Anda di halaman 1dari 23

CASE REPORT

SEORANG WANITA UMUR 60 TAHUN DENGAN OSTEOARTRITIS


GENU BILATERAL DENGAN DEFORMITAS VARUM GENU DEXTRA

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Pendidikan Profesi Dokter Stase


Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Medik Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammadiyah Surakarta

Pembimbing

Dr. Harri Hariana, Sp. KFR

Disusun Oleh:

Almas Dewi Aryanti (J 510145028)

Sandra Aulia Rahman (J510155039)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEDOKTERAN FISIK DAN

REHABILITASI MEDIK

RS ORTHOPEDI PROF DR. R. SOEHARSO SURAKARTA

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2015

1
2

STATUS PASIEN

A. IDENTITAS PASIEN

Nama : Ny. S
Jenis Kelamin : Wanita
Usia : 60 tahun
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Ngabeyan, Kartosura, Sukoharjo
Agama : Islam
Pendidikan : SD
Tanggal Periksa : 11 November 2015
No RM : 274xxx
B. ANAMNESIS

Anamnesis dilakukan hari Rabu tanggal 11 November 2015. Anamnesis


bersifat autoanamnesis.

1) Keluhan Utama
Nyeri pada kedua lutut.
2) Riwayat Penyakit Sekarang
Nyeri pada lutut dialami sejak kurang lebih 1 tahun yang lalu, nyeri
terlokalisir di lutut, tidak menjalar, dan nyeri seperti ditusuk-tusuk.
Nyeri yang dirasakan hilang timbul, timbul ketika melakukan aktivitas
terutama saat naik turun tangga, jongkok, atau hendak merubah posisi
dari duduk atau jongkok ke posisi berdiri dan menghilang saat istirahat
dan minum obat penghilang rasa sakit. Ada riwayat bengkak, hangat
dan kemerahan. Nyeri lutut disertai kekakuan terutama saat bangun di
pagi hari kurang lebih 10-15 menit, kemudian apabila digerak-
gerakkan muncul suara krek-krek, kekakuan hilang dengan
3

sendirinya. Pasien datang ke Poli RM RS Ortopedi untuk kontrol rutin


keluhan dan terapi.
3) Riwayat Fungsional
a. Mobilitas : Kurang
b. Aktivitas kehidupan sehari-hari : Pasien masih dapat melakukan
aktivitas sehari-hari tetapi terkadang membutuhkan bantuan orang
sekitar
c. Kognisi : Baik
d. Komunikasi : Baik
e. Pekerjaan : Ibu rumah tangga
4) Riwayat Psikososial
a. Dukungan keluarga : Cukup
b. Situasi lingkungan : Baik
c. Riwayat pendidikan dan pekerjaan : Tamat SD
d. Riwayat psikiatri : Tidak ada
5) Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien tinggal di rumah permanen milik sang anak, terdiri dari 2
lantai, lantai ubin dengan 12 anak tangga, sumber penerangan dari
PLN, sumber air dari PAM, WC jongkok dan berjarak 5 meter dari
kamar tidur. Pasien memiliki 2 orang anak dan biaya pengobatan
ditanggung oleh keluarga pasien.
6) Riwayat Kebiasaan dan Aktivitas
Pasien bekerja sebagai ibu rumah tangga dan melakukan aktivitas
rumah sendiri. Naik turun tangga setiap hari. Kegiatan yang menjadi
hobi pasien di rumah adalah memasak di dapur.
7) Riwayat Pengobatan dan Alergi
Pasien tidak memiliki alergi pada makanan maupun obat-obatan
8) Riwayat Penyakit Dahulu
a. Hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung disangkal
b. Riwayat trauma disangkal

C. PEMERIKSAAN FISIK

1) Status Generalis
Keadaan umum : Cukup, kesadaran compos mentis
Berat Badan : 55 kg
Tinggi Badan : 150 cm
Indeks Masa Tubuh : 24,4 kg/m2
Vital sign
4

Tekanan Darah : 130/80 mmHg


Respiratory Rate : 20x/menit
Nadi : 86x/menit
Suhu : 36,40 C
Kepala : Conjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-
Leher : Pembesaran KGB leher -/-
Paru- paru : Vesikuler +/+, wheezing -/-, rhonki -/-
Jantung : BJ I dan II reguler, BJ tambahan
Abdomen : BU + normal

2) Status Lokalis (Regio Genu Dextra et Sinistra)


a. Inspeksi : Deformitas varum (+/-), Udem (-/-),
Hiperemi (-/-) Hangat (-/-)
b. Palpasi : Krepitasi (+/+), nyeri tekan (-/-)
c. Movement: Nyeri gerak aktif (+/+), nyeri gerak
pasif (+/+), terbatas di fleksi lutut kanan

d. Visual Analog Scale

0 4 6 10
(Sinistra) (Dextra)

e. Pemeriksaan lingkup gerak sendi (LGS) regio genu dextra et


sinistra

Dextra
Sinistra Normal
Aktif Pasif

0 - 115
Flexi 0 - 110 0 -120 135
(Nyeri)

Extensi 0 - 0 0 - 0 0

f. Pemeriksaan neuromuskular
5

Ekstremitas Superior Ekstremitas Inferior

Dextra Sinistra Dextra Sinistra

Gerakan Normal Normal Normal Normal

Kekuatan Otot 5/5/5/5 5/5/5/5 5/5/sde/5 5/5/sde/5


Tonus Otot Normal Normal Normal Normal

Reflex Fisiologis Normal Normal Normal Normal

Reflex Patologis - - - -

Sensibilitas Normal Normal Normal Normal

g. Tes provokasi

Jenis Tes Dextra Sinistra

Anterior Drawer - -

Posterior Drawer - -

McMurray - -

Test for Medial Stability - -

h. Pemeriksaan penunjang

Kesan

Osteoartritis Genu Dextra dan


Sinistra

D. DIAGNOSIS
Diagnosis Klinis : OA genu bilateral + Varum deformity genu dextra
Diagnosis Etiologi : Degeneratif
6

Diagnosis Topis : Kartilago genu bilateral


Diagnosis Fungsional
Impairment : nyeri genu bilateral + varum deformity genu dextra
Disability : gangguan AKS (berdiri dan berjalan), gangguan
ambulasi, sulit jongkok
E. Problem Rehabilitasi Medik
1) Nyeri lutut kanan dan kiri, VAS genu dextra 6; VAS genu sinistra 4
2) Keterbatasan LGS genu sinistra karena nyeri
3) Gangguan AKS
4) Deformitas lutut kiri (varum)
F. Penatalaksanaan
1) Medikamentosa : Obat anti-inflamasi non-steroid
2) Non Medikamentosa
Rehabilitasi Medik
a. Fisioterapi
(1) Evaluasi
a) Nyeri lutut
b) Gangguan AKS
(2) Program
a) TENS dan USD genu dextra et sinistra
b) Latihan isometrik untuk ekstremitas inferior
c) Latihan penguatan m. Quadriceps + hamstring dextra et
sinistra bertahap
d) Stretching genu dextra et sinistra
b. Okupasi Terapi
(1) Evaluasi
a) Nyeri lutut
b) Gangguan AKS
c) Deformitas varum
(2) Program
a) Latihan dan edukasi melakukan AKS dengan prinsip
mengurangi beban pada sendi lutut (joint protection)
c. Edukasi
(1) Mengurangi aktivitas yang berdampak pada lutut seperti naik
turun tangga, berjalan lama, serta berdiri dalam waktu yang
lama
(2) Posisi kaki lebih banyak diluruskan saat duduk
(3) Menggunakan WC duduk
(4) Kompres es pada lutut atau daerah yang bengkak
(5) Kontrol ke poli RM secara rutin

G. Prognosis
Dubia ad Bonam
7

PROYEKSI KASUS

ANAMNESIS
Wanita 60 tahun, datang ke Poli RM RSO Prof. DR. R. Soeharso pada
tanggal 11 November 2015 untuk kontrol dan terapi rutin terhadap keluhan nyeri
pada kedua lutut yang terjadi sejak kurang lebih 1 tahun yang lalu. Selalu timbul
nyeri disertai kaku terutama saat pagi hari bangun tidur dan berbunyi bila
digerakkan. Pasien tinggal di rumah 2 lantai dan pasien sering naik turun tangga.
Pasien senang melakukan pekerjaan di dapur yaitu memasak.

PEMERIKSAAN FISIK
Pada pemeriksaan fisik, keadaan umum: Cukup, kesadaran compos
mentis. Tekanan Darah : 110/80 mmHg, Respiratory Rate : 20x/menit, Nadi :
86x/menit, Suhu : 36,40 C. Berat Badan : 55 kg, Tinggi Badan : 150 cm, dengan
Indeks Masa Tubuh : 24,4 kg/m 2. Kepala, leher, paru- paru, jantung, abdomen
semua dalam batas normal. Pada ekstremitas didapatkan nyeri pada kedua lutut.

Status Lokalis

Look Feel Movement

Genu Dextra Deformitas varum + Krepitasi + Nyeri gerak aktif +


Udem Hangat - Nyeri gerak pasif +
Hiperemi Nyeri Tekan - Terbatas

Genu Sinistra Deformitas varum - Krepitasi + Nyeri gerak aktif +


Udem Hangat Nyeri gerak pasif +
Hiperemi Nyeri Tekan -

Dextra
Sinistra Normal
LGS Aktif Pasif

Flexi 0 - 110 0 - 115 (Nyeri) 0 -120 135


8

Extensi 0 - 0 0 - 0 0

Kriteria diagnosa pada pasien dengan OA atau osteoartritis berdasarkan


The American College of Rheumatology berdasarkan pemeriksaan klinis dan
radiologi adalah sebagai berikut:

Klinis Klinis dan Laboratorium Klinis dan Radiologi

Nyeri lutut + minimal 3 Nyeri lutut + minimal 5 dari Nyeri lutut + minimal 1
dari 6 berikut 9 berikut dari 3 berikut
- Umur > 50 tahun - Umur > 50 tahun - Umur > 50 tahun
- Stiffness < 30 menit - Stiffness < 30 menit - Stiffness < 30 menit
- Krepitasi - Krepitasi - Krepitasi + osteofit
- Nyeri pada tulang - Nyeri pada tulang
- Pelebaran tulang - Pelebaran tulang
- Tidak hangat pada - Tidak hangat pada
perabaan perabaan
- LED < 40 mm/jam
- Rheumatoid faktor < 1:40
-Cairan sinovial: jernih,
viscous, AL < 2000/mm3

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Dari klinis pasien sesuai dengan kriteria klinis diagnosis pasien OA yaitu
usia > 50 tahun, adanya stiffness atau kekakuan yang hilang < 30 menit, dan
krepitasi pada kedua lutut.
Adapun derajat kerusakan sendi berdasarkan gambaran radiologis kriteria
Kellgren dan Lawrence
9

(A) Derajat 1 : penyempitan celah sendi meragukan


(B) Derajat II : osteofit dan penyempitan celah sendi yang jelas
(C) Derajat III : osteofit sedang dan multiple, penyempitan
celah sendi, sklerosis sedang dan kemungkinan deformitas
tulang
(D) Derajat IV : osteofit besar, penyempitan celah sendi
yang nyata, sklerosis berat dan deformitas kontur tulang
yang nyata

Hasil pemeriksaan radiologi pada genu juga menunjukkan adanya


penyempitan celah sendi lutut dextra (derajat 3) dan sinistra (derajat 2).

DIAGNOSA
Anamnesis dan pemeriksaan di atas memberikan gambaran bahwa pasien
mengalami morning stiffness, muncul bunyi krek-krek pada kedua lutut saat
digerakkan. Pada pemeriksaan tanda vital didapatkan normal. Indeks masa tubuh
23,4 kg/m2 menunjukkan adanya risiko obesitas pada pasien. Pada status lokalis
regio genu dextra dan sinistra didapatkan deformitas varum dekstra, krepitasi pada
kedua lutut serta adanya nyeri gerak aktif maupun pasif pada kedua lutut. Pada
pemeriksaan lingkup gerak sendi didapatkan keterbatasan gerak pada kedua lutut
(dextra > sinistra).
Dari keterangan di atas kemungkinan pasien mengalami osteoartritis.
Osteoartritis merupakan penyakit sendi degeneratif yang berkaitan dengan
kerusakan kartilago sendi, dimana terjadi proses degradasi interaktif pada sendi
yang kompleks. Terdiri dari proses perbaikan kartilago, tulang dan sinovium
diikuti komponen sekunder proses inflamasi. Prosesnya tidak hanya mengenai
10

tulang rawan sendi/kartilago tetapi juga seluruh sendi termasuk tulang subkondral,
ligamentum, kapsul dan jaringan sinovial serta jaringan ikat periartikuler. Paling
sering mengenai lutut, vertebra, panggul dan pergelangan kaki.
Hasil pemeriksaan radiologi pada genu juga menunjukkan adanya
penyempitan celah sendi lutut dextra (derajat 3) dan sinistra (derajat 2).

TATALAKSANA
Problem rehabilitasi medik pada pasien ini meliputi, impairment: nyeri
genu bilateral + varum deformity genu dextra; disability: gangguan AKS (berdiri
dan berjalan), gangguan ambulasi, sulit jongkok. Sehingga pasien ini
membutuhkan terapi meliputi terapi medikamentosa dan non-medikamentosa.
Tujuan penatalaksanaan osteoartritis adalah:
1. Menghilangkan rasa nyeri
2. Mengurangi disabilitas
3. Memperbaiki fungsi sendi yang terkena
4. Menghambat progresifitas

Medikamentosa
Untuk menghilangkan nyeri digunakan terapi medikamentosa yaitu
analgetik golongan NSAID atau golongan lainnya.
Non-Medikamentosa
Sedangkan terapi non-medikamentosa dapat dilakukan program
rehabilitasi medik berupa Fisioterapi. Tujuan dari penatalaksanaan Fisioterapi
adalah untuk mencegah atau menahan kerusakan yang lebih lanjut pada sendi
tersebut. Dan untuk mengatasi nyeri dan kaku sendi guna mempertahankan
mobilisasi. Nyeri pada osteoarthritis bisa disebabkan oleh peningkatan tekanan
interoseus, inflamasi pada sinovium, penebalan kapsul sendi, bursitis, tendonitis,
psikogenik dan etiologi lain.
Terapi Panas
Aplikasi panas pada sendi yang mengalami osteoarthritis dapat
mengurangi nyeri dan kekakuan sendi sehingga modalitas yang dipakai adalah
US, IR karena efek gelombang elektromagnetik yang dihasilkan adalah penetrasi
yang dalam sehingga akan berpengaruh terhadap peningkatan metabolisme,
mengurangi nyeri dan spasme otot.
a. Ultra Sound Diathermy (US)
Terapi Ultrasound merupakan jenis terapi panas yang dapat mengurangi
nyeri akut maupun kronis. Terapi ini menggunakan arus listrik yang dialirkan
11

lewat transducer yang mengandung kristal kuarsa yang dapat mengembang dan
kontraksi serta memproduksi gelombang suara yang dapat di transmisikan pada kulit
serta ke dalam tubuh.
1) Efek fisiologis US
Penggunaan ultrasound dalam terapi panas dapat dikombinasikan
dengan stimulasi elektrik pada otot. Kombinasi ini dapat meningkatkan
kemampuan pembersihan sisa metabolisme, mengurangi spasme otot serta
perlengketan jaringan. Ultrasound terapetik juga memiliki efek anti peradangan
yang dapat mengurangi nyeri dan kekakuan sendi. Terapi ini dapat digunakan
untuk memperbaiki impingement (jepitan) akar syaraf dan beberapa jenis neuritis
(peradanagn saraf) dan juga bermanfaat untuk penyembuhan paska cedera.
Selain efek thermal, terapi ultrasound juga menghasilkan efek non
thermal berupa kavitasi dan microstreaming. Kavitasi merupakan proses dimana
terdapat bentukan gelembung udara yang dapat membesar dalam jaringan
sehingga dapat meningkatkan aliran plasma dalam jaringan. Microstreaming
merupakan desakan gelombang suara pada membran sel yang dapat meningkatkan
kerja pompa sodium sel yang dapat mempercepat proses penyembuhan.

2) Alat dan Penggunaan US


Peralatan yang dipergunakan pada terapi ultrasound adalah generator
penghasil frekuensi gelombang yang tinggi, dan transducer yang terletak pada
aplikator. Transducer terbuat dari kristal sintetik seperti barium titanate atau sirkon
timbal titanat yang memiliki potensi piezeloelectricyakni potensi untuk memproduksi
arus listrik bila dilakukan penekanan pada kristal.
Terapi ultrasound biasanya dilakukan pada rentang frekuensi 0.8 sampai
dengan 3 megahertz (800 sampai dengan 3,000 kilohertz). Frekuensi yang lebih
rendah dapat menimbulkan penetrasi yang lebih dalam (sampai dengan 5 sentimeter).
Frekuensi yang umumnya dipakai adalah 1000 kilohertz yang memiliki sasaran
pemanasan pada kedalaman 3 sampai 5 cm dibawah kulit. Pada frekuensi yang lebih
12

tinggi misalkan 3000 kilohertz energi diserap pada kedalaman yang lebih dangkal
yakni sekitar 1 sampai 2 cm.
Gelombang suara dapat mengakibatkan molekul molekul pada jaringan
bergetar sehingga menimbulkan energi mekanis dan panas. Keadaan ini menimbulkan
panas pada lapisan dalam tubuh seperti otot, tendo, ligamen, persendian dan tulang.
Penetrasi energi ultrasound bergantung pada jenis dan ketebalan jaringan. Jaringan
dengan kadar air yang tinggi menyerap lebih banyak energi sehingga suhu yang
terjadi lebih tinggi. Pada jaringan lokasi yang paling berpotensi untuk terjadi
peningkatan suhu yang paling tinggi adalah antara tulang dan jaringan lunak yang
melekat padanya.
3) Pelaksanaan US
Terdapat dua pendekatan pada pelaksanaan terapi ultrasound yakni
gelombang kontinyu dan gelombang intermittent (pulsed). Pada kasus dimana tidak
diinginkan terjadinya panas seperti pada peradangan akut, gelombang intermiten lebih
dipilih. Gelombang kontinyu lebih menimbulkan efek mekanis seperti meningkatkan
permeabilitas membran sel dan dapat memperbaiki kerusakan jaringan.
Sebelum diadakan terapi dilakukan penilaian awal tentang perjalanan
penyakit, riwayat kesehatan serta pemeriksaan fisik. Penderita diminta untuk
menggambarkan secara detail rasa nyeri yang dialami. Pada beberapa kasus terapi
ultrasound dilakukan setelah dilakukan terapi dengan mempergunakan modalitas lain
seperti bantal pemanas, bantal pendingin atau terapi listrik. Berdasarkan pada area
yang terkena, penderita diminta untuk duduk atau berbaring selama dilakukan terapi
dengan ultrasound. Penderita diminta untuk melepas perhiasan. Apabila perlu,
penderita dapat diminta untuk menggunakan jubah sehingga area terapi lebih mudah
diakses. Beberapa teknik yang dapat dilaksanakan pada terapi dengan ultrasound
antara lain meliputi:
1. Kontak langsung dengan kulit
Ahli fisioterapi kemudian membersihkan area yang akan diterapi. Area tersebut
kemudian diberi gel sehingga terbentuk konduksi yang sempurna antara alat terapi
(transducer) dan kulit.
13

2. Penggunakan dalam air


Pada lokasi tubuh yang tidak memiliki banyak lekuk seperti pinggang, siku,
lutut dan sebagainya, terapi ultrasiund dapat dilakukan dibawah air. Bagian yang
cedera direndam dalam air kemudian transducer diletakkan kurang lebih 1 cm dari
bagian yang akan diterapi. Pada keadaan ini air merupakan konduktor yang rapat
sehinga dapat meningkatkan aliran energi. Supaya aliran energi berjalan lancar,
gelembung yang terbentuk apda kulit harus segera dibersihkan. Pada pelaksanaan
terapi ini tranducer dapat digerakkan dengan arah sirkuler maupun longitudinal.
Pelaksananaan terapi ini harus menggunakan tempat yang terbuat dari plastik atau
karet dan menghindari tempat yang terbuat dari logam mengingat logam
cenderung memantulkan gelombang.
3. Penggunaan dengan medium balon beisi air (bladder technique)
Selain menggunakan medium air, pada kasus tertentu juga dapat
menggunakan medium antara berupa balon yang diisi air (bladder technique).
4. Kombinasi dengan obat farmakologis (phonophoresis)
Kadang dilakukan teknik phonophoresis, dimana terapi ultrasound dilakukan
untuk meningkatkan absorbsi obat topical kulit misalkan kortikosteroid, analgesik
atau anesthetic. Jenis kortikosteroid yang berfungsi sebagai anti radang yang
sering dipakai adalah hidrokortison 10%, sedangkan jenis anestetik yang sering
dipakai adalah lidokain.
4) Dosis dan Durasi US
Frekuensi, intensitas dan durasi tergantung pada keadaan individual. Ahli
terapi akan meletakkan transducer pada area yang mengalami gangguan dan
kemudian melakukan gerakan memutar. Transducer harus digerakkan secara terus
menerus untuk menghindari luka bakar. Transducer tidak boleh diletakkan pada
mata, tengkorak, tulang belakang, jantung, organ reproduktif dan area dimana
terdapat implant. Terapi dapat dilakukan dengan menggunakan dua cara yakni
kontinyu dan intermitten. Pada metode kontinyu, gelombang ultrasound dibuat
tetap sedangkan pada metode intermitten, gelombang ultrasound terputus putus.
14

Dengan metode intermitten resiko luka bakar dapat diminimalkan.


Selama terapi penderita seharusnya merasakan rasa hangat atau tidak merasakan
sensasi apapun. Apabila ada rasa tidak nyaman, terapi harus dihentikan. Biasanya
waktu terapi yang dibutuhkan berkisar 5 sampai dengan 10 menit. Setelah itu
penderita dapat beraktivitas seperti semula. Sebagian besar gejala memerlukan
terapi selama beberapa episode tergantung evaluasi klinis dari terapis. Kemajuan
terapi dapat dinilai dengan menggunakan skala nyeri atau goniometer, yang
merupakan alat untuk mengukur jangkauan gerak sendi.
5) Risiko US
Terapi ultrasound pada dasarnya aman untuk sebagian besar orang.
Walaupun demikian apabila dilakukan oleh orang yang tidak berpengalaman dapat
menimbulkan luka bakar atau kerusakan jaringan dalam. Terapi ini tidak
direkomendasikan pada :
1. Kepala, mata, jantung dan organ reproduksi
2. Perut wanita hamil
3. Luka yang mengalami infeksi
4. Di dekat tumor
5. Di dekat area pertumbuhan tulang misalkan pada epifisis
6. Di dekat sumsum tulang belakang yang terekspose misal paska laminectomy
7. Di dekat alat pacu jantung dan alat implant lainnya
8. Penderita gangguan sensasi saraf misal pada diabetic neuropathy
6) Indikasi US
Penggunaan ultrasound terapi pada jam jam awal setelah cedera atau
dalam waktu 48 jam setelah cedera meningkatkan kecepatan penyembuhan
cedera. Kondisi akut cedera pada umumnya memerlukan terapi satu sampai dua
kali sehari selama 6 sampai 8 hari sampai nyeri dan pembengkakan berkurang.
Pada kondisi cedera kronis terapi dapat dilakukan dua hari sekali selama 10
sampai 12 kali.
Secara khusus, terapi ultrasound dapat dipergunakan pada keadaan
keadaan berikut :
1. Spasme otot yang merupakan keadaan ketegangan dan kontraksi otot yang
berlangsung terus menerus sehingga timbul rasa nyeri. Kontraktur otot yang
15

diakibatkan oleh keteganagan otot dapat diatasi dengan ultrasound karena


ultrasound memiliki efek meningkatkan kelenturan jaringan sehingga
meningkatkan jangkauan gerak.
2. Kompresi akar saraf dan beberapa jenis neuritis (radang saraf) karena
peningkatan aliran darah dari jaringan yang dipanaskan dengan terapi
ultrasound dapat mempercepat penyembuhan jaringan.
3. Tendinitis (peradangan tendon)
4. Bursitis (peradangan bursa yang merupakan kantong berisi vcairan yang
berada diantara tendon dan tulang.
5. Herniasi diskus yang merupakan keadaan bocornya cairan diskus
intervertebral sehingga dapat menjepit saraf spinal. Pada keadaan ini, terapi
ultrasound ditujukan pada spasme otot yang dipersarafi.
6. Sprain yang merupakan laserasi pada ligamen sendi. Kontusi yang merupakan
cedera pada jaringan dibawah kulit tanpa adanya perlukaan kulit.
7. Whiplash yang merupakan cedera pada leher akibat gerakan yang mendadak.
8. Cedera rotator cuff yang merupakan cedera pada otot dan tendon yang
menghubungkan ihumerus dengan scapula. Tendon pada rotator cuff biasanya
kuat akan tetapi dapat mengalami robekan dan peradangan akibat penggunaan
yang berlebihan, proses penuaan ataupun trauma mekanis akibat benturan.
9. Frozen shoulder (bahu beku) dengan gejala nyeri bahu dan kekakuan yang
diakibatkan oleh cedera atau arthritis. Pada keadaan ini, terapi ultrasound
dapat mengurangi kekakuan dan meningkatkan jangkauan gerak sendi.
10. Arthritis yang merupakan peradangan sendi. Beberapa jenis arthritis yang
dapat diperbaiki dengan terapi ultrasound adalah:
a. Osteoarthritis yang merupakan gangguan pengikisan kartilago persendian
yang terjadi secara progresif.
b. Rheumatoid arthritis yang merupakan gangguan peradangan jangka
panjang yang terutama mengenai persendian dan jaringan sekitar.
c. Juvenile rheumatoid arthritis merupakan jenis arthritis pada anak yang
menyebabkan kerusakan, kekakuan dan perubahan pada persendian.
d. Ankylosing spondylitis yang merupakan peradangan sendi pada tulang
belakang dan antara tulang belakang dan panggul. Apabila berlanjut tulang
dapat mengalami penyatuan.
e. Gout yang merupakan jenis peradangan yang disebabkan oleh
penumpukan asam urat dalam tubuh.
16

f. Psoriatic arthritis yang merupakan jenis arthritis yang disertai dengan rash
pada kulit.
g. Reiters syndrome yang merupakan arthritis yang disertai peradangan
urethra dan mata.

11. Myofascial pain syndrome yang merupakan gangguan yang dicirikan dengan
nyeri dan kekakuan akibat ketegangan otot
12. Fibromyalgia merupakan keadaan yang dicirikan dengan nyeri otot yang luas,
kelelahan serta gangguan tidur
13. Systemic lupus erythematosus yang merupakan gangguan autoimun yang
mempengaruhi persendian, kulit dan area lain dalam tubuh
14. Gangguan persendian temporomandibular dengan gejala nyeri pada
persendian temporo-mandibular, sakit kepala, sakit telinga, timbul suara pada
pergerakan rahang, nyeri leher, nyeri punggung dan nyeri bahu.
15. Complex regional pain syndrome yang merupakan gangguan dimana terjadi
nyeri terus menerus pada tungkai yang disebabkan oleh system saraf simpatis
yang overaktif yang biasa terjadi setelah cedera.
16. Carpal tunnel syndrome dengan gejala nyeri atau kebas yang disebabkan
adanya tekanan pada saraf pada pergelangan tangan.
17. Penyembuhan luka untuk meningkatkan aliran darah sehingaga mempercepat
penyembuhan luka tersebut.

7) Kontraindikasi US
1. Radang akut
2. Trauma akut
3. Gangguan vaskuler (obstruksi vena, insufisiensi arterial/iskemik
4. Hemorrhagic diathesis/gangguan koagulasi
5. Malignancy
6. PJK
7. Gangguan sensasi

b. Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation (TENS)


Selain itu adapula terapi listrik berupa TENS sebagai modalitas
mengurangi nyeri, baik akut maupun kronis. TENS adalah penggunaan arus listrik
yang dihasilkan oleh perangkat untuk merangsang saraf untuk mengurangi rasa
17

sakit. Unit ini biasanya dilengkapi dengan elektroda untuk menyalurkan arus
listrik yang akan merangsang saraf pada daerah yang mengalami nyeri. Rasa geli
sangat terasa dibawah kulit dan otot yang diaplikasikan elektroda tersebut. Sinyal
dari TENS ini berfungsi untuk mengganggu sinyal nyeri yang mempengaruhi
saraf-saraf dan memutus sinyal nyeri tersebut sehingga pasien merasakan nyerinya
berkurang.
TENS adalah perangsangan saraf secara elektris melalui kulit. Dua
pasang elektroda yang berperekat dipasang pada punggung, dikedua sisi dari
tulang punggung. Elektroda ini dihubungkan dengan sebuah kotak kecil yang
mempunyai tombol-tombol putar dan tekan. Tombol putar mengendalikan
kekuatan dan frekuensi denyut listrik yang dihasilkan oleh mesin. Denyut ini
menghambat pesan nyeri yang dikirim ke otak serta merangsang tubuh
mengeluarkan bahan pereda nyeri alaminya, yaitu endorfin. Penelitian
menunjukkan bahwa TENS paling efektif meredakan nyeri.
TENS adalah penerapan arus listrik melalui kulit untuk kontrol rasa sakit,
dihubungkan dengan kulit menggunakan dua atau lebih elektroda, diterapkan pada
frekuensi tinggi (>50Hz) atau frekuensi rendah (<10Hz) dengan intensitas yang
menghasilkan sensasi getar.
TENS adalah teknik manajemen rasa sakit dengan menggunakan aliran
listrik dalam frekuensi kecil untuk ujung-ujung saraf dibawah kulit, terkadang
digunakan untuk mengobati berbagai macam kondisi termasuk nyeri panggul,
neuropati, arthritis, nyeri punggung, nyeri bahu, nyeri otot, nyeri sendi, dan rasa
sakit setelah operasi.
1) Cara Kerja
TENS adalah alat yang membantu menurunkan nyeri dengan cara
menstimulasi pelepasan endorfin, terdiri atas baterai kecil dalam generator
dihubungkan oleh satu atau dua elektroda yang ditempelkan pada kulit. Saat
dihidupkan, mesin TENS menyebabkan reaksi kesemutan di bawah elektroda
dimana kekuatannya disesuaikan dengan kontrol generator.
TENS adalah sebuah metode terapi yang dapat digunakan untuk
mengobati nyeri saraf. TENS bekerja dengan cara menghalangi sinyal-sinyal nyeri
yang menuju ke otak. Ini adalah terapi bebas obat yang bekerja dengan cara
menempatkan atau meletakkan dorongan-dorongan atau gerak-gerak listrik yang
18

sangat kecil pada saluran saraf yang khusus, gerak-gerak listrik yang dihantarkan
ke syaraf rnelalui elektroda yang diletakkan di atas kulit. Meskipun itu tidak
bekerja pada setiap orang atau semua tipe nyeri, TENS dapat atau boleh
diresepkan dalam kombinasi dengan perawatan yang lain, utamanya untuk
menyediakan pereda nyeri otot yang akut.

Arus listrik yang diapliaksikan pada syaraf dapat berupa arus AC


(alternating current), DC (direct curent) maupun pulsed. Arus listrik tersebut pada
intensitas dan durasi yang memadai dapat meningkatkan kerja syaraf dalam
merangsang jaringan yang dipersarafi. Tiga jenis syaraf secara fisiologis
dibedakan menjadi : sensoris, motoris dan persepsi nyeri. Listrik arus rendah
dapat mengurangi nyeri dengan memblokir saraf sensorik. Arus listrik rendah ini
juga dapat menstimulasi saraf motorik karena impuls elektrik ini menyerupai
impuls saraf otak untuk menstimulasi gerakan otot. Oleh karenanya terapi ini
dapat digunakan untuk memperbaiki kelemahan otot.
Intensitas merujuk pada tegangan voltase pada alat electrotherapy.
Generator yang menghasilkan 0-150 Volt disebut sebagai generator tegangan
rendah sedangkan generator yang dapat memproduksi sampai dengan 500 Volt
disebut sebagai generator tegangan tinggi. Generator tegangan rendah umumnya
memiliki jenis arus DC sedangkan generator tegangan tinggi dapat berupa arus
AC dan DC. Sebagian besar peralatan electrotherapy yang dipergunakan untuk
mengatasi gangguan cedera olahraga adalah jenis arus DC tegangan tinggi.
2) Durasi, Frekuensi dan Polaritas
Durasi merujuk pada dua hal yakni durasi terapi dan waktu yang
dibutuhkan pada satu kali siklus. Frekuensi merupakan jumlah gelombang yang
terjadi pada tiap detik (PPS :pulses per second). Frekuensi dapat berkisar dari 1
PPS sampai beberapa ribu PPS. Polaritas merupakan arah aliran. Arus dapat
mengalir dari kutup positif ke negatif atau sebaliknya.
3) Penggunaan
19

Pada electrotehrapy, elektroda lembab dilekatkan pada kulit. Elektroda


aktif yang mengalirkan arus dapat berukuran kecil sampai dengan yang
berdiameter sekitar 10 cm. Mengingat arus mengalir diantara kedua electroda
tersebut, jarak antara elektroda bergantung pada kontraksi otot yang diinginkan.
Semakin dekat jarak antara elektroda, semakin dangkal dan terisolasilah kontraksi
otot dan sebaliknya. Efek fisiologis terapi dapat terjadi pada kedua elektroda tapi
efek lebih bermakna pada elektroda aktif.
4) Efek Fisiologis
Arus listrik AC, DC maupun pulsed dapat digunakan untuk memodulasi
nyeri dan untuk memacu kontraksi otot. Khusus arus DC dapat digunakan untuk
ionthoporesis yang merupakan usaha memasukkan bahan topikal dengan
menggunakan arus listrik. Modulasi nyeri yang dapat dilakukan arus listrik adalah
dengan mekanisme gate control(membiaskan nyeri dengan persepsi sensoris yang
lain) dan perangsangan morfin endogen. Sedangkan kontraksi otot yang terjadi
pada electrotherapy terjadi dengan cara arus listrik memacu rangsangan motorik
melalui peningkatan eksitabilitas syaraf yang pada akhirnya memacu motor end
plate otot. Semakin tinggi intensitas arus semakin banyak berkas otot yang dapat
dipengaruhi. Kontraksi otot tersebut bermanfaat untuk: pemompaan otot,
penguatan otot, pengurangan efek atrofi otot dan reedukasi otot.
a) Pemompaan otot
Jenis kontraksi otot yang tejadi dipergunakan untuk meningkatkan
sirkulasi dengan jalan meningkatkan aliran darah balik. Pada keadaan ini
diperlukan arus DC dengan tegangan tinggi. Untuk mendapatkan efek ini
diperlukan frekuensi arus 20 sampai 40 PPS dengan jenis surged dan waktu
tunggu 5 detik. Bagian yang cedera perlu ditinggikan dan kontraksi aktif perlu
dilakukan. Pada keadaan ini waktu terapi yang dibutuhkan adalah 20 sampai 30
menit.
b) Penguatan otot
Kontraksi otot yang terjadi dapat pula ditujukan untuk meningkatkan
kekuatan otot. Pada tujuan ini diperlukan arus AC dengan frekuensi tinggi.
Frekuensi yang dibutuhkan adalah 50 sampai 60 PPS denagn jenis arus surged dan
waktu terapi 15 detik dan waktu alat dimatikan selama 10 detik yang dilakukan 10
kali. Terapi ini dilakukan sebanyak 3 x dalam satu minggu. Untuk mendapatkan
20

hasil yang maksimal, atlet dapat mengkombinasikan terapi ini dengan kontraksi
aktif maksimal dengan pembebanan.
c) Pencegahan atrofi
Traksi otot yang terjadi pada electrotherapy dapat berfungsi untuk
meminimalkan atrophy pada otot yang mengalami kelumpuhan atau cedera
sehinga harus mengalami imobilisasi. Untuk tujuan ini disarankan untuk
menggunakan aeus AC frekuensi tinggi 30 sampai 60 PPS dengan mode arus
interuppted. Pada saat yang bersamaan penderita dapat melakukan kontraksi
isometrik. Waktu yang diperlukan untuk terapi ini adalah 15 sampai 20 menit.
d) Reduksi otot
Inhibisi otot setelah strain atau operasi dapat dikurangi dengan jalan
melakukan electrotherapy pada otot. Intensitas yang diperlukan adalah 30 sampai
50 PPS menggunakan mode interupted atau surged. Waktu terapi yang diperlukan
adalah 15 sampai 20 menit, treatment dilakukan beberapa kali dalam sehari.
5) Indikasi
Indikasi dilakukan TENS antara lain:
1. Nyeri punggung
Nyeri punggung dapat disebabkan oleh sprain atau strain, degenerasi discus,
sciatica dan scoliosis. Keadaan keadaan ini dapat diperbaiki dengan terapi listrik,
dapat mengurangi spasme dan nyeri yang disebabkan oleh fraktur vertebrae yang
disebabkan oleh osteoporosis.
2. Nyeri leher
Jenis nyeri leher yang sering terjadi adalah dikarenakan cedera whisplash
yang dapat menimbulkan nyeri dan kekakuan pada bagian dasar dan samping
leher. Gangguan struktur pada leher juga dapat menimbulkan nyeri kepala dan
nyeri yang menjalar ke bahu. Pada keadaan ini terapi listrik dapat digunakan
untuk mengurangi nyeri.
3. Nyeri sendi
Sebagian besar orang pernah mengalami nyeri sendi dalam hidupnya. Nyeri
tersebut dapat terjadi akibat keadaan akut maupun kronis. Beberapa contoh
keadaan sendi:
a. Arthritis (radang sendi). Beberapa jenis radang sendi yang sering
dijumpai adalah osteoarthritis dan rheumatoid arthritis
b. Gangguan persendian temporo mandibular yang menghubungkan
mandibula dengan tengkorak kepala. Gangguan sendi ini dapat
mempengaruhi rahang, wajah, bahu, kepala dan leher.
21

c. Tendinitis (peradangan tendon). Gangguan tendinitis paling sering


dikarenakan penggunaan yang berlebihan.
4. Bursitis (peradangan pada bursa).
Bursa merupakan kantong yang berisi cairan yang berfungsi untuk
mengurangi gesekan antara jaringan. Tubuh kita memiliki 160 bursa yang terletak
pada bahu, siku, pinggang dan lutut

5. Nyeri saraf
Bermanfaat pada neuropathy perifer, neuralgia cranial dan
postherpetic neuralgia.
6. Nyeri kepala
Bentuk yang paling sering adalah tension headaches (dideskripsikan sebagai
ikatan yang kuat pada kepala), migrain (dideskripsikan sebagai nyeri berdenyut
yang kadang diikuti rasa mual), nyeri kepala kluster (dideskripsikan sebagai nyeri
tajam di satu sisi kepala).
7. Fibromyalgia
Fibromyalgia merupakan nyeri kronis otot yang sering diikuti oleh kekakuan
jaringan, kelelahan dan gangguan tidur.
8. Nyeri pelvis
Terapi listrik direkomendasikan untuk sistitis interstitial, prostatitis dan
nyeri menstruasi.
9. Nyeri post-operasi
Nyeri ini dapat dikurangi dengan iontophoresis yakni terapi listrik untuk
meningkatkan absorbi obat topikal yang dalam hal ini berupa krim analgaetik.
6) Kontraindikasi
Kontraindikasi stimulasi listrik (TENS):
1) Penderita dengan cardiac pacemaker
2) Penderita dengan jantung koroner
3) Daerah dada di depan jantung
4) Daerah sekitar uterus wanita hamil
5) Daerah kulit baru
6) Luka terbakar atau abrasi
7) Daerah sekitar fraktur yang baru atau nonunion fraktur jika stimulasi
menimbulkan kontraksi otot.
22

c. Excercise
Salah satu penatalaksanan konservatif terhadap osteoarthritis lutut adalah
terapi latihan dengan tujuan memperbaiki kinerja, meningkatkan fungsi,
meningkatkan kekuatan otot lokal dan ketahanan, meningkatkan kemampuan
relaksasi otot secara tepat, meningkatkan kebugaran umum, yang semuanya
berperan dalam kapasitas fungsional. Dengan latihan diharapkan sendi dapat
berfungsi sesuai dengan biomekanismenya sehingga dapat mengatasi nyeri,
kecacatan fisik seperti keterbatasan gerak sendi, atropi otot, kelemahan otot, pola
jalan yang tidak efisien dengan energi yang besar, perubahan respon pembebanan
sendi, semuanya dapat menghambat atau menurunkan aktivitas pasien.
Meskipun terapi latihan tidak dapat menghentikan proses degenerasi
akan tetapi diharapkan dapat menghambat progresifitasnya, meringankan gejala
yang timbul, mencegah komplilkasi yang terjadi akibat proses degeneratif, yang
perlu diperhatikan dalam pemberian terapi latihan yang penting tidak
menyebabkan pembebanan sendi lutut yang berlebihan.
Terapi latihan yang digunakan untuk mengurangi nyeri dan
mempertahankan kekuatan otot dan luas gerak sendi yaitu dengan latihan
isometrik yang dapat meningkatkan kekuatan otot dan latihan isotonik sebaiknya
tidak menggunakan tahanan karena akan memberikan tekanan yang akan
memberatkan sendi.
Dalam pemberian terapi latihan pada kasus osteoarthritis lutut secara
aktif maupun pasif, dengan bantuan maupun tanpa bantuan akan memberi efek
naiknya adaptasi pemulihan kekuatan tendon dan ligamentum serta dapat
menambah kekuatan otot, sehingga dapat mempertahankan stabilitas sendi dan
menambah lingkup gerak sendi.
Terapi okupasi juga dilakukan sebagai latihan koordinasi aktivitas
kehidupan sehari-hari untuk latihan pengembalian fungsi sehingga pasien atau
penderita dapat melakukan kembali kegiatan / pekerjaan normalnya.
d. Edukasi dan Saran
Edukasi untuk proteksi sendi, konservasi energi dan psikososial serta
penurunan berat badan bagi yang mempunyai kelebihan berat badan.
23

Saran untuk pasien untuk menggunakan alat bantu jalan berupa tripod
untuk menjaga stabilitas jalan pada pasien dan mengurangi beban/tumpuan pada
lutut.