Anda di halaman 1dari 30

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, taufiq dan
hidayah, sehingga Makalah mengenai Rekayasa Pencahayaan Bangunan dalam Karya
Arsitekturini dapat terselesaikan dengan baik.

Makalah ini disusun dalam rangka proses pembelajaran Mata Kuliah Rekayasa
Pencahayaan Bangunan. Penulis menyadari bahwa dalam proses pembuatan Makalah ini
melibatkan bantuan serta dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan penuh
rasa hormat penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Dosen mata kuliah Rekayasa Pencahayaan Bangunan.


2. Temanteman yang telah memberikan semangat, dukungan, serta masukan.
3. Semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu yang telah
membantu sehingga Makalah ini dapat terselesaikan.
Mengingat proses pembuatan Makalah ini dirasa masih jauh dari kesempurnaan,
penulis selalu membuka diri untuk menerima kritik dan saran. Selanjutnya, penulis
mengharapkan karya yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi kita semua.Amin.

Pekanbaru, 20 September 2016

Penulis

Wahyu Prima Putra / 1507114718


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................................... 1


DAFTAR ISI...................................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................. 3
1.1. Latar Belakang .................................................................................................. 3
BAB II STUDI LITERATUR .......................................................................................... 5
2.1. Sejarah Rekayasa Pencahayaan dalam Arsitektur ........................................ 5
2.1.1. Asal Mula Sumber Pencahayaan ................................................................. 5
2.1.2. Pengertian Pencahayaan dalam Arsitektur ................................................. 6
2.1.3. Bentuk, Ruang, Warna, Cahaya Dan Bayangan ....................................... 10
2.2. Pengaruh Rekayasa Pencahayaan terhadap Karya Arsitektur.................. 12
2.3. Sistem Pencahayaan dan Penghematan Energi ........................................... 21
2.4. Aplikasi Pencahayaan Pada Museum ........................................................... 23
2.4.1 Piramid Louvre .............................................................................................. 23
2.4.2 Galeri Batik Museum Tekstil Jakarta.......................................................... 24
BAB III KESIMPULAN................................................................................................ 29
3.1. Kesimpulan ...................................................................................................... 29
3.2. Saran ................................................................................................................ 29
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... 30

Wahyu Prima Putra / 1507114718


REKAYASA PENCAHAYAAN BANGUNAN DALAM KARYA
ARSITEKTUR

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Cahaya sangat memegang peranan penting dalam kehidupan
manusia,bahkan sejak bumi pertama kali diciptakan dan manusia pertama kali
terlahir ke bumi. Tuhan menciptakan cahaya yang dapat membedakan permukaan
bumi dan langit. Keberadaan cahaya itu menyebabkan bumi terus berputar dan
terciptalah kehidupan di bumi, dan satu-satunyacahaya alami yang ada digalaksi
kita adalah Matahari. Cahaya matahari memang merupakancahaya yang paling
baik untuk proses kehidupan di alam bumi ini, tumbuh-tumbuhan dapat
berfotosintesis, binatang dapat berburu dan bermain, dan manusia dapat melakukan
kegiatan apapun yang mereka sukai.
Manusia tidak dapat lepas dari cahaya, karena tanpa adanya cahaya maka
manusia tidak dapat melakukan banyak hal, tidak dapat melakukan kegiatan
dengan baik, tidak dapat melihat keindahan dan keburukan di sekitar
kita.Menyadari bahwa begitu besarnya peran cahaya bagi kehidupan
manusia,maka manusia menggunakan cahaya buatan untuk kegiatan pada malam
hari. Pada awalnya hanya berupa api unggun kemudian dengan perkembangan
kehidupan manusia, mereka mulai menciptakan cahaya buatan yang sumber
tenaganya berasal dari listrik. Sejak manusia menciptakan cahaya buatan, manusia
tidak hanya bekerja pada siang hari, tetapi dapat dilakukan pada malam hari.
Cahaya buatan merupakan pengganti cahaya matahari pada waktu malam hari.
Namun, kekuatan dan besar cahaya yang dikeluarkan cahaya buatan berbeda jauh
dengan kuat cahaya matahari.
Oleh karena itu, untuk menerangi sebuah ruang agar manusia dapat
berkegiatan normal, maka perlu ada beberapa cahaya buatan yang terkontrol atau
disebut dengan sistem pencahayaan. Bila kita melihat ke dalam sebuah ruang
dimana didalamnya merupakan tempat berlangsungnya sebuah aktifitas dari

Wahyu Prima Putra / 1507114718


manusia maka perlu dipertimbangkan kenyamanandari pengguna ruangan tersebut,
dimana manusia membutuhkan udara, suhu, pencahayaan yang tepat agar dapat
merasa nyaman. Sehingga keberhasilan suatu perancangan ruang ditentukan oleh
kenyamanan dari penggunannya, apakah ruang itu berfungsi dengan baik sesuai
dengan yang diinginkan atau menjadi ruang yang tidak terpakai karena tidak ada
yang nyaman memakai ruangan tersebut.
Pencahayaan merupakan salah satu faktor penting dalam perancangan
ruang. Ruang yang telah dirancang tidak dapat memenuhi fungsinya dengan baik
apabila tidak disediakan akses pencahayaan. Pencahayaan di dalam ruang
memungkinkan orang yang menempatinya dapat melihat benda-benda. Tanpa
dapat melihat benda-benda dengan jelas maka aktivitas didalam ruang akan
terganggu. Sebaliknya, cahaya yang terlalu terang juga dapat mengganggu
penglihatan. Kualitas penerangan yang tidak memadai berefek buruk bagi
fungsipenglihatan, psikologis serta aktivitas kerja.

Wahyu Prima Putra / 1507114718


BAB II
STUDI LITERATUR

2.1. Sejarah Rekayasa Pencahayaan dalam Arsitektur


2.1.1. Asal Mula Sumber Pencahayaan
Ketika bola lampu pijar pertama kali ditemukan oleh Thomas Alfa Edison
pada tahun 1879 dan kemudian dikembangkan menjadi berbagai macam bentuk
dan tipe lampu listrik sesuai perkembangan masa dan zaman, maka jenis sumber
cahaya buatan atau artifisial ini boleh dikatakan berkembang begitu
pesatnya,berbagai pembaruan dan inovasi pun dikembangkan guna mendapatkan
kualitas pencahayaan yang lebih maju.Sumber cahaya buatan ini dapat diandalkan
tingkat kestabilan kuat cahayanya sekalipun bila diukur dengan teliti sebenarnya
kekuatan cahayanya bisa berkurang dikarenakan usia lampu, bola lampu yang
kotor, reflektor yang kotor, namun mata manusia dalam batas tertentu tidak dapat
merasakannya. Demikian pula dengan kemungkinan perletakan posisinya menjadi
jauh lebih bebas, lebih fleksibel, bisa menempel, masuk atau disembunyikan di
langit-langit, dinding, lantai, di ruang dengan tiupan angin kencang sekalipun,
bahkan bisa pula diletakkan di dalam air.

Pada dasarnya ada dua macam sumber cahaya yang berpengaruh bagi
ruang dalam. Pertama, sumber cahaya alam yang berasal dari matahari, bintang-
bintang, kedua, sumber cahaya buatan atau artifisial, seperti: nyala lilin, nyala obor,
lampu minyak, lampu petromaks (nyala yang berasal dari selubung kaos yang
terjaga baranya akibat semburan minyak tanah yang berasal dari sebuah tabung
bertekanan), lampu gas, lampu pijar,lampu FL (Fluorescen) atau sering disebut
lampu TL. Kedua sumber cahaya ini mempunyai kelebihan serta kekurangan,
antara lain: sumber cahaya alam memiliki sifat tidak menentu, tergantung pada
iklim, musim juga cuaca.

Sinar ultra violet yang terkandung dalam sumber cahaya alam bila
terpancar langsung dapat merusak struktur permukaan material sesuai dengan
tingkat kepekaannya masing-masing. Sedangkan sumber cahaya buatan atau
artifisial pengadaannya membutuhkan sejumlah biaya (minyak, listrik, bola lampu,

Wahyu Prima Putra / 1507114718


armatur, aksesoris) namun perletakan posisinya dan kestabilan cahayanya (lampu
listrik) relatif mudah diatur.Sumber cahaya alam yang masuk ke ruang dalam dari
arah atas melalui lubang skylight pada langit-langit atau atap dan dari arah samping
melalui lubang jendela dapat diolah-rancang secara langsung ataupun tidak
langsung. Dengan penambahan tirai, jalusin, kaca film, batang-batang atau bidang-
bidang yang disusun sedemikian rupa pada lubang cahaya sebagai penghalang atau
penyaring cahaya, view, sirkulasi udara, curah hujan, atau demi alasan keamanan
akan memberikan efek atau dampak tertentu pada ruang dalamnya.Berbagai cara
pengolahan cahaya alam ini bukan semata untuk memenuhi segi estetika,
melainkan juga memenuhi aspek fungsi sebagai sarana penting bagi terlaksananya
kegiatan pada ruang dalam.

Sumber cahaya buatan pada awalnya, nyala obor, lilin mengalami


kesulitan dalammempertahankan kestabilan kuat cahayanya akibat tiupan angin,
menjadi cukup stabil setelah dilengkapi dengan tabung kaca (lampu minyak, lampu
petromaks, lampu gas).Pada tahap ini keterbatasan utamanya pada pemasangan
posisinya karena harus memperhitungkan panas nyala api yang membutuhkan
sirkulasi udara yang cukup baikserta letak tabung minyak.

2.1.2. Pengertian Pencahayaan dalam Arsitektur


Pencahayaan atau lighting adalah salah satu elemen penting yang perlu
dipertimbangkan dalam perancangan interior maupun arsitektur. Pencahayaan atau
lighting, selain berfungsi sebagai penerangan juga dapat dijadikan sebagai
aksesoris untuk memberi nilai estetika sebuah ruang maupun fasad. Untuk
merancang penataan cahaya yang baik, mari kita ketahui terlebih dahulu 2
klasifikasi utama pencahayaan.

Pencahayaan terbagi menjadi dua berdasarkan sumbernya. Yaitu:


Pencahayaan alamiah atau daylighting dan pencahayaan buatan atau biasa disebut
dengan artificial lighting.

a. Pencahayaan alamiah (Daylighting)

Wahyu Prima Putra / 1507114718


Pencahayaan alamiah adalah pencahayaan yang bersumber dari sinar
matahari yang muncul dari pagi menjelang siang hingga sore hari. Kelebihan dari
pencahayaan ini adalah hemat biaya, karena tidak bergantung kepada energi listrik,
serta tidak membutuhkan perawatan instalasi seperti pencahayaan buatan. Namun
kerugiannya ada pada intensitas cahaya yang tidak dalam kendali manusia.
Akibatnya, hasil pencahayaan kerapkali tidak konsisten. Pada umumnya
pencahayaan alamiah diperoleh melalui pintu, jendela, atau dengan cara memasang
jendela kaca di atap (skylight).

b. Pencahayaan buatan (Artificial lighting)

Pencahayaan buatan merupakan pencahayaan yang memanfaatkan


teknologi buatan manusia atau energi olahan seperti lampu. Pencahayaan buatan
bertujuan untuk memenuhi kebutuhan cahaya pada siang maupun malam hari, dan
terutama untuk kebutuhan cahaya di dalam ruang. Tujuannya adalah, untuk
membantu indra visual manusia melakukan aktivitasnya dengan tepat.

Wahyu Prima Putra / 1507114718


Dalam penempatannya, intensitas sumber cahaya harus bersifat tetap,
merata, tidak menyilaukan, tidak kedap-kedip, dan sehat untuk mata. Kelebihan
dari konsep pencahayaan buatan adalah, intensitas cahaya yang lebih stabil serta
pilihan warna yang bervariasi. Sementara itu kerugiannya adalah, memerlukan
perawatan untuk sumber cahaya dan instalasinya. Selain itu, pencahayaan ini
sangat bergantung pada energi buatan sehingga membutuhkan biaya.

Berdasarkan pengaplikasiannya, pencahayaan terbagi menjadi dua cara,


yaitu sistem pencahayaan langsung dan tidak langsung. Berikut definisninya:

a. Sistem pencahayaan langsung


Sistem pencahayaan langsung merupakan penempatan sumber cahaya secara
langsung pada permukaan bidang aplikasi, baik dalam pencahayaan alami
maupun buatan. Permainan cahaya langsung memunculkan efek bayangan
yang kuat serta menjadikan beberapa bidang tak tersinari.
Tujuan dari sistem pencahayaan ini adalah, mengoptimalkan penerangan
umum untuk meningkatkan intensitas cahaya ruang, agar mendukung kegiatan
yang ada di ruangan tersebut. Pengaturan yang tepat dan cermat dalam
peletakan titik cahaya langsung akan memberikan kesan tegas, fungsional, dan
nyaman.

b. Sistem pencahayaan tidak langsung


Sistem ini merupakan sistem yang menempatkan sumber cahaya dibalik
suatu bidang aplikasi, dan memanfaatkan refleksi cahaya dari balik bidang
tersebut untuk membentuk kesan cahaya tertentu. Permainan cahaya tidak
langsung menghasilkan efek gradasi dan bayang-bayang pada bidang yang
tidak terkena cahaya.
Sistem pencahayaan ini memiliki tujuan utama yaitu untuk menegaskan
kesan tertentu dari suatu ruang, atau membentuk batasan pada suatu bidang
aplikasi.

Wahyu Prima Putra / 1507114718


Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengaturan Pencahayaan
Alami (Daylighting):

Menyesuaikan lebar jendela yang akan digunakan dengan lebar ruangan, agar
cahaya yang diserap tidak terlalu banyak ataupun sedikit.

Menghindari peletakan jendela di sisi barat dan timur. Hal ini dikarenakan
indonesia terletak pada kawasan tropis, dimana sinar matahari dapat menjadi
terlalu terang dan terlalu panas.

Bila memang terpaksa membuat jendela yang menghadap ke sisi tersebut,


sebaiknya diberikan pembatas atau filter seperti kisi-kisi, pepohonan, ataupun
overhang.

Untuk penggunaan skylight, pastikan bahwa skylight tersebut tidak memiliki


celah yang memungkinkan masuknya air hujan.

Pengaturan Pencahayaan Buatan juga memerlukan perhatian. Bahkan


ekstra perhatian. Hal ini dikarenakan pencahayaan ini bergantung kepada energi
buatan. Berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengaturan
Artificial Lighting:

Wahyu Prima Putra / 1507114718


Pemilihan penggunaan lampu sesuai dengan kegiatan yang terjadi didalam
ruang. Setiap jenis aktivitas memiliki kebutuhan intensitas cahaya yang
berbeda. Sebagai contoh pencahayaan pada kamar tidur sebaiknya tidak terlalu
terang dan silau, agar memberikan efek nyaman pada saat beristirahat.
Sebaliknya, ruang dengan aktivitas yang tinggi seperti ruang kelas
membutuhkan pencahayaan yang cukup terang, sehingga mampu
mengakomodir indra visual pengguna ruangnya secara optimal.

Pengaturan posisi peletakan cahaya buatan dengan baik, agar menghasilkan


cahaya atau sinar yang tepat guna. Yaitu ketika posisi jatuh cahaya sesuai
kebutuhan maupun keinginan.

Berdasarkan jenisnya, lampu terdiri dari beberapa tipe dengan kelebihan dan
kekurangannya masing-masing. Sebaiknya, sebelum melakukan pemilihan
jenis lampu, kenali terlebih dahulu jenis-jenis lampu yang akan dipergunakan
agar sesuai dengan kebutuhan secara optimal dan mengefisienkan biaya yang
dikeluarkan.

Pemilihan warna lampu juga perlu disesuaikan dengan fungsi penerangan dan
fungsi ruangan itu sendiri. Jika nilai estetika dengan permainan tema yang ingin
ditonjolkan, maka dapat menggunakan warna-warna unik sepeti biru atau ungu.

2.1.3. Bentuk, Ruang, Warna, Cahaya Dan Bayangan


Ruang, dalam pengamatan fisik tidak teraba melainkan terasa. Keberadaan
atau kehadiran ruang dapat dirasakan dengan meng-indera bentuk-bentuk elemen
pembatasnya yang salah satunya melalui indera penglihatan, pengamatan
visual.Ching (1979) menyatakan bahwa bentuk adalah ciri utama yang
menunjukkan suatu ruang, ruang dibatasi dan dibentuk oleh dinding, lantai dan

Wahyu Prima Putra / 1507114718


langit-langit atau atap. Kehadiran ruang secara visual menjadi makin terasa apabila
elemen-elemen pembatasnya makin jelas terwujud. Untuk mengamati batas-batas
visual ini diperlukan hadirnya cahaya.

Santen dan .Hansen (1985) menyatakan bahwa bentuk dan warna tidak
dapat dipisahkan serta sangat terikat dengan cahaya, bekerja dengan bentuk berarti
pula bekerja dengan cahaya, Warna elemen pembatas ruang dan warna cahaya
berperan penting. Dengan demikian, berbicara dan berpikir tentang bentuk dan
warna dalam konteks pengamatan visual berarti dengan sendirinya berbicara dan
berpikir pula tentang cahaya, sebab kehadiran bentuk dan warna juga tekstur dan
patra dalam hal ini menjadi tidak berarti tanpa kehadiran cahaya.

Dalam memahami bentuk tiga dimensi di bawah pengaruh cahaya, sering


kali dibutuhkan pula kehadiran bayangan. Dengan mengamati bayangannya akan
lebih mudah menyadari kondisi kontur/ plastisitas sebuah bentuk. Demikian pula
halnya apabila sebuah bentuk tiga dimensi dengan ke-elokan plastisitasnya akan
menjadi berkurang bahkan tidak berarti apabila ditimpa cahaya saja dengan
meniadakan bayangannya. Karena bentuk berperan sebagai pembatas, pembentuk
dan pengisi ruang sementara bentuk-bentuk ini baru teramati dengan setelah
hadirnya cahaya, maka cahaya dan bayangan, unsur gelap dan terang pada
perancangan tata cahaya menjadi sangat menentukan dalam pembentukan suasana
suatu ruang.

Setiap permukaan bentuk memiliki warna, tekstur dan kadang juga patra.
Warna pada permukaan suatu bentuk terdiri atas pigmen-pigmen warna yang
berbeda sifatnya dengan warna cahaya. Pigmen warna biru bila dicampur dengan
pigmen warna kuning akan menghasilkan campuran pigmen berwarna hijau,
pigmen warna merah dicampur pigmen hijau dan ungu akan mejadikan campuran
pigmen warna hitam. Sementara itu, sumber cahaya merah yang digabungkan
dengan sumber cahaya hijau bila diproyeksikan di atas bidang putih akan
memunculkan cahaya gabungan berwarna kuning.

Tiga macam warna cahaya biru, hijau dan merah bila digabungkan akan
menimbulkan warna cahaya putih pada bidang proyeksi berwarna putih. Dan bila
bidang proyeksinya tidak putih maka akan menimbulkan kesan warna yang lain

Wahyu Prima Putra / 1507114718


pula. Gambaran ini baru memberikan contoh beberapa warna pigmen dan warna
cahaya saja, sedangkan dalam dunia praktisi kombinasi warna dan cahaya ini
demikian tak terhingga banyaknya sehingga untuk menambah perbendaharaan
pengetahuan tentang kombinasi dengan dampak visualnya perlu dilakukan dengan
percobaan-percobaan baik di lapangan ataupun di laboratorium cahaya dan warna.

2.2. Pengaruh Rekayasa Pencahayaan terhadap Karya Arsitektur


Kehadiran cahaya pada lingkungan ruang dalam bertujuan menyinari
berbagai bentuk elemen-elemen yang ada di dalam ruang sedemikian rupa
sehingga ruang menjaditeramati, terasakan secara visual suasananya. Selain itu
kehadiran cahaya juga diharapkan dapat membantu pemakai ruang untuk dapat
melakukan aktivitasnya dengan baik dan terasa nyaman. Untuk mencapai tujuan
ini dibutuhkan perancangan, pengolahan tata cahaya yang jeli serta matang dalam
pengalaman teoritis maupun praktis supaya hasil rancangannya dapat memenuhi
aspek-aspek baik kuantitatif maupun kualitatif.

Perancangan tata cahaya dengan sumber cahaya alam (baca:matahari)


meliputi pengolahan bentuk dan posisi lubang cahaya, bentuk dan posisi bidang
pemantul, pengisian pola-pola pada lubang cahaya dengan material tertentu seperti
batang-batang atau bidang-bidang dari batu, kayu,timah, besi, tembaga,
aluminium, kaca buram, bening, berwarna, fibreglass dan kain. Sumber cahaya
alam yang masuk ke ruang dalam dengan pengolahan dapat dibuat langsung
maupun tak langsung. Dibuat merata atau setempat, beraneka warna atau putih
polos.Kesadaran terhadap dampak cahaya alam ketika masuk ke ruang dalam yang
diolah dengan baik telah lama disadari.

Arsitektur gereja Gothik merupakan bukti puncak masa lampau


pengolahan tata cahaya alam dalam perwujudan konsep ruang. Menurut Jammer
(dalam van de Ven,1991), pada abad pertengahan banyak cendekiawan yang
mengidentifikasikan ide ruang dengan Tuhan yang hadir di mana-mana, dan karena
Tuhan adalah cahaya, akibatnya cahaya dan ruang memiliki sifat Illahi. Konsep
inilah yang dicoba dan dapat dikatakan berhasil gemilang diwujudkan dalam ruang
gereja Gothik dengan kolom-kolom yang terkesan ramping dan menjulang
mengarah kepada Yang di Atas segala-galanya (baca: Tuhan), dengan dinding-

Wahyu Prima Putra / 1507114718


dinding transparan yang menyebabkan sinar matahari masuk, menembus melalui
sela-sela struktur ramping yang berkaca berwarna. Hans Jantsen (dalam van de
Ven,1991)menyebut interior Gothik sebagai suatu struktur diafan, struktur tembus
cahaya.

Filsafat arsitektur Gothik adalah vertikalisme, transparan, dan diafan.


Diafan artinya cahaya yang menembus, selaku lambang Rahmat Tuhan yang
menembus kefanaan hidup manusia untuk meneranginya dengan Nur-Illahi
(Mangunwijaya,1988), seperti yang tampak pada gambar 1.

Gambar 1. Struktur diafan, tembus cahaya pada arsitektur


gereja Gothik memungkinkan cahaya alam masuk ke
ruang dalam melalui celah-celah kaca berwarna,
membangkitkan suasana yang dramatis namun juga sakral
dan agung.(Mangunwijaya, Y.B., 1988 : 78.)
Dengan pengolahan ruang yang terdiri atas elemen-elemen vertikal yang
dominan disertai pengolahan cahaya alam yang demikian gemilang ini, maka ruang
interior gereja Gothik menjadi bernuansa agung, dramatik, anggun, wibawa namun
indah karena ramping, serta sakral serasa berhasil menghadirkan Yang Illahi. Pada
era arsitektur modern pembukaan lubang untuk masuknya cahaya alam ke ruang
dalam umumnya lebar-lebar, hal ini berkaitan dengan ditemukannya sistem
struktur bentang lebar yang sepertinya membebaskan para arsitek dari
keterkungkungan struktur dinding pemikul atau bentang pendek.

Wahyu Prima Putra / 1507114718


Namun pembukaan lubang cahaya (dapat dibaca:jendela) yang lebar dan
luas ini tidak selalu meningkatkan kualitas suasana ruang dalam. Seorang tokoh
arsitek modern, Le Corbusier (1955), justru berbuat lain dari kebanyakan arsitek
pada jamannya yang diterapkan dalam rancangan sebuah kapel di Ronchamp,
Prancis. Dengan membuat lubang-lubang cahaya relatif kecil dengan ukuran serta
bentuk yang berbeda-beda semacam prisma terpancung pada dinding tebal-masif
dengan dilengkapi kaca berwarna, menghasilkan warna dan dampak cahaya yang
indah berselang-seling, dengan sendirinya meningkatkan kualitas suasana ruang
dalam, seperti yang tampak pada gambar 2.

Gambar 2. Tampak sebagian suasana ruang dalam akibat


pengaruh pengolahan cahaya alam yang amat kreatif dari sebuah
kapel di Ronchamp, Prancis, karya arsitek Le Corbusier.
(Niesewand, Nonie, 1999 : 22)
Karya Le Corbusier lain yang juga memanfaatkan pengolahan tata cahaya
alam adalah kapel di kompleks biara Sainte-Marie-de-la-Tourette (1959). Di ruang
dalam kapel yang tertutup dengan dinding masif ini, cahaya alam masuk melalui
lubang-lubang berbentuk serupa kerucut terpancung, semacam corong diberi
warna terletak tepat di atas meja altar. Cahaya terpantul pada dinding berwarna
dari corong cahaya yang masuk ke ruang dalam memberikan nuansa yang elok
sekaligus sakral dan meditatif, seperti yang tampak pada gambar 3.

Pengolahan cahaya alam juga sering ditemukan pada bangunan-bangunan


museum,seperti pada sebuah museum seni di Aalborg, Denmark karya bersama

Wahyu Prima Putra / 1507114718


Elissa dan Alvar Aalto dengan Jean-Jacques Baruel (1966). Di sini cahaya alam
tidak diperkenankan langsung mengenai benda-benda seni, karena dapat merusak
benda-benda tersebut, cahaya alam dimasukkan secara tak langsung dengan
menggunakan bidang-bidang lengkung sebagai pemantul (reflektor) di bagian atas
yang membentuk pola plafon yang unik dan indah karena fungsional. Hal serupa
juga dilakukan oleh arsitek besar Louis I.Kahn pada rancangannya Kimbell Art
Gallery, Fort Worth, Texas. Bahkan di sini Louis I.Kahn memakai cahaya sebagai
tema perancangannya.

Gambar 3. Lubang-lubang corong cahaya alam yang diberi warna


berada di atas meja altar sebuah kapel di biara Sainte Marie-de-la
Tourette, karya Le Corbusier. (Santen, van Christa &Hansen, A.J.,
1985 : 71)

Sementara itu, Tadao Ando, arsitek Jepang, termasyur dengan pengolahan


cahaya alam yang masuk lewat atas (skylight) menerangi bidang dinding dalam
terbuat dari beton telanjang berlubang-lubang bekas batang-batang penahan jarak
cetakannya, memberikan nuansa yang khas 'Ando'. Sebuah contoh pengolahan
cahaya alam di era sekarang yang cukup gemilang adalah facade dari Institut du
Monde Arabe, Paris.

Karya Jean Nouvel, arsitek Prancis ini berupa panel-panel aluminium


dengan lubang-lubang cahaya yang dapat membesar dan mengecil yang bekerja
secara otomatis serupa lubang pada lensa camera. Lubang-lubang inipun
membentuk suatu motif yang khas, sehingga lengkaplah pemenuhan unsur fungsi

Wahyu Prima Putra / 1507114718


yang ditunjang dengan teknologi masa kini yang terpadu secara harmonis dengan
unsur estetisnya, seperti yang tampak pada gambar 4.

Gambar 4. Sebuah contoh perpaduan yang harmonis


antara seni dan teknologi tata cahaya di Institut du
Monde Arabe, Paris, hasil rancangan arsitek Jean
Nouvel. (Niesewand, Nonie, 1999 : 11)
Sekalipun cahaya buatan (artifisial) belum atau bahkan tidak akan dapat
menyamai kesempurnaan cahaya alam (matahari), salah satu unsurnya adalah
refleksi warnanya yang seratus persen, namun cahaya buatan amat diharapkan serta
dapat diandalkan keberadaannya. Lebih lagi dengan perkembangan berbagai jenis
lampu belakangan ini, sangat membantu dalam mewujudkan suasana suatu ruang.

Kelebihan lain dari cahaya buatan adalah kemudahan bagi perancang tata
cahaya untuk menciptakan cahaya setempat, cahaya sorot, cahaya yang mengarah
hanya pada tempat tertentu demi penonjolan elemen-elemen dekoratif atau detail-
detail struktural, tekstur serta warna permukaan bahan pelapis akhir, penonjolan/
pengangkatan nilai sebuah karya seni baik dua demensional maupun tiga
demensional, penghadiran bentuk sumber cahaya yang lebih bebas seperti neon
sign. Dengan pengolahan cahaya buatan juga memungkinkan dihadirkannya
berbagai sudut arah datang cahaya, seperti dari arah atas, samping kiri, kanan,
belakang dan bawah untuk penyinaran sebuah obyek setiap saat dalam sebuah
ruang. Berbagai ragam cara penyinaran dengan cahaya buatan ini sangat mampu
menciptakan suasana tertentu yang dapat menggugah emosi/ perasaan seseorang.

Wahyu Prima Putra / 1507114718


Fleksibilitas pengaturan cahaya seperti ini tidak dimungkinkan dengan
penggunaan cahaya alam. Menurut Darmasetiawan dan Puspakesuma (1991).
Terdapat tiga hal dalam penataan cahaya (tata letak lampu) yang mampu merubah
suasana ruangan serta dapat berdampak langsung bagi pemakainya, yakni warna
cahaya, refleksi warna dan cara penyinaran. Ketiga unsur ini tidak lepas dari
pengaruh pengaruh kondisi permukaan bidang masif yang disinari, seperti pola,
warna, tekstur, daya serap, pantul sinar, ataupun karakter volume bidang
transparan yang disinari.

Selain itu tipe-tipe sumber cahaya, seperti untuk cahaya artifisial seperti
lampu pijar, lampu TL, lampu halogen, lampu metal-halide dan sodium, lampu
fibre optics dan masih akan berkembang lagi sesuai kemajuan temuan teknologi.
Kemudian dari cara dan macam penyinaran, seperti penyinaran merata,
menyeluruh, penyinaran setempat, langsung, tidak langsung,penyinaran dengan
mengandalkan elemen-elemen refleksi, penyinaran difus, penyinarankinetik,
ataupun kombinasi dari berbagai macam cara penyinaran ini.

Pada Gambar 6, wajah seseorang merupakan ilustrasi yang tepat tentang


betapa kuat pengaruh cahaya buatan dalam menampilkan kesan. Empat buah photo
wajah yang samadengan ekspresi yang relatif konstan dapat dimanipulasi dengan
hanya memadukancahaya diffus dan cahaya spot dari berbagai arah yang berlainan,
ternyata dapat menimbulkan kesan ekspresi yang berbeda-beda. Hal demikian juga
berlaku dalam proses penataan cahaya sebuah ruang.

Wahyu Prima Putra / 1507114718


Gambar 5. Guggenheim Museum di Bilbao, Spanyol, karya arsitek Amerika Frank
Gehry dengan facade yang berlapis titanium. Pada petang hari dibawah pengaruh
pencahayaan buatan uplight (dari arah bawah) membuat bangunan ini sebagai
sculpture raksasa yang elok, kaya plastisitas, dinamis, atraktif serta dramatis.
Sistem pencahayaan buatan serupa ini bisa juga terjadi pada ruang dalam.
(Niesewand, Nonie, 1999 : 35)

Gambar 6. Obyek yang sama dan relatif konstan dapat berubah-ubah ekspresinya
dengan hanya memberi pengaruh pada cara penyinarannya. (Santen, van Christa &
Hansen, A.J., 1985 : 16)
Roger Hicks dan Frances Schultz (1995), banyak memberikan contoh foto-
foto suasana ruang dalam dengan teknik pencahayaan yang profesional. Foto-foto
demikian sering kali dijumpai pada brosur, leaflet iklan interior perumahan,
majalah interior ataupun film dengan setting interior. Teknik pencahayaan buatan
seperti ini sering kali bukan pencahayaan ruangan sebenarnya yang terpasang
berdasarkan gambar titik lampu perancang interiornya, melainkan sudah ditambah
dengan pencahayaan buatan lainnya selama pengambilan gambar film atau foto,
demi menghasilkan gambar suasana ruangyang lebih hidup, lebih cemerlang, lebih
dramatik, lebih atraktif dan layak untuk dijual. Tugas penataan pencahayaan
tambahan ini dilakukan oleh fotografer interior beserta stafnya Sementara itu
desainer interior atau konsultan tata cahaya merancang perletakan titik-titik lampu
dengan dasar pertimbangan pada dampak suasana yang 'dialamilangsung' oleh
pemakainya.

Tokoh arsitektur modern Le Corbusier menyatakan bahwa sebuah rumah


selain sebagai sebuah mesin untuk hidup, juga sebagai wadah cahaya dan matahari.
Dibedakannya antara cahaya dan matahari menunjukkan adanya perhatian khusus
terhadap pengaruh cahaya buatan. Cahaya alam ataupun cahaya buatan bagi Le

Wahyu Prima Putra / 1507114718


Corbusier tetap berperan penting sehingga dalam setiap proses perancangannya
senantiasa mempertimbangkan unsur cahaya dengan lebih cermat.

Gambar 7. Gambar sketsa J.M.Waldram, merupakan


studi analisatata cahaya yang digunakannya sebagai
dasar penentuan perletakantitk lampu. (Santen, van
Christa & Hansen, A.J., 1985 : 144.)

Sementara itu, J.M. Waldram, di Inggris terkenal sebagai ilmuwan dan


seniman, juga sebagai ahli tata cahaya ruang dalam gereja-gereja besar, membuat
studi analisis tata cahaya melalui cara yang unik namun serius dengan membuat
sketsa gelap terang ruang dalam, berdasarkan sketsa gelap terang ini dia
memposisikan letak titik-titik lampunya. Hal ini menunjukkan bahwa betapa besar
perhatiannya terhadap dampak penataan cahaya bagi ruang dalam.

Wahyu Prima Putra / 1507114718


Gambar 8. Sebuah contoh penonjolan obyek di sudut
ruangdengan teknik pencahayaan buatan dari arah atas
(uplighters) dan bawah (downlighters) disertai refleksi
dari plafon yang berwarna terang dan dinding berwarna
gelap membuat obyek yang ditonjolkan menjadi
semakin menarik dengan nuansa gelapterangnya.Hal
demikian tidak bisa dilakukan dengan teknik
pencahayaan alam. (Niesewand, Nonie, 1999 : 67)

Sir John Soane (1753-1837), arsitek Inggris yang dikenal dengan


kejeniusannya dalam penataan cahaya, menggunakan kubah yang berlubang serta
sky light dengan kaca berwarna untuk memberikan suasana ruang dalam yang lebih
hangat akibat pengaruh cahaya alam. Dia berhasil membuktikan bahwa cahaya
alam (matahari) yang masuk ke dalam ruang apabila dikelola dengan baik akan
menimbulkan dampak suasana yang menyenangkan. Sementara itu pada sebagian
besar bangunan di Indonesia cenderung menghindari masuknya cahaya matahari
ke dalam ruangan dengan pertimbangan takut (ketakutan yang berlebihan) ruangan
menjadi panas serta silau. Bagaimanapun juga kondisi iklim tropis perlu menjadi
bahan pertimbangan untuk memasukkan cahaya alam (matahari) ke ruang dalam,
terlebih apabila ruang tersebut menyimpan benda-benda yang peka terhadap
cahaya matahari, namun dengan perencanaan yang cukup jeli, sebenarnya cahaya
alam ini masih mungkin dimasukkan secara proporsional ke ruang dalam dengan

Wahyu Prima Putra / 1507114718


berbagai cara, seperti langsung atau tidak langsung dengan melalui media kaca
buram, berwarna, melalui cerobong berwarna, bidang reflektor berwarna sehingga
mampu menimbulkan suasana yang diinginkan.

2.3. Sistem Pencahayaan dan Penghematan Energi


Tujuan dari pencahayaan adalah disamping mendapatkan kuantitas cahaya
yang cukup sehingga tugas visual mudah dilakukan, juga untuk mendapatkan
lingkungan visual yang menyenangkan atau mempunyai kualitas cahaya yang baik.
Dalam pencahayaan alami, yang sangat mempengaruhi kualitas pencahayaan
adalah terjadinya penyilauan. Pencahayaan alami siang hari dapat dikatakan baik
apabila : pada siang hari antara jam 08.00 sampai dengan jam 16.00 waktu
setempat, terdapat cukup banyak cahaya yang masuk ke dalam ruangan. Distribusi
cahaya di dalam ruangan cukup merata dan atau tidak menimbulkan kontras yang
mengganggu. Penyilauan adalah kondisi penglihatan dimana terdapat
ketidaknyamanan atau pengurangan dalam kemampuan melihat suatu obyek,
karena luminansi obyek yang terlalu besar, distribusi luminansi yang tidak merata
atau terjadinya kontras yang berlebihan.

Ada dua jenis penyilauan :

1) Penyilauan yang menyebabkan ketidakmampuan melihat suatu obyek


(disability glare)

2) Penyilauan yang menyebabkan ketidaknyamanan melihat suatu obyek tanpa


perlu menimbulkan ketidakmampuan melihat (discomfort glare).

Prinsip pencahayaan alami adalah memanfaatkan cahaya matahari


semaksimal mungkin dan mengurangi panas matahari semaksimal mungkin.
Pemanfaatan cahaya alami jelas akan menghemat listrik.

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan agar penggunaan sinar alami


mendapat keuntungan, yaitu:

1. Variasi intensitas cahaya matahari.


2. Distribusi dari terangnya cahaya.
3. Efek dari lokasi, pemantulan cahaya.

Wahyu Prima Putra / 1507114718


4. Letak geografis dan kegunaan bangunan gedung.
Agar dapat menggunakan cahaya alami secara efektif, perlu dikenali ke
beberapa sumber cahaya utama yang dapat dimanfaatkan :

1. Sunlight, cahaya matahari langsung dan tingkat cahayanya tinggi.


2. Daylight, cahaya matahari yang sudah tersebar dilangit dan tingkat cahayanya
rendah.
3. Reflected light, cahaya matahari yang sudah dipantulkan.
Berikut ini adalah lima strategi dalam merancang untuk pencahayaan
matahari efektif (Egan & Olgyay, 1983):

1. Naungan (shade), naungi bukan pada bangunan untuk mencegah silau (glare)
dan panas yang berlebihan karena terkena cahaya langsung.
2. Pengalihan (redirect), alihkan dan arahkan cahaya matahari ketempat-tempat
yang diperlukan. Pembagian cahaya yang cukup dan sesuai dengan kebutuhan
adalah inti dari pencahayaan yang baik.
3. Pengendalian (control), kendalikan jumlah cahaya yang masuk kedalam runag
sesuai dengan kebutuhan dan pada waktu yang diinginkan. Jangan terlalu
banyak memasukkan cahaya ke dalam ruang, terkecuali jika kondisi untuk
visual tidaklah penting atau ruangan tersebut memang membutuhkan kelebihan
suhu dan cahaya tersebut (contoh : rumah kaca).
4. Efisiensi, gunakan cahaya secara efisien, denag membentuk ruang dalam
sedemikian rupa sehingga terintegrasi dengan pencahayaan dan menggunakan
material yang dapat disalurkan dengan lebih baik dan dapat mengurangi jumlah
cahaya masuk yang diperlukan.
5. Intefrasi, integrasikan bentuk pencahayaan dengan arsitektur bangunan
tersebut. Karena jika bukan untuk masuk cahaya matahari tidak mengisi sebuah
peranan dalam arsitektur bangunan tersebut, nukan itu cenderung akan ditutupi
dengan tirai atau penutup lainnya dan akan kehilangan fungsinya.

Wahyu Prima Putra / 1507114718


2.4. Aplikasi Pencahayaan Pada Museum
2.4.1 Piramid Louvre

Salah satu museum terbesar di dunia ini mulanya istana Cathrine de


Medicis, janda Henri II, rancangan Philibert Delorme. Sayap utara dan selatan
memiliki panjang 500 meter. Pembangunannya bertahap selama tiga abad dari
sejak Henri IV, Louis XIII, Louis XIV, Napoleon I sampai Napoleon III. Istana
Louvre menjadi titik awal sumbu jalan sepanjang 7 km yang membelah kota Paris,
sejajar Taman Tuileries, Champs Elysees dan La Defense.

Di dalam museum Louvre tersimpan artefak kuno Oriental, Mesir,


Romawi, Eropa zaman klasik dan neo klasik. Pei mengamati museum Louvre yang
dikunjungi orang dengan volume sangat besar yang terus meningkat dari tahun ke
tahun, suatu saat bisa melebihi kapasitasnya. Ketika ditugasi memperluas Louvre
oleh Franois Mitterrand, presiden Perancis kala itu, Pei teringat nasehat Leonardo
da Vinci, kekuatan lahir dari kendala dan mati dalam kebebasan.

Agar tak mengganggu keantikan museum Louvre, perluasan museum ini (


1983-1989 ) mengambil tempat di bawah halaman dengan membuat piramid kaca
sebagai skylight-nya menaungi lobby dibawahnya, sekaligus mengatasi
serangkaian problem yang berkaitan dengan pintu masuk utama Louvre lama.
Pengunjung memasuki piramid, turun ke lobby yang luas, mendaki ke bangunan
utama Muse du Louvre.

Wahyu Prima Putra / 1507114718


2.4.2 Galeri Batik Museum Tekstil Jakarta
Galeri Batik Jakarta memiliki efek pencahayaan alami masuk dari pintu
dan sedikit terhalang jendela, mengarah ke resepsionis, tidak banyak berpengaruh
sementara di dalam setiap ruangan tidak masuk, sedangkan Museum Batik
pekalongan memiliki banyak ruang terbuka dan ruangan tertutup pun cahaya alami
tetap masuk melalui celah-celah jendela. Dalam Terapan Idealnya adalah Efek
Pencahayaan Alami yang terlalu kuat dapat mengakibatkan pantulan dan silau pada
obyek koleksi batik, selain itu warna pada batik dapat berubah karena dipengaruhi
sinar UV dari matahari. Analisis dalam keduanya pada Galeri Batik Museum
Tekstil Jakarta Cukup Ideal karena tidak banyak berpengaruh Sedangkan Museum
Batik Pekalongan sangat berpengaruh dan Efek Pencahayaan Alami yang sangat
kuat.
Eksisting dan main entrance mempengaruhi kategori pencahayaan alami.
Sebuah eksisting menentukan cahaya alami dapat masuk darimana saja. Misal bila
eksisting berasal dari sebuah bangunan museum maka kemungkinan masuk cahaya
alami berasal dari keseluruhan ruangan. Pencegahan harus dilakukan supaya Efek
Pencahayaan Alami tidak menimbulkan efek negative. Galeri yang berasal dari
bangunan indische sudah cukup baik dalam upaya pencegahan dan pengunaan
partisi.
Jenis lampu di dalam Galeri Batik Museum tekstil Jakarta menggunakan
lampu spotlight dan lampu downlight sedangkan Museum Batik pekalongan
menggunakan lampu spotlight. Terapan Ideal Lampu yang umum digunakan oleh
galeri batik untuk pencahayaan batik adalah LED spotlight dan ada tambahan filter
UV.
Lampu untuk penerangan umum menggunakan fluorescent, incandent dan
lampu gantung. Analisis Galeri Batik Jakarta menggunakan jenis lampu sudah
ideal sedangkan Museum Batik pekalongan meng-gunakan jenis lampu yang ideal
tetapi belum maksimal. Sistem Pemasangan Lampu Galeri Batik Jakarta
menggunakan Rel 1 Line kurang lebih 1m dengan 2 lampu spotlight LED.
Sedangkan Museum Batik Pekalongan menggunakan Rel 1 Line kurang lebih 1m
dengan 2 lampu spot light LED. Terapan Ideal, Sistem pemasangan spotlight
dominan meng-gunakan rel dengan sambungan atau tidak. Rel yang disambungkan

Wahyu Prima Putra / 1507114718


lebih menguntungkan untuk pencahayaan yang fleksibel. Selain Rel, pemasangan
lampu pada rangka plafon dan partisi juga menjadi alternative. Umumnya 1 Rel
terdiri dari 2-4 Unit Lampu. Obyek Koleksi kecil membutuhkan 1 unit sedangkan
besar menggunakan minimal 2 unit lampu. Kedua galeri ini memiliki Sistem
Pencahayaan pada galeri ini adalah direct (langsung). Terapan Ideal Sistem
Pencahayaan yang umum pada galeri adalah direct yaitu semua lampu diarahkan
pada obyek. Keduanya sudah ideal dengan penerapan system direct. Sistem
pemasangan lampu dan teknik pencahayaan buatan berkaitan dengan hasil analisis
efek pencahayaan buatan. Jenis dan pemasangan lampu yang kurang sesuai serta
pengarahan teknik pencahayaan yang kurang tepat pada obyek batik yang menjadi
obyek pencahayaan dapat menjadi kendala untuk menghasilkan efek pencahayaan
buatan yang ideal.
Berdasarkan kesimpulan analisis diatas, maka dapat dijadikan acuan
sebagai konsep karakteristik Pencahayaan untuk Koleksi batik tulis. Karakteristik
konsep dijelaskan dalam sebuah pernyataan yang mencakup sumber kesimpulan
analisis, referensi, dan ide yang dijabarkan sebagai berikut adalah Pada penyajian
kain batik tulis dalam tata pamer tidak dapat mengindahkan unsur warna,
disamping pola kain dan ragam hias. Sedangkan pengertian warna pada tekstil,
secara psikologis dan fisiologis adalah hasil penglihatan yang timbul melalui
signal-signal dari receptor cahaya yang ada pada mata kita. Sedangkan cahaya itu
sendiri sebagai sinar tampak yang mempunyai panjang gelombang 380-760
nanometer. Sehingga warna-warna yang tampak pada tekstil yang dilihat adalah
efek cahaya pada pigmen, bahan celup, atau materi penyerap lain yang terlihat
(bukan materi transparan).
Oleh karena itu, kita dapat melihat berbagai warna membutuhkan cahaya
sinar tampak yang berpanjang gelombang antara 380-760 nanometer. Tetapi sinar
tampak ini sangat mempengaruhi pemudaran warna. Penerangan yang diperlukan
dalam pameran koleksi di galeri atau museum adalah cahaya tampak berintensitas
tinggi bagi pengunjung untuk melihat, dan tanpa menimbulkan kerusakan serat
atau warna. Ini artinya sinar yang jatuh kepermukaan koleksi dapat dipantulkan
kedalam mata kita tanpa adanya gangguan atau efek cahaya lain. Thomson
mendiskusikan tentang permasalahan pada penerangan. Ia merekomendasikan

Wahyu Prima Putra / 1507114718


kondisi lingkungan yang baik untuk koleksi tekstil di Galeri atau Museum yaitu
dengan kuat penerangan 50 Lux.
Berdasarkan Standar Nasional Indonesia pada tingkat pencahayaan yang
direkomen-dasikan untuk penerangan Museum atau Galeri adalah 500 Lux 750
Lux. Intesitas cahaya 50 Lux tidak memenuhi standar penerangan yang tepat,
cahaya ini termasuk penerangan yang minim. Cahaya 50 Lux dapat di aplikasikan
sebagai cahaya general di dalam vitrin (Internal), cahaya ini menggunakan jenis
lampu LED. Pencahayaan menggunakan LED membuat cahaya menjadi jernih dan
berfokus lembut pada karya seni. warna dan kedalaman yang tampak meningkat
secara halus dan tidak ada sinar UV berbahaya yang dipancarkan.
Cahaya pada vitrin tetap diaplikasikan penerangan yang sesuai dengan
standar SNI, Cahaya yang digunakan adalah jenis lampu spot sebagai lampu fokus
pencahayaan koleksi dan lampu LED Strip yang berfungsi sebagai pencahayaan
umum yang diaplikasikan melalui internal vitrin dan lampu. Oleh karena itu maka
di analisis pada berdasarkan sistem pencaha-yaan buatan untuk koleksi batik dan
jenis lampu yang ideal yaitu antara lain: Sistem koleksi pencahayaan yang umum
pada display adalah direct yaitu pencahayaan langsung pada obyek. Berikut ini
analisis sistem pencahayaan yang ideal adalah Obyek Koleksi 2 Dimensi (Kain,
Pakaian yang digantung atau ditempel pada alas tegak). Lampu sorot dilakukan
disamping atas kiri dan kanan sehingga baik warna maupun motifnya dapat
diterima dengan baik. Sedangkan Obyek Koleksi 3 Dimensi (Pakaian yang
diperagakan dengan boneka). Lampu sorot diarahkan pada obyek dari samping atas
kiri dan kanan supaya tidak menimbulkan bayangan.
Untuk koleksi peralatan yang diletakkan pada alas. Digunakan pada
penyinaran yang merata dari atas. Tata letak pencahayaan di usahakan dalam
keadaan tersembunyi agar tidak menganggu efek yang diingin oleh pengunjung.
Sistem pemasangan spotlight dominan menggunakan rel dengan
sambungan atau tidak. Rel yang disambung lebih menguntungkan untuk
pencahayaan yang fleksibel. Selain rel, pemasangan lampu pada rangka display
juga menjadi acuan yang tepat. Sehingga posisi pencahayaan memiliki
karakteristik tersendiri. Berikut ini analisis pemilihan lampu yang tepat untuk
koleksi batik tulis klasik adalah sebagai berikut :

Wahyu Prima Putra / 1507114718


Lampu Spot LED merupakan salah satu bagian yang terpenting untuk
mencapai keberhasilan galeri, Maka penulis sebelumnya mengkaji teori
pencahayaan buatan khususnya permasalahan pada cahaya buatan seperti efek
yang harus dihindari dan kualitas pada renderasi warna yang diharapkan sehingga
penulis dapat menemukan produk yang tepat.
Produk Jenis lampu spot sangat beraneka ragam, Sebelumnya Jenis lampu
spot yang dipakai adalah selain LED maka hal ini menimbulkan sebuah
permasalahan dalam faktor lingkungan seperti kerusakan benda koleksi dan
pemborosan energi. Maka penulis menemukan produk lampu spot yang tepat yaitu
lampu Spot Philips tipe ST505B, StyliD Pure Detail Adjustable Square, Semi
Recessed. Lampu ini sangat tepat untuk mencapai efek yang ideal, teknologi LED
canggih dengan optik yang berbeda dan berkualitas tinggi. Sinarnya menciptakan
dampak yang dramatis pada kain, keseimbangan yang sempurna antara intensitas
cahaya dan warna render untuk membuat rincian jelas terlihat. Suatu pengendalian
sistem pencahayaan dengan pilihan dimmable dipasang, untuk memungkinkan
dalam menyesuaikan persyaratan pencahayaan yang sesuai.
Maka Efek pencahayaan pada koleksi harus tepat dan tingkat renderasi
warna yang jelas sehingga mendapat terlihat lebih indah teritama bagi yang
menikmatinya. Fokus pada obyek koleksi harus tepat dan jelas.
Selain itu Ada 2 Teknik pencahayaan : Spotlight dan wallwash. Spotlight
yaitu efek focus pencahayaan pada objek sedangkan wall wash pencahayaan yang
disorotkan ke dinding, efeknya merata pada obyek koleksi.
Lampu Strips LED Jenis PHILIPS Affinium Strip digunakan sebagai
pencahayaan general yang di aplikasi secara internal pada vitrin. Cahaya ini
memiliki karakter warna yang memadai dan dapat memunculkan efek tertentu
sehingga akan menambahkan estetika pada vitrin. Suasana yang terang dengan
pencahayaan yang mendukung sangat diperlukan. Interior dengan warna hangat
membuat obyek koleksi kurang menonjol.
Berdasarkan CIE (Commission International de lEclairage) pada tingkat
pencahayaan yang direkomendasikan untuk penerangan Museum atau Galeri
adalah 450 Lux. Intesitas cahaya 50 Lux tidak memenuhi standar penerangan yang
tepat, cahaya ini termasuk penerangan yang minim. Cahaya 50 Lux dapat di

Wahyu Prima Putra / 1507114718


aplikasikan sebagai cahaya general yang diaplikasikan di dalam vitrin, maka
cahaya ini dapat di elaborasi sebagai sentir lampu minyak yang digunakan dalam
pewayangan. Karakter cahaya sentir memiliki nuansa yang etnik cahaya api,
cahaya jenis ini dapat ditemukan yaitu jenis lampu LED Philips Stript yang
diaplikasikan melalui celah vitrin dan memberikan efek remang-remang.
Konsep cahaya sebenarnya meniru konsep alam. Meniru konsep siang dan
malam, maka siang terdapat cahaya matahari yang berwarna putih dan
menyilaukan mata sedangkan pada malam hari ada cahaya bulan dan bintang yang
sinarnya kuning lembut dan cocok dengan suasana yang santai. Selain itu, efek
psikologis pada warna putih digunakan untuk penerangan fokus (spot lighting)
pada koleksi, karena cahaya putih memiliki konsep nuansa yang serius.
Aplikasi pencahayaan ini dapat diterapkan didalam vitrin sebagai cahaya
pembantu dan pencahayaan ini dijalankan secara on/of melalui sensor pencahayaan
otomatis yang disebut sensor cahaya dengan daya AC yang telah dikaji melalui
kajian pustaka. Sistem kerja sensor ini yaitu pada saat pengunjung mendekati vitrin
maka sensor cahaya akan menyala secara otomatis dan sebaliknya. Konsep ini
diharapkan akan mempermudah aktivitas pengunjung didalam galeri dan dapat
meningkatkan citra galeri itu sendiri. Selain itu konsep sensor ini berimpikasi
secara positif terhadap sifat Go Green dalam pencahayaan.

Wahyu Prima Putra / 1507114718


BAB III
KESIMPULAN

3.1. Kesimpulan
1. Pencahayaan atau lighting adalah salah satu elemen penting yang perlu
dipertimbangkan dalam perancangan interior maupun arsitektur.
2. Pada dasarnya ada dua macam sumber cahaya yang berpengaruh bagi ruang dalam.
Pertama, sumber cahaya alam yang berasal dari matahari, bintang-bintang, kedua,
sumber cahaya buatan atau artifisial, seperti: nyala lilin, nyala obor, lampu minyak,
lampu petromaks (nyala yang berasal dari selubung kaos yang terjaga baranya
akibat semburan minyak tanah yang berasal dari sebuah tabung bertekanan), lampu
gas, lampu pijar,lampu FL (Fluorescen) atau sering disebut lampu TL.
3. Kedua sumber cahaya ini mempunyai kelebihan serta kekurangan, antara lain:
sumber cahaya alam memiliki sifat tidak menentu, tergantung pada iklim, musim
juga cuaca.
4. Kehadiran cahaya pada lingkungan ruang dalam bertujuan menyinari berbagai
bentuk elemen-elemen yang ada di dalam ruang sedemikian rupa sehingga ruang
menjaditeramati, terasakan secara visual suasananya.
5. Tujuan dari pencahayaan adalah disamping mendapatkan kuantitas cahaya yang
cukup sehingga tugas visual mudah dilakukan, juga untuk mendapatkan
lingkungan visual yang menyenangkan atau mempunyai kualitas cahaya yang baik.

3.2. Saran
1. Dalam pembahasan materi ini,pengaplikasian pencahayaan pada bangunan tidak
dijelaskan secara detail mengenai materi khusus yang digunakan sebagai reflektor
cahaya yang baik dan efisien.
2. Solusi tentang permasalahan penyilauan dalam bangunan tidak dijelaskan secara
menyeluruh.

Wahyu Prima Putra / 1507114718


DAFTAR PUSTAKA

http://www.kajianpustaka.com/2013/12/sistem-pencahayaan-alami.html

https://www.academia.edu/9324774/PENCAHAYAAN_DAN_PENGHEMATAN_ENERGY

https://abaslessy.wordpress.com/2012/01/15/kota-hemat-energi-persi-arsitektur/

https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=8&cad=rja&uact
=8&ved=0ahUKEwjIjaOR26LPAhUEtJQKHbxXAWcQFghOMAc&url=http%3A%2F%2Fejurn
al.esaunggul.ac.id%2Findex.php%2Finosains%2Farticle%2Fdownload%2F1371%2F1249&
usg=AFQjCNEF_mdjmMoX6NCMUGX_pJ_bDgjlsQ&sig2=kG4vLkEzdbOg5Ybc7a563Q&bv
m=bv.133387755,d.dGo

Wahyu Prima Putra / 1507114718