Anda di halaman 1dari 4

TEKNIK ARSITEKTUR

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS HASANUDDIN

EKA WAHYUNI ABDU RAHMAN


D51116026
MASJID AMIRUL
MUKMININ
FISIKA BANGUNAN (B)
PENCAHAYAAN ALAMI MASJID AMIRUL MUKMININ
MAKASSAR

Masjid Amirul Mukminin ini tergolong masih baru di Makassar, diresmikan pada tanggal
21 Desember 2012. Kapasitas masjid ini dapat menampung sekitar 400 jamaah. Masjid ini
memiliki dua menara dan dua kubah dengan diameter 9 meter. Nama Amirul Mukminin dari
bahasa Arab yang berarti Pemimpin Kaum Mukmin. Dibangun di Kawasan Wisata Pantai Losari,
di tengah kota Makassar. Dibangun di atas laut, sehingga oleh masyarakat disebut sebagai
Masjid Terapung (Floating Mosque). Akan terlihat seperti terapung pada saat pasang tinggi.
Seluruh bangunan dan jembatan akses menuju bangunan masjid ditopang dengan tiang/kolom
beton.

Indonesia merupakan daerah beriklim tropis yang memiliki ketersediaan cahaya yang
berlimpah, sehingga perlu pemikiran pada Arsitek memanfaatkan cahaya ini sebagai salah satu
faktor dalam mendesain bangunan hemat energi, terutama pada bangunan berlantai banyak.
Konsep arsitektur hemat energi adalah mengoptimasikan sistem tata cahaya dengan
mempertimbangkan integrasi antara pencahayaan alami (sinar matahari) dan buatan (lampu).
Penggunaan energi sebagai sumber penerangan akan berkurang apabila pencahayaan alami
digunakan secara maksimal dengan mempertim-bangkan efek negative antara lain: kesilauan
(glare), kecermelangan (brightnes) dan peng-hawaan (thermal). Beberapa variabel yang
mempengaruhi pemanfaatan pencahayaan alami antara lain: orientasi bangunan, luas bukaan
dinding dan fasade bangunan.

Indonesia merupakan daerah beriklim tropis Lembab dengan karakteristik radiasi tinggi
(80% pertahun), kelembaban relatif tingggi (60%-80%) dan kecepatan angin (velocity) tidak
stabil (diperkotaan antara 0->30 m/detik) (Satwiko 2009).
Desain pencahayaan merupakan salah satu prioritas dalam merancang bangunan gedung
dan pemanfaatan pencahayaan alami dapat menurunkan pemakaian energi, namun perlu
memperhatikan produktifitas kerja pengguna ruang dengan mempertimbangkan rekomendasi
standard iluminasi (level of illuminance), kesilauan(glare), tingkat kecermelangan (brightness)
dan efek penghawaan (thermal).Perancangan pencahayaan alami siang hari dapat dipengaruhi
oleh pencahayaan alami dan luas lubang cahaya dan letak dan bentuk lubang cahaya (SNI 03-
2396-2001).

Menurut SNI 03-2396-2001, tingkat pencahaya-an alami di dalam ruangan ditentukan


oleh tingkat pencahayaan langit pada bidang datar di lapangan terbuka pada waktu yang sama.
Perbandingan tingkat pencahayaan alami di da-lam ruangan dan pencahayaan alami pada
bidang datar di lapangan terbuka ditentukan oleh:
(a) Hubungan geometris antara titik ukur dan lubang cahaya;
(b) Ukuran dan posisi lubang cahaya;
(c) Distribusi terang langit;
(d) Bagian langit yang dapat dilihat dari titik ukur.

Pencahayaan pada Masjid Amirul Mukminin :


Fasade dari Masjid Amirul Mukminin bisa dikatakan simple namun pada bentuk dan
desig bangunan ini terbilang unik. Bentuk luaran bangunan yang tidak kaku (kotak) namun
berbentuk seperti lingkaran. Letak Masjid Amirul Mukminin yang berada pada daerah hasil
reklamasi sehingga bisa dikatakan bahwa sangat mudah menerima pancaran sinar matahari
sehingga pencahayaan alami pada pagi hingga petang bisa dikatakan cukup.
Bangunan ini terdiri dari 2 lantai , pada
lantai dasar diperuntukkan untuk tempat sholat
kaum adam, pada sisi kanan dan kiri lantai dasar
terdapat tempat wudhu pria dan wanita yang
terpisah. Di lantai 1 diperuntukkan untuk tempat
sholat kaum hawa saja.

Akses ke lantai 1 digunakan tangga yang


berbentuk setengah lingkaran dengan
pemandangan langsung yang indah. Pada lantai 1
, lantai tidak menutupi semua bidang namun
terdapat void .

Dengan bentuk yang sedemikian rupa,


Masjid Amirul Mukminin memiliki penghawaan
dan pencahayaan alami yang cukup baik.

Pencahayaan alami pada lantai dasar dan


lantai 1 Masjid Amirul Mukminin bisa dikatakan
cukup baik , karena pada siang hari sama sekali
tidak digunakan pencahayaan buatan.

Terkecuali pada tempat wudhu (tempat


wudhu pria dan tempat wudhu wanita) di Masjid
Amirul Mukminin mengalami kekurangan
pencahayaan alami, walaupun pada siang hari
bagian dari bangunan tersebut tetap
menggunakan pencahayaan buatan karena
kekurangan cahaya. Menurut saya, hal tersebut
disebabkan karena letak tempat wudhu yang
berada di antaran lantai dasar (sisi dalam
bangunan) dengan akses tangga ke lantai satu
(sisi luar bangunan), sehingga tempat wudhu
tertutupi dari akses cahaya alami .
Pada saat petang hingga langit gelap ,
pencahayaan di Masjid Amirul Mukminin sepenuhnya menggunakan pencahayaan buatan.
Pada desain interior Masjid Amirul Mukminin digunakan lampu-lampu bulat dengan jumlah
yang bisa dibilang cukup banyak sebagai pencahayaan buatan yang ingin ditonjolkan , namun
tetap di lengkapi dengan lampu downlight pada langit-langit lantai 1. Pada tempat wudhu
digunakan lampu downlight yang cukup sehingga pengguna tempat wudhu tidak kekurangan
cahaya.