Anda di halaman 1dari 11

Rehabilitasi Mulut Pada Pasien dengan Trauma Maksilofasial Hebat: Penatalaksanaan Kasus

Oral Rehabilitation in a Patient with Major Maxillofacial Trauma: A Case Management Elif Bahar Tuna, Mehmet Ozgen, Abdulkadir|Burak Cankaya, Cenk Sen, and Koray Gencay; Hindawi Publishing Corporation, Case Reports in Dentistry; Vol 2012, Article ID 267143: Page 5

Jurnal Bedah Mulut

Rehabilitasi Mulut Pada Pasien dengan Trauma Maksilofasial Hebat: Penatalaksanaan Kasus Oral Rehabilitation in a Patient with

Pembimbing :

Drg. Agus Nurwiadh, Sp. BM

Penyadur :

Mutiara S Fatimah

1601121400538

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG

2016

Abstrak

Cedera traumatis dapat menyebabkan kerusakan anatomis pada jaringan lunak dan keras. Defek ini sering menyebabkan hilangnya mukosa cekat dan prosesus alveolaris, yang dapat mengurangi potensi dukungan protesa dan membutuhkan graft tulang dan kulit. Sebagai akibat dari trauma maksilofasial yang hebat, avulsi penuh atau parsial palatum dapat memerlukan pembedahan luas dan rehabilitasi prostodontik. Perawatan yang tepat untuk defek maksila memerlukan pendekatan multidisiplin oleh tim yang terdiri dari berbagai bidang kedokteran dan kedokteran gigi. Rencana protesa tidak hanya harus mengganti gigi yang hilang, tetapi juga jaringan lunak dan tulang, dan harus meliputi palatum keras, linggir alveolar residual, dan pada beberapa kasus, palatum lunak. Jurnal ini menjelaskan prosedur perawatan yang meliputi prosedur operasi bedah plastik dan rehabilitasi prostetik pada perempuan berusia 19 tahun setelah kecelakaan sepeda motor yang parah.

Pendahuluan

Cedera gigi yang berhubungan dengan fraktur wajah adalah hal yang sering terjadi pada kegawatdaruratan maksilofasial. Pasien dengan defek maksilofasial yang disebabkan oleh kecelakaan motor dapat mengalami berbagai cedera di jaringan lunak dan keras yang berkisar dari keterlibatan neurologis sampaik fraktur dan/atau avulsi sendi temporomandibular, maksila, mandibula, gigi, dan struktur pendukung. Fraktur skeletal sering berhubungan dengan fraktur tulang yang berdekatan dengan maksila, serta keterlibatan jaringan lunak di atasnya seperti mata, jalur udara hidung, sinus paranasal, dan lidah. Fraktur fasial biasanya ditangani dengan reduksi dan imobilisasi atau fiksasi segmen yang fraktur, diikuti dengan penyesuaian oklusal dan restorasi gigi dan jaringan lunak yang hilang. Namun, pasien dengan avulsi palatum yang parah jarang terjadi, dan penatalaksanaannya memerlukan pendekatan multidisiplin dan berbeda dengan pembedahan luas dan rehabilitasi prostetik. Kurangnya palatum anterior dapat menyebabkan kerusakan estetik dan kesulitan bicara pada pasien. Lidah tidak dapat berkontak dengan permukaan solid selama fungsi ini, dan pasien menunjukan kondisi hipernasal, bahkan perkataannya sulit dimengerti. Selain itu, avulsi palatum anterior menyebabkan kesulitan penelanan, menggigit dan minum yang sangat parah. Ada beberapa pilihan perawatan yang tersedia untuk rehabilitasi kasus kehilangan parsial maksila meliputi gigi tiruan sebagian lepasan, gigi tiruan sebagian cekat, mahkota dan jembatan, protesa dukungan implant-gigi. Protesa harus mengganti seluruh struktur mulut yang hilang termasuk jaringan keras dan lunak di area trauma. Laporan klinis ini menjelaskan rehabilitasi prostetik pada pasien dengan avulsi traumatis bilateral maksila anterior yang ditangani dengan protesa zirkonia cekat yang menempel pada porselain sewarna gusi. Modifikasi prinsip prostodontik dasar telah

dilakukan bersamaan dengan metode perawatan konvensional dan perawatan diselesaikan sesuai dengan kebutuhan pasien.

Laporan kasus

Pasien perempuan berusia 19 tahun yang mengalami trauma wajah berat dirujuk untuk rehabilitasi gigi setelah serangkaian operasi bedah estetik. Riwayat pasien menunjukan hantaman pada wajahnya setelah terjatuh dari jurang selagi mendaki gunung. Evaluasi awal di unit gawat darurat melaporkan bahwa kondisi umumnya buruk, dan nilai hemoglobinnya adalah 6 mg/dL dengan trauma maksilofasial dan perdarahan parah. Pasien mendapat konsultasi kegawatdaruratan di Department of Plastic and Reconstructive Surgery setelah stabilisasi hemodinamik cepat dan CT scan. Menurut catatan medis yang didapat dari dokternya, ia mengalami cedera jaringan lunak parah disertai fraktur tulang comminuted pada maksila bilateral, zigoma, area periorbital, mandibula, dan tulang nasal. Fragmen tulang difiksasi dengan plat dan skrup titanium tanpa graft tulang. Fraktur vertical split posterior juga terjadi di palatum keras yang meluas ke anterior ke kedua sisi yang menyebabkan pergerakan fragmen tulang bebas di maksila anterior. Fraktur tersebut juga difiksasi setelah rekonstruksi dan kemudian perbaikan jaringan lunak dilakukan. Komplikasi tidak terlihat di awal periode pasca operasi; namun, tindak lanjut pasien mengindikasikan nekrosis tulang di maksila anterior yang meliputi prosesus alveolaris yang meluas ke palatum. Setelah pembersihan daerah nekrosis, defek direkonstruksi dengan flap mukosa dan rekonstruksi tulang ditunda. Pasien menolak bedah graft tulang yang direncanakan untuk perbaikan defek di maksila anterior dan dikonsultasikan untuk perawatan prostetik. Pemeriksaan klinisnya menunjukan defek jaringan lunak di wajah khususnya di area mata dan tampilan dismorfik (Gambar 1). Radiografi panoramik menunjukan miniplat dan skrup yang digunakan untuk memfiksasi lengkung zigoma, orbital, dan dinding sinus

maksilaris yang fraktur. Pemeriksaan intraoral menunjukan hilangnya linggir alveolar

maksila anterior dan tulang sampai ke garis apeks; baik insisif sentral dan lateral dan kaninus

hilang yang diakibatkan cedera traumatis (Gambar 2).

maksilaris yang fraktur. Pemeriksaan intraoral menunjukan hilangnya linggir alveolar maksila anterior dan tulang sampai ke garis

Gambar 1. Tampilan fasial pasien sebelum perawatan dengan defek jaringan lunak di area mata.

maksilaris yang fraktur. Pemeriksaan intraoral menunjukan hilangnya linggir alveolar maksila anterior dan tulang sampai ke garis

Gambar 2. Radiografi panoramik yang menunjukan plat mini dan skrup yang digunakan untuk memfiksasi lengkung zigoma, orbital, dan dinding sinus maksila yang fraktur.

Pasien memiliki oklusi Angle kelas I dengan overlap vertikal dan horizontal yang baik

sebelum kecelakaan. Karena hilangnya segmen premaksila, pasien mengalami kesulitan

bicara dan kesulitan saat menggigit dan menelan (Gambar 3). Selain itu, bibir maksila

kehilangan dukungan dan tertekan ke area defek. Mandibula terlalu tertutup, yang

menyebabkan penurunan tinggi wajah vertikal. Sendi temporomandibular asimptomatis dan

pergerakan rahang masih dalam batas normal. Pasien mengeluhkan ketidakmampuannya

untuk berkomunikasi, gangguan emosional dari penampilannya, dan kecemasan mengenai

restorasi giginya. Setelah prosedur pembedahan yang luas, rehabilitasi prostetik akrilik

sementara diberikan selama sekitar 1 tahun setelah trauma untuk merestorasi fungsi mulut

dan giginya (gambar 4).

menyebabkan penurunan tinggi wajah vertikal. Sendi temporomandibular asimptomatis dan pergerakan rahang masih dalam batas normal. Pasien

Gambar 3. Tampilan intraoral pasien sebelum perawatan, dengan kehilangan gigi maksila dan mandibula dan palatum anterior alveolar.

menyebabkan penurunan tinggi wajah vertikal. Sendi temporomandibular asimptomatis dan pergerakan rahang masih dalam batas normal. Pasien

Gambar 4. Tampilan intraoral protesa sementara pada pasien

Sebagai metode perawatan, protesa mahkota jembatan berbasis zirkonia direncanakan

dan diberikan di antara molar pertama kanan sampai ke premolar kedua kir untuk mengganti

gigi yang hilang (Gambar 5). Relasi sentrik yang baru dipindahkan ke artikulator dan warna

ditentukan. Protesa ini dikombinasikan dengan porselain sewarna gusi untuk

mengkompensasi kehilangan jaringan lunak dan keras di area anterior maksila dan untuk

memberikan dukungan bibir. Kerangka zirkonia di veneer dengan porselain feldspathic dan

keseimbangan oklusi diperiksa. Protesa mahkota jembatan zirkonia tetap dibuat

menggunakan sistem computer aided design/computer-assisted manufacturing (CAD/CAM).

Pasien diberikan instruksi pemeliharaan kebersihan mulut di rumah, termasuk penggunaan

benang gigi, sikat interproksimal, dan obat kumur.

memberikan dukungan bibir. Kerangka zirkonia di veneer dengan porselain feldspathic dan keseimbangan oklusi diperiksa. Protesa mahkota

Gambar 5. Kerangka protesa berbasis zirkonia yang dimodifikasi dengan porselain sewarna gusi.

memberikan dukungan bibir. Kerangka zirkonia di veneer dengan porselain feldspathic dan keseimbangan oklusi diperiksa. Protesa mahkota

Gambar 6. (a,b) tampilan wajah pasien setelah perawatan akhir dengan protesa, (c) tampilan intraoral protesa berbasis zirkonia

Keuntungan protesa kombinasi meliputi restorasi yang estetik dan biokompatibel

dengan protesa zirkonia. Hasil estetik dan fungsional yang memuaskan dicapai setelah

penyesuaian gigi tiruan cekat (Gambar 6). Setelah kunjungan kontrol saat bulan pertama,

ketiga, keenam, dan kedua belas, pasien puas dengan penampilan barunya dan tidak

mengalami kesulitan saat makan, mengunyah atau menelan. Gangguan bicara dieliminasi dan

profil pasien sudah membaik. Pada tindak lanjut setelah 5 tahun, protesa masih stabil dan

tidak ada tanda-tanda kekambuhan atau dismorfologis yang terlihat.

Diskusi

Defek maksilo fasial yang luas dapat menyebabkan kesulitan fungsional dan estetik

yang diakibatkan malformasi kongenital, reseksi tumor, atau trauma. Kehilangan gigi

menyebabkan resorpsi dan remodeling tulang alveolar dan dapat berakhir dengan linggir

alveolar residual yang atrofik. Rehabilitasi prostetik bertujuan untuk merestorasi fungsi

anatomis, fungsional dan estetik ketika defek jaringan lunak dan keras yang serius terjadi.

Berbagai pendekatan perawatan sering diindikasikan dalam rencana dan perawatan

pasien-pasien yang mengalami trauma maksilofasial hebat dengan defek maksila. Pasien ini

biasanya dirawat untuk mendapat fungsi dan tampilan normal. Mereka berbeda dari pasien

dengan defek maksila kongenital yang mengalami perubahan pada proses fisiologis yang

berhubungan dengan reseksi bedah atau traumatis pada maksila.

Ketika trauma menyebabkan defek yang signifikan di regio maksilofasial, pembuatan

gigi tiruan dipilih karena hilangnya jaringan lunak dan keras, dan dukungan bibir dapat

dikompensasi dengan resin akrilik. Namun, resin akrilik yang keras dapat menyebabkan

masalah melalui iritasi mukosa yang ringkih di mulut setelah operasi bedah. Sebagai prosedur

perawatan, kami memberikan porselain sewarna gigi untuk mengkompensasi jarinan lunak di

maksila anterior yang difusikan ke protesa zirkonia cekat untuk pasien kami yang mengalami

kehilangan gigi serta defek tulang karena cedera wajah. Jenis protesa modifikasi ini memiliki

beberapa keuntungan seperti retensi stabilisasi dan kenyamanan di jaringan keras dan

dukungan untuk jaringan lunak dan bibir.

Pasien dengan defek seperti ini mengalami masalah fungsional dan estetik yang

disebabkan oleh area edentulous. Ketika menangani kehilangan tulang di maksila

dan/mandibula, graft tulang pada defek mungkin dibutuhkan pada kasus perawatan implant.

Kehilangan jaringan lunak dan keras yang luas memerlukan protesa berdukungan implant

atau retentif untuk mendapat dukungan wajah yang memadai dan restorasi fungsi mulut.

Pilihan perawatan ini menawarkan kesempatan untuk meningkatkan dukungan prostodontik

dengan keuntungan seperti peningkatan retensi, stabilisasi, dan pemeliharaan jaringan keras

dan lunak yang ada. Walaupun protesa cekat dengan retensi implant diinginkan utnuk jenis

trauma besar sepert ini, pada kasus ini pasien menolak augmentasi tulang vertikal karena

prosedur bedah yang berulang yang dibutuhkan untuk melakukan terapi implant. Oleh karena

itu, protesa kombinasi modifikasi alternatif dengan protesa mahkota berbasis zirkonia dan

keramik jaringan diberikan.

Sistem keramik penuh berkekuatan tinggi yang sudah sering digunakan

direkomendasikan untuk restorasi anterior dan posterior. Zirkonia memiliki sifat kimia dan

fisik yang baik seperti tahan karat dan konduktivitas panas yang rendah, kekuatan fleksural

tinggi (900-1200 Mpa), dan kekearasan (1200 Vickers) dan juga biokompatibilitas yang baik,

dan estetika yang optimal. Adhesi bakteri di permukaannya rendah. Karena kekuatan

fleksural yang unggul dibandingkan alumunium oksida, kerangka zirkonia untuk gigi tiruan

sebagian cekat untuk gigi anterior dan posterior dan untuk restorasi dukungan implant saat ini

digunakan. Beberapa laporan in vitro telah menunjukan kekuatan fleksural yang unggul dari

zirkonia, ketika dibandingkan dengan bahan keramik lain, seperti alumunium oksida. Dalam

literatur, beberapa penlitian klinis jangka panjang mengevaluasi sistem dengan kerangka

zirkonium oksida yang memiliki 3 dan 4 unit posterior. Papaspyridakos dan Lal juga

mempublikasikan mengenai gigi tiruan cekat dukungan implant baru-baru ini. Dalam kasus

ini, rehabilitasi yang meliputi protesa cekat zirkonia berdukungan gigi 11 unit anterior dan

posterior telah diilustrasikan dengan periode tindak lanjut selama 5 tahun; namun, dalam

literatur, data klinis jangka panjang mengenai keawetan protesa zirkonia masih sedikit.

Untuk prosedur perawatan yang tepat pada pasien yang mengalami defek

maksilofasial yang luas, rencana tambahan, modifikasi, dan pertimbangan perawatan

dibutuhkan untuk mengevaluasi kondisi yang kondusif untuk rehabilitasi fungsi dan estetik.

Hal ini meliputi penetapan dukungan dan kontur jaringan lunak, selain kesehatan gigi dan

tulang. Dari metode-metode peningkatan defisiensi jaringan yang ada, porselain yang

kompatibel dengan jaringan dapat memberikan tampilan mukogingival alami yang estetik dan

dukungan bibir di area maksila anterior. Dalam kasus ini, hasil yang estetik dan fungsional di

maksila anterior dan pembentukan dukungan dan kontur jaringan lunak selain kesehatan gigi

dan tulang telah didapat berdasarkan pemeriksaan radiologis dan klinis yang mencapai

ekspektasi estetik pasien.

Jurnal ini mengkonfirmasi bahwa pasien dengan cedera traumatis memiliki kebutuhan

perawatan yang spesifik. Rehabilitasi prostetik modifikasi dapat meningkatkan estetika

restorasi akhir dan menyediakan dukungan untuk rehabilitasi gigi, mengganti gigi yang

hilang, dan jaringan lunak dan keras. Melalui periode tindak lanjut selama 6 tahun, protesa

yang diberikan masih stabil dan penyesuaian tambahan tidak dibtuhkan serta dismorfologi

tidak terlihat dari radiografi panoramik dan periapikal. Pasien beradaptasi dengan baik

dengan protesanya, dan puas dengan hasil estetik dan fungsional akhir dan melaporkan

perbaikan dalam bicara serta mastikasi.

Kesimpulan

Pada defek maksila yang luas, perencanaan yang terperinci sebelum pembedahan dan

evaluasi setiap kasus secara individual dapat meminimalisir kesulitan dalam rehabilitasi

prostetik. Banyak disiplin kedokteran gigi, termasuk prostodontik, bedah mulut dan

maksilofasial, dan ortodontik, memerlukan interaksi dalam perencanaan dan perawatan

pasien yang mengalami trauma maksilofasial yang parah. Pilihan perawatan harus dievaluasi

sesuai dengan kebutuhan pasien dan pemilihan kasus yang tepat dilakukan dengan tim

kedokteran gigi melalui penyusunan rencana perawatan dan kerjasama interdisiplin. Sebelum

memfinalisasi desain estetik, rencana perawatan harus meliputi evaluasi kasus secara rinci,

analisis senyum, dan ekspektasi pasien.