Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Osteoporosis merupakan satu penyakit metabolik tulang sistemik yang


ditandai oleh menurunnya densitas massa tulang, oleh karena berkurangnya
matriks dan mineral tulang disertai dengan kerusakan mikro arsitektur dari
jaringan tulang, dengan akibat menurunnya kekuatan tulang, sehingga terjadi
kecenderungan tulang mudah patah.
Pembentukan dan penyerapan tulang berada dalam keseimbangan pada
individu berusia sekitar 30 - 40 tahun. Keseimbangan ini mulai terganggu dan
lebih berat ke arah penyerapan tulang ketika wanita mencapai menopause dan pria
mencapai usia 60 tahun. Penelitian Roeshadi di Jawa Timur mendapatkan bahwa
puncak massa tulang dicapai pada usia 30-34 tahun dan rata-rata kehilangan
massa tulang pasca menopause adalah 1,4% per tahun. Berbagai fraktur yang
berhubungan dengan osteoporosis adalah kompresi vertebral, fraktur col`les dan
fraktur kolum femoris. Prevalensi fraktur kompresi vertebral adalah 20% pada
wanita kaukasus pasca menopause, sedangkan fraktur kolum femoris meningkat
secara bermakna pada wanita diatas 50 tahun atau laki-laki di atas 60 tahun.
Osteoporosis menyebabkan lebih dari 8,9 juta kasus fraktur setiap tahun di
dunia, dimana 4,5 juta kasus terjadi di Amerika dan Eropa. Saat ini diperkirakan
ada sekitar 0,3 juta fraktur panggul pertahun di Amerika Serikat dan 1,7 juta di
Eropa. Hampir semua peristiwa ini dikaitkan dengan osteoporosis, baik primer
atau sekunder. Rasio perempuan dan laki-laki pada fraktur pinggul 2:1. Insiden
fraktur pergelangan tangan di Inggris dan Amerika berkisar 400-800 per 100.000
perempuan. Fraktur kompresi tulang belakang jauh lebih sulit untuk diperkirakan
karena sering tanpa gejala. Diperkirakan lebih dari satu juta wanita
postmenopause Amerika akan mengalami patah tulang tulang belakang dalam
perjalanan satu tahun.

1
1.2 TUJUAN

1. Untuk mengetahui konsep asuhan keperawatan pada pasien penyakit


Osteoporosis.
2. Untuk mengetahui cara penatalaksanaan dan pengobatan pada pasien
Osteoporosis.
3. Untuk menyelesaikan tugas perkuliahan mata kuliah Keperawatan Medikal
Bedah II (KMB II)

1.3 RUMUSAN MASALAH


1. Apa yang dimaksud Osteoporosis?
2. Apasaja klasifikasi dari osteoporosis?
3. Apa penyebab osteoporosis?
4. Apasaja factor resiko osteoporosis?
5. Bagaimana proses terjadinya osteoporosis?
6. Bagaimana tanda dan gejala osteoporosis?
7. Apasaja pemeriksaan diagnostic pada osteoporosis?
8. Bagaimana cara penanganan osteoporosis?
9. Bagaimana cara mencegah terjadinya osteoporosis?

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 DEFINISI

2
Secara harfiah kata osteo berarti tulang dan kata porosis berarti berlubang
atau dalam istilah populer adalah tulang keropos. Menurut International
Consensus Definition tahun 1993, Osteoporosis adalah penyakit skeletal sistemik
yang ditandai dengan massa tulang yang rendah dan kerusakan mikroarsitektur
jaringan tulang sehingga terjadi kerapuhan tulang dan peningkatan kerentanan
patah tulang.
Osteoporosis adalah kelainan di mana terjadi penurunan massa tulang
total. Terdapat perubahan pergantian tulang homeostasis normal, kecepatan
resorpsi tulang lebih besar dari kecepatan pembentukan tulang, mengakibatkan
penurunan masa tulang total. Tulang secara progresif menjadi porus, rapuh dan
mudah patah, tulang menjadi mudah fraktur dengan stres yang tidak akan
menimbulkan pengaruh pada tulang normal.
Osteoporosis adalah penyakit tulang yang mempunyai sifat-sifat khas
berupa massa tulang yang rendah, disertai mikro arsitektur tulang dan penurunan
kualitas jaringan tulang yang dapat akhirnya menimbulkan kerapuhan tulang.

2.2 KLASIFIKASI
1. Osteoporosis Primer
Tipe 1 adalah tipe yang timbul pada wanita pascamenopause
Tipe 2 terjadi pada orang lanjut usia baik pria maupun wanita atau
disebut juga osteoporosis senil atau penuaan.
2. Osteoporosis Skunder
Disebabkan oleh penyakit yang berhubungan dengan :
Kelainan hepar
Kegagalan ginjal kronis
Kurang gerak
Kebiasaan minum alkohol
Pemakai obat-obatan atau corticosteroid
Kelebihan kafein
Merokok
3. Osteoporosis Idiopatik

3
Yaitu : Osteoporosis yang tidak di ketahui penyebabnya dan di temukan
pada Usia kanak-kanak (juvenil), Usia remaja (adolesen), dan Pria usia
pertengah.

2.3 ETIOLOGI
Osteoporosis postmenopausal terjadi karena kekurangan estrogen (hormon
utama pada wanita), yang membantu mengatur pengangkutan kalsium ke
dalam tulang pada wanita. Biasanya gejala timbul pada wanita yang berusia
diantara 51-75 tahun, tetapi bisa mulai muncul lebih cepat ataupun lebih lambat.
Tidak semua wanita memiliki risiko yang sama untuk menderita osteoporosis
postmenopausal, wanita kulit putih dan daerah timur lebih mudah menderita
penyakit ini daripada wanita kulit hitam.
Osteoporosis senilis kemungkinan merupakan akibat dari
kekurangan kalsium yang berhubungan dengan usia dan ketidakseimbangan
diantara kecepatan hancurnya tulang dan pembentukan tulang yang baru. Senilis
berarti bahwa keadaan ini hanya terjadi pada usia lanjut. Penyakit ini biasanya
terjadi pada usia diatas 70 tahun dan 2 kali lebih sering menyerang wanita. Wanita
seringkali menderita osteoporosis senilis dan postmenopausal.
Kurang dari 5% penderita osteoporosis juga mengalami osteoporosis
sekunder, yang disebabkan oleh keadaan medis lainnya atau oleh obat-obatan.
Penyakit ini bisa disebabkan oleh gagal ginjal kronis dan
kelainan hormonal (terutama tiroid, paratiroid dan adrenal) dan obat-obatan
(misalnya kortikosteroid, barbiturat, anti-kejang dan hormon tiroid yang
berlebihan). Pemakaian alkohol yang berlebihan dan merokok bisa memperburuk
keadaan ini.
Osteoporosis juvenil idiopatik merupakan jenis osteoporosis yang
penyebabnya tidak diketahui. Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa muda
yang memiliki kadar dan fungsi hormon yang normal, kadar vitamin yang normal
dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang.

2.4 FAKTOR FAKTOR RESIKO PENYEBAB OSTEOPOROSIS


1. Faktor Resiko Yang Tidak Dapat Di Ubah

4
a. Faktor Mekanis Atau Usia Lanjut
Faktor mekanis merupakan faktor yang terpenting dalarn proses
penurunan massa tulang sehubungan dengan lanjutnya usia. Walaupun
demikian telah terbukti bahwa ada interaksi panting antara faktor
mekanis dengan faktor nutrisi hormonal. Pada umumnya aktivitas fisis
akan menurun dengan bertambahnya usia, dan karena massa tulang
merupakan fungsi beban mekanis, massa tulang tersebut pasti akan
menurun dengan bertambahnya usia.
b. Jenis Kelami
Osreoporosis tiga kali lebih sering terjadi pada wanita
dibandingkan pria, perbedaan ini disebabkan oleh faktor hormonal dan
rangka tulang yang lebih kecil.
c. Faktor Genetik
Perbedaan genetik mempunyai pengaruh terhadap derajat
kepadatan tulang. Beberapa orang mempunyai tulang yang cukup besar
dan yang lain kecil. Sebagai contoh, orang kulit hitam pada umumnya
mempunyai struktur tulang lebih kuat dan berat dari pada bangsa kulit
putih. Jadi seseorang yang mempunyai tulang kuat biasanya jarang
terserang osteoporosis.
d. Riwayat Keluarga Atau Keturunan
Riwayat keluarga juga mempengaruhi penyakit osteoporosis, pada
keluarga yang mempunyai riwayat osteoporosis, anak-anak yang
dilahirkannya cenderung mempunyai penyakit yang sama.
e. Bentuk Tubuh
Kerangka tubuh dan skoliosis vertebra yang lemah juga dapat
menyebabkan penyakit osteoporesis. Keadaan ini terutama terjadi pada
wanita antara usia 50-60 tahun dengan identitas tulang yang rendah
dan di atas usia 70 tahun dengan keadaan tubuh yng tidak ideal.

2. Faktor Resiko Yang Dapat Di Ubah


a. Kalsium

5
Faktor makanan ternyata memegang peranan penting dalam proses
penurunan massa tulang sehubungan dengan bertambahnya uisia,
terutama pada wanita post menopause. Kalsium, merupakan nutrisi
yang sangat penting, wanita-wanita pada masa pascamenopause,
dengan masukan kalsiumnya rendah dan absorbsinya tidak baik, akan
mengakibatkan keseimbangan kalsiumnya menjadi berkurang maka
kemungkinan terjadinya osteoporosis ada, pada wanita dalam masa
menopause keseimbangan kalsiumnya akan terganggu akibat masukan
serta absorbsinya kurang dan ekskresi melalui urin yang bertambah
dapat menyebabkan kekurangan atau kehilangan estrogen serta
pergeseran keseimbangan kalsium sejumlah 25 mg per sehari pada
masa menopause.
b. Protein
Protein juga merupakan faktor yang penting dalam mempengaruhi
penurunan massa tulang. Makanan yang kaya protein akan
mengakibatkan ekskresi asam amino yang mengandung sulfat melalui
urin, hal ini akan meningkatkan ekskresi kalsium. Pada umumnya
protein tidak dimakan secara tersendiri, tetapi bersama makanan lain.
Apabila makanan tersebut mengandung fosfor, maka fosfor tersebut
akan mengurangi ekskresi kalsium melalui urin. Sayangnya fosfor
tersebut akan mengubah pengeluaran kalsium melalui tinja. Hasil akhir
dari makanan yang mengandung protein berlebihan akan
mengakibatkan kecenderungan untuk terjadi keseimbangan kalsium
yang negatif.
c. Estrogen
Berkurangnya estrogen dari dalam tubuh akan mengakibatkan
terjadinya gangguan keseimbangan kalsium. Hal ini disebabkan oleh
karena menurunnya eflsiensi absorbsi kalsium dari makanan dan juga
menurunnya konservasi kalsium di ginjal.
d. Rokok Dan Kopi
Merokok dan minum kopi dalam jumlah banyak cenderung akan
mengakibatkan penurunan massa tulang, lebih-lebih bila disertai

6
masukan kalsium yang rendah. Mekanisme pengaruh merokok
terhadap penurunan massa tulang tidak diketahui, akan tetapi kafein
dapat memperbanyak ekskresi kalsium melalui urin maupun tinja.
e. Alkohol
Alkoholi merupakan masalah yang sering ditemukan. Individu
dengan pengguna alkohol mempunyai kecenderungan masukan
kalsium rendah, disertai dengan ekskresi lewat urin yang meningkat.
Mekanisme yang jelas belum diketahui dengan pasti tentang pengguna
alkohol.
f. Gaya hidup.
Aktifitas fisik yang kurang dan imobilisasi dengan penurunan
penyangga berat badan merupakan stimulus penting bagi resorpsi
tulang. Beban fisik yang terintegrasi merupakan penentu dari puncak
massa tulang.

2.5 PATOFISIOLOGI
1. Dalam keadaan normal terjadi proses yang terus menerus dan terjadi
secara seimbang yaitu proses resorbsi dan proses pembentukan tulang
(remodelling). Setiap ada perubahan dalam keseimbangan ini,
misalnya proses resorbsi lebih besar dari proses pembentukan, maka
akan terjadi penurunan massa tulang
2. Proses konsolidasi secara maksimal akan dicapai pada usia 30-35
tahun untuk tulang bagian korteks dan lebih dini pd bagian trabekula
3. Pada usia 40-45 th, baik wanita maupun pria akan mengalami
penipisan tulang bagian korteks sebesar 0,3-0,5 %/tahun dan bagian
trabekula pada usia lebih muda
4. Pada pria seusia wanita menopause mengalami penipisan tulang
berkisar 20-30 % dan pd wanita 40-50 %
5. Penurunan massa tulang lebih cepat pd bagian-bagian tubuh seperti
metakarpal, kolum femoris, dan korpus vertebra
6. Bagian-bagian tubuh yg sering fraktur adalah vertebra, paha bagian
proksimal dan radius bagian distal.

7
2.6 MANIFESTASI KLINIS
1. Nyeri dengan atau tanpa fraktur yang nyata. Ciri-ciri khas nyeri akibat
fraktur kompressi pada vertebra (paling sering Th 11 dan 12 ) adalah:
2. Nyeri timbul mendadak
3. Sakit hebat dan terlokalisasi pada vertebra yg terserang
4. Nyeri berkurang pada saat istirahat di t4 tidur
5. Nyeri ringan pada saat bangun tidur dan dan akan bertambah oleh
karena melakukan aktivitas
6. Deformitas vertebra thorakalis Penurunan tinggi badan

2.7 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK


1. Pemeriksaan non-invasif yaitu ;
a. Pemeriksaan analisis aktivasi neutron yang bertujuan untuk
memeriksa kalsium total dan massa tulang.
b. Pemeriksaan absorpsiometri
c. Pemeriksaan komputer tomografi (CT)
d. Pemeriksaan biopsi yaitu bersifat invasif dan berguna untuk
memberikan informasi mengenai keadaan osteoklas, osteoblas,
ketebalan trabekula dan kualitas meneralisasi tulang. Biopsi
dilakukan pada tulang sternum atau krista iliaka.
e. Pemeriksaan laboratorium yaitu pemeriksaan kimia darah dan kimia
urine biasanya dalam batas normal.sehingga pemeriksaan ini tidak
banyak membantu kecuali pada pemeriksaan biomakers osteocalein
(GIA protein).

2.8 PENATALAKSANAAN
Tujuan pengobatan adalah meningkatkan kepadatan tulang. Semua
wanita, terutama yang menderita osteoporosis, harus mengkonsumsi
kalsium dan vitamin D dalam jumlah yang mencukupi. Wanita pasca
menopause yang menderita osteoporosis juga bisa mendapatkan estrogen
(biasanya bersama dengan progesteron) atau alendronat, yang bisa

8
memperlambat atau menghentikan penyakitnya. Bifosfonat juga
digunakan untuk mengobati osteoporosis.
Pria yang menderita osteoporosis biasanya mendapatkan kalsium
dan tambahan vitamin D, terutama jika hasil pemeriksaan menunjukkan
bahwa tubuhnya tidak menyerap kalsium dalam jumlah yang mencukupi.
Jika kadar testosteronnya rendah, bisa diberikan testosteron. Patah tulang
karena osteoporosis harus diobati. Patah tulang panggul biasanya diatasi
dengan tindakan pembedahan. Patah tulang pergelangan biasanya digips
atau diperbaiki dengan pembedahan. Pada kolaps tulang belakang disertai
nyeri punggung yang hebat, diberikan obat pereda nyeri, dipasang
supportive back brace dan dilakukan terapi fisik. Penanganan yang dapat
di lakukan pada klien osteoporosis meliputi :
1. Diet
2. Pemberian kalsium dosis tinggi
3. Pemberian vitamin D dosis tinggi
4. Pemasangan penyangga tulang belakang (spina brace) untuk
mengurangi nyeri punggung.
5. Pencegahan dengan menghindari faktor resiko osteoporosis
(mis. Rokok, mengurangi konsumsi alkohol, berhati-hati dalam
aktifitas fisik).
6. Penanganan terhadap deformitas serta fraktur yang terjadi.

2.9 PENCEGAHAN
1. Mempertahankan atau meningkatkan kepadatan tulang dengan
mengkonsumsi kalsium yang cukup.
Mengkonsumsi kalsium dalam jumlah yang cukup sangat efektif,
terutama sebelum tercapainya kepadatan tulang maksimal (sekitar umur
30 tahun). Minum 2 gelas susu dan tambahan vitamin D setiap hari, bisa
meningkatkan kepadatan tulang pada wanita setengah baya yang
sebelumnya tidak mendapatkan cukup kalsium. Sebaiknya semua wanita
minum tablet kalsium setiap hari, dosis harian yang dianjurkan adalah 1,5
gram kalsium.

9
2. Melakukan olah raga dengan beban
Olah raga beban (misalnya berjalan dan menaiki tangga) akan
meningkatkan kepadatan tulang. Berenang tidak meningkatkan kepadatan
tulang.
3. Mengkonsumsi obat (untuk beberapa orang tertentu)
Estrogen membantu mempertahankan kepadatan tulang pada wanita dan
sering diminum bersamaan dengan progesteron. Terapi sulih estrogen
paling efektif dimulai dalam 4-6 tahun setelah menopause; tetapi jika
baru dimulai lebih dari 6 tahun setelah menopause, masih bisa
memperlambat kerapuhan tulang dan mengurangi resiko patah tulang.
Raloksifen merupakan obat menyerupai estrogen yang baru, yang
mungkin kurang efektif daripada estrogen dalam mencegah kerapuhan
tulang, tetapi tidak memiliki efek terhadap payudara atau rahim. Untuk
mencegah osteroporosis, bisfosfonat (contohnya alendronat), bisa
digunakan sendiri atau bersamaan dengan terapi sulih hormon.
Hindari :
o Makanan tinggi protein
o Minum alcohol
o Merokok
o Minum kopi
o Minum antasida yang mengandung aluminium

2.10 ASUHAN KEPERAWATAN


1. Pengkajian
a. Anamnesis
Identitas pasien
Keluhan pasien
Riwayat kesehatan. Anamnesis memegang peranan penting pada
evaluasi klien osteoporosis. Kadang- kadang keluhan utama
mengarahkan ke diagnosa ( mis., fraktur colum femoris pada
osteoporosis). Faktor lain yang diperhatikan adalah usia, jenis kelamin,
ras, status haid, fraktur pada trauma minimal, imobilisasi lama,

10
penurunan tinggi badan pada orang tua, kurangnya paparan sinar
matahari, asupan kalsium, fosfat dan vitamin D, latihan yang teratur dan
bersifat weight bearing. Obat-obatan yang diminum pada jangka
panjang harus diperhatikan seperti kortikosteroid, hormon tiroid, anti
konvulsan, antasid yang mengandung aluminium, natrium flourida dan
etidronat bifosfonat, alkohol dan merokok merupakan faktor risiko
terjadinya osteoporosis. Penyakit lain yang harus dipertanyakan dan
berhubungan dengan osteoporosis adalah penyakit ginjal, saluran cerna,
hati, endokrin, dan insufiensi pankreas. Riwayat haid, usia menarke dan
menopause, penggunaan obat kontrasepsi juga diperhatikan. Riwayat
keluarga dengan osteoporosis juga harus diperhatikan karena ada
beberapa penyakit tulang metabolik yang bersifat herediter.
Pengkajian psikososial. Gambaran klinis pasien dengan
osteoporosis adalah wanita pascamenopause dengan keluhan nyeri
punggung yang merupakan faktor predisposisi adanya fraktur multiple
karena trauma. Perawat perlu mengkaji konsep diri klien terutama citra
diri, khususnya klien dengan kifosis berat. Klien mungkin membatasi
interaksi sosial karena perubahan yang tampak atau keterbatasan fisik,
tidak mampu duduk di kursi, dan lain-lain. Perubahan seksual dapat
terjadi karena harga diri atau tidak nyaman selama posisi interkoitus.
Osteoporosis dapat menyebabkan fraktur berulang sehingga perawat
perlu mengkaji perasaan cemas dan takut pada klien.
Pola aktifitas sehari-hari. Pola aktifitas dan latihan biasanya
berhubungan dengan olah raga, pengisian waktu luang dan rekreasi,
berpakaian, makan, mandi, dan toilet. Olah raga dapat membentuk
pribadi yang baik dan individu akan merasa lebih baik. Selain itu, olah
raga dapat mempertahankan tonus otot dan gerakan sendi. Lansia
memerlukan aktifitas yang adekuat untuk mempertahankan fungsi
tubuh. Aktifitas tubuh memerlukan interaksi yang kompleks antara saraf
dan muskulosekeletal. Beberapa perubahan yang terjadi sehubungan
dengan menurunnya gerak persendian adalah agility (kemampuan gerak
cepat dan lancar) menurun, stamina menurun, koordinasi menurun dan

11
dexterity (kemampuan memanipulasi ketrampilan motorik halus)
menurun.
b. Pemeriksaan Fisik
B1 (Breathing)
Inspeksi: ditemukan ketidaksimetrisan rongga dada dan tulang
belakang.
Palpasi : taktil fremitus seimbang kanan dan kiri.
Perkusi: cuaca resonan pada seluruh lapang paru.

Auskultasi: pada kasus lanjut usia, biasanya didapatkan suara ronki


B2 ( Blood)
Pengisian kapiler kurang dari 1 detik, sering terjadi keringat dingin
dan pusing. Adanya pulsus perifer memberi makna terjadi
gangguan pembuluh darah atau edema yang berkaitan dengan efek
obat.
B3 ( Brain)
Kesadaran biasanya kompos mentis. Pada kasus yang lebih parah,
klien dapat mengeluh pusing dan gelisah.
Kepala dan wajah: ada sianosis
Mata: Sklera biasanya tidak ikterik, konjungtiva tidak
anemis.
Leher: Biasanya JVP dalam normal
B4 (Bladder)
Produksi urine biasanya dalam batas normal dan tidak ada keluhan
pada sistem perkemihan.
B5 ( Bowel)
Untuk kasus osteoporosis, tidak ada gangguan eliminasi namun
perlu di kaji frekuensi, konsistensi, warna, serta bau feses.
B6 ( Bone)
Pada inspeksi dan palpasi daerah kolumna vertebralis. Klien
osteoporosis sering menunjukan kifosis atau gibbus (dowagers
hump) dan penurunan tinggi badan dan berat badan. Ada
perubahan gaya berjalan, deformitas tulang, leg-length inequality
dan nyeri spinal. Lokasi fraktur yang sering terjadi adalah antara
vertebra torakalis 8 dan lumbalis 3.
c. Analisa data
Data subjektif :
- klien mengeluh nyeri punggung
- klien mengatakan sulit BAB

12
- klien mengatakan mudah lelah
- Adanya riwayat jatuh
Data objektif
- kekuatan otot menurun
- kekakuan sendi
- deformitas
- kifosis
- fraktur baru
- ketidakseimbangan tubuh
- keletihan

2. Diagnosa Keperawatan
Kurang pengetahuan mengenai proses osteoporosis dan program terapi
Nyeri yang berhubungan dengan fraktur dan spasme otot
Konstipasi yang berhubungan dengan imobilitasi atau terjadinya ileus
(obstruksi usus)
Risiko terhadap cedera : fraktur, yang berhubungan dengan tulang
osteoporotic

3. Renvcana keperawatan
DIAGNOSA TUJUAN DAN
NO INTERVESI
KEPERAWATAN KRITERIA HASL
1. Kurang NOC NIC
pengetahuan Knowledge : Teaching: disease Process
mengenai proses disease process Berikan penilaian
osteoporosis dan Knowledge : health tentang tingkat
program terapi behaviour pengetahuan pasien
Kriteria Hasil : tentang proses penyakit
Pasien dan keluarga yg spesifik
menyatakan Jelaskan patofisiologi
pemahaman tentang dari penyakit dan
penyakit, kondisi, bagaimana hal ini
prognosis dan berhubungan dengan
program anatomi dan fisiologi,
pengobatan dengan cara yg tepat

13
Pasien dan keluarga Gambarkan tanda dan
mampu melakukan gejala yg biasa muncul
prosedur yang pada penyakit, dengan
dijelaskan secara cara yg tepat.
benar Gambarkan proses
Pasien dan keluarga penyakit
mampu menjelaskan Identifikasi penyebab
kembali apa yang Sediakan informasi
dijelaskan perawat/tim pada pasien tentang
kesehatan lainnya. kondisinya
Diskusikan perubahan
gaya hidup untuk
mencegah komplikasi
Rujuk pasien pada
grup atau agensi di
komunitas lokal.
2. Nyeri kronis yang NOC NIC
berhubungan Pain level Pain management
dengan fraktur dan Pain control Lakukan
spasme otot Comfort level pengkajian nyeri secara
Kriteria Hasil komprehensif termasuk
Mampu lokasi, karakteristik,
mengontrol nyeri durasi, frekuensi,
Melaporkan nyeri kualitas dan faktor
berkurang dengan presipitasi
menggunakan Observasi reaksi
manajemen nyeri nonverbal dari ketidak
Mampu mengenali nyamanan
nyeri Gunakan teknik
Menyatakan rasa komunikasi terapiutik
nyaman setelah untuk mengetahui
nyeri berkurang pengalaman pasien
Kaji kultur yang

14
mempengaruhi respon
nyeri
Evaluasi
pengalaman nyeri masa
lampau
Kaji tipe dan
sumber nyeri untuk
menentukan intervensi
Ajarkan teknik non
farmakologi
Tingkatkan
istirahat
3. Konstipasi yang NOC NIC
berhubungan Bowel elimination Constipation/impaction
dengan imobilitasi Hydration management
atau terjadinya Kriteria Hasil Monitor tanda dan
ileus (obstruksi Mempertahankan gejala konstipasi
usus) bentuk feses lunak Monitor bising
setiap 1-3 hari usus
Bebas dari ketidak Monitor feses :
nyamanan dan frekuensi, konsistensi dan
konstipasi volume
Mengidentifikasi Monitor tanda dan
indikator untuk gejala ruptur
mencegah usus/peritonitis
konstipasi Dukung intake
Feses lunak dan cairan
berbentuk. Anjurkan pasien
untuk diet tinggi serat.
Menyarankan
pasien untuk
berkonsultasi dengan
dokter jika sembelit atau

15
impaksi terus ada
Lepaskan impaksi
tinja secara manual, jika
perlu
Timbang secara
teratur
Ajarkan pasien
tentang proses
pencernaan yang normal.
4. Risiko terhadap NOC NIC
cedera : fraktur, Risk kontrol Infironmant management
yang berhubungan Kriteria Hasil (manajemen
dengan tulang Klien terbebas dari lingkungan)
osteoporotik cedera Sediakan
Klien mampu lingkungan yang aman
menjelaskan untuk pasien
cara/metode untuk Identifikasi
mencegah kebutuhan keamanan
injuri/cedera pasien, sesuai dengan
Klien mampu kondisi fisik dan fungsi
menjelaskan factor kognitif dan riwayat
resiko dari penyakit terdahulu
lingkungan/prilaku pasien
personal Menghindarkan
Mampu lingkungan yang
memodifikasi gaya berbahaya
hidup untuk Memasang side rall
mencegah injuri tempat tidur
Menggunakan Menganjurkan
fasilitas kesehatan keluarga untuk
yang ada menemani pasien
Mampu mengenali Berikan penjelasan
perubahan status pada pasien dan

16
kesehatan keluarga atau
pengunjung adanya
perubahan status
kesehatan dan penyebab
penyakit.

BAB III

PENUTUP

17
3.1 KESIMPULAN
Osteoporosis adalah kelainan di mana terjadi penurunan massa tulang
total. Terdapat perubahan pergantian tulang homeostasis normal, kecepatan
resorpsi tulang lebih besar dari kecepatan pembentukan tulang, pengakibatkan
penurunan masa tulang total. Tulang secara progresif menjadi porus, rapuh
dan mudah patah; tulang menjadi mudah fraktur dengan stres yang tidak akan
menimbulkan pengaruh pada tulang normal.
Adapun klasifikasi osteoporosis yaitu :
Osteoporosis Primer
Osteoporosis Skunder
Osteoporosis Idiopatik
Faktor resiko penyebab osteoporosis

Faktor Resiko Yang Tidak Dapat Di Ubah


o Faktor Mekanis Atau Usia Lanjut
o Jenis Kelami
o Faktor Genetik
o Riwayat Keluarga Atau Keturunan
o Bentuk Tubuh
Faktor Resiko Yang Dapat Di Ubah
o Kalsium
o Protein
o Estrogen
o Rokok Dan Kopi
o Alkohol
o Gaya hidup

DAFTAR PUSTAKA

Potter, Patricia A ( 2005 ). Buku Dasar Fudamental Keperawatan, Keperawatan ;


Konsep, proses, dan praktik, EGC. Jakarta.

18
Nurarif, Amin H. 2015. Aplikasi Asuhan Keperwatan Berdasarkan Diagnosa
Medis NANDA NIC-NOC.Jogjakarta.MediAction
http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-
osteoporosis.pdf

19