Anda di halaman 1dari 11

VISI

Menjadi Rumah Sakit Bedah Pilihan di Wilayah Malang Selatan dan sekitarnya Tahun 2020

MISI

Pelayanan, Pendidikan dan Kesejahteraan

MOTTO

Peduli Pasien dan Keluarga


serta
Kerjasama Untuk Kesejahteraan Bersama

MUTU (5S)

Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI (PPI)

NO PERNYATAAN JAWABAN
1. Bagaimana pemilahan sampah medis dan Tim PPI RS telah menetapkan pemisahan medis dan non
non medis/benda tajam/cair ? medis.
Sampah non medis dibuang ditempat sampah medis
berkantong plastik kuning.
Sampah non medis dibuang ditempat sampah medis
berkantong plastik hitam.
Sampah benda tajam dan jarum dibuang ditempat
sampah khusus (safety box).
Penggantian safety box jika sudah berisi box.

2. Apakah RS menerapkan pemisahan Tim PPI telah menetapkan pasien infeksius dan non
pasien infeksius dan non infeksius? infeksius sesuai dengan SPO perawatan pasien diruang
isolasi infeksi. Pasien ditempatkan sesuai dengan sumber
infeksi, apakah lewat kontak, airbone dan droplet.

3. Apa saja APD di RS. Khusus Bedah Hasta 1. Sarung tangan


Husada? 2. Masker
3. Kaca mata pelidung
4. Penutup kepala
5. Apron/celemek
6. Pelindung kaki
7. Gaun pelindung

4. Bagaimana cara Perawatan Jenazah? Sesuai dengan SPO perawatan jenazah


5. APD apa saja untuk petugas IGD? 1. Pelindung pernapasan : masker bedah
2. Pelindung tangan : sarung tangan steril
3. Pelindung kaki : sepatu boot
4. Pelindung badan : skoret

6. APD apa saja untuk petugas HCU ? 1. Pelindung mulut : masker


2. Pelindung tangan : sarung tangan biasa, sarung tangan
steril

7. APD apa saja untuk petugas IRJ ? 1. Pelindung pernapasan : masker bedah
2. Pelindung tangan : sarung tangan biasa, sarung tangan
steril

8. APD apa saja untuk petugas IRNA ? 1. Pelindung pernapasan: masker bedah
2. Pelindung tangan : sarung tangan, sarung tangan steril
3. Pelindung tubuh : skoret

9. APD apa saja untuk petugas 1. Pelindung pernapasan : masker


PERINATOLOGI ? 2. Pelindung tangan : sarung tangan

10. APD apa saja untuk petugas KABER ? 1. Pelindung mata : google
2. Pelindung tangan : sarung tangan rumah tangga,
sarung tangan steril
3. Pelindung kaki : sepatu boot
4. Pelindung badan : apron
5. Pelindung kepala : topi
6. Pelindung pernapasan : masker

11. APD apa saja untuk petugas IKO ? 1. Pelindung mata : google
2. Pelindung kepala : topi/tutup kelapa
3. Pelindung tangan : sarung tangan steril
4. Pelindung kaki : sepatu boot
5. Pelindung badan : apron
6. Pelindung mulut : masker

12. Bagaimana cara penyuntikan yang aman ? 1. Lakukan kebersihan tangan


2. Jelaskan tujuan dilakukannya injeksi dan beri tahu
pasien obat yang akan diberikan
3. Gunakan APD sesuai indikasi ( sarung tangan sekali
pakai yang tidak steril )
4. Lakukan disentifikasi pada area insersi
5. Pakai Spuit yang steril, sekali pakai pada tiap suntikan
untuk mencegah kontiminasi pada peralatan dan
terapi
6. Bila memungkinkan sekali pakai vial maupun
multidose
7. Tidak diperbolehkan menggunakan jarum atau spuit
yang dipakai ulang untuk mengambil obat dalam vial
multidose karena dapat menimbulkan kontiminasi
mikroba yang dapat menyebar saat obat dipakai untuk
pasien lain.
8. Lakukan prinsip pemberian obat dengan 7 benar
9. Lakukan insersi sesuai petunjuk pemberian (IM, IV,
SC, IC)
10. Lakukan disenfeksi pada area setelah insersi
11. Tidak melakukan recaping dengan kedua tangan
12. Lakukan recaping dengan tekhnik one hand (satu
tangan)
13. Buang spuit injeksi kedalam safety box oleh dokter
atau perawat yang melakukan insersi
14. Lepas APD
15. Lakukan Kebersihan tangan
16. Lakukan pencatatan dokumentasi pada lembar daftar
pemberi terapi

13. Bagaimana cara pelaporan Paramedik yang bertugas mengisi form yang sudah
phelebitis,ISK,dll ? disediakan, melaporkan ke IPCLN selanjutnya IPCLN ke
IPCN selanjutnya ke Direktur

14. Bagaimana alur pelaporan pajanan ? Prosedur penatalaksanaan tertusuk jarum bekas pakai
dan benda tajam:
1. Pertolongan Pertama
a. Jangan panik.
b. Penatalaksanaan lokasi terpapar :
1) Segera cuci bagian yang terpapar dengan
sabun antiseptik dan air mengalir
2) Bilas dengan air bila terpapar pada daerah
membran mukosa
3) Bilas dengan air atau cairan NaCl bila terpapar
pada daerah mata
2. Penanganan Lanjutan :
a. Bila terjadi di luar jam kerja segera ke Instalasi
Gawat Darurat (IGD) untuk penatalaksanaan
selanjutnya
b. Bila terjadi di dalam jam kerja segera ke Poliklinik
Penyakit Dalam dengan membawa surat konsul
dari dokter rungan unit kerja
3. Laporan dan Pendokumentasian:
a. Laporan meliputi: Hari, tanggal, jam, dimana,
bagaimana kejadian, bagian mana yang terkena,
penyebab, jenis sumber (darah, urine, faeces) dan
jumlah sumber yang mencemari (banyak/sedikit)
b. Tentukan status pasien sebagai sumber jarum dan
benda tajam (pasien dengan riwayat sakit apa)
c. Tentukan status petugas yang terpapar: Apakah
menderita hepatitis B, apakah pernah
mendapatkan imunisasi Hepatitis B, apakah sedang
hamil/menyusui
d. Jika tidak diketahui sumber paparannya. Petugas
yang terpapar diperiksa status HIV, HBV, HCV
e. Bila status pasien bebas HIV, HBV, HCV dan bukan
dalam masa inkubasi tidak perlu tindakan khusus
untuk petugas, tetapi bila diragukan dapat
dilakukan konseling
f. Pemberian Propilaksis Pasca Pajanan:
1) Pasca Pajanan HIV :
a) Apabila Status pasien HIV harus
diberikan Prolaksis Pasca Pajanan berupa obat
ARV 4 jam setelah paparan , maksimal 48 -72
jam diberikan selama 28 hari
b) Tes HIV diulang setelah 6 minggu, 3
bulan, dan 6 bulan.
2) Pasca Pajanan Hepatitis B
a) Jika pernah vaksinasi periksa anti HBs
(1) Anti HBs (+), titer 10, lakukan Booster
(2) Anti HBs (+), Titer 10, lakukan
observasi
b) Jika belum pernah vaksinasi maka :
(1) Segera vaksinasi sesuai standar
(2) Cek HBsAg bulan ke 1, bulan ke 3, bulan
ke 6
(3) Jika HbsAg (+), rujuk ke Gastrohepatologi
Penyakit Dalam untuk penanganan lebih
lanjut
3) Evaluasi pencemaran berdasarkan mode, rute,
beratnya yang terpapar:
a. Cairan resiko tinggi yang perlu
diwaspadai dan dapat menimbulkan
pencemaran adalah darah, cairan sperma,
sekret vagina, cairan cerebro spinal
b. Cairan tubuh yang tidak menimbulkan
pencemaran : urine, sputum non purulen,
ingus, air mata keringat, faeses
c. Evaluasi yang terpapar pasien terinfeksi
hepatitis B dan HIV, yang perlu di follow
up, dengan indikasi :
(1) Tertusuk jarum
(2) Terpapar cairan tubuh pada mukosa
(3) Terpapar pada kulit yang tidak utuh
(4) Tepapar serangga yang bekas
menggigit pasien dengan kasus
HIV,hepatitis B
Laporan kejadian di lakukan oleh unit kerja tempat
terjadinya kecelakaan kepada K3RS dan Komite PPIRS

PENGENDALIAN KEADAAN DARURAT

1. Bagaimana prosedur penggunaan APAR ? Prosedur penggunaan APAR ( alat pemadam api ringan)
Tarik keluar pengaman handle picu
Angkat nozel ke area bebas
Tekan handle picu sedikit sampai gas CO2 atau
powder keluar untuk memeriksa APAR bisa
berfungsi baik/tidak
Bawa APAR ke titik API
Arahkan nozel ketitik api dan tekan handle picu,
jarak APAR dan titik api 2 meter

2. Apa yang anda lakukan jika ada gempa 1. Jangan panik


bumi ? 2. Berdiri disudut ruangan
3. Berlindung dibawah meja yang kokoh
4. Bergerak kearah lorong atau koridor
5. Menjauh dari lemari/perabot yang mudah
jatuh/bergeser
6. Ambil benda yang dapat melindungi kepala
7. Jangan tergesah gesah keluar
8. Saat keluar turun ruangan pakai proses jalan evakuasi
dan lepas sepatu high hils

BCLS
1. Tanda tanda henti jantung ? 1. Tidak sadar
2. Tidan nafas
3. Tidak ada nadi carotis

2. Bagaimana prosedur RJP ? 1. Minimal 100x kompresi


2. Kedalam 5cm
3. Rocoil sempurna
4. Minimal interupsi
5. Jangan berikan ventilasi berlebihan

3. Kapan RJP dihentikan (selama bantuan 1. Maksimal 30 menit tidak ada respon
belum datang) 2. Tanda tanda pasti kematian positif
3. Petugas kelelahan & tidak ada pengganti

4. Apa yang anda lakukan jika adapasien 1. Respon pasien secara verbal (memanggil manggil
yang tergeletak dijalan ? pak-pak, dan respon non verbal dengan menepuk
nepuk bahu pasien.
2. Menelpon meminta bantuan tim Emergency (telf IGD
104) dengan menyebutkan :
Lokasi kejadian
Jumlah kejadian
Kejadiannya bagaimana
Sudah dilakukan apa saja
No yang bisa dihubungi
3. Lakukan RJP
Posisikan pasien ditempat yang aman, keras dan
rata
Penolong berada didekat bahu sebelah kanan
pasien
Cek nadi brachialis untuk bayi cek selama 10
detik jika tidak teraba lakukan RJP
Cek nadi untuk dewasa di nadi carotis cek selama
10 detik jika tidak teraba lakukan RJP, letakkan
pangkal telapak tangan di dada pasien (laki laki :
diantara 2 puting susu dan wanita : susuri iga di
bagian bawah sampai proccesus xyphoideus 2 jari
diatasnya)
Lakukan pijatan sebanyak 30x (kompresi) dan 2x
nafas buatan (ventilasi), 30:2 (Selama 1) Siklus
Sampai 5x Siklus. Selanjutnya cek nadi carotis
bila nadi carotis tidak teraba maka lakukan RJP
lagi
Bila nadi sudah teraba, cek nafas dengan look,
listen & feel, bila ada nafas yang adekuat lakukan
recovery position/miring kiri
Bila nadi carotis (+) nafas (-)/tidak adekuat
lakukan rescue breathing dengan hitungan
1000,2000,3000,4000,5000 ventilasi diulang 10x
selanjutnya evaluasi ulang, jika nafas sudah
adekuat lakukan recovercy position/miring kiri.

HPK (HAK PASIEN DAN KELUARGA)

1. Tahukah anda tentang bagaimana hak RS. Khusus Bedah Hasta Husada bertanggung jawab untuk
pasien di RS ? melindungi dan mengedepankan hak pasien dan keluarga
sesuai dengan UU No. 44 Tahun 2009 Tentang RS yaitu :
Setiap Paien Mempunyai Hak:

1. Memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang


berlaku di Rumah Sakit.
2. Memperoleh informasi tentang hak dan kewajiban pasien.
3. Memperoleh layanan yang manusiawi, adil, jujur, dan tanpa
diskriminasi.
4. Memperoleh pelayanan kesehatan bermutu sesuai dengan
standar profesi dan standar prosedur operasional.
5. Memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga pasien
terhindar dari kerugian fisik dan materi;
6. Mengajukan pengaduan atas kualitas pelayanan yang
didapatkan.
7. Memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan
keinginannya dan peraturan yang berlaku di rumah sakit.
8. Meminta konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada
dokter lain (second opinion) yang memiliki Surat Ijin Praktik
(SIP) baik di dalam maupun di luar rumah sakit.
9. Mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita
termasuk data-data medisnya.
10. Memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan yang akan
dilakukan oleh tenaga kesehatan terhadap penyakit yang
dideritanya.
11. Mendapat informasi yang meliputi diagnosis dan tata cara
tindakan medis, tujuan tindakan medis, alternatif tindakan,
risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi, dan prognosis
terhadap tindakan yang dilakukan serta perkiraan biaya
pengobatan.
12. Didampingi keluarganya dalam keadaan kritis.
13. Menjalankan ibadah sesuai agama atau kepercayaan yang
dianutnya selama hal itu tidak mengganggu pasien lainnya.
14. Memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam
perawatan di Rumah Sakit.
15. Mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakuan Rumah Sakit
terhadap dirinya.
16. Menolak pelayanan bimbingan rohani yang tidak sesuai dengan
agama dan kepercayaan yang dianutnya.
17. Menggugat dan atau menuntut rumah sakit apabila rumah sakit
itu diduga memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan
standar baik secara perdata ataupun pidana.
18. Mengeluhkan pelayanan rumah sakit yang tidak sesuai dengan
standar pelayanan melalui media cetak dan elektronik sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

2. Bagiamana prosedur pemberian informasi Pemberian informasi dan edukasi diberikan sesuai
dan edukasi pada pasien dan keluarga ? kebutuhan dan diberikan oleh DPJP, dokter ruangan, dan
diberikan oleh petugas yang berkompetensi yang sudah
diberi delegasi sesuai kewenangannya

3. Apa kewajiban dari pasien ? a. Pasien dan keluarganya berkewajiban untuk mentaati
segala peraturan dan tata tertib rumah skait
b. Pasien berkewajiban untuk mematuhi segala instruksi
dokter dan perawat dalam pengobatannya.
c. Pasien berkewajiban memberikan informasi dengan
jujur dan selengkapnya tentang penyakit yang diderita
kepada dokter yang merawat.
d. Pasien dan atau penanggungnya berkewajiban untuk
melunasi semua imbalan atas jasa pelayanan rumah
sakit/dokter
e. Pasien dan atau penanggungnya berkewajiban
memenuhi hal-hal yang telah disepakati/perjanjian yang
telah dibuatnya.
4. Bagiamana prosedur pemberian informed Persetujuan tindakan kedokteran (acuan : manual
consent kepada pasien dan keluarga ? persetujuan tindakan kedokteran dari konsil kedokteran
Indonesia)
Pernyataan persetujuan informed consent pasien dari pasen
ditetapkan RS dan dilaksanalan oleh DPJP, dokter ruangan
dan petugas yang diberi delegasi, dalam bahasa yang
dipahami pasien, SPO pemberian informed consent

5. Siapa yang memberikan informasi DPJP


tentang persetujuan tindakan kedokteran
?
6. Pada saat apa saja informed consent Informed Consent diperoleh sebelum tindakan anastesi,
diberikan ? penggunaan darah atau produk darah dan tindakan serta
pengobatan lain yang berisiko tinggi.
Semua tindakan kedokteran harus mendapat persetujuan
pasien dan atau keluarga setelah mendapat penjelasan yang
cukup tentang hal hal yang berkaitan dengan tindakan
tersebut dari DPJP

7. Bagaimana pasien mendapat pelayanan Menyanyakan pasien apakah punya rohaniawan sendiri,
kerohanian di RS ? pasien yang membutuhkan pelayanan kerohanian akan
mengisi formulir permintaan pelayanan kerohanian,
kemudian perawat akan mengubungi petugas terkait sesuai
daftar yang ada. Setelah kontak dengan rohaniawan
menyampaikan ke pasien dan keluarga tentang waktu dan
jam kunjung rohaniawan.
Setelah kunjungan rohaniawan meminta tanda tangan
rohaniawan, keluarga, dan saksi dan mengisi formulir
kerohanian yang ada di rekam medis.

8. Bagaimana RS melindungi kebutuhan Saat dilakukan pemeriksaan, konsultasi, tatalaksana


privasi pasien transfer pasien, antara pasien akan dibatasi dengan tirai,
diselimuti, yang boleh ikut pemeriksaan adalah orang yang
diberi wewenang pasien.

9. Bagaimana cara memberikan kebebasan Membiarkan pasien beribadah sesuai dengan agama masing
kepada pasien untuk beribadah ? masing.

10. Bagaiamana RS melindungi pasien Kriteria kekerasan fisik dilingkungan RS terdiri atas :
terhadap kekerasan fisik ? pelecehan seksual, pemukulan, penelantaran dan
pemaksaan fisik terhadap pasien yang baik dilakukan oleh
penunggu/pengunjung pasien maupun petugas.
Kecuali terdapat indikasi, petugas kesehatan dapat
melakukan pemaksaan fisik (seperti pengekangan) sesuai
standart medis dan etika RS yang berlaku.
Setiap petugas keamanan sudah terlatih untuk menangani
hal tersebut.
Setiap penunggu/pengunjung menggunakan tanda pengenal
kartu visitor/pengunjung dan untuk karyawan yang berada
di RS harus menggunakan tanda pengenal name tag
karyawan, untuk pasien. Pemantauan dengan CCTV. Pada
bayi memakai KIB dan jika pulang diberi kartu KRS.

11. Jika ada px datang ke IGD dengan tidak Kita telepon keamanan, setelah keamanan datang kita lepas
sabar, tidak didampingi keluarga dan barang berharga pasien dengan disaksikan oleh petugas
memakai perhiasan ? keamanan dan saksi, kita hitung jumlah barang, nama
barang, kondisi barang, kalau perlu kita gambar dan
mengisi form yang tersedia. Setelah itu barang disimpan di
tempat penyimpanan (pos satpam) form rangkap 2 disimpan
di status RM dan loker penyimpanan barang.

12. Siapa yang berhak mengambil barang px? Yang berhak mengambil barang pasien, jika pasien tidak
Dengan syarat apa saja ? sadar atau meninggal maka yang berhak ahli waris sesuai
dengan yang tertera di KK. Dengan menyerahkan KK dan
KTP.

13. Jam kunjung pasien ? Pagi Jam 10.00-12.00


Sore Jam 16.00-18.00
14. Bagaimana jika ada pengunjung yang Petugas keamanan menanyakan nama, alamat dan pasien
berkunjung diluar jam kunjung pasien ? siapa yang akan dikunjungi setelah itu petugas keamanan :
Menjelaskan tata tertib diluar jam berkunjung
Menghubungi perawat yang di counter dan
meminta perawat untuk menanyakan apakan
pasien mau dikunjungi a[a tidak ?
Jika setuju dikunjungi pengunjung mengisi buku
pengunjung
Petugas keamanan meminta KTP (Kartu Identitas
yang berlaku di Indonesia)
Jika kunjungan selesai pengunjung untuk
mengembalikan dan untuk KTP pengunjung
dikembalikan kepengunjung

15. Siapa sajakan orang yang beresiko tinggi 1. Balita usia 0-5 tahun
yang ada di Rumah Sakit Khusus Bedah 2. Anak usia 5-11 tahun
Hasta Husada ? 3. Lansia >55 tahun
4. Narapidana
5. Korban asusilah
6. Pasien koma, tidak sadar
7. Korban KDRT
8. Pasien cacar mental maupun fisik

16. Jika anda menerima pasien resiko tinggi Menanyakan pasien termasuk resiko apa, melihat apakah
dari unit lain apa yang anda lakukan ? RM sudah distempel resiko tinggi, meminta keluarga untuk
selalu mendampingi pasien, dan menghubungi petugas
keamanan melaporkan jika ada pasien beresiko tinggi jika
pasien tersabut korban kekerasan, asusila dan yang lain
yang membutuhkan perlindungan polisi maka keamanan
akan menghubungi polisi.

17 Siapakan yang berhak menyampaikan 1. DPJP


. edukasi ke pasien ? 2. Dokter ruangan
3. Petugas yang diberi wewenang delegasi sesuai
kewenangannya
18. Siapa yang berhak menandatangani surat 1. Pasien
persetujuan tindakan ? 2. Suami/Istri
3. Orang tua untuk anak-anak
4. Anak untuk pasien lansia

19. Apa yang anda lakukan jika ada pasien Menghubungi tim marketing dan humas dan mengajak
dan keluarga complain ? pasien keruangan yang tenang dan tersedia minum snack,
tim humas dan marketing menangani kompalin sesuai
prosedur Rumah Sakit Khusus Bedah Hasta Husada
Minta pelapor mengisi buku complain
Didengarkan
Mencari data
Diselesaikan
Jika dalam waktu 3 hari pelapor tidak puas dengan hasil
penjelasan pihak marketing dan humas maka penyelesaian
akan dilakukan oleh direktur.

20. Apa yang dilakukan RS jika DPJP menjelaskan tentang kondisi pasien kepada
memberhentikan tindakan (resusitasi) pasien/keluarga jika sewaktu waktu membutuhkan
atau pengobatan yang diberikan ? tindakan RJP, jika pasien/keluarga menolak dilakukan RJP
maka pasien/keluarga diminta mengisi form DNR, setelah
itu petugas konfirmasi DPJP, setelah itu DPJP akan
mengeluarkan form perintah DNR, form disimpan di RM,
petugas memasang gelang warna ungu, jika kondisi pasien
atau sewaktu waktu pasien/keluarga berubah fikiran ingin
dilakukan RJP maka pasien/keluarga diminta mengisi form
pencabutan DNR, setelah itu petugas konfirmasi DPJP,
setelah itu DPJP akan mengeluarkan form perintah
dilakukan RJP, form disimpan di RM. Petugas melepaskan
dan menggunting kecil kecil gelang

KUALIFIKASI PENDIDIKAN DAN STAF (KPS)


1. Dapatkan anda menjelaskan uraian tugas Uraian jabatan adalah proses, metode dan teknik untuk
anda ? memperoleh data jabatan yang diolah menjadi informasi
jabatan dan disajikan untuk kepentingan program pegawai
serta memberikan umpan balik bagi organisasi dan tata
laksana.
Uraian jabatan staf bersifat personal tergantung pada
jabatan yang dimiliki.
Secara umum uraian jabatan tersebut terdiri dari nama,
kabatan.
2. Bagaimana anda mengetahui Dokter Dengan melihat SPK (surat penugasan klinis) da RKK
tersebut berkompeten dibidangnya ? (rincian kewenangan klinis)

3. Bagaimana alur karyawan masuk ? 1. Dilakukan recruitmen


2. Pengumuman hasil recruitmen
3. Dilakukan Orientasi umum 1 hari dan orientasi
khusus 5 hari
4. Dilakukan evaluasi
5. Dilakukan magang 3 bulan
6. Dilakukan evaluasi
7. Ditengah magang akhir bulan ke 2 dilakukan
kredensial
8. Dilakukan evaluasi
9. Konrak 1 tahun disertai SPKK dan RKKK (untuk
paramedic)
Kontrak 1 tahun disertai SPK dan RKK (untuk
medik)
10. Dilakukan evaluasi
11. Kontrak 1 tahun ke 2
12. Dilakukan evaluasi
13. Kontrak tetap

SASARAN KESELAMATAN PASIEN (SKP)

1 Apa anda mengetahui tentang sasaran Ada 6 sasaran keselamatan pasien di RS :


keselamatan pasien di RS? ( Acuan : peraturan menteri kesehatan RI No. 1691 tahun
2011)
Ketepatan identifikasi pasien
Peningkatan komunikasi yang efektif
Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai
Kepastian tepat lokasi, tepat prosedur, tepat pasien
operasi
Pengurangan resiko infeksi terkait pelayanan
kesehatan
Pengurangan pasien resiko jatuh

2. Bagaimana prosedur di RS dalam Setiap pasien yang masuk rawat inap dipasang
mengidentifikasi pasien ? gelang identifikasi pasien
Gelang dipasang pada tangan kiri, jika tidak bisa di
tangan kanan, jika tidak bisa dikaki kiri, jika tidak
bisa di kaki kanan, jika tidak bisa baju pasien,
badan pasien
Untuk pasien yang menjalani operasi di area
pemasangan gelang digunting di taruh di RM
pasien jika operasi selesai maka dibuatkan lagi
gelang identifikasi dan gelang yang di RM di buang
dengan digunting kecil kecil
Ada 3 identitas yaitu menggunakan NAMA, TGL
LAHIR, NO RM, yang disesuaikan dengan e
KTP/KTP dan sesuai dengan yang tertulis di status
RM pasien
Untuk neonatal penulisan di gelang
mencantumkan, No.RM Ibu, Nama Bayi tanggal
lahir dan no RM bayi
Tanpa pengecualian prosedur identifikasi dapat
dilakukan pada kondisi kegawatdaruratan pasien
di IGD,HCU, dan Kamar Operasi dengan tetap
memperhatikan data pada gelang identifikasi
pasien
Kalau lupa tanggal lahir tulis 00/00/1989

3. Jika dalam ruangan ada pasien yang Maka di gelang dan di RM pasien diberi tanda !!!
nama sama apa yang anda lakukan ?

4. Kapan dilakukan identifikasi pasien ? Sebelum pemberian obat


Sebelum pemberian produk darah
Sebelum mengambil sample darah
Sebelum pengambilan spesiment
Sebelum dilakukan tindakan medis

5. Kapan dilakukan cek gelang identifikasi ? Transfer pasien di luar dan di dalam RS
Operan jaga

6. Gelang identifikasi apa saja yang Gelang identitas


digunakan di RS? Pasien laki laki : BIRU MUDA
Pasien perempuan : MERAH MUDA
Gelang warna KUNING : resiko pasien jatuh (resiko
sedang & tinggi)
Gelang warna MERAH : alergi
Gelag ungu : DNR

7. Bagaimana prosedur pemasangan gelang SOP pemasangan gelang identifikasi pasien


identifikasi ?

8. Dapatkan anda menjelaskan tentang cara RS menggunakan tekhnik SBAR ( Situation-


komunikasi yang efektif di RS ? background-assesment-recommendation) dalam
melaporkan kondisi pasien untuk meningkatkan
efektifitas komunikasi antar pemberi layanan.
Situation : kondisi terkini yang terjadi
pada pasien
Background : informasi penting apa yang
berhubungan dengan kondisi pasien
terkini
Assessment : hasil pengkajian kondisi
pasien terkini
Recommendation : apa yang perlu
dilakukan untuk mengatasi maslaah saat
ini
RS konsisten dalam melakukan verifikasi terhadap
akurasi dari komunikasi lisan dengan catatan,
baca kembali dan konfirmasi ulang (CABAK)
terhadap perintah yang diberikan
Pelaporan kondisi pasien kepada DPJP pasien
menjadi tanggung jawab dokter ruangan yang
bertugas

9. Apa yang anda lakukan sesudan Memberi stemple setelah TULBAKON


konfirmasi tentang pasien ?

10. Bagaimana cara pemesanan produk Pemesanan produk darah menggunakan lembar permintaan
darah ? darah dan di isi lengkap datanya, stempel konfirmasi 2
petugas (dibalik lembar) harus sudah terisi, bila lembar
permintaan sudah terisi lengkap diserahkan ke petugas
laboratorium sekalian kroscek data

11. Apa yang anda lakukan sebelum Ambil lembar pemberian produk darah kroscek kebenaran
memasukkan produk darah ? data yang ada dikantong darah dengan di status RM,
sebelum memasukkan produk darah ke pasien lakukan
identifikasi ulang antara produk darah dengan data yang
ada di status RM dengan gelang identifikasi pasien

12. Apa yang termasuk obat-obat high alert Obat obat yang termasuk dalam high alert medication
medication di RS ? adalah :
1. Elektrolit paket : KCL,MgSO4, Natrium
bicarbonate, NaCL 0,3%
2. NORUM (nama obat rupa ucapan)/LASA (look alike
sound alike) yaitu obat obatan yang terlihat mirip
dan kedengarannya mirip
Pengelolaan high alert medication :
Penyimpanan dilokasi khusus dengan akses
terbatas dan diberi penandaan yang jelas berupa
stiker bewarna merah bertuliskan high alert
NaCL 0.3% dan KCL tidak boleh disimpan diruang
perawatan kecuali di unit perawatan HCU
Ruang perawatan yang boleh menyimpan elektrolit
pekat disimpan dilokasi dengan akses terbatas bagi
petugas yang diberi wewenang
Obat diberi penandaan yang jelas berupa stiker
warna merah bertiliskan high alert

13. Bagaimana cara pengecekan obat high Dengan double cek


alert yang akan diberikan pada px ?

14. Bagaimana cara pemesanan/pengambilan Saat serah terima farmasi dengan bidan/perawat mengisi
ke instalasi farmasi ? double cek penyerahan barang

15. Bagaimana cara konfirmasi jika Perawat yang membuka emergency kids segera menelpon
emergency kids telah dibuka ? petugas apotek, setelah itu petugas apotek akan keruangan
melakukan chek dan melengkapi obat dan mengunci ulang
emergency kids

16. Sebutkan 7 benar pemberian obat ? 1. Benar nama obat


2. Benar dosis
3. Benar waktu
4. Benar rute
5. Benar pasien
6. Benar informasi
7. Benar dokumentasi

17. Bagaimana prosedur penandaan lokasi 1. Orang bertanggung jawab untuk membuat tanda
yang akan dioperasi di RS ini ? pada pasien adalah operator yang akan melakukan
tindakan operasi
2. Operator yang membuat tanda itu harus hadir
pada saat operasi tersebut
3. Penandaan titik yang akan di operasi adalah
sebelum pasien dipindahkan keruangan dimana
operasi akan dilakukan, pasien ikut dilibatkan,
terjaga dan sadar, sebaiknya dilakukan sebelum
pemberian obat pre-medikasi.
4. Tanda operasi berupa
a) Bulat : sisi (laterality), struktur multiple, (jari
tangan jari kaki, lesi) atau multiple level (
tulang belakang)
b) Panah : pada mata, telinga, hidung
5. Lokasi untuk semua prosedur yang melibatkan
sayatan, tusukan perkuat perkuatan atau
penyisipan instrument harus ditandai
6. Semua penandaan harus dilakukan bersama saat
pengecekan hasil pencitraan pasien diagnosis
misalnya sinar X, scan, pencitraan elektrolit atau
hasil tes lainnya dan pastikan dengan catatan
medis pasien dan gelang identitas pasien
7. Lokasi operasi di tandai pada semua kasus
termasuk sisi (lasterality), struktur multiple, (jari
tangan jari kaki, lesi ) atau multiple level (tulang
belakang)
8. Beberapa kasus yang tidak memerlukan
penandaan
a) SC
b) Operasi jantung
c) Apendictomy

18. Tahukan anda bagaimana prosedur check Proses time out ini merupakan standart operasi yang
list keselamatan operasi ? meliputi pembacaan dan penandaan formulir
1) Sign In yang dilakukan sebelum pasien di anastesi
(induksi) di diholding area
2) Timh Out yang dilakukan diruang operasi sesaat
sebelum incise pasien operasi
3) Sign Out sebelum meninggalkan ruang operasi
Proses sign ini, time out sign out dipandu oleh perawat
sirekuler

19. Bagaimana standart prosedur cuci tangan Semua petugas RS termasuk Dokter melakukan 6 langkah
yang benar di RS ? cuci tangan
Ada 2 cara cuci tangan yaitu :
1. HANDWASH : dengan air mengalir waktunya 10-60
detik
2. HANDRUB : dengan gel waktunya 20-30 detik
Kebersihan tangan pada 5 moment yang telah dilakukan
yakni :
1. Sebelum kontak dengan pasien
2. Sebelum melakukan tindakan asepsis
3. Sesudah kontak dengan pasien
4. Sesudah terkena cairan tubuh pasien
5. Sesudah kontak dengan lingkungan pasien

20. Bagaimana cara pengkajian pasien resiko Menggunakan metode pengkajian resiko jatuh yang telah
jatuh ? ditetapkan oleh RS. Khusus Bedah Hasta Husada
Humpty dumpty : pada pasien anak
Morse scall : pada pasien dewasa
Sidnay scoring : pada pasien lansia
GET UP & GO untuk pasien rawat jalan
Pengkajian tersebut dilakukan oleh perawat dan kemudian
dapat dijadikan dasar pemberian rekomendasi kepada
Dokter untuk tatalaksana lebih lanjut.
Perawat memasang gelang bewarna kuning dan
mengedukasi pasien dan keluarga maksud pemasangan
gelang tersebut
SOP PENGKAJIAN DAN PENCEGAHAN PASIEN RESIKO
JATUH
Pengkajian ulang dilakukan oleh perawat secara berkala
sesuai hasil penilaian resiko jatuh pasien, jika tinggi 2 hari
sekali, sedang dan rendah jika terjadi perubahan kondisi
pasien atau pengobatan

21. Apa yang dilakukan jika ada pasienb Dilakukan penatalaksanaan pasien jatuh dan membuat
yang jatuh ? laporan insiden keselamatan pasien.

Hak Pasien dalam UU No 44 / 2009 tentang Rumah Sakit (Pasal 32 UU 44/2009) menyebutkan bahwa setiap pasien mempunyai
hak sebagai berikut:

1. Memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di Rumah Sakit.
2. Memperoleh informasi tentang hak dan kewajiban pasien.
3. Memperoleh layanan yang manusiawi, adil, jujur, dan tanpa diskriminasi.
4. Memperoleh pelayanan kesehatan bermutu sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional.
5. Memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga pasien terhindar dari kerugian fisik dan materi;
6. Mengajukan pengaduan atas kualitas pelayanan yang didapatkan.
7. Memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan peraturan yang berlaku di rumah sakit.
8. Meminta konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter lain (second opinion) yang memiliki Surat Ijin Praktik
(SIP) baik di dalam maupun di luar rumah sakit.
9. Mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-data medisnya.
10. Memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan yang akan dilakukan oleh tenaga kesehatan terhadap penyakit yang
dideritanya.
11. Mendapat informasi yang meliputi diagnosis dan tata cara tindakan medis, tujuan tindakan medis, alternatif tindakan, risiko dan
komplikasi yang mungkin terjadi, dan prognosis terhadap tindakan yang dilakukan serta perkiraan biaya pengobatan.
12. Didampingi keluarganya dalam keadaan kritis.
13. Menjalankan ibadah sesuai agama atau kepercayaan yang dianutnya selama hal itu tidak mengganggu pasien lainnya.
14. Memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di Rumah Sakit.
15. Mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakuan Rumah Sakit terhadap dirinya.
16. Menolak pelayanan bimbingan rohani yang tidak sesuai dengan agama dan kepercayaan yang dianutnya.
17. Menggugat dan atau menuntut rumah sakit apabila rumah sakit itu diduga memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan
standar baik secara perdata ataupun pidana.
18. Mengeluhkan pelayanan rumah sakit yang tidak sesuai dengan standar pelayanan melalui media cetak dan elektronik sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.