hitam (Piper betle L.). Pada berbagai perlakuan dengan kombinasi zat pengatur

tumbuh IAA dan BAP menunjukkan adanya respon yang bervariasi terhadap kalus

sirih hitam. Pengamatan pada penelitian ini dilakukan selama delapan minggu masa

4.1.1 Lama waktu induksi kalus dan persentase eksplan membentuk kalus daun sirih hitam (Piper betle L.) pada media MS dengan berbagai macam kombinasi konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA dan BAP

Tahap induksi kalus pada penelitian ini digunakan untuk mendapatkan kalus

dari eksplan daun sirih hitam. Eksplan daun sirih hitam yang ditumbuhkan pada

media Murashige and Skoog (MS) dengan 25 perlakuan kombinasi konsentrasi zat

pengatur tumbuh IAA dan BAP memberikan respon yang bervariasi terhadap lama

waktu induksi kalus. Rerata lama waktu terbentuknya kalus sirih hitam terdapat pada

Tabel 4.1 dan Lampiran 2.

35

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

36

Tabel 4.1 Rerata lama waktu induksi dan persentase kalus yang terbentuk dari eksplan sirih hitam pada media MS berbagai kombinasi konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA dan BAP.

Kombinasi Konsentrasi (mg/L) Persentase Kode Rerata Lama Waktu Induksi Kalus (hari) Eksplan Membentuk IAA BAP
Kombinasi
Konsentrasi (mg/L)
Persentase
Kode
Rerata Lama Waktu
Induksi Kalus (hari)
Eksplan
Membentuk
IAA
BAP
Kalus
0,0
0,0
19
± 1,0954 a
100%
I 0,0 B 0,0
0,0
0,5
15,5 ± 0,5477 cd
100%
I 0,0 B 0,5
0,0
1,0
13,5 ± 1,6432 e
100%
I 0,0 B 1,0
0,0
1,5
10,5 ± 0,5477 no
100%
I 0,0 B 1,5
0,0
2,0
11,3 ± 0,5164 jkl
100%
I 0,0 B 2,0
0,5
0,0
16,5 ± 0,5477 b
100%
I 0,5 B 0,0
0,5
0,5
9,5 ± 0,5477 rs
100%
I 0,5 B 0,5
0,5
1,0
10,5 ± 0,5477 nop
100%
I 0,5 B 1,0
0,5
1,5
9
± 1,0954 rstuvw
100%
I 0,5 B 1,5
0,5
2,0
8,5 ± 0,5477 wx
100%
I 0,5 B 2,0
1,0
0,0
12
± 0,0000 efgh
100%
I 1,0 B 0,0
1,0
0,5
10,5 ± 0,5477 nopq
100%
I 1,0 B 0,5
1,0
1,0
9
± 0,0000 stuvwx
100%
I 1,0 B 1,0
1,0
1,5
11,5 ± 0,5477 hij
100%
I 1,0 B 1,5
1,0
2,0
12,5 ± 0,5477 ef
100%
I 1,0 B 2,0
1,5
0,0
12,5 ± 0,5477 efg
100%
I 1,5 B 0,0
1,5
0,5
11,5 ± 0,5477 hijk
100%
I 1,5 B 0,5
1,5
1,0
9,5 ± 0,5477 rst
100%
I 1,5 B 1,0
1,5
1,5
12
± 0,0000 efghi
100%
I 1,5 B 1,5
1,5
2,0
11
± 0,0000 jklmn
100%
I 1,5 B 2,0
2,0
0,0
16
± 1,0954 bc
100%
I 2,0 B 0,0
2,0
0,5
11,3 ± 0,5164 jklm
100%
I 2,0 B 0,5
2,0
1,0
9,5 ± 0,5477 rstu
100%
I 2,0 B 1,0
2,0
1,5
9,5 ± 0,5477 rstuv
100%
I 2,0 B 1,5
2,0
2,0
10
± 0,0000 opqr
100%
I 2,0 B 2,0

Keterangan: Angka rerata yang diikuti oleh notasi yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada derajat signifikansi 0,05 menurut uji Mann-Whitney.

SKRIPSI

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

 

37

Eksplan

daun

sirih

hitam

yang diinkubasi

pada media MS

dengan

25

perlakuan kombinasi konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA dan BAP menunjukkan

respon yang bervariasi. Pada Gambar 4.1 menunjukkan induksi kalus paling cepat

terjadi pada perlakuan kombinasi konsentrasi IAA 0,5 mg/L dan BAP 2,0 mg/L

terhadap perlakuan IAA 0,0 mg/L dan BAP 0,0 mg/L.
terhadap perlakuan IAA 0,0 mg/L dan BAP 0,0 mg/L.

dengan rerata lama waktu induksi 8,5 hari sedangkan induksi kalus yang paling lama

terjadi pada perlakuan IAA 0,0 mg/L dan BAP 0,0 mg/L dengan rerata lama waktu

induksi 19 hari. Perlakuan IAA 0,5 mg/L dan BAP 2,0 mg/L berbeda signifikan

Perlakuan IAA 0,5 mg/L dan BAP 2,0 mg/L berbeda signifikan Gambar 4.1 Rerata lama waktu induksi

Gambar 4.1 Rerata lama waktu induksi kalus pada eksplan sirih hitam terhadap berbagai kombinasi konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA dan BAP. Keterangan: I (x) = konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA, B (x) = konsentrasi zat pengatur tumbuh BAP, pemberian konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA dan BAP dalam satuan mg/L.

SKRIPSI

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

38

Persentase eksplan menginduksi kalus ditentukan dengan membandingkan

jumlah eksplan yang mampu membentuk kalus dengan jumlah semua eksplan yang

ditanam kemudian dikalikan 100%. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa semua

eksplan daun sirih hitam membentuk kalus pada setiap perlakuan. Pada Tabel 4.1 dan

perlakuan adalah 100%. 4.1.2
perlakuan adalah 100%.
4.1.2

lampiran 3 menunjukkan bahwa persentase eksplan membentuk kalus pada 25

Berat segar dan berat kering kalus sirih hitam (Piper betle L.) dengan kombinasi konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA dan BAP

Hasil rerata berat segar dan berat kering kalus yang telah diberikan perlakuan

pada berbagai kombinasi konsentrasi zat pegatur tumbuh IAA dan BAP dapat dilihat

pada Tabel 4.2 Pemberian kombinasi konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA dan BAP

terhadap berat segar dan berat kering kalus menunjukkan nilai rerata yang berbeda

(Gambar 4.2 dan Gambar 4.3). Pada perlakuan dengan kombinasi konsentrasi zat

pengatur tumbuh IAA 1,0 mg/L dan BAP 1,5 mg/L menunjukkan nilai rerata berat

segar yang paling tinggi yakni 0,6596 gram, sedangkan pada rerata berat kering yang

paling tinggi adalah perlakuan dengan kombinasi konsentrasi zat pengatur tumbuh

IAA 0,5 mg/L dan BAP 0,5 mg/L dengan nilai rerata 0,0727 gram. Pada perlakuan

IAA 0,0 mg/L dan BAP 0,0 mg/L memiliki rerata berat segar dan berat kering yang

paling rendah dengan nilai rerata masing-masing 0,0045 gram dan 0,0012 gram.

SKRIPSI

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

39

Tabel 4.2 Rerata berat segar dan berat kering kalus sirih hitam selama delapan minggu masa kultur.

Kombinasi Konsentrasi Rerata Kode (mg/L) IAA BAP Berat Segar (gram) Berat Kering (gram) 0,0 0,0
Kombinasi
Konsentrasi
Rerata
Kode
(mg/L)
IAA
BAP
Berat Segar (gram)
Berat Kering (gram)
0,0
0,0
0,0045 ± 0,0023 a
0,0012 ± 0,0002 a
I 0,0 B 0,0
0,0
0,5
0,1155 ± 0,0507 g
0,0155 ± 0,0084 hijk
I 0,0 B 0,5
0,0
1,0
0,1441 ± 0,0631 gh
0,0061 ± 0,0026 cdefg
I 0,0 B 1,0
0,0
1,5
0,2604 ± 0,0771 ijk
0,0128 ± 0,0008 h
I 0,0 B 1,5
0,0
2,0
0,2689 ± 0,0588 ijklmn
0,0152 ± 0,0042 hij
I 0,0 B 2,0
0,5
0,0
0,0460 ± 0,0099 def
0,0054 ± 0,0008 cde
I 0,5 B 0,0
0,5
0,5
0,5021 ± 0,0805 oqrst
0,0727 ± 0,0124 x
I 0,5 B 0,5
0,5
1,0
0,2652 ± 0,0167 jkl
0,0143 ± 0,0026 hi
I 0,5 B 1,0
0,5
1,5
0,2195 ± 0,0737 hij
0,0193 ± 0,0047 jkl
I 0,5 B 1,5
0,5
2,0
0,6016 ± 0,1602 qrstuvw
0,0614 ± 0,0304 mnopqrstuvwx
I 0,5 B 2,0
1,0
0,0
0,0119 ± 0,0049 b
0,0021 ± 0,0005 b
I 1,0 B 0,0
1,0
0,5
0,2186 ± 0,0327 i
0,0323 ± 0,0117 mnopqrs
I 1,0 B 0,5
1,0
1,0
0,5447 ± 0,1101 oqrstuv
0,0491 ± 0,0082 tuvw
I 1,0 B 1,0
1,0
1,5
0,6596 ± 0,1814 qrstuvwx
0,0450 ± 0,0123 mqrstuv
I 1,0 B 1,5
1,0
2,0
0,4673 ± 0,1060 oqr
0,0296 ± 0,0085 klmnopq
I 1,0 B 2,0
1,5
0,0
0,0384 ± 0,0113 de
0,0047 ± 0,0018 cd
I 1,5 B 0,0
1,5
0,5
0,0380 ± 0,0067 d
0,0056 ± 0,0023 cdef
I 1,5 B 0,5
1,5
1,0
0,3075 ± 0,0656 ijklmnop
0,0288 ± 0,0060 mnop
I 1,5 B 1,0
1,5
1,5
0,6356 ± 0,1267 qstuvwx
0,0367 ± 0,0089 mopqrst
I 1,5 B 1,5
1,5
2,0
0,5362 ± 0,0412 oqrstu
0,0269 ± 0,0028 kmn
I 1,5 B 2,0
2,0
0,0
0,0221 ± 0,0072 c
0,0044 ± 0,0011 c
I 2,0 B 0,0
2,0
0,5
0,2652 ± 0,0692 ijklm
0,0282 ± 0,0106 mno
I 2,0 B 0,5
2,0
1,0
0,4415 ± 0,2321 ijklmnopq
0,0419 ± 0,0216 jlmnopqrstu
I 2,0 B 1,0
2,0
1,5
0,4701 ± 0,1870 lopqrs
0,0318 ± 0,0097 mnopqr
I 2,0 B 1,5
2,0
2,0
0,2852 ± 0,2281 ghijklmno
0,0261 ± 0,0152 ijklm
I 2,0 B 2,0

Keterangan: Angka rerata yang diikuti oleh notasi yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada derajat signifikansi 0,05 menurut uji Mann-Whitney.

SKRIPSI

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

40

Pada Tabel 4.2 dapat diketahui bahwa perlakuan IAA 1,0 mg/L dan BAP 1,5

mg/L berbeda signifikan terhadap perlakuan IAA 0,0 mg/L dan BAP 0,0 mg/L

dalam rerata berat segar kalus, sedangkan dalam rerata berat kering kalus perlakuan

SKRIPSI

IAA 0,5 mg/L dan BAP 0,5 mg/L juga berbeda signifikan terhadap perlakuan IAA

0,0 mg/L dan BAP 0,0 mg/L.
0,0 mg/L dan BAP 0,0 mg/L.
signifikan terhadap perlakuan IAA 0,0 mg/L dan BAP 0,0 mg/L. Gambar 4.2 Rerata berat segar kalus

Gambar 4.2 Rerata berat segar kalus sirih hitam dan perlakuan berbagai kombinasi konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA dan BAP. Keterangan: I (x) = konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA, B (x) = konsentrasi zat pengatur tumbuh BAP, pemberian konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA dan BAP dalam satuan mg/L.

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

41

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 41 Gambar 4.3 Rerata berat kering kalus sirih hitam dan perlakuan
ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 41 Gambar 4.3 Rerata berat kering kalus sirih hitam dan perlakuan

Gambar 4.3 Rerata berat kering kalus sirih hitam dan perlakuan berbagai kombinasi konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA dan BAP. Keterangan: I (x) = konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA, B (x) = konsentrasi zat pengatur tumbuh BAP, pemberian konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA dan BAP dalam satuan mg/L.

Pada Gambar 4.2 terlihat bahwa pada perlakuan dengan kombinasi IAA 1,5

mg/L dan BAP 2,0 mg/L, IAA 1,0 mg/L dan BAP 1,0 mg/L, IAA 0,5 mg/L dan BAP

2,0 mg/L, IAA 1,5 mg/L dan BAP 1,5 mg/L, IAA 1,0 mg/L dan BAP 1,5 mg/L

menunjukkan rerata berat segar yang tinggi, akan tetapi pada nilai rerata berat kering

yang tinggi (Gambar 4.3) ditunjukkan oleh perlakuan dengan kombinasi IAA 2,0

SKRIPSI

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

42

mg/L dan BAP 1,0 mg/L, IAA 1,0 mg/L dan BAP 1,5 mg/L, IAA 1,0 mg/L dan BAP

1,0 mg/L, IAA 0,5 mg/L dan BAP 2,0 mg/L, IAA 0,5 mg/L dan BAP 0,5 mg/L. Berat

segar kalus sirih hitam memiliki nilai rerata tinggi pada pemberian perlakuan zat

pengatur tumbuh IAA dalam konsentrasi rendah yang dikombinasikan dengan zat

tumbuh BAP dalam konsentrasi rendah (Tabel 4. 2). dan rerata berat kering kalus sirih hitam
tumbuh BAP dalam konsentrasi rendah (Tabel 4. 2).
dan
rerata
berat
kering
kalus
sirih
hitam
kemudian
dianalisis
secara
menggunakan
program
SPSS
versi
22.
Data
diuji
menggunakan
One
Kolmogorov-Smirnov
Test
(nilai
signifikansi
>0,05)
untuk
mengetahui

pengatur tumbuh BAP dalam konsentrasi tinggi, sedangkan pada berat kering kalus

sirih hitam memiliki nilai rerata tinggi pada pemberian perlakuan zat pengatur

tumbuh IAA dalam konsentrasi tinggi yang dikombinasikan dengan zat pengatur

Data rerata lama waktu eksplan membentuk kalus, rerata berat segar kalus,

statistik

Sample

normal

tidaknya distribusi data. Hasil One Sample Kolmogorov-Smirnov Test menunjukkan

bahwa kombinasi konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA dan BAP tidak berdistribusi

normal terhadap rerata lama waktu eksplan membentuk kalus, rerata berat segar

kalus, dan rerata berat kering kalus sirih hitam (Lampiran 7). Kemudian dilakukan uji

homogenitas varians menggunakan Levene’s Test (nilai signifikansi >0,05) untuk

mengetahui variasi data. Hasil dari Levene’s Test menunjukkan bahwa rerata lama

waktu eksplan membentuk kalus, rerata berat segar kalus, dan rerata berat kering

kalus tidak bervariasi homogen (Lampiran 11). Selanjutnya dilakukan uji non-

parametrik yakni uji Kruskal-Wallis yang kemudian dilanjutkan dengan uji Mann-

Whitney (nilai signifikansi <0,05) untuk mengetahui signifikansi antar perlakuan.

SKRIPSI

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

43

Berdasarkan hasil uji Kruskal-Wallis dan uji Mann-Whitney (Lampiran 7) diketahui

signifikansi antar perlakuan pada rerata lama waktu eksplan membentuk kalus

(Lampiran 8), rerata berat segar kalus (Lampiran 9), dan rerata berat kering kalus

SKRIPSI

sirih hitam (Lampiran 10).

menunjukkan perbedaaan nyata pada semua perlakuan kecuali pada tertinggi terdapat pada perlakuan IAA 0,5
menunjukkan
perbedaaan
nyata
pada
semua
perlakuan
kecuali
pada
tertinggi
terdapat
pada
perlakuan
IAA
0,5
mg/L
dan
BAP
0,5
mg/L

mg/L dan BAP 2,0 mg/L (Lampiran 10).

Pada hasil rerata lama waktu eksplan membentuk kalus tertinggi adalah

perlakuan kombinasi zat pengatur tumbuh IAA 0,5 mg/L dan BAP 2,0 mg/L yang

perlakuan

kombinasi zat pengatur tumbuh IAA 0,5 mg/L dan BAP 1,5 mg/L, serta IAA 1,0

mg/L dan BAP 1,0 mg/L (Lampiran 8). Hasil rerata berat segar kalus sirih hitam

tertinggi pada perlakuan IAA 1,0 mg/L dan BAP 1,5 mg/L menunjukkan perbedaan

nyata pada semua perlakuan kecuali pada 8 perlakuan berikut : IAA 2,0 mg/L dan

BAP 1,0 mg/L, IAA 1,0 mg/L dan BAP 2,0 mg/L, IAA 2,0 mg/L dan BAP 1,5 mg/L,

IAA 0,5 mg/L dan BAP 0,5 mg/L, IAA 1,5 mg/L dan BAP 2,0 mg/L, IAA 1,0 mg/L

dan BAP 1,0 mg/L, IAA 0,5 mg/L dan BAP 2,0 mg/L, IAA 1,5 mg/L dan BAP 1,5

mg/L, IAA 1,0 mg/L dan BAP 1,5 mg/L (Lampiran 9). Hasil rerata berat kering kalus

yang

menunjukkan perbedaan nyata terhadap semua perlakuan kecuali perlakuan IAA 0,5

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

44

4.1.3 Morfologi kalus sirih hitam (Piper betle L.) dengan kombinasi konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA dan BAP

Pengamatan

untuk

mengetahui

morfologi

kalus

dilakukan

setiap

minggu

dimulai sejak tumbuhnya kalus hingga minggu ke-8 masa kultur kalus. Pengamatan

ini dilakukan secara deskriptif dan memberikan hasil yang bervariasi pada masing- masing perlakuan, sebagaimana yang
ini dilakukan secara deskriptif dan memberikan hasil yang bervariasi pada masing-
masing perlakuan, sebagaimana yang dijelaskan pada tabel morfologi kalus pada
setiap perlakuan selama delapan minggu yang juga diikuti oleh gambar/visualisasi
morfologi
perkembangan
kalus
setiap
minggunya,
sedangkan
untuk
data
perkembangan kalus pada masing-masing perlakuan serta ulangannya dapat dilihat
pada Lampiran 5 dan Lampiran 6 secara lengkap.
Tabel 4.3 Morfologi kalus daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA 0,0 mg/L dan
BAP 0,0 mg/L.
Frekuensi
Minggu
Morfologi kalus
mayoritas
ke-
tekstur kalus
1
Belum terbentuk kalus
-
2
Belum terbentuk kalus
-
Sudah terbentuk kalus berwarna putih kekuningan di tepi
Friabel (
)
3
eksplan (
)
4
Kalus berwarna putih kekuningan di tepi eksplan (
)
Friabel (
)
5
Kalus berwarna putih kekuningan di tepi eksplan (
)
Friabel (
)
6
Kalus berwarna putih kekuningan di tepi eksplan (
)
Friabel (
)
7
Kalus berwarna cokelat di tepi eksplan (
)
Friabel (
)
8
Kalus berwarna hitam di tepi eksplan (
)
Friabel (
)

SKRIPSI

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

45

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 45 Minggu ke – 1 Minggu ke - 2 Minggu ke

Minggu ke 1

- PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 45 Minggu ke – 1 Minggu ke - 2 Minggu ke –

Minggu ke - 2

UNIVERSITAS AIRLANGGA 45 Minggu ke – 1 Minggu ke - 2 Minggu ke – 3 Minggu

Minggu ke 3

Minggu ke – 4 Minggu ke - 5 Minggu ke – 6 Eksplan Minggu ke
Minggu ke – 4
Minggu ke - 5
Minggu ke – 6
Eksplan
Minggu ke – 7
Minggu ke - 8
mulai
muncul
kalus
pada
minggu
ketiga
dan
secara
berurutan

Gambar 4.4 Morfologi kalus eksplan daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA 0,0 mg/L dan BAP 0,0 mg/L. Skala bar = 1 cm.

Pada Tabel 4.3 dan Gambar 4.4 menunjukkan perubahan morfologi eksplan

daun sirih hitam pada konsentrasi IAA 0,0 mg/L dan BAP 0,0 mg/L. Eksplan terlihat

mengalami

pencokelatan hingga menghitam mulai dari minggu keempat sampai dengan minggu

kedelapan, kalus yang dihasilkan pada perlakuan ini sangat sedikit dan juga pada

minggu kedelapan berwarna hitam mengikuti warna eksplannya. Tekstur kalus pada

perlakuan ini secara keseluruhan adalah friabel.

SKRIPSI

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

46

Pada Tabel 4.4 dan Gambar 4.5 menunjukkan perubahan morfologi eksplan

daun sirih hitam pada konsentrasi IAA 0,0 mg/L dan BAP 0,5 mg/L. Eksplan

mengalami kecokelatan saat minggu ketiga namun kalus masih berwarna putih

SKRIPSI

kekuningan, dan pada minggu kedelapan kalus berwarna cokelat dan hitam, serta

beberapa eksplan menghitam. Tekstur kalus pada perlakuan ini ada yang friabel dan kompak. Pada Tabel
beberapa eksplan menghitam. Tekstur kalus pada perlakuan ini ada yang friabel dan
kompak.
Pada Tabel 4.5 dan Gambar 4.6 menunjukkan perubahan morfologi eksplan
daun sirih hitam pada konsentrasi IAA 0,0 mg/L dan BAP 1,0 mg/L. Eksplan muncul
kalus pada minggu kedua yang berwarna putih dibagian tepinya, sampai dengan
minggu kedelapan kalus tetap berwarna putih dan beberapa putih kecokelatan.
Tekstur kalus pada perlakuan ini seluruhnya friabel.
Tabel 4.4 Morfologi kalus daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA 0,0 mg/L dan
BAP 0,5 mg/L.
Frekuensi
Minggu
Morfologi kalus
mayoritas
ke-
tekstur kalus
1
Belum terbentuk kalus
-
2
Belum terbentuk kalus
-
Sudah terbentuk kalus berwarna putih kekuningan di
Friabel (
)
3
tepi eksplan (
)
4
Kalus berwarna putih kekuningan di tepi eksplan (
)
Friabel (
5
Kalus berwarna putih kekuningan di tepi eksplan (
)
Friabel (
)
)
6
Kalus berwarna cokelat di tepi eksplan (
Friabel (
7
Kalus berwarna cokelat di tepi eksplan (
Friabel (
)
8
Kalus berwarna cokelat di tepi eksplan (
Friabel (
)
)

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA Minggu ke - 1 Minggu ke - 2 Minggu ke –

Minggu ke - 1

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA Minggu ke - 1 Minggu ke - 2 Minggu ke –

Minggu ke - 2

UNIVERSITAS AIRLANGGA Minggu ke - 1 Minggu ke - 2 Minggu ke – 3 47 Minggu

Minggu ke 3

47

Minggu ke - 4 Minggu ke - 5 Minggu ke – 6 Eksplan Minggu ke
Minggu ke - 4
Minggu ke - 5
Minggu ke – 6
Eksplan
Minggu ke - 7
Minggu ke - 8
Gambar 4.5 Morfologi kalus eksplan daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA 0,0
mg/L dan BAP 0,5 mg/L. Skala bar = 1 cm.
Tabel 4.5 Morfologi kalus daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA 0,0 mg/L dan
BAP 1,0 mg/L.
Minggu
Morfologi kalus
ke-
Frekuensi mayoritas
tekstur kalus
1
Belum terbentuk kalus
-
Sudah terbentuk kalus berwarna putih di tepi
Friabel (
)
2
eksplan (
)
3
Kalus berwarna putih di tepi eksplan (
)
Friabel (
)
4
Kalus berwarna putih di tepi eksplan (
)
Friabel (
)
5
Kalus berwarna putih di tepi eksplan (
)
Friabel (
)
6
Kalus berwarna putih di tepi eksplan (
)
Friabel (
)
7
Kalus berwarna putih di tepi eksplan (
)
Friabel (
)
8
Kalus berwarna putih di tepi eksplan (
)
Friabel (
)

SKRIPSI

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA Minggu ke – 1 Minggu ke – 2 Minggu ke –

Minggu ke 1

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA Minggu ke – 1 Minggu ke – 2 Minggu ke –

Minggu ke 2

UNIVERSITAS AIRLANGGA Minggu ke – 1 Minggu ke – 2 Minggu ke – 3 48 Minggu

Minggu ke 3

48

Minggu ke – 4 Minggu ke - 5 Minggu ke – 6 Eksplan Minggu ke
Minggu ke – 4
Minggu ke - 5
Minggu ke – 6
Eksplan
Minggu ke – 7
Minggu ke - 8
Gambar 4.6 Morfologi kalus eksplan daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA 0,0
mg/L dan BAP 1,0 mg/L. Skala bar = 1 cm.
Tabel 4.6 Morfologi kalus daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA 0,0 mg/L dan
BAP 1,5 mg/L.
Frekuensi
Minggu
Morfologi kalus
mayoritas
ke-
tekstur kalus
1
Belum terbentuk eksplan
-
Sudah terbentuk kalus berwarna putih kehijauan di
Friabel (
)
2
tepi eksplan (
)
3
Kalus berwarna putih kehijauan di tepi eksplan (
)
Friabel (
)
4
Kalus berwarna putih kekuningan di tepi eksplan (
)
Friabel (
)
5
Kalus berwarna putih kekuningan di tepi eksplan (
)
Friabel (
)
6
Kalus berwarna putih di tepi eksplan (
)
Friabel (
)
7
Kalus berwarna putih di tepi eksplan (
)
Friabel (
8
Kalus berwarna putih di tepi eksplan (
)
Friabel (
)
)

SKRIPSI

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

SKRIPSI

49

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SKRIPSI 49 Minggu ke – 1 Minggu ke - 2 Minggu

Minggu ke 1

UNIVERSITAS AIRLANGGA SKRIPSI 49 Minggu ke – 1 Minggu ke - 2 Minggu ke – 3

Minggu ke - 2

AIRLANGGA SKRIPSI 49 Minggu ke – 1 Minggu ke - 2 Minggu ke – 3 Minggu

Minggu ke 3

Minggu ke – 4 Minggu ke - 5 Minggu ke – 6 Eksplan Minggu ke
Minggu ke – 4
Minggu ke - 5
Minggu ke – 6
Eksplan
Minggu ke – 7
Minggu ke - 8
Gambar 4.7
pada perlakuan ini ada friabel dan kompak.

Morfologi kalus eksplan daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA 0,0 mg/L dan BAP 1,5 mg/L. Skala bar = 1 cm.

Pada Tabel 4.6 dan Gambar 4.7 menunjukkan perubahan morfologi eksplan

daun sirih hitam pada konsentrasi IAA 0,0 mg/L dan BAP 1,5 mg/L. Eksplan muncul

kalus pada minggu kedua dibagian tepinya, sampai dengan minggu kedelapan

terdapat beberapa kalus yang tetap berwarna putih dan lainnya hitam. Tekstur kalus

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

50

Pada Tabel 4.7 dan Gambar 4.8 menunjukkan perubahan morfologi eksplan

daun sirih hitam pada konsentrasi IAA 0,0 mg/L dan BAP 2,0 mg/L. Eksplan muncul

kalus berwarna putih dan putih kehijauan pada minggu kedua dibagian tepinya,

SKRIPSI

sampai dengan minggu kedelapan terdapat beberapa kalus yang tetap berwarna putih

dan lainnya putih kekuningan. Tekstur kalus pada perlakuan ini ada friabel, kompak dan kompak-friabel yang
dan lainnya putih kekuningan. Tekstur kalus pada perlakuan ini ada friabel, kompak
dan kompak-friabel yang mulai terlihat pada minggu keenam.
Tabel 4.7 Morfologi kalus daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA 0,0 mg/L dan
BAP 2,0 mg/L.
Minggu
Morfologi kalus
ke-
Frekuensi
mayoritas tekstur
kalus
1
Belum terbentuk kalus
-
Sudah terbentuk kalus berwarna putih
Kompak (
)
2
kehijauan di tepi eksplan (
)
Kalus berwarna putih kehijauan di tepi eksplan
Kompak (
)
3
(
)
Kalus berwarna putih kehijauan di tepi eksplan
Kompak (
)
4
(
)
Kalus berwarna putih kekuningan dan putih di
Kompak (
)
5
tepi eksplan (
)
Kalus berwarna putih kekuningan di tepi
Kompak (
)
6
eksplan (
)
Kalus berwarna putih kekuningan di tepi
Kompak (
)
7
eksplan (
)
Kalus berwarna putih kekuningan di tepi
Kompak (
)
8
eksplan (
)

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

SKRIPSI

51

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SKRIPSI 51 Minggu ke – 1 Minggu ke - 2 Minggu

Minggu ke 1

UNIVERSITAS AIRLANGGA SKRIPSI 51 Minggu ke – 1 Minggu ke - 2 Minggu ke - 3

Minggu ke - 2

AIRLANGGA SKRIPSI 51 Minggu ke – 1 Minggu ke - 2 Minggu ke - 3 Minggu

Minggu ke - 3

Minggu ke – 4 Minggu ke - 5 Minggu ke - 6 Eksplan Minggu ke
Minggu ke – 4
Minggu ke - 5
Minggu ke - 6
Eksplan
Minggu ke – 7
Minggu ke - 8
Gambar 4.8
dengan
minggu
kedelapan
terdapat
beberapa
kalus
yang
tetap
berwarna

Morfologi kalus eksplan daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA 0,0 mg/L dan BAP 2,0 mg/L. Skala bar = 1 cm.

Pada Tabel 4.8 dan Gambar 4.9 menunjukkan perubahan morfologi eksplan

daun sirih hitam pada konsentrasi IAA 0,5 mg/L dan BAP 0,0 mg/L. Eksplan muncul

kalus berwarna putih kekuningan pada minggu ketiga dibagian tepinya, sampai

putih

kekuningan dan lainnya hitam. Beberapa eksplan juga menghitam. Tekstur kalus

pada perlakuan ini hanya ada friabel.

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

52

Pada Tabel 4.9 dan Gambar 4.10 menunjukkan perubahan morfologi eksplan

daun sirih hitam pada konsentrasi IAA 0,5 mg/L dan BAP 0,5 mg/L. Eksplan muncul

kalus berwarna putih kehijauan pada minggu kedua dibagian tepinya, sampai dengan

SKRIPSI

minggu kedelapan kalus mengalami perubahan warna menjadi putih kekuningan,

cokelat dan hitam. Beberapa eksplan juga menghitam. Tekstur kalus pada perlakuan ini ada friabel dan
cokelat dan hitam. Beberapa eksplan juga menghitam. Tekstur kalus pada perlakuan
ini ada friabel dan kompak.
Tabel 4.8 Morfologi kalus daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA 0,5 mg/L dan
BAP 0,0 mg/L.
Frekuensi
Minggu
Morfologi kalus
mayoritas
ke-
tekstur kalus
1
Belum terbentuk kalus
-
2
Belum terbentuk kalus
-
Sudah terbentuk kalus berwarna putih
Friabel (
)
3
kekuningan di tepi eksplan (
)
Kalus berwarna putih kekuningan dan cokelat di
Friabel (
)
4
tepi eksplan (
)
Kalus berwarna cokelat, putih kekuningan dan
Friabel (
)
5
hitam di tepi eksplan (
)
Kalus berwarna cokelat, putih kekuningan dan
Friabel (
)
6
hitam di tepi eksplan (
)
Kalus berwarna putih kekuningan, cokelat, dan
Friabel (
)
7
hitam di tepi eksplan (
)
Kalus berwarna hitam dan putih kekuningan di
Friabel (
)
8
tepi eksplan (
)

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA Minggu ke – 1 Minggu ke - 2 Minggu ke -

Minggu ke 1

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA Minggu ke – 1 Minggu ke - 2 Minggu ke -

Minggu ke - 2

UNIVERSITAS AIRLANGGA Minggu ke – 1 Minggu ke - 2 Minggu ke - 3 53 Minggu

Minggu ke - 3

53

Minggu ke – 4 Minggu ke - 5 Minggu ke - 6 Eksplan Minggu ke
Minggu ke – 4
Minggu ke - 5
Minggu ke - 6
Eksplan
Minggu ke – 7
Minggu ke – 8
Gambar 4.9
Morfologi kalus eksplan daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA 0,5
mg/L dan BAP 0,0 mg/L. Skala bar = 1 cm.
Tabel 4.9 Morfologi kalus daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA 0,5 mg/L dan
BAP 0,5 mg/L.
Minggu
Morfologi kalus
ke-
Frekuensi
mayoritas tekstur
kalus
1
Belum terbentuk kalus
-
Sudah terbentuk kalus berwarna putih kehijauan
Friabel (
)
2
di tepi eksplan (
)
Kalus berwarna putih kekuningan di tepi
Friabel (
)
3
eksplan (
)
Kalus berwarna putih kecokelatan di tepi
Friabel (
)
4
eksplan (
)
Kalus berwarna putih kecokelatan di tepi
Friabel (
)
5
eksplan (
)
6
Kalus berwarna cokelat di tepi eksplan (
Friabel (
)
7
Kalus berwarna cokelat di tepi eksplan (
Kalus berwarna cokelat di tepi eksplan (
Friabel (
)
8
Friabel (
)

SKRIPSI

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

SKRIPSI

54

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SKRIPSI 54 Minggu ke – 1 Minggu ke - 2 Minggu
ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SKRIPSI 54 Minggu ke – 1 Minggu ke - 2 Minggu
ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SKRIPSI 54 Minggu ke – 1 Minggu ke - 2 Minggu
Minggu ke – 1 Minggu ke - 2 Minggu ke - 3 Minggu ke –
Minggu ke – 1
Minggu ke - 2
Minggu ke - 3
Minggu ke – 4
Minggu ke - 5
Minggu ke - 6
Eksplan
Minggu ke – 7
Minggu ke - 8

Gambar 4.10 Morfologi kalus eksplan daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA 0,5 mg/L dan BAP 0,5 mg/L. Skala bar = 1 cm.

Pada Tabel 4.10 dan Gambar 4.11 menunjukkan perubahan morfologi eksplan

daun sirih hitam pada konsentrasi IAA 0,5 mg/L dan BAP 1,0 mg/L. Eksplan muncul

kalus berwarna putih kehijauan, putih, dan putih kekuningan pada minggu kedua

dibagian tepinya, sampai dengan minggu kedelapan beberapa kalus mengalami

perubahan

warna

menjadi

putih

kecokelatan

dan

cokelat.

Tekstur

kalus

pada

perlakuan ini ada friabel dan kompak.

INDUKSI KALUS EKSPLAN

NABILAH ISTIGHFARI Z.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

55

Tabel 4.10 Morfologi kalus daun sirih hitam dengan konsentrasi IAA 0,5 mg/L dan BAP 1,0 mg/L.

Frekuensi Minggu Morfologi kalus mayoritas ke- tekstur kalus 1 Belum terbentuk kalus - Sudah terbentuk
Frekuensi
Minggu
Morfologi kalus
mayoritas
ke-
tekstur kalus
1
Belum terbentuk kalus
-