Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Selama rentang kehidupan manusia, telah terjadi banyak pertumbuhan dan
perkembangan dari mulai lahir sampai dengan meninggal dunia. Dari semua fase
perkembangan manusia tersebut, salah satu yang paling penting dan paling
menjadi pusat perhatian adalah masa remaja. Para orang tua, pendidik, dan para
lembaga profesional lainnya mencoba untuk menangani para remaja ini. Lalu ada
apakah di masa remaja ini? Seberapa besarkah pentingnya menangani para
remaja. Dan seberapa besar pengaruhya untuk kehidupan di masa depan individu
tersebut.
Masa remaja yang dimaksud merupakan periode transisi antara masa anak-
anak dan masa dewasa. Batasan usianya tidak ditentukan dengan jelas, sehingga
banyak para ahli berbeda dalam penentuan rentang usianya. Namun secara umum
dapat dikatakan bahwa masa remaja berawal dari usia 12 sampai akhir usia 18
ketika pertumbuhan fisik hampir lengkap. Pada masa ini perubahan terjadi sangat
drastis dan mengakibatkan terjadinya kondisi yang serba tanggung dan diwarnai
oleh kondisi psikis yang belum mantap.
Masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa.
Peralihan ini meliputi semua perkembangan yang di alami sebagai persiapan
memasuki masa dewasa, bahkan juga merupakan persiapan untuk membentuk
suatu keluarga, yang berarti menikah dan mempunyai anak. Masa remaja seperti
ini dapat dikatakan fase terakhir dari masa anak-anak sebelum memasuki masa
dewasa. Untuk siap memasuki kedewasaan, iapun harus mulai berkenalan dan
berhubungan dengan berbagai masalah orang dewasa. Secara biologis, remaja
memang telah memiliki kemampuan seperti orang dewasa, namun secara
psikologis mereka belum mendapatkan hak untuk menggunakan kemampuan
tersebut (Gunarsa, 2000).
Hukum di Indonesia menyatakan bahwa remaja adalah individu berusia 10
19 tahun. Penetapan usia remaja banyak variasinya, tetapi pada umumnya para
ahli menetapkan usia antara 12 20 tahun. Remaja adalah suatu masa dimana

4
individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual
sekundernya sampai mencapai kematangan seksual, individu mengalami
perkembangan psikologik dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa,
terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh menjadi keadaan
yang relatif mandiri. Remaja pada tingkat Sekolah Menengah Pertama berada
pada tingkat perkembangan yang disebut Masa Remaja atau Pubertas. Masa
remaja merupakan suatu fase perkembangan yang dinamis dalam kehidupan
seorang individu. Masa ini merupakan periode transisi dari masa anak ke masa
dewasa yang ditandai dengan percepatan perkembangan fisik, mental, emosional
dan sosial yang berlangsung pada dekade kedua kehidupan.
Dalam periode kehidupan ini, remaja dituntut untuk menuntaskan tugas-
tugas perkembangan yang khusus sebagai prasyarat untuk pemenuhan dan
kebahagiaan hidupnya. Apabila tugas itu dapat berhasil dituntaskan, akan
membawa kebahagiaan dan kesuksesan dalam menuntaskan tugas-tugas
berikutnya. Sementara apabila gagal, maka akan menyebabkan ketidakbahagiaan
pada diri individu yang bersangkutan, menimbulkan penolakan masyarakat dan
kesulitan dalam menuntaskan tugas-tugas perkembangan berikutnya.
1.2 Tujuan
a. Untuk mengetahui pengertian remaja.

b. Untuk mengetahui batasan usia remaja


c. Untuk mengetahui tugas-tugas perkembangan remaja
d. Untuk mengetahui kerawanan kerawanan masa remaja
e. Untuk mengetahui masalah-masalah pada remaja
f. Untuk mengetahui faktor-faktor yang melatarbelakangi masalah remaja.
g. Untuk mengetahui dampak dari masalah remaja.
h. Untuk mengetahui apa upaya untuk memecahkan masalah pada remaja.
1.3 Manfaat
Agar pengetahuan mahasiswa keperawatan bertambah mengenai masalah
perilaku anak dan remaja yang berhubungan dengan kesehatan yang terjadi di
masyarakat.

5
BAB II
KONSEP TEORI
2.1 Pengertian Anak dan Remaja
Periode usia antara 6-12 tahun merupakan masa peralihan dari pra-sekolah
ke masa Sekolah Dasar (SD). Masa ini juga dikenal dengan masa peralihan dari
kanak-kanak awal ke masa kanak-kanak akhir sampai menjelang masa pra
pubertas. Pada umumnya setelah mencapai usia 6 tahun perkembangan jasmani
dan rohani anak telah semakin sempurna. Pertumbuhan fisik berkembang pesat
dan kondisi kesehatannyapun semakin baik, artinya anak menjadi lebih tahan
terhadap berbagai situasi yang dapat menyebabkan terganggunya kesehatan
mereka.
Masa remaja merupakan salah satu periode dari perkembangan manusia.
Masa ini merupakan masa perubahan atau peralihan dari masa kanak-kanak ke
masa dewasa yang meliputi perubahan biologis, perubahan psikologis, dan
perubahan sosial. Remaja sering kali didefinisikan sebagai periode transisi antara
masa kanak-kanak ke masa dewasa, atau masa usia belasan tahun, atau seseorang
yang menunjukkan tingkah laku tertentu seperti susah diatur, mudah terangsang
perasaannya dan sebagainya. Kartini Kartono (1995: 148) masa remaja disebut
pula sebagai penghubung antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa.
Pada periode ini terjadi perubahan-perubahan besar dan esensial mengenai
kematangan fungsi-fungsi rohaniah dan jasmaniah, terutama fungsi seksual. Disisi
lain Sri Rumini dan Siti Sundari (2004: 53) menjelaskan masa remaja adalah
masa peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami
perkembangan semua aspek/fungsi untuk memasuki masa dewasa.
World Health Organization (WHO) mendefinisikan remaja dalam (Sarlito
Wirawan Sarwono, 2006: 7) adalah suatu masa ketika:
a. Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tandatanda
seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual.
b. Individu mengalami perkembangan psikologi dan pola identifikasi dari
kanak-kanak menjadi dewasa.

6
c. Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada
keadaan yang relatif lebih mandiri.
Berdasarkan beberapa pengertian remaja yang telah dikemukakan para
ahli, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa remaja adalah individu yang sedang
berada pada masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa dan
ditandai dengan perkembangan yang sangat cepat dari aspek fisik, psikis dan
sosial.
2.2 Batasan Usia Anak dan Remaja
Batasan usia anak sekolah adalah 6-12 tahun. . Pada umumnya setelah
mencapai usia 6 tahun perkembangan jasmani dan rohani anak telah semakin
sempurna. Pertumbuhan fisik berkembang pesat dan kondisi kesehatan pun
semakin baik, artinya anak menjadi lebih tahan terhadap berbagai situasi yang
dapat menyebabkan terganggunya kesehatan mereka.
Terdapat batasan usia pada masa remaja yang difokuskan pada upaya
meninggalkan sikap dan perilaku kekanak-kanakan untuk mencapai kemampuan
bersikap dan berperilaku dewasa. Menurut Kartini Kartono (1995: 36) dibagi tiga
yaitu:
a. Remaja Awal (12-15 Tahun)
Pada masa ini, remaja mengalami perubahan jasmani yang sangat
pesat dan perkembangan intelektual yang sangat intensif, sehingga minat
anak pada dunia luar sangat besar dan pada saat ini remaja tidak mau
dianggap kanak-kanak lagi namun belum bisa meninggalkan pola
kekanak-kanakannya. Selain itu pada masa ini remaja sering merasa sunyi,
ragu-ragu, tidak stabil, tidak puas dan merasa kecewa.
b. Remaja Pertengahan (15-18 Tahun)
Kepribadian remaja pada masa ini masih kekanak-kanakan tetapi
pada masa remaja ini timbul unsur baru yaitu kesadaran akan kepribadian
dan kehidupan badaniah sendiri. Remaja mulai menentukan nilai-nilai
tertentu dan melakukan perenungan terhadap pemikiran filosofis dan etis.
Maka dari perasaan yang penuh keraguan pada masa remaja awal ini
rentan akan timbul kemantapan pada diri sendiri. Rasa percaya diri pada

7
remaja menimbulkan kesanggupan pada dirinya untuk melakukan
penilaian terhadap tingkah laku yang dilakukannya. Selain itu pada masa
ini remaja menemukan diri sendiri atau jati dirnya.
c. Remaja Akhir (18-21 Tahun)
Pada masa ini remaja sudah mantap dan stabil. Remaja sudah
mengenal dirinya dan ingin hidup dengan pola hidup yang digariskan
sendiri dengan keberanian. Remaja mulai memahami arah hidupnya dan
menyadari tujuan hidupnya. Remaja sudah mempunyai pendirian tertentu
berdasarkan satu pola yang jelas yang baru ditemukannya.
2.3 Tugas-Tugas Perkembangan Anak dan Remaja
Tugas perkembangan anak usia sekolah adalah sebagai berikut:
a. Belajar ketangkasan fisik untuk bermain
b. Pembentukan sikap yang sehat terhadap diri sendiri sebagai
organism yang sedang
c. tumbuh
d. Belajar bergaul yang bersahabat dengan anak-anak sebaya
e. Belajar peranan jenis kelamin
f. Mengembangkan dasar-dasar kecakapan membaca, menulis, dan
berhitung
g. Mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan guna
keperluan kehidupan
h. sehari-hari
i. Mengembangkan kata hati moralitas dan skala nilai-nilai
j. Belajar membebaskan ketergantungan diri
k. Mengembangkan sikap sehat terhadap kelompok dan lembga-
lembaga
Tugas-tugas perkembangan remaja adalah sebagai berikut:
a. Remaja dapat menerima keadaan fisiknya dan dapat
memanfaatkannya secara
b. efektif. Sebagian besar remaja tidak dapat menerima keadaan
fisiknya. Hal tersebut terlihat dari penampilan remaja yang

8
cenderung meniru penampilan orang lain atau tokoh tertentu. Sikap
dan perilaku remaja yang demikian akan menyulitkan dirinya
sendiri, mungkin akan menarik diri atau lebih agresif, dsb.
c. Remaja dapat memperoleh kebebasan emosional dari orangtua.
Usaha remaja untuk memperoleh kebebasan emosional sering
disertai perilaku pemberontakan dan melawan keinginan orangtua.
Bila tugas perkembangan ini sering menimbulkan pertentangan
dalam keluarga dan tidak dapat diselesaikan di rumah, maka remaja
akan mencari jalan keluar dan ketenangan di luar rumah. Tentu saja
hal tersebut akan membuat remaja memiliki kebebasan emosional
dari luar orangtua sehingga remaja justru lebih percaya pada teman-
temannya yang senasip dengannya, yang pada gilirannya mereka
membuat gang sebaya yang senasip dan sepenanggungan. Jika
orangtua tidak menyadari akan pentingnya tugas perkembangan ini,
maka remaja dalam kesulitan besar.
d. Remaja mampu bergaul lebih matang dengan kedua jenis kelamin.
Pada masa remaja, remaja sudah seharusnya menyadari akan
pentingnya pergaulan. Remaja yang menyadari akan tugas
perkembangan yang harus dilaluinya adalahmampu bergaul dengan
kedua jenis kelamin maka termasuk remaja yang sukses memasuki
tahap perkembangan ini. Ada sebagian besar remaja yang tetap tidak
berani bergaul dengan lawan jenisnya sampai akhir usia remaja. Hal
tersebut menunjukkan adanya ketidakmatangan dalam tugas
perkembangan remaja tersebut.
Ciri-ciri khusus remaja:
a. Pertumbuhan fisik sangat cepat;
b. Emosinya tidak stabil;
c. Perkembangan seksual sangat menonjol;
b. Cara berfikirnya bersifat kausalitas;
c. Terikat erat dengan kelompoknya.

9
2.4 Kerawanan-Kerawanan Masa Anak dan Remaja
Anak-anak usia sekolah dasar adalah suatu generasi yang memiliki
kerawanan (labil dalam emosi dan aktivitas) yang selalu mengiringi dan
mempengaruhi pertumbuhan serta perkembangan, baik kepribadian maupun
jasmani mereka. Kerawanan yang dimaksud disini meliputi kerawanan yang
berhubungan dengan kepribadian mereka seperti sosial dan emosional. Sedangkan
kerawanan yang berhubungan dengan pertumbuhan jasmani mereka seperti
fungsi-fungsi organ tubuh.
Kerawanan-kerawanan masa remaja adalah:
a. Masa Pubertas:
1. Kerawanan fisik:
Mengalami ketidak seimbangan sebagai akibat pembentukan hormon
pertumbuhan dan hormon gonadotropik pada periode pubertas,
pembentukan jumlah hormon pertumbuhan yang kurang pada periode
anak akhir dan pubertas menyebabkan individu mempunyai bentuk
yang kecil dibandingkan kelompok seusianya (tubuh kecil tetapi
penampilan matang).
2. Kerawanan psikologik:
Remaja yang tidak dipersiapkan dalam menghadapi perubahan fisik
dan psikologik, belum siap menerima keadaan dirinya, sehingga
perubahan yang dialami dapat merupakan pengalaman yang traumatis,
sehingga mereka memperlihatkan sikap-sikap yang kurang
menyenangkan lingkungan.
b. Masa Remaja:
1. Kerawanan fisik.
Yaitu adanya kematian yang lebih disebabkan karena kecelakaan atau
bunuh diri;
2. Kerawanan psikologik.
Yaitu dialaminya kegagalan dalam menjalani transisi menuju periode
dewasa.

10
Dengan mengetahui tugas perkembangan, ciri, dan kerawanan-kerawanan
yang seringkali muncul pada masa remaja diharapkan para orangtua, pendidik,
psikolog, dan remaja itu sendiri memahami hal-hal yang seharusnya dilalui pada
masa remaja ini, sehingga apabila remaja diarahkan dan dibimbing akan dapat
melalui masa remaja ini dengan baik, maka selanjutnya remaja akan tumbuh sehat
kepribadian dan jiwanya. Dengan demikian perkelahian dan tawuran pelajar yang
kian memprihatinkan tidak perlu terjadi. Namun kalau hal ini ternyata terjadi,
maka perlu dicari solusi pemecahannya, diantaranya adalah program intervensi
psikologis terhadap mereka yang tepat sasaran.
2.5 Isu Terkait Dengan Permasalahan Anak dan Remaja
a. Kekerasan seksual pada anak
Kekerasan seksual terhadap anak-anak usia sekolah dasar telah
terjadisejak jaman dahulu, tetapi pada beberapa tahun belakangan ini, khus
usnya sejak terjadinya kemajuan yang pesat dalam dunia teknologi
komunikasi dan informasi, kekerasanseksual terhadap anak lebih sering
terjadi. Di Amerika, setiap tahun dilaporkan ratusankasus kekerasan
seksual terhadap anak. Di Indonesia, dari media massa kita
dapatmemperoleh informasi bahwa kekerasan seksual terhadap anak dan
bentuk-bentu kkekerasan yang lain hampir terjadi di setiap hari.
b. Seks bebas pada remaja

Hasil penelitian di berbagai daerah di Indonesia menunjukkan


peningkatan perilaku seksual para remaja. Sebagian dari remaja
Indonesia(persentasi bervariasi) mulai melakukan hubungan seksual
dengan lawan jenis sebelum menikah. Walaupun belum separah di
Amerika yang menunjukkan angka 80% laki-laki dan 70% perempuan
telah melakukan hubungan seksual sebelum nikah. Mulai muncul kasus-
kasus remaja melahirkan anak di luar nikah.

Ditemukan sejumlah penyakit seksual yang sebagian diidap oleh


kaum remaja. Persoalan hubungan seksual beresiko yang dialami oleh para
remaja masa kini dapat diuraikan sebagai berikut. Akhir-akhir ini muncul

11
sejumlah peristiwa kehidupan remaja yang mengarah ke keadaan yang
memprihatinkan. Sejumlah peristiwa itu meliputi antara lain: perbuatan
agresif, penyimpangan seksual, dan pergeseran nilai-nilai pergaulan.
Berkaitan dengan penyimpangan perilaku seksual, kondisi-kondisi
penyimpangan perilaku ini semakin memprihatinkan, sebab bersamaan
dengan isu tersebut muncul isu penyebaran HIV/AIDS di berbagai
kalangan. Sementara ini, data menunjukkan bahwa penyebaran HIV/AIDS
lebih banyak terjadi akibat hubungan seksual. Perilaku seksual dan
penyebaran HIV/AIDS memiliki hubungan yang erat. Hasil-hasil
penelitian, menunjukkan bahwa perilaku seksual merupakan sumber pokok
dari penyebaran HIV/AIDS.

Di kalangan remaja, ada sejumlah bentuk hubungan seks sebelum


menikah, antara lain hubungan seks dengan pacar, berganti-ganti pasangan
karena suka sama suka, hubungan seks untuk memperoleh imbalan uang
atau materi. Alasan-alasan yang dikemukakan oleh remaja bahwa mereka
melakukan hubungan seksual sebelum menikah antara lain: ingin
menunjukkan bukti kesetiaan kepada pacar, kecewa karena dikhianati
pacar, ingin mendapatkan pengakuan sebagai remaja modern, mencari
uang dalam rangka mendapatkan simbul-simbul modernitas, dan
sebagainya.

Hasil penelitian di berbagai daerah di Indonesia menunjukkan


peningkatan perilaku seksual para remaja. Sebagian dari
remajaIndonesia(persentasi bervariasi) mulai melakukan hubungan seksual
dengan lawan jenis sebelum menikah. Walaupun belum separah di
Amerika yang menunjukkan angka 80% laki-laki dan 70% perempuan
telah melakukan hubungan seksual sebelum nikah. Mulai muncul kasus-
kasus remaja melahirkan anak di luar nikah.

12
Ditemukan sejumlah penyakit seksual yang sebagian diidap oleh
kaum remaja. Persoalan hubungan seksual beresiko yang dialami oleh para
remaja masa kini dapat diuraikan sebagai berikut. Akhir-akhir ini muncul
sejumlah peristiwa kehidupan remaja yang mengarah ke keadaan yang
memprihatinkan. Sejumlah peristiwa itu meliputi antara lain: perbuatan
agresif, penyimpangan seksual, dan pergeseran nilai-nilai pergaulan.
Berkaitan dengan penyimpangan perilaku seksual, kondisi-kondisi
penyimpangan perilaku ini semakin memprihatinkan, sebab bersamaan
dengan isu tersebut muncul isu penyebaran HIV/AIDS di berbagai
kalangan. Sementara ini, data menunjukkan bahwa penyebaran HIV/AIDS
lebih banyak terjadi akibat hubungan seksual. Perilaku seksual dan
penyebaran HIV/AIDS memiliki hubungan yang erat. Hasil-hasil
penelitian, menunjukkan bahwa perilaku seksual merupakan sumber pokok
dari penyebaran HIV/AIDS.

Di kalangan remaja, ada sejumlah bentuk hubungan seks sebelum


menikah, antara lain hubungan seks dengan pacar, berganti-ganti pasangan
karena suka sama suka, hubungan seks untuk memperoleh imbalan uang
atau materi. Alasan-alasan yang dikemukakan oleh remaja bahwa mereka
melakukan hubungan seksual sebelum menikah antara lain: ingin
menunjukkan bukti kesetiaan kepada pacar, kecewa karena dikhianati
pacar, ingin mendapatkan pengakuan sebagai remaja modern, mencari
uang dalam rangka mendapatkan simbul-simbul modernitas, dan
sebagainya.

2.6 Masalah Pada Anak dan Remaja


Secara garis besar, masalah yang dihadapi anak dapat digolongkan
menjadi empat, yaitu masalah-masalah yang berkaitan dengan keadaan fisik,
psikis, sosial, serta kesulitan belajar.
a. Fisik

13
Perkembangan aspek fisik terkait dengan keutuhan dan
kemampuan fungsi panca indera anak, kemampuan melakukan
gerakangerakan sesuai perkembangan usianya serta kemampuan
mengontrol pembuanga. Anak yang mengalami hambatan dalam hal-hal
tersebutdapat dikatakan mengalami masalah secara fisik. Lebih lanjut
permasalahan-permasalahan fisik tersebut adalah sebagai berikut:
1. Gangguan fungsi pancaindera
2. Cacat tubuh
3. Kegemukan (obesitas)
4. Gangguan gerak peniruan (stereotipik
5. Kidal
6. Gangguan Kesehatan (penyakit)
7. Hiperaktif
8. Neuropati
9. Ngompol (enuresis)
10. Buang air besar di sembarang tempat (encopresis)
11. Gagap
12. Gangguan perkembangan bahasa
b. Psikis
1. Permasalahan psikis anak terkait dengan kemampuan psikologis
2. yang dimilikinya atau ketidakmampuan mengekspresikan dirinya
dalam
3. kondisi yang tidak normal. Beberapa permasalahan psikis yang
seringkali
4. dialami anak adalah sebagai berikut.
5. Gangguan konsentrasi
6. Inteligensi (baik tinggi maupun rendah)
7. Berbohong
8. Emosi(perasaan takut, cemas, marah, sedih, dan lain-lain)
c. Sosial

14
Perkembangan sosial anak berhubungan dengan kemampuan anak
dalam berinteraksi dengan teman sebaya, orang dewasa, atau lingkungan
pergaulan yang lebih luas. Dengan demikian, permasalahan anak dalam
bidang sosial juga berkaitan dengan pergaulan atau hubungan sosial, yang
meliputi perilaku-perilaku sebagai berikut.
1. Tingkah laku agresif
2. Daya suai kurang
3. Pemalu
4. Anak manja
5. Negativisme
6. Perilaku berkuasa
7. Perilaku merusak
d. Kesulitan Belajar
Kesulitan belajar pada anak dapat dimaknai sebaga
ketidakmampuan anak dalam mencapai taraf hasil belajar yang sudah
ditentukan dalam batas waktu yang telah ditetapkan dalam program
kegiatan belajar, sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
Beberapa perilaku bermasalah pada remaja adalah sebagai berikut:
a. Kenakalan, kejahatan, dan perkelahian

Banyak remaja yang melakukan pelanggaran lalu lintas.


Pelanggaran tersebut terdiri atas tidak lengkapnya surat-surat (SIM dan
STNK), melanggar rambu-rambu lalu lintas, kurangnya perlengkapan
sepeda motor, tidak memakai helm pengaman, berboncengan sepeda motor
lebih dari dua orang. Banyaknya kaum muda berusia antara 10 dan 17
tahun ditangkap sebagai akibat perbuatan perkosaan, perampokan,
pembunuhan, atau penodongan.

Untuk mengenali bagaimana perilaku di atas terjadi, dalam bahasan


ini akan diuraikan mengenai perilaku agresif remaja. Agresi dan kekerasan
biasanya dikaitkan dengan kejahatan, pembunuhan, pemerkosaan,

15
penyerangan, dan perang. Perilaku-perilaku tersebut bisa jadi berskala
besar (antar negara, misalnya) dan bisa terjadi pula pada skala kecil (dalam
keluarga, antara suami dan isteri, antara ayah dan anak, antara ibu dan
anak, dan antara anak dengan anak lainnya, antar siswa dan guru, antar
individu). Oleh karena luasnya cakupan hakekat perilaku agresif, maka
dalam kajian ini akan dibahas dan ditentukan hakekat perilaku agresif yang
dijadikan sasaran penelitian.

Perilaku agresif telah lama menjadi salah satu kajian psikologi.


Hampir semua aliran psikologi membahas hakekat perilaku agresif sesuai
dengan orientasi masing-masing. Fromm (2001), misalnya, sebagai
pengikut psikoanalisis membahas perilaku agresif dari sudut
pandang instinctive drive. Perilaku agresif merupakan sesuatu yang
bersumber dari dunia dalam atau dari alam ketidaksadaran manusia.

Apakah yang dimaksud dengan perilaku agresif? Salah satu


pengertian perilaku agresif dikemukakan oleh Buss (1961:1) yaitu a
response that delivers noxious stimuli to another organism. Agresi
merupakan perilaku yang menyebabkan kerugian bagi orang lain. Tekanan
dari pengertian tersebut terletak pada tindakan dan bukan pada akibat yang
ditimbulkan dari tindakan tersebut.

Sejumlah penelitian menunjukkan reaksi agresif dapat


dikelompokkan menjadi empat bentuk, yaitu perilaku agresif langsung,
agresif tidak langsung, agresif yang dialihkan, dan berbagai reaksi yang
tidak tampak agresif. Hasil penelitian Averill, dalam Sears, Freedman,
Peplau (1985) menunjukkan bahwa serangan dan frustrasi cenderung
membuat orang menjadi marah dan bertindak agresif. Namun demikian,
secara rinci ternyata reaksi atas kemarahan itu dapat pula berbentuk
perilaku tenang. Hanya sekitar 10 persen orang berperilaku agresif fisik,

16
49 persen bereaksi secara verbal, dan bahkan kebanyakan dari mereka (60
persen) tidak menunjukkan perilaku agresif langsung.

Perilaku agresif langsung. Reaksi agresif dapat diekspresikan


dalam tindakanlangsung.Ada tiga bentuk reaksi agresif langsung, yaitu (1)
reaksi agresif verbal atau simbolik, (2) penolakan atau pengabaian
kebaikan, (3) agresif fisik.

Perilaku agresif tidak langsung. Perilaku agresif tidak langsung


dilakukan dalam bentuk tertuju pada sasaran tetapi melalui fihak lain. Dua
bentuk perilaku agresif tidak langsung yang biasanya dilakukan orang
yaitu (1) memberitahu pihak ketiga untuk membalas, (2) merusak sesuatu
yang memiliki nilai penting bagi sasaran perilaku agresif.

Perilaku agresif yang dialihkan. Bentuk ketiga dari perilaku


agresif ditujukan pada sasaran lain dari sasaran yang sebenarnya.Ada dua
macam perilaku agresif yang dialihkan yaitu (1) perilaku agresif yang
dialihkan terha-dap obyek bukan manusia, dan (2) perilaku agresif
dialihkan kepada orang lain.

b. Penyalahgunaan obat

Semakin banyak anak muda menggunakan obat-obat


terlarang.Semakin banyak anak muda yang minum minuman beralkohol.
Semakin tinggi usia remaja semakin banyak yang terlibat. Bahkan semakin
tinggi usia disinyalir minum minuman beralkohol sehari-hari. Semakin
banyak anak-anak muda yang menghisap rokok sejak anak-anak usia SMP
bahkan disinyalir banyak yang sudah mengkonsumsi rokok. Mengapa
banyak orang, termasuk remaja menggunakan obat-obat terlarang? Sejak
awal manusia selalu berusaha untuk menopang dan melindungi diri sendiri
melalui menggunakan obat-obatan yang mampu mempengaruhi sistem
syaraf sehingga menimbulkan kesenangan.

17
Dalam banyak hal dengan menggunakan obat-obat terlarang
memudahkan orang untuk mengadakan penyesuaian diri dengan
lingkungan. Mengapa orang merokok, minum minuman keras, dan
mengkonsumsi obat terlarang? Mereka, pemakai, menyatakan bahwa
dengan itu membuat mereka mampu menyesuaikan diri, mampu mengusir
kebosanan, mampu mengatasi rasa lelah. Demikianpun remaja, mereka
menggunakan itu semua untuk menghindar lari dari kehidupan yang
semakin keras.

Apa yang dilakukan orang, termasuk remaja, dengan


mengkonsumsi rokok, alkohol, dan obat terlarang harus dibayar mahal.
Mereka mengalami kecanduan (addiction) terhadap barang-barang
tersebut. Secara ekonomis mereka harus mengeluarkan biaya yang tidak
sedikit jumlahnya dan ditinjau dari kesehatan fisik mereka akan menjadi
rapuh. Kecanduan terjadi ketika tubuh mengalami ketergantungan kepada
obat-obatan tersebut. Apabila mereka diputus dari konsumsi obat tersebut
maka ia akan mengalami rasa sakit yang hebat.

c. Kegagalan Akademik

Banyak anak muda yang drop out dari sekolah setiap tahunnya.
Dari antara 100% anak sekolah dasar hanya sekitar 60% melanjutkan ke
SMP, dari lulusan SMP hanya 40% yang masuk SMA atau SMK,
sedangkan lulusan SMA dan SMK yang masuk ke perguruan tinggi hanya
11%. Banyak anak remaja yang mengulang kelas. Atas dasar permasalahan
di atas, dalam pembahasan ini akan dikemukakan upaya pendidikan yang
seharusnya dilakukan pada saat ini. Dalam persaingan global saat ini tidak
dapat tidak pendidikan harus mempersiapkan anak-anak muda untuk
menjangkau standar tinggi. Untuk maksud itu, dalam pendidikan sekolah
diperkenalkan asesmen otentik.

18
Tujuan utama pendidikan adalah menyiapkan anak-anak muda
untuk hidup independen, produktif, dan bertanggung jawab pada abad 21.
Untuk mencapai maksud tersebut, syaratnya setiap anak muda perlu
memiliki penguasaan tuntas akan pengetahuan dan
keterampilan. Academic excellence merupakan paspor menjadi warga
negara yang bertanggung jawab, mengambil keputusan secara arif, dan
puas di pekerjaaannya.

d. Perilaku seksual beresiko

Dalam wawancara televisi (RCTI) pada acara Buah Bibir tanggal


13 April 1998 jam 22.00, seorang mahasiswi mengungkapkan hal-hal
sebagai berikut: (1) hubungan seks pertama kali dilakukan pada saat
sekolah SLTP, kemudian hamil dan digugurkan dengan pertolongan lewat
dukun, (2) pada saat itu (SLTP) tidak tahu bahwa melakukan berhubungan
seks dapat berakibat hamil, (3) hubungan seks dilakukan berulang kali
sampai akhirnya hamil yang kedua, kemudian digugurkan, (4)
berhubungan seks dengan pacar dilakukan demi cinta, di samping itu,
hubungan seks dilakukan karena orang tua tidak setuju ia berpacaran,
mengingat adanya perbedaan agama di antara mereka, dan (5) hamil yang
ketiga dilakukan untuk memaksa orang tua menyetujui pernikahan yang
didahului dengan kawin lari.

Penelitian di Amerika tentang perilaku seksual remaja menyatakan


bahwa 50% remaja perempuan dan 60% remaja laki-laki usia 15-16 tahun
pernah melakukan hubungan seks (Tenzer, 1994). Demikian pula
penelitian yang dilakukan Kinsey, Pomey dan Martin (1965) menyatakan
bahwa remaja usia 16 sampai 20 tahun pernah melakukan hubungan seks
sebelum menikah, untuk pria sebanyak 75% dan wanita sebanyak 29%.

19
Di Indonesia, penelitian yang dilakukan Universitas Gajah Mada di
kota Manado mengenai determinan pengetahuan, sikap, dan praktik
perilaku seksual menghasilkan temuan bahwa 26,6% pernah mengadakan
hubungan seks, 5,3% remaja pria pernah menghamili, dan 2,1% remaja
wanita pernah hamil (Radjah, 1999). Berbagai perilaku seksual yang
dilakukan para remaja usia sekolah menengah tersebut sangat
membahayakan karena dapat menimbulkan penyakit. Data penderita PMS
(penyakit menular seksual) di RSUD Dr. Saiful Anwar Malang sebanyak
25,6% adalah pelajar/mahasiswa, terdiri dari 122 orang pria dan 18 orang
wanita (Cholis, 1990). Dapat diprediksi bahwa saat ini keadaan tersebut
menjadi meningkat.

e. Masalah Emosional

Lebih dari 15% anak muda mengalami masalah-masalah emosional


serius yang memerlukan treatment khusus. Sekitar 20% remaja mengalami
gangguan depresi. Lebih dari 20% remaja putri mengalami gangguan
perilaku makan, dan sebagian daripadanya mengalami anorexic. Dalam
pembicaraan sehari-hari persoalan emosional dikenal dengan sebutan
stress. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan stres dan bagaimana
mengelolanya? Pada bagian ini akan dikemukakan secara khusus
mengenai hakekat stres tersebut.

Stres itu merupakan baju dan air matanya pengalaman fisik kita
ketika menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang terus-menerus
berubah. Stres memiliki pengaruh fisik dan emosi, dan dapat menciptakan
perasaan positif dan negatif. Pengaruh positif, misalnya: stres membantu
mendorong kita untuk berbuat, menghasilkan kesadaran baru dan
perspektif baru. Pengaruh negatif dapat berupa perasaan curiga, menolak,
marah, dan depresi yang selanjutnya dapat mengarah ke masalah kesehatan

20
seperti sakit kepala, sakit perut, sakit kulit, insomnia, borok, tekanan darah
tinggi, sakit hati, dan stroke.

Peristiwa seperti ditinggal mati orang yang dicintai, kelahiran bayi,


promosi pekerjaan, hubungan dengan teman baru, semuanya dapat
membuat kita mengalami stres, karena kita harus mengadakan penyesuaian
diri kembali dalam kehidupan kita. Dalam proses penyesuaian diri
terhadap berbagai keadaan tersebut, stres akan membantu atau
menghambat kita bergantung pada bagaimana kita mereaksinya.
Menghadapi stres, ada dua kemungkinan reaksi. Pertama, menghadapi
stres dengan jalan mengurangi atau membatasi
(reduction atau elimination). Kedua, menghadapi stres melalui
mengelolanya (management).

2.7 Faktor-Faktor yang Melatarbelakangi Masalah Anak dan Remaja

Terdapat beberapa faktor penyebab permasalahan pada anak, baik yang


bersifat intrinsik (berasal dari diri anak sendiri) maupun ekstrinsik (berasal dari
luar diri anak). Secara umum, faktor-faktor tersebut adalah:

a. pembawaan, yakni anak dengan semua keadaan yang ada pada dirinya;
b. lingkungan keluarga, mencakup pola asuh orang tua, keadaan sosial
ekonomi keluarga, dan lain-lain;
c. lingkungan sekolah, meliputi cara mengajar guru, proses belajar mengajar,
alat bantu, kurikulum, dan lain-lain);
d. masyarakat, mencakup pergaulan, norma, adat istiadat, dan lain-lain.

Faktor-faktor yang melatar belakangi terjadinya masalah remaja adalah


sebagai berikut :

a. Kurangnya perhatian dari orang tua, serta kurangnya kasih sayang.

21
Keluarga merupakan unit sosial terkecil yang memberikan fondasi
primer bagi perkembangan anak. Sedangkan lingkungan sekitar dan
sekolah ikut memberikan nuansa pada perkembangan anak. Karena itu
baik-buruknya struktur keluarga dan masyarakat sekitar memberikan
pengaruh baik atau buruknya pertumbuhan kepribadian anak. Dr. Kartini
Kartono juga berpendapat bahwasannya faktor penyebab terjadinya
masalah remaja antara lain :

1. Anak kurang mendapatkan perhatian, kasih sayang dan tuntunan


pendidikan orang tua, terutama bimbingan ayah, karena ayah dan
ibunya masingmasing sibuk mengurusi permasalahan serta konflik
batin sendiri.
2. Kebutuhan fisik maupun psikis anakanak remaja menjadi tidak
terpenuhi. Keinginan dan harapan anakanak tidak bisa tersalur
dengan memuaskan, atau tidak mendapatkan kompensasinya.
3. Anak tidak pernah mendapatkan latihan fisik dan mental yang sangat
diperlukan untuk hidup normal. Mereka tidak dibiasakan dengan
disiplin dan kontrol-diri yang baik. Maka dengan demikian perhatian
dan kasih sayang dari orang tua merupakan suatu dorongan yang
berpengaruh dalam kejiwaan seorang remaja dalam membentuk
kepribadian serta sikap remaja sehari-hari. Jadi perhatian dan kasih
sayang dari orang tua merupakan faktor penyebab terjadinya masalah
remaja.
b. Minimnya pemahaman tentang keagamaan.
Di dalam kehidupan berkeluarga kurangnya pembinaan agama juga
menjadi salah satu faktor terjadinya masalah remaja Dalam pembinaan
moral, agama mempunyai peranan yang sangat penting karena nilai-nilai
moral yang datangnya dari agama tetap tidak berubah karena perubahan
waktu dan tempat. Sebenarnya pemahaman tentang agama sebaiknya
dilakukan semenjak kecil, yaitu melalui kedua orang tua dengan cara
memberikan pembinaan moral dan bimbingan tentang keagamaan, agar

22
nantinya setelah mereka remaja bisa memilah baik buruk perbuatan yang
ingin mereka lakukan sesuatu di setiap harinya. Dalam masyarakat
sekarang yang sudah begitu mengagungkan ilmu pengetahuan, kaidah-
kaidah moral dan tata susila yang dipegang teguh oleh orang-orang dahulu
menjadi tertinggal dibelakang. Dan didalam masyarakat yang telah terlalu
jauh dari agama, kemerosotan moral orang dewasa sudah lumrah terjadi.
Kemerosotan moral, tingkah laku dan perbuatan perbuatan orang dewasa
yang tidak baik menjadi contoh atau tauladan bagi anak-anak dan remaja
sehingga berdampak timbulnya masalah remaja.
c. Pengaruh dari pada lingkungan sekitar
Pengaruh budaya barat serta pergaulan dengan teman sebayanya
yang sering mempengaruhinya untuk mencoba dan akhirnya malah
terjerumus ke dalamnya. Di dalam kehidupan bermasyarakat, remaja
sering melakukan keonaran dan mengganggu ketentraman masyarakat
karena terpengaruh dengan budaya barat, pergaulan dengan teman
sebayanya yang mana sering mempengaruhi untuk mencoba. Sebagai
mana kita ketahui bahwa para remaja sangat senag dengan gaya hidup
yang baru tanpa melihat faktor negatifnya. Karena dianggap ketinggalan
zaman jika tidak mengikutinya.
2.8 Dampak yang Ditimbulkan Masalah Anak dan Remaja
Setiap anak yang lahir ke dunia, sangat rentan dengan berbagai masalah.
Masalah yang dihadapi anak, terutama anak usia dini, biasanya berkaitan dengan
gangguan pada proses perkembangannya. Bila gangguan tersebut tidak segera
diatasi maka akan berlanjut pada fase perkembangan berikutnya. Pada gilirannya,
gangguan tersebut dapat menghambat proses perkembangan anak yang optimal.
Pada remaja dampak yang di timbulkan akibat masalah yang di alami oleh para
remaja adalah:
a. Bagi diri remaja itu sendiri
Akibat dari masalah yang remaja alami akan berdampak bagi
dirinya sendiri dan sangat merugikan baik fisik dan mental, walaupun
perbuatan itu dapat memberikan suatu kenikmatan akan tetapi itu semua

23
hanya kenikmatan sesaat saja. masalah yang dialami berdampak bagi fisik
yaitu seringnya terserang berbagai penyakit karena karena gaya hidup
yang tidak teratur. Sedangkan dalam segi mental maka yang mengalami
masalah remaja tersebut akan mengantarnya kepada memtal-mental yang
lembek, berfikirnya tidak stabil dan keperibadiannya akan terus
menyimpang dari segi moral dan endingnya akan menyalahi aturan etika
dan estetika. Dan hal itu kan terus berlangsung selama tidak ada yang
mengarahkan.
b. Bagi keluarga
Anak merupakan penerus keluarga yang nantinya dapat menjadi
tulang punggung keluarga apabila orang tuanya tidak mampu lagi bekerja.
Dan oleh para orang tuanya apabila anaknya berkelakuan menyimpang
dari ajaran agama akan berakibat terjadi ketidak harmonisan didalam
kekuarga, komunikasi antara orang tua dan anak akan terputus. Dan
tentunya ini sangat tidak baik, Sehingga mengakibatkan anak remaja
sering keluar malam dan jarang pulang serta menghabiskan waktunya
bersama teman-temannya untuk bersenang-senang dengan jalan minum-
minuman keras, mengkonsumsi narkoba dan narkotika. Dan menyebabkan
keluarga merasa malu serta kecewa atas apa yang telah dilakukan oleh
remaja. Yang mana kesemuanya itu hanya untuk melampiaskan rasa
kekecewaannya saja terhadap apa yang terjadi dalam kehidupannya.
c. Bagi lingkungan masyarakat
Di dalam kehidupan bermasyarakat sebenarnya remaja sering
bertemu orang dewasa atau para orang tua, baik itu ditempat ibadah
ataupun ditempat lainnya, yang mana nantinya apapun yang dilakukan
oleh orang dewasa ataupun orang tua itu akan menjadi panutan bagi kaum
remaja. Dan apabila remaja sekali saja berbuat kesalahan dampaknya akan
buruk bagi dirinya, dan keluarga. Sehingga masyarakat menganggap
remajalah yang sering membuat keonaran, mabuk-mabukkan ataupun
mengganggu ketentraman masyarakat mereka dianggap remaja yang
memiliki moral rusak. Dan pandangan masyarakat tentang sikap remaja

24
tersebut akan jelek dan untuk merubah semuanya menjadi normal kembali
membutuhkan waktu yang lama dan hati yang penuh keikhlasan.

2.9 Upaya Pemecahan Masalah Anak dan Remaja


Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan dalam upaya untuk
mencegah semakin meningkatnya masalah yang terjadi pada remaja, yaitu antara
lain :
a. Peran Orangtua
1. Menanamkan pola asuh yang baik pada anak sejak prenatal dan balita
2. Membekali anak dengan dasar moral dan agama
3. Mengerti komunikasi yang baik dan efektif antara orangtua anak
4. Menjalin kerjasama yang baik dengan guru
5. Menjadi tokoh panutan dalam perilaku maupun menjaga lingkungan
yang sehat
6. Menerapkan disiplin yang konsisten pada anak Hindarkan anak dari
NAPZA
b. Peran Guru
1. Bersahabat dengan siswa
2. Menciptakan kondisi sekolah yang nyaman
3. Memberikan keleluasaan siswa untuk mengekspresikan diri pada
kegiatan ekstrakurikuler
4. Menyediakan sarana dan prasarana bermain dan olahraga
5. Meningkatkan peran dan pemberdayaan guru BP
6. Meningkatkan disiplin sekolah dan sangsi yang tegas
7. Meningkatkan kerjasama dengan orangtua, sesama guru dan sekolah
lain
8. Meningkatkan keamanan terpadu sekolah bekerjasama dengan Polsek
setempa
9. Mengadakan kompetisi sehat, seni budaya dan olahraga antar sekolah

25
10. Menciptakan kondisi sekolah yang memungkinkan anak berkembang
secara sehat adalah hal fisik, mental, spiritual dan sosial
11. Meningkatkan deteksi dini penyalahgunaan NAPZA
c. Peran Pemerintah dan masyarakat
1. Menghidupkan kembali kurikulum budi pekerti
2. Menyediakan sarana/prasarana yang dapat menampung agresifitas
anak melalui olahraga dan bermain
3. Menegakkan hukum, sangsi dan disiplin yang tegas
4. Memberikan keteladanan
5. Menanggulangi NAPZA, dengan menerapkan peraturan dan
hukumnya secara tegas
6. Lokasi sekolah dijauhkan dari pusat perbelanjaan dan pusat hiburan
Peran Media
7. Sajikan tayangan atau berita tanpa kekerasan (jam tayang sesaui usia)
8. Sampaikan berita dengan kalimat benar dan tepat (tidak provokatif)
9. Adanya rubrik khusus dalam media masa (cetak, elektronik) yang
bebas biaya khusus untuk remaja Saat ini masih sedikit klinik khusus
kesehatan remaja, sehingga para remaja yang memiliki masalah
psikososial diperiksakan kepada dokter ahli jiwa psiakater terdekat.
Peran Puskesmas yang kini sudah mengakar di masyarakat bisa
dikembangkan untuk mempunyai divisi khusus yang menangani
permasalahan remaja.
Masalah perilaku anak dan remaja yang berhubungan dengan kesehatan
yang terjadi dimasyarakat
Pada umumnya remaja dan anak muda sehat. Namun, lebih dari 1,8 juta
orang muda berusia 15 sampai 24 meninggal setiap tahun. Sebuah umlah yang
jauh lebih besar dari orang-orang muda menderita penyakit yang menghalangi
kemampuan mereka untuk tumbuh dan mengembangkan potensi mereka
sepenuhnya. Sejumlah besar masih terlibat dalam perilaku yang tidak hanya
membahayakan kondisi saat mereka kesehatan, tapi seringkali kesehatan mereka
selama bertahun-tahun yang akan datang. Hampir dua pertiga kematian dini dan

26
sepertiga dari total beban penyakit pada orang dewasa yang berhubungan dengan
kondisi atau perilaku yang dimulai di masa muda mereka, termasuk: penggunaan
tembakau, kurangnya aktivitas fisik, hubungan seks tanpa kondom atau terkena
kekerasan.

a. Lebih dari 1,8 juta orang muda berusia 15 sampai 24 meninggal setiap
tahun, terutama karena menyebabkan dicegah.
b. Sekitar 16 juta anak perempuan berusia 15 sampai 19 melahirkan setiap
tahun.
c. Orang muda, 15 hingga 24 tahun, menyumbang 40% dari semua infeksi
HIV baru di kalangan orang dewasa di tahun 2008.
d. alam setiap tahun tertentu, sekitar 20% dari remaja akan mengalami
masalah kesehatan mental, yang paling sering depresi atau kecemasan.
e. Sekitar 150 juta orang muda penggunaan tembakau.
f. Sekitar 565 orang muda berusia 10-29 mati setiap hari melalui kekerasan
interpersonal.
g. luka lalu lintas Jalan menyebabkan 1 000 orang diperkirakan muda untuk
mati setiap hari.
Banyaknya masalah yang dihadapi oleh dunia pendidikan yang menimbulkan
banyak ekses negatif yang sangat merisaukan masyarakat. Ekses tersebut antara
lain makin maraknya berbagai penyimpangan norma kehidupan agama dan sosial
masyarakat yang terwujud dalam bentuk kenakalan siswa atau kenakalan remaja.

27
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat disimpulkan, Periode usia antara 6-12 tahun
merupakan masa peralihan dari pra-sekolah ke masa Sekolah Dasar (SD). Masa
ini juga dikenal dengan masa peralihan dari kanak-kanak awal ke masa kanak-
kanak akhir sampai menjelang masa pra pubertas. Pada umumnya setelah
mencapai usia 6 tahun perkembangan jasmani dan rohani anak telah semakin
sempurna. Pertumbuhan fisik berkembang pesat dan kondisi kesehatannyapun
semakin baik, artinya anak menjadi lebih tahan terhadap berbagai situasi yang
dapat menyebabkan terganggunya kesehatan mereka.
Masa remaja merupakan masa transisi antara masa anak-anak dan masa
dewasa. Masa remaja berawal dari usia 12 tahun sampai akhir usia belasan,
dengan karakteristik yang khas. Masa remaja rentan terjadi masalah pada diri
remaja mulai dari masalah mental remaja sampai dengan kenakalan remaja yang
di sebabkan kurangnya kasih saying orang tua, minimnya pemahaman tentang
agama, maupun pengaruh lingkungan sekitar. Masalah remaja dapat dipecahkan
dengan memaksimalkan peran orang tua, guru atau pengajar, masyarakat maupun
peran media, dan bersama memaksimalkan potensi remaja Indonesia untuk
memajukan pendidikan dan sumber daya manusia remaja demi kemajuan bangsa
Indonesia.
3.2 Saran
Bertolak dari berbagai masalah yang dapat dialami remaja, kami
memberikan saran sebagai berikut: 1) Orang tua Orang tua hendaknya lebih
memperhatikan dan memberikan kasih sayang yang utuh kepada anaknya, agar
tidak terjerumus ke dalam permasalahan remaja, 2) Guru atau Pengajar Seorang
guru atau pengajar hendaknya meningkatkan pembinaan moral dan menyediakan

28
wadah untuk mengembangkan bakat dan minat remaja, contohnya dengan
memaksimalkan ektrakurikuler di sekolah sehingga remaja tidak ada waktu untuk
terjerumus kedalam permasalahan remaja, 3) Remaja Remaja hendaknya dapat
memfilter atau menyaring mana yang baik dan tak baik dari lingkungan, dan lebih
mendalami ajaran agama agar tidak terpengaruh hal-hal negative dari lingkungan.

29
DAFTAR PUSTAKA
Atkinson, Rita L., et all. (1996). Pengantar Psikologi, alih bahasa Nurdjanah
Taufik, Erlangga
Berkowitz, L. (1995). Agresi I, Sebab dan Akibatnya, penerjemah Hartati Woro
Susiatni, Jakarta: Pustaka Binaman Presindo
Hurlock, elizabeth B. (1992). Psikologi Perkembangan, Suatu Pendekatan
Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga
http://resources.unpad.ac.id/unpadcontent/upload/publikasi_dosen/Makalah Aulia-
1.pdf
http://resouces.unpad.ac.id/unpadcontent/uploads/publikasi_dosen/MakalahRemaj
a&Masalahnya.pdf

30