Anda di halaman 1dari 93

Daftar Modul HSE

01. Isolasi Energi Berbahaya


02. Memasuki Ruang Tertutup
03. Klasifikasi Area Berbahaya
04. Penanganan Bahan Berbahaya
05. Identifikasi Bahaya
06. Keselamatan Kerja Radiasi
07. Keselamatan Kerja H2S
08. Pengujian & Deteksi Gas
09. Pengendalian Pekerjaan Berbahaya
Dengan Dokumentasi
010. Tabung Gas Bertekanan
011. Aspek Kebakaran
012. Scaffolding
013. Alat Pelindung Diri
014. Surat Ijin Kerja
015. Keselamatan Penggalian
016. Operasi Pengangkatan
017. Accident Incident Investigation
018. Bahaya Terhadap Kesehatan Kerja
019. Tanggap Darurat
020. Keselamatan Operasi Gas Purging
021. Pengamatan Keselamatan Kerja
022. Bekerja di Ketinggian
023. Lingkungan Kerja Aman

Modul Sertifikasi SI, GSI & AT


PT. PERTAMINA PERSERO
HSE Corporate
Keselamatan H2S

Tujuan Modul 2

1. Pendahuluan 3

2. Sifat dan Bahaya Gas H2S 17

3. Program Keselamatan Kerja H2S di Industri


Minyak dan Gas Bumi 29

4. Sistem Monitoring Gas H2S dan Alarm 35

5. Alat Pelindung Pernapasan 47

6. Rencana Tanggap Darurat 65

7. Studi Kasus 79

Daftar Pustaka 82

Lampiran 1 : Material Safety Data Sheet


H2S 83

Lampiran 2 : Matriks Kompetensi SIKA 91


2 Tujuan Modul

Tujuan Modul
Memberikan Pemahaman Ciri-Ciri dan Bahaya
H2S dan.
Memberikan Pengetahuan Bekerja Aman Dengan
Potensi Bahaya H2S di Lingkungan Kerja.

Melalui modul ini diharapkan para pekerja dapat


memahami bahaya H2S, sifat, dan dimana biasanya
ditemukan atau terdapat bahaya H2S di lingkungan
kerja. Dari pengetahuan akan bahaya H2S, pekerja
diharapkan mampu memahami efek dari gas H2S
dan memahami pentingnya bekerja dengan aman
walaupun terdapat bahaya di sekitar tempat kerja.

Selain itu, pekerja diharapkan mengetahui batas-batas


aman H2S dan pengukurannya, dapat melakukan
pekerjaan yang berkaitan dengan sumber H2S di area
kerja, penggunaan alat pelindung diri, dan rencana
tanggap daruratnya.
3

1
Pendahuluan
4 Pendahuluan

1.1. Sumber H2S


Hidrogen Sulfida (H2S) dihasilkan di alam yang
disebabkan oleh dekomposisi bahan-bahan organik
(binatang atau tumbuh-tumbuhan) oleh bakteri. H2S
juga dihasilkan di dataran rendah atau daerah yang
memiliki kadar Oksigen cukup rendah seperti daerah
rawa-rawa, dan juga bisa ditemukan pada gas
vulkanik.

Gambar 1.1 Sumber H2S di Alam

Hidrogen Sulfida ditemukan di dalam pori-pori atau


celah-celah bebatuan pada lapisan bawah / dasar
bumi. Biasanya tercampur dengan air garam, gas
alam dan minyak bumi. H2S bukan hanya ditemukan
pada lokasi tertentu saja, tapi lebih terutama ditemukan
di dalam pembentukan soda batu gamping / batu
kapur dimana konsentrasi besinya tampak rendah
Pendahuluan 5

dan mencegah pembentukan Besi Sulfida (pyrite)


yang stabil.

Di dalam eksplorasi minyak dan gas, daerah H2S


terbentuk selama terjadinya pembusukan dari
binatang organik dan / tumbuhan oleh aktifitas
bakteri. Bakteri berkembang di bawah endapan
kedap / rapat dimana kondisinya sangat anaerobik
dan mengurangi kehadiran Sulfat untuk membentuk
H2S. Pada dasarnya anaerobik adalah berarti bakteri
yang dapat hidup di area yang kurang Oksigen
dan menghasilkan senyawa pembusukan dibanding
dengan bakteri lain yang hidup dalam air atau udara
bebas.

Dalam pekerjaan pengeboran, H2S dapat terbentuk


dengan penurunan panas (diatas suhu 375oF)
dari semacam belerang yang mengandung cairan
tambahan pengeboran (lignosulfates) juga bakteri
pembusukan dari Sulfat di dalam lumpur pengeboran
(lumpur buatan / gyp mud, kontaminasi Anhydride,
dsb).

Dalam pengeboran panas bumi, H2S dihasilkan


bersama- sama dengan CO2, NH3, HCI, HF & SO2
dalam uap primer yang dilepaskan dari aktifitas
6 Pendahuluan

magma. Dalam struktur dari sistem gas - gas magma


berpindah tempat. H2S dapat dibentuk oleh reaksi
kimia antara Sulfur Dioksida dan molekul Hydrogen :

SO2 + H2 = H 2S + H 2O

H2S Juga dapat dibentuk saat cairan panas bumi


bertemu dengan lapisan yang mengandung Sulfur
(belerang), mengikuti reaksi di bawah ini :

4S + 4H2O = 3H2O + H2SO4 + 3H2S

Kehadiran permukaan yang mengandung Asam


Sulfat dapat menunjukkan adanya gas H2S yang
berpindah ke permukaan dan beroksidasi. Seringkali
proses oksidasi tidak sempurna dan membebaskan
H2S yang akan dilepaskan ke permukaan udara. Dari
sini bau telur busuk seringkali ditemukan disekitar
sumber air panas dan fumarol.

Pada panas bumi (geothermal), pengeboran minyak


dan gas, produksi dan industri pengilangan, H2S dapat
menjadi masalah yang serius dan membahayakan.

Aktifitas pengeboran dan produksi minyak, gas atau


panas bumi sangat berpotensi terjadinya paparan
gas H2S ke udara yang sangat berbahaya terhadap
tubuh manusia.
Pendahuluan 7

Pekerja yang bekerja di lokasi pengeboran minyak


dan gas bumi di daerah yang diketahui mengandung
gas H2S dihadapkan pada resiko terpaparnya gas
H2S yang dipacu oleh udara panas sekitar.

H2S adalah materi yang sangat beracun, tidak


berwarna, dalam konsentrasi yang rendah berbau
seperti telur busuk dan juga lebih berat daripada
udara. Oleh karenanya, H2S sering disebut juga gas
telur busuk, gas asam, asam belerang ataupun uap
bau.

Keberadaannya yang mudah diketahui dapat


digunakan sebagai peringatan dini bagi pekerja di
sekitarnya. Namun, jika terlalu lama menghirup udara
yang telah tercemar oleh gas H2S, maka akan terjadi
kelelahan penciuman yang dapat mengakibatkan
hilangnya kemampuan penciuman untuk memberi
peringatan dini jika konsentrasi gas H2S di udara
meningkat menuju ke tingkatan yang dapat
mengakibatkan hilangnya kesadaran seseorang.
8 Pendahuluan

Gambar 1.2 Keberadaan H2S di dalam eksplorasi dan pengolahan gas


dan minyak bumi

Untuk alasan tersebut, pengetahuan untuk melindungi


diri sendiri dan pekerja lain adalah sangat penting
khususnya untuk setiap pekerja yang bekerja di
industri minyak dan gas bumi yang menangani
material berbahaya ini.

Beberapa contoh kecelakaan yang diakibatkan


oleh terlepasnya gas H2S ke udara sekitar, banyak
disebabkan ketika pekerja membuka saluran yang
seharusnya bekerja dengan sistem tertutup. Beberapa
kecelakan tersebut antara lain :

a. Pada tahun 1988, seorang karyawan kilang


terpapar oleh gas H2S dengan konsentrasi yang
cukup tinggi. Hal ini terjadi ketika pekerja tersebut
sedang mengosongkan isi dari KO Drum ke
dalam saluran pembuangan secara manual dan
Pendahuluan 9

bukannya mengaktifkan pompa untuk membuang


isi dari KO drum tersebut. Pekerja tersebut tidak
melaksanakan prosedur yang sesuai dan membuka
katup pembuangan tersebut yang mengakibatkan
ikut terbawanya gas H2S dan terlepas ke udara.

b. Pada tahun 1993, 2 karyawan yang bekerja di


Vacuum Unit terkena ledakan yang disebabkan
oleh gas H2S yang bocor.

c. Pada tahun 1994, sebuah kematian tragis yang


disebabkan oleh paparan Hidrogen Sulfida.
Kecelakaan itu terjadi ketika salah seorang
pekerja membuka katup pembuangan pada KO
Drum di unit Hydrocracker. Berdasarkan prosedur
operasi, pekerja terebut seharusnya mengalirkan
campuran air-gas tersebut menuju ke separator
untuk memisahkan uap yang dikandungnya.

Ada beberapa hal yang perlu diketahui mengenai


sifat-sifat H2S ini yang berhubungan dengan pekerjaan
sehari-hari, yaitu :

1. H2S akan mudah teruapkan jika cairan yang


mengandung H2S tersebut teraduk atau dengan
kata lain terganggu kestabilannya. Hal ini dapat
10 Pendahuluan

terjadi dalam beberapa cara. Memompa cairan


dari tangki penampungan ke dalam truk tangki
akan menyebabkan H2S dalam cairan menjadi
teruapkan. Setiap pekerja harus berhati-hati ketika
memindahkan atau bekerja di sekitar cairan yang
mungkin mengandung H2S terlarutkan.

2. Berhati-hatilah ketika melakukan pengurangan


tekanan pada suatu peralatan, kolom, tangki,
dll. yang mungkin mengandung cairan dengan
kandungan H2S di dalamnya. Proses pengurangan
tekanan juga membuat H2S terlepas ke udara dan
bisa menyebabkan bahaya.

3. Meningkatnya temperatur cairan yang mengandung


H2S juga dapat mengakibatkan terlepasnya H2S
tersebut ke udara. Setiap pekerja perlu berhati-hati
ketika berada di sekitar kolom atau tanki khususnya
pada siang hari.

Oleh karena itu, setiap tempat kerja yang menangani


bahan-bahan berbahaya seperti gas H2S atau cairan
yang memiliki kandungan H2S di dalamnya wajib
menyertakan Material Safety Data Sheet (MSDS)
untuk memastikan pekerja mengetahui bahaya dan
penanganan dari bahan kima tersebut.
Pendahuluan 11

1.2. Lokasi Paparan H2S


Sebagian besar H2S didapat sebagai produk
sampingan dari kegiatan lainnya. Gas H2S banyak
ditemukan pada proses eksplorasi dan pengolahan
gas alam serta pengilangan minyak bumi. Pada proses
pengilangan minyak bumi, gas H2S ini dapat diubah
kembali menjadi asam belerang atau belerang mutu
tinggi, atau dimusnahkan dengan jalan membakarnya
melalui saluran pembakaran.

Berikut ini adalah jenis-jenis industri yang memiliki


potensi ditemukannya gas H2S tersebut, yaitu :

Proses pengeboran minyak dan gas bumi.


Proses pengolahan minyak dan gas bumi.


Proses transportasi bahan kima yang mengandung



H2S.

Pada proses industri gas dan minyak bumi, H2S bisa


ditemukan di beberapa lokasi yaitu :

sumur minyak.

stasiun pengumpul minyak.


area pengeboran, termasuk lantai rig, fasilitas



pengaduk, lumpur dan cellar box.
12 Pendahuluan

kompresor gas.

ruang tertutup seperti bejana proses dan tangki



minyak mentah.

pompa dan perpipaan.


proses pengolahan air seperti : skimmer, MFU, pit,



dan separator API.

saluran pembuangan, fasilitas pengolahan limbah.


tangki penampungan (kargo), galangan kapal,



tanki bahan bakar.

laboratorium kimia.

Gudang bahan kimia (Chemical Storage) yang



menyimpan Sulfat, Tiosulfat, Sulfit, Sulfida,
Belerang, dan S-organik.

Sedangkan lokasi-lokasi yang memungkinkan


terjadinya kebocoran H2S adalah :

sambungan antar peralatan termasuk karet seal



atau gasket.

sambungan perpipaan (fittings,flanges)


saluran pembuangan cairan (drains)



Pendahuluan 13

katup atau kerangan pengendali aliran sampel



(sample valves)

katup atau kerangan pelepasan tekanan gas (relief



valve)

saluran pembuangan gas (vent line)


Penyebab terjadinya pelepasan H2S ke lingkungan


kerja, dapat disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut :

Korosi, H2S menyerang logam Fe dalam atmosfer :

H2S + Fe + O2 FeS + H2O

Catatan: FeS(FeroSulfida) pada keadaan kering


jika kontak dengan udara kering akan terbakar.
Ini yang disebut Materi Phyrophoric. Oleh sebab
itu jika diperkirakan ada H2S, pertama kali saat
separator atau bejana diisi udara (walaupun telah
dipurging dengan gas inert sebelumnya) harus
dipastikan kondisi separator atau bejana selalu
dalam keadaan basah.

H2S menyerang Oksida-Besi (sebagai hasil korosi


dengan udara atau zat kimia lain) :

H2S + FeO FeS + H2O


14 Pendahuluan

Kegiatan operasional : tekanan berlebihan (over


pressure), panas berlebihan pada satu lokasi
(over heathing / hot spot), reaksi berantai (chain
reaction), dll.

Kegagalan mekanik (mechanical failure) : fatique,


aus, fragmentasi, fungsi kerangan (valve), dll.

Sebab-sebab lain : erosi, kurang pemeliharaan


yang baik, dll.

Yang perlu diperhatikan ketika ditemukan kebocoran


H2S adalah :

1. Jika gas H2S bercampur dengan gas lain dan


memiliki massa jenis yang lebih ringan dari udara
(< 1.0), maka gas H2S tersebut akan naik.

2. Ketika sedang memasuki area tertutup di lokasi


yang diketahui keberadaan gas H2S, maka ruangan
tertutup tersebut memilki potensi kandungan gas
H2S di dalamnya. Yang perlu diperhatikan adalah
keberadaan dari kerak dan cairan di dalamnya :

Cairan tersebut memungkinkan mengeluarkan


gas H2S yang dikandungnya jika cairan tersebut
diganggu kestabilannya.
Pendahuluan 15

3. Proses penghilangan kerak dengan cara di-steam,


bahan kima atau di gerinda dapat mengeluarkan
gas H2S yang terkandung di dalamnya.

4. Ketika berada di fasilitas eksplorasi maupun


produksi dari gas dan minyak bumi, maka perlu
diperhatikan adalah arah angin yang terjadi, bisa
dengan memperhatikan alat penunjuk arah angin
atau memperhatikan gerak pepohonan sekitar.
Jika terjadi kebocoran gas, maka gas H2S tersebut
dapat dengan mudah terbawa angin.

5. Dikarenakan sifat H2S yang lebih berat daripada


udara, maka gas H2S dapat berkumpul di area
dataran rendah atau terhalang oleh bangunan
sekitarnya.

1.3. Satuan Pengukuran Gas H2S


Sesuai dengan daftar di atas, banyak tabel-tabel
yang tercetak yang menggambarkan akibat dari H2S.
Kebanyakan mengunakan ukuran umum bagian
perjuta (ppm). Dalam membacanya, informasi di
bawah ini perlu untuk diketahui :
16 Pendahuluan

1. Part Per Million (PPM) / bagian per juta (BPJ) -


Betapa kecil jumlahnya, yang dapat lebih mudah
dimengerti dengan contoh berikut :

a) Jika 1 inchi (2,54cm) mewakili 1 ppm gas,


adalah seperti membandingkan 1 inchi tersebut
dalam 15,5 mil (25 km).

b) Jika 1 detik mewakili 1 ppm gas, adalah seperti


membandingkan 1 detik tersebut dalam 11,5
hari.

c) Jika 1 pound (0,5 kg) mewakili 1 ppm gas,


adalah seperti membandingkan 1 pound
tersebut dalam 500 ton.

2. Untuk merubah ppm dalam persentasi, pindahkan


poin desimal empat kali ke kiri.
Tabel 1.1 Perbandingan PPM dengan persentasi

1 ppm = 0.0001 % dimana 1/10,000 dari 1 %


10 ppm = 0.001 % dimana 1/1000 dari 1 %
100 ppm = 0.01 % dimana 1/100 dari 1 %
200 ppm = 0.02 % dimana 1/200 dari 1 %
500 ppm = 0.05 % dimana 1/500 dari 1 %
1000 ppm = 0.1 % dimana 1/10 dari 1 %
10,000 Ppm = 1.0 % dimana 1% dari 1 %
100,000 ppm = 10 % dimana 10 % dari 1 %
1,000,000 ppm = 100 % dimana 100 % dari 1 %
17

2
Sifat dan
Bahaya Gas
H2S
18 Sifat dan Bahaya Gas H2S

G
as H2S merupakan gas yang sangat beracun dan
lebih mematikan dibandingkan dengan Karbon
Monoksida (CO), dan hampir sama beracunnya
dengan Hidro Sianida (HCN), sejenis gas yang
digunakan untuk menghukum mati para narapidana
di beberapa negara bagian Amerika Serikat.

Pada umumnya, proses masuknya gas H2S kedalam


tubuh manusia melalui sistem saluran pernapasan,
sedangkan paparan gas H2S yang terserap melalui
kulit sangat kecil.

Masuknya gas H2S melalui saluran pernapasan


diakibatkan ukuran partikel dari gas H2S yang kecil
sehingga dapat dengan mudah masuk kedalam
saluran pernapasan dimana gas H2S dapat diserap
kedalam darah.

Ketika seseorang bernapas, udara yang dihirup


masuk ke dalam paru-paru melalui mulut dan /
hidung. Jika udara yang dihirup ini mengandung H2S
pada konsentrasi kurang dari 100 ppm, bau telur
busuk sudah dapat dideteksi, sedangkan konsentrasi
di atas 100 ppm dapat melemahkan saraf penciuman
kita, lalu kita akan kehilangan daya penciuman.
Berarti juga kita tidak dapat mengetahui tanda
Sifat dan Bahaya Gas H2S 19

bahaya adanya gas ini lewat bau. Tidak terciumnya


bau untuk memperingati kita akan adanya gas ini,
tanpa disadari H2S telah terhirup ke dalam paru-paru
dan secara cepat mengalir ke dalam aliran darah.
Untuk melindungi dirinya sendiri, badan kita secepat
mungkin akan beroksidasi atau memecah-belahkan
H2S menjadi senyawa yang tidak berbahaya. Tetapi
jika seseorang menghirup H2S terlampau banyak
hingga tubuhnya tidak dapat meng-oksidasi seluruh
gas ini, H2S akan merambat dan berkembang di
dalam aliran darahnya dan pekerja tersebut akan
keracunan. Keracunan ini dapat melumpuhkan
saraf pusat di dalam otak yang mengontrol otot
paru-paru sehingga mengakibatkan paru-paru kita
berhenti bekerja. Tidak bekerjanya paru-paru seketika
menyebabkan seseorang menjadi sesak napas.

Selain itu, gas H2S dapat bercampur dengan air


di paru-paru dan dapat membentuk weak acid /
zat asam lemah. Keberadaan zat asam lemah di
dalam paru-paru dapat menyerang pembuluh darah,
sehingga cairan dari pembuluh darah akan keluar
dari pembuluh darah menuju ke dalam jaringan-
jaringan sekelilingnya dan dapat menyebabkan
20 Sifat dan Bahaya Gas H2S

terjadinya pembengkakan pada paru-paru. Sehingga


dapat menyebabkan kesulitan bernapas.

Sedangkan, efek fisik gas H2S pada tingkat rendah


dapat menyebabkan terjadinya gejala-gejala sebagai
berikut :

Mata seperti terbakar.

Sakit kepala atau pusing.

Badan terasa lesu.

Hilangnya kemampuan indera penciuman.

Rasa kering pada hidung, tenggorokan dan dada.

Batuk-batuk.

Kulit terasa perih.

Dampak paparan gas H2S terhadap manusia


tergantung dari beberapa faktor, antara lain adalah :

Lamanya seseorang berada di lingkungan /



paparan gas H2S pada konsentrasi tertentu (dalam
hitungan jam atau menit).

Frekuensi / tingkat keseringan seseorang terpapar.


Besarnya konsentrasi H2S yang terpapar pada



seseorang (dalam satuan ppm).
Sifat dan Bahaya Gas H2S 21

Daya tahan seseorang terhadap paparan H2S.


Di bawah ini adalah tabel mengenai dampak


paparan gas H2S berdasarkan tingkat konsentrasinya
terhadap kesehatan dan keselamatan manusia.
Tabel 2.1 Tingkat konsentrasi H2S dan efek fisik gas H2S

Konsentrasi
Efek pada Manusia
H2S (ppm)

0.13 Bau minimal masih terasa

4.6 Baunya mudah dikenali dalam kadar sedang

10 Permulaan iritasi mata dan mulai berair

27 Bau yang tidak enak dan tidak dapat ditoleransi lagi

Batuk-batuk, iritasi mata dan indera penciuman


100
sudah tidak berfungsi setelah 2 - 5 menit

Pembengkakan mata dan rasa kekeringan di


200 - 300
tenggorokan

Kehilangan kesadaran dan bisa mematikan dalam


500 - 700
waktu 0.5 - 1 jam

Kehilangan kesadaran dengan cepat, berhenti atau


800
tersendatnya pernapasan dan berlanjut kematian

Segera pingsan, dengan awal perhentian pernapasan


dan kematian dalam beberapa menit. Kematian
1000 - 2000
dapat terjadi bahkan setelah korban dengan cepat
diungsikan ke tempat yang berudara segar
22 Sifat dan Bahaya Gas H2S

ppm = bagian gas per satu juta;


bagian udara dalam isi (by volume) - 1% = 10.000
ppm.

Berdasarkan ACGIH (American Conference of


Governmental Industrial hygienist) pada tahun 2010,
menurunkan batas paparan gas H2S dari batas
paparan yang dikeluarkan sebelumnya sebagai
berikut :

Nilai ambang batas (TLV-TWA / Threshold Limit


Value-Time Weighted Average) H2S untuk selama
8 jam dari 10 ppm diturunkan menjadi 5 ppm.
TWA didefinisikan sebagai konsentrasi rata-rata
yang diperkenankan untuk pemaparan selama
waktu tersebut yakni 8 jam kerja dalam 1 hari
atau 40 jam-seminggu. Pekerja dapat terpapar
secara berulang tanpa menimbulkan gangguan
kesehatan pada batas tersebut (Occupational
Exposure Limit for Chemical Substances). Pada
tahun 2010, ACGIH juga mengeluarkan TWA baru
untuk 12 jam yakni 2,5 ppm. ACGIH menurunkan
batas ini berdasarkan pengaruh kesehatan yang
terjadi di tempat umum (bukan tempat kerja).

Sedangkan nilai ambang batas yang


Sifat dan Bahaya Gas H2S 23

direkomendasikan ACGIH 2010 untuk waktu


maksimal 15 menit adalah 15 ppm atau yang
disebut dengan TLV STEL (Treshold Limit Value
Short Term Exposure Limit).

Dengan demikian, pada area yang memiliki


konsentrasi lebih dari 5 ppm, maka setiap pekerja
yang akan berada di daerah tersebut lebih dari 8 jam
diharuskan menggunakan alat bantuan pernapasan
yang mengandung udara bersih atau Oksigen murni
(SCBA).

Rangkuman sifat-sifat H2S dapat dilihat pada tabel


2.2 di bawah ini.
24 Sifat dan Bahaya Gas H2S

Tabel 2.2 Sifat-sifat H2S

SIFAT- SIFAT DESKRIPSI

Fisik Umumnya berupa Gas

Racun
Tingkat Bahaya Kesehatan - biru (Health
Hazard).
Menurut NFPA: 3 (sangat berbahaya)
Sangat beracun, batas aman untuk 12 jam
adalah 2.5 ppm atau batas aman untuk 8
jam adalah 5 ppm (ACGIH 2010).
Tingkat racun ini setara dengan NH3, CO,
HCN, dan CH3SH, tetapi masih di bawah
PH3 dan Fosgen.
Korosif terhadap Fe, Cu, dan Beton.

Dapat terbakar
Tingkat Bahaya Terbakar merah (Flamability)
Bahaya
menurut NFPA 4. (bisa meledak).
Rentang batas dapat terbakar (Flammability
Limit) %vol di udara adalah antara 4.5%
hingga 45%.
Karena lebih berat dari udara, gas H2S
dapat menjalar hingga jarak yang cukup
jauh sehingga dapat berkontak dengan
sumber api dan dapat menyebabkan flash
back (api menjalar balik ke sumber gas
H2S)
Konsentrasi Oksigen minimum yang
dibutuhkan untuk pembakaran dengan gas
H2S (disebut Minimum Oxygen Content for
Combustion MoCC) adalah 7.5%.
Sifat dan Bahaya Gas H2S 25

SIFAT- SIFAT DESKRIPSI

Tidak berwarna
Warna Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan
keberadaan H2S di area sekitar.
Berbau seperti telur busuk
Dalam konsentrasi rendah, baunya mudah

dikenali.
Membuat perut terasa mual, pusing,

Bau gangguan penglihatan serta diikuti dengan
perasaan menjijikan.
Tetapi, jangan mengandalkan indera

penciuman untuk mengetahui tingkat
konsentrasi H2S karena H2S dapat merusak
sistem syaraf indera penciuman (Olfactory)
Memiliki massa jenis uap yang lebih berat
daripada udara
(H2S = 1.189 ; Udara = 1.0)
Dalam campuran gas, mungkin lebih
berat atau lebih ringan daripada udara,
tergantung pada kepadatan uap dan
Massa Jenis
suhu dibandingkan dengan atmosfer
lingkungan.
Dalam keadaan murni atau konsentrasi
tinggi, H2S begerak menuju ke dataran
yang lebih rendah seperti lubang, parit
atau daerah bertekanan rendah.

Dapat larut dalam cairan seperti minyak


bumi, air atau larutan emulsi
Kelarutan
Segera menguap apabila cairan tersebut

dipanaskan atau teragitasi.
26 Sifat dan Bahaya Gas H2S

2.1. Mekanisme Proses Keracunan


H2S dalam tubuh
H2S bereaksi dengan berbagai macam enzim
di dalam tubuh, terutama yang mengandung
ion logam, dan reaksi-reaksi tersebut
menghasilkan inhibitor enzim (penghalang
reaksi enzimatik).

Jika interaksi enzim-enzim proses pernafasan


tersebut terhalangi, maka akan terjadi
kelangkaan Oksigen sebagai akseptor
elektron, sehingga transpor elektron juga akan
terhenti.

Hal ini berarti bahwa metabolisme oksidatif,


sebagai sumber energi utama tubuh, juga
akan terhenti.

Jaringan-jaringan tubuh yang paling rentan


terhadap keracunan H2S adalah membran-
membran mucous dan jaringan-jaringan
syaraf serta jantung, karena jaringan-jaringan
ini sangat memerlukan keberadaan Oksigen.
Sifat dan Bahaya Gas H2S 27

2.2. Metode Pemantauan Biologis


Karena Paparan H2S
Ada 3 metode pemantauan biologis karena paparan
H2S :

1. Analisis Keberadaan H2S di dalam tubuh :

Analisa sulfida dalam darah merupakan suatu


cara untuk memeriksa dampak keracunan H2S

Untuk mendapatkan hasil analisis darah yang


tepat dan akurat, maka sampel darah harus
diambil dalam waktu kurang dari 2 jam setelah
terjadi paparan gas atau kecelakaan H2S dan
harus langsung dianalisa.

2. Cara Praktis untuk pemantauan H2S :

Mengukur kandungan senyawa Urinary


Thiosulphate.

Senyawa kompleks Bromobimane dari Urinary


Thiosulphate dapat dianalisa dengan analisa
kromatografi cairan (liquid chromatography).
Metode ini dapat menunjukkan adanya tingkat
keracunan H2S, dan hasil terbaik dapat diukur
15 jam setelah terkena paparan.
28 Sifat dan Bahaya Gas H2S
29

3
Program Keselamatan
Kerja H2S di Industri
Minyak dan Gas
Bumi
30 Program Keselamatan Kerja H2S di Industri Minyak dan Gas Bumi

3.1. Identifikasi Tempat-Tempat


Berpotensi H2S
Pada setiap lokasi yang diperkirakan mengandung
H2S sehubungan dengan telah dijelaskan pada
bab 1. Semua sumber yang memungkinkan dapat
timbulnya H2S harus diidentifikasi. Semua area
dimana konsentrasi melebihi 5 ppm harus diberi
tanda pada jalan masuk dengan simbol gas beracun.
Tanda juga meliputi lokasi, nama dan nomor telpon
untuk keadaan darurat. Setiap unit proses dan
produksi yang terdapat kandungan H2S di atas 100
ppm harus terdapat indikator arah angin (wind sock).
Pengukuran dan pengujian H2S harus dilakukan
secara berkala pada aliran gas atau fasa gas pada
fasilitas produksi minyak. Program pelatihan H2S juga
harus diberikan pada para pekerja.

Gambar 3.1 Penggunaan WIndshock di area kerja.


Program Keselamatan Kerja H2S di Industri Minyak dan Gas Bumi 31

3.2. Fasilitas Produksi, Well Service,


dan Pengeboran
Fasilitas produksi, Well Service, dan Pengeboran
(drilling) harus mengikuti program-program sebagai
berikut:

Penentuan radius eksposure (Radius of Exposure


ROE)

100 ppm radius of exposure (feet) = [(1,589)


(H2S conc.)(Q)](0.625)

500 ppm radius of exposure (feet) = [(0,4546)


(H2S conc.)(Q)](0.625)

Fasilitas produksi yang mengandung H2S di atas


100 ppm pada aliran gas harus:

Memasang tanda bahaya pada jarak 50 kaki



dari peralatan.

Untuk jalur perpipaan yang ditanam (di dalam



tanah), tanda bahaya harus dipasang di pinggir
jalan umum dan sepanjang daerah-daerah
umum (berpenduduk) pada jarak sedemikian
sehingga tanda yang terdekat terlihat. Tanda
bahaya termasuk nomor telpon darurat.
32 Program Keselamatan Kerja H2S di Industri Minyak dan Gas Bumi

Fasilitas yang tidak berpenghuni harus



diamankan dari kemungkinan masuknya
masyarakat ketika berada di sekitar 400 m
dari area publik. Proteksi termasuk pemagaran,
penguncian, atau menghilangkan pegangan
katup.

Apabila uap terakumulasi dalam tangki


penyimpanan di atas 500 pm H2S, persyaratan
ini harus dijalankan:

Rantai atau pintu di pasang pada tangga ke



atas tangki apabila tangki berada 400 m dari
tempat umum.
Tanda bahaya sekitar 50 kaki dari tangki.

Fasilitas produksi dengan sumur yang dapat


membentuk konsentrasi H2S di udara di atas 20
ppm harus:

Tanda bahaya dipasang secara permanent



pada area masuk, heliport dan tempat berlabuh
kapal laut (boat landing).
Indikator arah angin (windsock)

Tersedia Pressure-demand Type Supplied Air

Respirators (SABA) di tempat yang mudah
Program Keselamatan Kerja H2S di Industri Minyak dan Gas Bumi 33

dicapai dan diketahui pekerja di tempat


tersebut.
Sistem detektor dengan alarm dan visual

(strobe light).

Daerah Pengeboran dan Well Service

Pengarahan pada pekerja. Untuk onshore,



tempat briefing harus berjarak 150 ft dari area
wellbore. Untuk offshore di area yang dinilai
aman untuk melakukan pengarahan.

Peralatan keselamatan yang harus tersedia:


Perangkat P3K (First aid kit);


Alat Pemadam Api Ringan (APAR);
Tali pertolongan dengan safety harness;
Flare gun (atau peralatan lainnya untuk
penerangan sumur).
Detektor gas (portable detector) dengan
alarm;
Sistem Detektor gas (Fixed Detector)
dengan alarm dan cahaya (strobe light).
Tandu pertolongan.
Sekurangnya terdapat 2 SCBAs; dan
Salinan (copy) dari Rencana Tanggap
Darurat.
34 Program Keselamatan Kerja H2S di Industri Minyak dan Gas Bumi
Sistem Monitoring Gas H2S dan Alarm 35

4
Sistem
Monitoring Gas
H2S dan Alarm
36 Sistem Monitoring Gas H2S dan Alarm

4.1. Maksud Dan Tujuan Sistem


Monitoring H2S
Sistem pendeteksian gas H2S adalah sistem yang
berfungsi untuk melakukan pemantauan kadar
konsentrasi gas H2S yang terdapat di udara
sekitar dengan memanfaatkan peralatan-peralatan
pendeteksi keberadaan gas.

Sistem pendeteksian gas H2S ini dilakukan untuk


mengetahui adanya paparan gas tersebut pada suatu
area tertentu sehingga dapat dilakukan tindakan-
tindakan yang berhubungan dengan keselamatan
dan kesehatan kerja yang berkaitan dengan bahaya
gas H2S tersebut.

Setiap pekerja dapat diperingatkan tentang adanya


gas H2S di area tempat kerja dengan berbagai
cara. Pertama-tama, indera penciuman yang akan
mengenalinya, tetapi ini juga bisa sebagai pengenalan
terakhir. Anda dapat menghirup bagian kecil gas
H2S dalam sejuta bagian udara, bila konsentrasi gas
ini berada pada kisaran 100 150 ppm, indera
penciuman segera hilang sehingga memberikan rasa
aman yang mengecohkan.
Sistem Monitoring Gas H2S dan Alarm 37

Dalam sistem monitoring gas H2S, ada beberapa


prinsip gas deteksi dan prosedur analisis yang tersedia
untuk memonitor konsentrasi H2S dalam udara ambien
yang dapat membahayakan keselamatan / kesehatan
seseorang baik secara kualitatif maupun kuantitatif.

4.2. Alat Detektor Gas H2S


Sistem pendeteksian gas H2S adalah suatu alat yang
mampu mendeteksi adanya gas H2S di lingkungan
kerja. Jenis-jenis peralatan deteksi gas H2S di
antaranya adalah :

4.2.1. Detektor Elektronik

Alat detektor yang bekerja secara elektronik ini


menggunakan monitor elektronik yang canggih
untuk mengukur konsentrasi H2S dan memberikan
pembacaan yang cukup akurat, jika berfungsi dengan
baik.

Alat ini dirancang untuk memonitor tingkat gas H2S


secara terus-menerus di suatu area. Tujuan dari
perangkat ini adalah untuk melindungi keselamatan
dengan memperingatkan kehadiran H2S di tempat
kerja.
38 Sistem Monitoring Gas H2S dan Alarm

Cara Kerja
Alat detektor ini bekerja secara terus-menerus dengan
menggunakan listrik untuk menyalakan sebuah sensor
yang dapat mendeteksi keberadaan gas H2S di udara.
Jika kepala sensor mendeteksi adanya gas H2S,
melalui reaksi kimia yang akan berakibat berubahnya
nilai resistan, perubahan tersebut akan dikondisikan
menjadi besaran arus atau tegangan pada transmiter
untuk kemudian dapat diketahui nilai konsentrasi gas
H2S tersebut. Ketika sensor mendeteksi kehadiran H2S
pada tingkatan yang sudah diatur, maka itu akan
mengaktifkan alarm. Sensor ini dapat diaktifkan oleh
baterai atau listrik AC.

Komponen
Pada prakteknya peralatan ini dapat ditemui dalam
bentuk sensor tetap (Fixed Sensor) ataupun Personal
Detector. Baik kedua jenis detektor tersebut, memiliki
komponen dasar dari masing-masing unit tersebut,
yaitu :
Sumber tenaga (baterai / arus listrik AC)
Sensor
Monitor
Alarm
Sistem Monitoring Gas H2S dan Alarm 39

Personal dan Portable Monitor

Unit personal detektor ini merupakan peralatan


detektor jenis pribadi yang praktis yang bisa
ditempatkan pada ikat pinggang ataupun diletakkan
pada bagian tubuh lainnya dan akan memberikan
sinyal berupa bunyi peringatan saat sensor menangkap
adanya keberadaan gas H2S pada tingkatan tertentu.

Gambar 4.1 Portable Gas Detector

Sedangkan untuk unit portable, dirancang untuk


diletakkan di antara pekerja dengan sumber lokasi
dari gas H2S.

Fixed Detector

Unit detektor tipe permanen ini, biasanya memiliki


komponen sebagai berikut :
40 Sistem Monitoring Gas H2S dan Alarm

1. Sensor H2S

Sensor H2S adalah suatu perangkat yang berfungsi


untuk mendeteksi adanya gas H2S. Sensor H2S
ini memiliki kemampuan mendeteksi tingkat
konsentrasi gas H2S yang berbeda-beda setiap
jenisnya.

Untuk menjamin keakuratan Sensor H2S sebagai


peralatan yang berhubungan dengan keselamatan
dan kesehatan kerja, sensor H2S yang terpasang
memiliki sertifikat resmi dari produsen dan sudah
melalui pengujian berkala (kalibrasi). Prosedur
kalibrasi dilakukan secara rutin minimal setiap
setahun sekali, sedangkan pengujian fungsi
(function test) dilakukan setiap bulan dengan
mengalirkan sampel gas H2S ke sensor tersebut.

2. Data Akuisisi Unit dan Komputer

Data akuisisi unit ini adalah perangkat elektronik


yang berfungsi menghubungkan sensor H2S
dengan komputer, sedangkan komputer yang
terdiri dari CPU sebagai pusat kontrol sistem
monitoring, layar monitor sebagai media tampilan
hasil monitoring dan printer untuk mencetak hasil
Sistem Monitoring Gas H2S dan Alarm 41

monitoring. Sistem berbasis komputer ini bertujuan


agar proses monitoring dapat termonitor akurat
dan terkendali secara komputerisasi.

Gambar 4.2 Fixed Gas Detector

4.2.2. Tabung Detektor

Detektor gas H2S tipe tabung ini merupakan peralatan


portable yang berfungsi untuk mendeteksi gas H2S
dalam satu waktu tertentu. Detektor ini bekerja dengan
bantuan zat kimia yang akan bereaksi dengan gas
H2S. Peralatan ini terdiri dari pompa isap dan batang
kaca berskala.

Detektor bekerja dengan memasukkan sampel


udara yang akan diuji ke dalam tabung reaksi yang
sebelumnya telah diisi oleh bahan kimia yang dapat
bereaksi jika terdapat kehadiran gas H2S dalam
42 Sistem Monitoring Gas H2S dan Alarm

sampel tersebut. Bahan kimia tersebut akan berubah


warna jika bereaksi dengan gas H2S tersebut.
Panjang perubahan warna yang terjadi, memberikan
gambaran konsentrasi gas H2S yang berada di udara
tersebut.

Jenis-jenis detektor tipe tabung ini ada beberapa tipe,


antara lain :
Tipe Piston
Tabung detektor tipe piston menggunakan
gerakan piston untuk menghisap udara masuk
kedalam tabung reaksi.
Tipe Pegas
Tabung detektor tipe pegas menggunakan
bantalan yang berisi pegas yang digunakan
untuk menghisap sampel udara.

Gambar 4.3 (a) Tabung Detektor Gambar 4.3 (b) Tabung


tipe Piston Detektor tipe Bantal (Bellow)
Sistem Monitoring Gas H2S dan Alarm 43

Gas detektor tipe tabung ini dapat terdiri dari


berbagai macam ukuran / skala, sehingga dapat
digunakan untuk mengukur konsentrasi gas H2S
sampai pada tingkat tinggi. Selain itu, alat ini
hanya dapat digunakan untuk sekali pakai.

Langkah-langkah penggunaan detektor tipe


tabung adalah sebagai berikut :

1. Pastikan bahwa tabung reaksi yang digunakan


sesuai dengan unit yang akan digunakan.

2. Pastikan tabung yang digunakan memiliki


skala yang diinginkan.

3. Periksa tanggal kadaluarsa dari tabung


tersebut.

4. Pecahkan kedua ujung tabung tersebut


dengan menggunakan pemecah tabung yang
terdapat pada unit tersebut

5. Masukkan tabung ke dalam inlet pompa


dengan panah yang menunjuk ke arah inlet.

6. Gunakan alat bantu pernapasan sebelum


menggunakan detektor di ruangan yang akan
dites.
44 Sistem Monitoring Gas H2S dan Alarm

7. Lakukan pemompaan pada alat detektor


tersebut dengan menempatkan ujung tabung
pada area yang akan dites.

8. Lakukan pembacaan konsentrasi H2S yang


tertera di tabung tersebut.

Yang perlu diperhatikan adalah untuk pembacaan


deteksi gas H2S pada tabung yang baik adalah
dalam bentuk ppm atau persentase. Tingkat akurasi
dari detektor tipe tabung ini dapat mencapai 25%.
Tingkat keakuratan dari pemakaian alat tersebut
dipengaruhi oleh :

Kondisi unit

Usia tabung

Suhu kondisi operasi

Kondisi penyimpanan

4.3. Sistem Alarm


Sistem alarm merupakan perangkat yang berfungsi
sebagai tanda peringatan awal jika terjadi paparan
gas H2S. Perangkat ini terdiri dari : lampu kilat (Strobo
Light) yang bisa berupa memancarkan warna biru atau
Sistem Monitoring Gas H2S dan Alarm 45

merah dan dual tone-sirene yang terhubung dengan


sistem monitoring. Aktifasi perangkat alarm tersebut
terkendali secara otomatis melalui perangkat
komputer yang didasarkan pada hasil monitoring
sensor H2S.

Sistem alarm sebagai peringatan awal terhadap


paparan gas H2S di set pada konsentrasi sebagai
berikut :

5 ppm (Low Alarm)


Jika konsentrasi H2S di udara sama dengan atau


lebih dari 5 ppm, lampu tanda peringatan (Strobe
Light) akan menyala secara otomatis.

15 ppm (High Alarm)


Jika konsentrasi H2S di udara lebih dari 15 ppm,


lampu tanda peringatan dan sirene akan menyala
secara otomatis.

Sistem alarm ini harus diletakkan di tempat yang


mudah terlihat ataupun terdengar.
46 Sistem Monitoring Gas H2S dan Alarm
47

5
Alat Pelindung
Pernapasan
48 Alat Pelindung Pernapasan

K eberadaan gas H2S dapat hadir di berbagai


macam lokasi area kerja, khususnya di industri
hulu gas dan minyak bumi. Jika melihat kembali
potensi keberadaan gas H2S di kegiatan pengeboran
maupun pengolahan gas dan minyak bumi, serta
proses transportasinya pada bab sebelumnya, maka
kemungkinan besar pekerja secara tidak sengaja
dapat bekerja di daerah dimana gas H2S dapat hadir.
Oleh karena itu, untuk dapat bekerja dengan
aman di lingkungan tersebut, maka di tempat kerja
tersebut harus disediakan peralatan untuk membantu
pernapasan bagi para pekerja, khususnya ketika
terjadi kecelakan kebocoran gas. Selain itu, para
pekerja juga diharapkan bisa memahami / mengerti
kegunaan peralatan tersebut. Sehingga jika terjadi
kebocoran gas H2S yang tidak diinginkan pada
tempat kerja anda, anda bisa segera menyelamatkan
diri anda sendiri dan terlebih jika dapat membantu
pekerja lain.
Peralatan bantu pernapasan adalah peralatan
yang sangat penting jika terjadi paparan gas H2S
di lingkungan kerja, karena peralatan tersebut akan
membantu pekerja untuk bernafas dengan udara
yang tidak terpapar H2S.
Alat Pelindung Pernapasan 49

Alat bantu pernapasan / respirator harus memenuhi


persyaratan yang dikeluarkan oleh OSHA Respiratory
Protection Standard. Alat respirator ini harus digunakan
ketika dimana lingkungan kerja memiliki konsentrasi
H2S di atmosfer yang melebihi 5 ppm. Jenis-jenis alat
respirator yang digunakan bisa berupa :

a. Self Contained Breathing Apparatus (SCBA).

b. Supplied Air Breathing Apparatus (SABA).

Perbedaan yang cukup mendasar adalah untuk alat


pernapasan SCBA memiliki tabung udara sendiri yang
langsung disambungkan ke si pemakai. Sedangkan,
alat bantu pernapasan bertipe SABA dihubungkan ke
suplai udara dari jarak jauh dengan selang udara
yang dapat diperpanjang.

Kedua jenis respirator ini harus dapat bekerja


mengalirkan udara bersih secara terus-menerus ke
dalam sistem alat bantu pernapasan. Cara kerja alat
bantu pernapasan seperti ini, dimaksudkan agar alat
ini bekerja dengan tekanan positif. Sehingga dapat
mengurangi kemungkinan masuknya gas H2S ke
dalam sistem alat bantu tersebut.
50 Alat Pelindung Pernapasan

Berikut adalah perbandingan penggunaan alat


respirator tipe SCBA dan SABA :
Tabel 5.1 Perbandingan Alat Bantu Pernapasan antara SCBA & SABA

Tipe Keuntungan Kerugian

Mudah bergerak
Mudah dibawa Suplai udara terbatas
SCBA
Sesuai untuk prosedur Besar dan berat
penyelamatan

Suplai udara terus- Keterbatasan gerak,


menerus dibatasi panjang selang
Ringan dan lebih kecil Selang udara bisa kusut
SABA
Sesuai untuk penggunaan Harus keluar sesuai
yang lebih lama temapt masuk untuk
(continous working) menghindari selang kusut

5.1. Self Contained Breathing


Apparatus
Self Contained Breathing Apparatus (SCBA) atau
sering juga disebut sebagai Compressed Air
Breathing Apparatus (CABA), air pack atau Breathing
Apparatus (BA) merupakan alat bantu pernapasan
portable yang menyediakan udara dari silinder yang
dipakai di belakang / punggung dari si pemakai
ketika dalam kondisi darurat.
Alat Pelindung Pernapasan 51

Komponen dari SCBA ini adalah terdiri dari :

tabung silinder bertekanan,

katup silinder,

pengukur tekanan udara tabung silinder (pressure


gauge),

pengatur tekanan keluar, dan

masker.

Gambar 5.1 Komponen alat bantu pernapasan SCBA

Pada umumnya, kapasitas isi silinder yang digunakan


untuk dapat mensuplai udara / Oksigen adalah kurang
lebih selama 30 menit dalam kondisi pemakaian
normal. Adapun jenis silinder lainnya, tersedia untuk
penggunaan yang lebih lama atau lebih singkat.
Sesuai fungsinya, SCBA terdiri dari 3 jenis, yaitu :
52 Alat Pelindung Pernapasan

SCBA Rescue Unit


SCBA ini dapat digunakan sebagai alat bantu


pernapasan pada waktu melakukan proses
pertolongan / penyelamatan atau digunakan
pada waktu melakukan pekerjaan di lingkungan
yang terpapar gas berbahaya. SCBA ini dapat
digunakan secara optimal minimum sekitar 30
menit.

Gambar 5.2 SCBA tipe Rescue Unit

Tabung gas pada sistem ini diisi dengan udara


bersih yang dimampatkan atau Oksigen yang
dimampatkan. Sistem ini dilengkapi oleh dua
sirkuit regulator; tahap pertama untuk mengurangi
tekanan udara untuk dialirkan ke masker, dan
regulator tahap kedua untuk mengurangi bahkan
Alat Pelindung Pernapasan 53

lebih jauh lagi ke tingkat yang tepat di atas tekanan


atmosfer standar.

Tabung silinder udara biasanya memiliki tiga


ukuran standar: 4 liter, 6 liter, atau 6,8 liter.

Durasi penggunaan tabung silinder dapat dihitung


dengan mengkalkulasikan ukuran tabung silinder x
tekanan tabung silinder / 40, dan sebagai margin
keselamatan, hasil tersebut dikurangi 10 menit.

Sehingga untuk silinder ukuran 6 liter yang memiliki


tekanan 300 bar, adalah (6 X 300 / 40) - 10 =
35 menit waktu bekerja.

Kondisi personnel maupun lingkungan dapat


mempengaruhi pemakaian tabung udara tersebut,
seringkali dapat mengurangi waktu kerja sebesar
25% sampai 50%.

Suara alarm akan berbunyi untuk memperingatkan


ketika pasokan udara rendah dan memiliki sisa waktu
5 -7 menit.
54 Alat Pelindung Pernapasan

Tabel 5.2 Kebutuhan udara berdasarkan aktifitasnya

Jumlah Udara Yang


No. Aktifitas
Dibutuhkan (Ltr / Menit)
1. Tidur 6
2. Istirahat 9.3
3. Bekerja Ringan 19.7
4. Bekerja Sedang 29.2
5. Bekerja Berat 40
6. Bekerja Sangat Berat 59.5
7. Bekerja Maksimum 132

SCBA Work Unit


SCBA ini pada prinsipnya dapat digunakan untuk


jangka waktu yang cukup lama, seperti dalam
penyelamatan di dalam tambang atau di dalam
terowongan yang panjang, dan akan melalui
jalur yang terlalu sempit jika harus menggunakan
tabung silinder.

Gambar 5.3 SCBA tipe work unit


Alat Pelindung Pernapasan 55

SCBA Emergency

Sesuai dengan jenisnya, maka SCBA ini berfungsi


untuk membantu pernapasan pada waktu
meninggalkan lokasi paparan menuju tempat
aman dengan waktu penggunaan sekitar 5-10
menit.

SCBA ini dapat digunakan secara cepat, karena


model maskernya mudah untuk digunakan. Pada
prakteknya, SCBA jenis ini juga digunakan untuk
membantu pernapasan pada korban paparan
gas pada saat evakuasi dan sebelum mendapat
pertolongan medis, sehingga SCBA ini juga disebut
dengan ELSA (Emergency Life Support Apparatus).

Gambar 5.4 SCBA untuk emergency


56 Alat Pelindung Pernapasan

SCBA Unit Escape ini biasanya terletak di dekat


tempat kerja. Unit ini memiliki ukuran yang cukup kecil
dan dirancang untuk memberikan cukup waktu untuk
mencapai daerah aman dalam keadaan darurat.
Pengisian tabung SCBA dilakukan dengan
menggunakan Air Breathing Compressor bertekanan
tinggi yang dilengkapi dengan filter khusus untuk
menyaring udara dan mengurangi kadar air. Udara
yang dihasilkan compressor ini secara berkala
dilakukan uji kandungan, yang bertujuan untuk
memastikan kondisi dan komposisi udara yang
dihasilkan. Selain itu, tabung SCBA juga secara
berkala dilakukan hydrotest untuk memastikan kondisi
dan kekuatan tabung terhadap tekanan.
Hal-hal penting yang berhubungan dengan SCBA di
antaranya adalah :
Pastikan SCBA selalu dalam kondisi siap
digunakan.
Pastikan tekanan udara dalam kondisi penuh
atau sesuai dengan kapasitasnya.
Hanya gunakan SCBA bertipe positive pressure
untuk pemakaian di area yang terpapar gas
H2S.
Alat Pelindung Pernapasan 57

Pakailah SCBA dengan benar dan cepat,


mengingat fungsi SCBA sebagai peralatan
bantu pernapasan pada kondisi darurat karena
paparan gas berbahaya.

Tempatkan SCBA dalam posisi :

- Mudah dijangkau.

- Terhindar dari suhu udara yang panas,


karena akan suhu udara yang panas akan
mengakibatkan pemuaian pada tabung
sehingga tekanan udara akan naik.

- Terhindar dari kotoran.

Lakukan perawatan rutin, jika terdapat


kebocoran atau kerusakan segera laporkan
untuk diperbaiki dan dilakukan pengisian
ulang.

Proses pengisian ulang tabung SCBA akan


mengakibatkan tabung menjadi panas, karena
perubahan tekanan pada ruang tertutup akan
berbanding lurus dengan perubahan suhu,
sehingga lakukan peredaman panas dengan
merendam tabung selama proses pengisian,
tujuannya adalah untuk keselamatan kerja dan
58 Alat Pelindung Pernapasan

mempertahankan kondisi tabung tetap dalam


suhu stabil, sehingga ketika pengisian selesai
dan tabung menjadi dingin, tekanan udara
tetap.

5.2. Supplied Air Breathing Apparatus


Supplied Air Breathing Apparatus (SABA) sistem
adalah alat bantu pernapasan yang memiliki sumber
udara bersih terpisah dari si pemakainya. Pemakaian
alat bantu seperti ini, bisa digunakan oleh beberapa
pekerja sekaligus tergantung dari kemampuan suplai
udara dan sambungan selang yang tersedia.

Secara umum, SABA dan SCBA pada dasarnya sama,


komponen dari alat pernapasan ini terdiri dari :

sistem suplai udara.

sambungan selang udara.

selang udara.

masker.

pengatur tekanan.

silinder udara portabel untuk melarikan diri.


Alat Pelindung Pernapasan 59

Gambar 5.5 Alat bantu pernapasan SABA

Suplai udara dapat diberikan melalui beberapa cara,


antara lain melalui compressor yang dilengkapi alat
penyaring udara ataupun serangkaian tabung silinder
yang digabung menjadi satu rangkaian. Sebelumnya,
udara bersih dialirkan melalui regulator untuk diatur
tekanannya lalu dialirkan ke manifold yang dapat
mengalirkan udara ke beberapa pemakai.

Bila Anda memasuki lingkungan kerja yang memiliki


kriteria Berbahaya untuk Kehidupan dan Kesehatan
atau Immediately Dangerous to Life and Health
(IDLH), maka Anda harus melengkapi alat respirator
dengan tabung silinder emergency. Tabung tersebut
akan menyediakan waktu tambahan untuk Anda
kurang lebih sekitar 5 menit untuk menuju ke tempat
60 Alat Pelindung Pernapasan

aman. Anda harus memastikan hal ini agar cukup


waktu untuk meninggalkan daerah berbahaya jika
suplai udara Anda terganggu.

5.3. Pemeriksaan Respirator


Untuk dapat mengoperasikan alat respirator ini
dengan benar, maka Anda harus bisa memastikan
bahwa alat bantu pernapasan yang akan digunakan
dapat bekerja dengan baik dan terawat. Oleh
karena itu, Anda harus bisa melakukan pemeriksaan
dengan benar sebelum menggunakanannya. Selain
itu, sebaiknya alat ini dilakukan pemeriksaan secara
berkala.

Berikut adalah hal-hal yang perlu diperhatikan


sebelum menggunakan alat bantu pernapasan
tersebut :

a. Apakah semua komponen respirator sudah


lengkap ? termasuk :

- suplai udara
- pengatur tekanan
- masker
- sistem pengait
Alat Pelindung Pernapasan 61

b. Apakah kapasitas silinder tabung udara berada


dalam kapasitas penuh?

c. Apakah selang udara terpasang dengan benar?

d. Apakah indikator tekanan bekerja dengan benar?

e. Apakah semua pengait lengkap?

f. Apakah masker dalam kondisi bersih dan bebas


debu?

g. Apakah saluran hidung terpasang dengan benar?

h. Apakah saluran pembuangan bekerja dengan


benar?

i. Apakah alarm indikator bekerja dengan benar?

j. Apakah saluran bypass bekerja dengan baik?

Jika semua jawaban dari pertanyan tersebut adalah


Ya, maka alat respirator tersebut dapat disimpan
kembali dan siap digunakan untuk dalam keadaan
darurat.

Jika ditemukan kerusakan pada alat bantu tersebut,


maka harus segera dilaporkan kepada atasan.
Hanya teknisi yang terlatih yang diperbolehkan
memperbaiki alat bantu pernafasan tersebut.
62 Alat Pelindung Pernapasan

5.4. Pemasangan Alat Bantu


Pernapasan
Langkah-langkah dalam pemakaian dan
pengoperasian alat bantu pernapasan akan
dijelaskan pada tabel selanjutnya :

Tabel 5.3 Langkah-langkah penggunaan alat bantu pernapasan

Tahapan Deskripsi

Periksa kelengkapan
1. Persiapan Periksa indicator tekanan pada tabung
Periksa peralatan yang rusak

1. Pemasangan tabung Memasang sabuk pengait


silinder Kencangkan pengaitnya

Kencangkan sabuk pengait pada kepala


3. Pemasangan masker
untuk mendapatkan kerapatan yang baik

Tutup semua katup,


Coba bernafas untuk memastikan tingkat
4. Uji kebocoran
kerapatan
Periksa katup pembuangan nafas

Menyambungkan selang udara


5. Pemasangan suplai
Buka katup secara penuh
udara
Periksa indikator tekanan
Alat Pelindung Pernapasan 63

Dalam pemasangan alat bantu pernapasan ini, ada


beberapa hal yang perlu diperhatikan agar alat ini
bisa dipasang dengan benar dan bisa mencegah
masuknya udara luar ke dalam sistem respirator. Hal-
hal yang di bawah ini bisa menyebabkan kegagalan
sistem respirator ini :

a. Gangguan bentuk wajah.

b. Pemakaian Kacamata di dalam masker.

c. Ukuran masker yang tidak sesuai.

d. Pemakaian perhiasan.

e. Rambut berlebih di wajah.


64 Alat Pelindung Pernapasan
Rencana Tanggap Darurat 65

6
Rencana
Tanggap
Darurat
66 Rencana Tanggap Darurat

S emua pekerjaan yang berkaitan dengan bahaya


H2S harus mempersiapkan prosedur rencana
tanggap darurat sebagai bagian dari rencana atau
prosedur kerja keseluruhan dari pekerjaan tersebut.
Tindakan dan langkah penyelamatan darurat yang
terkoordinasi diperlukan untuk dapat meminimalisir
timbulnya korban jiwa bagi pekerja dan masyarakat
sekitar yang mungkin terkena dampak paparan gas
H2S tersebut.
Rencana tanggap darurat yang dibahas pada
bagian ini hanya membahas pada rencana tanggap
darurat yang harus disiapkan untuk setiap aktifitas
atau pekerjaan yang berkaitan dengan bahaya
H2S atau rencana tanggap darurat taktis mengenai
penanggulangan darurat kecelakaan karena
kebocoran gas H2S (lihat modul Rencana Tanggap
Darurat). Rencana tanggap darurat ini bukan rencana
tanggap darurat di tingkat strategis perusahaan.
Namun pembahasan rencana tanggap darurat pada
bab ini bersifat umum. Rencana Tanggap Darurat harus
dibuat khusus untuk setiap pekerjaan yang berkaitan
dengan bahaya H2S dan disesuaikan dengan situasi
atau lingkungan yang ada berdasarkan hasil Risk
Assessment (Identifikasi Bahaya, Job Safety Analysis,
Rencana Tanggap Darurat 67

atau teknik risk assessment lainnya lihat Modul


Identifikasi Bahaya).
Rencana tanggap darurat secara umum harus terdiri
dari 3 unsur (lihat modul Tanggap Darurat):
1. Prosedur tanggap darurat
2. Fasilitas / peralatan tanggap darurat.
3. Tim tanggap darurat yang terlatih.

6.1. Prosedur Tanggap Darurat


Prosedur tanggap darurat H2S harus merupakan
bagian dari prosedur setiap aktifitas atau pekerjaan
yang berkaitan dengan bahaya H2S.
Prosedur Tanggap Darurat ini harus disosialisasikan,
disimulasikan dan dilatihkan secara regular kepada
semua pihak yang terlibat, termasuk kepada
masyarakat yang berada di sekitar sumur atau fasilitas
minyak dan gas bumi (jika diperkirakan kebocoran
gas akan berdampak hingga area publik). Sehingga
kalau terjadi kebocoran gas H2S, masyarakat akan
tahu apa yang harus diperbuat dan apa yang tidak
boleh diperbuat dan tidak terjadi kepanikan yang
luar biasa.
68 Rencana Tanggap Darurat

6.1.1. Langkah Penyelamatan


Memberikan pertolongan kepada korban yang terkena
paparan gas H2S dengan tujuan menyelamatkan
jiwa korban seringkali menjadi gagal, bahkan jiwa
pemberi pertolongan dapat menjadi korban. Hal ini
disebabkan karena di samping prinsip-prinsip dasar
diabaikan, dan juga petugas penolong kurang terlatih
dan kurang terampil.
Pedoman tindakan dalam menghadapi korban yang
terpapar gas H2S dalam berbagai situasi lingkungan
dan kondisi korban adalah sebagai berikut:
Penolong harus memahami dan terampil
mengamankan dirinya sendiri sebelum bertindak
menolong korban, termasuk mengutamakan
menggunakan alat bantu pernapasan bagi dirinya
sendiri sebelum menolong pekerja lain.
Amankan korban dengan segera dari lokasi
paparan gas H2S ke tempat yang lebih aman.
Korban harus segera dipindahkan ke lokasi yang
tidak tersapu oleh arah angin dari lokasi kebocoran
agar mendapatkan udara segar/bersih. Untuk
tehnik-teknik pemindahan korban dari lokasi
kejadian akan dibahas pada bagian selanjutnya.
Rencana Tanggap Darurat 69

Tindakan pertolongan yang akan diberikan harus


dengan urutan yang paling tepat. Penolong harus
mampu menilai dan membaca situasi sebelum
memutuskan tindakan apa yang harus dilakukan.
Jika korban tidak bernapas, maka segera lakukan
bantuan pernapasan buatan. Berikut ini adalah
langkah-langkah dalam melakukan pernapasan
buatan:
- Posisikan korban pada posisi tidur terlentang.

Gambar 6.1 Posisi tidur telentang bagi korban

- Lakukan pernapasan buatan dari mulut ke mulut,


dengan menutup hidung korban.

Gambar 6.2 Pernapasan buatan melalui mulut


70 Rencana Tanggap Darurat

- Ambil nafas dalam-dalam, dan berikan 4 kali


hembusan napas dengan cepat sehingga dada
korban mengembang.

- Lanjutkan pertolongan napas sebanyak 12-15


kali per menit.

- Sesudah satu menit, periksa kembali dan


lakukan setiap beberapa menit.

- Jika korban sudah mulai bernapas, segera


posisikan pada posisi pemulihan.

Gambar 6.3 Posisi pemulihan pasca bantuan pernapasan

- Jika sudah pulih, jangan tinggalkan korban


sendirian, pastikan korban dievaluasi oleh tim
dokter.

Prosedur ini adalah hanya sebagai gambaran.


Sangat dianjurkan bahwa, penolong telah
mengikuti pelatihan untuk memberikan bantuan
pernapasan.
Rencana Tanggap Darurat 71

Usahakan secepat mungkin menghubungkan


dokter, ambulan atau rumah sakit atau yang
berwajib sambil pertolongan pertama diberikan.

Tempat dimana kecelakaan terjadi harus segera


diberi tanda agar pekerja lain tahu tempat itu
ada kejadian kecelakaan, dan pekerja lain
yang tidak berkepentingan tidak diperkenankan
memasuki tempat kecelakaan karena dapat
menganggu upaya pertolongan dan apa-apa
yang dilakukannya dapat berbahaya bagi pekerja
tersebut.

Jika menemukan pekerja yang kehilangan kesadaran


di lokasi kebocoran gas H2S maka bisa dilakukan
langkah penyelamatan untuk memindahkan korban
ke lokasi yang lebih aman. Teknik-teknik tersebut
termasuk:

Menarik kerah baju korban

Mengangkat korban

Mengangkat korban dengan bantuan pekerja


lain
72 Rencana Tanggap Darurat

6.1.2. Teknik Colar Drag

Teknik menarik kerah baju korban atau biasa disebut


dengan tehnik Colar Drag dapat digunakan jika
anda seorang diri diharuskan menyelamat pekerja
lain yang sudah terpapar gas H2S. Keuntungan
utama dari teknik ini adalah bahwa anda tidak
perlu mengangkat badan korban tersebut. Hal ini
dapat dilakukan terutama jika korban berada pada
permukaan horizontal.

Berikut ini adalah cara melakukannya:

1. Posisikan korban pada posisi tidur terlentang.

2. Gulung kerah baju korban sehingga Anda bisa


mendapatkan posisi cengkraman yang erat.

3. Posisikan kepala korban pada lengan Anda.

4. Tarik korban menuju lokasi yang aman.

Untuk informasi yang lebih lanjut mengenai teknik


ini, dapat dilihat pada gambar berikut ini:
Rencana Tanggap Darurat 73

Gambar 6.4 Tehnik Penyelamatan dengan menarik korban

6.1.3. Teknik Two Arm Drag

Ini adalah teknik penyelamatan dengan mengangkat


korban menuju ke tempat yang lebih aman. Berikut ini
adalah langkah-langkahnya:

1. Posisikan korban pada posisi tidur terlentang.

2. Angkat korban dengan menarik kerah bajunya.

3. Gunakan paha atau lutut anda untuk menahan


punggung korban.

4. Letakkan lengan Anda di bawah ketiak korban.

5. Pegang pergelangan tangan korban dengan


menyilangkan kedua tangannya sehingga didapat
cengkraman yang cukup erat.

6. Tarik korban menuju ke lokasi yang aman.


74 Rencana Tanggap Darurat

Untuk informasi lebih lanjut mengenai teknik ini,


dapat dilihat gambar-gambar berikut:

Gambar 6.5 (b) Teknik Two-


Gambar 6.5 (a) Teknik Two-Arm
Arm Drag untuk mendapatkan
Drag ketika mengangkat korban
pegangan yang erat

Gambar 6.5 (c) Tehnik Two-Arm Drag ketika memindahkan posisi


korban

6.1.4. Teknik Menggendong

Teknik ini seringkali disebut dengan teknik angkat.


Prosedur yang tepat untuk menyelamatkan teknik ini
adalah:
Rencana Tanggap Darurat 75

1. Posisikan korban pada posisi tidur terlentang.

2. Satu penyelamat pergi ke bagian kepala korban


dan bersiap mengangkat korban seperti pada
teknik Two-Arm Drag.

3. Sedangkan penyelamat lainnya pergi ke bagian


kaki korban, posisikan kaki korban secara
bersilangan, pegang pergelangan kaki korban
dan posisikan pada salah satu sisi si penyelamat.

4. Para penolong bekerja sama untuk mengangkat


korban secara bersamaan.

Dengan memegang kedua kaki korban untuk satu


sisi, kepala kor-ban dilindungi dari memukul tangki
SCBA dari penyelamat memimpin.

Gambar 6.6 Tehnik Mengangkat


76 Rencana Tanggap Darurat

6.2. Fasilitas / Peralatan Tanggap


Darurat
Fasilitas atau peralatan yang harus dipersiapkan atau
tersedia ketika bekerja dengan bahaya H2S adalah:

1. SCBA yang cukup untuk regu penolong


(disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang
ada pada suatu pekerjaan dan ditentukan
dalam rencana tanggap darurat).

2. EEBA (Emergency Escape Breathing Apparatus)


atau EEBD (Emergency Escape Breathing
Device) / ELSA (Emergency Life Support
Assistance) untuk pekerja jika berkaitan
dengan kombinasi resiko antara bekerja di
ruang terbatas dan bahaya H2S. ESBA ini dapat
memberikan pasokan udara bersih selama 10
15 menit yang cukup bagi pekerja untuk
melarikan diri dari tempat yang kebocoran
gas H2S ke tempat yang aman. Penggunaan
peralatan ini disesuaikan dengan hasil risk
assessment sebelum pekerjaan dilaksanakan.
Rencana Tanggap Darurat 77

Gambar 6.7 Penggunaan emergency breathing apparatus

3. Tripod jika berkaitan dengan pekerjaan di


ruang terbatas/ tertutup (lihat modul Memasuki
Ruang Tertutup / Terbatas) digunakan untuk
mengangkat korban dari ruang tertutup /
terbatas.

Gambar 6.8 Penggunaan tripod untuk pengangkatan korban

4. Peralatan darurat lainnya seperti peralatan


bantuan medis, stretcher (alat pengusung), dan
lain sebagainya.
78 Rencana Tanggap Darurat
Rencana Tanggap Darurat 79

7
Studi Kasus
80 Studi Kasus

T
iga (3) kontraktor tewas di pabrik pengolahan
gas alam akibat dari menghirup gas H2S
ketika sedang mengganti molecular sieve dari
pengering gas alam cair (NGL drier). Dua (2) korban
di antaranya berusaha menolong seorang korban
yang tidak sadar.

Pabrik pengolahan menghasilkan gas alam cair (LNG)


dari sumur gas. Gas-gas yang diolah mengandung
kadar H2S. Aliran gas alam melewati molecular sieve
bed untuk menghilangkan kandungan air sebelum
proses cryogenic selanjutnya.

Setelah 3-4 tahun molecular sieve harus diganti.


Unit pengering siap untuk dilakukan penggantian
molecular sieve. Semua peralatan dan prosedur
keselamatan dipersiapkan di lokasi untuk pekerja yang
masuk ke Drier. Truk pengangkut dan Molecular Sieve
yang akan diganti telah dibasahi untuk menghindari
terjadinya pyrophoric. Setelah truk penuh dengan
molecular sieve, pekerja tersebut naik ke bak truk
untuk meratakan molecular sieve. Setelah 10 menit,
pekerja ke dua naik ke atas truk untuk membantu
meratakan. Tidak lama kemudian pekerja ini jatuh
tidak sadarkan diri. Pekerja yang pertama mencari
Studi Kasus 81

pertolongan ke temannya yang juga naik ke atas truk


untuk menolong. Tetapi yang terjadi adalah ketiganya
ikut tidak sadarkan diri dan tewas di atas truk.

Tiga kejadian utama yang teridentifikasi:

1. Terdapat H2S di atas truk yang berasal dari


celah-celah molecular sieve.

2. Pekerja yang naik ke truk tidak terlindungi dengan


alat bantu pernapasan (SCBA).

3. Tanggap darurat awal tidak memadai.

Faktor yang ikut kontribusi terjadinya kecelakaan


adalah tidak adanya pengetahuan dari pekerja akan
potensi H2S pada molecular sieve, pengetahuan
tentang bahaya H2S dan tanggap daruratnya.
82 Daftar Pustaka

Daftar Pustaka
1. Peraturan Pemerintah RI, No. 11 Tahun 1979
tentang Keselamatan Kerja pada Pemurnian dan
Pengolahan Minyak dan Gas Bumi

2. Peraturan Republik Indonesia No. 74 tahun 2001,


Bahan Berbahaya dan Beracun.

3. American Conference of Governmental Industrial


hygienist ACGIH 2010.

4. Recommended Practice for Oil and Gas Producing


and Processing Facllities involving H2S. API RP 55.

5. Recommended Practice for Oil and Gas Well


Servicing and Workover Operation Involving H2S,
API Rp 68.

6. Chemical Hazard Response Information System


(CHRIS), 2000.
Lampiran 83

Lampiran 1.
Material Safety Data Sheet - H2S
1. IDENTIFIKASI BAHAN DAN PERUSAHAAN
Nama bahan : Hidrogen Sulfida
Formula Kimia : H2S
Kode Produksi :
Sinonim : Hidrogen Sulfuretted; Gas hepatika;
Asam Hidrosulfurik
Nama perusahaan Pembuat : PT. XXX
Alamat Pabrik : Desa XXX, Kec YYY
2. IDENTIFIKASI BAHAYA
Kondisi Umum
Warna : Tidak berwarna
Bentuk Fisik : Gas
Bau : Telur busuk
Sinyal Kata : Bahaya
Pernyataan Bahaya : GAS MUDAH TERBAKAR, DAPAT
MENYEBABKAN FLASH FIRE,
GAS BERTEKANAN TINGGI.
MENYEBABKAN FATAL JIKA DIHIRUP,
MENYEBABKAN GANGGUAN
SALURAN PERNAFASAN DAN
IRITASI MATA. BISA MENYEBABKAN
KERUSAKAN ORGAN.
84 Lampiran

Pencegahan : Jauhkan dari panas, percikan dan


nyala api, Jangan merusak atau
membakar wadah, Jangan bernafas
dengan gas. Jangan terkena pada
kulit atau pakaian. Hindari kontak
dengan mata. Gunakan hanya
dengan ventilasi yang memadai.
Simpan wadah tertutup rapat dan
disegel sampai siap untuk digunakan.
Mencuci bersih setelah penanganan.
Status OSHA / HCS : Materi ini dianggap berbahaya
oleh OSHA Hazard Communication
Standard (29 CFR 1910.1200).
Rute Masuk : Kontak dengan Kulit dan Mata,
umumnya melalui pernafasan

Potensi Pengaruh Akut


Terhirup : Beracun bila terhirup. Terlepasnya
produk berupa cairan dapat
membuat atmosfer yang cepat
dapat melebihi tingkat mematikan.
Paparan dalam konsentrasi rendah
yang melebihi batas eksposur yang
diIzinkan dapat menyebabkan iritasi
pada hidung dan tenggorokan, sakit
kepala, pusing, mual, dan gugup.
Tertelan : menyebabkan luka bakar beku atau
kematian
Terkena Kulit : Kulit menjadi beku (Frosbite)
Lampiran 85

Terkena Mata : Peradangan dan iritasi pada mata


dapat terjadi pada konsentrasi udara
sangat rendah (kadang-kadang
kurang dari 10 ppm).
Paparan selama beberapa jam
atau hari dapat menghasilkan
gas mata atau sakit mata
dengan gejalagatal-gatal,
iritasi, robek danserasa terbakar.
Di atas 50 ppm, ada intens sobek,
mengaburkan visi dan nyeri ketika
melihat cahaya. Korban mungkin
melihat cincin di sekitar lampu terang.
Kebanyakan gejala hilang bila
paparan berhenti. Namun, dalam
kasus serius mata mungkin rusak
secara permanen. Kontak dengan
H2S cair dapat membekukan mata
dan menyebabkan kerusakan berat
atau kebutaan.
Potensi Pengaruh Khronik
Terhirup : Bau hidrogen sulfida tidak dapat
diakui setelah lama menghirup bau
karena kelumpuhan rasa. Menghirup
asap dapat menyebabkan bronkitis
kronis, iritasi pernafasan, hilangnya
fungsi paru-paru.
86 Lampiran

3. TINDAKAN PERTOLONGAN PERTAMA PADA


KECELAKAAN
Terkena Mata : Jika iritasi terjadi, segera basuh mata
dengan air mengalir selama minimal
20 menit. kelopak mata terbuka
Tahan selama pembilasan. SEGERA
Mendapatkan perhatian medis.
Terkena Kulit : Jika kulit terkena cairan, daerah
yang terkontaminasi bilas dengan
air mengalir yang hangat
selama paling sedikit 20 menit.
Di bawah air mengalir, hati-hati
memotong sekitar pakaian yang
menempel pada kulit yang rusak
dan membuang sisa pakaian.
Mendapatkan perhatian medis
segera. Dekontaminasi sepenuhnya
pakaian, sepatu dan barang kulit
sebelum menggunakan kembali,
atau dibuang.
Terhirup : Hilangkan sumber kontaminasi
atau pindahkan korban ke udara
segar. Berikan pernafasan buatan
HANYA jika napas sudah berhenti.
Memberikan Cardiopulmonary
Resusitasi (CPR) hanya jika ada
ada detak jantung DAN tidak
bernapas. Oksigen mungkin
bermanfaat jika diberikan oleh orang
terlatih dalam penggunaannya.
Mendapatkan perhatian medis
SEGERA.
Lampiran 87

4. TINDAKAN PENANGGULANGAN KEBAKARAN


Sifat Bahan Mudah Terbakar :
Titik nyala : Gas mudah terbakar. Dalam
kebakaran atau jika dipanaskan,
tekanan akan meningkat dan
mungkin kontainer meledak, dengan
risiko ledakan berikutnya.
Media Pemadam :
Pemadam Sesuai : Kebakaran kecil: Gunakan dry
chemical powder. Kebakaran
Besar: Gunakan semprot air, kabut
atau busa. Pindahkan wadah yang
mengandung H2S dari daerah
kebakaran jika tidak ada resiko.
Dinginkan wadah H2S dengan
air. Jangan memadamkan api dari
gas yang bocor kecuali kebocoran
dapat dihentikan. Memadamkan api
sekunder. Menangani tabung silinder
rusak dengan sangat hati-hati.
Gunakan media pemadam yang
cocok untuk bahan sekitarnya.
Pemadam tidak Sesuai : Jangan menggunakan air jet.
88 Lampiran

5. PENANGANAN DAN PENYIMPANAN


Penanganan : Jauhkan dari panas, percikan dan
nyala api. Jangan menusuk atau
membakar wadah. Usahakan agar
wadah tertutup. Gunakan hanya
dengan ventilasi yang memadai. Untuk
menghindari kebakaran, hilangkan
sumber penyalaan. Menggunakan
peralatan listrik yang explosion-
proof. Jangan pernah bekerja
sendirian saat menangani H2S.
Seseorang harus dalam komunikasi
di sepanjang waktu dan dilengkapi
dan dilatih untuk penyelamatan. Jika
H2S terlepas, segera mengenakan
respirator dan meninggalkan daerah
sampai kebocoran ditemukan.
Jika perlu untuk memasuki area
yang terkontaminasi dengan H2S,
ikuti persiapan untuk masuk ruang
terbatas termasuk penggunaan
respirator udara dengan facepiece
penuh, komunikasi yang memadai,
sabuk pengaman dan lifelines.
Orang-orang yang bekerja dengan
bahan kimia ini harus benar dilatih
mengenai bahaya dan penggunaan
yang aman.
Penyimpanan : Simpan wadah dalam tempat sejuk
dan berventilasi denagn baik.
Simpan wadah tertutup rapat dan
disegel sampai siap untuk digunakan.
Pisahkan dari bahan oksidator.
Lampiran 89

Hindari semua kemungkinan sumber


pengapian (percikan atau nyala).
Penyimpanan di luar atau terpisah
lebih disukai. Simpan jauh dari
panas dan sumber pengapian, bahan
yang tidak kompatibel, dan silinder
atau kontainer lainnya berdasarkan
tekanan tinggi. Gunakan grounded,
sistem ventilasi yang tidak memacu
percikan dan peralatan listrik
yang tidak menyediakan sumber
pengapian. Gunakan struktur
bahan yang tahan korosi,
pencahayaan dan sistem ventilasi
di daerah penyimpanan. Simpan
silinder pada atau di atas permukaan
tanah, tegak pada tingkat lantai,
tahan api. Jauhkan silinder dalam
posisi aman dan dilindungi dari
kerusakan. Gunakan pengaman/
penutup katup silinder. Memberikan
tanda/Label pada silinder kosong.
Pisahkan tabung silinder yang
terisi penuh dengan yang kosong.
Pertimbangkan penggunaan alat
deteksi kebocoran dan sistem alarm,
seperti yang diperlukan. Membatasi
penyimpanan tabung silinder dan
akses ke daerah penyimpanan dan
memberikan tanda-tanda peringatan.
Memisahkan area kerja dari ruang
penyimpanan. Periksa secara berkala
untuk memeriksa kerusakan atau
kebocoran. Memiliki alat pemadam
90 Lampiran

kebakaran yang tersedia di dalam


dan di dekat tempat penyimpanan.
Mematuhi semua ketentuan yang
berlaku untuk penyimpanan dan
penanganan gas terkompresi dan
bahan mudah terbakar.

6. PROTEKSI PERSONAL
Tangan : Gunakan sarung tangan yang sesuai
untuk bekerja atau tugas yang
dilakukan.
Rekomendasi: Neoprene, PVC, vinyl
atau karet.
Mata : Sebuah perisai muka juga mungkin
diperlukan jika ada potensi untuk
kontak dengan H2S cair.
Kulit : Rekomendasi ini berlaku untuk laju
permeasi mencapai 0,1 ug/cm2/min
atau 1 mg/m2/Menit. Ketahanan
bahan tertentu dapat bervariasi
dari produk ke produk. Evaluasi
ketahanan baju dalam kondisi
penggunaan dan mempertahankan
pakaian secara hati-hati.
Lampiran 91

Lampiran 2. Matriks Kompetensi SIKA

GAS SAFETY INSPECTOR

SAFETY INSPECTOR

PENGAWAS JAGA
SUBJECT OF

CONTRACTOR
No

AHLI TEKNIK
TRAINING

GAS TESTER
Frequency

Standard
Duration

PEKERJA
Provider
TRAINING MATRIX

I Pengetahuan Dasar

1 Identifikasi Bahaya Y Y Y Y Y Y Y

2 Alat Pelindung Diri Y Y Y Y Y Y Y

Pengendalian Pekerjaan Berbahaya


3 Y Y Y Y Y
dengan Dokumentasi

4 Surat Ijin Kerja Y Y Y Y Y Y Y

5 Pengamatan Keselamatan Kerja Y Y Y Y Y Y Y

6 Aspek Kebakaran Y Y Y Y Y AR AR

II Manajemen K3 Praktis

1 Accident Incident Investigation Y AR AR Y

2 Isolasi Energi Berbahaya Y AR Y Y

3 Lingkungan Kerja Aman Y AR Y Y Y AR AR

4 Tanggap Darurat

III Keselamatan Khusus

1 Penanganan Bahan Berbahaya Y AR AR Y AR AR AR

2 Keselamatan Kerja Radiasi Y AR AR Y AR AR AR

3 Keselamatan Kerja H2S Y AR Y Y Y AR AR

4 Memasuki Ruang Tertutup Y AR Y Y Y AR AR

5 Keselamatan Penggalian Y AR Y Y Y AR AR

6 Bekerja di Ketinggian Y AR Y Y Y AR AR

7 Scaffolding Y AR AR Y AR AR AR

8 Pengujian dan Deteksi Gas Y AR Y Y AR AR

9 Operasi Pengangkatan Y AR Y Y AR AR

10 Keselamatan Operasi Gas Purging Y AR AR Y AR

11 Bahaya terhadap Kesehatan Kerja Y AR Y Y Y AR AR

12 Tabung Gas Bertekanan Y AR Y Y Y AR AR

13 Klasifikasi Area Berbahaya Y AR Y Y Y

Y : Modul Wajib

: As Required
AR
(Sesuai kebutuhan)

: Modul Tidak Wajib