Anda di halaman 1dari 14

PENELITIAN KELAS

TUGAS
Tugas ini disusun untuk memenuhi tugas terstruktur mata kuliah
Pengelolaan Pendidikan

Dosen pengampu
Drs Dedi Kuntadi M.pd
Herni Yuniarti Suhendi, S.Pd., M.Pd
Disusun oleh: Kelompok 2

Azzalya Nurisyani (1152070013)


Dalilah Nur Alip (1152070014)
Dede Ruhimat (1152070015)
Desty Restiani (1152070016)
Desy Sri Mulia S (1152070017)
Dhea Nugraha H (1152070018)
Dian Rahmatuloh (1152070020)
Dini Lidinillah (1152070021)
Erna Siti Nurhasanah (1152070022)
Fani Fauziah (1152070023)
Fiki (1152070024)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


JURUSAN MIPA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2017
PENELITIAN KELAS

Penelitian kelas memiliki perbedaan dengan penelitian tindakan kelas. Apabila diamati
dari aspek peneliti, penelitian kelas dilakukan oleh peneliti yang bukan dari kalangan guru.
Atau dapat dilakukan oleh guru tapi bukan guru mata pelajaran saat kegiatan pembelajaran
berlangsung.

Rencana penelitian kelas dilakukan oleh peneliti serta munculnya permasalahan


dirasakan oleh orang luar.Misalnya permasalahan tersebut merupakan permintaan dari pihak
lain agar dapat melakukan penelitian terhadap satu kelas setelah menggunakan media
pembelajaran tertentu atau setelah guru menggunakan metode pembelajaran tertentu.

Suatu hal yang ada dalam penelitian tindakan kelas diantaranya memiliki ciri utama
belum tentu ada tindakan perbaikan meskipun memiliki tempat penelitian yang sama dengan
penelitian tindakan kelas, yaitu dilaksanakan di dalam ruangan kelas pada umumnya.

Peran guru dalam kelas merupakan bagian yang diamati oleh peneliti, sehingga guru
merupakan subjek penelitian kelas atau bagian yang diamati hingga selesainya penelitian.

Dalam proses pengumpulan data dilakukan oleh peneliti, bahkan hasil penelitian kelas
menjadi milik peneliti dan belum tentu dimanfaatkan oleh guru. Demikian juga dalam hal
kegunaan penelitian kelas tersebut kebanyakan untuk pengetahuan pengaruh terhadap
pembelajaran yang diberikan guru. (Suryadin & Rostini, 2011)

Seperti Nunan dan Bailey (2009) menjelaskan, ada beberapa definisi yang berbeda
untuk "penelitian kelas". Pada dasarnya, penelitian di kelas melibatkan penelitian di
lingkungan sekolah tentang pengajaran dan pembelajaran. Pada artikel ini saya
mendefinisikan penelitian kelas sebagai proses menyelidiki pertanyaan tentang pengajaran dan
pembelajaran yang dilakukan secara sistematis oleh guru yang ingin lebih memahami karya
mereka sendiri. Definisi ini terinspirasi oleh penelitian tindakan dimana orang meneliti karya
mereka sendiri untuk memperbaiki situasi. Di kelas bahasa asing, guru akan melakukan studi
penelitian untuk membantu mereka memperbaiki praktik mengajar mereka dan pembelajaran
siswa mereka. (stewart, n.d)

Firman, dkk. (1997) mengungkap bahwa "penelitian kelas adalah suatu upaya untuk
menjelaskan berbagai aspek dari hubungan antar ketergantungan materi subyek, pembelajar
dan pengajar sehubungan dengan isu totalitas dan logika internal dari tugas mengkonstruksi
pengetahuan dari PBM". Dengan bahasa yang lebih operasional Hopkin (1993) menjelaskan
makna penelitian kelas sebagai aktivitas yang dilakukan guru untuk meningkatkan
kemampuan mengajar, menguji asumsi teori-teori pendidikan dalam praktek atau 3sebagai
evaluasi dan implementasi sarana prasarana sekolah secara keseluruhan. Kedua definisi ini
pada intinya menitikberatkan pada adanya usaha yang dilakukan oleh guru untuk
meningkatkan proses pembelajaran.

Dengan bahasa yang lebih operasional Hopkin (1993) menjelaskan makna


penelitian kelas sebagai aktivitas yang dilakukan guru untuk meningkatkan
kemampuan mengajar, menguji asumsi teori-teori pendidikan dalam praktek atau
sebagai evaluasi dan implementasi sarana prasarana sekolah secara keseluruhan.
Kedua definisi ini pada intinya menitikberatkan pada adanya usaha yang dilakukan oleh guru
untuk meningkatkan proses pembelajaran

Kedua definisi ini pada intinya menitikberatkan pada adanya usaha yang dilakukan
oleh guru untuk meningkatkan proses pembelajaran.

Adapun usaha-usaha yang dimaksud dalam term di atas, berwujud satu penelitian yang
memegang kaidah ilmiah. Artinya, jika ada satu persoalan pembelajaran yang terjadi di kelas,
maka untuk menentukan aspek mana yang harus ditingkatkan dan dibenahi bukan berdasarkan
perkiraan emosional, namun lebih pada analisis berdasar pada sejumlah data yang telah
dikumpulkan terlebih dahulu. Tentu saja dalam proses pengumpulan data ini guru dapat
bekerja sama dengan teman sejawatnya, supervisornya, atau bahkan dengan siswa. Adapun
bagaimana cara dan dengan apa proses pengumpulan data serta bagaimana analisis data yang
telah dikumpulkan tersebut akan dilakukan, tergantung pada kemampuan guru sebagai peneliti
kelas.
Dari definisi penelitian kelas yang telah dibahas, secara tidak langsung dapat dipahami
bahwa penelitian kelas mencoba mewujudkan keingintahuan peneliti secara utuh mengenai
apa yang terjadi di dalam kelas melalui observasi terhadap kegiatan PBM. Terminal akhir
yang ingin dicapai adalah, suksesnya proses belajar mengajar di kelas. Dengan begitu tujuan
dari penelitian kelas secara tidak langsung adalah peningkatan proses belajar mengajar dengan
cara pengembangan profesi dan peningkatan performance guru serta mengurangi hambatan-
hambatan yang ada dalam proses belajar mengajar di kelas melalui refleksi penglaman dan
kemampuan yang dimilikinya. Hambatan-hambatan tersebut ditemukan melalui serangkaian
pengamatan sebagai rangkaian kegiatan penelitian kelas.

Penelitian Tindakan Kelas dan Penelitian Kelas merupakan dua bentuk penelitian yang jauh
berbeda. Namun, pada hakekatnya Penelitian Tindakan Kelas merupakan salah satu bentuk
penelitian yang termasuk ke dalam ranah penelitian kelas. Meskipin demikian, Penelitian
Kelas (Classroom Research) merupakan penelitian yang dilakukan di dalam kelas yang tidak
hanya mencakup Penelitian Tindakan Kelas saja, tetapi juga mencakup berbagai jenis
penelitian yang dilakukan di dalam kelas. namun bedanya kelas hanya dijadikan sebagai objek
penelitian yang dilakukan oleh pihak luar (bukan Guru) yang mengumpulkan data dengan cara
mengamati prilaku guru dalam proses belajar. Biasanya penelitian kelas guru diminta untuk
menerapkan metode yang sudah didesain, dirancang, dan ditetapkan oleh sang peneliti.
Kemudian peneliti akan mengumpulkan data dari observasi kelas, hasil wawancara, dan
angket yang telah disiapkan olehnya. Hasil penelitiannya disampaikan kepada pihak sekolah,
tetapi tanpa ada tindak lanjut kedepannya. Sehingga efek dari penelitian ini juga tidak dapat
dirasakan secara langsung baik oleh guru maupun siswa. Dengan kata lain, dalam penelitian
kelas guru hanya berperan sebagai aktor dalam penelitian, sedangkan sutradaranya adalah
sang peneliti yang sedang melakukan penelitian tersebut.
(https://karyatulisunik.blogspot.co.id/2015/06/perbedaan-penelitian-tindakan-kelas-dan.html)

Tujuan Dasar Penelitian Kelas

Dengan begitu tujuan dari penelitian kelas secara tidak langsung adalah peningkatan
proses belajar mengajar dengan cara pengembangan profesi dan peningkatan performance
guru serta mengurangi hambatan-hambatan yang ada dalam proses belajar mengajar di kelas
melalui refleksi penglaman dan kemampuan yang dimilikinya. Hambatanhambatan tersebut
ditemukan melalui serangkaian pengamatan sebagai rangkaian kegiatan penelitian kelas.5

Kompleksitas persoalan yang terjadi di kelas secara tidak langsung memberi kontribusi
pada kesulitan pelaksanaan penelitian kelas. Firman, dkk. (1997) mengidentifikan ada tiga
kesukaran dalam metodologi penelitian kelas terkait dengan kompleksitas PBM., yaitu :

1. perlunya suatu model empirik yang dapat memetakan PBM berdasarkan komponen
pelaku, interaksi komponen dan konteks dan proses;5

2. norma dan nilai yang berubah-ubah menurut sekolah dan kelas perlu dipisahkan menurut
langsung atau tidak peranannya terhadap PBM. Pemisahan ini membantu dalam
mendokumentasikan hasil penelitian;

3. fungsi evaluatif dan penelitian, karena kehidupan kelas menyangkut nilai dan norma yang
diaktualisasikan sebagai budaya kelas perlu dilihat sebagai isu terpisah.

Persoalan pertama tampaknya memang menjadi persoalan yang sulit terpecahkan,


mengingat kesulitan untuk membuat satu pemetaan empiris interaksi antar komponen yang
ada dalam proses pembelajaran. Jika selama ini dikenal model masukan, proses dan keluaran,
maka tampaknya model ini tidak menjelaskan secara baik tentang situasi yang terjadi secara
nyata di lapangan. Dengan begitu pemetaan situasi interaksi hingga kini tampaknya masih
dalam tataran konsep. Di antara ketiga persoalan yang diajukan Firman, masalah tentang nilai
dan norma tampaknya menjadi satu titik tekan tersendiri dalam proses penelitian. Seperti
disadari bahwa proses pembelajaran pada dasarnya sarat dengan kajian nilai dan norma,
dengan begitu rasanya tidak mungkin bagi seorang peneliti yang hendak meneliti kelas
menghindari persoalan ini. Keberhasilan untuk mengidentifikasi persoalan tentang nilai dan
norma
terutama terkait dengan nilai yang tetap dan yang mungkin berubah, serta yang
memiliki peran langsung ataupun tidak langsung dalam proses pembelajaran akan
lebih memudahkan peneliti untuk memfokuskan tema kajian penelitiannya.

Kejelian mengidentifikasi nilai dan norma rasanya hanya mungkin dilakukan jika
peneliti secara sungguh-sungguh terlibat dalam situasi pendidikan di kelas, dan bagi teoritikus
pendidikan perhatian atas situasi belajar mengajar harus diakui tidak sepenuh mereka yang
secara langsung terlibat dalam proses tersebut. Meski demikian, tidak berarti peniliti yang
menguasi konstruk teoritik akan menghasilkan temuan yang lebih rendah dibanding mereka
yang terlibat secara langsung. Beberapa faktor yang ditengarai berkontribusi atas itu adalah
pengalaman, pendidikan, serta kepekaan atas persoalan yang terjadi dalam konteks yang
sedang dihadapi.

Persoalan tentang nilai dan norma secara langsung akan terkait dengan desain penelitian
yang akan digunakan peneliti. Harus disadari oleh peneliti bahwa dalam beberapa desain
penelitian ada yang mempersyaratkan objek kajiannya dalam jangkau observasi (observable).
Jika desain ini diterapkan dalam penelitian kelas, maka tampaknya akan sangat sulit bagi
peneliti untuk melakukan penelitian secara mendalam. Untuk itu tampaknya yang mudah
adalah dengan menggunakan kajian metodologi yang bukan hanya mengobservasi fenomena
nyata saja, tetapi apa di balik fenomena itu (beyond the phenomenon). Meski demikian, jika
diasumsikan bahwa seluruh atribut nilai, dan norma merupakan atribut psikologis, dan
pelbagai atribut psikologis tersebut memiliki peluang direfleksikan tidak hanya dari satu
sumber saja, maka kesulitan ini akan terhindarkan. Artinya, untuk desain penelitian yang akan
digunakan dalam penelitian kelas tidak hanya monometodologi saja, tetapi juga memiliki
variasi. (Idrus, 2011)

Perbandingan PTK dan Penelitian Kelas

No. Aspek PTK Penelitian Kelas

1 Peneliti Guru Orang luar

2 Rencana penelitian Oleh guru (mungkin dibantu Oleh peneliti


orang luar)

3 Munculnya masalah Dirasakan oleh guru Dirasakan oleh orang


luar/peneliti

4 Ciri utama Ada tindakan untuk Belum tentu ada tindakan


perbaikan yang berulang perbaikan

5 Peran guru Sebagai guru dan peneliti Sebagai guru (subyek


penelitian)

6 Tempat penelitian Kelas Kelas

7 Proses pengumpulan Oleh guru sendiri atau Oleh peneliti


data bantuan orang lain

8 Hasil penelitian Langsung dimanfaatkan Menjadi milik peneliti,


oleh guru, dan dampaknya belum tentu dimanfaatkan
dapat dirasakan oleh siswa oleh guru

(Konsorsium Sertifikasi Guru, 2013)

Dengan demikian dapat kita simpulkan beberapa perbedaan antara Penelitian Tindakan Kelas
dengan Penelitian Kelas adalah sebagai berikut :

1. Dilihat dari aspek penelitinya, PTK dilaksanakan oleh guru, sedangkan Penelitian Kelas
dilakukan oleh pihak luar (bukan guru).
2. Penelitian Tindakan Kelas penyususunan rencana penelitiannya dilakukan oleh guru dan
bisa pula dibantu oleh orang lain (Pakar), sedangkan Penelitian Kelas penyusunan
rencana penelitiannya dilakukan oleh peneliti tanpa melibatkan guru.
3. Permasalahan yang diangkat dalam PTK adalah hasil refleksi diri dari pengalaman
mengajar guru itu sendiri karena dirasakan adanya kekurangan, sedangkan dalam
Penelitian Kelas permasalahan yang diangkat merupakan inisiatif dari peneliti yang
berasal dari luar lingkungan sekolah.
4. PTK mempunyai ciri yang utama yaitu adanya tindakan untuk melakukan perbaikan
terhadap masalah yang diangkat, sedangkan pada Penelitian Kelas bisa saja tidak ada
tindakan perbaikan.
5. Pada PTK guru bertindak sebagai sutradara sekaligus Aktor dalam penelitian yang sedang
dilaksanakannya, sedangkan pada Penelitian Kelas guru hanya sebagai aktor atau subjek
penelitian saja.
6. Pengumpulan informasi atau data dalam pelaksanaan PTK dilakukan oleh guru,
sedangkan dalam Penelitian Kelas dilakukan oleh peneliti (orang luar)
7. Hasil dari Penelitian Tindakan Kelas langsung dapat diterapkan oleh guru dalam kegiata
pembelajaran berikutnya, namun dalam Penelitian Kelas hasilnya hanya sebagai arsip
bagi peneliti.
(https://karyatulisunik.blogspot.co.id/2015/06/perbedaan-penelitian-tindakan-kelas-
dan.html)

PENELITIAN STANDAR DAN PENELITIAN KELAS


Selama ini masih terjadi kerancuan antara makna penelitian kelas dan penelitian
standar pada umumnya. Kerancuan makna ini pada akhirnya menjadikan adanya tuntutan
yang sama yang terjadi pada penelitian standar terhadap penelitian kelas. Beberapa kerancuan
tersebut antara lain (a) dalam penelitian standar persoalan yang diangkat sebagai tema
penelitian biasanya bertolak dari problematika "akademik", dan bukan berasal dari temuan
empiris di lapangan. Titik tolak awal penelitian standar ini yang kerap juga diterapkan dalam
model penelitian kelas yang dilaksanakan, sehingga melahirkan kerangkan pikir psiko-statistik
(pendekatan Fisher) yaitu (b) adanya kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dalam
penelitian kelas; (c) perumusan hipotesis berdasar pada efektif tidaknya satu perlakuan yang
akan diterapkan pada satukelompok subyek tertentu (placebo) yang kemudian dilakukan uji
statistik dengan menggunakan skala penerimaan tertentu; (d) subyek penelitian harus
berpedoman cuplikan acak atas populasi; (e) dikenal asumsi keseragaman (homogenitas)
sebagai dasar untuk generalisasi hasil temuan. Sebenarnya asumsi ini tidak dibutuhkan
dalam penelitian kelas, mengingat karakteristik unik dari penelitian kelas itu sendiri;
(f) berupaya melakukan generalisasi atas temuan penelitian. Menyadari karakteristiknya yang
berbeda, maka sudah sewajarnyalah model penelitian kelas tidak disamakan dengan penelitian
standar pada umumnya. Seperti diungkap di atas, homogenitas, uji hipotesis, ataupun sampel,
rasanya tidak selalu dibutuhkan dalam penelitian kelas. Penelitian kelas tidak
mempersyaratkan data harus homogen, karena persoalan yang muncul di kelas pada dasarnya
memiliki karakteristik yang berbeda, dan individu yang mengalaminya mungkin tidak
seluruh populasi kelas, sehingga asumsi sampel juga dapat diabaikan.
Meski demikian, sebagai langkah awal konsep-konsep tersebut memang perludipahami
oleh peneliti kelas. Namun, mereka tidak wajib untuk memaksakan konsep tersebut hadir
dalam desain penelitiannya. Artinya, para peneliti itu perlu dibekali pemahaman tentang
komponen dan desain penelitian standar pada umumnya, namun untuk penelitian kelas
mungkin saja materi-materi itu tidak digunakan secara mutlak. Adanya karakteristik yang
berbeda ini menjadikan desain penelitian kelas tidak terbatas hanya pada penelitian kuantitatif
saja, namun justru pemahaman makna atas semua fenomena yang terjadi di kelas menjadi hal
yang sangat menarik. Pada sisi ini desain kualitatif sangat tepat digunakan dalam model
penelitian kelas. Terlebih pada situasi kelas, universalitas hasil temuan bukan hal yang
ditekankan. Artinya, penelitian kelas mungkin mengungkap persoalan yang dialami oleh
individu-individuyang berlainan, dan masing-masing hasil temuan tersebut bukan temuan
yang general yang pada akhirnya tidak mungkin untuk dilakukan generalisasi. Pada sisi
ini pendekatan emik (khas individual) lebih ditekankan dibandingkan dengan pendekatan etik
(yang berlaku umum). Namun sekali lagi harus diingat bahwa dalam penelitian kelas desain
kuantitatif masih tetap dapat digunakan, dan bahkan untuk peneliti awal mungkin hal ini
justruyang paling mudah dipakai dibanding dengan model penelitian kualitatif. Untuk model
ini penelitian kelas aksi tindakan (class action research) ataupun penelitian dengan tujuan
pengujian hipotesis masih tetap dimungkinkan, senyampang persoalan yang diungkap adalah
persoalan yang terjadi dalam skala mikro (kelas) dan bukan makro (pendidikan pada
umumnya). Berdasarkan perbedaan di atas, isu penting dalam penelitian kelas bukan perilaku
pembelajar yang berkorelasi tinggi dengan hasil belajar, melainkan isu mengenai bagaimana
interaksi komponen-komponen PBM berlangsung dan membentuk suatu pola. Mengapa pada
situasi tertentu sebagian pembelajar dapat memahami topik tertentu sedangkan pembelajar
lainnya tidak? Bagaimana sebenarnya proses mengkonstruksi pengetahuan inti berlangsung
dengan senantiasa melihatnya sebagai hubungan ketergantungan antara pengajar, pembelajar,
dan materi subyek? (Umar, 1999).
Selain itu dalam melaksanakan penelitian kelas ada beberapa rambu-rambu yang harus
dipahami bagi peneliti kelas, yaitu :
1. Tugas utama guru di kelas adalah mengajar, dengan begitu apapun metode penelitian
yang akan digunakan seharusnya tidak mengacaukan komitmen guru mengajar. Artinya,
jika guru hendak melaksanakan satu penelitian kelas, maka pemilihan metode penelitian
yang akan digunakannya (baik desain kualitatif,ataupun kuantitatif) tidak boleh
menjadikan guru melalaikan kewajibannya untuk mengajar, atau karena guru memilih
metode tertentu --yang belum dikuasainya, danitu merepotkannya-- pada akhirnya
menjadikan konsentrasi guru mengajar berkurang.
2. Terkait dengan point a, maka metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian
yang dilakukan harus tidak menyita banyak waktu mengajar. Desain yang terbaik adalah
guru mampu mengumpulkan data yang dibutuhkan tanpa harus mengurangi jam
pelajarannya.
3. Metode yang digunakan harus terandalkan, sehingga memungkinkan hasil temuan yang
memiliki tingkat validitas baik. Selain itu, dengan metode yang terandalkan akan
menjadikan hasil temuan merupakan jawaban atas persoalan yang dikemukakan.
4. Masalah penelitian yang dipilih haruslah masalah yang dikuasai guru secara baik,
sehingga memungkinkan untuk dipecahkan dalam kajian penelitian yang dilakukannya.
5. Cara kerja penelitian (prosedur) harus mengikuti prosedur etika penelitian yang berlaku.
6. Penelitian harus berorientasi harapan masa depan, yaitu untuk memperbaiki dan
meningkatkan proses pembelajaran di kelas. (Idrus, 2011)

YANG MELANDASI SEORANG PENGAJAR DALAM PENELITIAN KELAS

Perlukah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bagi seorang guru? Untuk menjawab
pertanyaan itu, kita harus mengacu pada dasar hukum yang melandasi tugas, pokok dan fungsi
seorang guru. Dalam UU No. 20 tahun 2003 guru disebut sebagai pendidik. Dalam UU
tersebut dikatakan bahwa pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai
guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator dan sebutan
lainnya yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam penyelenggaraan
pendidikan. (UU Sisdiknas no 20 tahun 2003; 5). Selanjutnya dalam BAB XI, pasal 39
disebutkan bahwa Pendidikan merupakan tenaga professional yang bertugas merencanakan
dan melaksanakan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian
masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.

PERAN DAN FUNGSI GURU DALAM PTK

Kalau menurut pepatah Jawa kata guru dapat diartikan orang yang digugu dan yang
ditiru. Menurut konsep ini seorang guru harus dapat menyelaraskan konsep gugu dan tiru.
Gugu mengandung makna konsep idiologi pemikiran sedangkan tiru mengandung makna
konsep prilaku badani yaitu orang yang digugu dan ditiru. Oleh karena itu di gugu
memiliki makna yang sangat luas dan dalam, yaitu sebagai pribadi yang bijaksana (dalam
bahasa Inggris wise) dan dapat memberikan nasehat yang luhur serta pedoman hidup yang
baik (mampu memberikan futuristic concept sebagai bekal hidup).

Penelitian yang berkaitan dengan pembelajaran di kelas adalah PTK. Hal ini sebagai
mana dikemukan oleh Kember yang mengatakan bahwa penelitian kaji tindak mempunyai
tujuan yang mendasar yaitu digunakan untuk perbaikan/peningkatan mekanisme
belajar dan mengajar. (Kember 2000; 23). Hal tersebut sejalan dengan apa yang
dikemukakan oleh Jujun bahwa penelitian kaji tindak memang tidak ditujukan untuk
menemukan pengetahuan ilmiah yang bersifat universal, melainkan mencari pemecahan
praktis terhadap permasalahan yang bersifat lokal.

Sedangkan menurut Issaac (1994:27) yang dikutif oleh Siswoyo bahwa penelitian kaji
tindak bertujuan untuk mengembangkan keterampilan atau pendekatan baru dan untuk
memecahkan masalah-masalah melalui penerapan langsung di kelas atau ditempat kerja.
Mencermati dari amanat UU Sisdiknas, UU Guru dan dosen yang kemudian
menghubungkannya dengan tujuan dari PTK, maka PTK sangat penting dan diperlukan oleh
seorang guru.

Sekolah berperan membantu orang tua memandirikan anak-anak mereka.


(Drost,1997). Sejalan dengan hal tersebut Ki Hajar Dewantoro (1997) mengatakan pengaruh
pengajaran itu umumnya memerdekakan manusia atas hidupnya. Pengajaran adalah bagian
dari pendidikan Jadi pengajaran adalah bagian dari pendidikan dengan cara memberi ilmu
atau pengatahuan atau juga memberi kecakapan pada anak didik, yang keduanya dapat
berfaedah buat hidup anak-anak baik lahir maupuan batin. Sedangkan pendidikan yaitu
tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Maksudnya pendidikan yaitu menuntun segala
kekuatan kodrat yang ada anak-anak itu agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota
masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiannya yang setinggi-tingginya.
(Dewantoro, 1997).
Jadi dengan demikian dari berbagai uraian tentang guru seperti yang dikemukakan di
atas, maka peran dan fungsi seorang guru selain mengajar juga harus mendidik. Kalau dalam
UU No. 14 tentang guru dan dosen dikatakan bahwa kedudukan guru sebagai tenaga
profesional berfungsi untuk meningkatkan martabat dan peran sebagai agen pembelajaran
yang berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan. (UU No. 14 tahun 2005; 5).

Peran seorang guru yang sangat dominan dalam proses belajar mengajar dapat
diklasifikasikan menjadi tujuh yaitu: (1) guru sebagai demonstrator, (2) guru sebagai
pengelola kelas, (3) guru sebagai mediator dan fasilitator, (4) guru sebagai evaluator, (5) guru
sebagai administrator, (6) peran guru sebagai pribadi, dan (7) peran guru secara psikologis.
(Sabri, 2007 : 68-69).

Oleh karena itu dari uraian di atas tentang guru, maka guru memegang peranan yang
penting dalam pelaksanaan PTK. Hal ini dapat kita lihat dari prosedur penelitian kaji tindak.
Bagaimana guru membuat perencanaan yang akan diterapkan di kelas untuk pertemuan yang
akan datang agar terjadi perbaikan proses pembelajaran, mengadakan obserrvasi di kelas yang
diajarnya, kemudian melakukan apa yang direncanakan dan sesudah itu guru melakjukan
perenungan (merefleksi) dari hasil pelaksanaan tindakan. Dari hasil refleksi yang dilakukan
kemudian guru akan membuat perencanaan lagi untuk pertemuan berikutnya. Semua itu dapat
dilakukan oleh guru. Hal tersebut juga sejalan dengan tugas pendidikan seperti yang
kemukakan Soediyarto yang mengatakan tugas guru secara profesional harus melakukan: (1)
perencanaan program pembelajaran; (2) mengelola proses pembelajaran; (3) menilai proses
dan hasil pembelajaran; (4) mendiagnosis masalah yang dihadapi peserta didik; dan (5) terus
memperbaiki program pembelajaran selanjutnya (Soedijarto, 2008; 177).
DAFTAR PUSTAKA

Dewantara Hadjar. Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Taman Siswa, 1997.

Firman, Harry,. Momo Rosbiono dan Nelson Siregar (1997). Penelitian Kelas : Teori,
Metodologi dan Analisis, IKIP Bandung Pres.

Hardjodipuro Siswoyo, Penelitian Kaji Tindak. Makalah Penataran UPT PPL IKIP Jakarta, 23
Juli 1977.

Hopkins, D., (1992). A Teacher`s Guide to Classroom Research. 2nd Addition. Open Univ
Press, Philadelphia.

https://www.academia.edu/3614942/PENELITIAN_KELAS

Idrus, Muhammad. 2011. Penelitian Kelas.


http://kajian.uii.ac.id/wpcontent/uploads/2011/06/KELAS2.pdf

Kember David, Action Learning and Action Research. London: Stylus Pub. Inc., 2000.

Konsorsium Sertifikasi Guru. 2013. Perangkat Pengembangan Profesi


(Matematika). Modul PLPG

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 Tentang
Standar Kualifikasi Akademik Dan Kompetensi Guru

S.J. Drost. Sekolah Mengajar atau Mendidika?.Yogyakarta: Kanisius, 1998

Soedijarto. Landasan dan Arah Pendidikan Nasional kita. Jakarta: Kompas, 2008

Stewart, Tim. (n.d). Classroom Research and Classroom Teachers. Kyoto University:Japan

Suryadin , Asyraf & Rostini, Tien. 2011.Pengembangan Profesi Guru:Penelitian Tindakan


Kelas. Bandung:Amalia Book.

Umar, J. 1999. Penelitian Kelas: bahan sajian untuk pelatihan pengawas SLTP &SMU. Pusat
Pengujian.

UU RI No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Jakarta: Novindo Pustaka Mandiri, 2006

UU RI No. 20 tahun 2003 tenang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Cipta Jaya, 2003