Anda di halaman 1dari 51

Ukhuwah

Orang-orang mukmin sesungguhnya bersaudara; maka rukunkanlah kedua saudaramu yang berselisih
dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat (Q.s. Al-Hujurat [49]: 10).

Manusia beriman mempunyai dua dimensi hubungan yang harus selalu dipelihara dan dilaksanakan,
yakni hubungan vertikal dengan Allah SwT melalui shalat dan ibadah-ibadah lainnya, dan hubungan
horizontal dengan sesama manusia di masyarakat dalam bentuk perbuatan baik. Mukmin niscaya
menjaga harmoni, keseimbangan, equilibrium antara intensitas hubungan vertikal dan hubungan
horizontal. Orientasi hubungan vertikal disimbolkan oleh pencarian keselamatan dan kebaikan hidup di
akhirat, sedangkan hubungan horizontal diorientasikan pada perolehan kebaikan dan keselamatan
hidup di dunia.

Mereka selalu diliputi kehinaan dimana pun mereka berada, kecuali bila mereka berpegang pada tali
(janji) dari Allah dan tali (janji) dari manusia. Mereka mendapat murka dari Allah dan selalu diliputi
kesengsaraan. Yang demikian itu karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi
tanpa sebab; soalnya, karena mereka durhaka dan melanggar batas (Q.s. Ali Imran [3]: 112).

Interaksi manusia dengan sesamanya harus didasari keyakinan bahwa, semua manusia adalah
bersaudara, dan bahwa anggota masyarakat Muslim juga saling bersaudara. Ukhuwah mengandung arti
persamaan dan keserasian dalam banyak hal. Karenanya persamaan dalam keturunan mengakibatkan
persaudaraan, dan persamaan dalam sifat-sifat juga membuahkan persaudaraan.

Faktor penunjang lahirnya persaudaraan adalah persamaan. Semakin banyak persamaan, semakin
kokoh pula persaudaraan. Persamaan dalam cita dan rasa merupakan faktor yang sangat dominan yang
menjadikan seorang saudara merasakan derita saudaranya. Keberadaan manusia sebagai makhluk
sosial, perasaan tenang dan nyaman berada bersama jenisnya dan dorongan kebutuhan ekonomi
bersama juga menjadi faktor penunjang rasa persaudaraan itu. Islam menganjurkan untuk mencari titik
singgung dan titik temu, baik terhadap sesama Muslim, maupun terhadap non-Muslim.

Katakanlah, Wahai Ahli Kitab! Marilah menggunakan istilah yang sama antara kami dengan kamu:
bahwa kita takkan mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Dia; bahwa kita takkan saling
mempertuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, katakanlah, Saksikanlah bahwa kami orang-orang
Muslim [tunduk bersujud pada kehendak Allah] (Q.s. Ali Imran [3]: 64).
Jago Kapuk

Serma

Reputation: 27

12 Mar 2011 16:23 #2

Ukhuwah Islamiyah

Orang-orang mukmin sesungguhnya bersaudara; maka rukunkanlah kedua saudaramu yang berselisih
dan bertakwalah kepada Allah supya kamu mendapat rahmat (QS Al-Hujurat/49:10).

Persaudaraan mukmin yang satu dengan yang lain merupakan ketetapan syariat. Persatuan, kesatuan
dan hubungan harmonis antar anggota masyarakat kecil maupun besar akan melahirkan limpahan
rahmat bagi mereka semua. Sebaliknya, perpecahan dan keretakan hubungan mengundang lahirnya
bencana buat mereka. Untuk menghindarkan keretakan hubungan tersebut, Mukmin niscaya
menghindari sikap memperolok pihak atau kelompok lain; menyebut kekurangan pihak lain dengan
tujuan menertawakan atau merendahkan; berprasangka, memata-matai dan menggunjing pihak lain.
Hai orang-orang beriman! Janganlah ada suatu golongan memperolok golongan yang lain; boleh jadi
yang diperolok lebih baik daripada yang memperolok. Juga jangan ada perempuan menertawakan
perempuan yang lain; boleh jadi yang diperolok lebih baik daripada yang memperolok. Janganlah kamu
saling mencela dan memberi nama ejekan. Sungguh jahat nama yang buruk itu setelah kamu beriman.
Barang siapa tidak bertobat, orang itulah yang zalim. Hai orang-orang beriman! Jauhilah prasangka
sebanyak mungkin; karena sebagian prasangka adalah dosa. Dan janganlah saling memata-matai, jangan
saling menggunjing. Adakah di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?
Tidak, kamu akan merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah. Allah selalu menerima tobat, dan Maha
Pengasih (QS Al-Hujurat/49:11-12).

Nabi Isa AS pernah berkata, Beruntunglah orang yang menjaga lidahnya, yang memiliki rumah sesuai
dengan kebutuhannya, dan yang membersihkan dosa-dosanya. Pada kesempatan lain Nabi Isa AS
bepesan, Apa yang tidak kalian inginkan terjadi padamu, janganlah lakukan kepada orang lain. Dalam
jalan inilah kalian akan betul-betul saleh di hadapan Tuhan. (Tarif Khalidi, 2005).

Terlaksananya persaudaraan Muslim merupakan idaman umat Islam. Atas dasar itulah Rasulullah SAW
menyampaikan khutbah dalam ibadah haji perpisahan,

Wahai sekalian manusia! Camkanlah kata-kataku, karena aku tidak tahu apakah tahun depan aku
masih diberi lagi kesempatan untuk berdiri di depan kalian di tempat ini.

Jiwa dan harta benda kalian adalah suci, dan haram di antara kalian, sebagaimana hari dan bulan ini
adalah suci bagi kalian semua, hingga kalian menghadap Allah SWT. Dan ingatlah, kalian akan
menghadap Allah, yang akan menuntut kalian atas perbuatan-perbuatan yang kalian lakukan.

Wahai manusia! Kalian mempunyai hak atas istri-istri kalian, dan istri-istri kalian mempunyai hak atas
kalian. Perlakukanlah istri-istri kalian dengan cinta dan kasih sayang, karena sesungguhnya kalian telah
mengambil mereka dengan amanat Allah.

Kebangsawanan di masa lalu diletakkan di bawah kakiku. Orang Arab tidak lebih unggul dari bangsa
non-Arab, dan bangsa non-Arab tidak lebih unggul atas bangsa Arab. Semua adalah anak Adam, dan
Adam tercipta dari tanah.

Wahai manusia! Dengar dan pahami kata-kataku! Ketahuilah, bahwasanya sesama muslim adalah
saudara. Kalian semua diikat dalam satu persaudaraan. Harta seseorang tidak boleh menjadi milik orang
lain kecuali diberikan dengan rela hati. Lindungilah diri kalian dari berbuat aniaya.
Aku tinggalkan di antara kalian dua perkara; selama kalian berpegang teguh kepada keduanya, kalian
tidak akan tersesat: Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah. Dan hendaklah yang hadir di sini menyampaikan
kepada orang yang tidak hadir. Siapa tahu, orang yang diberi tahu lebih memahami daripada orang yang
mendengarnya.

Ukhuwah Islamiyah berorientasi pada maslahat keagamaan bersama dengan tolong-menolong dalam
kebajikan dan takwa (QS Al-Maidah/5:2); saling ingat-mengingatkan (QS Al-Ashr/103:3); musyawarah
(QS Asy-Syura/42:38); sikap proaktif (QS Ali Imran/3:104, QS An-Nisa`/4:85); toleransi (QS Al-
Hujurat/49:11), dan keteladanan (QS An-Nisa/4:85).

Normativitas ukhuwah imaniyah tidak menafikan historisitas perselisihan intern umat Mukmin. Maka
setiap Mukmin bertanggung jawab mewujudkan persaudaraan seiman dan seagama tersebut.

Jago Kapuk

Serma

Reputation: 27

12 Mar 2011 16:28 #3

Ukhuwah Insaniyah
Al-Quran mengenalkan lima dimensi ukhuwah: (1) persaudaraan sesama manusia (ukhuwah insaniyah),
(2) persaudaraan nasab dan perkawinan/semenda (ukhuwah nasabiyah shihriyah), (3) persaudaraan
suku dan bangsa (ukhuwah syabiyah wathaniyah), (4) persaudaraan sesama pemeluk agama (ukhuwah
diniyah), (5) persaudaraan seiman-seagama (ukhuwah imaniyah).

Persaudaraan sesama manusia dilandasi oleh kesamaan dan kesetaraan manusia di hadapan Allah SwT.

Hai manusia! Kami ciptakan kamu dari satu pasang laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu
beberapa bangsa dan suku bangsa, supaya kamu saling mengenal [bukan supaya saling membenci,
bermusuhan]. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu dalam pandangan Allah ialah yang paling
bertakwa. Allah Mahatahu, Maha Mengenal (Q.s. Al-Hujurat [49]: 13).

Ketika pembukaan kota Makkah, Bilal naik ke atas Kabah untuk adzan. Seseorang berkata, Pantaskah
budak hitam adzan di atas Kabah? Sahut yang lain, Jika Allah membenci dia, pasti Ia menggantinya.
Maka turunlah ayat itu.

Seluruh umat manusia adalah bersaudara, karena mereka semua berasal dari ayah dan ibu yang satu.
Manusia diturunkan dari sepasang suami-istri. Persaudaraan manusia ditunjukkan oleh sebutan Bani
Adam dalam Al-Quran sebagai berikut.

Hai anak-anak Adam! Janganlah biarkan setan menggoda kamu seperti perbuatannya mengeluarkan
ibu-bapakmu dari surga, dengan menanggalkan pakaian supaya mereka memperlihatkan aurat. Ia dan
pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat dan kamu tak dapat melihat mereka. Kami
jadikan setan-setan sekutu orang-orang tak beriman (Q.s. Al-Araf [7]: 27).

Hai anak-anak Adam! Jika rasul-rasul datang kepadamu dari kalangan kamu sendiri menyampaikan ayat-
ayat-Ku, maka mereka yang bertakwa dan memperbaiki diri, tak perlu khawatir, tak perlu sedih (Q.s. Al-
Araf [7]: 35).

Manusia satu dalam ikatan keluarga dan persaudaraan universal yang mendorong masing-masing
berpartisipasi pada agenda-agenda kegiatan besar dan luas yang bermanfaat pada semua golongan
manusia, antara lain penciptaan keadilan dan perikemanusiaan.
Persaudaraan dalam keturunan dan perkawinan: persaudaraan nasab dan semenda memperoleh
legitimasi dari Al-Quran dengan kokoh sebagai berikut.

Dialah yang menciptakan manusia dari air; lalu dijadikan-Nya ia berkerabat dan bersanak semenda; dan
Tuhanmu Mahakuasa (Q.s. Al-Furqan [25]: 54).

Allah menjadikan buat kamu pasangan-pasangan dari kodratmu sendiri dan Ia menjadikan dari
pasangan-pasangan itu anak-anak, laki-laki dan perempuan dan cucu-cucu dan Ia memberikan
kepadamu rezeki yang baik-baik. Adakah mereka masih percaya kepada yang batil dan tidak mensyukuri
nikmat Allah? (Q.s. An-Nahl [16]: 72).

Hai orang beriman! Jagalah diri kamu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya manusia
dan batu, dijaga para malaikat yang keras dan tegas, tak pernah membangkang apa yang diperintahkan
Allah kepada mereka, dan melaksanakan apa yang diperintahkan (Q.s. At-Tahrim [66]: 6).
Lagi

SPIRIT

Beranda

About me

Jumat, 11 Mei 2012

Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Insaniyah

1. Makna Ukhuwah Islamiyah

Kata Ukhuwah berarti persaudaraan. Maksudnya perasaan simpati atau empati antara dua orang atau
lebih. Masing-masing pihak memiliki perasaan yang sama baik suka maupun duka, baik senang maupun
sedih. Jalinan perasaan itu menimbulkan sikap timbale balik untuk saling membantu bila pihak lain
mengalami kesulitan. Dan sikap untuk membagi kesenangan kepada pihak lain. Ukhuwah dan
persaudaraan yang berlaku bagi sesame muslim disebut ukhuwah islamiyah.

Persaudaraan sesama muslim adalah persaudaraan yang tidak dilandasi oleh keluarga, suku, bangsa, dan
warna kulit, namun karena perasaan seaqidah dan sekeyakinan. Nabi mengibaratkan antara satu muslim
dengan muslim lainnya ibaratkan satu tubuh. Apabila ada satu bagian yang sakit, maka seluruh tubuh
akan merasakan sakitnya. Rasulullah SAW juga bersabda : tidak sempurna iman salah seorang kamu,
sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri .

Hadis di atas berarti, seorang mulim harus dapat merasakan penderitaan dan kesusahan saudara yang
lainnya. Ia harus selalu menempatkan dirinya pada posisi saudaranya.

Antara sesama muslim tidak ada sikap saling permusuhan,dilarang mengolok-olok saudaranya yang
muslim. Tidak boleh berburuk sangka dan mencari kesalahan orang lain ( Q.S al-Hujurat: 11-12)

Sejarah telah membuktikan bagaimana keintiman persahabatan dan lezatnya persaudaraan antara kaum
muhajirin dan kaum anshar. Kaum muhajirin rela meninggalkan segala harta dna kekayaann dan
keluarganya di kampong halaman. Demikian juga kaum anshar dengan penuh keikhlasan menyambut
dan menjadikan kaum Muhajirin sebagai saudara. Peristiwa inilah awal bersatunya dua hati dalam
bentuk yang teorisentrik dan universal sebagai hasil dari sebuah persaudaraan yang dibangun Nabi atas
dasar kesamaan aqidah.

2. Makna ukhuwah insaniyah


Persaudaraan sesama manusia disebut ukhuwah insaniyah. Persaudaraan ini dilandasi oleh ajaran
bahwa semua umat manusia adalah makhluk Allah. Perbedaan keyakinan dan agama juga merupakan
kebebasan pilihan yang diberikan Allah. Hal ini harus dihargai dan dihormati.

Dalam praktek, ketegangan yang sering timbul intern umat beragama dan antar umat beragama
disebabkan oleh:

1. Sifat dari masing-masing agama yang mengandung tugas dakwah atau missi

2. Kurangnya pengetahuan para pemeluk agama akan agamanya sendiri dan agama lain. Arti
keberagamannya lebih keoada sikap fanatisme dan kepicikan ( sekedar ikut-ikutan).

3. Para pemeluk agama tidak mampu menahan diri, sehingga kurang menghormati bahkan memandang
rendah agama lain.

4. Kaburnya batas antara sikap memegang teguh keyakinan agama dan toleransi dalam kehidupan
bermasyarakat.

5. Kecurigaan masing-masing akan kejujuran pihak lain, baik intern umat beragama maupun antar umat
beragama.

6. Kurangnya saling pengertian dalam menghadapi masalh perbedaan pendapat.

Dalam pergaulan antar agama, semakin hari kita merasakan intensnya pertemuan agama-agama itu.
Walaupun kita juga semakin menyadari bahwa pertemuan itu kurang diisi segi-segi dialogis antar
imannya.

Dalam pembinaan umat Bergama, para pemimpin dan tokoh agama mempunyai peranan yang besar,
yaitu:

1. Menterjemahkan nilai-nilai dan norma-norma agama ke dalam kehidupan bermasyarakat

2. Menerjemahkan gagasan-gagasan pembangunan ke dalam bahasa yang dimengerti oleh masyarakat.

3. Memberikan pendapat, saran dan kritik yang sehat terhadap ide-ide dan cara-cara yang dilakukan
untuk suksesnya pembangunan.

4. Mendorong dan membimbing masyarakat dan umat beragama untuk ikut serta dalam usaha
pembangunan

5. Meredamkan api-api konflik yang ada dan berusaha mencari titk temu dan solusi
Lagi

KUMPULAN MAKALAH

kumpulan makalah ini adalah makalah-makalah yang telah di presentasikan di depan dosen-dosen
pembimbing di Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran(PTIQ)Jakarta

Home

Entries (RSS)

Comments (RSS)

Contact

Blogger Sponsors

My blog is worth $0.00.

How much is your blog worth?

Your Ad Here

Categories

Bhs. Indonesia (4)

Bhs. Inggris (1)

Civic Education (7)

Fiqih (7)
Ilmu Hadits (12)

Ilmu Kalam (7)

Ilmu Sosial Dasar (3)

Metodologi Studi Islam (6)

Pengetahuan (5)

Sejarah Peradaban Islam (1)

tafsier (7)

Tasawuf (1)

Ulumul Quran (9)

Labels

Bhs. Indonesia

(4)

Bhs. Inggris

(1)

Civic Education

(7)

Fiqih

(7)

Ilmu Hadits

(12)

Ilmu Kalam

(7)
Ilmu Sosial Dasar

(3)

Metodologi Studi Islam

(6)

Pengetahuan

(5)

Sejarah Peradaban Islam

(1)

tafsier

(7)

Tasawuf

(1)

Ulumul Quran

(9)

ALL ABoUt Me

NoVaIRi HuSaINi Al-MunDzirI

LahIr 24 NovembeR 1988 di Madura IslanD, tepatnya kota sumenep. JenjanG pendikan: SD ParsaNga II
SumeneP, tHan NyantRi d podk moderN ma'had tahfidz Al-Amien Pr3nduan Madura hiNgga Luluz, N
telah menyelesaikan hafalan al-qUrannya 30 juz. KmduiaN demi menjaga hafalan DaN memperdaLm
iLmu Ke-AlquRaNan, serta hal-hal yg berhubungan dg huKum sYariat Islam, maka melanJutkaN jenJanG
peNdidikaN di Institut PerguruaN TiNggi Ilmu Al-QuraN (PTIQ) Jakarta DaN meNgmBiL JurusaN HuKum
ISlaM (aL-AkWaLu AsYskhsiyaH) hiNgga skaRang

Lihat profil lengkapku

Business Plan
Masukkan Code ini K1-46E25B-2

untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

ShoutMix chat widget

02:27

UKHUWAH ISLAMIYAH

Diposkan oleh NoVaIRi HuSaINi Al-MunDzirI

PEMBAHASAN

A. Definisi Ukhuwah Islamiyah

Ukhuwah yang biasa diartikan sebagai persaudaraan, terambil dari akar kata yang pada mulanya
berarti memperhatikan. Makna asal ini memberi kesan bahwa persaudaraan mengharuskan adanya
perhatian semua pihak yang merasa bersaudara.

Masyarakat Muslim mengenal istilah Ukhuwah Islamiyah. Istilah ini perlu didudukan maknanya, agar
bahasan kita tentang ukhuwah tidak mengalami kerancauan. Untuk itu, terlebih dahulu perlu dilakukan
tinjauan kebahasaan untuk menetapkan kedudukan kata Islamiyah dalam istilah diatas. Selama ini ada
kesan bahwa istilah teresebut bermakna persaudaraan yang dijalin oleh sesama muslim, atau dengan
kata lain , kata islamiyah dujadikan sebagai pelaku ukhuwah itu.

Pemahaman ini kurang tepat. Kata Islamiyah yang dirangkaikan dengan kata ukhuwah lebih tepat
dipahami sebagai adjektiva, sehingga ukhuwah islamiyah berarti persaudaraan yang bersifat islami atau
yang diajarkan oleh Islam. Paling tidak ada dua alasan untuk mendukung pendapat ini. Pertama, Al-
Quran dan Hadits memperkenalkan bermacam-macam persaudaraan. Kedua, karena alasan
kebahasaan. Di dalam bahasa arab, kata sifat selalu harus disesuaikan dengan kata yang disifatinya. Jika
yang disifati berbentuk indefinitif maupun feminin, maka kata sifatnya pun harus demikian. Ini terlihat
secara jelas pada saat kita berkata ukhuwah Islamiyah dan Al-Ukhuwah Al-Islamiyah.

Kata ukhuwah berakar dari kata kerja akha, misalnya dalam kalimat akha fulanun shalihan, (Fulan
menjadikan Shalih sebagai saudara). Makna ukhuwah menurut Imam Hasan Al Banna: Ukhuwah
Islamiyah adalah keterikatan hati dan jiwa satu sama lain dengan ikatan aqidah.

B. Macam-Macam Ukhuwah Islamiyah


Di atas telah dikemukakan arti ukhuwah Islamiyah, yakni ukhuwah yang bersifat Islami atau yang
diajarkan oleh Islam. Di dalam Al-Quran banyak sekali ayat-ayat yang menyinggung masalah ukhuwah
Islamiyah dan dapat kita simpulkan bahwa di dalam kitab suci ini memperkenalkan paling tidak empat
macam persaudaraan:

1) Ukhuwah ubudiyah atau saudara kesemahlukan dan kesetundukan kepada Allah.

2) Ukhuwah Insaniyah (basyariyah) dalam arti seluruh umat manusia adalah bersaudara, karena mereka
semua berasal dari seorang ayah dan ibu. Rasulullah Saw. juga menekankan lewat sabda beliau,

) (

Jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara.

Hamba-hamba Allah semuanya bersaudara

3) Ukhuwah wathaniyah wa an-nasab, yaitu persaudaraan dalam keturunan dan kebangsaan.

4) Ukhuwah fi din Al-Islam, persaudaraan antarsesama Muslim. Rasulullah Saw. bersabda,

Kalian adalah sahabat-sahabatku, saudara-saudara kita adalah yang datang sesudah (wafat)-ku.

C. Hakekat Ukhuwah Islamiyah

1.Nikmat Allah

Artinya: Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-
berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan,
maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang yang bersaudara;
dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah
Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (Q.S. Ali Imron:103)

2. Perumpamaan tali tasbih

Artinya: Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali
orang-orang yang bertaqwa. (Q.S.Az-Zukhruf :67)
3. Merupakan arahan Rabbani

Artinya: Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu
membelanjakan (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati
mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi
Maha Bijaksana. (Q.S. Al-Anfal:63)

4. Merupakan cermin kekuatan iman

Artinya: Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua
saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (Q.S. Al-hujurat:10)

Abu Hurairah r.a., dari Nabi Muhammad saw., beliau bersabda, Barangsiapa menghilangkan kesusahan
seorang muslim, niscaya Allah akan menghilangkan satu kesusahannya di hari kiamat. Barang siapa
menutupi aib di hari kiamat. Allah selalu menolong seorang hamba selama dia menolong saudaranya.
(H.R. Muslim).

Taawun adalah saling membantu tentu saja dalam kebaikan dan meninggalkan kemungkaran.D. Hal-hal
yang menguatkan ukhuwah islamiyah:

1. Memberitahukan kecintaan kepada yang kita cintai

Hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda: Ada seseorang berada di
samping Rasulullah lalu salah seorang sahabat berlalu di depannya. Orang yang disamping Rasulullah
tadi berkata: Aku mencintai dia, ya Rasullah. Lalu Nabi menjawab: Apakah kamu telah
memberitahukan kepadanya? Orang tersebut menjawab: Belum. Kemudian Rasulullah bersabda:
Beritahukan kepadanya. Lalu orang tersebut memberitahukan kepadanya seraya berkata:
Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah. Kemudian orang yang dicintai itu menjawab: Semoga
Allah mencintaimu karena engkau mencintaiku karena-Nya.
2. Memohon didoakan bila berpisahTidak seorang hamba mukmin berdoa untuk saudaranya dari
kejauhan melainkan malaikat berkata: Dan bagimu juga seperti itu (H.R. Muslim)

3. Menunjukkan kegembiraan dan senyuman bila berjumpaJanganlah engkau meremehkan kebaikan


(apa saja yang dating dari saudaramu), dan jika kamu berjumpa dengan saudaramu maka berikan dia
senyum kegembiraan. (H.R. Muslim)

4. Berjabat tangan bila berjumpa (kecuali non muhrim)Tidak ada dua orang mukmin yang berjumpa lalu
berjabatan tangan melainkan keduanya diampuni dosanya sebelum berpisah. (H.R Abu Daud dari
Barra)

5. Sering bersilaturahmi (mengunjungi saudara).

6. Memberikan hadiah pada waktu-waktu tertentu.

7. Memperhatikan saudaranya dan membantu keperluannya.

8. Memenuhi hak ukhuwah saudaranya.

9. Mengucapkan selamat berkenaan dengan saat-saat keberhasilan.

E. Manfaat Ukhuwah Islamiyah

1) Merasakan lezatnya iman.

2) Mendapatkan perlindungan Allah di hari kiamat (termasuk dalam 7 golongan yang dilindungi).

3) Mendapatkan tempat khusus di surga.

Di antara unsur-unsur pokok dalam ukhuwah adalah cinta. Tingkatan cinta yang paling rendah adalah
husnudzon yang menggambarkan bersihnya hati dari perasaan hasad, benci, dengki, dan bersih dari
sebab-sebab permusuhan. Al-Quran menganggap permusuhan dan saling membenci itu sebagai siksaan
yang dijatuhkan Allah atas orang0orang yang kufur terhadap risalahNya dan menyimpang dari ayat-
ayatNya. Sebagaiman firman Allah Swt dalam Q.S. Al-Maidah:14:

Artinya: Dan diantara orang-orang yang mengatakan:"Sesungguhnya kami orang-orang Nasrani", ada
yang telah kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebahagian dari apa yang
mereka telah diberi peringatan dengannya; maka Kami timbulkan diantara mereka permusuhan dan
kebencian sampai hari kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang selalu
mereka kerjakan.

Ada lagi derajat (tingkatan) yang lebih tinggi dari lapang dada dan cinta, Yaitu itsar. Itsar adalah
mendahulukan kepentingan saudaranya atas kepentingan diri sendiri dalam segala sesuatu yang dicintai.
Ia rela lapar demi kenyangnya orang lain. Ia rela haus demi puasnya prang lain. Ia rela berjaga demi
tidurnya orang lain. Ia rela bersusah payah demi istirahatnya orang lain. Ia pun rela ditembus peluru
dadanya demi selamatnya orang lain. Islam menginginkan dengan sangat agar cinta dan persaudaraan
antara sesama manusia bisa merata di semua bangsa, antara sebagian dengan sebagian yang lain. Islam
tidak bisa dipecah-belah dengan perbedaan unsur, warna kulit, bahasa, iklim, dan atau batas negara,
sehingga tidak ada kesempatan untuk bertikai atau saling dengki, meskipun berbeda-beda dalam harta
dan kedudukan.

Perjuangan Islam tidak akan tegak tanpa adanya ukhuwah islamiyah.Islam menjadikan persaudaraan
dalam islam dan iman sebagai dasar bagi aktifitas perjuangan untuk menegakkan agama Allah di muka
bumi. Ukhuwah islamiyah akan melahirkan rasa kesatuan dan menenangkan hati manusia. Banyak
persaudaraan lain yang bukan karena islam dan persaudaraan itu tidak akan kuat dikalangan umat
dewasa ini terjadi disebabkan mereka tidak memenuhi persyaratan ukhuwah, yaitu kurangnya
mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah yang bersungguh-sungguh. Sebagaimana firman Allah
SWT:

Artinya: Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua
saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.(Q.s. Al-Hujrat:10)

Artinya: Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang.


Katakanlah:"Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertaqwalah kepada Allah
dan perbaikilah perhubungan diantara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu
adalah orang-orang beriman".(Q.S. Al-Anfal:1)

Oleh karena itu untuk mencapai nikmatnya ukhuwah, perlu kita ketahui beberapa proses terbentuknya
ukhuwah Islamiyah antara lain :

1. Melaksanakan proses Taaruf






Artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-
mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling
bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Taaruf adalah saling mengenal sesama manusia. Saling mengenal antara kaum muslimin merupakan
wujud nyata ketaatan kepada perintah Allah SWT . Adanya interaksi dapat membuat ukhuwah lebih
solid dan kekal. Persaudaraan Islam yang dijalin oleh Allah SWT merupakan ikatan terkuat yang tiada
tandingannya, Perpecahan mengenal karakter individu. Perkenalan pertama tentunya kepada
penampilan fisik (Jasadiyyan), seperti tubuh, wajah, gaya pakaian, gaya bicara, tingkah laku, pekerjaan,
pendidikan, dan lain sebagainya. Selanjutnya interaksi berlanjut ke pengenalan pemikiran (Fikriyyan).
Hal ini dilakukan dengan dialog, pandangan terhadap suatu masalah, kecenderungan berpikir, tokoh
idola yang dikagumi dan diikuti, dan lain sebagainya. Pengenalan terakhir adalah mengenal kejiwaan
(Nafsiyyan) yang ditekankan kepada upaya memahami kejiwaan, karakter, emosi, dan tingkah laku.
Setiap manusia tentunya punya keunikan dan kekhasan sendiri yang memepengaruhi kejiwaannya.
Proses ukuhuwah islamiyah akan terganggu apabila tidak mengenal karakter kejiwaan ini.

2. Melaksanakan proses Tafahum

Tafahum adalah saling memahami. Hendaknya seorang muslim memperhatikan keadaan saudaranya
agar bisa bersegera memberikan pertolongan sebelum saudaranya meminta, karena pertolongan
merupakan salah satu hak saudaranya yang harus ia tunaikan. Saling memahami adalah kunci ukhuwah
islamiyah. Tanpa tafahum maka ukhuwah tidak akan berjalan. Proses taaruf (pengenalan) dapat
deprogram namun proses tafahum dapat dilakukan secara alami bersamaan dgn berjalannya ukhuwah.
Dengan saling memahami maka setiap individu akan mudah mengatahui kekuatan dan kelemahannya
dan menerima perbedaan. Dari sini akan lahirlah taawun (saling tolong menolong) dalam persaudaraan.
Ukhuwah tidak dapat berjalan apabila seseorang selalu ingin dipahami dan tidak berusaha memahami
org lain. Saling memahami keadaan dilakukan dgn cara penyatuan hati, pikiran dan amal. Allah-lah yang
menyatukan hati manusia.

3. Melakukan At-Taaawun



















Artinya: Hai kehormatan bulan-bulan Haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan
binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) menggganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah
sedang mereka mencari karunia dan keredhaan dari Rabbnya dan apabila kamu telah menyelesaikan
ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum
karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidil Haram, mendorong kamu berbuat aniaya
(kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan
tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah,
sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (Q.S. Al-maidah:2)

Bila saling memahami sudah lahir, maka timbullah rasa taawun. Taawun dapat dilakukan dengan hati
(saling mendoakan), pemikiran (berdiskusi dan saling menasehati), dan aman (saling bantu membantu).
Saling membantu dalan kebaikan adalah kebahagiaan tersendiri. Manusia adalah makhluk sosial yang
butuh berinteraksi dan butuh bantuan orang lain. Kebersamaan akan bernilai bila kita mengadakan
saling Bantu membantu.

4. Melaksanakan proses Takaful

yang muncul setelah proses taawun berjalan. Rasa sedih dansenang diselesaikan bersama. Takaful
adalah tingkatan ukhuwah yang tertinggi. Banyak kisah dan hadits Nabi SAW dan para sahabat yang
menunjukkan pelaksanaan takaful ini. Seperti ketika seorang sahabat kehausan dan memberikan jatah
airnya kepada sahabat lainnya yang merintih kehausan juga, namun setelah diberi, air itu diberikan lagi
kepada sahabat yang lain, terus begitu hingga semua mati dalam kondisi kehausan. Mereka saling
mengutamakan saudaranya sendiri dibandingkan dirinya (itsar). Inlah cirri utama dari ukhuwah
islamiyah.

Seperti sabda Nabi SAW: Tidak beriman seseorang diantaramu hingga kamu mencintainya seperti kamu
mencintai dirimu sendiri. (HR. Bukhari-Muslim).

Betapa indah ukhuwah islamiyah yang diajarkan Allah SWT. Bila umat islam melakukannya, tentunya
terasa lebih manis rasa iman di hati dan terasa indah hidup dalam kebersamaan. Kesatuan barisan dan
umat berarti bersatu fikrah atau pemikiran dan tujuan tanpa menghilangkan perbedaan dalam karakter
(kejiwaan). Inilah kekuatan Islam. Mari kita mulai dari diri kita, keluarga, masyarakat dekat untuk
menjalin persaudaraan Islam ini.

F. Merakit Ulang Ukhuwah Islamiyah Yang Hampir Hilang

Ukhuwah atau persaudaraan dalam Islam bukan saja mencirikan kualitas ketaatan seseorang terhadap
ajaran Allah dan Rasul-Nya, tetapi juga sekaligus merupakan salah satu kekuatan perekat sosial untuk
memperkokoh kebersamaan. Fenomena kebersamaan ini dalam banyak hal dapat memberikan inspirasi
solidaritas sehingga tidak ada lagi jurang yang dapat memisahkan silaturahmi di antara umat manusia
sebagai mahluk sosial yang dianugrahi kesempurnaan. Meskipun demikian, dalam perjalanan
sejarahnya, bangunan kebersamaan ini seringkali terganggu oleh godaan-godaan kepentingan yang
dapat merusak keutuhan komunikasi dan bahkan mengundang sikap dan prilaku yang saling
berseberangan.

Karena itu, semangat ukhuwah ini secara sederhana dapat terlihat dari ada atau tidak adanya sikap
saling memahami untuk menumbuhkan interaksi dan komunikasi. Ukhuwah Islamiyah sendiri
menunjukkan jalan yang dapat ditempuh untuk membangun komunikasi di satu sisi, dan di sisi lain, ia
juga memberikan semangat baru untuk sekaligus melaksanakan ajaran sesuai dengan petunjuk al-Qur'an
serta teladan dari para Nabi dan Rasul-Nya.

Sekurang-sekurangnya ada dua pernyataan Nabi SAW, yang menggambarkan persaudaraan yang Islami.
Pertama, persaudaraan Islam itu mengisyaratkan wujud tertentu yang dipersonifikasikan ke dalam sosok
jasad yang utuh, yang apabila salah satu dari anggota badan itu sakit, maka anggota lainnya pun turut
merasakan sakit. Kedua, persaudaraan Islam itu juga mengilustrasikan wujud bangunan yang kuat, yang
antara masing-masing unsur dalam bangunan tersebut saling memberikan fungsi untuk memperkuat
dan memperkokoh.

Ilustrasi pertama menunjukkan pentingnya unsur solidaritas dan kepedulian dalam upaya merakit
bangunan ukhuwah menurut pandangan Islam. Sebab Islam menempatkan setiap individu dalam posisi
yang sama. Masing-masing memiliki kelebihan, lengkap dengan segala kekurangannya. Sehingga untuk
menciptakan wujud yang utuh, diperlukan kebersamaan untuk dapat saling melengkapi. Sedangkan
ilustrasi berikutnya menunjukkan adanya faktor usaha saling tolong menolong, saling menjaga, saling
membela dan saling melindungi. Pernyataan al-Qur'an: Innama al-mu'minuuna ikhwatun (sesungguhnya
orang-orang mu'min itu bersaudara) memberikan kesan bahwa orang mu'min itu memang mestinya
bersaudara. Sehingga jika sewaktu-waktu ditemukan kenyataan yang tidak bersaudara, atau adanya
usaha-usaha untuk merusak persaudaraan, atau bahkan mungkin adanya suasana yang membuat orang
enggan bersaudara, maka ia berarti bukan lagi seorang mu'min. sebab penggunaan kata "innama" dalam
bahasa Arab menunjukkan pada pengertian "hany saja.

Tuntutan normatif seperti tertuang dalam al-Qur'an di atas memang seringkali tidak menunjukkan
kenyataan yang diinginkan. Kesenjangan ini terjadi, antara lain, sebagai akibat dari semakin
memudarnya penghayatan terhadap pesan-pesan Tuhan khususnya berkaitan dengan tuntutan
membina persaudaraan. Bahkan, lebih celaka lagi apabila umat mulai berani memelihara penyakit
ambivalensi sikap: antara pengetahuan yang memadai tentang al-Qur'an di satu sisi, dengan
kecenderungan menolak pesan-pesan yang terkandung di dalamnya di sisi lain, hanya karena terdesak
tuntutan pragmatis, khususnya menyangkut kepentingan sosial, politik ataupun ekonomi. Karena itu,
bukan hal yang mustahil, jika seorang pemuka agama sekalipun, rela meruntuhkan tatanan ukhuwah
hanya karena pertimbangan kepentingan-kepentingan primordial.

Karena tarik menarik antara berbagai kepentingan itulah, sejarah umat Islam selain diwarnai sejumlah
prestasi yang cukup membanggakan, juga diwarnai oleh sejumlah konflik yang tidak kurang
memprihatinkan. Nilai-nilai ukhuwah tidak lagi menjadi dasar dalam melakukan interaksi sosial dalam
bangunan masyarakat tempat hidupnya sehari-hari. Konflik yang bersumber pada masalah-masalah
yang tidak prinsip menurut ajaran, dapat membongkar bangunan kebersamaan dalam seluruh tatanan
kehidupannya.

Perbedaan interprestasi tentang imamah pada akhir periode kepemimpinan shahabat, misalnya, telah
berakibat pada runtuhnya kebesaran peradaban Islam yang telah lama dirintis bersama. Lalu sejarah itu
pun berlanjut, seolah ada keharusan suatu generasi untuk mewarisi tradisi konflik yang mewarnai
generasi sebelumnya. Akhirnya, nuansa kekuasaan pada masa-masa berikutnya hampir selalu diwarnai
oleh politik "balas dendam" yang tidak pernah berujung.

Al-Qur'an memang memberikan peluang kepada ummat manusia untuk bersilang pendapat dan
berbeda pendirian. Tetapi al-Qur'an sendiri sangat mengutuk percekcokan dan pertengkaran.
Interprestasi terhadap ayat-ayat yang mujmal (umum), pemaknaan terhadap keterikatan sesuatu ayat
dengan asbab al-Nuzul, atau sesuatu hadits dengan asbab wurud-nya, seringkali melahirkan adanya
sejumlah perbedaan. Lebih-lebih jika perbedaan itu telah memasuki wilayah ijtihadiyah

Dalil-dalil dzanny yang biasa menjadi rujukan beramal memang memiliki potensi untuk melahirkan
perbedaan. Tetapi perbedaan itu sendiri seharusnya dapat melahirkan hikmah, baik dalam bentuk
kompetisi positif, mempertajam daya kritis, maupun dalam membangun semangat mencari tahu sesuai
dengan anjuran memperbanyak ilmu. Sayangnya, dalam kenyataan, perbedaan itu justru seringkali
melahirkan hancurnya nilai-nilai ukhuwah, hanya karena ketidaksiapan untuk memahami cara berpikir
yang lain, atau karena keengganan menerima perbedaan sebagai buah egoisme yang tidak sehat.

Dan, yang lebih celaka lagi, apabila potensi konflik itu telah dipengaruhi variabel-variabel politik dan
ekonomi seperti apa yang saat ini tengah dialami oleh bangsa kita yang semakin lelah ini. Ikatan agama
telah pudar oleh kepentingan kekuasaan. Kehangatan persaudaraan pun semakin menipis karena
desakan-desakan materialisme ataupun kepentingan primordialisme. Perbedaan paham politik sangat
potensial untuk melahirkan suasana ketidakakraban yang cenderung membawa kepada suasana batin
yang tidak menunjang tegaknya ukhuwah. Demikian juga perbedaan tingkah kekayaan sering melahirkan
kecemburuan yang juga sangat potensial untuk mengundang suasana bathin yang tidak menunjang
tegaknya ukhuwah. Subhanallah, ukhuwah kini telah menjadi barang antik yang sulit dinikmati secara
bebas dan terbuka. Karena ukhuwah memang hanya akan dapat terwujud apabila masyarakat sudah
mampu memiliki dan menghayati prinsip-prinsip tasamuh (toleransi), sekaligus terbuka untuk
melakukan tausiyah (saling mengingatkan).

G. Islam dan Kepedulian Sosial

Rasululullah bersabda : Belum beriman seseorang itu sebelum ia mencita saudara nya seperti mencitai
dirinya sendiri.

Hadis ini shahih dan cukup populer di kalangan kau muslimin umum sekalipun. Yang subtansif pada
hadis ini adalah mengaitkan iman dengan masalah sikap hati dalam hal ini mencintai orang lain selain
dirinya. Mencintai orang itupun ditentukan bobotnya oleh Rasulullah yaitu sama dengan mencintai diri
sendiri. Rasanya ini sangat berat dan sulit dilaksanakan, namun jika iman itu benarbenar ada dan hidup
dalam jiwa maka yang berat dan sulit itupun sangat bisa terealisir.
Konsep kepedulian sosial dalam Islam sungguh cukup jelas dan tegas . Bila diperhatikan dengan
seksama, dengan sangat mudah ditemui dan untuk saya mengatakan bahwa masalah kepedulian sosial
dalam Islam terdapat dalam bidang akidah dan keimanan , tertuang jelas dalam syariah serta jadi tolak
ukur dalam akhlak seorang mukmin.

Begitu juga Allah menghargai mereka yang melaksanakan amal sosial dalam kontek kepedulian sosial
tersebut sebagaimana juga Alah sangat mengecam mereka yang tidak mempunyai rasa kepedulian
sosial.

1. Dari Dimensi Aqidah dan Keimanan

Iman kepada Allah merupakan rukun utama dan pertama dalam Islam. Bagaimana implikasi kepada
Allah dijelaskan oleh AlQuran dan hadis. Salah satunya berkaitan dengan kepedulian sosial.antara lain,
misalnya surah alAnfal ayat 2-5:


{ 2}

{ 3} { 4}
{ 5}

Artinya: Sesungguhnya orangorang beriman itu hanyalah mereka yang jika disebut nama Allah
gemetar hatinya. (2) dan apabila dibacakan kepadanya bertambah keimanannya (3) dan mereka
bertawakkal kepadanya. (4) Mereka yang melaksanakan sholat dan (5) menafkahkan sebagian harta
yang diberikan kepada mereka

Jadi menafkahkan sebagian harta (ayat:5) untuk orang lain termasuk indikasi atau ukuran bagi
keimanan sesorang dalam kehidupan ini.Hadishadis yang menekan hal ini cukup banyak antara lain
Siapa yang beriman dengan Allah dan hari akhirat hendaklah ia memuliakan tamu/tetangga.

Dalam Islam, para pemberontak negara haru diperangi sampai habis total dan tuntas.Termasuk disini
adalah mereka yang tak mau bayar zakat.Artinya tidak mau bayar zakat merupakan kesalahan besar di
mata hukum Islam. Islam juga mewajibkan amar makruf nahi mungkar yang kesemuanya terkait dengan
hukum dan segala konsekwensinya. Orang yang yang tidak memberi makan fakir miskin dapat terjerat
vonis pedusta agama.

2. Dimensi Akhlak

Dalam Islam seseorang dianggap mulia, jika ia memelihara anak yatim. Orang yang paling disenangi
Allah adalah mereka yang paling dermawan. Orangoarang yang berinfaq/bersedekah diberi ganjaran
pahala sampai 70 x lipat. Dalam hadis Rasulullah disebutkan bahwa Allah akan selalu membantu hamba-
Nya selama hamba tersebut membantu saudaranya. Pada hadis lain Rasulullah menyebutkan, bahwa
bakhil itu sifat tercela dan pemboros itu adalah kawankawan setan.

Jika dibahas secara terinci, tentang kepedulian Islam terhadap masalah sosial maka kita akan
menemukan bahwa ternyata amal ibadah secara umum lebih banyak berurusan dengan hamblum
minannas ketimbang hablum minallah. Cuma kesemuanya itu harus dikunci dengan prinsip utama.
KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas dapat penyusun simpulkan bahwa :

ukhuwah islamiyah berarti persaudaraan yang bersifat islami atau yang diajarkan oleh Islam.

Di dalam kitab suci ini memperkenalkan paling tidak empat macam persaudaraan:

a) Ukhuwah ubudiyah atau saudara kesemahlukan dan kesetundukan kepada Allah.

b) Ukhuwah Insaniyah (basyariyah) dalam arti seluruh umat manusia adalah bersaudara, karena mereka
semua berasal dari seorang ayah dan ibu.

c) Ukhuwah wathaniyah wa an-nasab, yaitu persaudaraan dalam keturunan dan kebangsaan.

d) Ukhuwah fi din Al-Islam, persaudaraan antarsesama Muslim. Rasulullah Saw. bersabda,

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa, secara garis besar ukhuwah dibagi menjadi dua yaitu:

a) Ukhuwah Islamiyah yang bersifat abadi dan universal karena berdasarkan akidah dan syariat Islam.

b) Ukhuwah Jahiliyah yang bersifat temporer (terbatas waktu dan tempat), yaitu ikatan selain ikatan
akidah (missal: ikatan keturunan orang tua-anak, perkawinan, nasionalisme, kesukuan, kebangsaan, dan
kepentingan pribadi).
Manfaat ukhuwah Islamiyah:

a) Merasakan lezatnya iman.

b) Mendapatkan perlindungan Allah di hari kiamat (termasuk dalam 7 golongan yang dilindungi).

c) Mendapatkan tempat khusus di surga.

Untuk mencapai nikmatnya ukhuwah, perlu kita ketahui beberapa proses terbentuknya ukhuwah
Islamiyah antara lain :

a) Melaksanakan proses Taaruf

b) Melaksanakan proses Tafahum

c) Melakukan At-Taaawun

d) Melaksanakan proses Takaful

PENUTUP

Demikianlah makalah sederhana ini kami buat. Namun demikian, kami sebagai penyusun menyadari
makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Kami mohon maaf apabila masih banyak ditemui kesalahan,
itu datangnya dari kealpaan kami. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat kami harapkan dari pembaca
semua. Terutama dari Bapak Drs. H. A. Fauzan Afandi selaku pembimbing kami dan teman-teman pada
umumnya.

Akhirnya, marilah kita kembalikan semua urusan kepada-Nya. Billahit taufiq wal hidayah war ridho wal
inayah.

DAFTAR PUSTAKA

Depag. R.I., Al-Quran dan Terjemahnya, Depag R.I. : Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Quran, 1978.

Shiahab, M. Quraisy, Wawasan Al-Quran, Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2007.


Novi Hardian dan Tim ILNA Learning Center, Panduan Keislaman untuk Remaja, Super Mentoring.
Lagi

PEMBAHASAN

A. Pengertian Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Insaniyah

Sungguh bahwa allah SWT menempatkan manusia keseluruhan sebagai Bani Adam dalam
kedudukan yang mulia, "Walaqad karramna Bani Adam."(Q/17:70). Manusia diciptakan Allah SWT
dengan identitas yang berbeda-beda agar mereka saling mengenal dan saling memberi manfaatyang
satu dengan yang lainnya (Q/49:13). Tiap-tiap umat diberi aturan dan jalan (yang berbeda), padahal
seandainya Tuhan mau,seluruh manusia bisa disatukan dalam kesatuan umat. Allah SWTmenciptakan
perbedaan itu untuk memberikan peluang berkompetisi secara sehat dalam menggapai kebajikan,
"fastabiqulkhairat."(Q/5:48). Oleh karena itu sebagaimana dikatakan oleh rasul SAW, agar seluruh
manusia itu menjadi saudara antara satu dengan yang lainnya, "Wakunu 'ibadallahi
ikhwana."(Hadist Bukhari).

Dalam bahasa arab, ada kalimat "ukhuwah."(Persaudaraan), ada kalimat "ikhwah"(saudara


seketurunan) dan "ikhwan" (saudara bukan seketurunan). Dalam Al-Qur'an, kata akh (saudara)
dalam bentuk tunggal ditemukan sebanyak 52 kali. Kata ini dapat berarti saudara kandung (QS. An-
Nisa' :23), saudara yang dijalin oleh ikatan keluarga (QS. Thaha : 29-30), saudara dalam arti
sebangsa, walaupun tidak seagama (QS. Al-A'raf : 65), saudara semasyarakat, walaupun berselisih
paham (QS. Shad : 23), persaudaraan seagama (QS. Al-Hujurat : 10). Di samping itu ada istilah
persaudaraan lain yang tidak disebutkan dalam Al-Qur'an yaitu saudara sekemanusiaan (ukhuwah
insaniyah) dan saudara semakhluk dan seketundukan kepada allah.Quran bukan hanya menyebut
persaudaraan kemanusiaan (ukhuwah insaniyyah) tetapi bahkan menyebut binatang dan burung
sebagai umat seperti manusia (Q/6:38). Sebagai saudara semakhluk (ukhuwah makhluqiyah) Istilah
"ukhuwah islamiyah." Bukan bermakna persaudaraan antara orang-orang Islam, tetapi persaudaraan
yang didasarkan pada ajaran Islam atau persaudaraan yang bersifat islami. Oleh karena itu
cakupannya "ukhuwah Islamiyyah"bukan hanya menyangkut sesama orang Islam namun juga
menyangkut dengan non Muslim bahkan makhluk yang lainnya. Misalnya, seorang pemiliki kuda,
tidak boleh membebani kudanya dengan beban yang melampaui batas kewajaran. Ajaran ini
termasuk ajaran ukhuwwah Islamiyyah. Bagaimana seorang muslim bergaul dengan kuda miliknya.

Dari ayat-ayat tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa Quran dan Hadist sekurang-kurangnya
memperkenalkan empat macam ukhuwah yaitu:

1. Khuwah 'ubudiyyah: Persaudaraan karena sesama makhluk yang tunduk kepada Allah SWT.

2. Ukhuwah Insaniyyah atau basyariyyah: Persaudaraan karena sama-sama manusia secara


keseluruhan.

3. Ukhuwah wathaniyyah wa an nasab: Persaudaraan karena keterikatanketuruanan dan


kebangsaan.
4. Ukhuwah diniyyah, persaudaraan karena seagama.

Bagaimana ukhuwah berlangsaung, tak lepas dari faktor penunjang.Faktor penunjang signifikan
membentuk persaudaraan adalah persamaan. Semakin banyak persamaan, baik persamaan rasa
maupun persamaan cita-cita maka semakin kokoh ukhuwahnya. Ukhuwa biasanya melahirkan aksi
solidaritas. Contohnya diantara kelompok masyarakat yang sedang berselisih, segera terjalin
persaudaraan ketika semuanya menjadi korban banjir, karena banjir menyatukan perasaan, yakni
sama-sama merasa menderita. Kesamaan perasaan itu kemudian memunculkan kesadaran untuk
saling membantu.

Hai manusia! Kami ciptakan kamu dari satu pasang laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan
kamu beberapa bangsa dan suku bangsa, supaya kamu saling mengenal [bukan supaya saling
membenci, bermusuhan]. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu dalam pandangan Allah ialah
yang paling bertakwa. Allah Mahatahu, Maha Mengenal (Q.s. Al-Hujurat [49]: 13)

Manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Suku, ras dan bangsa mereka merupakan
nama-nama untuk memudahkan, sehingga dengan itu kita dapat mengenali perbedaan sifat-sifat
tertentu. Di hadapan Allah SwT mereka semua satu, dan yang paling mulia ialah yang paling
bertakwa. Antara persaudaraan iman dan persaudaraan nasional atau kebangsaan tidak perlu terjadi
persoalan alternatif, ini atau itu, tetapi sekaligus all at once. Seorang Muslim menjadi nasionalis
dengan paham kebangsaan yang diletakkan dalam kerangka kemanusiaan universal. Dengan
demikian ketika seorang Muslim melaksanakan ajaran agamanya, maka pada waktu yang sama ia
juga mendukung nilai-nilai baik yang menguntungkan bangsanya.

B. Upaya Meningkatkan Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Insaniyah

Supaya ukhuwah islamiyah dapat tegak dan kokoh, maka tidak hanya dengan perasaan atau
perkataan saja, diperlukan empat tiang penyangga yaitu:

1. Taaruf adalah saling kenal mengenal yang tidak hanya bersifat fisik ataupun biodata ringkas
belaka, tetapi lebih jauh lagi menyangkut latar belakang pendidikan, budaya, keagamaan, pemikiran,
ide-ide, cita-cita serta problema kehidupan yang dihadapi.

2. Tafahum adalah saling memahami kelebihan dan kekurangan, kekuatan dan kelemahan masing-
masing, sehingga segala macam kesalah pahaman dapat dihindari.

3. Taawun adalah saling tolong menolong, dimana yang kuat menolong yang lemah dan yang
mempunyai kelebihan menolong yang kekurangan, dengan konsep ini maka kerjasama akan tercipta
dengan baik dan saling menguntungkan sesuai fungsi dan kemampuan masing-masing.

4. Takaful adalah saling memberi jaminan, sehingga menumbuhkan rasa aman, tidak ada rasa
khawatir dan kecemasan menghadapi hidup ini.
Dengan empat sendi persaudaraan tesebut umat islam akan saling mencintai dan bahu membahu
serta tolong menolong dalam menjalani dan menghadapi tantangan kehidupan, bahkan mereka
sudah seperti satu batang tubuh yang masing-masing bagian tubuh akan ikut merasakan penderitaan
bagian tubuh lainnya. Seperti pada hadits Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Bukhori dan
Muslim yang artinya Perumpamaan orang-orang beriman dalam sayang menyayangi, cinta
mencintai dan tolong menolong sesama mereka seperti satu batang tubuh, yang apabila salah satu
batang tubuh menderita sakit, maka seluh badan akan merasakan sakit pula karena tidak dapat tidur
dan panas (H. R. Bukhori dan Muslim).

Supaya ukhuwah islamiyah tetap erat dan kuat, maka setiap muslim harus dapat menjauhi segala
sifat dan perbuatan yang dapat merusak dan merenggangkan ukhuwah tersebut, sesudah
menyatakan bahwa orang-orang beriman itu bersaudara, Allah SWT melarang orang-orang beriman
untuk melakukan beberapa hal yang dapat merusak dan merenggangkan ukhuwah islamiyah.

Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) bukanlah teori. Ini adalah ajaran praktis yang bisa kita
lakukan dalam keseharian. Karena itu, nikmatnya ukhuwah tidak akan bisa kita kecap, kecuali
dengan mempraktikannya. Jika delapan cara di bawah ini dilakukan, Anda akan merasakan ikatan
ukhuwah Anda dengan saudara-saudara seiman Anda semakin kokoh.

1. Katakan bahwa Anda mencintai saudara Anda

Rasulullah saw. bersabda, Apabila seseorang mencintai saudaranya, hendaklah dia mengatakan
cinta kepadanya. (Abu Dawud dan Tirmidzi, hadits shahih)

2. Minta didoakan dari jauh saat berpisah

Umar bin Khaththab berkata, Aku minta izin kepada Nabi Muhammad saw. untuk melaksanakan
umrah, lalu Rasulullah saw. mengizinkanku. Beliau bersabda, Jangan lupakan kami, wahai
saudaraku, dalam doamu. Kemudian ia mengatakan satu kalimat yang menggembirakanku
bahwa aku mempunyai keberuntungan dengan kalimat itu di dunia. Dalam satu riwayat, beliau
bersabda, Sertakan kami dalam diamu, wahai saudaraku . (Abu Dawud dan Tirmidzi, hadits
hasan shahih)

3. Bila berjumpa, tunjukkan wajah gembira dan senyuman

Rasulullah saw. bersabda, Janganlah kamu meremehkan kebaikan apapun, walaupun sekadar
bertemu saudaramu dengan wajah ceria. (Muslim)

4. Berjabat tangan dengan erat dan hangat

Berjabat tanganlah acapkali bertemu. Sebab, Rasulullah saw. bersabda, Tidak ada dua orang
muslim yang berjumpa lalu berjabat tangan melainkan keduanya diampuni dosanya sebelum
berpisah. (Abu Dawud)

5. Sering-seringlah berkunjung
Nabi Muhammad saw. bersabda, Allah swt. berfirman, Pasti akan mendapat cinta-Ku orang-orang
yang mencintai karena Aku, keduanya saling berkunjung karena Aku, dan saling memberli karena
Aku. (Imam Malik dalam Al-Muwaththa)

6. Ucapkan selamat saat saudara Anda mendapat kesuksesan

Anas bin Malik berkata, Rasulullah saw. bersabda, Barangsiapa bertemu saudaranya dengan
membawa sesuatu yang dapat menggembirakannya, pasti Allah akan menggembirakannya pada hari
kiamat. (Thabrani dalam Mujam Shagir)

7. Berilah hadiah terutama di waktu-waktu istimewa

Hadits marfu dari Anas bahwa, Hendaklah kamu saling memberi hadiah, karena hadiah itu dapat
mewariskan rasa cinta dan menghilangkan kekotoran hati. (Thabrani)

8. Berilah perhatian dan bantu keperluan Saudara Anda

Rasulullah saw. bersabda, Siapa yang melepaskan kesusahan seorang mukmin di dunia niscaya
Allah akan melepaskan kesusahannya di akhirat. Siapa yang memudahkan orang yang kesusahan,
niscaya Allah akan memudahkan (urusannya) di dunia dan di akhirat. Siapa yang menutupi (aib)
seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan di akhirat. Dan Allah selalu
menolong hamba-Nya jika hamba tersebut menolong saudaranya. (Muslim).

Dari ayat 11 dan 12 surat Al-Hujurat, ada enam hal yang harus kita hindari agar ukhuwah islamiyah
tetap terpelihara: Pertama, memperolok-olokan, baik antar individu maupun antar kelompok, baik
dengan kata-kata maupun dengan bahasa isyarat karena hal ini dapat menimbulkan rasa sakit hati,
kemarahan dan permusuhan. Manakala kita tidak suka diolok-olok, maka janganlah kita
memperolok-olok, apalagi belum tentu orang yang kita olok-olok itu lebih buruk dari diri kita. Kedua,
mencaci atau menghina orang lain dengan kata-kata yang menyakitkan, apalagi bila kalimat
penghinaan itu bukan sesuatu yang benar. Manusia yang suka menghina berarti merendahkan orang
lain, dan iapun akan jatuh martabatnya. Ketiga, memanggil orang lain dengan panggilan gelar-gelar
yang tidak disukai. Kekurangan secara fisik bukanlah menjadi alasan bagi kita untuk memanggil
orang lain dengan keadaan fisiknya itu. Orang yang pendek tidak mesti kita panggil si pendek, orang
yang badannya gemuk tidak harus kita panggil dengan si gembrot, begitulah seterusnya karena
panggilan-panggilan seperti itu bukan sesuatu yang menyenangkan. Memanggil orang dengan gelar
sifat yang buruk juga tidak dibolehkan meskipun sifat itu memang dimilikinya, misalnya karena si A
sering berbohong, maka dipanggillah ia dengan si pembohong, padahal sekarang sifatnya justru
sudah jujur tapi gelar si pembohong tetap melekat pada dirinya. Karenanya jangan dipanggil
seseorang dengan gelar-gelar yang buruk.Keempat, berburuk sangka, ini merupakan sikap yang
bermula dari iri hati (hasad). Akibatnya ia berburuk sangka bila seseorang mendapatkan kenimatan
atau keberhasilan. Sikap seperti harus dicegah karena akan menimbulkan sikap-sikap buruk lainnya
yang bisa merusak ukhuwah islamiyah. Kelima, mencari-cari kesalahan orang lain, hal ini karena
memang tidak ada perlunya bagi kita, mencari kesalahan diri sendiri lebih baik untuk kita lakukan
agar kita bisa memperbaiki diri sendiri. Keenam, bergunjing dengan membicarakan keadaan orang
lain yang bila ia ketahui tentu tidak menyukainya, apalagi bila hal itu menyangkut rahasia pribadi
seseorang. Manakala kita mengetahui rahasia orang lain yang ia tidak suka bila hal itu diketahui
orang lain, maka menjadi amanah bagi kita untuk tidak membicarakannya.

Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa ketika ukhuwah islamiyah kita dambakan
perwujudannya, maka segala yang bisa merusaknya harus kita hindari. Bila ukhuwah sudah terwujud,
yang bisa merasakan manfaatnya bukan hanya sesama kaum muslimin, tapi juga umat manusia dan
alam semesta, karena Islam merupakan agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
Karenanya mewujudkan ukhuwah Islamiyah merupakan kebutuhan penting dalam kehidupan ini.

Petunjuk al-Quran tentang ukhuwah

1. Tetaplah berkompetisi secara sehat dalam melakukan kebajikan, meski mereka berbeda agama,
ideologi, status: "fastaqul khairat."(Q/5:48). Jangan berfikir menjadi manusia dalam kesaragaman,
memaksa orang lain untuk berpendirian seperti kita. Misalnya, Allah SWT menciptakan kita
perbedaan sebagai rahmat, untuk menguji mereka siapa diantara mereka yang memberikan
kontribusi terbesar dalam kebajikan.

2. Memelihara amanah (tanggung jawab) sebagai khalifah Allah dimuka bumi, dimana manusia
dibebani keharusan menegakkan kebenaran dan keadilan (Q/38:26). Serta memelihara
keseimbangan lingkungan alam (Q/112:4).

3. Kuat pendirian tetapi menghargai pendirian orang lain "lakum dinukum wliyadin." (Q/112:4).
Tidak perlu bertengkar dengan asumsi bahwa kebenaran akan terbuka nanti dihadapan Allah
SWT(Q/42:15).

4. Meski berbeda ideologi dan pandangan tetapi harus berusaha mencari titik temu, "kalimatin
sawa" tidak bermusuhan seraya mengakui eksistensi masing-masing(Q/3:64).

5. Tidak mengapa bekerjasa dengan pihak yang berbeda pendirian dalam hal kemaslahatan umum,
atas dasar saling menghargai eksistensi, berkeadilan, dan tidak saling menimbulkan
kerugian.(Q/60:8) Dalam hal kebutuhan pokok (mengatasi kelaparana, bencana alam, wabah
penyakit). Solidaritas sosial dilaksanakan tanpa memandang agama, etnis dan identitas lainnya
(Q/2:272).

6. Tidak memandang rendah kelompok lain, tidak pula meledek atau membenci mereka (Q/49:11)

7. Jika ada persilihan diantara kaum beriman, maka islahnya haruslah merujuk kepada petunjuk al-
Quran dan Sunah Nabi SAW.(Q/4:59).

C. Kendala dan Pemaknaan yang Keliru dari Ukhuwah


Prinsip Ukhuwah bukan sesuatu utopis, bukan pula suatu hal yang mustahil diwujudkan, meskipun
mewujudkannya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Setidaknya ada 3 kendala yang
dihadapi setiap mukmin di dalam merealisasi nilai-nilai ukhuwah islamiyah, yaitu:

1. Jiwa Yang Tidak Dirawat.

Ukhuwah Islamiyah sangat erat dengan keimanan. Iman merupakan sentuhan hati dan gerakan jiwa;
karenanya jiwa dan hati yang tidak diperhatikan atau jarang diperiksa atau tidak dibersihkan akan
menjadi lahan subur bagi munculnya virus-virus jiwa yang membahayakan kalangsungan ukhuwah,
seperti: takabur, hasud, dendam, cenderung menzholimi, kemunafikan dll.

2. Lidah Yang Tidak Dikendalikan.

Menjaga lidah dengan berkata baik dan jujur serta menjaui kata-kata merusak dan tercela,
merupakan salah satu indikasi takwa kepada Allah swt. Firman Allah swt :

Wahai orang-orang beriman bertakwalah kepada Allah dan berkatalah dengan perkataan yang
benar (Q.S. al-Ahzab: 70 ).Bahkan memelihara lidah merupakan tanda kesempurnaan iman, sabda
Nabi saw : (Dan siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaknya ia berkata baik
atau diam ).

3. Lingkungan Yang Kurang/Tidak Kondusif.

Kepribadian seseorang seringkali dibentuk dan dipengaruhi oleh lingkungannya. Apalagi seseorang
yang tidak memiliki kemampuan tatsir (mempengaruhi orang lain), sehingga dengan mudah ia
dipengaruhi lingkungan dimana ia harus berinteraksi. Oleh sebab iotu Allah memerintahkan Nabi saw
untuk senantiasa bersabar bersama orang-orang yang multazim (komitmen) dengan ajaran Allah,
senantiasa taqorrub (mendekatkan diri) kepada Allah swt, firmanNya:( Bersabarlah bersama mereka
yang selalu berdoa kepada Allah di pagi dan petang hari, jangan sekali-kai engkau berpaling dari
mereka) QS al-Kahfi: 28.

Bila kita melihat kenyataan umat dengan kacamata ilmu dienul Islam, kita akan melihat banyak
kelompok yang menamakan dirinya pemersatu umat, tapi sebaliknya merusak ukhuwah lslamiyah.
inilah kelompok yang keliru dalam memberi makna Ukhuwah. Misalnya:

1. Kaidah yang penting tujuannya baik

Ada yang berpendapat untuk menjalin ukhuwah lslamiyah memakai kaidah yang penting tujuannya
baik, tidak mengapa caranya berbeda. Prinsip ini ibarat hati tanpa jasad, sebab syarat diterima amal
ibadah adalah ikhlas karena Alloh dan mengikuti Sunnah Rasulullah. Maka barangsiapa mengharap
perjumpaan dengan Rabbnya maka hndaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia
mempersekutukan seorang pun dalam beribadah. (QS.Al-Kahfi:110).
2. Yang penting hasilnya

Prinsip yang penting hasilnya, adalah prinsip orang kafir dan hewan. Dan orang-orang yang kafir itu
bensenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang.
(QS.Muhamad:12)

3. Berpegang umumnya orang.

Misalnya menjalin ukhuwah dengan mengadakan peringatan maulid nabi, drum band, dzikir
bersama adalah budaya yang telah memasyarakat. Cara ini bukanlah cara untuk menjalin ukhuwah
Islamiyah, tetapi menjauhkan umat dan yang haq dan mengajak umat berpecah-belah, kanena
masing masing golongan ingin membanggakan dirinya dan merendahkan kelompok yang lain. Dan
jika kamu menuruti kebanyakan orang-onang yang di muka bumi ini niscaya mereka akan
menyesatkanmu dari jalan Allah. (QS.Al-Anam:116)

4. Menjalin ukhuwah dengan mendirikan partai atau golongan (atau diatas satu partai/golongan)

Ini pun keliru, karena apabila umat diajak kepada golongan atau partai berarti hilang ukhuwah dan
ganti adawah (permusuhan).

5. Cari persamaan dan jangan cari perbedaan .

Inilah kaidah hizbi, ingin mewujudkan ukhuwah lslamiyah dengan mencari kesamaannya dan
mendiamkan kemungkaran. Syaikh lbnu Baz berkata, Betul, kita wajib bekerja sama dalam hal yang
kita sepakati untuk membela dan mendakwakan kebenaran serta mentahdzir yang menjadi larangan
Alloh Subhanahu wa taala dan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam,. Adapun hendaknya kita
memberikan udzur dan membiarkan perselisihkan secara mutlak tidaklah bisa diterima.

6. Jangan menentang arus

Ada lagi yang berpendirian bahwa untuk menjaga keutuhan ukhuwah Islamiyah, jangan
menyinggung perasaan umat, bangkitkan semangat mereka agar tetap menerima Islam. Lalu mereka
berdalil dengan sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam : Mudahkanlah dan jangan dipersulit,
gembirakanlah dan jangan dibuat-lari. (HR.Bukhari 1/38, Muslim 3/1359, dan Iainnya). Dalil di atas
memang benar, tapi salah penerapan. Prinsip ini menolak perintah Alloh yang mengharuskan ingkar
mungkar sebagaimana disebutkan dalam surat At-Taubah ayat 71 yang itu merupakan ciri khas
orang mukmin.

7. Orang Yahudi dan Nasrani adalah saudara.

Orang yang mengatakan bahwa umat Islam harus menjalin ukhuwah dengan orang Yahudi dengan
alasan mereka juga memeluk agama Islam, karena Islam artinya menyerah kepada Alloh Subhanahu
wa taala. Ketahuilah dia itu orang yang digaji oleh orang Yahudi untuk merusak Islam.Pada zaman
Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. ada orang Yahudi yang mengaku dirinya muslim, lalu dibantah oleh
beliau, Kalau kamu mengatakan muslim, tunaikan ibadah haji! Mereka menjawab, Kami tidak
diwajibkan haji, bahkan menolak.

8. Menjalin ukhuwah dengan ahlul bidah dan orang musyrik

Ada yang berkata, Tidak mengapa mereka menjalankan bidah dan syirik, karena mereka juga
beribadah, jika mereka keliru, kita pun keliru. lnilah prinsipnya orang jahil, tidak mau tahu tentang
batalnya amal dan gugurnya Islam. Barangkali kalau dia mendengar cerita bahwa sahabat Ali bin Abi
Thalib RadhiAllahu anhu membakar Syiah Rfidhh yang menuhankan beliau, begitupun ketika
beliau memerangi orang Khawarij, padahal mereka (khwarij) adalah ahli dalam membaca Al-
Quran, khusyuk shalatnya, hitam keningnya bahkan mereka ikut jihad.Orang musyrik adalah musuh
Alloh Subhanahu wa taala , wajib dijauhi sebagaimana perintah-Nya : Dan berpalinglah dari orang-
orang yang musyrik(QS.Al Hijr:94).

D. Manfaat Ukhuwah Islamiyah

Banyak manfaat yang dapat kita nikmati dengan jalinan ukhuwah islamiyah yang kuat. Kita akan
merasakan kehidupan bermasyarakat yang lebih harmonis. Perbedaan yang ada tidak akan
menimbulkan pertentangan, justru akan menjadikan kehidupan kita semakin indah. Tingkat
kesenjangan sosial dalam masyarakat juga akan terkikis dengan sendirinya. Hal ini karena semangat
ukhuwah islamiyah yang menyatukan kita semua.

Selain itu, ada juga manfaat lain yang berhubungan dengan iman kita. Manfaat dari ukhuwah
islamiyah yang kita terima sehubungan dengan tingkat keimanan kita diantaranya adalah:

1. Merasakan lezatnya iman

2. Mendapatkan perlindungan Allah di hari kiamat (termasuk dalam 7 golongan yang dilindungi)

3. Mendapatkan tempat khusus di surga (Q.S. 15:45-48)


Lagi

Ukhuwah Islamiyah Insaniyah dan Wathoniyah

Oleh Imam Wahyu Priyanto, Sistem Informasi, Universitas Indonesia

Seperti yang telah diketahui bahwa Perjuangan Islam tidak akan tegak tanpa adanya ukhuwah
Islamiyah. Islam menjadikan persaudaraan dalam Islam dan Iman sebagai dasar bagi aktifitas
perjuangan untuk menegakkan agama Allah dimuka bumi. Persaudaraan yang kuat akan melahirkan
rasa persatuan dan kesatuan sekaligus juga dapat menenangkan hati manusia. Banyak hal yang
dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari yaitu persaudaraan yang tidak kuat dan kekal,
persaudaraan yang tidak kuat itu secara otomatis menjadikan persatuan dan kesatuan umat tercerai
berai karena persaudaraan tersebut tidak berdasarkan persaudaraan Islam. Persaudaraan Islam yang
dijalin oleh Allah SWT merupakan ikatan terkuat yang tiada tandingannya. Dan perpecahan
dikalangan umat dewasa ini terjadi disebabkan karena mereka tidak melaksanakan Ukhuwah
Islamiyah, dan tidak memenuhi persyaratan Ukhuwah yaitu mendekatkan diri kepada Allah dengan
ibadah yang bersungguh-sungguh. Ukhuwah Islamiyah merupakan hal yang sentral dan pokok yang
harus ditegakkan demi kelangsungan kejayaan umat Islam, dan Ukhuwah Islamiyah ini terbagi
menjadi empat macam yaitu Ukhuwah ubudiyyah, Ukhuwah insaniyyah ( basyariyyah ), Ukhuwah
wathaniyah, dan Ukhuwan fi din Al-Islam.

Kata Ukhuwah berasal dari kata kerja akha yang berarti saudara. Makna Ukhuwah menurut Imam
Hasan Al Banna adalah keterikatan hati dan jiwa satu sama lain dengan ikatan Aqidah. Jadi Ukhuwah
Islamiyah adalah Persaudaraan diantara umat Islam, yang tidak terpecah belah, yang seperti badan
sekujur satu sakit yang lain juga merasakan sakit juga. Ukhuwah Islamiyah mempunyai tingkatan
tingkatan yaitu

1. Taaruf (saling mengenal). Merupakan terjadinya interaksi yang dapat lebih mengenal karakter
individu yang satu dengan individu yang lainnya.

2. Tafahum (saling memahami). Saling memahami adalah kunci Ukhuwah Islamiyah. Tanpa tafahum
maka ukhuwah tidak akan berjalan. Dengan saling memahami maka setiap individu akan mudah
mengetahui kekuatan dan kelemahannya dan juga dapat menerima perbedaan.

3. Taawun (saling menolong). Saling membantu dalam kebaikan adalah kebahagiaan tersendiri.
Manusia adalah makhluk sosial yang butuh berinteraksi dan butuh bantuan orang lain
4. Takaful (saling menanggung). Takaful adalah tingkatan ukhuwah yang tertinggi yaitu sesama
umat muslim rasa sedih dan senang harus diselesaikan bersama.

Persaudaraan dengan seluruh umat manusia (Ukhuwah Insaniyah) mengandung arti bahwa seluruh
umat manusia adalah saudara karena mereka berasal dari seorang ayah dan ibu. Manusia
mempunyai motivasi dalam menciptakan iklim persaudaraan hakiki yang tumbuh dan berkembang
atas dasar rasa kemanusiaan yang bersifat universal.

Seluruh manusia di dunia adalah saudara. Tata hubungan dalam Ukhuwah Insaniyah menyangkut
hal-hal yang berkaitan dengan martabat kemanusiaan untuk mencapai kehidupan yang sejahtera,
adil dan damai. Ukhuwah Insaniyah bersifat solidaritas kemanusiaan. Sedangkan Ukhuwah
Wathaniyah yaitu persaudaraan dalam keturunan dan kebangsaan. Pada diri manusia perlu
ditumbuhkan persaudaraan yang berdasarkan atas kesadaran berbangsa dan bernegara. Seluruh
bangsa Indonesia adalah saudara. Tata hubungan Ukhuwah Wathaniyah menyangkut hal-hal yang
bersifat sosial budaya. Ukhuwah Wathaniyah merupakan spirit bagi kesejahteraan kehidupan
bersama serta instrumen penting bagi proses kesadaran sebuah bangsa dalam mewujudkan
kesamaan derajat dan tanggung jawab.

Setelah membaca penjelasan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Ukhuwah Islamiyah
merupakan hal yang pokok dan mendasar yang harus ditegakkan demi kelangsungan kejayaan umat
Islam, maka dari Umat Islam harus selalu meningkatkan dakwah Islamiah dan Amar Makruf Nahi
Mungkar, agar persatuan dan kesatuan dikalangan umat dapat ditegakkan. Sekaligus umat Islam
harus senantiasa menyadari akan pentingnya Ukhuwah Islamiyah sebagai modal menuju
kemenangan cita-cita Islam. Kemenangan itu tidak akan tercapai tanpa adanya kekuatan. Dan
kekuatan tidak akan terwujud tanpa adanya persatuan. Sedangkan persatuan tidak akan mungkin
tercapai tanpa adanya Ukhuwah Islamiyah.
Lagi

Babak baru Islam telah terbentuk, ukhuwah (persaudaraan) antar Muslim satu dan lainnya adalah
sendi paling pokok dalam membentuk tatanan masyarakat Islam yang kokoh, yaitu Islam yang
menegakkan keadilan bagi semua makhluk Allah, Islam yang membentangkan kepada siapa saja
kasih sayang untuk semua umat manusia, Islam yang memberikan rasa damai bagi pemelukknya,
bagi saudara seiman, bagi saudara sedarah dan sedaging, bagi saudara satu negara, dan bagi umat
manusia, siapapun dia, apapun mereka.

Allah menurunkan Islam sebagai 'hudan linnaas', petunjuk bagi umat manusia. Sebagai petunjuk,
Islam menciptakan alam baru pemikiran dan keyakinan manusia yang tidak lagi hanya tersekat
pada batas-batas wilayah dan garis kekeluargaan. Sebagai agama fitrah, penjunjung tinggi
kemanusiaan umat manusia, Islam tidak menafikan hubungan yang fitri pada diri manusia yang
terbentuk atas kesamaan asal wilayah dan muasal keturunan. Semakin orang dekat dalam
persamaan dengan salah satu hal ini, mereka merasa rapat, mengikat simpul batin adanya
kedekatan.

Pasa sisi lain, Islam menciptakan sebuah perasaan dekat lain, yaitu semangat keberagamaan baru
: seiman dan seagama, meskipun berangkat dari ketidak-samaan pada asal keturunan atau muasal
daerah. Semangat ini disebut ukhuwah al-islamiyah, persaudaraan atas kesamaan akidah.
Penduduk Jazirah Arabia pada umumnya, hingga masa-masa awal kenabian Muhammad (saw),
lebih banyak membentuk ikatan antar mereka dari sisi silsilah keturunan. Semakin dekat garis
keturunan antar mereka, maka semakin kuat tali perkawanan dan persekutuan. Izzah tertinggi
(kemuliayan) bagi masyarakat ini adalah pengabdian kepada suku. Auz dan Khazraj, dua suku
Arab penduduk Yatsrib (Madinah), mewakili gambaran di atas.

Kepentingan seseorang adalah mewakili kepentingan suku. Pengabdian anggota suku adalah
untuk suku masing-masing. Lantaran fanatisme kesukuan yang sangat tinggi, tiap orang
berbangga atas kesukuannya, dan ketika tak ada kepentingan kecuali atas nama kepentingan
suku, maka peperangan, kebencian dan permusuhan telah membelenggu kedua suku ini selama
bertahun-tahun. Madinah kala itu berdiam, selain dua suku Arab Auz dan Khazraj, di dalamnya
adalah suku Yahudi. Suku terakhir sama sekali tidak melibatkan diri dalam peperangan antara
dua suku pertama. Akibat permusuhan, kondisi dua suku Arab tadi makin lama semakin buram,
memburuk, memprihatinkan dan porak-poranda.

Ketika peperangan yang berlangsung menahun dengan tak ada salah satu pihak yang mengalah
dikarenakan gengsi dan keangkuhan, kelahiran Islam di kota Mekkah, tetangganya,
memunculkan harapan baru. Nabi (saw), akhirnya, diundang oleh beberapa orang yang sudah
muak dengan peperangan dan kebencian tak berujung dari kedua suku tersebut untuk menjadi
penengah. Nabi menyambut baik ajakan tersebut, dan akhirnya berangkat menuju Yatsrib yang
selanjutnya diubah nama oleh Nabi menjadi Madinah al-Nabi. Dikenal masa-masa berikutnya
dengan sebutan Madinah, atau Madinah al-Munawwarah. Awal perubahan inilah yang kita kenal
dengan Hijrah Nabi, sebagai titik penting sejarah Islam dan kemanusian sekaligus, yang
diabadikan sebagai awal penanggalan hijriyah dalam Islam. Hal pertama yang dikerjakan Nabi
saat menjejakkan kaki di bumi Madinah adalah mempersatukan dua suku Arab yang saling
bertempur. Nabi tak banyak mengalami kesulitan dalam mengupayakan hal paling mendasar
dalam sebuah masyarakat, karena Nabi dari pihak ibu adalah berasal dari suku tersebut.
Perdamaian kedua suku ini merupakan pilar pertama dari ajaran Islam, yaitu muakhat
(persaudaraan). Barangsiapa yang mengaku beragama Islam, dia adalah akh (saudara) bagi
seorang Muslim lainnya. Dan, Nabi (saw) berhasil menyatukan dua suku yang saling
bermusuhan selama beberapa masa dalam satu payung Islam. Tak ada kedudukan lebih tingi, dan
tak ada pula yang lebih rendah, semua sama, kecuali nilai taqwa. Tak ada persaudaraan yang
abadi kecuali dikarenakan keimanan yang sama.

Bahkan pada waktu yang sama, Nabi memperkenalkan kepada mereka saudara baru yang berasal
dari kota lain, Muhajiriin, orang-orang yang berhijrah bersama Nabi dari Mekkah. Identitas
kesukuan tidak lagi ditonjolkan dan dijadikan kebanggaan, kecuali bahwa mereka penduduk asli
Madinah adalah Ansor, para penolong, dan orang-orang pendatang sebagai Muhajiriin.

Babak baru Islam telah terbentuk, ukhuwah (persaudaraan) antar Muslim satu dan lainnya adalah
sendi paling pokok dalam membentuk tatanan masyarakat Islam yang kokoh, yaitu Islam yang
menegakkan keadilan bagi semua makhluk Allah, Islam yang membentangkan kepada siapa saja
kasih sayang untuk semua umat manusia, Islam yang memberikan rasa damai bagi pemelukknya,
bagi saudara seiman, bagi saudara sedarah dan sedaging, bagi saudara satu negara, dan bagi umat
manusia, siapapun dia, apapun mereka. Inilah Islam yang menjunjung tinggi martabat manusia,
keadilan dan toleransi dalam bermasyarakat. Ini semua didasarkan pada salah satu ajaran pokok
Nabi : ukhuwah Islamiyah.
Lagi

Mursyid Mudi home Abu Mudi FB.LBM Mudi Mesra lbm.mudimesra.com/ My Facebook
Download Konversi Tanggal Hijriah/Masehi Entri Populer Paman- Paman Nabi Muhammad
Saw. HUKUM ISLAM TENTANG POLIGAMI DAN DALIL-DALILNYA Download Kamus
Arab-Indonesia Al Munawir Digital Profil KH.Sirajuddin Abbas Hukum alat musik dalam
perspektif Syara`(agama) Komentar terakhir Bukannya anda, pemilik blog ini ya yg punya
kepema... Sejak beberapa tahun lalu sampai saat ini jumlah p... HAMDULILLAH
SEDIKITNYA KECINTAANKU TERHADAP ROSULU... tgku apa pemahaman bid'ah
hasanah yang anda am... "Sesungguhnya Alloh dan para Malaikat-Nya ber... Label Anti Wahaby
(22) bahsul masael (9) Baitulllah (9) Buku Karya Ulama (5) Download (19) fiqh (17) Kata-kata
mutiara (1) kisah para dermawan (1) kitab Balaghah (2) kitab gratis (5) LPI MUDI MESRA (1)
Manaqib shalihin (15) Membongkar Pemikiran Dan Kepalsuan Ajaran Salafy/Wahaby (10)
Mesjid (8) tarikh (5) tasawuf (3) Tauhid (5) Terjemah Kitab Ta`limul Muta`allim (4) Komplek
LPI MUDI MESRA Samalanga Komplek LPI MUDI MESRA Samalanga Di lihat dari atas
gedung STAI AL Aziziyah Web Aswaja Belajar Ilmu Nahwu Shorof Tata Bahasa Arab Online
Toko Buku Online Al-Barokah Kenapa saya keluar dari salafy / WAHHABY ? Abu Salafy
BAHRUS SHOFA Ribath Nurul Hidayah Sabilur_Rosyad Mereka Bicara Salafy & Wahabi Teks
dan Lirik Solawat ANEUK LENPIPA Majalah-alkisah Kaum Sarungan ISLAM ASWAJA
JEJAK NAHWU & SHOROF UMMATI PRESS Pustaka Aswaja islamic school of mudi mesra
Taman Habaib Zahroel.com ojie weblog Barry - Nu's Blog Pondok Pesantren Sidogiri Online
Hakikat Kitabevi :. Site Meter Choreography Blogs - BlogCatalog
Blog Directory Academics Blogs Arts Blogs - Blog Rankings Blog Directory Arts (Crafts) -
TOP.ORG clickblog Religion blogs Minggu, 22 April 2012 Ukhuwah Islamiyah Pengertian
Ukhuwwah al-Islamiyah. Dalam kamus bahasa arab Ukhuwwah ( ) berarti persaudaraan .
Jika kita sebut Ukhuwwah al-Islamiyyah ini berarti Ukhuwwah yang terjalin antar muslim
karena ke-islaman-nya, bukan karena faktor lain. Allah Swt. berfirman:


Artinya: Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab
itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah,
supaya kamu mendapat rahmat. (al-Hujarat, 10) Dalam tafsir al-Jalalain, kata Ikhwah ini
ditafsirkan Ikhwah fi ad-Din yaitu bersaudara karena agama. Dalam Tafsir al-Khazin
dijelaskan bahwa Iman dapat mengikat hubungan seseorang seperti terikatnya hubungan karena
faktor keturunan, dan Islam laksana seorang ayah karena ia dapat mengikat hubugan antar
pemeluknya seperti seorang ayah mengikat hubungan antar anak-anaknya. Imam al-Manawi
dalam menafsirkan ayat diatas berkata:
Artinya:
(Orang muslim itu bersaudara) yaitu mereka disatukan oleh Ukhuwwah islamiyah karena
kehadiran ajaran Nabi Muhammad, karena mereka telah memiliki kepentingan sama dalam
meneguk iman, dan saling berbuat baik. Setiap ada kerukunan antar dua perkara atau banyak
itulah yang disebut ukhuwwah. Firman Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 103 :












Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali
(agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu
ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu,
lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada
di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah
menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.( QS. Al Imron:103 )
Banyak hadits Rasulullah yang menganjurkan kepada umat muslim untuk menjalin ukhwah
antara lain:
) Perumpamaan dua orang yang bersaudara bila bertemu adalah dua tangan yang
saling membasuh yang lain, dan tidak pernah bertemu dua orang mukmin kecuali Allah berikan
kebaikan bagi salah satunya dari sahabatnya (H.R. ad-Dailamy)
barang siapa menjalin hubungan persaudaraan
di jalan Allah akan Allah tinggikan derajatnya dalam surga yang tak dapat dicapai dengan
sesuatu dari amalnya (H.R. Ibnu Abi Dunya dan ad-Dailamy) Ukhwah yang mendapat pujian
dari Allah dan Rasulullah-Nya adalah ukhwah islamiyah fillah yaitu persaudaraan sesama kaum
muslim yang bertujuan mencari ridha Allah, bukan persaudaraan yang didasari oleh tujuan
mencari dunia seperti harta, pangkat, kedudukan dll. Pentingnya Ukhwah Islamiyah Tak ada
pihak yang tidak menyadari pentingnya ukhwah islamiyah. Apalagi pada era ini, kaum muslimin
bagaikan buih di lautan sehingga tidak memiliki kekuatan dan menjadi permainan bagi kaum
kafir. Namun hal yang sangat sulit adalah membentuk ukhwah itu sendiri. Butuh upaya keras dan
akhlak yang mulia untuk mampu mewujudkan ukhwah. Keberhasilah dakwah Rasulullah tidak
terlepas dari upaya Rasulullah membentuk ukhwah yang erat diantara sesama kaum muslim saat
itu. Sebagaimana telah tersebut dalam kitab-kitab tarikh dan kitab-kitab hadits bahwa setelah
kurang lebih lima bulan lamanya Nabi Muhammad saw berdiam di kota Madinah, maka
Rasulullah mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar bahkan mereka berhak
menerima warisan dari saudara tersebut, ini berlaku sampai turunnya ayat yang menasakh hal ini.
Sebelum datangnya Islam, Penduduk Jazirah Arabia pada umumnya, lebih banyak membentuk
ikatan antar mereka dari sisi silsilah keturunan. Semakin dekat garis keturunan antara mereka,
maka semakin kuat tali persekutuan. Izzah tertinggi (kemulian) bagi masyarakat ini adalah
pengabdian kepada suku. Kepentingan seseorang adalah mewakili kepentingan suku. Pengabdian
anggota suku adalah untuk suku masing-masing. Lantaran fanatisme kesukuan yang sangat
tinggi, tiap orang berbangga atas kesukuannya, dan ketika tak ada kepentingan kecuali atas nama
kepentingan suku, maka peperangan, kebencian dan permusuhan terjadi selama bertahun-tahun.
Di Madinah kala itu berdiam dua suku Arab yang telah lama saling berperang Auz dan Khazraj.
Akibat permusuhan yang berlangsung lama, kondisi dua suku Arab tersebut makin lama semakin
buram, memburuk, memprihatinkan dan porak-poranda. Ketika peperangan yang berlangsung
menahun dengan tak ada salah satu pihak yang mengalah dikarenakan gengsi dan keangkuhan.
Kelahiran Islam di kota Mekkah, tetangganya, memunculkan harapan baru. Nabi saw, akhirnya,
diundang oleh beberapa orang yang sudah muak dengan peperangan dan kebencian tak berujung
dari kedua suku tersebut untuk menjadi penengah. Nabi menyambut baik ajakan tersebut, dan
akhirnya berangkat menuju Yatsrib yang selanjutnya diubah nama oleh Nabi menjadi Madinah
al-Nabi. Dikenal masa-masa berikutnya dengan sebutan Madinah, atau Madinah al-
Munawwarah. Awal perubahan inilah yang kita kenal dengan Hijrah Nabi, sebagai titik penting
sejarah Islam dan kemanusian sekaligus, yang diabadikan sebagai awal penanggalan hijriyah
dalam Islam. Hal pertama yang dikerjakan Nabi saat menjejakkan kaki di bumi Madinah adalah
mempersatukan dua suku Arab yang saling bertempur. Nabi tak banyak mengalami kesulitan
dalam mengupayakan hal paling mendasar dalam sebuah masyarakat, karena Nabi dari pihak ibu
adalah berasal dari suku tersebut. Perdamaian kedua suku ini merupakan pilar pertama dari
ajaran Islam, yaitu ukhuwah (persaudaraan). Barangsiapa yang mengaku beragama Islam, dia
adalah akh (saudara) bagi seorang Muslim lainnya. Dan, Nabi saw berhasil menyatukan dua suku
yang saling bermusuhan selama beberapa masa dalam satu payung Islam. Tak ada kedudukan
lebih tingi, dan tak ada pula yang lebih rendah, semua sama, kecuali nilai taqwa. Tak ada
persaudaraan yang abadi kecuali dikarenakan keimanan yang sama. Bahkan pada waktu yang
sama, Nabi memperkenalkan kepada mereka saudara baru yang berasal dari kota lain,
Muhajiriin, orang-orang yang berhijrah bersama Nabi dari Mekkah. Identitas kesukuan tidak lagi
ditonjolkan dan dijadikan kebanggaan, kecuali bahwa mereka penduduk asli Madinah adalah
Anshar, para penolong, dan orang-orang pendatang sebagai Muhajiriin. Hak-hak dan kewajiban
dalam ukhwah Imam Ghazali menggambarkan hubungan ukhwah islamiyah bagaikan hubungan
pernikahan, sebagaimana dalam pertalian nikah ada hak dan kewajiban yang harus dipenuhi
suami istri, demikan juga dalam hubungan persaudaraan sesama muslim ada beberapa hak dan
kewajiban yang harus dipenuhi sebagai wujud dari ukhwah baik hal yang berkenaan dengan
harta, jiwa, lisan, dan hati. 1. Hak atas harta Hak saudara kita ini dapat dipenuhi dengan
membantu dan menolong saudaranya dengan harta yang dimilikinya. Imam Gahzali membagi
tingkatan membantu dengan harta kepada tiga kelas: yang paling rendah adalah menanggung
kebutuhan saudaramu bagaikan pembantu kamu sehingga kamu akan memenuhi kebutuhannya
dari kelebihan harta yang kau miliki. Kedua adalah memposisikan saudaramu dalam posisi
dirimu sendiri sehingga kamu rela membagi sebagian hartamu untuknya. Dan yang tertinggi
adalah mendahulukan kebutuhan saudaramu, demi berkorban untuknya, ini adalah tingkatan para
shiddiqin. Sifat inilah yang digambarkan dari gambarkan oleh Ibnu Umar Ra tentang sifat
shahabat Rasulullah saw ahli shuffah. Ketika salah seorang mereka mendapat hadiah kepala
kambing, shahabat tersebut berkata saudaraku lebih berhajat dariku maka dikirimkannya
kepala kambing tersebut kepada shahabat yang lain. Namun shahabat tersebut rupanya juga
berpandangan sama, sehingga daging kambing tersebut dishadaqahkan kepada shahab yang lain.
Demikianlah seterusnya sehingga akhirnya kepala kambing tersebut jatuh ke tangan shahabat
yang pertama. Sifat shahabat Rasulullah tersebut Allah puji dalam Alquran surat Al Hasyr ayat
9:





Dan orang-orang yang telah

menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin),
mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka
(Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada
mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka
sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya,
mereka itulah orang orang yang beruntung. 2. Hak atas tenaga Ini dapat diwujudkan dengan
memberikan bantuan berupa tenaga secara langsung. Memberikan bantuan tenaga juga terdiri
dari beberapa tingkatan, yang paling rendah adalah bersedia membantu dengan senang hati
ketika diminta sedangkan ia mampu memberikan pertolongan. 3. Hak atas lidah Hak-hak
persaudaraan atas lidah kita adalah: 1. Dengan cara diam serta tidak membuka kekurangan dan
keaiban saudara kepada orang lain, baik dihapannya ataupun dibelakangnya serta berusaha
menutupinya. 2. Dengan mengeluarkan kata-kata yang baik, memanggilnya dengan panggilan
yang baik dll. 4. Memaafkan kesalahan Setiap manusia tidak bisa lepas dari kesalahan dan
tergelincir dalam pergaulannya. Maka untuk menjaga ukhwah sangat dituntut sifat mau
memaafkan sesalahan saudara kita. 5. Mendoakan semasa hidup dan sesudah meninggal Doa
kepada saudara sangat dianjurkan sehingga tidak membedakan dengan berdoa untuk dirinya
sendiri. Doa terhadap saudara merupakan doa yang mustajabah. Dalam satu hadits Rasulullah
bersabda: Allah mengabulkan doa seseorangbagi
suadaranya walaupun tidak dikabulkan untuk dirinya. 6. Konsisten dan ikhlash Persaudaraan
karena karena akhirat tidakakan berobah walaupun statusnya telah berobah. Hal ini akan terlihat
sebaliknya bila persaudaraan tersebut karena mengharap dunia. Banyak contoh dalam kehidupan
sehari-hari yang kita temukan, persaudaraan yang putus ketika saudaranya telah jatuh miskin
ataupun karena ia telah menjadi kaya sehingga mereka tak butuh kepada saudaranya. 7. Berusaha
memperingan dan tidak memberatkan. Seseorang yang benar-benar mencintai saudaranya tidak
kan melakukan hal-hal yang memberatkan saudaranya bahkan sebaliknya ia berusaha untuk
memperingan beban saudara. semoga persatuan antar kaum muslimin di Aceh khususnya dan di
dunia pada umumnya dapat terjalin sangat kuat sehingga masyarakat islam dapat kembali berjaya
seperti pada masa ke-emasan-nya dahulu. Persatuan ini tentunya akan terjalin apabila kita mau
menjunjung tinggi hak-hak ukhuwwah yang telah kami jelaskan diatas. Akhirnya marilah kita
merenungkan kata Rasulullah Saw. Yang diriwayatkan oleh an-Numan bin Basyir:
Berjamaah ialah rahmat, bercerai berarti azab. Referensi: 1. Imam
Ghazaly ,Ihya `Ulumuddin Cet. Dar Fikr 2. Az-Zabidy, Ittihaf Sadatil Muttaqin bi Syarh Ihya
`Ulumuddin Cet. Dar Fikr 3. Ibnu Hajar Al Asqalany, Fathul Bary jilid Cet. Dar Ma`rifah 4.
Tafsir al-Khazin, al-Maktabah asy-Syamilah. 5. Al-Manawy, Faizhu al-Qadir, al-Maktabah asy-
Syamilah Share/Bookmark Artikel yang berkaitan tasawuf Uswatun Hasanah. Tips agar khusyu`
dalam shalat Di tulis oleh Mursyid Label: tasawuf 0 komentar: Poskan Komentar komentar
anda? Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langganan: Poskan Komentar (Atom) Bahtsul
Masail MUDI Mesra Perbedaan Mani,mazi dan wadi PANDUAN HAJI DAN UMRAH UNTUK
WANITA Kelebihan Puasa Enam Hari di Bulan Syawal. Download Kitab Al-`Awaid Diniyah Fi
Talkhish Fawaid Madaniyah zakat fithrah dengan uang Doa dan adab khatam al-Quran Syeikh
Abu Al Faydh Muhammad Yasin bin Muhammad Isa Al Fadany Al Makky Musnid Ad-Dunya
Doa keluar menuju mesjid, memasuki dan keluar mesjid. Doa bangun tidur salah waktu berbuka
puasa Fiqih Puasa Azan ketika mengubur mayat Shalat witir Hukum puasa setelah Nisfu Sya`ban
Beberapa hal yang mengkafirkan. Headlines by FeedBurner Member Follow by Email Daftar isi
blog Daftar isi MLB Baseball Tickets Locations of visitors to this page Archive About Me Foto
Saya Langsa, NAD, Indonesia Lihat profil lengkapku Ulama Copyright by Mursyid Mudi |
Template by Free Tips 4U

Read more at: http://mursyidali.blogspot.com/2012/04/ukhuwah-islamiyah_1677.html


Copyright mursyidali.blogspot.com Under Common Share Alike Atribution
UKHUWAH ISLAMIYAH

UKHUWAH ISLAMIYAH
Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas:

[ ]((
)) :


.

Dari Abu Hamzah, Anas bin Mlik Radhiyallahu 'anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam,
beliau bersabda: Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk
saudaranya segala apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri berupa kebaikan. ]HR al-Bukhri dan
Muslim].

TAKHRIJ HADITS
Hadits ini shahh, diriwayatkan oleh:
1. Al-Bukhri (no. 13).
2. Muslim (no. 45).
3. Ahmad (III/176, 206, 251, 272, 289).
4. Abu Awanah (I/33).
5. At-Tirmidzi (no. 2515).
6. Ibnu Majah (no. 66).
7. An-Nasa`i (VIII/115).
8. Darimi (II/307).
9. Abu Yala (no. 2880, 3171, 3069, 3245).
10. Ibnu Hibban (no. 234, 235).

Hadits di atas dikeluarkan oleh al-Bukhri dan Muslim dalam kitab Shahh keduanya, dari hadits
Qatadah, dari Anas; sedangkan lafazh milik Muslim berbunyi:


: .
"Hingga ia mencintai untuk saudaranya; atau beliau bersabda: Untuk tetangganya "

Dan Ahmad, Ibnu Hibban, dan Abu Yala mengeluarkan pula hadits yang semakna dengan
lafazh:


.
"Seorang hamba tidak dapat mencapai hakikat iman, hingga ia mencintai kebaikan untuk
manusia seperti yang ia cintai untuk dirinya."

SYARAH HADITS
Syaikh al-Albni rahimahulllah berkata, Ketahuilah bahwa tambahan ini ( berupa
kebaikan), adalah tambahan yang sangat penting yang dapat menentukan makna yang dimaksud
dalam hadits ini, karena kata kebaikan adalah satu kata yang mencakup berbagai amal ketaatan
dan perbuatan mubah, baik dalam masalah dunia maupun akhirat -selain yang dilarang karena
kata kebaikan tidak mencakupnya- sebagaimana sudah jelas. Salah satu kesempurnaan akhlak
seorang muslim, ialah ia mencintai kebaikan untuk saudaranya sesama muslim, seperti yang ia
cintai untuk dirinya sendiri. Demikian pula ia membenci kejelekan untuk saudaranya, seperti
kebenciannya untuk dirinya sendiri. Meskipun hal ini tidak disebutkan dalam hadits, namun ini
termasuk dalam kandungannya karena mencintai sesuatu mengharuskan membenci sesuatu yang
menjadi lawannya.]1[

Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah mengatakan ]2[: Riwayat Imam Ahmad
rahimahullah di atas menjelaskan hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhri dan Muslim, dan
bahwa yang dimaksud dengan tidak beriman ialah tidak mencapai hakikat dan puncak iman
karena iman seringkali dianggap tidak ada karena ketiadaan rukun-rukun dan kewajiban-
kewajibannya, seperti sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.


.
"Pezina tidak berzina ketika ia berzina sedang ia dalam keadaan mukmin; pencuri tidak mencuri
ketika ia mencuri sedang ia dalam keadaan mukmin; dan orang tidak minum minuman keras
ketika ia meminumnya sedang ia dalam keadaan beriman" ]3[

Juga seperti sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam:


.
"Tidak beriman orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguan-gangguannya" [4]

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata,Para ulama mengatakan bahwa maknanya ialah tidak
beriman dengan iman yang sempurna, karena pokok iman itu ada pada orang yang tidak
memiliki sifat ini.]5[

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani t berkata, Yang dimaksud ialah dinafikannya kesempurnaan
iman. Penafian nama sesuatu dengan makna menafikan kesempurnaannya telah masyhur dalam
dialek bangsa Arab, seperti perkataan mereka, Si fulan itu bukan manusia. ]6[ Maksudnya,
dinafikan salah satu sifatnya.

Al-Hafizh Amr bin Shalah rahimahullah mengatakan, Maknanya, tidak sempurna iman
seseorang hingga ia mencintai untuk saudara semuslim seperti ia mencintai untuk dirinya
sendiri.]7[

Para ulama berbeda pendapat tentang pelaku dosa besar; apakah dia dinamakan mukmin yang
kurang imannya atau tidak dikatakan mukmin? Sesungguhnya yang benar dikatakan: dia muslim
dan bukan mukmin menurut salah satu dari dua pendapat, dan kedua pendapat tersebut
diriwayatkan dari Imam Ahmad, atau ia mukmin dengan imannya dan fasik dengan dosa
besarnya.

Adapun orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil, iman tidak hilang dari dirinya secara total,
namun ia orang mukmin yang kurang beriman dan imannya berkurang sesuai dengan kadar dosa
kecil yang ia kerjakan.

Sedangkan pendapat yang mengatakan bahwa pelaku dosa besar dinamakan seorang mukmin
yang kurang imannya diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu 'anhu, dan merupakan
pendapat Ibnul-Mubarak, Ishaq, Ibnu Ubaid, dan selain mereka.

Maksud hadits di atas ialah di antara sifat iman yang wajib, adalah seseorang mencintai untuk
saudaranya yang mukmin apa yang ia cintai untuk dirinya dan membenci untuknya apa yang ia
benci untuk dirinya sendiri. Jika sifat tersebut hilang darinya, maka imannya berkurang.[8]

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:




.
"Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan
menahan (tidak memberi) karena Allah, maka sungguh, telah sempurna imannya".]9[

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:




.
"Barang siapa ingin dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka hendaklah ia
mati dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari Akhir, dan hendaklah ia menunaikan dan
berbuat (kebaikan) kepada orang lain apa yang ia senang bila orang lain (berbuat baik)
kepadanya".]10[

Dalam Shahh Muslim juga disebutkan dari hadits Abu Dzarr Radhiyallahu 'anhu ia berkata:
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadaku:


! .
"Wahai, Abu Dzarr! Sungguh, aku melihat engkau sebagai orang yang lemah dan aku mencintai
untuk dirimu apa yang aku cintai untuk diriku. Janganlah engkau memimpin dua orang, dan
jangan pula memegang harta anak yatim.]11[

Dari an-Numan bin Basyir dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:


.
"Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-
membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota
tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam".[12]

Ini menunjukkan, bahwa orang mukmin terganggu dengan apa saja yang mengganggu
saudaranya yang mukmin dan sedih oleh apa saja yang membuat saudaranya sedih.

Dan hadits Anas Radhiyallahu 'anhu yang sedang kita bicarakan ini menunjukkan, bahwa orang
mukmin dibuat gembira oleh sesuatu yang membuat gembira saudaranya yang mukmin dan
menginginkan kebaikan untuk saudaranya yang mukmin seperti yang ia inginkan untuk dirinya
sendiri. Ini semua terjadi karena seorang mukmin hatinya harus bersih dari dengki, penipuan, dan
hasad. Hasad membuat pelakunya tidak mau diungguli siapa pun dalam kebaikan atau diimbangi
di dalamnya, karena orang yang hasad senang lebih unggul atas seluruh kelebihannya dan ia
sendiri yang memilikinya tanpa siapa pun dari manusia.

Sedangkan iman menghendaki kebalikannya yaitu agar ia diikuti seluruh kaum mukminin dalam
kebaikan yang diberikan Allah kepadanya tanpa mengurangi sedikit pun kebaikannya.[13]

Dalam Al-Qur`n Allah Taala memuji orang-orang yang tidak ingin sombong dan tidak
membuat kerusakan di bumi. Allah Taala berfirman:

"Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak
membuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu bagi orang-orang yang
bertakwa".[al-Qashshash/28:83].

Mengenai ayat ini, Ikrimah dan selainnya dari para ahli tafsir mengatakan: Maksud dari kata
al-uluwwu fil ardhi, ialah sombong, mencari kehormatan, dan kedudukan pada pemiliknya.
Sedangkan maksud al-fasd, ialah mengerjakan berbagai kemaksiatan.]14[

Ada dalil yang menunjukkan bahwa orang yang tidak ingin disaingi orang lain dalam
ketampanan itu tidak berdosa.

Imam Ahmad dan al-Hakim dalam Shahh-nya dari hadits Ibnu Masud, ia berkata: Aku datang
kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan ketika itu Malik bin Mirarah ar-Rahawi
berada di tempat beliau. Aku dapati Malik bin Murarah ar-Rahawi berkata, Wahai Rasulullah!
Aku telah diberi ketampanan seperti yang telah engkau lihat; oleh karena itu, aku tidak ingin
salah seorang manusia mengungguliku dengan tali sandal dan selebihnya, apakah itu termasuk
kezhaliman? Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, Tidak. Itu tidak termasuk
kezhaliman, namun kezhaliman ialah orang yang sombong. Atau beliau bersabda, Namun
kezhaliman ialah orang yang menolak kebenaran dan menghina manusia.]15[

Imam Abu Dawud rahimahullah meriwayatkan hadits semakna dari Abu Hurairah Radhiyallahu
'anhu dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Di haditsnya disebutkan kata al-kibru (sombong)
sebagai ganti dari kata al-baghyu (kezhaliman). Pada hadits di atas Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam tidak mengatakan ketidaksukaan Malik bin Murarah untuk disaingi siapa pun dalam
ketampanan sebagai bentuk kezhaliman atau kesombongan. Beliau juga menafsirkan
kesombongan dan kezhaliman dengan arti merendahkan kebenaran, yang tidak lain adalah
sombong terhadapnya dan menolak menerima kebenaran karena sombong jika kebenaran
tersebut bertentangan dengan hawa nafsunya.

Dari sinilah salah seorang ulama Salaf mengatakan: Tawadhu`, ialah engkau menerima
kebenaran dari siapa pun yang membawanya kendati yang membawanya adalah anak kecil.
Barang siapa menerima kebenaran dari siapa pun yang membawanya: anak kecil, atau orang
dewasa, orang yang dicintainya, atau orang yang dibencinya, maka ia orang yang tawadhu`. Dan
barang siapa menolak menerima kebenaran karena sombong terhadapnya, maka ia orang yang
sombong.

Sedangkan menghina manusia dan merendahkan mereka bisa terjadi dengan cara seseorang
melihat pribadinya sebagai orang yang sempurna dan melihat orang lain sebagai orang yang
tidak sempurna.

Kesimpulannya, seorang mukmin harus mencintai untuk kaum mukminin apa yang ia cintai
untuk dirinya dan tidak menyukai untuk mereka apa yang tidak ia sukai untuk dirinya. Jika ia
melihat kekurangan dalam hal agama pada saudaranya, ia berusaha untuk memperbaikinya.

Salah seorang yang shlih dari ulama Salaf berkata: Orang-orang yang mencintai Allah melihat
dengan cahaya Allah, merasa kasihan dengan orang yang bermaksiat kepada Allah, membenci
perbuatan-perbuatan mereka, merasa kasihan kepada mereka dengan cara menasihati mereka
untuk melepaskan mereka dari perbuatannya, dan menyayangkan badan mereka sendiri jika
sampai terkena neraka.]17[

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:


:


.
"Tidak boleh hasad kecuali kepada dua orang: orang yang diberi harta oleh Allah kemudian ia
menginfakkannya di pertengahan malam dan pertengahan siang dan orang yang diberikan Al-
Qur`n oleh Allah kemudian ia membacanya di pertengahan malam dan pertengahan siang" ]18[

Dan beliau bersabda mengenai orang yang melihat orang lain menginfakkan hartanya dalam
ketaatan kepada Allah, kemudian ia berkata:


.
.
"Seandainya aku memiliki harta, aku pasti mengerjakan seperti apa yang dikerjakan si fulan. Ia
dengan niatnya itu, maka pahala keduanya sama".[19]

Adapun dalam hal kelebihan dunia, maka tidak boleh mengharapkan kelebihan seperti itu karena
Allah Taala berfirman, yang artinya: Maka keluarlah dia (Qarun) kepada kaumnya dengan
kemegahannya. Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata: "Mudah-mudahan
kita memiliki harta kekayaan seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun, sesungguhnya dia
benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar". Tetapi orang-orang yang dianugerahi ilmu
berkata: "Celakalah kamu! Ketahuilah, pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman
dan mengerjakan kebajikan, dan (pahala yang besar) itu hanya diperoleh oleh orang-orang yang
sabar. ]al-Qashshash/28:79-80].

Tentang firman Allah Taala.

"(Dan janganlah kalian iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian
kamu atas sebagian yang lain.) -Qs. an-Nis`/4 ayat 32- yang dimaksud ayat di atas adalah
hasad, yaitu seseorang menginginkan keluarga atau harta seperti yang diberikan kepada
saudaranya, dan berharap semua itu berpindah tangan kepadanya. Ayat di atas juga ditafsirkan
dengan keinginan yang dilarang syariat dan melawan takdir, misalnya seorang wanita ingin
menjadi laki-laki, atau kaum wanita menginginkan kelebihan-kelebihan agama seperti yang
diberikan kepada kaum laki-laki misalnya jihad, atau kaum wanita menginginkan kelebihan-
kelebihan duniawi seperti yang dimiliki kaum laki-laki seperti warisan, akal, kesaksian, dan lain
sebagainya. Ada juga yang menyatakan bahwa ayat di atas merangkum itu semua.

Kendati demikian, seorang mukmin harus bersedih karena tidak memiliki kelebihan-kelebihan
agama. Oleh karena itu, dalam agama, seorang muslim diperintahkan melihat kepada orang yang
berada di atasnya dan berlomba-lomba di dalamnya dengan mengerahkan segenap tenaga dan
kemampuannya, seperti difirmankan Allah Taala:

"Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba". [al-Muthaffifn/83:26].

Seorang muslim tidak boleh benci diikuti orang lain dalam masalah agama. Justru, ia menyukai
seluruh manusia terlibat dalam persaingan dalam kelebihan-kelebihan agama dan
menganjurkannya. Dan ingat, semua ini harus dilakukan semata-mata karena Allah Taala.

Beliau mengisyaratkan bahwa pemberian nasihat kepada manusia ialah hendaklah seorang
mukmin suka kalau manusia berada di atas kedudukannya. Ini kedudukan dan derajat tertinggi
dalam nasihat, namun tidak diwajibkan. Namun yang diperintahkan dalam syariat ialah
hendaklah seorang mukmin suka kalau manusia seperti dirinya dalam berbuat kebajikan. Kendati
demikian, jika ada orang yang mengungguli dirinya dalam kelebihan agama, ia berusaha keras
mengejarnya, sedih atas kelalaian dirinya, dan gundah atas ketertinggalannya dari menyusul
orang-orang yang lebih dahulu dalam kebaikan.

Seorang mukmin harus terus melihat dirinya lalai dari kedudukan tinggi karena sikap seperti itu
membuahkan dua hal yang berharga: (1) berusaha keras dalam mencari keutamaan-keutamaan
dan meningkatkannya, dan (2) ia melihat dirinya sebagai orang yang kurang sempurna. [20]

Jika seseorang mengetahui bahwa Allah memberikan kelebihan khusus kepada dirinya dan
kelebihan itu tidak diberikan Allah kepada orang lain kemudian ia menceritakannya kepada
orang lain untuk kemaslahatan agama, ia menceritakannya dalam konteks menceritakan nikmat,
dan melihat dirinya lalai dalam bersyukur, maka hal ini diperbolehkan.

Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma berkata, Aku membaca salah satu ayat Al-Qur`n kemudian
aku ingin seluruh manusia mengetahuinya seperti yang aku ketahui.]21[

FAWA`ID HADITS
1. Diperbolehkan menafikan sesuatu karena tidak adanya kesempurnaan padanya, seperti sabda
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :



.
"Tidak ada shalat ketika makanan telah disajikan".[22]

Maksudnya, shalatnya tidak sempurna, karena hati orang yang shalat tersebut akan menjadi sibuk
oleh makanan yang telah tersaji itu, dan contoh-contoh seperti ini sangat banyak.
2. Seseorang wajib mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri. Sebab,
dinafikannya iman dari orang yang tidak mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk
dirinya sendiri menunjukkan wajibnya perbuatan tersebut, karena keimanan tidak boleh
dinafikan kecuali karena hilangnya sesuatu yang wajib padanya atau adanya sesuatu yang
menafikan keimanan tersebut.
3. Termasuk keimanan pula membenci untuk saudaranya apa yang dibenci untuk dirinya sendiri.
4. Di dalam hadits ini terdapat celaan terhadap sikap egois, membenci orang lain, hasad dan
balas dendam, karena orang yang di dalam hatinya terdapat semua sifat ini berarti tidak
mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri, bahkan ia berharap nikmat
yang Allah berikan pada saudaranya yang beriman itu hilang darinya. Nas-alullhas-salmah
wal-fiyah.
5. Setipa mukmin dan mukminah wajib menjauhi sifat hasad (dengki, iri) dan sifat buruk lainnya
karena dapat mengurangi imannya.
6. Hadits ini menunjukkan bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang; bertambah dengan
melakukan ketaatan dan berkurang dengan sebab melakukan maksiat.
7. Mengamalkan kandungan hadits ini menjadikan menyebarnya rasa cinta diantara pribadi-
pribadi dalam satu masyarakat Islami dan akan saling tolong-menolong dan bahu-membahu
sehingga bagaikan satu tubuh.
8. Mencintai kebaikan untuk seorang muslim merupakan salah satu cabang keimanan.
9. Berlomba-lomba dalam kebajikan merupakan kesempurnaan iman.
10. Anjuran untuk mempersatukan hati manusia dan memperkuat hubungan antara kaum
mukminin.
11. Islam bertujuan menciptakan masyarakat yang harmonis dan penuh kasih sayang.
12. Umat Islam hendaknya menjadi laksana satu bangunan dan satu tubuh. Ini diambil dari
bentuk keimanan yang sempurna yaitu mencintai untuk saudaranya apa yang dicintai untuk
dirinya sendiri. Wallhu alam.

Maraji:
1. Al-Qur`n dan terjemahnya.
2. Al-Mujamul Kabr.
3. Al-Wfi f Syarhil Arban an-Nawawiyyah, karya Dr. Musthafa al-Bugha dan Muhyidin
Mustha.
4. Jmiul Ulum wal Hikam, karya Ibnu Rajab al-Hanbali. Tahqq: Syuaib al-Arnauth dan
Ibrahim Bjis.
5. Kutubus-Sabah.
6. Musnad Abi Awanah.
7. Musnad Abu Yala.
8. Qawid wa Faw`id minal-Arban an-Nawawiyyah, karya Nazhim Muhammad Sulthan.
9. Shahh Ibni Hibban dengan at-Taliqtul-Hisn ala Shahh Ibni Hibban.
10. Silsilah al-Ahdts ash-Shahhah.
11. Syarhul Arban an-Nawawiyyah, karya Syaikh Muhammad bin Shlih al-Utsaimin.
12. Syarhus-Sunnah lil-Baghawi.
13. Tafsr Ibni Jarir ath-Thabari.
14. Dan kitab-kitab lainnya.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03//Tahun XII/1429H/2008M. Penerbit Yayasan Lajnah
Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-
761016]
_______
Footnote
[1]. Silsilah al-Ahdts ash-Shahhah (I/1/155-156).
]2[. Lihat Jmiul Ulm wal-Hikam (I/302).
[3]. Shahh. HR al-Bukhri (no. 2475), Muslim (no. Muslim no. 57), Ahmad (II/376), dan Ibnu
Hibban (no. 186-At-Talqtul-Hisn), dari Sahabat Abu Hurairah.
[4]. Shahh. HR. Al-Bukhri (no. 6016), Muslim (no. 46), dan Ahmad (II/288) dari Sahabat Abu
Hurairah.
[5]. Syarah Shahh Muslim (II/16).
[6]. Fat-hul Bri (I/57).
[7]. Syarah Shahh Muslim (II/17).
]8[. Lihat Jmiul Ulm wal-Hikm (I/303).
[9]. Hasan. HR Abu Dawud (no. 4681) dan al-Baghawi dalam Syarhus-Sunnah (no. 3469) dari
Abu Umamah al-Bahili Radhiyallahu 'anhu . Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albni dalam
Silsilah al-Ahdts ash- Shahhah (no. 380), dan hadits ini memiliki beberapa syawahid.
[10]. Shahh. HR Muslim (no. 1844), Ahmad (II/161), Abu Dawud (no. 4248), an-Nas`i
(VII/153), dan Ibnu Majah (no. 3956) dari Sahahabat Abdullah bin Amr bin al-Ash c .
[11]. Shahh. HR Muslim (no. 1826), Abu Dawud (no. 2868), an-Nas`i (VI/255), dan Ibnu
Hibban (no. 5538-at-Talqtul-Hisn).
[12]. Shahh. HR al-Bukhri (no. 6011), Muslim (no. 2586) dan Ahmad (IV/270), dari Sahabat
an-Numan bin Basyir Radhiyallahu 'anhu , lafazh ini milik Muslim.
]13[. Jmiul Ulm wal-Hikam (I/306).
[14]. Lihat Tafsr ath-Thabari (X/114-115).
[15]. Shahh. HR Ahmad (I/385) dan al-Hakim (IV/182).
[16]. Sunan Abi Dawud (no. 4092) dengan sanad yang shahh.
]17[. Jmiul Ulm wal-Hikam (I/308).
[18]. Shahh. HR Ahmad (I/385, 432), al-Bukhri (no. 73), Muslim (no. 816), Ibnu Majah (no.
4208), dan Ibnu Hibban (no. 90-at-Talqtul-Hisn) dari Sahabat Ibnu Masud.
[19]. Shahh. Diriwayatkan oleh Ahmad (IV/230-231), at-Tirmidzi (no. 2325), Ibnu Majah (no.
4228), al-Baihaqi (IV/ 189), al-Baghawi dalam Syarhus-Sunnah (XIV/289), dan ath-Thabrani
dalam Mujamul- Kabir (XXII/ 345-346, no. 868-870), dari Sahabat Abu Kabsyah al-Anmari
Radhiyallahu 'anhu.
]20[. Lihat Jmiul Ulm wal-Hikam (I/308-309).
]21[. Jmiul Ulm wal Hikam (I/310).
[22]. Shahh. HR Muslim (no. 560).

Sumber:

http://almanhaj.or.id
lagi

Materi Tarbiyah
google493d4a48c80b1410.html
Mengenai Kami

Sarana Mempelajari Islam


Ukhuwah Islamiyah

Maret 15, 2008

Makna Ukhuwah Islamiyah.

Menurut Imam Hasan Al-Banna: Ukhuwah Islamiyah adalah keterikatan hati dan jiwa satu
sama lain dengan ikatan aqidah.

Hakekat Ukhuwah Islamiyah


1. Nikmat Allah (QS. 3: 103)
2. Perumpamaan tali tasbih (QS. 43: 67)
3. Merupakan arahan Rabbani (QS. 8: 63)
4. Merupakan cermin kekuatan iman (QS. 49: 10)

Perbedaan Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Jahiliyah


Ukhuwah Islamiyah bersifat abadi dan universal karena berdasarkan aqidah dan syariat Islam.
Ukhuwah Jahiliyah bersifat temporer (terbatas pada waktu dan tempat), yaitu ikatan selain ikatan
aqidah (misal: ikatan keturunan [orang tua-anak], perkawinan, nasionalisme, kesukuan,
kebangsaan, dan kepentingan pribadi).

Hal-hal yang menguatkan Ukhuwah Islamiyah:


1. Memberitahukan kecintaan pada yang kita cintai
2. Memohon didoakan bila berpisah
3. Menunjukkan kegembiraan & senyuman bila berjumpa
4. Berjabat tangan bila berjumpa (kecuali non muhrim)
5. Mengucapkan selamat berkenaan dengan saat-saat keberhasilan
6. Memberikan hadiah pada waktu-waktu tertentu
7. Sering bersilaturahmi (mengunjungi saudara)
8. Memperhatikan saudaranya & membantu keperluannya
9. Memenuhi hak ukhuwah saudaranya

Buah Ukhuwah Islamiyah


1. Merasakan lezatnya iman
2. Mendapatkan perlindungan Allah di hari kiamat (termasuk dalam 7 golongan yang dilindungi)
3. Mendapatkan tempat khusus di syurga (15:45-48)

Referensi
Bercinta dan bersaudara karena Allah, Ust. Husni Adham Jarror, GIP
Meraih Nikmatnya Iman, Abdullah Nasih Ulwan
Rahasia Sukses Ikhwan Membina Persaudaraan di Jalan Allah, Asadudin Press
Panduan Aktivis Harokah, Al-Ummah