Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENDAHULUAN

MANAJEMEN PASIEN DENGAN KATETERISASI JANTUNG

DISUSUN OLEH :

Faizzah Agustina

( G2A016021 )

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG

TAHUN AJARAN 2017

1
A. PENGERTIAN

Kateterisasi jantung adalah istilah umum yang digunakan untuk rangkaian prosedur
pencitraan untuk memasukkan kateter ke dalam bilik atau pembuluh darah jantung. Pada saat
kateter berada di posisi yang telah ditentukan, maka alat tersebut dapat digunakan untuk
melaksanakan sejumlah prosedur pemeriksaan lebih lanjut dan terapi seperti angiografi
koroner (coronary angiography), angioplasti (angioplasty) dan pemasangan katup buatan
(balloon valvuloplasty).

Kateterisasi jantung dilakukan melalui lintasan kateter ( suatu pipa lentur yang tipis)
ke bagian kanan dan kiri jantung. Kateter dapat dimasukkan melalui arteri atau pembuluh
darah di lengan atau bagian atas paha) yang kemudian perlahan-lahan diarahkan ke jantung
dengan bantuan mesin sinar-x khusus. Begitu kateter berada di posisi yang telah ditentukan,
maka cairan kontras (contrast dye) akan disuntikkan melalui kateter sehingga gambar sinar-x
katup jantung, arteri koroner dan bilik jantung dapat direkam oleh mesin sinar-x untuk
menghasilkan citra yang tepat.

Kateterisasi jantung adalah suatu tindakan minimal invasif dengan memasukkan


kateter (selang/pipa plastik) melalui pembuluh darah ke dalam jantung dan pembuluh darah
koroner yang memperdarahi jantung. Tujuan dari tindakan kateterisasi ini adalah untuk
diagnosis dan sekaligus untuk tindakan terapi bila ditemukan adanya suatu kelainan. Ada dua
jenis kateterisasi yaitu :

Kateterisasi koroner : kateterisasi yang ditujukan untuk memeriksa pembuluh


koroner yang memperdarahi jantung.

Kateterisasi penyadapan jantung : kateterisasi yang ditujukan untuk memeriksa


tekanan dan kandungan oksigen (saturasi) dalam ruang-ruang jantung.

2
B. TUJUAN
1. Mengetahui adanya penyumbatan pada pembuluh darah yang akan berdampak pada
keluhan nyeri dada.

2. Mengetahui berapa tekanan di dalam jantung pasien untuk menentukan apakah


tekanan yang terjadi aman atau tidak.

3. Mengetahui kadar jumlah oksigen di dalam jantung (hemodinamik).

4. Melakukan biopsi alias mengambil sampel jaringan dari jantung pasien.

5. Mengetahui ada atau tidaknya masalah pada bagian katup jantung pasien.

6. Mengetahui ada atau tidaknya kelainan jantung sejak lahir.

Peralatan yang digunakan


1. Pesawat Rontgen

Pesawat rontgen yang digunakan dengan sistem TV Monitor yang mempunyai Image
Intensifying beresolusi tinggi yang dilengkapi dengan Cineangiografi ( Film Cine atau
CD ) atau bisa juga dengan menggunakan Film Changer. Misalnya C-Arm atau U-
Arm.

2. Mesin Injektor
Berfungsi untuk memasukkan cairan kontras dalam jumlah yang banyak dan
mempunyai tekanan atau kecepatan yang dapat diatur.

3. Peralatan Emergency :
a. Defibrilator
b. Trolly emergency dan obat-obatan emergency
c. Oksigen (O2 )

4. Peralatan Steril
5. Introducer, Sheath, Dilator, Quide Wire
6. Kateter
7. Sones, Judkin, Castilo, Amplatz, Scoonmaker, Pigtail, NIH, dll

Indikasi, Kontra Indikasi dan Kontras Media Pada Pemeriksaan Kateterisasi Jantung
1. Indikasi
Beberapa indikasi dilakukannya pemeriksaan Kateterisasi Jantung ialah seperti:
a. Penyakit Jantung Koroner
b. Perforasi jantung
c. Adanya kelainan-kelainan pada pembuluh darah jantung seperti oclusi,
stenosis, aneurisme, angioma dan pergeseran pembuluh darah karena massa.

2. Kontra Indikasi
Beberapa Kontra indikasi seperti:
a. Sensitif terhadap kontras media
b.Hypertensi
3
c. kelainan kelainan jantung ( terjadi pada katup jantung )

3. Kontras Media
a. conray 420
b. cardio conray atau yang sejenis

Prosedur Persiapan Pasien Pre Kateterisasi


1. Persiapan fisik
a. Penjelasan tentang prosedur tindakan oleh dokter
b. Rekaman EKG 12 lead
c. Puasa 4-6 jam sebelum tindakan perlu diperhatikan adalah puasa makan saja,
pasien boleh minum dan obat-obatan tetap diberikan sesuai resep dokter
d. Cukur area penusukan (daerah inguinalis kanan dan kiri bila arteri femoralis atau
daerah radialis kanan bila dari arteri radialis)
e. Memasang condom cetheter atau dower cetheter untuk pasien yang akan
dilakukan tindakan PTCA, Ablasi, dan sejenisnya kecuali koroner angiografi
f. Memasang infus pada pasien, untuk tindakan koroner angiografi pada umumnya
tidak dipasang infus kecuali pada pasien dengan hasil kreatinin lebih dari 1,5
diberikan cairan NaCl 0,9% . pada pasien yang akan dilakukan PTCA, Ablasi dan
sejenisnya yang memerlukan waktu yang lama diberikan cairan RL dan cairan
NaCl 0,9% untuk pasien dengan creatinin lebih dari 1,5
g. Mengukur tanda tanda vital pasien (tekanan darah, heart rate , respirasi, dan
suhu )
h. Mengukur berat badan dan tinggi badan
i. Hasil pemeriksaan laboratorium seperti :
1) Pemeriksaan Hb, Hb yang tinggi akan mempengaruhi tindakan kateterisasi
dimana lebih mudah terjadi pembekuan darah pada kateter, begitu juga Hb
yang rendah karena kemungkinan terjadi pendarahan selama tindakan
2) Leukosit, untuk mengetahui apkah pasien dalam keadaan dalam infeksi
atau tidak
3) Ureum dan kreatinin, mengtahui fungsi ginjal pasien berhubungan dengan
penggunaan zat kontras saat tindakan, bila hasilnya tinggidilakukan
hidrasi terlebih dahulu dengan obat oral flumucyl 2 tablet dan loading
cairan NaCl 0,9% sesuai instruksi dokter (biasa diberikan 100 cc) . zat
kontras yang osmolaritasnya lebih redah, ( misalnya omnipaque) dan dosis
yang lebih sedikit
4) CT, BT, PT, APTT untuk mengetahui apakah memanjang waktu
pendarahan dan pembekuan karena berhubungan dengan saat pencabutan
sheath
5) HbsAg untuk mencegah terjadinya penularan baik terhadap petugas
maupun kepasien lain
j. Mencatat obat yang diminum ditunda atau dihentikan pemberiannya. Obat
hipertensi dan obat diureik tetap diberikan, sedangkan obat DM, anti koagulan,
ditunda pemberiannya sesuai dengan instruksi dokter
k. Menanyakan riwayat alergi pasien terhadap obat-obatan
l. Mengkaji keeluhan psien apakah ada nyeri dada, sesak nafas, pusing atau
keluhan yang lain
m. Mengganti pakaian pasien dengan pakaian rumah sakit, termasuk pakaian dalam
dilepas

4
n. Memberitahu kepada pasien bahwa alat bantu seperti kaca mata, alat bantu dengar
(hearing aid), gigi palsu boleh tetap dipakai selama tindakan untuk lebih
memudahkan berkomunikasih dengan pasien tetapi tetap diinformasikan pada saat
serah terima pasien dengan petugas diruang tindakan
o. Melakukan allent test bila tindakan dilakukan melalui arteri radialis, untuk
melihat sirkulasi darah ditangan pasien

Teknik menilai allen test:


a. Anjurkan pasien untuk mengepal tangannya dengan kuat selama 3-15 menit
b. Periksa pulsasi arteri radialis kemudian tekan arteri radialis dengan tiga jari tangaan
kiri/ibu jari dan tekan arteri uinaris dengan tiga jari tangan kanan/ibu jari secara
bersamaan
c. Buka kepalan tangan pasien , telapak tangan akan terlihat pucat
d. Lepas tekanan arteri ulnaris, arteri radialis tetap ditekan
e. Lihat jika refeskuler 1-3 detik berarti arteri ulnaris baik dan tindakan dapat dilakukan
melalui arteri radialis

2. Persiapan mental
a. Mengkaji pengetahuan pasien mengenai tindakan kateterisasi jantung
b. Bila pasien belum mendapat penjelasan, fasilitsi agar dokter/asisten dokter untuk
menjelaskannya
c. Memberi penjelasan hal-hal yang mungkin diperlukan saat dilakukan tindakan seperti
cara nafas dalam dan batuk efektif dan juga memberitahukan keluhan yang mungkin
timbul saat tindakan kepada petugas atau perawat
d. Melakukan pendekatan spiritual dengan mengajak berdoa

3. Persiapan pasien dari ruangan / rawat inap


Persiapan sama seperti pasien datang dari rumah , hanya saja persiapannya dilakukan
oleh perawat ruangan. Jadi perawat di ruang pre keteterisasi hanya dilakukan serah terima
pasien dengan petugas ruangan dan memeriksa kembali kelengkapan persiapan
administrasi fisik dan mental pasien serta membuat form laporan kateterisasi jantung
untuk pasien yang akan dilakukan tindakan koroner angiografi dan form laporan
angioplasti koroner untuk pasien yang akan dilakukan tindakan PTCA, ablasi dan
sejenisnya.

Prosedur Persiapan Pasien Post Kateterisasi


1. Berikan pasien minum banyak sekitar 2000 cc /6 jam, bila tidak ada kontra indikasi
2. Harus diperhatikan catatan kejadian selama prosedur serta hasil kateterisasi
3. Observasi vital sign: setiap 15 menit pada jam 1, setiap 30 menit pada jam 11 dan
selanjutnya tiap jam hingga hemodinamik tetap stabil
4. Observasi efek samping pemakaian zat kontras seperti : gatal-gatal, menggigil, mual
muntah atau urtikaria
5. Observasi hematom dan pendarahan di sekitar area penusukan
a. Lakukan haemostasis yang benar
b. Immobilisasi daerah penusukan selama 6-8 jam untuk penusukan pada fermonalis
dan 4 jam pada penusukan radialis berikan bantal pasir diatas area penusukan
khusus untuk penusukan fermonalis
c. Libatkan pasien dan keluarga untuk mengawasi adanya tanda-tanda perdarahan dan
haematoma pada daerah penusukan
6. Observasi keluhan pasien; pening, pusing atau nyeri dada dan sebagainya
5
7. Observasi tanda-tanda adanya gangguan sirkulasi di daerah perifer, pulsasi arteri
dibagian distal dari penusukan, kemudian dibandingkan dengan kanan dan kiri,
observasi kehangatan akral dibandingkan dengan kanan dan kiri. Bila terjadi
gangguan (nadi lemah/tidak terabah) beritahu dokter, biasanya diberi obat anti
koagulan bolus atau drib
8. Observasi adanya tanda-tanda infeksi
Hal yang umum diperhatikan di ruang post kateterisasi;
a) Keluhan pasien
b) Diagnosa medis, tindakan yang dilakukan, penyulit yang muncul saat tindakn dan hasil
tindakan
c) Dokter yang mengerjakan
d) Tanda-tanda vital post kateterisasi
e) Obat-obat yang dilanjutkan
f) Intake dan output
g) Kelengkapan status
h) Pulsasi daerah distal dari area penusukan dan kehangatan akral
i) Pemeriksaan yang harus dilakukan di ruang perawatan setelah post kateterisasi/ intervensi
j) Alat-alat perawatan yang masih terpasang pada pasien

Kateterisasi Jantung Lewat Arteri Radialis


1. Persiapan Alat
a. Alat Tenun Steril
1) 3 baju operasi
2) 2 duk lubang ukuran 67 x 67 cm
3) 2 duk kecil ukuran 67 x 67 cm
4) 1 stik laken
5) 1 duk besar ukuran 180 cm x 234 cm
2. Set Instrumen Steril
a. 1 kom besar untuk tempat cairan ( 500 cc)
b. 1 kom sedang untuk tempat kontras (250 cc)
c. 1 kom kecil untuk tempat bethadine sol 10% (100 cc)
d. 6 depper kecil
e. 5 kassa steril
f. 2 duk klem
g. 1 arteri klem
h. 1 scappel
j. 1 klem kocher / desinfektan tool
k. 1 bengkok
3. Bisturi nomor. 11
4. Bethadine solution 10% dan alkohol 70% untuk desinfektan
5. Cairan NaCl 0,9% : 1:5 (heparin 2500 unit dalam 500 NaCls)
6. Syringe 20 cc 2 buah, syringe 5 cc 1 buah, syringe 2,5 cc 1 buah, syringe 1 cc 1 buah
7. Extension tube panjang dan pendek masing massing 1 buah
8. Rotating adaptor (threeway pressure)
9. Introduser sheath radialis 5 fr / 6 fr
10. Kateter diagnostic optitorque 5 fr / sesuai kebutuhan
11. Guide wire terumo tip 0,35 / 180 cm
12. Glove steril
6
13. Jarum pungsi
14. Zat kontras sesuai kebutuhan
16. Lidocaine 2% 1 ampul
17. Heparin 5000 unit dalam syringe 5 cc (diencerkan dengan NaCl 0,9% menjadi 4 cc)
18. NTG 300 meq dalam syringe 1 cc (diencerkan menjadi 9 strip)
19. Trolley emergency

Prosedur Kerja
1. Pasien masuk ruang tindakan, rekam EKG 12 lead
2.Alat alat dipersiapkan diatas meja
3.Scrub nurse atau asisten dan dokter operator memakai apron lalu melakukan surgical hand
washing (cuci tangan steril), mengenakan jas operasi dan memakai glove steril
4.Melakukan desinfeksi di daerah inguinal kanan dan kiri dengan bethadine solution 10%
dilanjutkan dengan alkohol 70%
5.Tutup bagian yang di desinfeksi dengan duk lubang, lalu tutup bagian badan pasien dan
seluruh tubuh pasien dengan alat dengan tenun steril (beritahu pasien agar selama tindakan,
tangan pasien tidak menyentuh area steril)
6. Flash / basahi semua alat kemudian di dekatkan ke pasien, lakukan zero point, sambungkan
extention tube dengan tansduser kemudian dibalance mesin monitor
7. Dokter melakukan anestesi lokal dengan Lidocaine 2% di daerah arteri radialis kanan
(RAR = Radialis Arteri Right)
8.Pungsi RAR sampai darah arteri memancar masukkan wire pendek kemudian jarum
puncture dilepas, lakukan insisi inchi dangkal (untuk memudahkan masuknya sheath),
massukkan sheath 6 fr (jangan lupa wire dibersihkan dahulu dengan kassa basah untuk
mencegah darah bekuan / fibrin terkumpul)
9. Wire pendek dicabut, sheath di aspirasi lalu di flash, masukkan heparin 2500 iu dan NTG
200 300 meq, kemudian di flash / bilas
10.Masukkan catheter dengan quide wire didalamnya ke dalam sheath sampai ke ventrikel
kiri, petugas monitor mengambil tekanan LV Ao dengan catheter ditarik dari LV ke aorta
lalu diukur gradien
11.Catheter mengkanulasi ostium arteri koroner kanan (RCA),
12.Catheter kanulasi ke ostium arteri koroner kiri (LCA),
13. Aspirasi catheter lalu flush kemudian perawat siecor merekam pressure terakhir dan EKG
6 lead
14.Catheter dicabut dengan quide wire ada di dalam dan di dalam dan di daerah sekitar
penusukan dibersihkan
15.Sheath di tarik setengah bagian masih di dalam arteri, kemudian letakkan nichiband di
daerah bekas penusukan sampai menekan arteri radialis kemudian difikasi menggunakan
plester yang tersedia, sheath ditarik seluruhnya sambil dianjurkan pasien tarik nafas
dalam
16.Alat-alat dibersihkan, dirapihkan dan dipisahkan alat dari benda tajam, infeksius dan non
infeksius
17.Pasien dipindahkan ke ruang pemulihan
18.Prosedur selesai
19.Petugas monitor mencatat jumlah cairan infus dan kontras

Prosedur Pencabutan Nichiband Pada Arteri Radialis


3. Persiapan Alat
7
a) Glove non steril
b) Kassa steril (4 x 4) 3 buah
c) Gunting verband
d) Bengkok
e) Elastikon
f) Plester
4. Prosedur Kerja

a. Lihat jam pada saat pelepasan nichiband


b. Beritahu pasien prosedur yang akan dilakukan
c. Cuci tangan
d. Pasang glove
e. Letakkan tangan kiri diatas nichiband dan beri sedikit penekanan secara perlahan
f. Buka plester nichiband dengan tangan kanan kemudian lepas tekanan pada nichiband
secara perlahan sambil diperhatikan apakah ada darah yang keluar dari luka insisi
i. Apabila terjadi perdarahan pasang kembali nichiband dan tambahkan plester untuk
mencegah nichiband terlepas
ii. Bila tidak terjadi perdarahan lanjutkan membuka nichiband
g. Letakkan kassa diatas luka insisi menggunakan tangan kiri dan tekan secara perlahan
h. Pasang plester elastikon dengan menggunakan tangan kanan, posisi tangan kiri tetap
menekan kassa diatas luka insisi, (jangan terlalu kencang)
i. Rapikan alat alat
j. Berikan penkes pada pasien :
1) Anjurkan untuk tidak mengangkat beban lebih dari 5 kg selama 1 minggu untuk
menghindari stertching / peregangan pada arteri radialis
2) Beritahu perawat / dokter bila terjadi keluhan berhubungan dengan gangguan
sirkukasi
3) Buka elastikon dan ganti dengan tensoplast setelah 12 jam pemasangan elastikon
4) Bila ada haematoma dan pendarahan segera hubungi perawat atau dokter atau kembali
lagi ke rumah sakit.

C. RESIKO :

Adapun resiko dari proses kateterisasi jantung ini antara lain:

1. Mengalami perdarahan ringan.


2. Mengalami memar-memar/kebiruan.

3. Dapat menyebabkan ritme jantung yang tidak beraturan.

4. Dapat menimbulkan robekan pada jantung atau bagian arteri.

5. Memungkinkan terjadinya kerusakan pada ginjal.

6. Terjadinya infeksi.

7. Kemungkinan dapat mengalami bekuan darah.

8. Kemungkinan alergi dari obat yang dikonsumsi sebagai bagian dari kateterisasi
jantung.
8
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2006. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC


R. Sjamsuhidajat & Wim de Jong. 2005. Buku-Ajar Ilmu Bedah. Jakarta : EGC.
Verma R. Keane JF. Percutaneous therapy of structural heart disease. Pediatric Disease. Prog
Cardiovascular Disease 1997;40:37-54.