Anda di halaman 1dari 6

Baku Mutu Air Limbah PT.

Pupuk Kalimantan Timur

Baku mutu air limbah adalah batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi,
atau komponen lain yang harus ada dan atau unsur pencemar yang terkandung
didalam air limbah tersebut masih dapat ditenggang keberadaannya (Peraturan
Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 03, 2010). Baku mutu air limbah industri
pupuk di PT. Pupuk Kalimantan Timur ini digunakan sebagai salah satu aturan
yang dibuat oleh pemerintah yang merupakan bagian dari upaya pengendalian
pencemaran lingkungan. Aturan yang dibuat dan tercantum pada baku mutu
kualitas air limbah pada tiap-tiap kegiatan industri berbeda-beda nilainya, hal ini
dipengaruhi oleh perbedaan karakteristik air limbah yang dihasilkan oleh masing-
masing kegiatan dan disamping itu juga dipengaruhi oleh adanya perbedaan
kapasitas produksi serta besar potensi polusi yang dihasilkan.
Baku mutu kualitas air limbah bagi PT. Pupuk Kalimantan Timur adalah
mengacu pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 560 Tahun
2009. Nilai batas yang ditenggangkan keberadaannya pada air limbah yang akan
dibuang ke badan perairan laut disajikan pada Tabel 1.2 dan Tabel 1.3 sedangkan
untuk nilai beban pencemar maksimum yang ditenggangkan serta jumlah produksi
maksimum tertera pada Tabel 1.4 dan Tabel 1.5. Nilai beban pencemar
maksimum ialah batasan tertinggi suatu unsur pencemar yang terkandung di
dalam air atau air limbah yang masih diperbolehkan dibuang ke lingkungan yang
dinyatakan dalam satuan berat per parameter per satuan berat produk (Peraturan Daerah Kalimantan
Timur, 2011).

Tabel 1.2 Baku Mutu Air Limbah Outfall K-1 dan K-2
Beban Maksimum
Parameter (kg/Ton produk)
Pabrik Urea Pabrik Amonia
NH3-N 0,5 0,2
TKN 1 -
COD 0,75 0,3
TSS 0,5 0,15
Minyak dan lemak 0,1 0,1
Debit air limbah 1,5 m3 per ton 1,5 m3 per ton
maksimum produk produk
pH 6-10 6-10
Sumber : Lampiran KEPMENLH No. 560 Tahun 2009

Tabel 1.3 Baku Mutu Air Limbah Outfall K-3, K-4 dan POPKA
Pabrik Urea
Parameter Beban Maksimum
(kg/Ton produk)
NH3-N 0,35
TKN 0,7
COD 0,75
TSS 0,5
Minyak dan lemak 0,1
Debit air
1,5 m3 per ton produk
limbah maksimum
pH 6-10
Sumber : Lampiran KEPMENLH No. 560 Tahun 2009

Tabel 1.4 Produksi Urea Maksimum yang di Izinkan

No. Pabrik Urea Kapasitas (ton/hari)


1 Kaltim-1 2550
2 Kaltim-2 2070
3 Kaltim-3 2070
4 Kaltim-4 2070
5 Popka 2070
Sumber : Lampiran KEPMENLH No. 560 Tahun 2009
Standar yang digunakan oleh PT. Pupuk Kaltim untuk pemantauan kebisingan lingkungan kerja
mengacu kepada Keputusan Menteri Tenaga Kerja No.51/MEN/1999

Tabel 1.5 Kebisingan Menurut Kepmen No. 51/ MEN/1999

Lama Kebisingan yang


Maksimum, dBA
diperbolehkan/ hari (Jam)
8 85
4 88
2 91
1 94
0.5 97
0.25 100

Kegiatan operasional pabrik-pabrik PT. Pupuk Kaltim yang menggunakan peralatan-peralatan


seperti turbin dan compressor serta pengaliran fluida dalam pipa-pipa, valve, gas exhaust merupakan
sumber kebisingan, sampai 90 dBA. Peralatan-peralatan tersebut dalam kegiatan produksi
diasumsikan sebagai sumber bising (PKT-UNDIP, 2004).
Berdasarakan lampiran 2 Menteri Tenaga Kerja No:Kep-51/Men/1999, tentang nilai ambang
batas (NAB), maka dari data hasil kebisingan rata-rata Kaltim-1 98,81 dBA. Kaltim-2 98,68 dBA.
Kaltim-3 96,81 dBA Kaltim-4 92,15 dBA. dan dari data tersebut sudah melampui baku tingkat
kebisingan yang diijinkan untuk pemajanan 8 jam per hari.

Tabel 1.6 Perbandingan Kebisingan


Rata-Rata Kebisingan
Compressor Jumlah
No House Kondisi Baru Kondisi Terakhir Selisih
Ammonia (dBA) (dBA) (dBA)

1 Kaltim -1 90 98,8 8,81


2 Kaltim -2 87,9 98,6 10,7
3 Kaltim -3 83,4 96,8 13,4
4 Kaltim -4 89,7 92,1 2.4
Berdasarkan perbandingan diatas dapat terlihat bahwa perbedaan rata-rata kebisingan compressor
Ammonia Kaltim -1, Kaltim -2, Kaltim -3 dan Kaltim -4 kondisi spec bising alat dengan kondisi bising eksisting
sangat signifikan hal ini perlu dilakukan evaluasi secara komprehensif untuk menilai performa alat.
Kalkulasi paparan ini sangat diperlukan untuk mengetahui sampai sejauh mana dampaknya terhadap
lingkungan sekitar pabrik terutama dipemukinan, hasil perhitungan ini juga dapat dibandingkan baku mutu
pemukiman sesuai Surat Keputusan Gubernur Kaltim No. 339 th. 1988 lampiran IV, Tentang baku mutu
lingkungan untuk debu maksimum di pemukiman yaitu sebesar 0,26 mg/Nm3 untuk waktu paparan 24 jam
serta SE-02/Men/78 Menakertranskop yaitu sebesar 10 mg/Nm3 untuk waktu paparan 8 jam.
Selain itu hasil kalkulasi ini juga dapat melihat profil paparan debu urea dan dapat
dibandingkan dengan data sekunder yaitu data pemantau paparan debu urea ke pemukiman
yang dilakukan setiap bulan sekali.