Anda di halaman 1dari 93

Daftar Modul HSE

01.

Isolasi Energi Berbahaya

01. Isolasi Energi Berbahaya

02.

Memasuki Ruang Tertutup

02. Memasuki Ruang Tertutup

03.

Klasifikasi Area Berbahaya

03. Klasifikasi Area Berbahaya

04.

Penanganan Bahan Berbahaya

04. Penanganan Bahan Berbahaya

05.

Identifikasi Bahaya

05. Identifikasi Bahaya

06.

Keselamatan Kerja Radiasi

06. Keselamatan Kerja Radiasi

07.

Keselamatan Kerja H 2 S

07. Keselamatan Kerja H 2 S

08.

Pengujian & Deteksi Gas

08. Pengujian & Deteksi Gas

09.

Pengendalian Pekerjaan Berbahaya Dengan Dokumentasi

09. Pengendalian Pekerjaan Berbahaya Dengan Dokumentasi

010.

Tabung Gas Bertekanan

010. Tabung Gas Bertekanan

011.

Aspek Kebakaran

011. Aspek Kebakaran

012.

Scaffolding

012. Scaffolding

013.

Alat Pelindung Diri

013. Alat Pelindung Diri

014.

Surat Ijin Kerja

014. Surat Ijin Kerja

015.

Keselamatan Penggalian

015. Keselamatan Penggalian

016.

Operasi Pengangkatan

016. Operasi Pengangkatan

017.

Accident Incident Investigation

017. Accident Incident Investigation

018.

Bahaya Terhadap Kesehatan Kerja

018. Bahaya Terhadap Kesehatan Kerja

019.

Tanggap Darurat

019. Tanggap Darurat

020.

Keselamatan Operasi Gas Purging

020. Keselamatan Operasi Gas Purging

021.

Pengamatan Keselamatan Kerja

021. Pengamatan Keselamatan Kerja

022.

Bekerja di Ketinggian

022. Bekerja di Ketinggian

023.

Lingkungan Kerja Aman

023. Lingkungan Kerja Aman
Bekerja di Ketinggian 023. Lingkungan Kerja Aman Modul Sertifikasi SI, GSI & A T PT. PERT

Modul Sertifikasi SI, GSI & AT PT. PERTAMINA PERSERO HSE Corporate

Keselamatan H2S

Tujuan Modul

2

1. Pendahuluan

3

2. Sifat dan Bahaya Gas H 2 S

17

3. Program Keselamatan Kerja H2S di Industri Minyak dan Gas Bumi

29

4. Sistem Monitoring Gas H 2 S dan Alarm

35

5. Alat Pelindung Pernapasan

47

6. Rencana Tanggap Darurat

65

7. Studi Kasus

79

Daftar Pustaka

82

Lampiran 1 : Material Safety Data Sheet –

H2S

83

Lampiran 2 : Matriks Kompetensi SIKA

91

2

Tujuan Modul

Tujuan Modul

Memberikan Pemahaman Ciri-Ciri dan Bahaya H 2 S dan.

Memberikan Pengetahuan Bekerja Aman Dengan Potensi Bahaya H 2 S di Lingkungan Kerja.

Aman Dengan Potensi Bahaya H 2 S di Lingkungan Kerja. Melalui modul ini diharapkan para pekerja

Melalui modul ini diharapkan para pekerja dapat memahami bahaya H 2 S, sifat, dan dimana biasanya ditemukan atau terdapat bahaya H 2 S di lingkungan kerja. Dari pengetahuan akan bahaya H 2 S, pekerja diharapkan mampu memahami efek dari gas H 2 S dan memahami pentingnya bekerja dengan aman walaupun terdapat bahaya di sekitar tempat kerja.

aman walaupun terdapat bahaya di sekitar tempat kerja. Selain itu, pekerja diharapkan mengetahui batas-batas aman H
aman walaupun terdapat bahaya di sekitar tempat kerja. Selain itu, pekerja diharapkan mengetahui batas-batas aman H

Selain itu, pekerja diharapkan mengetahui batas-batas aman H 2 S dan pengukurannya, dapat melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan sumber H 2 S di area kerja, penggunaan alat pelindung diri, dan rencana tanggap daruratnya.

yang berkaitan dengan sumber H 2 S di area kerja, penggunaan alat pelindung diri, dan rencana

3

1 Pendahuluan

4

Pendahuluan

1.1. Sumber H 2 S

Hidrogen Sulfida (H 2 S) dihasilkan di alam yang disebabkan oleh dekomposisi bahan-bahan organik (binatang atau tumbuh-tumbuhan) oleh bakteri. H 2 S juga dihasilkan di dataran rendah atau daerah yang memiliki kadar Oksigen cukup rendah seperti daerah rawa-rawa, dan juga bisa ditemukan pada gas vulkanik.

daerah rawa-rawa, dan juga bisa ditemukan pada gas vulkanik. Gambar 1.1 Sumber H 2 S di
daerah rawa-rawa, dan juga bisa ditemukan pada gas vulkanik. Gambar 1.1 Sumber H 2 S di
daerah rawa-rawa, dan juga bisa ditemukan pada gas vulkanik. Gambar 1.1 Sumber H 2 S di
daerah rawa-rawa, dan juga bisa ditemukan pada gas vulkanik. Gambar 1.1 Sumber H 2 S di

Gambar 1.1 Sumber H 2 S di Alam

pada gas vulkanik. Gambar 1.1 Sumber H 2 S di Alam Hidrogen Sulfida ditemukan di dalam

Hidrogen Sulfida ditemukan di dalam pori-pori atau celah-celah bebatuan pada lapisan bawah / dasar bumi. Biasanya tercampur dengan air garam, gas alam dan minyak bumi. H 2 S bukan hanya ditemukan pada lokasi tertentu saja, tapi lebih terutama ditemukan di dalam pembentukan soda batu gamping / batu kapur dimana konsentrasi besinya tampak rendah

tapi lebih terutama ditemukan di dalam pembentukan soda batu gamping / batu kapur dimana konsentrasi besinya

Pendahuluan 5

dan mencegah pembentukan Besi Sulfida (pyrite) yang stabil.

Di dalam eksplorasi minyak dan gas, daerah H 2 S terbentuk selama terjadinya pembusukan dari binatang organik dan / tumbuhan oleh aktifitas bakteri. Bakteri berkembang di bawah endapan kedap / rapat dimana kondisinya sangat anaerobik dan mengurangi kehadiran Sulfat untuk membentuk H 2 S. Pada dasarnya anaerobik adalah berarti bakteri yang dapat hidup di area yang kurang Oksigen dan menghasilkan senyawa pembusukan dibanding dengan bakteri lain yang hidup dalam air atau udara bebas.

Dalam pekerjaan pengeboran, H 2 S dapat terbentuk dengan penurunan panas (diatas suhu 375 o F) dari semacam belerang yang mengandung cairan tambahan pengeboran (lignosulfates) juga bakteri pembusukan dari Sulfat di dalam lumpur pengeboran (lumpur buatan / gyp mud, kontaminasi Anhydride, dsb).

(lumpur buatan / gyp mud , kontaminasi Anhydride, dsb). Dalam pengeboran panas bumi, H 2 S
(lumpur buatan / gyp mud , kontaminasi Anhydride, dsb). Dalam pengeboran panas bumi, H 2 S
(lumpur buatan / gyp mud , kontaminasi Anhydride, dsb). Dalam pengeboran panas bumi, H 2 S
(lumpur buatan / gyp mud , kontaminasi Anhydride, dsb). Dalam pengeboran panas bumi, H 2 S

Dalam pengeboran panas bumi, H 2 S dihasilkan bersama- sama dengan CO 2 , NH 3 , HCI, HF & SO 2 dalam uap primer yang dilepaskan dari aktifitas

6

Pendahuluan

magma. Dalam struktur dari sistem gas - gas magma berpindah tempat. H 2 S dapat dibentuk oleh reaksi kimia antara Sulfur Dioksida dan molekul Hydrogen :

SO 2

+

H 2

=

H 2 S

+

H 2 O

H 2 S Juga dapat dibentuk saat cairan panas bumi bertemu dengan lapisan yang mengandung Sulfur (belerang), mengikuti reaksi di bawah ini :

4S + 4H 2 O =
4S
+ 4H 2 O
=
(belerang), mengikuti reaksi di bawah ini : 4S + 4H 2 O = 3H 2 O

3H 2 O + H 2 SO 4

+ 3H 2 S

Kehadiran permukaan yang mengandung Asam Sulfat dapat menunjukkan adanya gas H 2 S yang berpindah ke permukaan dan beroksidasi. Seringkali proses oksidasi tidak sempurna dan membebaskan H 2 S yang akan dilepaskan ke permukaan udara. Dari sini bau telur busuk seringkali ditemukan disekitar sumber air panas dan fumarol.

akan dilepaskan ke permukaan udara. Dari sini bau telur busuk seringkali ditemukan disekitar sumber air panas

Pada panas bumi (geothermal), pengeboran minyak dan gas, produksi dan industri pengilangan, H 2 S dapat menjadi masalah yang serius dan membahayakan.

2 S dapat menjadi masalah yang serius dan membahayakan. Aktifitas pengeboran dan produksi minyak, gas atau

Aktifitas pengeboran dan produksi minyak, gas atau panas bumi sangat berpotensi terjadinya paparan gas H 2 S ke udara yang sangat berbahaya terhadap tubuh manusia.

Pendahuluan 7

Pekerja yang bekerja di lokasi pengeboran minyak dan gas bumi di daerah yang diketahui mengandung gas H 2 S dihadapkan pada resiko terpaparnya gas H 2 S yang dipacu oleh udara panas sekitar.

H 2 S adalah materi yang sangat beracun, tidak berwarna, dalam konsentrasi yang rendah berbau seperti telur busuk dan juga lebih berat daripada udara. Oleh karenanya, H 2 S sering disebut juga gas telur busuk, gas asam, asam belerang ataupun uap bau.

Keberadaannya yang mudah diketahui dapat digunakan sebagai peringatan dini bagi pekerja di sekitarnya. Namun, jika terlalu lama menghirup udara yang telah tercemar oleh gas H 2 S, maka akan terjadi kelelahan penciuman yang dapat mengakibatkan hilangnya kemampuan penciuman untuk memberi peringatan dini jika konsentrasi gas H 2 S di udara meningkat menuju ke tingkatan yang dapat mengakibatkan hilangnya kesadaran seseorang.

konsentrasi gas H 2 S di udara meningkat menuju ke tingkatan yang dapat mengakibatkan hilangnya kesadaran
konsentrasi gas H 2 S di udara meningkat menuju ke tingkatan yang dapat mengakibatkan hilangnya kesadaran
konsentrasi gas H 2 S di udara meningkat menuju ke tingkatan yang dapat mengakibatkan hilangnya kesadaran
konsentrasi gas H 2 S di udara meningkat menuju ke tingkatan yang dapat mengakibatkan hilangnya kesadaran

8

Pendahuluan

8 Pendahuluan Gambar 1.2 Keberadaan H 2 S di dalam eksplorasi dan pengolahan gas dan minyak
8 Pendahuluan Gambar 1.2 Keberadaan H 2 S di dalam eksplorasi dan pengolahan gas dan minyak

Gambar 1.2 Keberadaan H 2 S di dalam eksplorasi dan pengolahan gas dan minyak bumi

S di dalam eksplorasi dan pengolahan gas dan minyak bumi Untuk alasan tersebut, pengetahuan untuk melindungi
S di dalam eksplorasi dan pengolahan gas dan minyak bumi Untuk alasan tersebut, pengetahuan untuk melindungi

Untuk alasan tersebut, pengetahuan untuk melindungi diri sendiri dan pekerja lain adalah sangat penting khususnya untuk setiap pekerja yang bekerja di industri minyak dan gas bumi yang menangani material berbahaya ini.

Beberapa contoh kecelakaan yang diakibatkan oleh terlepasnya gas H 2 S ke udara sekitar, banyak disebabkan ketika pekerja membuka saluran yang seharusnya bekerja dengan sistem tertutup. Beberapa kecelakan tersebut antara lain :

sistem tertutup. Beberapa kecelakan tersebut antara lain : a. Pada tahun 1988, seorang karyawan kilang terpapar
sistem tertutup. Beberapa kecelakan tersebut antara lain : a. Pada tahun 1988, seorang karyawan kilang terpapar

a. Pada tahun 1988, seorang karyawan kilang terpapar oleh gas H 2 S dengan konsentrasi yang cukup tinggi. Hal ini terjadi ketika pekerja tersebut sedang mengosongkan isi dari KO Drum ke dalam saluran pembuangan secara manual dan

Pendahuluan 9

bukannya mengaktifkan pompa untuk membuang isi dari KO drum tersebut. Pekerja tersebut tidak melaksanakan prosedur yang sesuai dan membuka katup pembuangan tersebut yang mengakibatkan ikut terbawanya gas H 2 S dan terlepas ke udara.

b. Pada tahun 1993, 2 karyawan yang bekerja di Vacuum Unit terkena ledakan yang disebabkan oleh gas H 2 S yang bocor.

c. Pada tahun 1994, sebuah kematian tragis yang disebabkan oleh paparan Hidrogen Sulfida. Kecelakaan itu terjadi ketika salah seorang pekerja membuka katup pembuangan pada KO Drum di unit Hydrocracker. Berdasarkan prosedur operasi, pekerja terebut seharusnya mengalirkan campuran air-gas tersebut menuju ke separator untuk memisahkan uap yang dikandungnya.

menuju ke separator untuk memisahkan uap yang dikandungnya. Ada beberapa hal yang perlu diketahui mengenai sifat-sifat
menuju ke separator untuk memisahkan uap yang dikandungnya. Ada beberapa hal yang perlu diketahui mengenai sifat-sifat
menuju ke separator untuk memisahkan uap yang dikandungnya. Ada beberapa hal yang perlu diketahui mengenai sifat-sifat

Ada beberapa hal yang perlu diketahui mengenai sifat-sifat H 2 S ini yang berhubungan dengan pekerjaan sehari-hari, yaitu :

S ini yang berhubungan dengan pekerjaan sehari-hari, yaitu : 1. H 2 S akan mudah teruapkan

1. H 2 S akan mudah teruapkan jika cairan yang mengandung H 2 S tersebut teraduk atau dengan kata lain terganggu kestabilannya. Hal ini dapat

10 Pendahuluan

terjadi dalam beberapa cara. Memompa cairan dari tangki penampungan ke dalam truk tangki akan menyebabkan H 2 S dalam cairan menjadi teruapkan. Setiap pekerja harus berhati-hati ketika memindahkan atau bekerja di sekitar cairan yang mungkin mengandung H 2 S terlarutkan.

2. Berhati-hatilah ketika melakukan pengurangan tekanan pada suatu peralatan, kolom, tangki, dll. yang mungkin mengandung cairan dengan kandungan H 2 S di dalamnya. Proses pengurangan tekanan juga membuat H 2 S terlepas ke udara dan bisa menyebabkan bahaya.

H 2 S terlepas ke udara dan bisa menyebabkan bahaya. 3. Meningkatnya temperatur cairan yang mengandung
H 2 S terlepas ke udara dan bisa menyebabkan bahaya. 3. Meningkatnya temperatur cairan yang mengandung

3. Meningkatnya temperatur cairan yang mengandung H 2 S juga dapat mengakibatkan terlepasnya H 2 S tersebut ke udara. Setiap pekerja perlu berhati-hati ketika berada di sekitar kolom atau tanki khususnya pada siang hari.

di sekitar kolom atau tanki khususnya pada siang hari. Oleh karena itu, setiap tempat kerja yang
di sekitar kolom atau tanki khususnya pada siang hari. Oleh karena itu, setiap tempat kerja yang

Oleh karena itu, setiap tempat kerja yang menangani bahan-bahan berbahaya seperti gas H 2 S atau cairan yang memiliki kandungan H 2 S di dalamnya wajib menyertakan Material Safety Data Sheet (MSDS) untuk memastikan pekerja mengetahui bahaya dan penanganan dari bahan kima tersebut.

Pendahuluan 11

1.2. Lokasi Paparan H 2 S

Sebagian besar H 2 S didapat sebagai produk sampingan dari kegiatan lainnya. Gas H 2 S banyak ditemukan pada proses eksplorasi dan pengolahan gas alam serta pengilangan minyak bumi. Pada proses pengilangan minyak bumi, gas H 2 S ini dapat diubah kembali menjadi asam belerang atau belerang mutu tinggi, atau dimusnahkan dengan jalan membakarnya melalui saluran pembakaran.

Berikut ini adalah jenis-jenis industri yang memiliki potensi ditemukannya gas H 2 S tersebut, yaitu :

potensi ditemukannya gas H 2 S tersebut, yaitu :  Proses pengeboran minyak dan gas bumi.

Proses pengeboran minyak dan gas bumi.

Proses pengolahan minyak dan gas bumi.

Proses transportasi bahan kima yang mengandung

bumi.  Proses transportasi bahan kima yang mengandung H 2 S. Pada proses industri gas dan

H 2 S.

Proses transportasi bahan kima yang mengandung H 2 S. Pada proses industri gas dan minyak bumi,

Pada proses industri gas dan minyak bumi, H 2 S bisa ditemukan di beberapa lokasi yaitu :

bumi, H 2 S bisa ditemukan di beberapa lokasi yaitu :  sumur minyak.  stasiun

sumur minyak.

stasiun pengumpul minyak.

area pengeboran, termasuk lantai rig, fasilitas pengaduk, lumpur dan cellar box.

12 Pendahuluan

kompresor gas.

ruang tertutup seperti bejana proses dan tangki minyak mentah.

pompa dan perpipaan.

proses pengolahan air seperti : skimmer, MFU, pit, dan separator API.

saluran pembuangan, fasilitas pengolahan limbah.

   

tangki penampungan (kargo), galangan kapal, tanki bahan bakar.

laboratorium kimia.

Gudang bahan kimia (Chemical Storage) yang menyimpan Sulfat, Tiosulfat, Sulfit, Sulfida, Belerang, dan S-organik.

Tiosulfat, Sulfit, Sulfida, Belerang, dan S-organik. Sedangkan lokasi-lokasi yang memungkinkan terjadinya

Sedangkan lokasi-lokasi yang memungkinkan terjadinya kebocoran H 2 S adalah :

yang memungkinkan terjadinya kebocoran H 2 S adalah :  sambungan antar peralatan termasuk karet seal
 sambungan antar peralatan termasuk karet seal atau gasket.  sambungan perpipaan (fittings,flanges) 
sambungan antar peralatan termasuk karet seal
atau gasket.
sambungan perpipaan (fittings,flanges)
saluran pembuangan cairan (drains)

Pendahuluan 13

katup atau kerangan pengendali aliran sampel (sample valves)

katup atau kerangan pelepasan tekanan gas (relief valve)

saluran pembuangan gas (vent line)

Penyebab terjadinya pelepasan H 2 S ke lingkungan kerja, dapat disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut :

Korosi, H 2 S menyerang logam Fe dalam atmosfer :

H 2 S + Fe + ½ O 2 à FeS + H 2 O

Catatan: FeS(FeroSulfida) pada keadaan kering jika kontak dengan udara kering akan terbakar. Ini yang disebut Materi Phyrophoric. Oleh sebab itu jika diperkirakan ada H 2 S, pertama kali saat separator atau bejana diisi udara (walaupun telah di”purging” dengan gas inert sebelumnya) harus dipastikan kondisi separator atau bejana selalu dalam keadaan basah.

kondisi separator atau bejana selalu dalam keadaan basah. H 2 S + FeO à FeS +
kondisi separator atau bejana selalu dalam keadaan basah. H 2 S + FeO à FeS +
kondisi separator atau bejana selalu dalam keadaan basah. H 2 S + FeO à FeS +
H 2 S + FeO à FeS + H 2 O
H 2 S + FeO à FeS + H 2 O

H 2 S menyerang Oksida-Besi (sebagai hasil korosi dengan udara atau zat kimia lain) :

14 Pendahuluan

Kegiatan operasional : tekanan berlebihan (over pressure), panas berlebihan pada satu lokasi (over heathing / hot spot), reaksi berantai (chain reaction), dll.

Kegagalan mekanik (mechanical failure) : fatique, aus, fragmentasi, fungsi kerangan (valve), dll.

Sebab-sebab lain : erosi, kurang pemeliharaan yang baik, dll.

Yang perlu diperhatikan ketika ditemukan kebocoran H 2 S adalah :

1. Jika gas H 2 S bercampur dengan gas lain dan memiliki massa jenis yang lebih ringan dari udara (< 1.0), maka gas H 2 S tersebut akan naik.

2. Ketika sedang memasuki area tertutup di lokasi yang diketahui keberadaan gas H 2 S, maka ruangan tertutup tersebut memilki potensi kandungan gas H 2 S di dalamnya. Yang perlu diperhatikan adalah keberadaan dari kerak dan cairan di dalamnya :

adalah keberadaan dari kerak dan cairan di dalamnya : Cairan tersebut memungkinkan mengeluarkan gas H 2
adalah keberadaan dari kerak dan cairan di dalamnya : Cairan tersebut memungkinkan mengeluarkan gas H 2
adalah keberadaan dari kerak dan cairan di dalamnya : Cairan tersebut memungkinkan mengeluarkan gas H 2
adalah keberadaan dari kerak dan cairan di dalamnya : Cairan tersebut memungkinkan mengeluarkan gas H 2

Cairan tersebut memungkinkan mengeluarkan gas H 2 S yang dikandungnya jika cairan tersebut diganggu kestabilannya.

Pendahuluan 15

3. Proses penghilangan kerak dengan cara di-steam, bahan kima atau di gerinda dapat mengeluarkan gas H 2 S yang terkandung di dalamnya.

4. Ketika berada di fasilitas eksplorasi maupun produksi dari gas dan minyak bumi, maka perlu diperhatikan adalah arah angin yang terjadi, bisa dengan memperhatikan alat penunjuk arah angin atau memperhatikan gerak pepohonan sekitar. Jika terjadi kebocoran gas, maka gas H 2 S tersebut dapat dengan mudah terbawa angin.

gas H 2 S tersebut dapat dengan mudah terbawa angin. 5. Dikarenakan sifat H 2 S

5. Dikarenakan sifat H 2 S yang lebih berat daripada udara, maka gas H 2 S dapat berkumpul di area dataran rendah atau terhalang oleh bangunan sekitarnya.

area dataran rendah atau terhalang oleh bangunan sekitarnya. 1.3. Satuan Pengukuran Gas H 2 S Sesuai

1.3. Satuan Pengukuran Gas H 2 S

1.3. Satuan Pengukuran Gas H 2 S

Sesuai dengan daftar di atas, banyak tabel-tabel yang tercetak yang menggambarkan akibat dari H 2 S. Kebanyakan mengunakan ukuran umum bagian perjuta (ppm). Dalam membacanya, informasi di bawah ini perlu untuk diketahui :

Kebanyakan mengunakan ukuran umum bagian perjuta (ppm) . Dalam membacanya, informasi di bawah ini perlu untuk

16 Pendahuluan

1. Part Per Million (PPM) / bagian per juta (BPJ) - Betapa kecil jumlahnya, yang dapat lebih mudah dimengerti dengan contoh berikut :

a) Jika 1 inchi (2,54cm) mewakili 1 ppm gas, adalah seperti membandingkan 1 inchi tersebut dalam 15,5 mil (25 km).

b) Jika 1 detik mewakili 1 ppm gas, adalah seperti membandingkan 1 detik tersebut dalam 11,5 hari.

c) 2.
c)
2.

Jika 1 pound (0,5 kg) mewakili 1 ppm gas, adalah seperti membandingkan 1 pound tersebut dalam 500 ton.

Untuk merubah ppm dalam persentasi, pindahkan poin desimal empat kali ke kiri.

Tabel 1.1 Perbandingan PPM dengan persentasi 1 ppm = 0.0001 % dimana 1/10,000 dari 1
Tabel 1.1 Perbandingan PPM dengan persentasi
1
ppm
=
0.0001 %
dimana
1/10,000
dari 1 %
10
ppm
=
0.001 %
dimana
1/1000
dari 1 %
100
ppm
=
0.01
%
dimana
1/100
dari 1 %
200
ppm
=
0.02
%
dimana
1/200
dari 1 %
500
ppm
=
0.05
%
dimana
1/500
dari 1 %
1000
ppm
=
0.1
%
dimana
1/10
dari 1 %
10,000
Ppm
=
1.0
%
dimana
1 %
dari 1 %
100,000
ppm
=
10 %
dimana
10 %
dari 1 %
1,000,000
ppm
=
100 %
dimana
100 %
dari 1 %

17

2 Sifat dan

H2S

Bahaya Gas

18 Sifat dan Bahaya Gas H 2 S

G as H 2 S merupakan gas yang sangat beracun dan lebih mematikan dibandingkan dengan Karbon Monoksida (CO), dan hampir sama beracunnya dengan Hidro Sianida (HCN), sejenis gas yang digunakan untuk menghukum mati para narapidana

di beberapa negara bagian Amerika Serikat.

Pada umumnya, proses masuknya gas H 2 S kedalam tubuh manusia melalui sistem saluran pernapasan, sedangkan paparan gas H 2 S yang terserap melalui kulit sangat kecil.

gas H 2 S yang terserap melalui kulit sangat kecil. Masuknya gas H 2 S melalui

Masuknya gas H 2 S melalui saluran pernapasan diakibatkan ukuran partikel dari gas H 2 S yang kecil sehingga dapat dengan mudah masuk kedalam saluran pernapasan dimana gas H 2 S dapat diserap kedalam darah.

pernapasan dimana gas H 2 S dapat diserap kedalam darah. Ketika seseorang bernapas, udara yang dihirup
pernapasan dimana gas H 2 S dapat diserap kedalam darah. Ketika seseorang bernapas, udara yang dihirup

Ketika seseorang bernapas, udara yang dihirup masuk ke dalam paru-paru melalui mulut dan / hidung. Jika udara yang dihirup ini mengandung H 2 S pada konsentrasi kurang dari 100 ppm, bau telur busuk sudah dapat dideteksi, sedangkan konsentrasi

di
di

atas 100 ppm dapat melemahkan saraf penciuman

kita, lalu kita akan kehilangan daya penciuman. Berarti juga kita tidak dapat mengetahui tanda

Sifat dan Bahaya Gas H

2 S

19

bahaya adanya gas ini lewat bau. Tidak terciumnya bau untuk memperingati kita akan adanya gas ini, tanpa disadari H 2 S telah terhirup ke dalam paru-paru dan secara cepat mengalir ke dalam aliran darah. Untuk melindungi dirinya sendiri, badan kita secepat mungkin akan beroksidasi atau memecah-belahkan H 2 S menjadi senyawa yang tidak berbahaya. Tetapi jika seseorang menghirup H 2 S terlampau banyak hingga tubuhnya tidak dapat meng-oksidasi seluruh gas ini, H 2 S akan merambat dan berkembang di dalam aliran darahnya dan pekerja tersebut akan keracunan. Keracunan ini dapat melumpuhkan saraf pusat di dalam otak yang mengontrol otot paru-paru sehingga mengakibatkan paru-paru kita berhenti bekerja. Tidak bekerjanya paru-paru seketika menyebabkan seseorang menjadi sesak napas.

seketika menyebabkan seseorang menjadi sesak napas. Selain itu, gas H 2 S dapat bercampur dengan air
seketika menyebabkan seseorang menjadi sesak napas. Selain itu, gas H 2 S dapat bercampur dengan air
seketika menyebabkan seseorang menjadi sesak napas. Selain itu, gas H 2 S dapat bercampur dengan air

Selain itu, gas H 2 S dapat bercampur dengan air di paru-paru dan dapat membentuk “weak acid” / zat asam lemah. Keberadaan zat asam lemah di dalam paru-paru dapat menyerang pembuluh darah, sehingga cairan dari pembuluh darah akan keluar dari pembuluh darah menuju ke dalam jaringan- jaringan sekelilingnya dan dapat menyebabkan

dari pembuluh darah akan keluar dari pembuluh darah menuju ke dalam jaringan- jaringan sekelilingnya dan dapat

20 Sifat dan Bahaya Gas H 2 S

terjadinya pembengkakan pada paru-paru. Sehingga dapat menyebabkan kesulitan bernapas.

Sedangkan, efek fisik gas H 2 S pada tingkat rendah dapat menyebabkan terjadinya gejala-gejala sebagai berikut :

Mata seperti terbakar.

Sakit kepala atau pusing.

    Batuk-batuk.  Kulit terasa perih.
Batuk-batuk.
Kulit terasa perih.

Badan terasa lesu.

Hilangnya kemampuan indera penciuman.

Rasa kering pada hidung, tenggorokan dan dada.

penciuman. Rasa kering pada hidung, tenggorokan dan dada. Dampak paparan gas H 2 S terhadap manusia

Dampak paparan gas H 2 S terhadap manusia tergantung dari beberapa faktor, antara lain adalah :

Dampak paparan gas H 2 S terhadap manusia tergantung dari beberapa faktor, antara lain adalah :

Lamanya seseorang berada di lingkungan / paparan gas H 2 S pada konsentrasi tertentu (dalam hitungan jam atau menit).

pada konsentrasi tertentu (dalam hitungan jam atau menit).  Frekuensi / tingkat keseringan seseorang terpapar. 

Frekuensi / tingkat keseringan seseorang terpapar.

Besarnya konsentrasi H 2 S yang terpapar pada seseorang (dalam satuan ppm).

Sifat dan Bahaya Gas H

2 S

21

Daya tahan seseorang terhadap paparan H 2 S.

Di bawah ini adalah tabel mengenai dampak paparan gas H 2 S berdasarkan tingkat konsentrasinya terhadap kesehatan dan keselamatan manusia.

Tabel 2.1 Tingkat konsentrasi H 2 S dan efek fisik gas H 2 S

Konsentrasi H 2 S (ppm) Efek pada Manusia 0.13 Bau minimal masih terasa 4.6 Baunya
Konsentrasi
H 2 S (ppm)
Efek pada Manusia
0.13
Bau minimal masih terasa
4.6
Baunya mudah dikenali dalam kadar sedang
10
Permulaan iritasi mata dan mulai berair
27
Bau yang tidak enak dan tidak dapat ditoleransi lagi
100
Batuk-batuk, iritasi mata dan indera penciuman
sudah tidak berfungsi setelah 2 - 5 menit
Pembengkakan
mata
dan
rasa
kekeringan
di
200
- 300
tenggorokan
500
- 700
Kehilangan kesadaran dan bisa mematikan dalam
waktu 0.5 - 1 jam
800
Kehilangan kesadaran dengan cepat, berhenti atau
tersendatnya pernapasan dan berlanjut kematian
1000 - 2000
Segera pingsan, dengan awal perhentian pernapasan
dan kematian dalam beberapa menit. Kematian
dapat terjadi bahkan setelah korban dengan cepat
diungsikan ke tempat yang berudara segar

22 Sifat dan Bahaya Gas H 2 S

ppm = bagian gas per satu juta;

bagian udara dalam isi (by volume) - 1% = 10.000 ppm.

Berdasarkan ACGIH (American Conference of Governmental Industrial hygienist) pada tahun 2010, menurunkan batas paparan gas H 2 S dari batas paparan yang dikeluarkan sebelumnya sebagai berikut :

batas paparan yang dikeluarkan sebelumnya sebagai berikut : • Nilai ambang batas (TLV-TWA / Threshold Limit
batas paparan yang dikeluarkan sebelumnya sebagai berikut : • Nilai ambang batas (TLV-TWA / Threshold Limit

Nilai ambang batas (TLV-TWA / Threshold Limit Value-Time Weighted Average) H 2 S untuk selama 8 jam dari 10 ppm diturunkan menjadi 5 ppm. TWA didefinisikan sebagai konsentrasi rata-rata yang diperkenankan untuk pemaparan selama waktu tersebut yakni 8 jam kerja dalam 1 hari atau 40 jam-seminggu. Pekerja dapat terpapar secara berulang tanpa menimbulkan gangguan kesehatan pada batas tersebut (Occupational Exposure Limit for Chemical Substances). Pada tahun 2010, ACGIH juga mengeluarkan TWA baru untuk 12 jam yakni 2,5 ppm. ACGIH menurunkan batas ini berdasarkan pengaruh kesehatan yang terjadi di tempat umum (bukan tempat kerja).

berdasarkan pengaruh kesehatan yang terjadi di tempat umum (bukan tempat kerja). • Sedangkan nilai ambang batas
berdasarkan pengaruh kesehatan yang terjadi di tempat umum (bukan tempat kerja). • Sedangkan nilai ambang batas

Sedangkan nilai ambang batas yang

Sifat dan Bahaya Gas H

2 S

23

direkomendasikan ACGIH 2010 untuk waktu maksimal 15 menit adalah 15 ppm atau yang disebut dengan TLV – STEL (Treshold Limit Value – Short Term Exposure Limit).

Dengan demikian, pada area yang memiliki konsentrasi lebih dari 5 ppm, maka setiap pekerja yang akan berada di daerah tersebut lebih dari 8 jam diharuskan menggunakan alat bantuan pernapasan yang mengandung udara bersih atau Oksigen murni (SCBA).

Rangkuman sifat-sifat H 2 S dapat dilihat pada tabel 2.2 di bawah ini.

udara bersih atau Oksigen murni (SCBA). Rangkuman sifat-sifat H 2 S dapat dilihat pada tabel 2.2
udara bersih atau Oksigen murni (SCBA). Rangkuman sifat-sifat H 2 S dapat dilihat pada tabel 2.2

24 Sifat dan Bahaya Gas H 2 S

Tabel 2.2 Sifat-sifat H 2 S

SIFAT- SIFAT DESKRIPSI Fisik Umumnya berupa Gas Racun Tingkat Bahaya Kesehatan - biru (Health Hazard).
SIFAT- SIFAT
DESKRIPSI
Fisik
Umumnya berupa Gas
Racun
Tingkat Bahaya Kesehatan - biru (Health
Hazard).
Menurut NFPA: 3 (sangat berbahaya)
Sangat beracun, batas aman untuk 12 jam
adalah 2.5 ppm atau batas aman untuk 8
jam adalah 5 ppm (ACGIH 2010).
Tingkat racun ini setara dengan NH
CO,
3,
HCN, dan CH 3 SH, tetapi masih di bawah
PH 3 dan Fosgen.
Korosif terhadap Fe, Cu, dan Beton.
Bahaya
Dapat terbakar
TingkatBahayaTerbakar–merah(Flamability)
menurut NFPA 4. (bisa meledak).
Rentang batas dapat terbakar (Flammability
Limit) %vol di udara adalah antara 4.5%
hingga 45%.
Karena lebih berat dari udara, gas H 2 S
dapat menjalar hingga jarak yang cukup
jauh sehingga dapat berkontak dengan
sumber api dan dapat menyebabkan “flash
back” (api menjalar balik ke sumber gas
H 2 S)
Konsentrasi Oksigen minimum yang
dibutuhkan untuk pembakaran dengan gas
H 2 S (disebut Minimum Oxygen Content for
Combustion – MoCC) adalah 7.5%.
Sifat dan Bahaya Gas H 25 2 S SIFAT- SIFAT DESKRIPSI Warna Tidak berwarna 
Sifat dan Bahaya Gas H
25
2 S
SIFAT- SIFAT
DESKRIPSI
Warna
Tidak berwarna
 Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan
keberadaan H 2 S di area sekitar.
Bau
Berbau seperti telur busuk
 Dalam konsentrasi rendah, baunya mudah
dikenali.
 Membuat perut terasa mual, pusing,
gangguan penglihatan serta diikuti dengan
perasaan menjijikan.
 Tetapi, jangan mengandalkan indera
penciuman untuk mengetahui tingkat
konsentrasi H 2 S karena H 2 S dapat merusak
sistem syaraf indera penciuman (Olfactory)
Massa Jenis
Memiliki massa jenis uap yang lebih berat
daripada udara
(H 2 S = 1.189 ; Udara = 1.0)
 Dalam campuran gas, mungkin lebih
berat atau lebih ringan daripada udara,
tergantung pada kepadatan uap dan
suhu dibandingkan dengan atmosfer
lingkungan.
 Dalam keadaan murni atau konsentrasi
tinggi, H 2 S begerak menuju ke dataran
yang lebih rendah seperti lubang, parit
atau daerah bertekanan rendah.
Kelarutan
Dapat larut dalam cairan seperti minyak
bumi, air atau larutan emulsi
 Segera menguap apabila cairan tersebut
dipanaskan atau teragitasi.

26 Sifat dan Bahaya Gas H 2 S

2.1. Mekanisme Proses Keracunan H 2 S dalam tubuh

H 2 S bereaksi dengan berbagai macam enzim

di dalam tubuh, terutama yang mengandung

ion logam, dan reaksi-reaksi tersebut menghasilkan inhibitor enzim (penghalang reaksi enzimatik).

• •
•

Jika interaksi enzim-enzim proses pernafasan tersebut terhalangi, maka akan terjadi kelangkaan Oksigen sebagai akseptor elektron, sehingga transpor elektron juga akan terhenti.

Hal ini berarti bahwa metabolisme oksidatif, sebagai sumber energi utama tubuh, juga akan terhenti.

Hal ini berarti bahwa metabolisme oksidatif, sebagai sumber energi utama tubuh, juga akan terhenti.

Jaringan-jaringan tubuh yang paling rentan terhadap keracunan H 2 S adalah membran- membran mucous dan jaringan-jaringan

ini
ini

syaraf serta jantung, karena jaringan-jaringan

sangat memerlukan keberadaan Oksigen.

Sifat dan Bahaya Gas H

2 S

27

2.2. Metode Pemantauan Biologis Karena Paparan H 2 S

Ada 3 metode pemantauan biologis karena paparan H 2 S :

1. Analisis Keberadaan H 2 S di dalam tubuh :

Analisa sulfida dalam darah merupakan suatu cara untuk memeriksa dampak keracunan H 2 S

suatu cara untuk memeriksa dampak keracunan H 2 S • Untuk mendapatkan hasil analisis darah yang

Untuk mendapatkan hasil analisis darah yang tepat dan akurat, maka sampel darah harus diambil dalam waktu kurang dari 2 jam setelah terjadi paparan gas atau kecelakaan H 2 S dan harus langsung dianalisa.

2. Cara Praktis untuk pemantauan H 2 S :

• Mengukur kandungan senyawa Urinary Thiosulphate. • Senyawa kompleks Bromobimane dari Urinary Thiosulphate
Mengukur
kandungan
senyawa
Urinary
Thiosulphate.
Senyawa kompleks Bromobimane dari Urinary
Thiosulphate dapat dianalisa dengan analisa
kromatografi cairan (liquid chromatography).
Metode ini dapat menunjukkan adanya tingkat
keracunan H 2 S, dan hasil terbaik dapat diukur
15 jam setelah terkena paparan.

28 Sifat dan Bahaya Gas H 2 S

28 Sifat dan Bahaya Gas H 2 S
28 Sifat dan Bahaya Gas H 2 S
28 Sifat dan Bahaya Gas H 2 S

29

3 Program Keselamatan Kerja H2S di Industri Minyak dan Gas Bumi

30 Program Keselamatan Kerja H2S di Industri Minyak dan Gas Bumi

3.1. Identifikasi Tempat-Tempat Berpotensi H 2 S

Pada setiap lokasi yang diperkirakan mengandung H 2 S sehubungan dengan telah dijelaskan pada bab 1. Semua sumber yang memungkinkan dapat timbulnya H 2 S harus diidentifikasi. Semua area dimana konsentrasi melebihi 5 ppm harus diberi tanda pada jalan masuk dengan simbol gas beracun. Tanda juga meliputi lokasi, nama dan nomor telpon untuk keadaan darurat. Setiap unit proses dan produksi yang terdapat kandungan H 2 S di atas 100 ppm harus terdapat indikator arah angin (wind sock). Pengukuran dan pengujian H 2 S harus dilakukan secara berkala pada aliran gas atau fasa gas pada fasilitas produksi minyak. Program pelatihan H 2 S juga harus diberikan pada para pekerja.

minyak. Program pelatihan H 2 S juga harus diberikan pada para pekerja. Gambar 3.1 Penggunaan WIndshock
minyak. Program pelatihan H 2 S juga harus diberikan pada para pekerja. Gambar 3.1 Penggunaan WIndshock
minyak. Program pelatihan H 2 S juga harus diberikan pada para pekerja. Gambar 3.1 Penggunaan WIndshock
Gambar 3.1 Penggunaan WIndshock di area kerja.
Gambar 3.1 Penggunaan WIndshock di area kerja.

Program Keselamatan Kerja H2S di Industri Minyak dan Gas Bumi

31

3.2. Fasilitas Produksi, Well Service, dan Pengeboran

Fasilitas produksi, Well Service, dan Pengeboran (drilling) harus mengikuti program-program sebagai berikut:

Penentuan radius eksposure (Radius of Exposure ROE)

Penentuan radius eksposure ( Radius of Exposure – ROE) 100 ppm radius of exposure (feet) =

100

ppm radius of exposure (feet) = [(1,589)

(H 2 S conc.)(Q)] (0.625)

500

(H 2 S conc.)(Q)] (0.625)

ppm radius of exposure (feet) = [(0,4546)

Fasilitas produksi yang mengandung H 2 S di atas 100 ppm pada aliran gas harus:

Memasang tanda bahaya pada jarak 50 kaki dari peralatan.

Untuk jalur perpipaan yang ditanam (di dalam tanah), tanda bahaya harus dipasang di pinggir jalan umum dan sepanjang daerah-daerah umum (berpenduduk) pada jarak sedemikian sehingga tanda yang terdekat terlihat. Tanda bahaya termasuk nomor telpon darurat.

(berpenduduk) pada jarak sedemikian sehingga tanda yang terdekat terlihat. Tanda bahaya termasuk nomor telpon darurat.
(berpenduduk) pada jarak sedemikian sehingga tanda yang terdekat terlihat. Tanda bahaya termasuk nomor telpon darurat.
(berpenduduk) pada jarak sedemikian sehingga tanda yang terdekat terlihat. Tanda bahaya termasuk nomor telpon darurat.

32 Program Keselamatan Kerja H2S di Industri Minyak dan Gas Bumi

Fasilitas yang tidak berpenghuni harus diamankan dari kemungkinan masuknya masyarakat ketika berada di sekitar 400 m dari area publik. Proteksi termasuk pemagaran, penguncian, atau menghilangkan pegangan katup.

tangki

penyimpanan di atas 500 pm H 2 S, persyaratan ini harus dijalankan:

Apabila

uap

terakumulasi

dalam

 


Rantai atau pintu di pasang pada tangga ke atas tangki apabila tangki berada 400 m dari tempat umum. Tanda bahaya sekitar 50 kaki dari tangki.

Fasilitas produksi dengan sumur yang dapat membentuk konsentrasi H 2 S di udara di atas 20 ppm harus:

konsentrasi H 2 S di udara di atas 20 ppm harus: Tanda bahaya dipasang secara permanent

Tanda bahaya dipasang secara permanent pada area masuk, heliport dan tempat berlabuh kapal laut (boat landing). Indikator arah angin (windsock) Tersedia Pressure-demand Type Supplied Air Respirators (SABA) di tempat yang mudah

 

Program Keselamatan Kerja H2S di Industri Minyak dan Gas Bumi

33

dicapai

dan

diketahui

pekerja

di

tempat

tersebut.

Sistem

detektor

dengan

alarm

dan

visual

(strobe light).

Daerah Pengeboran dan Well Service

Pengarahan pada pekerja. Untuk onshore, tempat briefing harus berjarak 150 ft dari area wellbore. Untuk offshore di area yang dinilai aman untuk melakukan pengarahan.

di area yang dinilai aman untuk melakukan pengarahan.  Peralatan keselamatan yang harus tersedia: 

Peralatan keselamatan yang harus tersedia:

Perangkat P3K (First aid kit);
Alat Pemadam Api Ringan (APAR);
Tali pertolongan dengan safety harness;
Flare gun (atau peralatan lainnya untuk penerangan sumur).
Detektor gas (portable detector) dengan alarm; Sistem Detektor gas (Fixed Detector) dengan alarm dan cahaya (strobe light). Tandu pertolongan. Sekurangnya terdapat 2 SCBA’s; dan Salinan (copy) dari Rencana Tanggap Darurat.

( strobe light ). Tandu pertolongan. Sekurangnya terdapat 2 SCBA’s; dan Salinan ( copy ) dari
Tandu pertolongan. Sekurangnya terdapat 2 SCBA’s; dan Salinan ( copy ) dari Rencana Tanggap Darurat. 
   

34 Program Keselamatan Kerja H2S di Industri Minyak dan Gas Bumi

3 4 Program Keselamatan Kerja H2S di Industri Minyak dan Gas Bumi
3 4 Program Keselamatan Kerja H2S di Industri Minyak dan Gas Bumi
3 4 Program Keselamatan Kerja H2S di Industri Minyak dan Gas Bumi

Sistem Monitoring Gas H

2 S dan Alarm

35

4 Sistem Monitoring Gas H2S dan Alarm

Sistem Monitoring Gas H 2 S dan Alarm 35 4 Sistem Monitoring Gas H2S dan Alarm
Sistem Monitoring Gas H 2 S dan Alarm 35 4 Sistem Monitoring Gas H2S dan Alarm
Sistem Monitoring Gas H 2 S dan Alarm 35 4 Sistem Monitoring Gas H2S dan Alarm

36 Sistem Monitoring Gas H 2 S dan Alarm

4.1. Maksud Dan Tujuan Sistem Monitoring H 2 S

Sistem pendeteksian gas H 2 S adalah sistem yang berfungsi untuk melakukan pemantauan kadar konsentrasi gas H 2 S yang terdapat di udara sekitar dengan memanfaatkan peralatan-peralatan pendeteksi keberadaan gas.

memanfaatkan peralatan-peralatan pendeteksi keberadaan gas. Sistem pendeteksian gas H 2 S ini dilakukan untuk
memanfaatkan peralatan-peralatan pendeteksi keberadaan gas. Sistem pendeteksian gas H 2 S ini dilakukan untuk

Sistem pendeteksian gas H 2 S ini dilakukan untuk mengetahui adanya paparan gas tersebut pada suatu area tertentu sehingga dapat dilakukan tindakan- tindakan yang berhubungan dengan keselamatan dan kesehatan kerja yang berkaitan dengan bahaya gas H 2 S tersebut.

Setiap pekerja dapat diperingatkan tentang adanya gas H 2 S di area tempat kerja dengan berbagai cara. Pertama-tama, indera penciuman yang akan mengenalinya, tetapi ini juga bisa sebagai pengenalan terakhir. Anda dapat menghirup bagian kecil gas H 2 S dalam sejuta bagian udara, bila konsentrasi gas ini berada pada kisaran 100 – 150 ppm, indera penciuman segera hilang sehingga memberikan rasa aman yang mengecohkan.

ini berada pada kisaran 100 – 150 ppm, indera penciuman segera hilang sehingga memberikan rasa aman
ini berada pada kisaran 100 – 150 ppm, indera penciuman segera hilang sehingga memberikan rasa aman

Sistem Monitoring Gas H

2 S dan Alarm

37

Dalam sistem monitoring gas H 2 S, ada beberapa prinsip gas deteksi dan prosedur analisis yang tersedia untuk memonitor konsentrasi H 2 S dalam udara ambien yang dapat membahayakan keselamatan / kesehatan seseorang baik secara kualitatif maupun kuantitatif.

4.2. Alat Detektor Gas H 2 S

Sistem pendeteksian gas H 2 S adalah suatu alat yang mampu mendeteksi adanya gas H 2 S di lingkungan kerja. Jenis-jenis peralatan deteksi gas H 2 S di antaranya adalah :

4.2.1. Detektor Elektronik

Alat detektor yang bekerja secara elektronik ini menggunakan monitor elektronik yang canggih untuk mengukur konsentrasi H 2 S dan memberikan pembacaan yang cukup akurat, jika berfungsi dengan baik.

pembacaan yang cukup akurat, jika berfungsi dengan baik. Alat ini dirancang untuk memonitor tingkat gas H
pembacaan yang cukup akurat, jika berfungsi dengan baik. Alat ini dirancang untuk memonitor tingkat gas H
pembacaan yang cukup akurat, jika berfungsi dengan baik. Alat ini dirancang untuk memonitor tingkat gas H
pembacaan yang cukup akurat, jika berfungsi dengan baik. Alat ini dirancang untuk memonitor tingkat gas H

Alat ini dirancang untuk memonitor tingkat gas H 2 S secara terus-menerus di suatu area. Tujuan dari perangkat ini adalah untuk melindungi keselamatan dengan memperingatkan kehadiran H 2 S di tempat kerja.

38 Sistem Monitoring Gas H 2 S dan Alarm

Cara Kerja

Alat detektor ini bekerja secara terus-menerus dengan menggunakan listrik untuk menyalakan sebuah sensor yang dapat mendeteksi keberadaan gas H 2 S di udara. Jika kepala sensor mendeteksi adanya gas H 2 S, melalui reaksi kimia yang akan berakibat berubahnya nilai resistan, perubahan tersebut akan dikondisikan menjadi besaran arus atau tegangan pada transmiter untuk kemudian dapat diketahui nilai konsentrasi gas H 2 S tersebut. Ketika sensor mendeteksi kehadiran H 2 S pada tingkatan yang sudah diatur, maka itu akan mengaktifkan alarm. Sensor ini dapat diaktifkan oleh baterai atau listrik AC.

Komponen
Komponen
ini dapat diaktifkan oleh baterai atau listrik AC. Komponen Pada prakteknya peralatan ini dapat ditemui dalam

Pada prakteknya peralatan ini dapat ditemui dalam bentuk sensor tetap (Fixed Sensor) ataupun Personal Detector. Baik kedua jenis detektor tersebut, memiliki komponen dasar dari masing-masing unit tersebut, yaitu :

komponen dasar dari masing-masing unit tersebut, yaitu :  Sumber tenaga (baterai / arus listrik AC)
 Sumber tenaga (baterai / arus listrik AC)  Sensor  Monitor  Alarm
 Sumber tenaga (baterai / arus listrik AC)
 Sensor
 Monitor
 Alarm

Sistem Monitoring Gas H

2 S dan Alarm

39

Personal dan Portable Monitor

Unit personal detektor ini merupakan peralatan detektor jenis pribadi yang praktis yang bisa ditempatkan pada ikat pinggang ataupun diletakkan pada bagian tubuh lainnya dan akan memberikan sinyal berupa bunyi peringatan saat sensor menangkap adanya keberadaan gas H 2 S pada tingkatan tertentu.

adanya keberadaan gas H 2 S pada tingkatan tertentu. Gambar 4.1 Portable Gas Detector Sedangkan untuk
adanya keberadaan gas H 2 S pada tingkatan tertentu. Gambar 4.1 Portable Gas Detector Sedangkan untuk

Gambar 4.1 Portable Gas Detector

S pada tingkatan tertentu. Gambar 4.1 Portable Gas Detector Sedangkan untuk unit portable , dirancang untuk

Sedangkan untuk unit portable, dirancang untuk diletakkan di antara pekerja dengan sumber lokasi dari gas H 2 S.

di antara pekerja dengan sumber lokasi dari gas H 2 S. Fixed Detector Unit detektor tipe

Fixed Detector

Unit detektor tipe permanen ini, biasanya memiliki komponen sebagai berikut :

40 Sistem Monitoring Gas H 2 S dan Alarm

1. Sensor H 2 S

Sensor H 2 S adalah suatu perangkat yang berfungsi untuk mendeteksi adanya gas H 2 S. Sensor H 2 S ini memiliki kemampuan mendeteksi tingkat konsentrasi gas H 2 S yang berbeda-beda setiap jenisnya.

Untuk menjamin keakuratan Sensor H 2 S sebagai peralatan yang berhubungan dengan keselamatan dan kesehatan kerja, sensor H 2 S yang terpasang memiliki sertifikat resmi dari produsen dan sudah melalui pengujian berkala (kalibrasi). Prosedur kalibrasi dilakukan secara rutin minimal setiap setahun sekali, sedangkan pengujian fungsi (function test) dilakukan setiap bulan dengan mengalirkan sampel gas H 2 S ke sensor tersebut.

dengan mengalirkan sampel gas H 2 S ke sensor tersebut. 2. Data Akuisisi Unit dan Komputer
dengan mengalirkan sampel gas H 2 S ke sensor tersebut. 2. Data Akuisisi Unit dan Komputer

2. Data Akuisisi Unit dan Komputer

S ke sensor tersebut. 2. Data Akuisisi Unit dan Komputer Data akuisisi unit ini adalah perangkat

Data akuisisi unit ini adalah perangkat elektronik yang berfungsi menghubungkan sensor H 2 S dengan komputer, sedangkan komputer yang terdiri dari CPU sebagai pusat kontrol sistem monitoring, layar monitor sebagai media tampilan hasil monitoring dan printer untuk mencetak hasil

kontrol sistem monitoring , layar monitor sebagai media tampilan hasil monitoring dan printer untuk mencetak hasil

Sistem Monitoring Gas H

2 S dan Alarm

41

monitoring. Sistem berbasis komputer ini bertujuan agar proses monitoring dapat termonitor akurat dan terkendali secara komputerisasi.

dapat termonitor akurat dan terkendali secara komputerisasi. Gambar 4.2 Fixed Gas Detector 4.2.2. Tabung Detektor
dapat termonitor akurat dan terkendali secara komputerisasi. Gambar 4.2 Fixed Gas Detector 4.2.2. Tabung Detektor
dapat termonitor akurat dan terkendali secara komputerisasi. Gambar 4.2 Fixed Gas Detector 4.2.2. Tabung Detektor

Gambar 4.2 Fixed Gas Detector

4.2.2. Tabung Detektor

Detektor gas H 2 S tipe tabung ini merupakan peralatan portable yang berfungsi untuk mendeteksi gas H 2 S dalam satu waktu tertentu. Detektor ini bekerja dengan bantuan zat kimia yang akan bereaksi dengan gas H 2 S. Peralatan ini terdiri dari pompa isap dan batang kaca berskala.

ini terdiri dari pompa isap dan batang kaca berskala. Detektor bekerja dengan memasukkan sampel udara yang
ini terdiri dari pompa isap dan batang kaca berskala. Detektor bekerja dengan memasukkan sampel udara yang

Detektor bekerja dengan memasukkan sampel udara yang akan diuji ke dalam tabung reaksi yang sebelumnya telah diisi oleh bahan kimia yang dapat bereaksi jika terdapat kehadiran gas H 2 S dalam

42 Sistem Monitoring Gas H 2 S dan Alarm

sampel tersebut. Bahan kimia tersebut akan berubah warna jika bereaksi dengan gas H 2 S tersebut. Panjang perubahan warna yang terjadi, memberikan gambaran konsentrasi gas H 2 S yang berada di udara tersebut.

Jenis-jenis detektor tipe tabung ini ada beberapa tipe, antara lain :

 Tipe Piston  Tipe Pegas
 Tipe Piston
 Tipe Pegas

Tabung detektor tipe piston menggunakan gerakan piston untuk menghisap udara masuk kedalam tabung reaksi.

Tabung detektor tipe pegas menggunakan bantalan yang berisi pegas yang digunakan untuk menghisap sampel udara.

berisi pegas yang digunakan untuk menghisap sampel udara. Gambar 4.3 (a) Tabung Detektor tipe Piston Gambar
Gambar 4.3 (a) Tabung Detektor tipe Piston Gambar 4.3 (b) Tabung Detektor tipe Bantal (Bellow)
Gambar 4.3 (a) Tabung Detektor
tipe Piston
Gambar 4.3 (b) Tabung
Detektor tipe Bantal (Bellow)

Sistem Monitoring Gas H

2 S dan Alarm

43

Gas detektor tipe tabung ini dapat terdiri dari berbagai macam ukuran / skala, sehingga dapat digunakan untuk mengukur konsentrasi gas H 2 S sampai pada tingkat tinggi. Selain itu, alat ini hanya dapat digunakan untuk sekali pakai.

Langkah-langkah penggunaan detektor tipe tabung adalah sebagai berikut :

1. Pastikan bahwa tabung reaksi yang digunakan sesuai dengan unit yang akan digunakan.

2. Pastikan tabung yang digunakan memiliki skala yang diinginkan.

kadaluarsa dari tabung

3. tanggal

Periksa

tersebut.

4. Pecahkan kedua ujung tabung tersebut dengan menggunakan pemecah tabung yang terdapat pada unit tersebut

menggunakan pemecah tabung yang terdapat pada unit tersebut 5. Masukkan tabung ke dalam inlet pompa dengan
menggunakan pemecah tabung yang terdapat pada unit tersebut 5. Masukkan tabung ke dalam inlet pompa dengan
menggunakan pemecah tabung yang terdapat pada unit tersebut 5. Masukkan tabung ke dalam inlet pompa dengan
5. Masukkan tabung ke dalam inlet pompa dengan panah yang menunjuk ke arah inlet. 6.
5. Masukkan tabung ke dalam inlet pompa
dengan panah yang menunjuk ke arah inlet.
6. Gunakan alat bantu pernapasan sebelum
menggunakan detektor di ruangan yang akan
dites.

44 Sistem Monitoring Gas H 2 S dan Alarm

7. Lakukan

pemompaan

pada

alat

detektor

tersebut dengan menempatkan ujung tabung

pada area yang akan dites.

8. Lakukan pembacaan konsentrasi H 2 S yang tertera di tabung tersebut.

Yang perlu diperhatikan adalah untuk pembacaan deteksi gas H 2 S pada tabung yang baik adalah dalam bentuk ppm atau persentase. Tingkat akurasi dari detektor tipe tabung ini dapat mencapai ± 25%. Tingkat keakuratan dari pemakaian alat tersebut dipengaruhi oleh :

 Kondisi unit  Usia tabung
 Kondisi unit
 Usia tabung
 

Suhu kondisi operasi

Kondisi unit  Usia tabung   Suhu kondisi operasi Kondisi penyimpanan 4.3. Sistem Alarm Sistem

Kondisi penyimpanan

4.3. Sistem Alarm

Suhu kondisi operasi Kondisi penyimpanan 4.3. Sistem Alarm Sistem alarm merupakan perangkat yang berfungsi sebagai

Sistem alarm merupakan perangkat yang berfungsi sebagai tanda peringatan awal jika terjadi paparan gas H 2 S. Perangkat ini terdiri dari : lampu kilat (Strobo Light) yang bisa berupa memancarkan warna biru atau

Sistem Monitoring Gas H

2 S dan Alarm

45

merah dan dual tone-sirene yang terhubung dengan sistem monitoring. Aktifasi perangkat alarm tersebut terkendali secara otomatis melalui perangkat komputer yang didasarkan pada hasil monitoring sensor H 2 S.

Sistem alarm sebagai peringatan awal terhadap paparan gas H 2 S di set pada konsentrasi sebagai berikut :

5 ppm (Low Alarm)

Jika konsentrasi H 2 S di udara sama dengan atau lebih dari 5 ppm, lampu tanda peringatan (Strobe Light) akan menyala secara otomatis.

15 ppm (High Alarm)

) akan menyala secara otomatis.  15 ppm ( High Alarm ) Jika konsentrasi H 2

Jika konsentrasi H 2 S di udara lebih dari 15 ppm, lampu tanda peringatan dan sirene akan menyala secara otomatis.

Sistem alarm ini harus diletakkan di tempat yang mudah terlihat ataupun terdengar.

sirene akan menyala secara otomatis. Sistem alarm ini harus diletakkan di tempat yang mudah terlihat ataupun
sirene akan menyala secara otomatis. Sistem alarm ini harus diletakkan di tempat yang mudah terlihat ataupun
sirene akan menyala secara otomatis. Sistem alarm ini harus diletakkan di tempat yang mudah terlihat ataupun

46 Sistem Monitoring Gas H 2 S dan Alarm

46 Sistem Monitoring Gas H 2 S dan Alarm
46 Sistem Monitoring Gas H 2 S dan Alarm
46 Sistem Monitoring Gas H 2 S dan Alarm

47

5 Alat Pelindung Pernapasan

48 Alat Pelindung Pernapasan

K eberadaan gas H 2 S dapat hadir di berbagai macam lokasi area kerja, khususnya di industri

hulu gas dan minyak bumi. Jika melihat kembali potensi keberadaan gas H 2 S di kegiatan pengeboran maupun pengolahan gas dan minyak bumi, serta proses transportasinya pada bab sebelumnya, maka kemungkinan besar pekerja secara tidak sengaja dapat bekerja di daerah dimana gas H 2 S dapat hadir.

dapat bekerja di daerah dimana gas H 2 S dapat hadir. Oleh karena itu, untuk dapat
dapat bekerja di daerah dimana gas H 2 S dapat hadir. Oleh karena itu, untuk dapat

Oleh karena itu, untuk dapat bekerja dengan aman di lingkungan tersebut, maka di tempat kerja tersebut harus disediakan peralatan untuk membantu pernapasan bagi para pekerja, khususnya ketika terjadi kecelakan kebocoran gas. Selain itu, para pekerja juga diharapkan bisa memahami / mengerti kegunaan peralatan tersebut. Sehingga jika terjadi kebocoran gas H 2 S yang tidak diinginkan pada tempat kerja anda, anda bisa segera menyelamatkan diri anda sendiri dan terlebih jika dapat membantu pekerja lain.

anda sendiri dan terlebih jika dapat membantu pekerja lain. Peralatan bantu pernapasan adalah peralatan yang sangat
anda sendiri dan terlebih jika dapat membantu pekerja lain. Peralatan bantu pernapasan adalah peralatan yang sangat

Peralatan bantu pernapasan adalah peralatan yang sangat penting jika terjadi paparan gas H 2 S di lingkungan kerja, karena peralatan tersebut akan membantu pekerja untuk bernafas dengan udara yang tidak terpapar H 2 S.

Alat Pelindung Pernapasan 49

Alat bantu pernapasan / respirator harus memenuhi persyaratan yang dikeluarkan oleh OSHA Respiratory Protection Standard. Alat respirator ini harus digunakan ketika dimana lingkungan kerja memiliki konsentrasi H 2 S di atmosfer yang melebihi 5 ppm. Jenis-jenis alat respirator yang digunakan bisa berupa :

a. Self Contained Breathing Apparatus (SCBA).

bisa berupa : a. Self Contained Breathing Apparatus ( SCBA). b. Supplied Air Breathing Apparatus (SABA).

b. Supplied Air Breathing Apparatus (SABA).

Perbedaan yang cukup mendasar adalah untuk alat pernapasan SCBA memiliki tabung udara sendiri yang langsung disambungkan ke si pemakai. Sedangkan, alat bantu pernapasan bertipe SABA dihubungkan ke suplai udara dari jarak jauh dengan selang udara yang dapat diperpanjang.

dari jarak jauh dengan selang udara yang dapat diperpanjang. Kedua jenis respirator ini harus dapat bekerja
dari jarak jauh dengan selang udara yang dapat diperpanjang. Kedua jenis respirator ini harus dapat bekerja

Kedua jenis respirator ini harus dapat bekerja mengalirkan udara bersih secara terus-menerus ke dalam sistem alat bantu pernapasan. Cara kerja alat bantu pernapasan seperti ini, dimaksudkan agar alat ini bekerja dengan tekanan positif. Sehingga dapat mengurangi kemungkinan masuknya gas H 2 S ke dalam sistem alat bantu tersebut.

dengan tekanan positif. Sehingga dapat mengurangi kemungkinan masuknya gas H 2 S ke dalam sistem alat

50 Alat Pelindung Pernapasan

Berikut adalah perbandingan penggunaan alat respirator tipe SCBA dan SABA :

Tabel 5.1 Perbandingan Alat Bantu Pernapasan antara SCBA & SABA

Tipe Keuntungan Kerugian  Mudah bergerak  Mudah dibawa  Suplai udara terbatas SCBA 
Tipe
Keuntungan
Kerugian
 Mudah bergerak
 Mudah dibawa
 Suplai udara terbatas
SCBA
 Sesuai untuk prosedur
penyelamatan
 Besar dan berat
Suplai udara terus-
menerus
 Keterbatasan gerak,
dibatasi panjang selang
Ringan dan lebih kecil
 Selang udara bisa kusut
SABA
Sesuai untuk penggunaan
yang lebih lama
(continous working)
 Harus keluar sesuai
temapt masuk untuk
menghindari selang kusut

5.1.

Self Contained Breathing Apparatus

selang kusut 5.1. Self Contained Breathing Apparatus Self Contained Breathing Apparatus ( SCBA) atau sering juga
selang kusut 5.1. Self Contained Breathing Apparatus Self Contained Breathing Apparatus ( SCBA) atau sering juga

Self Contained Breathing Apparatus (SCBA) atau sering juga disebut sebagai Compressed Air Breathing Apparatus (CABA), air pack atau Breathing Apparatus (BA) merupakan alat bantu pernapasan portable yang menyediakan udara dari silinder yang dipakai di belakang / punggung dari si pemakai ketika dalam kondisi darurat.

yang menyediakan udara dari silinder yang dipakai di belakang / punggung dari si pemakai ketika dalam

Alat Pelindung Pernapasan 51

Komponen dari SCBA ini adalah terdiri dari :

tabung silinder bertekanan,

katup silinder,

pengukur tekanan udara tabung silinder (pressure gauge),

pengatur tekanan keluar, dan

masker.

gauge),  pengatur tekanan keluar, dan  masker. Gambar 5.1 Komponen alat bantu pernapasan SCBA Pada
gauge),  pengatur tekanan keluar, dan  masker. Gambar 5.1 Komponen alat bantu pernapasan SCBA Pada
gauge),  pengatur tekanan keluar, dan  masker. Gambar 5.1 Komponen alat bantu pernapasan SCBA Pada
gauge),  pengatur tekanan keluar, dan  masker. Gambar 5.1 Komponen alat bantu pernapasan SCBA Pada

Gambar 5.1 Komponen alat bantu pernapasan SCBA

Pada umumnya, kapasitas isi silinder yang digunakan untuk dapat mensuplai udara / Oksigen adalah kurang lebih selama 30 menit dalam kondisi pemakaian normal. Adapun jenis silinder lainnya, tersedia untuk penggunaan yang lebih lama atau lebih singkat. Sesuai fungsinya, SCBA terdiri dari 3 jenis, yaitu :

tersedia untuk penggunaan yang lebih lama atau lebih singkat. Sesuai fungsinya, SCBA terdiri dari 3 jenis,

52 Alat Pelindung Pernapasan

SCBA Rescue Unit

SCBA ini dapat digunakan sebagai alat bantu pernapasan pada waktu melakukan proses pertolongan / penyelamatan atau digunakan pada waktu melakukan pekerjaan di lingkungan yang terpapar gas berbahaya. SCBA ini dapat digunakan secara optimal minimum sekitar 30 menit.

ini dapat digunakan secara optimal minimum sekitar 30 menit. Gambar 5.2 SCBA tipe Rescue Unit Tabung
ini dapat digunakan secara optimal minimum sekitar 30 menit. Gambar 5.2 SCBA tipe Rescue Unit Tabung
ini dapat digunakan secara optimal minimum sekitar 30 menit. Gambar 5.2 SCBA tipe Rescue Unit Tabung
ini dapat digunakan secara optimal minimum sekitar 30 menit. Gambar 5.2 SCBA tipe Rescue Unit Tabung

Gambar 5.2 SCBA tipe Rescue Unit

Tabung gas pada sistem ini diisi dengan udara bersih yang dimampatkan atau Oksigen yang dimampatkan. Sistem ini dilengkapi oleh dua sirkuit regulator; tahap pertama untuk mengurangi tekanan udara untuk dialirkan ke masker, dan regulator tahap kedua untuk mengurangi bahkan

pertama untuk mengurangi tekanan udara untuk dialirkan ke masker, dan regulator tahap kedua untuk mengurangi bahkan

Alat Pelindung Pernapasan 53

lebih jauh lagi ke tingkat yang tepat di atas tekanan atmosfer standar.

Tabung silinder udara biasanya memiliki tiga ukuran standar: 4 liter, 6 liter, atau 6,8 liter.

Durasi penggunaan tabung silinder dapat dihitung dengan mengkalkulasikan ukuran tabung silinder x tekanan tabung silinder / 40, dan sebagai margin keselamatan, hasil tersebut dikurangi 10 menit.

margin keselamatan, hasil tersebut dikurangi 10 menit. Sehingga untuk silinder ukuran 6 liter yang memiliki

Sehingga untuk silinder ukuran 6 liter yang memiliki tekanan 300 bar, adalah (6 X 300 / 40) - 10 = 35 menit waktu bekerja.

Kondisi personnel maupun lingkungan dapat mempengaruhi pemakaian tabung udara tersebut, seringkali dapat mengurangi waktu kerja sebesar 25% sampai 50%.

dapat mengurangi waktu kerja sebesar 25% sampai 50%. Suara alarm akan berbunyi untuk memperingatkan ketika
dapat mengurangi waktu kerja sebesar 25% sampai 50%. Suara alarm akan berbunyi untuk memperingatkan ketika

Suara alarm akan berbunyi untuk memperingatkan ketika pasokan udara rendah dan memiliki sisa waktu 5 -7 menit.

54 Alat Pelindung Pernapasan

Tabel 5.2 Kebutuhan udara berdasarkan aktifitasnya

No. Aktifitas Jumlah Udara Yang Dibutuhkan (Ltr / Menit) 1. Tidur 6 2. Istirahat 9.3
No.
Aktifitas
Jumlah Udara Yang
Dibutuhkan (Ltr / Menit)
1.
Tidur
6
2.
Istirahat
9.3
3.
Bekerja Ringan
19.7
4.
Bekerja Sedang
29.2
5.
Bekerja Berat
40
6.
Bekerja Sangat Berat
59.5
7.
Bekerja Maksimum
132
 SCBA Work Unit

SCBA ini pada prinsipnya dapat digunakan untuk jangka waktu yang cukup lama, seperti dalam penyelamatan di dalam tambang atau di dalam terowongan yang panjang, dan akan melalui jalur yang terlalu sempit jika harus menggunakan tabung silinder.

panjang, dan akan melalui jalur yang terlalu sempit jika harus menggunakan tabung silinder. Gambar 5.3 SCBA
panjang, dan akan melalui jalur yang terlalu sempit jika harus menggunakan tabung silinder. Gambar 5.3 SCBA
Gambar 5.3 SCBA tipe work unit
Gambar 5.3 SCBA tipe work unit

Alat Pelindung Pernapasan 55

SCBA Emergency

Sesuai dengan jenisnya, maka SCBA ini berfungsi untuk membantu pernapasan pada waktu meninggalkan lokasi paparan menuju tempat aman dengan waktu penggunaan sekitar 5-10 menit.

SCBA ini dapat digunakan secara cepat, karena model maskernya mudah untuk digunakan. Pada prakteknya, SCBA jenis ini juga digunakan untuk membantu pernapasan pada korban paparan gas pada saat evakuasi dan sebelum mendapat pertolongan medis, sehingga SCBA ini juga disebut dengan ELSA (Emergency Life Support Apparatus).

medis, sehingga SCBA ini juga disebut dengan ELSA ( Emergency Life Support Apparatus ). Gambar 5.4
medis, sehingga SCBA ini juga disebut dengan ELSA ( Emergency Life Support Apparatus ). Gambar 5.4
medis, sehingga SCBA ini juga disebut dengan ELSA ( Emergency Life Support Apparatus ). Gambar 5.4

Gambar 5.4 SCBA untuk emergency

56 Alat Pelindung Pernapasan

SCBA Unit Escape ini biasanya terletak di dekat tempat kerja. Unit ini memiliki ukuran yang cukup kecil dan dirancang untuk memberikan cukup waktu untuk mencapai daerah aman dalam keadaan darurat.

Pengisian tabung SCBA dilakukan dengan menggunakan Air Breathing Compressor bertekanan tinggi yang dilengkapi dengan
Pengisian tabung SCBA dilakukan dengan
menggunakan Air Breathing Compressor bertekanan
tinggi yang dilengkapi dengan filter khusus untuk
menyaring udara dan mengurangi kadar air. Udara
yang dihasilkan compressor ini secara berkala
dilakukan uji kandungan, yang bertujuan untuk
memastikan kondisi dan komposisi udara yang
dihasilkan. Selain itu, tabung SCBA juga secara
berkala dilakukan hydrotest untuk memastikan kondisi
dan kekuatan tabung terhadap tekanan.
Hal-hal penting yang berhubungan dengan SCBA di
antaranya adalah :
• Pastikan
SCBA
selalu
dalam
kondisi
siap
digunakan.
Pastikan tekanan udara dalam kondisi penuh
atau sesuai dengan kapasitasnya.
Hanya gunakan SCBA bertipe positive pressure
untuk pemakaian di area yang terpapar gas
H 2 S.

Alat Pelindung Pernapasan 57

Pakailah SCBA dengan benar dan cepat, mengingat fungsi SCBA sebagai peralatan bantu pernapasan pada kondisi darurat karena paparan gas berbahaya.

Tempatkan SCBA dalam posisi :

- Mudah dijangkau.

- Terhindar dari suhu udara yang panas, karena akan suhu udara yang panas akan mengakibatkan pemuaian pada tabung sehingga tekanan udara akan naik.

- Terhindar dari kotoran.

sehingga tekanan udara akan naik. - Terhindar dari kotoran. • Lakukan perawatan rutin, jika terdapat kebocoran

Lakukan perawatan rutin, jika terdapat kebocoran atau kerusakan segera laporkan untuk diperbaiki dan dilakukan pengisian ulang.

Proses pengisian ulang tabung SCBA akan mengakibatkan tabung menjadi panas, karena perubahan tekanan pada ruang tertutup akan berbanding lurus dengan perubahan suhu, sehingga lakukan peredaman panas dengan merendam tabung selama proses pengisian, tujuannya adalah untuk keselamatan kerja dan

lakukan peredaman panas dengan merendam tabung selama proses pengisian, tujuannya adalah untuk keselamatan kerja dan
lakukan peredaman panas dengan merendam tabung selama proses pengisian, tujuannya adalah untuk keselamatan kerja dan
lakukan peredaman panas dengan merendam tabung selama proses pengisian, tujuannya adalah untuk keselamatan kerja dan

58 Alat Pelindung Pernapasan

mempertahankan kondisi tabung tetap dalam suhu stabil, sehingga ketika pengisian selesai dan tabung menjadi dingin, tekanan udara tetap.

5.2. Supplied Air Breathing Apparatus

Supplied Air Breathing Apparatus (SABA) sistem adalah alat bantu pernapasan yang memiliki sumber udara bersih terpisah dari si pemakainya. Pemakaian alat bantu seperti ini, bisa digunakan oleh beberapa pekerja sekaligus tergantung dari kemampuan suplai udara dan sambungan selang yang tersedia.

Secara umum, SABA dan SCBA pada dasarnya sama, komponen dari alat pernapasan ini terdiri dari :

sistem suplai udara.

dari alat pernapasan ini terdiri dari : sistem suplai udara.    selang udara. sambungan

 

selang udara.

sambungan selang udara.

udara.    selang udara. sambungan selang udara.  masker.  pengatur tekanan.  silinder
 masker.  pengatur tekanan.  silinder udara portabel untuk melarikan diri.
 masker.
 pengatur tekanan.
 silinder udara portabel untuk melarikan diri.

Alat Pelindung Pernapasan 59

Alat Pelindung Pernapasan 59 Gambar 5.5 Alat bantu pernapasan SABA Suplai udara dapat diberikan melalui beberapa
Alat Pelindung Pernapasan 59 Gambar 5.5 Alat bantu pernapasan SABA Suplai udara dapat diberikan melalui beberapa
Alat Pelindung Pernapasan 59 Gambar 5.5 Alat bantu pernapasan SABA Suplai udara dapat diberikan melalui beberapa

Gambar 5.5 Alat bantu pernapasan SABA

Suplai udara dapat diberikan melalui beberapa cara, antara lain melalui compressor yang dilengkapi alat penyaring udara ataupun serangkaian tabung silinder yang digabung menjadi satu rangkaian. Sebelumnya, udara bersih dialirkan melalui regulator untuk diatur tekanannya lalu dialirkan ke manifold yang dapat mengalirkan udara ke beberapa pemakai.

manifold yang dapat mengalirkan udara ke beberapa pemakai. Bila Anda memasuki lingkungan kerja yang memiliki kriteria

Bila Anda memasuki lingkungan kerja yang memiliki kriteria Berbahaya untuk Kehidupan dan Kesehatan atau ”Immediately Dangerous to Life and Health(IDLH), maka Anda harus melengkapi alat respirator dengan tabung silinder emergency. Tabung tersebut akan menyediakan waktu tambahan untuk Anda kurang lebih sekitar 5 menit untuk menuju ke tempat

emergency . Tabung tersebut akan menyediakan waktu tambahan untuk Anda kurang lebih sekitar 5 menit untuk

60 Alat Pelindung Pernapasan

aman. Anda harus memastikan hal ini agar cukup waktu untuk meninggalkan daerah berbahaya jika suplai udara Anda terganggu.

5.3. Pemeriksaan Respirator

Untuk dapat mengoperasikan alat respirator ini dengan benar, maka Anda harus bisa memastikan bahwa alat bantu pernapasan yang akan digunakan dapat bekerja dengan baik dan terawat. Oleh karena itu, Anda harus bisa melakukan pemeriksaan dengan benar sebelum menggunakanannya. Selain itu, sebaiknya alat ini dilakukan pemeriksaan secara berkala.

Berikut adalah
Berikut
adalah

sebelum

hal-hal

yang

perlu

diperhatikan

alat

bantu

pernapasan

menggunakan

tersebut : a. Apakah semua
tersebut :
a. Apakah
semua
bantu pernapasan menggunakan tersebut : a. Apakah semua komponen respirator sudah lengkap ? termasuk : -

komponen

respirator

sudah

lengkap ? termasuk :

- suplai udara - pengatur tekanan - masker - sistem pengait
- suplai udara
- pengatur tekanan
- masker
- sistem pengait

Alat Pelindung Pernapasan 61

b. Apakah kapasitas silinder tabung udara berada dalam kapasitas penuh?

c. Apakah selang udara terpasang dengan benar?

d. Apakah indikator tekanan bekerja dengan benar?

e. Apakah semua pengait lengkap?

f. Apakah masker dalam kondisi bersih dan bebas debu?

g. Apakah saluran hidung terpasang dengan benar?

bebas debu? g. Apakah saluran hidung terpasang dengan benar? h. Apakah saluran pembuangan bekerja dengan benar?

h. Apakah saluran pembuangan bekerja dengan benar?

i. Apakah alarm indikator bekerja dengan benar?

j. Apakah saluran bypass bekerja dengan baik?

Jika semua jawaban dari pertanyan tersebut adalah

baik? Jika semua jawaban dari pertanyan tersebut adalah ”Ya”, maka alat respirator tersebut dapat disimpan
baik? Jika semua jawaban dari pertanyan tersebut adalah ”Ya”, maka alat respirator tersebut dapat disimpan

”Ya”, maka alat respirator tersebut dapat disimpan kembali dan siap digunakan untuk dalam keadaan

darurat.

kembali dan siap digunakan untuk dalam keadaan darurat. Jika ditemukan kerusakan pada alat bantu tersebut, maka

Jika ditemukan kerusakan pada alat bantu tersebut, maka harus segera dilaporkan kepada atasan. Hanya teknisi yang terlatih yang diperbolehkan memperbaiki alat bantu pernafasan tersebut.

62 Alat Pelindung Pernapasan

5.4. Pemasangan Alat Bantu Pernapasan

Langkah-langkah dalam pemakaian dan pengoperasian alat bantu pernapasan akan dijelaskan pada tabel selanjutnya :

Tabel 5.3 Langkah-langkah penggunaan alat bantu pernapasan

Tahapan Deskripsi  Periksa kelengkapan 1. Persiapan  Periksa indicator tekanan pada tabung  Periksa
Tahapan
Deskripsi
 Periksa kelengkapan
1.
Persiapan
 Periksa indicator tekanan pada tabung
 Periksa peralatan yang rusak
1.Pemasangan tabung
silinder
 Memasang sabuk pengait
 Kencangkan pengaitnya
3.
Pemasangan masker
 Kencangkan sabuk pengait pada kepala
untuk mendapatkan kerapatan yang baik
4.
Uji kebocoran
Tutup semua katup,
Coba bernafas untuk memastikan tingkat
kerapatan
 Periksa katup pembuangan nafas
 Menyambungkan selang udara
5. Pemasangan suplai
udara
 Buka katup secara penuh
 Periksa indikator tekanan

Alat Pelindung Pernapasan 63

Dalam pemasangan alat bantu pernapasan ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar alat ini bisa dipasang dengan benar dan bisa mencegah masuknya udara luar ke dalam sistem respirator. Hal- hal yang di bawah ini bisa menyebabkan kegagalan sistem respirator ini :

a. Gangguan bentuk wajah.

b. Pemakaian Kacamata di dalam masker.

bentuk wajah. b. Pemakaian Kacamata di dalam masker. c. Ukuran masker yang tidak sesuai. d. Pemakaian

c. Ukuran masker yang tidak sesuai.

d. Pemakaian perhiasan.

e. Rambut berlebih di wajah.

Kacamata di dalam masker. c. Ukuran masker yang tidak sesuai. d. Pemakaian perhiasan. e. Rambut berlebih

64 Alat Pelindung Pernapasan

64 Alat Pelindung Pernapasan
64 Alat Pelindung Pernapasan
64 Alat Pelindung Pernapasan

Rencana Tanggap Darurat 65

6

Rencana

Tanggap

Darurat

Rencana Tanggap Darurat 65 6 Rencana Tanggap Darurat
Rencana Tanggap Darurat 65 6 Rencana Tanggap Darurat
Rencana Tanggap Darurat 65 6 Rencana Tanggap Darurat

66 Rencana Tanggap Darurat

S emua pekerjaan yang berkaitan dengan bahaya H 2 S harus mempersiapkan prosedur rencana

tanggap darurat sebagai bagian dari rencana atau prosedur kerja keseluruhan dari pekerjaan tersebut. Tindakan dan langkah penyelamatan darurat yang terkoordinasi diperlukan untuk dapat meminimalisir timbulnya korban jiwa bagi pekerja dan masyarakat sekitar yang mungkin terkena dampak paparan gas H 2 S tersebut.

yang mungkin terkena dampak paparan gas H 2 S tersebut. Rencana tanggap darurat yang dibahas pada
yang mungkin terkena dampak paparan gas H 2 S tersebut. Rencana tanggap darurat yang dibahas pada

Rencana tanggap darurat yang dibahas pada bagian ini hanya membahas pada rencana tanggap darurat yang harus disiapkan untuk setiap aktifitas atau pekerjaan yang berkaitan dengan bahaya H 2 S atau rencana tanggap darurat taktis mengenai penanggulangan darurat kecelakaan karena kebocoran gas H 2 S (lihat modul Rencana Tanggap Darurat). Rencana tanggap darurat ini bukan rencana tanggap darurat di tingkat strategis perusahaan. Namun pembahasan rencana tanggap darurat pada bab ini bersifat umum. Rencana Tanggap Darurat harus dibuat khusus untuk setiap pekerjaan yang berkaitan dengan bahaya H 2 S dan disesuaikan dengan situasi atau lingkungan yang ada berdasarkan hasil Risk Assessment (Identifikasi Bahaya, Job Safety Analysis,

dengan situasi atau lingkungan yang ada berdasarkan hasil Risk Assessment (Identifikasi Bahaya, Job Safety Analysis ,
dengan situasi atau lingkungan yang ada berdasarkan hasil Risk Assessment (Identifikasi Bahaya, Job Safety Analysis ,

Rencana Tanggap Darurat 67

atau teknik risk assessment lainnya – lihat Modul Identifikasi Bahaya).

Rencana tanggap darurat secara umum harus terdiri dari 3 unsur (lihat modul Tanggap Darurat):

1. Prosedur tanggap darurat

2. Fasilitas / peralatan tanggap darurat.

3. Tim tanggap darurat yang terlatih.

6.1. Prosedur Tanggap Darurat

Prosedur tanggap darurat H 2 S harus merupakan bagian dari prosedur setiap aktifitas atau pekerjaan yang berkaitan dengan bahaya H 2 S.

Prosedur Tanggap Darurat ini harus disosialisasikan, disimulasikan dan dilatihkan secara regular kepada semua pihak yang terlibat, termasuk kepada masyarakat yang berada di sekitar sumur atau fasilitas minyak dan gas bumi (jika diperkirakan kebocoran gas akan berdampak hingga area publik). Sehingga kalau terjadi kebocoran gas H 2 S, masyarakat akan tahu apa yang harus diperbuat dan apa yang tidak boleh diperbuat dan tidak terjadi kepanikan yang luar biasa.

akan tahu apa yang harus diperbuat dan apa yang tidak boleh diperbuat dan tidak terjadi kepanikan
akan tahu apa yang harus diperbuat dan apa yang tidak boleh diperbuat dan tidak terjadi kepanikan
akan tahu apa yang harus diperbuat dan apa yang tidak boleh diperbuat dan tidak terjadi kepanikan
akan tahu apa yang harus diperbuat dan apa yang tidak boleh diperbuat dan tidak terjadi kepanikan

68 Rencana Tanggap Darurat

6.1.1. Langkah Penyelamatan

Memberikan pertolongan kepada korban yang terkena paparan gas H 2 S dengan tujuan menyelamatkan jiwa korban seringkali menjadi gagal, bahkan jiwa pemberi pertolongan dapat menjadi korban. Hal ini disebabkan karena di samping prinsip-prinsip dasar diabaikan, dan juga petugas penolong kurang terlatih dan kurang terampil.

Pedoman tindakan dalam menghadapi korban yang terpapar gas H 2 S dalam berbagai situasi lingkungan dan kondisi korban adalah sebagai berikut:

Penolong harus memahami dan terampil mengamankan dirinya sendiri sebelum bertindak menolong korban, termasuk mengutamakan menggunakan alat bantu pernapasan bagi dirinya sendiri sebelum menolong pekerja lain.

korban, termasuk mengutamakan menggunakan alat bantu pernapasan bagi dirinya sendiri sebelum menolong pekerja lain.

Amankan korban dengan segera dari lokasi paparan gas H 2 S ke tempat yang lebih aman. Korban harus segera dipindahkan ke lokasi yang tidak tersapu oleh arah angin dari lokasi kebocoran agar mendapatkan udara segar/bersih. Untuk tehnik-teknik pemindahan korban dari lokasi kejadian akan dibahas pada bagian selanjutnya.

udara segar/bersih. Untuk tehnik-teknik pemindahan korban dari lokasi kejadian akan dibahas pada bagian selanjutnya.
udara segar/bersih. Untuk tehnik-teknik pemindahan korban dari lokasi kejadian akan dibahas pada bagian selanjutnya.
udara segar/bersih. Untuk tehnik-teknik pemindahan korban dari lokasi kejadian akan dibahas pada bagian selanjutnya.

Rencana Tanggap Darurat 69

Tindakan pertolongan yang akan diberikan harus dengan urutan yang paling tepat. Penolong harus mampu menilai dan membaca situasi sebelum memutuskan tindakan apa yang harus dilakukan. Jika korban tidak bernapas, maka segera lakukan bantuan pernapasan buatan. Berikut ini adalah langkah-langkah dalam melakukan pernapasan buatan:

-

adalah langkah-langkah dalam melakukan pernapasan buatan: - Posisikan korban pada posisi tidur terlentang. Gambar 6.1

Posisikan korban pada posisi tidur terlentang.

buatan: - Posisikan korban pada posisi tidur terlentang. Gambar 6.1 Posisi tidur telentang bagi korban -

Gambar 6.1 Posisi tidur telentang bagi korban

-

terlentang. Gambar 6.1 Posisi tidur telentang bagi korban - Lakukan pernapasan buatan dari mulut ke mulut,
terlentang. Gambar 6.1 Posisi tidur telentang bagi korban - Lakukan pernapasan buatan dari mulut ke mulut,

Lakukan pernapasan buatan dari mulut ke mulut, dengan menutup hidung korban.

- Lakukan pernapasan buatan dari mulut ke mulut, dengan menutup hidung korban. Gambar 6.2 Pernapasan buatan

Gambar 6.2 Pernapasan buatan melalui mulut

70 Rencana Tanggap Darurat

- Ambil nafas dalam-dalam, dan berikan 4 kali hembusan napas dengan cepat sehingga dada korban mengembang.

- Lanjutkan pertolongan napas sebanyak 12-15 kali per menit.

- Sesudah satu menit, periksa kembali dan lakukan setiap beberapa menit.

-
-

Jika korban sudah mulai bernapas, segera posisikan pada posisi pemulihan.

mulai bernapas, segera posisikan pada posisi pemulihan. Gambar 6.3 Posisi pemulihan pasca bantuan pernapasan - Jika

Gambar 6.3 Posisi pemulihan pasca bantuan pernapasan

-
-
Gambar 6.3 Posisi pemulihan pasca bantuan pernapasan - Jika sudah pulih, jangan tinggalkan korban sendirian,

Jika sudah pulih, jangan tinggalkan korban sendirian, pastikan korban dievaluasi oleh tim dokter.

sendirian, pastikan korban dievaluasi oleh tim dokter. Prosedur ini adalah hanya sebagai gambaran. Sangat

Prosedur ini adalah hanya sebagai gambaran. Sangat dianjurkan bahwa, penolong telah mengikuti pelatihan untuk memberikan bantuan pernapasan.

hanya sebagai gambaran. Sangat dianjurkan bahwa, penolong telah mengikuti pelatihan untuk memberikan bantuan pernapasan.

Rencana Tanggap Darurat 71

Usahakan secepat mungkin menghubungkan dokter, ambulan atau rumah sakit atau yang berwajib sambil pertolongan pertama diberikan.

Tempat dimana kecelakaan terjadi harus segera diberi tanda agar pekerja lain tahu tempat itu ada kejadian kecelakaan, dan pekerja lain yang tidak berkepentingan tidak diperkenankan memasuki tempat kecelakaan karena dapat menganggu upaya pertolongan dan apa-apa yang dilakukannya dapat berbahaya bagi pekerja tersebut.

Jika menemukan pekerja yang kehilangan kesadaran di lokasi kebocoran gas H 2 S maka bisa dilakukan langkah penyelamatan untuk memindahkan korban ke lokasi yang lebih aman. Teknik-teknik tersebut termasuk:

ke lokasi yang lebih aman. Teknik-teknik tersebut termasuk:  Menarik kerah baju korban  Mengangkat korban
ke lokasi yang lebih aman. Teknik-teknik tersebut termasuk:  Menarik kerah baju korban  Mengangkat korban
ke lokasi yang lebih aman. Teknik-teknik tersebut termasuk:  Menarik kerah baju korban  Mengangkat korban

Menarik kerah baju korban

tersebut termasuk:  Menarik kerah baju korban  Mengangkat korban  Mengangkat korban dengan bantuan

Mengangkat korban

Mengangkat korban dengan bantuan pekerja lain

72 Rencana Tanggap Darurat

6.1.2. Teknik Colar Drag

Teknik menarik kerah baju korban atau biasa disebut dengan tehnik Colar Drag dapat digunakan jika anda seorang diri diharuskan menyelamat pekerja lain yang sudah terpapar gas H 2 S. Keuntungan utama dari teknik ini adalah bahwa anda tidak perlu mengangkat badan korban tersebut. Hal ini dapat dilakukan terutama jika korban berada pada permukaan horizontal.

1. 2.
1.
2.

3.

Berikut ini adalah cara melakukannya:

Posisikan korban pada posisi tidur terlentang.

Gulung kerah baju korban sehingga Anda bisa mendapatkan posisi cengkraman yang erat.

Posisikan kepala korban pada lengan Anda.

4.
4.
yang erat. Posisikan kepala korban pada lengan Anda. 4. Tarik korban menuju lokasi yang aman. Untuk

Tarik korban menuju lokasi yang aman.

Untuk informasi yang lebih lanjut mengenai teknik ini, dapat dilihat pada gambar berikut ini:

menuju lokasi yang aman. Untuk informasi yang lebih lanjut mengenai teknik ini, dapat dilihat pada gambar

Rencana Tanggap Darurat 73

Rencana Tanggap Darurat 73 Gambar 6.4 Tehnik Penyelamatan dengan menarik korban 6.1.3. Teknik Two Arm Drag

Gambar 6.4 Tehnik Penyelamatan dengan menarik korban

6.1.3. Teknik Two Arm Drag

Ini adalah teknik penyelamatan dengan mengangkat korban menuju ke tempat yang lebih aman. Berikut ini adalah langkah-langkahnya:

yang lebih aman. Berikut ini adalah langkah-langkahnya: 1. Posisikan korban pada posisi tidur terlentang. 2. Angkat

1. Posisikan korban pada posisi tidur terlentang.

2. Angkat korban dengan menarik kerah bajunya.

3. Gunakan paha atau lutut anda untuk menahan punggung korban.

4. Letakkan lengan Anda di bawah ketiak korban.

korban. 4. Letakkan lengan Anda di bawah ketiak korban. 5. Pegang pergelangan tangan korban dengan menyilangkan
korban. 4. Letakkan lengan Anda di bawah ketiak korban. 5. Pegang pergelangan tangan korban dengan menyilangkan
korban. 4. Letakkan lengan Anda di bawah ketiak korban. 5. Pegang pergelangan tangan korban dengan menyilangkan

5. Pegang pergelangan tangan korban dengan menyilangkan kedua tangannya sehingga didapat cengkraman yang cukup erat.

6. Tarik korban menuju ke lokasi yang aman.

74 Rencana Tanggap Darurat

Untuk informasi lebih lanjut mengenai teknik ini, dapat dilihat gambar-gambar berikut:

mengenai teknik ini, dapat dilihat gambar-gambar berikut: Gambar 6.5 (b) Teknik Two- Arm Drag untuk mendapatkan
mengenai teknik ini, dapat dilihat gambar-gambar berikut: Gambar 6.5 (b) Teknik Two- Arm Drag untuk mendapatkan

Gambar 6.5 (b) Teknik Two- Arm Drag untuk mendapatkan pegangan yang erat

Teknik Two- Arm Drag untuk mendapatkan pegangan yang erat Gambar 6.5 (a) Teknik Two-Arm Drag ketika

Gambar 6.5 (a) Teknik Two-Arm Drag ketika mengangkat korban

6.5 (a) Teknik Two-Arm Drag ketika mengangkat korban Gambar 6.5 (c) Tehnik Two-Arm Drag ketika memindahkan
6.5 (a) Teknik Two-Arm Drag ketika mengangkat korban Gambar 6.5 (c) Tehnik Two-Arm Drag ketika memindahkan
6.5 (a) Teknik Two-Arm Drag ketika mengangkat korban Gambar 6.5 (c) Tehnik Two-Arm Drag ketika memindahkan

Gambar 6.5 (c) Tehnik Two-Arm Drag ketika memindahkan posisi korban

6.1.4. Teknik Menggendong
6.1.4. Teknik Menggendong

Teknik ini seringkali disebut dengan teknik angkat. Prosedur yang tepat untuk menyelamatkan teknik ini adalah:

Rencana Tanggap Darurat 75

1. Posisikan korban pada posisi tidur terlentang.

2. Satu penyelamat pergi ke bagian kepala korban dan bersiap mengangkat korban seperti pada teknik Two-Arm Drag.

3. Sedangkan penyelamat lainnya pergi ke bagian kaki korban, posisikan kaki korban secara bersilangan, pegang pergelangan kaki korban dan posisikan pada salah satu sisi si penyelamat.

korban dan posisikan pada salah satu sisi si penyelamat. 4. Para penolong bekerja sama untuk mengangkat

4. Para penolong bekerja sama untuk mengangkat korban secara bersamaan.

Dengan memegang kedua kaki korban untuk satu sisi, kepala kor-ban dilindungi dari memukul tangki SCBA dari penyelamat memimpin.

satu sisi, kepala kor-ban dilindungi dari memukul tangki SCBA dari penyelamat memimpin. Gambar 6.6 Tehnik Mengangkat
satu sisi, kepala kor-ban dilindungi dari memukul tangki SCBA dari penyelamat memimpin. Gambar 6.6 Tehnik Mengangkat

Gambar 6.6 Tehnik Mengangkat

76 Rencana Tanggap Darurat

6.2. Fasilitas / Peralatan Tanggap Darurat

Fasilitas atau peralatan yang harus dipersiapkan atau tersedia ketika bekerja dengan bahaya H 2 S adalah:

1. SCBA yang cukup untuk regu penolong (disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada pada suatu pekerjaan dan ditentukan dalam rencana tanggap darurat).

pekerjaan dan ditentukan dalam rencana tanggap darurat). 2. EEBA ( Emergency Escape Breathing Apparatus ) atau
pekerjaan dan ditentukan dalam rencana tanggap darurat). 2. EEBA ( Emergency Escape Breathing Apparatus ) atau

2. EEBA (Emergency Escape Breathing Apparatus) atau EEBD (Emergency Escape Breathing Device) / ELSA (Emergency Life Support Assistance) untuk pekerja jika berkaitan dengan kombinasi resiko antara bekerja di ruang terbatas dan bahaya H 2 S. ESBA ini dapat memberikan pasokan udara bersih selama 10 – 15 menit yang cukup bagi pekerja untuk melarikan diri dari tempat yang kebocoran gas H 2 S ke tempat yang aman. Penggunaan peralatan ini disesuaikan dengan hasil risk assessment sebelum pekerjaan dilaksanakan.

S ke tempat yang aman. Penggunaan peralatan ini disesuaikan dengan hasil risk assessment sebelum pekerjaan dilaksanakan.
S ke tempat yang aman. Penggunaan peralatan ini disesuaikan dengan hasil risk assessment sebelum pekerjaan dilaksanakan.

Rencana Tanggap Darurat 77

Rencana Tanggap Darurat 77 Gambar 6.7 Penggunaan emergency breathing apparatus 3. Tripod jika berkaitan dengan pekerjaan
Rencana Tanggap Darurat 77 Gambar 6.7 Penggunaan emergency breathing apparatus 3. Tripod jika berkaitan dengan pekerjaan

Gambar 6.7 Penggunaan emergency breathing apparatus

3. Tripod jika berkaitan dengan pekerjaan di ruang terbatas/ tertutup (lihat modul Memasuki Ruang Tertutup / Terbatas) digunakan untuk mengangkat korban dari ruang tertutup / terbatas.

untuk mengangkat korban dari ruang tertutup / terbatas. 4. Peralatan darurat lainnya seperti peralatan bantuan
untuk mengangkat korban dari ruang tertutup / terbatas. 4. Peralatan darurat lainnya seperti peralatan bantuan
untuk mengangkat korban dari ruang tertutup / terbatas. 4. Peralatan darurat lainnya seperti peralatan bantuan

4. Peralatan darurat lainnya seperti peralatan bantuan medis, stretcher (alat pengusung), dan lain sebagainya.

Gambar 6.8 Penggunaan tripod untuk pengangkatan korban

78 Rencana Tanggap Darurat

78 Rencana Tanggap Darurat
78 Rencana Tanggap Darurat
78 Rencana Tanggap Darurat

Rencana Tanggap Darurat 79

7 Studi Kasus

Rencana Tanggap Darurat 79 7 Studi Kasus
Rencana Tanggap Darurat 79 7 Studi Kasus
Rencana Tanggap Darurat 79 7 Studi Kasus

80 Studi Kasus

T iga (3) kontraktor tewas di pabrik pengolahan gas alam akibat dari menghirup gas H 2 S ketika sedang mengganti molecular sieve dari

pengering gas alam cair (NGL drier). Dua (2) korban di antaranya berusaha menolong seorang korban yang tidak sadar.

Pabrik pengolahan menghasilkan gas alam cair (LNG) dari sumur gas. Gas-gas yang diolah mengandung kadar H 2 S. Aliran gas alam melewati molecular sieve bed untuk menghilangkan kandungan air sebelum proses cryogenic selanjutnya.

kandungan air sebelum proses cryogenic selanjutnya. Setelah 3-4 tahun molecular sieve harus diganti. Unit
kandungan air sebelum proses cryogenic selanjutnya. Setelah 3-4 tahun molecular sieve harus diganti. Unit

Setelah 3-4 tahun molecular sieve harus diganti. Unit pengering siap untuk dilakukan penggantian molecular sieve. Semua peralatan dan prosedur keselamatan dipersiapkan di lokasi untuk pekerja yang masuk ke Drier. Truk pengangkut dan Molecular Sieve yang akan diganti telah dibasahi untuk menghindari terjadinya pyrophoric. Setelah truk penuh dengan molecular sieve, pekerja tersebut naik ke bak truk untuk meratakan molecular sieve. Setelah 10 menit, pekerja ke dua naik ke atas truk untuk membantu meratakan. Tidak lama kemudian pekerja ini jatuh tidak sadarkan diri. Pekerja yang pertama mencari

truk untuk membantu meratakan. Tidak lama kemudian pekerja ini jatuh tidak sadarkan diri. Pekerja yang pertama
truk untuk membantu meratakan. Tidak lama kemudian pekerja ini jatuh tidak sadarkan diri. Pekerja yang pertama

Studi Kasus 81

pertolongan ke temannya yang juga naik ke atas truk untuk menolong. Tetapi yang terjadi adalah ketiganya ikut tidak sadarkan diri dan tewas di atas truk.

Tiga kejadian utama yang teridentifikasi:

1. Terdapat H 2 S di atas truk yang berasal dari celah-celah molecular sieve.

2. Pekerja yang naik ke truk tidak terlindungi dengan alat bantu pernapasan (SCBA).

truk tidak terlindungi dengan alat bantu pernapasan (SCBA). 3. Tanggap darurat awal tidak memadai. Faktor yang

3. Tanggap darurat awal tidak memadai.

Faktor yang ikut kontribusi terjadinya kecelakaan adalah tidak adanya pengetahuan dari pekerja akan potensi H 2 S pada molecular sieve, pengetahuan tentang bahaya H 2 S dan tanggap daruratnya.

dari pekerja akan potensi H 2 S pada molecular sieve , pengetahuan tentang bahaya H 2

82 Daftar Pustaka

Daftar Pustaka

1. Peraturan Pemerintah RI, No. 11 Tahun 1979 tentang Keselamatan Kerja pada Pemurnian dan Pengolahan Minyak dan Gas Bumi

2. Peraturan Republik Indonesia No. 74 tahun 2001, Bahan Berbahaya dan Beracun.

3. 4. 5.
3.
4.
5.
6.
6.

American Conference of Governmental Industrial hygienist ACGIH 2010.

Recommended Practice for Oil and Gas Producing and Processing Facllities involving H 2 S. API RP 55.

Recommended Practice for Oil and Gas Well Servicing and Workover Operation Involving H 2 S, API Rp 68.

Recommended Practice for Oil and Gas Well Servicing and Workover Operation Involving H 2 S, API

Chemical Hazard Response Information System (CHRIS), 2000.

and Workover Operation Involving H 2 S, API Rp 68. Chemical Hazard Response Information System (CHRIS),

Lampiran 83

Lampiran 1.

Material Safety Data Sheet - H2S

1. IDENTIFIKASI BAHAN DAN PERUSAHAAN

Nama bahan

: Hidrogen Sulfida

Formula Kimia

: H 2 S

Kode Produksi

:

Sinonim

: Hidrogen Sulfuretted; Gas hepatika;

Asam Hidrosulfurik Nama perusahaan Pembuat : PT. XXX Alamat Pabrik : Desa XXX, Kec YYY
Asam Hidrosulfurik
Nama perusahaan Pembuat : PT. XXX
Alamat Pabrik
: Desa XXX, Kec YYY
2. IDENTIFIKASI BAHAYA
Kondisi Umum
• Warna
: Tidak berwarna
• Bentuk Fisik
: Gas
• Bau
: Telur busuk
• Sinyal Kata
: Bahaya
• Pernyataan Bahaya : GAS MUDAH TERBAKAR, DAPAT
MENYEBABKAN FLASH FIRE,
GAS BERTEKANAN TINGGI.
MENYEBABKAN FATAL JIKA DIHIRUP,
MENYEBABKAN GANGGUAN
SALURAN PERNAFASAN DAN
IRITASI MATA. BISA MENYEBABKAN
KERUSAKAN ORGAN.

84 Lampiran

Pencegahan : Jauhkan dari panas, percikan dan nyala api, Jangan merusak atau membakar wadah, Jangan bernafas dengan gas. Jangan terkena pada kulit atau pakaian. Hindari kontak dengan mata. Gunakan hanya dengan ventilasi yang memadai. Simpan wadah tertutup rapat dan disegel sampai siap untuk digunakan. Mencuci bersih setelah penanganan.

Status OSHA / HCS : Materi ini dianggap berbahaya oleh OSHA Hazard Communication Standard (29 CFR 1910.1200).

• Rute Masuk
• Rute Masuk
Communication Standard (29 CFR 1910.1200). • Rute Masuk : Kontak dengan Kulit dan Mata, umumnya melalui

: Kontak

dengan

Kulit

dan

Mata,

umumnya melalui pernafasan

Potensi Pengaruh Akut

Terhirup : Beracun bila terhirup. Terlepasnya produk berupa cairan dapat membuat atmosfer yang cepat dapat melebihi tingkat mematikan. Paparan dalam konsentrasi rendah yang melebihi batas eksposur yang diIzinkan dapat menyebabkan iritasi pada hidung dan tenggorokan, sakit kepala, pusing, mual, dan gugup.

dan tenggorokan, sakit kepala, pusing, mual, dan gugup. • Tertelan • Terkena Kulit : Kulit menjadi
• Tertelan • Terkena Kulit : Kulit menjadi beku (Frosbite)
• Tertelan
• Terkena Kulit
: Kulit menjadi beku (Frosbite)

: menyebabkan luka bakar beku atau kematian

Lampiran 85

Terkena Mata : Peradangan dan iritasi pada mata dapat terjadi pada konsentrasi udara sangat rendah (kadang-kadang kurang dari 10 ppm).

Paparan selama beberapa jam atau hari dapat menghasilkan ”gas mata ”atau” sakit mata ”dengan gejalagatal-gatal, iritasi, robek danserasa terbakar. Di atas 50 ppm, ada intens sobek, mengaburkan visi dan nyeri ketika melihat cahaya. Korban mungkin melihat cincin di sekitar lampu terang. Kebanyakan gejala hilang bila paparan berhenti. Namun, dalam kasus serius mata mungkin rusak secara permanen. Kontak dengan H2S cair dapat membekukan mata dan menyebabkan kerusakan berat atau kebutaan.

Potensi Pengaruh Khronik

Terhirup : Bau hidrogen sulfida tidak dapat diakui setelah lama menghirup bau karena kelumpuhan rasa. Menghirup asap dapat menyebabkan bronkitis kronis, iritasi pernafasan, hilangnya fungsi paru-paru.

karena kelumpuhan rasa. Menghirup asap dapat menyebabkan bronkitis kronis, iritasi pernafasan, hilangnya fungsi paru-paru.
karena kelumpuhan rasa. Menghirup asap dapat menyebabkan bronkitis kronis, iritasi pernafasan, hilangnya fungsi paru-paru.
karena kelumpuhan rasa. Menghirup asap dapat menyebabkan bronkitis kronis, iritasi pernafasan, hilangnya fungsi paru-paru.
karena kelumpuhan rasa. Menghirup asap dapat menyebabkan bronkitis kronis, iritasi pernafasan, hilangnya fungsi paru-paru.

86 Lampiran

3. TINDAKAN KECELAKAAN

PERTOLONGAN

PERTAMA

PADA

Terkena Mata : Jika iritasi terjadi, segera basuh mata dengan air mengalir selama minimal 20 menit. kelopak mata terbuka Tahan selama pembilasan. SEGERA Mendapatkan perhatian medis.

Terkena Kulit : Jika kulit terkena cairan, daerah yang terkontaminasi bilas dengan air mengalir yang hangat selama paling sedikit 20 menit. Di bawah air mengalir, hati-hati memotong sekitar pakaian yang menempel pada kulit yang rusak dan membuang sisa pakaian. Mendapatkan perhatian medis segera. Dekontaminasi sepenuhnya pakaian, sepatu dan barang kulit sebelum menggunakan kembali, atau dibuang.

Terhirup : Hilangkan sumber kontaminasi atau pindahkan korban ke udara segar. Berikan pernafasan buatan HANYA jika napas sudah berhenti. Memberikan Cardiopulmonary Resusitasi (CPR) hanya jika ada ada detak jantung DAN tidak bernapas. Oksigen mungkin bermanfaat jika diberikan oleh orang terlatih dalam penggunaannya. Mendapatkan perhatian medis SEGERA.

Oksigen mungkin bermanfaat jika diberikan oleh orang terlatih dalam penggunaannya. Mendapatkan perhatian medis SEGERA.
Oksigen mungkin bermanfaat jika diberikan oleh orang terlatih dalam penggunaannya. Mendapatkan perhatian medis SEGERA.
Oksigen mungkin bermanfaat jika diberikan oleh orang terlatih dalam penggunaannya. Mendapatkan perhatian medis SEGERA.
Oksigen mungkin bermanfaat jika diberikan oleh orang terlatih dalam penggunaannya. Mendapatkan perhatian medis SEGERA.

Lampiran 87

4. TINDAKAN PENANGGULANGAN KEBAKARAN

Sifat Bahan Mudah Terbakar :

Titik nyala

: Gas mudah terbakar. Dalam kebakaran atau jika dipanaskan, tekanan akan meningkat dan mungkin kontainer meledak, dengan risiko ledakan berikutnya.

Media Pemadam :

Pemadam Sesuai : Kebakaran kecil: Gunakan dry chemical powder. Kebakaran Besar: Gunakan semprot air, kabut atau busa. Pindahkan wadah yang mengandung H2S dari daerah kebakaran jika tidak ada resiko. Dinginkan wadah H2S dengan air. Jangan memadamkan api dari gas yang bocor kecuali kebocoran dapat dihentikan. Memadamkan api sekunder. Menangani tabung silinder rusak dengan sangat hati-hati. Gunakan media pemadam yang cocok untuk bahan sekitarnya.

Gunakan media pemadam yang cocok untuk bahan sekitarnya. • Pemadam tidak Sesuai : Jangan menggunakan air
Gunakan media pemadam yang cocok untuk bahan sekitarnya. • Pemadam tidak Sesuai : Jangan menggunakan air
Gunakan media pemadam yang cocok untuk bahan sekitarnya. • Pemadam tidak Sesuai : Jangan menggunakan air

Pemadam tidak Sesuai : Jangan menggunakan air jet.

Gunakan media pemadam yang cocok untuk bahan sekitarnya. • Pemadam tidak Sesuai : Jangan menggunakan air

88 Lampiran

5. PENANGANAN DAN PENYIMPANAN

Penanganan : Jauhkan dari panas, percikan dan nyala api. Jangan menusuk atau membakar wadah. Usahakan agar wadah tertutup. Gunakan hanya denganventilasiyangmemadai.Untuk menghindari kebakaran, hilangkan sumber penyalaan. Menggunakan peralatan listrik yang explosion- proof. Jangan pernah bekerja sendirian saat menangani H2S. Seseorang harus dalam komunikasi di sepanjang waktu dan dilengkapi dan dilatih untuk penyelamatan. Jika H2S terlepas, segera mengenakan respirator dan meninggalkan daerah sampai kebocoran ditemukan. Jika perlu untuk memasuki area yang terkontaminasi dengan H2S, ikuti persiapan untuk masuk ruang terbatas termasuk penggunaan respirator udara dengan facepiece penuh, komunikasi yang memadai, sabuk pengaman dan lifelines. Orang-orang yang bekerja dengan bahan kimia ini harus benar dilatih mengenai bahaya dan penggunaan yang aman.

benar dilatih mengenai bahaya dan penggunaan yang aman. • Penyimpanan : Simpan wadah dalam tempat sejuk
benar dilatih mengenai bahaya dan penggunaan yang aman. • Penyimpanan : Simpan wadah dalam tempat sejuk
benar dilatih mengenai bahaya dan penggunaan yang aman. • Penyimpanan : Simpan wadah dalam tempat sejuk
benar dilatih mengenai bahaya dan penggunaan yang aman. • Penyimpanan : Simpan wadah dalam tempat sejuk

Penyimpanan : Simpan wadah dalam tempat sejuk dan berventilasi denagn baik. Simpan wadah tertutup rapat dan disegel sampai siap untuk digunakan. Pisahkan dari bahan oksidator.

Lampiran 89

Hindari semua kemungkinan sumber pengapian (percikan atau nyala). Penyimpanan di luar atau terpisah lebih disukai. Simpan jauh dari panas dan sumber pengapian, bahan yang tidak kompatibel, dan silinder atau kontainer lainnya berdasarkan tekanan tinggi. Gunakan grounded, sistem ventilasi yang tidak memacu percikan dan peralatan listrik yang tidak menyediakan sumber pengapian. Gunakan struktur bahan yang tahan korosi, pencahayaan dan sistem ventilasi di daerah penyimpanan. Simpan silinder pada atau di atas permukaan tanah, tegak pada tingkat lantai, tahan api. Jauhkan silinder dalam posisi aman dan dilindungi dari kerusakan. Gunakan pengaman/ penutup katup silinder. Memberikan tanda/Label pada silinder kosong. Pisahkan tabung silinder yang terisi penuh dengan yang kosong. Pertimbangkan penggunaan alat deteksi kebocoran dan sistem alarm, seperti yang diperlukan. Membatasi penyimpanan tabung silinder dan akses ke daerah penyimpanan dan memberikan tanda-tanda peringatan. Memisahkan area kerja dari ruang penyimpanan. Periksa secara berkala untuk memeriksa kerusakan atau kebocoran. Memiliki alat pemadam

area kerja dari ruang penyimpanan. Periksa secara berkala untuk memeriksa kerusakan atau kebocoran. Memiliki alat pemadam
area kerja dari ruang penyimpanan. Periksa secara berkala untuk memeriksa kerusakan atau kebocoran. Memiliki alat pemadam
area kerja dari ruang penyimpanan. Periksa secara berkala untuk memeriksa kerusakan atau kebocoran. Memiliki alat pemadam

90 Lampiran

kebakaran yang tersedia di dalam dan di dekat tempat penyimpanan. Mematuhi semua ketentuan yang berlaku untuk penyimpanan dan penanganan gas terkompresi dan bahan mudah terbakar.

6. PROTEKSI PERSONAL

Tangan

: Gunakan sarung tangan yang sesuai untuk bekerja atau tugas yang dilakukan.

Rekomendasi: Neoprene, PVC, vinyl atau karet.

: Sebuah perisai muka juga mungkin diperlukan jika ada potensi untuk kontak dengan H2S cair.

Kulit : Rekomendasi ini berlaku untuk laju permeasi mencapai 0,1 ug/cm 2 /min atau 1 mg/m2/Menit. Ketahanan bahan tertentu dapat bervariasi dari produk ke produk. Evaluasi ketahanan baju dalam kondisi penggunaan dan mempertahankan pakaian secara hati-hati.

• Mata •
Mata
ke produk. Evaluasi ketahanan baju dalam kondisi penggunaan dan mempertahankan pakaian secara hati-hati. • Mata •
ke produk. Evaluasi ketahanan baju dalam kondisi penggunaan dan mempertahankan pakaian secara hati-hati. • Mata •
ke produk. Evaluasi ketahanan baju dalam kondisi penggunaan dan mempertahankan pakaian secara hati-hati. • Mata •

Lampiran 91

Lampiran 2. Matriks Kompetensi SIKA

SUBJECT OF No TRAINING TRAINING MATRIX I Pengetahuan Dasar 1 Identifikasi Bahaya Y Y Y
SUBJECT OF
No
TRAINING
TRAINING MATRIX
I
Pengetahuan Dasar
1
Identifikasi Bahaya
Y
Y
Y
Y
Y
Y
Y
2
Alat Pelindung Diri
Y
Y
Y
Y
Y
Y
Y
Pengendalian Pekerjaan Berbahaya
3
Y
Y
Y
Y
Y
dengan Dokumentasi
4
Surat Ijin Kerja
Y
Y
Y
Y
Y
Y
Y
5
Pengamatan Keselamatan Kerja
Y
Y
Y
Y
Y
Y
Y
6
Aspek Kebakaran
Y
Y
Y
Y
Y
AR
AR
II
Manajemen K3 Praktis
1
Accident Incident Investigation
Y
AR
AR
Y
2
Isolasi Energi Berbahaya
Y
AR
Y
Y
3
Lingkungan Kerja Aman
Y
AR
Y
Y
Y
AR
AR
4
Tanggap Darurat
III
Keselamatan Khusus
1
Penanganan Bahan Berbahaya
Y
AR
AR
Y
AR
AR
AR
2
Keselamatan Kerja Radiasi
Y
AR
AR
Y
AR
AR
AR
3
Keselamatan Kerja H2S
Y
AR
Y
Y
Y
AR
AR
4
Memasuki Ruang Tertutup
Y
AR
Y
Y
Y
AR
AR
5
Keselamatan Penggalian
Y
AR
Y
Y
Y
AR
AR
6
Bekerja di Ketinggian
Y
AR
Y
Y
Y
AR
AR
7
Scaffolding
Y
AR
AR
Y
AR
AR
AR
8
Pengujian dan Deteksi Gas
Y
AR
Y
Y
AR
AR
9
Operasi Pengangkatan
Y
AR
Y
Y
AR
AR
10
Keselamatan Operasi Gas Purging
Y
AR
AR
Y
AR
11
Bahaya terhadap Kesehatan Kerja
Y
AR
Y
Y
Y
AR
AR
12
Tabung Gas Bertekanan
Y
AR
Y
Y
Y
AR
AR
13
Klasifikasi Area Berbahaya
Y
AR
Y
Y
Y
Y
: Modul Wajib
: As Required
AR
(Sesuai kebutuhan)
:
Modul Tidak Wajib
Frequency
Provider
Duration
Standard
GAS SAFETY INSPECTOR
AHLI TEKNIK
GAS TESTER
SAFETY INSPECTOR
PENGAWAS JAGA
PEKERJA
CONTRACTOR