Anda di halaman 1dari 9

EMPOWERING SKM TO TAKE A ROLE IN HEALTH DEVELOPMENT

Salah satu isu penting dalam kesejahteraan bangsa ini adalah


bagaimana meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Pentingnya
aspek kesehatan ini ditunjukkan dalam Millenium Development Goals
(MDG) yang dirumuskan bersama oleh PBB pada tahun 2000 sebagai
bentuk prasyarat untuk mencapai pembangunan yang ideal bagi suatu
negara.
Setidaknya tiga dari delapan MDG relevan dengan kesehatan
masyarakat, yaitu menurunkan angka kematian anak, memerangi HIV dan
AIDS, malaria, serta penyakit lainnya, dan meningkatkan kesehatan ibu.
Dilihat dari perkembangan tahun ke tahun, memang Indonesia terus
mengalami peningkatan dalam pencapaian MDG. Walau begitu, jika kita
bandingkan dengan negara tetangga di ASEAN, Indonesia masih tertinggal
dari banyak negara.
Berdasarkan laporan pembangunan manusia yang dikeluarkan oleh
PBB tahun 2013, mutu kesehatan di Indonesia antara tahun 2007-2009
hanya mampu memuaskan 79% warga masyarakat. Sementara itu, dilihat
dari jumlah tenaga kesehatan dari tahun 2005-2010, di Indonesia hanya
terdapat 0,3 orang per 1000 penduduk atau berarti satu orang tenaga
kesehatan harus melayani antara 3000 hingga 4000 anggota masyarakat.
Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, dalam rangka melakukan
upaya kesehatan tersebut perlu didukung denga sumber daya kesehatan, khususnya Tenaga
Kesehatan yang memadai, baik dari segi kualitas, kuantitas, maupun penyebarannya. Upaya
pemenuhan kebutuhan Tenaga Kesehatan sampai saat ini belum memadai, baik dari segi
jenis, kualifikasi, jumlah, maupun pendayagunaannya, Tantangan pengembangan Tenaga
Kesehatan yang dihadapi dewasa ini dan di masa depan adalah:
1. Pengembangan dan pemberdayaan Tenaga Kesehatan belum dapat memenuhi
kebutuhan Tenaga Kesehatan untuk pembangunan kesehatan;
2. Regulasi untuk mendukung upaya pembangunan Tenaga Kesehatan masih
terbatas;
3. Perencanaan kebijakan dan program Tenaga Kesehatan masih lemah;
4. Kekurangserasian antara kebutuhan dan pengadaan berbagai jenis Tenaga
Kesehatan;
5. Kualitas hasil pendidikan dan pelatihan Tenaga Kesehatan pada umumnya masih
belum memadai;
6. Pendayagunaan Tenaga Kesehatan, pemerataan dan pemanfaatan Tenaga
Kesehatan berkualitas masih kurang;
7. Pengembangan dan pelaksanaan pola pengembangan karir, sistem penghargaan,
dan sanksi belum dilaksanakan sesuai dengan yang diharapkan;
8. Pengembangan profesi yang berkelanjutan masih terbatas;
9. Pembinaan dan pengawasan mutu Tenaga Kesehatan belum dapat dilaksanakan
sebagaimana yang diharapkan;
10. Sumber daya pendukung pengembangan dan pemberdayaan Tenaga Kesehatan
masih terbatas;
11. Sistem informasi Tenaga Kesehatan belum sepenuhnya dapat menyediakan data
dan informasi yang akurat, terpercaya, dan tepat waktu; dan
12. Dukungan sumber daya pembiayaan dan sumber daya lain belum cukup.

Dalam menghadapi tantangan tersebut, diperlukan adanya penguatan regulasi untuk


mendukung pengembangan dan pemberdayaan Tenaga Kesehatan melalui percepatan
pelaksanaannya, peningkatan kerja sama lintas sector, dan peningkatan pengelolaannya
secara berjenjang di pusat dan daerah. Perencanaan kebutuhan Tenaga Kesehatan secara
nasional disesuaikan dengan kebutuhan berdasarkan masalah kesehatan, kebutuhan
pengembangan program pembangunan kesehatan, serta ketersediaan Tenaga Kesehatan
tersebut.
Pengadaan Tenaga Kesehatan sesuai dengan perencanaan kebutuhan diselenggarakan
melalui pendidikan dan pelatihan, baik oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, maupun
masyarakat, termasuk swasta. Pendayagunaan Tenaga Kesehatan meliputi penyebaran Tenaga
Kesehatan yang merata dan berkeadilan, pemanfaatan Tenaga Kesehatan, dan pengembangan
Tenaga Kesehatan, termasuk peningkatan karier. Pembinaan dan pengawasan mutu Tenaga
Kesehatan dilakukan melalui peningkatan komitmen dan koordinasi semua pemangku
kepentingan dalam pengembangan Tenaga Kesehatan serta legislasi yang antara lain meliputi
sertifikasi melalui Uji Kompetensi, Registrasi, perizinan, dan hak-hak Tenaga Kesehatan.
Seorang tenaga kesehatan yang baik tentunya mampu memberikan
kesehatan, memperlakukan seorang pasien sebagai seorang pribadi yang
bermartabat, memberikan saran-saran tentang perilaku hidup yang baik,
dan tidak terlalu memberikan larangan atau mengatur hidup pasiennya.
Syarat pertama konsisten dengan kompetensi seorang tenaga kesehatan
dalam aspek jasmaniah, tiga syarat terakhir merupakan kompetensi sosial
yang sulit dipelajari kecuali kita memiliki kompetensi tambahan selain
masalah medis dalam diri manusia. Seorang tenaga kesehatan tidak
hanya harus mampu mengetahui dan mengobati pasien, namun juga
memberikan nasihat layaknya seorang filsuf yang penuh pengalaman
hidup, memiliki empati layaknya seorang kekasih, dan memberikan pola
asuh yang otoritatif layaknya orang tua yang baik.

Peran Sarjana Kesehatan Masyarakat


Disinilah peran dari Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM). SKM
bekerja pada level masyarakat, bukan individual seperti dokter dan
perawat. Tujuannya adalah bukan hanya memberikan kepuasan pada
pelayanan kesehatan di negara ini, namun juga memberikan kesehatan
yang objektif pada masyarakat. Kesehatan masyarakat adalah tindakan
kolektif untuk mempertahankan peningkatan kesehatan pada tingkat
populasi (Beaglehole et al, 2004).
Seorang SKM adalah seorang yang berperan ganda. Di satu sisi, ia merupakan
pejuang kesehatan yang mencari sebab-sebab penyakit di masyarakat, mengajak masyarakat
menghindari sebab-sebab tersebut, dan mengawasi agar masyarakat tidak melanggar
pantangan-pantangan yang membawa pada penyakit. Di sisi lain, karena salah satu sebab
utama penyakit di masyarakat adalah pola kebijakan, maka SKM juga adalah seorang politisi,
yang berusaha mempengaruhi para pembuat kebijakan agar memberikan program yang
sebaik mungkin dalam menjaga kesehatan bangsa.
Perhatikan bahwa kesehatan masyarakat merupakan suatu tindakan
kolektif, sehingga peran seorang SKM dijalankan seperti halnya seorang
pengerah massa yang menggerakkan masyarakat untuk mampu
bekerjasama dalam meningkatkan kesehatan mereka dan ketika
kesehatan tersebut telah meningkat secara berkelanjutan, masyarakat
harus mampu mempertahankannya sehingga tidak terjadi penurunan
kesehatan di masa datang pada setiap individu anggota masyarakat
tersebut.
Ada banyak tantangan yang dihadapi oleh SKM. Sebagai contoh,
masyarakat Indonesia merupakan penggemar rokok dengan konsumsi 240
miliar rokok per tahun, kelima terbesar di dunia (Van Liemt, 2002; Shafey
et al, 2009). Diperkirakan 68,8% pria dewasa dan sekitar 2,6% wanita
dewasa di Indonesia adalah perokok (Corrao et al, 2000). Hal ini
memberikan ancaman bagi kesehatan masyarakat terutama pada
kerusakan paru-paru (Lawrence dan Collin, 2004; Mackay dan Eriksen,
2002; Reynolds, 1999). Begitu juga, demam tifoid merupakan penyakit
yang relatif sulit dihapuskan, padahal penyakit ini telah hilang di negara-
negara maju. 20 ribu orang meninggal setiap tahun di Indonesia disertai
dengan kerugian langsung sekitar Rp 600 Miliar dan kerugian karena
hilangnya penghasilan sebesar Rp 650 Miliar (Ali, 2006). Kasus kematian
karena penyakit kardiovaskuler dan diabetes sebesar 350 orang per 1000
penduduk dan kasus balita di bawah berat normal masih berkisar 18,4%
(PBB, 2012).
Tantangan ini kemudian dijawab dengan bekal karakteristik seorang
sarjana kesehatan masyarakat. SKM merupakan tenaga kesehatan yang
lebih multidimensional dengan orientasi yang lebih kepada masyarakat,
daripada individu (Joiner dan Joseph, 2007). SKM tidak akan puas dengan
kesehatan satu orang individu tetapi pada kesehatan masyarakat secara
keseluruhan. Paradigma yang digunakan SKM adalah paradigma sehat
yang berarti mendorong masyarakat menjaga kesehatannya, ketimbang
mengobati masyarakat yang telah terkena penyakit. Karena orang sehat
lebih banyak daripada orang sakit, maka cakupan dari SKM menjadi
sangat luas dan karenanya, berperan sangat besar bagi kesehatan
masyarakat secara keseluruhan dalam aspek preventif.
Besarnya jumlah orang sehat juga berimplikasi pada besarnya
tanggungjawab sosial yang dimiliki seorang SKM. Jika sejumlah orang
terkena suatu penyakit karena tidak menyadari perilaku hidup yang sehat,
SKM semestinya merasa bertanggungjawab atas masalah ini (Weed dan
McKeown, 2003). Walau begitu, tanggungjawab ini tidaklah pantas
dipandang sebagai beban. Justru hal tersebut merupakan sebuah bentuk
sarana untuk meraih kebahagiaan yang besar bagi seorang SKM. Manusia
pada fitrahnya merasa bahagia bukan karena harta, jabatan, kekuasaan,
kecantikan, atau kepintaran, namun merasa bahagia ketika merasa
dikasihi oleh Tuhan (Diener, Tay, dan Myers, 2011), membantu sesama
(Post, 2005), dan memiliki banyak hubungan dengan manusia lainnya
(Abdel-Khalek, 2006). Tiga hal ini semua tertanam dalam profesi seorang
SKM. Karenanya, menjadi SKM adalah sumber kebahagiaan yang patut
dikejar.
Selain berperan ke dalam masyarakat secara sosial, SKM juga
berperan ke luar masyarakat dengan cara politik. Hal ini karena kesehatan
masyarakat, pada gilirannya, berhubungan dengan isu-isu seperti
ketidaksetaraan sosial, kemiskinan, dan ketidakberdayaan masyarakat
(Callahan dan Jennings, 2002). Akar permasalahan dapat berada di titik
puncak yaitu pemerintahan. Kebijakan-kebijakan tertentu dapat lebih
mampu menghapus kesenjangan sosial, kemiskinan, dan
ketidakberdayaan masyarakat dibandingkan kebijakan lainnya. Kebijakan
berdampak pada masyarakat secara lebih luas lagi, dapat pada level
daerah hingga negara. Karenanya, seorang SKM dapat bekerja dengan
mengambil gerakan politik misalnya dengan menjadi anggota dewan atau
pejabat pemerintah. Karena negara ini merupakan negara demokratis,
maka posisi dari SKM pada sistem politik kemudian ditentukan oleh
masyarakat. Jika SKM mampu meyakinkan masyarakat untuk mendukung
dirinya, maka seorang SKM dapat bekerja lebih efisien dengan
mempengaruhi kebijakan langsung dari atas dengan terjun pada bidang
politik. Langkah ini pada gilirannya akan memberikan keadilan distributif
karena masyarakat yang paling membutuhkan akan memperoleh
keuntungan yang paling besar (Rawls, 1971).
Sebagai contoh bagaimana SKM dapat bertindak pada ranah
kebijakan, kita dapat melihat pada isu kebijakan kesehatan yang ada
sekarang. Belakangan sebuah kebijakan mengenai Sistem Jaminan Sosial
Nasional yang berbasis BPJS dikeluarkan oleh pemerintah. Sistem seperti
ini efisien dalam menangani masalah pendanaan kesehataan bagi
masyarakat tidak mampu. Langkah ini merupakan langkah yang tepat
untuk menjawab permasalahan jasmaniah dari aspek kualitatif dalam
bentuk persyaratan menjadi sehat. Dengan jaminan kesehatan,
masyarakat tidak mampu menjadi terlayani dan kemungkinan untuk
menjadi sehat lebih besar daripada tidak ada SJSN. Walau begitu dapatkah
kebijakan ini menjawab permasalahan kualitatif tentang aspek sosial?
Dari studi Yesilada dan Direktor (2010), kita dapat melihat bahwa
sistem jaminan sosial menyebabkan kualitas pelayanan kesehatan
menurun di Rumah Sakit milik pemerintah. Alasannya adalah karena
masyarakat miskin merasa beruntung sudah dapat berobat, sehingga
tidak mengharapkan pelayanan yang baik. Hal ini juga berdampak pada
pelayanan yang benar-benar tidak berkualitas dari pelayan kesehatan,
apalagi yang berorientasi pada kapitalisme. Dari perspektif keadilan
distributif, apakah ini berarti kelompok masyarakat miskin memperoleh
pelayanan yang terbaik? Bagaimana kebijakan yang lebih baik lagi dalam
menjawab permasalahan ini?
Seorang SKM karenanya adalah seorang yang berperan ganda
(Kutty, 2007). Di satu sisi, ia merupakan pejuang kesehatan yang mencari
sebab-sebab penyakit di masyarakat, mengajak masyarakat menghindari
sebab-sebab tersebut, dan mengawasi agar masyarakat tidak melanggar
pantangan-pantangan yang membawa pada penyakit. Di sisi lain, karena
salah satu sebab utama penyakit di masyarakat adalah pola kebijakan,
maka SKM juga adalah seorang politisi, yang berusaha
mempengaruhipara pembuat kebijakan agar memberikan program yang
sebaik mungkin dalam menjaga kesehatan bangsa.

Penutup
Kerangka berikut kemudian akan menjelaskan bagaimana peran dari
SKM secara keseluruhan dalam meningkatkan derajat kesehatan bangsa.
Dapat dilihat bahwa kedua peran dari SKM tersebut berarah komponen
kualitatif maupun kuantitatif dari derajat kesehatan bangsa. Pada
komponen kualitatif, upaya SKM untuk menyadarkan tentang kesehatan
pada masyarakat akan menjadikan masyarakat tahu bagaimana perilaku
yang sehat dan apa konsekuensinya jika berperilaku tidak sehat. Hal ini
akan mempermudah intervensi ketika tenaga kesehatan bertindak pada
level individual untuk memberikan tindakan kuratif ketika pada akhirnya,
ada anggota masyarakat yang harus berobat karena sakit. Lebih jauh, hal
ini juga akan meningkatkan kepuasan masyarakat akan pelayanan yang
diberikan oleh tenaga kesehatan, baik pada level individual maupun
kolektif. Komponen kuantitatif tercapai ketika SKM berperan dalam level
kebijakan dengan memberikan saran dan masukan pada pembuat
kebijakan untuk mengarahkan intervensi kesehatan pada masyarakat
tertentu yang rentan pada penyakit, dan karenanya, secara agregat akan
meningkatkan jumlah tenaga kesehatan yang ada di masyarakat. Siklus
ini terus berlanjut ketika SKM menjalankan perannya dengan sungguh-
sungguh dan tiba pada titik dimana derajat kesehatan bangsa ini telah
sangat tinggi, dengan keseimbangan antara komponen kuantitatif dan
kualitatifnya.

Referensi
1. Abdel-Khalek, A.M. 2006. Happiness, Health, and Religiosity:
Significant Relations. Mental Health, Religion, and Culture, 9(1):85-
97
2. Ali, S. 2006. Typhoid Fever: Aspects of Environment, host, and
Pathogen Interaction. PhD Dissertation. Universiteit Leiden
3. Beaglehole, R., Bonita, R., Horton, R., Adams, O., McKee, M. 2004.
Public Health in the New Era: Improving Health through Collective
Action. Lancet, 363:2084-86
4. Callahan, D., Jennings, B. 2002. Ethics and Public Health: Forging a
Strong Relationship. American Journal of Public Health, 92(2):169-
177
5. Corrao MA, Guindon GE, Sharma N, Shokoohi DF, eds. 2000. Tobacco
control country profiles. Altanta, Georgia: American Cancer Society.
http://tobacco.who.int/repository/tld105/Indonesia.pdf.
6. Diener, E., Tay, L., Myers, D.G. 2011. The Religion Paradox: If
Religion Makes People Happy, Why So Many Dropping Out? Journal
of Personality and Social Psychology
7. Grondahl, V.A. 2012. Patients Perceptions of Actual Care Conditions
and Patient Satisfaction with Care Quality in Hospital. Dissertation.
Karlstad University
8. Joiner, B., Joseph, S. 2007. Leadership Agility: Five Levels of Mastery
for Anticipating and Initiating Change. San Francisco: Jossey-Bass
9. Kutty, V.R. 2007. The Ascent of Public Health Science. Current Trends
in Science, 431-436
10. Lawrence, S., Collin, J. 2004. Competing with Kreteks:
Transnational Tobacco Companies, Globalisation, and Indonesia.
Tobacco Control, 13(Suppl II):ii96-ii103
11. Mackay J, Eriksen M. 2002. The tobacco atlas. Geneva: World
Health Organization
12. Maestad, O., Torsvik, G. 2008. Improving the Quality of Health
Care when Health Workers are in Short Supply. CMI Working Paper,
12
13. Mosadeghrad, A.M. 2012. A Conceptual Framework for Quality
of Care. Mat Soc Med, 24(4):251-261
14. Post, S.G. 2005. Altruism, Happiness, and Health: Its Good to
be Good. International Journal of Behavioral Medicine, 12(2):66-77
15. Rawls, J. 1971/1999. A Theory of Justice. Harvard: Harvard
University Press
16. Reynolds C. 1999. The fourth largest market in the world.
Tobacco Control; 8:8991
17. Shafey, O., Eriksen, M., Ross, H., Mackay, J. 2009. The tobacco
atlas. 3rd Edition. Geneva: World Health Organization
18. UN. 2002. UN Millennium Development Goals (MDG).
http://www.un.org/millenniumgoals/
19. UNDP. 2013. Human Development Report 2013: The Rise of
the South. New York: UNDP
20. Van Liemt G. 2002. The world tobacco industry: trends and
prospects. Geneva: International Labour Office
21. Weed, D.L., McKeown, R.E. 2003. Science and Social
Responsibility in Public Health. Environmental Health Perspectives,
111(14):1804-1806
22. Wing, S. 2007. Environmental Justice, Science, and Public
Health. Essay on Environmental Justice
23. Yesilada, F., Direktor, E. 2010. Health Care Service Quality: A
Comparison of Public and Private Hospitals. African Journal of
Business Management, 4(6):962-971

Oleh :
Heri Iswanto diakses pada http://www.kompasiana.com/heri_isw/peran-
sarjana-kesehatan-masyarakat-dalam-meningkatkan-derajat-kesehatan-
bangsa_552abeb96ea834d443552d2a