Anda di halaman 1dari 9

34

ACARA IV
BUDIDAYA BAWANG MERAH

A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Bawang merah (Allium cepa) Merupakan salah satu komoditas
holtikultura yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat dan memiliki nilai
ekonomis yang tinggi. Orang Jawa menyebut bawang merah
sebagai brambang. Bawang merah berfungsi sebagai penyedap rasa dan
dapat juga digunakan sebagai bahan obat tradisional. Bagian yang paling
banyak dimanfaatkan adalah umbi, meskipun beberapa tradisi kuliner juga
menggunakan daun serta tangkai bunganya sebagai bumbu penyedap
masakan. Karena memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi maka
pengusahaan budidaya bawang merah telah menyebar hampir di setiap
provinsi di Indonesia. Meskipun minat petani di terhadap bawang merah
cukup kuat, namun dalam proses pengusahaannya masih ditemui berbagai
kendala. Baik yang bersifat teknis maupun ekonomis.
2. Tujuan Praktikum
a. Mengetahui cara budidaya Bawang Merah.
b. Mengetahui pengaruh pemberian PGPF terhadap pertumbuhan Bawang
Merah.
3. Waktu dan Tempat Praktikum
Hari : Rabu
Tanggal : 15 Maret 2017
Tempat : Kebun Percobaan Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta.
35

B. TINJAUAN PUSTAKA
Bawang merah merupakan tanaman berumbi lapis berwarna keungu-
unguan, yang memiliki nama latin Allium Cepa L. Bawang merah pada
umumnya memiliki bau yang khas yang tajam.
Klasifikasi dan Morfologi
Kingdo : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Sub Kelas : Liliidae
Ordo : Liliales
Famili : Liliaceae
Genus : Allium
Spesies : Allium cepa var. aggregatum L (Tjitrosoepomo (2010).
Bawang merah merupakan tanaman semusim yang berbentuk rumput,
berbatang pendek dan berakar serabut. Daunnya panjang serta berongga seperti
pipa. Pangkal daunnya dapat berubah fungsi seperti menjadi umbi lapis. Oleh
karena itu, bawang merah disebut umbi lapis. Tanaman bawang merah
mempunyai aroma yang spesifik yang marangsang keluarnya air mata karena
kandungan minyak eteris alliin. Batangnya berbentuk cakram dan di cakram
inilah tumbuh tunas dan akar serabut. Bunga bawang merah berbentuk bongkol
pada ujung tangkai panjang yang berlubang di dalamnya. Bawang merah
berbunga sempurna dengan ukuran buah yang kecil berbentuk kubah dengan
tiga ruangan dan tidak berdaging. Tiap ruangan terdapat dua biji yang agak
lunak dan tidak tahan terhadap sinar matahari (Sunarjono, 2004).
Tanaman bawang merah ini dapat ditanam dan tumbuh di dataran rendah
sampai ketinggian 1000 meter dpl. Walaupun demikian, untuk pertumbuhan
optimal adalah pada ketinggian 0-450 meter dpl. Komoditas sayuran ini
umumnya peka terhadap keadaan iklim yang buruk seperti curah hujan yang
tinggi serta keadaan cuaca yang berkabut. Tanaman bawang merah
36

membutuhkan penyinaran cahaya matahari yang maksimal (minimal 70%


penyinaran), suhu udara 25-32C serta kelembaban nisbi yang rendah (Sutaya
et al, 1995).
Spesies Penicillium adalah jamur tanah di mana-mana lebih memilih
iklim dingin dan moderat, biasa hadir dimanapun bahan organik
tersedia. Spesies Saprophytic dari Penicillium dan Aspergillus adalah yang
terbaik dikenal perwakilan dari Eurotiales dan hidup terutama pada zat organik
biodegradable. Umumnya dikenal sebagai cetakan, mereka adalah salah satu
penyebab utama pembusukan makanan, terutama spesies Penicillium subgenus
Banyak spesies. Memproduksi mikotoksin yang sangat beracun. Kemampuan
spesies ini Penicillium tumbuh di biji-bijian dan makanan yang tersimpan lain
tergantung pada kecenderungan mereka untuk berkembang dalam kelembaban
rendah dan untuk menjajah cepat dengan dispersi udara sedangkan bijinya
cukup lembab Beberapa spesies. Beberapa spesies Penicillium mempengaruhi
buah-buahan dan umbi tanaman, termasuk P. expansum, apel dan pir, P.
digitatum, buah jeruk; dan P. allii, bawang putih Beberapa spesies diketahui
patogen pada hewan.; P. corylophilum, P. fellutanum, P. implicatum, P.
janthinellum, P. viridicatum, dan P. waksmanii yang patogen potensial dari
nyamuk P. marneffei, yang menyebabkan kematian pada tikus bambu Vietnam
(Rainy, 2011).
Salah satu mikroorganisme fungsional yang dikenal luas sebagai pupuk
biologis tanah dan biofungisida adalah jamur Trichoderma sp. Mikroorganisme
ini adalah jamur penghuni tanah yang dapat diisolasi dari perakaran tanaman
lapangan. Spesies Trichoderma disamping sebagai organisme pengurai, dapat
pula berfungsi sebagai agen hayati dan stimulator pertumbuhan tanaman.
Beberapa spesies Trichoderma telah dilaporkan sebagai agensia hayati seperti
T. Harzianum, T. Viridae, dan T. Konigii yang berspektrum luas pada berbagai
tanaman pertanian. Biakan jamur Trichoderma dalam media aplikatif seperti
dedak dapat diberikan ke areal pertanaman dan berlaku sebagai
biodekomposer, mendekomposisi limbah organik (rontokan dedaunan dan
ranting tua) menjadi kompos yang bermutu. Serta dapat berlaku sebagai
37

biofungisida. Trichoderma sp dapat menghambat pertumbuhan beberapa jamur


penyebab penyakit pada tanaman antara lain Rigidiforus lignosus, Fusarium
oxysporum, Rizoctonia solani, Sclerotium rolfsii, dll (Romy, 2011).
Pupuk organik adalah pupuk yang tersusun dari materi makhluk hidup,
seperti pelapukan sisa -sisa tanaman, hewan, dan manusia. Pupuk organik dapat
berbentuk padat atau cair yang digunakan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia,
dan biologi tanah. Pupuk organik mengandung banyak bahan organik daripada
kadar haranya. Sumber bahan organik dapat berupa kompos, pupuk hijau,
pupuk kandang, sisa panen (jerami, brangkasan, tongkol jagung, bagas tebu,
dan sabut kelapa), limbah ternak, limbah industri yang menggunakan bahan
pertanian, dan limbah kota (sampah) (anonim, 2017).
Limbah Baglog dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang berguna
memperbaiki struktur dan kesuburan tanah, meningkatkan daya simpan dan
daya serap air, memperbaiki kondisi biologi dan kimia tanah, memperkaya
unsur hara makro dan mikro serta tidak mencemari lingkungan dan aman bagi
manusia. Kandungan baglog jamur tiram ini meliputi, 90 % serbuk gergaji, 7
% bekatul, 1% kapur, 2 % tapioka dan 45-60 % volume air (Muchlisin, 2012).

C. ALAT, BAHAN DAN CARA KERJA


1. Alat
a. Polybag
b. Cethok
c. Cangkul
d. Ember.
2. Bahan
a. Umbi bawang merah
b. Baglog
c. Pupuk phonska.
d. Jamur penicillium.
38

3. Cara Kerja
a. Menyemaikan benih yang berasal dari biji selama 14 hari, sedangkan
umbi yang sudah disimpsn 2 bulan dapat ditanam langsung dengan
memotog ujungnya 0,5 m.
b. Menanam bawang merah menggunakan polybag dengan media campuran
baglog dan tanah (1:1).
c. Menaburkan PGPF pada media tanam, lalu memasukan media tanam
dalam polybag.
d. Menanam bawang merah dalam polybag.
e. Merawat setiap hari dengan menyiram dan meyiangi rumput yang
tumbuh disekitarnya.
f. Memberikan pupuk susulan setelah tanaman bawang merah berumur 2
minggu. Mengkocok tanaman bawang merah dengan pupuk organic cair.
g. Memanen bawang mera setelah 55-70 hari sejak tanam dengan ciri-ciri
bawang merah siap dipanaen apabila 60-70% daun sudah mulai rebah.
Mengeringkan terlebih dahulu umbi bawang merah yang telah dipanen.
Penjemuran bisa berlangsung hingga 7-14 hari. Melakukan pembalikan
setiap 2-3 hari. Menyimpan atau memasrkan bawang merah yang telah
kering, kadar air 85%.

D. HASIL PENGAMATAN
Tabel 4.1. Pengamatan Tanaman Bawang Merah dengan Perlakuan PGPF
(Plant Growth Promoting Fungi) Data A11 (Trichoderma).

Pengamatan Parameter Sampel Rerata

I II III IV V VI VII VIII IX

Tinggi 32 34. 34.5


Tanaman 37 36 32 39 33 36.5 30
.5 5
1 (3MST) (cm)
Jumlah 20 23 13 11 40 12 27 28 37 23
Daun (helai)
Tinggi 36 41 37 39 44 42 38 38 37 39.4
2 (4MST) Tanaman .5 .5 .5 .5 .5
(cm)
Jumlah 41 32 25 18 26 17 19 28 40 27
Daun(helai)
Panjang 30 33 27 29 34 34 30 31 26 30.5
Daun (cm)
.5
39

Lebar Daun 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0.3 0.5 0. 0.48


(cm)
5 5 4 4 6 6 6

Tinggi 41 44 38 41 45 48 49 41 40 43
Tanaman
(cm)
3 (5MST) Jumlah 40 38 21 23 53 43 46 37 17 35
Daun(helai)
Panjang 31 34 29 30 36 34 34 33 28 32
Daun (cm)
.5

Lebar Daun 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0.5 0.5 0. 0.52


(cm)
5 5 5 4 6 6 6

Tabel 4.2. Pengamatan Tanaman Bawang Merah dengan Perlakuan PGPF


(Plant Growth Promoting Fungi) Data B11 (Penicilium).

Pengamatan Parameter Sampel Rerata

I II III IV V VI VII VIII IX

Tinggi
32
Tanaman 15 35 10 33 31 32 33 32 28,2
,5
1 (3MST) (cm)
Jumlah
19 15 10 29 21 18 22 22 22 19,8
Daun (helai)
Tinggi
Tanaman 37 36 41 40 37 15 34 42 22 33,8
(cm)
Jumlah
21 28 26 35 30 10 25 18 19 23,6
Daun (helai)
2 (4MST)
Panjang 12
33 20 36 33 30 29 36 19 27,6
Daun (cm) ,5
Lebar Daun 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0.
0.5 0.6 0.5
(cm) 5 5 5 5 5 3 4
Tinggi
38 39
Tanaman 39 36 37 34 39 40 32 37.2
3 (5MST) .5 .5
(cm)
Jumlah
15 21 34 50 37 26 40 23 14 28.8
Daun(helai)
Panjang 34 31 31 37 28 37 34 29 34 32.8
Daun (cm) .5 .5
Lebar Daun 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0.4 0.4 0. 0.5
(cm) 5 5 5 7 5 4 6

E. PEMBAHASAN
Berdasarkan data hasil pengamatan yang telah dilakukan dapat diketahui
bahwa tanaman bawang merah yang diberi perlakuan dengan trichoderma
40

memperoleh hasil dengan rerata tinggi tanaman pada pengamatan ke 1 adalah


28,2 cm dan jumlah daun sebanyak 19 helai. Untuk pengamatan ke 2 didapat
rerata tinggi tanaman 33,8 cm, jumlah daun 23 helai, panjang daun 27,6 cm dan
lebar daun 0,5 cm. pada pengamatan ke 3 didapat data rerata tinggi tanaman
37,2 cm, jumlah daun 28 helai, panjang daun 32,8 cm, dan lebar daun 0,5 cm.
Pada bawang merah yang diberi perlakuan dengan Penicillium
memperoleh hasil dengan rerata tinggi tanaman pada pengamatan ke 1 adalah
34,5 cm dan jumlah daun sebanyak 23 helai. Untuk pengamatan ke 2 didapat
rerata tinggi tanaman 39,4 cm, jumlah daun 27 helai, panjang daun 30,5cm dan
lebar daun 0,48 cm. pada pengamatan ke 3 didapat data rerata tinggi tanaman
43 cm, jumlah daun 35 helai, panjang daun 32 cm, dan lebar daun 0,52 cm.
Berdasar data pada kelompok A11 yang mengunakan perlakuan dengan
Trichoderma dan B11 yang mengunakan perlakuan dengan Penicillium dapat
diketahui bahwa pemberian perlakuan dengan Trichoderma memberikan efek
pertumbuhan yang lebih baik dibanding dengan pemberian perlakuan dengan
Penicillium. Hal ini disebabkan karena Trichoderma berperan dalam
pemanjangan sel - sel akar yang menyebabkan serapan hara semakin tinggi.
Serapan hara yang tinggi mempengaruhi pertumbuhan tanaman karena nutrisi
tanaman terpenuhi, sehingga produksi tanaman juga semakin tinggi. Keadaan
lingkungan juga mendukung bakteri Trichoderma untuk berasosiasi pada
lingkungan tersebut. Jamur Trichoderma mengurai senyawa organik tertentu
yang terdapat pada tanah. Trichoderma bersifat antagonis terhadap patogen
jamur yang dapat menyerang tanaman (Bio-Fungisida).
Berbeda dengan pemberian Penicillium, Penicillium juga memberikan efek
pertumbuhan pada bawang merah namun penggunaan Penicillium hanya
memberikan efek yang tidak sebaik Trichoderma. Sebenarnya Penicillium
memiliki hormone IAA baik yang dibutuhkan tanah dan tanaman, yang
berpengaruh positif pada pertumbuhan tanaman.

F. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa
cara budidaya bawang merah dapat dilakukan pada lahan terbuka atau dalam
polybag. Penggunaan media tanam dan pupuk yang tepat dapat membantu
41

pertumbuhan bawang merah dengan baik. Pada penggunaan PGPF, diberikan


dua tipe perlakuan, yaitu dengan Trichoderma dan Penicillium. Hasil yang
pertumbuhan yang baik ditunjukkan pada perlakuan dengan Trichoderma, hal
ini disebabkan karena Trchoderma mempumendekomposisi bahan organik
pada baglog dan juga faktor lingkungan yang mendukung membantu
Trichoderma bekerja dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2017. Pupuk Organik. https://id.wikipedia.org/wiki/Pupuk_organik.


Diakses pada Sabtu tanggal 14 Maret 2017, pada pukul 22:10 WIB.

Muchlisin. 2012. Membedah Komposisi Media Tanam (Baglog) Jamur Tiram.


http://cincinjamurmurah.blogspot.com/p/membedah-komposisi-media-
tanambaglog_19.html. Diakses Kamis tanggal 12 Maret 2017.

Rainy. 2011. Penicillium.


http://tyqhatiktik.blogspot.co.id/2011/10/penicillium.html. Diakses pada
Senin tanggal 16 Maret 2017, pada pukul 22:10 WIB.

Romy. 2011. Trichoderma sp pupuk biologis.


http://www.gerbangpertanian.com/2011/02/trichoderma-sp-sebagai-
pupuk-biologis.html. Diakses pada Minggu tanggal 15 Maret 2017, pada
pukul 22:10 WIB.

Sunarjono, H.H. 2004. Bertanam 30 Jenis Sayuran. Panebar Swadaya. Jakarta.

Sutanto, R., 2002. Penerapan Pertanian Organik. Kanisius. Yogyakarta.


42

Sutaya, R.,G. Grubben, dan H. Sutarno. 1995. Pedoman Bertanam Sayuran


Dataran Rendah. UGM Press. Yogyakarta.

Tjitrosoepomo, Gembong.2010. Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada


University Press.