Anda di halaman 1dari 16

POTENSI BIODIESEL DARI

KETIAU ( MADUCHA

MOTLEYANA )

Dibuat oleh:

Jessica

CHE

1400610014

Ketiau (Maducha Mottleyana)

Madhuca motleyana tumbuh secara alami di Semenanjung Thailand, Malaysia dan Indonesia. Di Malaysia jenis ini dikenal dengan nama Nyatoh Ketiau. Di Indonesia, Ketiau didapatkan di,Sumatra, Kepulauan Riau, Belitung dan Kalimantan (Borneo).

Dekripsi Tumbuhan

Pohon ketiau setinggi 28 m dengan diameter batang 50

cm dapat menghasilkan getah sekitar 2 kg, yang diambil dari bagian kulitnya. Pohon ketiau dengan getah dilaporkan mengandung

16,27% gutta, 75,43% damar dan 8,3% air. Kulit kayu

kemerahan, getah putih, mahkota pohon padat. Daun terdapat tersebar rata atau berkelompok diujung cabang, helaian daun menjorong. Bunga kuning hingga hijau, dengan daun kelopak berbulu bagian luar, mahkota bunga gundul. Buahnya menjorong, gundul, hijau, kekuningan

hingga kemerahan, 1 - 2 biji. Biji tanpa atau dengan endosperm tipis.

1 - 2 biji. Biji tanpa atau dengan endosperm tipis. Habitat Tumbuhan Madhuca motleyana tumbuh di

Habitat Tumbuhan

Madhuca motleyana tumbuh di dataran rendah pada ketinggian hingga 600 m, tumbuh di hutan yang bergelombang, rawa air tawar dan rawa gambut,

kadang-kadang terletak di dataran tinggi.

Sumber: Soepadmo, E., Saw, L., & Chung, R. (2002). Tree of Flora of Sabah and Sarawak. Kuala Lumpur: Forest Research Institute Malaysia.

Manfaat Tumbuhan Biji ketiau mengandung minyak 51,3% dengan aroma yang kuat dan memiliki rasa seperti

Manfaat Tumbuhan

Biji ketiau mengandung minyak 51,3%

dengan aroma yang kuat dan memiliki rasa seperti mentega dan telah lama dikonsumsi masyarakat Banjarmasin.

Minyak yang diperoleh dari biji Madhuca motleyana (yang dikenal sebagai`ketia oil`) digunakan sebagai campuran makanan dan

pabrik sabun dan lilin. Buahnya dimakan oleh

penduduk setempat. Minyaknya ada

kemungkinan digunakan untuk bahan baku energi seperti halnya jarak pagar, namun masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Sumber: http://www.asianplant.net/

Pembuatan Biodiesel dari Biji Ketiau

(Madhuca Motleyana)

1. Proses pembuatan ekstraksi ketia oil

a) Biji Ketiau dicuci sampai semua kotoran terbuang, lalu dijemur hingga kering.

b) Biji yang sudah kering tersebut ditumbuk sampai hancur, lalu serbuk biji ketiau ini dikukus (sebelum dikukus dimasukkan ke kain terlebih dahulu).

c) Kain yang berisikan biji yang telah dikukus, diikat ujungnya.

d) Letakkan kedalam mesin penjepit, penjepit ini akan menghasilkan ekstraksi minyak dari biji yang telah dikukus.

e) Sisa serbuk biji yang telah diperas, ditumbuk ulang lalu diperas lagi sampai minyak dari dalam biji telah habis.

Komposisi fatty acid dari ketia oil (untuk spesies Madhuca Motleyana menggunakan data dari ketia oil extracted from kernels)

menggunakan data dari ketia oil extracted from kernels ) Sumber: Adinan, H., & Abu Bakar, H.

Sumber: Adinan, H., & Abu Bakar, H. (1988). The Physico-chemical charateristics of locally available ketia oil. MARDI, 23-26.

Jika kadar FFA >5% maka harus direaksikan dengan esterifikasi terlebih dahulu untuk mengurangi kadar FFA dalam minyak nabati dan selanjutnya ditransesterifikasi dengan katalis basa untuk

mengkonversikan trigliserida menjadi metil ester.

Jika minyak nabati berkadar FFA >5% langsung ditransesterifikasi dengan katalis basa maka FFA akan bereaksi dengan katalis membentuk sabun terbentuknya sabun dalam jumlah yang cukup besar dapat menghambat pemisahan gliserol dari metil ester dan berakibat terbentuknya emulsi

selama proses pencucian.

Ketia oil dari Madhuca Motleyana diasumsikan mengandung FFA 5-20%, oleh karena itu diperlukan reaksi esterifikasi dengan katalis asam. (Asumsi diambil dari jenis spesies lain yang memiliki genus yang sama yaitu Madhuca).

Sumber kadar FFA: Guharaja, S., DhakshinaMoorthy, S., Hasan, Z. I., Arun, B., Ahamed, J. I., & Azarudheen, J. (2016). Biodiesel Production from Mahua (Madhuca Indica). International Journal of Nano Corrosion Science and Engineering, 34-47.

Pembuatan Biodiesel dari Biji Ketiau

(Madhuca Motleyana)

2. Tahap I: Reaksi Esterifikasi

Tahap konversi dari free fatty acid menjadi ester. Mereaksikan minyak lemak dengan alkohol menggunakan katalis asam sulfat (H2SO4) 5% dan pada suhu 65 o C.

Alkohol yang digunakan adalah metanol dengan rasio metanol to oil sebesar 0.35 v/v.

5% dan pada suhu 65 o C. • Alkohol yang digunakan adalah metanol dengan rasio metanol

Sebelum memasuki tahap transesterifikasi, air dan katalis asam sebagai produk

samping harus disingkirkan terlebih dahulu. Karena air akan bereaksi dengan katalis

sehingga jumlah katalis menjadi berkurang.

Produknya yang terdiri dari air, metanol berlebih, dan metil ester dipisahkan (lapisan atas: metanol berlebih, lapisan tengah: metil ester, lapisan bawah: air)

Metil ester (minyak) yang telah dipisahkan dicuci menggunakan air dengan suhu 50 o C hingga air cuciannya bersih yang kemudian dilanjutkan dengan reaksi transesterifikasi.

Kandungan trigliserida dalam ketia oil

Kandungan trigliserida dalam ketia oil Kandungan yang paling terbesar adalah triglyceride C52 Artinya mengandung oleic

Kandungan yang paling terbesar adalah triglyceride

C52

Artinya mengandung oleic (C18) dan palmitic (C16) dengan ratio 2:1 (Kuksis, 1972)

Sumber tabel 3: Adinan, H., & Abu Bakar, H. (1988). The Physico-chemical charateristics of locally available ketia oil. MARDI, 23-26. Sumber triglyceride: Kuksis, A. (1972). Triglyceride and Fatty Acid Analysis by Gas Chromatography. University ofToronto, 71-100.

Pembuatan Biodiesel dari Biji Ketiau

(Madhuca Motleyana)

3. Tahap II: Reaksi Transesterifikasi

Tahap konversi dari trigliserida menjadi fatty acid methyl ester. Mereaksikan trigliserida dengan alkohol menggunakan katalis 0,8% (w/w NaOH to oil) atau dengan katalis 0,7% (w/v KOH to oil) yang bertujuan untuk menetralisir asam lemak dan pada suhu 60 o C.

Alkohol yang digunakan adalah metanol dengan rasio metanol to oil sebesar 0.25 v/v (6:1 molar ratio).

60 o C. • Alkohol yang digunakan adalah metanol dengan rasio metanol to oil sebesar 0.25

Biodiesel dan gliserol dipisahkan (lapisan bawah: gliserol, lapisan atas: biodiesel).

Biodiesel yang telah dipisahkan dicuci menggunakan air dengan suhu 50 o C untuk mengikat sisa-sisa gliserin dan metanol. Lalu dipanaskan dengan suhu 105 o C selama satu jam kemudian disaring.

4. Pemurnian Biodiesel

Tahap ini bertujuan untuk menghilangkan/mengurangi kadar air dan metanol yang terkandung dalam biodiesel.

Dilakukan dengan cara distilasi, yaitu proses pemisahan campuran berdasarkan

perbedaan titik didihnya. Pemurnian ini dilakukan dengan cara pemanasan pada

suhu antara 100 o C 110 o C (di atas titik didih air).

Analisa Produk Biodiesel dari Ketia Oil

(Madhuca Motleyana)

Untuk mengetahui komponen metil ester dalam biodiesel diperlukan penelitian lebih lanjut menggunakan analisis gas chromatography / mass spectrometry.

Untuk mengetahui perbandingan standar biodiesel dengan biodiesel dari ketia oil

perlu dilakukan pengujian viskositas , densitas, angka asam, angka penyabunan,

dan % FFA. (berdasarkan Standar Biodiesel Nasional SNI 04-7182-2006)

Karena tidak adanya penelitian lebih lanjut, maka menggunakan perbandingan

standar biodiesel dengan biodiesel dari Ketia oil yang berasal dari genus yang

sama yaitu Madhuca (Madhuca Indica).

Perbandingan Komposisi Fatty Acid Ketia Oil (Madhuca

Motleyana) dengan Mahua Oil (Madhuca Indica)

Oil (Madhuca Motleyana) dengan Mahua Oil (Madhuca Indica) Fokus pada trigliserida C 52 (kandungan terbanyak dalam

Fokus pada trigliserida C52 (kandungan terbanyak dalam ketia oil) yang terdiri dari Oleic (C18) dan Palmitic (C16)

dengan ratio 2:1. Ketia Oil memiliki kandungan Oleic dan

Palmitic yang mirip dengan Mahua Oil. Oleh karena itu data Mahua Oil dapat digunakan untuk analisis lebih lanjut.

dan Palmitic yang mirip dengan Mahua Oil . Oleh karena itu data Mahua Oil dapat digunakan
Proses pembuatan biodiesel dari Madhuca Indica dengan proses yang sama dari Madhuca Mottleyana menghasilkan mahua

Proses pembuatan biodiesel dari Madhuca Indica dengan proses yang sama dari Madhuca Mottleyana menghasilkan mahua biodiesel yang memenuhi standar biodiesel berdasarkan Standar Biodiesel Nasional SNI 04-7182-2006.

Maka dari itu diasumsikan bahwa Biodiesel yang dihasilkan dari Ketia Oil dapat memenuhi standar Biodiesel pula, hanya

yang berbeda dengan Mahua Oil adalah kualitas Biodiesel (memerlukan penelitian lebih lanjut).

Referensi

Adinan, H., & Abu Bakar, H. (1988). The Physico-chemical charateristics of locally available ketia oil. MARDI, 23-26.

Ghadge, S. V., & Raheman, H. (2005). Biodiesel Production from Mahua (Madhuca

Indica) Oil Having High Free Fatty Acids. Biomass and Bioenergy, 601-605.

Guharaja, S., DhakshinaMoorthy, S., Hasan, Z. I., Arun, B., Ahamed, J. I., & Azarudheen, J. (2016). Biodiesel Production from Mahua (Madhuca Indica). International Journal of Nano Corrosion Science and Engineering, 34-47.

Kuksis, A. (1972). Triglyceride and Fatty Acid Analysis by Gas Chromatography.

Univeristy ofToronto, 71-100.

Soepadmo, E., Saw, L., & Chung, R. (2002). Tree of Flora of Sabah and Sarawak. Kuala Lumpur: Forest Research Institute Malaysia.