Anda di halaman 1dari 4

Khazanahalquran.

com Pada bagian sebelumnya, kita telah mendapat kesimpulan bahwa


Islam tidak memberi celah sedikitpun bagi pengikutnya membalas ejekan orang lain.
Walaupun untuk demi menyampaikan kebenaran, walaupun dengan alasan untuk membela
Islam, Allah tidak pernah memberi izin untuk membalas ejekan.

Kecepatan dunia maya dalam menyebarkan sesuatu membuat banyak orang yang ingin
menyuarakan islam dan menyampaikan kebenaran. Tapi banyak dari mereka yang terbawa
arus hingga emosi dan saling mencaci.

Jika Allah tidak memberi celah sedikitpun untuk membalas ejekan, lalu bagaimana sikap kita
menghadapi orang yang menghina pendapat kita, mengejek kita bahkan mengolok-olok
kebenaran?

Jawaban Al-Quran hanya ada satu cara, diam dan berpaling. Bahkan Allah melarang kita
melayani orang-orang bodoh yang hanya bermodal cacian.

Ayat pertama Allah berfirman,

-







-

Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan
orang-orang yang bodoh. (Al-Araf 199)

Sebelumnya kita telah mengetahui bahwa orang bodoh itu ada dua macam. Orang yang tidak
mengerti dan sadar bahwa dirinya tidak tau. Dan orang yang bodoh tapi merasa paling pintar
dan paling benar.

Menghadapi orang yang merasa paling benar tidak bisa lagi dengan argumen. Mungkin
mereka tidak bisa membantah argumen kita, tapi mereka mulai memakai senjata cacian untuk
memancing agar kita mengikuti pola kotor mereka. Dan jawaban terbaik bagi orang seperti
ini adalah diam dan berpaling darinya.

Tidak menjawab orang yang bodoh itu adalah sebuah jawaban

Baca sejarah para nabi, khususnya nabi kita Muhammad saw. Segala perkataan keji
dilontarkan kepada mereka tapi tidak ada balasan dari para nabi kecuali kebaikan dan
keindahan.

Karena penyeru tidak boleh masuk dalam dunia caci mencaci. Bersabar dan berpaling dari
orang yang mencaci kita memang bukan hal yang mudah, karenanya Allah berfirman kepada
Rasulullah saw,

-






-

Dan bersabarlah (Muhammad) terhadap apa yang mereka katakan dan tinggalkanlah
mereka dengan cara yang baik. (Al-Muzzamil 10)
Allah swt berpesan untuk bersabar menghadapi mereka karena menahan diri untuk tidak
membalas ejekan bukanlah hal yang mudah. Setelah itu tinggalkanlah mereka dengan cara
yang baik.

Cara ini lebih menyakitkan orang yang mencaci kita dibanding kita membalasnya dengan
cacian. Karena tujuan mereka memang untuk memancing kita masuk dalam lubang caci
mencaci.

Ayat kedua Allah berfirman,

-









-

Kemudian jika mereka membantah engkau (Muhammad) katakanlah, Aku berserah diri
kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku. (Ali Imran 20)

Ayat diatas menjelaskan ketika Rasulullah saw berdialog dengan orang-orang Kristen Najran,
Rasul mulai menyampaikan dalil-dalilnya yang begitu kuat. Ketika mereka tidak bisa
menjawab dalil Nabi, akhirnya mereka mulai membantah dan mencaci beliau. Saat itu pula
turun ayat yang memerintahkan Rasulullah untuk pasrah dan tidak melayani mereka. Aku
berserah diri kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku.

Ayat ketiga Allah berfirman,

















- -

Dan apabila mereka mendengar perkataan yang buruk, mereka berpaling darinya dan
berkata, Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amal kamu, salam bagimu, kami
tidak ingin (bergaul) dengan orang-orang bodoh. (Al-Qashas 55)

Para Ahlul Kitab yang berpegang teguh pada ajarannya mulai masuk islam dan mengikuti
Rasulullah saw. Resiko mereka adalah selalu diejek dengan kata-kata yang keji dan buruk.
Tapi mereka tidak pernah melayaninya, mereka hanya menjawab, Bagi kami amal-amal kami
dan bagimu amal-amal kamu, salam bagimu, kami tidak ingin (bergaul) dengan orang-orang
bodoh.

Salam yang dimaksud adalah untuk mengakhiri pembicaraan dan tidak ada waktu untuk
melayani orang-orang bodoh itu. Sering caci mencaci itu mulai dari kata-kata yang
sederhana. Semakin panas semakin keluar kata-kata yang keji bahkan hingga mengejek fisik
seseorang. Alangkah biadabnya seorang yang menghina fisik seseorang.
Bayangkan, jika seorang melihat suatu lukisan kemudian dia mencacinya, kira-kira siapa
yang sebenarnya di caci? Lukisan itu atau pelukisnya?

Seorang yang menghina fisik orang lain sama saja dia menghina penciptanya, Naudzubillah !

Kebenaran harus disampaikan dengan cara yang benar. Kebenaran tidak perlu dibela dengan
hal-hal yang kotor. Diam bukan berarti kalah, diam saat dicaci adalah tanda orang berakal.
Dan ikut terpancing untuk mencaci berarti kita sama bodohnya dengan si pencaci itu.

Jangan pernah ragu hingga merasa harus membela kebenaran apapun caranya. Kebenaran itu
ada pemiliknya, dan Sang Pemilik Kebenaran tidak akan tinggal diam. Bagi kami amal-amal
kami dan bagimu amal-amal kamu, salam bagimu, kami tidak ingin (bergaul) dengan orang-
orang bodoh.

Selamat tinggal orang-orang frustasi yang hanya bermodal mencaci, kami adalah umat yang
ingin menyebar kedamaian dan ketentraman di muka bumi. Tidak layak bagi kami untuk
melayani cacian kalian.

Sekali lagi, jangan pernah menganggap diam itu kalah. Kita sedang memperjaungkan agama
Allah bukan ingin memenangkan ego kita sendiri, karena itu harus dengan cara-cara yang
direstui-Nya.

Ayat keempat Allah berfirman,

-












-

Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di
bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-
kata yang menghina), mereka mengucapkan, salam, (Al-Furqan 63)

Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih, para penyeru kebenaran harus penuh dengan
rahmat dan kasih sayang. Salam dalam ayat ini bukan bermakna memberi salam, tapi ingin
menunjukkan kami tidak memiliki waktu untuk menjawab cacian, kami hanya ingin
membawa kedamaian dan keselamatan.

Jadikan telinga kita seakan tuli dari cacian mereka dan selalu berpikir, mungkin bukan saya
yang dimaksud. Seperti kata pepatah arab,

Kesabaranku itu tuli walaupun telingaku bisa mendengar

Suatu hari, cucu Rasulullah yang bernama Muhammad Al-Baqir pernah didatangi seseorang
kristen. Tiba-tiba ia berkata, Kamu adalah baqor (sapi)
Beliau menjawab, Tidak, aku baqir

Kamu anak dari tukang masak itu? Bentaknya.

Benar, itulah pekerjaan ibuku. Jawab Al-Baqir tanpa berubah raut wajahnya.

Kamu adalah putra dari wanita hitam yang berbuat nista. Kata orang tersebut.

Jika kamu benar, semoga Allah mengampuni ibuku. Jika kamu salah, semoga Allah
mengampunimu Jawabnya.

Seketika orang itu menangis melihat kesabaran Al-Baqir dan meminta maaf kepada beliau.
Saat itu juga ia masuk islam. Orang yang paling dungu adalah ia yang merasa paling benar
dan tidak mau menerima pendapat orang lain.

Imam Ali pernah berpesan,

Janganlah kamu berteman dengan orang yang dungu. Ia ingin memberi manfaat
kepadamu tapi malah menyusahkanmu.

Nabi Isa as juga pernah bersabda tentang orang dungu,

Aku diberi kemampuan oleh Allah untuk menyembuhkan orang yang sakit belang dan
buta. Bahkan aku bisa menghidupkan orang mati atas izin Allah. Tapi aku tak pernah
mampu mengobati orang dungu.

Kita membawa nama Islam dalam berdakwah, bukan membawa nama pribadi. Maka kita
tidak punya hak sedikitpun untuk melakukan sesuatu yang semakin mengotori nama islam.

Stop berdebat ! Stop Mencaci ! Stop Mengejek !

Nama Islam dirusak oleh para pengikutnya sendiri karena kaum muslimin hanya mengambil
sepotong darinya. Masuk islam harus sempurna, tidak hanya mengambil sebagian.

Menyuarakan islam dengan cara yang tidak islam hanya akan semakin merusak
kemuliaannya. Dan kita tidak pernah menganggap para pencaci itu orang bodoh, namun
perilaku mereka menampakkan kebodohan.


-


-

Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan. (Al-
Baqarah 208)