Anda di halaman 1dari 20

KARSINOMA SEL BASAL

Dwi Andari Maharani, S.Ked


Bagian/Departemen Dermatologi dan Venereologi
Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya/RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang

Pendahuluan

Kanker sel basal adalah neoplasma ganas yang jarang bermetastasis, berasal
berasal dari lapisan basal epidermis dan apendiksnya.1 Secara histopatologis
karsinoma sel basal ditandai oleh sel yang mirip dengan benih embrio rambut.1
Jumlah karsinoma sel basal sekitar 75 % dari semua kanker kulit. Angka kematiannya
sangat rendah, tetapi karsinoma sel basal kadang tumbuh secara agresif menyebabkan
destruksi jaringan yang luas.2 Karsinoma sel basal dapat terjadi pada orang tua namun
semakin sering terjadi pada orang yang berusia di bawah 50 tahun.3

Saat ini kanker kulit cenderung mengalami peningkatan di seluruh dunia.


Salah satu kanker kulit yang mengalami peningkatan tersebut adalah kanker sel basal.
Karsinoma sel basal dihubungkan dengan predisposisi genetik, lingkungan, dan
paparan sinar matahari, khususnya ultraviolet B (UVB).4

Menurut Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI), karsinoma sel basal


bagi dokter umum adalah kompetensi 2. Dengan demikian dokter umum harus
mampu mendiagnosis dan merujuk pasien dengan karsinoma sel basal. Karsinoma sel
basal jarang menimbulkan metastasis tetapi karsinoma sel basal bersifat destruktif,
merusak jaringan kulit, tulang rawan hingga tulang di sekitarnya, maka deteksi dini
diperlukan untuk mencegah terjadinya karsinoma sel basal. Pada referat ini akan
dibahas mengenai definisi, epidemiologi, etiopatogenesis, manifestasi klinis,
histopatologi, diagnosis, penatalaksanaan, pencegahan, edukasi dan prognosis
karsinoma sel basal. Diharapkan melalui referat ini akan meningkatkan pemahaman
mengenai karsinoma sel basal, sehingga cepat dilakukan deteksi dan pencegahan
perkembangan keganasan kanker kulit terkhususnya karsinoma sel basal.

1
Definisi

Karsinoma sel basal merupakan keganasan kulit yang berasal dari sel non
keratin lapisan basal epidermis. Nama lain Karsinoma Sel Basal (KSB) disebut juga
basalioma, epitelioma sel basal, ulkus rodent, ulkus Jacob, atau tumor Komprecher.2

Epidemiologi

Karsinoma sel basal umum dijumpai di masyarakat. Jumlah karsinoma sel


basal sekitar 75 % dari semua kanker kulit. Berdasarkan data epidemiologi
menunjukkan bahwa keseluruhan insiden meningkat secara signifikan di seluruh
dunia sebesar 3%-10% per tahun. Karsinoma sel basal biasa terjadi pada orang tua
namun semakin sering terjadi pada orang yang berusia di bawah 50 tahun.2
Karsinoma sel basal terutama terdapat pada ras Kaukasoid, menyerang terutama pada
lanjut usia (lansia), dengan jumlah rasio laki-laki lebih banyak dari pada perempuan
2:1, sedangkan di Malaysia dan Singapura, rasio laki-laki dibandingkan dengan
perempuan hampir sama. Penelitian retrospektif di Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan
Kelamin (IKKK) RSUP M. Hoesin Palembang, didapatkan adanya peningkatan
insiden karsinoma sel basal primer. Penelitian Toruan TL dkk. (2000), mendapatkan
20 kasus (0,042%) karsinoma sel basal primer, sedangkan Yahya YF dkk. pada tahun
(2008) mendapatkan 47 pasien (0,11%) karsinoma sel basal primer .5 Faktor risiko
terjadinya karsinoma sel basal yaitu paparan sinar ultraviolet, rambut dan mata yang
berwarna terang, keturunan Eropa Utara dan ketidakmampuan untuk berjemur.2

Etiopatogenesis

Etiopatogenesis karsinoma sel basal adalah predisposisi genetik, lingkungan,


dan paparan sinar matahari, khususnya ultraviolet B (UVB) yang merangsang
terjadinya mutasi suppressor genes. Radiasi UVB merusak DNA dan memengaruhi
sistem imun sehingga menghasilkan perubahan progresif genetik dan keganasan.

2
Sinar ultraviolet menginduksi mutasi pada gen penghambat tumor p53 telah
ditemukan pada sekitar 50% kasus karsinoma sel basal.2,3,6

Faktor genetik yang berperan terdapat pada kromosom 1 dan satu varian dari
setiap kromosom 5, 7, 9, dan 12. Varian kromosom tersebut diketahui berhubungan
dengan ketidakmampuan dalam proteksi terhadap paparan sinar matahari, yang
mungkin berhubungan dengan faktor risiko tambahan terhadap paparan sinar
matahari yang bersifat heterozigot. Kelainan genetik yang bersifat homozigot
terutama berhubungan dengan pengaturan sonic hedgehog pathway signaling, paling
sering terjadi pada sindrom nevoid karsinoma sel basal atau sindrom Gorlin.
Hedgehog pathway (HP) aktif pada perkembangan fetus dan akan berhenti bila
jaringan sudah dewasa. Pada kasus-kasus karsinoma terjadi pengaktifan HP kembali
dan ditemukan di PTCH1 dan Smoothened (SMO). Mutasi yang paling sering
diidentifikasi pada PTCH1 dan SMO merupakan dari jenis yang konsisten dengan
kerusakan akibat sinar ultraviolet.2,3,6 Faktor lingkungan yang diketahui dapat
memicu terjadinya karsinoma sel basal adalah hidrokarbon, arsenik, batubara, aspal,
obat topikal methoxipsoralen, dan sinar UV. Rangsangan onkogen, kondisi
imunosupresif, luka kronis, dan trauma akut juga terbukti sebagai faktor pencetus
timbulnya kanker kulit, memicu pertumbuhan keratinosit menjadi lesi seperti
karsinoma sel basal.10 Efek radiasi sinar ultraviolet terhadap kulit dapat bersifat akut
dan kronik. Secara klinis, efek akut dari radiasi UV adalah sunburn inflammation,
eritema, nyeri, panas, tanning sintesis melanin, imunosupresif lokal dan efek
sistemik. 3,6

Kerusakan DNA yang terjadi akibat pembentukan 6,4-photoproducts seperti


cyclobutane pyrimidine dimmers, diperbaiki dengan nucleotide excision repair
(NER). Jika perbaikan DNA gagal dan sel yang bersangkutan tetap hidup, akan
terjadi kerusakan DNA menetap, berarti telah terjadi mutasi gen yang bersangkutan.
Radiasi UV-B meningkatkan apoptosis keratinosit untuk membunuh sel yang
kerusakan DNA-nya gagal diperbaiki terutama pada daerah yang aktif mengalami

3
proliferasi pada lapisan basal epidermis, sehingga kejadian mutasi oleh radiasi UV-B
tidaklah mudah terjadi. Jika mutasi ini mengenai gen yang menyandi sintesis faktor
pertumbuhan (protoonkogen) atau yang menyandi sintesis faktor penghambat
pertumbuhan (tumor supressor gene), maka karsinogenesis sudah berlangsung.2

Sinar UV yang secara kronik mengenai sel induk kulit menyebabkan


photoaging, imunosupresi, dan fotokarsinogen. Fotokarsinogen melibatkan
pembentukan foto produk yang merusak DNA. Jika perbaikan DNA gagal, maka
akan terjadi mutasi protoonkogen menjadi onkogen atau inaktivasi gen penghambat
kanker. Akumulasi mutasi akibat fotokarsinogen termasuk penghapusan genetik
menyebabkan tidak aktifnya gen penghambat kanker yang menyandi pembentukan
protein penghambat proliferasi sel. Akumulasi mutasi gen inilah yang berperan dalam
memicu terjadinya karsinoma sel basal. 3,6

Gambaran Klinis

Berdasarkan patologi klinis, karsinoma sel basal memiliki sifat pertumbuhan


yang berbeda, yaitu sebagai berikut:7

1. Nodul: Kista, berpigmen, keratosis; jenis karsinoma sel basal yang paling
sering dijumpai; biasanya muncul sebagai papul, berbentuk seperti mutiara,
berwarna serupa kulit dengan telangiektasis.
2. Infiltratif: tumor yang menginfiltrasi dermis di untaian tipis antara serat
kolagen, membuat tepi kanker kurang terlihat.
3. Mikronodular: tidak mudah terjadi ulserasi; ketika diregangkan muncul warna
putih-kuning, memiliki tepi yang berbatas tegas.
4. Morpheaform: Terlihat seperti putih atau kuning, lunak, plak sklerotik yang
jarang terjadi ulserasi; datar atau sedikit menurun, fibrotik dan berbatas tegas
5. Superfisial: Dapat dijumpai pada tubuh bagian atas atau bahu; secara klinis
terlihat eritem, patch atau plak, sering dengan skala keputihan.

4
Karsinoma sel basal nodular (solid)
Karsinoma sel basal nodular terdiri dari 50%-80% dari semua karsinoma sel
basal. Biasanya terjadi pada area yang terpapar sinar matahari seperti kepala dan
leher. Lesi biasanya ditemukan di hidung (25%-30%), dahi, telinga, area periocular,
dan pipi. Karsinoma sel basal nodular terdiri atas satu atau beberapa kecil, waxy,
nodul semi transparan, terbentuk di sekitar depresi sentral yang dapat atau tidak dapat
terjadi ulserasi, krusta, dan berdarah. Tepi dari lesi memiliki karakteristik rolled
border. Telangiektasis melewati lesi tersebut. Perdarahan pada luka ringan
merupakan tanda umum. 1,3,6
Sebagai kemajuan pertumbuhan, krusta muncul di atas erosi atau ulkus sentral, dan
ketika krusta lepas, perdarahan terjadi dan ulkus menjadi terlihat jelas. Ulkus ini
ditandai dengan pembesaran kronik dan bertahap dari waktu ke waktu. Lesi tersebut
asimptomatik dan perdarahan satu-satunya kesulitan yang dihadapi. Karsinoma sel
basal tipe nodular seperti terlihat pada gambar 1. 3,6

Gambar 1. Karsinoma sel basal, tipe nodular6

Karsinoma sel basal infiltratif


Karsinoma sel basal infiltratif merupakan subtipe agresif yang ditandai oleh
infiltrasi dalam dari spiky islands epitel basaloid di stroma kaya fibroblas. Karsinoma
sel basal infiltratif terdiri atas untai kecil sel kanker basaloid, yang mungkin hanya
satu sampai dua lapisan sel tebal, seperti terlihat pada gambar 2. 3,6

5
Gambar 2. Lesi infiltrat dengan tepi dan ukuran ireguler di daerah dahi laki-laki usia 76 tahun8

Karsinoma sel basal mikronodular


Karsinoma sel basal mikronodular menunjukkan nodul sel kanker yang lebih
kecil dibandingkan dengan karsinoma sel basal nodular. Karsinoma sel basal
mikronodular seperti terlihat pada gambar 3. Kanker ini tidak khas secara klinis,
namun pola pertumbuhan mikronodular membuat karsinoma sel basal mikronodular
tidak dapat dikuretase.3,6

Gambar 3. Karsinoma sel basal mikronodular8

Karsinoma sel basal morpheaform


Karsinoma sel basal morpheaform adalah variasi pertumbuhan agresif
karsinoma sel basal dengan perbedaan klinis dan penampilan histologi. Lesi
karsinoma sel basal morpheaform berwarna putih gading dan menyerupai jaringan
parut atau lesi kecil morphea. Karsinoma sel basal morpheaform 95% terjadi di

6
kepala dan leher. Tidak terdapat ulserasi, pearly rolled border, krusta, namun
terdapat telangiektasi, seperti terlihat pada gambar 4.3,6

Gambar 4. Karsinoma sel basal morpheaform9

Karsinoma sel basal superfisial


Karsinoma sel basal superfisial paling sering terjadi di badan (45%),
ekstremitas distal (14%), dan 40% terjadi di kepala dan leher. Karsinoma sel basal
superfisial paling sering terlihat kering, berbentuk seperti psoriasis, dan lesinya
bersisik. Biasanya pertumbuhan karsinoma sel basal superfisial datar dan dangkal,
pada beberapa kasus menunjukkan sedikit kecenderungan untuk menginvasi atau
menjadi ulkus. Lesinya membesar sangat perlahan dan dapat salah didiagnosis
sebagai patch eksim atau psoriasis. Karsinoma sel basal superfisial dapat membesar
dengan diameter hingga 10-15 cm. Pemeriksaan pada tepi lesi akan terlihat thread-
like raise border. Plak eritem dengan telangiektasis kadang dapat memperlihatkan
atrofi atau skar. Beberapa lesi dapat masuk ke dermis yang lebih dalam. Ketika hal ini
terjadi, hal tersebut akan menyebabkan fibrosis dermis dan ulserasi multi fokal,
membentuk field of fire tipe karsinoma sel basal yang besar. Adakalanya lesi
tersebut akan sembuh di satu tempat, dengan skar atrofi putih dan kemudian
menyebar secara aktif ke kulit lain. Hal tersebut jarang terjadi pada pasien yang
memiliki beberapa lesi secara bersamaan. Bentuk karsinoma sel basal tersebut paling
sering terjadi pada pasien HIV. 3

7
A B
Gambar 5. A. Titik- titik pada KSB superficial multisentris. B. Karsinoma sel basal superfisial3,10

Histopatologi
Secara histopatologi karsinoma sel basal dibagi menjadi dua bagian besar,
yaitu: karsinoma sel basal yang tidak berdiferensiasi dan karsinoma sel basal yang
berdiferensiasi. Karsinoma sel basal yang tidak berdiferensiasi terdiri atas berbagai
variasi pertumbuhan, ada yang pertumbuhannya lambat seperti superficial BCC,
nodular BCC, dan micronodular BCC, ada pula yang tumbuh agresif seperti
infiltrative BCC, metatypical BCC (basosquamous carcinoma), morpheiform BCC
(sclerosing BCC). Karsinoma sel basal yang berdiferensiasi seperti keratotic BCC,
infundibulocystic BCC, follicular BCC, pleomorphic BCC, BCC with sweat duct
differentiation, BCC with sebaceous diff erentiation, fibroepithelioma of Pinkus, dan
recurrent BCC.4

Karsinoma sel basal nodular


Secara klinis, karsinoma sel basal nodular paling sering ditandai dengan papul
berbentuk mutiara transparan atau nodul dengan rolled border dan telangiektasis.
Bentuk nodular karsinoma sel basal ditandai dengan discrete nests dari sel basaloid di
dermis papiler atau retikuler. 3,6

8
Gambar 6. Karsinoma sel basal nodular ditandai oleh nodul dari sel basofilik dan penarikan stromal 3

Karsinoma sel basal berpigmen


Karsinoma sel basal berpigmen menunjukkan gambaran histologi yang mirip
dengan karsinoma sel basal nodular namun dengan penambahan melanin. Sekitar
75% karsinoma sel basal mengandung melanosit, tetapi hanya 25% yang
mengandung melanin. Melanosit berpotongan antara sel tumor dan mengandung
banyak sekali butiran melanin di sitoplasma dan dendrit. Walaupun sel tumor
mengandung sedikit melanin, banyak sekali populasi melanofag mengelilingi stroma
tumor.3,6

Gambar 7. Karsinoma sel basal berpigmen9

Karsinoma sel basal superfisial

Karsinoma sel basal superfisial ditandai oleh tunas sel ganas membentang ke
dalam dermis dari lapisan dasar epidermis. Lapisan perifer menunjukkan sel palisade.

9
Gambar 8. Karsinoma sel basal superfisial. Beberapa sel basaloid terletak subepidermal
dengan batas yang jelas dengan lapisan epidermis8

Mungkin ada atrofi epidermis, dan invasi kulit biasanya minimal. Terdapat infiltrat
inflamasi kronik pada dermis.3,6

Karsinoma sel basal morpheaform


Karsinoma sel basal morpheaform, juga disebut infiltrative atau sclerosing
BCC, terdiri dari untaian sel tumor tertanam di dalam stroma berserat lebat. Sel tumor
berikatan dengan erat, pada beberapa kasus, hanya satu atau dua sel tebal terjerat
dalam stroma berserat padat kolagen. Untai tumor membentang ke dalam dermis.
Kankernya biasanya lebih besar daripada tampilan klinis.3,6

Gambar 9. Karsinoma sel basal morpheam terdiri atas untaian sel kanker tertanam dalam stroma
berserat padat3

Fibroepithelioma of Pinkus
Untaian panjang sel basiloma terjalin pada stroma berserat dengan kolagen
yang melimpah. Secara histologi, fibroepithelioma of pinkus menunjukkan keratosis
seboroik retikulasi dan karsinoma sel basal superfisial. 3,6

10
Gambar 10. Fibroepithelioma of Pinkus. Trabekula memanjang dan bercabang dari sel basaloid
menyebar ke dermis8

Karsinoma Basoskuamosa
Karsinoma Basoskuamosa menunjukkan infiltrasi jagged tongues sel tumor
bercampur dengan area lain menunjukkan formasi jembatan antar sel skuamosa dan
keratinisasi sitoplasma.6

Gambar 11. Karsinoma basoskuamosa9

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis, dan
pemeriksaan histopatologi dari salah satu lesi untuk menentukan subtipe KSB.
Biasanya penderita KSB datang dengan keluhan bercak hitam di wajah mudah
berdarah dan tidak sembuh-sembuh, atau berupa tahi lalat yang bertambah besar
dengan permukaan tidak rata, dan biasanya terdapat riwayat trauma, serta dapat
disertai dengan rasa gatal atau nyeri. Idealnya dilakukan pemeriksaan histopatologi

11
lesi. Pemeriksaan penunjang seperti CT scan atau MRI diperlukan jika ada
kecurigaan mengenai tulang atau jaringan lainnya.4
Diagnosis karsinoma sel basal dapat dicapai dengan interpretasi akurat dari
hasil biopsi kulit. Metode biopsy yang dianjurkan adalah shave biopsy, biasanya
sudah cukup, dan punch biopsy. Penggunaan silet yang disterilkan, yang dapat
dimanipulasi dengan baik oleh operator untuk mengatur kedalaman saat akan
mengambil spesimen, lebih sering dilakukan dibandingkan penggunaan skalpel
no.15. Punch biopsy dilakukan pada pemeriksaan lesi datar dari varian klinis KSB
morfoik atau KSB berulang yang terjadi di dalam jaringan parut.3

Diagnosis Banding
A. Karsinoma Sel Skuamosa
Karsinoma sel skuamosa adalah suatu proliferasi ganas dari keratinosit
epidermis yang merupakan tipe sel epidermis yang paling banyak dan merupakan
salah satu dari kanker kulit yang sering dijumpai setelah basalioma. Faktor
predisposisi karsinoma sel skuamosa antara lain radiasi sinar ultraviolet bahan
karsinogen, arsenic dan lain-lain. Umur yang paling sering ialah 40 50 tahun
(dekade V-VI) dengan lokalisasi yang tesering di tungkai bawah dan secraa umum
ditemukan lebih banyak pada laki laki daripada wanita. Tumor ini tumbuh lambat,
merusak jaringan setempat dengan kecil kemungkinan bermetastasis. Sebaliknya
tumor ini dapat pula tumbuh cepat, merusak jaringan di sekitarnya dan bermetasis
jauh, umumnya melalui saluran getah bening.12

12
A B

Gambar 12. A. Predileksi Karsinoma Sel Skuamosa B. Karsinoma Sel Skuamosa In Situ
(Bowen Disease)

B. Melanocytic naevi (Nevus Pigmentosus)


Nevus Pigmentosus merupakan tumor jinak pada kulit yang berasal dari
proliferasi dari sel krista neural. Tumor jinak ini memiliki predileksi pada kulit wajah
dan badann lainnya. Gambaran klinik Melanocytic naevi: papul berbatas tegas dan
berkilat, umumnya berambut. Atas dasar histopatologik ditemukan bentuk:
1. intradermal
2. nevus verukosus
3. blue nevus
4. compound nevus
5. junctional nevus12

Gambar 13. Junctional Melanocytic Naevi

13
C. Melanoma Maligna
Melanoma maligna adalah tumor kulit yang ganas yang paling berbahaya.
Melanoma, yang berbeda dengan melanoma maligna lentigo, terjadi pada usia muda
daripada kanker kulit yang lain. Insiden tumor meningkat dengan cepat, bahkan di
daerah yang beriklim sedang, mungkin akibat dari peningkatan paparan sinar matahai
secara intermitan, yang saat ini sedang menjadi mode. Etiologinya belum diketahui
pasti. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan , selain faktor keganasan ada
umumnya ialah iritasi yang berulang pada tahi lalat. Faktor herediter mungkin
memegang peranan dan perlu diperhatikan lebih teliti.
Bentuk dini sangat sulit dibedakan denngan tumor lainnya. Karena melanoma
malignan merupakan penyakit yang fatal bila telah metastasis jauh, maka kemampuan
untuk mengenali keganasan perlu diperdalam. Lokalisasi dilaporkan terbanyak di
ekstremitas bawah, kemudian di daerah badan, kepala/leher ekstremitas atas, kuku.
Berdasakan perjalanan penyakit, gambaran klinis dan histogenesis oleh Clark dan
Mihm melanoma maligna dibagi menjadi sebagai berikut:
1. Bentuk superficial
2. Bentuk Nodular
3. Lentigo maligna melanoma12

Gambar 14. Melanoma Maligna bentuk nodular

14
D. Trichoepitelioma
Merupakan tumor jinak kulit yang berasal dari folikel rambut. Predileksinya
biasanya pada kulit wajah dan badan. Manifestasi klinisnya berupa papul papul
cokelat dengan telangektasis, berukuran miliar higga lentikuler. Anjuran terapi
biasanya dengan bedah listrik.12

Gambar 15. Trichoepitelioma

Tatalaksana
Pemilihan tatalaksana KSB dipertimbangkan berdasarkan lokasi anatomis dan
gambaran histopatologi. Secara garis besar, terapi KSB dikelompokkan menjadi
teknik bedah dan non-bedah. Tujuan dari penatalaksanaan KSB adalah
menghilangkan total lesi KSB, menjaga jaringan normal, fungsi jaringan, serta
mendapatkan hasil optimal secara kosmetik.
Pendekatan meliputi eksisi bedah standar, bedah mikrografik Mohs (MMS),
dan kemoterapi topikal. Kesempatan terbaik untuk mencapai pengobatan adalah
melalui penatalaksanaan yang adekuat pada karsinoma sel basal primer, karena tumor
yang kembali lagi cenderung berulang dan menyebabkan kerusakan lokal lebih
lanjut.3
Pengobatan topikal muncul menjadi yang paling efektif pada pengobatan
karsinoma sel basal superfisial. Penggunaan 5-Fluorouracil (5-FU) untuk terapi
karsinoma sel basal seharusnya dipertimbangkan dengan seksama dan harus
disertakan evaluasi risiko rekurensi dan kegagalan terapi. Sedangkan pada

15
penggunaan imiquimod secara umum efek samping terhadap reaksi kulit lokal
terbatas. Keamanan dan efektivitas imiquimod untuk jenis karsinoma sel basal lain
belum ditetapkan. Imiquimod dapat dipertimbangkan sebagai terapi tunggal hanya
untuk karsinoma sel basal superfisial terbatas untuk tumor kecil pada lokasi yang
memiliki resiko kecil pada pasien yang tidak mau atau tidak dapat menjalani terapi
dengan terapi yang lebih disarankan. Terapi fotodinamik juga muncul sebagai salah
satu pilihan terapi untuk karsinoma sel basal. Pada terapi fotodinamik pasien harus
dimonitor ketat selama 2-3 tahun pertama setelah terapi fotodinamik, yaitu saat
sebagian besar lesi kambuh terlihat. Hasil kosmetik pada terapi fotodinamik secara
signifikan lebih baik daripada pembedahan, namun pada terapi fotodinamik
memerlukan jumlah kunjungan di rumah sakit dan hal tersebut mungkin tidak sesuai
dengan semua orang dengan karsinoma sel basal.3,4,6

Tabel 2. Algoritma untuk tatalaksana karsinoma sel basal6

Primary Rekuren

Pertumbuhan Pertumbuhan Lokasi tumor di Ukuran


tumor tidak tumor agresif canthus, lipatan berapapun
agresif di badan pada badan atau nasolabial, atau dilokasi
atau ekstremitas ekstremitas periorbital atau manapun
area postauricular

Eksisi Eksisi atau Bedah Mohs


atau operasi mikrografik
ED&C operasi mohs
mikrografik

16
Pencegahan dan Edukasi
Edukasi pasien yang memadai penting untuk mencegah kekambuhan dan
penyebaran karsinoma sel basal. Pasien harus menghindari faktor risiko, contohnya
paparan sinar matahari, radiasi ion, konsumsi arsenik, dan berjemur. Penggunaan
pakaian yang melindungi dari sinar matahari seperti topi yang lebar, baju panjang,
kacamata dengan proteksi sinar ultraviolet sangat direkomendasikan ketika
beraktivitas di luar rumah. Pasien tidak boleh terpapar sinar matahari khususnya
selama tengah hari (pukul 11.00 sd 15.00). 4
Penggunaan tabir surya dan aplikasi ulang tabir surya direkomendasikan
sebelum terkena sinar matahari. Tabir surya harus diaplikasikan secara menyeluruh,
20-30 menit sebelum beraktivitas keluar rumah, dan diaplikasikan kembali setiap 2
jam, lebih sering ketika berenang atau berkeringat.2,4
American Cancer Society menganjurkan agar memeriksakan kulit ke dokter
setiap tiga tahun bagi usia 20-39 tahun dan setiap tahun bagi usia di atas 40 tahun.
Selain itu, dapat juga dilakukan Periksa Kulit Sendiri (SAKURI), yaitu metode
pemeriksaan kulit mandiri yang rutin dilakukan sebulan sekali dalam rangka
mendeteksi dini kanker kulit. Dengan pencahayaan yang cukup.2,4

Gambar 12 . Pemeriksaan Kulit Sendiri11

17
Prognosis
Prognosis penderita karsinoma sel basal umumnya baik. Angka kekambuhan
karsinoma sel basal hanya 1% jika diterapi dengan tepat. Pasien harus tetap di-follow
up untuk kekambuhan atau lesi karsinoma sel basal baru. Edukasi penderita penting
agar melakukan pemeriksaan kulit periodik dan menghindari segala faktor risiko.
Perlindungan terhadap paparan sinar matahari dianjurkan untuk setiap pasien dengan
riwayat karsinoma sel basal.4
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi prognosis pada karsinoma sel
basal. Pada karsinoma sel basal apabila ukuran tumor >20 mm, tumor berada di
wajah bagian tengah, periocular, nasal, telinga, dan bibir, tepi lesi tidak dapat
ditentukan secara klinis, penyakit berulang, gambaran histologi berupa
morpheic/infiltratif, mikronodular, basoskuamosa dan terjadi invasi ke pembuluh
darah atau perineural akan meningkatkan resiko pada karsinoma sel basal.1

18
DAFTAR PUSTAKA

1. Kinghorn GR, Brings , Gupta NK. Bacal cell carcinoma. In: Griffiths C, Barker
J, Bleiker T, Chalmers R, Creamer D, eds. Rooks Textbook of Dermatology.
Vol. 4. 8th ed. Oxford:Wiley Blackwell 2016. p.52.18-52.23
2. Pramuningtyas R, Muwardi P. Gejala Klinis sebagai Prediktor pada Karsinoma
Sel Basal. Vol. 4 No. 1 2012;p.33-36
3. Duncan KO, Geisse JK, Leffell DJ. Basal Cell Carcinoma. In: Wolff K,
Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffel DJ, eds. Fitzpatrick's
Dermatology In General Medicine. 8th ed. New York: McGraw-Hill
2012;.1295-1303
4. Sukmawati TT, Reginata G. Diagnosis dan Tatalaksana Karsinoma Sel Basal.
2015. 42 (12): hal. 897-900
5. Yahya YF, Toruan. Profil Karsinoma Sel Basal Primer Palembang. Jakarta:
Media Sermato-Venerologica Indonesiana. 2011. 38 (2): hal. 61-111
6. James WD, Berger TG, Elston DM. Andrews Diseases of the Skin: Clinical
Dermatology, 12th ed. Chicago:Saunder-Elseviers 2015;p.633-637
7. Alter M, Hillen U, Leiter U, et.al. Current Diagnosis and Treatment Basal Cell
Carcinoma. Journal of German Sociaty of Dermatology. 2015;p.863-875
8. Dormishev AL, Rusinova D, Botev I. Clinical variants, stages, and
Management Basal Cell Carcinoma. Indian Dermatology Online Journal. Vol. 4
2013;p 12-18
9. Wysocka MM, Dmochowska MB, Weklar DS. Basal Cell Carcinoma-
Diagnosis. Contemp Oncol 17 (4):337-342
10. Wolff K, Johnson AR, Saavedra A. Fitzpatricks Color atlas dan sypnosis of
clinical dermatology. 7th Ed McGraw Hill;2013
11. Sukmawati TT, Ghaznawie M, Reginata G. Deteksi Dini Karsinoma Sel Basal.
Indonesia Journal of Cancer. 2015. 10 (2): hal.61-66

19
12. Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Ed ke-6. Jakarta: Fakultas
kedokteran universitas Indonesia: 2011.p.229-41.

20