Anda di halaman 1dari 31

BAB II

PEMBAHASAN

1. Zakat
a. Pengertian Zakat
Zakat secara bahasa (lughah), mempunyai arti namaa yaitu kesuburan,
taharah yaitu kesucian, barakah yaitu keberkatan dan tazkiyah/tathur yaitu
pensucian. Sedangkan pengertian zakat menurut syara ialah pemberian suatu
yang wajib diberikan dari sekumpulan harta tertentu, menurut sifat-sifat dan
ukuran tertentu kepada golongan tertentu yang berhak menerimanya.1
b. Tujuan Zakat
Zakat sebagai salah satu rukun Islam mempunyai kedudukan yang sangat
penting. Hal ini dapat dilihat dari segi tujuan dan fungsi zakat dalam
meningkatkan martabat hidup manusia dan masyarakat. Zakat mempunyai
tujuan yang banyak (multi purpose). Tujuan-tujuan itu dapat ditinjau dari
berbagai aspek, antara lain:
1) Hubungan Manusia dengan Allah
Zakat sebagai sarana beribadah kepada Allah sebagaimana halnya
sarana-sarana lain adalah berfungsi mendekatkan diri kepada Allah.
Semakin taat manusia menjalankan perintah dan meninggalkan larangan
Allah, maka ia semakin dekat dengan Allah.
2) Hubungan Manusia dengan Dirinya
Zakat merupakan salah satu cara memberantas pandangan hidup
matrealistis, dengan melaksanakan zakat, manusia dididik untuk
melepaskan sebagian harta benda yang dimilikinya, dan secara pelan-
pelan menghilangkan pandangan hidup yang menjadikan materi sebagai
tujuan hidup. Dengan demikian zakat mempunyai peranan menjaga
manusia dari kerusakan jiwa. Zakat membawa pada kesucian diri bagi
orang yang ikhlas melaksanakannya, artinya suci dari sifat kikir, rakus,
tamak dan sebagainya. Zakat berfungsi mensucikan jiwa pemiliknya.

1
Zakiah Darajat, Ilmu Fiqh, (Jakarta: Dana Bhakti Wakaf, 1995), hlm., 213
3) Hubungan Manusia dengan Manusia Lain
Zakat berperan mengecilkan jurang perbedaan ekonomi antara si
kaya dengan si miskin. Sebagian harta kekayaan golongan kaya akan
mengalir membantu menumbuhkan kehidupan ekonomi golongan yang
miskin, sehingga golongan miskin dapat terperbaiki keadaan ekonominya.
4) Hubungan Manusia dengan Harta Benda
Zakat merupakan sarana pendidikan bagi manusia bahwa harta
benda atau materi itu bukanlah tujuan hidup dan bukan hak milik mutlak
dari manusia yang memilikinya, tetapi merupakan titipan Allah yang
harus dipergunakan sebagai alat untuk mengabdikan diri kepada Allah dan
sebagai alat bagi manusia untuk menjalankan perintah agama di dalam
segala aspeknya.2

2. Mustahiq Zakat
Mustahiq zakat merupakan orang yang berhak menerima zakat. Mustahiq
zakat ada 8 golongan (al-ashnaf ats-tsamaniyah) yaitu: kaum fakir, miskin, amil
zakat, muaallaf, riqab, gharimin, sabilillah, dan ibn sabil, berikut adalah
penjelasannya.
a. Fakir
Fakir didefinisikan sebagai orang yang tidak mempunyai harta atau
pekerjaan yang layak baginya yang mencukupi kebutuhan hidup diri dan
orang-orang yang wajib dinafkahi olehnya sesuai dengan standar kelayakan.
b. Miskin
Miskin adalah orang yang mempunyai harta dan pekerjaan tetapi tidak bisa
memenuhi kebutuhan sehari-hari dirinya dan orang-orang yang dinafkahinya,
misalkan karena pendapatannya sangat sedikit.
c. Amil Zakat
Amil zakat merupakan orang yang diutus atau diangkat oleh pemerintah
untuk menangani urusan zakat. Seperti pengumpul, pencatat, pendistribusian
dan setiap petugas yang dibutuhkan dalam urusan penanganan zakat.

2
Ibid., hlm., 217-220

1
Syarat-syarat menjadi amil antara lain:
1) Ahliyah asy-Syahadah (muslim, laki-laki, mukallaf, dan adil).
2) Memahami fiqh zakat sesuai tugasnya.
3) Mampu mendengar dan melihat.
d. Muallaf
Muallaf secara bahasa berarti orang yang ditundukkan hatinya.
Sedangkan menurut istilah muallaf berarti orang yang dijinakkan hatinya
untuk kepentingan Islam dan kaum muslimin atau biasa disebut orang yang
baru masuk Islam.
e. Riqab
Riqab adalah budak mukatab. Budak mukatab merupakan budak yang
melakukan akad kitabah (cicilan memerdekakan diri) dengan sayyid atau
pemiliknya dengan akad kitabah yang sah. Ia diberi zakat sebesar biaya untuk
memerdekakan dirinya.3
f. Gharimin
Gharimin adalah orang yang mempunyai hutang. Gharimin terbagi
menjadi 4 macam, yaitu:
1) Gharim yang mempunyai hutang untuk diri atau keluarganya. Seperti
hutang untuk biaya kebutuhan hidup sehari-hari dan semisalnya. Gharim
semacam ini berhak menerima zakat bila memenuhi syarat, yaitu:
a) Hutangnya bukan untuk maksiat. Tujuan maksiat dan tidak bisa
diketahui dengan berbagai indikasi yang ada.
b) Bila hutangnya untuk maksiat, maka harus sudah bertaubat.
c) Hutang sudah jatuh tempo.
d) Harta yang dimiliki tidak cukup untuk membayar hutangnya.
2) Gharim yang mempunyai hutang untuk meredam konflik antara dua pihak
yang bertikai. Seperti ketika khawatir akan terjadi konflik antara kedua
belah pihak yang bertentangan atas terjadinya suatu pembunuhan dan

3
Muntaha AM, Fiqh Zakat:Panduan Praktis dan Solusi Kekinian, (Kediri: Pustaka
Gerbang Lama,2012), hlm., 80-104

2
pembunuhannya tidak diketahui, kemudian ia hutang untuk menanggung
diyat (denda) atas pembunuhan tersebut untuk menghindari konflik.
3) Gharim yang mempunyai hutang untuk kemaslahatan umum. Seperti
untuk membangun atau merenovasi masjid, sekolahan, pondok pesantren,
jembatan, dan fasilitas-fasilitas publik lainnya. Maka ia diberi zakat
sebesar hutangnya.
4) Gharim yang mempunyai hutang untuk menanggung hutang orang lain.
Gharim semacam ini berhak menerima zakat bila memenuhi syarat, yaitu:
a) Apabila ia dan al-ashil (orang yang ditanggungnya) sama-sama
miskin, maka ia diberi zakat untuk melunasi tanggungannya tersebut.
b) Apabila al-ashil kaya dan ia (adh-dhamin atau orang yang
menanggung) tidak, maka apabila ia menanggung hutang tidak seizin
al-ashil maka ia diberi zakat untuk melunasi hutang itu.
c) Apabila adh-dhamin atau orang yang menanggung kaya dan al-ashil
miskin, maka ia tidak diberi zakat. Ketika adh-dhamin telah melunasi
hutang al-ashil dari zakat bagian gharim yang diterimanya, maka ia
tidak boleh meminta ganti rugi kepada al-ashil, meskipun ia
menanggung hutang tersebut atas seizinnya.
g. Sabilillah
Sabilillah menurut bahasa berarti ath-thariq al-mushilah ilallah (jalan
yang mengantarkan pada ridha Allah SWT). Sedangkan menurut istilah
sabilillah adalah orang-orang yang melaksanakan jihad (peperangan yang
tidak mendapatkan harta fai (harta yang diperoleh dari non muslim harbi
tanpa serangan fisik) sekalipun mereka kaya).
h. Ibnu Sabil
Ibnu sabil adalah musafir yang sedang melewati balad az-zakah (daerah
zakat) atau memulai perjalanan darinya. Ibnu sabil berhak menerima zakat
apabila memenuhi syarat sebagai berikut:4
1) Membutuhkan. Oleh sebab itu, apabila bekalnya cukup, maka ia tidak
berhak menerima zakat.

4
Ibid., hlm., 104-123

3
2) Perjalanannya bukan perjalanan maksiat. Maka orang yang melakukan
perjalanan maksiat seperti mencuri, ia tidak berhak menerima zakat.
Begitu pula dengan orang yang bepergian tanpa tujuan yang jelas, seperti
orang bingung.

3. Pengertian dan Syarat-syarat Zakat Mal


A. Pengertian Zakat Mal
Zakat mal yaitu zakat yang harus dikeluarkan setiap umat muslim terhadap
harta yang dimiliki, yang telah memenuhi syarat, haul, nisab dan kadarnya.
Menurut Undang-Undang No 38 tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat
dalam penjelasan pasal 11 ayat (1). Zakat mal adalah bagian harta yang
disisihkan oleh seorang muslim atau badan yang dimiliki oleh orang muslim
sesuai dengan ketentuan agama untuk diberikan kepada yang berhak
menerimanya.
B. Syarat Zakat Mal
1. Cukup Nishab dan Haul
Haul itu mengandung makna satu tahun lamanya. Harta yang
tersimpan selama satu tahun lamanya itu bukanlah bagian dari modal, dan
dikatakan satu tahun disebabkan pada kurun waktu yang sedemikian itu
harta telah berkembang dan memiliki keuntungan sesuai dengan batasan-
batasan nishabnya.
Memiliki Senishab berarti, memiliki lebih dari keperluan hidup
sehari-hari. Termasuk dalam keperluan sehari-hari adalah makanan,
pakaian, tempat tinggal, kendaraan dan alat-alat bekerja.5
2. Orang-Orang yang Disepakati Wajib Mengeluarkan Zakat
Ulama sepakat bahwa orang yang wajib mengeluarkan zakat
adalah merdeka, telah sampai umur, berakal dan nishab yang sempurna.
An-Nawawi mengatakan, mazhab kami ulama Syafiiyah, Malik,
Ahmad dan Jumhur berpendapat bahwa harta yang dikenakan zakat

5
M. Hasbi ash-Shiddieqy, Pedoman Zakat, (Semarang: Pustaka Rizki Putra,2002), hlm.,
18

4
adalah emas, perak, dan binatang ternak penuh setahun dimiliki
nishabnya. Jika terjadi kekurangan nishab di tengah-tengah tahun,
hilanglah perhitungan tahun, jika kemudian kembali cukup setahun maka
dimulailah hitungan baru.
Memiliki senishab berarti, memiliki lebih dari keperluan hidup
sehari-hari. Termasuk dalam keperluan sehari-hari adalah makanan,
pakaian, tempat tinggal, kendaraan dan alat-alat bekerja.
3. Orang-Orang yang Diperselisihkan Wajib Mengeluarkan Zakat
Para ulama berselisih pendapat tentang wajib zakat bagi:
a. Anak yatim (anak kecil).
b. Orang gila.
c. Hamba (budak belian).
d. Orang yang dalam dzimmah (perlindungan) orang
e. Orang yang kurang memiliki, (orang yang telah menghutangkan
hartanya kepada orang dan seperti orang yang banyak utang).6
Adapun syarat dan jenis harta yang wajib dikeluarkan untuk zakat
mal diantaranya ialah:
a. Harta-Harta yang Disyaratkan Haul (Cukup Setahun Dimiliki
Nishab-nya)
Harta-harta yang disyaratkaan cukup setahun dimiliki nishabnya
ialah:
1) Binatang (ternak).
2) Emas dan perak.
3) Barang perniagaan.7
b. Harta-Harta yang Tidak Disyaratkan Haul
Harta yang tidak disyaratkan cukup setahun ialah, pertama, barang
yang disimpan untuk makanan, (tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan).
Kedua, menurut jumhur ulama, barang logam yang baru digali. Hadits

6
M. Hasbi ash-Shiddieqy, Loc.Cit.,
7
Ibid., hlm., 33-34

5
Tidak ada zakat terhadap sesuatu benda hingga cukup setahun
dimiliki, yakni cukup setahun dimiliki dengan cara nishab.

Dengan demikian maka, tidak wajib seseorang yang belum setahun


memiliki hartanya. Dikecualikan anak-anak binatang yang diperoleh
ditengah tahun dan keuntungan perniagaan.
c. Harta-Harta yang Diperoleh di Pertengahan Tahun
Apabila seseorang memiliki ternak senishab, dan ditengah-tengah
tahun binatang itu beranak hingga sampai nishab yang kedua, maka
anak-anak binatang yang diperoleh ditengah-tengah tahun tersebut,
digabungkan kepada induk-induknya dan dihitung. Apabila telah
sampai tahun induk-induk tersebut, maka zakatnya dikeluarkan dari
induknya. Jika induknya mati dan semua anaknya tetap hidup, maka
zakatnya apabila sampai tahun induk dikeluarkan zakat terhadap anak-
anaknya.8
d. Harta Orang yang Meninggal di Pertengahan Tahun
Apabila seserang meninggal di pertengahan tahun dan berpindah
hartanya kepada ahli warisnya, maka menurut mazhab Asy-Syafii,
ahli waris tersebut mengihitung tahun dari mulai ia menerima harta.
e. Kurang Nishab di Pertengahan Tahun dan Mengganti Nishab
dengan Nishab
Apabila harta kurang nishab di pertengahan tahun karena si
pemilik menjualnya, atau ia menukar dengan selain dari jenisnya,
maka putuslah tahunnya. Sesungguhnya penuhnya nishab disepanjang
tahun adalah syarat wajib zakat, terkecuali jika sehari dua hari kurang
dari setahun. Jika dimaksudkan dengan menjual atau menukar untuk
membebaskan diri dari zakat ketika telah cukup tahun, maka
penjualan atau penukarannya tidak menggugurkan zakat.9

8
Ibid., hlm., 35-36
9
Ibid., hlm., 39

6
4. Harta yang Wajib Dizakati dalam Zakat Mal
1) Zakat Emas dan Perak
Emas dan perak yang dimaksud dalam bab zakat adalah emas dan perak
yang dimiliki muzakki dengan kepemilikan yang sah. Baik dari pemberian,
pembelian, warisan, maadin (pertambangan) maupun rikaz (temuan).
a. Zakat Emas dan Perak dari Pemberian, Pembelian dan Semisalnya
Kewajiban zakatnya setelah mencapai nishab dan haul. Hal ini
berdasarkan hadits (shahih atau hasan menurut an-Nawawi) riwayat Abu
Dawud no. 1575
Jika engkau memiliki perak 200 dirham dan telah mencapai haul,
maka darinya wajib zakat 5 dirham. Dan untuk emas tidak wajib
menzakatinya, kecuali telah mencapai 20 dinar, maka darinya wajib
zakat dinar. Lalu dalam setiap kelebihannya maka wajib dizakati
sesuai prosentasenya.
Maksud dari hadits tersebut bahwa nishab emas yang dizakatkan
adalah 20 dinar (85 gram), sedangkan nishab dari zakat perak adalah 200
dirham (595 gram). Dari hadis ini bisa dipahami bahwa prosentase kadar
zakat emas dan perak adalah 2,5% dari aset yang dimiliki.10
b. Zakat Maadin (Emas dan Perak Pertambangan)
Maadin yang dimaksud adalah setiap emas dan perak hasil
pertambangan dari area tambang umum atau milik penambang. Dalam
zakat maadin hanya disyaratkan nishab. Bila hasil tambang mencapai
satu nishab (77,50 gram), maka kadar zakatnya adalah 2,5%. Cara
kalkulasinya sama dengan zakat emas dan perak.
c. Zakat Rikaz (Emas dan Perak Temuan)
Rikaz ialah harta benda orang-orang purbakala yang berharga yang
ditemukan oleh orang-orang pada masa sekarang, wajib dikeluarkan
zakatnya. Barang rikaz itu umumya berupa emas dan perak atau benda
logam lainnya yang berharga.

10
Muntaha AM, Op. Cit., hlm., 31-32.

7
Kadar ukuran zakat yang wajib dikeluarkan dalam zakat rikaz
adalah 1/5 atau 20% dari harta yang ditemukan. Hal ini didasarkan pada
sabda Rasulullah SAW, sebagai berikut:
Zakat rikas sebesar 1/5 bagian. (HR. Bukhari dan Muslim).
Selain merujuk pada hadits tersebut, penentuan sebesar 20% itu
berdasarkan pada pertimbangan penemunya tidak perlu susah payah dan
memerlukan banyak biaya.
Tidak perlu persyaratan harus dimiliki selama 1 tahun. Untuk dapat
mengeluarkan zakat, jumlah rikaz tersebut disyaratkan mencukupi nisab
emas atau perak, yaitu 20 dinar emas atau 200 dirham perak atau
sejumlah 85 gram emas.11
2) Zakat Mal Mustafad (Gaji Profesi, Hadiah dan Semisalnya)
Mal mustafad adalah harta yang diperoleh seseorang dari sebab-sebab
tertentu, seperti gaji profesi, baik pegawai negeri atau swasta, dokter, penjahit,
pemborong proyek bangunan dan harta lain seperti hadiah, pemberian dan
semisalnya.12
Mengacu pada yang menyamakan uang (real, rupiah, dolar dan
semisalnya) dengan emas atau perak dalam kewajiban zakat sebesar 2,5%
ketika mencapai nishab maka nishab zakat profesi sama dengan nishab perak
atau emas, yang mana saat telah mencapai salah satunya maka wajib dizakati
sebesar 2,5%.
Oleh sebab itu, setiap mal mustafad baik dari gaji profesi atau hadiah,
ketika mencapai satu nishab (senilai 85 gram emas atau 595 gram perak),
maka terkena wajib zakat sebesar 2,5%.13
3) Zakat Uang
Mata uang wajib dizakati karena fungsinya sebagai alat tukar sebagaimana
emas dan perak yang ia gantikan fungsinya saat ini. Hukum mata uang ini pun
sama dengan hukum emas dan perak karena kaidah yang telah maruf al
badl lahu hukmul mubdal (pengganti memiliki hukum yang sama dengan

11
El-Madani, Fiqih Zakat Lengkap, (Jogjakarta:Diva Press), 2013, hlm., 115-117.
12
Ibid., hlm., 62.
13
Ibid., hlm., 65.

8
yang digantikan). Mata uang yang satu dan lainnya bisa saling digabungkan
untuk menyempurnakan nishab karena masih dalam satu jenis walau ada
berbagai macam mata uang dari berbagai negara.
Patokan dalam nishab mata uang adalah nishab emas atau perak. Jika
mencapai salah satu nishab dari keduanya, maka ada zakat. Jika kurang dari
itu, maka tidak ada zakat. Jika kita perhatikan yang paling sedikit nishabnya
ketika ditukar ke mata uang adalah nishab perak. Patokan nishab inilah yang
lebih hati-hati dan lebih menyenangkan orang miskin. Besaran zakat mata
uang adalah 2,5% atau 1/40 ketika telah mencapai haul.
Contoh perhitungan zakat mata uang:
Simpanan uang yang telah mencapai haul adalah Rp.10.000.000,- Harga
emas saat masuk haul = Rp.500.000,-/gram (perkiraan). Nishab emas = 85
gram x Rp.500.000,-/gram = Rp.42.500.000,-.
Harga perak saat masuk haul = Rp.5.000,-/gram (perkiraan). Nishab perak
= 595 gram x Rp.5.000,-/gram = Rp.2.975.000,-. Yang jadi patokan adalah
nishab perak. Simpanan di atas telah mencapai nishab perak, maka besar
zakat yang mesti dikeluarkan = 1/40 x Rp.10.000.000,- = Rp.250.000,-.
4) Zakat Harta Perdagangan
Tijarah (perdagangan) adalah aktivitas yang berhubungan dengan menjual
dan membeli barang untuk memperoleh keuntungan. Adapun yang dimaksud
dengan harta perdagangan adalah harta yang dijual atau dibeli guna
memperoleh keuntungan. Harta ini tidak hanya tertentu pada harta kekayaan,
teetapi semua harta benda yang diperdagangkan, baik harta itu termasuk
sesuatu yang wajib di zakati seperti emas, perak, biji-bijian, buah-buahan, dan
hewan ternak, atau harta lainnya seperti kain, benda-benda buatan pabrik,
kerajinan tangan, tanah, bangunan, dan sebagainya. Semua itu termasuk harta
perdagangan dan diwajibkan menunaikan zakatnya bila persyaratannya
terpenuhi.14
Harta perdagangan wajib dikelurakan zakatnya jika sudah mencapai
nishab. Adapun nishab yang diberlakukan pada harta ini adalah 20 dinar, atau

14
El-Madani, Fiqh Zakat Lengkap, (Yogjakarta: Diva Press, 2013), hlm., 95-96

9
85 gram emas, atau 200 gram perak. Apabila seseorang telah mencapai nishab
tersebut, maka ia wajib menunaikan zakatnya, yaitu sebesar 2,5 %. Pada saat
ini, nishab tersebut ditentukan dengan kurs mata uang yang dipakai di suatu
negara, dan tetap memperhatikan hak-hak fakir miskin.
Disyaratkan sempurna satu haul untuk zakat harta benda perdagangan.
Haulnya bermula sejak dimilikinya harta benda perdagangan melalui
transaksi. Jika telah sempurna haulnya, dan harta dagangan mencukupi
nishab, maka diwajibkan zakatnya. Jika tidak mencukupi nishab tersebut,
maka ia tidak diwajibkan menunaikan zakat.15
5) Zakat Pertanian
a) Zakat Tumbuh-Tumbuhan dan Dalil Wajibnya
Persoalan zakat tumbuh-tumbuhan, Allah SWT telah nashkan
dalam Al-Quran:
Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah sebagian yang
baik-baik dari harta yang kamu usahakan dan dari yang Kami keluarkan
untuk kamu dari bumi. (QS. Al-Baqarah[2]: 267)
Muslim dan Abu Daud meriwayatkan dari Jabir, bahwasanya
beliau mendengar Nabi SAW, bersabda:
Pada yang disirami hujan dan mata air dan tumbuhan-tumbuhan
itu hanya minum air hujan, dikenakan seusyer, dan pada yang disirami
dengan mengangkat air, nishfuusher.
Dari ayat dan hadits tersebut jelas kewajiban zakat terhadap yang
ditumbuhkan bumi, (makanan-makanan yang dihasilkan bumi). Tetapi
para ulama berbeda pendapat dalam menentukan jenis-jenis penghasilan
bumi yang dikenakan zakat.16
b) Buah-buahan dan Biji-bijian yang Disepakati Wajib Zakat
Buah-buahan dan biji-bijian yang disepakati wajib zakat ialah biji
makanan ynag mengenyangkan seperti beras, jagung, gandum dan
sebagainya. Adapun biji makanan yang tidak mengenyangkan seperti

15
Ibid., hlm., 103-106
16
M. Hasbi ash-Shiddieqy, Op.Cit., hlm.,95-96

10
kacang tanah, kacang panjang, buncis, tanaman muda dan sebagainya,
tidak wajib dizakati.
Firman Allah SWT:
Dan tunaikanlah haknya dihari memetik hasilnya (dengan
dikeluarkan zakatnya). (Al-Anam: 141)
Syarat bagi pemilik biji-biji makanan yang wajib dizakati tersebut
yaitu:
1. Islam.
2. Merdeka.
3. Milik yang sempurna.
4. Sampai nishabnya.
5. Biji makanan itu ditanam oleh manusia.
6. Biji makanan itu mengenyangkan dan tahan disimpan lama.17
Adapun nishab biji makanan yang mengenyangkan dan buah-
buahan adalah 300 sha (lebih kurang 930 liter) bersih dari kulitnya.
Hitungannya:
1 wasaq = 60 sha
5 wasaq = 5 x 60 sha
1 sha = 3,1 liter.
Jadi, 300 x 3,1 = 930 liter (satu nishab)
Zakatnya, kalau diairi dengan air sungai atau air hujan adalah 1/10
(10%). Tetapi kalau diairi dengan air kincir yang ditarik oleh binatang,
atau disiram dengan alat yang memakai biaya, zakatnya adalah 1/20 (5%).
Selebihnya dari satu nishab (300 sha) dihitung zakatnya menurut
perbandingan yang tersebut di atas (10% atau 5%).
Mulai zakat biji dan buah-buahan ialah bila sudah dimiliki, yaitu
dari sesudah masak. Zakat itu wajib dikeluarkan tunai apabila sudah
terkumpul, dan yang menerimanya sudah ada.18

17
Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2002), hlm.,196
18
Ibid., hlm., 204-205

11
c) Zakat Paroan Sawah
Zakat bagi paroan sawah diwajibkan atas orang yang punya benih
sewaktu mulai bertanam. Jika yang mengeluarkan benihnya adalah petani
yang mengerjakan sawah itu, maka zakat seluruh hasil sawah yang
dikerjakannya itu wajib atas petani itu, karena pada hakikatnya petanilah
yang bertanam, pemilik sawah hanya mengambil sewa tanahnya, dan
pengahasilan dari sewaan tidak wajib dizakati. Jika benih itu berasal dari
yang punya tanah, maka zakat seluruh hasil sawah itu wajib dibayar oleh
pemilik sawah karena pada hakikatnya dialah yang bertanam, petani hanya
mengambil upah kerja. Penghasilan yang didapat dari upah tidak wajib
dizakati.
d) Buah-buahan
Buah-buahan yang wajib dizakati adalah hanya kurma dan anggur
saja, sedangkan buah-buahan yang lainnya tidak. Dalam hal ini terjadi
perselisihan pendapat antar ulama mengenai jenis buah-buahan yang
wajib dizakati. Namun terdapat kesepakatan bahwa buah-buahan yang
wajib dizakati adalah berupa buah-buahan yang dapat dikeringkan.
Rasulullah SAW, telah menyuruh supaya menaksir buah anggur
itu berapa banyak buahnya, seperti menaksir buah kurma, dan beliau
menyuruh juga supaya memungut zakat anggur sesudah kering, seperti
mengambil zakat buah kurma, juga sesudah kering. (Riwayat Tirmidzi
dan ia menilainya sebagai hadits hasan)
Syarat bagi pemilik buah-buahan yang wajib dizakati itu adalah:
1. Islam.
2. Merdeka.
3. Milik yang sempurna.
4. Nishab (sampai satu nishab).19

19
Ibid., hlm., 197

12
6) Zakat Harta Hewan Ternak
Hewan ternak dalam bahasa arab disebut dengan kata al-anam. Lafazh
tersebut merupakan bentuk plural/ jamak dari kata an-naam. Di dalam al-
Quran disebutkan:
Dan, sesungguhnya, pada binatang-binatang ternak , benar-benar
terdapat pelajaran yang penting bagi kamu, Kami memberi minum kamu dari
air susu yang ada dalam perutnya, dan (juga) pada binatang-binatang ternak
itu terdapat faedah yang banyak untuk kamu, dan sebagian daripadanya kamu
makan. (Qs. Al-Muminun[23]: 21).20
A. Kewajiban Menunaikan Zakat Hewan Ternak
Alasan diwajibkannya menunaikan zakat hewan ternak, seperti
unta, sapi, dan kambing, ialah karena hewan-hewan ternak tersebut dapat
bertambah atau berkembang biak dengan baik. Adapun dasar wajibnya
zakat ini telah ditetapkan di dalam hadits shahih, terutama hadits berikut:
Az-Zuhri berkata, Jika orang yang membayar zakat membagi
kambingnya menjadi tiga bagian, 1/3 kambing yang bagus-bagus, 1/3
kambing-kambing yang sedang, dan 1/3 kambing-kambing yang buruk,
maka ia boleh mengeluarkan zakatnya dari kambing yang berkualitas
sedang. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai, Baihaqi, dan Darimi).
Hewan ternak itu hanya berlaku pada unta, sapi, dan kambing, atau
yang dinisbatkan kepada hewan-hewan tersebut, misalnya kerbau
dinisbatkan kepada sapi. Dengan demikian, tidak diwajibkan zakat pada
ternak kuda ataupun keledai. Rasulullah saw. bersabda:
Seorang muslim tidak diwajibkan membayar zakat pada budak
dan kudanya. (HR. Bukhari dan Muslim).21
B. Syarat-Syarat Zakat Hewan Ternak
Syarat wajib zakat hewan ternak adalah pemiliknya beragama
Islam, mencapai nishab, dan sudah sempurna satu haul. Adapun saling
memindahkan hewan ternak dengan cara yang salah, maka hal itu tidak

20
El-Madani, Op.Cit., hlm., 53
21
Ibid., hlm., 54-58

13
menggugurkan haul, dan memindahkan hewan ini dimakruhkan jika
bermaksud melarikan diri dari kewajiban berzakat.
1. Kepemilikan Hewan Berjalan Konsisten di Setiap Tahun
Dalam zakat hewan ternak, disyaratkan kepemilikannya hewan
tersebut sempurna selama satu haul. Jika kepemilikan tersebut hilang
sebentar saja sebelum satu haul, kemudian kembali lagi kepada
pemiliknya, maka haulnya terputus dan dimulai haul yang baru ketika
hewan itu kembali.
Kalau pemilik hewan mengganti hewan ternak dengan hewan
ternak lainnya yang jenisnya sama, seperti unta dengan unta, atau
yang jenisnya berbeda, seperti unta diganti dengan kambing, maka
setiap jenis ini haulnya dimulai ketika pemilik menggantinya.22
2. Hewan Ternak yang Digembalakan
Hewan ternak yang diwajibkan zakatnya adalah hewan ternak yang
digembalakan. Dalil terkait masalah ini ialah hadits yang diriwayatkan
oleh Anas Bakar ra. yang di dalamnya tertulis Zakat kambing yang
digembalakan apabila mencapai jumlah 40 ekor, maka ia wajib
ditunaikan zakatnya. Secara eksplisit, atsar ini menunjukkan tidak
wajib zakat pada kambing yang tidak digembalakan.
Bahz bin Hakim meriwayatkan dari bapaknya, dan bapaknya dari
kakeknya, bahwasannya Rasulullah saw bersabda:
Pada unta yang digembalakan, pada setiap jumlah yang
mencapai 40 ekor unta, zakatnya adalah 1 ekor bintu labun.(HR.
Abu Dawud dan Nasai)
Jika hewan ternak itu diberi makan di sebagian besar hari-hari
dalam setahun, baik malam maupun siang, maka tidak diwajibkan
zakat pada hewan tersebut. Jika diberi makan hanya sebentar, yang
sekiranya hewan itu dapat hidup tanpa diberi makan dengan cara
digembalakan, antara satu hingga dua hari, atau dapat hidup, akan
tetapi akan membahayakannya, maka tidak diwajibkan zakat pada

22
Ibid., hlm., 60-63

14
hewan tersebut, karena memberi makan hewan itu terlimpahkan pada
pemiliknya.
3. Hewan Ternak yang Tidak Dipekerjakan
Kewajiban zakat pada hewan ternak yang digembalakan
disyaratkan hewan itu untuk dikembangbiakkan, yakni untuk diambil
susunya, atau agar bertambah jumlahnya, atau diambil dagingnya,
serta bukan untuk dipekerjakan. Jika hewan-hewan itu dipekerjakan,
seperti unta yang digunakan untuk membawa barang-barang, atau
untuk mengambil air, atau sapi yang digunakan untuk membajak
sawah, maka tidak ada kewajiban membayar zakatnya.
Dalil yang menunjukkan hal ini ialah hadits shahih yang
diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra. yaitu sabda Rasulullah saw Tidak
diwajibkan zakat pada sapi yang dipekerjakan. (HR. Thabrani, Abu
Dawud, Daruquthni, dan Baihaqi). Ali ra. berkata, bahwasannya
Rasulullah saw. bersabda, Tidak diwajibkan zakat pada hewan yang
dipekerjakan. (HR. Thabrani, Abu Dawud, Daruquthni, dan
Baihaqi).
Amr bin Syuaib meriwayatkan dari bapaknya dari kakeknya,
sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda Tidak diwajibkan shadaqah
(zakat) pada hewan yang dipekerjakan. (HR. Baihaqi dan
daruquthni).
Karena zakat hanya wajib pada harta yang berkembang, sedangkan
hewan-hewan yang dipekerjakan tidak dimaksudkan untuk diambil
susunya atau berkembangbiaknya, maka hewan ini tidak wajib
dizakati.23
C. Nishab Hewan Ternak
Hewan ternak tidak wajib dikeluarkan zakatnya, kecuali jika
jumlahnya sudah mencapai nishab. Hal ini telah ditetapkan dalam hadits-
hadits shahih, diantaranya adalah hadits riwayat Anas bin Malik ra.
capaian nishab tersebut harus ada di sepanjang tahun. Jika kurang dari

23
Ibid., hlm., 58-64

15
nishab sehari atau beberapa hari sebelum haulnya sempurna, seperti
kepemilikannya hilang dengan cara dijual atau dihibahkan atau
pemiliknya meninggal dunia, maka haulnya terputus, dan tidak
diwajibkan membayar zakat. Bila ada seekor hewan melahirkan, atau
hewan yang dijual dikembalikan, maka haulnya dimulai dari awal.
Apabila ada seekor hewan melahirkan, dan seekor yang lain mati, maka
haulnya tidak terputus, karena pada haul itu tidak mengurangi nishabnya.
Nishab-nishab hewan ternak ini berbeda-beda sesuai dengan jenis
hewan tersebut. Penjelasannya dapat dilihat dalam uraian berikut:
1. Nishab Unta
Berikut tabel yang menunjukkan nisab unta dan batasan zakat yang
diwajibkan pada setiap jumlahnya:
Nishab Unta Bentuk Zakat yang Harus
Dari sampai Dikeluarkan
5 9 1 ekor kambing umur 2 tahun
10 14 2 ekor kambing umur 2 tahun
15 19 3 ekor kambing umur 2 tahun
20 24 4 ekor kambing 2 tahun
25 35 1 ekor bintu makhadh (unta betina umur 1 tahun)
36 45 1 ekor bintu labun (unta betina umur 2 tahun)
46 60 1 ekor hiqqah (unta betina umur 3 tahun)
61 75 1 ekor jadzah (unta betina umur 4 tahun)
76 90 2 ekor bintu labun
91 120 2 ekor hiqqah
121 129 3 ekor bintu labun
Seterus Di setiap jumlah 40 ekor, 1 ekor bintu labun. Dan,
130
nya disetiap 50 ekor, 1 ekor hiqqah24
Orang yang hendak menunaikan zakat dapat memilih antara
kambing domba atau kambing biasa. Boleh juga membayar dengan

24
Ibid., hlm., 65-67

16
kambing jantan, meskipun yang ia miliki unta betina. Dan jika ia
ingin membayar dengan unta sebagai ganti kambing, pada unta
berjumlah 25 ke bawah, maka hal itu diperbolehkan baik sebagai
ganti satu ekor kambing atau beberapa ekor kambing. Sebab, yang
menjadi prinsip dalam zakat hewan ternak adalah si pemilik
membayar dari jenis yang diwajibkan. Akan tetapi, alasan zakat unta
diperintahkan untuk membayar dengan kambing adalah agar tidak
terlalu memberatkan pemiliknya.25
2. Nishab Zakat Sapi
Nishab pada sapi dimulai dari jumlah 30 ekor. Jika sudah mencapai
jumlah tersebut, maka wajib mengeluarkan zakat berupa tabia
(seekor sapi jantan yang berusia 1 tahun lebih). Bila jumlah sapi ada
40 ekor, maka wajib membayar zakat dengan seekor musinnah (anak
sapi betina yang berusia 2 tahun lebih), atau si pemilik boleh
membayarnya dengan dua ekor tabia. Ini menurut pendapat yang
lebih shahih dalam madzhab Syafii. Akan tetapi, ia tidak boleh
membayarnya dengan satu ekor musin (anak sapi jantan yang berusia
2 tahun lebih).
Kemudian, zakat sapi dianggap sempurna dengan mengikuti
perhitungan ini, yakni apabila jumlahnya bertambah dengan kelipatan
10 ekor sapi, maka pada setiap jumlah yang mencapai 40 ekor,
zakatnya ialah musinnah.
Dasar hukum dalam hal ini ialah hadits yang diriwayatkan oleh
Muadz ra. ia berkata, Rasulullah saw mengutusku ke Yaman, lalu
beliau memerintahkan aku untuk mengambil zakat berupa seekor
tabia dari setiap 30 ekor sapi dan musinnah dari setiap 40 ekor
sapi. (HR. Malik, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai, Baihaqi, Hakim,
Daruquthni). Dan berikut jadwal nishab sapi:

25
Ibid., hlm.,65-68

17
Nishab Sapi
Jumlah Zakat yang Harus Dikeluarkan
Dari Sampai
1 ekor tabia atau tabiah (anak sapi jantan atau
30 39
betina yang berusia 1 tahun)
1 ekor musinnah (anak sapi yang berusia 2
40 59
tahun)
60 69 2 ekor tabia
70 79 2 ekor sapi, tabia dan musinnah
80 89 2 ekor musinnah
90 99 3 ekor sapi (1 tabia dan 2 musinnah)
100 109 3 ekor sapi (1 musinnah dan 2 tabia)
110 119 3 ekor sapi (2 musinnah dan 1 tabia)
120 129 3 ekor musinnah atau 4 ekor tabiah
130 139 4 ekor sapi, 3 ekor tabiah dan 1 ekor musinnah
140 149 4 ekor sapi, 2 musinnah dan 2 tabiah
150 159 5 ekor tabiah, dan demikian seterusnya26

3. Nishab Zakat Kambing


Nishab zakat kambing dimulai dari jumlah 40 ekor kambing. Jika
sudah mencapai jumlah tersebut, maka zakat yang wajib dibayarkan
adalah 1 ekor jadzah, yaitu kambing domba yang berusia 1 tahun
lebih, atau kambing biasa yang berusia 2 tahun. Bila jumlah kambing
mencapai 121-200, maka zakatnya adalah 2 ekor kambing. Jika
kambing mencapai 201-300 ekor, maka zakatnya adalah 3 ekor
kambing. Kemudian, pada setiap jumlah 100 ekor, maka yang wajib
dibayarkan zakatnya adalah 1 ekor kambing. Berikut jadwal zakat
kambing:

26
Ibid., hlm., 68-70

18
Nishab Kambing
Jumlah Kambing yang Harus Dikeluarkan
Dari Sampai
1 ekor kambing domba yang berusia 1 tahun
40 120
lebih, atau kambing biasa yang berusia 2 tahun.
121 200 2 ekor kambing
201 300 3 ekor kambing
301 400 4 ekor kambing27

5. Zakat Mal dalam Tinjauan Normatif dan Filosofis


a. Zakat Mal dalam Tinjauan Normatif
1) Zakat Uang, Emas dan Perak
Dasar hukum zakat uang, emas dan perak terdapat dalam surat At-
Taubah ayat 34-35. Ayat tersebut diperkuat oleh hadits rasulullah saw.
yang artinya Tiada bagi pemilik emas dan perak yang tidak menunaikan
haknya untuk mengeluarkan zakatnya, melainkan pada hari kiamat ia
didudukkan diatas padang batu yang lebar dalam neraka, dibakar di
dalam jahannam, disetrika dengannya lambung, kening dan
punggungnya. Setiap api itu padam, maka dipersiapkan lagi baginya.
(Hal serupa untuk jangka waktu 5000 tahun, hingga selesai pengadilan
umat semuanya, kemudian diperlihatkan kepadanya jalnnya, apakah ke
surge atau ke neraka. (HR Bukhari, Abu dawud, Ibnu Mundzir, Abu
Hatim, dan Mardhawayyi)
2) Zakat Binatang Ternak
Landasan hukum zakat binatang ternak yaitu firman Allah yang
artinya Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya kami
telah menciptakan binatang ternak untuk mereka, yaitu sebagian dari apa
yang telah kami ciptakan dengan kekuasaan kami sendiri, lalu mereka
menguasainya? Dan kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka,
maka sebagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebagiannya mereka

27
Ibid., hlm., 71-72

19
makan. Dan mereka memperoleh padanya manfaat-manfaat dan
minuman. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur. (Yasin: 71-73)
3) Zakat Harta Dagang
Landasan hukum zakat harta dagang ialah firman Allah yang
artinya, Hai orang-orang yang beriman nafkahkanlah (dijalan Allah)
sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang
Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih
yang buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri
tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata
terhadapnya. Dan ketahuilah,bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha
Terpuji. (QS. Al-Baqarah: 267)
4) Zakat Pertanian
Dasar hukum kewajiban zakat pertanian terdapat dalam Al-Quran
dan sunnah. Salah satunya adalah .Makanlah dari buahnya (yang
bermacam-macam itu) bila berubah, dan tunaikanlah haknya di hari
memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin) (QS. Al-
Anaam: 141)
5) Zakat Profesi
Dasar hukum kewajiban mengeluarkan zakat profesi adalah
terdapat dalam riwayat sebuah hadits yang artinya Abu Ubaid
meriwayatkan dari Ibn Abbas tentang seseorang yang memperoleh harta,
(lalu) Ibn Abbas berkata: (Hendaknya) ia menzakatinya pada saat
memperolehnya.28
b. Zakat Mal dalam Tinjauan Filosofis
1) Sejarah Zakat Mal
Zakat mal, atau zakat harta benda, telah difardhukan Allah sejak
permulaan Islam sebelum Nabi saw. berhijrah ke Madinah. Tidak heran
urusan ini amat cepat diperhatikan Islam, karena urusan tolong-menolong
merupakan urusan yang sangat diperlukan dalam pergaulan hidup dan
dibutuhkan oleh seluruh lapisan masyarakat.

28
Mamluatul Maghfiroh, Zakat, (Jakarta: Gema Insani, 2010), hlm., 51

20
Pada awalnya, zakat difardhukan tanpa ditentukan kadarnya dan
tanpa pula diterangkan dengan jelas harta-harta yang dikenakan zakatnya.
Syara hanya menyuruh mengeluarkan zakat. Banyak sedikitnya terserah
kepada kemauan dan kebaikan para pemberi zakat sendiri. Hal tersebut
berjalan hingga tahun kedua Hijriyah. Mereka yang menerima pada masa
itu adalah dua golongan saja, yaitu fakir dan miskin.
Pada tahun kedua Hijriyah, bersamaan dengan tahun 623 Masehi,
barulah syara menentukan harta-harta yang dizakatkan, serta kadarnya
masing-masing.
Sebagian ulama berpendapat, Sesungguhnya zakat difardhukan
sejak tahun kedua Hijriyah. Yang menerimanya masih dua golongan saja
yakni; fuqara dan masakin, belum dibagi kepada tujuh atau delapan
bagian. Pembagian kepada dua golongan ini saja, berlangsung hingga
tahun kesembilan Hijriyah.
Pada tahun ke-9 Hijriyah, Allah menurunkan ayat 60 surat At-
Taubah atau Al-Baraah. Sesudah turun ayat tersebut, barulah jelas
golongan-golongan yang boleh dan berhak mengambil zakat serta
menerimanya.29
2) Hikmah
Hikmah disyariatkan zakat mal adalah:
a. Menguatkan rasa kasih sayang antar si kaya dengan si miskin. Hal ini
dikarenakan fitrahnya jiwa manusia adalah senang terhadap orang
yang berbuat kebaikan (berjasa kepadanya).
b. Mensucikan dan membersihkan harta serta menjauhkan diri dari sifat
kikir dan bakhil.
c. Membiaskan seorang muslim untuk memiliki sifat belas kasihan.
d. Memperoleh keberkahan, tambahan dang anti yang lebih baik dari
Allah Taala.
e. Sebagai ibadah kepada Allah taala.

29
M. Hasbi ash-Shiddieqy, Op.Cit., hlm., 8-11

21
6. Pengertian, Kadar, Jenis dan Waktu Pelaksanaan Zakat Fitrah
A. Pengertian Zakat Fitrah
Zakat fitrah adalah sejumlah harta yang wajib ditunaikan oleh setiap
mukallaf (orang islam, baligh, dan berakal) dan setiap orang yang nafkahnya
ditanggung olehnya dengan syarat-syarat tertentu.
Zakat fitrah dinamakan juga dengan shadaqah fitrah. Zakat ini dinamakan
dengan zakat fitrah karena kewajiban menunaikannya ketika masuk fitri
(berbuka) di akhir Ramadhan.
B. Kadar dan Jenis Zakat Fitrah
Kadar zakat untuk setiap kepala adalah satu sha makanan pokok yang
bisa dikonsumsi di daerah ia bertempat, seperti beras, jagung dan semisalnya.
Ukuran satu sha menurut konversi yang masyhur adalah 2,75 kg.
C. Waktu Pelaksanaan Zakat Fitrah
Untuk pelaksanaan zakat fitrah, ada lima kategori waktu:
1) Waktu jawaz (waktu mulai diperbolehkannya zakat fitrah), yaitu mulai
malam tanggal 1 Ramadhan sampai sore hari menjelang malam tanggal 1
syawal.
2) Waktu wajib (waktu zakat fitrah wajib dilaksanakan), yaitu ketika malam
tanggal 1 Syawal tiba.
3) Waktu fadhilah atau sunnah, yaitu pagi hari tanggal 1 Syawal sebelum
sholat idul fitri.
4) Waktu makruh, yaitu tanggal 1 Syawal setelah shalat idul fitri sampai sore
hari menjelang malam tanggal 2 Syawal.
5) Waktu haram, yaitu mulai malam tanggal 2 Syawal.30

7. Zakat Fitrah dalam Tinjauan Normatif dan Filosofis


a. Zakat Fitrah dalam Tinjauan Normatif
Zakat fitrah merupakan kewajiban yang harus ditunaikan. Dasar hukum
wajibnya zakat ini terdapat dalam beberapa Al-Quran hadits, di antaranya
adalah Dan dirikanlah shalat dan tunaikan zakat. Dan apa-apa yang kamu

30
Muntaha AM, Op. Cit., hlm., 72-75.

22
usahakan dari kebaikan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya
pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu
kerjakan. (QS. Al-Baqarah: 110). Sedangkan dalam hadits diantaranya hadits
riwayat Ibnu Umar Ra. Sebagaimana berikut, Sesungguhnya, Rasulullah
saw. mewajibkan zakat fitrah kepada kaum muslimin, baik yang merdeka atau
hamba sahaya, laki-laki atau perempuan, dan dikeluarkan berupa satu sha
kurma atau satu sha gandum. (HR. Bukhari dan Muslim)31
b. Zakat Fitrah dalam Tinjauan Filosofis
1) Sejarah Zakat Fitrah
Pada suaru hari di tahun ke-2 hijriyah atau 623 Masehi sebelum
syara menentukan harta-harta yang dizakatkan (zakat mal) dan kadarnya
masing-masing, Nabi saw. mengumumkan di hadapan dara sahabat
beberapa kewajiban Islam. Di antara butiran tutur kata beliau pada hari itu
ialah, Kewajiban mengeluarkan zakat nafs (zakatul fithri) yang terkenal
dalam masyarakat kita dengan fitrah.
Nabi mengumumkan hal itu dua hari sebelum hari raya puasa (Idul
Fitri), yang pada tahun itu baru dimulai. Pada hari itu Nabi saw.
menerangkan kewajiban dan kefardhuan fitrah sebelum pergi ke tempat
shalat hari raya (sebelum shalat hari raya).
Nabi membagi zakat nafs ini kepada fakir miskin saja, seperti
halnya membagi zakat harta sebelum diturunkan ayat 60 bahkan
sesudahnya pun Nabi sangat mementingkan fakir miskin, sehingga ada
ulama yang mengatakan bahwa zakat nafs hanya diberikan kepada fakir
miskin saja. Dari apa yang dikerjakan Nabi tersebut dapat diketahui,
bahwa hendaklah kita mementingkan fakir dan miskin ketika membagi
zakat nafs, dan kita boleh menghabiskan zakat untuk keperluan fakir
miskin saja.
Kita boleh membagi zakat kepada selain fakir miskin, namun
jangan sampai menyebabkan kurang perhatian kita kepada fakir miskin,

31
El madani, Op.Cit., hlm., 140

23
atau menyebabkan kita menyamakan hak fakir miskin dengan hak bagian-
bagian lain.32
2) Hikmah
Zakat fitrah diwajibkan untuk mensucikan diri serta
menyempurnakan kekurangan-kekurangan saat menjalankan ibadah puasa
Ramadhan. Zakat ini ibarat sujud sahwi yang dilakukan apabila terdapat
kekurangan di dakam shalat. Waki bin Al-Jarrah berkata, Zakat fitrah
bagi puasa ramadhan itu seperti sujud sahwi di dalam shalat. Zakat fitrah
berguna menyempurnakan puasa ramadhan, sebagaimana sujud sahwi
yang menjadi penyempurna kekurangan di dalam shalat.
Terkait dengan keistimewaan zakat fitrah, Ibnu Abbas berkata,
Sesungguhnya, Rasulullah saw. mewajibkan zakat fitrah untuk
mensucikan orang yang berpuasa dari omongan yang tidak bermanfaat
dan kotor, serta memberi makan kepada fakir miskin. Barang siapa yang
menunaikannya sebelum shalat Idul Fitri, maka itu adalah zakat yang
diterima. Sedangkan jika ditunaikan setelah shalat Idul Fitri, maka itu
adalah shdaqah biasa. (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Daruquthni)33

8. Masalah-Masalah yang Timbul dari Adanya Zakat


A. Hukum Menjual Zakat Dan Membagi Harganya
Ulama-ulama Syafiiyah berpendapat bahwa: Tidak boleh bagi kepala
negara dan pengumpul zakat untuk menjual harta zakat sebelum keadaan
memaksa. Zakat itu disampaikan kepada yang berhak karena yang menerima
zakat itu adalah orang yang tidak boleh dijual harta mereka tanpa seizin
mereka. Bila keadaan memaksa, seperti takut binasa atau takut dirampok
pembegal atau perlu untuk mengembalikan kekurangan kepada pembeli
zakat, atau memerlukan biaya pengangkutan dan yang sepertinya, maka
bolehlah ia menjualnya. Ulama-ulama Syafiiyah berkata: Jika wajib
seekor unta atau seekor lembu atau seekor kambing, maka tidak boleh

32
M. Hasbi ash-Shiddieqy, Op.Cit., hlm., 11
33
El Madani, Op.Cit., hlm., 140-141

24
pemilik menjualnya dan membagi harganya, tetapi ia wajib mengumpulkan
orang-orang yang menerima zakat lalu diberikan zakatnya kepada mereka.
Juga dibolehkan kepala negara (penguasa) menjual zakat.
B. Memberi Zakat Kepada Orang yang Tidak Berhak
Apabila seseorang memberi zakatnya kepada orang yang berhak
menerimanya lantaran tidak mengetahui keadaannya seperti hamba sahaya,
orang fakir, dan kerabat pemberi zakat yakni: diberikan kepada orang-orang
yang boleh menerima zakat, tidaklah sah zakat itu, karena tidak berhak
menerimanya sedang keadaannya menurut biasa tidak tersembunyi. Adapun
apabila telah diberikan kepada orang yang disangka fakir kemudian ternyata
kaya, maka zakatnya sah menurut Abu Bakar ibn Mundzir. Itulah pendapat
Al-Hasan, Abu Ubaid dan Abu Hanifah.
C. Berusaha Mengeluarkan Diri dari Zakat
Allah SWT menyiksa orang-orang yang ingin melepaskan diri dari zakat
dan karena mereka bermaksud menghilangkan bagian orang yang berhak
menerimanya. Hal ini sama dengan mereka menceraikan istrinya dalam
keadaan sakit mati. Oleh karena dia bermaksud buruk, pantaslah mereka
disiksa, sama dengan orang yang membunuh seorang warisnya supaya cepat
ia menerima pusaka. Pembunuh itu diharamkan menerima pusaka.34

34
M. Hasbi ash-Shiddieqy, Op.Cit., hlm., 193-196

25
BAB III

PENUTUP

A. Simpulan
Simpulan dalam makalah ini adalah:
1. Zakat ialah pemberian suatu yang wajib diberikan dari sekumpulan harta
tertentu, menurut sifat-sifat dan ukuran tertentu kepada golongan tertentu
yang berhak menerimanya.
2. Mustahiq zakat (orang yang berhak menerima zakat) terdiri dari 8 golongan,
yaitu fakir, miskin, muallaf, gharim, riqab, amil zakat, sabilillah dan ibn
sabil.
3. Zakat mal adalah bagian harta yang disisihkan oleh seorang muslim atau
badan yang dimiliki oleh orang muslim sesuai dengan ketentuan agama untuk
diberikan kepada yang berhak menerimanya.
4. Harta yang wajib dizakati dalam zakat mal diantaranya, zakat uang, emas dan
perak, zakat binatang ternak, zakat mal mustafad, zakat uang, perdagangan,
harta pertanian, dan zakat harta hewan ternak.
5. Zakat Mal dalam Tinjauan Normatif dan Filosofis
a. Zakat Mal dalam Tinjauan Normatif
1) Zakat Uang, Emas dan Perak
Dasar hukum zakat uang, emas dan perak terdapat dalam hadits
rasulullah saw. yang artinya Tiada bagi pemilik emas dan perak yang
tidak menunaikan haknya untuk mengeluarkan zakatnya, melainkan
pada hari kiamat ia didudukkan diatas padang batu yang lebar dalam
neraka, dibakar di dalam jahannam, disetrika dengannya lambung,
kening dan punggungnya. Setiap api itu padam, maka dipersiapkan
lagi baginya. (Hal serupa untuk jangka waktu 5000 tahun, hingga
selesai pengadilan umat semuanya, kemudian diperlihatkan
kepadanya jalnnya, apakah ke surge atau ke neraka. (HR Bukhari,
Abu dawud, Ibnu Mundzir, Abu Hatim, dan Mardhawayyi)
2) Zakat Binatang Ternak

26
Landasan hukum zakat binatang ternak yaitu firman Allah yang
artinya Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya kami
telah menciptakan binatang ternak untuk mereka, yaitu sebagian dari
apa yang telah kami ciptakan dengan kekuasaan kami sendiri, lalu
mereka menguasainya? Dan kami tundukkan binatang-binatang itu
untuk mereka, maka sebagiannya menjadi tunggangan mereka dan
sebagiannya mereka makan. Dan mereka memperoleh padanya
manfaat-manfaat dan minuman. Maka mengapakah mereka tidak
bersyukur. (Yasin: 71-73)
3) Zakat Harta Perdagangan
Landasan hukum zakat harta dagang ialah firman Allah yang
artinya, Hai orang-orang yang beriman nafkahkanlah (dijalan Allah)
sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa
yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu
memilih yang buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu
sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan
mata terhadapnya. Dan ketahuilah,bahwa Allah Maha Kaya lagi
Maha Terpuji. (QS. Al-Baqarah: 267)
4) Zakat Pertanian
Dasar hukum kewajiban zakat pertanian terdapat dalam Al-Quran
dan sunnah. Salah satunya adalah .Makanlah dari buahnya (yang
bermacam-macam itu) bila berubah, dan tunaikanlah haknya di hari
memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin) (QS.
Al-Anaam: 141)
5) Zakat Profesi
Dasar hukum kewajiban mengeluarkan zakat profesi adalah
terdapat dalam riwayat sebuah hadits yang artinya Abu Ubaid
meriwayatkan dari Ibn Abbas tentang seseorang yang memperoleh
harta, (lalu) Ibn Abbas berkata: (Hendaknya) ia menzakatinya pada
saat memperolehnya.

27
b. Zakat Mal dalam Tinjauan Filosofis
Perintah mengeluarkan zakat sudah dimulai pada awal abad ke-2
hijriyah, dimana zakat pada waktu itu hanya diberikan kepada fakir dan
miskin saja, tidak ditujukan kepada mereka selain fakir dan miskin.
Kemudian pada awal abad ke-9 hijriyah turun surat at-taubah ayat 60 yang
berisi tentang golongan-golongan yang boleh dan berhak mengambil zakat
serta menerimanya.
6. Zakat fitrah adalah sejumlah harta yang wajib ditunaikan oleh setiap mukallaf
(orang islam, baligh, dan berakal) dan setiap orang yang nafkahnya
ditanggung olehnya dengan syarat-syarat tertentu. Ukuran zakat fitrah satu
sha nya menurut konversi yang masyhur adalah 2,75 kg.
7. Zakat Fitrah dalam Tinjauan Normatif dan Filosofis
a. Zakat Fitrah dalam Tinjauan Normatif
Zakat fitrah merupakan kewajiban yang harus ditunaikan. Dasar
hukum wajibnya zakat ini terdapat dalam beberapa Al-Quran hadits, di
antaranya adalah Dan dirikanlah shalat dan tunaikan zakat. Dan apa-
apa yang kamu usahakan dari kebaikan bagi dirimu, tentu kamu akan
mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat
apa-apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Baqarah: 110).
b. Zakat Fitrah dalam Tinjauan Filosofis
Perinth mengeluarkan zakat fitrah dimulai pada suaru hari di tahun
ke-2 hijriyah atau 623 Masehi sebelum syara menentukan harta-harta
yang dizakatkan (zakat mal) dan kadarnya masing-masing, Nabi saw.
mengumumkan di hadapan dara sahabat beberapa kewajiban Islam. Di
antara butiran tutur kata beliau pada hari itu ialah, Kewajiban
mengeluarkan zakat nafs (zakatul fithri) yang terkenal dalam masyarakat
kita dengan fitrah.
Nabi mengumumkan hal itu dua hari sebelum hari raya puasa (Idul
Fitri), yang pada tahun itu baru dimulai. Pada hari itu Nabi saw.
menerangkan kewajiban dan kefardhuan fitrah sebelum pergi ke tempat
shalat hari raya (sebelum shalat hari raya).

28
8. Masalah-masalah yang timbul dari adanya zakat diantaranya adanya hukum
menjual zakat dan membagi hartanya, memberi zakat kepada orang yang tidak
berhak dan masalah bagi orang yang berusaha mengeluarkan diri dari zakat.

B. Saran
Saran dalam makalah ini adalah:
1. Bagi pemakalah dimohon untuk lebih giat dalam mempelari makalah, mencari
referensi maupun mempelajari tema bahasan untuk lebih memhami materi.
2. Bagi teman-teman agar aktif, tanggap dan responsif dalam menanggapi
makalah ini ketika presentasi.
3. Pemakalah masih memerlukan banyak masukan maupun pembenaran apabila
ada kesalahan, maka dimohon kepada dosen pengampu untuk memberikan
tanggapan akan makalah ini.

29
DAFTAR PUSTAKA

AM, Muntaha. 2012. Fiqh Zakat: Panduan Praktis dan Solusi Kekinian. Kediri:
Pustaka Gerbang Lama.
Ash-Shiddieqy, M. Hasbi. 2002. Pedoman Zakat. Semarang: Pustaka Rizki Putra.

Djarajat, Zakiah. 1995. Ilmu Fiqh 1. Jakarta: Dana Bhakti Wakaf.

Madani, El. 2013. Fiqih Zakat Lengkap. Jogjakarta: Diva Press.

Maghfiroh, Mamluatul. 2010. Zakat. Jakarta: Gema Insani.

Rasjid, Sulaiman. 2002. Fiqh Islam. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

30