Anda di halaman 1dari 14

LABORATORIUM ELEKTRONIKA INDUSTRI

TIMER 555 SEBAGAI MULTIVIBRATOR

I. TUJUAN
1. Untuk mengetahui jenis-jenis multivibrator
2. Untuk mengetahui prinsip dasar sebuah multivibrator menggunakan IC Timer
555
3. Untuk mengetahui aplikasi Timer 555

II. DASAR TEORI


Multivibrator adalah suatu rangkaian yang mengeluarkan tegangan bentuk blok.
Sebenarnya MV adalah merupakan penguat transistor dua tingkat yang dikopel dengan
kondensator, dimana output dari tingkat yang terakhir akan dikopelkan dengan pertama,
sehingga kedua transistor itu akan saling menyumbat. MV ada yang berguncang bebas (free
running) dan tersulut (triggering) ada 3 jenis Multivibrator, yaitu :
1. Astabil Multivibrator
2. Monostabil Multivibrator
3. Bistabil Multivibrator
Rangkaian lain yang mampu menghasilkan bentuk gelombang kotak yang berasal dari
suatu inputan ialah SCHMITT TRIGGER. Pada dasarnya merupakan komparator yang memiliki
nilai hysterisis, dimana nilai ini dibatasi oleh UTP dan LTP. Rangkaian ini banyak dipakai pada
saklar elektronik, pembangkit gelombang asimetris.
Astabil Multivibrator
Tidak memiliki kondisi yang mantap jadi akan selalu berguling dari satu kondisi ke
kondisi yang lain. Disebut sebagai multivibrator astable apabila kedua tingkat tegangan keluaran
yang dihasilkan oleh rangkaian multivibrator tersebut adalah quasistable. Disebut quasistable
apabila rangkaian multivibrator membentuk suatu pulsa tegangan keluaran sebelum terjadi
peralihan tingkat tegangan keluaran ke tingkat lainnya tanpa satupun pemicu dari luar. Pulsa
tegangan itu terjadi selama 1 periode (T1), yang lamanya ditentukan oleh komponen-komponen
penyusun rangkaian multivibrator tersebut. Rangkaian tersebut hanya mengubah keadaan tingkat
tegangan keluarannya di antara 2 keadaan, masing-masing keadaan memiliki periode yang tetap.
Jika sirkit dihubungkan seperti ditunjukkan gambar 2.1 (pins 2 dan 6 dihubungkan). Itu akan
memicu dirinya sendiri dan bergerak bebas sebagai multivibrator, rangkaian multivibrator
tersebut akan bekerja secara bebas dan tidak lagi memerlukan pemicu. Multivibrator adalah
suatu rangkaian elektronika yang pada waktu tertentu hanya mempunyai satu dari dua tingkat
tegangan keluaran, kecuali selama masa transisi.Multivibrator astabil merupakan rangkaian
penghasil gelombang kotak yang tidak memiliki keadaan yang mantap dan selalu berguling dari
satu kondisi ke kondisi yang lain (free running).
LABORATORIUM ELEKTRONIKA INDUSTRI

Berikut ini adalah gambar rangkaian multivibrator astabil dan gelombang yang dihasilkan :

(a) (b)
Gambar 2.1. (a). Rangkaian Multivibrator Astable, (b). Gelombang yang dihasilkan

Monostabil Multivibrator
Memiliki satu kondisi yang stabil dan satu kondisi yang tidak stabil Pada operasi ini,
pengatur waktu berfungsi sebagai satu tingkat keluaran (one shot). Disebut sebagai multivibrator
monostable apabila satu tingkat tegangan keluarannya adalah stabil sedangkan tingkat tegangan
keluaran yang lain adalah quasistable. Rangkaian tersebut akan beristirahat pada saat tingkat
tegangan keluarannya dalam keadaan stabil sampai dipicu menjadi keadaan quasistable. Keadaan
quasistable dibentuk oleh rangkaian multivibrator untuk suatu periode T1 yang telah ditentukan
sebelum berubah kembali ke keadaan stabil. Sebagai catatan bahwa selama periode T1 adalah
tetap, waktu antara pulsa-pulsa tersebut tergantung pada pemicu. Tegangan keluaran
multivibrator ini. Kapasitor eksternal pada awalnya di isi dan kemudian dikosongkan kembali
oleh suatu transistor yang berada di dalam LM555. Pada aplikasi, suatu pulsa picu negatif kurang
dari 1/3 VCC di pin 2, flip-flop di set untuk menghubung-singkatkan agar terjadi pelepasan
kapasitor dan menggerakan keluaran menjadi tinggi. Berikut ini adalah gambar rangkaian
multivibrator monostabil :

Gambar 2.2. Rangkaian Multivibrator Monostabil


LABORATORIUM ELEKTRONIKA INDUSTRI

Bistabil Multivibrator
Memiliki dua keadaan yang stabil. Disebut sebagai multivibrator bistable apabila kedua
tingkat tegangan keluaran yang dihasilkan oleh rangkaian multivibrator tersebut adalah stabil dan
rangkaian multivibrator hanya akan mengubah kondisi tingkat tegangan keluarannya pada saat
dipicu. Merupakan rangkaian yang dapat menghasilkan gelombang kotak yang berasal dari suatu
input.

Gambar 2.3. Rangkaian Multivibrator Bistabil


(http://robby.c.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/8011/eldas.pdf)

Sekumpulan rangkaian berkeadaan dua yang berguna untuk menghasilkan pulsa dan
gelombang segipanjang ( gelombang kuadrat = square wave ) dinamakan multivibrator. Operasi
rangkaian tersebut adalah sedemikian rupa sehingga bila sebuah pengeras putus (OFF), maka
simpal feedback positif mempertahankan pengeras yang lainnya dalam keadaan menghantar
(ON). Bila sebiah pemicu menyebabkan satu pengeras berubah keadaan, maka jaringan
pengkopelakan bertindak untuk mengubah keadaan pengeras yang kedua. Keluaran-kelurannya
adalah berlawanan dengan pengertian bahwa satu dari keluaran tersebut menunjukkan peralihan
dari keadaan OFF ke keadaan ON. Dan keluaran yang satu lagi menunjukkan peralihan dari
keadaan ON ke keadaan OFF.
Karena ada dua jenis keadaan yang mungkin, maka akan memudahkan untuk
menggolongkan rangkaian multivibrator bayaknya keadaan stabil yang dimiliki oleh masing-
masing multivibrator. Multivibrator bistabil memerlukan rangkaian dua pemicu untuk
mengembalikan rangkaian ke keadaan aslinya yang semula. Pemicu pertama menyebabkan
transistor ON terputus, dan pemicu kedua menyebabkan peralihan kembali ke keadaan
menghantar. Karena diperlukan dua pemicu, maka bistabil seringkali dinamakan perubahan (flip-
flop). Sebuah pemicu tunggal yang dipakaikan kepada sebuah multivibrator monostabil atau
multivirator eka mantap akan memutuskan transistor yang biasanya ON, yang menyebabkan
transistor yang terputus akan menghantar. Keadaan yang baru ini adalah sebuah keadaan yang
kuasai stabil yang akhirnya akan menyebabkan sebuah peralihan kembali ke keadaannya yang
semula. Multivibrator yang stabil atau multivibrator yang bergerak bebas mengandung dua
LABORATORIUM ELEKTRONIKA INDUSTRI

keadaan kuasai stabil, dan osilasi terjadi dengan pengeras-pengeras yang secara terus menerus
berganti dari satu keadaan ke keadaan yang lain. Rangkaian tersebut akan tereksitasi sendiri dan
tidak akan memerlukan pemicu luar. Dalam beberapa keadaan, maka transistor dalam keadaan
menghantar akan beroperasi dalam daerah jenuh. Akan tetapi, sering kali transistor tersebut tidak
diinginkan beroperasi dalam kejenuhan karena sifat pembatasan laju penggantian ; maka keadaan
menghantar tersebuta akan dibatasi kepada daerah aktif. Sebagai konsekuensinya, multivibrator
disebut sebagai rangkaian penjenuh (saturating) atau rangkaian tak jenuh (non-saturating). Hanya
rangkaian penjenuh yang dibicarakan dalam bagian ini. Pada rangkaian sebuah multivibrator
bistabil lengan dua yang khas. Setiap tahap pengeras terdiri dari sebuah transistor Q dan
hambatan beban RL. Nilai RL dipilih untuk mencapai arus pengumpul yang di dalam kejenuhan.
Tegangan bekal VBB dan tegangan bekal VCC digunakan untuk menghasilkan arus bias yang
sesuai pada setiap transistor.
Dua hal yang harus diperhatikan mengenai proses penggantian : Pertama, pulsa yang
digunakan untuk penggantian hanya perlu dipakaikan untuk waktu yang mencukupi pulsa
perubahan; pulsa tersebut kemudian dapat dihilangkan. Kedua jika sebuah pulsa digunakan untuk
mempengaruhi penggantian, maka dua buah pulsa positif diperlukan untuk penggantian
berikutnya, dan begitu seterusnya. Bentuk gelombang keluaran diidealkan untuk multivibrator
bistabil. Ada beberapa konfigurasi rangkaian yang digunakan untuk merealisir perubahan. Sifat-
sifat dan pemanfaatan rangkaian ini sebagai elemen komputer digital.
(Fitzgerald, 1985)
Astable multivibrator yang dibangun menggunakan IC pembangkit gelombang 555 cukup
sederhana, karena hanya menambahkan fungsi rangkaian tangki selain IC 555 itu sendiri. IC
pembangkit gelombang 555 merupkan chip yang didesain khusus untuk keperluan pembangkit
pulsa pada multivibrator dan timer. Tank circuit yang digunakan untuk membuat multivibrator
astabil dengan IC 555 cukup menggunakan reistor (R) dan kapasitor (C). Rangkaian dasar
multivibrator astabil yang dibangun menggunakan IC 555 dapat dilihat pada gambar rangkaian
berikut. Rangkaian Astable Multivibrator IC 555 Rangkaian Astable Multivibrator IC
555,astable multivibrator,astabil 555,ic 555 astabil multivibrator,prinsip kerja astabil
555,multivibrator astbil,multivibrator astabil 555,pengertian astabil multivibrator,teori astabil
555 Pada rangkaian tank cirucit multivibrator astabil dengan IC 555 diperlukan dua resistor,
sebuah kapasitor. Kemudian untuk merangkai tank circuit tersebut resistor RA dihubungkan
antara +VCC dan terminal discharger (pin 7). Resistor RB dihubungkan antara pin 7 dengan
terminal treshod (pin 6). Kapasitor dihubungkan antara pin treshold dan ground. Triger (pin 2)
dan input treshold (pin 6) dihubungkan menjadi satu.
Osilator merupakan sebuah bagian daripada rangkaian yang bersifat generative yang
dapat dikelompokkan. Multivibrator tersebut bisa kita kelompokkan ke dalam bistabil,
monostabil dan astabil. Pada sebuah rangkaian yang dapat dikatakan rangkaian multivibrator
bistabil memiliki sebuah ciri yaitu rangkaian ini akan tetap berada pada tingkat keluaran yang
LABORATORIUM ELEKTRONIKA INDUSTRI

akan diberikan namun tentu saja dengan ketentuan yaitu apabila tidak akan dikenakan oleh sinyal
atau trigger dari luar. Pada sebuah penerapan sinyal yang berasal dari luar tersebut tentu saja
akan mengakibatkan sebuah perubahan-perubahan keadaan yang berasal dari tingkat keluaran
tersebut dan akan tetap sampai ada sinyal luar berikutnya. Jadi pada sebuah rangkaian bistabil
dapat kita katakan memerlukan dua sinyal sebelum kembali ke keadaan awal tersebut.
Pada sebuah multivibrator monostabil, atau dapat dikatakan juga yaitu one-shot, maka
tentu saja akan menghasilkan sebuah pulsa dengan selang-selang waktu tertentu dan didalam
menangggapi suatu sinyal-sinyal trigger yang berasal dari luar. Tentu saja ini menandakan bahwa
tentu saja hanya satu saja keadaan-keadaanya tersebut yang dapat dikatakan stabil. Pada
penerapan trigger tersebut tentu saja akan mengakibatkan sebuah perubahan-perubahan ke
sebuah keadaan kuasistabil. Namun pada sebuah rangkaian yang tetap berada pada keadaan-
keadaan kuasistabil tersebut dan pada selang waktu yang dapat ditentukan dan tentu saja akan
langsung kembali ke keadaan asal. Hal ini tentu saja akan mengakibatkan sinyal-sinyal trigger
internal tersebut akan dibangkitkan dan menghasilkan transisi ke keadaan stabil.
Pada sebuah multivibrator astabil atau dikenal juga dengan nama free running, dapat
didefinisikan juga bahwa sebuah multivibrator tersebut dan memiliki dua keadaan yaitu
kuasistabil ataupun juga dengan kata lain bukan keadaan stabil, dan pada sebuah kondisi-kondisi
rangkaian berosilasi tersebut tentunya. Namun, otomatis lamanya rangkaian-rangkaian tersebut
akan berada pada suatu keadaan-keadaan yang ditentukan oleh harga komponen-komponennya
tersebutSaat ini kita juga akan membahas mengenai dua buah tingkat tegangan biner, yaitu v(1) =
VDD dan V(0) = 0. Tentu saja akan dapat dimisalkan bahwa pada tingkat tegangan ambang
NMOS tersebut dapat diletakkan transistor penggerak vT>0. Pada kecepatan penyambungannya
tersebut tentu saja akan bernilai jauh lebih kecil jika kita bandingkan dengan setiap periode-
periode pulsa keluaran.
Beberapa tahap yang sudah diketahui, maka mula-mula pada saat sebelum trigger
tersebut akan diterapkan, yakni: pada saat t<0. Pada saat tersebut, tentu arus dari VDD, IR = 0,
dan tentu saja pada tegangan yang berada pada titik x, Vx = VDD = V(1). Osilator merupakan
sebuah bagian daripada rangkaian yang bersifat generative yang dapat dikelompokkan.
Multivibrator tersebut bisa kita kelompokkan ke dalam bistabil, monostabil dan astabil. Pada
sebuah rangkaian yang dapat dikatakan rangkaian multivibrator bistabil memiliki sebuah ciri
yaitu rangkaian ini akan tetap berada pada tingkat keluaran yang akan diberikan namun tentu saja
dengan ketentuan yaitu apabila tidak akan dikenakan oleh sinyal atau trigger dari luar. Pada
sebuah penerapan sinyal yang berasal dari luar tersebut tentu saja akan mengakibatkan sebuah
perubahan-perubahan keadaan yang berasal dari tingkat keluaran tersebut dan akan tetap sampai
ada sinyal luar berikutnya. Jadi pada sebuah rangkaian bistabil dapat kita katakan memerlukan
dua sinyal sebelum kembali ke keadaan awal tersebut.
Pada sebuah multivibrator monostabil, atau dapat dikatakan juga yaitu one-shot, maka
tentu saja akan menghasilkan sebuah pulsa dengan selang-selang waktu tertentu dan didalam
LABORATORIUM ELEKTRONIKA INDUSTRI

menangggapi suatu sinyal-sinyal trigger yang berasal dari luar. Tentu saja ini menandakan bahwa
tentu saja hanya satu saja keadaan-keadaanya tersebut yang dapat dikatakan stabil. Pada
penerapan trigger tersebut tentu saja akan mengakibatkan sebuah perubahan-perubahan ke
sebuah keadaan kuasistabil. Namun pada sebuah rangkaian yang tetap berada pada keadaan-
keadaan kuasistabil tersebut dan pada selang waktu yang dapat ditentukan dan tentu saja akan
langsung kembali ke keadaan asal. Hal ini tentu saja akan mengakibatkan sinyal-sinyal trigger
internal tersebut akan dibangkitkan dan menghasilkan transisi ke keadaan stabil.
Pada sebuah multivibrator astabil atau dikenal juga dengan nama free running, dapat
didefinisikan juga bahwa sebuah multivibrator tersebut dan memiliki dua keadaan yaitu
kuasistabil ataupun juga dengan kata lain bukan keadaan stabil, dan pada sebuah kondisi-kondisi
rangkaian berosilasi tersebut tentunya. Namun, otomatis lamanya rangkaian-rangkaian tersebut
akan berada pada suatu keadaan-keadaan yang ditentukan oleh harga komponen-komponennya
tersebutSaat ini kita juga akan membahas mengenai dua buah tingkat tegangan biner, yaitu v(1) =
VDD dan V(0) = 0. Tentu saja akan dapat dimisalkan bahwa pada tingkat tegangan ambang
NMOS tersebut dapat diletakkan transistor penggerak vT>0. Pada kecepatan penyambungannya
tersebut tentu saja akan bernilai jauh lebih kecil jika kita bandingkan dengan setiap periode-
periode pulsa keluaran.
Pada sebuah gerbang logika NOR2 tersebut tentu saja akan mengakibatkan nilai-nilai
keluarannya tersebut akan selalu mempunyai kebalikan-kebalikan tanda dengan nilai-nilai
masukannya sehingga tegangan keluaran NOR2 akan sama dengan nol, sehingga nilai dari V02 =
V(0) = 0. Karena hal tersebut, maka otomatis tentu saja dari hubung singkat pada setiap keluaran
NOR2 dan akan dilakukan sesuatu masukan dengan NOR1, maka yang akan terjadi yaitupada
setiap selang waktu t<0 dengan nilainya masing-masing dimana Vin= 0, dan nilai satu lagi yaitu
V01 = VDD = 1. Pada sebuah gerbang logika NOR2 tersebut tentu saja akan mengakibatkan nilai-
nilai keluarannya tersebut akan selalu mempunyai kebalikan-kebalikan tanda dengan nilai-nilai
masukannya sehingga tegangan keluaran NOR2 akan sama dengan nol, sehingga nilai dari V02 =
V(0) = 0.
Hanya saja pada saat nilai t = 0 yakni saat trigger tersebut akan diberikan nilai (Vin > VT
maka otomatis akan terjadi transisi pada setiap gerbang-gerbang NOR1, dimana telah diketahui
bahwa nilai-nilai keluarannya tersebut akan berubah-ubah dari nilainya V01 = V(1) = dan
akan berubah nilai menjadi V01 = V(0) = 0. Karena seperti diketahui bahwa pada setiap
tegangan-tegangan tersebut tidak segera berubah dalam waktu berbeda-beda, misalkan saja T1,
maka otomatis besarnya nilai VC(0+) = 0 dan juga pada VX (0+) = 0. Maka pada setiap
pemberian V(0) untuk setiap masukan-masukan NOR2 akan mengakibatkan sebuah keluaran-
keluaran mengakibatkan pada setiap selang waktu t=0+. Akibat daripada nilai-nilat tegangan VC
tersebut akan mengarah ke sebuah pengisian kapasitor-kapasitor dari nilai-nilai VDD lewat
sebuah tahanan yang akan dapat dilambangkan R. Otomatis hal ini akan membut VX = VT
dengan nilainya tersebut NOR2 akan langsung kembali ke kedudukan awal yaitu Vo2 = 0. Akibat
LABORATORIUM ELEKTRONIKA INDUSTRI

daripada transisi-transisi yang berada pada NOR1 dan juga daripada nilai-nilai V(0) kenilai
V(1). Hanya saja dapat juga kita katakana bahwa pada setiap waktu-waktu transisi tersebut (T1)
akan dapat kita tentukan sendiri
Pada sebuah multivibrator astabil tentu juga akan berlaku ketentuan yang diketahui
yaitu nilai V(0) = 0 dan juga nilai V(1) = VDD dan tentu saja pada nilai VT = VDD/2. Akan tetapi
tentu saja pada saat trigger tersebut belum akan masuk dan dengan selang waktu yaitu t=0, maka
pada Vo1 tentu saja akan mengalami sebuah transisi dengan nilai yaitu dari V(1) ke V(0)
sehingga otomatis akan membuat Vo2 tersebut akan bernilai sama dengan V(1) = VDD.
(Sutanto, 2006)
NE555 (juga LM555, CA555, dan MC 1455) digunakan secara luas pada timer IC,
rangkaian yang dapat beroperasi pada dua mode yaitu : monostabil(satu keadaan stabil) atau
astabil ( tidak memiliki keadaan stabil). Pada mode monostabil, dapat menghsilkan waktu tunda
yang akurat dari mikrodetik sampai jam. Pada mode stabil dapat menghasilkan gelombang kotak
dengan siklus aktif variable.
+ Vcc

PIN 8

PIN 2 555 PIN 3


TRIGGER TIMER KELUARAN
PIN 1
GND

Gambar 2.4. Timer 555 digunakan pada mode monostabil (one-shoot)


Gambar 2.4. mengilustrasikan operasi monostabil. Mula-mula, timer 555 mempunyai
tegangan keluaran rendah yang tidak dapat ditentukan. Saat timer 555 menerima trigger pada
titik A, tegangan keluaran akan berubah dari rendah ketinggi, seperti terlihat. Keluaran akan
tetap tinggi untuk sementara waktu, dan akan kembali ke keadaan rendah setelah waktu tunda W.
Keluaran akan tetap pada kondisi rendah sampai trigger berikutnya.
Multivibrator adalah rangkaian dua keadaan yang mempunyai nol,satu atau dua keadaan
keadaan stabil. Saat timer 555 digunakan pada mode monostabil, kadang-kadang disebut
multivibrator monostabil karena hanya mempunyai satu keadaan stabil. Multivibrator itu stabil
pada keadaan rendah sampai menerima trigger, yang menyebabkan keluaran ke keadaan tinggi.
Akan tetapi keadaaan tinggi , adalah bukan keadaan stabil karena keluaran akan mengembalikan
ke keadaan rendah pada saat pulsa terakhir. Saat beroperasi pada mode monostabil, timer 555
sering dianggap sebagai multivibrator one-shot karena akan menghasilkan hanya satu pulsa pada
setiap masukan trigger. Durasi dari pulsa keluaran ini dapat dikontrol secara presisi dengan
resistor dan kapasitor eksternal. Timer 555 adalah IC 8 pin. Gambar 2.4. menunjukan empat pin.
Pin 1 dihubungkan dengan ground, dan pin 8 dihubungkan dengan sumber tegangan positif.
Timer 555 akan bekerja pada sumber tegangan antara +4,5 dan +18 V. Trigger masuk kedalam
pin 2, dan keluaran diambil dari pin 3. Pin-pin lain, yang tidak disebutkan di sini, dihubungkan
dengan komponen eksternal yang menentukan lebar pulsa keluaran.
LABORATORIUM ELEKTRONIKA INDUSTRI

+ Vcc
+ Vcc
PIN 8

555 PIN 3
0
TIMER KELUARAN
PIN 1
GND
Gambar 2.5. Timer 555 digunakan pada mode astabil (free-running)
Timer 555 dapat juga dihubungkan untuk bekerja sebagai multivibrator astabil. Saat
digunakan pada mode ini timer 555 tidak mempunyai keadaan stabil. Yang berarti bahwa tidak
mempunyai keadaan tetap untuk jangka waktu yang tidak tentu. Atau dengan kata lain, mode ini
akan berosilasi ketika beroperasi pada mode astabil dan akan menghasilkan sinyal keluaran
rektangular. Gambar 2.5. menunjukan timer 555 yang digunakan pada metode astabil. Seperti
dapat kita lihat, keluaran adalah deretan pulsa rektangular. Karena tidak ada masukan trigger
yang digunakan untuk memperoleh keluaran, operasi timer 555 pada mode astabil sering disebut
dengan multivibrator free- running.
Gambar rangkaian timer 555 dihubungkan untuk operasi monostabil menunjukkan timer
555 yang dihubungkan untuk operasi monostabil. Rangkaian itu mempunyai resistor eksternal R
dan kapasitor C. Tegangna pada kapasitor digunakan untuk tegangan treshold ke pin 6. Saat
trigger masuk melalui pin 2, rangkaian menghasilkan pulsa keluaran rektagular melalui pin 3.
Berikut adalah teori operasinya. Mula-mula, keluaran Q dari flip-flop RS dalam keadaan
tinggi. Ini akan membuat transistor dalam keadaan jenuh dan membuat tegangan kapasitor pada
level ground. Rangkaian akan tetap dalam keadaan ini sampai masuk pulsa trigger. Karena
pembagi tegangan, trip point adalah sama seperti yang telah dibicarakan sebelumnya: UTP=
2Vcc/3 dan LTP= Vcc/3.
Saat masukan trigger jatuh sehingga kurang dari Vcc/3, komparator bawah akan mereset
flip-flop. Karena Q berubah ke keadaan rendah , transistor menjadi cut off, karena membiarkan
kapasitor mengisi muatan. Pada saat itu, Q berubah menjadi tinggi. Kapasitor sekarang mengisi
muatan secara eksponensial seperti terlihat. Saat tegangan kapasitor lebih sedikit besar daripada
2Vcc/3, komparator sebelah atas akan mereset flip-flop. Q atas mengubah transistor yang akan
membuang muatan pada kapasitor dengan cepat. Pada waktu yang bersamaan, Q akan kembali
pada keadaan rendah dan pulsa keluaran berakhir. Q akan tetap rendah sampai masukan trigger
lainnya masuk.
Keluaran Q komplemen berasal dari pin 3. Lebar dari pulsa rektagular bergantung pada
berapa lama yang diperlukan untuk mengisi kapasitor melalui hambatan R. Semakin lama
konstanta waktu , semakin lama waktu yang diperlukan bagi tegangan kapasitor untuk mencapai
2Vcc/3. Pada satu konstanta waktukapasitor dapat mengisi 63,2 persen dari Vcc karena 2Vcc/3
setara dengan 66,7 persen Vcc sehingga akan memerlukan waktu untuk tegangan kapassitor
mencapai 2Vcc/3.
LABORATORIUM ELEKTRONIKA INDUSTRI

(A.P.Malvino, 2000)
III. PERALATAN DAN FUNGSI
3.1. Peralatan
1. Osiloskop
Fungsi : untuk memetakan atau membaca sinyal listrik maupun frekuensi yang
akan ditunjukkan oleh grafik dari tegangan terhadap waktu pada layarnya
dalam bentuk gelombang.
2. Protoboard
Fungsi : tempat merangkai komponen sementara
3. Jumper
Fungsi : untuk menghubungkan komponen yang satu dengan komponen yang
lain.
4. Kabel penjepit buaya
Fungsi : untuk menghubungkan komponen dan peralatan
5. Baterai 9 Volt
Fungsi : sebagai sumber tegangan DC

3.2. Komponen
1. Resistor 56 k dan 15 k
Fungsi : sebagai hambatan pada rangkaian
2. Kapasitor 0,1 F 2 buah
Fungsi : untuk meratakan sinyal/gelombang yang dihasilkan oleh rangkaian
3. Timer 555
Fungsi : sebagai pembangkit sinyal/clock
LABORATORIUM ELEKTRONIKA INDUSTRI

IV. PROSEDUR PERCOBAAN


1. Disediakan semua peralatan dan komponen yang akan digunakan.
2. Dirangkai komponen dan peralatan menjadi gambar percobaan sebagai berikut :

Vcc

R1 =
4 8 56 K
7
2
R2 =
IC TIMER 555 15 K
6

Vout C1 =
3 0,1 F
5
1 C2 = 0,1
F

3. Dihubungkan kaki 4 dan kaki 8 sebagai Vcc dihubungkan ke positif osiloskop dan
positif baterai.
4. Dihubungkan kaki 1 sebagai GND dihubungkan ke negatif osiloskop dan negatif
baterai.
5. Dihubungkan R1 antara +Vcc dan kaki 7.
6. Dihubungkan R2 antara kaki 7 dan kaki 6.
7. Dihubungkan kapasitor C1 dan C2 antara kaki 6 dan GND pada kaki 1.
8. Dihubungkan trigger kaki 2 dan treshold pada kaki 6 menjadi satu.
9. Dihidupkan osiloskop ke sumber tegangan (PLN).
10. Diatur tegangan dan periode yang ada pada osiloskop.
11. Diamati bentuk gelombang yang dihasilkan pada osiloskop.
12. Dihitung tegangan dan periode yang dihasilkan dari bentuk gelombang tersebut.
13. Dicatat hasil yang diperoleh pada kertas grafik.
LABORATORIUM ELEKTRONIKA INDUSTRI

VI. GAMBAR PERCOBAAN

PLN

OSILOSKOP
Time Div
Position BATERAI

Volt Div

2 Vpp 9 Volt

Vcc

R1 = 56 K
4 8
7
2 R2 = 15 K
IC TIMER 6
555 C1 = 0,1 F
3
Vout 5
1 C2 = 0,1 F
LABORATORIUM ELEKTRONIKA INDUSTRI

V. ANALISA DATA

1. Menghitung besar frekuensi secara teori pada rangkaian.


1,44
ft = (R1 + 2R2 )C

Jawab:
1,44
ft = (56+ 30)10.0,1 x 106
1,44
= = 0,0167 x 104 Hz = 0,167 x 103 Hz
86.104

2. Menghitung persen ralat

ft fpraktek
% ralat = x100%
fteori

0,167 103 0,125 103


0,167 103
= 25 %

3. Aplikasi dari timer 555. Jelaskan cara kerja timer 555 tersebut. (1 setiap praktikan)
IC timer 555 yang menggunakan multivibrator astabil dapat digunakan sebagai sirine
dan alarm. Berikut akan dijelaskan rangkaian sirine dengan menggunakan timer 555. Secara
normal, saklar ALARM akan tertutup, sehingga akan menyebabkan pin-4 terhubung ke
ground. Pada kasus ini, timer 555 tidak aktif dan tidak terdapat keluaran. Namun, saat saklar
ALARM terbuka, rangkaian akan membangkitkan keluaran gelombang kotak dengan
frekuensi yang ditentukan oleh R1,R2 dan C1. Output dari pin-3 memicu pengeras suara
melalui resistansi R4. Ukuran resistansi ini bergantung dari tegangan pencatu dan impedansi
pengeras suara. Impedansi dari cabang R4 dan speaker harus membatasi arus keluaran 200
mA atau lebih kecil karena nilai tersebut adalah arus maksimum pada timer 555.
LABORATORIUM ELEKTRONIKA INDUSTRI

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

8.1 Kesimpulan
1.Multivibrator dikelompokkan ke dalam bistabil, monostabil dan astabil.
a. Multivibrator astabil
Prinsipnya sama dengan rangkaian osilator yaitu outputnya akan berubah secara
kontiniu dari 0 ke 1 atau dari 1 ke 0, kondisi ini disebut free running.
b. Multivibrator monostabil
Rangkaian ini menggunakan prinsip pengisian (charging) dan pengosongan
(discharging) dari kapasitor melalui resistor luar. Rangkaian monostabil akan
menghasilkan pulsa tunggal dengan lama tertentu pada keluaran pin 3, jika pin 2 dari
komponen ini dipicu.
c. Multivibrator bistabil
Rangkaian ini mempunyai 2 kondisi output yang dipengaruhi oleh input pada pin
trigger dan reset, dioperasikan secara manual tanpa menggunakan RC sebagai
pengatur pewaktuan (timing).
2. Prinsip dasar dari sebuah multivibrator dengan menggunakan IC Timer 555 adalah
dapat dilakukan dengan menggunakan IC Timer 555, IC pembalik schmitt trigger
(74HC14), IC multivibrator monostabil (74121 atau 74123) ataupun osilator kristal.
Agar dapat membentuk sinyal multivibrator, maka diperlukan resistor dan kapasitor
eksternal, yaitu dengan memanfaatkan waktu pengisian dan pengosongan kapasitor,
dimana nilai resistor dan kapasitor eksternal tersebut akan berpengaruh pada periode
sinyal yang dihasilkan. Oleh karena itu monostabil hanya memiliki satu keadaan stabil
dalam hal ini adalah rendah.
3. Aplikasi dari timer 555 adalah sebagai pembangkit pulsa yang dapat di atur mode
kerjanya, sehingga dapat membentuk suatu multivibrator dan timer. Salah satu
contohnya adalah penggunaannya di rangkaian sirine dan alarm

8.2 Saran

1. Diharapkan praktikan teliti dalam merangkai rangkaian.


2. Diharapkan praktikan mengetahui prinsip kerja dari timer 555 sebagai multivibrator.
3. Diharapkan praktikan mengetahui fungsi pada kaki-kaki IC timer 555 agar mudah
dalam merangkainya.
LABORATORIUM ELEKTRONIKA INDUSTRI

DAFTAR PUSTAKA

Fitzgerald,A.E.1985.Dasar-Dasar Elektroteknik.Edisi Kelima.Jilid 2.Jakarta :Erlangga.


Halaman : 139-143
Malvino,Albert Paul.2000.Prinsip-Prinsip Elektronika.Jakarta : Salemba Teknika.
Halaman : 389-403
Sutanto. 2006. Rangkaian Elektronika Analog dan Terpadu. Jakarta : UI PRESS.
Halaman : 130-135
http://robby.c.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/8011/eldas.pdf
Diakses tanggal : 20 mei 2012