Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

PENDIDIKAN AGAMA DAN BUDI PEKERTI

Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Guru pembimbing :

Disusun oleh : Farhan Yusra

SMAN 1 KOTA SOLOK


Tahun pelajaran 2016 / 2017
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ......................................................................................................... i


Daftar isi ................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang .......................................................................................................... 1
B. Rumusan masalah .................................................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN
A. Mujahada An-Nafs.... 2
B. Husnuzan... 5
C. Ukhwah. 5

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan .............................................................................................................. 12
B. Saran.. 12

DAFTAR PUSTAKA.... 13
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena penulis telah menyelesaikan
tugas dalam mata pelajaran pendidikan agama Islam dengan penuh kemudahan dan diselesaikan
tepat pada waktunya. Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang
penulis hadapi.
Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain
berkat bantuan, dorongan dan bimbingan orang tua, kerabat dan teman-teman, sehingga
kendala-kendala yang penulis hadapi dapat teratasi.
Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang
membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai, Amin.
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pengendalian diri atau penguasaan diri merupakan aspek yang perlu dilatih sejak dini.
Tidak ada aspek kemampuan untuk menguasai diri yang turun dari langit, melainkan diperoleh
dari proses yang panjang dalam pengalaman hidup selama berhubungan dengan orang-orang di
sekitar. Bahkan dalam sebuah kata bijak tertulis, Siapa yang menguasai diri ibarat
mengalahkan sebuah kota.Diri yang kita bawa-bawa sekarang ini dapat menguasai kita atau kita
yang menguasainya, dapat menjadi sahabat atau malah menjadi lawan.Tergantung pilihan kita
menjalani hidup ini.
Tentu saja, perilaku prasangka baik akan menjdikan kehidupan kita menjadi tenteram,
akan terjalin persaudaraan (ukhuwah), saling pengertian. Sebaliknya dengan selalu berprasangka
buruk kita akan berhadapan dengan permusuhan antar sesama dan tidak adanya ketentraman
dalam menjalani kehidupan. Al-Quran mengajarkan kepada kita untuk selalu mengontrol diri
agar tidak terjebak kepada perbuatan yang tercela.Al-Quran juga memerintahkan kepada kita
untuk selalu berprasangka baik dan menjaga kerukunan dan mempererat ukhuwah atau
persaudaraan, baik sesama umat Islam maupun yang lainnya.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang di atas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut :
1. Mujahada An-Nafs
2. Husnuzan
3. Ukhwah
BAB II
PEMBAHASAN

A. Mujahada An-Nafs

1. Pengertian Mudah tentang al-Nafs


Allah berfirman di dalam al-Quran:
Dan aku tidak membebaskan nafs-ku, karena sesungguhnya nafs itu selalu sangat menyuruh
kepada keburukan, kecuali nafs yang dirahmati Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha
Pengampun lagi Maha Penyanyang. (QS. Yusuf/12: 53).

Secara umum, kata al-nafs di dalam al-Quran, dimaksud untuk pengertian diri,
pribadi, seseorang, atau individu; tetapi ulama psikologi Islam, cenderung mengartikan
sebagai jiwa, karena itu ilm al-nafs disebut juga psikologi: ilmu tentang jiwa.
Banyak istilah menuju pengertian al-nafs itu, tetapi bila merujuk pada ayat di atas, al-
nafs diartikan secara berbeda. Kata al-ammarah di dalam kajian ilmu Balaghah, merupakan
shighah mubalaghah dengan wazan al-faaalah, yang dapat diartikan katsir al-amr bi al-suu
(selalu memerintah pada keburukan). Di sini, nafs itu: selalu menyuruh pada keburukan.
Tegasnya, nafs itu memiliki tugas menyuruh, ini yang perlu kita garisbawahi. Hanya saja, di
dalam ayat di atas: nafs memerintah pada keburukan, berarti memiliki kecenderungan pula
memerintah pada kebaikan. Dalam konteks ini, penulis hendak menekankan: nafs itu suka
memeritah.

2. Pembagian al-Nafs dalam al-Quran


Secara umum, al-Quran menyebut secarang langsung, tiga bentuk dari nafs (jiwa yang
menggerakkan), dan ini menurut kebanyakan para ulama, yaitu:
a) al-ammarah bi al-suu (selalu memerintah pada keburukan),
b) al-lawwamah (selalu merendahkan diri, karena berada antara kebaikan dan keburukan)
c) al-muthmainnah (ketenangan, kebaikan lebih dominan).

1. Nafs Ammarah.
Di dalam berbagai kita tafsir seperti Tafsir al-Qurthubi, al-Thabari, dan Fath al-Qadir li
al-Syawkani nafs ammarah difahami sebagai jiwa yang terendah yang cenderung pada tabiat
jasad-badaniyah, yang bila berterusan, dapat menjatuhkannya pada tingkat serendah-rendahnya
(asfala safilin). Nafs jenis ini, dalam bahasa filosofisnya, bersifat pragmatis, hedonistik,
pragmatis, sekularistis, dan bahkan materialistis.
Di dalam Fath al-Qadir li al-Syaukani, misalnya, dijelaskanMembersihkan hati (al-
qalb) dari akhlak tercela, seperti tamak, dongkol, dengki, kesombongan, dan sebagainya. Imam
al-Nawawi, dalam Syarh Shahih Muslim, menjelaskan berusaha keras (al-sayu) dalam rangka
memperbaiki hati (shalah al-qalb), dan memeliharanya dari kerusakan (al-himayah min al-
fasad).
Di dalam Hadits, yang bersumber dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW. bersabda:



:


Sesungguhnya seorang mukmin, bila dia melakukan dosa, terdapat noda hitam di dalam
hatinya; bila dia bertaubat, benar-benar menyesali, dan minta ampun (atas dosa-dosanya tadi),
dibersihkan hatinya dari dosa-dosa tersebut; tetapi, bila dia menambah dosanya, maka titik
hitam itu semakin bertambah, sehingga memenuhi hatiya. Itulah yang disebut al-raan,
sebagaimana firman-Nya: Sekali-kali tidak, bahkan hati mereka telah tertutupi (oleh tabiat
buruk), terhadap apa yang mereka usahakan (QS. Al-Muthaffifin/83: 14). (HR. Muslim).
Kata al-raan di dalam Hadits di atas berarti al-thab wa al-dans; artinya dikuasai oleh tabiat
yang buruk.
Hati, bila ingin bersih: taubat, meyesali, dan minta ampun (istighfar); bila ingin
sebaliknya: tidak perlu bertaubat, tidak perlu menyesali, dan tidak perlu minta ampun (istighfar).

2. Nafs Lawwamah.
Kata lawwamah dalam bentuk mubalaghoh, yang berarti seringkali mencela dan
menyesali, yaitu terhadap perbuatan buruk yang dilakukannya. Ini sangat bagus, karena
mendorongnya menuju tingkatan yang lebih tinggi. Termasuk bagus, bila didominasi oleh moden
nafs satu ini. Karena itu, nafs ini sibuk dengan perbuatan: introspeksi diri (QS. Al-Hasyr/59: 18),
mendebat diri sendiri (QS. Al-Nahl/16: 111), dan menyesali (QS. Al-Maidah/5: 52).
Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik)
bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: "Kami takut akan mendapat
bencana". Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau
sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang
mereka rahasiakan dalam diri mereka.

3. Nafs Muthmainnah.
Jiwa yang tenang, biasanya dimaksudkan untuk nafs muthmainnah, yang menurut
Abdul Razak, dalam Mujam al-Ishthilahat al-Shufiyyah, sebagai jiwa dengan kesempurnaan
cahaya hati (al-qalb), jiwa yang bersih dan suci; atau, berdasarkan al-Quran: jiwa yang sudah
kembali kepada Tuhannya (Lih. QS. Al-Fajr/89: 27-30). Sebagai jiwa yang bersih, maka nafs ini
memiliki karakter: iman yang kuat, ridha dan rela terhadap qada qadarAllah SWT., dan percaya
pada janji-janji-Nya, serta selalu ingin berdekatan dengannya (al-unsiyyah).

Faedah Mujahadah antara lain :


a) Menjernikan hati dan marifat Billah ( sadar kepada Alloh )
b) Memperoleh hidayah Taufiq Allah SWT, Syafaat Tarbiyah Rosululloh SAW, Barokah
Ghoutsu Hadzaz Zaman R.A
c) Mendidik menjadi orang yang sholeh / Sholihah, yang senantisa mendoakan kedua orang
tuanya / leluhurnya.
d) Keamanan, ketentraman , kedamaian kesejahteraan, dan keberkahan hidup

B. Husnuzan

1. Pengertian Husnuzan
Husnuzan secara bahasa berarti berbaik sangka lawan katanya adalah suuzan
yang berarti berburuk sangka atau apriori dan sebagainya. Husnuzan adalah cara pandang
seseorang yang membuatnya melihat segala sesuatu secara positif, seorang yang memiliki
sikap husnuzan akan mepertimbangkan segala sesuatu dengan pikiran jernih, pikiran dan
hatinya bersih dari prasangka yang belum tentu kebenaranya.
Sebaliknya orang yang pemikirannya senantiasa dikuasai oleh sikap suuzan selalu
akan memandang segala sesuatu jelek, seolah-olah tidak ada sedikit pun kebaikan dalam
pandanganya, pikirannya telah dikungkung oleh sikap yang menganggap orang lain lebih
rendah dari pada dirinya. Sikap buruk sangka identik dengan rasa curiga, cemas, amarah dan
benci padahal kecurigaan, kecemasan, kemarahan dan kebencian itu hanyalah perasaan
semata yang tidak jelas penyebabnya, terkadang apa yang ditakutkan bakal terjadi pada
dirinya atau orang lain sama sekali tak terbukti.

2. Pembagian Husnuzan
1. Husnuzan Kepada Allah
Salah satu sifat terpuji yang harus tertanam pada diri adalah adalah sifat husnuzan
kepada Allah, sikap ini ditunjukan dengan selalu berbaik sangka atas segala kehendak allah
terhadap hamba-Nya. Karena banyak hal yang terjadi pada kita seperti musibah membuat
kita secara tidak langsung menganggap Allah telah tidak adil, padahal sebagai seorang
mukmin sejati semestinya kita harus senantiasa menganggap apa yang ditakdirkan Allah
kepada kita adalah yang terbaik.
Seseorang boleh saja sedih, cemas dan gundah bila terkena musibah, akan tetapi
jangan sampai berlarut-larut sehingga membuat dirinya menyalahkan Allah sebagai
Penguasa Takdir. Sikap terbaik yang dapat dilakukan adalah dengan cara segera menata
hati dan perasaan kemudian menegguhkan sikap bahwa setiap yang ditakdirkan Allah
kepada hamba-Nya mengandung hikmah. Inilah yang disebut dengan sikap husnuzan
kepada Allah. Sebagai seseorang mukmin yang meyakini bahwa Allah Maha Tahu atas apa
yang terjadi terhadap hamba-Nya, karena itu kita semestinya berpikir optimis, yakin bahwa
rahmat dan karunia yang diberikan Allah kepada manusia tidak akan pernah putus.
Sebagaimana Firman Allah Swt :
dan tetapkanlah untuk Kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; Sesungguhnya Kami
kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman: "Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada
siapa yang aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan aku tetapkan
rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang
yang beriman kepada ayat-ayat kami". (Q.S.Al-Araf : 156)

Sehubungan dengan ayat ini, kita perlu ber-husnuzan kepada Allah dalam segala
hal dan keadaan, Allah Maha Tahu apa yang terbaik buat hamba-Nya, ketika kita senang
dan suka karena mendapatkan rezeki dan kenikmatan dari Allah, maka sebaliknya saat kita
dalam keadaan nestapa dan duka karena mendapatkan ujian dan cobaan hendaknya tetap
ber-husnuzan kepada Allah Swt., sebab semua yang diberikan oleh Allah, baik berupa
kenikmatan maupun cobaan tentu mengandung banyak hikmah dan kebaikan. Hal ini
ditegaskan oleh Allah dalam sebuah Hadits Qudis yang artinya : Selalu menuruti
sangkaan hamba ku terhadap diriku jika ia berprasangka baik maka akan mendapatkan
kebaikan dan jika ia berprasangka buruk maka akan mendapatkan leburukan (H.R.at-
Tabrani dan Ibnu Hiban).

2. Husnuzan terhadap Diri Sendiri


Perilaku husnuzan terhadap diri sendiri artinya adalah berperasangka baik terhadap
kemampuan yang dimilki oleh diri sendiri. Dengan kata lain, senantiasa percaya diri dan
tidak merasa rendah diri di hadapan orang lain. Orang yang memiliki sikap husnuzan
terhadap diri sendiri akan senantiasa memiliki semangat yang tinggi untuk meraih sukses
dalam setiap langkahnya. Sebab ia telah mengenali dengan baik kemempuan yang
dimilikinya, sekaligus menerima kelemahan yang ada pada dirinya, sehingga ia dapat
menetahui kapan ia harus maju dan tampil di depan dan kapan harus menahan diri karena
tidak punya kemampuan di bidang itu.

3. Husnuzan terhadap Sesama Manusia


Husnuzan terhadap sesama manusia artinya adalah berprasangka baik terhadap sesama
dan tidak meragukan kemampuan atau tidak bersikap apriori. Semua orang dipandang baik
sebelum terbukti kesalahan atau kekeliruannya, sehingga tidak menimbulkan kekacauan
dalam pergaulan. Orang yang ber-husnuzan terhadap sesama manusia dalam hidupnya
akan memiliki banyak teman, disukai kawan dan disegani lawan.
Husnuzan terhadap sesama manusia juga merupakan kunci sukses dalam pergaulan, baik
pergaulan di Sekolah, keluarga, maupun di lingkungan masyarkat. Sebab tidak ada
pergaulan yang rukun dan harmonis tanpa adanya prasangka baik antara satu individu
dengan individu lainnya.

Di antara hikmah husnuzan adalah sebagai berikut :


1) Menumbuhkan perasaan cinta kepada Allah, artinya melaksanakan perintah Allah dan
Rasul serta menjauhi segala larangannya, melaksanakan jihad fisabillilah dan
mencintai sesame manusia karena Allah.
2) Menumbuhkan perasaan syukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya.
3) Menumbuhkan sikap sabar dan tawakal.
4) Menumbuhkan keinginan untuk berusaha beroleh rahmat dan nikmat Allah
5) Al afwu (pemaaf)
6) Al wafa (menepati janji)
7) Al iffah (memelihara kesucian diri)
8) Al haya (malu)
9) Syajaah (gigih)
10) As sabru (sabar)
11) Ar rahmah (kasih sayang)
12) At taawwun (tolong menolong)
13) Al islah (damai)
14) An nazafah (memelihara kebersihan)
15) Mendorong manusia mencapai kemajuan.
16) Menimbulkan ketentraman.
17) Menghilangkan kesulitan dan kepahitan.
18) Membuahkan kreasi yang produktif dan daya cita yang berguna.

C. Ukhwah

1. Pengertian
Secara Bahasa Ukhuwah Islamiyah berarti Persaudaraan Islam. Adapun secara istilah
ukhuwah islamiyah adalah kekuatan iman dan spiritual yang dikaruniakan Allaah kepada
hamba-Nya yang beriman dan bertakwa yang menumbuhkan perasaan kasih sayang,
persaudaraan, kemuliaan, dan rasa saling percaya terhadap saudara seakidah. Dengan
berukhuwah akan timbul sikap saling menolong,saling pengertian dan tidak menzhalimi
harta maupun kehormatan orang lain yang semua itu muncul karena Allaah semata.
Ukhuwah Islamiyah adalah salah satu perintah dalam agama Islam. Sebab, dengan
membina ukhuwah Islamiyah, maka akan didapat beberapa keutamaan yang terkait dengan
masalah syiar agama Islam dan kesejahteraan umat itu sendiri.

2. Keutamaan Ukhwah
Ada beberapa keutamaan dari ukhuwah yang terjalin antar sesama umat Islam,
diantaranya:
1) Ukhuwah menciptakan wihdah (persatuan)
Sebagai contoh dapat kita lihat dalam kisah heroik perjuangan para pahlawan bangsa
negeri yang bisa dijadikan landasan betapa ukhuwah benar-benar mampu
mempersatukan para pejuang pada waktu itu. Tidak ada rasa sungkan untuk berjuang
bersama, tidak terlihat lagi perbedaan suku, ras dan golongan, yang ada hanyalah
keinginan bersama untuk merdeka dan kemerdekaan hanya bisa dicapai dengan
persatuan.
2) Ukhuwah menciptakan quwwah (kekuatan)
Adanya perasaan ukhuwah dapat menciptakan kekuatan (quwwah) karena rasa
persaudaraan atau ikatan keimanan yang sudah ditanamkan dapat menentramkan dan
menenangkan hati yang awalnya gentar menjadi tegar sehingga ukhuwah yang telah
terjalin dapat menimbulkan kekuatan yang maha dahsyat.
3) Ukhuwah menciptakan mahabbah (cinta dan kasih sayang)
Sebuah kerelaan yang lahir dari rasa ukhuwah yang telah terpatri dengan baik pada
akhirnya memunculkan rasa kasih sayang antar sesama saudara se-iman. Yang dulunya
belum kenal sama sekali namun setelah dipersaudarakan semuanya dirasakan bersama.
Inilah puncak tertinggi dari ukhuwah yang terjalin antar sesama umat islam.

3. Beberapa nilai penting ukhuwah islamiyah ini diantaranya adalah Meningkatkan persatuan
umat Islam sehingga tidak mudah dipecah belah oleh kekuatan yang ingin menghancurkan
Islam.Dengan Ukhuwah Islamiyah, menjadi salah satu media untuk menciptakan kebaikan
pada sesama umat Islam serta menghindarkan dari hal-hal yang negatif.Menghindarkan
terjadinya penyimpangan akidah, khususnya dari ajaran sesat yang ingin menciptakan
kekacauan pada umat Islam.Meningkatkan kesejahteraan umat. Salah satunya dengan cara
pengoptimalan potensi zakat untuk menciptakan sistem ekonomi yang maju dan sesuai
kaidah Islam. Sebagai media dakwah untuk menyampaikan hal-hal yang benar tentang
agama Islam. Sehingga pada nantinya tidak ada kesalahan dan perbedaan sudut pandang
dalam agama Islam. Beri rating untuk artikel di atas
BAB III
KESIMPULAN

A. Kesimpulan
Mujahadah adalah tindakan perlawanan terhadap nafsu yang lazim disebut dengan
mujahadah an-nafs. Ujung dari keberhasilan mujahadah adalah munculnya kebiasaan dari
shalikin untuk menghiasi dirinya dengan zikrullah sbagai cara untuk membersihkan hatinya dan
sebagai upaya untuk mencapai musyahadah (merasakan adanya kehadurat Allah SWT).
Sikap husnuzan kepada Allah dapat berbentuk sabar terhadap cobaan yang menimpa kita.
Tidak menganggap Allah SWT tidak adil terjadap kita selalu ikhtiar (selalu berusaha) dan doa
serta tawakal (berserah diri) kepada Allah SWT apapu yang terjadi di akhir itu merupakan takdir
Allah SWT kita harus bersabar dan selalu berusaha, berdoa dan tawakal.
Memang banyak ayat yang mendukung persaudaraan antara manusia harus di jalin
dengan baik, hal ini misalnya dapat dilihat tentang larangan melakukan transaksi yang bersifat
batil di antara manusia , larangan bagi mereka yang mengurangi dan melebihkan timbangan
dalam usaha bisnis. Dari sini dapat dipahami bahwa tata hubungan dalam ukhuwah menyangkut
hal-hal yang berkaitan dengan martabat kemanusaiaan untuk mencapai kehidupan yang sejahtera
, adil, damai dan pada intinya konsep tersebut dalam-Quran bertujuan untuk memantapkan
solidaritas kemanusiaan tanpa melihat agama , bangsa, dan suku yang ada

B. Saran
Demi kesumpurnaan makalah ini, penulis sangat mengharapkan kritikan dan saran yang bersifat
menbangun kearah kebaikan demi kelancara dan kesumpurnaan penulisan ini.
DAFTAR PUSTAKA

Al Khauli, Muhammad Abdul Aziz. 2006. Menuju Akhlak Nabi. Semarang: Pustaka Nuun.

Ali, Maulana Muhammad. 1992. Kitab Hadits Pegangan. Jakarta: Darul Kutubil Islamiyah.

Ash Shidieqy, Teungku Muhammad Hasbi. 2002. Mutiara Hadits 1. Semarang: Pustaka Rizki
Putra.

Barojai Umar bin Ahmad. Akhlaku lil Banin. Surabaya: Nubhan Wa Auwalawah Quasem, M.
Abdul. 1988. Etika Al Ghozali. Bandung :Pustaka.

Umaroh, Musthofa Muhammad. 1993. Jaurohirul Bukhori. Mesir: Dharulfikri.

Yamnisshonai, Syaih Imam Muhammad bin Ismail Al Amri. 2004. Subulussalam. Beirut:
Darelhadith.