Anda di halaman 1dari 5

Sapaan Sunyi

Ditulis oleh Nadia Erkashi

Sejenak, aku beranjak untuk keluar dari ruangan ini dan menatap langit biru
yang cerah dan merasakan sejuknya udara pagi ini. Tempat yang kusenangi,
dimana ada taman bunga dihadapanku, ditengah-tengahku. Meski aku tak berharap
jika menyaksikan impian ini di rumah sakit.

Nara, apa kamu sudah makan? tanya perawat disini

Iya sudah bu

Meskipun sekarang aku sedang mengalami masa sulit, tapi aku percaya jika Allah
akan memberikan yang terbaik untukku. Selama hidupku, aku telah menyaksikan
dalam kehidupanku, skenario-skenario indah yang aku sendiri bahkan tak
menyangka semua itu akan terjadi.

***

Hari ini, aku berencana untuk masuk sekolah, karena tim medis yang
merawat ku sudah mengizinkanku untuk keluar hari ini.

Ketika baru saja turun dari bis, aku melihat seseorang yang aku kenal.

Hana! sapa ku

Namun Hana sama sekali tidak menoleh, wajahku berubah muram seketika, aku
langsung berjalan tak peduli dengan orang sekitarku.

Ridho! spontan aku menyapa temanku yang aku kenal sejak sd itu, tapi dia sama
sekali tidak menoleh ataupun terlihat merespon panggilanku.

Kenapa dengan teman-temanku, kenapa mereka tidak merespon sapaanku,


apakah mereka tidak merasa rindu seperti apa yang aku rasakan? tanya ku dalam
hati sembari terus berjalan menuju kelas.

Hai Nara, syukurlah kamu sudah masuk sekolah lagi Sapa Hana mengejutkanku,
ternyata dia tidaklah mengabaikanku, pikirku.

iya!
Kemudian kami bercakap-cakap.

Diperjalanan pulang, aku bertemu Ridho lagi, dia terlihat sedang bermain HP. Aku
hendak menyapanya, tapi dia sekarang sudah jadi orang yang sombong. Tidak
peduli lagi dengan sapaan ku, jadi lebih baik aku tidak menyapanya lagi. Dia sama
saja seperti orang lain yang aku kenal. Pikirku.

Aku sangat tidak suka dengan orang yang sombong gumam ku

***

Maaf, tadi ada lihat orang-orang rame berlarian nggak ya?

iya

Mereka masuk ruangan mana ya?

Disebelah situ

Terimakasih ya

Sama-sama

Tanpa sadar, senyum terukir diwajahku.

Kejadian ini seperti kejadian di skenario anime gumamku sembari tersenyum kecil

Huft.. makanan disini sama sekali tidak menarik, tidak ada rasanya, aku harus cepat
sembuh! ucapku

Sore ini, aku hendak duduk lagi ditaman yang kusukai. Aku berjalan dengan langkah
yang pelan. Untungnya, lokasi tamannya tidak terlalu jauh dari kamar tidur ku.

Ditaman ini, biasanya selalu ada anak-anak kecil yang bermain-main. Namun hari
ini, tidak seramai seperti biasanya.

ah, itu kan orang itu aku melihat orang yang pernah tersesat saat itu, sedang
berbicara dengan ramah nya bersama anak-anak kecil.

abaikan saja dia, dia bersikap ramah terhadap anak kecil karena itu memang
tugasnya kemudian aku mengalihakan padanganku ke arah yang berlawananan.
***

Keesokan harinya,.

Hari ini, aku sangat senang karena dokter menyampaikan kepada kedua orangtuaku
jika aku sudah bisa pulang kerumah.

Nanti setiap dua pekan sekali, kontrol ya nak.

Oke bu jawabku spontan

Lagi-lagi, aku bertemu orang yang saat itu, aku langsung lewat tanpa peduli
siapapun. Tatapanku lurus.

Nara,, ada temanmu datang menjenguk, keluar dong dari kamar.. teriak ibu aku

Baik bu.. jawabku

Kulihat teman-temanku membawa snack kesukaanku.

Wah... terimakasih ya.. Ucapku dengan penuh bahagia

Jangan lagi ya Ra, sakit-sakitan! ucap temanku

Iya nih, banyak sekali pelajaran yang kamu ketinggalan loh

Ntar bagaimana ujian kamu hayo, jangan nyontek yaa

Hehe..

***

Dua pekan berlalu, hari ini aku pergi kontol ke rumah sakit sendirian.

Aku tak sabar ingin berkunjung ke taman kesukaanku! gumamku

Setelah selelsai kontrol, aku beranjak menuju taman dekat kamar aku menginap
dulu.

Perasaanku serasa berbunga-bunga, saking rindunya kepada taman itu.

Aku berjalan dengan penuh rasa bahagia.

Tanpa sengaja, aku melihat orang tersesat waktu itu. Aku bingung, haruskah aku
menyapa atau tersenyum? Jadi aku hanya berekspresi datar.

Kamu kan, dulu di rawat disini. Ucapnya


ehm, iya benar

Bukannya kamu sudah dipulangkan ya?

Iya, ini mau kontrol saja

O... begitu ya

Kalau begitu saya pergi dulu ya

Iya hati-hati ya dek jalannya

Iya kak

Tak seberapa jauh kemudian, dia bertanya lagi

Kamu kemarin diruangan B kan?

Iya benar

Setelah itu aku benar-benar beranjak pulang.

Jarang sekali, seorang laki-laki seperti dia menyapa dan mengajak aku berbicara
seperti ini, ternyata masih ada juga orang seperti dia.

Pekan berikutnya, aku kembali kerumah sakit lagi untuk kontrol. Kali ini, aku harus
menunggu dokternya datang, karena dokter nya sedang melakukan operasi.

Untuk itu, aku memilih untuk menunggu di taman kesukaanku.

Di pagi menjelang siang ini, angin menyapa ku, daun-daun ikut bergemerisik.

Nona, nona, maukah kau bermain bersamaku? sapa anak kecil

Bermain apa adik..?

Kemudian tanpa sengaja ku lihat orang yang tersesat waktu itu,

Apa kabar ucapnya

Baik jawabku

Apa yang nona lakukan disini?

Oh, aku hanya senang saja duduk ditaman ini. Seolah semua masalahku pergi
dibawa oleh angin, dan bunga-bunga disini

Bagaimana dengan penyakitmu?

Dokter bilang, aku cukup tidak lupa menjalani rawat jalan ini. Aku berharap ini akan
sembuh.
Semoga..

Nara, dokter nya sudah datang

baik bu

Kalau begitu, aku pergi dulu ya. Ucap ku

Iya

Ini seperti mimpi saja, tapi aku sangat senang dipertemukan dengan orang baik
seperti dia. Ucapku dalam hati.

Pekan-pekan berikutnya setiap kami bertemu, dia selalu yang duluan menyapaku,
dan seringkali kami selalu berbicara.

Adakalanya kami hanya bertemu dengan jarak yang jauh, dia sekedar lewat dan
sepertinya sedang terburu-buru. Saat itu, penglihatanku sedikit kabur, namun aku
merasa seperti mengenal orang itu yang sepertinya seolah menyapaku, atau
sekedar menoleh, aku menangkap jika itu adalah bentuk sapaan.

Karena penglihatanku kurang jelas, aku tidak berespon , hanya ekspresi datar yang
ku eskpresikan. Setelah aku perhatikan lagi dari belakang, ternyata itu adalah dia
yang pernah tersesat waktu itu.

Sepertinya aku terlalu cepat menyimpulkan kalau teman aku yang tak menjawab
sapaanku itu sombong atau apalah itu. Lain kali, aku harus berprasangka positif!

Selesai.