Anda di halaman 1dari 3

Apusan skripsi

Hudak dan Gallo (1997) menyatakan bahwa sumber dari stres perawat adalah
pekerjaan yang di ulang-ulang. Setiap langkah harus ditulis, perpindahan perawat dari
tempat lain, situasi kritis yang sering, bahaya fisik (jarum-jarum, pasien isolasi dan
lainnya), mengangkat berat, pasien tidak sadar, teman sejawat yang bingung, bunyi-
bunyian yang terus-menerus (suara monitor dan alat-alat penunjang medis lainnya,
rintihan dan jeritan pasien).

Cary Cooper dan Alison Straw (1995) mengemukakan gejala stres dapat berupa tanda-tanda
berikut ini:
1. Fisik, yaitu nafas memburu, mulut dan kerongkongan kering, tangan lembab, rnerasa panas,
otot-otot tegang, pencernaan terganggu, sembelit, letih yang tidak beralasan, sakit kepala, salah
urat dan gelisah.
2. Perilaku, yaitu perasaan bingung, cemas dan sedih, jengkel, salah paham, tidak berdaya,
tidak mampu berbuat apa-apa, gelisah, gagal, tidak menarik, kehilangan semangat, sulit
konsentrasi, sulit berfikir jernih, sulit membuat kcputusan, hilangnya kreatifitas, hilangnya
gairah dalam penampilan dan hilangnya minat terhadap orang lain.
3. Watak dan kepribadian, yaitu sikap hati-hati menjadi cermat yang berlebihan, cemas
menjadi lekas panik, kurang percaya diri menjadi rawan, penjengkel menjadi meledak-ledak.

Sedangkan gejala stres di tempat kerja, yaitu meliputi:


1. Kepuasan kerja rendah
2. Kinerja yang menurun
3. Semangat dan energi menjadi hilang
4. Komunikasi tidak lancar
5. Pengambilan keputusan jelek
6. Kreatifitas dan inovasi kurang
7. Bergulat pada tugas-tugas yang tidak produktif.
Semua yang disebutkan di atas perlu dilihat dalam hubungannya dengan kualitas kerja
dan interaksi normal individu sebelumnya.

Mulisha (2010) menjelaskan bahwa dalam menjalankan tugasnya, seorang


perawat yang bertugas di bagian unit gawat darurat mempunyai peranan sebagai
berikut :
1) Melakukan triase, mengkaji dan menetapkan dalam spektrum yang lebih
luas terhadap kondisi klinis pada berbagai keadaan yang bersifat
mendadak mulai dari ancaman nyawa sampai kondisi kronis.
2) Mengkaji dan melakukan asuhan keperawatan terhadap individu individu
dari semua umur dan berbagai kondisi.
3) Mengatur waktu secara efisien walaupun informasi terbatas.

4) Memberikan dukungan emosional terhadap pasien dan keluarganya.


5) Memfasilitasi dukungan spiritual

6) Mengkoordinasikan berbagai pemeriksaan diagnostik dan memberikan


pelayanan secara multi disiplin.
7) Mendokumentasikan dan komunikasikan informasi tentan pelayanan yang
telah diberikan serta kebutuhan untuk tindak lanjut.
8) Memfasilitasi rujukan dalam rangka menyelesaikan masalah kegawat-
daruratan
9) Membantu individu beradaptasi terhadap kegiatan sehari- hari

10) Memfasilitasi tindak lanjut perawatan dengan memanfaatkan sumber-sumber


yang ada di masyarakat.
11) Merespon secara cepat dan memfasilitasi terhadap bencana yang terdapat di
komunitas dan institusi.
b) Tingkatan stres ini bisa diukur dengan banyak skala. Antaranya adalah dengan
menggunakan Depression Anxiety Stres Scale 42 (DASS 42) atau lebih diringkaskan
sebagai Depression Anxiety Stres Scale 21 (DASS 21) oleh Lovibond & Lovibond
(1995). Psychometric Properties of The Depression Anxiety Stres Scale 42 (DASS)
terdiri dari 42 item dan Depression Anxiety Stres Scale 21 terdiri dari 21 item. DASS
adalah seperangkat skala subjektif yang dibentuk untuk mengukur status emosional
negatif dari depresi, kecemasan dan stres. DASS 42 dibentuk tidak hanya untuk
mengukur secara konvensional mengenai status emosional, tetapi untuk proses yang
lebih lanjut untuk pemahaman, pengertian, dan pengukuran yang berlaku di
manapun dari status emosional, secara signifikan biasanya digambarkan sebagai
stres. DASS dapat digunakan baik itu oleh kelompok atau individu untuk tujuan
penelitian (Lovibond & Lovibond, 1995). Tingkatan stres pada instrumen ini berupa
normal, ringan, sedang, berat, sangat berat. Psychometric Properties of The
Depression Anxiety Stres Scale 42 (DASS) terdiri dari 42 item, mencakup 3
subvariabel, yaitu fisik, emosi/psikologis, dan perilaku.