Anda di halaman 1dari 2

Rasa cemas timbul akibat adanya renspons terhadap kondisi stress atau konflik.

Kecemasan disebabkan oleh beberapa faktor predisposisi yaitu teori psikonalisa, teori
interpersonal,teori perilaku, kondisi keluarga, dan keadaan biologis. Teori psikonalisa
menjelaskan abhwa ansietas merupakan konflik elemen kepribadian individu dan super ego
(dorongan insting dan hati nurani). Ansietas mengingatkan ego akan adanya bahaya yang akan
diatasi. Teori interpersonal menjelaskan bahwa ansietas terjadi karea ketakutan penolakan dalam
hubungan interpersonal yang dihubungkan dengan trauma. Teori perilaku menjelaskan bahwa
ansietas timbul sebagai akibat frustasi yang disebabkan oleh sesuatu yang mengganggu
pencapaian tujuan. Anseiatas merupakan dorongan yang dipelajari untuk menghindari nyeri.
Kondisi keluarga yang mempengaruh ansietas diantaranya adalah karena faktor ekonomi dan
latar belakang pendidikan. Indivisu dengan harga diri rendah mengalmai kecemasan berat.
Konsep diri yang terganggu akan menimbulkan ketidakmampuan individu berpikir secara
realitas sehingga akan menibulkan kecemasan (Stuart, 2007)

Suliswati (2005) mengatakan bahwa kecemasan sebagai respon emosi tanpa objek yang
spesifik yang secaraobjektif dialami dan dikomunikasikan secara interpersonal. Kecemasan
adalah kebingungan, kehawatiran pada sesuatu yang akan terjadi pada penyebab yang tidak jelas
dan dihubungan dengan perasaan yang tidak menentu dan tidak berdaya. Kecemasan timbul dari
perasaan takut terhadap ketidaksetujuan dan penolakan interpersonal. Kecemasan juga
berhubungan dengan perkembangan trauma sperti perpisahan dan kehilangan, yang
menimbulkan kerentanan tertentu.

Keadan biologis menunjukkan bahwa otak mengandung reseptor yang berperan penting
dalam mekanisme biologis yang berhubungan dengan ansietas yaitu serotonin dan GABA. Pada
kasus fraktur femur, terjadi hematoma dan merusak sel saraf. Pada proses tersebut terjadi
pelepasan mediator kimia seperti serotonin, prostaglandin, bradikinin, dan histamin. Serotonin
merupakan homon yang berfungsi sebagai neurotransmitter yang dapat mempengaruhi keadaan
psikologis dan fisiologis tubuh. Kadar serotoin yang berlebih dapat mempengaruhi perasaan
seseorang dari cemas hingga stress (Tamsuri, 2007). Mediator kimia yang dilepaskan tersebut
akan merangsang timbulnya rasa nyeri. Menurut Smeltzer & Bare (2009) nyeri yang dirasakan
sesorang bukan hanya mempengaruhi kondisi fisiknya, tetapi juga mempengaruhi kondisi
psikologisnya. Nyeri mempengaruhi komponen emosiolnal pasien serta seringkali disertai
kecemasan.
Potter & Perry (2010) mengatakan hubungan nyeri terhadap ansietas bersifat komplek.
Ansietas seringkali meningkatkan persepsi nyeri, tetapi nyeri juga dapat menimbukan satu
perasaan ansietas. Stimulus nyeri mengaktifkan bagian system limbic yang diyakini
mengendalikan emosi sesorang khususnya ansietas. System limbic dapat memproses reaksi
emosi terhadap nyeri, yakni memperburuk atau menghilangkan nyeri.

Stuart, G., W. (2007). Buku Saku Keperawatan Jiwa.Jakarta : EGC.


Potter & Perry. (2010).Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses dan
Praktek.Edisi ke-4. EGC : Jakarta
Smeltzer, S. C., & Bare B. G. ( 2009). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah , Ed 8, Vol 1.
Jakarta: EGC.
Syahputra, H., Jumaini., & Novayelinda, R. (2013). Hubungan tingkat nyeri dengan tingkat
kecemasan pada pasien fraktur tulang panjang di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru.
(Online). (http://repository.unri.ac.id, diakses 10 April 2017)
Tamsuri, A. (2012). Konsep & Penatalaksanaan Nyeri. Jakarta : EGC.
Sulsiwati, dkk .(2007). Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta ; EGC