Anda di halaman 1dari 15

SATUAN ACARA PENYULUHAN

KONTRAKSI DAN PECAH KETUBAN

Disusun Oleh :

1. Agra Nadya
2. Andri P. Messakh
3. Belina Rahmat
4. Ernita Dwi Astut
5. Eva Latfah
6. Muhammad Arif Sumarna
7. Trie Utari Adinningsih

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BINAWAN


Jl. Kalibata Raya No. 25-30 Jakarta 13630 Indonesia, Tel (62-21) 80880882, Fax
(62-21) 808 80883

www.binawan-ihs.ac.id

SATUAN ACARA PENYULUHAN


POKOK BAHASAN : Ibu Hamil dengan Kontraksi dan Pecah Ketuban

HARI / TANGGAL : Senin 26 Oktober 2015

PUKUL : 09.00 WIB

WAKTU : 35 Menit

SASARAN : Ibu Hamil

TEMPAT : Ruang B01 STIkes Binawan

A. LATAR BELAKANG

Persalinan umumnya disertai dengan adanya nyeri akibat kontraksi uterus. Intensitas
nyeri selama persalinan dapat mempengaruhi proses persalinan, dan kesejahteraan janin.
Nyeri persalinan dapat merangsang pelepasan mediator kimiawi sepert prostaglandin,
leukotrien, tromboksan, histamin, bradikinin, substansi P, dan serotonin, akan
membangkitkan stres yang menimbulkan sekresi hormon sepert katekolamin dan steroid
dengan akibat vasokonstriksi pembuluh darah sehingga kontraksi uterus melemah.

Mulai memasuki trimester ke tga, ibu hamil akan mulai merasakan perubahan pelvik
dan sering muncul kontraksi. Kontraksi muncul diakibatkan karena meningkatnya aktvitas
uterus dalam minggu-minggu terakhir kehamilan, dan merupakan bagian dari proses
pengosongan uterus, pematangan servik dan kesiapan untuk persalinan (Bobak,2004).

Salah satu bentuk kontraksi pada kehamilan 36 minggu adalah kontraksi Braxton
Hicks. Kontraksi Braxton Hicks adalah suatu tanda persalinan tdak past yang ditandai
dengan uterus yang berkontraksi bila dirangsang dan datangnya kontraksi tdak menentu
lamanya. Tanda ini khas untuk uterus pada masa kehamilan 32 sampai 36 minggu, dan akan
semakin jelas kontraksinya pada usia kehamilan minggu ke 36 (Mander,2003).

Kontraksi Braxton Hicks dapat menimbulkan nyeri dan ibu hamil sering mengeluh
merasa tdak nyaman sepert mules, kram perut atau yang biasanya dirasakan kram saat
menstruasi serta stres. Nyeri yang dirasakan hanya pada bagian depan perut, tepatnya di
perut depan bagian bawah. Penyebab kontraksi yaitu karena ada pergerakan dan perubahan
uterus yang semakin mengeras.

Kontraksi yang dirasakan ibu hamil lebih lemah daripada kontraksi persalinan dan
lamanya kontraksi satu sampai dua menit. Kontraksi akan meningkatkan volume darah yang
terdiri dari plasma dan cairan, namun kondisi saat ibu hamil tdak dapat menyetarakan
pemasukan cairan sehingga menyebabkan ibu hamil akan mengalami dehidrasi. Kemudian
dehidrasi ini memicu kaku pada otot dan berakibat muncul kontraksi pada ibu hamil
(Bobak,2004).

Kontraksi Braxton Hicks juga menimbulkan nyeri yang berkepanjangan. Nyeri akan
mengakibatkan ibu hamil akan merasa tdak nyaman dan aktfitasnya terganggu. Nyeri
kontraksi mempengaruhi kondisi janin, terutama plasenta janin akan terganggu sehingga
aliran darah ke dalam janin terhambat, saat intensitas kontraksi cukup tnggi cadangan
oksigen bisa berkurang. Kondisi ini mengakibatkan tekanan oksigen darah arteri janin
menurun, hipoksia dan penurunan denyut jantung janin. Selain itu nyeri kontraksi dapat
mengkompensasi stres ringan secara relatf pada janin.

Ketuban pecah dini (KPD) merupakan masalah pentng dalam obstetri berkaitan
dengan penyulit kelahiran prematur dan terjadinya infeksi korioamnionits sampai sepsis,
yang meningkatkan morbiditas dan mortalitas perinatal dan menyebabkan infeksi ibu
(Sarwono, 2008).

Ketuban pecah dini (KPD) didefenisikan sebagai pecahnya ketuban sebelum waktunya
melahirkan. Hal ini dapat terjadi pada akhir kehamilan maupun jauh sebelum waktunya
melahirkan. Dalam keadaan normal 8-10% perempuan hamil aterm akan mengalami
ketuban pecah dini (Sarwono, 2008).

Kejadian ketuban pecah dini dapat menimbulkan beberapa masalah bagi ibu maupun
janin, misalnya pada ibu dapat menyebabkan infeksi puerperalis/masa nifas, dry
labour/partus lama, dapat pula menimbulkan perdarahan post partum, morbiditas dan
mortalitas maternal, bahkan kematan (Cunningham, 2006).

Maka dari itu kami akan memberikan materi penyuluhan tentang kontraksi dan
pecah ketuban pada ibu hamil.

B. TUJUAN

1. Tujuan Intruksional Umum


Setelah diberikan penyuluhan klien atau keluarga diharapkan dapat memahami dan
menyebutkan bahaya kontraksi dan pecah ketuban pada ibu hamil.

2. Tujuan Intruksional Khusus


Setelah mengikut penyuluhan diharapkan peserta mampu :
a) Mengetahui pengertan kehamilan
b) Mengetahui tanda bahaya kehamilan
c) Mengetahui pengertan kontraksi pada ibu hamil
d) Mengetahui tanda tanda kontraksi pada ibu hamil
e) Mengetahui pengertan pecah ketuban pada ibu hamil
f) Mengetahui tanda-tanda pecah ketuban dini pada ibu hamil
g) Mengetahui cara mengatasi kontraksi dan pecah ketuban pada ibu hamil

C. PELAKSANAAN KEGIATAN
1. Topik : Kontraksi dan Pecah Ketuban pada Ibu Hamil

2. Sasaran / Target
Target umum : Ibu Hamil
Target khusus : Ibu Hamil

3. Metode
Ceramah
Demonstrasi
Tanya jawab
Diskusi

4. Media dan Alat


Infocus
Laptop
Leaflet

5. Waktu dan Tempat


Hari / Tanggal : Senin, 26 Oktober 2015
Jam : 09.00 WIB
Waktu :
Tempat : Ruang B01 STIKes Binawan

6. Pengorganisasian
Pembimbing : Handayani S.Kep Sp.Mat
Penanggung jawab : Andri P. Messakh
Moderator : Muhammad Arif Sumarna
Presentator : Agra Nadya
Observer : Belina Rahmat
Trie Utari Adinningsih
Fasilitator : Ernita Dwi Astut
Eva Latfah

7. Uraian Tugas
a. Penanggung jawab
Mengkoordinir persiapan dan pelaksanaan penyuluhan

b. Moderator
Membuka acara
Memperkenalakan mahasiswa dan pembimbing
Menjelaskan topik dan tujuan penyuluhan
Menjelaskan kontrak waktu
Memberi kesemppatan pada presenter untuk menjelaskan materi
Mengarahkan alur diskusi
Memimpin jalannya penyuluhan
Menyimpulkan penyuluhan
Menutup acara

c. Fasilitator
Memotvasi audiens agar berperan aktf
Membuat absensi penyuluhan
Mengantsipasi suasana yang dapat mengganggu kegiatan penyuluhan

d. Obeserver
Mengawasi proses pelaksanaan kegiatan dari awal sampai akhir
Membuat laporan yang telah dilaksanakan
8. Setting Tempat

D. KEGIATAN PENYULUHAN

No. Kegiatan Mahasiswa Kegiatan Peserta Pelaksana waktu Media


1. Tahap Pembukaan :
1. Mengucapkan salam Menjawab salam, Moderator 5 menit
2. Memperkenalkan anggota
Mengdengarkan dan
3. Menjelaskan tujuan dan
memperhatkan
kontrak penyuluhan
4. Menyebutkan materi/pokok
bahasan yang ingin
disampaikan
5. Mempersilahkan penyuluhan
untuk berbicara

2. Tahap Pelaksanaan :
1. Menggali pengetahuan Mengemukakan Pembawa 20 Infocus,
peserta tentang Bahayan pendapat, materi menit laptop,
kehamilan Mendengarkan, leaflet
memperhatkan
2. Memberikan reinforcement
positf atas jawaban peserta Mengemukakan
3. Menjelaskan isi materi
pertanyaan
pembelajaran secara
menyelurug, berurutan dan
teratur. Materi tersebut
antara lain :
Menjelaskan bahaya
kehamilan
Mengetahui tanda dan
bahaya kehamilan
Mengetahi pengertan
kontraksi pada ibu hamil
Mengetahui tanda-tanda
kontraksi pada ibu hamil
Mengetahui pengertan
ketuban pecah pada ibu
hamil
Mengetahui tanda-tanda
pecah ketuban dini ada
ibu hamil
4. Memberi kesempatan
peserta untuk bertanya

5. Menjawab Pertanyaan
peserta

3. Tahap penutup :
1. Mengevaluasi materi yang Mendengarkan, Moderator 10
diberikan. menyimpulkan materi menit
2. Memberikan reinforcement
, memahani dan
positf.
Menjawab salam
3. Menutup sambil
mengucapkan salam

E. EVALUASI
1. Evaluasi struktur
Mahasiswa berada diposisi yang sudah direncanakan
Tempat dan alat tersedia sesuai perencanaan
Pre planning telah disetujui
Mahasiswa dan sasaran menghadiri penyuluhan
2. Evaluasi proses
Pelaksanaan kegiatan sesuai dengan waktu yang telah direncanakan
Peran dan tugas mahasiswa sesuai dengan perencanaan
Sasaran penyuluhan dan mahasiwa mengikut kegiatan penyuluhan sampai
selesai
Sasaran penyuluhan dan mahasiswa berperan aktf selama kegiatan
berjalan

3. Evaluasi hasil
Mengetahui pengertan kehamilan
Memahami tanda bahaya kehamilan
Mengetahui pengertan kontraksi pada ibu hamil
Menyebutkan tanda tanda kontraksi pada ibu hamil
Mengetahui pengertan pecah ketuban pada ibu hamil
Menyebutkan tanda-tanda pecah ketuban dini pada ibu hamil

F. Lampiran Materi

Kontraksi dan Pecah Ketuban pada Ibu Hamil

1. Ketuban Pecah Dini

a. Pengertan

Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda persalinan,
dan ditunggu satu jam belum dimulainya tanda persalinan. Waktu sejak ketuban pecah
sampai terjadi kontraksi rahim disebut ketuban pecah dini (Manuaba, 1998).

Air ketuban merembes sebelum waktu melahirkan atau sebelum adanya tanda-tanda
persalinan adalah merupakan gejala ketuban pecah dini. Kondisi ini dapat memberikan
beberapa permasalahan kesehatan, baik untuk Ibu maupun untuk bayi, sehingga perlu
dipantau dan mendapat pertolongan tenaga medis.

Ada dua macam ketuban pecah dini (KPD). Yang pertama KPD prematur, yaitu
ketuban pecah sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu. Yang kedua KPD aterm, yaitu
ketuban pecah setelah usia kehamilan mencapai 37 minggu tetapi belum ada tanda-tanda
persalinan.

Pada janin, KPD dapat menyebabkan kelahiran prematur, sindroma gangguan


pernapasan, sepsis (infeksi darah), dan kematan. Sedangkan pada Ibu, KPD menimbulkan
risiko infeksi, abrupsio plasenta (plasenta terlepas dari dinding rahim) dan infeksi darah
(sepsis).

Wanita perokok, wanita yang pernah menderita infeksi menular seksual, pernah
melahirkan prematur, pernah mengalami perdarahan vagina atau pernah melahirkan bayi
kembar, rentan untuk mengalami KPD.

b. Penyebab

Penyebab ketuban pecah dini masih belum jelas, maka preventf tdak dapat
dilakukan kecuali dalam usaha penekanan infeksi. Menurut Manuaba (1998), penyebab
ketuban pecah dini adalah :
1. Serviks inkompeten
2. Ketegangan rahim berlebihan
3. Polihidramnion
4. Gemeli
5. Kelainan letak janin dalam rahim
6. Riwayat KPD sebelumnya
7. Kelainan bawaan dari selaput ketuban
8. Infeksi vagina

c. Tanda dan Gejala Ketuban Pecah Dini

Kadang kadang agak sulit atau meragukan kita apakah ketuban benar sudah pecah
atau belum apabila pembukaan kanalis servikalis belum ada atau kecil. Menurut Mochtar
(1998) cara menentukannya sebagai berikut :
1. Adanya cairan berisi mekonium, verniks caseosa, rambut lanugo
2. Adanya cairan ketuban dari vagina
3. Perubahan warna kertas lakmus dari merah menjadi biru
4. Cairan berbau khas, tdak sepert bau urin

d. Akibat dari Pecah Ketuban Dini

1. Infeksi : Ini karena selaput ketuban yang robek menjadi pintu masuk bagi kuman
kuman, ibu menjadi demam dan bayi terinfeksi
2. Kelahiran prematur : Pada kehamilan yang masih belum cukup bulan, pecahnya
ketuban akan merangsang kontraksi sehingga terjadi pembukaan jalan lahir dan
bayi terlahir sebelum aktunya. Bila ketuban sudah dinyatakan habis oleh dokter
atau bidan, maka kondisi bayi dalam keadaan waspada infeksi, oleh karena itu
bayi sebaiknya dilahirkan jika sudah memenuhi ketentuan untuk mengakhiri
kehamilan dengan dirangsang ( induksi ) obat atau infus, bahkan ada beberapa
kasus yang harus dilakukan seksio sesarea.

e. Pencegahan Ketuban Pecah Dini

1. Hindari perjalanan jauh yang melelahkan dan menimbulkan ketegangan fisik


maupun mental bagi ibu hamil
2. Hindari makan - makanan yang bisa merangsang terjadinya kontraksi rahim,
misalnya minuman beralkohol kadar tnggi, makanan yang mengandung zat
fermentasi berlebihan
3. Hindari trauma atau benturan fisik pada daerah perut
4. Pada ibu hamil kembar, kurangi aktfitas yang berlebihan, karena kehamilan
kembar sendiri sudah beresiko ketuban pecah sebelum waktunya akibat
pereganagan rahim.
5. Jaga tubuh ibu hamil dari infeksi terutama infeksi pada daerah alat kelamin
6. Hindari stress berlebihan yang akan merangsang hormon tubuh untuk
menimbulkan kontraksi pada rahim
7. Lakukan hubungan seksual secara hat - hat terutama pada kehamilan yang
memasuki trimester 2, hentkan hubungan seksual bila ketuban pecah.

f. Hal yang Harus Dilakukan Ketkan Pecah Ketuban

Suami istri jangan panik


Segera datang ke klinik bersalin terdekat bila dalam perjalanan atau bila
masih memungkinkan datang ke bidan atau dokter yang merawat ke rumah
sakit.
Jangan menunda, upayakan bisa segera mendapat pertolongan dari tenaga
kesehatan.
Tidak diperkenankan meminum ramuan apapun baik telur mentah dan madu,
minyak , rendamann akar rumput fatma dan jamu lainnya.
Bila sudah bersama tenaga medis maka keadaan ibu sudah dapat terpantau
jadi berusahalah rileks dan mengikut saran bidan atau dokter yang merawat.

2. Kontraksi

a. Pengertian
His (Kontraksi) adalah serangkaian kontraksi rahim yang teratur, yang secara
bertahap akan mendorong janin melalui serviks (rahim bagian bawah)
danvagina (jalan lahir), sehingga janin keluar dari rahim ibu.

Kontraksi menyebabkan serviks membuka secara bertahap


(mengalami dilatasi) menipis dan tertarik sampai hampir menyatu dengan
rahim.Perubahan ini memungkinkan janin bisa melewat jalan lahir.

His biasanya mulai dirasakan dalam waktu 2 minggu (sebelum atau


sesudah) tanggal perkiraan persalinan. Penyebab yang past dari mulai tmbulnya
his tdak diketahui. Mungkin karena pengaruh dari oksitosin (hormon yang
dilepaskan oleh kelenjar hipofisa dan menyebabkan kontraksi rahim selama
persalinan)

b. Macam macam Kontraksi


Kontraksi Dini

Kontraksi jenis ini biasanya terjadi saat awal kehamilan atau pada
trimester pertama kehamilan. Kondisi ini terjadi saat tubuh masih sedang dalam
proses penyesuaian dengan berbagai perubahan akibat adanya kehamilan.
Kontraksi ini terjadi karena meregangnya jaringan ikat di sekitar rahim yang
biasanya diikut oleh perut kembung, sembelit, dan kekurangan cairan. Namun
waspadai bila terdapat kontraksi yang menetap disertai dengan adanya bercak
segera melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Kontraksi Palsu

Kontraksi palsu atau Braxton-Hicks biasanya sering terjadi pada saat


kehamilan memasuki usia 32-34 minggu dan berlangsung selama 30 menit sekali
dengan lama kontraksi sekitar 30 detk. Saat mengalami kontraksi Ibu akan
mengalami sepert nyeri kram saat menstruasi. Jika kontraksi ini tdak terjadi
lama, kemudian intervalnya memendek dan tdak bertambah kuat, maka
persalinan tdak akan terjadi dalam waktu dekat. Cara mengatasi kontraksi palsu
ini, Ibu bisa berendam di air hangat untuk meredakannya. Namun bila kontraksi
ini semakin kuat dan interval semakin pendek, maka bisa jadi bahwa persalinan
akan segera berlangsung.

Kontraksi Saat berhubungan intm

Pernahkah Ibu mendengar bahwa Ibu hamil tdak boleh melakukan


hubungan intm dengan pasangannya? Anjuran ini biasanya untuk Ibu yang
sedang hamil muda, yakni di bawah 3 bulan atau pada saat hami tua di atas 8
bulan. Alasannya, karena untuk menghindari keguguran atau lahir prematur.

Hal tersebut tdak sepenuhnya salah, tapi juga tdak sepenuhnya benar.
Yang past, sperma mengandung hormon prostaglandin. Hormon ini sering
menyebabkan kontraksi pada rahim, sehingga dikhawatrkan mencetuskan
kejadian abortus (keguguran) atau persalinan prematur. Hal ini bisa disiasat
dengan senggama terputus (coitus interuptus) atau memakai kondom. Sebelum
melakukannya, Ibu terlebih dulu bisa mengkonsultasikan hal ini dengan dokter /
bidan tentang keadaan kehamilan apakah berisiko atau tdak bila melakukan
hubungan intm, termasuk untuk mengetahui adanya riwayat keguguran, riwayat
persalinan prematur, riwayat pendarahan vagina yang tdak diketahui
penyebabnya, mulut rahim yang lemah, dan sebagainya.

Kontraksi Inersia

Merupakan kontraksi dalam proses persalinan yang lemah, pendek, atau


tdak sesuai fase. Hal ini umumnya disebabkan karena kelainan fisik Ibu, sepert
kurangnya nutrisi dan gizi saat hamil, anemia, hepatts atau TBC, dan miom. Ada
dua macam kontraksi, yaitu primer dan sekunder. Disebut primer apabila sama
sekali tdak terjadi kontraksi sejal awal persalinan. Sedangkan sekunder adalah
kontraksi yang awalnya bagus, kuat dan teratur tetapi setelah itu menghilang.
Kontraksi ini dapat dilihat melalui evaluasi pembukaan mulut rahim dan ketuban.

Kontraksi Sesungguhnya

Kontraksi sebenarnya terjadi menjelang persalinan, yakni saat Ibu


memasuki kehamilan 36 minggu saat bayi mulai turun ke tulang panggul lebih
dalam. Akibatnya, tmbul desakan di kandung kemih, panggul dan vagina. Saat
inilah muncul kontraksi sungguhan, di mana Ibu sudah waktunya untuk
melahirkan. Kontraksi ini biasanya berlangsung 3 kali dalam 10 menit dengan
durasi 20 sampai 40 detk. Frekuensinya pun meningkat hingga lebih dari 5 kali
dalam 10 menit. Hal ini disertai pula dengan keluarnya lendir bercampur darah,
pecahnya ketuban, serta dorongan ingin mengejan. Jika kurang yakin ini kontraksi
sungguhan, berendamlah di air hangat atau Ibu bisa segera melakukan
pemeriksaan ke bidan atau dokter untuk memastkan lengkap tdaknya
pembukaan dan kapan dimulainya proses persalinan.

c. Perbedaan antara his sejati dan his palsu

Sebelum terjadinya his sejat, seorang calon ibu bisa merasakan his palsu
atau kontrksi rahim yang tdak teratur. His ini disebut kontraksi Braxton Hicks. Ini
merupakan hal yang normal dan mungkin lebih sering muncul pada sore hari.

Biasanya his palsu tdak sesering dan tdak sekuat his asli. Kadang satu-
satunya cara untuk mengetahui perbedaan antara his sejat dan his palsu adalah
melakukan pemeriksaan dalam. Pada pemeriksaan dalam bisa diketahui adanya
perubahan pada serviks yang menandakan dimulainya proses persalinan.

Perbedaan antara HIS palsu dan HIS sejati

Jenis perubahan His palsu His sejat

Karakteristk Tidak teratur & tdak semakin Timbul secara teratur dan
kontraksi sering (disebut kontraksi semakin sering, berlangsung
Braxton Hicks) selama 30-70 detk

Pengaruh Jika ibu berjalan atau Meskipun posisi/gerakan ibu


gerakan tubuh beristrahat atau jika posisi berubah, kontraksi tetap
tubuh ibu berubah, kontraksi dirasakan
akan menghilang/berhent

Kekuatan Biasanya lemah & tdak Kontraksinya semakin kuat


kontraksi semakin kuat (mungkin
menjadi kuat lalu melemah)

Nyeri karena Biasanya hanya dirasakan di Biasanya berawal di


kontraksi tubuh bagian depan punggung dan menjalar ke
depan

DAFTAR PUSTAKA

Mengenal 5 jenis kontraksi Saat hamil Diakses tanggal 24 Oktober 2015.


https://www.ibudanbalita.com/artkel/mengenal-5-jenis-kontraksi-saat-hamil

Tanda-tanda Kontraksi Palsu Diakses tanggal 24 Oktober 2015.


http://www.parentng.co.id/hamil/tanda-tanda+kontraksi+palsu+

Prawirohardjo, S. (2001). Pelayanan kesehatan maternal dan neonatal. Jakarta. Yayasan Bina
Pustaka

Riant, S. P., & Resmisari. (2009). Buku saku obstetri dan ginekologi. Edisi 9. Jakarta: EGC.

Saifuddin, A.B, (2002). Buku panduan praktis pelayanan kesehatan maternal dan neonatal.

Saifudin, A. B. (2002). Buku acuan nasional pelayanan kesehatan maternal dan


neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.