Anda di halaman 1dari 26

BIOLOGI PERIKANAN

POPULASI DALAM EKOSISTEM/KEPADATAN & POLA DISTRIBUSI


POPULASI IKAN

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Biologi Perikanan

Disusun oleh :
Nur Silmi Nafisah 230110150125
Rintan Oktavian J 230110150153
Syaiful Islam 230110150131
Nabilah Putri Komara 230110150080
Abdurrahman Faris 230110150154

Kelas:
Perikanan B/Kelompok 17

PROGRAM STUDI PERIKANAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR

2017
KATA PENGANTAR

Dengan nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, puji
dan syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan
hidayah-Nya lah penyusun dapat menyelesaikan makalah matakuliah Biologi
Perikanan ini tepat pada waktu yang telah ditentukan. Makalah ini disusun untuk
melengkapi salah satu tugas makalah matakuliah Biologi Perikanan.
Meskipun di dalam penyusunan makalah ini penyusun telah mencurahkan
segenap kemampuan dan pengetahuan yang penyusun miliki, tapi kemungkinan
kekurangan masih tetap ada. Sebagaimana pribahasa mengatakan tak ada gading
yang tak retak, layaknya manusia tak luput dari kekurangan, baik dari segi
pengungkapan kalimat, maupun sistematika penyusunannya.

Besar harapan kami, makalah matakuliah Biologi Perikanan ini dapat


bermanfaat sehingga dapat memperlancar proses belajar mengajar para pembaca.
Kami akan sangat menghargai adanya saran dan kritik perbaikan untuk
penyempurnaan laporan ini.

Jatinangor, Maret 2017

Penyusun
DAFTAR ISI

DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... iii


DAFTAR TABEL ............................................................................................. iv
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ..................................................................................... 1
1.2 Tujuan .................................................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN ................................................................................... 3


2.1 Populasi dan Ekosistem ....................................................................... 3
2.2 Parameter Populasi .............................................................................. 4
2.3 Density (Abundance) ........................................................................... 5
2.4 Pola Distribusi Populasi....................................................................... 6
2.5 Struktur Umur ...................................................................................... 9
2.6 Pertumbuhan Populasi ......................................................................... 10
2.6.1 Pendugaan Populasi Menggunakan Tanda ................................ 12
2.6.2 Penggunaan Data Catch Per Unit Of Effort) ........................... 12
2.6.3 Metode Pendugaan Stok ............................................................ 12
2.7 Suplay Makanan dan Hubungan Pakan Ikan ....................................... 14
2.8 Hubungan Makan Diantara Spesies dalam Asosiasi yang Berbeda .... 15
2.9 Hubungan Makan Diantara Spesies ..................................................... 16

BAB III PENUTUP ........................................................................................... 19


3.1 Kesimpulan .......................................................................................... 19
3.2 Saran .................................................................................................... 20

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 21


DAFTAR GAMBAR

No. Judul Halaman


1. Suatu Populasi Ikan Bergerombol ...................................................... 6
2. Diagram Pola Distribusi Vektorial Dua Spesies
Sendirian dalam Tingkat Salinitas ..................................................... 8
3. Pola Distribus Co-Active ................................................................... 8
4. Diagram Pola Distibusi Vektorial dan Pola Distibusi
Co-active ............................................................................................ 9
5. Hubungan Jumlah Ikan Satu Cohort dengan Umur
Sepanjang Hidupnya .......................................................................... 10
6. Pertumbuhan Biomass Selama 175 Minggu dari
Populasi yang Berasal dari 5 Pasang Ikan Seribu. Garis
Titik-titik adalah Kurva Logistik (menurut Siliman dan Gutsell,
dari Royce, 1975) ............................................................................... 11
DAFTAR TABEL

No. Judul Halaman


1. Contoh Data Distribusi....................................................................... 7
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Seperti telah dikemukakan bahwa yang dipelajari di dalam dinamika
populasi adalah mengenai kecepatan reproduksi, pertumbuhan dan mortalitas
serta pengaruhnya terhadap populasi. Untuk mengetahui dinamika dari populasi
itu, sering kita harus mengetahui terlebih dahulu natural historynya, kita juga
harus memahami parameter dari populasi itu dengan aspek- aspeknya serta
hubungan satu dengan lainnya. Namun sebelum membahas hal tersebut lebih
lanjut, akan dikemukakan terlebih dahulu mengenai konsep populasi dan stok,
karena penggunaan kedua istilah ini sering bercampur aduk. Kadang-kadang
suatu saat digunakan istilah populasi dan di saat lain digunakan istilah stok,
sehingga menimbulkan kesan bahwa penggunaan istilah populasi dan stok itu
tidak ada pembatasnya yang jelas.
Royce (1972) mengemukakan bahwa dalam peraturan nomenclatur
internasional dikenal istilah subspesies sebagai katagori terkecil. Namun
terhadap katagori ini sering digunakan istilah populasi, subpopulasi, stok,
varietas dan strain. Sering juga dari istilah-istilah tersebut digunakan untuk
ditujukan kepada unit populasi dengan implikasi nonbiologis. Komplikasi lain
timbul karena kebanyakan spesies dan subspesies terdiri dari populasi lokal
dimana keduanya tidak mempunyai sifat genetik yang identik. Sebenarnya
populasi itu mengikuti satu atau lebih sifat-sifat berikut:
1. Populasi-populasi yang terpisah secara geografi dengan lainnya
mempunyai kesempatan walaupun sedikit untuk saling tukar genetis.
2. Dari populasi yang berkelompok yang dinamakan clines terdapat satu
seri perubahan yang gradual.
3. Populasi yang berkelompok harus disertai dengan perbedaan yang
tajam dengan daerah hibridasi diantaranya.
Krebs (1972) menggunakan istilah demes untuk populasi lokal sebagai
kelompok organisme yang dapat mengadakan interbreeding dan ini merupakan
kolektif yang terkecil. Sehubungan dengan hal tersebut di atas maka populasi itu
merupakan kelompok organisme yang terdiri dari spesies yang sama menghuni
daerah tertentu, dengan demikian populasi itu sebagai unit biologi yang
digunakan unuk keperluan analisis.
Menurut beberapa perjanjian internasional, stok itu mempunyai batasan
yang artinya sebagai kelompok ikan yang dapat dengan bebas dieksploitasi dan
dikelola. Menurut Royce (1972) akan jelas bahwa batasan yang ideal untuk stok
ialah populasi tunggal yang interbreed, namun kondisi ini jarang sekali ditemukan
karena tidak adanya data atau karena populasi interbreed yang terisolir, oleh
karena itu stok harus diberi batasan yang kurang lebih secara bebas. Stok sebagai
unit yang dapat dengan bebas dieksploitasi atau dikelola berisi sebanyak-
banyaknya interbreeding unit atau sekurang-kurangnya mungkin unit yang
repoduksinya terisolasi. Hal ini mungkin meliputi beberapa spesies.

1.2 Tujuan
Mengetahui pola populasi dan ekosistem berbagai parameter populasi,
kepadatan analisis populasi serta pola distribusi perikanan dan populasi yang ada
dalam lingkungan perairan.

1.3 Manfaat
Manfaat dari makalah ini adalah kita dapat menambah wawasan mengenai
populasi dalam ekosistem dan pola distribusi populasi ikan sehingga dapat
menjadi suatu rujukan dalam penelitan lebih lanjut.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Populasi dalam Ekosistem


Kumpulan populasi yang terdapat dalam perairan dinamakan komuniti.
Komuniti sebagai unit biologi bersama-sama dengan komponen benda mati
disekelilingnya mengadakan interaksi dinamakan ekosistem.
Dalam komuniti yang stabil dapat dikatakan bahwa komposisi spesiesnya
tetap dan secara relative sedikit fluktuasi jumlahnya. Komuniti demikian
dinamakan komuniti klimaks. Komuniti yang lainnya ialah komuniti suksesi
dimana secara relative hidupnya pendek dalam lokasi tertentu. Dalam komuniti
demikian terkandung makna evolusi dari ekosistem tadi. Sebagai contoh adalah
danau oligotropik dengan mendapat bahan tambahan anorganik dan organic
sehingga terjadi perubahan komposisi spesies yang lama dapat ditinjau dari segi
dominancy, diversity dan heterogeneity dari spesies.
Dalam menganalisis populasi ikan di perairan tidak akan terlepas dari
perairan itu sendiri sebagai ekosistem dengan komponen-komponennya yang
membentuk ekosistem itu yang terdiri dari unit biologi dan unit benda mati di
sekelilingnya. Di dalam suatu perairan tertentu baik yang tertutup maupun yang
terbuka akan didapatkan bermacam-macam populasi dari spesies yang berlainan.
Kumpulan populasi yang terdapat dalam perairan itu dinamakan komuniti.
Komuniti sebagai unit biologi bersama-sama dengan komponen benda mati di
sekelilingnya mengadakan interaksi dinamakan ekosistem. Kalau kita ringkaskan
dengan membuat bagan sebagai berikut:

UNIT BIOLOGI UNIT BENDA MATI


- individu
Perairan (dengan
- populasi parameter kimia,
- komuniti fisika dan benda EKOSISTEM
kain di
sekelilingnya)
Ekosistem dapat digolongkan menjadi beberapa golongan. Penggolongan
ekosistem ini berdasarkan kepada elemen biologi atau elemen fisika yang
dominan. Keadaan ekosistem inter- restrial elemen biologinya lebih komplek dari
pada ekosistem aquatik. Sebagai contoh ekosistem terrestrial yang komplek ini
antara lain ialah tundra, hutan tropik dan hutan hujan (rain forest). Ekosistem
akuatik yang berbatasan dengan tanah antara lain ialah coral reef, saltmarshes
dan bog lakes. Ekosistem akuatik yang elemen fisiknya dominan diantaranya
danau oligotropic, danau arctic, laut tropik atau suatu aliran. Disamping itu ada
penggolongan lain yaitu penggolongan berdasarkan minat ahli sumber daya,
misalnya: oysterbed, tunaground, anchovy ground, dan sebagainya.
Kalau kita lihat kedua penggolongan ekosistem tersebut di atas terutama
kepada unit biologinya saja, maka akan jelas terlihat bahwa pada
penggolongannya yang pertama unit biologinya lebih besar ruang lingkupnya
yaitu komuniti. Sedangkan pada penggolongan yang kedua dasar unit biologinya
ialah populasi.
Dalam komuniti yang stabil dapat dikatakan bahwa komposisi spesiesnya
tetap dan secara relatif sedikit fluktuasi jumlahnya. Komuniti demikian
dinamakan komuniti klimaks. Komuniti yang lainnya ialah komuniti suksesi
dimana secara relatif hidupnya pendek dalam lokasi tertentu. Dalam komuniti
demikian terkandung makna evolusi dari ekosistem tadi. Sebagai ontoh ialah
danau oligotrophic dengan mendapat tambahan bahan anorganik dan organik
sehingga terjadi perubahan komposisi spesies yang lama dapat ditinjau dari segi
dominancy, diversity dan heterogenity dari spesies.

2.2 Parameter Populasi


Untuk mempelajari populasi sebagai satu unit studi kita mengetahui
parameternya. Walaupun populasi itu kostituentnya adalah individu, akan tetapi
populasi mempunyai kelompok parameter yang pengukuran secara statistiknya
tidak tepat diterapkan kepada individu. Untuk mendapat gambaran yang lebih
jelas, baiklah kita lihat perbandingan antara beberapa parameter individu dengan
populasi sebagai berikut:
Parameter Individu Parameter Populasi
- ukuran - density, abundance
- morfologi - pola distribusi, struktur umum
- pertumbuhan dalam pj/brt - pertumbuhan dalam jumlah/biomassa
- natalitas - kacepatan natalitas
- mortalitas - kecepatan mortalitas

2.3 Density (abundance)


Mungkin istilah yang paling mendekati dengan maksud dari density atau
abundance sebagai parameter populasi ikan ialah kepadatan. Menurut Krebs
(1972) density atau abundance diberi batasan sebagai jumlah per unit area atau
per unit volume, misalnya 100 ekor per hektar atau 240 kg per hektar dan
sebagainya. Ini dinamakan kepadatan mutlak. Yang lainnya ialah kepadatan nisbi
suatu populasi yaitu dengan membandingkan suatu habitat x misalnya ikan lebih
banyak daripada habitat Y. Kepadatan ini merupakan parameter populasi yang
erat hubungannya dengan parameter lainnya yang berhubungan dengan
pengelolaan perairan itu. Kepadatan populasi suatu habitat tertentu dipengaruhi
oleh: imigrasi dan natalitas yang memberi penambahan jumlah kepada populasi.
Sedang emigrasi dan mortalitas yaitu pengurangan jumlah dari populasi.

IMIGRASI

NATALITAS ------------------ > KEPADATAN ------------------> MORTALITAS

EMIGRASI

Populasi bertambah besar karena natalitas. Natalitas di sini artinya lebih


luas dari kelahiran, karena natalitas mencakup lahir, menetas dan memperbanyak
karena pembelahan. Sehubungan dengan hal ini harus dibedakan antara fertilitas
dan fekunditas, yang merupakan aspek dari reproduksi Notasi dasar dari fertilitas
adalah pertunjukkan sesungguhnya dari populasi tersebut berapa besar jumlah
yang ditambahkan. Sedangkan fekunditas ialah potensi yang dapat
dipertunjukkkan oleh populasi itu, jadi merupakan kapasitas fisik. Namun
mengenai fertilitas pada ikan perlu diperhatikan lebih lanjut. Walaupun telur itu
telah dibuahi namun belum tentu dapat menetas semuanya. Oleh karena itu pada
ikan perlu diperhatikan daya tetasnya. Pengukuran natalitas ini bergantung
kepada ikan yang dipelajarinya. Ada ikan yang memijah satu kali dalam satu
tahun, ada pula yang beberapa kali.
Imigrasi yang dapat menambah jumlah populasi dan emigrasi yang dapat
mengurangi jumlah populasi kurang sering dihitung dalam studi populasi karena
kedua komponen itu sama sehingga dapat diabaikan.

2.4 Pola Distribusi Populasi

Gambar 1. Suatu Populasi Ikan Bergerombol

Sebaran ikan secara umum memiliki pola-pola tertentu. Pola ini dapat
terjadi karena pengaruh faktor lingkungan serta sifat-sifat yang dimiliki oleh ikan
tersebut. Ada beberapa pola dalam distribusi tiap ikan antara lain sebagai berikut :
1. Pola Distribusi Reproduktif
Pola ini terbentuk karena adanya keterkaitan dengan reproduksi
ikan itu sendiri.
2. Pola Distribusi Acak
Pola ini terbentuk karena adanya pengaruh dari kesempatan dalam
suatu lingkungan yang seragam. Kesempatan disini diartikan sebagai
sebaran ikan untuk hidup pada lingkungan yang sama yang nantinya akan
berpengaruh pada pola distribusi persebarannya.
3. Pola Distribusi Contagius
Pola ini yaitu adanya kelompok individu yang berada di suatu
tempat namun tidak ditemui di daerah sekitarnya yang lain yang
berdekatan. Akan tetapi populasi ini dapat ditemukan di tempat lain yang
juga hidup secara berkelompok.
Tabel 1. Contoh Data Distribusi

Nomor Overdispersed (Hampir


Random Contagious
Sample Uniform)
1 5 4 0
2 5 7 0
3 4 5 0
4 5 6 45
5 6 8 0
6 5 2 0
7 5 5 5
8 4 6 0
9 6 3 0
10 5 4 0
IX 50 50 50
X 5 5 5

4. Pola Overdispersion
Pola Overdispersion adalah pola distribusi acak yang jarang hidup
dalam suatu ruang atau tempat yang seragam. Jadi ada semacam
pembagian ruang hidup di tempat tersebut.
5. Pola Distribusi Vektorial
Distribusi individu dalam pola ini sebagai jawaban terhadap faktor-
faktor kimia dan fisika lingkungan seperti suhu, cahaya, tekanan, salinitas,
arus, macam dan bentuk dasar perairan dll. Dengan sebagian besar dari
faktor-faktor tersebut, terdapatnya jumlah individu sesuai pada tingkatan
faktornya. Misalnya distribusi vektorial sebagai jawaban terhadap
salinitas, dapat terlihat pada pola distribusi ikan di daerah estuaria. Ikan
yang senang terhadap salinitas akan didapatkan banyak di perairan yang
bersalinitas tinggi daripada perairan yang bersalinitas rendah. Demikian
pula ikan euryhalin yang senang terhadap peairan bersalinitas rendah
semakin berkurang jumlahnya di air yang bersalinits tinggi. Gambaran dari
kedua ikan yang berbeda kesenangannya lerhadap salinitas, distribusinya
adalah seperti Gambar.

Gambar 2. Diagram Pola Distribusi Vektorial Dua Spesies Sendirian dalam Tingkat
Salinitas

6. Pola Distribusi Co-Active


Pola ini terbentuk karena adanya akibat dari interaksi dengan
hewan lain yaitu seperti kompetisi. Pola Pola distribusi ini sebagai hasil
dari kompetisi dua spesies yang berdekatan yang mengikuti exclusion
principle atau Volter Gause Principle yaitu: Baik dalam alam atau dalam
percobaan dua spesies yang menempati bersama ruang hidup yang sama,
meraka akan berbeda dalam beberapa aspek misalnya dalam makanan,
toleransi terhadap faktor lingkungan, kebutuhan akan pemijahan dan lain-
lain; serta ada tendensi yang satu akan menggantikan yang lainnya. Jadi
ketunggalan satu spesies dalam satu niche inilah yang dimaksud dengan
prinsip Voltera Gause.

Gambar 3. Pola Distribusi Co-Active


Untuk mendapatkan gambaran dari pola distribusi Co-active ini baiklah
perhatikan Gambar 2.4 di bawah ini. Gambar tersebut merupakan
perkembangan dari Gambar 2.2 yang memperlihatkan pola distribusi
vektorial. Dalam gambar tersebut hanya diperlihatkan distribusi satu
spesies dalam tingkatan salinitas. Tetapi gambar di bawah ini disertakan
pula gambar dua spesies, selain spesies A saja tanpa ada spesies lainnya,
juga gambar spesies A yang senang terhadap salinitas rendah ada
kehadiran spesies B, yang menyenangi perairan dengan salinitas tinggi.
Gambar di sebelahnya memperlihatkan distribusi spesies saja tanpa ada
spesies lain serta gambar distribusi kalau spesies B yang senang dengan
salinitas tinggi disertai adanya spesies A yang senang dengan perairan
yang salinitasnya rendah.

Gambar 4. Diagram Pola Distibusi Vektorial dan Pola Distibusi Co-active

2.5 Struktur Umur


Dalam pola distribusi persebaran ikan, Natalitas dan mortalitas yang
terjadi dalam suatu populasi akan menghasilkan suatu set-umur tertentu yang
jumlahnya tidak sama. Suatu struktur dalam populasi yang terdapat
pengelompokan berdasarkan umur. Jadi sekumpulan ikan dalam sebuah populasi.
Lazimnya, dalam kondisi normal ikan dengan umur lebih muda banyak jumlahnya
daripada ikan dengan umur yang lebih tua.
Natalitas dan mortalitas yang terjadi pada populasi menghasilkan satu set
kelompok umur dimana satu kelompok dengan kelompok lainnya jumlahnya
tidak sama yang lazim dipakai sebagai pengukur waktu untuk umur ikan adalah
tahun. Pengetahuan mengenai set kelompok umur sebagai salah satu parameter
populasi merupakan hal yang penting untuk mengelola perikanan karena dia akan
mengetahui pola populasi tersebut serta akan dapat memperhitungkan tindakan
tepat yang akan diambil sehubungan dengan pengelolaan.
Dalam membahas kelompok umur ini kita akan mengenal apa yang
dinamakan cohort (kelompok umur yang sama). Jadi misalnya dalam satu
perairan pada tahun 1970 terjadi pemijahan yang berhasil dari satu spesies ikan.
Anak-anak ikan dari spesies tadi dalam perairan itu yang berasal dari kelahiran
tahun 1970 dinamakan satu cohort. Struktur umur populasi yang ada dalam
perairan itu bergantung kepada mortalitas masing-masing cohort. Dalam populasi
yang stabil proporsi tiap kelompok umur pada suatu saat adalah sama dengan
proporsi masing- masing yang menunjukkan umur selama kehidupan cohort.
Sebagaimana kita ketahui sepanjang hidupnya kita plot dengan banyaknya jumlah
individu yang hidup (survive) pada tiap waktu tertentu dengan mortalitas tetap
misalnya 50 % tiap tahun, contoh gambar di bawah menunjukan hanya mortalitas
saja yang mengambil bagian tanpa ada rekruitmen.

Gambar 5. Hubungan Jumlah Ikan Satu Cohort dengan Umur Sepanjang Hidupnya

2.6 Pertumbuhan Populasi


Bila satu spesies ikan dimasukan kedalam satu lingkungan yang baru,
kecepatan pertambahan dalam jumlah dan juga dalam berat akan seperti bentuk
pertumbuhan sigmoid dari individu. Pada mulanya individu yang dimasukan itu
akan menyesuaikan diri dengan lingkungannya yang baru dan akan melengkapi
daur reproduksinya. Bila tidak ada penghambat dari lingkungan, natalitasnya
berhasil dimana survival akan melampaui dengan cepat mortalitasnya,
menyebabkan jumlah ikan dalam populasi akan bertambah secara exponential
untuk waktu tertentu. Kemudian factor-faktor penghambat seperti makanan,
ruang, penyakit dan sebagainya akan menghambat kecepatan pertumbuhan
sehingga berjalan dengan lambat dan populasi akan mencapai ukuran dimana
natalitas dan mortalitas seimbang keadaannya.
Bila satu spesies ikan dimasukkan ke dalam satu lingkungan yang baru,
kecepatan pertambahan dalam jumlah dan juga dalam berat akan seperti bentuk
pertumbuhan sigmoid dari individu. Pada mulanya individu yang dimasukkan itu
akan menyesuaikan diri dengan lingkungannya yang baru dan akan melengkapi
daur reproduksinya. Bila tidak ada penghambat dari lingkungan, natalitasnya
berhasil dimana survival akan melampaui dengan cepat mortalitasnya,
menyebabkan jumlah ikan dalam populasi akan bertambah secara exponential
untuk waktu tertentu. Kemudian faktor-faktor penghambat seperti makanan,
ruang, penyakit dan sebagainya akan menghambat kecepatan pertumbuhan
sehingga beijalan dengan lambat dan populasi akan mencapai ukuran dimana
natalitas dan mortalitas seimbang keadaannya. Tetapi besarnya populasi tidak
terhenti melainkan berfluktuasi di sekitar asimptote. Gambar di bawah adalah
populasi ikan seribu (Libistes reticulatus) dari 5 pasang yang dipelihara dalam
akuarium yang kondisinya konstan pula. Pola yang sama terdapat pula pada
populasi dalam alam, di mana pertumbuhan yang secara exponential terjadi
musiman.

Gambar 6. Pertumbuhan Biomass Selama 175 Minggu dari Populasi yang Berasal dari
5 Pasang Ikan Seribu. Garis Titik-titik adalah Kurva Logistik (menurut Siliman dan
Gutsell, dari Royce, 1975).
2.6.1 Pendugaan Populasi Menggunakan Tanda
Dasar untuk perhitungan ini adalah jumlah ikan yang tertangkap, baik
bertanda atau tidak. Metode Pendugaan populasi :
a. Metode Petersen, dalam metode ini semua ikan yang tertangkap diberi
tanda dan dilepaskan kembali ke perairan.
Rumus : N = M C
R
Dimana M = Jumlah ikan yang diberi tanda
C = Jumlah ikan tangkapan untuk disensus
R = Jumlah ikan bertanda tertangkap
N = Populasi ikan pada waktu pemberian tanda
b. Metode Schnabel (Sensus berganda)
Hampir sama dengan metode petersen tetapi ini menggunakan semua data
yang terakumulasi untuk satu pendugaan. Bila sejumlah contoh ikan
diambil dari populasi,setelah diberi tanda semua dikembalikan lagi dan
catat. Contoh kedua diambil catat ikan yang bertanda dan berilah tanda
ikan yang belum bertanda dan catat.
2.6.2 Penggunaan Data Catch per Unit of Effort
Digunakan untuk menduga besarnya populasi yang situasinya tidak praktis
untuk mendapat jumlah yang pasti dari individu ikan tersebut dalam suatu unit
area. Jika satu seri pengambilan contoh secara berturut-turut diambil dari populasi
ikan yang tertangkap tidak dikembalikan, biasanya pada pengambilan berikutnya
akan tertangkap jumlah ikan yang semakin berkurang.

2.6.3 Metode Pendugaan Stok


a. Metode Berbasis Panjang Ikan.
Khusus masalah di daerah tropis, adalah kesulitan dalam
menentukan umur ikan secara tepat. Metode dengan berbasis panjang ikan
dalam penelitian perikanan untuk pendugaan stok semakin dikembangkan
dan diperbaharui. FISAT (FAO-ICLARM = Stock Assessment Tool)
merupakan perangkat lunak yang dikembangkan dari pakel
ELEFAN (Electronic LEngth Frequency ANalysis) dan LFSA (Length-
based Fish Stock Assessment) dijadikan paket standar metode yang
didasarkan pada panjang. Keluaran dari program FISAT adalah:
1. Perkiraan parameter pertumbuhan dari ukuran panjang ikan,
pertumbuhan tumbuh dan frekuensi panjang.
2. Perkiraan mortalitas dan parameter yang terkait.
3. Identifikasi rekruitmen musiman.
4. Penghitungan rekruitmen dengan menggunakan virtual population
analysis (VPA).
5. Prediksi dari produksi dan biomas per rekrut (Y/R; B/R) dari
model Beverton dan Holt (1957) dan Thompson dan Bell (1934)
untuk single atau multi spesies.
b. Metode tak langsung.
Terdapat beberapa pendekatan untuk pendugaan sumber daya
perikanan secara tidak langsung. Diantaranya adalah pendugaan produksi
ikan dari produksi primer, kelimpahan zooplankton, survei telur dan larva
ikan dan pengujian kandungan perut ikan pada tingkat trophic tinggi. Dari
uraian tersebut di atas, bisa disimpulkan apa tugas ahli perikanan dalam
menjawab beberapa pertanyaan berikut :
1. Bagaimana keadaan hasil penangkapan sekarang sebagai
gambaran potensi hasil penangkapan yang maksimum.
2. Bagaimana keadaan tingkat penangkapan dan apa yang terjadi
bila eksploitasi ditingkatkan.
3. Berapa armada kapal yang diperlukan untuk operasi penangkapan
pada level yang optimal.
4. Bagaimana pengaruhnya terhadap stok dan hasil tangkapan bila
ada perubahan ukuran mata jaring (mesh size), atau pengaruh
terhadap ukuran minimum ikan yang tertangkap.
2.7 Suplai Makanan dan Hubungan Pakan-Ikan
Pakan merupakan salah satu komponen yang memiliki pengaruh sangat
besar terhadap besar kecilnya suatu populasi ikan. Beberapa konsep yang
berkaitan dengan suplai makanan dan hubungan pakan-ikan, antara lain sebagai
berikut :
1. Konsep Suplai Makanan
Suplai makanan berpengaruh cukup besar terhadap besar populasi
ikan. Walaupun hal tersebut tidak sederhana, dan melewati suatu proses
jaring-jaring makanan yang kompleks. Suplai makan tersebut dapat
mempengaruhi populasi terkait dengan: jumlah, kualitas, dan ketersediaan
makanan yang ada. Adanya makanan dalam jumlah yang cukup akan
mempengaruhi: pertumbuhan ikan, kematangan gonad, dan kemampuan
bertahan hidup dari ikan. Jumlah dan komposisi makanan akan
menentukan jumlah dan komposis spesies dalam satu kelompok ikan.
Selain itu, jumlah pakan yang dimakan akan mempengaruhi: fekunditas
tahunan, laju pertumbuhan, waktu kedewaaan, dan lamanya hidup.
Suplai makanan dapat berpengaruh terhadap populasi ikan, antara
lain terkait oleh hal-hal berikut :
a. Kebiasaan makan secara individual, yang dalam hal ini
dipengaruhi oleh umur dan jenis. Jumlah pakan, kualitas, dan
ketersediaan pakan.
b. Kompetisi terhadap pakan yang sama, walaupun pada spesies
yang sama jarang terjadi. Namun kompetisi ini menjadi sangat
genting justru pada fase anakan ikan.
c. Ikan pada level tropik atas memakan jenis makanan yang
beragam
d. Makanan di level tropik bawah lebih sedikit
e. Spesies euryphagus makan lebih banyak dan memiliki cakupan
gegrafis lebih luas daripaka spesies stenophagus.
f. Organisme stenophagus umumnya berada di daerah tropis
g. Ikan memiliki perlindungan diri terhadap predator
Ketersediaan pakan dipengaruhi oleh kondisi abiotik perairan.
Faktor abiotik tersebut, antara lain sebagai berikut: suhu, transparansi,
angin, fluktuasi permukaan air, perubahan perluasan area makan, dan
keterlindungan pakan dari predator.
Dalam perkembangannya ikan selalu beradaptasi dengan
lingkungannya termasuk dalam hal makanan dengan tujuan supaya dapat
memanfaatkan makanan yang tersedia secara maksimal. Ikan ikan yang
saling beraosiasi dalam satu kelompok dalam area tertentu biasanya akan
beradaptasi dalam hal makanan, untuk mencegah adanya konflik dengan
ikan yang lain, yang memiliki kebutuhan pakan hayati yang sama
(pemakan plankton, pemakan benthos, dan predator) karena adanya
perbedaan pakan yang dimakan.
2. Hubungan Makan antara Asosiasi Fauna Tunggal pada Variasi Garis
Lintang yang Berbeda.
Garis lintang bumi ternyata berpengaruh terhadap suplai makanan.
Perbedaan ketersediaan makanan di daerah lintang yang berbeda
mempengaruhi perilaku makan ikan. Di daerah tropis, ikan biasanya akan
mengurangi volume makan saat musim kemarau karena keterbatasan
suplai makanan. Bahkan beberapa jenis mengalami hibernasi untuk
mengirit energi.
Ikan-ikan di daerah lintang tinggi selalu beradaptasi untuk makan
berbagai jenis makanan dalam jumlah yang bervariasi untuk menjaga
ketersediaan makanan. Sebaliknya di daerah dengan lintang rendah variasi
jenis makanan lebih rendah karena ketersediaan makanan relatif
stabil. Pada masa tertentu migrasi diperlukan karena terkait dengan
ketersediaan makanan. Keteraturan makan dapat dipengaruhi oleh migrsi
ikan, walaupun ada penurunan pemangsaan makanan di sungai.

2.8 Hubungan Makan Diantara Spesies dalam Asosiasi yang Berbeda


Dalam satu kelompok ikan tersusun atas beberapa spesies. Dalam satu
kelompok tersebut akan terjadi kompetisi yang sangat tajam (dalam hal makanan)
apabila mereka memiliki jenis makanan yang sama. Tidak banyak suatu daerah
yang hanya terdiri atas satu kelompok saja. Umumnya dalam satu daerah terdapat
beberapa kelompok. Sebagai contoh adalah danau Arktik dan beberapa
pegunungan di Asia. Di danau tersebut hanya ada satu kelompok ikan saja. Hal
tersebut karena adanya penyesuaian iklim yang akan meperpanjang rantai
makanan.
Lokasi atau zona berpengaruh terhadap hubungan makan. Garis lintang
bumi memiliki kondisi yang berbeda sehingga wilayah tropis dan sb tropis
hubungan makan juga berbeda. Komunitas di daerah lintang tinggi atau daerah
sub-tropis lebih menguntungkan saat makanan pokok tidak tersedia. Sebaliknya
komunitas di daerah lintang rendah atau tropis lebih menguntungkan apabila
makanan pokok tersedia. Di daerah lintang rendah, predator akan lebih mudah
mentransfer prey dibandingkan di daerah tintang tinggi. Prey atau mangsa yang
berfungsi sebagai makanan pokok predator umumnya mempunyai kesamaan
bentuk dengan predator.
Ketersediaan pakan merupakan pembatas biologis, misalnya pertumbuhan
dan kemampuan reproduksi. Oleh karena itu, besar populasii juga dipengaruhi
oleh ketersediaan pakan. Dalam suatu area ikan ikan yang ada akan saling
berinteraksi. Antara satu dengan yang lain ada yang interaksinya tidak
menimbulkan masalah namun ada yang dapat menimbulkan masalah apabila
terhadap hubungan predator dan prey. Beberapa ikan di daerah sub-tropis atau di
daerah dengan lintang tinggi, karena keterbatasan makanan maka ikan ikan
tersebut dapat mengalami perubahan secara dratis penjadi predator. Pada sebuah
lokasi pemangsaan yang luas, maka pemangsaan akan meningkat jumlahnya
apabila lokasi terseut ternyata merupakan rute migrasi pemijahan.

2.9 Hubungan Makan Diantara Spesies


Dalam satu populasi, (terutama untuk ikan yang hidup berkelompok)
antara satu individu dengan individu yang lain memiliki hubungan yang erat
dalam kaitannya dengan masalah makanan. Populasi dapat maksimum apabila
pakan yang tersedia juga maksimum dan adanya gangguan dari predator.
Ketersediaan pakan dapat maksimum apabila terdapat adaptasi ikan terhadap jenis
makanan.
Karena adanya pengarh berbagai faktor, misalnya musim dan kompetisi,
ternyata dapat mempengaruhi ketersediaan pakan. Salah satu cara ikan untuk tetap
menjaga agar pakan selalu tersedia dalam jumlah yang cukup adalah ikan
melakukan pergerakan berpindah tempat atau migrasi. Ikan-ikan tersebut akan
bermigrasi sampai di tempat di mana terdapat suplai makanan yang
cukup. Perilaku lain yang yang berkaitan dengan hubungan makan di natara
spesies adalah kebiasaan bergerombol. Kebiasaan bergerombol ini memiliki
beberapa manfaat, antar lain sebagai berikut :
1. Ikan dapat memulai makan dan berhenti makan pada saat yang
sama. Dengan adanya gerombolan yang besar akan mempersulit predator
untuk menyerang mangsanya sehingga ikan-ikan yang menjadi prey lebih
terlindung.
2. Kondisi Abiotik Mempengaruhi Suplai Makanan. Variasi kondisi abiotik
memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap food intake atau jumalh
pakan yang dimakan. Sementara itu, kondisi abiotik ditentukan oleh besar
luas zona geografi dan kedalaman, di mana di tempat tersebut terjadi
hubungan makanan.
Suplai makanan berkaitan erat dengan panjang periode vegetatif. Periode
vegetatif adalah suatu masa di mana populasi dapat menjalankan metabolisme
secara maksimal dan membangun jaringan tubuhnya dalam kondisi tersedianya
makanan, dalam kondisi yang sesuai. Waktu dan durasi (periode) makan ikan
bergantung pada kondisi ketersediaan makan yang terkait dengan kondisi abiotik
dan kondisi ikan itu sendiri. Secara seksual, ikan ikan yang belum dewasa
memiliki periode yang lebih panjang daripada ikan dewasa. Jumlah pakan yang
dimakan oleh ikan bervariasi. Adanya variasi ini dipengaruhi oleh panjang
periode makan dan suhu, selama periode makan. Beberapa kondisi lain yang
berpengaruh terhadap suplai makanan yang akhirnya juga berpengaruh terhadap
jumlah makan yang dimakan oleh ikan, antara lain sebagai berikut. Wilayah
geografi secara alami berpengaruh terhadap kecepatan reproduksi makanan.
Kecepatan reproduksi inilah yang akan berakibat terhadap banyak pakan yang
dimakan. Angin dapat berpengaruh terhadap suplai makanan. Misalnya, adanya
angin besar membuat serangga banyak yang jatuh ke air, dan dapat memperbesar
suplai makanan yang tersedia. Cahaya berpengaruh terhadap jumalh pakan yang
dimakan. Misalnya, adanya cahaya memudahkan predator untuk meburu
mangsanya.
Kondisi perikanan dunia saat ini tidak dapat lagi dikatakan masih
berlimpah. Tanpa adanya konsep pengelolaan yang berbasis lingkungan,
dikhawatirkan sumber daya yang sangat potensial ini-sebagai sumber protein yang
sehat dan murah-bisa terancam kelestariannya. Karena itu, sidang Organisasi
Pangan Sedunia (FAO) memperkenalkan Code of Conduct for Responsible
Fisheries (CCRF) sejak 1995. Konsep yang diterjemahkan sebagai Tata Laksana
Perikanan yang Bertanggung Jawab (Code of Conduct for Responsible Fisheries)
tersebut telah diadopsi oleh hampir seluruh anggota badan dunia sebagai patokan
pelaksanaan pengelolaan perikanan. Sekalipun sifatnya sukarela, banyak negara
telah sepakat bahwa CCRF merupakan dasar kebijakan pengelolaan perikanan
dunia. Dalam pelaksanaannya, FAO telah mengeluarkan petunjuk aturan
pelaksanaan dan metode untuk mengembangkan kegiatan perikanan yang
mencakup perikanan tangkap dan budidaya. Sejak pertengahan tahun 1990-an,
sebagian ahli perikanan dunia memang telah melihat adanya kecenderungan hasil
tangkapan perikanan global yang telah mencapai titik puncak. Bahkan di beberapa
wilayah dunia, produksi perikanan telah menunjukkan gejala tangkap lebih
(overfishing).
Kondisi overfishing di beberapa bagian dunia dapat dibuktikan dengan
membuat analisis rantai makanan (trophic level) terhadap ikan-ikan yang
tertangkap. Hasil yang ada menunjukkan bahwa aktivitas perikanan oleh manusia
menurunkan populasi ikan-ikan jenis predator utama, seperti tuna, marlin, cucut
(Myers dan Worm, 2003). Dengan jumlah alat tangkap yang dimiliki armada
perikanan dunia saat ini serta dibarengi kemajuan teknologi yang ada, nelayan
modern tidak perlu lagi mencari-cari daerah penangkapan terlalu lama seperti
yang dilakukan generasi terdahulu, di mana mereka harus berlayar berhari-hari
untuk mencapai fishing ground atau daerah penangkapan ikan. Akibat dari
berkurangnya populasi ikan pada trophic level tinggi, tingkat eksploitasi terhadap
jenis ikan yang berada pada tingkat trophic level yang lebih rendah, seperti ikan-
ikan pelagis kecil dan cumi-cumi, akan meningkat. Kecenderungan demikian
disebut Fishing Down Marine Food Web, yang pertama kali diperkenalkan Pauly
et al, 2002.
Ilustrasi gejala Fishing Down Marine Food Web seperti yang dimaksud.
Kecenderungan ini tidak bisa dibiarkan karena pada akhirnya manusia hanya akan
bisa menyantap sup ubur-ubur dan plankton.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Ekosistem adalah Kumpulan populasi yang terdapat dalam perairan
dinamakan komuniti. Komuniti sebagai unit biologi bersama-sama dengan
komponen benda mati disekelilingnya mengadakan interaksi dinamakan
ekosistem.
Analisis populasi ikan merupakan suatu kajian tentang perkembangan
populasi ikan. Analisis ini diperlukan karena besar populasi ikan dari waktu ke
waktu selalu berubah. Kajian ini bertujuan untuk menjelaskan dan meramalkan
perkembangan suatu populasi ikan.
Ada beberapa pola dalam distribusi tiap ikan antara lain sebagai berikut :
- Pola Distribusi Reproduktif.
- Pola Distribusi Acak
- Pola Distribusi Contagius
- Pola Overdispersion
- Pola Distribusi Vektorial
- Pola Distribusi Co-Active

3.2 Saran
Untuk dapat mengetahui mengenai kecepatan reproduksi, pertumbuhan
dan mortalitas serta pengaruhnya terhadap populasi pergerakan populasi ikan kita
perlu mengetahui pola-pola distribusi sehingga kita dapat mengaplikasikan dalam
kehidupan sehari- hari.
DAFTAR PUSTAKA

Effendie.Moch.DRS.MSC.1997. Biologi Perikanan. Pustaka Nusatama. Bogor.


Arinardi, O. H., 1989. Zooplankton Di Perairan Sekitar Cilacap (Jawa Tengah)
dan Hubungannya dengan Perikanan. Jurnal Penelitian Perikanan Laut.
Jakarta.
Anonim. 2007. Analisis Populasi Ikan Suplai Makanan. http://fish-
article.blogspot.com/2007/12/analisis-populasi-ikan-suplai-makanan.html.
Diakses pada tanggal 3 Maret 2017, Pukul 15.20 WIB.