Anda di halaman 1dari 16

Pengertian Hak Asasi Manusia (HAM)

Dibawah ini akan dijelaskan pengertian hak asasi manusia dari beberapa para ahli
dibidangnya, yaitu antara lain:

1. Haar Tilar, HAM ialah hak-hak yang melekat pada diri setiap insan dan
tanpa memiliki hak-hak itu maka setiap insan tidak bisa hidup selayaknya
manusia. Hak tersebut didapatkan sejak lahir ke dunia.

2. Prof. Koentjoro Poerbopranoto, Menurutnya HAM ialah suatu hak yang


sifatnya mendasar atau asasi. Hak-hak yang dimiliki setiap manusia
berdasarkan kodratnya yang pada dasarnya tidak akan bisa dipisahkan
sehingga bersifat suci.

3. John Locke, Menjelaskan bahwa HAM ialah hak-hak yang langsung


diberikan Tuhan yang esa kepada manusia sebagai hak yang kodrati. Oleh
karenanya, tidak ada kekuatan apapun di dunia yang bisa mencabutnya.
HAM ini sifatnya fundamental atau mendasar bagi kehidupan manusia dan
pada hakikatnya sangat suci.

4. Mahfudz M.D., Menjelaskan bahwa HAM merupakan hak yang melekat


pada martabat stiap manusia yang mana hak tersebut dibawa sejak lahir ke
dunia sehingga pada hakikatnya hak tersebut bersifat kodrati.

5. UU No 39 Tahun 1999, Menerangkan bahwa HAM ialah seperangkat hak


yang melekat pada diri manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT.
dimana hak tersebut merupakan anugerah yang wajib di hargai dan
dilindungi oleh setiap orang untuk melindungi harkat dan martabat setiap
manusia.

6. Muladi, Menurutnya HAM ialah segala hak pokok atau dasar yang telah
melekat pada diri manusia dalam kehidupannya.
7. Peter R. Baehr, Menurutnya HAM merupakan hak dasar yang mutlak dan
harus dimiliki setiap insan untuk perkembangan dirinya.

8. Karel Vasak, Menjelaskan bahwa HAM merupakan tiga generasi yang


didapat dari revolusi Prancis. Ia mengistilahkan generasi karena yang
dimaksud merujuk pada inti dan ruang lingkup dari hak yang mana hak
menjadi prioritas utama dalam kurun waktu tertentu.

9. Miriam Budiarjo, HAM merupakan hak yang dimiliki setiap orang yang
dibawa sejak lahir ke dunia dan menurutnya hak itu sifatnya universal
karena dimiliki tanpa adanya perbedaan ras, kelamin, suku, budaya, agama
dan lain sebagainya.

Dari beberapa penjelasan diatas dapat kita simpulkan bahwa HAM merupakan
hak yang sudah melekat dalam diri setiap insan yang dibawa sejak lahir ke dunia
dan berlaku sepanjang hidupnya serta tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun
karena hak itu sifatnya kodrati yang langsung Allah berikan pada setiap makhluk
ciptaannya. Dan setelah kita mengetahui apa itu HAM, hendaknya sebagai warga
negara indonesia yang baik kita harus menjunjung tinggi nilai HAM tanpa adanya
perbedaan baik suku, status, keturunan, gender, golongan dan lain sebagainya.

Ciri Pokok Hakikat HAM


Berdasarkan beberapa rumusan HAM di atas, dapat ditarik kesimpulan tentang
rcipatam

HAM tidak perlu diberikan, dibeli ataupun diwarisi. HAM adalah bagian
dari manusia secara otomatis.

HAM berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin, ras,
agama, etnis, pandangan politik atau asal-usul sosial dan bangsa.
HAM tidak bisa dilanggar. Tidak seorangpun mempunyai hak untuk
membatasi atau melanggar hak orang lain. Orang tetap mempunyai HAM
walaupun sebuah Negara membuat hukum yang tidak melindungi atau
melanggar HAM (Mansyur Fakih, 2003).

Tujuan HAM
Tujuan HAM sangat sederhana adalah untuk selalu menyadari keberadaan,
menghormati dan menegakkan HAM serta martabat pribadi manusia demi
terciptanya keadilan dan perdamaian diseluruh dunia, khususnya bagi para
anggota yang tegabung didalamnya
Didalam perspektif sejarah, berbagai upaya didalam pemikiran, telaah dan
penuangan secara konseptualisasi beserta dan perjuangan untuk mengakui dan
menegakkan eksistensi HAM itu sejatinya jauh sebelumnya sudah ada sebelum
penuangan secara formal didalam deglarasi itu telah muncul ditengah-tengah
masyarakat umat manusia, baik dibarat maupun ditimur, meskipun masih bersifat
local dan parsial.
Perkembangan pemikiran HAM didunia bermula dari:

1. Magna Charta
Pada umumnya para pakar di Eropa berpendapat bahwa lahirnya
HAM di kawasan Eropa dimulai dengan lahirnya magna Charta yang antara lain
memuat pandangan bahwa raja yang tadinya memiliki kekuasaan absolute (raja
yang menciptakan hukum, tetapi ia sendiri tidak terikat dengan hokum yang
dibuatnya), menjadi dibatasi kekuasaannya dan mulai dapat diminta pertanggung
jawabannya dimuka hukum(Mansyur Effendi,1994).

2. The American declaration


Perkembangan HAM selanjutnya ditandai dengan munculnya The
American Declaration of Independence yang lahir dari paham Rousseau
danMontesquuieu. Mulailah dipertegas bahwa manusia adalah merdeka sejak di
dalam perut ibunya, sehingga tidaklah logis bila sesudah lahir harus dibelenggu.

3. The French declaration


Selanjutnya, pada tahun 1789 lahirlah The French Declaration (Deklarasi
Perancis), dimana ketentuan tentang hak lebih dirinci lagi sebagaimana dimuat
dalam The Rule of Law yang antara lain berbunyi tidak boleh ada penangkapan
tanpa alasan yang sah. Dalam kaitan itu berlaku prinsippresumption of innocent,
artinya orang-orang yang ditangkap, kemudian ditahan dan dituduh, berhak
dinyatakan tidak bersalah, sampai ada keputusan pengadilan yang berkekuatan
hukum tetap yang menyatakan ia bersalah.

4. The four freedom


Ada empat hak kebebasan berbicara dan menyatakan pendapat, hak
kebebasan memeluk agama dan beribadah sesuai dengan ajaran agama yang
diperlukannya, hak kebebasan dari kemiskinan dalam Pengertian setiap bangsa
berusaha mencapai tingkat kehidupan yang damai dan sejahtera bagi
penduduknya, hak kebebasan dari ketakutan, yang meliputi usaha, pengurangan
persenjataan, sehingga tidak satupun bangsa berada dalam posisi berkeinginan
untuk melakukan serangan terhadap Negara lain (Mansyur Effendi,1994).

Perkembangan pemikiran HAM di Indonesia


Pemikiran HAM periode sebelum kemerdekaan yang paling menonjol
pada Indische Partij adalah hak untuk mendapatkan kemerdekaan serta
mendapatkan perlakukan yang sama hak kemerdekaan.
Perkembangan HAM di Indonesia untuk sekarang ini sudah cukup
baik.Contohnya saja didaerah Sleman Yogjakarta, Sri Sultan HB X dengan para
pengusaha dan pemerintah memberikan bantuan kepada semua masyarkat yogja
yang membutuhkan dan yang tertimpa musibah Gunung Merapi. Tiap pengungsi
mendapatkan jatah Rp 5 ribu per hari.
Bagi warga yang rumahnya rusak, akan mendapatkan jatah sampai rumah
selesai dibangun. Sultan mengungkapkan dana pembangunan selter berasal dari
patungan pengusaha. Sedangkan pemerintah membantu pegadaan fasilitas air dan
listrik. Mengenai mata pencaharian, Sultan mengimbau warga untuk sementara
menebang pohon-pohon bambu. [3]
Sejak kemerdekaan tahun 1945 sampai sekarang di Indonesia telah
berlaku 3 UUD dalam 4 periode, yaitu:
1. Periode 18 Agustus 1945 sampai 27 Desember 1949, berlaku UUD
1945
2. Periode 27 Desember 1949 sampai 17 Agustus 1950, berlaku konstitusi
Republik Indonesia Serikat
3. Periode 17 Agustus sampai 5 Juli 1959, berlaku UUD 1950
4. Periode 5 Juli 1959 sampai sekarang, berlaku Kembali UUD 1945 .
Pencantuman pasal-pasal tentang Hak-hak Asasi Manusia dalam tiga UUD
tersebut berbeda satu sama lain. Dalam UUD 1945 butir-butir Hak Asasi Manusia
hanya tercantum beberapa saja. Sementara Konstitusi RIS 1949 dan UUDS 1950
hampir bula-bulat mencantumkan isi Deklarasi HAM dari PBB. Hal demikian ini
karna memang situasinya sangat dekat dengan Deklarasi HAM PBB yang masih
aktual. Di samping itu terdapat pula harapan masyarakat dunia agar deklarasi
HAM PBB dimasukkan ke dalam Undang-Undang Dasar atau perundangan
lainnya di negara-negara anggota PBB, agar secara yuridis formal HAM dapat
berlaku di negara masing-masing.

Ketika UUD 1945 berlaku kembali sejak 5 Juli 1959, secara yuridis formal, hak-
hak asasi manusia tidak lagi lengkap seperti Deklarasi HAM PBB, karena yang
terdapat di dalam UUD 1945 hanya berisi beberapa pasal saja, khususnya pasal
27, 28, 29, 30 dan 31. Pada awal Orde baru saja tujuan Pemerintah adalah
Melaksanakan hak asasi manusia yang tercantum dalam UUD 1945 serta
berupaya melengkapinya. Tugas untuk melengkapi HAM ini ditanda tangani oleh
sebuahh panitia MPRS yang kemudian menyusun Rancangan Piagam Hak-hak
Asasi Manusia serta hak-hak dan Kewajiban warganegara yang dibahas dalam
sidang MPRS tahun 1968. Dalam pembahasan ini sidang MPRS menemui jalan
buntu, sehingga akhirnya dihentikan. Begitu pila setelah MPR terbentuk hasil
pemilihan umum 1971 persoalan HAM tidak lagi diagendakan, bahkan dipeti-
eskan sampai tumbangnya Orde Baru di tahun 1998 yang berganti dengan era
Reformasi. Pada awal Reformasi itu pula diselenggarakan sidang istimewa MPR
tahun 1998 yang salah satu ketetapannya berisi Piagam HAM.

Sejarah Perkembangan HAM di Indonesia

Pemahaman Ham di Indonesia sebagai tatanan nilai, norma, sikap yang hidup di
masyarakat dan acuan bertindak pada dasarnya berlangsung sudah cukup lama.
Secara garis besar Prof. Bagir Manan pada bukunya Perkembangan Pemikiran dan
Pengaturan HAM di Indonesia ( 2001 ), membagi perkembangan HAM pemikiran
HAM di Indonesia dalam dua periode yaitu periode sebelum Kemerdekaan ( 1908
1945 ), periode setelah Kemerdekaan ( 1945 sekarang ).
A. Periode Sebelum Kemerdekaan ( 1908 1945 )
Boedi Oetomo, dalam konteks pemikiran HAM, pemimpin Boedi Oetomo
telah memperlihatkan adanya kesadaran berserikat dan mengeluarkan
pendapat melalui petisi petisi yang dilakukan kepada pemerintah kolonial
maupun dalam tulisan yang dalam surat kabar goeroe desa. Bentuk pemikiran
HAM Boedi Oetomo dalam bidang hak kebebasan berserikat dan
mengeluarkan pendapat.
Perhimpunan Indonesia, lebih menitikberatkan pada hak untuk menentukan
nasib sendiri.
Sarekat Islam, menekankan pada usaha usaha unutk memperoleh
penghidupan yang layak dan bebas dari penindasan dan deskriminasi rasial.
Partai Komunis Indonesia, sebagai partai yang berlandaskan paham
Marxisme lebih condong pada hak hak yang bersifat sosial dan menyentuh
isu isu yang berkenan dengan alat produksi.
Indische Partij, pemikiran HAM yang paling menonjol adalah hak untuk
mendapatkan kemerdekaan serta mendapatkan perlakuan yang sama dan hak
kemerdekaan.
Partai Nasional Indonesia, mengedepankan pada hak untuk memperoleh
kemerdekaan.
Organisasi Pendidikan Nasional Indonesia, menekankan pada hak politik
yaitu hak untuk mengeluarkan pendapat, hak untuk menentukan nasib sendiri,
hak berserikat dan berkumpul, hak persamaan di muka hukum serta hak untuk
turut dalam penyelenggaraan Negara.
Pemikiran HAM sebelum kemerdekaan juga terjadi perdebatan dalam sidang
BPUPKI antara Soekarno dan Soepomo di satu pihak dengan Mohammad
Hatta dan Mohammad Yamin pada pihak lain. Perdebatan pemikiran HAM
yang terjadi dalam sidang BPUPKI berkaitan dengan masalah hak persamaan
kedudukan di muka hukum, hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak,
hak untuk memeluk agama dan kepercayaan, hak berserikat, hak untuk
berkumpul, hak untuk mengeluarkan pikiran dengan tulisan dan lisan.
B. Periode Setelah Kemerdekaan ( 1945 sekarang )
a) Periode 1945 1950
Pemikiran HAM pada periode awal kemerdekaan masih pada hak untuk
merdeka, hak kebebasan untuk berserikat melalui organisasi politik yang
didirikan serta hak kebebasan untuk untuk menyampaikan pendapat terutama
di parlemen. Pemikiran HAM telah mendapat legitimasi secara formal karena
telah memperoleh pengaturan dan masuk kedalam hukum dasar Negara
( konstitusi ) yaitu, UUD 45. komitmen terhadap HAM pada periode awal
sebagaimana ditunjukkan dalam Maklumat Pemerintah tanggal 1 November
1945.
Langkah selanjutnya memberikan keleluasaan kepada rakyat untuk
mendirikan partai politik. Sebagaimana tertera dalam Maklumat Pemerintah
tanggal 3 November 1945.
b) Periode 1950 1959
Periode 1950 1959 dalam perjalanan Negara Indonesia dikenal dengan
sebutan periode Demokrasi Parlementer. Pemikiran HAM pada periode ini
menapatkan momentum yang sangat membanggakan, karena suasana
kebebasan yang menjadi semangat demokrasi liberal atau demokrasi
parlementer mendapatkan tempat di kalangan elit politik. Seperti dikemukakan
oleh Prof. Bagir Manan pemikiran dan aktualisasi HAM pada periode ini
mengalami pasang dan menikmati bulan madu kebebasan. Indikatornya
menurut ahli hukum tata Negara ini ada lima aspek. Pertama, semakin banyak
tumbuh partai partai politik dengan beragam ideologinya masing masing.
Kedua, Kebebasan pers sebagai pilar demokrasi betul betul menikmati
kebebasannya. Ketiga, pemilihan umum sebagai pilar lain dari demokrasi
berlangsung dalam suasana kebebasan, fair ( adil ) dan demokratis. Keempat,
parlemen atau dewan perwakilan rakyat resprentasi dari kedaulatan rakyat
menunjukkan kinerja dan kelasnya sebagai wakil rakyat dengan melakukan
kontrol yang semakin efektif terhadap eksekutif. Kelima, wacana dan
pemikiran tentang HAM mendapatkan iklim yang kondusif sejalan dengan
tumbuhnya kekuasaan yang memberikan ruang kebebasan.
c) Periode 1959 1966
Pada periode ini sistem pemerintahan yang berlaku adalah sistem demokrasi
terpimpin sebagai reaksi penolakan Soekarno terhaap sistem demokrasi
Parlementer. Pada sistem ini ( demokrasi terpimpin ) kekuasan berpusat pada
dan berada ditangan presiden. Akibat dari sistem demokrasi terpimpin
Presiden melakukan tindakan inkonstitusional baik pada tataran supratruktur
politik maupun dalam tataran infrastruktur poltik. Dalam kaitan dengan HAM,
telah terjadi pemasungan hak asasi masyarakat yaitu hak sipil dan dan hak
politik.
d) Periode 1966 1998
Setelah terjadi peralihan pemerintahan dari Soekarno ke Soeharto, ada
semangat untuk menegakkan HAM. Pada masa awal periode ini telah
diadakan berbagai seminar tentang HAM. Salah satu seminar tentang HAM
dilaksanakan pada tahun 1967 yang merekomendasikan gagasan tentang
perlunya pembentukan Pengadilan HAM, pembentukan Komisi dan
Pengadilan HAM untuk wilayah Asia. Selanjutnya pada pada tahun 1968
diadakan seminar Nasional Hukum II yang merekomendasikan perlunya hak
uji materil ( judical review ) untuk dilakukan guna melindungi HAM. Begitu
pula dalam rangka pelaksanan TAP MPRS No. XIV/MPRS 1966 MPRS
melalui Panitia Ad Hoc IV telah menyiapkan rumusan yang akan dituangkan
dalam piagam tentang Hak hak Asasi Manusia dan Hak hak serta
Kewajiban Warganegara.
Sementara itu, pada sekitar awal tahun 1970-an sampai periode akhir 1980-an
persoalan HAM mengalami kemunduran, karena HAM tidak lagi dihormati,
dilindungi dan ditegakkan. Pemerintah pada periode ini bersifat defensif dan
represif yang dicerminkan dari produk hukum yang umumnya restriktif
terhadap HAM. Sikap defensif pemerintah tercermin dalam ungkapan bahwa
HAM adalah produk pemikiran barat yang tidak sesuai dengan nilai nilai
luhur budaya bangsa yang tercermin dalam Pancasila serta bangsa Indonesia
sudah terlebih dahulu mengenal HAM sebagaimana tertuang dalam rumusan
UUD 1945 yang terlebih dahulu dibandingkan dengan deklarasi Universal
HAM. Selain itu sikap defensif pemerintah ini berdasarkan pada anggapan
bahwa isu HAM seringkali digunakan oleh Negara Negara Barat untuk
memojokkan Negara yang sedang berkembang seperti Inonesia.
Meskipun dari pihak pemerintah mengalami kemandegan bahkan
kemunduran, pemikiran HAM nampaknya terus ada pada periode ini terutama
dikalangan masyarakat yang dimotori oleh LSM ( Lembaga Swadaya
Masyarakat ) dan masyarakat akademisi yang concern terhaap penegakan
HAM. Upaya yang dilakukan oleh masyarakat melalui pembentukan jaringan
dan lobi internasional terkait dengan pelanggaran HAM yang terjadi seprti
kasus Tanjung Priok, kasus Keung Ombo, kasus DOM di Aceh, kasus di Irian
Jaya, dan sebagainya.
Upaya yang dilakukan oleh masyarakat menjelang periode 1990-an nampak
memperoleh hasil yang menggembirakan karena terjadi pergeseran strategi
pemerintah dari represif dan defensif menjadi ke strategi akomodatif terhadap
tuntutan yang berkaitan dengan penegakan HAM. Salah satu sikap akomodatif
pemerintah terhadap tuntutan penegakan HAM adalah dibentuknya Komisi
Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM ) berdasarkan KEPRES No.
50 Tahun 1993 tertanggal 7 Juni 1993.
Lembaga ini bertugas untuk memantau dan menyeliiki pelaksanaan HAM,
serta memberi pendapat, pertimbangan, dan saran kepada pemerintah perihal
pelaksanaan HAM.
e) Periode 1998 sekarang
Pergantian rezim pemerintahan pada tahan 1998 memberikan dampak yang
sangat besar pada pemajuan dan perlindungan HAM di Indonesia. Pada saat
ini mulai dilakukan pengkajian terhadap beberapa kebijakan pemerintah orde
baru yang beralwanan dengan pemjuan dan perlindungan HAM. Selanjutnya
dilakukan penyusunan peraturan perundang undangan yang berkaitan
dengan pemberlakuan HAM dalam kehidupan ketatanegaraan dan
kemasyarakatan di Indonesia. Hasil dari pengkajian tersebut menunjukkan
banyaknya norma dan ketentuan hukum nasional khususnya yang terkait
dengan penegakan HAM diadopsi dari hukum dan instrumen Internasional
dalam bidang HAM.
Strategi penegakan HAM pada periode ini dilakukan melalui dua tahap yaitu
tahap status penentuan dan tahap penataan aturan secara konsisten. pada tahap
penentuan telah ditetapkan beberapa penentuan perundang undangan tentang
HAM seperti amandemen konstitusi Negara ( Undang undang Dasar 1945 ),
ketetapan MPR ( TAP MPR ), Undang undang (UU), peraturan pemerintah
dan ketentuan perundang undangam lainnya.

Pengertian dan Ruang Lingkup Rule of Law

Gerakan masyarakat yang menghendaki bahwa kekuasaan raja maupun


penyelenggara negara harus dibatasi dan diatur melalui suatu peraturan
perundang-undangan dan pelaksanaan dalam hubungannya dengan segala
peraturan perundang-undangan itulah yang sering diistilahkan dengan Rule of
Law. Berdasarkan bentuknya sebenarnya Rule of Law adalah kekuasaan publik
yang diatur secara legal. Setiap organisasi atau persekutuan hidup dalam
masyarakat termasuk negara mendasarkan pada Rule of Law. Dalam hubungan ini
Pengertian Rule of Law berdasarkan substansi atau isinya sangat berkaitan dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam suatu negara.

Negara hukum merupakan terjemahan dari istilah Rechsstaat atau Rule Of


Law. Rechsstaat atau Rule Of Law itu sendiri dapat dikatakan sebagai bentuk
perumusan yuridis dari gagasan konstitusionalisme. Oleh karena itu, konstitusi
dan negara hukum merupakan dua lembaga yang tidak terpisahkan.

Friedman (1959) membedakan rule of law menjadi dua, yaitu pengertian secara
formal (in the formal sense) dan pengertian secara hakiki/materill (ideological
sense). Secara formal, rule of law diartikan sebagai kekuasaan umum yang
terorganisasi( organized public power), misalnya Negara. Sementara itu secara
hakiki, rule of law terkait dengan penegakan rule of law karena menyangkut
ukuran hukum yang baik dan buruk (just and unjust law). Rule of law terkait
dengan keadilan sehingga rule of law harus menjamin keadilan yang dirasakan
oleh masyarakat/bangsa.

Menurut Albert Venn Dicey dalam Introduction to the Law of the


Constitution memperkenalkan istilah the rule of law yang secara sederhana
diartikan suatu keteraturan hukum. Menurut Dicey, terdapat tiga unsur yang
fundamental dalam rule of law yaitu :

1. Supremasi aturan-aturan hukum, tidak adanya kekuasaan yang sewenang- wenang


dalam arti seseorang Hanya boleh dihukum jikalau memangmelanggar hokum.
2. Kedudukan yang sama di muka hukum, hal ini berlaku baik bagi masyarakat biasa
maupun pejabat Negara
3. Terjaminnya hak-hak asasi manusia oleh UU serta keputusan-keputusan UU
Prinsip-prinsip Rule of Law

Pengertian Rule of Law tidak dapat dipisahkan dengan pengertian negara


hukum atau rechts staat. Meskipun demikian dalam negara yang menganut sistem
Rule of Law harus memiliki prinsip-prinsip yang jelas, terutama dalam
hubungannya dengan realisasi Rule of Law itu sendiri. Menurut Albert Venn
Dicey dalam Introduction to the Law of The Constitution, memperkenalkan
istilah the rule of law yang secara sederhana diartikan sebagai suatu keteraturan
hukum. Menurut Dicey terdapat 3 unsur yang fundamental dalam Rule of Law,
yaitu: (1) supremasi aturan aturan hukum,tidak adanya kekuasaan sewenang-
wenang, dalam arti seseorang hanya boleh dihukum, jikalau memang melanggar
hukum; (2) kedudukanmya yang sama dimuka hukum. Hala ini berlaku baik bagi
masyarakat biasa maupun pejabat negara; dan (3) terjaminnya hak-hak asasi
manusia oleh Undang-Undang serta keputusan pengadilan.

Suatu hal yang harus diperhatikan bahwa jikalau dalam hubungan dengan
negara hanya berdasarkan prinsip tersebut, maka negara terbatas dalam pengertian
negara hukum formal, yaitu negara tidak bersifat proaktif melainkan pasif. Sikap
negara yang demikian ini dikarenakan negara hanya menjalankan dan taat pada
apa yang termaktub dalam konstitusi semata. Dengan kata lain negara tidak hanya
sebagai penjaga malam (nachtwachterstaat). Dalam pengertian seperti ini
seakan-akan negara tidak berurusan dengan kesejahteraan rakyat. Setelah
pertengahan abad ke-20 mulai bergeser, bahawa negara harus bertanggung jawab
terhadap kesejahteraan rakyatnya. Untuk itu negara tidak hanya sebagai penjaga
malam saja, melainkan harus aktif melaksanakan upaya-upaya untuk
mewujudkan kesejahteraan masyarakat dengan cara mengatur kehidupan sosial
ekonomi.

Gagasan baru inilah yang kemudian dikenal dengan welvaartstaat,


verzorgingsstaat, welfare state, social service state, atau negara hukum materal.
Perkembangan baru inilah yang kemudian menjadi raison detre untuk melakukan
revisi atau bahkan melengkapi pemikiran Dicey tentang negara hukum formal.

Dalam hubungan negara hukum ini organisasi pakar hukum Internasional,


International Comission of Jurists (ICJ), secara intens melakukan kajian terhadap
konsep negara hukum dan unsur-unsur esensial yang terkandung di dalamnya.
Dalam beberapa kali pertemuan ICJ di berbagai negara seperti di Athena (1995),
di New Delhi (1956),di Amerika Serikat (1957), di Rio de Jainero (1962), dan
Bangkok (1965), dihasilkan paradigma baru tentang negara hukum. Dalam
hubungan ini kelihatan ada semangat bersama bahwa konsep negara hukum
adalah sangat penting, yang menurut Wade disebut sebagai rule of law is a
phenomenon of free society and the mark of it. ICJ dalam kapasitasnya sebagai
forum intelektual, juga menyadari bahwa yang terpenting lagi adalah bagaiman
konsep rule of law dapat diimplementasikan sesuai perkembangan kehidupan
dalam masyarakat.

Secara praktis, pertemuan ICJ di Bangkok tahun 1965 semakin


menguatkan posisi rule of law dalam kehidupan bernegara. Selain itu, melalui
pertemuan tersebut telah digariskan bahwa di samping hak-hak politik bagi rakyat
harus diakui pula adanya hak-hak sosial-ekonomi, sehingga perlu dibentuk
standar-standar sosial ekonomi. Komisi ini merumuskan syarat-syarat
pemerintahan yang demokratis dibawah rule of law yang dinamis, yaitu: (1)
perlindungan konstitusional, artinya selain menjamin hak-hak individual,
konstitusi harus pula menentukan teknis prosedural untuk memperoleh
perlindungan atas hak-hak yang dijamin; (2) lembaga kehakiman yang bebas dan
tidak memihak; (3) pemilihan umum yang bebas; (4) kebebasan menyatakan
pendapat; (5) kebebasan berserikat/berorganisasi dan beroposisi; dan (6)
pendidikan kewarganegaraan (Azhary, 1995: 59).
Gambaran ini mengukuhkan negara hukum sebagai walfare state, karena
sebenarnya mustahil mewujudkan cita-cita rule of law sementara posisi dan peran
negara sangat minimal dan lemah. Atas dasar inilah kemudian negara diberi
kekuasaan dan kemerdekaan bertindak atas dasar inisiatif parlemen. Negara dalam
hal ini pemerintah memiliki fries ermessen atau poivoir discretionnare, yaitu
kemerdekaan yang dimiliki pemerintah untuk turut serta dalam kehidupan sosial
ekonomi dan keleluasaan untuk tidak terlalu terikat pada produk legislasi
parlemen. Dala gagasan walfare state ternyata negara memiliki wewenang yang
relatif lebih besar, ketimbang format negara yang hanya bersifat negara hukum
formal saja. Selain itu dalam welfare state yang terpenting adalah negara semakin
otonom untuk mengatur dan mengarhkan fungsi dan peran negara bagi
kesejahteraan hidup masyarakat. Kecuali itu, sejalan dengan konsep negara
hukum, baik rechtsstaat maupun rule of law, pada prinsipnya memiliki kesamaan
fundamental serta saling mengisi. Dalam prinsip negara ini unsur penting
pengakuan adanya pembatasan kekuasaan yang dilakukan secara konstitusional.
Oleh karena itu, terlepas dari adanya pemikiran dan praktek konsep negara hukum
yang berbeda, konsep negar hukum dan rule of law adalah suatu realitas dari cita-
cita sebuah negara bangsa, termasuk negara Indonesia.

2.7 Prinsip-prinsip Rule of Law secara formal di Indonesia

Penjabaran prinsip-prinsip rule of law secara formal termuat di dalam pasal-pasal


UUD 1945, yaitu sebagai berikut :

a. Negara Indonesia adalah Negara hukum (pasal 1 ayat 3)


b. Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk
menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hokum dan peradilan (pasal
24 ayat 1)
c. Segala warga Negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan
pemerintahan dan wajib menjunjung hokum dan pemerintahan itu dengan
tidak ada kecualinya (pasal 27 ayat 1)
d. Bab X A tentang Hak Asasi Manusia, memuat sepuluh pasal antara lain bahwa
setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian
hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum (pasal 28 D
ayat 1)
e. Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan perlakuan yang
adil dan layak dalam hubungan kerja (pasal 28 D ayat 2)

Beberapa kasus dan penegakan rule of law antara lain:

a. Kasus korupsi KPU dan KPUD


b. Kasus illegal logging
c. Kasus dan reboisasi hutan yang melibatkan pejabat Mahkamah Agung (MA)
d. Kasus-kasus perdagangan narkoba dan psikotripika
e. Kasus perdagangan wanita dan anak

the rule of law mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:


1. Adanya jaminan perlindungan terhadap HAM
2. Adanya supremasi hukum dalam penyelenggaraan pemerintah
3. Adanya pemisahan dan pembagian kekuasaan negara
4. Adanya lembaga peradilan yang bebas dan mandiri.

http://www.seputarpengetahuan.com/2015/03/pengertian-hak-asasi-manusia-
menurut.html

http://abdulazizfitriono.blogspot.co.id/2013/04/makalah-kewarganegaraan-hak-
asasi.html

http://adrianynwa.blogspot.co.id/2013/03/sejarah-ham-di-indonesia.html

http://ikanuriyanti.blogspot.co.id/2014/01/ham-dan-rule-of-law-di-indonesia.html

http://aditiyaoneonly.blogspot.co.id/2013/05/rule-of-law.html