Anda di halaman 1dari 13

TUGAS PAPER RADIOLOGI

PNEUMONIA

Oleh:

Ida Ayu Arie Krisnayanti

H1A010038

Pembimbing:

dr. H. Hasan Amin, Sp. Rad

BAGIAN/SMF RADIOLOGI RSUP NTB

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MATARAM

2014
BAB I

PENDAHULUAN

Pneumonia merupakan penyakit dari paru-paru dan sistem pernapasan dimana


alveoli(mikroskopik udara mengisi kantong dari paru yang bertanggung jawab
untuk menyerap oksigen dari atmosfer) menjadi radang dan dengan penimbunan
cairan. Pneumonia disebabkan oleh berbagai macam sebab, meliputi infeksi
karena bakteri, virus, jamur atau parasit, juga dapat terjadi akibat bahan kimia atau
kerusakan fisik paru yang secara tak langsung bersal dari penyakit lain seperti
kanker paru atau penggunaan alkohol.
Di Indonesia, influenza dan pneumonia merupakan penyebab kematian nomor
enam. Dari hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga Depkes tahun 2001, penyakit
infeksi saluran napas bagian bawah menempati urutan ke-2 sebagai penyebab
kematian (Departemen Ilmu Penyakit Paru FK Unair, 2010). Laporan WHO 1999
menyebutkan bahwa penyebab kematian tertinggi akibat penyakit infeksi di dunia
adalah infeksi saluran napas akut termasuk pneumonia dan influenza. Insidensi
pneumonia komuniti di Amerika adalah 12 kasus per 1000 orang per tahun dan
merupakan penyebab kematian utama akibat infeksi pada orang dewasa di negara
itu. Angka kematian akibat pneumonia di Amerika adalah 10% (Perhimpunana
Dokter Paru Indonesia, 2003).
Gejala khas yang berhubungan dengan pneumonia meliputi batuk, nyeri dada,
demam, dan sesak nafas. Alat diagnosa meliputi sinar-x dan pemeriksaan sputum.
Pengobatan tergantung penyebab dari pneumonia; pneumonia kerena bakteri
diobati dengan antibiotika. Pneumonia merupakan penyakit yang umumnya
terjadi pada semua kelompok umur, dan menunjukan penyebab kematian pada
orang tua dan orang dengan penyakit kronik. Prognosis untuk tiap orang berbeda
tergantung dari jenis pneumonia, pengobatan yang tepat, ada tidaknya komplikasi
serta kesehatan orang tersebut.
BAB II
ISI

Definisi
Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, sebelah distal
dari bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius dan alveoli.
Pneumonia menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan mengganggu pertukaran
gas setempat. Pneumonia merupakan salah satu penyakit yang termasuk infeksi
saluran napas bawah akut (ISNBA) (Dahlan, 2009).
Menurut Muttaqin (2008) pneumonia adalah proses inflamasi parenkim paru
yang terdapat konsolidasi dan terjadi pengisian alveoli oleh eksudat yang
disebabkan oleh bakteri, virus, dan bendabenda asing. Sedangkan peradangan
paru yang disebabkan oleh penyebab noninfeksi (bahan kimia, radiasi, obat-
obatan dan lain-lain) lazim disebut dengan pneumonitis (Departemen Ilmu
Penyakit Paru FK Unair, 2010).
Pneumonia komunitas (PK) adalah pneumonia yang terjadi akibat penyebab
dari luar rumah sakit (RS), sedangkan pneumonia nosokomial (PN) adalah
pneumonia yang disebabkan oleh infeksi di RS.PN terjadi > 48 jam setelah di
rawat di RS, baik di ruang rawat umum ataupun ICU tetapi tidak sedang memakai
ventilator (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2003).

Etiologi
Pneumonia dapat disebabkan oleh berbagai macam mikroorganisme, yaitu
bakteri, virus, jamur dan protozoa. Dari kepustakaan pneumonia komuniti yang
diderita oleh masyarakat luar negeri banyak disebabkan bakteri Gram positif,
sedangkan pneumonia di rumah sakit banyak disebabkan bakteri Gram negatif
sedangkan pneumonia aspirasi banyak disebabkan oleh bakteri anaerob. Akhir-
akhir ini laporan dari beberapa kota di Indonesia menunjukkan bahwa bakteri
yang ditemukan dari pemeriksaan dahak penderita pneumonia komuniti adalah
bakteri Gram negatif (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2003).
Mikroorganisme penyebab yang paling banyak menyebabkan pneumonia
adalah bakteri. Cara terjadinya penularan berkaitan dengan jenis kuman, misalnya
infeksi melalui droplet sering disebabkan Streptococcus pneumonia, melalui
selang infus oleh Staphylococcus aureus, sedangkan infeksi pada pemakaian
ventilator oleh P. aeruginosa dan Enterobacter (Dahlan, 2009).

Patofisiologi
Dalam keadaan sehat, tidak terjadi pertumbuhan mikroornagisme di paru.
Keadaan ini disebabkan oleh mekanisme pertahanan paru. Apabila terjadi
ketidakseimbangan antara daya tahan tubuh, mikroorganisme dapat berkembang
biak dan menimbulkan penyakit.
Resiko infeksi di paru sangat tergantung pada kemampuan mikroorganisme untuk
sampai dan merusak permukaan epitel saluran napas. Ada beberapa cara
mikroorganisme mencapai permukaan :
1. Inokulasi langsung
2. Penyebaran melalui pembuluh darah
3. Inhalasi bahan aerosol
4. Kolonisasi dipermukaan mukosa
Cara yang terbanyak adalah secara Kolonisasi. Secara inhalasi terjadi pada
infeksi virus, mikroorganisme atipikal, mikrobakteria atau jamur. Kebanyakan
bakteri dengan ukuran 0,5 -2,0 m melalui udara dapat mencapai bronkus terminal
atau alveol dan selanjutnya terjadi proses infeksi. Bila terjadi kolonisasi pada
saluran napas atas (hidung, orofaring) kemudian terjadi aspirasi ke saluran napas
bawah dan terjadi inokulasi mikroorganisme, hal ini merupakan permulaan infeksi
dari sebagian besar infeksi paru. Aspirasi dari sebagian kecil sekret orofaring
terjadi pada orang normal waktu tidur (50 %) juga pada keadaan penurunan
kesadaran, peminum alkohol dan pemakai obat (drug abuse). Sekresi orofaring
mengandung konsentrasi bakteri yang tinggi 10 8-10/ml, sehingga aspirasi dari
sebagian kecil sekret (0,001 - 1,1 ml) dapat memberikan titer inokulum bakteri
yang tinggi dan terjadi pneumonia. Pada pneumonia mikroorganisme biasanya
masuk secara inhalasi atau aspirasi. Umumnya mikroorganisme yang terdapat
disaluran napas bagian atas sama dengan di saluran napas bagian bawah, akan
tetapi pada beberapa penelitian tidak di temukan jenis mikroorganisme yang sama
(Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2003)
Setelah mencapai alveoli, pneumokokus menimbulkan respons khas yang
terdiri dari empat tahap yang berurutan:

1. Kongesti (4-12 jam pertama), ditandai dengan adanya eksudat serosa yang
masuk ke dalam alveoli melalui pembuluh darah yang berdilatasi dan
bocor.
2. Hepatisasi merah (48 jam berikutnya), ditandai dengan tampakan paru
yang merah dan bergranula (hepatisasi= seperti hepar) karena sel-sel
darah merah, fibrin, dan PMN mengisi alveoli.
3. Hepatisasi kelabu (3-8 hari), yaitu ditandai dengan paru yang nampak
kelabu karena leukosit dan fibrin mengalami konsolidasi di dalam alveoli
yang terserang.
4. Resolusi (7-11 hari), ditandai dengan eksudat yang mengalami lisis dan
diabsorpsi oleh makrofag sehingga jaringan kembali pada strukturnya
semula (Price & Wilson, 2006).

Tampak 4 zona pada daerah parasitik terset yaitu :


1. Zona luar : alveoli yang tersisi dengan bakteri dan cairan edema.
2. Zona permulaan konsolidasi : terdiri dari PMN dan beberapa eksudasi sel
darah merah.
3. Zona konsolidasi yang luas : daerah tempat terjadi fagositosis yang aktif
dengan jumlah PMN yang banyak.
4. Zona resolusi : daerah tempat terjadi resolusi dengan banyak bakteri yang
mati, leukosit dan alveolar makrofag.
Red hepatization ialah daerah perifer yang terdapat edema dan perdarahan
'Gray hepatization' ialah konsolodasi yang luas (Perhimpunan Dokter Paru
Indonesia, 2003).
Klasifikasi
Berdasarkan klinis dan epideologis :
a. Pneumonia komuniti (community-acquired pneumonia)
b. Pneumonia nosokomial (hospital-acqiured pneumonia / nosocomial
pneumonia)
c. Pneumonia aspirasi
d. Pneumonia pada penderita Immunocompromised
pembagian ini penting untuk memudahkan penatalaksanaan.

Berdasarkan bakteri penyebab


a. Pneumonia bakterial / tipikal. Dapat terjadi pada semua usia. Beberapa
bakteri mempunyai tendensi menyerang sesorang yang peka, misalnya
Klebsiella pada penderita alkoholik, Staphyllococcus pada penderita pasca
infeksi influenza.
b. Pneumonia atipikal, disebabkan Mycoplasma, Legionella dan Chlamydia
c. Pneumonia virus
d. Pneumonia jamur sering merupakan infeksi sekunder. Predileksi terutama
pada penderita dengan daya tahan lemah (immunocompromised)

Berdasarkan predileksi infeksi


a. Pneumonia lobaris. Sering pada pneumania bakterial, jarang pada bayi dan
orang tua. Pneumonia yang terjadi pada satu lobus atau segmen
kemungkinan sekunder disebabkan oleh obstruksi bronkus misalnya : pada
aspirasi benda asing atau proses keganasan
b. Bronkopneumonia. Ditandai dengan bercak-bercak infiltrat pada lapangan
paru. Dapat disebabkan oleh bakteria maupun virus. Sering pada bayi dan
orang tua. Jarang dihubungkan dengan obstruksi bronkus
c. Pneumonia interstisial
Diagnosis
a. Anamnesis; gambaran klinik biasanya ditandai dengan demam, menggigil, suhu
tubuh meningkat dapat melebihi 400C, batuk dengan dahak mukoid atau purulen
kadang-kadang disertai darah, sesak napas dan nyeri dada.
b. Pemeriksaan fisik; temuan pemeriksaan fisis dada tergantung dari luas lesi di
paru. Pada inspeksi dapat terlihat bagian yang sakit tertinggal waktu bernapas,
pasa palpasi fremitus dapat mengeras, pada perkusi redup, pada auskultasi
terdengar suara napas bronkovesikuler sampai bronkial yang mungkin disertai
ronki basah halus, yang kemudian menjadi ronki basah kasar pada stadium
resolusi.
c. Pemeriksaan labolatorium; pada pemeriksaan labolatorium terdapat peningkatan
jumlah leukosit, biasanya lebih dari 10.000/ul kadang-kadang mencapai
30.000/ul, dan pada hitungan jenis leukosit terdapat pergeseran ke kiri serta
terjadi peningkatan LED. Untuk menentukan diagnosis etiologi diperlukan
pemeriksaan dahak, kultur darah dan serologi. Kultur darah dapat positif pada 20-
25% penderita yang tidak diobati. Analisis gas darah menunjukkan hipoksemia
dan hikarbia, pada stadium lanjut dapat terjadi asidosis respiratorik.
d. Gambaran radiologis; foto toraks (PA/lateral) merupakan pemeriksaan penunjang
utama untuk menegakkan diagnosis. Gambaran radiologis dapat berupa infiltrat
sampai konsolidasi dengan " air broncogram", penyebab bronkogenik dan
interstisial serta gambaran kaviti. Foto toraks saja tidak dapat secara khas
menentukan penyebab pneumonia, hanya merupakan petunjuk ke arah diagnosis
etiologi, misalnya gambaran pneumonia lobaris tersering disebabkan oleh
Steptococcus pneumoniae, Pseudomonas aeruginosa sering memperlihatkan
infiltrat bilateral atau gambaran bronkopneumonia sedangkan Klebsiela
pneumonia sering menunjukkan konsolidasi yang terjadi pada lobus atas kanan
meskipun dapat mengenai beberapa lobus.
Bronkopneumonia bercak bilateral. Pada foto torak tampak infiltrat peribronkial
yang semiopak dan inhomogen di daerah hilus yang menyebabkan batas jantung
menghilang (silhouette sign). Tampak juga air bronchogram. Pada keadaan yang
lebih lanjut gambaran opak menjadi terlihat homogen akibat semakin banyak
alveolus yang terlibat.

Gambaran radiografi pneumonia lobaris. Terdapat konsolidasi di lobus paru kanan


atas. Apabila pneumonia lobus tengah paru kanan, akan menyebabkan batas
jantung kanan menghilang dan pneumonia lingual lobus atas paru kiri akan
menyebabkan menghilangnya batas jantung kiri. Pada pneumonia lobus bawah,
hemidiafragma tidak akan terlihat (Corr, 2011).
Pneumonia nekrotikans dimana terdapat nekrosis jaringan paru yang luas. Dimana
adanya kavitas pada pneumonia.

Pneumonia stafilokokus merupakan pneumonia yang cukup serius pada anak.


Terdapat gambaran bronkopneumonia dengan kista atau kavitas multiple.

Pneumonia Ground Glass. Pola ground glass biasanya pada infeksi pneumonia
Pneumocystis Carinii diderita oleh pasien dengan imunosupresi terutama akibat
AIDS, infeksi mikoplasma dan infeksi virus. Petunjuk pola ini adalah pembuluh
darah paru yang tampak tidak berbatas tegas atau kabur dan paru tampak sedikit
opak. Pola ini bermula disekitar hilus dan menyebar ke arah luar. Tidak
ditemukan adanya air bronchogram.

Komplikasi
Komplikasi yang paling sering disebabkan oleh pneumonia karena bakteri
daripada pneumonia karena virus. Komplikasi yang penting meliputi gagal nafas,
sepsis.efusi pleura, emfisema, abses paru dan pneumotoraks.
Gagal nafas dan sirkulasi akibat efek pneumonia terhadap paru-paru pada
orang yang menderita pneumonia akibat adanya gangguan berupa konsolidasi
pada paru. Pneumonia dapat menyebabkan gagal nafas oleh pencetus akut
respiratory distress syndrome (ARDS). Hasil dari gabungan infeksi dan respon
inflamasi dalam paru-paru segera diisi cairan dan menjadi sangat kental,
kekentalan ini menyatu dengan keras menyebabkan kesulitan penyaringan udara
untuk cairan alveoli,harus membuat ventilasi mekanik yang dibutuhkan.
Syok sepsis dan septik merupakan komplikasi potensial dari pneumonia.
Sepsis terjadi karena mikroorganisme masuk ke aliran darah dan respon sistem
imun melalui sekresi sitokin. Sepsis seringkali terjadi pada pneumonia karena
bakteri; streptoccocus pneumonia merupakan salah satu penyebabnya.Individu
dengan sepsis atau septik membutuhkan unit perawatan intensif di rumah sakit.
Mereka membutuhkan cairan infus dan obat-obatan untuk membantu
mempertahankan tekanan darah agar tidak turun sampai rendah. Sepsis dapat
menyebabkan kerusakan hati,ginjal,dan jantung diantara masalah lain dan sering
menyebabkan kematian.
Effusi pleura, empyema dan abces, infeksi mikroorganisme pada paru-paru
akan menyebabkan bertambahnya (effusi pleura) cairan dalam ruang yang
mengelilingi paru (rongga pleura). Jika mikroorganisme itu sendiri ada di rongga
pleura, kumpulan cairan ini disebut empyema. Bila cairan pleura ada pada orang
dengan pneumonia, cairan ini sering diambil dengan jarum (toracentesis)
kemudian diperiksa untuk menentukan etiologi peyebabnya. Pada kasus empyema
berat perlu tindakan pembedahan. Jika cairan tidak dapat dikeluarkan,mungkin
infeksi berlangsung lama, karena antibiotik tiak menembus dengan baik ke dalam
rongga pleura. Jarang,bakteri akan menginfeksi bentuk kantong yang berisi cairan
yang disebut abses. Abses pada paru biasanya dapat dilihat dengan foto thorax
dengan sinar x atau CT scan. Abses-abses khas terjadi pada pneumonia aspirasi
dan sering mengandung beberapa tipe bakteri. Biasanya antibiotik cukup untuk
pengobatan abses pada paru, tetapi kadang abses harus dikeluarkan oleh ahli
bedah atau ahli radiologi.

Prognosis
Dengan pengobatan yang benar, sebagian tipe dari pneumonia karena bakteri
dapat diobati dalam satu sampai dua minggu. Pneumonia karena virus mungkin
sembuh lebih lama, pneumonia karena mycoplasma memerlukan empat sampai
lima minggu untuk benar-benar sembuh. Hasil akhir dari episode pneumonia
tergantung dari bagaimana seseorang sakit, kapan didiagnosa pertama kalinya.
Salah satu cara untuk meramalkan hasil dipakai skor beratnya pneumonia atau
CURB-65 score, dimana memerlukan perhitungan dari beratnya gejal-gejala,
penyakit utama, dan umur. Skor ini dapat membantu dalam memutuskan orang
tersebut dirawat di rumah sakit atau tidak.
BAB III
SIMPULAN

Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru. Terjadi proses


inflamasi parenkim paru yang terdapat konsolidasi dan terjadi pengisian alveoli
oleh eksudat yang disebabkan oleh bakteri, virus, bahan kimia, radiasi, obat-
obatan dan lain-lain. Beberapa pembagian pneumonia, yaitu berdasarkan klinis
dan epidemiologis, berdasarkan bakteri penyebab dan berdasarkan predileksi
infeksi. Gambaran radiologis dapat berupa infiltrat sampai konsolidasi dengan " air
broncogram", penyebab bronkogenik dan interstisial serta gambaran kaviti. Komplikasi
pneumonia meliputi gagal nafas, sepsis, efusi pleura, emfisema, abses paru dan
pneumotoraks. Prognosis pneumonia ditentukan dengan diagnosa awal serta
pengobatan yang benar.
DAFTAR PUSTAKA

Corr, P.,2011, Mengenali Pola Foto-Foto Diagnostik (Pattern Recognition in


Diagnostic Imaging), Edisi 3, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta

Dahlan, Z., 2009, Pneumonia, dalam: Sudoyo A. W. et al., Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam, Jilid III, Edisi 5, InternaPublishing, Jakarta.

Departemen Ilmu Penyakit Paru FK Unair, 2010, Buku Ajar Ilmu Penyakit Paru,
Departemen Ilmu Penyakit Paru FK Unair-RSUD Dr. Soetomo, Surabaya.

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2003, Pneumonia Komuniti Pedoman


Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia, Available from:
http://klikpdpi.com/konsensus/konsensus-pneumoniakom/pnkomuniti.pdf.
(Accessed: 2014, April 28)

Price, S. A., Wilson, L. M., 2006, Patofisiologi Konsep klinis Proses-Proses


Penyakit, Buku II, Edisi 6, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Rasad, S., 2005, Radiologi Diagnostik, Edisi 2, Balai Penerbit FKUI, Jakarta.