Anda di halaman 1dari 15

Nama : Arif Budiman

Nim : 15045001
Pembelajaran Colaborative
A. Hakikat pembelajaran Kolaborative
1. Pengertian
Model pembelajaran kolaboratif merupakan salah satu model Student-
Centered Learning (SLC). Pada model ini, peserta belajar dituntut untuk berperan
secara aktif dalam bentuk belajar bersama atau berkelompok.
Gokhale mendefinisikan bahwa collaborative learning mengacu pada
metode pengajaran di mana siswa dalam satu kelompok yang bervariasi tingkat
kecakapannya bekerjasama dalam kelompok kecil yang mengarah pada tujuan
bersama. Pengertian kolaborasi sendiri yaitu:
a) Keohane
kolaborasi adalah bekerja bersama dengan yang lain, kerja sama, bekerja
dalam bagian satu tim, dan bercampur dalam satu kelompok menuju
keberhasilan bersama.
b) Patel
kolaborasi adalah suatu proses saling ketergantungan fungsional dalam
mencoba untuk keterampilan koordinasi, to coordinate skills, tools, and rewards.
c) Duin, Jorn, DeBower, dan Johnson
Collaboration sebagai suatu proses di mana dua orang atau lebih
merencanakan, mengimplementasikan, dan mengevaluasi kegiatan bersama.
Dari pengertian kolaborasi yang diungkapkan oleh berbagai ahli tersebut,
dapat disimpulkan bahwa pengertian pembelajaran kolaborasi adalah suatu strategi
pembelajaran di mana para siswa dengan variasi yang bertingkat bekerjasama dalam
kelompok kecil ke arah satu tujuan.

2. Jenis-jenis
Ada banyak macam pembelajaran kolaboratif yang pernah dikembangkan
oleh para ahli maupun praktisi pendidikan, teristimewa oleh para ahli Student Team
Learning pada John Hopkins University. Tetapi hanya sekitar sepuluh macam yang
mendapatkan perhatian secara luas, yaitu :
1. Learning Together
Dalam metode ini kelompok-kelompok sekelas beranggotakan siswa-
siswa yang beragam kemampuannya. Tiap kelompok bekerja sama untuk
menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Satu kelompok hanya menerima
dan mengerjakan satu set lembar tugas. Penilaian didasarkan pada hasil kerja
kelompok.
2. Teams-Games-Tournament (TGT)
Setelah belajar bersama kelompoknya sendiri, para anggota suatu
kelompok akan berlomba dengan anggota kelompok lain sesuai dengan tingkat
kemampuan masing-masing. Penilaian didasarkan pada jumlah nilai yang
diperoleh kelompok.
3. Group Investigation (GI)
Semua anggota kelompok dituntut untuk merencanakan suatu penelitian
beserta perencanaan pemecahan masalah yang dihadapi. Kelompok menentukan
apa saja yang akan dikerjakan dan siapa saja yang akan melaksanakannya berikut
bagaimana perencanaan penyajiannya di depan forum kelas. Penilaian didasarkan
pada proses dan hasil kerja kelompok.
4. Academic-Constructive Controversy (AC)
Setiap anggota kelompok dituntut kemampuannya untuk berada dalam
situasi konflik intelektual yang dikembangkan berdasarkan hasil belajar masing-
masing, baik bersama anggota sekelompok maupun dengan anggota kelompok
lain. Kegiatan pembelajaran ini mengutamakan pencapaian dan pengembangan
kualitas pemecahan masalah, pemikiran kritis, pertimbangan, hubungan
antarpribadi, kesehatan psikis dan keselarasan. Penilaian didasarkan pada
kemampuan setiap anggota maupun kelompok mempertahankan posisi yang
dipilihnya.
5. Jigsaw Procedure (JP)
Dalam bentuk pembelajaran ini, anggota suatu kelompok diberi tugas
yang berbeda-beda tentang suatu pokok bahasan. Agar setiap anggota dapat
memahami keseluruhan pokok bahasan, tes diberikan dengan materi yang
menyeluruh. Penilaian didasarkan pada rata-rata skor tes kelompok.
6. Student Team Achievement Divisions (STAD)
Para siswa dalam suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil.
Anggota-anggota dalam setiap kelompok saling belajar dan membelajarkan
sesamanya. Fokusnya adalah keberhasilan seorang akan berpengaruh terhadap
keberhasilan kelompok dan demikian pula keberhasilan kelompok akan
berpengaruh terhadap keberhasilan individu siswa. Penilaian didasarkan pada
pencapaian hasil belajar individual maupun kelompok.
7. Complex Instruction (CI)
Metode pembelajaran ini menekankan pelaksanaan suatu proyek yang
berorientasi pada penemuan, khususnya dalam bidang sains, matematika dan
pengetahuan sosial. Fokusnya adalah menumbuhkembangkan ketertarikan semua
anggota kelompok terhadap pokok bahasan. Metode ini umumnya digunakan
dalam pembelajaran yang bersifat bilingual (menggunakan dua bahasa) dan di
antara para siswa yang sangat heterogen. Penilaian didasarkan pada proses dan
hasil kerja kelompok.
8. Team Accelerated Instruction (TAI)
Bentuk pembelajaran ini merupakan kombinasi antara pembelajaran
kolaboratif dengan pembelajaran individual. Secara bertahap, setiap anggota
kelompok diberi soal-soal yang harus mereka kerjakan sendiri terlebih dulu.
Setelah itu dilaksanakan penilaian bersama-sama dalam kelompok. Jika soal tahap
pertama telah diselesaikan dengan benar, setiap siswa mengerjakan soal-soal
tahap berikutnya. Namun jika seorang siswa belum dapat menyelesaikan soal
tahap pertama dengan benar, ia harus menyelesaikan soal lain pada tahap yang
sama. Setiap tahapan soal disusun berdasarkan tingkat kesukaran soal. Penilaian
didasarkan pada hasil belajar individual maupun kelompok.

3. Ruang lingkup
Metode pembelajaran ini memiliki ruang lingkup untuk IPA, IPS, Bahasa
karena ini di perlukan dalam proses pembelajaran secara aktif.

4. Tujuan
Tujuan dari pembelajaran kolaboratif adalah sebagai berikut :
a) Memaksimalkan proses kerja sama yang berlangsung secara alamiah di antara
para siswa.
b) Menciptakan lingkungan pembelajaran yang berpusat pada siswa, kontekstual,
terintegrasi, dan bersuasana kerja sama.
c) Menghargai pentingnya keaslian, kontribusi, dan pengalaman siswa dalam
kaitannya dengan bahan pelajaran dan proses belajar.
d) Memberi kesempatan kepada siswa menjadi partisipan aktif dalam proses
belajar.
e) Mengembangkan berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah.
f) Mendorong eksplorasi bahan pelajaran yang melibatkan bermacam-macam
sudut pandang.
g) Menghargai pentingnya konteks sosial bagi proses belajar.
h) Menumbuhkan hubungan yang saling mendukung dan saling menghargai di
antara para siswa, dan di antara siswa dan guru.
i) Membangun semangat belajar sepanjang hayat.
5. Fungsi
Fungsi dari pembelajaran kolaboratif adalah sebagai berikut
a) Mendorong siswa untuk menjadi pemelajar yang mandiri, percaya diri, dan
bertanggung jawab.
b) Meningkatkan kemampuan berfikir kritis.
c) Meningkatkan ketrampilan menyelesaikan masalah.
d) Mahasiswa memperoleh pemahaman yang mendalam
6. Manfaat
tujuan dari pembelajaran kolaboratif adalah sebagai berikut :
a) Memaksimalkan proses kerja sama yang berlangsung secara alamiah di antara
para siswa.
b) Menciptakan lingkungan pembelajaran yang berpusat pada siswa, kontekstual,
terintegrasi, dan bersuasana kerja sama.
c) Menghargai pentingnya keaslian, kontribusi, dan pengalaman siswa dalam
kaitannya dengan bahan pelajaran dan proses belajar.
d) Memberi kesempatan kepada siswa menjadi partisipan aktif dalam proses
belajar.
e) Mengembangkan berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah.
f) Mendorong eksplorasi bahan pelajaran yang melibatkan bermacam-macam sudut
pandang.
g) Menghargai pentingnya konteks sosial bagi proses belajar.
h) Menumbuhkan hubungan yang saling mendukung dan saling menghargai di
antara para siswa, dan di antara siswa dan guru.
i) Membangun semangat belajar sepanjang hayat.
B. Sejarah Pembaelajaran kolaboratif
Secara umum colaborative learning adalah metode pembelajaran yang
mengutamakan kerja sama yang saling menguntungkan, jauh segala unsur perbedaan
peserta didik baik agama, suku, ras yang dapat menimbulkan konfik, model pembelajaran
ini sangat cocok untuk memberikan keleluasaan bagi bagi siswa dalam mengemukakan
ide masing-masing.
Model pembalajaran concept sentence adalah merupakan salah satu variasi dari
Colaborative Learning . Banyak kesimpangsiuran mengenai asal usul Colaborative
Learning ini. Menurut Arends (2007 : 7),
Model pembelajaran colaborative learning tidak berevolusi dari sebuah teori
individual atau dari sebuah pendekatan tunggal tentang belajar. Ia berakar pada
masa Yunani awal, tetapi perkembangan kontemporernya dapat dilacak ke hasil
karya para psikolog pendidikan dan para teoretisi pedagogis di awal abad ke dua
puluh, mau pun teori-teori pemrosesan informasi yang terkait dengan belajar dan
teoretisi-teoretisi kognitif dan perkembangan, seperti Piaget dan Vygotsky.

Model colaborative learning ini dipopulerkan sekitar tahun 1950-an adalah


merupakan salah satu solusi jalan keluar digunakan di Amerika Serikat pada tahun 1954
dimana pada masa itu terjadi kontak fisik antar ras kulit putih, kulit hitam dan hispanik
(latin seperti Spanyol, Portugis). Konsep pembelajaran ini pada masa itu adalah
pembelajaran yang berazaskan kerja sama antar rasial untuk menciptakan kondisi
pembelajaran yang saling menguntungkan antara ras dan suku bangsa yang berbeda di
Amerika.
Pencetus ide colaborative learning adalah Jonh Dewey pada tahun 1916 dalam
bukunya yang berjudul Democracy and Education kemudian pada kurun waktu 1954-1960
Herbert Thelen mengembangkan prosedur-prosedur yang lebih teliti untuk membantu
siswa bekerja dalam kelompok. Eggen dan Kauchack (dalam Trianto 2007 : 42)
menyatakan bahwa pembelajaran kolaboratif merupakan sebuah kelompok strategi
pengajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan
bersama.

C. Rumpun model pembelajaran kolaboratif


Rumpun model pemprosesan informasi
Rumpun ini menekankan cara meningkatkan pembawaan seseorang memahami
dunia dengan memperoleh dan mengorganisasikan data, memahami masalah dan
mencari pemecahannya, serta mengembangkan konsep-konsep dan bahasa untuk
menyampaikannya.
Dalam rumpun model ini terdapat 8 sub model
1. Model induktif
Pebelajar belajar untuk mendapatkan dan mengorganisasikan informasi,
serta menciptakan dan menguji hipotesisi yang mendeskripsikan hubungan
diantara serangkaian data.

2. Pencapaian konsep
3. Inkuiri ilmiah
4. Latihan inkuiri
5. Mnemonic (strategi mengingat dan mengasimilasi informasi)
6. Sinektik (workshop) memiliki dampak pengiring untuk menampilkan kerja
kolaboratif dan belajar kelompok
7. Pengorganisasi awal (advance organizer)
8. Penyesuaian dengan pebelajar

D. Teori belajar yang mendasari


Menurut Piaget dan Vigotsky, strategi pembelajaran kolaboratif didukung oleh
adanya tiga teori, yaitu :
1. Teori Kognitif
Teori ini berkaitan dengan terjadinya pertukaran konsep antar anggota
kelompok pada pembelajaran kolaboratif sehingga dalam suatu kelompok akan
terjadi proses transformasi ilmu pengetahuan pada setiap anggota.
2. Teori Konstruktivisme Sosial
Pada teori ini terlihat adanya interaksi sosial antar anggota yang akan
membantu perkembangan individu dan meningkatkan sikap saling menghormati
pendapat semua anggota kelompok.
3. Teori Motivasi
Teori ini teraplikasi dalam struktur pembelajaran kolaboratif karena
pembelajaran tersebut akan memberikan lingkungan yang kondusif bagi siswa untuk
belajar, menambah keberanian anggota untuk memberi pendapat, dan menciptakan
situasi saling memerlukan pada seluruh anggota dalam kelompok.
E. Sintak pembelajaran kolaboratif

Pembelajaran Aktif/ Aktive Learning


A. Hakikat
1. Pengertian
Pembelajaran aktif (active learning) adalah suatu pembelajaran yang mengajak
peserta didik untuk belajar secara aktif. Ketika peserta didik belajar dengan aktif,
berarti mereka yang mendominasi aktifitas pembelajaran. Mereka secara aktif
menggunakan otak mereka baik untuk menemukan ide pokok dari materi pelajaran,
memecahkan persoalan atau mengaplikasikan apa yang baru mereka pelajari ke dalam
suatu persoalan yang ada dalam kehidupan nyata (Hisyam Zaini, 2008: xvi).
Belajar aktif meliputi berbagai cara untuk membuat siswa aktif sejak awal
melakukan aktivitas-aktivitas yang membangun kerja kelompok dan dalam waktu yang
singkat membuat mereka berpikir tentang materi pelajaran (Silberman,1996:6).
Pembelajaran aktif merupakan suatu bentuk pembelajaran yang memungkinkan
siswa berperan secara aktif dalam proses pembelajaran baik dalam bentuk interaksi
sesama siswa maupun siswa dengan pengajar pada proses pembelajaran aktif tersebut
(Machmudah, 2008).
Jadi pembelajaran aktif adalah suatu model pembelajaran yang membuat siswa
menjadi aktif, siswa diajak menyelesaikan masalah dengan menggunakan pengetahuan
yang mereka miliki dan menerapkan apa yang telah mereka pelajari.

2. Jenis-jenis
a) Critical Insident (Mengkritisi Pengalaman Penting)
Strategi ini digunakan oleh pendidik dengan maksud mengajak peserta didik
untuk mengingat pengalaman yang pernah dijumpai atau dialami sendiri kemudian
dikaitkan dengan materi bahasan.
b) Reading Guide (Penuntun Bacaan)
Strategi ini digunakan pendidik dengan maksud mengajak peserta didik untuk
mempelajari sesuatu dengan cara membaca suatu teks bacaan (buku, majalah, koran
dan lain-lain) sesuai dengan materi bahasan.
c) Poster Comment (Mengomentari Gambar)
Strategi ini digunakan pendidik dengan maksud mengajak peserta didik untuk
memunculkan ide apa yang terkandung dalam gambar, yang mana gambar tersebut
berkaitan dengan pencapaian suatu kompetensi dalam pembelajaran.
d) Index Card Matc (Mencari Pasangan Jawaban)
Suatu strategi yang digunakan pendidik dengan maksud mengajak peserta didik
untuk menemukan jawaban yang cocok dengan pertanyaan yang disiapkan.
e) Card Sort (Mensortir Kartu)
Yaitu strategi yang digunakan oleh pendidik dengan maksud mengajak peserta
didik untuk menemukan konsep dan fakta melalui klasifikasi materi yang dibahas
dalam pembelajaran.
f) The Power of Two (Kekuatan Berpasangan)
Strategi ini digunakan guru dengan maksud mengajak pesreta didik untuk belajar
berpasangan, karena hasil belajar berpasangan memiliki kekuatan yang lebih
dibanding sendirian.
g) Snowballing (1, 2, 4, 8,dst)
Yaitu suatu strategi yang digunakan oleh pendidik dengan maksud mengajak
peserta didik untuk merumuskan sebuah jawaban dari pertanyaan guru dengan cara
sendirian (1 orang) kemudian hasilnya dipadukan dengan teman lain dalam
kelompok kecil (2 orang) sampai disepakati dalam kelompok besar.
h) Concept Mapping (Peta Konsep)
Suatu cara yang digunakan oleh pendidik dengan maksud meminta peserta didik
untuk membuat konsep atau kata-kata kunci dari suatu pokok persoalan sebagai
rumusan inti pelajaran.
i) JiQSaw
Yaitu strategi kelompok yang terstruktur didasarkan pada kerjasama dan
tanggung jawab. Strategi ini menjamin setiap peserta didik memikul tanggung jawab
yang signifikan dalam kelompok.
j) Brainstorming (Curah Pendapat) dan Elisitasi (Seleksi Pendapat)
Strategi ini digunakan dengan cara meminta peserta didik untuk mencurahkan
pendapatnya atau memunculkan ide gagasan secara lisan dan di Eliminasi atau
dipilah jawaban yang dianggap benar dan cocok.
k) Information Search (Mencari Informasi)
Yaitu suatu cara yang digunakan oleh guru dengan maksud meminta peserta didik
untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan baik oleh pendidik maupun
peserta didik sendiri, kemudian mencari informasi jawabannya lewat membaca untuk
menemukan informasi yang akurat.
l) Active Debate (Debat Aktif)
Strategi ini dapat mendorong pemikiran dan perenungan terutama kalau peserta
didik diharapkan mempertahankan pendapat yang bertentangan dengan
keyakinannya sendiri.
m) Everyone is Teacher Here (Semua adalah Pendidik/ Guru)
Strategi ini digunakan oleh pendidik dengan maksud meminta peserta didik untuk
semuanya berperan menjadi narasumber terhadap sesama temannya di kelas belajar.
3. Ruang lingkup
Metode pembelajaran ini memiliki ruang lingkup untuk IPA, IPS, Bahasa karena
ini di perlukan dalam proses pembelajaran secara aktif.
4. Tujuan
Dalam penerapan metode pembelajaran aktif ini siswa diharapkan mampu
mengembangkan kemampuan yang dimiliki untuk memecahkan berbagai masalah
yang ada di kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini dikembangkan dengan tujuan agar
pembelajaran berjalan produktif dan bermakna.

5. Fungsi
strategi pembentukan tim dalam stategi ini tentunya siswa menjadi lebih kenal
antara satu sama lain dan dituntut untuk lebih kompak dalam tim tersebut untuk
membahas materi yang telah diberikan oleh guru atau menyelesaikan suatu
permasalahan,
strategi penilaian secara tepat untuk menjadikan anak semakin berkompetensi
di dalam kelas guru harus memberikan nilai yang tepat dan adil kepada siswa yang
aktif dengan siswa pasif,
strategi melibatkan siswa untuk menjadikan siswa berpartisipasi aktif dalam
mengamati menilai sendiri, menilai sesama teman ataupun dalam mempresentasikan
materi antar kelompok, dalam pembelajaran aktif ini sangat membantu siswa dalam
belajar agar lebih ingat dalam memori jangka panjang.

6. Manfaat
pembelajaran aktif sangat membantu guru untuk menjadikan anak didik lebih
memahami secara komprehensif (menyeluruh) tidak hanya segi normatif saja akan
tetapi fakta serta manisfestasinya bisa langsung dilihat dan diperhatikan dalam
pengamatan bukan hanya sebagai pengetahuan (Kognitif) saja akan tetapi terlihat dari
sikap (Afektif) dan keterampilan (Psikomotorik) siswa
B. Sejarah Pembelajaran Aktif/ Aktive Learning
Pembelajaran aktif (active learning) adalah suatu proses pembelajaran dengan
maksud untuk memberdayakan peserta didik agar belajar dengan menggunakan berbagai
cara/ strategi secara aktif. Pembelajaran aktif (active learning) dimaksudkan untuk
mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga
semua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan
karakteristik pribadi yang mereka miliki. Di samping itu pembelajaran aktif (active
learning) juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa/ anak didik agar tetap tertuju
pada proses pembelajaran.
Penelitian Pollio (1984) menunjukkan bahwa siswa dalam ruang kelas hanya
memperhatikan pelajaran sekitar 40% dari waktu pembelajaran yang tersedia.
McKeachie (1986) menyebutkan bahwa dalam sepuluh menit pertama perthatian
siswa dapat mencapai 70%, dan berkurang sampai menjadi 20% pada waktu 20 menit
terakhir. Kondisi tersebut di atas merupakan kondisi umum yang sering terjadi di
lingkungan sekolah. Hal ini menyebabkan seringnya terjadi kegagalan dalam dunia
pendidikan kita, terutama disebabkan anak didik di ruang kelas lebih banyak
menggunakan indera pendengarannya dibandingkan visual, sehingga apa yang dipelajari
di kelas tersebut cenderung untuk dilupakan.
Sebagaimana yang diungkapkan Konfucius:
1. Apa yang saya dengar, saya lupa
2. Apa yang saya lihat, saya ingat
3. Apa yang saya lakukan, saya paham

Ketiga pernyataan ini menekankan pada pentingnya belajar aktif agar apa yang
dipelajari di bangku sekolah tidak menjadi suatu hal yang sia-sia. Ungkapan di atas
sekaligus menjawab permasalahan yang sering dihadapi dalam proses pembelajaran,
yaitu tidak tuntasnya penguasaan anak didik terhadap materi pembelajaran.
Mel Silberman (2001) memodifikasi dan memperluas pernyataan Confucius di
atas menjadi apa yang disebutnya dengan belajar aktif (active learning), yaitu :
1. Apa yang saya dengar, saya lupa;
2. Apa yang saya dengar dan lihat, saya ingat sedikit;
3. Apa yang saya dengar, lihat dan tanyakan atau diskusikan dengan beberapa teman
lain,
4. saya mulai paham.
5. Apa yang saya dengar, lihat, diskusikan dan lakukan, saya memperoleh
pengetahuan dan
6. Keterampilan
7. Apa yang saya ajarkan pada orang lain, saya kuasai.

Dari beberapa penelitian dan pendapat di atas maka dibentuklah suatu metode
pembelajaran yang di sebiut dengan pembelajaran aktif yang memungkinkan siswa
memiliki ingatan jangka penjang terhadap hal yang dipelajarinya

C. Rumpun Ilmu Pembelajaran Aktif/ Aktive Learning


Rumpun sosial
Rumpun model sosial dirancang untuk menilai keberhasilan dan tujuan
akademik. Termasuk studi sosial kebijakan publik dan memecahkan masalah. Rumpun
ini terbagi menjadi 6 yaitu:
a. Partner dalam belajar (kooperatif)
b. Investigasi kelompok (menekankan pada rencana pengaturan kelas umum atau
konvensional)
c. Bermain peran (siswa diajak memahami, berperan, dan memecahkan masalah
sosial yang efektif)
d. Inkuiri yurisprudensi (memahami dan mengidentifikasi masalah kebijakan
publik)
e. Kepribadian dan gaya belajar
f. Inkuiri sosial (mengajarkan informasi, konsep, cara pikir, dan studi tentang nilai
sosial dengan memberi tugas yang menggabungkan kognitif dan social.

Rumpun model Personal


Rumpun ini dimulai dari pandangan tentang harga diri individu
a. Pengajaran nondirektif
Model ini digunakan dengan beberapa cara :
1. Digunakan sebagai model dasar untuk melaksanakan seluruh model
pendidikan
2. Dikombinasikan dengan model lain untuk meyakinkan bahwa kontak
dilakukan dengan pebelajar
3. Digunakan ketika pebelajar merencanakan proyek belajar mandiri maupun
kooperatif
4. Digunakan sebagai periodik ketika memberikan konseling kepada pebelajar
b. Peningkatan harga diri

D. Teori Belajar Yang Mendasari Pembelajaran Aktif/ Aktive Learning

Teori Belajar Konstruktivisme

Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan dapat


diartikan Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang
berbudaya modern.

Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual


yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya
diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong.

Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk
diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna
melalui pengalaman nyata.

Dengan teori konstruktivisme siswa dapat berfikir untuk menyelesaikan masalah,


mencari idea dan membuat keputusan. Siswa akan lebih paham karena mereka terlibat
langsung dalam mebina pengetahuan baru, mereka akan lebih pahamdan mampu
mengapliklasikannya dalam semua situasi. Selian itu siswa terlibat secara langsung
dengan aktif, mereka akan ingat lebih lama semua konsep.

E. Sintak Pembelajaran Aktif/ Aktive Learning


Pembelajaran aktif (Active Learning) dimaksudkan untuk mengoptimalkan
penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga semua anak didik dapat
mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka
miliki. Disamping itu, pembelajaran aktif (Active Learning) juga dimaksudkan untuk
menjaga perhatian siswa agar tetap tertuju pada proses pembelajaran. Menurut Machmudah
(2008), berikut adalah sintak atau langkah-langkah model pembelajaran aktif (Active
Learning) :
1. Fase 1: Menyampaikan tujuan dan motivasi siswa
Dalam fase ini guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada
pelajaran tersebut dan memotivasi siswa. Tujuan belajar yang disampaikan adalah untuk
memahami sel darah pada sistem peredaran darah.
2. Fase 2: Menyajikan informasi
Dalam fase ini guru menyampaikan penjelasan umum tentang peredaran darah kepada
siswa.
3. Fase 3: Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok
Dalam fase ini guru membagikan kartu berisi informasi tentang sel darah sebagai
penentuan kelompok siswa.
4. Fase 4: Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Dalam fase ini guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka
mengerjakan tugas mereka.
5. Fase 5: Evaluasi
Dalam fase ini guru meminta siswa mempresentasikan hasil diskusi, guru mengevaluasi
hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari dengan memberikan soal dan
penjelasan.
6. Fase 6: Memberikan penghargaan
Dalam fase ini guru memberikan penghargaan bagi kelompok yang terbaik sesuai
dengan kriteria guru.
Chandler, P., & Sweller, J. (1992). The split-attention effect as a factor in the design of .
instruction. British Journal of Educational Psychology, 62(2), 233-246.

Paas, F, Renkl, A. & Sweller, J (2004). Cognitive Load Theory: Instructional Implications
of . the Interaction betweem Information Structures and Cognitive . .
Architecture. Instructional Science, 32(1 2), 1 8.

Sweller, J. (2004). Instructional Design Consequences of an Analogy between Evolution


by . Natural Selection and Human Cognitive Architecture. Instructional Science, 32(1-
2), . 9-31.

http://www.google.co.id/search?sourceid=navclient&aq=7&oq=teori+belajar&ie=UTF-
8&rlz=1T4ADSA_enID348ID348&q=teori+belajar+behaviorisme

http://blogs.unpad.ac.id/aderusliana/?p=4 9 Oktober 2009

www.academia.edu