Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN ANALISA KASUS COMPREHENSIVE HEALTH ASSESSMENT (CHA)

PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK PADA NY.Y

DI RUANG DAHLIA RSUD TARAKAN

JAKARTA PUSAT

Disusun Oleh :

AGRA NADYA

011311002

Program Studi Keperawatan A 2013

TA : 2016 - 2017

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Binawan

Jl.Kalibata Raya No.25-30 Jakarta 13630 tlp.( 021 ) 80880882, fax ( 021 ) 800880883
INTRODUCTION

Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin modern dan jumlah penduduk yang
terus meningkat, maka pola dan gaya hidup pun semakin beraneka ragam. Ditambah dengan
aktivitas manusia yang tidak memperhatikan lingkungan, sehingga menimbulkan polusi udara
dan dapat berdampak negatif bagi kesehatan. Berbagai macam penyakit yang tanpa disadari
dapat terjadi akibat polusi udara antara lain Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) (Kozier,
2010).

Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) adalah penyakit paru-paru yang ditandai dengan
penyumbatan terus menerus aliran udara dari paru-paru.Ini adalah penyakit paru-paru yang
mengancam kehidupan didiagnosis yang mengganggu pernapasan normal dan tidak sepenuhnya
reversibel.Mencakup bronkitis kronis dan emfisema (WHO, 2016).Penyakit Paru Obstruktif
Kronik (PPOK) adalah penyakit dapat dicegah dan diobati, ditandai dengan keterbatasan aliran
udara yang terus-menerus yang biasanya progresif dan berhubungan dengan respons inflamasi
kronis pada saluran napas dan paru-paru terhadap partikel atau gas yang beracun.Penyakit ini
ditandai dengan emfisema atau bronkitis kronis ataupun keduanya.Gejala utamanya adalah
gangguan pernapasan seperti sesak napas yang kadang dapat ditandai dengan adanya mengi saat
ekspirasi (Global Initiative for Chronic Lung Disease, 2015).

PPOK dianggap sebagai penyakit yang berhubungan dengan interaksi genetik dengan
lingkungan. Adapun faktor penyebabnya adalah: merokok, polusi udara, dan pemajanan di
tempat kerja (terhadap batu bara, kapas, padi-padian) merupakan faktor-faktor resiko penting
yang menunjang pada terjadinya penyakit ini. Prosesnya dapat terjadi dalam rentang lebih dari
20-30 tahunan.(Smeltzer dan Bare. 2009).

PPOK merupakan salah satu dari kelompok penyakit tidak menular yang menjadi
masalah kesehatan masyarakat Indonesia. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya usia harapan
hidup dan semakin tingginya pajanan faktor resiko, seperti banyaknya jumlah perokok, serta
pencemaran udara didalam ruangan maupun diluar ruangan. Berdasarkan sudut pandang
epidemiologi, laki-laki lebih berisiko terkena PPOK dibandingkan dengan wanita karena
kebiasaan merokok.Masalah utama dan alasan paling sering yang menyebabkan penderita PPOK

1
2

mencari pengobatan adalah sesak napas yang diderita yang bersifat persisten dan
progresif.Berbagai akibat yang ditimbulkan karena adanya respon inflamasi tersebut yaitu gejala
utama sesak napas, batuk, dan produksi sputum yang meningkat (Persatuan Dokter Paru
Indonesia, 2011).

Angka kejadian PPOK sangat berkorelasi dengan jumlah partikel yang telah dihirup oleh
seseorang selama hidupnya dan asap rokok merupakan hal yang paling umum yang berkaitan
dengan angka kejadian tersebut (GOLD, 2010).

Tanpa disadari, angka kematian akibat PPOK semakin meningkat. Adapun catatan
laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam World Health Report pada tahun 2012
menyebutkan, lima penyakit paru utama merupakan 17,4% dari seluruh kematian di dunia,
masing-masing infeksi paru 7,2%, PPOK 4,8%, tuberkulosis 3,0%, kaker paru/ trakea/ bronkus
2,1%, dan asma 0,3%.

WHO memperkirakan, 600 juta orang menderita PPOK di seluruh dunia. Dan ini
diperkirakan akan terus meningkat. Jumlah penderita PPOK di Amerika Serikat 12,1 juta orang
dan di Asia Pasifik sebanyak 56,7 juta orang (GOLD, 2010).

Prevalensi kejadian PPOK di dunia rata-rata berkisar 3-11% (GOLD, 2015).Pada tahun
2013, di Amerika Serikat PPOK adalah penyebab utama kematian ketiga, dan lebih dari 11 juta
orang telah didiagnosis dengan PPOK (American Lung association, 2015).

WHO memprediksi pada tahun 2020, PPOK akan meningkat dari peringkat 12 menjadi
peringkat 5 penyakit terbanyak dan dari peringkat 6 menjadi peringkat 3 penyebab kematian
diseluruh dunia, serta jumlah penderita PPOK mencapai 274 juta jiwa dan diperkirakan
meningkat menjadi 400 juta jiwa dan setengah dari angka tersebut terjadi di negara berkembang,
termasuk negara Indonesia. Angka kejadian PPOK di Indonesia menempati urutan kelima
tertinggi di dunia yaitu 7,8 juta jiwa. (PDPI, 2011).

Di Indonesia, berdasarkan laporan Riskesdas 2013, PPOK termasuk dalam kelompok


Penyakit Tidak Menular (PTM) yaitu merupakan penyakit kronis yang tidak ditularkan dari
orang ke orang. Prevalensi PPOK berdasarkan wawancara di Indonesia didapati 3,7 persen per
mil dengan frekuensi yang lebih tinggi pada laki-laki (Riskesdas, 2013).
3

Hasil survei penyakit tidak menular di lima rumah sakit provinsi di Indonesia (Jawa
Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung dan Sumatra Selatan) pada tahun 2004, menunjukkan
bahwa PPOK menempati urutan pertama penyumbang angka kesakitan (35%), diikuti asma
bronkial (33%), kanker paru (30%), dan lainnya (2%). Menurut Riset Kesehatan Dasar, pada
tahun 2007 angka kematian akibat PPOK menduduki peringkat ke-6 dari 10 penyebab kematian
di Indonesia dan prevalensi PPOK rata-rata sebesar 3.7%.

Di Indonesia diperkirakan terdapat 4,8 juta pasien dengan prevalensi 5,6%. Angka ini
bisa meningkat dengan makin banyaknya jumlah perokok karena 90% pasien PPOK adalah
perokok atau mantan perokok (PDPI, 2011)

.
KASUS

Ny. Y (79 tahun) datang ke IGD RSUD Tarakan pada hari Senin tanggal 27 Februari 2017
pukul 11.05 diantar oleh anaknya dengan keluhan sesak nafas sejak 1 minggu sebelum masuk RS
namun memberat pada 5 hari terakhir dan batuk berdahak putih kental sejak 1 bulan terakhir.
Klien mengatakan pernah dirawat sebelumnya pada tahun 2007 dengan diagnosa medis TB Paru
danmempunyai riwayat penyakit DM type II yang ia ketahui sejak tahun 2009. Saat dilakukan
anamnesa, klien tampak pucat, lemas dan bernafas menggunakan otot bantu nafas. Saat di IGD,
pada pemeriksaan tanda vital didapatkan hasil Tekanan Darah klien 120/90 mmHg, pernafasan
33x/menit, suhu 37.8 C, dan saturasi O2 90%. Pemeriksaan fisik didapatkan hasil GCS=15,
KU:lemah, Paru rhonchi +/+, wheezing -/-, serta gambaran EKG Sinus Ritme dengan HR
110x/menit. Klien terpasang O2 Nasal Canul 4lpm. Hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan
nilai Hb 13.3 g/dL, hematokrit 41.8%, eritrosit 4.69 juta/uL, leukosit 12.620/mm3, trombosit
175.800/mm3, pH 7.368, PCO2 51.0 mmHg, PO2 83.8 mmHg, SO2 90,2%, GDS 281 mg/Dl.
Hasil rontgen thorax dengan hasil TB paru lesi aktif, infiltrat di kedua paru terutama kanan.
Klien diberikan terapi IVFD RL 20 tpm 500cc/12jam, inhalasi O2 4lpm nasal kanul, inhalasi
combivent.

Setelah klien mendapatkan perawatan di IGD, klien dipindahkan pada tanggal 28


Februari pukul 19.50 WIB ke ruang Dahlia RSUD Tarakan.Pada tanggal 13 Maret 2017
dilakukan pengkajian menyeluruh dengan 11 pola Gordon.Berikut ini merupakan hasil
pengkajian pada Ny.Y dengan PPOK.

1. Pola Persepsi dan Manajemen Kesehatan


Klien mengatakan bahwa sehat itu sangat berharga dan mahal, maka dari itu
kesehatan harus benar-benar dijaga dengan baik. Klien mengatakan ini adalah kedua
kalinya ia dirawat di rumah sakit, dan ia baru merasa sadar akan pentingnya kesehatan
pada saat dirawat yang kedua ini. Sebelum masuk rumah sakit, klien menganggap
keluhan batuk yang timbul saat ini sama seperti keluhan batuk sebelumnya, klien
mengatasi keluhan dengan mengkonsumsi obat OAT rutindan obat warung. Setelah 2
minggu klien mengkonsumsi obat, klien merasa batuknya semakin berat dan disertai
4
5

sesak yangsemakin parah sehingga klien memutuskan untuk menjalani pengobatan di


rumah sakit.

Masalah Keperawatan : Kurang Pengetahuan

2. Pola Nutrisi-Metabolik
Sebelum sakit, klien mengatakan bahwa klien tidak sempat masak untuknya, serta
anak dan cucunya, karena klien bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT), klien
mengatakan hanya makan 2x sehari nasi putih sekepal tangan karena ia tahu bahwa ia
mempunyai riwayat DM, dan lauknya pun ia beli di warung nasi, dan pasti tidak
terkontrol dari segi menggunaan bahan-bahan serta bumbu untuk makanannya. Klien
juga sangat suka makan kue-kue pasar atau gorengan dan juga memakan jajanan rinngan
diwarung karena cucunya juga suka.Klien tidak memiliki alergi pada makanan ataupun
obat-obatan.Klien mengatakan tidak suka minum kopi, minum teh juga jarang, klien
biasanya hanya minum air mineral dan itu pun jarang karena terlalu sibuk dengan
pekerjaan dan mengurus cucunya, klien juga tidak pernah mengonsumsi alkohol. Klien
mengalami penurunan berat badan menjadi 48kg semenjak mengalami sakit sejak 2007
lalu dan klien memiliki tinggi badan 160 cm, sehingga dapat dihitung indeks massa tubuh
klien (IMT) sebesar 18.75 dengan status nutrisi masih dalam batas normal, namun klien
memiliki resiko kekurangan nutrisi jika terus menerus mengalami penurunan berat badan
dan tidak merubah pola makannya.
Saat sakit, klien menjadi lebih rajin untuk makan, karena klien bertekad ingin
sembuh dan ingin cepat pulang. Saat di rumah sakit klien makan 3x sehari rutin dengan
susu dan buah yang disediakan oleh rumah sakit yang memang porsinya sudah sesuai
dengan penyakit yang diderita pasien. Klien mengatakan senang makan makanan rumah
sakit, karena bervariasi dan enak namun klien hanya menghabiskan makan setengah
porsi. Klien berharap dapat makan makanan seperti ini juga ketika sudah pulang
kerumah, dan akan menjaga dan menerapkan pola serta menu makanan yang sehat. Klien
pernah mengeluh mual dan bahkan muntah saat 5 hari pertama di rumah sakit, klien
merasa sangat tidak nafsu makan, dan klien mengatakan sudah 5 hari terakhir ini
merasakan mual diserati muntah sebanyak kurang lebih 4 kali, dan menyebabkan klien
kehilangan selera untuk makan.Klien tidak mengalami pembengkakkan di bagian tubuh
manapun yang artinya memang tidak ada kelebihan cairan yang terjadi pada klien, suhu
6

tubuh klien cenderung normal, klien hanya sering mengeluh sesak. Klien diberikan terapi
RL 1000 ml/24 jam, D5+ NS 500ml/24 jam dan ditambah susu cair, serta air putih
sebanyak 1400 ml/24 jam.

Masalah Keperawatan :Resiko Kekurangan Nutrisi, Resiko Gangguan Kebutuhan


Cairan dan elektrolit

3. Pola Eliminasi
Sebelum sakit klien jarang sekali berkemih pada siang hari, karena minumnya pun
kurang diakibatkan oleh sibuknya klien bekerja, namun pada malam hari, klien sering
sekali berkemih, karena factor usia dan juga penyakit DM yang ia alami dengan
konsistensi cair, berwarna agak orange dan berbau. Untuk BAB, klien mengatakan
jarang, tidak setiap hari, kira-kira 2-3x seminggu dengan konsistensi padat, berwarna
hitam kecoklatan dan berbau, namun tidak ada keluhan saat berkemih ataupun BAB.
Saat sakit, klien lebih sering berkemih baik pada siang hari maupun pada malam
hari yang menyebabkan klien susah untuk tidur nyenyak pada malam hari dengan
konsistensi sama, yaitu cair, berwarna kuning jingga, dan berbau, namun tidak ada
keluhan saat berkemih. Jumlah urin yang dikeluarkan selama sehari kurang lebih 1700
ml. Saat di RS, klien mengatakan sudah BAB kurang lebih 3x dengan konsistensi padat,
berwarna coklat dan berbau, serta tidak ada keluhan saat BAB.

Masalah Keperawatan : Perubahan Eliminasi Urin : Poliuria

4. Pola Aktivitas dan Latihan


Sebelum sakit klien mampu mengerjakan aktivitas sehari-hari secara mandiri,
namun klien tidak bisa terlalu kelelahan karena klien akan meraasa sesak apabila
mengerjakan pekerjaan yang terlalu berat dalam waktu yang lama. Pekerjaan klien
sebagai PRT terhitung lumayan berat dan seringkali membuat klien merasa kelelahan dan
sesaknya kambuhlagi, jika mengalami kekambuhan, klien mengantisipasinya dengan
istrahat sebentar, minum air putih, atau pernah sesekali minum obat yang ia beli di
warung dan lalu kembali beraktivitas seperti biasa lagi. Meskipun sudah tua, klien tidak
menggunakan alat bantu dalam melakukan kegiatan sehari harinya. Klien mengatakan
sering juga mengonsumsi obat untuk pegal linu setelah bekerja, karena merasa badan
terutama punggungnya sangat sakit dan pegal jika setelah bekerja.Klien mengatakan
7

tidak ada masalah tulang yang terlalu berarti dan menghambat pekerjaannya, hanya saja
masalah sesak yang sering kali dialaminya.
Saat sakit, di beberapa hari pertama masuk rumah sakit, klien tidak bisa
melakukan aktivitas seperti mandi di kamar mandi, maupun BAK/BAB sendiri, klien
lebih banyak dibantu oleh perawat atau keluarga pasien lain yang ada di kamarnya,
karena anak dari klien sangat jarang berkunjung dan menemaninya saat dirumah sakit
dikarenakan kesibukannya bekerja sebagai karyawan swasta di sebuah supermarket.
Namun beberapa hari ini klien sudah mulai bisa melakukan semuanya secara mandiri,
seperti makan, BAK/BAB dan mandi di kamar mandi karena klien sudah merasa lebih
baik dan tidak terlalu sesak jika berjalan atau beraktifitas. RR: 33x/ menit menjadi RR:
26x/menit.

Masalah Keperawatan : Gangguan Pertukaran Gas, Ketidakefektifan Pola Nafas,


Gangguan Bersihan Jalan Nafas, Deficit Perawatan Diri

5. Pola Kognitif dan Persepsi


Saat ini kesadaran klien compos mentis dengan GCS 15.Saat dilakukan
pemeriksaan fisik, tidak ada masalah pendengaran yang terjadi, klien masih normal
dalam segi pendengaran. Dalam segi penglihatan, klien mengatakan matanya sudah awas,
dan biasanya memakai kacamata dengan gangguan mata rabun dekat sejak 3 tahun lalu.
Untuk masalah pengecapan, perabaan, penghidu tidak ada masalah yang di temukan dan
di tujukkan oleh klien. Klien mengatakan bahwa ia sangat bersyukur karena masih
diberikan daya ingat yang bagus, terlihat juga ketika ditanya klien dengan lancar bercerita
tentang dirinya, keluarga dan kehidupannya dari dulu hingga sekarang. Klien
mengatakan, sudah 5 hari belakangan ini ia merasakan nyeri dibagian ulu hatinya
dikarenakan gastritisnya kambuh, saat dikaji berapa skala nyerinya ia mengatakan 4
dengan respon dan mimik yang sesuai.

Masalah Keperawatan : Gangguan Rasa Nyaman : Nyeri

6. Pola Persepsi dan Konsep Diri


Klien mengatakan kondisi sakitnya ini membuat ia takut, jika ia tidak sembuh dan
meninggal, siapa yang akan merawat anaknya yang sudah bercerai dan cucunya yang
masih kecil. Klien juga mengatakan tidak berdaya, sedih, dan kesepian karena selama
dirawat tidak pernah ditemani oleh anak atau keluarganya yang lain. Anakya hanya
8

berkunjung setiap pagi hari sebelum pergi bekerja dan hanya sebentar. Klien merasa iri
dengan pasien lain yang selalu ditemani keluarganya.

Masalah Keperawatan :Ansietas, Fear, Powerlessness

7. Pola Tidur dan Istirahat


Sebelum sakit, klien jarang sekali untuk tidur siang atau sekedar untuk beristirahat
dikarenakan pekerjaannya yang sangat banyak.Untuk malam haripun klien mengatakan
sulit sekali untuk tidur nyenyak karena sering terbangun untuk berkemih.
Saat sakit, klien sangat sering tidur pada siang hari, dikarenakan jika malam hari
klien jarang sekali tidur karena lingkungan rumah sakit yang berisik akibat sedang
adanya pembangunan dan juga klien sering terbangun untuk berkemih, jadi pada pagi
siang dan sore hari klien lebih cenderung tidur dan hanya bangun untuk makan, minum
obat, mandi, ataupun ke kamar mandi untuk berkemih/BAB.

Masalah Keperawatan: Gangguan pola tidur

8. Pola Peran dan Hubungan


Klien merupakan pembantu rumah tangga di sebuah rumah di dekat tempat
tinggalnya.Karena kesibukannya bekerja dan mengurus cucunya, klien jarang sekali
mengikuti acara yang diadakan di masyarakat seperti arisan, pengajian, dan lain-
lain.Klien juga jarang sekali bersosialisasi dalam masayarakat.Terlihat saat klien sakit,
tidak ada warga sekitar rumahnya yang berkunjung untuk menjenguk klien dikarenakan
kurangnya hubungan sosial klien dengan masyarakat sekitar.

Masalah Keperawatan : Gangguan Peran dalam Masyarakat, Gangguan Interasksi


Sosial

9. Pola Seksual dan Reproduksi


Klien seorang ibu dengan satu orang anak, klien mengatakan hamil anaknya pada
umur 40 tahun, klien tidak bisa mempunyai anak lagi karena sudah terlalu tua.Klien
sudah menopause sejak umur 48 tahun.Klien merasa badannya jadi cepat lelah setelah
menopause, dan merasa sering nyeri sendi serta mengalami gejala-gejala pengeroposan
tulang, seperti sering mendengar bunyi di lutut jika sedang sholat ataupun beraktifitas
lainnya.
9

Masalah Keperawatan : Tidak Ditemukan Masalah Keperawatan Berhubungan


dengan Pola Seksual dan Reproduksi

10. Pola Toleransi Stress dan Koping


Saat ini klien mengatakan dirinya cemas dan takut akan penyakit yang
dideritanya. Selama perawatan klien selalu patuh dan menerima semua pengobatan serta
instruksi dokter, perawat dan tenaga kesehatan lain. Klien merasa kesepian, terlihat saat
dilakukan pengkajian klien terlihat senang dan aktif dalam bercerita tetapi sesekali klien
memperlihatkan ekspresi sedih.Apabila ada masalah biasanya klien berdiskusi dengan
suaminya, tetapi semenjak suaminya meninggal, klien lebih sering memutuskan sendiri
masalah yang ada, karena anaknya pun jarang sekali bisa diajak berdikusi dikarenakan
kesibukannya.

Masalah Keperawatan : Koping Individu Tidak Efektif, Koping Keluarga Tidak


Efektif

11. Pola Nilai dan Kepercayaan


Klien dan keluarga menganut agama islam. Dalam kehidupan sehari hari klien
termasuk orang yang rajin dalam beribadah,tidak pernah tertinggal dalam mengerjakan
sholat, namun klien jarang sekali mengikuti pengajian-pengajian dikarenakan sibuk,
hanya ketika libur atau ada waktu luang saja.Tetapi selama sakit, klien tidak sholat, klien
hanya bedoa untuk kesembuhannya dan bisa segeera pulang.Klien tidak bisa sholat
karena tidak ada sajadah dan mukena yang dibawakan oleh anaknya.

Masalah Keperawatan : Tidak Ditemukan Masalah Keperawatan Berhubungan


dengan Pola Nilai dan Kepercayaan

Berdasarkan 11 pola Gordon yang menjadi dasar pengkajian klien, terdapat 3 masalah
yang diangkat menjadi diagnosa keperawatan utama berdasarkan skala prioritas yang
mengancam kehidupan dari kasus Ny.Y dengan PPOK yaitu gangguan pertukaran gas
berhubungan dengan hipoventilasi alveolar; resiko kekurangan nutrisi berhubungan
dengan produksi sputum berlebih dan anoreksia; ansietas berhubungan dengan
perubahan peran dan kematian.
Masalah keperawatan yang pertama adalah gangguan pertukaran gas berhubungan
dengan hipoventilasi alveolar yang ditandai dengan klien mengatakan sering sekali batuk
10

berdahak dengan pengeluaran sputum yang kental dan banyak, serta mengeluh sesak yang
memberat jika mengalami kelelahan atau banyak berakhtifitas. Hasil observasi menunjukkan
klien tampak sesak dan bernafas berat dengan menggunakan otot bantu nafas, tampak lemah,
selalu berbaring dengan posisi kepala ditinggikan (semi fowler), TD :120/90 mmHg, Nadi :
100x/menit, RR : 33x/menit, Suhu : 37.8 C, dan saturasi O2 90%.
Respirasi merupakan proses ganda, yaitu terjadinya pertukaran gas di dalam jaringan
(pernafasan dalam) dan yang terjadi di dalam paru-paru (pernafasan luar). Dengan bernafas
setiap sel didalam tubuh menerima persediaan oksigennya dan pada saat yang sam amelepaskan
produk oksidasinya. Oksigen yang bersenyawa dengan karbon dan hydrogen dari jaringan
memungkinkan setiap sel melangsungkan proses metabolismenya yang berarti prosesnya selesai
dan menghasilkan karbon dioksida dan air (Price, 2008).
System respirasi pada manusia terdiri dari jaringan dan organ tubuh yang merupakan
parameter kesehatan manusia. Jika salah satu system respirasi terganggu maka secara langsung
system yang lain yang bekerja dalam tubuh akan terganggu. Hal ini dapat menimbulkan
terganggunya homeostatis tubuh dan dalam jangka panjang dapat menimbulkan berbagai macam
penyakit yang ditandai dengan adanya tanda tanda gangguan pertukaran antara gas hydrogen dan
oksigen dari dalam dan luar tubuh.

Gangguan pertukaran gas adalah kelebihan atau kekurangan oksigen atau pengeluaran
karbondioksida di membran kapiler alveolar (Nanda, 2013). Definisi lain dari gangguan
pertukaran gas adalah gangguan keseimbangan oksigen dan karbondioksida dalam darah arteri
akibat gangguan proses difusi pada paru.Hipoventilasi alveolar adalah berkurangnya volume
udara yang masuk ke alveoli per menit.Gambaran khas hipoventilasi adalah peningkatan PCO 2
(KlikParu, 2014).

Gangguan pertukaran gas yang dialami oleh Ny.Y di sebabkan karena fungsi paru
mengalami kemunduran dengan datangnya usia tua yang menyebabkan elastisitas jaringan paru
dan dinding dada makin berkurang serta di sebabkan karna kadar CO 2 yang semakin meningkat
dan tertahan di dalam paru yang di sebabkan karena rusaknya dinding alveolus. Menurut Price
(2008), dalam usia yang lebih lanjut, kekuatan kontraksi otot pernapasan dapat berkurang
sehingga sulit bernapas. Fungsi paru-paru menentukan konsumsi oksigen seseorang, yakni
jumlah oksigen yang diikat oleh darah dalam paru-paru untuk digunakan tubuh.Konsumsi
oksigen sangat erat hubungannya dengan arus darah ke paru-paru.Berkurangnya fungsi paru-paru
11

juga disebabkan oleh berkurangnya fungsi sistem respirasi seperti fungsi ventilasi paru.
Terpaparnya asap rokok, polusi udara, ataupun adanya riwayat saluran pernafasan merupakan
salah satu factor yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan pembersihan paru yang semakin
lama akan dapat menyebabkan peradangan pada bronkus, akibatnya akan menyebabkan
meningkatnya sekresi lendir dan sel goblet. Dengan meningkatnya sel goblet, menyebabkan
produksi secret berlebih dan menyebabkan batuk yang tidak efektif dan secret pun tidak dapat
dikeluarkan. Dengan demikian akan menyebabkan akumulasi secret di saluran pernafasan secara
berlebihan yang dapat mengobstruksi jalan nafas. Meningkatnya kadar CO2 dalam darah
menyebabkan terjadinya asidosis respiratorik dan dapat menyebabkan keracunan karbondioksida
yang ditandai dengan pusing, mual, muntah, peningkatan detak jantung, dan pernapasan menjadi
lebih cepat. Pada tingkat yang lebih parah dapat mengalami kejang hingga pingsan.

Tindakan keperawatan yang diberikan kepada Ny. Y yaitumengkaji tingkat kesadaran dan
keadaan umum pasien dengan hasil kesadaran klien compos mentis, GCS 15 (E4, V5,
M6).Memberikan posisi nyaman yaitu semi fowler untuk meningkatkan ekspansi paru sehingga
dapat membantu mengurangi sesak dengan hasil klien tidur setengah duduk dan mengatakan
sesak berkurang.Mengkaji adanya sianosis pada central dan perifer di dapatkan hasil CRT < 3
detik. Mengobservasi tanda-tanda vital dengan hasil Tekanan Darah: 140/90 mmHg, Nadi:
100x/menit, RR: 33x/menit, Suhu: 37.8 C, dan saturasi O2 90%. Mengobservasi ritme, dalamnya
pernafasan dan usaha dalam bernafas dengan hasil klien bernafas dangkal, dan terlihat
menggunakan otot bantu nafas. Mengobservasi onset, karakteristik dan durasi batuk dengan hasil
klien batuk berdahak dengan pengeluaran sputum kental berwarna putih. Mengkaji warna kulit,
temperature dan kelembapan didapatkan hasil kulit klien kering, berwarna kemerahan dengan
suhu 37.8 C.Mengkaji suara abnormal pada pernafasan dengan hasil rhoncii +/+. Mengajarkan
batuk efektif untuk mengeluarkan secret dengan hasil klien dapat mengeluarkan dahak dengan
batuk.

Tindakan kolaborasi yang dilakukan untuk menangani masalah ini antara lain :
melakukankolaborasi dalam memonitor hasil AGD, serum, dan tingkat elektrolit urin dengan
hasil pH 7.368 (7.35 - 7.45), PCO2 51.0 mmHg (35 45 mmHg), HCO3 29.5 mmol/L (21 28
mmol/L), PO2 83.8 mmHg (83 100 mmHg), SO2 90.0% (85 99 %), Hemoglobin 13.3 g/dL
(P : 12-16 g/dL), Hematocrit 41.8 % (P : 35 45 %), Eritrosit 4.69 juta/uL (4.76 6.95 juta/uL),
12

Leukosit 12.620/mm3 (4000 10000 /mm3), Trombosit 175.800 /mm3 (150000 450000
/mm3), Gula Darah Sewaktu (GDS) 201 mg/dL (< 140 mg/dL). Memberikan terapi oksigen nasal
kanul 4 liter per menit dengan hasil klien mengatakan bahwa sesak berkurang dan nafas lebih
terbantu.Memberikan nebulasi Bisolvon 2x2mL (inhalasi) pada sore dan pagi hari.Obat ini
termasuk golongan mukolitik. Menurut MIMS (2014), indikasi obat ini diberikan untuk pasien
yang batuk atau pilek.Combivent 2x2.5mL (Inhalation) pada siang dan malam hari.Obat ini
termasuk golongan adrenergik di kombinasi dengan antikolinergik.Indikasi pemberian obat ini
menurut MIMS (2014) dapat diberikan pada kasus bronkospasme yang berhubungan dengan
PPOK pada pasien-pasien yang diterapi dengan Ipratropium Br atau Salbutamol. Pemberian
Salbutamol 2x4mg(IV), obat ini termasuk golongan antiasmatik. Indikasi pemberian obat ini
menurut MIMS (2014) dapat diberikan pada pasien dengan penyakit paru obstruktif kronik.
Hasil evaluasi pada diagnose keperawatan gangguan pertukaran gas berhubungan dengan
gangguan suplai oksigen, kelelahan antara lain, subjektif: klien mengatakan batuk, sesak dan
pengeluaran secretnya sudah berkurang, hanya jika terlalu kelelahan klien merasa sesak.
Objektif: hasil observasi menunjukkan klien mulai tampak segar, tidak lemas, klien sudah mulai
mandiri dalam melakukan kegiatan sehari-hari seperti makan, mandi, BAK/BAB di kamar
mandi. Hasil TTV: TD 130/90 mmHg, Nadi : 96x/menit, RR : 31x/menit, Suhu : 37.2 C, CRT <
2 detik, tidak ada tanda sianosis. Klien mendapat terapi cairan RL 500 ml/ 8 jam, terapi injeksi
salbutamol, dan nebulasi combivent serta bisolvon.Assessment: masalah keperawatan gangguan
pertukaran gas teratasi sebagian. Planning: intervensi dilanjutkan dengan di follow up oleh
perawat ruangan yaitu catat dan monitor: tanda-tanda vital; frekuensi, ritme, dalamnya
pernafasan; onset, karakteristik dan durasi batuk; warna kulit, temperature dan kelembapan;
adanya sianosis pada central dan perifer; suara abnormal pada pernaafasan, hitung intake cairan,
pantau: AGD, serum, dan tingkat elektrolit urin; gejala gagal nafas, ajarkan batuk efektif untuk
mengeluarkan secret, lakukan kolaborasi dalam pemberian terapi oksigen nasal kanul 4 liter per
menit dan pemberian nebulasi bisolvon 2x2mL pada sore dan pagi hari serta combivent
2x2.5mLpada siang dan malam hari, pemberian injeksi salbutamol 2x4mg.
Masalah keperawatan yang kedua adalah resiko kekurangan nutrisi berhubungan
dengan produksi sputum berlebih dan anoreksiayang ditandai dengan klien mengatakan
batuk berdahak sejak 1 bulan terakhir sebelum masuk RS dan masih hingga sekarang.mual dan
muntah di 5 hari pertama masuk RS dan 5 hari terakhir dan disertai muntah kurang lebih 4 kali.
Klien mengalami penurunan berat badan menjadi 48kg dan klien memiliki tinggi badan 160 cm,
13

sehingga dapat dihitung indeks massa tubuh klien (IMT) sebesar 18.75 dengan status nutrisi
masih dalam batas normal namun beresiko.
Potter & Perry (2010) mendefinisikan gangguan nutrisi sebagai suatu keadaan dimana
individu yang tidak mengalami puasa atau yang berisiko mengalami penurunan berat badan yang
berhubungan dengan masukan yang tidak adekuat atau metabolisme nutrien yang tidak adekuat
untuk kebutuhan metabolik.

NANDA (2013) mengatakan perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh adalah
asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.Keadaan dimana individu yang
mengalami kekurangan asupan nutrisi untuk memenuhi kebutuhan metabolik (Wilkinson, 2012).
Individu dikatakan mengalami perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh jika terdapat
keluhan mual dan muntah, nafsu makan menurun, terjadi penurunan berat badan 20% atau lebih
dibawah berat badan ideal yang terjadi secara mendadak atau drastis.

Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh pada Ny.Y dikarenakan keluhan sesak nafas
sejak 1 minggu sebelum masuk RS namun memberat pada 5 hari terakhir dan batuk berdahak
putih kental sejak 1 bulan terakhir dan masih hingga sekarang yang membuat klien tidak selera
untuk makan. Mual dan muntah yang terjadi kurang lebih 4 kali selama 5 hari terakhir.Hubungan
antara malnutrisi dan penyakit paru sudah lama diketahui.Malnutrisi mempunyai pengaruh
negatif terhadap struktur, elastisitas, dan fungsi paru, kekuatan dan ketahanan otot pernafsan,
mekanisme pertahanan imunitas paru, dan pengaturan nafas. Sebaliknya, penyakit paru
(termasuk PPOK) akan meningkatkan kebutuhan energi dan dapat mempengaruhi asupan diet
menjadi menurun (Mueller, 2004). Otot pernafasan pasien PPOK membutuhkan kekuatan yang
lebih besar untuk mengembangkan dada.Meskipun hal ini meningkatkan energi yang dikeluarkan
untuk bernafas, dan sering disebut sebagai faktor utama dalam meningkatkan REE, namun bukan
merupakan satu-satunya penyebab hipermetabolisme.Kenaikan inflamasi sistemik juga disebut
sebagai penyebab hipermetabolisme dengan kenaikan TNF-a (tumor necrosis factor).Selain itu,
efek termogenesis dari obat, termasuk bronkodilator, juga mempunyai peran.Memelihara
keseimbangan energi optimal pada pasien PPOK penting untuk mempertahankan berat badan,
FFM, dan kesehatan tubuh secara umum.Prevalensi IMT <20 kg/m2 terjadi pada 30% pasien
PPOK. Fungsi otot pernafasan sangat dipengaruhi oleh penurunan status gizi dan sangat terkait
dengan berat badan dan massa tubuh bebaslemak (Bergman & Hawk, 2010).
14

Menurut Price (2008), pasien distress pernafasan akut sering anoreksia karena dispnea,
produksi sputum dan obat. Selain itu pasien PPOK mempunyai kebiasaan makan buruk,
meskipun masalah pernafasan membuat status hipermetabolik dengan peningkatan kebutuhan
kalori.Saluran pernafasan yang terhalang mukus kental atau bronkospasma menyebabkan
penurunan ventilasi, akan tetapi perfusi akan tetap sama atau berkurang sedikit. Berkurangnya
permukaan alveoli bagi pertukaran udara menyebabkan perubahan pada pertukaran oksigen dan
karbondioksida.Obstruksi jalan nafas yang diakibatkan oleh semua perubahan patologis yang
meningkatkan resisten jalan nafas dapat merusak kemampuan paru-paru untuk melakukan
pertukaran oksigen atau karbondioksida. Akibatnya kadar oksigen menurun dan kadar
karbondioksida meningkat. Metabolisme menjadi terhambat karena kurangnya pasokan oksigen
ke jaringan tubuh, tubuh melakukan metabolisme anaerob yang mengakibatkan produksi ATP
menurun dan menyebabkan defisit energi. Akibatnya pasien lemah dan energi yang dibutuhkan
untuk memenuhi kebutuhan nutrisi juga menjadi berkurang yang dapat menyebabkan anoreksia
(Brashers, 2007).Menurut Brunner&Suddarth, (2012) salah satu respon tubuh dari
ketidakseimbangan oksigen dan karbondioksida yaitu terjadinya hipoksia jaringan dan suplai
oksigen ke traktus gastrointestinal menurun dan menyebabkan terjadinya anoreksia, penurunan
nafsu makan.
Tindakan keperawatan yang diberikan kepada ny. Y adalahmengkaji status nutrisi klien,
kebiasaan diet, masukan makanan saat ini, catat derajat kesulitan makan, evaluasi berat badan
klien didapatkan hasil TB: 160cm, BB sebelum sakit 52kg, BB saat masuk rumah sakit 48kg, dan
Indeks Masa Tubuh (IMT) adalah 18.75 termasuk dalam kategori normal, klien mengatakan
sebelum sakit, klien jarang makan karena sibuk akan pekerjaan dan seringnya batuk jika makan,
setelah masuk RS klien rutin makan 3 kali sehari, namun porsi makan selalu tidak habis
dikarenakan batuk yang muncul ketika makan. Mengkaji adanya alergi makanan di dapatkan data
bahwa klien tidak memiliki alergi terhadap makanan.Mengauskultasi bunyi usus didapatkan hasil
13x/menit.Mengkaji tugor kulit, mukosa bibir dan mulut di dapatkan hasil turgor kulit klien
kering, mukosa bibir dan mulut kering.menganjurkan klien melakukan perawatan oral hygine,
dan membuang secret di dapatkan hasil mukosa bibir klien kembali lembab, mukosa mulut
kembali bersih dan klien diberikan waddah khusus untuk mengeluarkna sekretnya agar tidak
perlu ke kamar mandi yang akan menyebabkan klien menjadi sesak nafas. Memberitahu klien
untuk menghindari makanan penghasil gas dan minuman karbonat serta makanan yang sangat
15

panas atau sangat dingin dengan hasil klien hanya makan makanan yang disediakan oleh rumah
sakit yang sudah sesuai dengan kebutuhan klien.
Tindakan kolaborasi yang diberikan kepada Ny.Y yaitu mengkonsultasikan dengan ahli gizi
untuk memberikan makanan yang mudah dicerna, nutrisi seimbang sesuai dengan kebutuhan
klien dengan hasil klien diberikan makanan bubur nasi dengan lauk sesuai dengan beberapa
penyakit yang diderita klien (DM, Gastritis, PPOK). Melakukan pemeriksaan laboratorium
seperti glukosa, dan elektrolit dengan hasil GDS 178 mg/dL ( <140 mg/dL), Natrium (Na) 144
mEq/L (135 150 mEq/L), Kalium (K) 3.7 mEq/L (3.6 5.5 mEq/L), Clorida (Cl) 102 mEq/L
(94 111 mEq/L). Memberikan vitamin atau mineral atau elektrolit sesuai indikasi didapatkan
hasil pemberian cairan RL 500 ml/ 8 jam, cairan D5 + NS 500ml/24 jam. Memberikan oksigen
tambahan selama makan sesuai indikasi dengan hasil pemasangan O2 nasal kanul 4lpm.
Hasil evaluasi pada diagnose resiko kekurangan nutrisi berhubungan dengan produksi
sputum berlebih dan anoreksia antara lain, subjektif: klien mengatakan makan tiga kali rutin
tetapi porsinya hanya 5 suap sampai setengah porsi. Objektif: hasil observasi menunjukkan klien
mulai tampak segar, sudah tidak terlalu lemas, Klien mendapat terapi cairan RL 500 ml/ 8 jam,
cairan D5 + NS 500ml/24 jam.Assessment: masalah keperawatan resiko kekurangan nutrisi
teratasi sebagian. Planning: intervensi dilanjutkan dengan di follow up oleh perawat ruangan
yaitu catat dan monitor: tanda-tanda vital; masukan dan pengeluaran klien; pantau pemeriksaan
lab GDS dan elektrolit, lakukan kolaborasi dalam pemberian terapi oksigen nasal kanul 4 liter
per menit, konsultasikan kepada ahli gizi.
Masalah keperawatan yang ketiga yaitu ansietas berhubungan dengan perubahan
peran dan kematian yang ditandai dengan klien mengatakan dirinya cemas dan takut akan
penyakit yang dideritanya, jika ia tidak sembuh dan meninggal, siapa yang akan merawat
anaknya yang sudah bercerai dan cucunya yang masih kecil.
Menurut Nanda (2013), ansietas atau kecemasan adalah perasaan tidak nyaman atau
kekhawatiran yang samar disertai respon autonomy (sumber sering kali tidak spesifik atau tidak
diketahui oleh individu); perasaan takut yang disebabkan oleh antisipasi terhadap bahaya dan
kemampuan individu untuk bertindak menghadapi acaman.
Suliswati (2005) mengatakan bahwa kecemasan sebagai respon emosi tanpa objek yang
spesifik yang secaraobjektif dialami dan dikomunikasikan secara interpersonal. Kecemasan
adalah kebingungan, kehawatiran pada sesuatu yang akan terjadi pada penyebab yang tidak jelas
dan dihubungan dengan perasaan yang tidak menentu dan tidak berdaya. Kecemasan timbul dari
16

perasaan takut terhadap ketidaksetujuan dan penolakan interpersonal.Kecemasan juga


berhubungan dengan perkembangan trauma sperti perpisahan dan kehilangan, yang
menimbulkan kerentanan tertentu.
Kecemasan yang terjadi pada Ny.Y yaitu berubahnya peran dalam keluarga sebagai ibu
dan nenek dikarenakan kondisi klien yang sedang sakit serta dikarenakan oleh ancaman
kehidupan yang terjadi pada klien saat klien merasa sesak dan sulit bernafas yang akan membuat
klien berfikir bahwa klien akan segera meninggal dunia dan tidak dapat mengurus anak serta
cucunya lagi, pernyataan ini sesuai dengan penelitian Tselebis et all (2011), yang menyatakan
bahwa pasien PPOK umumnya mengeluhkan gejala sesak napas yang cenderung bertambah
berat sehingga menimbulkan ansietas dan depresi. Serta klien mengatakan merasa iri dan rendah
diri dengan pasien lain yang selalu dijenguk oleh keluarganya, sedangkan keluarga dari klien
jarang sekali menjenguk bahkan hanya anaknya yang setiap pagi menjenguknya di rumah sakit,
itu membuat kecemasan klien meningkat.
Karena rasa cemas timbul akibat adanya renspons terhadap kondisi stress atau konflik.
Kecemasan disebabkan oleh beberapa faktor predisposisi yaitu teori psikonalisa, teori
interpersonal,teori perilaku, kondisi keluarga, dan keadaan biologis.Teori psikonalisa
menjelaskan bahwa ansietas merupakan konflik elemen kepribadian individu dan super ego
(dorongan insting dan hati nurani). Ansietas mengingatkan ego akan adanya bahaya yang akan
diatasi. Teori interpersonal menjelaskan bahwa ansietas terjadi karena ketakutan penolakan
dalam hubungan interpersonal yang dihubungkan dengan trauma.Teori perilaku menjelaskan
bahwa ansietas timbul sebagai akibat frustasi yang disebabkan oleh sesuatu yang mengganggu
pencapaian tujuan.Ansietas merupakan dorongan yang dipelajari untuk menghindari
nyeri.Kondisi keluarga yang mempengaruh ansietas diantaranya adalah karena faktor ekonomi
dan latar belakang pendidikan.Individu dengan harga diri rendah mengalmai kecemasan berat.
Konsep diri yang terganggu akan menimbulkan ketidakmampuan individu berpikir secara
realitas sehingga akan menibulkan kecemasan (Stuart, 2007).
Tindakan mandiri keperawatan yang dilakukan kepada Ny.Y adalah membina hubungan
saling percaya dengan hasil klien memceritakan apa yang sedang klien rasakan dan cemaskan
tanpa malu dan ragu. Mengkaji dan mendokumentasikan tingkat kecemasan pasien dengan
didapatkan hasil klien masuk kedalam kecemasan ringan. Memberi dorongan kepada pasien
untuk mengungkapkan secara verbal pikiran dan perasaan untuk meminimalisasikan ansietas
dengan hasil klien menceritakan semua yang dirasakan dan dipikirkan.Memberikan informasi
17

faktual menyangkut diagnosis, terapi,dan prognosis dengan hasil klien menerima semua
pengobatan dan pendidikan kesehatan yang diberikan kepada klien berhubungan dengan
penyakit-penyakit yang dialami klien.Mengajarkan teknik relaksasi dengan hasil klien
melakukan tarik nafas dalam apabila merasa sangat cemas dan takut, klien juga berdoa dan
beristighfar bila dengan tarik nafas dalam tidak berhasil.
Tidak ada tindakan kolaborasi yang dilakukan, baik pemberian obat anti kecemasan
maupun mengkonsultasikan ke psikiatri dikarenakan tingkat kecemasan klien yang masih ringan
dan dapat di netralisir dengan distraksi dan pengertian dari keluarga maupun perawat.
Hasil evaluasi pada diagnose ansietas berhubungan dengan perubahan peran dan ancaman
kematian antara lain, subjektif: klien mengatakan kecemasan sedikit berkurang jika klien mulai
beristighfar dan tidur. Objektif: hasil observasi menunjukkan klien mulai tampak tenang dan
dapat menerima kondisinya. Assessment: masalah keperawatan ansietas teratasi sebagian.
Planning: intervensi dilanjutkan dengan di follow up oleh perawat ruangan yaitu kaji dan
dokumentasikan tingkat kecemasan pasien. Beri dorongan kepada pasien untuk mengungkapkan
secara verbal pikiran dan perasaan untuk mengeksternalisasikan ansietas.Berikan informasi
faktual menyangkut diagnosis, terapi,dan prognosis.Ajarkan teknik relaksasi misalnya imajinasi
terbinbing, visualisasi.Kolaborasi pemberian obat untuk menurunkan ansietas, serta
konsultasikan ke bagian psikiatri, jika perlu.
CONCLUSION

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) adalah penyakit yang dapat dicegah dan
diobati, ditandai dengan keterbatasan aliran udara yang terus-menerus yang biasanya
progresif dan berhubungan dengan respons inflamasi kronis pada saluran napas dan paru-
paru terhadap partikel atau gas yang beracun.Penyakit ini ditandai dengan emfisema atau
bronkitis kronis ataupun keduanya.Gejala utamanya adalah gangguan pernapasan seperti
sesak napas yang kadang dapat ditandai dengan adanya mengi saat ekspirasi (Global
Initiative for Chronic Lung Disease, 2015).PPOK merupakan salah satu dari kelompok
penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat
Indonesia.Berdasarkan sudut pandang epidemiologi, laki-laki lebih berisiko terkena
PPOK dibandingkan dengan wanita karena kebiasaan merokok.Tanpa disadari, angka
kematian akibat PPOK semakin meningkat. Adapun catatan laporan Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO) dalam World Health Report pada tahun 2012 menyebutkan,
lima penyakit paru utama merupakan 17,4% dari seluruh kematian di dunia, masing-
masing infeksi paru 7,2%, PPOK 4,8%, tuberkulosis 3,0%, kaker paru/ trakea/ bronkus
2,1%, dan asma 0,3%.

Focus utama asuhan keperawatan pada kasus Ny.Y dengan PPOK yaitu meredakan dan
mengobati sesak yang terjdi pada pasien akibat menumpuknya sekresi sputum. Setelah
memberikan asuhan keperawatan pada pasien selama lima hari, ditemukan beberaoa masalah
keperawatan yang didapat melalui pengkajian pola Gordon dan tiga diantaranya merupakan
masalah keperawatan utama yang diangkat berdasarkan skala prioritas yang mengancam
kehidupan. Tiga maslah tersebut yaitu gangguan pertukaran gas berhubungan dengan
hipoventilasi alveolar; resiko kekurangan nutrisi berhubungan dengan mual, muntah dan
anoreksia; ansietas berhubungan dengan perubahan peran dan ancaman kematian.Berdasarakan
tiga masalah utama diatas, penulis melakukan asuhan keperawatan menyeluruh pada diagnosa
tersebut dengan menyusun beberapa intervensi keperawatan. Hasil dari asuhan keperawatan pada
tiga diagnose utama tersebut yaitu masalah keperawatan masih teratasi sebagian. Intervensi yang
direncanakan akan dilanjutkan oleh perawat yang berada di ruang praktik dan Ny.Y masih
menjalani perawatan di Rumah Sakit hingga penulis mengakhiri masa praktik lapangannya.

18
SELF REFLECTION

Setelah menjalani praktik keperawatan Comprehensive Health Asessment (CHA),


penulis mengetahui bahwa kasus Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) sering terjadi
pada laki-lakiakibat merokok. PPOK menjadi penyakit tidak menular mematikan urutan
empat di dunia dan menjadi masalah kesehatan terbesar di Indonesia. Penulis lebih tahu
sadar akan pentingnya kesehatan dan pemeriksaan sejak dini, untuk mencegah penyakit
menjadi lebih parah, karena kebanyakan masyarakat sering menganggap remeh jika
hanya terserang penyakit batuk.
Manfaat yang penulis dapatkan dari praktik keperawatan komprehensif tersebut
adalah membuat saya lebih memahami proses terjadinya PPOK, penanganan yang tepat
pada klien dengan PPOK terutama pada klien dengan usia lanjut yang tentu saja ada
perbedaan dalam perawatannya. Penulis menyadari bahwa dalam mata ajar ini penulis
menjadi belajar lebih dalam dan komprehensif dalam mengelola sebuah kasus, dimulai
dari awal pengkajian hingga proses menganalisa suatu perjalan penyakit dan menetapkan
masalah keperawatan serta rencana tindakan keperawatannya. Penulis merasa lebih
tertantang untuk lebih focus dalam mengelola sebuah kasus dan lebih memahami
pemberian asuhan keperawatan pada kasus tersebut. Pada proses penugasan ini, penulis
menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dalam memberi asuhan keperawatan dan
pembuatan laporan, dan untuk selanjutnya penulis akan berusaha mengembangkan
kemampuan dalam berkomunikasi dengan pasien terutama pasien lansia, kemudian
penulis berusaha untuk memperbaikan laporan tugas selanjutnya dengan bahasa yang
lebih baik dan menggunakan sumber referensi yang lebih akurat.

19
DAFTAR PUSTAKA

Alimul, A., H. (2006). Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawtan.Jakarta :
Salemba Medika.
American Lung Association (ALA). (2006) Lung disease data: Respiratory distress syndrome
(RDS). Available from http://www.lungusa.org (accessed: 20 maret 2017)

American Lung Association. 2015. Retrieved from http://www.lung.org/lunghealth-and-


diseases/lung-diseaselookup/tuberculosis/?referrer=https://www.google.co.id/

Andayani, N., Rizki, M., & Lubis, R. (2014).Hubungan derajat sesak napas penyakit paru
obstruktif kronik dengan symptom ansietas.(Online).
(www.jurnal.unsyiah.ac.id/JKS/article/download/2737/2585, diakses tanggal 22 Mei 2017)

Anonim. 2014. MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi, Edisi 9, 2013/2014. Jakarta: Penerbit Asli
(MIMS Pharmacy Guide).

Anonim. 2014. Tekanan Udara, Volume dan Kapasitas Paru. Diakses: 02/05/2017.
http://prodiipa.wordpress.comkelas-viiirahasia-dibalikpernapasankonsep-tekanan-dan-
hubungannya-dengan-pernapasan

Badan penelitian dan pengembangan kesehatan. Laporan Riskesdas 2007. (2013). Jakarta :
Badan Penelitian dan pengembangan kesehatan kementrian

Badan penelitian dan pengembangan kesehatan.Pokok-pokok hasil Riseksedas Indoneisa tahun


2013. (2014) Jakarta : lembaga penerbit Balitbangkes

Bergman EA and Hawk SN., Diseases of the Respiratory System, in: Nutrition Therapy and
Patophysiology, 2nd ed., Nelms M, Sucher KP, Lacey K, Roth SL. Wadsworth, Cengage
Learning, USA, 2010:657-663

Brashers, Valentina L., 2007. Aplikasi Klinis Patofisiologi : Pemeriksaan & Manajemen. Edisi
Kedua. Jakarta: EGC.

Brunner & Suddarth. (2012). Buku Ajar : Keperawatan Medikal Bedah Vol 2. Jakarta: EGC.
COPD Health Center.History and Physical Exam for COPD. May 2010 [cited 15 April 2017].
Available from :http://www.webmd.com

20
21

COPD International.COPD Statistics [Internet]. c2004 [updated July 2015; cited 15 April 2017].
Available from :http://www.copd-international.com

DepKes RI. (2011). Profil KesehatanIndonesia 2008.Jakarta : DepKes RI.


Doengus, Marilynn. (2012). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk perencanaan dan
pendokumentasian perawatan pasien.Ed. 3.Jakarta : EGC

DOI.(2002). Data Obat Indonesia.Grafidian Medipress : Jakarta


Esther, Chang. (2010). Patofisiologi Aplikasi pada Praktek Keperawatan.Jakarta : EGC

Fasitasari, M. (2013).Terapi gizi pada lanjut usia dengan penyakit paru obstruktif kronik
(PPOK). (Online).
(www.sainsmedika.fkunissula.ac.id/index.php/sainsmedika/article/view/162, diakses tanggal
22 Mei 2017)

Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD). Global Strategy for The
Diagnosis, Management, and Prevention of Chronic Obstructive Pulmonary Disease. 2010
[updated February 2014, cited 15 April 2017]. Available from :www.goldcopd.com

Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease. 2015. Global Strategy for The
Diagnosis, Management, and Prevention of Chronic Obstructive Pulmonary Disease.
Barcelona: Medical Communications Resources. Available from: http://www.goldcopd.org
Hardjasaputra P dkk (2008).Data Obat di Indonesia. Edisi 10.Jakarta : Grafidian Medipress

ISO. (2014). ISO : Infromasi Spesialite Obat Indonesia. Jakarta : PT. ISFI

Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1022/MENKES/SK/XI/2008 tentang Pedoman


Pengendalian PPOK.Hal 4 6.

Kozier. Erb, Berman. Snyder. (2010). Buku Ajar Fondamental Keperawatan : Konsep, Proses &
Praktik, Volume : 1, Edisi : 7, EGC : Jakarta

Mansjoer, Arif., dkk (2008). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius

MIMS.2014. Bisolvon Dosage and Drug Information.(online).


(http://www.mims.com/indonesia/drug/info/bisolvon, diakses 08 mei 2017)
22

MIMS.2014. Combivent Dosage and Drug Information.(online).


(http://www.mims.com/indonesia/drug/info/combivent, diakses 08 mei 2017)

MIMS. 2014. MIMS Petunjuk Konsultasi. BIP : Jakarta

MIMS. 2014. Salbutamol Dosage and Drug Information. (online).


(http://www.mims.com/indonesia/drug/info/salbutamol, diakses 08 mei 2017)

Mubarak, I. W., & cahayatin, S. (2008).Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia : Teori dan
Aplikasi dalam Praktik. Jakarta : EGC.
Mueller DH., Medical Nutrition Therapy for Pulmonary Disease, in: Krauses Food, Nutrition,
and Diet Therapy, 11th ed., Mahan LK and Escott-Stump S. Saunders Elsevier, USA, 2004:
945 948.

Nanda NIC-NOC. (2013).Diagnosis Keperawatan 2012-2013.EGC : Jakarta.

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2011. PPOK (Penyakit Paru Obstruksi Kronik), Pedoman
Praktis Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. Available from:
http://www.klikpdpi.com/konsensus/konsensus-ppok/ppok.pdf
Ping, N, H., Lim, C., dkk (2015). MIMS : Petunjuk Konsultasi.Ed. 8.Jakarta :EGC
Potter & Perry. (2010).Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses dan Praktek.Edisi
ke-4. EGC : Jakarta
Price SA, Wilson LM. 2008. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta.
Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Ritianingsih, N., & Nurhayati, F. (2017). Lama sakit berhubungan dengan kualitas hidup pasien
penyakit paru obstruksi kronis (PPOK).(Online). (www.ejurnal.stikes-
bth.ac.id/index.php/P3M/article/view/199/186, diakses tanggal 23 Mei 2017)

Sherwood, L., 2011. Sistem Pernapasan. Fisiologi Manusia dari sel ke sistem edisi 2. Jakarta:
EGC.
Smeltzer, S. C., & Bare B. G. ( 2009). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah , Ed 8, Vol 1.
Jakarta: EGC.
Smeltzer, S.C. dan Bare, B.G. (2008).Brunner And Sudarths textbook Of medical-surgical
nursing, terj. Agung.Jakarta : EGC.
23

Stuart, G., W. (2007). Buku Saku Keperawatan Jiwa.Jakarta : EGC.


Subagyo Ahmad. 2014. BRONKIEKTASIS (BE). Diakses: 01/06/2014.
http://www.klikparu.com201301bronkiektasis-be.html

Sulsiwati, dkk .(2005). Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta ; EGC
Syahputra, H., Jumaini.,& Novayelinda, R. (2013). Hubungan tingkat nyeri dengan tingkat
kecemasan pada pasien fraktur tulang panjang di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru.(Online).
(http://repository.unri.ac.id, diakses 10 April 2017)
Tselebis A, Bratis D, Kosmas E, Harikiopoulou M, Theodorakopoulou E, Dumitru S, et al.
Psychological symptom patterns and vital exhaustion in outpatients with chronic obstructive
pulmonary disease. Annals of General Psychiatry.2011 Dec; 10 (3).

WHO, (2009).The World Health Organization Quality of


Lifehttp://www.who.int/mental_health/publications/whoqol/en/ .Diaksestanggal 25 Agustus
2015. (WHO, http://www.who.int/topics/chronic_o bstructive_pulmonary_disease/en/2016).
(http://www.copd-international.com/, 2016)
(http://www.who.int/respiratory/copd/burden/en/2016).

WHO, 2012, Chronic obstructive pulmonary disease


(COPD).http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs315/en/index.html

WHO, 2012, The Top Ten Causes of Death 2002. http://www.who.int/whr (Diakses tanggal
12 Mei 2017).

Wilkinson, J.M. & Ahern, N.R. (2012). Buku Saku : Diagnosis Keperawatan, Edisi 9, EGC :
Jakarta

World Health Organization (WHO).Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) [Internet].


2012 [updated Februari 2016; cited 15 April 2017]. Available
from :http://www.who.int/respiratory/copd/en/

World Health Organization.(2014). Chronic Obstruktive Pulmonary Disease (COPD). On-line


(http:///www.who.int/topics/COPD_accident/en, diakses tanggal 30 Maret 2017)