Anda di halaman 1dari 2

1) Apakah Hukum Pidana Adat Mengenal Asas Legalitas ?

Perkembangan asas legalitas eksistensinya diakui dalam KUHP Indonesia baik asas
legalitas formal (Pasal 1 ayat (1) KUHP) maupun asas legalitas materiil (Pasal 1 ayat (3) RUU
KUHP Tahun 2008).
Adapun hukum pidana adat tidak mengenal asas legalitas sebagaimana hukum positif,
karena selain ketentuan hukumnya masih sederhana, hukum pidana adat tidak mengenal
kodifikasi. Dengan kata lain, hukum pidana adat tidak mengenal hukum tertulis meskipun
beberapa masyarakat adat di Indonesia sudah mengenal kodifikasi hukum adat. Misalnya kitab
Kuntara Raja Niti (Lampung), Manawa Dharmasastra, Catur Agama, Awig-Awig (Bali), kitab
Babad Jawa (Jawa kuno), dan lain sebagainya.
Utrecht menyatakan bahwa, asas legalitas akan menghalangi berlakunya hukum
pidana adat yang masih hidup dan akan hidup. Lebih terperinci maka Utrecht mengatakan
bahwa:

Terhadap azas nullum delictum itu dapat dikemukakan beberapa keberatan. Pertama-
tama dapat dikemukakan bahwa azas nullum delictum itu kurang melindungi
kepentingan-kepentingan kolektif (collectieve belangen). Akibat azas nullum delictum
itu hanyalah dapat dihukum mereka yang melakukan suatu perbuatan yang oleh hukum
(=peraturan yang telah ada) disebut secara tegas sebagai suatu pelanggaran
ketertiban umum. Jadi, ada kemungkinan seorang yang melakukan suatu perbuatan
yang pada hakikatnya merupakan kejahatan, tetapi tidak disebut oleh hukum sebagai
suatu pelanggaran ketertiban umum, tinggal tidak terhukum. Azas nullum delictum itu
menjadi suatu halangan bagi hakim pidana menghukum seorang yang melakukan suatu
perbuatan yang biarpun tidak strafbaar masih juga strafwaardig. Ada lagi satu
alasan untuk menghapuskan pasal 1 ayat 1 KUHPidana, yaitu suatu alasan yang
dikemukakan oleh terutama hakim pidana di daerah bahwa pasal 1 ayat 1 KUH Pidana
menghindarkan dijalankannya hukum pidana adat.

Andi Hamzah juga sependapat dengan Utrecht, diaman ia menyatakan bahwa tidak
mungkin dikodifikasikannya seluruh peraturan peraturan adat yang ada di Indonesia, karena
adanya perbedaan antara adat berbagai suku bangsa.

Hukum adat merupakan sistem hukum tertua yang berlaku di dalam suatu komunitas
masyarakat adat, sehingga seorang filsuf Yunani yang bernama Cicero pernah mengatakan
bahwa Ibi Societas, Ibi Ius (Dimana ada masyarakat maka disitu ada Hukum), hukum akan
selalu hadir dan mengikuti perkembangan kehidupan sosial masyarakatnya dan bukan
sebaliknya masyarakat yang mengikuti perkembangan hukum.
dalam hukum pidana adat tidak hanya memberikan efek jera terhadap pelaku, melainkan juga
mengembalikan keseimbangan di masyarakat adat yang sudah tergoncang dengan perbuatan
pencurian terhadap benda yang disakralkan atau disucikan oleh masyarakat setempat.

Sehingga dalam hukum pidana adat pun memiliki sanksi yang tertulis di
awig-awig
dan sepatutnya dijalankan untuk menegakan hukum diwilayah setempat dan terutama
mengembalikan kesucian dari benda suci tersebut maupun desa tempat terjadinya kasus
pencurian.

Prinsip yang diterapkan pada kasus yang Anda tanyakan adalah prinsip teritorialitas. Wirjono
(Ibid, hal 51) menjelaskan prinsip ini ditegaskan dalam Pasal 2 KUHP yang menyatakan bahwa
ketentuan-ketentuan hukum pidana Indonesia berlaku bagi siapa saja yang melakukan tindak
pidana di dalam wilayah negara Indonesia.