Anda di halaman 1dari 45

BAB I

PENDAHULUAN

Tuberkulosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium

tuberculosis dan varian mycobacterium lainnya seperti M. tuberculosis, M.

africanum, M. bovis, M. canettii, dan M. microti. Bakteri patogen ini menyerang

paru-paru dan organ tubuh lainnya. Mycobacterium tuberculosis umumnya

disebarkan melalui udara dalam bentuk droplet nuklei yang menimbulkan respon

granuloma dan inflamasi jaringan. Tanpa penanganan yang baik, kasus akan

menjadi fatal dalam 5 tahun1,2,3,4.

Berdasarkan data WHO tahun 2011 prevalensi TB di Indonesia mencapai

1.200.000 kasus atau 484 kasus per 100.000 populasi dengan angka mortalitas

mencapai 91.000 kasus atau 38 orang per 100.000 populasi. Insidensi TB

mencapai 540.000 kasus atau 226 kasus per 100.000 populasi dengan 29.000

kasus TB HIV positif. 5

Diperkirakan telah terdapat 440.000 kasus dari multi-drug resistant TB

(MDR-TB) pada tahun 2008. Keempat negara yang memiliki jumlah kasus MDR-

TB tertinggi adalah China (100.000 kasus), India (99.000 kasus), Federasi Rusia

(38.000 kasus), dan Afrika Selatan (13.000 kasus).6

1
BAB 2
STATUS PASIEN

IDENTITAS PASIEN

Nama : Tn. R

Jenis kelamin : Laki-laki

Tempat Tanggal Lahir : 04/04/1955

Umur : 62 tahun

Status perkawinan : Menikah

Agama : Islam

Pekerjaan : Petani

Pendidikan : SD

Alamat : Way Kanan

ANAMNESIS

Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 6 Juni 2017

Keluhan utama

Pasien mengeluh demam dan sakit kepala sejak 1 minggu SMRS.

Keluhan Tambahan

Mual, muntah, nyeri sendi, dan lemas.

2
Riwayat penyakit sekarang

Pasien mengeluh demam dan sakit kepala sejak 1 minggu SMRS. Pasien

mengeluh demam yang dirasakan naik turun. Biasanya pasien merasakan demam

pada sore hari. Keluhan disertai dengan mual, muntah, nyeri sendi dan lemas pada

seluruh badan. Keluhan lain yang dirasakan pasien adalah sulit BAB. Pasien

mengaku sudah 10 hari tidak BAB. Nafsu makan pasien juga menurun. Awalnya

pasien dirawat di RS Kamino selama 3 hari, namun pasien akhirnya dirujuk ke

RSAM. Pasien memiliki riwayat penyakit darah tinggi namun tidak rutin

mengkonsumsi obat darah tinggi. Pasien tidak memiliki riwayat penyakit kencing

manis. Pada saat 5 tahun yang lalu, pasien pernah mengkonsumsi obat paket

selama 6 bulan, dan sudah dinyatakan sembuh. Pasien merupakan perokok aktif

dan mengaku baru berhenti merokok semenjak sakit.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU

Batu ginjal/saluran
- Cacar - Malaria -
kemih
- Cacar air - Disentri - Burut (hernia)
- Difteri - Hepatitis - Penyakit prostat
- Batuk rejan - Tifus abdomen - Wasir
- Campak - Hipotensi - Diabetes
- Influenza - Sifilis - Alergi
- Tonsilitis - Gonore - Tumor
- Kholera - Hipertensi - Pembengkakan jantung
Demam rematik Ulkus
- - - Asma Bronkhial
akut ventrikulus
- Pneumonia - Ulkus duodeni - Gagal Ginjal Kronik
- Pleuritis - Gastritis - Sirosis Hepatis

3
Tuberkulosis - Batu empedu - Thypoid

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA

Keadaan
Hubungan Diagnosa Penyebab Meninggal
Kesehatan
Kakek - - -
Nenek - - -
Ayah - - -
Ibu - - -
Saudara - - -
Anak-anak - - -

ANAMNESIS SISTEM

Kulit

- Bisul - Rambut - Keringat malam


- Kuku - Kuning/icterus - Ptekie
- Lain-lain

Kepala

- Trauma Sakit kepala


- Sinkop - Nyeri sinus

Mata

- Nyeri - Konjungtiva anemis


- Sekret - Gangguan penglihatan
- Ikterus - Ketajaman penglihatan

4
Telinga

- Nyeri - Tinitus
- Sekret - Gangguan pendengaran
- Kehilangan pendengaran

Hidung

- Trauma - Gejala penyumbatan


- Nyeri - Gangguan penciuman
- Sekret - Pilek
- Epistaksis

Mulut

Bibir (kering) Lidah (tifoid tongue)


- Gusi - Gangguan pengecapan
- Selaput - Stomatitis

Tenggorokan

- Nyeri tenggorokan - Perubahan suara

Leher

- Benjolan kanan - Nyeri leher

Dada (Jantung/Paru)

- Nyeri dada - Sesak nafas


- Berdebar - Batuk darah
- Ortopnoe - Batuk

5
Abdomen (Lambung/Usus)

- Rasa kembung - Perut membesar/asites


Mual - Wasir
Muntah - Mencret
- Muntah darah - Tinja berdarah
- Sukar menelan - Tinja berwarna dempul
- Nyeri perut - Tinja berwarna hitam

Saluran kemih/ Alamat kelamin

Disuria - Kencing nanah


- Stranguri - Kolik
- Poliuri - Oliguria
- Polaksuria - Anuria
- Hematuria Retensi urin
- Kencing batu - Kencing menetes
- Ngompol - Penyakit prostat

RIWAYAT MAKANAN

Frekuensi/ hari : 3 x/ hari

Jumlah/ hari : 3-4 sendok tiap makan

Variasi/ hari : kurang bervariasi

Nafsu makan : penurunan nafsu makan

6
PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan Umum

Keadaan umum : Tampak sakit sedang

Kesadaran : Compos mentis

Tekanan darah : 230/130 mmHg

Nadi : 86 x/menit

Suhu : 37,4C

Pernapasan : 24 x/menit

Berat Badan : 48 kg

Tinggi badan (cm) : 165 cm

Sianosis : Tidak sianosis

Edema umum : Tidak ditemukan

Habitus : Astenikus

Cara berjalan : Normal

Aspek Kejiwaan

Tingkah laku : wajar/gelisah/tenang/hipoaktif/hiperaktif

Alam perasaan : Biasa/sedih/gembira/cemas/takut/marah

Proses pikir : wajar/cepat/gangguan waham/fobia/obsesi

7
Status generalisata

Kulit

Warna : Sawo matang Efloresensi :-

Jaringan parut :- Pigmentasi :-

Pertumbuhan rambut : Merata Pembuluh darah : Normal

Suhu raba : Hangat Lembab/kering : Kering

Lapisan lemak : Cukup Ikterus :-

Keringat, umum : Normal Turgor : Normal

Edema :-

Kelenjar getah bening

Submandibula : Tidak teraba benjolan Leher : Tidak teraba

Supraklavikula : Tidak teraba benjolan Ketiak : Tidak teraba

Lipat paha : Tidak teraba benjolan

Kepala

Ekspresi wajah : Wajar Simetris muka : Simetris

Rambut : Normal

Mata

Eksolftalmus : Tidak ada Enoftalmus : Tidak ada

Kelopak : Normal Lensa : Normal

Konjungtiva : Anemis Visus : Normal

Sklera : Ikterik Gerakan mata : Normal

Lap.penglihatan : Normal Tekanan bola mata : Normal

Deviatio konjungtiva : Tidak ada Nistagmus : Tidak ada

8
Telinga

Tuli : Tidak tuli Selaput pendengaran : Intak

Lubang : Normal Penyumbatan : Tidak ada

Serumen : (+) Perdarahan : Tidak ada

Mulut

Bibir : Kering Tonsil : Normal

Langit-langit : Normal Bau nafas : Bau keton (-)

Trismus : Tidak ada Lidah : Tifoid tongue

Faring : Tidak hiperemis

Leher

Tekanan vena jugularis : JVP 5+2 cm H2O

Kelenjar tiroid : Normal, tidak ada pembesaran

Kelenjar limfe : Normal, tidak ada pembesaran

Dada

Bentuk : Normochest

Pembuluh darah : Venektasi (-)

Paru Depan Belakang

Inspeksi : Simetris

Palpasi : Nyeri tekan (-)

Perkusi : Sonor

Auskultasi : Kanan : vesikuler melemah pada ICS IV

Kiri : vesikuler melemah pada ICS IV

Jantung

Inspeksi : Iktus cordis terlihat pada ICS V midclavicula sinistra

9
Palpasi : Iktus cordis teraba di ICS V midclavicula sinistra

Perkusi : Batas jantung kanan : ICS V linea sternal dextra

Batas jantung kiri : ICS V linea midclavicula sinistra

Batas jantung atas : ICS II linea sternal sinistra

Auskultasi : Bunyi jantung I dan II reguler

Pembuluh darah

Arteri temporalis : Teraba

Arteri karotis : Teraba

Arteri brakhialis : Teraba

Arteri radialis : Teraba

Arteri femoralis : Teraba

Arteri poplitea : Teraba

Arteri tibialis posterior : Teraba

Abdomen

Inspeksi : Datar

Auskultasi : Bising usus (+)

Palpasi : Nyeri tekan (-)

Hati : Tidak teraba ada pembesaran

Limpa : Tidak teraba ada pembesaran

Ginjal : Tidak teraba ada pembesaran

Perkusi : Timpani

10
PEMERIKSAAN PENUNJANG

Laboratorium (06-06-20167)

Darah :

HB, HT : 13,2 / 41

Leukosit : 6100

Hitung jenis : 0 / 0 / 0 / 78 / 13 / 9

L.E.D : 12

Trombosit : 138.000

Lain-lain :

Imunologi dan serologi

- Tes widal

-Typhi H antigen : 1/80

-Typhi O antigen : 1/40

-Paratyphi A-O antigen :1/80

-Paratyphi B-O antigen : 1/80

- Dengue Fever IgM : Negatif

- Dengue Fever IgG : Negatif

Urinalisis : makroskopis dan mikroskopis dalam batas normal

Rontgen thoraks: kesan Tb paru sinistra lama aktif minimal lesion. Besar cor

normal.

Kimia darah :

-SGPT : 21 U/L

-SGOT : 11 U/L

11
-Ureum : 49 mg/dl

-Creatinine:1,60 mg/dl

-Asam urat : 5 mg/dl

Gula darah nacture : 95 mg/dl

Kolesterol total : 193 mg/dl

HDL : 36 mg/dl

LDL : 147 mg/dl

Trigliserida : 13 mg/dl

RINGKASAN

S/ Pasien mengeluh demam dan sakit kepala sejak 1 minggu SMRS. Pasien

mengeluh demam yang dirasakan naik turun. Biasanya pasien merasakan

demam pada sore hari. Keluhan disertai dengan mual, muntah, nyeri sendi dan

lemas pada seluruh badan. Keluhan lain yang dirasakan pasien adalah sulit

BAB. Pasien mengaku sudah 10 hari tidak BAB. Nafsu makan pasien juga

menurun.

O/ Keadaan umum : Tampak sakit sedang

Kesadaran : Compos mentis

Tekanan darah : 230/130 mmHg

Nadi : 86 x/menit

Suhu : 37,4C

Pernapasan : 24 x/menit

Kepala : tifoid tongue (+)

12
Ekstremitas : nyeri sendi dan lemas

Pemeriksaan Lab:

- Tes widal

-Typhi H antigen : 1/80

-Typhi O antigen : 1/40

-Paratyphi A-O antigen :1/80

-Paratyphi B-O antigen : 1/80

- Darah lengkap

- Trombosit : 138.000

- LED : 12

PENGKAJIAN

1. Demam, sakit kepala, mual muntah, nyeri sendi, konstipasi, dan lemas

Atas dasar :

Anamnesis: Pasien mengeluh demam dan sakit kepala sejak 1 minggu

SMRS. Pasien mengeluh demam yang dirasakan naik turun. Biasanya

pasien merasakan demam pada sore hari. Keluhan disertai dengan mual,

muntah, nyeri sendi dan lemas pada seluruh badan. Keluhan lain yang

dirasakan pasien adalah sulit BAB. Pasien mengaku sudah 10 hari tidak

BAB.

Pemeriksaan fisik: tifoid tongue (+), nyeri pada sendi di semua

ekstremitas (+)

Pemeriksaan penunjang:

- Tes widal

13
-Typhi H antigen : 1/80

-Typhi O antigen : 1/40

-Paratyphi A-O antigen :1/80

-Paratyphi B-O antigen : 1/80

- Darah lengkap

- Trombosit : 138.000

- LED : 12

Dipikirkan: Suspect Demam Tifoid

Rencana diagnosa : Darah lengkap, Widal test, Tubex test, Gall culture, NS1,

SADT

Rencana terapi :

-PCT 500 mg tab 3x1

-Azitromisin 1 gr 1x1

-Domperidone 10 gr tab 3x1

2. Hipertensi

Atas dasar :

Pemeriksaan fisik : tekanan darah pasien mencapai 230/130 mmHg

Dipikirkan : Hipertensi maligna

Rencana diagnosa : Fungsi hati, fungsi ginjal, EKG, enzim jantung

Rencana terapi :

-Captopril 50 mg tab 3x1

-Clonidine 0,15 mg tab 4x1

14
-Furosemide 40 mg tab 3x1

3. TB paru relaps

Atas dasar :

Anamnesis : 5 tahun lalu pasien pernah menjalani terapi

pengobatan OAT selama 6 bulan dan dinyatakan sembuh.

Hasil pemeriksaan rontgen thoraks : TB paru sinistra lama aktif

minimal lesion. Besar cor normal

Dipikirkan : TB paru relaps

Rencana diagnosis : BTA sputum, kultur bakteri

Rencana Terapi:

-Rifampisin 450 mg tab 1x1

-Isoniazid 300 mg tab 1x1

-Pirazinamid 1000 mg tab 1x2

-Etambutol 1000 mg tab 1x2

4. Nyeri dan sulit BAK

Atas dasar :

Anamnesis: pasien mengeluh nyeri dan sulit ketika BAK

Pemeriksaan Laboratorium:

-Ureum : 49 mg/dl

-Creatinine:1,60 mg/dl

Dipikirkan : Vesikolithiasis

Rencana diagnosis : USG abdomen, foto polos BNO

15
Rencana Terapi :

-Pemasangan kateter

-TUR-V

PROGNOSIS

Qua ad vitam : bonam

Qua ad sanationam : bonam

Qua ad fungsionam : bonam

FOLLOW UP PASIEN

Selasa, 6 Juni 2017

S/ Pasien mengeluh demam naik turun, menggigil(-). Demam biasanya muncul pada

06.00 sore hari. Mual (+), muntah (-), sakit kepala (+), nyeri sendi (+), lemas, dan tidak

nafsu makan.

O/ Keadaan umum:

Kesadaran: Compos mentis

Tekanan darah: 230/130 mmHg

Nadi: 86 x/m

Suhu: 37,8oC

Pernapasan: 24x/m

Kepala:

Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-

Leher:

16
JVP 5+2 cmH2O, pembesaran KGB (-)

Paru:

I: Bentuk dada simetris

P: fremitus taktil kanan=kiri

P: Sonor kanan dan kiri

A: Vesikuler melemah pada ICS V sinistra

Jantung:

I: Iktus cordis terlihat

P: Iktus cordis teraba di ICS V midclavicula sinistra

P: Batas jantung kanan : ICS V linea sternal dextra

Batas jantung kiri : ICS V linea midclavicula sinistra

Batas jantung atas : ICS II lineasternal sinistra

A: BJ I dan II reguler

Abdomen:

I: Dinding perut datar, asites (-)

A: Bising usus (+)

P: Shifting dullness (-)

P: Nyeri tekan (-)

Extremitas:

Extremitas superior dan inferior: oedem -/-

Tes widal

-Typhi H antigen : 1/80

-Typhi O antigen : 1/40

-Paratyphi A-O antigen :1/80

17
-Paratyphi B-O antigen : 1/80

Darah lengkap

- Trombosit : 138.000

- LED : 12

A/ Suspect Demam tifoid + hipertensi maligna

DD : TB paru relaps, Pneumonia

P/

- PCT 500 mg tab 3x1

-Azitromisin 1 gr 1x1

-Domperidone 10 gr tab 3x1

Captopril 50 mg tab 3x1

-Clonidine 0,15 mg tab 4x1

-Furosemide 40 mg tab 3x1

Rabu, 7 Juni 2017

11.00 S/ Pasien masih mengeluh demam naik turun. Mual (+), muntah (-), nyeri sendi (+),

sakit kepala(+), lemas (+). Nafsu makan masih belum ada perbaikan.

O/ Keadaan umum:

Kesadaran : Compos mentis

Tekanan darah : 180/100 mmHg

Nadi : 60 x/m

Suhu : 38,3 OC

Pernapasan : 24 x/m

Kepala:

18
Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-

Leher:

JVP 5+2 cm H2O, pembesaran KGB (-)

Paru:

I: Bentuk dada simetris

P: Vokal fremitus paru sulit dinilai

P: Sonor kanan dan kiri

A: Vesikuler

Jantung:

I: Iktus cordis terlihat

P: Iktus cordis teraba di ICS V midclavicula sinistra

P: Batas jantung kanan : ICS V linea sternal dextra

Batas jantung kiri : ICS V linea midclavicula sinistra

Batas jantung atas : ICS II lineasternal sinistra

A: BJ I dan II reguler

Abdomen:

I: Dinding perut datar, asites (-)

A: Bising usus (+)

P: Shifting dullness (-)

P: Nyeri tekan (-)

Extremitas:

Extremitas superior dan inferior: oedem -/-

A/ Suspect Demam tifoid

DD : TBC, Pneumonia, PPOK, ISK, BPH, hipertensi maligna

19
P/

- PCT 500 mg tab 3x1

-Azitromisin 1 gr 1x1

-Domperidone 10 gr tab 3x1

-Valsartan 80 mg tab 1x1

-Furosemide 40 mg tab 2x1

Kamis, 8 Juni 2017

S/ Pasien masih mengeluh demam naik turun. Mual (+), muntah (-), badan terasa

pegal, sakit kepala (+), lemas (+). Nafsu makan masih belum ada perbaikan.

O/ Keadaan umum:

Kesadaran : Compos mentis

Tekanan darah : 170/90 mmHg

Nadi : 56 x/m

Suhu : 37,9 OC

Pernapasan : 28 x/m

Kepala:

Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-

Leher:

JVP 5+2 cm H2O, pembesaran KGB (-)

Paru:

I: Bentuk dada simetris

P: Vokal fremitus paru sulit dinilai

20
P: Sonor kanan dan kiri

A: Vesikuler melemah pada ICS V sinistra

Jantung:

I: Iktus cordis terlihat

P: Iktus cordis teraba di ICS V midclavicula sinistra

P: Batas jantung kanan : ICS V linea sternal dextra

Batas jantung kiri : ICS V linea midclavicula sinistra

Batas jantung atas : ICS II lineasternal sinistra

A: BJ I dan II reguler

Abdomen:

I: Dinding perut datar, asites (-)

A: Bising usus (+)

P: Shifting dullness (-)

P: Nyeri tekan (-)

Extremitas:

Extremitas superior dan inferior: oedem -/-

Hasil Rontgen Thoraks : Tb paru sinistra lama aktif minimal lesion. Besar cor

normal.

Urinalisis: makroskopis dan mikroskopis dalam batas normal

A/ Tb paru relaps + infeksi sekunder + hipertensi maligna

DD : Pneumonia, PPOK, Demam tifoid

P/

- PCT 500 mg tab 3x1

-Azitromisin 1 gr 1x1

21
-Domperidone 10 gr tab 3x1

-Valsartan 80 mg tab 1x1

-Furosemide 40 mg tab 2x1

-Rifampisin 450 mg tab 1x1

-Isoniazid 300 mg tab 1x1

-Pirazinamid 1000 mg tab 1x2

-Etambutol 1000 mg tab 1x2

22
BAB 3
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Etiologi

Mycobacterium tuberkulosis merupakan suatu bakteri berbentuk basil non

spora berukuran 0.5-3 m. Gram netral dan bersifat tahan asam. Sifat tahan

asamnya disebabkan oleh banyaknya kandungan asam mikolik, asam lemak rantai

panjang dan beberapa unsur lemak lainnya. Asam mikolik tersebut terikat dalam

struktur arabinogalactan dan peptidoglikan yang menyebabkan permeabilitas

dinding sel bakteri sangat rapat sehingga menurunkan kerja antibiotik.

Lipoarabinomannan juga merupakan suatu struktur bakteri yang berperan dalam

proses interaksi dan pertahanan diri dalam makrofag. Oleh sebab itu bakteri ini

dapat diwarnai dengan carbol fuchsin dan dipanaskan. Mycobacteriun

tuberculosis biasanya ditemukan di udara, tanah, bahkan air. Mycobacterium

tuberculosis tumbuh lambat dan berkembang biak dalam 18-24 jam.

Mycobacteriun tuberculosis biasanya akan tampak membentuk koloni dalam agar

sekitar 2-5 minggu.1,2,3

Kultur agar yang biasa digunakan untuk kultur M. tuberculosis dapat

berupa kultur pada atau kultur cair yang may berbasis telur seperti Lwenstein

Jensen, BACTEC, Middlebrook 7H10/ 7H11. Kultur M. tuberculosis pada

medium cair tergolong lebih cepat. 4

23
3.2 Epidemiologi

Berdasarkan laporan WHO tahun 2011 (berdasarkan data tahun 2010)

sekitar 8,8 juta (antara 8,5-9,2 juta) kasus baru terjadi di seluruh dunia. Masih

berdasarkan data pada tahun 2010, diperkirakan pula sebanyak 1,1 juta kematian

(rentang antara 0,9-1,2 juta) terjadi akibat tubeculosis pada penderita TB dengan

HIV negatif dan sebanyak 0,35 juta kematian (rentang 0.32-0.39 juta ) yang

terjadi akibat TB pada penderita dengan HIV positif. Hal yang perlu dicermati

adalah penurunan jumlah absolut kasus TB sejak tahun 2006, diikuti dengan

penurunan insidensi kejadian dengan angka estimasi kematian sejak tahun 2002.

Dan sekitar 10 juta anak-anak di tahun 2009 menjadi yatim piatu karena orang tua

yang mengidap TB.5

Gambar 1. Perkiraan jumlah insiden, Berdasarkan negara, tahun 2010. 5

24
Berdasarkan laporan WHO tahun 2011 terdapat 5.7 kasus TB paru baru

setara dengan 65% angka prediksi di tahun 2011. India dan China memberikan

kontribusi 40% total penderita baru TB dan Afrika menyumbang 24% pasien

baru. Secara global angka keberhasilan terapi pada penderita baru TB dengan

sputum BTA positif adalah 87% di tahun 2009 MDR-TB dideteksi mencapai

46.000 kasus. Walaupun jauh dibawah angka estimasi yakni 290.000 kasus,

MDR-TB masih menjadi tantangan besar hingga saat ini.5

Survei prevalensi TB yang dilakukan di enam propinsi di Indonesia pada

tahun 1983-1993 menunjukkan bahwa prevalensi TB di Indonesia berkisar antara

0,2 0,65%. Sedangkan menurut laporan Penanggulangan TB Global yang

dikeluarkan oleh WHO pada tahun 2010, angka insiden TB di Indonesia pada

tahun 2009 mencapai 430.000 kasus, dan dengan 62.000 kasus berakhir dengan

kematian. 7

Sedangkan sebuah studi yang dilakukan oleh Rao et al dari Universitas

Queensland berdasarkan data epidemiologi tahun 2007-2008 menunjukkan bahwa

angka kematian akibat tuberculosis di Indonesia sangat tinggi terutama di propinsi

Papua. 8

3.3 Patogenesis

Proses Penularan

M. tuberculosis ditularkan melalui udara dalam bentuk aerosolisasi 3000

droplet nukleus berukuran 5-10 m yang dapat dikeluarkan pada saat batuk,

bersin bahkan saat bercakap-cakap. Droplet tersebut mengering dengan cepat,

bertahan di udara selama beberapa jam dan masuk kedalam saluran nafas. Selain

25
melalui udara, penularan melalui kulit dan plasenta juga dapat terjadi walaupun

sangat tidak umum. Resiko terjangkitnya M. tuberculosis tergantung pada jumlah

M. tuberculosis yang masih bertahan hidup di udara. Penularan secara outdoor

biasanya lebih rendah daripada diruangan tertutup dimana pertukaran udara diluar

ruangan berlangsung baik dan ekspose trehadap sinar ultraviolet jauh lebih tinggi.

Penularan juga dapat terjadi melalui alat-alat intervensi seperti bronchoscopy atau

intubasi endotracheal. Selain melalui udara, penularan juga dapat terjadi melalui

abses yang mengandung M. tuberculosis. Faktor yang mempengaruhi kerentanan

tertularnya Mycobacterium tuberculosis adalah lamanya kontak dengan penderita,

dan derajat keparahan penyakit. Pasien dengan smear negatif cenderung lebih

aman terutama pasien dengan TB ekstra paru. 1,2,4

Proses Infeksi

Dropet nukleus cukup kecil untuk masuk kedalam saluran nafas dan

mampu bertahan dari proses filtrasi di saluran nafas atas. Sekali terhirup, droplet

nukleus dapat mencapai alveoli untuk melakukan invasi dan menimbulkan infeksi.

Pada sekitar 5 % pasien yang terinfeksi, M. tuberculosis mampu berkembang biak

dalam jangka waktu mingguan hingga bulanan dan dapat memberikan

pembesaran limfonodus perihilar dan peritracheal serta dapat memberikan

gambaran pneumonia lobaris dan merangsang terjadinya reaksi serosa serta efusi

pleura. 1,2,4

Bakteri kemudian ditelan oleh makrofag alveolar melalui proses introduksi

yang melibatkan aktivasi komplemen C3b. Liporabinomannan yang terdapat

dalam dinding M. tuberculosis mampu menghambat peningkatan ion Ca2+ yang

26
dapat menyebabkan terjadinya gangguan pada jalur calmodulin yang akan

menimbulkan gangguan fusi phagosom dan lisosom sehingga tidak ada

percampuran antara bakteri dengan lisosom yang menyebabkan bakteri dapat

bertahan dan berkembang biak didalam makrofag. Selain itu faktor yang dapat

mendukung pertumbuhan bakteri didalam makrofag adalah adanya gen protektif

antara lain katG yang memproduksi enzim katalase/peroksidase yang dapat

melindungi kuman dari proses oksidatif, gen rpoV yang merupakan gen induk

dari beberapa protein penting M. tuberculosis. Dua gen ini merupakan gen yang

penting dalam proses virulensi. Selain itu gen lain seperti erp membantu proses

pembentukan protein untuk multiplikasi. 1,2,4

Makrofag yang terinfeksi mengeluarkan sitokin seperti TNF dan IL-1

serta sitokin lainnya untuk merangsang monosit dan limfosit T terutama CD4+

yang akan membentuk IFN yang akan mengaktivasi makrofag lainnya. Proses

ini dikenal sebagai Macrophage Activating response sedangkan sel CD4+ Th2

akan memproduksi IL 4, IL 5, IL 10 dan IL 13 dan merangsang sistem imun

humoral. Sel dendritik juga berperan dalam mempresentasikan antigen dan

merangsang proses imun lebih jauh didalam limfonodus. Tahapan ini dikenal

sebagai proses Cell Mediated Immunity. Pada tahapan ini pasien dapat

menunjukkan gambaran delayed-type-hypersensitivity terhadap protein tuberkulin.

Reaksi ini dapat timbul 48-96 jam setelah injeksi tuberkulin dan bertahan hingga 6

minggu namun sekitar 20 % pasien tidak bereaksi terhadap tes tuberkulin. 1,2,4

Pada jaringan, makrofag tersebut dapat membentuk sel raksasa berinti

banyak dan akan membentuk granuloma yang dikelilingi oleh limfosit dan

makrofag yang teraktifasi. Pada granuloma, pertumbuhan bakteri dapat terhambat

27
karena lingkungan yang rendah oksigen dan derajat keasaman yang rendah.

Ketika mengalami proses penyembuhan dapat terbentuk fibrosis. Proses ini

dikenal sebagai Tissue Damaging Reponse. Dalam jangka waktu tahunan,

granuloma dapat meluas dan membentuk kalsifikasi dan akan tampak dalam

gambaran radiologi sebagai densitas radioopaque pada lapangan paru atas, apex

paru (fokus Simon), atau limfonodus perihilar. Focus granuloma juga dapat

ditemukan pada jaringan lainnya tergantung seberapa luas penyebaran kuman.1,2,4

Pada kasus tertentu, pada pusat lesi, material kaseosa mencair, dinding

bronchial dan pembuluh darah menjadi rusak dan terbentuklah kavitas. Pada

materi caseosa yang mencair terdapat basil M. tuberculosis dalam jumlah besar

yang dapat menyebar ke jaringan paru lainnya dan dapat keluar saluran nafas

melalui batuk dan berbicara. 1,2,4

Bila tidak timbul penyakit, maka telah terjadi keseimbangan antara sistem

imun dan reaksi patologis dari M. Tuberculosis. Faktor yang dapat menimbulkan

terjadinya aktivasi M. tuberculosis adalah kekuatan sistem imun. Sekitar 10%

pasien dengan imunokompeten biasanya akan menderita tuberculosis. 1,2,4

Pada pasien dengan infeksi laten, infeksi dapat teraktivasi dalam jangka

waktu beberapa tahun, aktivasi dapat terjadi pada hampir semua jaringan karena

M. tuberculosis menyebar secara limfogen. Lokasi tertentu yang lebih sering

terjadi reaktivasi adalah jaringan paru. Rekativasi muncul pada fokus granuloma

terutama pada apeks paru. Fokus kaseosa yang besar dapat membentuk kavitas

pada parenkim paru. 1,2,4

Semakin banyak jumlah basil M. Tuberculosis yang ditularkan maka

semakin infeksius. Hal ini dapat dilihat dari jumlah M. tuberculosis pada sediaan

28
tahan asam. M. tuberculosis dapat dideteksi pada sputum yang mengandung

sedikitnya 104 kuman. Pada pasien dengan TB paru berkavitas biasanya lebih

infeksius.2

3.4 DIAGNOSIS

Manifestasi klinis

Gejala yang muncul awalnya bersifat non spesifik, biasanya ditandai

dengan demam baik subfebris hingga febris dan keringat malam, berat badan yang

menurun, anoreksia, dan merasa lemas. Pada 80 % kasus ditemukan demam dan

tidak adanya demam bukan berati tuberculosis dapat dihilangkan. Dalam sebagian

besar kasus, batuk non produktif biasanya muncul minimal selama 2 minggu dan

selanjutnya diikuti oleh batuk produktif dengan sputum yang purulen bahkan

diikuti bercak darah. Hemoptisis yang masif biasanya muncul sebagai destruksi

pembuluh darah pada kavitas terutama pembuluh darah yang berdilatasi pada

dinding kavitas (Rasmussen's aneurysm). Nyeri dada biasa juga dirasakan

terutama pada pasien dengan lesi pada pleura. Lebih lanjut biasanya pasien akan

sesak nafas dan diikuti dengan adult respiratory distress syndrome (ARDS). 1,2,3,4

Temuan pemeriksaan fisis cukup terbatas pada TB paru. Terkadang

abnormalitas tidak ditemukan pada pemeriksaan thorax. Bunyhi ronkhi biasa

ditemukan terutama karena peningkatan produksi sputum. Bunyi wheezing juga

terkadang ditemukan akibat obstruksi parsial bronkus dan bunyi amphoric klasik

pada kavitas. Terkadang bunyi pernafasan terdengar redup yang berarti

menunjukkan ada proses abnormalitas yang cukup parah sebagai komplikasi dari

29
infeksi tuberculosis. Pada keadaan tertentu pasien juga dapat menunjukkan wajah

yang pucat serta clubbing finger. 1,3.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan foto thoraks PA merupakan pemeriksaan yang rutin

dilakukan untuk evaluasi tuberculosis paru. Gambaran yang biasanya muncul

adalah bercak infiltrat terutama kavitas yang biasanya dapat ditemukan pada 19%

hingga 50%. Gambaran lainnya yang biasa muncul adalah infiltrat lobus dan

interstitial serta limfadenopati. Pada segmen apeks paru biasa ditemukan

gambaran densitas radiopak yang menandakan terbentuknya fibronodular. Pada

tahap lanjut lesi ini dapat menjadi kavitas dengan gambaran radiologi kavitas

yang berdinding tipis. Pada TB paru rekativasi, daerah yang paling sering tampak

kelainan yakni, apeks dan segmen posterior lobus kanan, apeks dan segmen

posterior lobus kiri, dan segemen superior lobus bawah Lesi pada daerah ini lebih

sering terlihat pada pasien dengan diabetes. Efusi pleura pada tuberculosis paru

tahap dini juga dapat terlihat terutama pada perkembangan penyakit yang

progresif. CT scan biasanya dapat dilakukan untuk menentukan luasnya

penyebaran lesi namun biasanya tidak memberikan gambaran khas pada infeksi

tahap dini.4,9

30
Gambar 2. Gambaran radiologis infeksi TB pada paru.9

Pada gambar kiri terdapat gambaran kavitas serta bercak berawan pada

lapangan paru kanan atas, sedangkan gambaran CT scan menunjukkan

penyebaran bahan infeksius dari kavitas ke sistem tracheobronchial.9

Gambar 3. TB paru primer. 10

Pada gambar diatas, gambar kiri menunjukkan gambaran limfadenopati

hilar pada lapangan paru kanan sedangkan gambar kanan adalah gambaran CT

scan yang menunjukkan limfadenopati hilar kanan.

31
Gambar 4. TB paru post primer pada pasien dengan immunodefisiensi.10

Gambar kiri tampak kavitas dan bercak berawan pada kedua lapangan atas

paru dan pada CT scan terdapat gambaran cavitas pada kedua lapangan paru.

Dalam hasil analisis laboratorium darah dapat ditemukan leukositosis,

limfositik leukopenia atau neutrofilik leukopenia. Ditemukan pula anemia

normositik normokrom dan hiponatremia terutama pada pasien dengan

penyebaran lesi yang luas.4

Apusan sputum dan kultur merupakan pemeriksaan yang perlu dilakukan

untuk menegakkan diagnosis dengan sensitivitas 40-60%. Pada pasien suspek

tuberculosis paru, tiga sampel sputum diambil yakni sewaktu, pada pagi hari dan

sewaktu. Pada pasien dengan tuberculosis paru, sputum dapat diperoleh dengan

proses ekspektorasi atau nebulisasi dengan saline hipertonik, bilasan bronkus atau

bahkan dengan bronchoscopy.4,11

Induksi sputum dianggap sebagai salah satu cara yang umum dilakukan

untuk mendapatkan sputum, terutama dalam keadaan yang tidak memungkinkan

32
dilakukannya pengambilan sputum. Pada penelitian yang dilakukan di Bangladesh

menunjukkan bahwa sputum yang diinduksi dengan nebulisasi Salin 3%

memberikan sensitifitas dan spesifitas yang sama dengan teknik diagnosa

menggunakan bilasan bronkus.11,12

Pengambilan sputum dengan fibreoptic bronchoscopy (FOB) dan

transbronchial lung biopsy (TBLB) biasanya sangat membantu dalam

menegakkan diagnosa TB. Walaupun demikian FOB merupakan metode yang

invasif dan membutuhkan tenaga ahli untuk melakukannya.Selain itu FOB dapat

berkontribusi meningkatkan penularan TB.11,12

Pada anak-anak, aspirasi cairan lambung juga dapat digunakan untuk

mendiagnosa TB dan memberikan hasil yang jauh lebih baik. Aspirasi

nasofaringeal, induksi sputum, apusan laring juga dapat dilakukan.13

Pemeriksaan apusan sputum dilakukan dengan menggunakan metode

tahan asam Ziehl-Neelsen atau Kinyoun dimana bakteri akan tampak bewarna

kemerahan dengan latar belakang biru dan putih. Metode pewarnaan lainnya

seperti auramine juga dapat dilakukan, dengan pewarnaan ini maka

Mycobacterium tuberculosis yang terwarna akan dapat berpendar pada sinaran

Ultra Violet. Mycobacterium tuberculosis akan tampak berwarna kuning muda.

Akan tetapi hasil apusan sputum bergantung pada jumlah bakteri yang ditemukan

pada sampel sehingga dianggap kurang sensitif.1,2,4

33
Gambar 4. Basil Tahan Asam Mycobacterium Tuberculosis

(Dikutip dari kepustakaan nomor 1)

Kultur merupakan gold standard untuk menegakkan diganosis akan tetapi

hal ini membutuhkan waktu yang lama. Spesimen diinokulasi di kultur

Lwenstein-Jensen atau Middlebrook 7H10 dan diinkubasi pada suhu 37C.

Karena pertumbuhannya lambat maka kultur harus ditunggu 4-8 minggu. Selain

dari penampakan koloninya yang berwarna persik, tes biokimia juga penting

untuk menentukan jenis mycobacterium. Teknik kultur yang cepat sedang

dikembangkan untuk memotong waktu pemeriksaan.1,2

Analisa cairan tubuh juga dapat dilakukan apabila terjadi infeksi

tuberculosis ekstra paru seperti analisa cairan pleura, pericardium dan peritoneal.

Biasanya akan ditemukan cairan yang sifatnya eksudat dengan kadar glukosa yang

normal hingga rendah. Sampel tersebut dapat digunakan untuk apusan, dan kultur

untuk penegakan diagnosa. Nilai spesifiknya mencapai 65% pada cairan

peritoneal, 75% pada cairan perikardium dan 85% pada cairan pleura. Biopsi biasa

dilakukan terutama untuk mendapatkan bukti adanya pembentukan granuloma. 1,2

34
Pada umumnya diagnosis biasa di tegakkan berdasarkan gejala, temuan

radiologi dan respon terhadap pengobatan empiris tanpa konfirmasi kultur. Akan

tetapi melihat insidensi resistensi obat yang tinggi maka pemeriksaan kultur dan

tes sensitivitas perlu dilakukan. Secara umum, Mycobacterium tuberculosis perlu

diperiksa senstivitas terhadap isoniazid, rifampin, dan ethambutol. Pemeriksaan

terhadap sensitivitas obat lainnya juga perlu dilakukan guna mencegah resistensi

dan kegagalan pengobatan. 1,2

Pada pasien dengan infeksi tuberculosis laten, Tuberculin Skin Test dapat

dilakukan. Pada tahun 1891, Robert Koch menemukan komponen Mycobacterium

tuberculosis yang disebut tuberculin. Komponen ini mampu merangsang reaksi

kulit ketika diinjeksi secara subkutan pada pasien dengan tuberkulosis. Pada tahun

1932, Seibert dan Munday memurnikan produki ini dengan presipitasi amonium

sulfat yang dikenal sebagai tuberculin purified protein derivative (PPD). Tahun

1941 tes ini dijadikan sebagai tes standar diagnosa. Keterbatasan terbesarnya

adalah spesifitas yang rendah karena protein tersebut banyak disekresikan oleh

varian mycobacterium lainnya. Dan yang perlu diperhatikan hasil tes tuberkulin

juga positif pada pasien dengan imunisasi BCG dan infeksi mycobacterium

lainnya. 1,2

IGRAs atau IFN- Release Assays merupakan tes yang lebih spesifik

dibandingkan tes tuberkulin. IGRAs juga tampak lebih sensitif dalam mendeteksi

tuberculosis aktif dan tuberculosis laten. Keuntungan lainnya dari IGRAs terletak

pada kemampuannya untuk mengurangi hasil yang subjektif terutama pada skin

test.1

35
Saat ini terdapat 2 jenis pemeriksaan IFN- yang dapat bereaksi dengan

antigen ESAT-6 dan CFP-10 Mycobacterium tuberculosis yakni QuantiFERON-

TB Gold (Cellestis Ltd., Carnegie, Australia) yang menggunakan prinsp

enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) untuk mengukur kadar IFN-, dan

T-SPOT.TB (Oxford Immunotec, Oxford, UK) yang menggunakan enzyme-

linked immunospot (ELISpot). Studi komparatif pemeriksaan IGRAs dengan

metode ELISpot memiliki sensitifitas lebih tinggi dibanding ELISA.1

Amplifikasi asam nukleat merupakan cara lain dalam mendiagnosa

tuberculosis. Pemeriksaan ini dapat membantu menegakkan diagnosa dalam

hitungan jam dengan spesifitas dan sensitivitas yang tinggi. Tes ini biasa

digunakan sebagai konfirmasi cepat untuk pasien dengan BTA positif maupun

negatif. Selain itu semua tahap pengerjaan dilakukan dengan mesin sehingga

mengurangi resiko infeksi tuberculosis pada pekerja laboratorium 1,2,14,15

Tes ini juga berperan untuk menentukan gen yang mengalami mutasi yang

juga menjadi sumber masalah resistensi pengobatan TB antara lain gen rpoB yang

menimbulkan resistensi rifampicin, dan gen lainnya inh A dan katG untuk INH,

dan gen gyr untuk resistensi fluoroquinolon sehingga kasu MDR-TB dapat

diketahui dengan cepat. Salah satu tes amplifikasi asam nukleat yang

direkomendasikan oleh WHO yakni Xpert() MTB/RIF assay 5,15,16

3.5 Klasifikasi

Pada tuberkulosis paru dapat diklasifikasikan sebagai TB paru primer atau

post primer. TB paru primer merupakan TB paru yang muncul segera saat infeksi

pertama kali. Daerah yang sering terlibat dalam TB paru primer adalah lobus

36
medial dan lobus bawah paru. Lesi yang terbentuk biasanya terletak di perifer dan

disertai dengan limfadenopati hilar atau paratracheal yang biasanya sulit dideteksi

secara radiologis. Pembesaran limfonodus dapat menekan bronchus,

menimbulkan obstruksi saluran nafas dan menyebabkan kolaps paru segmental

atau bahkan lobar. Pada sebagian besar kasus, lesi biasanya sembuh sendiri dan

bermanifestasi sebagai nodul kalsifikasi (fokus gohn) 1,2,3,4.

Tuberculosis Post Primer Biasanya disebut juga sebagai tuberculosis

sekunder. Tuberculosis ini terjadi sebagai proses reaktivasi infeksi laten dan

biasanya terjadi pada segmen atas paru dimana tekanan oksigen lebih tinggi

dibandingkan bagian paru lainnya yang sangat menunjang pertumbuhan bakteri.

Pada tahap ini, perkembangan lesi biasanya sangat bervariasi mulai dari bercak

inflitrat hingga terbentuknya kavitas bahkan diikuti dengan infeksi sekunder yang

menyebabkan pneumonia, selain itu pada tahap ini, pasien sangat mudah untuk

menularkan bakteri ke lingkungannya.1

WHO mendefinisikan penderita TB sebagai penderita yang terbukti secara

positif terinfeksi tuberkulosis dengan menggunakan metode diagnosa apapun. TB

paru didefinisikan sebagai TB yang menyerang parenkim paru dan berdasarkan

hasil apusan tahan asam TB dibagi menjadi sputum positif atau sputum negatif. 5

Pasien dengan sputum postif merupakan pasien yang sedikitnya

menunjukkan satu hasil positif dari 3 sampel sputum yang diambil. Sedangkan

sputum negatif merujuk kepada pasien dengan hasil pemeriksaan sputum tanpa

ditemukannya basil tahan asam, namun pada pasien dengan sputum negatif tetapi

hasil kultur menunjukkan positif maka tetap dianggap sebagai pasien TB dengan

sputum negatif.5

37
TB ekstra paru merupakan kasus infeksi TB yang menyerang organ lain

selain paru antara lain pleura, limfonodus, abdomen, saluran kemih, kulit,

persendian, tulang dan meninges. Diagnosa harus ditegakkan berdasarkan kultur

atau pemeriksaan histologis. Pasien dengan TB paru dan ekstra paru digolongkan

sebagai kasus TB paru1,2,3,4,5

Kasus baru TB adalah pasien yang belum pernah menerima pengobatan

TB. Pada kasus berobat ulang atau retreatment digolongkan dalam 3 jenis yakni

retreatment karena gagal pengobatan, retreatment pada keadaan default , dan

Retreatment pada pasien sputum positif dengan pengobatan tuntas.5

Saat ini dikenal pula istilah Multidrug-resistant TB (MDR-TB) dan

Extensively drug-resistant TB (XDR-TB). Multidrug-resistant TB (MDR-TB)

disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang resisten terhadap isoniazid dan

rifampicin. MDR-TB biasanya terjadi akibat infeksi primer dari bakteri yang

sudah resisten atau dari pengobatan yang tidak maksimal yang menimbulkan

resistensi.6

Extensively drug-resistant TB (XDR-TB) merupakan bentuk infeksi

tuberculosis yang lebih berat daripada MDR-TB dimana terjadi resistensi

pengobatan lini kedua seperti amikacin, kanamycin atau capreomycin. Bentuk TB

ini tidak berespon terhadap pengobatan selama 6 bulan dengan pengobatan lini

pertama dan perlu pengobatan selama 2 tahun atau bahkan lebih.6

3.6 Diagnosa Banding

Banyak diagnosa banding yang dapat dikemukakan karena tuberculosis

dapat menimbulkan infeksi yang sistemik yang menyerupai penyakit lainnya .

38
Beberapa diagnosa banding Tuberculosis Paru yang mungkin dapat

dipertimbangkan antara lain Actinomycosis, Aspergillosis, Bronchiectasis,

Histoplasmosis, Abses paru, Keganasan, Nocardiosis, dan pneumonia.17

3.7 Penatalaksanaan

Pada pasien yang baru pertama kali menderita Tuberkulosis

Rekomendasi pertama adalah pemberian 2HRZE/4HR kecuali pada penderita

TB sistem saraf pusat, TB tulang yang membutuhkan terapi lebih lama.

Rekomendasi kedua adalah pemberian 2HRZE/6HE. Pemberian tiga kali

seminggu Isoniazid dan rifampicin(2HRZE/4(HR)3) pada fase lanjutan

merupakan pilihan lain yang dapat dilakukan namun perlu dilakukan pemantauan

ketat menelan obat. Pemberian regimen tiga kali seminggu baik pada fase intensif

maupun fase lanjutan (2(HRZE)3/4(HR)3) merupakan alternatif terakhir yang

dapat diberikan asalkan pasien tidak tinggal dalam lingkungan yang rentan dengan

infeksi HIV. Secara umum pemberian regimen pengobatan setiap hari lebih

diutamakan karena angka keberhasilan pengobatan lebih tinggi dibanding dengan

metode pemberian 3 kali seminggu.18

WHO tidak lagi menyarankan pemberian ethambutol pada fase intensif

pasien dengan TB non-kavitas, BTA Negatif atau TB ekstraparu pada pasien

dengan HIV negatif. Namun demikian, walaupun masih tergolong lemah bukti,

pada pasien yang tinggal di negara dengan resistensi isoniazid yang tinggi,

pemberian Ethambutol pada fase lanjutan dapat dipertimbangkan walaupun

dengan resiko gangguan visual yang tinggi. 18

39
Tabel 1. Dosis Antituberculosis pada dewasa.

(dikutip dari kepustakaan nomor 18)

Monitoring Terapi

Pada pasien TB paru baik pasien baru maupun pasien relaps yang

ditangani dengan regimen lini pertama, pemeriksaan sputum dilakukan setelah

fase intensif selama 2 bulan. Beberapa bukti menunjukkan bahwa hasil apusan

tahan asam bukan merupakan indikator utama untuk menentukan kegagalan

terapi.18

Bila pasien menunjukkan hasil positif pada smear bulan kedua, makan

pemeriksaan smear tahan asam dilanjutkan pada bulan ketiga. Bila hasil pada

bulan ketiga masih menunjukkan hasil positif maka harus dilakukan kultur sputum

dan tes sensitivitas antibiotik. Pemeriksaan tetap dilanjutkan hingga bulan ke 5

dan ke 6. Bila masih positif maka pengobatan dianggap gagal. 18

40
Tabel 2. Pedoman Monitoring Sputum pada pasien TB baru dengan regimen lini pertama

(dikutip dari kepustakaan nomor 18)

Pada pasien yang diobati dengan regimen rifampicin, bila hasil smear

ditemukan positif pada fase intensif yang sudah selesai, tidak direkomendasikan

untuk memperpanjang fase intensif. 18

Pada pasien yang sudah pernah mendapat pengobatan sebelumnya, pasien

perlu menjalani tes kultur sputum dan sensitivitas antibiotik rifampicin dan

isoniazid sebelum memulai pengobatan. Di negara dengan tes sensitivitas

antiobitik yang rutin dilakukan, regimen pengobatan mengacu pada hasil tes

sedangkan pada negara yang jarang menjalankan tes sensitivitas antibiotik,

pengobatan didasarkan pada empirisme atau regimen MDR-TB. 18

41
Regimen yang dapat diberikan pada pasien dengan relaps dengan

pengobatan lini pertama adalah 2HRZES/1HRZE/5HRE dengan catatan bahwa

negara tersebut tergolong negara dengan insidensi MDR yang rendah. 18

Tabel 3. Pedoman Monitoring Sputum pada pasien TB retreatmen dengan regimen lini pertama

(dikutip dari kepustakaan nomor 18)

Saat ini obat kombinasi tetap atau Fixed Drug Combination (FDC) sering

digunakan walaupun dalam kenyataanya WHO belum mengkaji lebih lanjut

mengenai FDC. Akan tetapi WHO tetap merekomendasikan penggunaan FDC

untuk mencegah insidensi obat yang tidak terminum yang berujung pada resistensi

pengobatan.18

3.8 PROGNOSIS

Secara umum angka kesembuhan dapat mencapai 96-99% dengan

pengobatan yang baik. Namun angka rekurensi tuberculosis dapat mencapai 0-

14% yang biasanya muncul 1 tahun setelah pengobatan TB selesai terutama di

negara dengan insidensi TB yang rendah. Reinfeksi lebih sering terjadi pada

pasien di negara dengan insidensi yang tinggi. Prognosis biasanya baik tergantung

42
pada selesainya pengobatan. Prognosis dipengaruhi oleh penyebaran infeksi

apakah telah menyebar ekstra paru, immunokompeten. Usia tua serta riwayat

pengobatan sebelumnya. Indeks massa tubuh yang melambangkan status gizi juga

menjadi faktor yang mempengaruhi prognosis.2,17

43
DAFTAR PUSTAKA

1. Fauci, Anthony S. Kasper, Dennis L. Longo, Dan L. Braunwald, Hauser,


Eugene Stephen L. Jameson, J. Larry. Loscalzo, Joseph. Chapter 158
Tuberculosis in: Harrison principle of internal medicine 17th edition.
USA: Mc Graw Hill. 2008
2. Iseman, Michael D. Chapter 345 Tuberculosis in: Goldman, Lee. Ausiello,
Dennis. Cecil medicine 23rd edition. Philadelphia: Elsevier Saunders.
2008.
3. Baliga, Ragavendra. Hough, Rachel. Haq, Iftikhar. Crash course internal
medicine. United Kingdom: Elsevier Mosby. 2007.
4. Fitzpatrick, Lisa K. Braden, Christopher. Chapter 294 Tuberculosis in:
Humes, David. Dupont, Herbert L. Kelley textbook of medicine USA:
Lippincott Williams & Wilkins 2000.
5. World Health Organization. World Global Tuberculosis Control 2011.
Geneva World Health Organization. 2011
6. World Health Organization. Multi drug and extensively drug 2010 global
report on surveillance and response. Geneva: World Health Organization
2011
7. World Health Organization. World Global Tuberculosis Control 2010.
Geneva World Health Organization. 2010
8. Rao, C. Kosen, S. Bisara, D. Usman, Y. Adair, T. Djaja, S. Suhardi, S.
Soemantri, S. Lopez, AD. Tuberculosis mortality differentials in Indonesia
during 2007-2008: evidence for health policy and monitoring. Int J Tuberc
Lung Dis. 2011 Dec;15(12):1608-14.
9. Eastman et all. Getting started in clinical radiology from image to
diagnosis. Germany:Thieme. 2006

44
10. Waite, Stephen. Jeudy, Jean. White, Charles S. Chapter 12. Acute lung
infections in normal and immunocompromised hosts in : Mirvis, Stuart E.
Shanmuganathan, Kathirkamanathan. Emergency chest imaging. Canada:
Elsevier 2006.
11. Ganguly KC, Hiron MM, Mridha ZU, Biswas M, Hassan MK, Saha SC,
Rahman MM. Comparison of sputum induction with bronchoalveolar
lavage in the diagnosis of smear negative pulmonary tuberculosis.
Mymensingh Med J. 2008 Jul;17(2):115-23.
12. Mohan A, Sharma SK. Fibreoptic bronchoscopy in the diagnosis of
sputum smear-negative pulmonary tuberculosis: current status. Indian J
Chest Dis Allied Sci. 2008 Jan-Mar;50(1):67-78.
13. Coulter JB. Diagnosis ofpulmonary tuberculosis in young children.Ann
Trop Paediatr. 2008 Mar;28(1):3-12.
14. Dinnes J, Deeks J, Kunst H, Gibson A, Cummins E, Waugh N,
Drobniewski F, Lalvani A. A systematic review of rapid diagnostic tests
for the detection of tuberculosis infection. Health Technol Assess. 2007
Jan;11(3):1-196.
15. Nataraj G. Newer diagnostics for detection of multidrug-resistant
tuberculosis. J postgrad Med 2011;57:267-269
16. Rachow, Andrea. Zumla, Alimuddin. Heinrich, Norbert. Rojas-
Ponce,Gabriel. Mtafya,Bariki. Reither, Klaus et al. Rapid and accurate
detection of mycobacterium mtuberculosis in sputum samples by cepheid
xpert mtb/rif assaya clinical validation study. PLoS ONE 6(6): e20458.
doi:10.1371/journal.pone.0020458. 2011
17. Herchline, Thomas E. Tuberculosis. [online] updated December 9 2011.
Cited at december 18 2011.Downloaded from
www.emedicine.medscape.com/article/230802- overview
18. World Health Organization. Treatment of tuberculois, guidelines. Geneva:
World Health Organization. 2011

45