Anda di halaman 1dari 2

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan analisis dalam bab hasil dan pembahasan
maka dapat dapat disimpulkan bahwa:
1. Estimasi konsentrasi NO2 memberikan hasil yang lebih baik
menggunakan cokriging dengan variogram isotropi. Nilai
estimasi NO2 jatuh antara interval 0.0003 ppm sampai 0.04
ppm, di mana di sebagian besar wilayah mempunyai estimasi
konsentrasi sebesar 0.0372 ppm sampai 0.0400 ppm. R 2 yang
dihasilkan pada cross-validasi kecil yaitu 58.7%.
2. Estimasi konsentrasi CO menunjukkan hasil yang baik untuk
interpolasi cokriging baik dengan variogram isotropi maupun
anisotropi. Tetapi interpolasi dengan variogram isotropi
memberikan hasil estimasi yang lebih baik karena standar
deviasi estimasi sangat kecil serta R 2 hasil cross-validasi
sangat besar yaitu 94.2%. Estimasi CO berada pada interval
7.6-14.6 ppm.
3. Estimasi pada 25 titik di Surabaya menghasilkan konsentrasi
minimum NO2 berada di pertigaan Jalan Gresik-Jalan Demak
yaitu 0.0003 ppm. Konsentrasi NO2 mempunyai besar yang
sama pada banyak titik di Surabaya, karena pada estimasi
NO2 dengan interpolasi cokriging diprediksi mempunyai
konsentrasi yang sama pada sebagian besar wilayah
Surabaya, yaitu 0.0372-0.0400 ppm. Varians estimasi NO2
adalah 0.000165, artinya variasi konsentrasi NO2 cenderung
kecil di 25 titik ini. Konsentrasi CO minimum berada di
Stasiun Gubeng sebesar 8.50 ppm. Konsentrasi CO
maksimum berada di Stasiun Wonokromo sebesar 13.3 ppm.
Estimasi konsentrasi CO yang yang dihasilkan mempunyai
nilai yang beragam, varians estimasi CO adalah 0.821.

57
58

5.2 Saran
Ada beberapa kekurangan yang diperoleh melalui hasil
bab hasil dan pembahasan serta ada beberapa situasi yang tidak
diharapkan, di antaranya yaitu estimasi dengan interpolasi
cokriging dengan variogram anisotropi memberikan hasil yang
tidak lebih baik daripada jika menggunakan variogram isotropi,
padahal ada informasi tambahan mengenai arah angin pada saat
pengukuran berlangsung. Konsentrasi penyebaran suatu polutan
biasanya sangat bergantung pada arah angin. Kemungkinan
penyebab terjadinya ketidakcocokan antara teori dengan kondisi
real di lapangan yaitu kecilnya jumlah sampel yang diamati atau
bisa pula angin pada saat itu tidak terlalu kencang, sehingga
masih dapat diwakili variogram isotropi. Oleh karena itu, ada
beberapa saran untuk penelitian serupa di masa mendatang.
1. Memperbanyak jumlah sampel yang diamati sehingga dapat
mewakili keadaan sebenarnya di lapangan. Selain itu jika
jumlah sampel cukup banyak, dapat menghitung keakurasian
hasil estimasi menggunakan MSE.
2. Menggunakan model variogram teoretis lain yang dapat
menggambarkan varians data secara spasial seakurat mung-
kin. Pada model variogram yang digunakan untuk analisis
mampu menjelaskan maksimal 36% keadaan sebenarnya
maksimal. Model variogram lain yang dapat digunakan yaitu
model rational quadratic, model wave (hole-effect), dan
model power.
3. Menggunakan data terbaru untuk analisis konsentrasi polutan
di udara, agar bisa diketahui apakah konsentrasi polutan dari
tahun ke tahun semakin tinggi atau tidak.