Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Siswa yang membaca catatan rangkuman pelajaran ditemukan saat ujian akhir
nasional pada salah satu sekolah menengah pertama di Indonesia. Fenomena ini
sering ditemukan terjadi pada dunia pendidikan di Indonesia. Standar mutu
pendidikan nasional di Indonesia dilihat dari standar kelulusan siswa melalui ujian
akhir nasional. Hal ini diterapkan pada seluruh sekolah dasar dan menengah di 34
provinsi (Mulyasa, 2004). Tujuan dari standarisasi pendidikan ini adalah sebagai
indikator untuk mengetahui kemampuan siswa dan menilai mutu pendidikan yang
telah berjalan. Namun, tujuan ini tidak dapat dicapai dengan baik apabila pelaku
penerima pendidikan (siswa) melakukan kecurangan berupa menyontek, seperti
membaca catatan rangkuman pelajaran saat ujian akhir nasional. Selanjutnya,
perilaku ini akan menghambat terwujudnya tujuan pendidikan nasional
diantaranya mewujudkan individu yang cerdas dan berkarakter (Sari et al, 2013).
Hingga saat ini, fenomena siswa yang membaca catatan rangkuman pelajaran
banyak ditemukan saat ujian akhir nasional pada sekolah menengah pertama di
Indonesia belum dapat dijelaskan.
Siswa SMPN 6 Polewali Mandar yang mengikuti ujian akhir nasional
diketahui membaca catatan rangkuman pelajaran di bawah meja di Polewali
Mandar, Sulawesi Barat. Siswa juga diketahui saling tukar lembar jawaban saat
ujian. Hal ini diketahui ketika pengawas ujian lengah dan aksi tersebut terekam
kamera wartawan (Zainal, 2015). Siswa salah satu sekolah swasta di Lamongan
diketahui membaca catatan matematika saat ujian akhir nasional (Fah, 2015).
Membaca catatan rangkuman pelajaran saat ujian merupakan salah satu contoh
menyontek yang dilakukan oleh siswa. Kecenderungan menyontek saat ujian
adalah perilaku yang dilakukan untuk menghindari kegagalan dari nilai akademis
dengan cara yang tidak jujur. Menurut survey yang dilakukan Andi (2007) dalam
Survey Litbang Media Group (Pudjiastuti, 2012) mayoritas anak didik, baik di
bangku sekolah maupun perguruan tinggi melakukan kecurangan akademik dalam
bentuk menyontek. Demikian yang terungkap dalam survei yang dilakukan 19
April 2007 di enam kota besar di Indonesia yaitu: Makassar, Surabaya,
Yogyakarta, Bandung, Jakarta, dan Medan. Perilaku menyontek saat ujian
nasional (2015) juga terjadi di Yogyakarta secara massal.
Sebanyak 195 orang siswa terlibat dalam aksi menyontek melalui
grup di media perpesanan handphone (Kresna, 2015).
Perilaku menyontek tidak hanya dilakukan oleh siswa berprestasi rendah,
tetapi juga siswa yang berprestasi tinggi pernah melakukannya. Survei yang
diadakan oleh Whos Who among American High Scool Student menunjukkan
bahwa siswa terpandai mengakui pernah menyontek untuk mempertahankan
prestasi mereka (Parson et al, 2001). Perilaku menyontek yang biasa dilakukan
selama ujian adalah menanyakan jawaban pada teman, menggunakan kode-kode
tertentu untuk saling bertukar jawaban, membaca catatan kecil, bahkan
menggunakan handphone (Abramovits, 2000; dalam Mujaihdah, 2009). Siswa
sering membuka buku saat ujian sebenarnya dilakukan secara closed books,
catatan yang difotokopi dalam ukuran kecil atau tulisan-tulisan dalam ukuran
kecil yang berisi rangkuman materi tes. Tulisan yang digunakan untuk menyontek
tidak hanya kertas, tetapi juga meja, dinding, penggaris, tissu, telapak tangan,
dinding, bahkan paha (Nur, 2004).
Perilaku membaca catatan rangkuman pelajaran saat ujian atau perilaku
menyontek lainnya bila dilakukan secara terus menerus akan menjadi bagian dari
kepribadian dan karakter individu (Abramovits, 2000). Dampaknya masyarakat
akan menjadi permissif terhadap perilaku ini. Akhirnya, perilaku menyontek akan
menjadi bagian kebudayaan yang berdampak pada kaburnya nilai-nilai moral
dalam setiap aspek kehidupan dan pranata sosial, bahkan bisa melemahkan
kekuatan masyarakat. Perilaku ini merupakan fenomena yang sudah lama ada
dalam dunia pendidikan. Menyontek telah menjadi permasalahan serius saat
menghadapi ujian, terutama ujian akhir nasional.
Banyak faktor yang mempengaruhi perilaku menyontek, diantaranya usia,
jenis kelamin, nilai, aktivitas ekstrakurikuler, pengaruh teman sebaya, alat
komunikasi atau handphone, pengawasan saat ujian berlangsung, perkembangan
moral dan rendahnya motivasi, status perkawinan, dan menunda mengerjakan
tugas. Secara garis besar, ada empat faktor yang mendasari perilaku menyontek
yaitu faktor situasional, personal, demografi, dan perkembangan teknologi. Faktor
situasional meliputi tekanan untuk mendapat nilai yang tinggi, kontrol atau
pengawasan selama ujian, kurikulum, pengaruh teman sebaya, ketidaksiapan
mengikuti ujian, dan iklim akademis di sekolah atau institusi pendidikan. Faktor
personal meliputi kurang percaya diri, ketakutan terhadap kegagalan, self-esteem,
dan need for approval, kompetisi dalam memperoleh nilai dan peringkat
akademis, dan self-efficacy. Faktor demografi meliput jenis kelamin, usia, nilai
ujian, moralitas, riwayat pendidikan sebelumnya (dalam Mujahidah, 2009).
Mengejar nilai yang tinggi merupakan faktor pendorong
siswa menyontek. Tekanan bisa berasal dari orang tua, dan
pendidik. Menurut Davis et al (1992), 69% siswa mengatakan
tekanan pada nilai yang tinggi merupakan alasan kuat untuk
menyondek (dalam Mujahidah, 2009). Jika suasana pengawasan
ketat, maka kecenderungan menyontek kecil, sebalinya jika
suasana pengawasan longgar, maka kecenderungan menyontek
menjadi lebih besar (dalam Mujahidah, 2009). Ketika pelajar
mengalami kesulitan dalam memahami dan menyerap materi
pealjaran dan beban materi pelajaran yang harus dipelajari
terlalu berat karena tuntukan kurikulum, maka beberapa pelajar
pesimis dan terpaksa mencari jalan keluar dengan cara
menyontek. Karakter siswa juga mempengaruhi perilaku
menyontek. Jika siswa memiliki karakter negatif seperti tidak
jujur dan kurang percaya diri, maka siswa akan cenderung
menyontek. Riwayat pendidikan sebelumnya khususnya
pendidikan karakter menjadi penting dalam pembentukan
karakter siswa ke arah negatif atau positif (dalam Mujahidah, 2009).
Perilaku teman menjadi pengaruh penting pada perilaku
menyontek, dimana perilaku menyontek dapat diterima. Selain
itu, melihat teman saling menyontek membuat siswa untuk
belajar meniru perilaku tersebut. Hal ini sesuai dengan teori
belajar milik Bandura yang menekankan bahwa banyak perilaku
menyimpang yang dipelajari oleh siswa melalui pengaruh yang
dilihat di lingkungan sekolah khususnya didalam kelas (dalam
Nora dan Zhang, 2010). Kegiatan ekstrakurikuler yang padat dan
kemalasan untuk belajar merupakan alasan siswa tidak
mempersiapkan diri untuk ujian, sehingga siswa cenderung
memilih menyontek (dalam Mujahidah, 2009).
Berbagai penelitian telah dilakukan untuk menjelaskan
faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku menyontek secara
umum. Pentingnya mengetahui faktor-faktor yang terkait
langsung pada perilaku membaca catatan rangkuman pelajaran
selama ujian akhir nasional belum banyak dijelaskan. Sehingga
mendorong penulis untuk dilakukan studi lebih lanjut.

1.2 Rumusan Masalah Penelitian

Adapun rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai


berikut:
1. Apakah pengaruh peningkatan materi pembelajaran
keilmuan terhadap membaca catatan rangkuman pelajaran
saat ujian akhir nasional?
2. Apakah pengaruh penurunan pendidikan karakter terhadap
membaca catatan rangkuman pelajaran saat ujian akhir
nasional?
3. Apakah pengaruh teman sebaya terhadap membaca
catatan rangkuman pelajaran saat ujian akhir nasional?
4. Apakah pengaruh peningkatan tekanan untuk lulus
terhadap membaca catatan rangkuman pelajaran saat ujian
akhir nasional?
5. Apakah pengaruh penurunan pengawasan ujian akhir
nasional terhadap membaca catatan rangkuman pelajaran
saat ujian akhir nasional?
6. Apakah pengaruh kesiapan siswa dalam proses
pembelajaran terhadap membaca catatan rangkuman
pelajaran saat ujian akhir nasional?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum Penelitian

Tujuan umum dari penelitian ini adalah menjelaskan faktor-faktor


yang mempengaruhi siswa membaca catatan rangkuman
pelajaran ditemukan saat ujian akhir nasional pada salah satu
sekolah menengah pertama di Indonesia.

1.3.2 Tujuan Khusus Penelitian

Tujuan khusus dari penelitian ini adalah sebagai berikut:


1. Mengetahui pengaruh peningkatan materi pembelajaran
keilmuan terhadap membaca catatan rangkuman pelajaran
saat ujian akhir nasional.
2. Mengetahui pengaruh penurunan pendidikan karakter
terhadap membaca catatan rangkuman pelajaran saat ujian
akhir nasional.
3. Mengetahui pengaruh teman sebaya terhadap membaca
catatan rangkuman pelajaran saat ujian akhir nasional.
4. Mengetahui pengaruh peningkatan tekanan untuk lulus
terhadap membaca catatan rangkuman pelajaran saat ujian
akhir nasional.
5. Mengetahui pengaruh penurunan pengawasan ujian akhir
nasional terhadap membaca catatan rangkuman pelajaran
saat ujian akhir nasional.
6. Mengetahui pengaruh kesiapan siswa dalam proses
pembelajaran terhadap membaca catatan rangkuman
pelajaran saat ujian akhir nasional.

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Manfaat Teoritis

Setalah penelitian diharapkan akan menambah khazanah


pengetahuan faktor-faktor yang mempengaruhi siswa
menghadapi ujian akhir nasional.

1.4.2 Manfaat Praktis

Setalah penelitian diharapkan dapat menjadi acuan atau


pertimbangan evaluasi dalam melaksanakan proses pengajaran
di tingkat sekolah dan dalam menghadapi ujian akhir nasional.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perilaku Menyontek

2.1.1 Pengertian Menyontek

Dalam kamus bahasa indonesia kata menyontek tidak dapat ditemukan secara
langsung, kata menyontek dapat ditemuakan pada kata jiplak-menjiplak yang
artinya meniru tulisan atau pekerjaan orang lain. Deighton menyatakan cheating
adalah upaya yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan keberhasilan dengan
cara-cara yang tidak fair (tidak jujur). Bower (1964) mendefinisikan cheating
adalah perbuatan yang menggunakan cara-cara yang tidak sah untuk tujuan yang
sah atau terhormat yaitu mendapatkan keberhasilan akademis atau menghindari
kegagalan akademis. Kecenderungan menyontek adalah perilaku yang dilakukan
untuk menghindari kegagalan dari nilai akademis dengan cara yang tidak jujur
yaitu suka tengak-tengok saat ujian, mendekati teman yang pandai, memilih
tempat duduk yang dibelakang dan pojok, membuat catatan kecil dikertas, tissue,
di dinding, bahkan menggunakan handphone untuk saling tukar jawaban dikelas
sebelah. Menyontek merupakan tindakan kecurangan dalam tes melalui
pemanfaatan informasi yang berasal dari luar secara tidak sah.
Di dalam ulangan harian di kelas, kegiatan menyontek sudah menjadi cara
bertindak umum dikalangan siswa. Siswa sendiri menjadi saksi bahwa kegiatan
contek-menyontek merupakan sesuatu yang wajar. Bahkan dalam arti tertentu,
karena sudah terbiasanya maka tidak dirasakan lagi ada yang tidak beres dalam
kegiatan menyontek ini. Ada beberapa perbedaan individual dalam menyontek.
kebanyakan studi terhadap remaja dan mahasiswa menemukan bahwa laki-laki
lebih banyak yang menyontek daripada perempuan dan siswa-siswa yang
berprestasi rendah lebih banyak yang menyontek daripada mereka yang
berprestasi tinggi.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa menyontek adalah
tindakan yang dilakukan dengan sengaja atau dengan cara yang tidak jujur atau
perbuatan curang yang dilakukan oleh pelajar selama pelaksanaan evaluasi
akademis dengan tujuan tertentu.

2.1.2 Kategori menyontek

Pada dasarnya menyontek dapat dikategorikan menjadi dua bagian, yaitu


menyontek dengan usaha sendiri dengan membuka buku catatan atau membuat
berbagai catatan kecil yang ditulis di tangan atau di tempat lain yang dianggap
aman. Bagian yang kedua yaitu dengan meminta bantuan teman. Misalnya dengan
meniru jawaban dari teman atau dengan berkompromi menggunakan berbagai
macam kode tertentu. Dalam makalah yang ditulis Alhadza yang termasuk dalam
kategori menyontek antara lain adalah meniru pekerjaan teman, bertanya langsung
pada teman ketika sedang mengerjakan tes atau ujian, membawa catatan pada
kertas, pada anggota badan atau pada pakaian masuk ke ruang ujian, menerima
dropping jawaban dari pihak luar, mencari bocoran soal, arisan (saling tukar)
mengerjakan tugas dengan teman, menyuruh atau meminta bantuan orang lain
dalam menyelesaikan tugas ujian di kelas atau tugas penulisan paper dan take
home test. Cizek menyatakan bahwa perilaku cheating terbagi menjadi tiga
kategori, yaitu:
a. Giving (memberi), taking (mengambil), or receiving (menerima) information.
b. Menggunakan materi (bahan) yang terlarang.
c. Memanfaatkan kelemahan seseorang, prosedur, atau proses untuk memperoleh
keuntungan.
Pelanggaran menyontek itu bisa terjadi dalam berbagai bentuk, diantaranya
yaitu: seorang pelajar memindahkan informasi contekan pada kertas kecil atau
semisalnya, seorang pelajar memberi bantuan kepada temannya sebagian jawaban
dengan berbagai cara, seorang pengawas memberikan bantuan kepada para
pelajar, baik dalam bentuk membekali mereka buku maupun catatan, soal ujian
telah bocor kepada sebagian pelajar, baik dengan cara perantara maupun dengan
cara lain, tindakan sekelompok orang dengan mengancam pengawas jika tidak
membiarkan para pelajar untuk menyontek. Klausmeier mengatakan tentang
bentuk-bentuk perilaku menyontek meliputi menggunakan catatan jawaban
sewaktu ujian atau tes yang sering dilakukan dengan menulis contekan dalam
kertas yang kemudian dilipat kecil, menulis contekan pada tisue, menulis
contekan diatas meja, atau menulis di tangan, serta menyimpan catatan contekan
di memori telepon genggam, menyontek jawaban teman lain, memberikan
jawaban yang telah selesai kepada teman dan mengelak dari aturan-aturan. Seiring
perkembangan teknologi, telepon genggam dapat digunakan sebagai sarana untuk
menyontek, yaitu dengan menyimpan data contekan di memori telepon genggam
atau saling berkirim jawaban melalui SMS (short message service) pada saat
ujian.
Dari pemaparan diatas tentang cara-cara atau bentuk-bentuk menyontek
yang dilakukan siswa disekolah dapat disimpulkan bentuk-bentuk atau cara-cara
yang dilakukan oleh siswa dalam menyontek sebagai berikut: melihat buku
catatan, membuat catatan-catatan kecil dikertas atau tisue, melihat atau
menanyakan jawaban pada teman, menggunakan telepon genggam untuk saling
mengirim jawaban, menggunakan kode atau isyarat untuk menanyakan jawaban
pada teman
2.2.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Menyontek
Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku menyontek menurut
Schab adalah:
a. Malas belajar
Siswa malas berusaha karena merasa usaha apa pun yang dilakukan tidak
akan banyak berperan dalam pencapaian hasil yang diharapkan. Siswa yang
memiliki konsep diri negatif akan merasa pesimis dan tidak percaya pada
kemampuan dirinya, sehingga malas berusaha karena merasa dirinya tidak
kompeten dan tidak akan mampu mencapai prestasi yang diharapkan.
b. Ketakutan mengalami kegagalan dalam meraih prestasi.
Perasaan tidak kompeten atau bahkan bodoh pada siswa yang memiliki
konsep diri negatif akan membuatnya merasa bahwa dirinya akan gagal.
Munculnya gambaran akan kegagalan dalam meraih prestasi belajar (nilai
yang baik) membuat individu khawatir. Ketakutan terhadap suatu kegagalan
dihindari dengan melakukan perbuatan menyontek.
c. Tuntutan dari orang tua untuk memperoleh nilai baik.
Pandangan orang tua tentang penampilan, kemampuan, dan prestasi anak
akan mempengaruhi cara pandang anak terhadap dirinya, atau dengan kata
lain akan mempengaruhi konsep dirinya. Harapan orang tua yang terlalu
tinggi membuat anak cenderung gagal. Kegagalan yang dialami dapat
mempengaruhi konsep diri anak dan menjadi dasar dari perasaan rendah diri
dan tidak mampu. Misalnya jika orang tua menganggap nilai akademis sama
dengan kemampuan, orang tua akan mengharapkan anaknya mendapat nilai
yang bagus tanpa berpikir sejauhmana pelajaran yang telah diserap oleh sang
anak. Tuntutan orang tua semacam itu dapat menimbulkan keinginan pada
anak untuk menyontek.
Selain itu, Menurut Anderman dan Murdock, (dalam Andrestia, 2010),
menyatakan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi Cheating.
Faktor-faktor tersebut digolongkan kedalam empat karakteristik yaitu:
1) Karakteristik demographic
Perbedaan individual pada perilaku menyontek siswa telah dipelajari dalam
kaitannya dengan faktor demografik seperti:
a. Gender
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Anderman dan Midgley (2004),
menyatakan bahwa siswa sekolah menengah pertama menunjukkan bahwa
laki-laki lebih mungkin untuk menyontek daripada perempuan (Alawiyah,
2011:25).
b. Usia
Jesen (2002) menyebutkan bahwa pelajar yang lebih muda lebih mungkin
menyontek daripada pelajar yang lebih tua ketika perbandingan ini dibuat
antara siswa dan mahasiswa. Dari penelitian ini ditemukan bahwa perilaku
menyontek (cheating) akan berkurang dengan bertambahnya usia.
c. Status sosio-ekonomi
Menurut Calabrese dan Cochran (1990), perilaku menyontek pada siswa
berdasarkan status sosio-ekonomi. Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa siswa private school (sekolah swasta) yang memiliki status sosio-
ekonomi tinggi lebih banyak menyontek dibandingkan dengan siswa yang
berasal dari public school (sekolah negeri).
d. Agama
Terdapat bermacam-macam hasil penelitian mengenai perilaku menyontek
(cheating) dan agama. Penelitian Rettinger dan Jordan (2005) yang
dilakukan pada kelas religi dan kelas liberal, menemukan bahwa kelas
religi lebih sedikit melakukan cheating dibandingkan kelas liberal.
2) Karakteristik akademik
a. Kemampuan (Ability)
Newstead (1996), menekankan pada kompleksnya hubungan antara ability
dan cheating. Para peneliti pada umumnya menunjukkan bahwa ability
berhubungan dengan cheating, dan hal tersebut secara umum dipercaya
bahwa siswa yang memiliki ability rendah lebih berkemungkinan
melakukan cheating.
b. Area subyek
Penelitian yang dilakukan oleh Bowers dkk menyimpulkan bahwa subyek
yang berada pada area sains, bisnis, dan mesin diidentifikasi sebagai
disiplin ilmu dengan indikasi tinggi adanya cheating jika dibandingkan
dengan subyek yang berada pada area seni dan sosial.
3) Karakteristik motivasi
a. Self efficacy
Pelajar yang menyontek lebih sering ketika mereka memiliki self-efficacy
rendah yang meliputi takut akan kegagalan.
b. Goal orientation
Studi mengenai cheating yang dikaitkan dengan teori achievement goal
menegaskan bahwa cheating sering muncul pada siswa yang tujuan
belajarnya bukan pada penguasan materi. Hubungan antara goal dan
cheating telah ditemukan pada siswa yang lebih muda.
4) Karakteristik kepribadian
a. Impulsivitas dan sensation-seeking
Menurut Anderman & Murdock (2007), Impulsivitas dan sensation-
seeking merupakan dua konstruk pada literatur psikologi kepribadian
yang mungkin berhubungan dengan cheating.
b. Self control
Grasmick, dkk (1993), mengatakan bahwa self-control dan persepsi
terhadap kesempatan menyontek berhubungan dengan cheating. Sebab
kontrol diri akan menentukan apa yang orang akan lakukan.
c. Tipe kepribadian
Pada penelitian eksperimen Davis (1995), ditemukan siswa dengan tipe
kepribadian A lebih banyak melakukan cheating daripada siswa dengan
tipe kepribadian B. Hal ini membuktikan bahwa kepribadian seseorang
memungkinkan seseorang untuk menyontek.
d. Locus of control
Locus of control (pusat kendali) adalah gambaran keyakinan seseorang mengenai sumber
penentu perilakunya. Locus of control merupakan salah satu faktor yang sangat
menentukan perilaku individu, termasuk bagaimana seseorang menentukan apakah ia
akan menyontek atau tidak menyontek. dalam penelitian eksperimen mengenai locus of
control ditemukan bahwa seseorang yang memiliki eksternal locus of control lebih
berkemungkinan melakukan cheating.
2.2 Ujian Akhir Nasional
2.3 Pendidikan Karakter
2.4 Mata Pelajaran dalam Kurikulum
2.5
BAB III
KERANGKA KONSEPTUAL

Indonesia

Siswa

Tekanan Pendidikan Materi pelajaran Pengaruh Teman Kesiapan Siswa Pengawasan


untuk lulus Karakter keilmuan Sebaya dalam proses UAN
pembelajaran

Membaca rangkuman
pelajaran saat UAN
DAFTAR PUSTAKA

Abramovits, M. 2000. Why Cheating is Wrong. Current Health. 72,16-20.


Fah. 2015. Siswa Menyontek Saat Unas Berlangsung. Diambil dari:
http://www.panturajatim.com/warta/siswa-menyontek-saat-unas-berlangsung.
Diakses pada tanggal 27 November 2016.
Mujahidah. 2009. Perilaku Menyontek Laki-Laki dan Perempuan: Studi Meta
Analisis. Juurnal Psikologi, vol II, No. 2, Hlm. 177-199
Mulyasa, 2004. Implementasi kurikulum 2004 panduan pembelajaran KBK.
Bandung: Remaja Rosda-karya.
Nora, W. L dan Zhang, K. C. 2010. Motives Of Cheating Among Secondary
Students: The Role Of Self Efficacy And Peer Influence. Asia Pacific Education
Review: Vol.11, Hlm. 573-584. Diambil dari: http://link.springer.com/article/
10.1007/s12564-010-9104-2/fulltext.html. Diakses pada tanggal 27 November
2016.
Parson, R.D., Hinson, S.L., Sardo-brown, D. 2001. Education Psychology: A
Practitioner-Research Model of Teaching. Australia: Wadsworth Publishing
Company.
Pudjiastuti, E. 2012. Hubungan Self Efficacy dengan Perilaku Menyontek
Mahasiswa Psikologi, Vol. 18, No. 1, Hlm 103-112.
Sari, I. Marjohan., dan Neviyarni. 2013. Locus Of Control dan Perilaku
Menyontek setra Implikasinya terhadap Bimbingan dan Konseling. Vol. 2,
No. 1, Hlm. 267-272.
Zainal, H. 2015. Siswa Menyontek Hingga Tukar Lembar Jawaban. Diambil dari:
http://daerah.sindonews.com/read/997495/174/un-smp-siswa-menyontek-hingga-
tukar-lembar-jawaban-1430800983. Diakses pada tanggal 27 November 2016.
Kresna. 2015. 195 Siswa di Jogja Saling Contek Soal UN Bahasa Indonesia via
Line. Diambil dari: http://daerah.sindonews.com/read/997495/174/un-smp-siswa-
menyontek-hingga-tukar-lembar-jawaban-1430800983. Diakses pada tanggal 27
November 2016.
LAMPIRAN 1
ALUR PIKIR ILMIAH

1. Topik
Pendidikan Karakter
2. Fenomena
Siswa membaca rangkuman pelajaran ditemukan saat ujian akhir nasional pada
salah satu sekolah menengah pertama di Indonesia.
3. Masalah
Siswa membaca rangkuman pelajaran ditemukan saat ujian akhir nasional pada
salah satu sekolah menengah pertama di Indonesia belum dapat dijelaskan.
Fakta awal : Indonesia
Fakta akhir : Siswa membaca rangkuman pelajaran saat ujian akhir nasional
3. Tujuan Umum
Menjelaskan siswa membaca rangkuman pelajaran ditemukan saat ujian akhir
nasional pada salah satu sekolah menengah pertama di Indonesia.
5. Kerangka Konseptual

6. Tujuan Khusus
1) Mengetahui pengaruh peningkatan materi pembelajaran
keilmuan terhadap membaca catatan rangkuman pelajaran
saat ujian akhir nasional.
2) Mengetahui pengaruh penurunan pendidikan karakter
terhadap membaca catatan rangkuman pelajaran saat
ujian akhir nasional.
3) Mengetahui pengaruh teman sebaya terhadap membaca
catatan rangkuman pelajaran saat ujian akhir nasional.
4) Mengetahui pengaruh peningkatan tekanan untuk lulus
terhadap membaca catatan rangkuman pelajaran saat
ujian akhir nasional.
5) Mengetahui pengaruh penurunan pengawasan ujian akhir
nasional terhadap membaca catatan rangkuman pelajaran
saat ujian akhir nasional.
6) Mengetahui pengaruh kesiapan siswa dalam proses
pembelajaran terhadap membaca catatan rangkuman
pelajaran saat ujian akhir nasional.
7. Rumusan Masalah
1) Apakah pengaruh peningkatan materi pembelajaran
keilmuan terhadap membaca catatan rangkuman pelajaran
saat ujian akhir nasional?
2) Apakah pengaruh penurunan pendidikan karakter terhadap
membaca catatan rangkuman pelajaran saat ujian akhir
nasional?
3) Apakah pengaruh teman sebaya terhadap membaca
catatan rangkuman pelajaran saat ujian akhir nasional?
4) Apakah pengaruh peningkatan tekanan untuk lulus
terhadap membaca catatan rangkuman pelajaran saat
ujian akhir nasional?
5) Apakah pengaruh penurunan pengawasan ujian akhir
nasional terhadap membaca catatan rangkuman pelajaran
saat ujian akhir nasional?
6) Apakah pengaruh kesiapan siswa dalam proses
pembelajaran terhadap membaca catatan rangkuman
pelajaran saat ujian akhir nasional?
8. Manfaat
1) Manfaat Teoritis
Menambah khazanah pengetahuan mengenai siswa membaca catatan
rangkuman pelajaran saat menghadapi ujian akhir nasional.
2) Manfaat Praktis
Menjadi acuan atau pertimbangan evaluasi dalam melaksanakan proses
pengajaran di tingkat sekolah dan dalam menghadapi ujian akhir
nasional.
9. Judul
Faktor-Faktor yang mempengaruhi Perilaku Membaca Rangkuman Pelajaran
Saat Ujian Akhir Nasional