Anda di halaman 1dari 8

PENENTUAN REGIMEN DOSIS

Regimen dosis adalah pengaturan dosis obat serta jarak antar dosis untuk
mempertahankan konsentrasi obat dalam farah sehingga memberikan efek terapi. Lama
pengobatan dan regimen dosis tergantung kepada tujuan pengobatan yaitu apakah untuk
penghilang rasa sakit, pencegahan ataupun penyembuh penyakit. Dalam penentuan dosis
obat dapat menimbulkan kesulitan bila harus diberikan obat dengan daya larut dalam
lemak yang sesuai, yang dapat dilakukan dengan diberikan suatu dosis percobaan dimana
dilakukan penyesuaian regimen dosis dengan memantau konsentrasi obat dalam plasma
pada penderita.
Adapun factor-faktor yang harus dipertimbangkan saat menentukan atau
merancang dosis regimen (terapeutik) :

1 2
Konsep Farmakokinetik Faktor Klinik

3 4
Aktivitas toksisitas Faktor lain

FARMAKOKINETIK
Aplikasi konsep farmakokinetika merupakan salah satu pendekatan yang harus
dilakukan untuk menghindari kemungkinan terjadinya efek toksik, meminimalkan efek
samping obat, serta mengoptimalkan terapi. Pemahaman tentang prinsip-prinsip
farmakokinetika yang mencakup proses absorpsi, distribusi, metabolisme dan eksresi obat
di dalam tubuh dan parameterparameternya, perubahan nilai parameter farmakokinetika
akibat kondisi klinik pasien, keberadaan obat lain serta metabolit perlu dipahami agar
dapat diaplikasikan untuk merancang regimen dosis yang rasional.
Untuk menentukan besarnya dosis dan interval pemberian obat untuk individu
sehingga diperoleh terapi yang rasional disebut sebagai farmakokinetika klinis. Cara
bagaimana obat digunakan, berapa besarnya dosis dan interval pemberian serta lama
penggunaan disebut regimen dosis (Dosage regimen). Lama pengobatan dan regimen dosis
tergantung kepada tujuan pengobatan yaitu apakah untuk penghilang rasa sakit,
pencegahan ataupun penyembuhan penyakit.
Parameter-parameter farmakokinetika yang menentukan besarnya jumlah obat di
dalam tubuh dan kecepatan eliminasi serta berperan penting dalam menentukan regimen
dosis perlu dipahami terlebih dahulu. Parameter-parameter tersebut meliputi:
- Volume Distribusi (V)
- Konstanta Kecepatan Eliminasi (k)
- Waktu paruh (t )
- Persen eliminasi dalam hubungan dengan t
- Cleareance (bersihan)
- - Clearance Total (Cl)
- Clearance Renal (ClR)
- Clearance Extra Renal (ClER)

Manfaat penerapan farmakokinetika bagi kepentingan penanganan penderita


adalah untuk tuntunan penentuan aturan dosis (dosage regimen) yang menyangkut
besarnya dosis dan interval pemberian dosis, terutama untuk obat-obat dengan ling- . kup
terapeutik yang sempit seperti teofilina, digoksin, fenitoina, fenobarbital, lidokain,
prokainamida dan lain-lain.

FAKTOR KLINIK
Untuk mencapai pengobatan optimal, Drug of Choice yang sesuai harus dipilih.
Keputusan hasil pemilihan tersebut mengimplikasikan diaganosis penyakit secara tepat,
pengetahuan tentang kondisi klinik pasien, pemahaman farmakoterapetika, serta
pemahaman konsep farmakokinetika klinis.
Faktor klinis terbagi menjadi dua, yaitu faktor klinis yang di pengaruhi oleh pasien,
dan juga yang dipengaruhi oleh terapi. Faktor klinis yang dipengaruhi oleh
pasien menyangkut beberapa hal, yaitu umur, kondisi pasien, dan resiko penyakit lain.
Sedangkan factor kilinik yang dipengaruhi oleh terapi yaitu multiple drug terapy,
convienience of regimen, compliance of patient. Kebanyakan obat digunakan oleh banyak
orang dari berbagai tingkatan umur, hal ini mempengaruhi regimen dosis.
a) Pada anak-anak secara umum jalur eliminasi obat (hepar dan ginjal) sangat minim
pada bayi yang baru lahir, dan juga pada bayi yang premature. Hal ini disebabkan
karena factor fisiologis dari bayi yang tidak biasa, dimana dapat menyebabkan efek
yang tidak diinginkan dari terapi. Sedangkan pada orang tua perubahan
farmakokinetik di dalam tubuh merupakan hasil dari perubahan komposisi tubuh dan
fungsi dari organ eliminasi. Pengurangan masa tubuh, albumin serum,total air di dalam
tubuh, dan peningkatan jumlah lemak di dalam tubuh mempengaruhi perubahan
distribusi obat (hubungannya dengan solubilitas di dalam lemak serta ikatannya
dengan protein). Pada orang tua kliren mengalami penurunan, hal ini dikarenakan
fungsi ginjal yang menurun sekitar 50%.
b) Keberadaan status penyakit yang lain. Hal ini juga mempengaruhi regimen dosis.
Sebagai contoh pengobatan pada orang yang memiliki gangguan pada ginjal berbeda
dengan pengobatan pada orang normal, hal ini dikarenakan gangguan ginjal
menyebabkan penurunan fungsi ginjal, sehingga dapat menurunkan kliren metabolit
obat dalam tubuh. Oleh karena itu perlu adanya penyesuaian dosis, sehingga tidak
terjadi efek toksis, karena peningkatan kadar obat dalam darah. Selain itu pada orang
yang memiliki kelainan pada hepar, juga perlu adanya penyesuaian dosis obat, hal ini
dikarenakan fungsi utama hepar sebagai organ pemetabolisme mengalami penurunan,
sehingga apabila tidak disesuaikan dosisnya, dapat menimbulkan toksisitas atau
ketidak tercapaian efek terapi.
c) Faktor terapi. Faktor ini berhubungan dengan terapi dan berbagai macam obat,
dimana pemberian tersebut dapat menimbulkan interaksi antar obat. Interaksi antar
obat merupakan aktivitas dari obat yang dapat mengubah intensitas efek farmakologi
obat lainnya yang diberikan secara bersamaan. Pengaruh yang ditimbulkan dapat
meningkatkan maupun mengurangi efek dari obat tersebut.

AKTIVITAS TOKSISITAS
Respon terapetik dan tokisistas merupakan peristiwa yang ditimbulkan sebagai
akibat proses farmakodinamik dan farmokinetik. Dimana farmakodinamik merupakan
hubungan antara konsentrasi obat pada tempat aksi (reseptor) dan respon farmakologi
yang meliputi proses biokimia dan efek fisiologi yang dipengaruhi oleh interaksi obat
dengan reseptor.
Aktivitas toksisitas berkaitan dengan beberapa hal seperti yang dijelaskan di bawah:
a) Range terapetik
Dalam praktek pemberian obat pada umumnya didasarkan atas dosis rata-rata,
yaitu dosis yang diperkirakan memberikan efek terapeutik dengan efek samping
minimal. Pada pemberian obat kepada pasien, seorang dokter harus mengatur dosis
obat agar kadar obat dalam plasma tetap berada dalam jendela terapi, oleh karena itu
perlu dilakukan monitoring terapi obat (pemeriksaan secara berkala kadar obat dalam
darah) guna membantu klinisi dalam menetapkan dosis obat yang dapat
menyembuhkan atau mengobati penyakit penderita. Manfaat dari monitoring terapi
obat antara lain untuk memilih obat yang tepat, untuk merancang regimen dosis,
mengevaluasi respon pasien, untuk menentukan perhitungan konsentrasi serum obat,
menentukan kadar obat.
b) Efek samping
Setiap obat mempunyai kemungkinan untuk menyebabkan efek samping. Efek
samping tidak mungkin dihindari/dihilangkan sama sekali, tetapi dapat ditekan atau
dicegah seminimal mungkin dengan menghindari faktor-faktor risiko yang sebagian
besar sudah diketahui. Masalah efek samping obat dalam klinik tidak dapat
dikesampingkan begitu saja oleh karena kemungkinan dampak negatif yang terjadi,
misalnya: Kegagalan pengobatan, timbulnya keluhan penderitaan atau penyakit baru
karena obat (drug-induced disease atau iatrogenic disease), yang semula tidak diderita
oleh pasien, pembiayaan yang harus ditanggung sehubungan dengan kegagalan terapi,
memberatnya penyakit atau timbulnya penyakit yang baru tadi (dampak ekonomik).
Efek psikologik terhadap penderita yang akan mempengaruhi keberhasilan terapi lebih
lanjut misalnya menurunnya kepatuhan berobat.
c) Hubungan konsentrasi dan efek
Tinggi rendahnya kadar obat dalam cairan darah merupakan hasil dari besarnya
dosis yang diberikan, dan pengaruh-pengaruh proses-proses alami dalam tubuh mulai
dari absorpsi, distribusi, metabolisme sampai ekskresi obat. Perlu ada penelitian klinis
yang terkontrol guna memperlihatkan adanya hubungan antara kadar plasma dengan
respon klinis. Disain dari penelitian seperti ini tergantung pada respon yang dituju, yaitu
mungkin efek terapeutik atau efek toksik atau kedua-duanya.
Jika efek obat dapat dinilai secara kuantitatif, data kinetika obat dalam tubuh sangat
penting artinya untuk menentukan hubungan antara kadar/jumlah obat dalam tubuh
dengan intensitas efek yang ditimbulkannya. Dengan demikian daerah kerja efektif
obat (therapeutic window) dapat ditentukan

FAKTOR LAIN
a) Rute Pemberian
Injeksi intravena tidak memerlukan absorpsi obat namun apabila rute pemberian
secara per oral, obat harus mengalami absorbsi, distribusi, biotransformasi yang
menyebabkan obat tersebut diperlukan penyesuaian dosis agar efek terapetik yang
diinginkan tercapai.
b) Bentuk Sediaan
Formulasi sediaan obat juga berhubungan dengan rute pemberian obat, apabila
bentuk tablet yang digunakan per oral diperlukan perkiraan dosis yang tepat karena
panjangnya rute perjalanan obat yang dilalui secara per oral dan terjadinya first pass
pada hepar.
c) Tolerance-dependence
Toleransi dapat terjadi sebagai hasil dari penginduksian sintesis pada
enzim mikrosomal hepar yang terlibat dalam biotransformasi obat. Faktor yang
terpenting pada pengembangan toleransi terhadap opioid, barbiturate, etanol, dan
nitrat organic yang merupakan jenis dari adaptasi selular yang dikenal dengan istilah
toleransi farmakodinamik; banyak mekaisme yang mempengaruhi, termasuk
perubahan jumlah, afinitas, atau fungsi dari reseptor obat maka diperlukan
penyesuaian dosis agar dosis terapi yang digunakan masih berada dalam jendela
terapetik.
d) Pharmacogenetics-idiosyncracy
Idiosinkrasi didefinisikan sebagai factor genetic yang menimbulkan reaksi abnormal
suatu senyawa kimia, contohnya, banyak pria kulit hitam (sekitar 10%) mengalami
anemia hemolitik yang serius ketika mereka mengkonsumsi primakuin sebagai terapi
antimalaria.
e) Interaksi Obat
Interaksi obat dapat mengubah respon terapi pasien sehingga diperlukan perhatian
khusus ketika terjadi perubahan dalam penyesuaian dosis, dan obat yang tidak
dibutuhkan tidak diteruskan penggunaannya. Interaksi obat seringkali digunakan
secara efektif dengan adanya penyesuaian dosis atau modifikasi terapetik lainnya.
f) Harga
Harga merupakan hal yang crusial apalagi bagi sebagian pasien yang berasal dari
golongan menengah kebawah. Sehingga, seorang dokter dapat melakukan penyesuaian
dosis yang memungkinkan keterjangkauan harga terhadap pasien tersebut.
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian diatas, dalam menentukan regimen dosis obat yang harus
diperhatikan terlebih dahulu adalah faktor farmakokinetiknya dimana obat dapat
diramalkan bagaimana aktivitas absorobsi, distribusi, metabolisme dan eskresi obat
dalam tubuh, maupun faktor lain seperti formulasi obat, interaksi obat dan bentuk sediaan
obat, ketika obat telah nyatakan baik dari segi aspek famasetik dengan ramalan
farmakokinetik yang baik, maka selanjutnya yang pelu dipertimbangkan adalah kondisi
klinik. Setiap pasien memiliki kondisi klinik yang berbeda-beda hal ini dipengaruhi oleh
umur, berat badan, ras maupun pengaruh penyakit lain, sehingga harus disesuaikan dalam
pemilihan obat untuk menentukan regimen dosis yang baik. Setelah aspek farmakokinetik,
farmasetik maupun aspek kliniknya baik maka dapat diramalkan bahwa aktivitas
toksisitas yang akan diberikan oleh obat tersebut adalah rendah, sehingga yang paling
berpengaruh besar terhadap penentuan regimen dosis obat adalah faktor farmakokinetik
obat sebagai faktor penentu utama dalam mempertimbangkan ketepatan dosis maupun
meramalkan aktivitas klinik oleh suatu obat.

DAFTAR PUSTAKA
Nasution Azizah, 2015, Farmakokinetika Klinis, Usus Prees, Medan, Hal :1-3,48.
Goodman Alfred 2001, The Pharmacological Basis of Therapeutics, Tenth Edition, Mc Graw-
Hill, North America, PP: 56-57, 52-54, 69-70.
Rikomah Setya Enti, 2016, Farmasi Klinik, Deepublish, Yogyakarta.
Shargel, Leon, Andrew Yu, 1999, Applied Biopharmaceutics and Pharmacokinetics, Fourth
Edition, Appleton and Lange, United States of America, PP: 476-477
TUGAS ARGUMEN

PENENTUAN REGIMEN DOSIS

Oleh :
KELOMPOK 2

ADE ANDINI

ELFIN PAIRUNAN

HALIMAH

SULJAWAHIRAH S.

DIANA BTE SAMSUDDIN

USWATUN HASANAH

APOTEKER KELAS C

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS HASANUDDIN


MAKASSAR
2017