Anda di halaman 1dari 32

1 ABSTRAK

2
3
4 Transformator atau sering disingkat dengan istilah Trafo adalah alat yang memindahkan tenaga
5 listrik antar dua rangkaian listrik atau lebih melalui induksi elektromagnetik. Banyak jenis dari
6 trafo seperti trafo step up, step down, autotransformator, transformator isolasi, transformator
7 pulsa dan salah satunya adalah transformator 3 phase yang dilakukan dalam percobaan
8 praktikum listrik perkapalan ini.Dari percobaan praktikum kali ini bertujuan untuk mengetahui
9 performa transformator beban seimbang dan performa transformator pada beban tidak seimbang
10 dan pada saat tidak ada beban. Dari praktikum ini terdapat berbagai variasi jenis hubungan
11 belitan yaitu Hubungan Delta-Delta (-), Hubungan Wye-Wye (Y-Y), Hubungan Wye-Delta (Y-
12 ), Hubungan Delta-Wye (-Y), Hubungan Wye-Zigzag Y, Hubungan Delta-Zigzag Y. Sebelum
13 percobaan kita harus menyiapkan alat alat percobaan berupa transformator 3 fasa, 3 phase
14 supply control, AC/DC electrodynamic control, voltmeter, ampermeter, switch resistance load, 3
15 phase measurement dan kabel. Untuk percobaan tanpa beban kita mencari nilai tegangan fasa
16 dan tegangan line pada kumparan primer terhubung Wye dan kumparan sekunder terhubung zig-
17 zag Y. Untuk percobaan beban seimbang diberikan data dengan beban yang sama pada masing-
18 masing Switched Resistance Load. Untuk percobaan beban tidak seimbang diberikan data
19 dengan beban yang berbeda pada masing-masing Switched Resistance Load yang terhubung Star
20 (Y). Kemudian didapatkan nilai nilai dari pegukuran dengan alat alat seperti Voltmeter dan
21 Amperemeter sehingga mendapatkan nilai Vline, Vphase, I, dan P pada kumparan primer lalu
22 Vline, Vphase pada kumparan sekunder dan nilai I pada load yang terhubung dengan zigzag.
23 Dari nilai nilai tersebut kita dapat menentukan rugi rugi (losses) pada transformator dan
24 effisiensi pada transformator dan refulasi tegangannya. Transformator 3 phase banyak digunakan
25 pada bidang marine contohnya seperti generator, HVAC, pompa dan peralatan peralatan kapal
26 kecil lainnya yang membutuhkan tegangan rendah seperti radio, dan lampu sorot.
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51 BAB I
52 PENDAHULUAN
53
541.1 Latar Belakang
55 Transformator atau trafo adalah alat listrik melalui gandengan magnet memindahkan
56daya listrik dari suatu rangkaian ke rangkaian lainya dengan frekuensi yang sama. Tegangan dapat di
57naikan atau diturunkan sesuai dengan besar kecilnya arus yang mengalir dalam rangkaian.
58Transformator adalah suatu alat listrik yang dapat memindahkan dan mengubah energi listrik dari satu
59atau lebih rangkaian listrik ke rangkaian listrik yang lain, melalui suatu gandengan magnet dan
60berdasarkan prinsip induksi-elektromagnet. Transformator digunakan secara luas, baik dalam bidang
61tenaga listrik maupun elektronika.Sebuah transformator tiga fasa secara prinsip sama dengan sebuah
62transformator satu fasa, perbedaan yang paling mendasar adalah pada sistem kelistrikannya yaitu
63sistem satu fasa dan tiga fasa. Sehingga sebuah transformator tiga fasa bisa dihubung bintang, segitiga,
64atau zig-zag.

65 Transformator 3 Fase, sistem ini banyak terdapat di kapal karena sistem ini menyediakan titik
66netral untuk sistem listrik yang tidak memiliki titik netral di kapal dan menaikkan juga menurunkan
67tegangan listrik yang ini akan didistribusikan di generator di kapal.

681.2 Tujuan
691. Percobaan Transformator 3 Fasa Tanpa Beban
70 a. Memahami prinsip isolasi dan menurunkan tegangan
71 b. Memperoleh tegangan pada sisi primer dan sekunder
72 c. Memahami hubungan antara tegangan fasa dan tegangan line
732. Percobaan Transformator 3 Fasa Beban Seimbang:
74 a. Memperoleh tegangan pada sisi primer dan sekunder
75 b. Memperoleh arus pada sisi primer dan sekunder, dan pada sisi beban resistance
76 c. Memperoleh daya pada sisi primer dan sekunder
773. Percobaan Transformator 3 Fasa Beban Tidak Seimbang:
78 a. Memperoleh tegangan pada sisi primer dan sekunder
79 b. Memperoleh arus pada sisi primer dan sekunder, dan pada sisi beban resistance
80 c. Memperoleh daya pada sisi primer dan sekunder
81
82
83
84
851.3 Rumusan Permasalahan
86 Rumusan masalah yang dapat disimpulkan dari praktikum transformator 3 fasa adalah sebagai
87 berikut :
881. Bagaimana cara mengetahui performa Transformator beban seimbang dan tidak seimbang ?
892. Bagaimanakah prinsip kerja dari Transformator 3 Fasa?
903. Bagaiman cara memperoleh tegangan di sisi primer dan sekunder ?
914. Bagaimana cara memperoleh nilai arus pada sisi primer maupun sekunder dan sisi beban ?
925. Bagaimana cara memperoleh daya pada sisi primer maupun sekunder ?
93
94
95
96
97
98
99
100
101 BAB II
102 DASAR TEORI
1032.1 Pengertian Transformator 3 Fasa
104 Transformator atau biasa disebut trafo adalah suatu peralatan listrik yang digunakan untuk
105 mengubah nilai tegangan atau arus dari nilai yang satu ke nilai lainnya sesuai dengan
106 kebutuhan.Trafo bekerja berdasarkan Hukum Faraday. Jenis trafo sangat beragam tergantung pada
107 tegangan kerja dan fasa yang dipakai. Sesuai dengan namanya transformator tiga phasa bekerja
108 pada tegangan yang memiliki tiga phasa. Transformator tiga phasa pada prinsipnya sama dengan
109 transformator satu phasa, perbedaannya adalah pada transformator tiga phasa mengenal adanya
110 hubungan bintang, segitiga dan hubungan zig-zag, dan juga system bilangan jam yang sangat
111 menentukan kerja pararel tiga phasa. Untuk menganalisa transformator tiga phasa dilakukan
112 dengan cara menganggap bahwa transformator tiga phasa sebagai transformator satu phasa, teknik
113 perhitungannya pun sama, hanya untuk nilai akhir biasanya parameter tertentu (arus, tegangan,
114 dan daya) transformator tiga phasa dikalikan dengan nilai .
115

116
117 Gambar 2.1 Transformator 3 fasa
118 (Sumber : http://www.electronicshub.org/three-phase-transformer/)

119 Secara umum, jenis-jenis trafo yang paling sering digunakan pada rangkaian elektronika terbagi dua,
120yaitu :
121 a. Transformator Step-Up
122 Transformator yang memiliki lilitan sekunder lebih banyak daripada lilitan primer, sehingga berfungsi
123 sebagai penaik tegangan. Transformator ini biasa ditemui pada pembangkit tenaga listrik sebagai penaik
124 tegangan yang dihasilkan generator menjadi tegangan tinggi yang digunakan dalam transmisi jarak jauh.
125

126
127 Gambar 2.2 Lilitan pada trafo step-up
128 ( Sumber : http://hbariql4.co.id/2013/05/transformator-step-up-dan-step-down )
129 b. Transformator Step-Down
130 Transformator step-down memiliki lilitan sekunder lebih sedikit daripada lilitan primer, sehingga
131 berfungsi sebagai penurun tegangan. Transformator jenis ini sangat mudah ditemui, terutama dalam
132 adaptor AC-DC.

133
134 Gambar 2.3 Lilitan pada trafo step-down
135 ( Sumber : http://hbariql4.co.id/2013/05/transformator-step-up-dan-step-down )
136
137
1382.2 Konstruksi Transformator 3 Fasa
139
140Secara umum sebuah transformator tiga fasa memiliki konstruksi hampir sama, yang membedakannya
141adalah alat bantu dan sistem pengamannya, tergantung panda letak pemasangan, sistem pendinginan,
142pengoprasian, fungsi dan pemakaiannya. Bagian utama, alat bantu dan sistem pengamannya yang ada
143pada sebuah transformator daya.
144 2.2.1 Inti Trafo
145 Suatu fasa inti besi berfungsi sebagai tempat mengalirnya fluks dan kumparan primer ke
146 kumparan sekunder sehingga akan didapatkan induksi medan magnet yang lebih kuat. Sama
147 seperti transformator satu phasa, berdasarkan cara melilit atau lilitan ada dua jenis tipe inti
148 yaitu,
149 a. tipe Cangkang
150 b. tipe Inti
151

152
153 (A) (B)
154 Gambar 2.2.1 Jenis Inti Trafo
155 (Sumber :Rekayasa Listrik in Trafo, 2013)
156
157 2.2.2 Kumparan Trafo
158
159 Kumparan trafo terdiri dari lilitan kawat berisolasi dan membentuk kumparan. Kawat yang
160 dipakai adalah kawat tembaga berisoloasi berbentuk bulat atau plat.
161

162

163 Gambar 2.2.2 Kumparan Trafo


164 (Sumber :Rekayasa Listrik in Trafo, 2013)
165

166 2.2.3 Minyak Trafo

167 Sebagian besar trafo tenaga kumparan kumparan dan intinya direndam dalam minya trafo,
168 terutama trafo tenaga yang berkapasitas trafo, karena minyak trafo mempunyai sifat sebagai
169 media pemindah panas (disirkulasi) dan besifat pula sebagai isolasi (daya tegangan tembus
170 tinggi) sehingga berfungsi sebagai pendingin dan isolasi

171
172

173 Gambar 2.2.3. Minyak Trafo


174 Sumber : infokita bersama - blogger
175 2.2.4 Sistem Pendinginan Transformator

176 Sistem pendinginan pada transformator dibutuhkan supaya panas yang timbul pada inti besi
177 dan kumparan dapat disalurkan keluar sehingga tidak merusak isolasi didalam transformator.
178 Media yang di-gunakan pada sistem pendinginan dapat berupa: udara/gas, minyak dan air.
179 Sirkulasi- nya dilakukan secara: alamiah (natural) dan atau paksaan (forced).

180

181 Gambar 2.2.4 Cooling System of Trafo


182 (Sumber :Rekayasa Listrik in Trafo, 2013)
183

184 2.2.5 Bushing Transformator

185 Bushing transformator adalah sebuah konduktor yang berfungsi untuk meng- hubungkan
186kumparan transformator dengan rangkaian luar yang diberi selubung isolator. Isolator juga
187berfungsi sebagai penyekat antara konduktor dengan tangki transformator.Bahan bushing adalah
188terbuat dari porselin yang tengahnya berlubang.

189

190

191 Gambar 2.2.5 Bushing Trafo


192 (Sumber :Rekayasa Listrik in Trafo, 2013)
193

194 2.2.6 Sirip Sirip Pendinging atau Radiator

195 Berfungsi untuk memperluas daerah pen- dinginan, yaitu daerah yang berhubungan langsung
196 dengan udara luar dan sebagai tempat terjadinya sirkulasi panas.
197

198 Gambar 2.2.6 Sirip sirip pendingin trafo


199 (Sumber :Rekayasa Listrik in Trafo, 2013)
200

2012.3 Prinsip Kerja Transformator 3 Fasa

202 Transformator terdiri atas dua buah kumparan ( primer dan sekunder ) yang bersifat induktif.
203Kedua kumparan ini terpisah secara elektrik namun berhubungan secara magnetis melalui jalur yang
204memiliki reluktansi ( reluctance ) rendah. Apabila kumparan primer dihubungkan dengan sumber
205tegangan bolak-balik maka fluks bolak-balik akan muncul di dalam inti yang dilaminasi, karena
206kumparan tersebut membentuk jaringan tertutup maka mengalirlah arus primer. Fluks magnetic adalah
207(sering disimbolkan m), adalah ukuran atau jumlah medan magnet (B) yang melewati luas penampang tertentu,
208misalnya kumparan kawat (hal ini sering pula disebut "kerapatan medan magnet").Akibat adanya fluks di
209kumparan primer maka di kumparan primer terjadi induksi sendiri ( self induction ) dan terjadi pula
210induksi di kumparan sekunder karena pengaruh induksi dari kumparan primer atau disebut sebagai
211induksi bersama ( mutual induction ) yang menyebabkan timbulnya fluks magnet di kumparan
212sekunder, maka mengalirlah arus sekunder jika rangkaian sekunder di bebani, sehingga energi listrik
213dapat ditransfer keseluruhan ( secara magnetisasi ).

214

215 ( Sumber : http://rumushitung.com/ )

216Dimana : e = gaya gerak listrik ( ggl ) [ volt ]

217 N = jumlah lilitan

218 dt/d = perubahan fluks magnet

219Hukum Faraday memperkenalkan suatu besaran yang dinamakan fluks magnetik. Fluks magnetik ini
220menyatakan jumlah garis-garis gaya magnetik. Berkaitan dengan besaran ini, kuat medan magnet didefinisikan
221sebagai kerapatan garis-garis gaya magnet. Dari kedua definisi ini dapat dirumuskan hubungan sebagai berikut.

222 = B A cos

223dengan :

224 = fluks magnetik (weber atau Wb)

225B = induksi magnetik (Wb/m2)

226A = luas penampang (m2)

227 = sudut antara iduksi magnet dengan normal bidang

2282.4 Hubungan Belitan Transformator 3 Fasa


229 Dalam listrik 3 fasa dikenal hubungan wye / star (bintang) dan hubungan delta. Kedua jenis
230hubungan terkait dengan hubungan antar lilitan seperti pada generator, motor, atau trafo.
231Karakteristiknya 3 tegangan dan arus masing-masing fasa berbeda 120o (kondisi ideal).

232 2.4.1 Hubungan Wye (Y)

233 Pada hubungan bintang (Y, wye), ujung-ujung tiap fase dihubungkan menjadi satu dan menjadi
234 titik netral atau titik bintang. Tegangan antara dua terminal dari tiga terminal a b c
235 mempunyai besar magnitude dan beda fasa yang berbeda dengan tegangan tiap terminal
236 terhadap titik netral. Tegangan Va, Vb dan Vc disebut tegangan fase atau Vf.

237

238

239 Gambar 2.4.1 Hubungan Bintang (Y, wye)


240 (Sumber http://www.electronicshub.org/three-phase-transformer)
241
242 Dengan adanya saluran / titik netral maka besaran tegangan fase dihitung terhadap
243 saluran / titik netralnya, juga membentuk sistem tegangan 3 fase yang seimbang
244 Vline = 3 Vfase = 1,73 Vfase
245
246
247 2.4.2 Hubungan Delta ()
248
249 Pada hubungan segitiga ( delta, D ) ketiga fase saling dihubungkan sehingga membentuk
250 hubungan segitiga 3 fase. Dengan tidak adanya titik netral, maka besarnya tegangan saluran
251 dihitung antar fase, karena tegangan saluran dan tegangan fasa mempunyai besar magnitude
252 yang sama maka :
253 Vline = Vfase
254

255
256 Gambar 2.4.1 Hubungan Delta (D, )
257 (Sumber : http://www.electronicshub.org/three-phase-transformer)
258
259 Tetapi arus saluran dan arus fasa tidak sama dan hubungan antara kedua arus tersebut dapat
260 diperoleh dengan menggunakan hokum kirchoff sehingga :
261 Iline = 3 Ifase = 1,73Ifase
262
2632.5 Jenis Jenis Hubungan Belitan Transformator 3 Fasa
264
265 2.5.1 Hubungan Delta Delta (-)
266 Pada jenis ini ujung fasa dihubungkan dengan ujung netral kumparan lain yang secara
267 keseluruhan akan terbentuk hubungan delta/segitiga. Hubungan ini umumnya digunakan pada
268 sistem yang menyalurkan arus besar pada tegangan rendah dan yang paling utama saat
269 keberlangsungan dari pelayanan harus dipelihara meskipun salah satu dari fasa mengalami
270 kegagalan
271
272Sisi Perimer
273 V LI = Vph1Volt
274IL1 = 3 Iph1
275Sisi Sekunder
276VL2 = Vph2 Volt
277K = Vph2 /Vph1
278IL2 = 3 Iph2

279
280 Gambar 2.5.1 Hubungan Delta Delta
281 (Sumber :http://www.electronicshub.org/three-phase-transformer)
282
283 2.5.2 Hubungan Wye Wye (Y-Y)
284 Pada jenis ini ujung ujung pada masing masing terminal dihubungkan secara bintang.Titik
285 netral dijadikan menjadi satu.Hubungan dari tipe ini lebih ekonomis untuk arus nominal yang
286 kecil pada transformator tegangan tinggi.
287
288Sisi Primer
VL 1
289Vph1 = Volt
3
290IL1 = I ph1
291
292Sisi Sekunder
VL 2
293Vph2 = Volt
3
294K =Vph2/Vph1
295IL2 = I ph2

296
297 Gambar 2.5.2 Hubungan Bintang Bintang
298 (Sumber :http://www.electronicshub.org/three-phase-transformer)
299
300
301 2.5.3 Hubungan Wye-Delta (Y-)
302 Pada hubungan ini, kuparan pada sisi primer di rangkai secara bintang (wye) dan sisi sekunder
303 di rangkai delta. Umumnya digunakan pada trafo untuk jaringan transmisi dimana tegangan
304 nantinya akan diturunkan (Step Down).
305Sisi Primer
306Vph1 = VL1 / 3 volt
307IL1 = Iph1
308
309Sekunder
310Vph2 = VL2 volt
311K = Vph2 / Vph1
312I = IL2/ 3
313

314

315
316 Gambar 2.5.3 Hubungan Bintang Segitiga
317 (Sumber :http://www.electronicshub.org/three-phase-transformer)
318
319 2.5.4 Hubungan Delta-Wye (-Y)
320 Pada hubungan ini, sisi primer trafo dirangkai secara delta sedangkan sisi sekundernya merupakan
321 rangkaian bintang (wye) sehingga panda sisi sekundernya terdapat titik netral. Biasanya digunakan
322 untuk menaikan tegangan (Step Up) pada awal sistem transmisi tegangan tinggi.Dalam hubungan ini
323 perbandingan tegangan 3 kali perbandingan lilitan trasnformator dan tegangan sekunder mendahului
324 sebesar 30 derajat dari tengangan primernya.
325
326
327Sisi Perimer
328 V LI = Vph1Volt
329Iph1 = IL1/ 3 Iph1
330Sekunder
331Vph2 = VL2 . 3 volt
332K = Vph2/Vph1
333Daya total pada trafo 3 fasa
334S = 3 VL IL VA atau S = 3.Vph.Iph.VA
335P = 3 VL IL Cos Watt
336Q = 3 VL IL Sin Var
337
338

339
340 Gambar 2.5.4 Hubungan Delta - Wye
341 (Sumber :http://www.electronicshub.org/three-phase-transformer)
342
343 2.5.5 Hubungan Delta - ZigZag
344 Transformator dengan hubungan Zig-zag memiliki ciri khusus, yaitu belitan primer memiliki tiga
345 belitan, belitan sekunder memiliki enam belitan dan biasa digunakan untuk beban yang tidak seimbang
346 (asimetris) - artinya beban antar fasa tidak sama, ada yang lebih besar atau lebih kecil. Hubungan delta
347 dengan zigzag dimana di kumparan primer dirangkai secara delta dan sekundernya di rangkai secara
348 zigzag
349
350
351 Gambar 2.5.5 Hubungan Zig - Zag
352 (Sumber :http://www.electronicshub.org/three-phase-transformer)
353
354 2.5.6 Hubungan ZigZag - Y
355 Transformator dengan hubungan Zig-zag memiliki ciri khusus, yaitu belitan primer memiliki tiga
356 belitan, belitan sekunder memiliki enam belitan dan biasa digunakan untuk beban yang tidak seimbang
357 (asimetris) - artinya beban antar fasa tidak sama, ada yang lebih besar atau lebih kecil. Hubungan Y
358 dengan zigzag dimana di kumparan primer dirangkai secara zigzag dan sekundernya di rangkai secara
359 Y.

360
361 Gambar 2.5.5 Hubungan Zig - Zag
362 (Sumber :http://www.electronicshub.org/three-phase-transformer)
363
3642.6 Rugi Rugi pada Transformator
365 Rugi pada trafo timbul dari 2 sisi yaitu sisi primer dan sisi skunder. Berikut merupakan looses yang terjadi
366 pada trafo.
367 2.6.1 Losses (rugi-rugi) Akibat Adanya Arus Netral
368 Rugi ini terjadi karena ada arus yang lumayan cukup besar mengalir penghantar netral sebagai akibat
369 dari ketidakseimbangan beban antara tiap-tiap fasa pada sisi sekunder trafo (fasa R, fasa S, fasa T).Arus
370 yang mengalir pada penghantar netral trafo ini menyebabkan losses (rugi-rugi). Losses pada penghantar
371 netral trafo ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

372
373 ( Sumber : http://www.ee.ui.ac.id/ )

374
375

376 2.6.2 Losses (rugi-rugi) Akibat Adanya Arus Grounding


377 Ketidakseimbangan beban juga mengakibatkan adanya arus yang mengalir pada penghantar grounding
378 (pentanahan), Besarnya daya yang hilang akibat arus grounding ini adalah sebagai berikut:

379
380 ( Sumber : http://www.ee.ui.ac.id/ )
381
382

383 2.6.3 Kerugian tembaga


384 Kerugian dalam lilitan tembaga yang disebabkan oleh resistansi tembaga dan arus listrik yang
385 mengalirinya.Rugi tembaga adalah rugi yang disebabkan arus beban mengalir pada kawat tembaga. Hal
386 ini menimbulkan rugi tembaga (Pcu) sebesar :
387 Pcu = I2 R
388 ( Sumber : http://www.ee.ui.ac.id/ )
389 Dimana ;
390 Pcu = Rugi tembaga (Watt)
391 I = Arus (A)
392 R = Tahanan (Ohm)
393

394 2.6.4 Kerugian kopling


395 Kerugian yang terjadi karena kopling primer-sekunder tidak sempurna, sehingga tidak semua fluks
396 magnet yang diinduksikan primer memotong lilitan sekunder. Kerugian ini dapat dikurangi dengan
397 menggulung lilitan secara berlapis-lapis antara primer dan sekunder.
398

399 2.6.5 Kerugian kapasitas liar


400 Kerugian yang disebabkan oleh kapasitas liar yang terdapat pada lilitan-lilitan transformator.Kerugian
401 ini sangat mempengaruhi efisiensi transformator untuk frekuensi tinggi. Kerugian ini dapat dikurangi
402 dengan menggulung lilitan primer dan sekunder secara semi-acak (bank winding)
403

404 2.6.6 Rugi Besi (Pi)


405 Rugi besi adalah rugi yang timbul pada inti transformator sebelum
406 dibebani.
407

408 2.6.7 Kerugian efek kulit


409 Sebagaimana konduktor lain yang dialiri arus bolak-balik, arus cenderung untuk mengalir pada
410 permukaan konduktor. Hal ini memperbesar kerugian kapasitas dan juga menambah resistansi relatif
411 lilitan

412
4132.7 Jenis Jenis Beban
414
415Sifat terpenting dari pembebanan yang seimbang adalah jumlah phasor dari ketiga tegangan adalah sama dengan
416nol, begitu pula dengan jumlah phasor dari arus pada ketiga fase juga sama dengan nol. Jika impedansi beban
417dari ketiga fase tidak sama, maka jumlah phasor dan arus netralnya (In) tidak sama dengan nol dan beban
418dikatakan tidak seimbang. Ketidakseimbangan beban ini dapat saja terjadi karena hubung singkat atau hubung
419terbuka pada beban.
420
421
422 Gambar 2.7 Beban pada trafo 3 phase
423 (Sumber :http://dunia-listrik.co.id/2009/01/sistem-3-fasa.html)
424
425Dalam sistem 3 fase ada 2 jenis ketidakseimbangan, yaitu:
4261. Ketidakseimbangan pada beban.
4272. Ketidakseimbangan pada sumber listrik (sumber daya).
428
4292.8 Pengertian Arus Netral

430Arus netral dalam sistem distribusi tenaga listrik dikenal sebagai arus yang mengalir pada kawat netral di sistem
431distribusi tegangan rendah tiga fasa empat kawat. Arus netral ini akan muncul jika :

432
433 Kondisi beban tidak seimbang
434 Karena adanya Arus harmonisa akibat dari beban non-linear yang semakin berkembang digunakan saat ini.

435Arus yang mengalir pada kawat netral yang merupakan arus balik untuk sistem distribusi tiga fasa empat kawat
436adalah penjumlahan vektor dari ketiga arus fasa dalam komponen simetris.
437
4382.9 Effisiensi dan Regulasi Tegangan
439
440 2.9.1 Effisiensi
441 Perbandingan antara daya sekunder dengan daya primer atau hasil bagi antara energi sekunder dengan
442 energi primer yang dinyatakan dengan persen.
443

444
445 ( Sumber : https://www.academia.edu/ )
446 Dimana ;
447 = efisiensi transformator (%)
448 P1 = daya primer (watt)
449 P2 = daya sekunder (watt)
450

451 2.9.2 Regulasi Tegangan


452 Regulasi tegangan adalah bagaimana pengaturan tegangan baik dari Gardu Induk, saluran transmisi
453 ataupun pada pembangkit. Regulasi tegangan Merupakan perubahan tegangan sekunder antara beban
454 nol dan beban penuh pada suatu faktor kerja tertentu, dengan tegangan primer konstan.
455
V line tanpabebanV line sekunder dengan beban
456 x 100%
V line tanpa beban
457
458 ( Sumber : https://www.academia.edu/ )
459 2.9.3 Ketidakseimbangan Beban

460Yang dimaksud dengan keadaan seimbang adalah


461suatu keadaan di mana :
462-Ketiga vektor arus / tegangan sama besar.
463-Ketiga vektor saling membentuk sudut 120 satu sama lain.
464
465Sedangkan yang dimaksud dengan keadaan tidak seimbang adalah keadaan di mana salah satu atau
466kedua syarat keadaan seimbang tidak terpenuhi. Kemungkinan keadaan tidak seimbang ada 3 yaitu:
467 Ketiga vektor sama besar tetapi tidak membentuk sudut 120 satu sama lain.
468 Ketiga vektor tidak sama besar tetapi membentuk sudut 120 satu sama lain.
469 Ketiga vektor tidak sama besar dan tidak membentuk sudut 120 satu sama lain.
I Rata- rata :
IR+ Is + IT
Iratarata=
3
Mencari nilai a:
IR
a=
I
Mencari nilai b :

Mencari nilai c :
IT
c=
I
Rata rata ketidak seimbangan beban :

[ a1 ] + [ b1 ] + [ c1 ]
100
3

470

4712.10 Aplikasi Transformator 3 Phase


472 Aplikasi pada Bidang Marine
Nama Gambar Keterangan
Lampu sorot kapal digunakan sebagai
penerangan di atas kapal untuk nelayan (
fishing vessel) untuk mencari ikan
maupun kapal kapal cargo sebagai
Lampu penerangan di laut agar kapal kapal lain
Sorot dapat melihat kapal tersebut, peran
trasnformator 3 fase disini adalah sebagai
trafo step down karena kebutuhan voltase
yang kecil sedangkan voltase yang
http://dokumen.tips/documents/transformator-
55bd1cb7234fb.html tersedia di generator sangatlah besar
Di kapal pompa banyak digunakan untuk
kebutuhan kebutuhan memindahkan
fluida dari suatu tempat ke tempat yang
lain contohnya pompa air laut, pompa
Pompa minyak pelumas, pompa air pendingin
Sentrifugal mesin dan lain lain. Peran trafo 3 fase
Kapal disini adalah dimana tegangan yang
dibutuhkan pompa tersebut adalah sekitar
230 V dan distribusi dari trafo distribusi
http://dokumen.tips/documents/transformator- adalah 220 V sehingga digunakan trafo
55bd1cb7234fb.html step up untuk menaikkan tegangannya.
HVAC di kapal berfungsi sebagai
pengatur sirkulasi udara di kapal sehingga
distribusi udara di kapal dapat
berlangsung dengan baik. Peran trafo 3
fase disini adalah dimana kita memiliki
HVAC
low voltage HVAC system pada
umumnya voltasenya sangatlah kecil
http://do
padahal voltase yang didistribusikan oleh
kumen.tips/documents/transformator-
55bd1cb7234fb.html
trafo distribusi lebih besar oleh karena itu
dibutuhkan trafo step down

Dalam pengaplikasian pada generator


transformator jenis ini digunakan untuk
menerima energi dari tingkat tegangan yang
Generator lebih tinggi ( generator kapal ) dan mengubah
mdan mendistribusikan energi untuk tiap
peralatan yang membutuhkan daya listrik
lebih kecil.
http://dokumen.tips/documents/transformator-
55bd1cb7234fb.html

Radio disini digunakan sebagai media


berkomunikasi di kapal, untuk itu namun
Radio radio membutuhkan tegangan yang amat
kecil oleh karena itu digunakan
transformator 3 fase step down.

http://dokumen.tips/documents/transformator-
55bd1cb7234fb.html

473
474 Aplikasi Di Darat
Sistem transmisi listrik jarak jauh, agar
menaikkan tegangan sebelum di
Trafo Step transmisikan dari 220 V menjadi 380 V
Up disaat mentransmisikan tegangan dari
generator atau pembangkit listrik ke
daerah yang ingin di supplai listriknya
http://dokumen.tips/documents/transformator-
55bd1cb7234fb.html

Transformator pada jenis ini digunakan


sebagai gandengan impedansi atara
sumber dan beban dan digunakan sebagai
Trafo Step penurun tegangan ke rumah rumah atau
Down yang membutuhkan tegangan yang kecil.
Transformator panda jenis ini digunakan
banyak di hampir semua perlatan listrik
rumahan seperti (TV, Radio dll)

http://dokumen.tips/documents/transformator-
55bd1cb7234fb.html

475
476
477
478
479
480
481
482
483
484
485
486
487
488
489
490
491
492
493 BAB III
494 DATA PRAKTIKUM
4953.1 Peralatan dan Fungsi
N
Nama Alat Gambar Keterangan
o.

Transformator 3
Three Phase fasa yang
1. Transformator berfungsi untuk
61-103 menaikkan/menuru
nkan voltase

Terdapat tombol
Three Phase
on off untuk
2. Supply Control
mengaktifkan
61-100
rangkaian yang ada

AC/DC
Berfungsi untuk
Electrodynamic
3. mengukur Power
Wattmeter 68-
yang mengalir
201

Berfungsi untuk
Voltmeter/Multi mengukur
4.
meter besarnya voltase
atau tegangan

Ammeter/tangme Untuk mengukur


5.
ter besarnya arus
Berfungsi untuk
Switch
memberikan
6. Resistance Load
hambatan pada
67-140
rangkaian

Berfungsi untuk
memilihat
Single & Three
beberapa nilai
Phase
7. seperti voltase,
Measurement 68-
power, hambatan
100
yang terjadi pada
rangkaian

Berfungsi untuk
menghubungkan
8. Kabel
komponen pada
rangkaian

496
497
498
499 3.2 Langkah Percobaan
500

5011. Percobaan Transformator 3 Fasa Tanpa Beban:

502

503
504 Gambar 1.0. Rangkaian 3 Fasa Tanpa Beban
505 Sumber : Kelompok 5
506
507 Berikut prosedur percobaan yang dilakukan:

508 a. Rangkai peralatan percobaan seperti Gambar 1. namun pada sisi sekunder tidak dihubungkan
509 dengan beban.
510 b. Hidupkan Earth Leakage Circuit Breaker pada Three Phase Supply Control 60-100.
511 c. Hidupkan Three Phase & Single Phase Circuit Breaker pada Three Phase Supply Control 60-
512 100. Ketiga lampu neon akan menyala yang menunjukkan daya telah aktif.
513 d. Baca tegangan line (VLine) dan tegangan fasa (VPhasa) di sisi primer pada Single & Three
514 Phase Measurement 68-100. Catat tegangan line dan tegangan fasa pada sisi primer ke dalam
515 tabel data hasil percobaan tidak berbeban.
516 e. Catat tegangan fasa dan tegangan line pada sisi sekunder dengan menggunakan
517 voltmeter/multimeter ke dalam tabel data hasil percobaan tanpa beban.
518 f. Matikan Earth Leakage Circuit Breaker pada Three Phase Supply Control 60-100.
519 g. Ulangi poin a-f untuk gambar rangkaian 2 6.
520 h. Percobaan selesai.
5212. Percobaan Transformator 3 Fasa Beban Seimbang:

522

523
524 Gambar 1.1. Rangkaian 3 Fasa Tanpa Berbeban
525 Sumber : Kelompok 5
526 Berikut prosedur percobaan yang dilakukan:

527 a. Rangkai peralatan percobaan seperti Gambar 1.1 dimana pada sisi sekunder dihubungkan
528 dengan beban yang seimbang.
529 b. Hidupkan earth leakage circuit breaker pada Three Phase Supply Control 60-100.
530 c. Hidupkan Three Phase And Single Phase Circuit Breaker pada Three Phase Supply Control 60-
531 100. Ketiga lampu neon akan menyala yang menunjukkan daya telah aktif.
532 d. Atur semua saklar resistensi pada ketiga Switch Resistance Load 67-140 ke posisi ON. Ini
533 sesuai dengan beban resistansi total sebesar 122 ohm per phasa.
534 e. Hidupkan ketiga Switch Resistance Load 67-140.
535 f. Catat I Line dan I Phasa pada sisi primer, ILine dan I Phasa pada sisi sekunder.
536 g. Catat V Line dan V Phasa pada sisi primer dan sisi sekunder.
537 h. Catat daya pada sisi primer dan daya pada sisi sekunder (baca pada Three Phase Measurement
538 68-100).
539 i. Catat I Phasa pada masing-masing beban resistance.
540 j. Lengkapi tabel data hasil percobaan beban seimbang untuk semua nilai beban yang tertera.
541 k. Matikan Earth Leakage Circuit Breaker pada Three Phase Supply Control 60-100.
542 l. Ulangi poin a-k untuk untuk beban seimbang 126, 584,1407 dan 3900.
543 m. Percobaan selesai.
544
545
546
547
548
549
550
551
552
553
554

5553. Percobaan Transformator 3 Fasa Beban Tidak Seimbang:

556

557
558 (A)

559
560 (B)
561 Gambar 1.2 (A) Rangkaian Sisi Sekunder untuk Y-ZigzagY,(B) Beban Tidak Setimbang
562 Sumber : Kelompok 5
563
564 Berikut prosedur percobaan yang dilakukan:

565a. Rangkai peralatan percobaan seperti Rangkaian Gambar 1.1 dimana pada sisi sekunder
566 dihubungkan dengan beban tidak seimbang.
567b. Hidupkan earth leakage circuit breaker pada Three Phase Supply Control 60-100.

568c. Hidupkan Three Phase And Single Phase Circuit Breaker pada Three Phase Supply Control 60-100.
569 Ketiga lampu neon akan menyala yang menunjukkan daya telah aktif.
570d. Atur masing-masing Switch Resistance Load 67-140 agar memiliki beban tidak seimbang sesuai
571 dengan tabel hasil pengamatan.
572e. Hidupkan ketiga Switch Resistance Load 67-140.

573f. Catat ILine dan IPhasa pada sisi primer, ILine dan IPhasa pada sisi sekunder.
574g. Catat VLine dan VPhasa pada sisi primer dan sisi sekunder.

575h. Catat daya pada sisi primer dan daya pada sisi sekunder (baca pada Three Phase Measurement 68-
576 100).
577i. Catat IPhasa pada masing-masing beban resistance.
578j. Lengkapi tabel data hasil percobaan beban tidak seimbang untuk semua nilai beban yang tertera.
579k. Matikan Earth Leakage Circuit Breaker pada Three Phase Supply Control 60-100.

580l. Ulangi poin a-k untuk variable resistance load


581m. Percobaan selesai.

582

5833.3 Data Hasil Praktikum

584

585a. Transformator Tiga Fasa Hubungan Y-Zigzag Y


5861. Transformator 3 Fasa Tanpa Beban
587
Primer Terhubung Delta () Sekunder Tehubung Zigzag Star (Y)
Tegangan Fasa (V) Tegangan Line (V) Tegangan Fasa (V) Tegangan Line (V)
223 387 198 345
588
5892. Transformator 3 Fasa Beban Seimbang
Transformator 3 Fasa Beban Seimbang
Sekunder
Primer Terhubung Star (Y) Terhubung Zigzag Load Tehubung Star (Y)
Resistance
(Y)
Load
VLin
VLine VPhase IL1 IL2 IL3 P VPhase P I1 I2 I3 IN
e

() (V) (V) (A) (A) (A) (W) (V) (V) (W) (A) (A) (A) (A)
122 385 223 1,44 1,41 1,43 937 324 187 860 1,52 1,54 1,54 0
126 386 223 0,783 0,723 0,727 475 334 194 437 0,755 0,758 0,758 0
584 388 224 0,46 0,376 0,408 231 341 196 199 0,336 0,337 0,337 0
1407 388 225 0,364 0,214 0,281 113 344 198 82,9 0,138 0,139 0,141 0
3900 389 225 0,334 0,258 0,258 60,4 345 199 29,6 0,049 0,05 0,05 0
590

5913. Transformator 3 Fasa BebanTidak Seimbang


Transformator 3 Fasa Beban Tidak Seimbang
Sekunder
Resistance Primer Terhubung Star (Y) Terhubung Zigzag Load Tehubung Star (Y)
Load (Y)
VLine VPhase IL1 IL2 IL3 P VLine VPhase P I1 I2 I3 IN
() (V) (V) (A) (A) (A) (W) (V) (V) (W) (A) (A) (A) (A)
R1=122
R2=126 388 224 0,9 1,12 0,62 556 335 189 506 1,55 0,76 0,34 1,01
R3=584
R1=126
R2=584 387 224 0,464 0,583 0,374 272 339 193 239 0,751 0,336 0,14 0,5
R3=1407
R1=584
R2=1407 387 223 0,313 0,316 0,286 131 342 196 103 0,336 0,139 0,05 0,22
R3=3900
R1=122
R2=122 386 224 0,89 1,43 1,02 706 330 188 645 1,54 1,54 0,34 1,16
R3=584
R1=584
R2=1407 387 223 0,406 0,384 0,306 189 340 195 158 0,335 0,138 0,337 0,17
R3=584
592
593 BAB IV

594 ANALISA DAN DATA

595Hubungan Y Zigzag-Y

596 1. Daya

597 P=3. Vp . Ip . cos


598 Perhitungan:
599 Mencari Cos
P . pengukuran
600 cos =P .
3. Vp. Ipratarata

601 BEBAN SEIMBANG

Primer Sekunder
Mencari Cos Mencari Cos

P. pengukuran P . pengukuran
cos = cos =
3 . Vl . Ipratarata 3.Vp . Ipratarata

937 860
Cos = Cos = 3 x 187 x 1,533
3 x 385 x 1,42
cos =0,986 = 0,99 = 1

Maka Maka

P=3. Vp . Ip. cos P= 3 . Vl . Il . cos


P=3 x 223 x 1,42 x 0,986 3 324 1,54 1
P=941,15 W 859,46,2W

602

603 BEBAN TIDAK SEIMBANG

PRIMER SEKUNDER
Mencari Cos Mencari Cos

P. pengukuran P. pengukuran
cos = cos =
( Vp. Ip ) r + ( Vp . Ip ) s + ( Vp . Ip ) t ( Vp. Ip ) r + ( Vp . Ip ) s + ( Vp . Ip ) t

556 506
cos = cos =
( 224 x 0,9 )+ (224 x 1,12 ) +(224 x 0,62) ( 189 x 1,55 ) . ( 189 x 0,76 ) .(189 x 0,34)
556 506
cos = cos =
1024,32 500,8
cos =0,94 cos =1

Maka Maka
P= 3. Vl . Il . cos P= 3. Vl . Il . cos
3. 388. 0,88 . 0,94 3. 335. 0,883.1
555,37 W 517,199W
604

605 2. Losses

606
607
608
609 Losses=PinPout
610

Beban Setimbang Beban Tidak Setimbang


Losses=PinPout Losses=PinPout
= 937 860 = 556 506
= 77 = 50

611
612
613
614

615 3. Effisiensi

Pout
= X 100
Pin

616Perhitungan :

Pout
617 = X 100
Pin

860
618 x 100
937
619 91,7
620
621

622 4. Regulasi
(Vtanpa bebanV beban penuh)
623 VRegulasi= x 100
V beban penuh

624

625

626

BEBAN SEIMBANG BEBAN TIDAK SETIMBANG


VRegulasi= VRegulasi=

(Vtanpa bebanV bebanpenuh) (Vtanpa bebanV bebanpenuh)


x 100 x 100
V beban penuh V beban penuh
(345324) (345335)
VRegulasi= x 100 VRegulasi= x 100
345 345
6,48 2,99

627

628

629 5. Ketidakseimbangan Beban

IR+ Is + IT
630 Iratarata=
3

631 Dimana besarnya arus fasa dalam keadaan seimbang (I) sama dengan besarnya arus rata-rata, maka
632 koefisien a,b dan c diperoleh dengan :
IR
633 a=
I
IS
634 b=
I

IT
635 c=
I

636Pada keadaan seimbang, besarnya koefisien a,b dan c adalah I. Dengan demikian rata-rata ketidak
637seimbangan beban (dalam%) adalah

[ a1 ] + [ b1 ] + [ c1 ]
638 100
3
SEKUNDER
I Rata- rata :
IR+ Is + IT
Iratarata=
3
1,55+ 0,76+0,34

3
0,88 3

Mencari nilai a:
IR
a=
I
1,55
a=
0,883
a=1,755

Mencari nilai b :
IS
b=
I
0,76
b=
0,883
b=0,86

Mencari nilai c :
IT
c=
I
0,34
c=
0,883
c=0,385

Rata rata ketidak seimbangan beban :

[ a1 ] + [ b1 ] + [ c1 ]
100
3
[ 1,7551 ] + [ 0,861 ] + [ 0,3851 ]
100
3
50

639

640

641
642

643 Beban Setimbang


Input
Resistance V
I line V phase Cos P Hitungan Losses
Load Power line
122 937 1,426667 385 223 0,986075671 941,1500638 77
126 475 0,744333 386 223 0,95563651 475,8678008 38
584 231 0,414667 388 224 0,829917697 231,2615458 32
1407 113 0,286333 388 225 0,587934176 113,6329778 30,1
3900 60,4 0,283333 389 225 0,316769649 60,58219534 30,8
644
645

Output V
Effisiensi
P output I phase V line V phase Cos P Hitungan Regulation
860 1,533333 324 187 1,0 859,464 91,78% 6,48%
437 0,757 334 194 1,0 437,40974 92,00% 3,29%
199 0,336667 341 196 1,0 198,60977 86,15% 1,17%
82,9 0,139333 344 198 1,0 82,920053 73,36% 0,29%
29,6 0,049667 345 199 1,0 29,64355 49,01% 0,00%
646
647

648 Beban Tidak Setimbang

Input
Powe V V
p Cos P Hitungan Losses
Resistance r IL rata2 line phase
R1=12
R2=126 R3=584 388 224 0,940205 555,3711905 50
2 556 0,88 591,36
R1=12
R1=584 R2=1407 387 224 0,854529 270,9921429 33
6 272 0,47366 318,304
R1=58
R2=1407 R3=3900 387 223 0,642015 131,0998655 28
4 131 0,305 204,045
R1=12
R2=122 R3=584 386 224 0,943648 701,5664881 61
2 706 1,11333 748,16
R1=58
R2=1407 R3=584 387 223 0,773297 189,1440807 31
4 189 0,36533 244,408
649

Output V
Effisiensi
Power P V line V phase Cos P Hitungan Regulation
506 500,85 335 189 1,0 517,1998236 91,01% 2,99%
239 236,811 339 193 1,0 242,0834715 87,87% 1,77%
103 102,9 342 196 1,0 103,6411224 78,63% 0,88%
645 642,96 330 188 1,0 652,8909574 91,36% 4,55%
158 157,95 340 195 1,0 158,8642735 83,60% 1,47%
650

651

652
653

654 Faktor Ketidak Seimbangan Beban Sekunder

Ketidakseimbangan Beban
IR Is IT Irata-rata a b c %
0,8833333 1,75471 0,86037 0,38490
1,55 0,76 0,34 3 7 7 6 50%
0,75 0,33 1,83618 0,82151 0,34229 55,746
1 6 0,14 0,409 6 6 8 %
0,33 0,13 0,79428 0,28571 61,333
6 9 0,05 0,175 1,92 6 4 %
1,35087 1,35087 0,29824 46,784
1,54 1,54 0,34 1,14 7 7 6 %
0,33 0,13 0,33 1,24074 0,51111 1,24814 32,593
5 8 7 0,27 1 1 8 %
655

656 1. nalisa Hubungan antara Daya terhadap Effisiensi saat Load terhubung Y pada beban seimbang

657

Hubungan Daya Dengan Effisiensi


1000
900 937
860
800
700
600
500 P.input
475
Daya

400 437 P.out


300
200 231
199
100 113
82.9
60.4
29.6
0
40.00% 50.00% 60.00% 70.00% 80.00% 90.00% 100.00%
Effiisiensi
658
659 Grafik 4.1 Hubungan Daya vs Effisiensi Beban Seimbang Load terhubung Zigzag Y
660
661 Pada grafik 4.1 menunjukkan hubungan daya terhadap effisiensi saat Load terhubung Zigzag Y pada
662 beban seimbang. Daya yang besar disebabkan oleh load beban yang kecil, semakin kecil load beban
663 akan menyebabkan looses yang terjadi semakin kecil, ketika looses yang terjadi pada trafo kecil
664 maka secara otomatis effisiensi yang terjadi akan semakin besar akan semakin besar. Sehingga
665 dapat disimpulkan hubungan daya terhadap effisiensi adalah berbanding lurus.
666

667 2. Analisa Hubungan antara Daya terhadap Effisiensi saat Load terhubung Y pada beban tidak
668 seimbang.

669
Hubungan Daya Dengan Effisiensi
95.00%

90.00%
Input
85.00% Linear (Input)
Output
Linear (Output)
80.00%

75.00%

70.00%
0 100 200 300 400 500 600 700 800
670
671 Grafik 4.2 Hubungan Daya vs Effisiensi Beban tidak Seimbang Load terhubung Y
672

673

674 Pada grafik 4.2 hubungan antara Daya terhadap Effisiensi saat Load terhubung Zigzag Y pada beban
675 tidak seimbang. Dalam grafik 4.1 looses yang terjadi lebih kecil sehingga effisiensi menjadi lebih
676 baik. Grafik 4.2 terlihat tidak beraturan dikarenakan urutan besar kecilnya beban tidak tertata
677 dengan baik.

678 3. Analisa Hubungan antara Daya terhadap Regulasi Tegangan saat Load terhubung Zigzag Y pada
679 beban seimbang

680

Daya Dan Regulasi


1000
860
900
800
700
600
500 437
Output
Daya

400
300 199
200 82.9
10029.6
0
0.00% 1.00% 2.00% 3.00% 4.00% 5.00% 6.00% 7.00%
Regulasi
681
682 Grafik 4.3 Hubungan Daya vs Regulasi Tegangan beban seimbang Load terhubung Zigzag Y
683
684 Pada grafik 4.3 Hubungan antara Daya terhadap Regulasi Tegangan saat Load terhubung Zigzag Y
685 pada beban seimbang. Terlihat pada grafik bahwa semakin besar daya maka regulasi tegangan yang
686 terjadi juga semakin besar, dan semakin kecil daya regulasi tegangan juga semakin kecil. Pada grafik
687 4.3 nilai V line sekunder semakin kecil pada saat nilai daya menurun. Sehingga dapat disimpulkan
688 hubungan antara daya terhadap regulasi tegangan adalah berbanding lurus.
689 4. Analisa Hubungan antara Daya terhadap Regulasi Tegangan saat Load terhubung zigzag Y pada
690 beban tidak seimbang

691

Daya & Regulasi


700
643
600

500 505

400
Output
Daya

300
245
200
162
100 105

0
41.50% 42.00% 42.50% 43.00% 43.50% 44.00% 44.50% 45.00%
Regulasi
692
693 Grafik 4.4 Hubungan Daya vs Regulasi Beban Tidak Seimbang
694
695 Pada grafik 4.4 Hubungan antara Daya terhadap Regulasi Tegangan saat Load terhubung zigzag Y
696 pada beban tidak seimbang. Pada saat beban tidak seimbang pada dasarnya semakin besar daya
697 maka regulasi tegangan juga semakin besar, namun pada grafik terlihat tidak beraturan dikarenakan
698 urutuan besarnya load pada tabel pengamatan tidak beraturan. Pada data juga di dapatka nilai V
699 line sekunder yang semakin kecil pada saat daya menurun.

700
701 5. Hubungan Ketidak Setimbangan Dengan Daya (P)
702

Hubungan Ketidak Seimbangan Vs P


700
645
600
500 506
400
Output
Daya

300
239
200
158
100 103
0
30% 35% 40% 45% 50% 55% 60% 65%
Ketidak Seimbangan
703
704 4.5 Hubungan Ketidakseimbangan Vs P
705
706 Pada grafik 4.5 Hubungan antara Ketidakseimbangan terhadap daya Tegangan saat Load terhubung
707 zigzag Y pada beban tidak seimbang. Pada saat beban tidak seimbang pada dasarnya semakin turun
708 daya maka faktor ketidak seimbang semakin besar, namun pada grafik terlihat tidak beraturan
709 dikarenakan urutuan besarnya load pada tabel pengamatan tidak beraturan.
710
711 6. Hubungan P(perhitungan)Vs P(pengukuran) Beban setimbang

P(Perhitungan) Vs P(Pengukuran)
1000
937
900
860
800
700
600
500 475
437
400
300
200 199 231
100 82.9 113
29.6 60.4
0
0 100 200 300 400 500 600 700 800 900 1000
Input Output
712

713 Pada grafik diatas Hubungan antara P(perhitungan) terhadap P(pengukuran) Tegangan saat Load
714 terhubung zigzag Y pada beban seimbang. Pada saat beban seimbang pada grafik menunjukan
715 ketika semakin turun P(pengukuran) makaP(perhitungan) juga semakin turun. Karena untuk
716 mencari daya perhitungan saat di input :

717 P=3 Vp . Ip .Cos

718 7. Hubungan P(perhitungan)Vs P(pengukuran) Beban Tidak Setimbang

719

P(perhitungan) Vs P(pengukuran)
800
700 706
600
556
P(pengukuran)

500
400 Input
300 Output
272
200 189
100 131
0
0 100 200 300 400 500 600 700 800
P(perhitungan)
720

721 1.

722 Pada grafik 4.7 Hubungan antara P(perhitungan) terhadap P(pengukuran)Tegangan saat Load
723 terhubung zigzag Y pada beban tidak seimbang. Pada saat P(pengukuran) menunjukan penurunan
724 yaitu 556W,272W dan 131W dan P(perhitungan) menunjukan penurunan juga yaitu 556W,272W
725 dan 131W maka hubungan antara P(perhitungan) Vs P(pengukuran) berbanding lurus , namun pada
726 grafik terlihat tidak beraturan dikarenakan urutuan besarnya load pada tabel pengamatan tidak
727 beraturan.
728
729 BAB 5
730 KESIMPULAN
731
732 Transformator (trafo) ialah alat listrik yang berfungsi memindahkan daya listrik dari input ke output
733 atau dari sisi primer ke sisi sekunder. Pemindahan daya listrik dari primer ke sekunder disertai dengan
734 perubahan tegangan baik naik maupun turun. Secara umum, jenis-jenis trafo yang paling sering
735 digunakan pada rangkaian elektronika terbagi dua yaitu Transformatr step-up dan transformator step
736 down.
737
738 Prinsip kerja trafo adalah ketika kumparan primer dialiri arus AC (bolak-balik) maka akan
739 menimbulkan medan magnet di sekitar kumparan. Magnetisasi akan terjadi sepanjang inti besi pada
740 trafo dan akan merambat sampai di kumparan sekunder sehingga akan timbul GGL yang pada akhirnya
741 berupa voltase sebagai output.
742
743 Transformator isolasi memiliki lilitan sekunder yang berjumlah sama dengan lilitan primer, sehingga
744 tegangan sekunder sama dengan tegangan primer. Tetapi pada beberapa desain, gulungan sekunder
745 dibuat sedikit lebih banyak untuk mengkompensasi kerugian. Transformator seperti ini berfungsi
746 sebagai isolasi antara dua kalang. Untuk penerapan audio, transformator jenis ini telah banyak
747 digantikan oleh kopling kapasitor.
748
749 Pada trafo 3 fasa dengan hubungan Y ZigZag-Y memiliki nilai arus line sama dengan arus phase, akan
750 tetapi berbeda di tegangannya, di trafo 3 fase hubungan Y tegangan line = 3 tegangan phase.
751
752 Daya pada trafo 3 fase dipengaruhi oleh beban resistif, semakin kecil beban resistif yang diatasi trafo
753 maka daya yang dihasilkan trafo akan semakin besar contoh pada beban 122 ohm power yang
754 dihasilkan 937 watt dan pada beban 126 ohm power yang dihasilkan 475 watt. Effisiensi trafo juga
755 dipengaruhi oleh beban resistif, semakin kecil beban resistif maka nilai effisiensi trafo semakin besar
756 contoh pada beban 122 ohm effisiensi trafo 91,78% dan pada beban 126 ohm effisiensi trafo 92,00%.
757 Sehingga dapat disimpulkan nilai effisiensi benbanding lurus dengan daya dan berbanding terbalik
758 dengan beban resistif. Nilai regulasi tegangan pada trafo 3 fase semakin menurun dengan bertambahnya
759 beban resistif, dikarenakan nilai V line semakin meningkat ketika nilai beban bertambah contoh pada
760 beban 122 ohm dengan daya 860 watt di dapat Vline 324 V dan pada beban 126 ohm dengan daya 437
761 watt di dapat Vline 334 V. Pada keadaan beban tidak seimbang nilai ketidakseimbangan beban semakin
762 naik ketika total beban semakin naik contoh pada percobaan dengan total beban 10790 ohm di dapat
763 nilai ketidakseimbangan beban 50% dan pada percobaan dengan total beban 48905 ohm di dapat nilai
764 ketidakseimbangan beban 55,746%. Jadi dapat ditarik kesimpulan semakin besar beban maka
765 ketidakseimbangan beban juga semakin besar.
766
767 Contoh aplikasi transformator 3 fasa di kapal adalah Trafo step down pada generator, dalam hal ini
768 trafo berfungsi untuk menurunkan voltase dari generator sebelum di salurkan pada peralatan listrik di
769 kapal.
770

771