Anda di halaman 1dari 20

PENCAHAYAAN ALAMI

RUANG LABORATORIUM KOMPUTER 1


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS KATOLIK MUSI CHARITAS
DENGAN ECOTECT

FISIKA BANGUNAN 2

Dosen Pembimbing:
Abdul Rachmad Zahrial Amin,S.T, M.T.

Disusun oleh:
Dominicus Tri Diantoro (14.11.001)
Tommy Trio Saputra (14.11.003)
Chintia Natalia (14.11.013)

TEKNIK ARSITEKTUR
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS KATOLIK MUSI CHARITAS
PALEMBANG
2016
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Menurut sumbernya, pencahayaan suatu ruangan terdiri dari
2 macam yaitu pencahayaan alami dan buatan. Pencahayaan
buatan adalah pencahayaan yang berasal dari perubahan energi
listrik menjadi cahaya yang biasanya ditemukan pada malam hari
atau saat matahari tidak menampakkan cahayanya. Yang kedua
adalah pencahayaan alami, yang bersumber pada matahari. Dalam
pengolahannya cahaya matahari dapat masuk ke dalam suatu
ruangan baik secara langsung maupun melalui pemantulan. Namun
penggunaan sinar matahari secara langsung yang berlebih akan
membuat suhu ruangan menjadi panas.
Pada dasarnya kebanyakan ruangan memiliki sebuah
jendela, kaca maupun ventilasi kecil yang digunakan sebagai
usaha untuk membuat penghawaan pada ruangan. Namun dari
celah-celah kecil itu pulalah cahaya dapat masuk untuk menerangi
ruangan di dalamnya. Namun untuk mendapatkan suatu ruangan
yang baik penerangan alaminya diperlukan minimal 1/6 dari luas
ruang tersebut sebagai tempat masuk cahaya. Selain
mendapatkan ruangan yang terang, pencahayaan alami dapat
meminimalisir penggunaan listrik pada siang hari. Hal ini berkaitan
dengan isu penghematan energi yang sulit terbarukan. Namun
tidak semua ruangan dan tidak semua bangunan dalam
perancangannya mampu memaksimalkan pencahayaan alami
tersebut. Letak tapak, orientasi dan arah mata angin menjadi hal
yang sangat signifikan dalam kaitannya untuk memaksimalkan
pencahayaan ruangan.
Penelitian ini dimaksudkan untuk melihat seberapa
maksimalkah pencahyaan alami yang terjadi pada Ruang
Laboratorium 1 Fak. Sains dan Teknologi UNIKA Musi
Charitas.Dan bagaimana kondisi ruangan yang seharusnya.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Bagaimakah pencahayaan alami pada Ruang Laboratorium 1
Fak. Sains dan Teknologi UNIKA Musi Charitas?
1.2.2 Apakah pencahyaan alami yang terjadi telah sesuai dengan
kebutuhan akan aktifitas dalam ruang?

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Untuk mengetahui pencahayaan alami yang terjadi pada Ruang
Laboratorium 1 Fak. Sains dan Teknologi UNIKA Musi Charitas
1.3.2 Untuk mengetahui hubungan antara pencahayaan alami yang
terbentuk dengan akitivitas dalamnya.

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Sebagai bahan referensi untuk mengkaji ulang untuk
menyesuaikan dengan keadaan yang sebenarnya yang didapat
dari penelitian
1.4.2 Sebagai sampel keadaan ruangan lain di Fakultas Sains dan
Teknologi UNIKA Musi Charitas

1.5 Dasar Teori


Pencahayaan adalah jumlah penyinaran pada suatu bidan kerja
yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan secara efektif
(KEPMENKES RI. No. 1405/MENKES/SK/XI/02). Sistem
pencahayaan dalam ruang dapat dibagi menjadi dua bagian besar
berdasarkan sumber energi yang digunakan, yaitu sistem
pencahayaan alami dan sistem pencahayaan buatan. Kedua sistem ini
memiliki karakteristik yang berbeda, dengan kelebihan dan
kekurangannya masing-masing.
Pencahayaan alami adalah sumber pencahayaan yang berasal dari
sinar matahari. Sinar alami mempunyai banyak keuntungan, selain
menghemat energi listrik juga dapat membunuh kuman. Untuk
mendapatkan pencahayaan alami pada suatu ruang diperlukan
jendela-jendela yang besar ataupun dinding kaca sekurang-kurangnya
1/6 daripada luas lantai.
Sumber pencahayaan alami kadang dirasa kurang efektif dibanding
dengan penggunaan pencahayaan buatan, selain karena intensitas
cahaya yang tidak tetap, sumber alami menghasilkan panas terutama
saat siang hari. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan agar
penggunaan sinar alami mendapat keuntungan, yaitu:
1. Variasi intensitas cahaya matahari.
2. Distribusi dari terangnya cahaya.
3. Efek dari lokasi, pemantulan cahaya.
4. Letak geografis dan kegunaan bangunan gedung.
Pencahayaan alami dalam sebuah bangunan akan mengurangi
penggunaan cahaya buatan, sehingga dapat menghemat konsumsi
energi dan mengurangi tingkat polusi. Tujuan digunakannya
pencahayaan alami yaitu untuk menghasilkan cahaya berkualitas yang
efisien serta meminimalkan silau dan berlebihnya rasio tingkat terang.
Selain itu cahaya alami dalam sebuah bangunan juga dapat
memberikan suasana yang lebih menyenangkan dan membawa efek
positif lainnya dalam psikologi manusia.
Agar dapat menggunakan cahaya alami secara efektif, perlu
dikenali ke beberapa sumber cahaya utama yang dapat dimanfaatkan:
1. Sunlight, cahaya matahari langsung dan tingkat cahayanya
tinggi.
2. Daylight, cahaya matahari yang sudah tersebar dilangit dan
tingkat cahayanya rendah.
3. Reflected light, cahaya matahari yang sudah dipantulkan.
(Muchlisin Riadi,Sistem Pencahayaan Alami,
www.kajianpustaka.com)
Faktor pencahayaan siang hari adalah perbandingan tingkat
pencahyaan pasa suatu titik dari suatu bidang tertentu di dalam suatu
ruangan terhadap tingkat pencahayaan bidang datar di lapangan
terbuka yang merupakan ukuran kinerja lubang cahaya ruangan
tersebut. Faktor pencahayaan alami siang hari terdiri dari 3 komponen
meliputi:
1. Komponen langit (faktor langit-fl) yakni komponen pencahayaan
langsung dari cahaya langit

2. Komponen refleksi luar (faktor refleksi luar frl) yakni komponen


pencahayaan yang berasal dari refleksi benda-benda yang
berada di sekitar bangunan yang bersangkutan.

3. Komponen refleksi dalam (faktor refleksi dalam frd) yakni


komponen-komponen pencahayaan yang berasal dari refleksi
permukaan-permukaan dalam ruangan, dari cahaya yang
masuk ke dalam ruangan akibat refleksi benda-benda di luar
ruangan maupun dari cahaya langit. (SNI 03-2396-2001)
Berikut adalah tabel standar pencahayaan bagi suatu ruang:
Tingkat Pencahayaan Lingkungan Kerja
TINGKAT
JENIS
PENCAHAYAAN KETERANGAN
KEGIATAN
MINIMAL (LUX)
Pekerjaan 100 Ruang
kasar dan penyimpanan &
tidak terus ruang
menerus peralatan/instalasi
yang memerlukan
pekerjaan yang
kontinyu
Pekerjaan 200 Pekerjaan dengan
kasar dan mesin dan
terus perakitan kasar
menerus
Pekerjaan 300 Ruang
rutin administrasi, ruang
kontrol, pekerjaan
mesin &
perakitan/penyusun
Pekerjaan 500 Pembuatan gambar
agak halus atau bekerja
dengan mesin
kantor, pekerjaan
pemeriksaan atau
pekerjaan dengan
mesin
Pekerjaan 1000 Pemilihan warna,
halus pemrosesan teksti,
TINGKAT
JENIS
PENCAHAYAAN KETERANGAN
KEGIATAN
MINIMAL (LUX)
pekerjaan mesin
halus & perakitan
halus
Pekerjaan 1500 Mengukir dengan
amat halus Tidak tangan,
menimbulkan pemeriksaan
bayangan pekerjaan mesin
dan perakitan yang
sangat halus
Pekerjaan 3000 Pemeriksaan
terinci Tidak pekerjaan,
menimbulkan perakitan sangat
bayangan halus
Sumber: KEPMENKES RI. No. 1405/MENKES/SK/XI/02

United Nations Environment Programme (UNEP) dalam


Pedoman Efisiensi Energi untuk Industri di Asia mengklasifikasikan
kebutuhan tingkat pencahayaan ruang tergantung area
kegiatannya, seperti berikut:
Kebutuhan Pencahayaan Menurut Area Kegiatan
Pencahayaa Contoh Area
Keperluan
n (LUX) Kegiatan
Pencahayaan 20 Layanan
Umum untuk penerangan
ruangan dan area yang minimum
yang jarang dalam
digunakan area sirkulasi
Pencahayaa Contoh Area
Keperluan
n (LUX) Kegiatan
dan/atau tugas- luar ruangan,
tugas atau pertokoan
visual sederhana didaerah
terbuka,
halaman tempat
penyimpanan
50 Tempat pejalan
kaki & panggung
70 Ruang boiler
100 Halaman Trafo,
ruangan tungku,
dll.
150 Area sirkulasi di
industri,
pertokoan dan
ruang penyimpa
n.
Pencahayaan 200 Layanan
umum untuk penerangan
interior yang minimum
dalam tugas
300 Meja & mesin
kerja ukuran
sedang, proses
umum dalam
industri kimia
dan makanan,
kegiatan
Pencahayaa Contoh Area
Keperluan
n (LUX) Kegiatan
membaca dan
membuat arsip.
450 Gantungan baju,
pemeriksaan,
kantor untuk
menggambar,
perakitan mesin
dan bagian yang
halus, pekerjaan
warna, tugas
menggambar
kritis.
1500 Pekerjaan mesin
dan diatas meja
yang sangat
halus, perakitan
mesin presisi
kecil dan
instrumen;
komponen
elektronik,
pengukuran &
pemeriksaan
bagian kecil
yang rumit
(sebagian
mungkin
diberikan oleh
Pencahayaa Contoh Area
Keperluan
n (LUX) Kegiatan
tugas
pencahayaan
setempat)
Pencahayaan 3000 Pekerjaan
tambahan setemp berpresisi dan
at untuk rinci sekali, misal
tugas visual yang instrumen yang
tepat sangat kecil,
pembuatan jam
tangan,
pengukiran
Sumber : www.energyefficiencyasia.org

Penerangan untuk membaca dokumen lebih tinggi dari pada


penerangan untuk melihat komputer, karena tingkat penerangan
yang dianjurkan untuk pekerja dengan komputer tidak dapat
berdasarkan satu nilai dan sampai saat ini masih kontroversial.
Grandjean menyusun rekomendasi tingkat penerangan pada
tempat-tempat kerja dengan komputer berkisar antara 300-700 lux
seperti berikut.
Rekomendasi Tingkat Pencahayaan Pada Tempat Kerja
Dengan Komputer
Tingkat
Keadaan Pekerja Pencahayaan
(lux)
Kegiatan Komputer dengan 300
sumber dokumen yang terbaca
jelas
Kegiatan Komputer dengan 400-500
sumber dokumen yang tidak
terbaca jelas
Tugas memasukan data 500-700
(Prabu, Sistem dan Standar Pencahayaan,
https://putraprabu.wordpress.com)

1.6 Kondisi Ruang Laboratorium 1 Fakultas Sains dan Teknologi UNIKA


Musi Charitas
Ruang Lab.1 Fak. Sains dan Teknologi UNIKA Musi Charitas
merupakan ruangan labiratorium komputer dasar yang didalamnya
terdapat beberapa perangkat komputer beserta kelengkapannya.
Terdapat juga kursi dan meja komputer untuk menunjang kegiatan
perkulihan. Di sisi depan kelas terdapat sebuah teras selasar yang
langsung berhadapan dengan eksterior gedung. Dan dari situ pulalah
cahaya alami masuk ke dalam ruangan melalui jendela-jendela kaca
kusen kayu yang berjajar dengan dimensi 1.8 x 1 m dan pintu
2,3x0.8m serta ventilasi udara yang cukup banyak. Dinding bangunan
merupakan dinding pasangan bata dengan lantai keramik 60x60 yang
cukup berteksur. Orientasi bukaan menghadap utara.
Penelitian sepenuhnya menggunakan program ecotech agar
perhitungan lebih jelas dan akurat.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pencahayaan Alami pada Ruang Laboratorium 1 Fakultas Sains dan


Teknologi UNIKA Musi Charitas
Berikut adalah hasil dari perhitungan yang dibuat oleh Ecotech
untuk melihat keadaan cahaya alami dalam ruangan:
Luas total jendela (1,8 x 1 x 7) telah lebih dari 1/6 luas lantai (8x7)
sehingga syarat utama memiliki minima bukaan jendela untuk cahaya
masuk telah terpenuhi. Selanjutnya orientasi arah bukaan yang
menhadap utara membuat ruangan ini akan mendapatkan sinar
secara optimal dan tidak akan secara langsung menerima cahaya
matahari namun cahaya akan masuk berasal dari pantulan dan
cahaya langit.
Dari hasil terlihat titik terterang adalah 6278,21 lux yang yang
terletak di sudut ruangan bagian jendela. Dan yang paling gelap
adalah 0.00 lux yang terletak tepat dibawah kaki meja. Penerangan
terkesan hanya berada pada satu sisi sementara sisi lain kurang
maksimal dalam mendapatkan penerangan.
Sebagai sebuah ruang Laboratorium komputer ruangan ini harus
memiliki tingkat terang minimal 300-700 lux (Tabel rekomendasi
tempat kerja dengan komputer). Dan melihat pada setiap titik atas
meja kerja (287-3372 lux) maka pencahayaan alami sudah cukup
untuk melakukan aktivitas tanpa harus menggunakan bantuan cahaya
buatan. Keadaan tersebut sudah dianggap ideal dan cukup.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dari penelitian yang telah dilakukan pada Ruang Laboratorium 1
Fak. Sains dan Teknologi UNIKA Musi Charitas, terlihat bahwa
ruangan tersebut telah memenuhi standar pencahayaan alami
untuk kegitan perkuliahan menggunakan komputer di dalamnya.
Tingkat penerangan yang baik karena ditunjang bukaan jendela
yang besar dan maksimal, menjadi faktor utama dari baiknya
pencahayaan alami pada ruangan tersebut

4.2 Saran
Untuk lebih baiknya, penelitian ini bisa dikembangkan lagi sebagai
upaya dan referensi untuk pedoman merancang suatu ruangan
yang berwawasan hemat energi. Untuk selanjutnya kekurangan
dalam membuat penelitian ini bisa menjadi bahan evaluasi dalam
melaksanakan penelitian selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA

KEPMENKES RI. No. 1405/MENKES/SK/XI/02 tentang Persyaratan


Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Indutri
PRABU. 2009. Sistem dan Standar Pencahayaan,
https://putraprabu.wordpress.com. 13/6/2016, 22:00
RIADI, Muchlisin. 2014. Sistem Pencahayaan Alami.
www.kajianpustaka.com. 13/6/2-16, 21:30
SNI 03-2396-2000 tentang Tata Cara Perancangan Sistem Pencahayaan
Alami Pada Bangunan Gedung.
www.energyefficiencyasia.org
LAMPIRAN

Tampak atas hasil analisis cahaya

Tampak depan hasil analisis cahaya


Isometri hasil analisis cahaya

Isometri 3D hasil analisis cahaya


Eksterior simulasi bayangan dan pencahayaan
Pada pukul 15.30

Eksterior simulasi bayangan dan


pencahayaan
Pada pukul 15.30
Simulasi interior 1 (dekat jendela)

Simulasi interior 2 (sudut depan kelas)


Simulasi interior 3