Anda di halaman 1dari 19

PAPER OHSN

ANALISA KONSEP K3 DAN USAHA HYIGIENE DI HOME INDUSTRI TAOGE

TEBET, JAKARTA SELATAN

Disusun Oleh:

Agra Nadya

Andri Paulus Messakh

Belina Rahmat

Eva Latifah

Trie Utari Adinningsih

Program Studi Keperawatan A 2013

TA : 2016-2017

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Binawan


Jl. Kalibata Raya No. 25-30 Jakarta Timur 13630 Telp. (021) 80880882 Fax. (021) 80880883
Jakarta
1.1 Latar Belakang

Indonesia adalah negara berkembang. Ciri khas dari Negara berkembang adalah
banyaknya perusahaan kecil menengah atau biasa yang disebut Usaha Kecil Menengah (UKM)
yang dimiliki penduduk asli. Hal tersebut membuat pemerintah Indonesia dengan sangat gencar
untuk membuat program pengembangan UKM dengan tujuan mencapai negara yang maju.
Program dari pemerintah tersebut berupa pemberian modal, desa mandiri, pameran UKM, dan
sebagainya. Berdasarkan pengamatan penulis sendiri sudah banyak berdiri perusahaan-
perusahaan kecil yang ada di Indonesia. Perusahaan tersebut terdiri dari berbagai bidang. Mulai
dari bidang yang sederhana seperti makanan hingga bidang yang modern seperti pembuatan
perangkat elektronik.
Home industri adalah rumah usaha produk barang atau juga perusahaan kecil yang
memiliki pegawai tidak lebih dari 15 oran. Seperti yang kita ketahui, suatu perusahaan maupun
home industri harus memiliki standar keselamatan dan kesehatan kerja bagi pegawainya. Karena
belakangan ini sangat marak sekali pabrik-pabrik, apalagi pabrik makanan banyak melanggar
kode etik perusahaan. Mereka menggunakan zat-zat kimia berbahaya dan juga mereka banyak
yang tidak menghiraukan keselamatan pekerjanya. Selain hal itu, banyak sekali perusahaan yang
kurang peduli terhadap kebersihan, kebersihan dalam hal produksi maupun di tempat kerjanya
sendiri. Sehingga kemungkinan pekerja dapat terkena penyakit akibat kerja semakin besar.
Selain itu sebuah home industri harus memperhatikan kenyamanan di tempat kerja, dan
harus dapat menangani kemungkinan-kemungkinan akibat produksi di lingkungan kerja. Seperti
contohnya masalah kebisingan yang ditimbulkan oleh mesin industri, limbah hasil produksi,
faktor psikologi, biologi dan fisik yang akan dirasakan oleh masyarakat di lingkungan sekitar
industri. Dari pengamatan tersebut penulis tertarik untuk menganalisa sebuah home industry di
Jakarta yang bergerak pada bahan pangan.
Home industry yang kami identifikasi berlokasi di kawasan Tebet,Jakarta Selatan. Pada
awalnya, pemilik pindah dari sukabumi ke Jakarta mengikuti temannya dan merintis usaha ini
bersama-sama pada tahun 1975. Pada tahun 1978, pemilik memutuskan untuk membuka usaha
sendiri. Pada awal dibukanya home industry ini, pemilik tidak hanya memproduksi taoge, tetapi
terdapat tahu, dan tempe, namun sekarang hanya memproduksi taoge dikarenakan industry ini
kekurangan pekerja. Awalnya terdapat 8 pekerja dengan lahan seluas 9 x 1.5 meter, namun
seiring berjalannya waktu lahan untuk memproduksi diperluas dan jumlah pekerja menurun
menjadi 4 dikarenakan faktor internal. Pendapatan bersih yang diperoleh pada awal dimulainya
home industry ini mencapai kurang lebih 6.000.000, dan untuk sekarang pendapatan bersih
mencapai 10.000.000/bulan. Hasil produksi didistribusikan kebeberapa pasar di Jakarta dari dulu
hingga sekarang, diantaranya pasar kramat jati, pasar jembatan merah, pasar kampug melayu,
pasar pspt tebet timur, dan lainnya. Pada awalnya alat yang digunakan, hanya menggunakan air
tanpa penyaringan dan untuk system penyiraman masih manual dengan mengangkat air
menggunakan ember namun, sekarang sudah menggunakan selang untuk penyiraman yang
disambungkan ke mesin air dengan alat penyaringan guna mempermudah pekerja dalam
melakukan proses produksi.

1.2 Teori Hygiene Industri

Hygiene industry dianggap ilmu dan seni yang mampu mengantisipasi , mengenal,
mengevaluasi dan mengendalikan bahaya. Factor-faktor yang timbil di dalam lingkungan kerja.
Factor yang dapat mengakibatnya penyakit atau gangguan kesehatan dan kesejahteraan atau
ketidaknyamanan dan ketidakefesienan kepada masayarakat yang berada di lingkungan kerja
maupun yang berada di luar sekitar lingkungan kerja.
Tujuan utama dari Higiene Perusahan dan Kesehatan Kerja adalah menciptakan tenaga
kerja yang sehat dan produktif. Kegiatannya bertujuan agar tenaga kerja terlindung dari berbagai
macam resiko akibat lingkungan kerja, masyarakat sekitar perusahaan dan masyarakat umum
yang menjadi konsumen dari hasil-hasil produksi perusahaan, diantaranya melalui pengenalan,
evaluasi, pengendalian dan melakukan tindakan perbaikan yang mungkin dapat dilakukan.

A. Ruang Lingkup Hygiene Industri


Ruang lingkup kegiatan atau aktifitas hygiene industry, mencakup kegiatan
mengantisipasi, mengenal, mengevaluasi, dan mengendalikan.
1. Mengantisipasi Bahaya
Antisipasi merupakan kegiatan untuk memprediksi potensi bahaya dan risiko di
tempat kerja. Tahap awal dalam melakukan atau penerapan higiene industry/perusahaan
di tempat kerja. Adapun tujuan dari antisipasi adalah :
a) Mengetahui potensi bahaya dan risiko lebih dini sebelum muncul menjadi
bahaya dan risiko yang nyata.
b) Mempersiapkan tindakan yang perlu sebelum suatu proses dijalankan atau suatu
area dimasuki
c) Meminimalisasi kemungkinan risiko yang terjadi pada saat suatu proses
dijalankan atau suatu area dimasuki.

2. Mengenal
Mengenal atau rekognisi merupakan serangkaian kegiatan untuk mengenali suatu
bahaya lebih detil dan lebih komprehensif dengan menggunakan suatu metode yang
sistematis sehingga dihasilkan suatu hasil yang objektif dan bisa dipertanggung-
jawabkan. Dimana dalam rekognisi ini kita melakukan pengenalan dan pengukuran untuk
mendapatkan informasi tentang konsentrasi, dosis, ukuran (partikel), jenis, kandungan
atau struktur, dan sifat. Adapun tujuan dari pengenalan, yaitu :
a) Mengetahui karakteristik suatu bahaya secara detil (sifat, kandungan, efek,
severity, pola pajanan, besaran).
b) Mengetahui sumber bahaya dan area yang berisiko.
c) Mengetahui pekerja yang berisiko.

3. Mengevaluasi
Pada tahap penilaian/evaluasi lingkungan, dilakukan pengukuran, pengambilan
sampel dan analisis di laboratorium. Melalui penilaian lingkungan dapat ditentukan
kondisi lingkungan kerja secara kuantitatif dan terinci, serta membandingkan hasil
pengukuran dan standar yang berlaku, sehingga dapat ditentukan perlu atau tidaknya
teknologi pengendalian, ada atau tidaknya korelasi kasus kecelakaan dan penyakit akibat
kerja dengan lingkungannya , serta sekaligus merupakan dokumen data di tempat kerja.
Tujuan dari pengukuran dalam evaluasi, yaitu :
a) Untuk mengetahui tingkat risiko.
b) Untuk mengetahui pajanan pada pekerja.
c) Untuk memenuhi peraturan (legal aspek).
d) Untuk mengevaluasi program pengendalian yang sudah dilaksanakan.
e) Untuk memastikan apakah suatu area aman untuk dimasuki pekerja.
f) Mengetahui jenis dan besaran hazard secara lebih spesifik.

4. Pengendalian
Pengendalian faktor faktor lingkungan kerja sesungguhnya dimaksudkan untuk
menciptakan atau memelihara lingkungan kerja agar tetap sehat dan aman atau memenuhi
persyaratan kesehatan dan norma keselamatan, sehingga tenaga kerja terbebas dari
ancaman gangguan kesehatan dan keamanan atau tenaga kerja tidak menderita penyakit
akibat kerja dan tidak mendapat kecelakaan kerja. Ada beberapa bentuk pengendalian
atau pengontrolan di tempat kerja yang dapat dilakukan , yaitu :
1. Eliminasi : merupakan upaya menghilangkan bahaya dari sumbernya serta
menghentikan semua kegiatan pekerja di daerah yang berpotensi bahaya.
2. Substitusi : Modifikasi proses untuk mengurangi penyebaran debu atau asap,
dan mengurangi bahaya, Pengendalian bahaya kesehatan kerja
dengan mengubah beberapa peralatan proses untuk mengurangi bahaya,
mengubah kondisi fisik bahan baku yang diterima untuk diproses lebih lanjut
agar dapat menghilangkan potensi bahayanya.
3. Isolasi : Menghapus sumber paparan bahaya dari lingkungan pekerja dengan
menempatkannya di tempat lain atau menjauhkan lokasi kerja yang berbahaya
dari pekerja lainnya, dan sentralisasi kontrol kamar.
4. Engineering control : Pengendalian bahaya dengan melakukan modifikasi pada
faktor lingkungan kerja selain pekerja.
5. Administrasi control: Pengendalian bahaya dengan melakukan modifikasi pada
interaksi pekerja dengan lingkungan kerja.
6. APD (Alat Pelindung Diri) : langkah terakhir dari hirarki pengendalian.
B. Faktor factor lingkungan kerja yang dapat menimbulkan bahaya di tempat kerja
(Occupational Health Hazard)
1. Faktor Fisika
Faktor fisika adalah salah satu faktor yang dapat menimbulkan masalah kesehatan
dan keselamatan kerja meliputi :
a. Ventilasi
Ventilasi, adalah proses pertukaran udara dengan cara pengeluaran udara
terkontaminasi dari suatu ruang kerja, melalui saluran buang, dan pemasukan
udara segar melalui saluran masuk.

b. Kebisingan
Kebisingan adalah bunyi atau suara yang timbul yang tidak dikehendaki
yang sifatnya mengganngu dan menurunkan daya dengar seseorang (WHS, 1993).
Jenis Kebisingan antara lain :
o Bising kontinu (terus menerus) seperti suara mesin, kipas angin, dll.
o Bising intermitten (terputus putus) yang terjadi tidak terus menerus seperti
suara lalu lintas, suara pesawat terbang
o Bising Impulsif yang memiliki perubahan tekanan suara melebihi 40 dB
dalam waktu yang cepat sehingga mengejutkan pendengarnya seperti suara
senapan, mercon, dll.
o Bising impulsif berulang yang terjadi secara berulang-ulang pada periode
yang sama seperti suara mesin tempa.

c. Penerangan atau Cahaya


Cahaya merupakan satu bagian berbagai jenis gelombang elektromagnetis
yang terbang ke angkasa dimana gelombang tersebut memiliki panjang dan
frekuensi tertentu yang nilainya dapat dibedakan dari energy cahaya lainnya
dalam spectrum elektromagnetisnya (Suhadri, 2008). Menurut Kepmenkes no.
1405 tahun 2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran
dan Industri, pencahayaan adalah jumlah penyinaran pada suatu bidang kerja yang
diperlukan untuk melaksanakan kegiatan secara efektif.
d. Getaran
Getaran adalah suatu factor fisik yang bekerja pada manusia dengan
penjalaran ( Transmission ) dari pada tenaga mekanik yang berasal dari sumber
goyang (osilattor). Getaran dihasilkan oleh : Mesin-mesin diesel, mesin produksi,
Kendaraan-kendaraan, Tractor, truk, bus, tank dll. Alat-alat kerja tangan ( hand
tool ) dengan menggunakan mesin : jack hammer ( pembuka jalan ), pneumatic
hammer ( pabrik besi ), jack lec drill ( pengebor batu gunung, karang dll )

e. Debu
Debu adalah zat padat yang dihasilkan oleh manusia dan alam yang
merupakan hasil proses pemecahan suatu bahan. Debu adalah zat padat yang
berukuran 0,1-2,5 mikron. Debu termasuk ke dalam golongan particular. Yang
dimaksud particular adalah zat padat/cair yang halus.

2. Faktor Kimia
a. Pengertian B3
Menurut PP No. 18 tahun 1999, yang dimaksud dengan limbah B3 adalah
sisa suatu usaha dan atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan atau
beracun yang karena sifat dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik
secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan atau
merusakan lingkungan hidup dan atau membahayakan lingkungan hidup,
kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta mahluk hidup lain. Intinya adalah
setiap materi yang karena konsentrasi dan atau sifat dan atau jumlahnya
mengandung B3 dan membahayakan manusia, mahluk hidup dan lingkungan,
apapun jenis sisa bahannya.

b. Identifikasi Bahan B3
Pengidentifikasian limbah B3 digolongkan ke dalam 2 (dua) kategori,
yaitu:

1) Berdasarkan sumber
a) Limbah B3 dari sumber spesifik;
b) Limbah B3 dari sumber tidak spesifik;
c) Limbah B3 dari bahan kimia kadaluarsa, tumpahan, bekas kemasan
dan buangan produk yang tidak memenuhi spesifikasi.

2) Berdasarkan karakteristik
a) mudah meledak;
b) pengoksidasi;
c) sangat mudah sekali menyala;
d) sangat mudah menyala;
e) mudah menyala;
f) amat sangat beracun;
g) sangat beracun;
h) beracun;
i) berbahaya;
j) korosif;
k) bersifat iritasi;
l) berbahayabagi lingkungan;
m) karsinogenik;
n) teratogenik;
o) mutagenik.

3. Faktor Biologi
Bahaya biologi dapat didefinisikan sebagai debu organik yang berasal
darisumber-sumber biolofi yang berbeda seperti virus, bakteri, jamur, protein binatang
atau bahan-bahan dati tumbuhan seperti produk serat alam yang terdegrasi. Bahaya
biologi dapat di bagi menjadi dua jenis yaitu yang menyebabkan infeksi dan non infeksi.
Bahaya yang bersifat non infeksi dapat dibagi menajdi organisme viable racun biogenic
dan alergi biogenic.
4. Faktor Ergonomi
Ergonomi adalah praktek dalam mendesain peralatan dan rincian pekerjaan sesuai
dengan kapabilitas pekerja dengan tujuan untuk mencegah cidera pada pekerja. (OSHA,
2000). Faktor ergonomi merupakan kenyamanan saat bekerja dalam hal organisasi,
lingkungan, psikologi, dan fisik. Faktor-faktor yang dapat mengganggu kesehatan
pekerja:
a. Posisi saat bekerja
Posisi saat bekerja merupakan posisi pekerja pada saat bekerja. Contohnya
seperti posisi merunduk, berdiri terlalu lama, posisi pengangkatan beban berat,
dll. Posisi kerja yang salah dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada pekerja.

b. Faktor psikologi
Faktor psikologi merupakan suatu faktor yang mempengaruhi tingkat
emosional maupun kenyamanan pekerja.

c. Faktor lingkungan
Faktor lingkungan merupakan suatu faktor akibat dari aktivitas produksi.
Contohnya seperti kebersihan lingkungan, saluran pembuangan limbah dan semua
yang mengganggu ekosistem lingkungan.

5. Faktor-faktor Psikologis
Faktor psikologi merupakan factor yang muncul pada mental/pikiran dan
hubungan social pada tempat kerja. Akibat yang timbul dari factor ini biasanya pekerja
mengalami stress. Hal ini disebabkan karena biasanya kurangnya istirahat atau pekerja
mengalami titik jenuh karena pekerja merasa monotone terhadap aktivitas keseharian
mereka. Kurangnya refreshing pekerja. Kesenjangan antara pegawai satu terhadap
pegawai lainya juga mendukung factor stress. Jadi pada suatu home industry seharusnya
di adakan suatu kegiatan diluar kegiatan kerja agar tidak mengalami kejenuhan dan
menjaga tenggang rasa terhadap sesame pegawai.
1.3 Pembahasan
1. Faktor Fisika
Faktor fisika adalah salah satu faktor yang dapat menimbulkan masalah
kesehatan dan keselamatan kerja meliputi :
a. Ventilasi
Pada home industry ini fasilitas ventilasi yang ada kurang memadai
dimana ventilasi yang tersedia sangat terbatas sehingga dapat mengakibatkan
terganggunya sirkulasi yang ada di dalam ruangan produksi. Sehingga suhu dan
kelembaban yang ada di dalamnya juga akan terganggu dan menimbulkan
dampak kesehatan bagi para pekerja

b. Kebisingan
Setelah melakukan observasi lokasi home Industry, pada industry ini
terdapat satu mesin pompa air yang beroperasi selama 24 jam namun keberadaan
mesin air ini tidak menimbukan suara kebisingan yang dapat mengakibatkan
penurunan kemampuan daya konsentrasi dan daya dengar bila terjadi dalam
waktu yang lama. Dan suara yang ditimbilkan dari mesin air tersebut tidak
mengganggu lingkungan sekitar. Menurut teori dari hasil penelitian di peroleh
bukti bahwa intensitas bunyi yang dikategorikan bising dan mempengaruhi
kesehatan pendengaran adalah diatas 60 dB, namun pada home industry ini
kebisingan yang di timbulkan dari suara mensin air tidak mencapai angka
intensitas kebisingan sehingga para pekerja tidak harus dilengkapi dengan alat
pelindung telinga.

c. Penerangan atau Cahaya


Home industry ini memiliki luas 9 x 3 meter tetapi dalam tataruang dan
penataan pelengkapan kurang maksimal sehingga hal ini dapat mempengaruhi
keleluasaan pekerja. Lingkungan yang tidak kondusif dapat mengakibatkan
pekerja sulit mengatur gerak dalam ruangan ditambah lantai yang licin dapat
sangat berpotensi menimbulkan kecelakaan kerja. Dalam segi pencahayaan home
industry tersebut sangatlah kurang, dimana hanya terdapat satu buah lampu. Pada
dasarnya produksi taoge membutuhkan cahaya yang redup, namun dalam sisi
kesehatan lingkungan kerja pencahayaan yang redup dapat menambah beban
kerja karena menggangu pelaksanaan pekerjaan tetapi juga menimbulkan kesan
kotor. Akibat lain dari kurangnya penerangan di lingkungan kerja akan
menyebabkan kelelahan fisik dan mental bagi para pekerja, terlebih pada home
industry ini pekerja diharuskan bekerja dalam 3 shift (pagi, siang, dan malam),
guna memantau kondisi perkembangan kecambah menjadi taoge. Di samping itu
kurangnya penerangan memaksa pekerja mendekatkan matanya ke objek guna
memperjelas penglihatan.

d. Getaran
Pada home industry ini tidak terdapat sumber yang dapat menghasilkan
getaran. Sehingga tidak mempengaruhi aktivitas pekerja dalam produksi dan
lingkungan sekitar.

e. Debu
Pada home industry ini tidak menghasilkan produksi debu sehingga para
pekerja tidak perlu menggunakan masker selama proses produksi. Namun pada
produksi ini partikel debu dapat berasal dari lingkungan luar home industru,
dimana letak ventilasi sangat dengan dengan tempat pembuatan taoge.

2. Faktor Kimia
Pada proses produksi taoge di home industry ini tidak menggunakan bahan kimia
yang berbahaya bagi kesehatan konsumen. Karena bahan-bahan yang di gunakan adalah
bahan baku yang aman untuk dikonsumsi. Bahan yang di gunakan pada proses ini antara
lain :
a. Kacang hijau
b. Air
c. Nutrisi khusus penyubur kecambah (Sumo Nutrient)
Home industry ini menggunakan kacang hijau pilihan. Dan bahan campuran yang
digunakan untuk pembuatan produksi taoge hanya nutrisi khusus penyubur kecaambah
atau taoge dan terbuat dari bahan-bahan organic sehingga tidak membahayakan
konsumen. Bahan campuran yang digunakan tidak masuk dalam kategori limbah B3
dimana limbah B3 adalah bahan berbahaya dan atau beracun yang karena sifat dan atau
konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat
mencemarkan dan atau merusakan lingkungan hidup, sedangkan bahan campuran ini
tidak mengandung zat-zat berbahaya dan hasil limbah ini termasuk dalam kategori
limbah yang bersumber langsung dari kegiatan industry yaitu limbah yang terproduksi
bersamaan dengan proses proses produksi sedang berlangsung, dimana produk dan
limbah hadir pada saat yang sama

3. Faktor Biologi
Pada home industry ini kelembaban yang ada diruang produksi sangat
berpengaruh terhadap kesehatan pekerja, karena kelemababan ruang produksi yang
kurang akan memungkinkan timbulnya jamur diruang tersebut. dan adanya jamur yang
bersarang diruangan yang memiliki kelembaban yang kurang akan dapat mengganggu
kesehatan pekerja. Dan pencahayaan yang kurang menyebabkan tidak terlihatnya
kebeberadaan jamur di lingkungan produksi. Menurut teori pekerja yang beresiko
teganggu kesehatannya akibat jamur yaitu pekerja pada bahan pangan. Kebersihan di
lingkungan tempat kerja cukup baik karena lokasi produksi selalu teraliri air. Untuk
pembuangan limbah dalam tempat kerja tersebut sudah tertata cukup baik. Limbah yang
dihasilkan dari proses produksi berupa air dan kulit kacang hijau. Limbah air langsung
buang ke saluran air, sedangkan limbah klit kacang hijau di kumpulkan lalu dibuang ke
tempat pembuangan sampah.

4. Faktor Ergonomi
Pada home industri ini, pekerja dituntut untuk selalu berdiri dan membungkuk,
meskipun mereka tidak selalu berdiri ditempat yang sama. Dilihat secara factor
ergonomic tentu saja ini tidak memenuhi standar factor ergonomic yang telah ditetapkan.
Pada bagian pengairan dan pengangkatan, pekerja berposisi membungkuk dan membuat
pekerja harus ekstra hati-hati karena lantai yang licin. Dan ini dapat menyebabkan
kecelakaan kerja berupa terpeleset, dislokasi tulang, sampai saraf terjepit, dan mengalami
fraktur.

5. Faktor-faktor Psikologis
Faktor psikologi meruapakan factor yang muncul pada mental,pikiran dan
hubungan social di tempat kerja. Hal yang mungkin ditimbulkan dari faktor ini adalah
pekerja mengalami stress, hal ini disebabkan karena kurangnya istrirahat, pekerjaan
terkadang mengalami kejenuhan karena merasa monoton terhadap aktivitas pekerjaan
yang dilakukan. Kurangnya refreshing pekerja juga dapat menimbulkan masalah
psikologi. Kesenjangan antara pegawai satu terhadap pegawai lainya juga mendukung
factor stress. Namun hubungan yang dijalin oleh pekerja dan pemilik industry ini dalam
kategori baik.

1.4 Ruang lingkup Hygiene Industri


A. Menngantisipasi Bahaya
Pada industri yang dibangun oleh Tn.Z memiliki lahan yang cukup dalam
proses produksi, pada industry ini terdapat dua ruang yaitu ruang pengairan dan
ruang penyortiran. Industry ini bergabung dengan rumah pemilik. Ruang produksi
terletak di lantai bawah dan kediamaan pemilik terletak di lantai atas. Pada ruang
produksi fasilitas ventilasi dan pencahayaan sangatlah kurang dimana hanya
terdapat satu ventilasi dan satu lampu pencahayaan ditempat. Lantai ruang
produksi juga terbuat dari semen dan dalam proses produksi air selalu mengalir
yang mengakibatkan lantai menjadi licin sehingga sangat beresiko untuk para
pekerja terpeleset atau terjatuh. Alat yang digunakan untuk produksi ini hanyalah
bak besar, karung, pengayak, timbangan , nutrisi khusus kecambah yang berasalh
dari bahan organic , selang air , dan pompa air. Pada home industry memiliki
empat orang pekerja yang semua berjenis kelamin laki-laki dan pemilik industry
tidak mempekerjakan pekerja dari lingkungan sekitar home industry , melainkan
pekerja yang dipekerjakan berasal dari kampung halaman pemilik sendiri. Pekerja
yang ada pada industry ini tidak memiliki batasan karakteristik namun pekerja
diharuskan siap untuk bekerja dalam lima shift dengan rentang waktu per 5 jam
sehari. Umur para pekerja rata-rata berusia 40 45 tahun dan tidak ada system
pemberhentian kerja dari pemilik, melainkan pekerjalah yang mengajukan
pemberhentian kerja.

B. Mengenal Bahaya
Pada home industry ini dalam menghasilkan produksi taoge melewati
beberapa proses pembuatan diantaranya pencucian , pengadukan dan pengairan.
Beberapa proses produksi antara lain :
1) Cuci bersih kacang hijau kemudian rendam selama 24 jam, jika air sudah
berbusa ganti air dengan yang baru.
2) Siapkan baki dan isi alas baki dengan saringan atau screning halus dan
karung sebagai penahan mengitari baki sampai semua wadah tertutup.
3) Tiriskan kacang hijau di baki dan di pilah yang subur di tempatkan di bawah
agar yang kurang subur di atas untuk memudahkan pertumbuhan agar di
dapatkan kecambah dengan kualitas seimbang.
4) Setelah semua tertata rapi, tempatkan pada tempat yang cukup terkena sinar
matahari.
5) Siram kacang hijau di baki dalam periode 3 jam sekali selama 3 hari, dan
ketika berumur 1.5 hari kacang hijau di balik.
6) Ketika kecambah mengembang angkat karung yang di pasang mengelilingi
bakul agar menahan kecambah yang melampaui tinggi bakul.,
Biasanya kecambah/toge/tauge sudah bisa dipanen pada usia 3 hari.
7) Kecambah yang siap panen di tapi atau di ayak untuk menghilangkan kulit
kacang hijau yang mengelupas agar bersih.

C. Menilai Bahaya
Setelah melakukan wawancara kami dapat menidentifikasi beberapa bahaya
yang mungkin dapat terjadi pada industry ini adalah :
1. Terpeleset dapat terjadi karena lantai tempat kerja yang licin oleh
aktivitas produksi, dimana selama proses produksi dibutuhkan air yang
mengalir sehingga menyebabkan lantai menjadi licin.
2. Nyeri pinggang dapat terjadi karena posisi pekerja lebih banyak
membungkuk untuk menyiram kecambah sebelum menjadi taoge dan
para pekerja banyak kegiatan angkat mengangkan jumlah beban yang
berat
3. Penyakit kulit dapat terjadi karena terlalu sering pekerja terpejan air
dalam waktu yang lama, ditambah dengan kondisi kelembaban ruangan
yang kurang baik
4. Kelelahan otot mata dapat terjadi karena pencahayaan yang kurang,
karena pencahayaan yang kurang membuat mata bekerja lebih keras
lagi untuk memperjelas objek yang mau dilihat
5. Kelelahan Fisik dapat terjadi karena kurangnya penerangan di
lingkungan kerja akan menyebabkan kelelahan fisik dan mental bagi
para pekerja, terlebih pada home industry ini pekerja diharuskan bekerja
dalam 3 shift (pagi, siang, dan malam), guna memantau kondisi
perkembangan kecambah menjadi taoge
6. Korsleting listrik, hal ini merupakan dampak jangka panjang yang
mungkin terjadi pada industry ini. Kejadian ini disebabkan karena
pompa air yang terus bekerja selama 24 jam tanpa henti ditambah
dengan produksi taoge yang membutuhkan pengairan secara terus
menurus, seperti kita ketahui bahwa air salah satu penghantar listrik jadi
korsleting dapat terjadi apabila selama proses produksi tidak di pantau
secara benar dan ini sangat berbahaya bagi para pekerja,

D. Mengendalikan Bahaya
1. Eliminasi , dalam industry ini bahaya tidak dapat sepenuhnya di hilangkan.
Namun bahaya dapat diminimalisir dengan menerapkan konsep hygiene
industry yang sesuai SOP seperti dalam hal segi pencahayaan, ventilasi,
ergonomic, dan kebersihan lingkungan industry untuk menurunkan resiko
bahaya kerja.
2. Substitusi, dalam industry ini pekerja dan pemilik harus saling
mengingatkan akan kebersihan alat produksi dan kebersihan lingkungan
agar tidak tumbuhnya mikroorganisme yang dapat merugikan seperi jamur.
Dimana tingkat kelembaban dalam produksi ini dapat menyebabkan
timbulnya jamur.
3. Isolasi , dalam home industry ini dapat dilihat posisi mesin air yang berada
di dalam ruang pengadukan yang berada di dalam alangkah lebih baiknya
mesin air diletakan di ruang penyortiran yang berada di luar sehingga
mudah dipantau. Pemisahan lokasi antara home industry dan kediaman
pemilik sebaiknya dilakukan agar meminimalisir terjadinya rambatan
korsleting dan menurut pemilik karna ada penggabungan rumah dan home
industry dapat tidak mencukupi daya listrik.
4. Engineering control , modifikasi lingkungan yang dapat dilakukan dalam
meminimalisir bahaya yang akan terjadi antara lain menambahkan
pencahayaan dan ventilasi yang cukup atau untuk memberikan pencahayaan
dalam ruang produksi selain dengan menambah sumber cahaya lampu dapat
juga dilakukan dengan pemberian warna cat yang kontras agar memberikan
efek lebih terang dalam ruang produksi dan memudahkan pengontrolan
tumbuhnya jamur dalam ruang industry. Untuk proses pembuatan
diperlukan rolling tugas agar pekerja tidak merasa jenuh dalam melakukan
tugasnya dan tidak membiarkan pekerja bertahan dalam satu proses dan
posisi bekerja, meminimalisir pekerja mengalami kelainan pada bagian
pinggang dan tulang.
5. APD (Alat Pelindung Diri) , langkah terakhir dari hirarki pengendalian. Hal
yang dapat dilakukan memotivasi pekerja dan menjelaskan pentingnya APD
seperti penggunaan boots dan sarung tangan selama proses produksi. Untuk
penggunaaan boots sebenarnya dari pihak industry sudah menyediakan
namun para pekerja lebih memilih untuk tidak menggunakannya dengan
alasan tidak nyaman, padahal penggunaan boots dapat mengurangi resiko
terjadinya kecelakaan kerja seperti terpeleset dan terjatuh akibat lantai yang
licin.

1.5 Kesimpulan dan Saran


A. Kesimpulan
Hygiene industry merupakan bagian dari usaha kesehatan masyarakat yang
ditujukan kepada pekerja , masyarakat sekitar industry dan masyarakat umum yang
menjadi konsumen dari hasil produksi. Hygiene Industri bertujuan agar tenaga kerja
terlindung dari berbagai macam resiko akibat lingkungan kerja diantaranya melalui
pengenalan, evaluasi , pengendalian dan melakukan tindakan perbaikan yang mungkin
dapat dilakukan guna menurunkan resiko terjadinya kecelakaan kerja. Selain itu hygiene
industry juga bertujuan untuk menciptakan tenaga kerja yang sehat dan produktif. Untuk
mencapai tujuan dari hygiene industry tersebut terlebih dahulu harus mengetahui ruang
lingkup dari prinsip dasar hygiene industry yaitu kegiaatan mengantisipasi, mengenal,
mengevaluasi dan mengendalikan. Beberapa factor lingkungan kerja yang dapat
menimbulkan bahaya di tempat kerja atau Occupational Health Hazzards adalah factor
fisika, factor biologi, factor ergonomic dan factor psikologi.
Setelah melakukan kunjungan ke salah satu home industry kita dapat
mengidentifikasi hazard yang terdapat pada industri tersebut, dan kita dapat mengetahui
bahaya apa saja yang kemungkinan akan terjadi pada pekerjaan itu sendiri. Kita juga
dapat menganalisa cara mengatasi sumber-sumber bahaya yang ada di tempat kerja
tersebut seperti, dalam tingkat pencahayaan, kebersihan dan posisi bekerja. Pekerjaan
akan terhambat dengan kondisi lingkungan yang kurang mendukung dan dapat
meningkatkan resiko terjadinya gangguan kesehatan pada pekerja.

B. Saran
Suatu industry sangat membutuhkan yang namanya keselamatan dan
kesehatan kerja. Jika perusahaannya itu sendiri tidak menerapkan system tersebut,
maka sedikit banyak akan berpengaruh dalam hasil produksi dan tingkat keselamatan
dan kesehatan para pekerja pun juga akan terganggu. Maka dari itu, untuk
meningkatkan derajat kesehatan dan keselamatan pekerja diharap pihak industry lebih
memperhatikan kondisi pekerja itu sendiri, dan diupayakan untuk selalu menyediakan
APD (alat pelindung diri) serta fasilitas lain yang dapat menunjang kesehatan dan
keselamatan bagi para pekerja.
DAFTAR PUSTAKA

Barbara, P. (2002). Fundamental of Industrial Hygiene. Natioanal Safety Council

Harrington & F.S Gill. (2005).Buku Saku Kesehatan Kerja.Edisi 3. Jakarta : EGC

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/Menkes/SK/XI/2002 Tentang


Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri.

OSHA. (2000). Ergonomic : The Study of Work. U.S. : Department of Labour

Simangunsong, N, A. (2003). Kesehatan Lingkungan Kerja Home Industri. Jurnal Hukum. Vol.
10. (Online). (https://journal.uii.ac.id/index.php/IUSTUM/article/download/4780/4220,
diakses tanggal 2 Juni 2017)

Soeripto, M. (2008). Higiene Industri. Jakarta: Balai Penerbit FKUI

Suardi, Rudi. (2007). Sistem Manajemen dan Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Jakarta : PPM

Subaris, H.(2008).Hygiene Lingkungan Kerja. Yogyakarta: Mitra Cendika Press.

Suhardi. (2008). Pengembangan Sumber Belajar Biologi. Yogyakarta: Jurdik FMIPA

Supardi, I.(2003).Lingkungan Hidup Kelestariannya.Bandung: PT ALUMNI

Workplace Health and Savety (WHS). (1993). Code of Practce For Noise Management At Work.
Australia.