Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN

A. DESKRIPSI
Assalamualaikum wr wb, senang sekali bisa menyelesaikan modul
ini. Pada modul ini saya akan mengajak Anda untuk mempelajari sesuatu
yang menarik, karena modul ini berisi teori-teori yang mudah dipahami
dilengkapi dengan kegiatan yang merupakan pengalaman langsung di
lapangan. Modul ini akan menjadi dasar dalam mempelajari Ilmu Ukur
Tanah.
Dengan mempelajari Dasar - Dasar Ilmu Ukur Tanah ini diharapkan
Para Siswa dapat dengan mudah mengenal keadaan medan, baik medan yang
bersifat buatan alam maupun medan yang bersifat buatan manusia. Sekaligus
juga dapat mengaplikasikan/menerapkan ilmu yang telah di dapat di sekolah,
sehingga memperlancar tugas-tugasnya di lapangan,

B. PRASYARAT
Untuk mempelajari modul ini terlebih dahulu anda harus
mempunyai kemampuan awal yaitu :
1. Mengetahui konsep dasar fisika mengenai besaran dan satuan
2. Menguasai pengetahuan yang berhubungan dengan matematika dasar
(rumus phytagoras, pengertian garis tegak lurus, sifat-sifat segitiga dan
sebagainya)
3. Menguasai materi materi alat ukur dan teknik pengukuran

C. PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL


Untuk mempelajari modul ini bacalah terlebih dahulu petunjuk
sebagai berikut :
1. Pelajarilah peta konsep yang ada pada setiap modul dengan teliti.

1
2. pastikan bila Anda membuka modul ini, Anda siap mempelajarinya
minimal satu kegiatan hingga tuntas. Jangan terputus-putus atau
berhenti di tengah-tengah kegiatan.
3. Pahamilah tujuan pembelajaran yang ada pada setiap modul atau
kegiatan belajar dalam modul anda.
4. Bacalah materi pada modul dengan cermat dan berikan tanda pada
setiap kata kunci pada setiap konsep yang dijelaskan.
5. Perhatikalah langakah langkah atau alur dalam setiap contoh
penyelesaian soal.
6. Kerjakanlah latihan soal yang ada, jika mengalami kesulitan bertanyalah
kepada teman atau guru anda
7. kerjakan tes Uji kemampuan pada setiap kegaiatan belajar sesuai
kemampuan anda. Cocokan jawaban anda dengan kunci jawaban yang
tersedia pada modul dan jika perlu lakukan penghitungan skor hasil
belajar anda.
D. KOMPETENSI
Standar Kompetensi
5. Menjelaskan dasar-dasar ilmu ukur tanah
Kompetensi Dasar
5.1. Menjelaskan unsur-unsur ukur tanah dan jenis peta
E. INDIKATOR HASIL BELAJAR
5.1.1. Menjelaskan pengertian ilmu ukur tanah
5.1.2. Menyebutkan tujuan ilmu ukur tanah
5.1.3. Menjelaskan manfaat pekerjaan ukur tanah
5.1.4. Menyebutkan unsur-unsur ukur tanah
5.1.5. Menjelaskan pengertian peta.
5.1.6. Menyebutkan macam-macam peta.
5.1.7. Menghitung jarak berdasarkan skala peta
5.1.8. Menyebutkan tanda titik dan kegunaannya
5.1.9. Mengetahui alat-alat ukur jarak di lapangan

2
5.1.10. Menjelaskan pembuatan garis lurus di lapangan
5.1.11. Menjelaskan cara memperpanjang garis lurus PQ
5.1.12. Menjelaskan pembuatan garis lurus antara dua titik yang
terletak pada sisi bangunan
5.1.13. Menjelaskan pembuatan garis lurus antara dua titik yang
terhalang bangunan
5.1.14. Mengidentifikan alat ukur sudut sederhana
5.1.15. Menjelaskan kegunaan alat ukur sudut sederhana
5.1.16. Memahami peta situasi dengan cara polar
5.1.17. Memahami peta situasi dengan cara siku-siku
5.1.18. Memahami peta situasi dengan cara segitiga
5.1.19. Menghitung dan menggambar luas dengan cara rangkaian
segitiga
5.1.20. Menghitung dan menggambar luas dengan cara koordinat
5.1.21. Menghitung dan menggambar luas dengan cara simpson
5.1.22. Menghitung dan menggambar luas dengan cara jaluran
F. PETA KONSEP

BAB II
PEMBELAJARAN

3
A. RENCANA BELAJAR SISWA
Tempat
No. Jenis Kegiatan Waktu Keterangan
Kegiatan
1 Kegiatan Belajar 1 2 x 45 menit Di sekolah Teori dan latihan
2 Kegiatan Belajar 2 2 x 45 menit Di sekolah Teori dan latihan
3 Kegiatan Belajar 3 2 x 45 menit Di sekolah Teori dan latihan
4 Kegiatan Belajar 4 2 x 45 menit Di sekolah Teori dan latihan
5 Kegiatan Belajar 5 2 x 45 menit Di sekolah Praktikum
6 Kegiatan Belajar 6 2 x 45 menit Di sekolah Teori dan latihan

B. KEGIATAN BELAJAR
1. Kegiatan Belajar 1
a. Tujuan Pembelajaran
1) Siswa dapat menjelaskan pengertian ilmu ukur tanah
2) Siswa dapat menyebutkan tujuan ilmu ukur tanah
3) Siswa dapat menjelaskan manfaat pekerjaan ukur tanah
4) Siswa dapat menyebutkan unsur-unsur ukur tanah
5) Siswa dapat menjelaskan pengertian peta.
6) Siswa dapat menyebutkan macam-macam peta.
7) Siswa dapat menghitung jarak berdasarkan skala peta

b. Uraian Materi
Dasar-Dasar Ilmu Ukur Tanah
1. Definisi Ilmu Ukur Tanah
Ilmu ukur tanah adalah cabang dari ilmu Geodesi Ilmu ukur tanah
merupakan bagian rendah dari ilmu yang lebih luas yaitu ilmu "geodesi"
yang mempelajari cara-cara pengukuran di permukaan bumi dan di bawah
tanah untuk berbagai keperluan seperti pemetaan dan penentuan posisi

4
relatif pada daerah yang relatif sempit sehingga unsur kelengkungan
permukaan bumi dapat diabaikan.

Gambar 2.1. Posisi Ilmu Ukur Tanah


Ilmu geodesi mempunyai 2 maksud, yaitu :
a. Maksud Ilmiah : Menemukan bentuk permukaan bumi
b. Maksud Praktis : Menggambarkan sebagian besar atau sebagian kecil
dari permukaan bumi. Pada maksud kedua inilah yang sering disebut
dengan istilah pemetaan. Pengukuran dan pemetaan pada dasarnya
daibagi menjadi 2, yaitu :
a. Geodesi Plan Surveying : Merupakan ilmu seni, dan teknologi
untuk menyajikan bentuk permukaan bumi baik unsur alam
maupun unsur buatan manusia pada bidang yang dianggap datar
b. Geodetic Surveying : Ilmu, seni, teknologi untuk menyajikan
informasi bentuk kelengkungan bumi atau pada kelengkngan
bola
Dalam pengertian yang lebih umum pengukuruan tanah dapat
dianggap sebagai disiplin yang meliputi semua metoda untuk
menghimpun dan melalukan proses informasi dan data tentang bumi dan
lingkungan fisis. Dengan perkembangan teknologi saat ini metoda
terestris konvensional telah dilengkapi dengan metoda pemetaan udara
dan satelit yang berkembang melalui program-program pertanahan dan
ruang angkasa.
Pengukuran yang akan dipelajari dibagi bagi dalam pengukuran
mendatar dari titik titik yang terletak diatas permukaaan bumi , dan

5
pengukuran tegak guna mendapatkan beda tinggi antara titik titik yang
diukur diatas permukaan bumi yang tidak beraturan ,yang pada akhirnya
dapat digambar diatas bidang datar (Peta).
Ilmu ukur tanah merupakan ilmu sebagai dasar dalam
melaksanakan pekerjaan survey atau ukur mengukur tanah yang
mempunyai ruang lingkup sangat luas.
Dibidang teknik sipil para insinyur sangat memerlukan data yang
akurat untuk pekerjaan-pekerjaan semua jenis proyek seperti
pembangunan jalan, jembatan, saluran irigasi, perencanaan dan
pembuatan gedung, lapangan udara, pehubungan cepat, sistem
penyediaan air bersih pengkaplingan tanah perkotaan, jalur pipa.
Sedangkan dalam bidang pertanian untuk perncanaan proyek seperti :
pembukaan lahan baru, saluran irigasi dll.
Dalam dunia pertambangan seperti membuat terowongan,
menentukan luas wilayah tambang. Semua itu diperlukan pengukuran
tanah yang hasilnya beruapa peta untuk perencanaan. Agar hasilnya
dapat dipertanggung jawabkan maka pengukuran harus dilakukan secara
benar, tepat dan akurat.

Gambar 2.1. Relief Tambang


Pengkuran tanah sangat diperlukan dalam kehidupan modern,
terutama oleh karena hasil-haslnya dipakai untuk : (i) memetakan bumi
(daratan dan perairan), (ii) menyiapakna peta navigasi perhubungan
darat, laut dan udara; (iii) memetakan batas-batas pemilikan tanah baik
perorangan maupun perusahaan dan tanah negara , (iv) merupakan bank

6
data yang meliputi informasi tata guna lahan dan sumber daya alam
untuk pengelolaan lingkungan hidup, (v) menentukan fakta tentang
ukuran, bentuk, gaya berat dan medan magnit bumi serta (vi)
mempersiapkan peta bulan , planet dan benda angkasa lainnya.
2. Tujuan Ilmu ukur tanah
a. Menentukan posisi sembarang bentuk yang berbeda diatas permukaan
bumi
b. Menentukan letak ketinggian (elevasi) segala sesuatu yang berbeda
diatas atau dibawah suatu bidang yang berpedoman pada bidang
permukaan air laut tenang
c. Menentukan bentuk atau relief permukaan tanah beserta luasnya
d. Menentukan panjang, arah dan posisi dari suatu garisyang terdapat
diatas permukaan bumi yang merupakan batas dari suatu arealtertentu.
Seorang pekerja ukur tanah (surveyor) profesional memiliki satu
atau lebih kegiatan yang dilakukan di atas atau di bawah permukaan
tanah/ laut dan dapat dilakukan dalam hubungan dengan para
profesional lainnya. Berikut fungsi dari seorang surveyor di lapangan :
a) Penentuan ukuran dan bentuk bumi, pengukuran dari semua data yang
diperlukan untuk menentukan ukuran, posisi, bentuk, dan kontur pada
setiap bagian bumi dan memantau setiap perubahan.
b) Penentuan posisi objek/titik pada sebuah ruang dan waktu serta posisi
dan pemantauan bentuk fisik, struktur dan pekerjaan yang berada di
atas atau di bawah permukaan bumi
c) Pengembangan, pengujian dan kalibrasi sensor, peralatan dan sistem
untuk pekerjaan Survei
d) Perolehan dan penggunaan informasi tata ruang dari jarak dekat,
udara dan citra satelit dan proses-proses yang dapat dilakukan secara
otomatis.

7
e) Penentuan dari posisi batas-batas tanah masyarakat atau pribadi,
termasuk batas-batas nasional dan internasional, dan pendaftaran
lahan tersebut dengan pihak yang berwenang
f) Perencanaan dan pembentukan system informasi geografis (GIS)
suatu daerah dan mengumpulkan, menyimpan, menganalisis,
mengelola, menampilkan dan menyebarkan data.
g) Menganalisis, menyajikan dan menggabungkan objek tata ruang dan
fenomena pada GIS, termasuk visualisasi dan komunikasi seperti data
dalam peta, model dan perangkat mobile digital
h) Studi tentang lingkungan alam dan sosial, pengukuran tanah dan
sumber daya alam laut. Penggunaan data tersebut berguna untuk
perencanaan pembangunan di perkotaan, daerah pedesaan dan
regional.
i) Perencanaan, pengembangan dan pembangunan kembali sebuah
kawasan seperti; perkotaan, pedesaa, maupun perumahan.
j) Pengkajian nilai dan pengelolaan sebuah kawasan seperti; perkotaan,
pedesaa, maupun perumahan.
k) Perencanaan, pengukuran dan pengelolaan pada pekerjaan konstruksi,
termasuk rencana anggaran biaya.
l) Dalam melaksanakan tugas diatas, surveyor harus mempertimbangkan
aspek hukum, ekonomi, lingkungan, dan sosial yang relevan sehingga
proyek tetap berjalan secara normal. Pekerjaan mengukur tanah dan
pemetaan (Survei dan pemetaan) meliputi pengambilan/ pemindahan
data-data dari lapangan ke peta atau sebaliknya.
3. Unsur-Unsur Ukur Tanah
a. Panjang
b. Luas
c. Sudut
4. Manfaat pekerjaan ukur tanah
a. Pengukuran untuk mencari luas tanah

8
Luas tanah sangat diperlukan untuk keperluan jual beli, penentuan
pajak, dan untuk perencanaan pengembangan daerah, rencana jalan,
rencana pengairan dan rencana transmigrasi
b. Pengukuran untuk mengetahui beda tinggi tanah
Sebelum suatu bangunan didirikan maka terlebih dahulu harus
diketahui tinggi permukaan tanah dan rencana meratakan tanahnya
sehingga dapat dihitung seberapa tanah yang digali dan berapa banyak
urugan yang diperlukan serta untuk menentukan peil suatu bangunan
yang akan dibangunan untuk pedoman ketinggian lantai dan
sebagainya.
c. Pengukuran untuk pembuatan peta
Untuk memberi petunjuk berapa jauh antara tempat A ke tempat B
maka kita harus membuat sket jalan dari tempat A ke tempat B. Gambar
sket tersebut walaupun tidak sempurna dinamakan peta. Untuk
praktisnya pemerintah mulai dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten ,
propinsi bahkan setiap Negara mempunyai ganbar daerahnya yang
disebut peta. Peta tersebut harus digambar berdasarkan hasil
pengukuran tanah, baik pengukuran secara teoritis maupun secara
fotogrametrik.
d. Pengukuran untuk merencanakan bangunan
Bila akan mendirikan rumah , maka harus ada ijin bangunan dari dinas
pertanahan atau dinas pekerjaan umum. Pada setiap rencana
pembangunan daerah , pembuatan jalan, rencana irigasi terlebih dahulu
tanah yang akan dibangunan harus diukur dan disahkan oleh
pemerintah daerah. Disamping hal tersebut pekerjaan ukur tanah
merupakan hal sangat penting dalam merencana bangunan karena
dapat memudahkan menghitung rencana biaya.
5. Definisi Peta
Peta adalah gambaran permukaan bumi pada bidang datar dengan
skala tertentu yang meliputi unsur-unsur alamiah (sungai, bukit, gunung,

9
lembah) dan unsur-unsur buatan manusia (bangunan, jembatan, jalan,
saluran irigasi, batas pemilikan lahan) yang disajikan dengan konfigurasi
tertentu.
Penggunaan peta-peta tersebut di atas sangat berkaitan dengan
bidang-bidang tertentu, baik sebagai alat orientasi maupun analisis. Oleh
karena itu peranan peta sangat menentukan produk akhir bagi pekerjaan
perencanaan maupun analisis suatu masalah. Syarat-syarat peta sebagai
berikut :
Mempunyai skala
Memakai sistem proyeksi
Mempunyai legenda
Mempunyai tulisan untuk keterangan yanglengkap
6. Macam-macam peta
a. Peta Agraria: dibuat dan di ukur oleh BPN di gunakan untuk pajak tanah
dan pekerjaan teknis
b. Peta Teknik: dibuat untuk perancangan teknik seperti pembuatan
gedung, jalan raya, jalan kereta api, irigasi, jembatan, dsb
c. Peta Topografi: menggambarkan daerah dengan detail-detail yang
lengkap.
d. Peta Hidrografi: menggambarkan keadaan pantai, kedalaman laut, dan
keterangan-keterangan untuk keperluan pelayaran
e. Peta Khusus: di buat untuk keperluan khusus (missal peta statistik, peta
jalan, peta geologi, dsb)
f. Peta Dunia: menggambarkan benua, pulau, batas tiap negara di seluruh
dunia dengan isinya.
7. Skala Peta
Perbandingan antara ukuran di peta dengan di permukaan bumi.
Contoh : peta dengan skala 1:100 maka 1 cm pada peta mewakili 100 cm
(1 m) jarak sebenarnya di permukaan bumi.
Menurut skalanya peta dapat di bedakan antara lain :

10
a) Peta Teknis dengan skala kurang dari 1: 10.000
b) Peta Topografi dengan skala antara 1: 10.000 s.d. 1: 250.000
c) Peta Geografi dengan skala lebih dari 1: 250.000
c. Rangkuman
Ilmu ukur tanah adalah cabang dari ilmu Geodesi Ilmu ukur tanah
merupakan bagian rendah dari ilmu yang lebih luas yaitu ilmu "geodesi"
yang mempelajari cara-cara pengukuran di permukaan bumi dan di bawah
tanah untuk berbagai keperluan seperti pemetaan dan penentuan posisi
relatif pada daerah yang relatif sempit sehingga unsur kelengkungan
permukaan bumi dapat diabaikan. Unsure-unsur ilmu ukur tanah yaitu jarak,
sudut dan luas.
d. Tugas 1
1) Apakah yang dimaksud ilmu ukur tanah?
2) Sebutkan tujuan ilmu ukur tanah!
3) Apakah manfaat pekerjaan ukur tanah?
4) Apa saja Unsur-unsur ukur tanah itu?
5) Apakah yang dimaksud peta?
6) Sebutkan macam-macam peta?
7) Jika jarak pada peta tergambar jarak 5 cm sedangkan peta itu berskla
1:2000 maka berapakah jarak sebenarnya dipermukaan bumi?
e. Kunci Jawaban Tugas 1
1) Ilmu ukur tanah adalah cabang dari ilmu Geodesi Ilmu ukur tanah
merupakan bagian rendah dari ilmu yang lebih luas yaitu ilmu
"geodesi" yang mempelajari cara-cara pengukuran di permukaan
bumi dan di bawah tanah untuk berbagai keperluan seperti
pemetaan dan penentuan posisi relatif pada daerah yang relatif
sempit sehingga unsur kelengkungan permukaan bumi dapat
diabaikan.
2) a. Menentukan posisi
b. Menentukan letak ketinggian (elevasi)

11
c. Menentukan bentuk atau relief
d. Menentukan panjang, arah dan posisi
3) a. Pengukuran untuk mencari luas tanah
b. Pengukuran untuk mengetahui beda tinggi tanah
c. Pengukuran untuk membuat peta
d. Pengukuran untuk merencanakan bangunan
4) Unsur-Unsur Ukur Tanah yaitu Panjang, Luas dan Sudut
5) Peta adalah gambaran permukaan bumi pada bidang datar dengan
skala tertentu yang meliputi unsur-unsur alamiah (sungai, bukit,
gunung, lembah) dan unsur-unsur buatan manusia (bangunan,
jembatan, jalan, saluran irigasi, batas pemilikan lahan) yang
disajikan dengan konfigurasi tertentu.
6) Macam-macam peta
a. Peta agraria d. Peta hidrografi
b. Peta teknik e. Peta khusus
c. Peta topografi f. Peta dunia
7) Jarak sesungguhnya adalah 5 x 2.000 cm = 10.000 cm = 10 m

2. Kegiatan Belajar 2
a. Tujuan Pembelajaran
1) Menyebutkan tanda titik dan kegunaannya
2) Mengetahui alat-alat ukur jarak di lapangan
b. Uraian Materi
1. Tanda Titik
Untuk pengukuran unsur-unsur tanah baik jarak, luas maupun sudut
diperlukan tanda titik untuk memudahkan dalam pengukuran. Menurut sifat
dan kegunaannya tanda titik dibedakan menjadi 2 yaitu :
a. Titik Tetap

12
Titik ini terdiri dari titik tri anggulasi dan titik polygon. Titik tri
anggulasi terbuat dari tugu beton dan dipasang di daerah-daerah
luas/pengunungan atau di sebuah pulau. Titik polygon terbuat dari tugu
beton dan dipasang didaerah-daerah kecil seperti dalam kota atau kawasan
industri dan perumahan. Dari titik tetap ini diketahui koordinat (X,Y) dan
diketahui pula ketinggiannya dari permukaan air laut. Koordinat titik tetap
diukur dan dihitung secara teliti karena titik ini akan menjadi dasar
pengukuran selanjutnya.
Tanda titik yang bersifat tetap ini selalu dipakai dalam pekerjaan
pengukuran. Karena selalu dipakai maka tidak boleh rusak dan dipakai
sebagai pangkal pengukuran. Bahan-bahan yang dipakai untuk membuat titik
tetap harus bahan yang tahan lama dan kuat, biasanya terbuat dari batu,
beton, atau batang besi. Syarat-syarat tanda titik tetap adalah harus mudah
dilihat dari jauh dan tidak boleh berubah-ubah.

Gambar 2.1. Tanda Tanda Titik Tetap


b. Titik Sementara
Titik sementara adalah tanda yang bersifat sementara baik
pembuatan dan penggunaanya dalam pengukuran.
1) Patok
Alat ini terbuat dari kayu atau bambu yang digunakan untuk
memberi batas yang bersifat sementara pada saat pengukuran. Patok dalam
pekerjaan survei berfungsi untuk memberi tanda batas yalon, dimana titik
setelah diukur dan akan diperlukan lagi pada waktu lain, misalnya tanda
bangunan, jalan raya, pengairan dan sebagainya. Titik ini ditanam ke dalam
tanah denagn kedalaman 0,25 s.d 0,5 meter dan yang menonjol antara 5
10 cm, dengan maksud agar tidak lepas atau mudah dicabut, dan mudah

13
dilihat dari jauh maupun dengan tanda yang lain. Patok umumnya ujungnya
dibuat runcing untuk memudahkan pemasangan. Sebaiknya alat ini diberi
tandea cat merah agar mudah terlihat. Ukuranya 5x5 cm atau 10x10 cm.
2) Yalon
Yalon adalah tiang atau tongkat yang akan ditegakkan pada kedua
ujung jarak yang diukur. Yalon terbuat dan kayu, besi (pipa besi), yang
merupakan tongkat berpenampang bulat atau segitiga sama sisi dengan sisi 4
cm. Agar kelihatan terang dan dapat dilihat dari jauh maka diberi warna
merah putih menyolok. Selang seling merah dan putih ini sekitar 25 cm 50
cm. Pada bagian bawah yalon diberi sepatu besi agar tidak cepat rusak. Yalon
dapat pula berfungsi untuk menemukan kembali titik yang berada di
kejauhan, misalnya untuk diarahkan kepadanya dengan sifat datar. Panjang
yalon yaitu 2 atau 3 meter dengan tebalnya kira-kira 30 mm (3 cm). Bentuk
yalon bulat lebih banyak dipakai karena sudut pandangan dari semua arah
adalah sama.
3) Rambu ukur
Rambu ukur dapat terbuat dan kayu, campuran alumunium yang
diberi skala pembacaan. Ukuran lebamya 4 cm, panjang antara 3m-5m
pembacaan dilengkapi dengan angka dari meter, desimeter, sentimeter dan
milimeter. Rambu ukur ini mempakan titik sementara di lapangan pada saat
pengukuran. Biasanya alat ini merupakan perlengkapan pengukuran dengan
menggunakan alat sipat datar. Rambu ukur didirikan di atas titik yang telah
ditentukan secara tegak lurus. Pada beberapa bagian dan angkanya diberi cat
yang mencolok.

Gambar 2.2. Patok, Yalon dan Rambu Ukur

14
2. Jarak
a. Pengertian jarak
Pada ukur tanah yang umumnya bertujuan untuk pembuatan peta,
jarak yang dimaksud adalah jarak horizontal atau jarak mendatar. Di dunia
pertambangan luas lahan yang ditentukan oleh jarak ini ada kaitan dengan
luasan lahan yang akan dijadika area pertamabangan, maka jarak sesuai
dengan kondisi lahan itulah yang paling cocok, atau dengan kata lain bila
lahannya miring jarak miringlah yang sebaiknya diukur. Pengertian jarak
mendatar dan jarak miring ini lebih jelasnya dapat dilihat dari Gambar 2.3.

Gamabar 2.3. Jarak datar dan jarak miring


Keterangan :
1= jarak datar 2= jarak miring
Selain dikenal dengan jarak miring dan jarak mendatar dikenal pula
istilah jarak lurus dan jarak sesuai dengan jarur yang ditempuh.
b. Satuan Ukur Jarak
Ada 2 sistem satuan ukuran jarak yang seringkali tersaji pada
berbagai alat ukur, yaitu:
(1) Sistem Metrik, seperti mm, cm, dm, m sampai km
(2) Sistem Inggris, seperti inch, feet, yard, mile.
1 inch = 2,54 cm, 1 feet = 0,305 m, 1 yard = 0,914 m dan 1 mile = 1,609 km
= 5280 feet
c. Alat-alat ukur jarak di lapangan
1) Kayu ukur
Terbuat dari kayu panajng 3 m atau 5 m, dan penampang berbentuk
oval, dengan ujung berukuran 3 cm ditengah dan 5 cm. kedua ujung
dilengkapi dengan besi. Dalam penggunaannya alat ini selalu digunakan dua

15
batang kayu ukur yang dibedakan warnanya setiap satu meter. Setiap
desimeter diberi tanda dengan paku kuningan sedangkan setiap sentimeter
harus dikira-kira.

Gambar 2.4. Kayu Ukur


2) Pita Ukur kain linen
Terbuat dari kain linen lebar 2 cm dan panjang 10 m, 20 m dan 30 m.
kelemahan pita ukur tidak tahan air sehingga bila basah akan meregang atau
memanjang dan cepat rusak atau mudah putus. Hal ini akan mengakibatkan
kerugian dalam pengukuran.
3) Pita ukur fiberglass
Terbuat dari bahan fiberglass. Lebar 2 cm panjang 30 m dan 50 m.
pita ini sangat kuat, ringan dan tahan terhadap air sehingga banyak dipakai
pada pengukuran baik di daerah basah maupun kering. Dalam pemakaiannya
tidak menggunakan pocket balance. Dalam menggulung tidak boleh berlipat.
4) Pita ukur baja
Terbuat dari baja lebar 2 cm, tebal 0,4 mm, serta panjang 20 m, 30 m,
dan 50 m. alat ini menggunakan pocket balance yang dipasang pada ujung
pita ukur yang ditarik 5 sampai 8 kg. yang perlu diperhatikan penggunaan
alat ini harus menghindari lalu lintas kendaraan, karena bila pita ukur baja
ini dilindas kendaraan bisa putus.

Gambar 2.5 Pita Ukur


5) Rantai ukur

16
Terbuat dari kawat baja atau kawat besi dengan 3 mm dan 4 mm,
tiap ujung rantai diberi mata yang dihubungkan satu sama lain dan dipasang
cincin kuningan untuk tiap panjang 1 m, 10 m, 20 m, 25 m dan 30 m.
pamakaian alat ini harus menggunakan pocket balance dengan gaya tarik 10
kg s.d 15 kg. dalam penarikan rantai ukur harus diperhatikan mata rantai
tidak boleh kusut dan terlipat. Sebagai pelengkap dalam pemakaian
dilapangan harus disediakan pen baja untuk menghindari kesalahan
pengukuran.

Gambar 2.6. Rantai Ukur


6) Roda ukur (ortodo meter)
Pengukuran jarak dengan Odometer merupakan metode sederhana
berupa roda yang berukuran 30 s.d 40 cm dang dilengkapi dengan tongkat
pendorong. Diantara roda terdapat skala pencatat jarak mulai dari
sentimeter, meter dan kilometer. Selain itu roda ini dilengkapi skal penunjuk
batas ukuran. Pengukurannya dengan menghitung jumlah putaran roda
yang kelilingnya diketahui, bila roda tersebut digelindingkan antara dua titik
pengukuran. Jarak dihitung dengan persamaan berikut : Jarak = Jumlah
putaran roda x keliling roda. Contoh : Antara titik A dan B ditempuh dengan
120 putaran Keliling lingkaran = 60 cm. Jarak antara titik A dan B = 120
putaran x 60cm/putaran = 7.200 cm = 72 m.
Alat ini sangat praktis untuk mengukur jarak suatu jalur dimana
jalurnya berbelok-belok dan naik turun, seperti halnya jalur jalan dalam
rangka pengaspalan atau di pertanian sendiri pada pengukuran luas lahan
bergelombang dan bentuk petakannya tidak beraturan.

17
Gambar 2.7. Roda Ukur
7) Stadia
Pengukuran dengan stadia atau dikenal juga dengan istilah
pengukuran jarak optik dilakukan dengan menggunakan teropong, dimana di
dalam teropong tersebut pa lensa objektifnya dilengkapi dengan 2 garis
horizontal yang disebut benang stadia. Alat yang dilengkapi dengan fasilitas
ini adalah waterpas dan teodolit.

Gambar 2.8. Theodolite


8) Electric Distance Meter (EDM)
Alat yang lebih modern lagi dari waterpas dan teodolit adalah EDM,
yaitu alat ukur yang menggunakan gelombang elektromagnetik sinar infra
merah sebagai gelombang pembawa sinyal pengukuran dan dibantu dengan
sebuah reflektor berupa prisma sebagai target (alat pemantul sinar infra
merah agar kembali ke EDM). Alat terdiri dari Transmitter sebagai sumber
listrik dan reseiver sebagai penangkap gelombang listrik yang dipancarkkan
tadi dan dikembalikan oleh cermin kristal yang dipasang di titik pengukuran
lainnya.

Gambar 2.9. EDM


c. Rangkuman
Alat-alat pengukuran jarak di lapangan
a) Kayu ukur

18
b) Pita Ukur kain linen
c) Pita ukur fiberglass
d) Pita ukur baja
e) Rantai ukur
f) Roda ukur (ortodo meter)
g) Stadia
h) Electric Distance Meter (EDM)
d. Tugas 2
1) Sebutkan tanda titip menurut sifat dan kegunaannya dan berikan
contohnya?
2) Sebutkan alat-alat pengukuran jarak di lapangan?

e. Kunci Jawaban Tugas 1


1) Tanda titik tetap contoh beton
Tanda titik sementara contoh yalon, patok, rambu ukur
2) alat-alat pengukuran jarak di lapangan
a) Kayu ukur
b) Pita Ukur kain linen
c) Pita ukur fiberglass
d) Pita ukur baja
e) Rantai ukur
f) Roda ukur (ortodo meter)
g) Stadia
h) Electric Distance Meter (EDM)

19
3. Kegiatan Belajar 3
a. Tujuan Pembelajaran
1) Menjelaskan pembuatan garis lurus di lapangan
2) Menjelaskan cara memperpanjang garis lurus PQ
3) Menjelaskan pembuatan garis lurus antara dua titik yang terletak
pada sisi bangunan
4) Menjelaskan pembuatan garis lurus antara dua titik yang terhalang
bangunan
b. Uraian Materi
1) Pembuatan Garis Lurus
Salah satu bagian terpenting pada pengukuran suatu bidang tanah
adalah membuat garis lurus. Pembuatan garis lurus di lapangan tidak seperti
pembuatan garis vertical di atas sebuah kertas. Dari kedua garis lurus yang di
buat harus diketahui titik ujungnya.
2) Memperpanjang Garis Lurus
Memperpanjang garis lurus di lapangan sebenarnya hampir sama
dengan cara pembuatannya dengan membuat garis lurus di lapangan. Hanya
ada sedikit perbedaan bahwa membuat garis lurus di lapangan titik-titik
yang akan ditentukan di antara dua titik yang sudah diketahui di lapangan.
Sedang pada pekerjaan memperpanjang garis di lapangan titik-titik yang
akan ditentukan di luar garis yang sudah diketahui, mungkin di belakang atau

20
di muka dua titik yang sudah diketahui. Pada pekerjaan memperpanjang
garis lurus di lapangan ini dapat dikerjakan secara beregu atau dapat juga
perorangan. Sedang pada pekerjaan membuat garis lurus di lapangan
minimal dikerjakan dua orang. Bila dikerjakan secara perorangan hanya saja
arah gerak dari peserta diklat mundur dan jarak jalon yang telah ditancapkan
dengan jalon yang akan ditempelkan tidak terlalu jauh untuk menghindari
kesalahan yang fatal.
3) Pembuatan garis lurus antara dua titik yang terletak pada sisi
bangunan
Misalnya titik P dan Q adalah titik-titik suatu gedung besar, maka
diperlukan dua orang untuk menempatkan titik-titik yang terletak di satu
garis dengan P dan Q terletak antara P dan Q. Salah satu orang memegang
yalon b. Orang yang kedua menempatkan yalonnya di titik b1 dan orang
pertama menempatkan yalonnya di titik a1, sehingga orang yang kedua
melihat titik b1, a1 dan P satu garis lurus. Orang pertama yang menempatkan
yalon a1 melihat bahwa yalon b1 tidak terletak pada garis a1, Q, maka orang
kedua dengan petunjuk orang pertama memindahkan yalonnya ke b2,
sehingga oleh orang pertama dilihatnya bahwa a1, b2, dan Q terletak di satu
garis lurus. Sekarang orang kedua meneliti yalon a1, yang kelihatan dari b2,
tidak segaris lurus dengan . Yalon a1 dengan petunjuk orang pertama
dipindahkan ke a2 sehingga dengan b2 di satu garis lurus.

Gambar 2.10. garis lurus antara dua titik yang terletak pada sisi bangunan
4) Pembuatan garis lurus antara dua titik yang terhalang bangunan

21
Jika titik-titik ujung missal P dan Q terhalang bangunan yang berupa
rumah maupun tanaman sehingga titik ujung satu tidak terlihat oleh lainnya
maka pembuatan garis lurus dapat dilakukan dengan 2 cara sebagai berikut :
Cara pertama, membuat garis lurus sejajar dengan P dan Q yaitu titik
A dan B, buatlah garis A dan B ini sedemikian rupa sehingga jarak AB
terhadap PQ adalah p. sudut yang dibentuk oleh titik PAB adalah siku-siku.

Gambar 2.11. Pembuatan garis lurus oleh garis sejajar lain


Cara kedua, mencari suatu titik A yang letaknya dapat terlihat oleh
titik P kemudian dibuat garisPA yang di dalamnya terdapat titik-titik a,b,,c
dan seterusnya kemudian dibuat garis antara a dengan a sehingga sudut aaA
adalah siku-siku.

Gambar 2.12. Pembuatan garis lurus oleh titik lain


c. Rangkuman
Cara pembuatan garis lurus adalah dengan mencari titik yang segaris
dengan garis yang sudah diketahui. Jika terhalang bagunan maka pembuatan
garis lurus dapat dilakukan dengan bantuan titik maupun garis lain.

22
4. Kegiatan Belajar 4
a. Tujuan Pembelajaran
1) Mengidentifikan alat ukur sudut sederhana
2) Menjelaskan kegunaan alat ukur sudut sederhana
b. Uraian Materi
Alat-alat ukur sudut di lapangan terdiri dari :
1) Klinometer

Gambar 2.13. Klinometer


Klinometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur sudut
lereng pada lapangan yang miring. Yaitu sudut elevasi antara garis datar dan
sebuah garis yang menghubungkan sebuah titik pada garis datar tersebut
dengan titik puncak (ujung) sebuah objek. Sudut miring yang didapat dari
hasil pengukuran ini, untuk keperluan mendapatkan jarak datar.
Aplikasinya digunakan untuk mengukur tinggi (panjang) suatu
objek dengan memanfaatkan sudut elevasi. Dengan kata lain fungsi atau
kegunaannya adalah untuk menentukan besar sudut elevasi dalam
mengukur tinggi obyek secara tidak langsung, tetapi kurang teliti.
Untuk mendapatkan jarak datar dapat dihitung dengan rumus :
Dt = D x cos
Sedangkan untuk mendapatkan beda tinggi dihitung dengan rumus :
h = D x sin

23
Dengan D = Jarak miring dan = sudut miring
Cara menggunakan klinometer :
a) Tempatkan jalon di titik 1, ukurlah kedudukan jalon agar letaknya
tegak vertical dengan unting-unting.
b) Pasang alat klinometer pada jalon P0,ukur tinggi klinometer dari
permukaan tanah, misalnya 150 cm.
c) Bidikkan melalui lubang pembidik pada klinometer kea rah jalon 1
dan sesuaikan ketinggian bidikan pada jalon 1 (150 cm)
d) Aturlah posisi nivo tabung agar terletak horizontal
e) Bacalah skala derajat/sudut vertical (sudut miring) pada klinometer
f) Ukurlah jarak miring P0-1 dengan pita ukur (d)
g) Untuk menghitung jarak datar (s)
h) Untuk menghitung beda tinggi P0-1 adalah :
Beda tinggi P0-1 = jarak miring (d) x sinus sudut miring
i) Demikian juga untuk pekerjaan selanjutnya dilakukan dengan cara
yang sama
2) Kompas

Gambar 2.14. Kompas


Kompas adalah alat yang digunakan untuk mengukur sudut jurusan
dan sudut azimuth. Sudut jurusan adalah sudut yang diukur dari arah utara
sebenarnya (astronomis), searah dengan putaran jarum jam pada jurusan
yang dimaksud. Sudut azimuth adalah sudut yang diukur dari arah utara
bmagnetis, searah dengan arah putaran jarum jam. Perbedaan antara utara
astronomis dan utara magnetis disebut deklinasi.
Cara menggunakan kompas :
a) Tempatkan tripot (statif) di titik Po dan pasanglah kompas pada statif

24
b) Pasanglah jalon pada batas-batas yang diukur
c) Setel kompas dan aturlah visir segaris dengan jarum magnet
d) Bila jarum magnet dan visir sudah terletak pada satu garis dan
mengarah ke utara, aturlah skala sudut pembacaan 0 0 arah utara.
e) Arahkan kompas ke titik P1, bidiklah melalui visir ke arah yalon p1,
bacalah sudut kompas dan ukuran jarak p0-p1 dengan pita ukur (d1).
f) Arahkan kompas kea rah P2, bidiklah sudut pada kompas dan ukuran
jarak P0-P2 dengan pita ukur D2.
g) Untuk menghitung sudut datar B1 (sudut antara 1 dan 2) adalah sudut 2
sudut 1
h) Untuk menghitung luas segitiga P0 P1 P2 adalah :
L = (sinus sudut datar B1 x d1 x d2) / 2
i) Demikian seterusnya pengukuran dilakukan dengan cara sama sampai
dengan titik terakhir, sehingga merupakan rangkaian segitiga-segitiga
j) Menghitung luas daerah yang diukur adalah dengan cara menjumlahkan
luas segitiga.
3) Pentaprisma
Alat ini gunanya untuk membuat sudut siku-siku di lapangan,
terbuat dari bahan logam dan kaca . bentuknya berpenampang bulat atau
segi lima. Susunannya terdiri dari prisma bagian atas untuk bayangan jalon
kanan, bagian bawahnya untuk bayangan jalon kiri, dan bagian tengah yang
merupakan kaca tembus pandang sebagai jendela pembidik. Bayangan yang
terlihat pada penta prisma ini lebih terang dan lebih luas.

25
Gambar 2.15. Penta Prisma
Cara menggunakan pentaprisma :
a) Tempatkan jalon di titik A, B dan C dengan posisi tegak vertical
b) Peganglah prisma dan pasanglah unting-unting pada prisma
c) Berjalanlah searah garis AB dengan memegang prisma dan
posisinya menghadap jalon C
d) Masukkan bayangan yalon B pada prisma bagian atas dan masukkan
bayangan yalon A pada prisma bagian bawah
e) Bila bayangan jalon A dan B sudah masuk ke dalam prisma, bidiklah
jalon C melalui jendela ke kanan dank e kiri
f) Bila bayangan jalon A dan B serta bidikan jalon C sudah
menyambung tegak pada prisma, maka titik dimana unting-unting
berada (C) merupakan titik proyeksi dari jalon C, sehingga CC tegak
lurus AB.
4) Cermin Sudut
Alat ini gunanya untuk membuat sudut siku-siku di lapangan,
terbuat dari bahan logam atau kayu, berbentuk kotak dan membentuk sudut
450. Cermin sudut terdiri dari dua cermin I dan II yang ditempatkan di dalam
suatu kotak dengan satu sisinya terbuka (lubang sebagai jendela pembidik).
Dasar pemikiran yang dipakai pada alat ini adalah teori pemantulan
sinar yang jatuh pada cermin yang berada di dalam kotak. Sinar yang datang
dari jalon menuju bidang cermin, dipantulkan sedemikian rupa sehingga
sudut yang dibentuk oleh sinar datang dan garis normal adalah sama besar
dengan sudut pantul sinar tersebut terhadap garis normal. Sudut yang
terjadi dari pemantulan sinar-sinar tersebut adalah 900 (siku-siku).
Cara menggunakan cermin sudut :
a) Siapakan cermin sudut dan pasanglah unting-unting
b) Tempatkan jalon di titik A, B, dan C dengan posisi tegak vertical
c) Berjalanlah searah garis AB dengan membawa cermin sudut
d) Masukkan bayangan yalon A dan B ke dalam cermin sudut

26
e) Bila bayangan jalon A daB sudah masuk ke dalam cermin sudut,
kemudian bidikkan kea rah jalon C.
f) Bila bayangan jalon AB dan bidikan jalon C di dalam cermin sudah
menyambung tegak, maka titik dimana unting-unting berada (C)
merupakan titik proyeksi jalon, sehingga jalon CC tegak lurus jalon
AB.

c. Rangkuman
Alat untuk mengukur sudut dilapangan yaitu klinometer, kompas,
penta prisma dan cermin sudut.
d. Tugas 4
1) Sebutlah alat-alat ukur sudut?
2) Apakah fungsi dari klinometer?
3) Apakah perbedaan anatara sudut jurusan dengan sudut azimuth?

e. Kunci Jawaban Tugas 4


1) Alat untuk mengukur sudut dilapangan yaitu klinometer, kompas,
penta prisma dan cermin sudut.
2) Klinometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur sudut
lereng pada lapangan yang miring.
3) Sudut jurusan adalah sudut yang diukur dari arah utara sebenarnya
(astronomis), searah dengan putaran jarum jam pada jurusan yang
dimaksud. Sudut azimuth adalah sudut yang diukur dari arah utara
bmagnetis, searah dengan arah putaran jarum jam.

5. Kegiatan Belajar 5

27
a. Tujuan Pembelajaran
1) Siswa dapat memahami peta situasi dengan cara polar
2) Siswa dapat memahami peta situasi dengan cara siku-siku
3) Siswa dapat memahami peta situasi dengan cara segitiga
b. Uraian Materi
Mengukur peta situasi ada 3 cara yaitu cara polar, rangkaian segitiga
dan koordinat siku-siku. Pada kegiatan ini kita akan melakukan praktikum.
Alat dan Bahan :
1) Kompas
2) Statif
3) Pita ukur
4) Jalon dan patok
5) Buku catatan
6) Prisma
Langkah-langkah praktikum :
1) Cara polar
a) Tentukan titik batas daerah yang akan diukur dan sketlah pada buku
catatan.
b) Tempatkan jalon di titik batas daerah yang akan di ukur (P1, P2,
P3,P4,P5, P6)
c) Pasanglah kompas statief di titik P0 sehingga dapat melihat ke sumua
batas pengukuran
d) Pasanglah kompas statief P0 dan aturlah posisi jarum magnet dan visir
serta skala sudut kea rah utara (00 0)
e) Bidiklah visir kompas ke titik P1, baca sudut pada kompas , ukurlah
jarak P0-P1 dengan pita ukur dan catatlah pada buku catatan.
f) Putar dan arahkan visir kompas ke titik P2, bacalah sudut, ukuran jarak
P0-P2 dancatatlah pada buku catatan demikian seterusnya dan
mendapatkan jarak dan sudut.

28
g) Hitung sudut datar B yang merupakan sudut yang dicari untuk
perhitungan luas daerah.
h) Gambarkan hasil pengukuran
2) Cara koordinat siku-siku
a) Tentukan titik batas daerah yang akan di ukur dan sket daerah tersebut
pada buku catatan
b) Tempatkan jalon di titik P1,P2,P3,P4,P5,P6.
c) Tentukan titik pembagi PQ dengan jalon sebagai pedoman penentuan
lurus garis kerja
d) Pegang prisma dan proyeksikan semua titik mulai dari P1,P2,P3 dst.
e) Demikian seterusnya pekerjaan dilaksanakan dengan cara yang sama,
sehingga titik batas daerah diproyeksikan kea rah garis ukur PQ.
f) Ukurlah semua jarak P1,P2,P3 dst terhadap garis ukur yang merupakan
jarak absis (X), ukurlah jarak titik proyeksi yang satu terhadap yang lain
pada garis ukur yang merupakan jarak ordinat (Y) dan semua data harus
dicatat pada buku catatan.
g) Untuk perhitungan luas daerah yang telah diukur adalah dengan
menjumlahkan luas dari bangun-bangun trapezium dan segitiga
h) Gambarkan hasil pengukuran dengan skala tertentu
3) Cara rangkaian segitiga
a) Tentuakan batas daerah yang akan diukur dan sket daerah tersebut
dengan lengkap pada buku catatan
b) Tempatkan jalon di titik P1,P2,P3,P4,P5,P6.
c) Ukurlah jarak dengan pita ukur jalon P1-P2(S1), Jalon P2-P6(S2), Jalon
P1-P6(S3) dst sehingga membentuk rangkaina segitiga.
d) Semua sisi jarak segitiga pada daerah tersebut (S1,S2,S3, dst) harus
diukur dan dicatat pada buku catatan.
e) Menghitung luas daerah yang diukur adalah dengan menjumlahkan
masing-masing luas segitiga.

29
c. Rangkuman
Pengukuran peta situasi ada 3 cara yaitu :
1) Cara polar
2) Cara koordinat siku-siku
3) Cara rangkaian segitiga

6. Kegiatan Belajar 6
a. Tujuan Pembelajaran
1) Menghitung dan menggambar luas dengan cara rangkaian segitiga
2) Menghitung dan menggambar luas dengan cara koordinat
3) Menghitung dan menggambar luas dengan cara simpson
4) Menghitung dan menggambar luas dengan cara jaluran

30
b. Uraian Materi
Cara menghitung luas ada 4 yaitu :
1) Luas Dengan Cara Rangkaian Segitiga
Untuk menyelesaikan luas bidang tanah dengan cara rangkaian
segitiga yaitu dibuat segitiga-segitiga kecil di dalam luasan tersebut sehingga
luasnya (missal masing-masing sisi segitiga a,b, dan c) dapat dihitung
dengan rumus :
L S S a S bS c

1 abc
S keliling
2 2
2) Luas Dengan Cara Koordinat
Untuk menyelesaikan perhitungan dengan sistem koordinat maka
diproyeksikan terhadap sumbu X dan Y ssehingga membentuk beberapa
trap[esium berangkai lalu dijumlahkan luas trapesiumnya.
3) Luas Dengan Cara Simpson
Di dalam metode ini garis batas yang berlekuk-lekuk dianggap
sebagai potongan-potongan busur parabola. Pada metode ini, banyaknya
jarak saluran harus ganjil. Bila h genap maka rumus simpson akan dipakai
sampai jarak jaluran (h-1) dan luasnya dihitung dengan rumus trapesium.
Contoh :

Luasnya dapat dicari dengan rumus :

L
b
t1 t 7 2t 3 t 5 4t 4 t 2 t 6
3
4) Luas Dengan Cara Jaluran
t1 tn
L b t 2 t 3 t 4... tn 1
2
c. Rangkuman

31
Menghitung luas tanah dapat dicari dengan 4 rumus yaitu rangkaian
segitiga, koordinat, jaluran dan simpson.
d. Tugas 6
Hitung luasan tanah berikut dengan cara rangkaian segitiga!

Jika diketahui a=6, b=4, c=5, d=5, e=9, f=3, g=10


e. Kunci Jawaban Tugas 1
Mencari luas I,II,dan II lalu dijumlahkan
abc 645
S 7,5
2 2
LI 7,57,5 67,5 47,5 5 98,4375

abc 559
S 9,5
2 2
LII 9,59,5 59,5 59,5 9 96,1875

a b c 9 3 10
S 11
2 2
LIII 1111 9 11 311 10 176
L L1 L 2 L3 370,625
BAB III
EVALUASI

A. PERTANYAAN
1. Apa yang dimaksud dengan ilmu ukur tanah?
2. Uraikan ruanglingkup Ilmu ukur tanah dalam dunia pertambangan!
3. Apakah manfaat dari mempelajari ilmu ukur tanah tanah?
4. Sebutkan syarat pembuatan peta!
5. Sebutkan alat-alat ukur jarak dilapangan!

32
6. Gambarkan dua macam cara pembuatan garis lurus antara dua titik
yang terhalang bangunan!
7. Hitunglah luas tanah dengan metode simpson dengan b=20, t1=16,
t2=16,5, t3=16,7, t4=17, t5-17,5, t6=18, t7=17,7, t8=17,6, t9=18,1!

B. KUNCI JAWABAN
1. Ilmu ukur tanah adalah cabang dari ilmu Geodesi yang mempelajari
cara-cara pengukuran di permukaan bumi dan di bawah tanah untuk
berbagai keperluan seperti pemetaan dan penentuan posisi relatif pada
daerah yang relatif sempit sehingga unsur kelengkungan permukaan
bumi dapat diabaikan.
2. Dalam dunia pertambangan Ilmu ukur tanah dibutuhkan untuk
membuat terowongan, menentukan luas wilayah tambang,
perencanaan pertambangan, desain tambang dan lain-lain.
3. a. Menentukan posisi sembarang bentuk yang berbeda di atas
permukaan bumi
b. Menentukan letak ketinggian (elevasi) segala sesuatu yang berbeda
di atas atau dibawah suatu bidang yang berpedoman pada
permukaan air laut yang tenang
c. Menentukan bentuk atau relief permukaan tanah beserta luasnya
d. Menentukan panjang, arah dan kedudukan (posisi) dari suatu garis
yang terdapat pada permukaan bumi, yang merupakan batas dari
suatu areal tertentu.
4. 1. Mempunyai skala
2. Memakai sistem proyeksi
3. Mempunyai legenda
4. Mempunyai tulisan untuk keterangan yang lengkap
5. Kayu Ukur
Pita ukur kain linen, fiber glass dan baja
Rantai ukur
Roda ukur
6. Cara pertama

Cara kedua

33
7. L=(20/18)x{(16+16.5)+2(16.7+17.5+17.7)+4(16.5+17+18+17.6)}
L=(20/18)x{(32.5)+(103,8)+(276.4)
L=(1,11)x412.7=458,097 m2

C. RUBRIK PENILAIAN

No Soal Jawaban Skor Kriteria Penilaian


1 Apa yang Ilmu ukur tanah adalah 3
Skor 1 jika menjawab tapi
dimaksud cabang dari ilmu jawaban salah
dengan Geodesi yang Skor 2 jika hanya menjawab Ilmu
ilmu ukur mempelajari cara-cara ukur tanah adalah cabang dari
tanah? pengukuran di ilmu Geodesi
permukaan bumi dan di Skor 3 jika Ilmu ukur tanah
bawah tanah untuk adalah cabang dari ilmu Geodesi
berbagai keperluan yang mempelajari cara-cara
seperti pemetaan dan pengukuran di permukaan bumi
penentuan posisi relatif dan di bawah tanah untuk
pada daerah yang berbagai keperluan seperti
relatif sempit sehingga pemetaan dan penentuan posisi
unsur kelengkungan relatif pada daerah yang relatif
permukaan bumi dapat sempit sehingga unsur
diabaikan. kelengkungan permukaan bumi
dapat diabaikan.
2 Uraikan Dalam dunia pertambangan Ilmu 4 Skor 1 jika menjawab
ruanglingk ukur tanah dibutuhkan untuk 1 benar
up Ilmu membuat terowongan, menentukan Skor 2 jika menjawab
ukur tanah luas wilayah tambang, perencanaan 2 benar
dalam pertambangan, desain tambang dan Skor 3 jika menjawab
dunia lain-lain. 3 benar
pertamban Skor 4 jika menjawab
gan! 4 benar
3 Apakah a. Menentukan posisi sembarang 4 Skor 1 jika menjawab
manfaat bentuk yang berbeda di atas 1 benar
dari permukaan bumi Skor 2 jika menjawab

34
mempelaja b. Menentukan letak ketinggian 2 benar
ri ilmu (elevasi) segala sesuatu yang Skor 3 jika menjawab
ukur tanah berbeda di atas atau dibawah 3 benar
tanah? suatu bidang yang berpedoman Skor 4 jika menjawab
pada permukaan air laut yang 4 benar
tenang
c. Menentukan bentuk atau relief
permukaan tanah beserta luasnya
d. Menentukan panjang, arah dan
kedudukan (posisi) dari suatu
garis yang terdapat pada
permukaan bumi, yang merupakan
batas dari suatu areal tertentu.
4 Sebutkan 1. Mempunyai skala 3 Skor 1 jika menjawab
syarat 2. Memakai sistem proyeksi 1 benar
pembuatan 3. Mempunyai legenda Skor 2 jika menjawab
peta! 4. Mempunyai tulisan untuk 2 benar
keterangan yang lengkap Skor 3 jika menjawab
3 atau lebih benar
5 Sebutkan Kayu Ukur 3 Skor 1 jika menjawab
alat-alat Pita ukur kain linen 2 benar
ukur jarak Pita ukur fiber glass Skor 2 jika menjawab
dilapangan Pita ukur baja 3 benar
! Rantai ukur Skor 3 jika menjawab
Roda ukur 4 atau lebih benar

6 Gambarkan dua Cara pertama 3 Skor 1 jika menjawab 1


macam cara benar
pembuatan garis Skor 2 jika menjawab 2
lurus antara dua Cara kedua benar
titik yang Skor 3 jika menjawab 3
terhalang benar
bangunan! Skor 4 jika menjawab 4 benar
7 Hitunglah luas L=(b/t6)x{2(t3+t5+t7)+ 5 Skor 1 jika siswa
tanah dengan 4(t2+t4+t6+t8)} mengerjakan salah
metode simpson L=(20/18)x{(16+16.5)+ Skor 2 jika siswa
dengan b=20, 2(16.7+17.5+17.7)+ mengerjakan dengan rumus
t1=16, t2=16,5, 4(16.5+17+18+17.6) kurang tepat
t3=16,7, t4=17, }

35
t5-17,5, t6=18, L=(20/18)x{(32.5)+(10 Skor 3 jika rumusnya benar,
t7=17,7, t8=17,6, 3,8)+(276.4) penerapan salah dan
t9=18,1! L=(1,11)x412.7 hitungan salah
L=458,097 m2 Skor 4 jika rumusnya benar,
penerapan benar tapi
hitungan salah
Skor 5 jika jika rumusnya
benar, penerapan benar dan
hitungan benar
SKOR TOTAL 25

D. KRITERIA PENILAIAN DAN KELULUSAN


1. Kriteria Penilaian
Cocokkanlah jawaban anda dengan kunci jawaban yang telah
disediakan, berilah skor nilai dengan mengacu pada rubrik penilaian.
Hitunglah jumlah nilai yang anda peroleh dengan memberi skor sesuai
dengan rubrik penilaian, lau jumlah skor yang di dapat dikalikan 4 sehingga
menghasilkan nilai 100. Gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui
tingkat penguasaan terhadap materi modul.

skor yangdiperoleh
Tingkat penguasaan =
skormaksimal

2. Kriteria Kelulusan
Arti tingkat penguasaan yang diperoleh :

90 100 = sangat baik dan sangat berhasil

80 89 = baik dan berhasil

70 79 = sedang dan berhasil

<70 = kurang dan tidak berhasil

Tingkat kelulusan bisa dicapai apabila tingkat penguasaan dengan


nilai minimal 80, kurang dari standar tersebut dinyatakan tidak lulus.

36
BAB IV
PENUTUP

Demikian modul ini saya buat dengan tujuan siswa memdapatkan


gambaran apa yang harus dipelajari dalam melakukan pengukuran tanah.
Siswa yang telah mencapai syarat kelulusan minimal dapat melanjutkan ke
modul selanjutnya. Sebaliknya apabila siswa dinyatakan tidak lulus, maka
siswa tidak diperbolehkan untuk mengambil modul selanjutnya, mintalah
petunjuk dan arahan dari pembimbing untuk melakukan evaluasi kembali
dan mengulangi kegiatan belajar dengan uraian materi yang belum dikuasai.

37
DAFTAR PUSTAKA

Sarjudi. 2013. Modul Ukur Tanah. Yogyakarta : SMK N 2 Depok.


Slamet Basuki. 2006. Ilmu Ukur Tanah. Yogyakarta : Gadjah Mada
University Press
Soetomo Wongsotjitro.1980. Ilmu Ukur Tanah. Yogyakarta : Kanisius.
http://learnmine.blogspot.com/2013_03_01_archive.html#axzz2WuqG6Ylo

38