Anda di halaman 1dari 33

kimia lingkungan

pengertian kimia lingkungan

Kimia Lingkungan -------------------------

Kimia (dari bahasa Arab " seni transformasi" dan bahasa


Yunani khemeia "alkimia") adalah ilmu yang mempelajari mengenai komposisi dan
sifat zat atau materi dari skala atom hingga molekul serta perubahan atau transformasi serta
interaksi mereka untuk membentuk materi yang ditemukan sehari-hari. Kimia juga
mempelajari pemahaman sifat dan interaksi atom individu dengan tujuan untuk
menerapkan pengetahuan tersebut pada tingkat makroskopik. Menurut kimia modern, sifat
fisik materi umumnya ditentukan oleh struktur pada tingkat atom yang pada gilirannya
ditentukan oleh gaya antaratom.

Lingkungan adalah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber daya
alam seperti tanah, air, energi surya, mineral, serta flora dan fauna yang tumbuh diatas tanah
maupun didalam lautan, dengan kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti
keputusan bagaimana menggunakan lingkungan fisik tersebut.

Kimia lingkungan adalah studi ilmiah terhadap fenomena kimia dan biokimiayang terjadi
di alam. Bidang ilmu ini dapat didefinisikan sebagai studi terhadap sumber, reaksi, transpor,
efek, dan nasib zat kimia di lingkungan udara, tanah, dan air; serta efek aktivitas manusia
terhadapnya. Kimia lingkungan adalah ilmu antardisiplin yang memasukkan ilmu kimia
atmosfer, akuatik, dan tanah, dan juga sangat bergantung dengan kimia analitik, ilmu
lingkungan, dan bidang-bidang ilmu lainnya.

Kimia lingkungan pertama kali mempelajari bagaimana cara kerja lingkunganyang tak
terkontaminasi, zat kimia apa dan berapa konsentrasi yang ada secara alami, dan apa efeknya.
Tanpa hal ini, mustahil untuk mempelajari secara akurat efek manusia terhadap lingkungan
dengan pelepasan zat kimia.

Sumber : Wikipedia.com

1. Pencemaran Lingkungan

Didunia yang semakin modern ini,tentu Perkembangan teknologi dan industry pasti semakin
pesat.perkembangan teknologi dan industry ini dapat berdampak positif dan negatif bagi
kehidupan manusia. Dampak positifnya (menguntungkan), yaitu dampak yang diharapkan
dalam rangka meningkatkan kualitas dan kenyamanan hidup.

Dampak negatifnya (merugikan), yaitu dampak yang dapat menurunkan kualitas/kenyamanan


hidup. Dampak ini tidak diharapkan karena menimbulkan masalah yang harus diatasi, yaitu
masalah kerusakan atau pencemaran lingkungan.

a. Pengertian Pencemaran Lingkungan

Pencemaran adalah peristiwa penyebaran bahan kimia dengan kadar tertentu yang dapat
merubah keadaan keseimbangan pada daur materi dalam lingkungan (keseimbangan
lingkungan) baik keadaan struktur maupun fungsinya sehingga dapat mengganggu
kesejahteraan/kelangsungan hidup manusia. Pencemaran lingkungan meliputi pencemaran
udara, pencemaran air, dan pencemaran tanah (daratan).

Lingkungan dapat tercemar karena:

1) Kecepatan hilangnya senyawa tertentu dari lingkungan lebih besar daripada kecepatan
masuknya senyawa pengganti.

2) Rusaknya atau putusnya alur siklus biokimia.

3) Kecepatan masuknya senyawa ke dalam lingkungan lebih besar daripada kecepatan

pengambilannya.

4) Masuknya senyawa yang tidak terdegredasi ke dalam lingkungan.

b. Daur Pencemaran Lingkungan


Pencemaran lingkungan dapat disebabkan karena ulah manusia dan pada akhirnya

dampaknya juga akan dirasakan oleh manusia, baik secara langsung maupun tak langsung.

Gambar diagram daur pencemaran lingkungan.

http://romdhoni.staff.gunadarma.ac.id Page 1

Kimia Lingkungan

2. Pencemaran Udara

Udara akan tercemar jika ada bahan-bahan atau zat asing di dalam udara yang

menyebabkan perubahan susunan atau komposisi udara dari keadaan normalnya.

a. Penyebab Pencemaran Udara

1) Faktor internal (secara alamiah), misalnya:

debu beterbangan oleh tiupan angin

abu atau debu dan gas-gas volkanik dari letusan gunung berapi

proses pembusukan sampah

2) Faktor eksternal (karena ulah manusia), misalnya:

pembakaran bahan bakar fosil

debu atau serbuk dari kegiatan industri

pemakaian zat-zat kimia yang disemprotkan ke udara

b. Sumber Pencemar Udara

transportasi

industri

pembuangan sampah

pembakaran stasioner, dan lain-lain

c. Komponen Pencemar Udara


Karbon monoksida (CO)

Oksida nitrogen (NOx)

Oksida belerang (SOx)

Hidrokarbon

Partikel (particulate), dan lain-lain

d. Dampak Pencemaran Udara

1). Dampak Pencemaran oleh Karbon Monoksida (CO)

Gas CO tidak berbau dan tidak berwarna. Pada keadaan normal konsentrasinya di udara 0,1
ppm, dan di kota dengan lalulintas padat 10 15 ppm. Dampak pencemaran oleh gas CO
antara lain:

Bagi manusia dampak CO dapat menyebabkan gangguan kesehatan sampai kematian,


karena CO bersifat racun metabolis, ikut bereaksi secara metabolis dengan hemoglobin dalam
darah (Hb) :

Hb + O2 O2Hb (oksihemoglobin)

Hb + CO COHb (karboksihemoglobin)

COHb 140 kali lebih stabil daripada O2Hb.

Kadar CO : Waktu kontak : Dampaknya bagi tubuh :

100 ppm

30 ppm

1000 ppm

1300 ppm

> 1300 ppm

sebentar

8 jam
1 jam

1 jam

1 jam

dianggap aman

menimbulkan pusing dan mual

pusing dan kulit berubah kemerah-merahan

kulit jadi merah tua dan rasa pusing yang hebat

lebih hebat sampai kematian

Tanda-tanda keracunan gas CO adalah: pusing, sakit kepala dan mual. Keadaan yang lebih
berat lagi adalah: kemampuan gerak tubuh menurun, gangguan pada sistem
kardiovaskular,serangan jantung, sampai dengan kematian.

Bagi tumbuhan, kadar CO 100 ppm pengaruhnya hampir tidak ada khususnya tumbuhan
tingkat tinggi. Kadar CO 200 ppm dengan waktu kontak 24 jam dapat mempengaruhi
kemampuan fiksasi nitrogen oleh bakteri bebas terutama yang terdapat pada akar tumbuhan.

2). Dampak Pencemaran Oleh Oksida Nitrogen (NOx)

Gas NO tidak berbau dan tidak berwarna. Gas NO2 berbau menyengat, berwarna coklat

kemerahan. Sifat racun (toksisitas) NO2 empat kalinya NO. Organ yang paling peka paru-
paru, jika terkena NO2 akan membengkak sehingga sulit bernapas sampai kematian.
Konsentrasi NO yang tinggi mengakibatkan kejang-kejang, bila keracunan berlanjut
mengakibatkan kelumpuhan.NO akan lebih berbahaya jika teroksidasi menjadi NO2.Oksida
nitrogen bagi tumbuhan menyebabkan bintik-bintik pada permukaan daun, bila
konsentrasinya tinggi mengakibatkan nekrosis (kerusakan jaringan daun), sehingga
fotosintesis terganggu. Konsentrasi NO 10 ppm dapat menurunkan kemampuan fotosintesis
60 70 %. Di udara oksida nitrogen dapat menimbulkan PAN (Peroxy Acetyl Nitrates) yang
dapat menyebabkan iritasi mata (pedih dan berair). PAN bersama senyawa yang lain akan
menimbulkan kabut foto kimia (Photo Chemistry Smog).

3). Dampak Pencemaran oleh Oksida Belerang (SOx)


SOx sebagian besar berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, terutama batubara. Gas

buang lebih banyak mengandung SO2 dibanding SO3. Dengan oksigen dari udara SO2

menghasilkan SO3:

SO2 + O2 SO3

Gas SO2 berbau tajam dan tak mudah terbakar. Gas SO3 sangat reaktif. Dengan uap air dari
udara:

SO2 + H2O H2SO3

SO3 + H2O H2SO4

Jika ikut terkondensasi di udara dan jatuh bersama air hujan menyebabkan hujan asam.

Bagi tumbuhan kadar SOx 0,5 ppm dapat menyebabkan timbulnya bintik-bintik pada
daun.Jika paparan lama daun menjadi berguguran.

Bagi manusia SOx menimbulkan gangguan pernapasan. Jika SOx berubah menjadi asam
akan menyerang selaput lendir pada hidung, tenggorokan dan saluran napas yang lain sampai
ke paru-paru. SO2 dapat menimbulkan iritasi tenggorokan tergantung daya tahan masing-
masing(ada yang 1 2 ppm, atau 6 ppm). SO2 berbahaya bagi anak-anak, orang tua, dan
orang yang menderita kardiovaskuler. Otot saluran pernapasan akan mengalami kejang
(spasma). Akan lebih berat lagi jika konsentrasi SO2 tinggi dan suhu udara rendah. Pada
paparan lama akan terjadi peradangan yang hebat pada selaput lendir yang diikuti paralysis
cilia (kelumpuhan sistem pernapasan), kerusakan lapisan ephitelium, akhirnya kematian.
Pada konsentrasi 6 12 ppm dengan paparan pendek yang berulang-ulang dapat
menyebabkan hiperplasia dan metaplasia sel-sel epitel yang akhirnya menjadi kangker.

Pada benda-benda, SO2 bersifat korosif. Cat dan bangunan gedung warnanya menjadi
kusam kehitaman karena PbO pada cat bereaksi dengan SOx menghasilkan PbS. Jembatan
menjadi rapuh karena mempercepat pengkaratan.

http://romdhoni.staff.gunadarma.ac.id Page 3

Kimia Lingkungan

4). Dampak Pencemaran oleh Hidrokarbon


Pembakaran hidrokarbon menghasilkan panas. Panas yang tinggi menimbulkan peristiwa

pemecahan (Cracking) menghasilkan rantai hidrokarbon pendek atau partikel karbon. Gas

hidrokarbon dapat bercampur dengan gas buangan lainnya. Cairan hidrokarbon membentuk
kabut

minyak (droplet). Padatan hidrokarbon akan membentuk asap pekat dan menggumpal
menjadi

debu/partikel. Hidrokarbon bereaksi dengan NO2 dan O2 mengahsilkan PAN (Peroxy Acetyl

Nitrates). Campuran PAN dengan gas CO dan O3 disebut kabut foto kimia (Photo Chemistry

Smog) yang dapat merusak tanaman. Daun menjadi pucat karena selnya mati. Jika
hidrokarbon

bercampur bahan lain toksitasnya akan meningkat.

Berikut ini adalah toksitas benzena dan toluena:

Konsentrasi Pengaruhnya terhadap tubuh:

Benzena (ppm):

100 iritasi terhadap mukosa

3 000 lemas (0,5 1 jam)

7 500 paralysys (0,5 -1 jam)

20 000 kematian (5 10 menit)

Toluena (ppm):

200 pusing, lemah, pandangan kabur setelah 8 jam.

600 gangguan syaraf, dapat diikuti kematian jika waktu kontak lama.

5). Dampak Pencemaran oleh Partikel

Partikel (debu) yang masuk/mengendap dalam paru-paru dapat menimbulkan berbagai

macam penyakit saluran pernapasan (pnevmokoniosis) antara lain:


Penyakit silikosis

Disebabkan oleh pencemaran debu silika bebas (SiO2). Dapat terjadi pada daerah pabrik besi

dan baja, keramik, pengecoran beton, bengkel yang mengerjakan besi (mengikir/

menggerinda), penambangan bijih besi, timah putih dan batubara. Bila sudah parah penyakit

ini dapat diikuti hipertropi jantung sebelah kanan yang mengakibatkan kegagalan kerja

jantung.

Penyakit asbestosis

Disebabkan oleh debu/serat asbes (campuran berbagai silikat terutama magnesium


silikat).Dapat terjadi di daerah pabrik/industri yang menggunakan asbes, pabrik

pemintalan serat asbes, pabrik yang beratap asbes, dan lain-lain.

Penyakit Bisinosis

Disebabkan oleh debu/serat kapas. Dapat terjadi pada daerah pabrik pemintalan
kapas/tekstil,pembuatan kasur atau jok kursi. Penyakit ini dapat diikuti bronkitis kronis.

6). Dampak Pencemaran yang Lain

Pemakaian insektisida dapat menyebabkancocarcinogenik.

Efek rumah kaca dapat merusakkan lapisan ozon, sehingga sinar ultra violet tidak tersaring.

Dapat menyebabkan kanker kulit, suhu bumi naik sehingga tidak nyaman, es kutub mencair
sehingga permukaan laut naik

2. Pencemaran Air

Jika terjadi penyimpangan dari keadaan normalnya dapat dikatakan air sudah tercemar.

Pada keadaan normal:

Air hujan mengandung SO4, Cl, NH3, CO2, N2, C, O2, debu.

Air mata air mengandung mineral Na, Mg, Ca, Fe, O2.
Air mengandung bakteri/mikroorganisme lain.

Air murni tanpa mineral tidak enak/segar.

Dalam industri air digunakan untuk: air proses, air pendingin, air utilitas dan sanitasi, air

ketel uap penggerak turbin, dan lain-lain. Air yang telah digunakan untuk industri tidak boleh
langsung dibuang ke lingkungan karena dapat mencemari lingkungan, maka terlebih dahulu
harus

diolah agar sama dengan kualitas air lingkungan. Proses daur ulang air limbah (Water
Treatment Recycle Process) adalah salah satu syarat yang harus dimiliki oleh industri yang
berwawasan lingkungan.

a. Pengamatan indikator dan pencemaran air:

Indikator secara fisis: kejernihan/kekeruhan, perubahan suhu, rasa, dan warna.

Indikator secara kimiawi: zat kimia terlarut, radioaktivitas, perubahan pH.

Indikator secara biologis: berdasar mikroorganisme yang ada (ada tidaknya bakteri patogen)

b. Komponen Pencemar air

Komponen pencemar air dapat berupa bahan buangan padat, organik, anorganik, olahan
bahan makanan, cairan berminyak, zat kimia, dan panas.

1) Bahan buangan padat/butiran.

Pelarutan bahan buangan padat menyebabkan perubahan warna. Larutan pekat dan
berwarna gelap mengurangi penetrasi sinar matahari ke dalam air, fotosintesis dalam air
terganggu sehingga jumlah oksigen terlarut berkurang dan akan berpengaruh terhadap
kehidupan organisme dalam air.

Pengendapan bahan buangan padat akan menutupi permukaan dasar air, menghalangi

fotosintesis, menutupi sumber makanan dan telur ikan di dasar air, sehingga jumlah ikan
berkurang.

Pembentukan koloidal yang melayang dalam air menyebabkan keruh dan menghalangi sinar

matahari, fotosintesis terganggu dan jumlah oksigen terlarut berkurang sehingga


mempengaruhi kehidupan dalam air.

2) Bahan buangan organik.

Berupa limbah yang dapat membusuk/terdegradasi oleh mikroorganisme. Menyebabkan


jumlah mikroorganisme bertambah dan tumbuh bakteri patogen yang merugikan. Limbah ini
dapat diproses menjadi pupuk/kompos.

3) Bahan buangan anorganik.

Berupa limbah yang tidak dapat membusuk dan sulit didegradasi oleh mikroorganisme

sehingga dapat meningkatkan jumlah ion logam dalam air. Limbah ini berasal dari industry
yang melibatkan unsur logam Pb, As, Cd, Hg, Cr, Ni, Ca, Mg, Co, misalnya pada industry
kimia, elektronika, elektroplating.

Ion logam Ca dan Mg menyebabkan air sadah yang mengakibatkan korosi pada alat besi,
menimbulkan kerak/endapan pada peralatan proses seperti tangki/bejana air, ketel uap, dan
pipa penyalur.Ion logam Pb, As, Hg bersifat racun sehingga air tidak dapat untuk minum.

4) Bahan buangan olahan bahan makanan (termasuk bahan organik).

Jika bahan mengandung protein dan gugus amin akan terdegradasi menjadi senyawa yang
mudah menguap dan berbau busuk sehingga air mengandung mikroorganisme dan bakteri
patogen.

5) Bahan buangan cairan berminyak.

Tidak larut dalam air, mengapung dan menutupi permukaan air. Jika mengandung senyawa
volatil akan menguap.Terdegradasi oleh mikroorganisme dalam waktu lama. Bahan ini
mengganggu karena:

Menghalangi difusi oksigen dari udara ke dalam air.

Menghalangi sinar matahari sehingga fotosintesis terganggu.

Ikan di permukaan dan burung air terganggu, bulu burung lengket dan tak bias
mengembang.

Air tak dapat dikonsumsi karena mengandung zat beracun seperti benzena, dan
senyawatoluena.
6) Bahan buangan zat kimia, misalnya:

a) Sabun, deterjen, shampoo, dan bahan pembersih lainnya. Bahan ini mengganggu
lingkungan

karena:

Menaikkan pH air. Jika memakai bahan non-pospat menaikkan pH menjadi 10,5 11.

Bahan antiseptik yang ditambahkan akan dapat membunuh/mengganggu mikroorganisme.

Sebagian jenis sabun/deterjen tak dapat terdegradasi.

b) Bahan pemberantas hama/insektisida. Bersifat racun dan tak dapat/sulit terdegradasi


(beberapa minggu sampai beberapa tahun). Insektisida sering dicampur dengan senyawa
minyak bumi sehingga permukaan air akan tertutupi minyak.

c) Zat pewarna. Bersifat racun dan cocarcinogenik(merangsang/penyebab tumbuhnya


kangker) dan dapat mempengaruhi kandungan oksigen dan pH dalam air. Zat warna
mengandung senyawa kimia berbahaya chromogen dan auxsochrome.

d) Larutan penyamak kulit. Mengandung ion logam Cr, tidak dapat untuk air minum. Sebagai
pengganti Cr untuk bahan penyamak dipakai enzym. Bersama lemak dan sisa kulit, enzyme
akan didegradasi menghasilkan senyawa yang mudah menguap dan berbau busuk (hasil
peruraian protein dan senyawa amin). Populasi mikroorganisme akan bertambah dan
memungkinkan berkembangbiaknya bakteri patogen yang berbahaya.

e) Zat radioaktif. Penggunaan radiasi zat radioaktif di berbagai bidang (pertanian, peternakan,
kedokteran, hidrologi, farmasi, pertambangan, industri) akan terbawa air ke lingkungan.

Akibat radiasi dapat merusak sel tubuh dan genetik.

c. Dampak/kerugian pencemaran air:

1) Air tidak bermanfaat lagi untuk keperluan rumah tangga, industri maupun pertanian.

2) Air menjadi penyebab timbulnya penyakit. Air tercemar oleh limbah organik terutama dari
bahan makanan merupakan tempat subur berkembangbiaknya mikroorganisme.
Mikroorganisme merugikan yang dapat menyebabkan penyakit menular melalui air antara
lain virus diare, hepatitis A, bakteri, metazoa dan protozoa. Penyakit tidak menular/keracunan
ditimbulkan oleh air yang tercemar oleh senyawa anorganik/ion logam.

Keracunan ion logam Cd.

Ion Cd dapat berasal dari industri yang memakai logam Cd dalam proses produksinya

misalnya industri elektroplating, pipa plastik PVC (Cd sebagai stabilisator), hasil samping
penambangan logam (timah hitam, seng), industri obat-obatan (sudah tak banyak dipakai).

Keracunan ion Cd dapat mempengaruhi otot polos, pembuluh darah (mengakibatkan tekanan
darah tinggi dan gagal jantung), dan merusak ginjal. Kasus keracunan ion Cd pernah
menimpa penduduk Toyama, Jepang. Penduduk banyak yang sakit pinggang bertahun-tahun
semakin parah, pelunakan tulang punggung dan menjadi rapuh, dan kematian karena gagal
ginjal. Penyebabnya beras yang dimakan mengandung Cd 1,6 ppm, karena tanaman padi
diairi dengan air tercemar ion Cd dari limbah industri seng dan timah hitam.

Keracunan ion logam Co.

Pada industri Co dipakai sebagai stabilisator, pada pabrik bir dulu dipakai untuk

menstabilkan busa bir agar bagus. Untuk proses pembentukan butir darah merah, tubuh
memerlukan Co dalam jumlah sedikit melalui vitamin B12 yang dimakan. Bila memakan
makanan yang mengandung Co 150 ppm akan merusak kelenjar gondok (kekurangan
kelenjar gondok). Jika keracunan Co sel darah merah akan berubah, tekanan darah tinggi,
pergelangan kaki membengkak (oedema), gagal jantung terutama pada anak yang baru
tumbuh.Kasus keracunan Co pernah terjadi di Nebraska dan Ohama. Penduduk mengalami
kelainan pada otot jantung primer karena gemar minum bir yang proses pembuatannya
menggunakan Co. Di Kanada penduduk menderita gagal jantung disertai gejala sesak napas,
batuk-batuk, sakit disekitar jantung dan lambung, dan kondisi badan lemah.

Keracunan ion logam Hg.

Industri yang menggunakan Hg misalnya untuk proses produksi pada pabrik plastik,

campuran bahan antiseptik pada sabun dan kosmetik, amalgam pada penambal gigi, dan
fungisida. Gejala keracunan ion Hg adalah: sakit kepala, sukar menelan, penglihatan jadi
kabur, daya dengar menurun, bagian kaki dan tangan terasa tebal, mulut terasa tersumbat
logam, gusi membengkak disertai diare, kondisi tubuh melemah dan kematian, ibu
mengandung melahirkan bayi cacat. Kasus keracunan Hg pernah terjadi di Minamata,
penduduk banyak yang menjadi cacat, meninggal, dan bayi lahir cacat. Penyebabnya ikan
laut yang dimakan mengandung Hg sekitar 27 102 ppm, karena tercemari limbah pabrik
plastik. Kasus lain di Niigata, banyak yang cacat dan meninggal karena mengkonsumsi ikan
yang mengandung Hg sekitar 5 20 ppm.

Keracunan insektisida.

Gejalanya kepala pusing, mual, tremor, kerusakan organ seperti hati dan ginjal. Akumulasi
sedikit demi sedikit menyebabkan penyakit tertunda (delayed effect) dalam bentuk kangker
kulit, paru-paru, dan hati, karena insektisida bersifat cocarcinogenic.

3. Pencemaran Tanah/Daratan

Tanah/daratan dapat mengalami pencemaran jika ada bahan asing baik bersifat organik

maupun anorganik yang berada di permukaan tanah yang menyebabkan tanah menjadi rusak
dan tidak dapat memberikan daya dukung bagi kehidupan manusia, baik untuk pertanian,
peternakan, kehutanan, maupun untuk pemukiman.

a. Komposisi tanah

Komposisi tanah terdiri dari udara 25 %, air 25 %, bahan organik 5 %, dan bahan

mineral 45 %. Bahan organik dalam tanah (seperti karbohidrat, protein dan lemak)
merupakan persediaan makanan bagi mikroorganisme dan tumbuhan. Senyawa organik yang
kompleks tak dapat secara langsung dimanfaatkan tumbuhan. Senyawa ini dipecahkan oleh
organism dalam tanah (antara lain serangga, cacing tanah, nematoda, sikaki seribu, algae,dan
mikroorganisme seperti fungi dan bakteri) menjadi bentuk yang lebih sederhana. Air akan
melarutkan bentuk-bentuk sederhana itu dan membawanya sampai ke tumbuhan melalui
akar.Unsur/nutrisi yang diperlukan tumbuhan meliputi makronutrisi (yaitu 9 unsur yang
diperlukan dalam jumlah besar meliputi C, H, O, N, P, K, Ca, Mg, dan S) dan mikronutrisi
(unsur yang lain). Unsur C, H, dan O digunakan untuk mensintesis karbohidrat, lemak ,
protein, lilin,
selulosa, dan senyawa kompleks lainnya. Unsur N, P, dan S untuk membentuk molekul
protein. Unsur lain yang jumlahnya tidak begitu banyak berperan dalam metabolisme pada
tumbuhan.

c. Penyebab Pencemaran Tanah

Faktor internal, yaitu peristiwa alam seperti: letusan gunung berapi yang memuntahkan
debu, pasir, batu, dan bahan volkanik lain yang menutupi dan merusak daratan/permukaan
tanah.

Faktor eksternal, yaitu karena ulah dan aktivitas manusia. Limbah yang dihasilkan oleh
berbagai aktivitas manusia disebut anthropogenic pollutans.

d. Komponen Pencemar Tanah

Meliputi kertas 4 %, limbah bahan makanan 21 %, gelas 12 %, besi 10 %, plastik 5 %,

kayu 5 %, karet dan kulit 3 %, kain/serat tekstil 2 %, aluminium dan logam lain 1 %.

Perbandingan bahan organik dan anorganik 70 % : 30 %. Bahan organik akan terdegradasi


oleh mikroorganisme, bahan anorganik tidak/susah terdegradasi. Bahan anorganik berbahaya
misalnya bahan kimia beracun yang dibuang bersama limbah industri, limbah pertambangan
seperti logam berat dan logam radioaktif. Bila air membawa limbah mengalir ke sungai,
danau atau sawah maka

tanah akan teraliri, sehingga akan terkontaminasi bahan-bahan kimia. Tanah menjadi jelek
dan tumbuhan atau binatang air akan menderita. Bahan-bahan itu akan terkontaminasi dalam
tumbuhan dan hewan, dan akhirnya akan sampai pada manusia.

e. Dampak Pencemaran Tanah

Dampak langsung, seperti bau, merusak pandangan, kotor dan kumuh.

Dampak tak langsung, seperti menjadi tempat berkembangnya nyamuk, lalat, tikus,
bakteri,dan lain-lain, sehingga menjadi perantara atau penyebab penyakit pest, kaki
gajah (filiariasis),malaria, demam berdarah, dan lain-lain.

4. Usaha Penanggulangan Dampak Pencemaran Lingkungan

Usaha untuk menanggulangi dampak pencemaran lingkungan dapat dilakukan secara


teknis maupun secara nonteknis.

a. Secara teknis

Bila berdasar kegiatan AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) dapat diduga

mungkin timbul pencemaran lingkungan, maka dipikirkan penanggulangan yang


mengutamakan keselamatan lingkungan, teknologinya telah dikuasai dengan baik, dan secara
teknis dan ekonomis dapat dipertanggungjawabkan.Penanggulangan secara teknis ini
misalnya:

Mengubah proses.

Mengganti sumber energi.

Mengelola limbah.

Menambah alat bantu.

Misalnya untuk menaikkan angka oktana pada bensin dengan ditambahkan zat aditif anti
ketukan(anti knocking compound) dengantetra ethyl lead (TEL), (CH3CH2)4Pb. Hasil
pembakarannya mengandung Pb, maka ditambahkan zat aditif lain, yaitu 25 % 1,2-
dibromoetana, BrCH2CH2Br dan 10 % 1,2-dikloroetana, ClCH2CH2Cl dan 65 % TEL.
Campuran ini disebut ethyl fluid yang menyebabkan Pb diubah menjadi PbBr2 yang mudah
menguap sehingga mudah keluar dari silinder mesin bercampur gas buang. Agar tidak
mengandung ion Pb yang bersifat racun,maka untuk menaikkan angka oktana dipakai
benzena dan alkohol. Campuran 90 % bensin dan 10 % alkohol disebut gasohol.

b. Secara nonteknis

Dengan menciptakan peraturan perundangan yang dapat merencanakan, mengatur dan


mengawasi segala macam bentuk kegiatan industri dan teknologi sedemikian rupa sehingga
tidak terjadi pencemaran lingkungan. Peraturan perundangan ini hendaknya dapat
memberikan gambaran secara jelas tentang kegiatan industri dan teknologi yang akan
dilaksanakan di suatu tempat, yang meliputi:

Penyajian informasi lingkungan (PIL).

Analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL).


Perencanaan kawasan kegiatan industri dan teknologi.

Pengaturan dan pengawasan kegiatan.

Penanaman perilaku disiplin.

2Manfaat belajar kimia lingkungan dapat ditinjau dari segi pemahaman dan dari segi aplikasi.
Dari segi pemahaman, belajar kimia lingkungan dapat meningkatkan melek terhadap
lingkungan hidup kita, dengan seluruh gejala kimia yang terjadi baik yang terjadi secara
alamiah ataupun yang disebabakan oleh aktivitas manusia. Bila ditinjau dari segi aplikasi,
dengan belajar kimia lingungan kita dapat melakukan penanggulangan terhadap pencemaran
dan dapat pula mencegah terjadinya pencemaran.

Pencegahan dan penanggulangan merupakan


dua tindakan yang tidak dapat dipisah-pisahkan dalam arti biasanya kedua tindakan ini
dilakukan untuk saling menunjang, apabila tindakan pencegahan sudah tidak dapat dilakukan,
maka dilakukan langkah tindakan. Namun demikian pada dasarnya kita semua sependapat
bahwa tindakan pencegahan lebih baik dan lebih diutamakan dilakukan sebelum pencemaran
terjadi, apabila pencemaran sudah terjadi baru kita lakukan tindakan penanggulangan.
Tindakan pencegahan dan tindakan penanggulangan terhadap terjadinya pencemaran dapat
dilakukan dengan berbagai cara sesuai dengan macam bahan pencemar yang perlu
ditanggulangi. Langkah-langkah pencegahan dan penanggulangan terhadap terjadinya
pencemaran antara lain dapat dilakukan sebagai berikut:
1. Untuk dapat menanggulangi terjadinya pencemaran udara dapat dilakukan beberapa usaha
antara lain: mengganti bahan bakar kendaraan bermotor dengan bahan bakar yang tidak
menghasilkan gas karbomonoksida dan diusahakan pula agar pembakaran yang terjadi
berlangsung secara sempurna, selain itu pengolahan/ daur ulang atau penyaringan limbah
asap industri, penghijauan untuk melangsungkan proses fotosintesis (taman bertindak sebagai
paru-paru kota), dan tidak melakukan pembakaran hutan secara sembarangan, serta
melakukan reboisasi/penanaman kembali pohon-pohon pengganti yang penting adalah untuk
membuka lahan tidak dilakukan pembakaran hutan, melainkan dengan cara mekanik
2. Untuk mencegah agar tidak terjadi pencemaran air, dalam aktivitas kita dalam memenuhi
kebutuhan hidup hendaknya tidak menambah terjadinya bahan pencemar antara lain tidak
membuang sampah rumah tangga, sampah rumah sakit, sampah/limbah industri secara
sembarangan, tidak membuang ke dalam air sungai, danau ataupun ke dalam selokan. Tidak
menggunakan pupuk dan pestisida secara berlebihan, karena sisa pupuk dan pestisida akan
mencemari air di lingkungan tanah pertanian. Tidak menggunakan deterjen fosfat,karena
senyawa fosfat merupakan makanan bagi tanaman air seperti enceng gondok yang dapat
menyebabkan terjadinya pencemaran air. Pencemaran air yang telah terjadi secara alami
misalnya adanya jumlah logam-logam berat yang masuk dan menumpuk dalam tubuh
manusia, logam berat ini dapat meracuni organ tubuh melalui pencernaan karena tubuh
memakan tumbuh-tumbuhan yang mengandung logam berat meskipun diperlukan dalam
jumlah kecil. Penumpukan logam-logam berat ini terjadi dalam tumbuh-tumbuhan karena
terkontaminasi oleh limbah industri. Untuk menanggulangi agar tidak terjadi penumpukan
logam-logam berat, maka limbah industri hendaknya dilakukan pengolahan sebelum dibuang
ke lingkungan.. Sampah organik yang dapat diuraikan oleh mikroorganisme jangan dibuang
ke badan air, dikubur dalam lubang tanah kemudian kalau sudah membusuk dapat digunakan
sebagai pupuk. Penggunaan pupuk, pestisida tidak digunakan secara sembarangan namun
sesuai dengan aturan dan tidak sampai berlebihan.Usahakan membuang dan memakai
detergen berupa senyawa organik yang dapat dimusnahkan/ diuraikan oleh mikroorganisme.
3. Untuk mencegah agar tidak terjadi pencemaran tanah pada prinsipnya sama dengan
pencegahan pencemaran air. Apabila pencemaran telah terjadi, maka perlu dilakukan
penanggulangan terhadap pencemaran tersebut. Tindakan penanggulangan pada prinsipnya
mengurangi bahan pencemar tanah atau mengolah bahan pencemar atau mendaur ulang
menjadi bahan yang bermanfaat. Langkah tindakan penanggulangan yang dapat dilakukan
antara lain dengan cara, sampah-sampah organik yang tidak dapat dimusnahkan (berada
dalam jumlah cukup banyak) dan mengganggu kesejahteraan hidup serta mencemari tanah,
agar diolah atau dilakukan daur ulang menjadi barang-barang lain yang bermanfaat, misal
dijadikan mainan anak-anak, dijadikan bahan bangunan, plastik dan serat dijadikan kesed
atau kertas karton didaur ulang menjadi tissu, kaca-kaca di daur ulang menjadi vas kembang,
plastik di daur ulang menjadi ember dan masih banyak lagi cara-cara pendaur ulang sampah.
Bekas bahan bangunan (seperti keramik, batu-batu, pasir, kerikil, batu bata, berangkal) yang
dapat menyebabkan tanah menjadi tidak/kurang subur, dikubur dalam sumur secara berlapis-
lapis yang dapat berfungsi sebagai resapan dan penyaringan air, sehingga tidak menyebabkan
banjir, melainkan tetap berada di tempat sekitar rumah dan tersaring. Resapan air tersebut
bahkan bisa masuk ke dalam sumur dan dapat digunakan kembali sebagai air bersih. Hujan
asam yang menyebabkan pH tanah menjadi tidak sesuai lagi untuk tanaman, maka tanah
perlu ditambah dengan kapur agar pH asam berkurang.
Dengan melakukan tindakan pencegahan dan penanggulangan terhadap terjadinya
pencemaran lingkungan hidup (pencemaran udara,pencemaran air dan pencemaran tanah)
berarti kita melakukan pengawasan, pengendalian, pemulihan, pelestarian dan pengembangan
terhadap pemanfaatan lingkungan udara, air dan tanah) yang telah disediakan dan diatur oleh
sang pencipta, dengan demikian berarti kita mensyukuri anugerah-Nya.

2 Ilmu kimia merupakan faktor yang memegang peranan penting dalam memperlajari
Lingkungan Hidup, karena dalam Lingkungan Hidup selalu ada bahan-bahan kimia. Oleh
karena itu untuk mempelajari Lingkungan Hidup dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di
dalamnya, perlu adanya dari ilmu kimia yang khusus memperlajari bahan-bahan kimia yang
ada dalam Lingkungan Hidup. Ilmu tersebut dinamakan Ilmu Kimia Lingkungan, yang
memperlajari sifat-sifat, fungsi, terbentunya serta proses kimia yang terjadi dalam lingkungan
hidup.

Selain di atas Ilmu Kimia Lingkungan sangat diperlukan dalam mempelajari Lingkungan
Hidup karena dalam Lingkungan Hidup tercakup komponen-komponen yang terdiri dari
bahan kimia dan terjadi pula perputaran bahan kimia.

Anda telah mengetahui bahwa Lingkungan Hidup terdiri dari beberapa komponen yang
dikelompokan menjadi dua kelompok besar yaitu kelompok makhluk hidup (living group)
yang disebut juga kelompok biotik dan kelompok tak hidup (non living group) yang disebut
pula abiotik. Yang termasuk kelompok biotik adalah manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan,
bakteri dan fungsi yang kesemuanya dibangun dari bahan-bahan kimia dan merupakan
gudang proses kimia. Sedangkan yang termasuk abiotik terdiri dari tiga faktor yaitu faktor
energi matahari, faktor fisis, faktor bahan kimia.
Lingkungan Hidup dapat didekati dari semua disiplin ilmu antara lain ilmu kimia, sehingga
muncul Ilmu Kimia Lingkungan. Hal ini wajar karena karena semua komponen baik
kelompok biotik maupun kelompok abiotik yang menyusun Lingkungan Hidup terdiri dari
unsur dan senyawa kimia, di mana saja akhirnya semua keadaan fisik memerlukan analisis
dan penentuanpenentuan secara proses kimia.Dengan demikian ilmu kimia memegang
peranan penting dan turut menentukan dalam penyelesaian serta memecahkan masalah
Lingkungan Hidup. Peranan Ilmu Kimia Lingkungan antara lain:

Mempelajari sifat dan fungsi bahan kimia dalam lingkungan hidup.

Mempelajari dan menelaah bahan kimia terhadap suatu komponen lain dan terhadap
Lingkungan Hidup secara menyeluruh, terutama jika bahan kimia itu tersebar dan
berkontaminasi dengan lingkungan, sehingga keseimbangan terganggu.

Menentukan jumlah batas penyebaran bahan kimia dalam lingkungan agar tidak memberikan
gangguan terhadap kelestarian lingkungan dan kesejahteraan manusia.

Merekomendasikan hasil penelitian dan percobaan kepada pengelola Lingkungan Hidup atau
kepada masyarakat pada umumnya.

2 Peran ilmu kimia sangat banyak dalam kehidupan. Marilah kita bahas beberapa peran ilmu
kimia untuk kemajuan yang lebih baik. Peran ilmu kimia adalah sebagai berikut.
1. Mempelajari sifat dan fungsi bahan kimia dalam lingkungan hidup

Beberapa contoh bahan kimia, baik yang merupakan komponen yang


alami lingkungan hidup dan ada pula yang merupakan hasil aktivitas manusia yang
berlebihan. Setiap bahan memiliki sifat fisika dan sifat kimia serta fungsi yang berbeda-beda.
Sebagai contoh oksigen yang berupa gas tak berwarna, gas ini tak beracun dan sangat
diperlukan oleh manusia, hewan, dan bakteri aerobik untuk bernafas. Bila ditinjau secara
kimia dari segi molekulnya, oksigen memiliki ikatan rangkap dua dengan bentuk molekul
planar,dan dapat mengoksidasi besi (terjadinya perkaratan).
2.Mempelajari dan menelaah pengaruh bahan kimia terhadap suatu komponen lain
dan terhadap lingkungan hidup secara keseluruhan, terutama jika bahan kimia itu
tersebar dan berkontaminasi dengan lingkungan sehingga keseimbangan terganggu.
Dengan mempelajari dan menelaah kita akan mengetahui bahwa bahan kimia yang tidak
beracun dan sangat amanpun dapat menimbulkan masalah lingkungan apabila bahan tersebut
tersebar. Sebagai contoh, karbohidrat apabila tersebar dari limbah restoran atu rumah tangga
dapat menimbulkan polusi udara (bau busuk). Karbon dioksida yang tidak beracun, akan
dapat memicu efek rumah kaca (pemanasan global).
Selain itu dengan mempelajari dan menelaah kita akan dapat mengetahui bagaimana kondisi
lingkungan kita dengan adanya kontak dengan bahan kimia terutama bahan kimia pencemar.
3. Menentukan jumlah batas penyebaran bahan kimia dalam lingkungan agar tidak
memberikan gangguan terhadap kelestarian lingkungan dan kesejahteraan manusia.
Selama ini digunakan nilai ambang batas (NAB) atau nilai toleransi lingkungan dan manusia
terhadap bahan kimia, dimana yang menjadi ukuran adalah status kesehatan masyarakat usia
produktif dan daya lenting lingkungan. Dalam NAB tersebut terdapat jumlah maksimal bahan
kimia dalam lingkungan, dimana pada jumlah tersebut bahan kimia yang dimaksud tidak
akan berdampak negatif terhadap lingkungan. Selain itu juga sering dilakukan pertemuan
secara internasional mengenai nilai standar bahan kimia di lingkungan , sebagai contoh Euro-
2 yang menentukan standat emisi kendaran.
4. Merekomendasikan hasil penelitian dan percobaan kepada pengelola lingkungan
hidup atau kepada masyarakat pada umumnya.
Dari hasil penelitian akan diperoleh data mengenai keadaan lingkungan saat ini. Sebagai
contoh penelitian yang dilakukan Japan Automobile Research Institute (JARI yang
menunjukkan pencemaran oleh timbal paling berat terjadi di Jakarta ketimbang Tokyo,
Beijing, Seoul, Taipei, Bangkok, Kuala Lumpur, dan Manila. Dampak yang diakibatkan
pencemaran timbal bisa menyebabkan kematian, kemandulan, dan keterbelakangan mental
pada anak- anak. Pencemaran udara di Jakarta 80 persen berasal dari sektor transportasi,
sisanya pencemaran dari sektor industri dan lain- lain. Dan hal tersebut sudah disamapaikan
di dalam sebuah diskusipada awal Agustus 2006 yang diselenggarakan Mitra Emisi Bersih
(MEB) di Jakarta,sehingga sudah saatnya Jakarta menerapkan standar emisi berdasarkan
standar Euro-2. (soera)

1. Pengertian Kimia Lingkungan :


Kimia lingkungan adalah ilmu kimia yang mempelajari study ilmiah atau masalah lingkungan
hidup terhadap fenomena kimia dan biokimia yang terjadi di tempat-tempat alami yang
berkaitan dengan reaksi kimia serta penerapan pengetahuan ilmu kimia untuk melindungi dan
memperbaiki lingkungan hidup.

2. Peranan kimia lingkungan dalam mengatasi masalah kerusakan lingkungan hidup:


a) Mempelajari sifat dan fungsi bahan kimia dalam lingkungan hidup,
b) Mempelajari dam menelaah pengaruh bahan kimia yang menimbulkan kerusakan
lingkungan hidup,
c) Menentukan jumlah batas penyebaran bahan kimia dalam lingkungan agar tidak
memberikan ganguan terhadap kelestarian lingkungan dan kesejahteraan manusia,dan
d) Meneliti dan mencoba mengolah limbah bahan-bahan kimia menjadi bahan-bahan kimia
yang bermanfaat bagi kesejahteraan manusia.

3. Beberapa contoh peranan ilmu kimia dalam mengatasi masalah lingkungan hidup:
a) Tumpahan minyak dilaut dapat dibersihkan dengan menambah bahan kimia dan
memprosesnya sehingga minyak tumpahan tersebut dapat digunakan kembali.
b) Mencari kemungkinan bahan-bahan lain sebagai pengganti bahan bakar minyak yang
merupakan salah satu bahan pencemaran.
c) Mengolah kembali sampah-sampah plastik menjadi bahan yang lebih berguna, misalnya:
peralatan rumah tangga dari bahan plastik.

4. Pengertian pencemaran udara:


Pencemaran udara adalah kondisi udara yang tercemar dengan adanya bahan, zat-zat asing
atau komponen lain di udara yang menyebabkan berubahnya tatanan udara oleh kegiatan
manusia atau oleh proses alam , sehingga kualitas udara menjadi kurang atau tidak dapat
berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannnya.

5. Sumber pencemaran udara:


a) Pembakaran bahan bakar kendaraan bermotor yang tidak sempurna,
b) Kegiatan dibidang pertanian, peternakan, kesehatan, dengan menggunakan bahan-bahan
kimia,
c) Kegiatan dalam industry yang menggunakan pembakaran dan reaksi kimia,
d) Sampah padat,
e) Kebakaran hutan,
f) Gunung meletus,
g) Gempa bumi.
h) Kebocoran tangki klor
i) Timbulnya gas metana dari tempat pembuangan sampah
j) Uap pelarut organik

6. Bahan pencemar (polutan) udara :


1) Gas Sulfur Dioksida (SO2)
2) Gas Hidrogen Sulfa (H2S)
3) Gas Nitrogen Oksida (N2O), Nitrogen Monoksida (NO), Nitrogen Dioksida (NO2)
4) Gas Amoniak (NH3)
5) Gas Karbon Dioksida (CO2), Karbon Monoksida (CO), hidrokarbon.
6) Partikel debu
7) Partikel Benzen
8) Partikel polutan bersifat biologis seperti bakteri, jamur, virus, telus cacing
9) Particulate matter (PM10)
10) Timbal (Pb)
11) Merkuri (Hg)

7. Usaha-usaha untuk mencegah adanya pencemaran udara :


1) Menghilangkan materi pertikulat dari udara buangan
2) Mengontrol emisi polutan dari berbagai sumber dikurangi
3) Lokasi perindustrian yang tepat
4) Pendidkan kepada masyarakat tentang bahaya pencemaran dan pencegahnnya
5) Pengawasan tempat pembuangan sampah
6) Sangsi bagi pelanggar
8. Pemanasan Global dan penyebabnya :
Pemanasan global adalah meningkatnya suhu rata-rata bumi karena efek rumah kaca dan gas-
gas lain di atmosfer yang dapat menyebabkan berbagai masalah dan perubahan pada alam.
Penyebabnya : gas-gas rumah kaca seperti ( karbon dioksida, metan / metana, nitrat oksida,
hidro chloro carbon, chloro flouro karbon ) akibat aktivitas manusia melalui efek rumah kaca.

9. Global Warming mengakibatkan perubahan cuaca yang tidak menentu karena:


Karena pada pemanasan global terjadi dengan adanya efek rumah kaca yang mengakibatkan
sinar matahari yang telah masuk tidak dapat keluar lagi sehingga bumi menjadi panas , selain
itu juga mengakibatkan penipisan ozon yang ada di atmosfer yang disebabkan karena
penggunaan CFC pada AC, Kulkas, Pendingin, dll. Sehingga masing-masing tidak berfungsi
sebagaimana mestinya dan menimbulkan berbagai masalah seperti perubahan cuaca yang
tidak menentu tersebut.

10. Cara mencegah Global Warming :


1. Meminimalisir penggunaan AC
2. Menghemat listrik atau menggunakan lampu hemat energi
3. Jadilah vegetarian
4. Melakukan reboisasi pada hutan yang gundul
5. Tidak membuang sampah sembarangan
6. Melakukan uji emisi pada kendaraan bermotor
7. Menggunakan pengharum tubuh secukupnya.
8. Pembuangan sampah metode atau sistem sanitary lndfill.
9. memperketat penentuan ambang batas Ranangmor pemroduksi gas buang CO2.

11. Dampak pemanasan Global:


v Menambah volume air laut sehingga permukaanya naik, dan akan terjadi banjir di daerah
pesisir atau pantai dan daat menenggelamkan pulau-pulau dan kota-kota besar di tepi laut.
v Meningkatkan penyebaran penyakit menular
v Curah hujan di daerah tropis lebih tinggi
v Tanah menjadi lebih cepat kering walaupun sering terjadi hujan
v Sering terjasi angin besar diberbagai tempat
v Berpindahnya hewan ketempat yang lebih dingin
v Musnahnya makhluk hidup yang tidak bisa beradaptasi dengan suhu yang lebih tinggi.
v Iklim tidak stabil.

12. Green House Effect :


Peristiwa tertahannya panas matahari di lapisan atmosfir bumi bagian bawah oleh gas-gas
rumah kaca yang membentuk lapisan diatmosfer. Energi yang diserap bumi dipantulkan
kembali dalam bentuk radiasi infra merah oleh awan dan permukaan bumi. Namun, sebagian
besar infra merah yang dipancarkan oleh bumi tertahan oleh awan dan gas CO2 dan gas
lainnya untuk dikembalikan kepermukaan bumi.

13. Penyebab dari Green House Effect :


Effect rumah kaca disebabkan karena naiknya konsentrasi gas karbondioksida (CO2) dan
gas-gas lainnya seperti ( metan / metana, nitrat oksida, hidro chloro karbon, chloro flouro
karbon ) di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini disebabkan oleh kenaikan
pembakaran bahan bakar minyak (BBM), batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang
melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk mengabsorbsinya.

14. Akibat dari Green House Effect :


Meningkatnya suhu permukaan bumi akan mengakibatkan adanya perubahan iklim yang
sangat ekstrim dibumi. Hal ini dapat mengakibatkan terganggunya hutan dan ekosistem
lainnya, sehingga mengurungi kemampuannya untuk menyerap karbon dioksida diatmosfer.
Pemanasan global mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di daerah kutub yang dapat
menimbulkan naiknya permukaan air laut. Efek rumah kaca juga akan mengakibatkan
meningkatnya suhu air laut sehingga air laut mengembang dan terjadi kenaikan permukaan
laut yang mengakibatkan negara kepulauan akan mendapat pengaruh yang sangat besar.
15. Terjadinya Hujan Asam :
Peristiwa hujan asam dapat terjadi karena hujan secara alami bersifat asam yang mempunyai
Ph kurang lebih 5,6 dan bersifat asam lemah,hal tersebut masih bermanfaat karena dapat
melarutkan mineral dalam tanah yang dibutuhkan tumbuhan dan hewan. Diudara, CO2
bereaksi dengan gas sulfur diokside emissions dari pabrik-pabrik dan bercampur dengan H2O
sehingga menghasilkan H2SO4. Dan dari penambahan polutan tersebut maka keasaman air
hujan akan meningkat dan bercampur dengan air, maka terjadilah hujan asam. Jika air hujan
tersebut masuk dan meresap kedalam tanah, maka akan terion dan bereaksi dengan hydrogen,
calcium, magnesium, sulphate, aluminium makan akan menimbulkan pencemaran pada air.

3 Pada intinya, pemanasan global adalah


peningkatan suhu udara di permukaan Bumi dan di lautan yang dimulai sejak abad ke-20 dan
diprediksikan terus mengalami peningkatan.1 Sebagian besar ilmuwan menggunakan
terminologi perubahan iklim daripada pemanasan global. Asumsinya adalah, yang terjadi
sekarang ini tidak hanya fenomena bertambah panasnya suhu udara, tetapi juga iklim yang
berubah-ubah. Kenapa itu bisa terjadi? Semuanya berasal dari bertambah panasnya suhu
udara di Bumi. Arus angin dan laut lalu memindahkan panas ini ke segala penjuru Bumi.
Pergerakan tersebut mendinginkan beberapa wilayah, memanaskan beberapa wilayah lainnya,
dan mengubah jumlah curah hujan dan salju yang turun ke suatu tempat. Sebagai akibatnya,
terjadi perubahan pola iklim global.5

Gejala Pemanasan Global


Suhu rata-rata udara di permukaan Bumi
meningkat 0,75C pada abad lalu, tetapi naiknya berlipat ganda dalam 50 tahun
terakhir.2 Badan PBB, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), memproyeksikan
bahwa pada tahun 2100 suhu rata-rata dunia cenderung akan meningkat dari 1,8C menjadi
4C dan skenario terburuk bisa mencapai 6,4C kecuali dunia mengambil tindakan untuk
membatas emisi gas rumah kaca. Sepertinya, angka itu tidak begitu berarti bagi Anda. Akan
tetapi, Anda perlu tahu, selama Zaman Es terakhir sekitar 11.500 tahun yang lalu, suhu rata-
rata dunia hanya 5C lebih rendah daripada suhu udara sekarang, dan saat itu hampir seluruh
benua Eropa tertutup lapisan es tebal!4Tren pemanasan ini terus berlanjut: 11 tahun terpanas
dalam sejarah semuanya terjadi dalam 12 tahun terakhir.

Penyebab Pemanasan Global

Foto: www.earth.columbia.edu

Matahari adalah sumber kehidupan bumi satu-satunya. Tanpa Matahari, kita sudah punah.
Tapi kalau Matahari memancarkan panas yang lebih dari biasanya, kita juga akan terbakar
dan kena radiasi. Jadi, sebaiknya yang bagaimana, ya?

Sinar matahari yang baik adalah yang seimbang, yang menyinari bumi sama dengan yang
dilepas dari bumi. Bila jumlah panas yang masuk ke bumi dan dipantulkan kembali ke langit
sama banyaknya, maka bumi tetap sehat dan layak buat manusia. Tapi bila panas yang
dipancarkan ke bumi lebih banyak daripada yang dipantulkan kembali ke angkasa, maka suhu
bumi akan panas. Inilah yang disebut pemanasan global atau global warming .

Banyak kerugian yang dirasakan manusia di masa kini dan masa akan datang akibat
pemanasan global. Dalam puluhan tahun ke depan diperkirakan ketinggian air laut bertambah
karena es di kutub mencair. Yang jelas, pemanasan global terjadi karena manusia melawan
alam. Apa saja penyebab pemanasan global dan bagaimana cara
mencegahnya? Kar to/Wahyu /XY-Kids!

Rumah Kaca

Rumah kaca atau green house sebenarnya adalah suatu bangunan tertutup yang dinding dan
atapnya terbuat dari kaca. Rumah kaca ini berfungsi untuk mengatur iklim mikro (iklim di
dalam rumah kaca itu) sesuai dengan keinginan kita. Jadi seumpama di luar sedang musim
dingin, maka di dalam rumah kaca ini bisa kita bikin hangat suhunya. Caranya dengan
menahan panas dari sinar matahari yang masuk melalui dinding dan atap kaca tadi tetap
berada di dalam rumah kaca. Makanya rumah kaca lebih banyak digunakan untuk pertanian
di daerah yang punya empat musim.

Nah, prinsip yang mirip efek rumah kaca ini juga menyebakan terjadinya pemanasan global
di bumi. Panas dari matahari yang masuk ke atmosfer bumi, tidak semuanya bisa dipantulkan
kembali keluar atmosfer. Sebagian panas tersebut tetap tertahan di dalam atmosfer bumi.
Penyebabnya adalah polusi besar-besaran gas CO2 . Gas CO2yang berlebihan bisa
menghambat keluarnya panas matahari yang dipantulkan Bumi.

Polusi gas CO2 ini paling besar berasal pembakaran bahan bakar fosil. Bahan bakar fosil ini
adalah bahan bakar yang terbentuk dari fosil tumbuhan atau hewan purba. Bahan bakar ini
misalnya minyak bumi (yang kemudian jadi bensin dan solar) dan batu bara. Kemajuan
teknologi industri dan kendaraan adalah penyumbang terbesar pembakaran bahan bakar fosil
ini. Mobil, hingga saat ini, sebagian besar masih menggunakan bensin atau solar, sementara
industri masih banyak yang memanfaatkan batu bara sebagai sumber tenaganya.

Jumlah Penduduk (populasi)

Luas tanah di bumi tidak bertambah, tapi jumlah penduduk semakin banyak. Akibatnya,
lahan untuk tumbuhan dan pertanian semakin sedikit karena dipakai untuk tempat tinggal
manusia. Selain itu, penduduk yang bertambah banyak juga membutuhkan air yang lebih
banyak. Air yang seharusnya untuk irigasi tanaman dan tumbuhan berkurang karena dipakai
manusia. Tanaman yang tidak mendapat pasokan air akhirnya menghasilkan panen yang
semakin sedikit.

Industri

Negara industri atau yang disebut sebagai negara maju adalah yang paling bertanggung jawab
terjadinya pemanasan global. Bagaimana tidak, negara-negara maju seperti Amerika dan
Eropa menyumbang 50 persen lebih penyebab pemanasan global. Yang paling buruk adalah
industri mobil yang dulu pusatnya di Amerika. Kini industri besar-besaran tidak cuma di
Amerika, tapi juga di negara yang sedang berkembang seperti China, India, dan Indonesia.
Polusi dari industri hampir merata di seluruh di dunia.

Dimulai dari Hal Kecil

Puluhan tahun lagi pemanasan global semakin dahsyat. Kalau tidak dicegah dari sekarang,
bukan tidak mungkin 50 tahun kemudian sebagian dari pulau-pulau di Indonesia akan hilang
tenggelam. Soalnya, es di kutub akan mencari dengan meningkatnya suhu pemukaan bumi.
Selain itu, manusia bisa kelaparan karena produksi makanan di dunia semakin sedikit. Adalah
tanggung jawab semua orang untuk mencegah peningkatan pemanasan global.

Apa yang kita lakukan untuk membantu mencegah peningkatan pemanasan global? Bisa
dimulai dari hal kecil. Misalnya,

Memakai listrik secukupnya, misalnya lampu dan AC kamar dimatikan saat tidak terpakai.
Ini dilakukan agar mengurangi emisi CO2 (sebagian pembangkit tenaga listrik di Indonesia
masih menggunakan tenaga diesel yang butuh solar atau tenaga uap yang butuh batu bara),

Jangan mencemari air, misalnya jangan membuang kertas tisu ke toilet,

Menggunakan air seperlunya, misalnya mandi dengan showerakan lebih hemat air daripada
dengan gayung,

Mencintai dan memelihara tumbuhan dan tanaman.

Mungkin anda pernah membayangkan berada di dalam mobil yang tertutup rapat pada siang
hari. Sinar matahari dengan leluasa dapat memasuki ruangan mobil melalui kaca mobil,
sehingga menyebabkan udara di dalam mobil menjadi lebih panas. Udara di dalam mobil
menghangat, karena panas sinar matahari yang masuk tidak dapat leluasa keluar. Sehingga
panas tersebut terperangkap di dalam mobil.

Demikian halnya dengan pemanasan global. Matahari memancarkan radiasinya ke bumi


menembus lapisan atmosfer bumi. Radiasi tersebut akan dipantulkan kembali ke angkasa,
namun sebagian gelombang tersebut diserap oleh gas rumah kaca, yaitu CO2, CH4, N2O,
HFCs dan SF4 yang berada di atmosfer. Sebagai akibatnya gelombang tersebut terperangkap
di dalam atmosfer bumi. Peristiwa ini terjadi berulang-ulang, sehingga menyebabkan suhu
rata-rata di permukaan bumi meningkat. Peristiwa inilah yang sering disebut dengan
pemanasan global.

Apakah Penyebab Pemanasan Global?


Pemanasan global merupakan fenomena global yang disebabkan oleh aktivitas manusia di
seluruh dunia, pertambahan populasi penduduk, serta pertumbuhan teknologi dan industri.
Oleh karena itu peristiwa ini berdampak global. Beberapa aktivitas manusia yang
menyebabkan terjadinya pemanasan global terdiri dari:

Konsumsi energi bahan bakar fosil. Sektor industri merupakan penyumbang emisi karbon
terbesar, sedangkan sektor transportasi menempati posisi kedua. Menurut Departemen Energi
dan Sumberdaya Mineral (2003), konsumsi energi bahan bakar fosil memakan sebanyak 70%
dari total konsumsi energi, sedangkan listrik menempati posisi kedua dengan memakan 10%
dari total konsumsi energi. Dari sektor ini, Indonesia mengemisikan gas rumah kaca sebesar
24,84% dari total emisi gas rumah kaca.

Indonesia termasuk negara pengkonsumsi energi terbesar di Asia setelah Cina, Jepang, India
dan Korea Selatan. Konsumsi energi yang besar ini diperoleh karena banyaknya penduduk
yang menggunakan bahan bakar fosil sebagai sumber energinya, walaupun dalam
perhitungan penggunaan energi per orang di negara berkembang, tidak sebesar penggunaan
energi per orang di negara maju. Menurut Prof. Emil Salim, USA mengemisikan 20 ton
CO2/orang per tahun dengan jumlah penduduk 1,1 milyar penduduk, Cina mengemisikan 3
ton CO2/orang per tahun dengan jumlah 1,3 milyar penduduk, sementara India
mengemisikan 1,2 ton CO2/orang dengan jumlah 1 milyar penduduk.

Dengan demikian, banyaknya gas rumah kaca yang dibuang ke atmosfer dari sektor ini
berkaitan dengan gaya hidup dan jumlah penduduk. USA merupakan negara dengan
penduduk yang mempunyai gaya hidup sangat boros, dalam mengkonsumsi energi yang
berasal dari bahan bakar fosil, berbeda dengan negara berkembang yang mengemisikan
sejumlah gas rumah kaca, karena akumulasi banyaknya penduduk.

Sampah. Sampah menghasilkan gas metana (CH4). Diperkirakan 1 ton sampah padat
menghasilkan 50 kg gas metana. Sampah merupakan masalah besar yang dihadapi kota-kota
di Indonesia. Menurut Kementerian Negara Lingkungan Hidup pada tahun 1995 rata-rata
orang di perkotaan di Indonesia menghasilkan sampah sebanyak 0,8 kg/hari dan pada tahun
2000 terus meningkat menjadi 1 kg/hari. Dilain pihak jumlah penduduk terus meningkat
sehingga, diperkirakan, pada tahun 2020 sampah yang dihasilkan mencapai 500 juta kg/hari
atau 190 ribu ton/tahun. Dengan jumlah ini maka sampah akan mengemisikan gas metana
sebesar 9500 ton/tahun. Dengan demikian, sampah di perkotaan merupakan sektor yang
sangat potensial, mempercepat proses terjadinya pemanasan global.

Kerusakan hutan. Salah satu fungsi tumbuhan yaitu menyerap karbondioksida (CO2), yang
merupakan salah satu dari gas rumah kaca, dan mengubahnya menjadi oksigen (O2). Saat ini
di Indonesia diketahui telah terjadi kerusakan hutan yang cukup parah. Laju kerusakan hutan
di Indonesia, menurut data dari Forest Watch Indonesia (2001), sekitar 2,2 juta/tahun.
Kerusakan hutan tersebut disebabkan oleh kebakaran hutan, perubahan tata guna lahan,
antara lain perubahan hutan menjadi perkebunan dengan tanaman tunggal secara besar-
besaran, misalnya perkebunan kelapa sawit, serta kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan
oleh pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan Hutan Tanaman Industri (HTI). Dengan
kerusakan seperti tersebut diatas, tentu saja proses penyerapan karbondioksida tidak dapat
optimal. Hal ini akan mempercepat terjadinya pemanasan global.

Menurut data dari Yayasan Pelangi, pada tahun 1990, emisi gas CO2 yang dilepaskan oleh
sektor kehutanan, termasuk perubahan tata guna lahan, mencapai 64 % dari total emisi CO2
Indonesia yang mencapai 748,61 kiloTon. Pada tahun 1994 terjadi peningkatan emisi karbon
menjadi 74%.

Pertanian dan peternakan. Sektor ini memberikan kontribusi terhadap peningkatan emisi gas
rumah kaca melalui sawah-sawah yang tergenang yang menghasilkan gas metana,
pemanfaatan pupuk serta praktek pertanian, pembakaran sisa-sisa tanaman, dan pembusukan
sisa-sisa pertanian, serta pembusukan kotoran ternak. Dari sektor ini gas rumah kaca yang
dihasilkan yaitu gas metana (CH4) dan gas dinitro oksida (N20). Di Indonesia, sektor
pertanian dan peternakan menyumbang emisi gas rumah kaca sebesar 8.05 % dari total gas
rumah kaca yang diemisikan ke atmosfer.

Dampak Pemanasan Global


Sebagai sebuah fenomena global, dampak pemanasan global dirasakan oleh seluruh umat
manusia di dunia, termasuk Indonesia. Posisi Indonesia sebagai negara kepulauan,
menempatkan Indonesia dalam kondisi yang rentan menghadapi terjadinya pemanasan
global. Sebagai akibat terjadinya pemanasan global, Indonesia akan menghadapi peristiwa :
Pertama, Kenaikan temperatur global, menyebabkan mencairnya es di kutub utara dan
selatan, sehingga mengakibatkan terjadinya pemuaian massa air laut, dan kenaikan
permukaan air laut. Hal ini akan menurunkan produksi tambak ikan dan udang, serta
terjadinya pemutihan terumbu karang (coral bleaching), dan punahnya berbagai jenis ikan.
Selain itu, naiknya permukaan air laut akan mengakibatkan pulau-pulau kecil dan daerah
landai di Indonesia akan hilang. Ancaman lain yang dihadapi masyarakat yaitu
memburuknya kualitas air tanah, sebagai akibat dari masuknya atau merembesnya air laut,
serta infrastruktur perkotaan yang mengalami kerusakan, sebagai akibat tergenang oleh air
laut.

Kedua, Pergeseran musim sebagai akibat dari adanya perubahan pola curah hujan. Perubahan
iklim mengakibatkan intensitas hujan yang tinggi pada periode yang singkat serta musim
kemarau yang panjang. Di beberapa tempat terjadi peningkatan curah hujan sehingga
meningkatkan peluang terjadinya banjir dan tanah longsor, sementara di tempat lain terjadi
penurunan curah hujan yang berpotensi menimbulkan kekeringan. Sebagian besar Daerah
Aliran Sungai (DAS) akan terjadi perbedaan tingkat air pasang dan surut yang makin tajam.
Hal ini mengakibatkan meningkatnya kekerapan terjadinya banjir atau kekeringan. Kondisi
ini akan semakin parah apabila daya tampung badan sungai atau waduk tidak terpelihara
akibat erosi.

Kedua peristiwa tersebut akan menimbulkan dampak pada beberapa sektor, yaitu :

Kehutanan. Terjadinya pergantian beberapa spesies flora dan fauna. Kenaikan suhu akan
menjadi faktor penyeleksi alam, dimana spesies yang mampu beradaptasi akan bertahan dan,
bahkan kemungkinan akan berkembang biak dengan pesat. Sedangkan spesies yang tidak
mampu beradaptasi, akan mengalami kepunahan. Adanya kebakaran hutan yang terjadi
merupakan akibat dari peningkatan suhu di sekitar hutan, sehingga menyebabkan rumput-
rumput dan ranting yang mengering mudah terbakar. Selain itu, kebakaran hutan
menyebabkan punahnya berbagai keanekaragaman hayati.

Perikanan. Peningkatan suhu air laut mengakibatkan terjadinya pemutihan terumbu karang,
dan selanjutnya matinya terumbu karang, sebagai habitat bagi berbagai jenis ikan. Suhu air
laut yang meningkat juga memicu terjadinya migrasi ikan yang sensitif terhadap perubahan
suhu secara besar-besaran menuju ke daerah yang lebih dingin. Peristiwa matinya terumbu
karang dan migrasi ikan, secara ekonomis, merugikan nelayan karena menurunkan hasil
tangkapan mereka.

Pertanian. Pada umumnya, semua bentuk sistem pertanian sensitif terhadap perubahan iklim.
Perubahan iklim berakibat pada pergeseran musim dan perubahan pola curah hujan. Hal
tersebut berdampak pada pola pertanian, misalnya keterlambatan musim tanam atau panen,
kegagalan penanaman, atau panen karena banjir, tanah longsor dan kekeringan. Sehingga
akan terjadi penurunan produksi pangan di Indonesia. Singkatnya, perubahan iklim akan
mempengaruhi ketahanan pangan nasional.

Kesehatan. Dampak pemanasan global pada sektor ini yaitu meningkatkan frekuensi
penyakit tropis, misalnya penyakit yang ditularkan oleh nyamuk (malaria dan demam
berdarah), mewabahnya diare, penyakit kencing tikus atau leptospirasis dan penyakit kulit.
Kenaikan suhu udara akan menyebabkan masa inkubasi nyamuk semakin pendek sehingga
nyamuk makin cepat untuk berkembangbiak. Bencana banjir yang melanda akan
menyebabkan terkontaminasinya persediaan air bersih sehingga menimbulkan wabah
penyakit diare dan penyakit leptospirosis pada masa pasca banjir. Sementara itu, kemarau
panjang akan mengakibatkan krisis air bersih sehingga berdampak timbulnya penyakit diare
dan penyakit kulit. Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) juga menjadi ancaman
seiring dengan terjadinya kebakaran hutan.

Selain dampak diatas, tercatat beberapa kejadian luar biasa yang mengindikasikan terjadinya
pemanasan global, yaitu :

Tahun 2005 merupakan tahun terpanas. NASA melaporkan bahwa temperatur rata-rata
global telah meningkat 0,060 C.

Pencairan Artik terbesar terjadi di tahun 2005. Hasil foto salah satu satelit menunjukkan
area yang tertutup es permanen merupakan area tersempit pada akhir musim panas tahun
2005.
Tahun 2005 merupakan tahun dengan air di Karibia terpanas, lebih lama dari yang pernah
terjadi dan menyebabkan terjadinya pemutihan karang (coral bleaching) besar-besaran di
sepanjang wilayah mulai dari Karibia hingga Florida Keys, Amerika Serikat.

Tahun 2005 tercatat sebagai tahun dengan nama badai terbanyak. Terdapat 26 nama badai
yang melampaui daftar nama resmi. Pada tahun ini juga terdapat sekitar 14 badai, yang
disebut sebagai badai hebat (hurricane), karena memiliki kecepatan angin melebihi 119
km/jam. Rekor tahun sebelumnya hanya 12 badai dalam setahun. Tahun 2005 juga
merupakan tahun dengan kategori 5 badai terbanyak dengan kecepatan angin 249 km/jam.
Tahun 2005 merupakan tahun yang mengalami kerugian termahal akibat badai.

Tahun 2005 merupakan tahun terkering yang pernah terjadi sejak beberapa dekade lalu di
Amazon, Amerika Selatan. Dan Amerika bagian barat menderita akibat kekeringan yang
panjang.

Dampak

Pemanasan Global berdampak langsung pada terus mencairnya es di daerah kutub


utara dan kutub selatan. Es di Greenland yang telah mencair hampir mencapai 19 juta
ton! Dan volume es di Artik pada musim panas 2007 hanya tinggal setengah dari yang
ada 4 tahun sebelumnya! Mencairnya es saat ini berjalan jauh lebih cepat dari model-
model prediksi yang pernah diciptakan oleh para ilmuwan. Beberapa prediksi awal
yang pernah dibuat sebelumnya memperkirakan bahwa seluruh es di kutub akan
lenyap pada tahun 2040 sampai 2100. Tetapi data es tahunan yang tercatat hingga
tahun 2007 membuat mereka berpikir ulang mengenai model prediksi yang telah
dibuat sebelumnya.

Para ilmuwan mengakui bahwa ada faktor-faktor kunci yang tidak mereka ikutkan
dalam model prediksi yang ada. Dengan menggunakan data es terbaru, serta model
prediksi yang lebih akurat, Dr. H. J. Zwally, seorang ahli iklim NASA membuat
prediksi baru yang sangat mencengangkan: HAMPIR SEMUA ES DI KUTUB
UTARA AKAN LENYAP ANTARA TAHUN 2008 - 2012!