Anda di halaman 1dari 8

ANALISIS ASPEK PERTUMBUHAN, REPRODUKSI, CARA MAKAN DAN

KEBIASAAN MAKAN IKAN MAS (Cyprinus carpio)

Nur Silmi Nafisah1, Iskarimah Yolanisa1, Abdurrahman Faris1


1
Program Studi Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,
Universitas Padjadjaran

Abstrak

Praktikum analisis aspek biologi terkait pertumbuhan, reproduksi, cara makan dan kebiasaan
makan ikan mas (Cyprinus carpio) telah dilaksanakan di laboratorium MSP pada tanggal 27
Februari 2017. Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pertumbuhan, reproduksi,
cara makan dan kebiasaan ikan mas (Cyprinus carpio). Metode praktikum yang digunakan adalah
metode observasi serta data dianalisis dengan metode deskriptif kuantitatif. Sampel ikan mas
diambil dari kolam Ciparanje dengan bobot rata-rata 112-130 gr dan panjang rata-rata 190-201
mm, aspek yang diamati antara lain aspek panjang dan bobot ikan, pola pertumbuhan, faktor
kondisi, rasio kelamin, tingkat kematangan gonad, hepatosomatik indeks, jenis pakan, indeks
propenderan, tingkat trofik dan indeks pilihan. Hasil praktikum menunjukkan bahwa ikan mas
(Cyprinus carpio) memiliki pola pertumbuhan yang allometrik negatif dimana pertumbuhan
panjang lebih cepat dibandingkan pertumbuhan bobot, memiliki rasio kelamin dimana rasio
kelamin jantan 77% dan betina 23% dan termasuk kedalam ikan poliandri, dan kebiasaan dan
cara makan ikan mas yang tergolong kedalam hewan omivora cenderung herbivora.

Kata kunci : Cara Makan, Ikan Mas, Pertumbuhan, Reproduksi

Pengantar
Ikan mas berasal dari daratan Asia dan telah lama dibudidayakan sebagai ikan konsumsi oleh
bangsa Cina sejak 400 tahun SM. Budidaya modern di Jawa Barat menggunakan sistem air deras
untuk mempercepat pertumbuhannnya. Habitat aslinya yang di alam meliputi sungai berarus
tenang sampai sedang dan di area dangkal danau. Perairan yang disukai tentunya yang banyak
menyediakan pakan alaminya.

Pertumbuhan ikan merupakan perubahan dimensi (panjang, bobot, volume, jumlah dan ukuran)
persatuan waktu baik individu, stok maupun komunitas, sehingga pertumbuhan banyak
dipengaruhi faktor lingkungan seperti makanan, jumlah ikan, jenis makanan, dan kondisi ikan.
Pertumbuhan yang cepat dapat mengindikasikan kelimpahan makanan dan kondisi lingkungan
yang sesuai. (Moyle dan Cech 2004 dalam Herawati 2017)

Reproduksi merupakan kemampuan individu untuk menghasilkan keturunan sebagai upaya


untuk melestarikan jenisnya atau kelompoknya. Ikan mas merupakan ikan yag termasuk ikan
phytophils, yakni golongan ikan yang memijahnya pada- perairan yang terdapat vegetasi untuk
menempelkan telur yang dikeluarkan. (Effendi 1997).

Kebiasaan makanan adalah jenis, kuantitas, dan kualitas makanan yang dimakan oleh ikan.
Sedangkan cara makan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan waktu, tempat, dan
cara makanan yang diperoleh oleh ikan. Kebiasaan makanan ikan secara alami tergantung pada
lingkungan tempat ikan hidup, dan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain habitat,
kesukaan terhadap jenis makanan tertentu, musim, ukuran, umur ikan, periode harian mencari
makan, dan spesies kompetitor (Febyanti & Syahailatua 2008).

Bahan dan Metode

Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini, antara lain : ikan mas, aquades, larutean
serra, larutan asetokarmin, timbangan, pinset, pisau, gunting,cawan petri, mikroskop, gelas ukur,
mistar, sonde, cover glass, kamera
Metode
Metode praktikum yang digunakan adalah metode observasi untuk mengetahui pertumbuhan,
reproduksi, cara makan dan kebiasaan makan ikan mas. Adapun analisa data yang di gunakan
adalah analisa data deskriptif kuantitatif yaitu hanya akan mendeskripsikan keadaan suatu gejala
yang telah direkam melalui alat ukur kemudian diolah sesuai dengan fungsinya. Aspek yang
dianalisa adalah sebagai berikut :

1. Aspek Pertumbuhan
Data pertumbuhan yang didapatkan akan diuji dengan regresi hubungan panjang bobot. Menurut
Blackweel (2002) dan Ritcher (2007), pengukuran panjang bobot ikan bertujuan untuk
mengetahui variasi bobot dan panjang tertentu dari ikan secara individual atau kelompok-
kelompok individu sebagai suatu petunjuk tentang kegemukan, kesehatan, produktivitas dan
kondisi fisiologis termasuk perkembangan gonad. Analisis panjang dan berat bertujuan untuk
mengetahui pola pertumbuhan ikan di alam. Rumus umum hubungan panjang-berat, apabila di
transformasikan ke dalam logaritma, akan menjadi persamaan: log W = log a + b log L, yaitu
persamaan linier atau persamaan garis lurus sebagai berikut :

( ) ( )
=
( ) ( )
( )
=

Hubungan Panjang Berat (Effendie 1997) :
- b = 3 (Isometrik), dimana pertumbuhan panjang dan berat seimbang.
- b 3 (Alometrik), terbagi menjadi alometrik negatif (b < 3) dan alometrik positif (b > 3)

2. Aspek Reproduksi
Data reproduksi yang didapatkan akan diuji dengan metode Chi Kuadrat (Chi Square Test). Chi
Square adalah salah satu jenis uji komparatif non parametris yang dilakukan pada dua variabel,
di mana skala data kedua variabel adalah nominal. (Apabila dari 2 variabel, ada 1 variabel dengan
skala nominal maka dilakukan uji chi square dengan merujuk bahwa harus digunakan uji pada
derajat yang terendah).

3. Cara Makan dan Kebiasaan Makan


Data cara makan dan kebiasaan makan yang didapatkan akan diuji dengan menggunakan indeks
preponderan sedangkan indeks pilihan digunakan unutk mengetahui pakan yang digemari oleh
ikan (Effendie, 1979). Adapun perhitungannya dapat diketahui menggunakan rumus :


=
=1

Keterangan :
IPi = Indeks propenderan
Vi = persentase volume satu macam makanan
Oi = persentase frekuensi kejadian satu macam makanan
(VixOi)= jumlah Vi x Oi dari semua jenis makanan


=
+
Keterangan :
E = indeks pilihan
Ri = jumlah relatif macam-macam organisme yang dimakan
Pi = jumlah relatif macam organisme dalam perairan

Hasil dan Pembahasan


Hasil
Berdasarkan data hasil dari praktikum yang telah dilaksanakan, didapatkan data bahwa ikan mas
dari sampel populasi ini berada pada kelas panjang 190-201 mm dengan jumlah sebanyak 24
ekor atau 34% dari jumlah populasi. Jika dibandingkan dengan kriteria kuantitatif Ikan Mas
Majalaya kelas indukan (BSNI 1999), panjang standar ikan mas jantan adalah 22 cm (220 mm)
sedangkan panjang standar ikan mas betinanya adalah 35 cm (350 mm), maka dapat disimpulkan
bahwa ikan-ikan mas yang dijadikan bahan pengamatan itu berukuran sedang bahkan cenderung
kecil. Frekuensi terbesar dari sampel populasi ini berada pada interval bobot (112-130) gram
dengan jumlah sebanyak 22 ekor atau 31% dari jumlah populasi.

Hubungan antara panjang bobot ikan dalam suatu populasi dapat diketahui dengan mencari
regresi pertumbuhannya terlebih dahulu yang diambil dari data panjang dan bobot ikan satu
angkatan dengan menganalisis nilai b yang didapatkan. Nilai b tersebut dapat menentukan tipe
pertumbuhan apa yang dimiliki oleh populasi ikan tersebut. Nilai b yang didapatkan adalah 2,5955
atau b < 3. Jika b < 3, maka hubungan yang terbentuk adalah allometrik negatif yaitu
pertambahan berat lebih lambat daripada pertambahan panjang, menunjukkan keadaan ikan
tersebut kurus. (Effendi 1997).

Regresi Hubungan Panjang dan


Bobot Ikan Mas
2,50
2,00
1,50
Log Bobot y = 2,5955x - 3,8636
1,00
R = 0,8021
0,50
0,00
2,10 2,20 2,30 2,40
Log Panjang

log L (X) log W (Y) Linear (log L (X) log W (Y))

Gambar 1. Grafik Regresi Hubungan Panjang dan Bobot Ikan Mas


Menurut Effendi (2002), faktor kondisi atau indeks ponderal (faktor K) menunjukkan keadaan baik
dari ikan dilihat dari segi kapasitas fisik untuk survival atau reproduksi. Faktor ini pula mampu
memberikan keterangan baik secara biologi maupun komersial. Selama dalam pertumbuhan, tiap
pertambahan bobot material ikan akan bertambah panjang dan perbandingan liniernya tetap. Hal
tersebut dianggap bahwa bobot ikan yang ideal sama dengan pangkat tiga dari panjangnya dan
berlaku untuk ikan kecil dan ikan besar.

Gambar 2. Faktor Kondisi Ikan Mas


Berdasarkan grafik diatas (Gambar 2), didapatkan bahwa pada interval Total Length 166-177
adalah nilai optimum, yang menunjukkan bahwa ikan pada kisaran tersebut ideal dan sehat, baik
dari segi survival, reproduksi, produktivitas dan kondisi fisiologis. Keterangan yang didapatkan
diperkuat oleh pendapat Baltz & Moyle 1982 dalam Herawati 2017, yang menyatakan ikan pada
faktor kondisi yang lebih tinggi ini memiliki fekunditas lebih tinggi daripada ikan dengan faktor
kondisi lebih rendah (Baltz & Moyle 1982 dalam Herawati 2017).Fluktuasi nilai pada grafik
merupakan indikasi bahwa faktor kondisi akan berbeda tergantung beberapa faktor seperti jenis
kelamin, musim, atau lokasi penangkapan serta tingkat kematangan gonad dan kelimpahan
makanan (King 1995 dalam Herawati 2017)

Gambar 3. Rasio kelamin jantan dan betina

Menurut Herawati (2017), rasio kelamin adalah perbandingan antara jantan dan betina dalam
suatu populasi. Rasio kelamin dihitung dengan cara membandingkan jumlah ikan jantan dan
betina yang diperoleh yang disajikan dalam grafik di atas (Gambar 3) dimana jumlah ikan jantan
ada 54 ekor dan ikan betina ada 16 ekor dari total ikan yang ada yaitu 70 ekor. Persentase rasio
kelamin yang didapatkan adalah 77% untuk ikan mas jantan dan 23% untuk ikan mas betina. Ini
menunjukkan bahwa ikan mas termasuk kedalam ikan yang bersifat poliandri, dimana satu
individu betina kawin dengan banyak individu jantan.

Grafik Tingkat Kematangan Gonad


13
15 11
Jumlah (ekor)

10 7 TKG I
4 4
5 12 2111 2121 23 3 2 2 23 TKG II
0
TKG III
TKG IV
TKG V
Interval

Gambar 4. Tingkat Kematangan Gonad

Berdasarkan data tersebut (Gambar 4), sebagian besar gonad ikan mengalami TKG IV pada rata-
rata bobot ikan di atas 100 gram. Hal ini juga menunjukkan adanya hubungan antara bobot ikan
dan tingkat kematangan gonad yaitu semakin besar bobot ikan maka semakin besar tingkat
kematangan gonadnya, sesuai dengan pernyataan Effendie (1997), umumnya pertambahan
berat gonad pada ikan betina sebesar 10-25% dari berat tubuh dan pertambahan pada jantan
sebesar 5-10%.
Persentasi Indeks Kematangan
Gonad
9% 13% 23%
Nilai IKG (%)
50% 1% 3%
0%
Nilai IKG (%)
TKG ITKG IITKG IIITKG IVTKG V
Tingkat Kematangan Gonad (TKG)

Gambar 5. Indeks Kematangan Gonad

Indeks kematangan gonad yang didapatkan dari data angkatan disajikan dalam bentuk grafik dan
dapat dilihat bahwa persentase nilai IKG paling tinggi adalah pada TKG V yaitu sebanyak 23%
sedangkan persentasi nilai IKG paling rendah adalah pada TKG I yaitu 1%. Berdasarkan grafik
tersebut dapat diketahui bahwa semakin besar tingkat kematanagan gonad semakin tinggi pula
indeks kematangan gonad. Hal ini sesuai dengan pernyataan Effendie (1997) bahwa IKG akan
semakin meningkat nilainya dan akan mencapai batas maksimum pada saat akan terjadi
pemijahan.

35,00% 31,71%
30,00% 26,31%
25,00%
20,00%
14,20%
15,00%
10,63%
10,00%
3,22% 3,31%
5,00% 2,09%2,09% 1,92%2,61%1,39%
0,00% 0,44%0,09% 0,00% 0,00% 0,00%
0,00%

Gambar 6. Indeks Preponderan Angkatan 2015

Kebiasaan makan ikan dibedakan menjadi tiga kategori berdasarkan persentase bagian terbesar
(indeks of preponderance), terdiri dari makanan utama IP>25%, makanan pelengkap 5%<=
IP=<25%, dan makanan pengganti/tambahan IP<5%. Grafik diatas menunjukan hasil pengolahan
data Indeks Preponderan yang dilakukan oleh sekitar 70 kelompok dari angkatan 2015, rata-rata
feeding habits ikan mas sampel adalah pemakan segala atau campuran, hal itu dapat dilihat dari
persentase Indeks Preponderan hampir dari semua jenis makanan teridentifikasi didalam tubuh
ikan. Didapatkan indeks preponderan (IP) tertinggi ada pada fitoplankton kelas clorophycae
dengan nilai 31,71% diikuti dengan bagian hewan dengan nilai 26,31%, dari jumlah tersebut
menunjukan bahwa clorophycae dan bagian hewan merupakan pakan utamanya, sedangkan
Platyhelmintes yang memiliki IP 10,63% dan bagian tumbuhan dengan IP 14,20% adalah pakan
pelengkap ikan mas, dan jenis pakan yang lainnya merupakan pakan tambahan dari ikan mas.
Dibandingkan dengan hasil kelompok, didapat bahwa kebanyakan ikan mas dari 70 kelompok
mendapatkan sampel ikan mas yang menjadikan makanan utama bagi ikan mas kelompok 17
menjadi makanan pengganti.
Preferensi tiap organisme atau jenis plankton yang terdapat dalam alat pencernaan ikan
ditentukan berdasarkan indeks pilihan (indeks of electifity). Indeks pilihan merupakan
perbandingan organisme pakan ikan yang terdapat dalam lambung dengan organisme pakan
ikan yang terdapat diperairan. Nilai Indeks pilihan ini berkisar antara +1 sampai -1, jika nilai indeks
pilihannya 1<E<0 maka pakan tersebut digemari oleh ikan, jika nilai indeks pilihannya -1<E<0
maka pakan tersebut tidak digemari oleh ikan.

Hasil pengolahan data Indeks pilihan bahwa pakan yang digemari oleh ikan mas secara umum
yaitu Bacillariophycae, Desmidiacae, Rhizopoda, Entomostraca, Copepoda, Nemata, bagian
hewan, dan bagian tumbuhan, sedangkan pakan yang lainnya tidak digemari oleh ikan mas pada
umumnya. Jika dibandingkan dengan hasil yang didapatkan oleh kelompok 17, didapatkan
bahwa ikan mas yang menjadi sampel kelompok 17 mempunyai indeks pilihan pakan yang sama
dengan ikan mas pada umumnya.

Tingkat Trofik adalah urutan-urutan tingkat pemanfaatan makanan atau material dan energy
seperti yang tergambarkan oleh rantai makanan. Untuk mengetahui tingkat trofik ikan, ditentukan
berdasarkan hubungan antara tingkat trofik organisme pakan dan kebiasaaan makanan ikan
sehingga dapat diketahui kedudukan ikan tersebut dalam ekosistem.
Tingkat trofik ikan dikategorikan menjadi tingkat trofik yaitu untuk ikan yang bersifat herbivora,
tingkat 2,5 untuk ikan yang bersifat omnivore, dan tingkat trofik 3 untuk ikan yang bersifat
karnivora. Diketahui berdasarkan hasil pengolahan data tingkat trofik ikan mas adalah sebesar
2,1188, sehingga dapat disimpulkan bahwa ikan mas adalah ikan omnivora yang lebih cenderung
menjadi herbivora.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum ikan mas mengenai aspek pertumbuhan, reproduksi dan cara
makan dan kebiasaan makan ikan mas. Maka dapat ditarik kesimpulan, diantaranya sebagai
berikut :
a. Pertumbuhan pada ikan mas yang berasal dari Kolam Ciparanje UNPAD ini bersifat
allometrik negatif, dengan nilai b = 2,5955. Dan rasio kelamin pada ikan mas yaitu, jantan
77% dan betina 23%.
b. Reproduksi pada ikan mas ini, dilihat dari nilai TKG, baik ikan jantan maupun ikan betina
sebagian besar berada fase bunting dan mijah, yang artinya siap untuk melakukan
perkawinan. Persentase IKG ikan mas ini umumnya berkisar antara 1-23 %.
c. Food Habit Ikan mas yang ada pada populasi ini lebih bersifat omnivore yang lebih cenderung
menjadi herbivora., hal ini dapat disebabkan karena pakan yang digemari oleh ikan mas
secara umum yaitu Bacillariophycae, Desmidiacae, Rhizopoda, Entomostraca, Copepoda,
Nemata, Bagian hewan, dan Bagian tumbuhan, sedangkan pakan yang lainnya tidak
digemari oleh ikan mas pada umumnya.
Saran
Adapun saran mengenai praktikum ini agar lebih baik dalam penelitian selanjutnya, diantaranya
sebagai berikut :
Praktikum mengenai analisis aspek biologis ini masih terkendala masalah data hasil praktikum,
pada pengolahannya banyak ditemukan kendala, seperti masih banyak data yang missed atau
kosong sehingga rata-rata yang didapatkan kurang valid. Untuk itu, harus diperhatikan lagi
prosedur kerja dan pemahaman dan materi dasar yang menunjang jalannya praktikum ini agar
tidak ada lagi kesalahan data.

Adapun ucapan terimakasih praktikan kepada Ibu Dra. Titin Herawati, M.Si sebagai dosen
matakuliah biologi perikanan dan penulis buku pedoman metode biologi perikanan dan
tim asisten laboratorium praktikum biologi perikanan yang telah membantu dalam
menuntun pembuatan jurnal ini.

Daftar Pustaka

Baltz, O. M, P. B. Moyle. 1982. Life History Characteristics of Tule Parch (Hysterocarpus task)
populations in contrasting enviroments. Environmental Biology of Fish, Vol 7: 227-242.
Blackweel, B. G., M. L. Brown., S. M. Jordan., R. M. Neumann., M. C. Quist., C. S. Guy. 2000.
Proposed standard weight (Ws) equations and standard length categories for 18
warmwater nongame andriverine fish species. North American Journal of Fisheries
Management, Vol 20 : 570-574.
Dipt. KKP. Modul Penyuluhan Perikanan. 2011
http://www.djpt.kkp.go.id/index.php/arsip/file/72/ikan-kembung.pdf/
Effendie, Moch. Ichsan. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama, Yogyakarta.
Effendie, Moch. Ichsan. 2002. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama, Yogyakarta.
Herawati, Titin. 2017. Metode Biologi Perikanan : Pedoman Kerja Laboratorium. Unpad Press,
Bandung.
King, M. 1995. Fisheries Biology : Assesment and Management. Fishing News Books. United
Kingdom. 341 p.
Merta, I. G. S. 1993. Hubungan Panjang Berat dan Faktor Kondisi Ikan Lemuru, (Sardinella
lemuru Bleeker, 1853) dari Perairan Selat Bali. Jurnal Penelitian Perairan Laut, Volume
73 : 35-44.
Moyle, P. B., J. J. Cech. 2004. Fishes: An Introduction Ichtyology. 5th Edition. Prentice-Hall, Inc.,
New Jersey.
Ritcher, T. J. 2007. Development and Evaluation of Standard Weight Equations for Bridgelip
Sucker and Largerscale Sucker. North American Journal of Fisheries Management, Vol
27 : 936-939.
Roberts, T. R., 1992. Systematic revision of the Southeast Asian anabantoid fish genus
Osphronemus, with description of two new species. Ichthyol. Explor.Freshwaters, 2 (4):
351 -360.
Santoso. B. 1996. Budidaya Ikan Nila, Kanisius, Yogyakarta.
Sulistiyarto Bambang . Hubungan Panjang Berat, Faktor Kondisi, dan Komposisi Makanan Ikan
Saluang (Rasbora argyrotaenia Blkr) di Dataran Banjir Sungai Rungan, Kalimantan
Tengah. 2012. (http://unkripjournal.com/Edisi1b/sulistiyarto.pdf)
Sunarma, A., A. Surahman, E. Sadeli, Subandri, E. Miftah, 2002. Penelaahan Sistem Usaha
Budidaya Gurame. Laporan Tinjauan Hasil Proyek Pengembangan Perekayasa Teknologi
BBAT Sukabumi Tahun 2002. Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi. Sukabumi. Hal. 50
62.