Anda di halaman 1dari 85

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KETERLAMBATAN PENYELESAIAN PROYEK KONSTRUKSI PENGARUHNYA TERHADAP BIAYA

The Cause Delay Factors Analysis of Project Construction Implementation Influence for Cost

SKRIPSI

Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik

Pada Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta

Sipil Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta Disusun Oleh: HASOLOAN BENGET SIANIPAR NIM I 0107086
Disusun Oleh: HASOLOAN BENGET SIANIPAR NIM I 0107086
Disusun Oleh:
HASOLOAN BENGET SIANIPAR
NIM I 0107086

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2012

i

ABSTRAK

HASOLOAN BENGET SIANIPAR, 2012, Analisis Faktor-Faktor Penyebab Keterlambatan Penyelesaian Proyek Konstruksi Pengaruhnya Terhadap Biaya, Skripsi, Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Sipil Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta. Suatu proyek cenderung akan mengalami keterlambatan apabila

Suatu proyek cenderung akan mengalami keterlambatan apabila perencanaan dan pengendalian tidak dilakukan dengan tepat. Berbagai hal dapat terjadi dalam proyek konstruksi yang dapat menyebabkan bertambahnya waktu pengerjaan sehingga peyelesaian proyek menjadi terlambat. Tujuan dilakukan penelitian adalah mengidentifikasi dan mengklasifikasikan faktor-faktor penyebab keterlambatan pelaksanaan pekerjaan proyek konstruksi di wilayah karasidenan Surakarta serta menerangkan hubungan faktor keterlambatan tersebut terhadap pemakaian biaya.

Pengolahan data ini menggunakan bantuan program komputer SPSS (Statistical Product and Service Solution) versi 17.00. teknik analisis data menggunakan uji validitas, reliabiliitas, teknik analisis faktor, uji asumsi klasik, dan regresi linier berganda.

Hasil penelitian ini yaitu 3 faktor baru yang diperoleh dari hasil ekstraksi analisis faktor adalah: Perubahan lingkup dan dokumen pekerjaan (Xb 1 ), Koordinasi, dan transportasi sumber daya serta keahlian tenaga kerja (Xb 2 ), Sistem evaluasi dan perencanaan (Xb 3 ) serta menghasilkan satu model persamaan linier berganda untuk menerangkan hubungan ketiga faktor di atas dengan biaya.

Kata kunci : Analisis Faktor, keterlambatan proyek konstruksi, biaya.

vi

ABSTRACT

HASOLOAN BENGET SIANIPAR, 2012, The Cause Delay Factors Analysis of Project Construction Implementation Influence for Cost, Thesis, Civil Engineering Faculty, Surakarta Sebelas Maret University.

Engineering Faculty, Surakarta Sebelas Maret University. A construction project tendency will get delay if palnning

A construction project tendency will get delay if palnning and controlling did not do appropriately. Many thing could be happen in construction project that caused increase doing time, so project implementation would be late. Objective of the research is to identify and to classify the cause delay factors of implementation construction project in Surakarta residency area and to explain the caused delay factors with cost relationship.

Data procession done using SPSS (Statistical Product and Service Solution) version 17.00. a technique of analizing data used are validity, reliability, analysis factor technique, assumption classic test, and multiple linier regretion.

The result From of the Research found that 3 new factors that get it from extraction result of analysis factor technique are : Scope and contract document exchange (Xb 1 ), Koordination, Resource transportation, and employee skill (Xb 2 ), avalution and planning system (Xb 3 ) and produced a equation model of multiple linier regretion to explain relation factors third above with cost.

Keyword : factor Analysis, construction project delay, cost.

vii

KATA PENGANTAR

Puji syukur peneliti haturkan kehadirat Tuhan Yesus Kristus karena dengan berkat dan anugerahNya aruh Keterlambatan Penyelesaian Proyek Konstruksi Pengaruhnya terhadap Biaya”.

Peneliti menyadari sepenuhnya bahwa tanpa bantuan dai berbagai pihak, banyak kendala yang sulit untuk peneliti pecahkan hingga terselesaikannya penuyusunan skripsi ini. Untuk itu, penulis ingin ucapkan terima kasih kepada :

ini. Untuk itu, penulis ingin ucapkan terima kasih kepada : 1. Pimpinan Fakultas Teknik Universitas Sebelas

1. Pimpinan Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret beserta staf.

2. Pimpinan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakrta beserta Staf.

3. Widi Hartono, ST, MT selaku Dosen Pembimbing I.

4. Ir. Suyatno K, MT selaku Dosen Pembimbing II.

5. Dr.techn.Ir. Sholihin As’ad, MT selaku Pembimbing Akademik.

6. Ir. Delan Soeharto, MT dan Ir. Sugiyarto, MT selaku Dosen Penguji.

7. Rekan-rekan masiswa teknik sipil angkatan 2007 dan semua pihak yang telah membantu penulis secara langsung dan tidak langsung yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

8. Segenap Staf Pengajar dan Staf Administrasi Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan untuk kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat berguna bagi pihak-pihak yang membutuhkan, khususnya bagi penulis sendiri.

viii

Surakarta,

September 2012

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL LEMBAR PERSETUJUAN LEMBAR PENGESAHAN HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN ABSTRAK KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL BAB 1 PENDAHULUAN

i

ii

iii

iv

vi

viii

ix

xii

xiii

TABEL BAB 1 PENDAHULUAN i ii iii iv vi viii ix xii xiii 1.1. Latar Belakang

1.1. Latar Belakang Masalah

1

2

3

3

3

1.2. Rumusan Masalah

1.3. Batasan Masalah

1.4. Tujuan Penelitian

1.5. Manfaat Penelitian

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

2.1. Tinjauan Pustaka

4

7

7

8

10

11

2.2.5. Pertanggungjawaban Keterlambatan (Delay Responsibility)15

2.2.4. Dampak Keterlambatan

2.2.3. Jenis-Jenis Keterlambatan (Type of Delays)

2.2.2. Penyebab Keterlambatan

2.2.1. Keterlambatan Proyek

2.2. Dasar Teori

2.2.6. Komponen Biaya Proyek Konstruksi

15

2.2.6.1. Biaya Langsung Proyek Konstruksi

17

2.2.6.2. Biaya Tidak Langsung Proyek Konstruksi

17

2.2.7. Penelitian Sejenis

21

2.2.8. Analisis Faktor (Factor Analysis)

22

2.2.9. Tahapan Analisis Faktor

23

2.2.10. Analisis Regresi Linier Berganda

26

ix

2.2.11.

Statistik

27

2.2.12. SPSS (Statistical Product and Service Solution)

2.2.13. Rancangan Kuisoner

2.2.14. Populasi dan Sampel Serta Jumlah Sampel

2.2.14.1. Populasi

2.2.14.2. Sampel

2.2.14.3. Jumlah Sampel

2.2.15.

Populasi 2.2.14.2. Sampel 2.2.14.3. Jumlah Sampel 2.2.15. Metode Pengumpulan Data BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1. Bagan

Metode Pengumpulan Data

BAB 3 METODE PENELITIAN

3.1. Bagan Alir Penelitian

3.2. Responden

3.3. Objek Penelitian

3.4. Data Primer

3.5. Profil Responden, Profil Proyek, dan Persepsi Responden

3.6. Perancangan Kuisioner

3.7. Metode Analisis Data

BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1. Tinjauan Umum

4.2. Deskripsi Lokasi Penelitian

4.3. Deskripsi Responden

4.3.1. Karekteristik Responden Berdasarkan Jabatan dalam Perusahaan

4.3.2. Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Bekerja dalam Perusahaan

4.3.3. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir

4.3.4. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia

4.3.5. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

4.4. Deskripsi Proyek

4.4.1. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Proyek Konstruksi

x

31

32

36

36

36

36

37

40

42

42

42

42

43

44

46

47

47

49

50

51

52

53

54

54

4.4.2. Karakteristik Responden Berdasarkan Nilai Kontrak Proyek Konstruksi

4.4.3. Karakteristik Apakah dalam Pelaksanaan Proyek Konstruksi Sering Mengalami Keterlambatan

4.5. Analisis Data

4.5.1. Uji Validitas dan Realibilitas

4.5.1.1. Uji Validias

4.5.1.2.

4.5.2. Analisis Faktor 4.5.2.1. Uji KMO dan Bartlett’s Test 4.5.2.2. Ekstraksi Faktor (Factor Extructed) 4.5.2.3.
4.5.2. Analisis Faktor
4.5.2.1. Uji KMO dan Bartlett’s Test
4.5.2.2. Ekstraksi Faktor (Factor Extructed)
4.5.2.3. Rotasi Faktor
4.5.3. Uji Asumsi Klasik / Analisis Ekonometrik
4.5.4. Regresi Linier Berganda
4.5.5. Koefisien Determinasi Berganda
4.5.6. Pembahasan

Uji Realibilitas

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

5.2. Saran

PENUTUP DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN Lampiran A Kuisioner Penelitian Lampiran B Tabel R dab Hasil Uji SPSS Lampiran C Surat-Surat Skripsi

xi

55

56

57

59

59

60

61

61

62

63

66

72

73

74

76

77

xiv

xv

xvii

L-1

L-2

L-3

LAMPIRAN
LAMPIRAN

xii

xvii

1
1

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Mengingat begitu rumit dan kompeksnya proyek konstruksi maka diperlukan fungsi manajemen yang baik yaitu kegiatan perencanaan, kegiatan pelaksanaan, dan kegiatan pengendalian. Suatu proyek dikategorikan sukses apabila tepat biaya/anggaran, tepat mutu, dan tepat waktu. Ketiga kendala (constraint) ini merupakan tolok ukur keberhasilan suatu proyek konstruksi.

merupakan tolok ukur keberhasilan suatu proyek konstruksi. Suatu proyek cenderung akan mengalami keterlambatan apabila

Suatu proyek cenderung akan mengalami keterlambatan apabila perencanaan dan pengendalian tidak dilakukan dengan tepat. Berbagai hal dapat terjadi dalam proyek konstruksi yang dapat menyebabkan bertambahnya waktu pengerjaan, sehingga peyelesaian proyek menjadi terlambat. Menurut Suyatno (2010) terjadi keterlambatan peyelesaian proyek Pasar Kleco di wilayah Ska disebabkan menurunnya produktivitas tenaga kerja karena bertepatan dengan bulan puasa, butuhnya waktu untuk relokasi pedagang ke pasar darurat habis lebaran. Begitu pula dengan keterlambatan yang terjadi pada proyek pembangunan di UNS yang disebabkan oleh terlambatnya material, perubahan gambar/detail (Data Proyek UNS dan DPU Surakarta tahun 2009).

Proyek sering mengalami keterlambatan. Jeleknya, keterlambatan proyek sering berulang pada aspek yang dipengaruhi maupun faktor yang mempengaruhi karena pelaku proyek sering menganggap remeh keterlambatan proyek dan tidak menjadikan kejadian ini sebagai pelajaran dan pengalaman penting dalam pelaksanaan proyek berikutnya. Keterlambatan proyek akan berdampak pada aspek lain dalam proyek. Sebagai contoh, meningkatnya biaya untuk usaha mempercepat pekerjaan dan betambahnya biaya overhead proyek. Dampak lain yang juga sering terjadi adalah penurunan kualitas karena pekerjaan terpaksa dilakukan lebih cepat dari yang seharusnya sehingga memungkinkan beberapa hal teknis dilanggar demi mengurangi keterlambatan proyek

1
1

2

Menurut Praboyo (1999), keterlambatan pelaksanaan proyek umumnya selalu menimbulkan akibat yang merugikan baik bagi pemilik maupun kontraktor karena dampak keterlambatan adalah konflik dan perdebatan tentang apa dan siapa yang menjadi penyebab, juga tuntutan waktu, dan biaya tambah.

Keterlambatan pelaksanaan proyek memberikan pengaruh yang cukup berarti terhadap biaya. Tambahan biaya yang harus disediakan oleh Penyedia Jasa baik berupa biaya langsung dan biaya tidak langsung merupakan suatu keharusan untuk mengejar keterlambatan pelaksanaan proyek demi nama baik sebuah perusahaan. Tidak jarang ditemukan suatu proyek yang terkadang biaya tidak langsungnya lebih besar dari biaya langsung. Biaya tidak langsung ini merupakan biaya overhead, baik yang berkaitan dengan proyek atau kantor pusat.

baik yang berkaitan dengan proyek atau kantor pusat. Pada penelitian ini akan dianalisis mengenai faktor-faktor

Pada penelitian ini akan dianalisis mengenai faktor-faktor penyebab keterlambatan pelaksanaan pekerjaan proyek konstruksi serta mengetahui pengaruhnya terhadap biaya di wilayah kota Surakarta. Analisis terhadap faktor- faktor penyebab keterlambatan ini penting supaya Penyedia Jasa dan pihak-pihak yang terkait dalam jasa konstruksi dapat mengambil langkah dan solusi yang tepat untuk mengatasi problem keterlambatan pelaksanaan pekerjaan yang sering berulang dan berakibat pada peningkatan biaya.

1.2

Rumusan Masalah

1.

Apa saja yang menjadi faktor-faktor penyebab keterlambatan pelaksanaan pekerjaan proyek konstruksi?

2.

Bagaimana pengaruh dari faktor-faktor tersebut pada poin 1 terhadap penggugunaan biaya?

1.3

Batasan Masalah

Batasan masalah guna membatasi ruang lingkup penelitian, sebagai berikut :

1. Penelitian hanya dilakukan terhadap Peyedia Jasa dalam hal ini kontraktor yang berada di wilayah kota Surakarta dan terdaftar sebagai anggota GAPENSI

3

Surakarta serta sudah pernah mengerjakan proyek pembangunan gedung bertingkat dan proyek jalan.

2. Metode pengumpulan data dengan cara kuisioner dan tanya jawab.

3. Jumlah responden yg dibutuhkan yaitu 4 atau 5 kali jumlah faktor yang dianalisis.

4. Analisis data menggunaan teknik Analisis Faktor dan Analisis Regresi Linier Berganda dengan bantuann program SPSS v.17.00

Regresi Linier Berganda dengan bantuann program SPSS v.17.00 1.4 Tujuan penelitian Tujuan utama penelitian ini adalah

1.4

Tujuan penelitian

Tujuan utama penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Mengidentifikasi dan mengklasifikasikan faktor-faktor penyebab keterlambatan pelaksanaan pekerjaan proyek konstruksi

2. Menerangkan keterkaitan faktor keterlambatan tersebut terhadap biaya.

1.5

Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian skripsi ini adalah :

1. Manfaat Teoritis Memberikan pengetahuan paling tidak informasi mengenai faktor-faktor penyebab keterlambatan pelaksanaan pekerjaan proyek konstruksi serta pengaruhnya terhadap penggunaan biaya. Dengan demikian diharapkan dapat memberikan peluang bagi pengembangan penelitian berikutnya.

2. Manfaat Praktis Memberikan pengetahuan dan informasi mengenai faktor-faktor yang menyebabkan keterlambatan pelaksanaan pekerjaan proyek konstruksi yang terjadi berulang kali dan berefek pada penambahan biaya. Dengan demikian diharapkan para praktisi jasa konstruksi dalam hal ini kontraktor menyadari pentingnya mengetahui faktor-faktor tersebut agar dapat menemukan solusi yg tepat sehingga pelaksanaan proyek selanjutnya tidak mengalami keterlambatan.

BAB 2

4
4

TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

2.1 Tinjauan Pustaka

Menurut sebuah survey yang dilakukan oleh Mehzer et al,1998 mengenai faktor penyebab keterlambatan proyek konstruksi di Lebanon dari persepsi owner, kontraktor dan perusahaan konsultan/arsitektur menemukan bahwa owner lebih berfokus pada persoalan keuangan sedangakan kontraktor dengan permasalahan kesepakatan kontrak dan konsultan menjadikan manajemen proyek sebagai persoalan yang paling penting.

manajemen proyek sebagai persoalan yang paling penting. Sebuah penelitian yang dilakukan di Kuwait melalui wawancara

Sebuah penelitian yang dilakukan di Kuwait melalui wawancara terhadap 450 perusahaan owner dan pengembang secara acak menyimpulkan bahwa faktor utama penyebab keterlambatan penyelesaian proyek konstruksi adalah perubahan rencana, masalah pembayaran oleh owner, dan kurangnya pengalaman owner (Koushki et al, 2005).

Beberapa peneliti sudah menyelidiki dampak dari keterlambatan penyelesaian proyek konstruksi dan menyimpulkan bahwa peningkatan biaya adalah dampak utama dari keterlambatan (Sambasivan et al., 2007 ; Aibinu et al., 2002 ; Faridi et al., 2006 ; Kaliba et al., 2009).

Proyek konstruksi merupakan suatu rangkaian kegiatan yang hanya satu kali dilaksanakan dan umumnya berjangka waktu pendek serta melibatkan banyak pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Dengan banyaknya pihak yang terlibat dalam proyek konstruksi maka potensi terjadinya konflik sangat besar sehingga dapat dikatakan bahwa proyek konstruksi mengandung konflik yang cukup tinggi (Wulfram I. Ervianto, 2005 : 11).

4
4

5

Odeh et al, 2002 menyatakan kontraktor dan konsultan setuju bahwa campur tangan owner, kontraktor yang kurang berpengalaman, masalah keuangan dan pembayaran, produktifitas pekerja, pengambilan keputusan yang lambat, perencanaan yang tidak tepat, dan subkontraktor yang tidak kualifikasi merupakan sepuluh penyebab utama keterlambatan penyelesaian proyek konstruksi di Joran.

Assaf dan Al-Heiji (2006) mendiskusikan faktor keterlambatan dalam banyak proyek konstruksi di Arab Saudi. Terdapat 73 faktor penyebab utama yang teridentifikasi selama penelitian. Mereka menyimpulkan bahwa faktor utama penyebab keterlambatan penyelesaian proyek konstruksi menurut persepsi owner, kontraktor dan konsultan yaitu perubahan perencanaan.

owner, kontraktor dan konsultan yaitu perubahan perencanaan. Analisis faktor merupakan nama umum yang menunjukkan suatu

Analisis faktor merupakan nama umum yang menunjukkan suatu kelas prosedur, utamanya digunakan untuk mereduksi data atau mengklasifikasikan, dari variable yang banyak diubah menjadi sedikit variabel baru yang disebut faktor dan masih memuat sebagian besar informasi yang terkandung dalam variabel asli (original variable) (J. Supranto, 2010 : 114).

Menurut Alifen et al, 2000 (Dalam I.A.Rai Widhiawati, 2009), keterlambatan proyek seringkali menjadi sumber perselisihan dan tuntutan antara pemiik dan kontraktor, sehingga akan menjadi sangat mahal nilainya baik ditinjau dari sisi kontraktor maupun pemilik. Kontraktor akan terkena denda penalti sesuai dengan kontrak, disamping itu kontraktor juga akan mengalami tambahan biaya overhead selama proyek masih berlangsung. Dari sisi pemilik, keterlambatan proyek akan mambawa dampak pengurangan pemasukan karena penundaan pengoperasian fasilitasnya

Perkiraan biaya adalah seni memperkirakan (the art of approximating) kemingkinan jumlah biaya yang diperlukan untuk suatu kegiatan yang didasarkan atas informasi yang tersedia pada waktu itu (National Estimating Society-USA dalam Imam Soeharto, 1995).

6

Menurut AACE (The American Association of Cost Engineer) cost engineering adalah area dari kegiatan engineering dimana pengalaman dan pertimbangan engineering dipakai pada aplikasi prinsip-prinsip teknik dan ilmu pengetahuan di dalam masalah perkiraan biaya dan pengendalian biaya (Imam Soehatro, 1995)

Keterlambatan dari penyelesaian proyek konstruksi berpengaruh terhadap biaya langsung proyek. Dalam kasus proyek pembangunan gedung dan fasilitas, kesulitan meningkat ketika owner berasal dari pihak pemerintah. Dampak keterlambatan dalam kasus ini termasuk dalam kekacauan peraturan rencana pengembangan umun, gangguan terhadap rencana pencairan anggran dana pada pemerintah dan ketidaknyamanan yang disebabkan oleh keterlambatan proyek terhadap masyarakat. Keterlambatan yg terjadi dari sisi kontraktor menyebabkan waktu penyelesaian proyek menjadi lebih lama, meningkatnya biaya overhead dan menyebabkan kontraktor terjebak dalam proyek tersebut (Al-Kharashi dan Skitmore, 2009).

meningkatnya biaya overhead dan menyebabkan kontraktor terjebak dalam proyek tersebut (Al-Kharashi dan Skitmore, 2009).

7

2.2 Dasar Teori

2.2.1. Keterlambatan Proyek

Keterlambatan proyek konstruksi berarti betambahnya waktu pelaksanaan penyelesaian proyek yang telah direncanakan dan tercantum dalam dokumen kontrak. Penyelesaian pekerjaan tidak tepat waktu adalah merupakan kekurangan dari tingkat produktifitas dan sudah barang tentu kesemuanya ini akan mengakibatkan pemborosan dalam pembiayaan, baik berupa pembiayaan langsung mapun tidak langsung. Peran aktif manajemen merupakan salah satu kunci utama keberhasilan pengelolaan proyek. Pengkajian jadwal proyek diperlukan untuk menentukan langkah perubahan mendasar agar keterlambatan penyelesaian proyek dapat dihindari atau dikurangi.

penyelesaian proyek dapat dihindari atau dikurangi. Menurut Levis dan Atherley, 1996 (dalam Suyatno, 2010), jika

Menurut Levis dan Atherley, 1996 (dalam Suyatno, 2010), jika suatu pekerjaan sudah ditargetkan harus selesai pada waktu yang telah ditetapkan namun karena suatu alasan tertentu tidak dapat dipenuhi maka dapat dikatakan pekerjaan itu menglami keterlambatan. Hal ini akan berdampak pada perencanaan semula serta pada masalah keuangan. Keterlambatan yang terjadi dalam suatu proyek konstruksi akan memperpanjang durasi proyek atau meningkatnya biaya maupun keduanya. Adapun dampak keterlambatan pada klilen atau owner adalah hilangnya kesempatan untuk menempatkan sumber dayanya ke proyek lain, meningkatkan biaya langsung yang dikeluarkan yang berarti bahwa bertambahnya pengeluaran untuk gaji karyawan, sewa peralatan dan lain sebagainya serta mengurangi keuntungan.

8

2.2.2. Penyebab Keterlambatan

Menurut Kraiem dan Dickmann (dalam Praboyo, 1999), penyebab-penyebab keterlambatan waktu pelaksanaan proyek dapat dikategorikan dalam 3 kelompok besar yakni:

(1) Keterlambatan yang layak mendapatkan ganti rugi (Compensable Delay), yakni keterlambatan yang disebabkan oleh tindakan, kelalaian atau kesalahan pemilik proyek. (2) Keterlambatan yang tidak dapat dimaafkan (Non-Excusable Delay), yakni keterlambatan yang disebabkan oleh tindakan, kelalaian atau kesalahan pemilik proyek.

oleh tindakan, kelalaian atau kesalahan pemilik proyek. (3) Keterlambatan yang dapat dimaafkan ( Excusable Delay ),

(3) Keterlambatan yang dapat dimaafkan (Excusable Delay), yakni keterlambatan yang disebabkan oleh kejadian-kejadian diluar kendali baik pemilk maupun

kontraktor.

Sedangkan menurut Ahmed et al, 2003 penyebab keterlambatan dibagi menjadi dua kategori, yaitu ;

(1)

(2)

Faktor Eksternal

Faktor Internal

Faktor keterlambatan internal timbul dari empat pihak yang terlibat dalam proyek pengadaan jasa konstruksi. Pihak-pihak tersebut yaitu owner, kontraktor, konsultan perencana, dan konsultan pengawas sedangkan faktor keterlambatan eksternal disebabkan pihak diluar keempat pihak tadi antara lain pemerintah, supplier, dan cuaca.

Ahmed et al (2003) dan Alaghbari (2005) menyebutkan faktor-faktor penyebab keterlambatan yang terjadi pada proyek-proyek konstruksi di Malaysia.

(1) Faktor yang disebabkan oleh kontraktor

a. Keterlambatan pengiriman material ke lokasi proyek

b. Kekurangan material di lapangan

9

(2)

(3)

(4)

d. Tenaga kerja yang minim akan keahlian dan pengalaman

e. Kurangnya area kerja di lapangan

f. Produktivitas rendah

g. Masalah keuangan

h. Kurangnya koordinasi

i. Subkontraktor yang kurang ahli

j. Kekurangan peralatan di lapangan

k. Seitem manajemen yang lemah

peralatan di lapangan k. Seitem manajemen yang lemah Faktor yang disebabkan oleh konsultan a. Kurangnya tenaga

Faktor yang disebabkan oleh konsultan

a. Kurangnya tenaga ahli profesional

b. Kurangnya pengalaman konsultan

c. Kurangnya pengalaman dan keahlian di bidang manajemen dan pengawasan

d. Lambat dalam pengawasan dan pengambilan keputusan

e. Dikumen yang tidak lengkap

Lambat dalam memberikan perintah Faktor yang disebkan oleh owner

f.

a. Belum menguasai bidang pekerjaan

b. Lambat dalam membuat keputusan

c. Kurangnya koordinasi dengan kontraktor

d. Perubahan kontrak (adanya pruabahan rencana dan spesifikasi)

e. Masalah keuangan (keterlambatan pembayaran, kesulitan keuangan, dan masalah ekonomi) Faktor Eksternal

a. Tidak tersedianya material/bahan di pasar

b. Tidak tersedianya peralatan

c. Kondisi cuaca yang buruk

d. Lokasi/area proyek yang buruk

e. Keadaan ekonomi yang buruk (inflasi, nilai mata uang melemah, dll)

f. Perubahan peraturan dari pemerintah

g. Mobilisasi yang lambat

10

2.2.3. Jenis-Jenis Keterlambatan (Type of Delays)

Menurut Ahmed et al, 2003 keterlambatan dikelompokkan menjadi tiga kategori sesuai dengan kesepakatan kontrak, yaitu :

(1)

(2) Keterlambatan yang dapat dimaafkan tetapi tidak layak mendapat ganti rugi

(excusable non-compensable delays) (3) Keterlambatan yang dapat dimaafkan dan layak mendapat ganti rugi (excusable compensable delays), dan

(4)

Keterlambatan yang tidak dapat dimaafkan (non-excusable delays)

yang tidak dapat dimaafkan ( non-excusable delays ) Keterlambatan yang terjadi bersamaan ( concurrent delays )

Keterlambatan yang terjadi bersamaan (concurrent delays)

Secara umum, keterlambatan dibagi menjadi tiga kategori utama, yaitu :

(1) Keterlambatan yang tidak dapat dan dapat dimaafkan (excusable and non- excusable delays)

(2) Keterlambatan yang layak dan tidak layak mendapat ganti rugi (compensable and non-compensable delays), dan

(3)

Keterlambatan yang terjadi bersamaan (concurrent delays)

Compensable Delays

Compensable delays pada umumnya disebabkan oleh owner dan perwakilannya. Penyebab yang paling utama dari compensable delays yaitu ketidaksesuaian gambar dan spesifikasi, compensable delay dapat juga timbul karena kegagalam owner dalam memberikan gambar kerja secara tepat, perubahan desain dan material oleh owner. Kontraktor berhak mendapatkan tambahan biaya dan waktu sebagai akibat dari compensable delay oleh owner (Alaghbari, 2005).

Non-Excusable Delays

Keterlambatan yang disebabkan oleh kontraktor, subkontraktor dan supplier bukan owner. Kontraktor berhak mendapat kompensasi ganti rugi dari subkontraktor dan supplier bukan dari owner. Oleh kerna itu, non-excusable delays tidak mendapat biaya dan waktu tambahan dari pihak owner (Alaghbari,

2005).

11

Excusable Delays

Excusable delays dikenal juga sebagai “force majeuredelays yang merupakan jenis keterlambatan yang ketiga. Keterlambatan ini juga sering disebut “act of God”.Pada kontrak sering dinyatakan bahwa kontraktor berhak mendapatkan tambahan waktu dalam penyelesaian proyek jika keterlambatan disebabkan oleh excusable delays tapi tidak mendapat tambahan biaya (Alaghbari, 2005).

Concurrent Delays

mendapat tambahan biaya (Alaghbari, 2005). Concurrent Delays Yaitu keterlambatan yang disebabkan oleh beberapa penyebab

Yaitu keterlambatan yang disebabkan oleh beberapa penyebab secara bersamaan dan faktor keterlambatan ini identik. Oleh karena keterlambatan ini terjadi bersamaan dalam suatu periode waktu maka menyebabkan kesulitan untuk menghitung jumlah waktu dan biaya yang dibutuhkan sebagai dampak dari keterlambatan ini (Alaghbari, 2005).

2.2.4. Dampak Keterlambatan

Menurut Levis dan Atherley, 1996 (dalam Suyatno, 2010), keterlambatan akan

berdampak pada perencanaan semula serta pada masalah keuangan. Keterlamabatan dalam suatu proyek konstruksi akan memperpanjang durasi proyek atau meningkatnya biaya maupun keduanya. Adapun dampak keterlambatan pada owner adalah hilangnya potensial income dari fasilitas yang dibangun tidak sesuai waktu yang ditetepkan, sedangkan pada kontraktor adalah hilangnya kesempatan untuk mendapatkan sumber dayanya ke proyek lain, meningkatnya biaya tidak langsung (indirect cost) karena bertambahnya pengeluaran untuk gaji karyawan, sewa peralatan serta mengurangi keuntungan. Obrien JJ, 1976 (dalam Suyatno, 2010), menyimpulkan bahwa dampak keterlambatan menimbulkan kerugian :

1. Bagi pemilik, keterlambatan menyebabkan kehilangan penghasilan dari bangunan yang seharusnya sudah bisa digunakan atau disewakan.

2. Bagi kontraktor, keterlambatan penyelesaian proyek berarti naiknya overhead kerena bertambah panjang waktu pelaksanaan, sehingga merugikan akibat

12

kemungkinan naiknya harga karena inflasi dan naiknya upah buruh, juga akan tertahannya modal kontraktor yang kemungkinan besar dapat dipakai untuk proyek lain. 3. Bagi konsultan, keterlambatan akan mengalami kerugian waktu, karena dengan adanya keterlambatan tersebut konsultan yang bersangkutan akan terhambat dalam mengagendakan proyek lainnya.

Berdasarkan hasil laporan (proceeding) konferensi sains mengenai keterlambatan peyelesaian proyek konstruksi di Malaysia menyimpulkan bahwa terdapat enam dampak/efek yang diakibatkan dari keterlambatan penyelesaian proyek tersebut. Keenam dampak/efek itu antara lain (1) Tambahan Waktu (Time Overrun), (2) Tambahan Biayan (Cost Overrun), (3) Perselisihan (Dispute), (4) Arbitrasi (Arbitration), (5) Proses Pengadilan (Litigation), (6) Keadaan tertinggal (Abandonment) (Mohammad Abedi, PhD., Professor. Dr. Mohammad Fadhil Mohamad., Dr. Mohammad Syazli Fathi).

(1)

Mohammad Fadhil Mohamad., Dr. Mohammad Syazli Fathi). (1) Time Overrun Murali et al (2007) mengungkapkan bahwa

Time Overrun Murali et al (2007) mengungkapkan bahwa faktor keterlambatan yang berhubungan dengan kontraktor dan owner seperti kurangnya pengalaman kerja kontraktor dan banyaknya campur tangan owner sehingga menimbulkan peningkatan durasi/waktu pengerjaan proyek. Di samping itu, Aibinu dan Jagboro (2002) mempelajari dan menyimpulkan bahwa dampak utama dari keterlambatan proyek adalah bertambahnya durasi.

(2)

Cost Overrun Mengenai cost overrun Koushki et al.,(2005) mengidentifikasi tiga peyebab utama keterlambatan proyek, yaitu masalah intern kontraktor, masalah material, masalah keuangan oleh owner sedangkan Wiguna dan Scott (2005) mengidentifikasi faktor utama yang menyebabkan keterlambatan, yaitu inflasi/kenaikan harga material, perubahan desain oleh owner, cuaca buruk, keterlambatan pembayaran oleh owner.

13

(3) Disputes Perselisihan atau sengketa merupakan dampak utama dari keterlambatan penyelesaian proyek konstruksi yang bisa disebabkan oleh berbagai pihak seperti kontraktor, konsultan, owner, maupun pihak luar. Kurangnya komunikasi menyebabkan perbedaan persepsi, konflik,dan perselisihan. Oleh karena itu sebagai seorang mamajer proyek harus memiliki kemempuan komunikasi yang baik dalam menjalankan sebuah proyek. Menurut Murali et al.,(2007) factor kurangnya komunikasi yang baik antara berbagai pihak, kondisi lapangan yang tak terduga, keterlambatan pembayaran untuk penyelesaian pekerjaan, metode konstruksi yang kurang tepat, keterlambatan yang disebabkan oleh subkontraktor dan ketidak sesuaian dengan isi dokumen kontrak akan menimbulkan perselisihan antar berbagai pihak. Selanjutnya apabila perselisihan tidak dapat diselesaiakan secara damai dapat menyebabkan arbitrasi dan penyelesaian melalui proses pengadilan.

arbitrasi dan penyelesaian melalui proses pengadilan. (4) Arbitration Menurut Murali et al., (2007) keterlambatan

(4) Arbitration Menurut Murali et al., (2007) keterlambatan yang disebabkan oleh pihak kontraktor maupun owner yang meliputi perubahan rencana, kesalahan atau ketidak sesuaian dengan isi dokumen kontrak dan kurangnya komunikasi antara berbagai pihak dapat menimbulkan perselisihan yang akan diselesaiakan melalui proses arbitrasi. Untuk keadaan ini dibutuhkan pihak ketiga yang dapat menyelasaiakan perselisihan secara damai tanpa harus proses pengadilan.

(5) Litigation Menurut Murali et al., (2007) ketika keterlambatan yang disebabkan oleh owner, kontraktor, pekerja, eksternal, dan hubungan kontrak misalnya keterlambatan dalam pembayaran penyelesaian pekerjaan, masalah kondisi lapangan, dan kurangnya tenaga kerja yang menimbulkan perselisihan dan harus diselesaikan melalui proses pengadilan. Pihak-pihak yang terlibat pada proyek konstruksi menggunakan proses pengadilan sebagai alternatif terakhir dalam penyelesaian perselisihan.

14

(6) Abandonment Dampak yang paling merugikan dari keterlambatan penyelesaian proyek adalah abondemen yang dapat terjadi sementara atau bila kondisi proyek memburuk bisa terjadi selama proses konstruksi. Penyebab utamanya adalah berbagai pihak yang terlibat dalam proyek dan menjadi dampak utama dari keterlambatan proyek. Aibinu dan Jagboro (2002) mempelajari dampak dari keterlambatan penyelesaian proyek pada industry konstruksi di Nigeria. Mereka menyimpulkan bahwa total abandonment merupakan dampak utama dari keterlambatan peyelesaian proyek.

Cost Overrun Dispute
Cost Overrun
Dispute

Kesimpulan (Finding) Dari semua ulasan literature di atas didapat enam dampak dari keterlambatan penyelesaian proyek yang digambarkan dalam diagram tulang ikan di bawah ini.

Time Overrun

Effect of Delays
Effect of
Delays

Arbitration

Litigation

Abandonment

Fish-Bone Diagram of six effect of the construction delays

Sumber : Aibinu and Jagboro (2002)

Gambar 2.1 Diagram Tulang Ikan Dampak Keterlambatan Penyelesaian Proyek

15

2.2.5. Pertanggungjawaban Keterlambatan (Delay Responsibility)

Menurut Ahmed et al, 2003 pertanggungjawaban keterlambatan berhungungan dengan kinerja kontraktor yang layak mendapat apresiasi atau seballiknya kontraktor harus dikenakan biaya dan waktu tambahan untuk menyelesaiakan proyek sebagai dampak keterlambatan yang disebabkannya.

proyek sebagai dampak keterlambatan yang disebabkannya. Pihak-pihak yang bertanggung jawab dikategorikan menjadi :

Pihak-pihak yang bertanggung jawab dikategorikan menjadi :

(1) Tanggung jawab owner (pemilik) : kontraktor berhak atas tambahan waktu dan biaya (2) Tanggung jawab kontraktor dan subkontraktor : kontraktor harus melakukan perbaikan atas kegagalan fisik bangunan atas kinerjanya dan bisa mendapat penalty. (3) Pihak lain (Act of God) : kontraktor akan mendapatkan tambahan waktu untuk menyelesaikan proyek tetapi tidak untuk biaya. Serta kegagalan fifik yang disebabkan oleh “act of God” tidak menyebabkan penalty bagi kontraktor.

2.2.6. Komponen Biaya Proyek Konstruksi

Pada perencanaan dan pelaksanaan suatu proyek konstruksi, komponen yang terkait di dalamnya adalah biaya, mutu, dan waktu. Ketiga komponen tersebut merupakan suatu batasan yang harus dipenuhi oleh kontraktor. Ketiga batasan diatas disebut sebagai kendala (triple constraint) (Ahuja ; Dozzi ; Abourizk, 1994). Terkait dengan penjelasan di atas, komponen terpenting dari ketiga batasan di atas adalah biaya. Hal ini berkaitan langsung dengan terlaksana atau tidaknya suatu proyek. Dalam proses pelelangan pun kontraktor harus dapat mengestimasi biaya proyek sebaik mungkin agar dapat bersaing dengan kontraktor lainnya. Setelah proyek konstruksi dimenangkan, maka langkah selanjutnya yang harus dilakukan oleh kontraktor adalah mengupayakan pengawasan dan pengendalian anggaran biaya yang telah ditetapkan dalam kontrak konstruksi sesuai dengan

16

perencanaan sebelumnya. Rekayasa biaya konstruksi (cost engineering) adalah area dari kegiatan engineering dimana pengalaman dan pertimbangan engineering dipakai pada aplikasi prinsip-prinsip teknik dan ilmu pengetahuan dalam masalah perkiraan biaya, rencana bisnis dan pengetahuan manajemen, analisa keuangan, manajemen proyek, perencanaan dan penjadwalan (AACE International, 1992).

Dalam melakukan estimasi biaya proyek secara keseluruhan tentunya memiliki komponen-komponen yang menentukan besaran total biaya proyek tersebut. Menurut AACE International tahun 1992, struktur dari biaya konstruksi terdiri dari dua komponen utama, yaitu biaya langsung (direct cost) dan biaya tidak langsung (indirect cost).

A : Biaya Langsung A : Biaya Tidak Langsung Bahan Alat Tenaga Kerja B1 :
A : Biaya Langsung
A : Biaya Tidak Langsung
Bahan
Alat
Tenaga Kerja
B1 : Biaya Umum
(Over Head)
B2 : Keuntungan
Analisis
Produktivitas
(A + B)
Harga Satuan Pekerjaan = (A + B) + PPN

Menurut Direktorat Bina Marga dalam Panduan Analisis Harga Satuan (PAHS) (2006), komponen estimasi biaya konstruksi adalah sebagai berikut :

Metode Kerja, HSD Bahan, Alat dan Tenaga Kerja, Lokasi, dan Spesifikasi

Gambar 2.2 Diagram Estimasi Biaya Konstruksi Dari kedua jenis struktur biaya konstruksi, terdapat perbedaan yang mencolok. Pada struktur estimasi biaya yang dimiliki oleh AACE memperlihatkan lebih

17

detail jika dibandingkan dengan PAHS. Terlihat pada komponen-komponen biaya tidak langsung, yaitu adanya pemisahan antara komponen overhead dan kondisi umum (general condition). Sedangkan pada PAHS biaya umum masuk ke dalam overhead.

2.2.6.1. Biaya Langsung Proyek Konstruksi

Biaya langsung proyek konstruksi adalah komponen biaya yang berkaitan langsung dengan volume pekerjaan yang tertera dalam item pembayaran atau komponen hasil akhir proyek berdasarkan gambar rencana dan spesifikasi teknis dalam kontrak konstruksi. Komponen biaya langsung terdiri dari biaya upah tenaga kerja, operasi peralatan, material, dan semua biaya yang berada di bawah kendali sub-kontraktor (AACE, 19092)

yang berada di bawah kendali sub-kontraktor (AACE, 19092) Biaya langsung adalah semua biaya yang menjadi komponen

Biaya langsung adalah semua biaya yang menjadi komponen permanen hasil akhir proyek, terdiri dari biaya material, biaya peralatan, biaya upah tenaga kerja dan biaya subkontraktor (Oberlender dan Peurifoy, 2002)

2.2.6.2.

Biaya tidak langsung proyek konstruksi adalah biaya yang tidak berkaitan secara

Biaya Tidak Langsung Proyek Konstruksi

langsung dalam pelaksanaan proyek konstruksi. Biaya tidak langsung dialokasikan untuk pekerjaan yang berdasarkan pada beberapa komponen biaya langsung seperti waktu penyelesaian pekerjaan, biaya material atau keduanya (AACE, 1992).

Menurut Oberlender dan Peurifoy (2002) biaya tidak langsung adalah semua biaya yang mendukung pekerjaan tetapi tidak tercantum dalam mata pembayaran seperti biaya overhead (general overhead dan project overhead), contingencies dan keuntungan (profit). Komponen-komponen biaya tidak langsung menurut AACE International-the Association for the Advancement of Cost Engineering Tahun 1992 adalah sebagai berikut :

18

1. Pajak (Taxes) Pajak yang termasuk dalam komponen biaya tidak langsung bermacam- macam, yaitu pajak material, pajak peralatan, pajak pekerja, dsb. Nilai pajak bervariasi secara signifikan tergantung dari lokasi dan status pajak owner. Pada umumnya mereka mempunyai catalog secara terpisah untuk memfasilitasi kegiatan keuangan.

2. Kondisi Umum (General Condition) Persyaratan umum kontrak menetapkan dan mendefinisikan hak dan kewajiban dari tiap pihak yang terlibat dalam kontrak dan membuat peraturan-peraturan proyek yang bersifat non teknis atau administratif. Peraturan ini masih bersifat umum dan tergantung dari karakteristik proyek. Hal yang termasuk ke dalam kondisi umum adalah pekerjaan yang tidak terdapat dalam dokumen kontrak yang harus dilaksanakan oleh kontraktor guna menunjang kegiatan konstruksi yang akan dilakukan sesuai dengan dokumen kontrak. Sebagai contoh adalah pekerjaan pembangunan jalan akses menuju lokasi proyek. Jika terdapat di dalam spesifikasi pekerjaan dalam dokumen kontrak, maka pekerjaan pembangunan jalan akses tersebut masuk ke dalam kondisi umum. Selain itu yang termasuk ke dalam kondisi umum salah satunya adalah eskalasi. Eskalasi adalah kenaikan biaya dari suatu barang dan jasa yang diakibatkan karena faktor inflasi. Eskalasi berpengaruh pada biaya proyek dan pada umumnya dihitung dengan rumus tertentu sesuai dengan peraturan yang ada dan telah disepakati sebelumnya oleh kontraktor dan owner.

dan telah disepakati sebelumnya oleh kontraktor dan owner. 3. Biaya Risiko (Risk) Elemen risiko terdiri dari

3. Biaya Risiko (Risk) Elemen risiko terdiri dari dua kategori, yaitu :

a. Keuntungan (Profit) Keuntungan adalah sejumlah uang yang oleh kontraktor dimasukkan ke dalam harga sebagai kompensasi risiko, upaya, dan usaha untuk menjalankan sebuah proyek, keuntungan sebenarnya adalah “sisa” dari uang yang tersisa setelah kontraktor telah memenuhi semua biaya ( baik

19

langgsung maupun tidak langsung) pada suatu proyek. Jumlah keuntungan yang akan ditambahkan adalah sangat subjektif dan tergantung pada pertimbangan seperti kompetisi, seberapa penting proyek, pasar kerja, kondisi pasar lokal dan ekonomi.

b. Biaya Tak Terduga (Contigency Fee) Biaya tak terduga adalah sejumlah nilai yang dimasukkan ke dalam estimasi bilamana terjadi perubahan atau penambahan biaya proyek yang diperlukan berdasarkan pengalaman. Biaya tak terduga dapat dihitung melalui analisis statistic proyek dimasa lalu dengan menerapkan biaya atau pengalaman yang diperoleh pada proyek-proyek sejenis. Hal ini biasanya tidak termasuk perubahan kejadian tidak terduga yang besar seperti pemogokan atau gempa bumi. Biaya tak terduga mencakup biaya yang mungkin disebabkan oleh disain yang tidak lengkap, kondisi yang tak terduga, atau ketidakpastian dalam lingkup proyek yang ditetapkan. Jumlah kontigensi akan tergantung pada status desain, pengadaan, dan konstruksi serta kompleksitas dan ketidakpastian dari bagian komponen proyek. Menurut Kamus Besar Bahas Indonesia (2011), contingency adalah tak terduga, kemungkinan atau ketidaktentuan. Sedangkan contingency fee adalah biaya tak terduga. Menurut Oberlender dan Peurifoy (2002) dalam Estimating Construction Cost, contingency adalah komponen yang diperlukan dalam suatu estimasi. Contingency dimasukkan ke dalam estimasi berdasarkan pada ketidakpastian (uncertainty) seperti harga satuan, eskalasi/kenaikan jadwal, kelalaian, dan kesalahan dakam pelaksanaan proyek. Dalam pengertian sederhana, contingency adalah sejumlah uang yang ditambahkan ke dalam estimasi awal yang bertujuan untuk memperoleh prediksi biaya total proyek yang lebih baik (Oberlender dan Peurifoy, 2002).

estimasi awal yang bertujuan untuk memperoleh prediksi biaya total proyek yang lebih baik (Oberlender dan Peurifoy,

20

Menurut Oberlender dan Peurifoy (2002), komponen biaya tidak langsung dalam estimasi biaya konstruksi pada estimasi secara rinci, yaitu:

1. Biaya Overhead, dibagi atas:

a. General Overhead/Overhead Kantor Merupakan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk operasional perusahaan ke dalam paket pekerjaan seperti sewa kantor, gaji dan segala tunjangan direksi, karyawan (fasilitas karyawan, asuransi), biaya utilitas (listrik, air, telepon, retribusi lainnya), pemasaran, depresiasi.

air, telepon, retribusi lainnya), pemasaran, depresiasi. b. Project Overhead/Overhead Proyek Merupakan biaya tidak

b. Project Overhead/Overhead Proyek Merupakan biaya tidak langsung yang dikeluarkan untuk keperluan proyek dan dialokasikan proporsional terhadap paket pekerjaan seperti biaya untuk melakukan estimasi, biaya mengikuti tender, biaya untuk jaminan proyek (Bid Bond, Performance Bond), biaya asuransi tenaga kerja, peralatan, material, perijinan, biaya utilitas proyek.

2. Contingencies (Kontijensi) Biaya ini dialokasikan untuk mengantisipasi atas kekurangan informasi dan kesalahan dalam menginterpretasikan informasi yang diperoleh sehingga menimbulkan suatu ketidakpastian (uncertainty). Hal ini dapat menjadi salah satu risiko yang akan dihadapi dalam pelaksanaan nantinya. Sebaiknya pengalokasian biaya kontijensi diminimalkan dengan melakukan estimasi dengan sebaik-baiknya dengan melengkapi ketidakjelasan atau kekurangan informasi tersebut dengan menyatakan langsung kepada untuk mendapatkan nilai-nilai penawaran yang tetap.

21

3. Keuntungan (Profit) Tujuan estimator dalam menganalisis keuntungan adalah mengharapkan keuntungan yang maksimal. Keuntungan dapat diartikan sebagai suatu yang diperoleh atas risiko yang dihadapi. Besarnya nilai keuntungan dapat ditambahkan pada nilai estimasi yang dibuat.

2.2.7. Penelitian Sejenis

pada nilai estimasi yang dibuat. 2.2.7. Penelitian Sejenis Beberapa penelitian sejenis yang sudah dilakukan yaitu oleh

Beberapa penelitian sejenis yang sudah dilakukan yaitu oleh Budiman Praboyo., 1999 ; I.A. Rai Widhiawati., 2009 ; Suyatno., 2010.

(1) Penelitian yang dilakukan oleh Budiman Praboyo (1999) bertujuan untuk menemukan faktor-faktor yang sangat berperan atau mendominasi sebagai penyebab keterlambatan penyelesaian proyek konstruksi di wilayah Surabaya, dengan maksud agar proses perencanaan dan penjadwalan proyek konstruksi dapat dilakuakan dengan lebih lengkap dan cermat, sehingga keterlambatan sedapat mungkin dihindarkan atau dikendalikan. (2) I.A. Rai Widhiawati (2009) bertujuan untuk mengetahui penyebab utama dari keterlambatan penyelesaian proyek konstruksi yang berada di Kotamadya Denpasar. (3) Suyatno (2010) bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab keterlambatan penyelesaian proyek yang berada di Kotamadya Surakarta dan untuk mengetahui peringkat (rangking) menurut persepsi penyedia jasa terhadap faktor-faktor penyebab keterlambatan penyelesaian proyek.

22

2.2.8. Analisis Faktor (Faktor Analysis)

Analisis faktor merupakan suatu kelas prosedur yang dipergunakan untuk mereduksi dan mengklasifikasikan data. Istilah yang digunakan dalam analisis faktor antara lain:

1. Communality adalah jumlah varian yang disumbangkan oleh suatu variabel dengan seluruh variabel lainnya dalam abalisis. Bisa juga disebut proporsi atau bagian varian yang dijelaskan oleh common faktor atau besarnya sumbangan suatu faktor terhadap vrian seluruh variabel.

sumbangan suatu faktor terhadap vrian seluruh variabel. 2. Eigenvalue merupakan jumlah varian yang dijelaskan oleh

2. Eigenvalue merupakan jumlah varian yang dijelaskan oleh setiap faktor.

3. Factor loadings ialah korelasi sederhana antara variabel dengan factor.

4. Factor loading plot adalah suatu plot dari variabel asli dengan menggunakan factor loading sebagai koordinat.

5. Faktor matrix yang memuat semua factor loading dari semua variabel dari semua factor extracted.

6. Faktor scores merupakan skor komposit yang disetimasi untuk setiap responden pada factor turunan (derived factors)

7. Kaiser-Mayer-Olkin (KMO) measure of sampling adequacy merupakan suatu indeks yang dipergunakan untuk meneliti ketepatan analisis faktor

8. Percentage of varience merupakan persentse varian total yang disumbangkan oleh setiap faktor.

9. Residuals merupakan perbedaan antara korelasi yang terobservasi berdasrkan input correlation matrix dan korelasi hasil reproduksi yang diperkirakan oleh matriks faktor .

10. Scree plot merupakan plot dari eigen value sebagai sumbu tegak (vertical) dan banyaknya factor sebagai sumbu datar, untuk menentukan banyaknya factor yang bisa ditarik.

23

2.2.9. Tahapan Analisis Faktor

Langkah-langkah yang diperlukan di dalam analisis faktor antara lain:

Merumuskan Masalah Bentuk Matriks Korelasi Tentukan Metode Analisis Faktor Lakukan Rotasi Interpretasikan Faktor
Merumuskan Masalah
Bentuk Matriks Korelasi
Tentukan Metode Analisis Faktor
Lakukan Rotasi
Interpretasikan Faktor
Pilih Variabel
Hitung Skor
Surrogate
Faktor

Sumber : Analisis Multivariat Arti dan Interpretasi,

Prof. J. Supranto, M.A, APU, 2010

Gambar 2.3 Diagram Prosedur Analisis Faktor

24

Ada beberapa langkah yang harus ditempuh dalam analisis faktor yaitu:

1. Merumuskan Masalah Merumuskan masalah meliputi beberapa kegiatan. Pertama, tujuan analisis faktor harus dikenali. Variabel yang tercakup dalam analisis harus disebutkan secara khusus berdasarkan penelitian sebelumnya (past research), teori, dan pertimbangan subjektif dari peneliti. Variabel harus benar-benar diukur secara tepat diukur pada skala interval atau rasio. Besarnya sampel harus tepat. Sebagai petunjuk umum besarnya sampel (n) paling sedikit empat atau lima kali banyaknya variabel.

(n) paling sedikit empat atau lima kali banyaknya variabel. 2. Bentuk Matriks Korelasi Proses analisis didasarkan

2. Bentuk Matriks Korelasi Proses analisis didasarkan pada suatu matriks korelasi antar-variabel. Pendalaman yang berharga dapat diperoleh dari suatu pengkajian pada matriks korelasi ini. Agar anlisis faktor bisa menjadi tepat, variabel- variabel yang dikumpulkan harus berkorelasi. Kalau korelasi antar- variabel memang kecil (hubungan lemah) analisis faktor menjadi tidak tepat. Kita juga mengharap bahwa variabel-variabel tersebut mempunyai korelasi tinggi antar variabel dan korelasi yang tinggi dengan factor-faktor. Statistik formal tersedia untuk menguji ketepatan model faktor. Bartlett’s test of sphericity bisa digunakan untuk menguji hipotesis bahwa variabel tak berkorelasi di dalam populasi. Uji statistik untuk sphericity didasarkan pada suatu transformasi Kaiskwer (chi-square) dari determinan matriks korelasi. Uji statistik lainnya yang berguna adalah the Kaiser-Mayer Olkin (KMO) mengukur sampling adequacy. Indeks ini membandingkan besarnya nilai koefisien korelasi yang dihitung (the observed correlation coefficients) dengan besarnya koefisien korelasi parsial. Nilai KMO yang kecil menunjukkan bahwa korelasi antara pasangan variabel tidak bisa diterangkan oleh variabel lain dan analisis factor menjadi tidak tepat.

25

3. Tentukan Metode Analisis Faktor Ada dua metode dalam analisis faktor dan salah satu harus dipilih atau keduanya dipergunakan untuk perbandingan. Kedua metode itu yaitu principal component analysis dan common factor analysis. Di dalam principal component analysis (PCA) the total variance di dalam data yang diperhatikan yaitu diagonal matriks korelasi, setiap elemennya sebesar 1 (satu) dan full variance dipergunakan untuk dasar pembentukan factor, yaitu variabel-variabel baru sebagai pengganti variabel-variabel lama, yang jumlahnya lebih sedikit dan tidak lagi berkorelasi satu sama lain, seperti variabel-variabel asli yang memang saling berkorelasi. PCA dianjurkan kalau tujuannya akan memperkecil jumlah variabel asli (variabel awal) dan akan dipergunakan untuk membuat analisis multivariate lainnya, misalnya untuk membuat analisis regresi linear berganda atau analisis diskriminan.

analisis regresi linear berganda atau analisis diskriminan. 4. Lakukan Rotasi Output terpenting dari analisis faktor

4. Lakukan Rotasi Output terpenting dari analisis faktor ialah matrix factor atau matriks faktor pola (factor pattern matrix). Matriks faktor membuat koefisien yang dipergunakan untuk mengekpresikan variabel yang dibakukan dinyatakan dalam faktor (used to express the standardized variables in term of the factors). Koefisien ini merupakan factor loading, mewakili koefisien korelasi antara faktor dengan variabel. Koefisien dengan nilai mutlak (absolute) yang besar menunjukkan bahwa faktor dan variabel sangat terkait (closely related). Koefisien dari matriks faktor dapat dipergunakan untuk menginterpretasi faktor. Walaupun matriks faktor (komponen) awal atau yang belum dirotasi menunjukkan hubungan antara faktor (komponen) dengan variabel secara individu, akan tetapi masih sulit diambil kesimpulannya tentang banyaknya faktor yang bisa diekstraksi, hal ini disebabkan karena faktor (komponen) berkorelasi dengan banyak variabel atau sebaliknya variabel tertentu masih berkorelasi dengan banyak faktor.

26

5. Interpretasi Faktor Interpretasi mengenai faktor bisa dipermudah dengan mengenali (mengidentifikasi) variabel yang mempunyai nilai loading yang besar pada faktor yang sama. Faktor tersebut kemudian bisa diinterpretasikan menurut variabel-variabel yang mempunyai nilai loading yang tinggi dengan faktor tersebut. Bantuan di dalam interpretasi yang berguna lainnya adalah mengeplot variabel dengan menggunakan factor loading sebagai titik koordinat.

dengan menggunakan factor loading sebagai titik koordinat. 6. Pilih Variabel Surrogate dan Hitung Skor Faktor

6. Pilih Variabel Surrogate dan Hitung Skor Faktor Surrogate variable merupkan suatu subset variabel asli/awal yang dipilih untuk dipergunakan di dalam analisis multivariate lebih lanjut. Jadi, kalau peneliti tidak menggunakan faktor/komponen sebagai variabel baru, bisa menggunakan variabel surrogate sebagai penggantinya di dalam analisis regresi linier berganda dan analisis diskriminan. Kalau analisis faktor akan dilanjutkan menjadi analisis regresi linier berganda, dirasa perlu untuk menghitung factor scores untuk setiap responden (objek penelitian) akan tetapi kalau tujuan analisis faktor hanya untuk mereduksi, dari banyak variabel asli/awal menjadi sedikit variabel yang disebut faktor atau komponen, maka perhitungan nilai/skor tidak diperlukan.

2.2.10. Analisis Regresi Linear Berganda

Analisis ini digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel independen yaitu faktor-faktor penyebab keterlambatan penyelesaian proyek konstruksi (X) terhadap variabel dependen yaitu faktor penggunaan biaya akibat keterlambatan tersebut (Y) dengan rumus :

实贡 十贡 ) ) 十贡 十贡 十⋯十贡 十⋯贡 十勾

(J Supranto, 2010 : 57)

…………

(1)

27

Dimana : Y = Faktor penggunaan biaya akibat keterlambatan X 1 ,X 2 ,X 3
Dimana :
Y
= Faktor penggunaan biaya akibat keterlambatan
X
1 ,X
2 ,X 3 ,…X k
= Faktor-faktor penyebab keterlambatan
b
= Konstanta
0
b
1 ,b 2
,b 3 ,…b k
= koefisien regresi variabel X 1 ,X 2 ,X 3 ,…X k
e .
(epsilon)
= kesalahan penggangu (disturbence’s error)
2.2.11. Statistik
a) Uji Validitas
Menurut Azwar, 1994 : 118 (dalam Agus Winarno, 2011), validitas adalah
seberapa cermat suatu kuisioner melakukan fungsi ukurnya. Sebuah kuisioner bisa
dikatakan valid jika kuisioner tersebut benar-benar mengukur apa yang harus
diukur. Pengukuran validitas ini dilakukan dengan menghitung korelasi antara
total jawaban responden terhadap setiap pertanyaan. Pengolahan data dengan
menggunkan bantuan program SPSS (Statistical Product and Service Solution)
versi 19.00

Tinggi rendahnya validitas suatu angket dihitung dengan teknik korelasi, dengan

rumus :

实

梗∑骀 能纵∑骀邹纵∑ 邹

………

瞬誓梗∑骀 纵∑骀邹 纵∑ 邹

Dimana :

r

= Koefisien korelasi setiap variabel

N

= Jumlah sampel

……….………

(2)

28

X = Skor masing-masing item

Y = Skor total

Kriteria uji validitas secara singkat adalah (rule of tumb) adalah 0,3. Jika korelasi sudah lebih besar dari 0,3 maka kuisioner atau pertanyaan yang dibuat dikategorikan sahih/valid. (Bambang Setiaji, 2008 : 25)

羹 ∑么贡 弥
∑么贡 弥

b) Uji Reliabilitas

Yang dimaksud dengan reliabilitas adalah derajat ketepatan, ketelitian atau keakuratan yang ditunjukkan oleh instrument pengukuran. Selain itu, juga untuk memastikan bahwa responden cukup konsisten dalam memberikan jawaban (reliabilitas). Analisis keandalan butir bertujuan untuk menguji konsistensi butir- butir pertanyaan dalam mengungkap indicator. Reliabilitas test dapat diestimasikan dengan menggunakan analasis Alpha Cronbach, dengan rumus (Husein, 2003 : 96)

)) 实族 ) 祖族)石 卒祖……………………………

….(3)

Dimana :

r 11

= Reabilitas yang dicari

K

= Banyaknya butir pertanyaan

∑αb 2

= Jumlah varian butir

∑αt 2

= Varian total

Menurut Santoso dan Ashari (2005 : 251) bahwa penelitian responden dianggap reliabel jika mencapai alpha lebih besar dari 0,6. Pengolahan data dengan menggunakan bantuan program SPSS versi 19.00

29

c) Analisis Ekonometrik (Pengujian Model) pada Regresi Linier Berganda

Setelah model kita peroleh, maka kita harus menguji moel tersebut sedah termauk BLUE (Best Linier Unbiased Estimator) atau tidak. Suatu model dikatakan BLUE bila memenuhi persyaratan sebagai berikut:

1. Linieritas

Untuk menguji linieritas hubungan 2 variabel maka kita harus membuat diagram pencar (scatter plot) antara 2 variabel tersebut. Dari sini bisa terlihat apakah titik- titik data membentuk pola linier atau tidak.

apakah titik- titik data membentuk pola linier atau tidak. Ada satu metode lagi yang dapat menguji

Ada satu metode lagi yang dapat menguji kelinieran model yang terbentuk, yaitu membuat plot residual terhadap harga-harga prediksi. Jika grafik antara harga- harga prediksi dan harga-harga residual tidak membentuk suatu pola tertentu (parabola, kubik, dan sebagainya) maka asumsi linieritas terpenuhi. Jika asumsi linieritas terpenuhi maka residual-tresidual akan didistribusikan secara random dan akan terkumpul di sekitar garis lurus yang melalui titik 0.

2.

Heterokedastisitas (Perbedaan Varians)

Salah satu asumsi dalam regresi berganda adalah uji heterokedastisitas. Asumsi heterokedastisitas adalah asumsi dalam regresi dimana varians dari residual tidak sama untuk satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Dalam regresi, salah satu asumsi yang harus dipenuhi adalah bahwa varians dari residual dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain tidak memiliki pola tertentu. Pola yang tidak sama ini ditunjukkan dengan nilai yang tidak sama antar satu varians dari residual. Gejala varians yang tidak sama ini disebut dengan gejala heterokedastisitas, sedangkan adanya gejala varians residual yang sama dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain disebut dengan homokedastisitas. Salah satu metode visual untuk menguji heterokedastisitas ini adalah dengan melihat penyebaran dari varians residual.

30

3. Autokorelasi

Uji autokorelasi merupakan pengujian asumsi dalam regresi dimana variabel dependen tidak berkorelasi dengan dirinya sendiri. Maksud korelasi dengan diri sendiri adalah bahwa nilai dari variabel dependen tidak berhubungan dengan nilai variabel itu sendiri, baik nilai periode sebelumnya atau nilai periode sesudahnya. Untuk mendeteksi gejala autokorelasi kita menggunakan uji Durbin-Watson (DW). Uji ini menghasilkan nilai DW hitung (d) dan nilai DW tabel (dL & du). Aturan pengujiannya adalah:

: tidak ada masalah autokorelasi : masalah auotkorelasi serius
: tidak ada masalah autokorelasi
: masalah auotkorelasi serius

d<d L

d

L <d<d u

: Terjadi masalah autokorelasi yang positif yang perlu perbaikan

: ada maaslah autokorelasi positif tetapi lemah, dimana perbaikan akan lebih baik

d u <d<4-d u

4-d u <d<4-d L

4-d L <d

: masalah autokorelasi lemah, dimana dengan perbaikan akan lebih baik

4.

Multikolinieritas

Multikolinieritas berarti ada hubungan linier yang “sempurna” (pasti) di antara beberapa atau semua variabel independent dari model regresi. Gejala multikolinieritas adalah gejala korelasi antarvariabel independen. Apabila terjadi gejala multikolinierita, salah satu langkah untuk memperbaiki model adalah dengan menghilangkan variabel dari model regresi, sehingga bisa dipilih model yang paling baik. Untuk memperoleh model yang terbaik ini kita bisa melakukan langkah pemilihan variabel seperti dengan metode Stepwise, Forward, dan Backwise.

31

5. Normalitas

Salah satu cara mengecek normalitas adalah dengan plot Probabilitas Normal.

Melalui plot ini, masing-masing nilai pengamatan dipasangkan dengan nilai

harapan dari distribusi normal, dan apabila titik-titik (data) terkumpul di sekitar

garis lurus. Selain plot normal ada satu plot lagi untuk menguji normalitas, yaitu

Detrend Normal Plot. Jika sampel berasal dari populasi normal, maka titik-titik

tersebut seharusnya terkumpul di sekitar garis lurus yang melalui 0 dan tidak

terkumpul di sekitar garis lurus yang melalui 0 dan tidak mempunyai pola. Meskipun plot probabilitas menyediakan

mempunyai pola. Meskipun plot probabilitas menyediakan dasar yang nyata untuk

memeriksa kenormalan, uji hipotesis juga sangat diperlukan. Dua buah uji yang

sering digunakan adalah uji Shapiro-Wilks dan uji Liliefors.

2.2.12. SPSS (Statistical Product and Service Solution)

Pada dasarnya komputer berfungsi mengolah data menjadi informasi yang

berguna bagi pengguna komputer. Data yang diolah dimasukkan sebagai input,

kemudian dengan proses pengolahan data oleh komputer dihasilkan output berupa

informasi untuk kegunaan lebih lanjut. Berikut ini sedikit gambaran tentang cara

kerja komputer dengan program SPSS (Statistical Product and Service Solution)

dalam mengolah data.

OUTPUT DATA Dengan Output Navigator

· Pivot Table Editor

· Text Output Editor

· Chart Editor

INPUT DATA

Dengan

Data Editor

PROSES DATA Dengan Data Editor

· Chart Editor INPUT DATA Dengan Data Editor PROSES DATA Dengan Data Editor Gambar 2.4 Diagram
· Chart Editor INPUT DATA Dengan Data Editor PROSES DATA Dengan Data Editor Gambar 2.4 Diagram

Gambar 2.4 Diagram Prosedur SPSS

32

Keterangan :

1. Data dimasukkan melalui data editor yang otomatis muncul di layar SPSS pada saat SPSS dibuka.

2. Data yang telah diinput kemudian diproses melalui data editor.

3. Hasil pengolahan data muncul di layar window yang lain dari SPSS, yaitu output navigator. Lalu tampilannya dapat berupa :

a. b. c.
a.
b.
c.

Tulisan Pengerjaan (perubahan bentuk huruf, penambahan, pengurangan dan lainnya) yang berhubungan dengan output berupa teks dapat dilakukan melalui menu text output Editor.

Tabel Semua pekerjaan yang berhubungan dengan tabel dapat dilakukan melalui menu pivot table editor.

Grafik Output yang berbentuk grafik (chart) dapat dilakukan melalui menu chart editor.

2.2.13. Rancangan Kuisioner

Tujuan pokok pembuatan kuisioner adalah untuk :

1. Memperoleh informasi yang relevan dengan tujuan penelitian.

2. Memperoleh informasi dengan reabilitas dan validitas yang tinggi.

Kuisioner dirancang dalam tiga kelompok seperti dijelaskan di bawah ini :

1. Data Pribadi Adalah pertanyaan terhadap responden mengenai kedudukan atau jabatan, lama pengalaman responden bekerja pada bidang konstruksi, serta pendidikan responden.

33

2. Data Proyek Sumber data proyek berupa tempat artinya sumber data yang menyajikan tampilan berupa keadaan diam dan brgerak, diam contohnya luas bangunan proyek sedangkan bergerak contohnya jenis pekerjaan, biaya.

3. Faktor Keterlambatan Penelitian mengenai faktor keterlambatan penyelesaian proyek yang sudah dilakukan oleh beberapa
3. Faktor Keterlambatan
Penelitian mengenai faktor keterlambatan penyelesaian proyek yang sudah
dilakukan oleh beberapa peneliti seperti Budiman Praboyo (1999) dalam
tesisnya yang berjudul Keterlambatan Waktu Pelaksanaan Dan Peringkat
Dari Peyebab-Peyebabnya untuk proyek yang ada di wilayah Surabaya, I.A.
Rai Widhiawati (2009) dalam tesisnya yang berjudul Analisis Faktor-Faktor
Penyebab Keterlambatan Pelaksanaan Proyek Konstruksi untuk proyek-
proyek yang ada di wilayah Bali, dan Suyatno (2010) dalam tesisnya yang
berjudul Analisis Faktor Penyebab Keterlambatan Peyelesaian Proyek
Gedung (Aplikasi Model Regresi) untuk proyek yang ada di wilayah
Surakarta. Setiap peneliti mempunyai faktor-faktor keterlambatan yang
berbeda yang ditampilkan dalam tabel di bawah ini.
Tabel 2.2 Penelitian Sejenis Mengenai Faktor Penyebab Keterlambatan
No
Peneliti
Tahun
Faktor-Faktor Keterlambatan
1 Budiman
1999
1. Kesiapan/Penyiapan Sumber Daya
Proboyo
2. Perencanaan dan Penjadwalan Pekerjaan
3. Sistem Organisasi, Koordinasi dan
Komunikasi
4. Lingkup dan Dokumen Pekerjaan
5. Sistem Inspeksi, Kontrol dan Evaluasi
Pekerjaan
6. Aspek lain-lain
2 I.A. Rai
2009
1. Keahlian Tenaga Kerja
Widhiawati
2. Perubahan Desain/Detail Pekerjaan Pada
Waktu Pelaksanaan

34

Tabel 2.2 lanjutan

3. Keterlambatan Pengiriman Bahan 4. Tidak Lengkapnya Identifikasi Jenis Pekerjaan 5. Lamanya Waktu Proses Persetujuan
3. Keterlambatan Pengiriman Bahan
4. Tidak Lengkapnya Identifikasi Jenis
Pekerjaan
5. Lamanya Waktu Proses Persetujuan
Contoh Bahan Oleh Pemilik
6. Keterlambatan Penyediaan Peralatan
7. Akses ke Lokasi Proyek
8.
Komunikasi antara Perncanaan dan
Kontraktor
9.
10.
Keterlambatan Pembayaran Oleh
Pemilik
Intensitas Curah Hujan
3
Suyatno
2010
1.
Kekurangan Tenaga Kerja
2.
Kesalahan Dalam Perencanaan dan
Spesifikasi
3.
4.
Cuaca Buruk/Hujan Deras/Lokasi
Tergenang
Produktivitas Tidak Optimal Oleh
Kontraktor
5.
Kesalahan Pengolahan Material
6.
Perubahan Scope Pekerjaan Oleh
Konsultan

35

Berbagai faktor yang dikemukakan dari hasil penelitian terdahulu di atas dijadikan sebagai dasar pertimbangan memilih faktor-faktor keterlambatan penyelesaian proyek pada penelitian ini. Faktor-faktor penyebab keterlambatan yang menjadi poin pembahasan pada penelitian ini dibedakan menjadi 10 faktor, yaitu:

Tabel 2.3 Sepuluh faktor Penyebeb Keterlambatan

No Variabel Peneliti 1 Perubahan desain/detail pekerjaan pada waktu pelaksanan Budiman Praboyo; I.A. Rai
No
Variabel
Peneliti
1
Perubahan desain/detail pekerjaan pada waktu
pelaksanan
Budiman Praboyo; I.A.
Rai Widhiawati; Suyatno
2
Adanya banyak (sering) pekerjaan tambah
Budiman Praboyo
3
Proses permintaan dan persetujuan contoh bahan
yang lama
Budiman Praboyo & I.A.
Rai Widhiawati
4
Perubahan
lingkup
pekerjaan
pada
waktu
Budiman
Praboyo
&
pelaksanaan
Suyatno
5
Kurangnya keahlian tenaga kerja
Budiman Praboyo & I.A.
Rai Widhiawati
6
Keterlambatan pembayaran oleh pemilik
Budiman Praboyo; I.A.
Rai Widhiawati; Suyatno
7
Mobilisasi sumber daya (bahan, alat, tenaga
kerja) yang lambat
Budiman Praboyo & I.A.
Rai Widhiawati
8
Jumlah pekerja yang kurang memadai/sesuai
dengan aktivitas yang ada
Suyatno
&
Budiman
Praboyo
9
Tidak lengkapnya identifikasi jenis pekerjaan
yang harus ada
I.A.
Rai
Widhiawati
&
Budiman Praboyo
10
Akses ke lokasi proyek sulit
Suyatno;
Budiman
Praboyo;
I.A.
Rai
Widhiawati

36

2.2.14. Populasi dan Sampel Serta Jumlah Sampel

2.2.14.1. Populasi

Menurut Suharsimi Arikunto dalam bukunya yang berjudul Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, 1998 : 130, menyatakan bahwa populasi adalah keseluhan subyek penelitian, sedangkan Sutrisno Hadi dalam bukunya yang berjudul Metodologi Research, Jilid I, 1981: 77, menyatakan bahwa populasi adalah sejumlah produk atau individu yang mempunyai sifat sama.

sejumlah produk atau individu yang mempunyai sifat sama. 2.2.14.2. Sampel Menurut Sutrisno Hadi dalam bukunya yang

2.2.14.2. Sampel

Menurut Sutrisno Hadi dalam bukunya yang berjudul Metodologi Research, Jilid I, 1981: 77, menyatakan sampel adalah bagian individu yang diselidiki, sedamgkan menurut Suharsimi Arikunto dalam ikunya yang berjudul Presedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, 1981: 131, sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Berdasarkan kedua pendapat tersebut dapat dinyatakan bahwa sampel adalah sebagian dari populasi yang representatif yang menjadi subyek penelitian yang sesungguhnya.

2.2.14.3. Jumlah Sampel

Menurut Sri Rahayu dalam bukunya yang berjudul Materi Metodologi Penelitian, 2005: 30, menyatakan sebagai pedoman umum dalam pengambilan sampel yang representative adalah jika populasi dibawah 100 dipergunakan sampel sebesar 50% dan jika di atas 100 maka diambil sebesar 15-20% sampel atau jumlah sampel yang dianjurkan dalam pengertian SPSS adalah 50 sampai 100 baris (antara 50 sampai 100 sampel). Selanjutnya jika variabel yang dipergunakan dalam penelitian itu banyak maka ukuran sampelnya minimal 10 kali atau lebih dari jumlah faktor atau variabel yang digunakan dalam penelitian

37

2.2.15. Metode Pengumpulan Data

Meteode pengumpulan data adalah cara-cara yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data. Dalam penelitian data yang dibutuhkan untuk dianalisis adalah data yang sesuai dengan persoalan yang dihadapi, artinya data yang dikumpulkan itu berkaitan dan tepat. Dalam penelitian ini pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan kuisioner tertulis angket, yaitu kumpulan pertanyaan yang diajukan secara tertulis kepada seorang responden, dan cara menjawabnya juga dilakukan dengan tertulis.

dan cara menjawabnya juga dilakukan dengan tertulis. Untuk studi lapangan (pengamatan langsung pada proyek)

Untuk studi lapangan (pengamatan langsung pada proyek) dengan cara :

1)

Kuisioner Metode pengumpulan data dengan cara membagikan daftar pertanyaan sesuai dengan yang diteliti kepada responden. Hal ini sesuai dengan pendapat Suharsimi Arikunto dalam bukunya yang berjudul Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, 1998: 55, Kuisioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui. Kuisioner dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu:

1. Dipandang dari cara menjawab

a) Kuisioner terbuka, yaitu sejumlah pertanyaan tertulis yang memberikan kesempatan pada responden untuk menjawab dalam kalimatnya sendiri.

b) Kuisioner tertutup, yaitu sejumlah pertanyaan tertulis yang sudah disediakan jawabannya sehingga responden tinggal memilih.

2. Dipandang dari jawaban yang diberikan

a) Kuisioner langsung, yaitu jika daftar pertanyaannya diserahkan pada responden agar menjawab tentang dirinya.

b) Kuisioner tak langsung, yaitu jika daftar pertanyaan diserahkan kepada respunden agar menjawab tentang orang lain.

38

3. Dipandang dari bentuknya

a) Kuisioner pilihan ganda yaitu sama dengan kuisioner tertutup, responden tinggal memilih jawaban yang tersedia.
b) Kuisioner isian yaitu sama dengan kuisioner terbuka, responden diberi kesempatan untuk menjawab dengan kalimatnya sendiri.
c) Chek lilst yaitu sebuah daftar pertanyaan dimana responden tinggal menghubungkan tanda chek (v) pada kolom yang sesuai. Rating scale yaitu sebuah pertanyaan yang diikuti oleh kolom-

d)

scale yaitu sebuah pertanyaan yang diikuti oleh kolom- d) kolom yang menunjukkan tingkatan, misalnya mulai sangat

kolom yang menunjukkan tingkatan, misalnya mulai sangat baik sampai sangat kurang baik.

BAB 3

39
39

METODE PENELITIAN

Penelitian ini termasuk jenis penelitian survey yaitu penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunakan kuisioner sebagai alat pengumpulan data menurut Singaribun, 1995 (dalam Suyatno, 2010). Ada tiga persyaratan penting dalam mengadakan kegiatan penelitian yaitu :

penting dalam mengadakan kegiatan penelitian yaitu : 1. Sistematis, apabila penelitian dilaksanakan menurut pola

1. Sistematis, apabila penelitian dilaksanakan menurut pola tertentu, dari yang paling sederhana sampai kompleks hingga tercapai tujuan secara efektif dan efisien.

2. Berencana, apabila penelitian dengan adanya unsur kesengajaan dan sebelumnya sudah dipikirkan langkah-langkah pelaksanaannya.

3. Mengikuti konsep ilmiah, apabila mulai dari awal sampai akhir kegiatan penelitian mengikuti cara-cara yang sudah ditentukan, yaitu prinsip memperoleh ilmu pengetahhuan.

Metode penelitian adalah suatu ilmu yang mempelajari cara-cara penelitian untuk menemukan, mengumpulkan, mengembangkan, menganlisis dan menguji kebenarannya, dikerjakan dengan hati-hati, sistematis dan berdasarkan ilmu pengetahuan dengan metode ilmiah. Pada peneltian ini pengumpulan data dilakukan dengan cara mengumpulkan data primer, yaitu langsung berhubungan dengan responden dengan cara memberikan beberapa pertanyaan yang berupa kuisioner yang disusun oleh peneliti.

Berkaitan dengan apa yang dipaparkan di atas, maka dapat dijelaskan dengan bagan alir dari flow chart berikut ini :

39
39

40

3.1. Bagan Alir Penellitian

Adapun tahapan-tahapan kegiatan yang akan dilakukan dalam penelitian ini,

disajikan dalam bentuk bagan alir berikut ini :

Mulai
Mulai
Tinjauan Pustaka dan Landasan Teori Analisis Data Deskriptif (SPSS) 1. Analisis validitas dan reliabilitas 2.
Tinjauan Pustaka dan Landasan Teori
Analisis Data Deskriptif (SPSS)
1. Analisis validitas dan reliabilitas
2. Analisis faktor
3. Analisis regresi linier berganda
Pembahasan

Latar Belakang, Perumusan Masalah, Batasan Masalah

Penyusunan, Pembagian, dan Pengumpulan Kuisioner

Mereduksi (Mengelompokkan) Faktor Penyebab Keterlambatan

Menentukan Pengaruh Faktor Penyebab Keterlambatan Terhadap Biaya

Pengaruh Faktor Penyebab Keterlambatan Terhadap Biaya Kesimpulan dan Saran Selesai Gambar 3.1 Diagram Alir Tahapan

Kesimpulan dan Saran

Selesai
Selesai

Gambar 3.1 Diagram Alir Tahapan dalam Penelitian

41

Berikut penjelasan tahapan dalam penelitian :

1. Latar belakang, perumusan masalah, dan batasan masalah:

a. Memilih masalah yang diteliti.

b. Merumuskan, membatasi masalah, menentukan tujuan dan manfaat, kemudian melakukan studi pendahuluan.

tujuan dan manfaat, kemudian melakukan studi pendahuluan. 2. Tinjauan pustaka dan landasan teori: a. Menyajikan kajian

2. Tinjauan pustaka dan landasan teori:

a. Menyajikan kajian pustaka/refrensi untuk mendukung teori utama.

b. Menguji sebuah teori yang telah mapan.

3. Penyusunan, pembagian, dan pengumpulan kuisioner:

a. Menentukan populasi dan sampel yang akan diteliti

b. Menetapkan, merumuskan dan memilih teknik pengumpulan data

c. Menetapkan dan mengumpulkan sampel serta mengklasifikasikan data

4. Analisis data deskriptif dengan menggunakan program komputer Statistical Product and Service Solution (SPSS) versi 19, yaitu:

a. Analisis validitas dan reliabilitas.

b. Analisis faktor.

c. Analisis regresi linier berganda

5. Pembahasan Melakukan analisis untuk mengelompokkan factor-faktor penyebab keterlambatan pekerjaan poryek konstruksi dan menganalisis factor keterlambatan tersebut terhadap biaya.

42

3.2. Responden

Responden dalam penelitian ini adalah individu yang berpengalaman sebagai pelaksana pada proyek konstruksi di wilayah karesidenan Surakarta atau pada proyek studi kasus dan pernah memegang jabatan sebagai pemimpin kegiatan, manajer proyek dan manajer lapangan.

3.3.

Objek Penelitian

manajer proyek dan manajer lapangan. 3.3. Objek Penelitian Objek penelitian adalah mengkaji faktor-faktor penyebab

Objek penelitian adalah mengkaji faktor-faktor penyebab keterlambatan dalam pelaksanaan proyek konstruksi di wilayah karesidenan Surakarta.

3.4. Data Primer

Data primer dalam penelitian ini berupa jawaban kuisioner responden dari pertanyaan-pertanyaan yang telah dibuat oleh peneliti yang diisi oleh pihak kontraktor.

3.5.

Profil Responden, Profil Proyek dan Persepsi Responden

Untuk memudahkan, hasil penelitian yang diperoleh dari kuisioner dibagi menjadi tiga kelompok yaitu : Profil responden, profil proyek dan persepsi responden.

a. Profil responden.

1. Profil responden dipisahkan sesuai dengan jabatan responden, yaitu :

manajer proyek dan manajer lapangan

2. Pengalaman responden dikelompokkan menjadi dua yaitu :

pengalaman 1 s.d 5 tahun dan lebih besar 5 tahun

3. Pendidikan responden terakhir dikelompokkan menjadi lima yaitu :

sederajat SMA, diploma, S1, S2, dan S3.

43

b. Profil proyek

1. Nilai proyek dikelompokkan manjadi empat yaitu : 0-50 juta, 51-100

juta, 101 juta - 1 milyar dan di atas 1 milyar

2. Jenis proyek dikelompokkan menjadi dua yaitu : proyek gedung dan proyek jalan

c. Persepsi responden

1.

Jawaban responden terhadap pertanyaan”Apakah dalam pelaksanaan proyek konstruksi di wilayah kotya Surakarta sering mengalami keterlambatan yaitu : Ya / Tidak

Surakarta sering mengalami keterlambatan yaitu : Ya / Tidak Persepsi responden terhadap faktor-faktor penyebab

Persepsi responden terhadap faktor-faktor penyebab keterlambatan penyelesaian proyek-proyek konstruksi di wilayah karesidenan Ska.

2.

3.6. Perancangan Kuisioner

Kuisioner dirancang dalam tiga kelompok.

1. Data responden. Pada bagian ini dikumpulkan data mengenai Jabatan responden, Pengalaman responden, Jenis proyek konstruksi di wilayah karesidenan Ska yang telah dikerjakan/ditangani.

2. Data proyek. Pada bagian ini akan didapat data mengenai jenis proyek konstruksi dan nilai proyek yang pernah dikerjakan oleh responden, kemudian pengaruh terhadap biaya yang telah direncanakan.

3. Data persepsi responden terhadap penyebab keterlambatan proyek. Bagian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana faktor keterlambatan proyek tersebut berpengaruh pada keterlambatan pelaksanaan proyek konstruksi di wilayah karesidenan Surakarta.

44

3.7. Metode Analisis Data

Tujuan analisis data menyederhanakan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasi. Dalam proses ini sering kali digunakan statistik karena memang salah satu fungsi statistik adalah menyederhanakan data. Pengukuran kuisioner dilakukan dengan skala linkert dimana responden diberi pilihan (obtion) yang kemudian tinggal memilih derajat kesetujuan/ketidaksetujuannya atas pertanyaan yang diajukan.

kesetujuan/ketidaksetujuannya atas pertanyaan yang diajukan. Nilai dari skala linkert tersebut adalah : a. Jawaban

Nilai dari skala linkert tersebut adalah :

a. Jawaban sangat berpengaruh diberi nilai 4

b. Jawaban berpengaruh diberi nilai 3

c. Jawaban agak berpengaruh diberi nilai 2

d. Jawaban tidak berpengaruh diberi nilai 1

1. Mereduksi (Mengelompokkan) Faktor

Faktor-faktor penyebab keterlambatan yang telah ditentukan kemudian akan direduksi atau dikelompokkan menjadi factor baru yang jumlahnya lebih sedikit dari faktor asli/awal. Pengelompokkan ini akan dilakukan dengan menggunakan teknik analisis faktor. Di dalam teknik analisis faktor metode yang dipergunakan dalam menganalisis faktor yaitu principal components analysis. Kemudian setelah faktor-faktor asli/awal direduksi atau dikelompokkan maka langkah berikutnya yaitu pemberian nama baru terhadap faktor-faktor hasil reduksi tersebut.

2. Menentukan

Biaya

Pengaruh

Faktor

Penyebab

Keterlambatan

Terhadap

Setelah diperoleh faktor-faktor baru yang tidak saling berkorelasi (uncorrelated factor) hasil dari analisis faktor maka langkah selanjutnya yang menjadi penting untuk dilakukan dalam penelitian ini adalah menetukan

45

pengaruh dari faktor-faktor penyebab keterlambatan yang baru tadi terhadap biaya. Metode atau cara yang dipilih untuk menentukan pengaruh tersebut yaitu analisis linier berganda.

baru tadi terhadap biaya. Metode atau cara yang dipilih untuk menentukan pengaruh tersebut yaitu analisis linier

BAB 4

46
46

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

4.1. Tinjauan Umum

Dalam bab ini disajikan gambaran umum obyek penelitian serta hasil yang telah diperoleh, beserta interpelasi
Dalam bab ini disajikan gambaran umum obyek penelitian serta hasil yang telah
diperoleh, beserta interpelasi data. Analisis data ini merupakan bagian terpenting
dari penyusunan skripsi karena dalam analisis ini diperoleh kesimpulan yang
merupakan gambaran jawaban dari masalah yang dikemukakan pada pendahuluan
di depan. Dalam penelitian ini terdapat 10 faktor penyebab terjadinya
keterlambatan penyelesaian proyek yang diperoleh dari beberapa refrensi
penelitian sejenis. Faktor-faktor tersebut ditampilkan dalam tabel di bawah ini.
Tabel 4.1 Faktor-Faktor Penyebab Keterlambatan Penyelesaian Proyek
No
Variabel
Peneliti
1
Perubahan desain/detail pekerjaan pada waktu
pelaksanan
Budiman Praboyo; I.A.
Rai Widhiawati; Suyatno
2
Adanya banyak (sering) pekerjaan tambah
Budiman Praboyo
3
Proses permintaan dan persetujuan contoh
bahan yang lama
Budiman Praboyo & I.A.
Rai Widhiawati
4
Perubahan lingkup pekerjaan pada waktu
pelaksanaan
Budiman
Praboyo
&
Suyatno
5
Kurangnya keahlian tenaga kerja
Budiman Praboyo & I.A.
Rai Widhiawati
6
Keterlambatan pembayaran oleh pemilik
Budiman Praboyo; I.A.
Rai Widhiawati; Suyatno
7
Mobilisasi sumber daya (bahan, alat, tenaga
kerja) yang lambat
Budiman Praboyo & I.A.
Rai Widhiawati
8
Jumlah pekerja yang kurang memadai/sesuai
dengan aktivitas yang ada
Suyatno
&
Budiman
Praboyo
9
Tidak lengkapnya identifikasi jenis pekerjaan
yang harus ada
I.A.
Rai
Widhiawati
&
Budiman Praboyo
10
Akses ke lokasi proyek sulit
Suyatno;
Budiman
Praboyo;
I.A.
Rai
Widhiawati
46

47

Berdasarkan tabel di atas, ke-10 variabel akan dijadikan menjadi variabel bebas untuk analisis faktor. Faktor tersebut adalah perubahan desain/detail pekerjaan pada waktu pelaksanaan (X 1 ), Adanya banyak (sering) pekerjaan tambah (X2), Proses permintaan dan persetujuan contoh bahan yang lama (X3), Perubahan lingkup pekerjaan pada waktu pelaksanaan (X4), Kurangnya keahlian tenaga kerja (X5), Keterlambatan pemayaran oleh pemilik (X6), Moilisasi sumber daya (bahan, alat, tenaga kerja) yang lambat (X7), Jumlah perkerja yang kurang memadai/sesuai dengan aktivitas pekerjaan yang ada (X8), Tidak lengkapnya identifikasi jenis pekerjaan yang harus ada (X9), Akses ke lokasi proyek sulit (X10). Sesuai dengan tahapan penelitian yang telah diutarakan pada bab sebelumnya setelah didapatkan data primer yang dibutuhkan, kemudian dilanjutkan dengan analisis data dan pembahasan untuk mendapatkan jawaban dari rumusan yang ada. Analisis data ini dikerjakan dengan bantuan program SPSS (Statistical Product and Service Solution) versi 17.00.

SPSS (Statistical Product and Service Solution) versi 17.00. 4.2. Deskripsi Lokasi Penelitian Lokasi pengambilan data

4.2.

Deskripsi Lokasi Penelitian

Lokasi pengambilan data dilakukan pada perusahaan-perusahaan penyedia jasa konstruksi yang tergabung dalam persatuan GAPENSI Surakarta yaitu di wilayah Solo raya.

4.3. Deskripsi Responden

Populasi dalam penilitian ini adalah 40 responden yaitu dari pihak kontraktor dan pihak perencana. Di bawah ini penulis tampilkan karakteristik responden berdasarkan jabatan dalam perusahaan, lama bekerja dalam perusahaan, pendidikan terakhir, umur, jenis kelamin, jenis proyek yg dikerjakan, rata-rata nilai kontak proyek, dan persepsi keterlambatan proyek.

48

Tabel 4.2 Nama Kontraktor

No Nama Kontraktor Nama Responden 1 PT. WIDOROKANDANG Ir. Sukarno 2 PT. WIDOROKANDANG Ir. Sartono
No
Nama Kontraktor
Nama Responden
1
PT. WIDOROKANDANG
Ir.
Sukarno
2
PT. WIDOROKANDANG
Ir.
Sartono
3
PT. WIDOROKANDANG
Ir.
Sularto
4
PT. WIDOROKANDANG
Ir.
Amshori
5
PT. WIDOROKANDANG
Ir.
Supriyanto
6
PT. MEKAR LIMA PUTRA
Dhalia Indri Astuti, S.psi
7
CV.
BANU
Ir.
H Bambang Nusantoro, MM
8
CV.
DIAS KARYA
Ir.
Agus Sarjoko
9
PT. TATA ANALISA MULTIMULYA
Ir.
Sudrajat Pramusinto
10
PT. KANDHI ARTHA ABADI
Idoe Ranny Fajar N, ST
11
PT. SETYA DARMA
Yosep Yauhansa, ST
12
PT. NADA KONSTRUKSI
Ari Nugroho, ST
13
PT. MANIRA ARTA RAMA MANDIRI
Tri Wibowo, ST
14
PT. RUDI PERSADA NUSANTARA
Umar Seno Hadi
15
PT. JATI AGUNG ARSITAMA
Ir.
Chrisna
16
PT. PANCADARMA PUSPAWIRA
Deddi K, Amd
17
CV.
ADI PURA
Budi Purwanto
18
CV.
PUTRA KALINGGA
Riyanto Amin Nugruho, ST
19
CV.
AGUNG REJEKI JAYA
Subagyo
20
CV.
GITTA PERSADA
Ir.
Sri Hertadi
21
CV . SENA PRATAMA JAYA
Ir.
H. Dwi Awan Ruhananto, MT
22
PT. SUMBER REJO
Awan Supriadi, ST
23
CV.
WAHYU PONCO MULYO
Hardimah, Amd
24
CV.
REJO AGUNG
Rudy Setiono, ST
25
PT. PUTRA SANTOSA
Subur Subiyanto, ST
26
CV.
PILAR KENCANA
Taufik Andreas
27
CV.
PANCA KARYA UTAMA
Ir.
Suyamto
28
PT. MULYO AGUNG SOLO
Sri Mulyono, ST
29
CV.
MITRA ANDA
Mutiara Dewi Ariani, S.MM
30
CV.
MITRA DANANJAYA
Teni Dewi, SH
31
CV.
MAKARTI UTAMA
Dra. Rini Murniwati
32
CV.
LUHUR
Agung Tirto, SH.MKN.
33
CV.
KURNIA KARYA
Suprapti, ST
34
CV.
KAROMAH BRILIAN
Ir.
H. Suparmi, H.S
35
CV.
KIAT JAYA
Ir.
H. Sri Haryono, MT.
36
PT. KANDHI ARTHA ABADI
Abdul Hadi, SE
37
PT. KARYA KENCANA MUKTI
Ir.
H. Setiyo Budiyanto, MM.
38
PT. HUTAMA KARYA MEMBANGUN
H.
Marimin, ST. MT.
39
PT. AGUNG WASKITA
Arditya Heri Waskita, ST
40
PT. ADI NUGROHO KONSTRUKSINDO
H.
Bambang Noesantoro, ST

49

4.3.1. Karakteristik Responden Berdasarkan Jabatan dalam Perusahaan

Proyek konstruksi dikategorikan proyek yang kompleks dan rumit karena item pekrjaan nya cukup banyak sehingga dalam operasionalnya membutuhkan banyak tenaga ahli. Dalam suatu proyek akan ditemukan berbagai jabatan/posisi sesuai dengan tanggungjawab pekerjaannya. Responden dalam penelitian ini meliputi jabatan seperti yang tertera pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Jabatan dalam Perusahaan

No Jabatan dalam Perusahaan Jumlah Responden Persentase (%) 1 Manajer Proyek 9 22,50 2 Manajer
No
Jabatan dalam Perusahaan
Jumlah Responden
Persentase (%)
1
Manajer Proyek
9
22,50
2
Manajer Lapangan
14
35,00
3
Site Engineer
7
17,50
4
Supervisor (Pengawas Lapangan)
8
20,0
5
Estimator/QC
2
5,00
Total
40
100,00
Jabatan dalam Perusahaan
5.00%
22.50%
20.00%
17.50%
Manajer Proyek
Manajer Lapangan
Site Engineer
Supervisor
Estimator/QC
35.00%

Gambar 4.3 Diagram Karakteristik Responden Berdasarkan Jabatan dalam Perusahaan

Dari tabel dan grafik di atas dapat dilihat bahwa jabatan dalam perusahaan didominasi oleh kelompok manajer yaitu manajer proyek dan manajer lapangan dengan persentase lebih dari 50% kemudian disusul olek kelompok supervisor 20%, site engineer 17,5% dan estimator/QC 5%.

50

4.3.2.

Karakteristik

Responden

Berdasarkan

Lama

Bekerja

dalam

Perusahaan

Keakuratan jawaban seorang responden tergantung dari keahlian yang dimiliki. Keahlian tersebut diperoleh dari pengalaman kerja di lapangan. Dapat dikatakan bahwa semakin lama bekerja maka keahlian juga akan semakin tinggi. Oleh karena itu peneliti mengelompokan responden berdasarkan lamanya bekerja dalam suatu perusahaan seperti pada tabel berikut.

Tabel 4.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Bekerja dalam Perusahaan No Lama Bekerja dalam Perusahaan
Tabel 4.4
Karakteristik
Responden
Berdasarkan
Lama
Bekerja
dalam
Perusahaan
No
Lama Bekerja dalam Perusahaan
Jumlah Responden
Persentase (%)
1
1-5 Tahun
16
40,00
2
> 5 Tahun
24
60,00
Total
40
100,00
Lama Bekerja dalam Perusahaan
40.00%
1-5 Tahun
> 5 Tahun
60.00%

Gambar 4.4 Diagram Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Bekerja

dalam

Perusahaan

Berdasarkan tabel di atas dapat dicermati bahwa dari 40 responden terdapat sebanyak 60 % memiliki pengalaman > 5 tahun bekerja. Dengan pengalaman tersebut diharapkan jawaban yang diberikan oleh responden menjadi reliabel dan akurat sehingga data yang diperoleh lebih dapat dipercaya.

51

4.3.3. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir

Tingkat pendidikan responden sangat berpengaruh terhadap pengambilan keputusan. Banyak hal yang menjadi pertimbangan dalam memutuskan suatu tindakan dan ini menjadi penilaian terhadap kematangan emosional responden tersebut. Tingkat pendidikan responden tersebut dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.5 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir

No Pendidikan Terakhir Jumlah Responden Persentase (%) 1 Sederajat SMA 3 7,50 2 Diploma 3
No
Pendidikan Terakhir
Jumlah Responden
Persentase (%)
1
Sederajat SMA
3
7,50
2
Diploma 3
5
12,50
3
S1
25
62,50
4
S2
7
17,50
5
S3
0
0
Total
40
100,00
Pendidikan Terakhir
0.00%
7.50%
17.50%
12.50%
Sederajat SMA
Diploma 3
S3
S2
S3
62.50%

Gambar

4.5

Diagram

Karakteristik

Responden

Berdasarkan

Pendidikan

 

Terakhir

Berdasarkan tabel dan grafik di atas dilihat bahwa responden secara keseluruhan berasal dari kalangan tingkat pendidikan S1 dengan persentase mencapai 62,5% dan disusul S2 17,5%. Melihat persentase tersebut bisa dikatakan bahwa tingkat kematangan emosional responden dalam memutuskan suatu tindakan yang harus dilakukan dalam suatu proyek akan lebih baik bila dibandingkan dengan tingkat pendidikan diploma 3 dan sederajat SMA.

52

4.3.4. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia

Pengelompokan usia responden dimaksudkan untuk mengetahui persebaran kelompok usia responden. Dalam penelitian ini usia responden dikelompokkan seperti pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.6 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia

No Usia Responden Jumlah Responden Persentase (%) 1 20-35 Tahun 10 25,00 2 35-55 Tahun
No
Usia Responden
Jumlah Responden
Persentase (%)
1
20-35 Tahun
10
25,00
2
35-55 Tahun
23
57,50
3
> 55
Tahun
7
17,50
Total
40
100,00
Usia Responden
17.50%
25.00%
20-35 Tahun
35-55 Tahun
> 55 Tahun
57.50%

Gambar 4.6 Diagram Karakteristik Responden Berdasarkan Usia

Dari tabel dan grafik di atas dilihat bahwa lebih dari 50% responden didominasi oleh kalangan responden dengan usia 35-55 tahun, kemudian responden dengan usia 20-35 tahun sebanyak 25% dan kelompok yang paling kecil yaitu responden di atas 50 tahun. Melihat persentase tersebut bahwa responden tergolong ke dalam usia produktif.

53

4.3.5. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Karakteristik berikut ini yaitu berdasarkan jenis kelamin. Tujuan dari peneliti yaitu ingin melihat perbandingan pria dan wanita yang berprofesi di bidang kostruksi untuk wilayah karasidenan Surakarta.

Tabel 4.7 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

No Jenis Kelamin Jumlah Responden Persentase (%) 1 Pria 36 90,00 2 Wanita 4 10,00
No
Jenis Kelamin
Jumlah Responden
Persentase (%)
1
Pria
36
90,00
2
Wanita
4
10,00
Total
40
100,00
Jenis Kelamin
10.00%
Pria
Wanita
90.00%

Gambar 4.7 Diagram Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Melihat tabel dan grafik di atas dari 40 responden dengan jelas dapat diperhatikan bahwa profesi sebagai kontraktor dan konsultan perencana dalam bidang konstruksi masih didominasi oleh pria dengan rasio pria : wanita yaitu 9:1 untuk wilayah karasidenan Surakarta.

54

4.4. Deskripsi Proyek

4.4.1. Karakteristik Berdasarkan Jenis Proyek Konstruksi

Setiap jenis proyek mempunyai keunikan masing-masing dalam hal kendala yang

ditemui. Tidak ada proyek yang benar-benar identik sehingga metode kerja yang

akan digunakan juga berbeda.

Tabel 4.8 Karakteristik Berdasarkan Jenis Proyek Konstruksi

No Berdasarkan Jenis Proyek Konstruksi Jumlah Responden Persentase (%) 1 Proyek Gedung 27 67,50 2
No
Berdasarkan Jenis Proyek
Konstruksi
Jumlah Responden
Persentase (%)
1
Proyek Gedung
27
67,50
2
Proyek Jalan
13
32,50
Total
40
100,00
Berdasarkan Jenis Proyek Konstruksi
32.50%
Proyek Gedung
67.50%
Proyek Jalan

Gambar 4.8 Diagram Karakteristik Berdasarkan Jenis Proyek Konstruksi

Berdasarkan tabel dan grafik di atas disimpulkan bahwa jenis proyek yang paling

banyak dikerjakan oleh responden yaitu proyek gedung bila dibandingkan dengan

proyek jalan.

55

4.4.2. Karakteristik Berdasarkan Nilai Kontrak Proyek Konstruksi

Nilai kontrak proyek yang dapat diikuti oleh suatu kontraktor tergantung dari gred perusahaan. Semakin tinggi gred perusahaan menunjukkan semakin besar perusahaan tersebut sehingga proyek yang akan ditangani juga termasuk ke dalam proyek skala besar.

Tabel 4.9 Karakteristik Berdasarkan Nilai Kontrak Proyek Konstruksi

No Nilai Kontrak Proyek Jumlah Responden Persentase (%) 1 0-50 juta 0 0 2 50-100
No
Nilai Kontrak Proyek
Jumlah Responden
Persentase (%)
1
0-50 juta
0
0
2
50-100 juta
7
17,50
3
100 juta- 1 milyar
15
37,50
4
>1 milyar
18
45,00
Total
40
100,00
Nilai Kontrak Proyek
0.00%
17.50%
0-50 Juta
45.00%
50-100 Juta
100 Juta - 1 Milyar
37.50%
> 1 Milyar

Gambar

4.9

Diagram

Karakteristik

Konstruksi

Berdasarkan

Nilai

Kontrak

Proyek

Dari tabel dan grafik di atas dicermati bahwa nilai kontrak proyek yang dikerjakan oleh responden untuk wilayah karasidenan Surakarta lebih banyak bernilai antara 100 juta – 1 milyar yaitu 45% dan kemudian disusul proyek dengan nilai di atas 1 milyar sebanyak 37,5%. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan kontraktor yang berada di wilayah Surakarta masih tergolong kontraktor dengan gred sedang yaitu antara gred 3-5.

56

4.4.3. Karakteristik Apakah dalam Pelaksanaan Proyek Konstruksi sering

Mengalami Keterlambatan

Melihat banyaknya pihak yang terkait dan banyaknya sumber daya yang harus

dikelolah dalam suatu proyek konstruksi maka diperlukan perencanaan dan

penjadwalan yang akurat supaya klaim keterlambatan dapat dihindarkan. Dibawah

ini merupakan persepsi responden mengenai keterlambatan yang dialami dalam

mengerjakan proyek konstruksi.

Tabel 4.10 Karakteristik Apakah dalam Pelaksanaan Proyek Konstruksi sering Mengalami Keterlambatan No Apakah dalam
Tabel 4.10
Karakteristik Apakah dalam Pelaksanaan Proyek Konstruksi
sering Mengalami Keterlambatan
No
Apakah dalam Pelaksanaan
Proyek Konstruksi sering
Mengalami Keterlambatan
Jumlah Responden
Persentase (%)
1
Ya
24
60,00
2
Tidak
16
40,00
Total
40
100,00
Apakah dalam Pelaksanaan Proyek Konstruksi sering
Mengalami Keterlambatan
40.00%
60.00%
Ya
Tidak

Gambar 4.10 Diagram Karakteristik Apakah dalam Pelaksanaan Proyek

Konstruksi sering Mengalami Keterlambatan

Berdasarkan tabel dan grafik di atas dapat disimpulkan bahwa proyek konstruksi

yang berjalan di wilayah karasidenan Surakarta sering mengalami keterlambatan

dalam penyelesaiannya. Persepsi jawaban responden mencapai persentase 60%

yang menjawab bahwa proyek mengalami keterlambatan.

4.5. Analisis Data

57

Selanjutnya

untuk

menguji

kuisioner

digunakan

analisis

uji

validitas

dan

reliabilitas.

Tabel 4.11 Faktor Penyebab Keterlambatan Penyelesaian Proyek Konstruksi di Wilayah Karasidenan Surakarta No
Tabel
4.11
Faktor
Penyebab
Keterlambatan
Penyelesaian
Proyek
Konstruksi di Wilayah Karasidenan Surakarta
No
Pertanyaan
Kode
1
Perubahan desain/detail pekerjaan pada waktu pelaksanaan
X1
2
Adanya banyak (sering) pekerjaan tambah
X2
3
Proses permintaan dan persetujuan contoh bahan yang lama
X3
4
Perubahan lingkup pekerjaan pada waktu pelaksanaan
X4
5
Kurangnya keahlian tenaga kerja
X5
6
Keterlambatan pembayaran oleh pemilik
X6
7
Mobilisasi sumber daya (bahan, alat, tenaga kerja) yang
lambat
X7
8
Jumlah perkerja yang kurang memadai/sesuai dengan
aktivitas pekerjaan yang ada
X8
9
Tidak lengkapnya identifikasi jenis pekerjaan yang harus ada
X9
10
Akses ke lokasi proyek sulit
X10
11
Faktor-faktor
tersebut
di
atas
bagaimana
pengaruhnya
Y
terhadap biaya
Tabel 4.12 Rekapitulasi Berdasarkan Pengisian Kuisioner

No

Nama

X1

X2

X3

X4

X5

X6

X7

X8

X9

X10

1

Ir. Sukarno

3

4

3

3

4

4

3

3

4

2

2

Ir. Sartono

3

4

4

3

3

4

3

4

3

4

3

Ir. Sularto

4

3

4

4

3

3

4

3

4

3

4

Ir. Amshori

3

4

3

3

4

3

3

4

3

3

5

Ir. Supriyanto

3

2

3

3

4

3

1

3

4

3

6

Dhalia Indri Astuti, S.psi

4

3

2

3

2

3

1

3

4

3

7

Ir. H Bambang Nusantoro, MM

2

3

4

4

3

4

3

3

4

3

8

Ir. Agus Sarjoko

3

4

3

3

3

4

3

3

2

3

9

Ir. Sudrajat

3

2

3

4

4

3

4

3

2

3

Pramusinto

10

Idoe Ranny Fajar N, ST

3

4

4

3

3

4

3

2

3

4

11

Yosep Yauhansa, ST

4

3

2

3

2

3

1

3

4

3

12

Ari Nugroho, ST

2

3

4

4

3

4

3

3

4

3

13

Tri Wibowo, ST

3

4

3

3

3

4

3

3

2

3

58

14 Umar Seno Hadi 3 2 3 4 4 3 4 3 2 3 15
14
Umar Seno Hadi
3
2
3
4
4
3
4
3
2
3
15
Ir.
Chrisna
3
4
4
3
3
4
3
2
3
4
16
Deddi K, Amd
4
3
4
4
3
3
4
3
4
4
17
Budi Purwanto
3
4
3
3
4
4
3
3
4
3
18
Riyanto Amin
3
4
4
3
3
4
3
4
3
4
Nugruho, ST
19
Subagyo
4
3
4
4
3
2
4
3
4
4
20
Ir.
Sri Hertadi
3
4
2
3
4
3
3
4
3
3
21
Ir.
H. Dwi Awan
3
2
3
3
4
3
3
1
3
3
Ruhananto, MT
22
Awan Supriadi, ST
3
2
3
3
2
4
3
4
3
2
23
Hardimah, Amd
4
3
2
4
3
4
3
2
3
3
24
Rudy Setiono, ST
3
4
4
3
4
3
3
4
3
3
25
Subur Subiyanto, ST
3
4
4
4
3
2
3
4
4
3
26
Taufik Andreas
2
2
1
2
3
3
1
2
3
4
27
Ir.
Suyamto
2
2
3
2
4
1
3
3
2
2
28
Sri Mulyono, ST
2
3
3
2
1
3
2
3
2
3
29
Mutiara Dewi Ariani,
3
3
1
4
3
2
3
2
2
2
S.MM
30
Teni Dewi, SH
3
4
4
3
3
4
2
4
3
4
31
Dra. Rini Murniwati
4
3
4
4
3
3
4
3
4
4
32
Agung Tirto,
3
4
3
3
4
3
3
1
3
3
SH.MKN.
33
Suprapti, ST
3
2
3
3
4
3
3
1
3
3
34
Ir.
H. Suparmi, H.S
3
2
3
4
3
2
3
3
4
4
35
Ir.
H. Sri Haryono,
4
3
3
3
4
3
3
4
3
3
MT.
36
Abdul Hadi, SE
2
2
1
3
2
1
2
3
2
4
37
Ir.
H. Setiyo
3
2
3
2
4
3
2
3
1
2
Budiyanto, MM.
38
H.
Marimin, ST. MT.
2
2
1
2 3
1 2
3
3
2
39
Arditya Heri
4
3
2
3 3
2 3
3
4
3
Waskita, ST
40
H.
Bambang
2
3
4
4 4
3 3
3
4
3
Noesantoro, ST

59

4.5.1. Uji Validitas dan Reliabilitas

4.5.1.1. Uji Validitas

Untuk mengetahui kevalidtannya, dari ke-10 faktor yang diberikan dalam bentuk kuisioner yang disampaikan kepada responden dilakukan uji validitas terhadap setiap faktor dalam kelompok variabel dengan menggunakan program SPSS Versi 17.00. Hasil tes validitas dapat dilihat pada kolom Correlated Item Total Correlation (lihat tabel). Kriteria uji validitas secara singkat (rule of tumb) adalah 0,3. Jika korelasi sudah lebih besar dari 0,3 maka kuisioner/pertanyaan yang dibuat dikatakan sahih/valid.

Tabel 4.13 Uji Validitas Corrected Item- Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item
Tabel 4.13 Uji Validitas
Corrected Item-
Scale Mean if
Item Deleted
Scale Variance
if Item Deleted
Total
Correlation
X1
17.63
20.087
.440
X2
17.70
19.446
.474
X3
17.70
17.292
.690
X4
17.85
20.131
.509
X5
17.72
20.512
.375
X6
17.78
19.717
.405
X7
17.53
18.922
.577
X8
17.55
19.946
.361
X9
17.72
19.589
.399
X10
17.68
19.251
.546

Dari tabel 4.13 setelah pengujian seluruh item pertanyaan dapat dinyatakan valid. Koefisien korelas (r hitung) terdapat pada kolom “Corrected Item Total Correlation” dapat diketahui bahwa nilai koefisien kofrelasi (r hitung) lebih besar dari nilai r tabel 0,312 (n=40,痸 实觅%). R tabel dapat dilihat dalam lampiran.

60

4.5.1.2. Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas digunakan dengan tujuan untuk mengetahui sifat dari alat ukur yang digunakan, dalam arti apakah alat ukur tersebut akurat, stabil, dan konsisten. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini dikatakan andal (reliable) apabila memiliki cronbach’s alpha lebih dari 0,6. Hasil tes reliabilitas dapat dilihat pada kolom Cronbach’s Alpha If Item Delected (lihat tabel).

Tabel 4.14 Uji Reliabilitas

Cronbach's Alpha if Item Deleted X1 .786 X2 .784 X3 .741 X4 .780 X5 .804
Cronbach's
Alpha if Item
Deleted
X1
.786
X2
.784
X3
.741
X4
.780
X5
.804
X6
.789
X7
.771
X8
.798
X9
.792
X10
.775

Dari tabel 4.14 seluruh item pertanyaan penelitian dinyatakan reliabel. Koefisien reliabilitas seluruh item lebih besar dari koefisien alpha yang sesuai dengan jumlah butir peranyaan yang diskoring yaitu untuk 11 butir nilai koefisien nya 0,34. Tabel nilai koefisien alpha dapat dilihat pada lampiran.

61

4.5.2. Analisis Faktor (Factor Analysis)

Analisis faktor merupakan suatu kelas prosedur yang dipergunakan untuk mereduksi dan meringkas data. Agar analisis faktor bisa tepat dipergunakan variabel-variabel yang akan dianalisis harus berkorelasi. Apabila koefisien korelasi antar-variabel terlalu kecil, hubungan lemah, analisis faktor tidak tepat. Peniliti mengharapkan selain variabel asli berkorelasi dengan sesame variabel lainnya, juga berkorelasi dengan faktor sebagai variabel baru yang disaring dari variabel-variabel asli. Banyaknya factor lebih sedikit daripada banyaknya variabel. Faktor-faktor diekstraksi (extracted) sedemikian rupa sehingga factor yang pertama menyumbang (memberikan andil) terbesar terhadap seluruh varian dari seluruh variabel asli, factor kedua menyumbang terbesar yang kedua, factor ketiga menyumbang terbesar ketiga, dan begitu seterusnya sehingga proses pencarian faktor dihentikan setelah sumbangan terhadap seluruh varian variabel dari faktor yuang sudah berhasil diakstraksi sudah mencapai 60% atau lebih.

sudah berhasil diakstraksi sudah mencapai 60% atau lebih. 4.5.2.1. Uji KMO dan Bartlett’s Test Uji statistik

4.5.2.1. Uji KMO dan Bartlett’s Test

Uji statistik KMO (Kaiser-Mayer-Olkin) digunakan untuk mengukur kecukupan sampling (sampling adequacy). Indeks ini membandingkan besarnya koefisien korelasi terobservasi dengan koefisien korelasi parsial. Nilai KMO yang kecil menunjukkan bahwa korelasi antar-pasangan variabel tidak bisa diterangkan oleh variabel lainnya dan analisis faktor mungkin tidak tepat. Analisis faktor akan menajdi tepat apabila nilai KMO yang diperoleh > 0,50. Untuk menguji ketepatan model faktor tersedia statisitik formal yaitu bartlett’s test of sphericity bahwa variabel tak berkorelasi di dalam populasi.

Tabel 4.15 KMO dan Bartlett’s Test

KMO and Bartlett's Test

Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy.

.651

Bartlett's Test of Sphericity

Approx. Chi-Square

131.363

df

45

Sig.

.000

62

Berdasarkan hasil tabel di atas seluruh variabel dapat diterangkan oleh variabel lainnya atau korelasi antar variabel tinggi. Nilai KMO 0,651 menunjukkan bahwa variabel-variabel tersebut memenuhi syarat dan dapat digunakan untuk analsis faktor.

4.5.2.2. Ekstraksi Faktor (Factor Extructed)

Dalam teknik analisis faktor terdapat banyak metode yang dapat digunakan untuk mengekstraksi atau meruduksi faktor. Pada penelitian ini peneliti memakai metode principal component analysis dengan menggunakan program SPSS v.17. Hasil ekstraksi dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.16 Hasil Ekstraksi Faktor Total Variance Explained Initial Eigenvalues Rotation Sums of Squared Loadings
Tabel 4.16 Hasil Ekstraksi Faktor
Total Variance Explained
Initial Eigenvalues
Rotation Sums of Squared Loadings
Compo
nent
Total
% of Variance
Cumulative %
Total
% of Variance
Cumulative %
1
3.626
36.259
36.259
2.432
24.317
24.317
2
1.465
14.647
50.905
2.079
20.787
45.103
3
1.429
14.286
65.191
2.009
20.088
65.191
4
.933
9.326
74.517
5
.695
6.947
81.464
6
.561
5.610
87.073
7
.472
4.724
91.797
8
.390
3.898
95.695
9
.247
2.465
98.160
10
.184
1.840
100.000

Dari tabel xxx penentuan banyaknya faktor yang diekstraksi ditentukan berdasarkan Eigenvalues. Di dalam pendekatan ini, hanya faktor dengan eigenvalues lebih dari 1 (satu) yang dipertahankan, kalau lebih kecil dari satu, faktornya tidak diikutsertakan dalam model. Suatu eigenvalues menunjukkan besarnya sumbangan dari faktor terhadap varian seluruh variabel asli. Dari tabel di atas dapatdilihat bahwa terdapat 3 (tiga) faktor yang eigenvaluesnya lebih besar dari satu sehingga ada tiga faktor baru yang terbentuk.

63

4.5.2.3. Rotasi Faktor

Rotasi faktor digunakan untuk mengubah (mentransformasi) matrix factor menjadi matrix yang lebih sederhana yang lebih mudah untuk diinterpretasi (disimpulkan). Metode rotasi yang paling banyak dipergunakan dalam teknik analisis faktor ialah varimax procedure, yang menghasilkan faktor yang tidak berkorelasi, bebas dari multicollinerity.

Component Matrix a Rotated Component Matrix a Component Component 1 2 3 1 2 3
Component Matrix a
Rotated Component Matrix a
Component
Component
1
2
3
1
2
3
X3
.786
.340
X9
.809
X7
.714
-.435
X10
.744
X10
.710
X4
.673
.431
X4
.654
-.436
X1
.659
X1
.563
-.395
X5
.838
X6
.509
.357
X7
.391
.802
X5
.400
.729
X3
.648
.485
X9
.559
-.646
X2
.892
X2
.549
.702
X8
.739
X8
.466
.567
X6
.560

Tabel 4.17a Hasil sebelum Rotasi Faktor

Tabel 4.17b Hasil setelah Rotasi Faktor

Dari tabel 4.17 yang belum dirotasi menunjukkan hubungan antar-faktor masing- masing variabel, jarang menghasilkan faktor yang bisa diinterpretasikan (diambil kesimpulannya), oleh karena factor-faktor tersebut berkorelasi atau terkait dengan banyak variabel lain (lebih dari satu) sebagai contoh, dari tabel 4. 17a, faktor 1 (Xb 1 ), berkorelasi hampir dengan seluruh variabel, 10 variabel akan tetapi setelah dirotasi, matriks factor diubah (to be transformed) ke dalam matriks yang lebih sederhana, sehingga mudah diinterpretasi (disimpulkan). Sebagai contoh, dari tabel 4.17b dapat dilihat dengan jelas bahwa fakor 1 (Xb 1 ) terdiri dari variabel X9,

64

X10, X4, dan X1. Faktor 2 (Xb 2 ) terdiri dari variabel X5, X7 dan X3. Factor 3

(Xb 3 ) terdiri dari variabel X2, X8 dan X6.

Tabel 4.18 Variabel Asli dan Faktor Ekstraksi

Variabel Asli Simbol Faktor Baru Simbol Tidak lengkapnya identifikasi jenis pekerjaan yang harus ada X9
Variabel Asli
Simbol
Faktor Baru
Simbol
Tidak lengkapnya identifikasi jenis
pekerjaan yang harus ada
X9
Akses ke lokasi proyek sulit
X10
Perubahan lingkup pekerjaan pada
waktu pelaksanaan
Xb 1
X4
Perubahan lingkup dan
dokumen pekerjaan
Perubahan desain/detail pekerjaan
pada waktu pelaksanaan
X1
Kurangnya keahlian tenaga kerja
X5
Mobilisasi sumber daya (bahan,
alat, tenaga kerja) yang lambat
X7
Xb 2
Proses permintaan dan persetujuan
contoh bahan yang lama
X3
Koordinasi, dan
transportasi sumber daya
serta keahlian tenaga
kerja
Adanya banyak (sering) pekerjaan
tambah
X2
Jumlah perkerja yang kurang
memadai/sesuai dengan aktivitas
pekerjaan yang ada
X8
Sistem evaluasi dan
perencanaan
Xb 3
Keterlambatan
pembayaran
oleh
X6
pemilik

65

Tidak lengkapnya identifikasi jenis pekerjaan yang harus ada (X9) Faktor-faktor tersebut di atas bagaimana pengaruhnya
Tidak lengkapnya identifikasi jenis
pekerjaan yang harus ada (X9)
Faktor-faktor tersebut di atas bagaimana
pengaruhnya terhadap biaya (X10)
Perubahan lingkup dan dokumen
pekerjaan (Xb 1 )
Perubahan lingkup pekerjaan pada waktu
pelaksanaan (X4)
Perubahan desain/detail pekerjaan pada
waktu pelaksanaan (X1)
Kurangnya keahlian tenaga kerja (X5)
Mobilisasi sumber daya (bahan, alat,
tenaga kerja) yang lambat (X7)
Koordinasi, dan transportasi sumber
daya serta keahlian tenaga kerja (Xb 2 )
Mobilisasi sumber daya (bahan, alat,
tenaga kerja) yang lambat (X3)
Adanya banyak (sering) pekerjaan tambah
(X2)
Jumlah perkerja yang kurang
memadai/sesuai dengan aktivitas
pekerjaan yang ada (X8)
Sistem evaluasi dan perencanaan (Xb 3 )
Keterlambatan pembayaran oleh pemilik
(X6)

Gambar 4.11 Diagram Variabel Asli (X) dan Faktor Baru (Xb)

66

4.5.3. Uji Asumsi Klasik / Analisis Ekonometrik

Dalam regresi linier berganda terdapat beberapa asumsi yang harus dipenuhi sehingga persamaan regresi yang dihasilkan akan valid jika digunakan untuk memprediksi. Penggunaan asumsi ini merupakan konsekuensi dalam menghitung persamaan regresi linier. Beberapa asumsi tersebut meliputi asumsi data yang terdistribusi secara normal, asumsi multikolinieritas, asumsi autokorelasi, asumsi heterokedastisitas, dan asumsi linieritas. Dalam buku-buku statistik asumsi ini disebut analisis ekonometrik. Berikut uji asumsi yang harus dilakukan terhadap model regresi tersebut, yaitu :

harus dilakukan terhadap model regresi tersebut, yaitu : 1. Uji Normalitas Pengujuian normalitas adalah pengujian

1. Uji Normalitas

Pengujuian normalitas adalah pengujian tentang kenormalan distribusi data. Yang dimaksud data terdistribusi secara normal adalah bahwa data akan mengikuti bentuk distribusi normal dimana data akan memusat pada nilai rata-rata dan median. Cara yang paling sering digunakan dengan melihat histrogam residual akan mengikuti pola distribusi normal dimana bentuk grafiknya mengikuti bentuk loceng. Cara ini menjadi fatal karena pengambilan keputusan data terdistribusi secara normal atau tidak hanya berpatok pada pengamatan gambar saja. Ada cara lain untuk menentukan data terdistribusi secara normal atau tidak dengan menggunakan rasio skewness (kemencengan) dan rasio kurtosis (keruncingan). Aturan dalam rasio skewness dan kurtosis jika nilai rasio berbeda antara minus dua (-2) dan plus dua (+2). Sedangkan jika rasio berada dibawah -2 maka dapat dinyatakan grafik terdistribusi miring ke kanan. Jika rasio berada diatas +2 maka dapat dinyatakan grafik distribusi miring ke kiri. (Purbayu dan Ashari, 2005 :235)

67

Hasil uji normalitas dengan menggunakan bantuan program SPSS versi 17 dapat dilihat pada tabel.

Tabel 4.19 Hasil Uji Normalitas

Faktor N Skewness Kurtosis Statistic Statistic Std. Error Statistic Std. Error Perubahan lingkup dan dokumen
Faktor
N
Skewness
Kurtosis
Statistic
Statistic
Std. Error
Statistic
Std. Error
Perubahan lingkup dan
dokumen pekerkerjaan
40
.576
.374
1.168
.733
Koordinasi dan transportasi
sumber daya serta keahlian
tenaga kerja
40
1.208
.374
1.353
.733
Sistem evaluasi dan
perencanaan
40
.272
.374
-.869
.733
Valid N (listwise)
40

Faktor perubahan lingkup dan dokumen pekerkerjaan skewness kurva adalah 0,576 dengan standar eror 0,374 dan kurtosis kurva adalah 1,168 dengan standar eror 0,733. Rasio skewness = 0,576/0,374 = 1,540. Rasio kurtosis = 1,168/0,733 = 1,594. Faktor koordinasi dan transportasi sumber daya serta keahlian tenaga kerja skewness kurva adalah 1,208 dengan standar eror 0,374 dan kurtosis kurva adalah 1,353 dengan standar eror 0,733. Rasio skewness = 1,208/0,374 = 3,229. Rasio kurtosis = 1,353/0,733 = 1,845. Faktor sistem evaluasi dan perencanaan skewness kurva 0,272 dengan standar eror 0,374 dan kurtosis kurva -0,869 dengan standar eror 0,733. Rasio skewness = 0,272/0,374 = 0,727 dan rasio kurtosis = -0,869/0, 733 = -1,185. Dari rasio tersebut terlihat bahwa Rasio skewness dan Rasio kurtosis berada pada kisaran -2 sampai +2, sehingga dapat disimpulkan distribusi data adalah normal.

68

2. Uji Multikolinieritas

Uji multikolinieritas merupakan pengujian untuk asumsi dalam analisis regresi linier berganda menyatakan bahwa variabel terikat harus terbebas dari gejala multikolinieritas. Gejala multikolinieritas adalah gejala korelasi yang signifikan antar variabel terikat. Hasil uji multikolinieritas dengan mengugnakan bantuan program SPSS versi 17 dapat dililhat pada tabel 4.20.

Tabel 4.20 Hasil Uji Multikolinieritas

Collinearity Statistics Model t Sig. Tolerance VIF 1(Constant) 16.362 .000 Perubahan lingkup dan dokumen
Collinearity
Statistics
Model
t
Sig.
Tolerance
VIF
1(Constant)
16.362
.000
Perubahan lingkup dan
dokumen pekerjaan
-.526
.002
.748
1.375
Koordinasi dan transportasi
sumber daya serta keahlian
tenaga
1.627
.024
.407
2.644
Sistem evaluasi dan
perencanaan
1.907
.045
.736
1.430

Terlihat pada tabel 4.20 hasil uji multikolinieritas terletak pada kolom VIF, semua variabel bebas untuk variabel terikat biaya hasil uji multikolinieritas bernilai kurang dari 5, maka dapat disimpulkan tidak terjadi gejala multikolinieritas.

69

3. Autokorelasi

Uji autokorelasi merupakan pengujian asumsi dalam regresi dimana variabel dependen tidak berkorelasi dengan dirinya sendiri. Maksud korelasi dengan diri sendiri adalah bahwa nilai dari variabel dependen tidak berhubungan dengan nilai variabel itu sendiri, baik nilai periode sebelumnya atau nilai periode sesudahnya. Untuk mendeteksi gejala autokorelasi kita menggunakan uji Durbin-Watson (DW). Uji ini menghasilkan nilai DW hitung (d) dan nilai DW tabel (dL & du). Aturan pengujiannya adalah:

d<d L d L <d<d u : ada masalah autokorelasi positif tetapi lemah d u
d<d L
d
L <d<d u
: ada masalah autokorelasi positif tetapi lemah
d u <d<4-d u
: tidak ada masalah autokorelasi
4-d
u <d<4-d L
4-d
L <d
: masalah auotkorelasi serius
Tabel 4.21 Hasil Uji Autokorelasi
Adjusted R
Durbin
Model
R
R Square
Square
Watson
1
.824 a
.716
.683
1.471

: Terjadi masalah autokorelasi yang positif yang perlu perbaikan

: masalah autokorelasi lemah, tetapi perbaikan akan lebih baik

Hasil analisis menunjukkan nilai Durbin-Watson sebesar 1,471. Untuk menguji harus dicari nilai dL dan du pada tabel Durbin-Watson, dengan n=40 dan jumlah variabel terikat (k) = 3 didapat nilai dL = 1,3384 dan du = 1,6589. Karena 1,3384 < 1,471 < 1.6589 maka dapat disimpulkan terjadi masalah autokorelasi positif tetapi lemah.

70

4. Heterokedastisitas (Perbedaan Varians)

Salah satu asumsi dalam regresi berganda adalah uji heterokedastisitas. Asumsi heterokedastisitas adalah asumsi dalam regresi dimana varians dari residual tidak sama untuk satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Dalam regresi, salah satu asumsi yang harus dipenuhi adalah bahwa varians dari residual dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain tidak memiliki pola tertentu. Pola yang tidak sama ini ditunjukkan dengan nilai yang tidak sama antar satu varians dari residual. Gejala varians yang tidak sama ini disebut dengan gejala heterokedastisitas, sedangkan adanya gejala varians residual yang sama dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain disebut dengan homokedastisitas. Salah satu metode visual untuk menguji heterokedastisitas ini adalah dengan melihat penyebaran dari varians residual. Salah satu cara pengujian heterokedastisittas yaitu dengan melihat penyebaran dari residual yang dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

melihat penyebaran dari residual yang dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Gambar 4.12 Diagram Heterokedastisitas
melihat penyebaran dari residual yang dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Gambar 4.12 Diagram Heterokedastisitas

Gambar 4.12 Diagram Heterokedastisitas

71

5. Uji Linieritas

Pengujian linieritas ini perlu dilakukan untuk mengetahui model yang dibuktikan merupakan model linier atau tidak. Uji linieritas dilakukan dengan menggunakan curve estimation, yaitu gambaran hubungan linier antara variabel X dengan variabel Y. pengujian menggunakan bantuan programSPSS versi 17. Jika nilai pada tabel ANOVA sig f > 0,05, maka variabel X tersebut memiliki hubungan linier dengan Y.

Tabel 4.22 Hasil Uji Linieritas Variabel Bebas Nilai Sig f Perubahan lingkup dan dokumen pekerjaan
Tabel 4.22 Hasil Uji Linieritas
Variabel Bebas
Nilai Sig f
Perubahan lingkup dan dokumen pekerjaan
Koordinasi, dan transportasi sumber daya serta keahlian tenaga kerja
0,178
Sistem evaluasi dan perencanaan
Dari tabel 4.22 di dapat dari perhitungan menggunakan bantuan program SPSS
versi 17. Dapat diambil kesimpulan bahwa variabel bebas perubahan lingkup dan
dokumen pekerjaan, koordinasi dan transportasi sumber daya serta keahlian
tenaga kerja, sistem evaluasi dan perencanaan memiliki hubungan linieritas
terhadap variabel terikat biaya.

72

4.5.4. Regresi Linier Berganda

Regresi linier bergandan digunakan untuk mengetahui pengaruh dari variabel bebas perubahan lingkup dan dokumen pekerjaan, koordinasi dan transportasi sumber daya serta keahlian tenaga kerja, sistem evaluasi dan perencanaan terhadap variabel terikat pemakaian biaya. Program SPSS menyediakan beberapa metode untuk mengetahui besarnya tingkat pengaruh dari variabel bebas tersebut, antara lain metode enter, metode stepwise, metode backward, metode forward, dan metode remove. Metode-metode tersebu diigunakan untuk pemilihan variabel dalam regresi sehingga hasil persamaan regresi memberikan kemampuan prediksi yang baik. Pada penelitian ini digunakan metode enter untuk memprediksi pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen.

Tabel 4.23 Hasil Perhitungan Regresi Linier Berganda Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients Model B
Tabel 4.23 Hasil Perhitungan Regresi Linier Berganda
Unstandardized
Standardized
Coefficients
Coefficients
Model
B
Std. Error
Beta
t
Sig.
1
(Constant)
3.809
.582
6.547
.000
Perubahan lingkup dan
dokumen pekerjaan
.079
.185
-.257
-1.511
.002
Koordinasi dan transportasi
sumber daya serta keahlian
tenaga kerja
.172
.130
.224
1.318
.001
Sistem evaluasi dan
perencanaan
.013
.017
.122
.767
.000

a. Dependent Variable: Biaya

Dari perhitungan dengan menggunakan metode enter SPSS 17 menghasilkan suatu model persamaan regresi Y = 3,809 + 0,079 Xb 1 + 0,172 Xb 2 + 0,013 Xb 3 . Hasil pengujian menggunkan uji t terlihat bahwa nilai Sig untuk semua variabel bebas lebih kecil dari alpa (< 0,05) sehingga dapat dikatakan signifikan secara statistic dan bisa digunakan untuk memprediksi pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Konstanta 3,809 artinya apabila tidak ada perubahan lingkup dan dokumen pekerjaan, koordinasi, dan transportasi sumber daya serta

73

keahlian tenaga kerja, sistem evaluasi dan perencanaan, maka pemakaian biaya akan berada pada 3,809 poin. Koefisien 0,079 X1 artinya apabila ada perubahan lingkup dan dokumen pekerjaan sebesar 1 poin, maka pemakaian biaya akan mengalami kenaikan sebesar 0,079 poin. Koefisien 0,71 X2 artinya apabila ada keterlambatan yang disebabkan oleh koordinasi, dan transportasi sumber daya serta keahlian tenaga kerja sebesar 1 poin, maka akan mengalami kenaikan pemakaian biaya sebesar 0,71 poin. Koefisien 0,013 X3 artinya apabila ada keterlambatan yang disebabkan oleh sistem evaluasi dan perencanaan yang kurang tepat sebesar 1 poin, maka akan terjadi pula kenaikan biaya sebesar 0,013 poin.

maka akan terjadi pula kenaikan biaya sebesar 0,013 poin. 4.5.5. Koefisien Determinasi Berganda Koefisien determinasi

4.5.5. Koefisien Determinasi Berganda

Koefisien determinasi berganda yang diperoleh dari uji regresi linier berganda yaitu sebesar R 2 = 0,716. Hal ini beerarti bahwa 71,6% pemakaian biaya dijelaskan oleh variabel bebas yaitu perubahan lingkup dan dokumen pekerjaan, koordinasi, dan transportasi sumber daya serta keahlian tenaga kerja, sistem evaluasi dan perencanaan. Sedangkan selebihnya dijelaskan oleh variabel lain yang belum disebutkan pada penelitian ini.

Tabel 4.24 Hasil Koefisien Determinasi Berganda

     

Adjusted R

Std. Error of

Durbin

Model

R

R Square

Square

the Estimate

Watson

1

.824 a

.716

.683

.320

1.258

a.

Predictors : (constant), perubahan lingkup dan dokumen pekerjaan, koordinasi,

dan transportasi sumber daya serta keahlian tenaga kerja, sistem evaluasi dan

perencanaan

b. Dependent Variable : Biaya

74

4.6. Pembahasan

Setelah penelitian ini dianalisa maka diperoleh hasil sebagai berikut :

1. Dari analisis validitas dapat diketahui bahwa 10 butir pertanyaan mengenai factor penyebab keterlambatan penyelesaian
1.
Dari analisis validitas dapat diketahui bahwa 10 butir pertanyaan mengenai
factor penyebab keterlambatan penyelesaian proyek konstruksi menyatakan
valid yaitu nilai Corrected Item Total Correlation > 0,3, artinya kesepuluh
butir pertanyaan tersebut mempunyai korelasi atau hubungan yang kuat
terhadap faktor penyebab keterlambatan proyek konstruksi di wilayah
karasidenan Surakarta.
2. Dari analisis reliabilitas dapat diketahui bahwa semua butir pertanyaan
mengenai factor penyebab keterlambatan proyek konstruksi di wilayah
karasidenan Surakarta menunjukkan nilai yang reliabel karena nilai
Cronbach’s Alpha if Item Delected > 0,60, artinya 40 responden dalam
pengisian kuisioner 11 butir pertanyaan tersebut akurat, stabil dan konsisten.
3. Dari teknik analisis faktor 10 variabel asli diekstraksi menjadi 3 faktor baru.
Penentuan variabel baru tersebut berdasarkan eigenvalues dan persentase
komulatif, hanya variabel dengan eigenvalues lebih dari 1 (satu) yang
dipertahankan serta memiliki persen komulatif lebih dari 60%, yaitu :
v
Faktor 1 (Xb 1 ) :
Perubahan lingkup dan dokumen pekerjaan
v
Faktor 2 (Xb 2 ) :
Koordinasi, dan transportasi sumber daya
keahlian tenaga kerja
serta
v
Faktor 3 (Xb 3 ) :
Sistem evaluasi dan perencanaan

4. Dari uji asumsi klasik yaitu uji normalitas, multikolinieritas, autokeralasi, heterokedastisitas, dan linieritas terhadap ketiga faktor baru tersebut memenuhi syarat. Untuk uji normalitas terlihat bahwa Rasio skewness dan Rasio kurtosis berada pada kisaran -2 sampai +2, sehingga dapat disimpulkan distribusi data adalah normal. Semua variabel hasil uji multikolinieritas bernilai kurang dari 5 pada kolom VIF, maka dapat disimpulkan tidak terjadi gejala multikolinieritas. Terjadi autokerelasi positif tetapi lemah karena nilai Durbin-Watson memenuhi syarat dL<d<du. Dari diagram pecar dapat dilihat

75

bahwa tidak membentuk pola tertentu sehingga uji heterokedastisitas memenuhi syarat. Begitu juga dengan uji linieritas dapat dilihat dari nilai sig f >0,05 sehingga syarat linieritas terpenuhi.

5. Dari uji regresi linier berganda diperoleh satu persamaan yaitu Y = 3,809 + 0,079 Xb 1 + 0,172 Xb 2 + 0,013 Xb 3 . Dari persamaan tersebut dapat dikatakan bahwa ketiga variabel bebas mempunyai pengaruh positif terhadap pemakaian biaya artinya meningkatnya salah satu dari ketiga variabel bebas akan menyebabkan meningkat pula pemakaian biaya.

biaya artinya meningkatnya salah satu dari ketiga variabel bebas akan menyebabkan meningkat pula pemakaian biaya.

BAB 5

77
77

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.

Kesimpulan

Berdasarkan analisis data dan pembahasannya yang telah dilakukan dalam penelitian ini dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

Perubahan lingkup dan dokumen pekerjaan (Xb 1 )
Perubahan lingkup dan dokumen pekerjaan (Xb 1 )

1. Dari teknik analisis faktor dihasilkan 3 (tiga) faktor baru penyebab keterlambatan penyelesaian proyek di wilayah kota Surakarta yang merupakan hasil ekstraksi dari sepuluh faktor asli. Penentuan variabel baru tersebut berdasarkan eigenvalues dan persentase komulatif, hanya variabel dengan eigenvalues lebih dari 1 (satu) yang dipertahankan serta memiliki persen komulatif lebih dari 60%. Tiga faktor baru tersebut sebagai berikut:

§

§

Koordinasi, dan transportasi sumber daya serta keahlian tenaga kerja (Xb 2 )

§

Sistem evaluasi dan perencanaan (Xb 3 )

2. Dari uji regresi linier berganda diperoleh satu persamaan yaitu Y = 3,809 + 0,079 Xb 1 + 0,172 Xb 2 + 0,013 Xb 3 . Dari persamaan tersebut dapat dikatakan bahwa ketiga variabel bebas mempunyai pengaruh positif terhadap pemakaian biaya artinya meningkatnya salah satu dari ketiga variabel bebas akan menyebabkan meningkat pula pemakaian biaya.

76
76

77

5.2.

Saran

Adapun saran yang dapat dijadikan bahan pertimbangan yaitu :

1. Sebagai

bahan

pertimbangan

bagi

perusahaan

yang bergerak

di

bidang

konstruksi

untuk

dapat

menghindari

keterlambatan

penyelesaian

proyek

konstruksi

keterlambatan penyelesaian proyek konstruksi 2. Sebagai masukan unutk pemerintah Surakarta dalam

2. Sebagai masukan unutk pemerintah Surakarta dalam mengawasi proyek konstruksi agar tidak terjadi keterlambaan penyelesaian proyek.

3. Dalam penelitian berikutnya diharapkan melakukan survey kembali setelah diperoleh faktor yang baru untuk memperoleh data yang lebih akurat.