Anda di halaman 1dari 85

LAPORAN DEBORA

PERIODE 15 MEI 2017- 20 MEI 2017

DISUSUN OLEH:

1315 Angellia Pangelah


1315099 Yeremia Prasetyo
1315222 Christine Herlina

BAGIAN ILMU KANDUNGAN DAN KEBIDANAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA
RUMAH SAKIT IMMANUEL
BANDUNG
2017
1. Nama : Ny. Yanti Pitri
Usia : 33 tahun
DPJP : dr.Arief Budiono, Sp.OG
Diagnosis Masuk : G2P1A0 parturien aterm kala 1 fase laten + KPSW
Diagnosis Keluar : P2A0 partus maturus post SC a/i KPSW

Pembahasan
Seorang pasien G2P1A0 mengaku hamil Ketuban Pecah Sebelum Waktunya dapat
dibagi menjadi 2, yaitu Premature Rupture of
9 bulan datang dengan keluhan keluar
Membranes (PROM) dan Preterm Premature
cairan dari jalan lahir. Cairan awalnya Rupture of Membrane (PPROM). Premature
rupture of membranes (PROM) merupakan ruptur
berwarna keruh dan bercampur darah,
pada membran bayi sebelum dimulainya waktu
kemudian beberapa saat cairan yang kelahiran. Pada sebagian besar kasus, PROM
terjadi dekat dengan waktu kematangan bayi, akan
keluar berwarna jernih. Pasien juga
tetapi jika membran pecah sebelum kehamilan 37
merasakan perut mulas hebat sejak minggu, maka kejaian ini disebut sebagai
PPROM.
semalam dan mulas berkurang sejak tadi
pagi. Mulas dirasakan tidak bertambah Dalam penelitian, sebagai faktor etiologi
dari KPSW adalah bakteri yang menghasilkan
sering atau bertambah lama. Menurut phospolipase A2, kolagenase, protease, dan
pemeriksaan bidan, pasien sudah perubahan pH. Pada sejumlah kasus, infeksi
asending lokal dari vagina bertanggung jawab
pembukaan 1. terhadap melemah dan robeknya selaput ketuban.
Pasien dengan kehamilan muda yang membawa
BAB & BAK dalam batas normal (sebagai karier) satu atau lebih organisme yang
RPD : - berkaitan dengan penyakit menular seksual
RPK : - memiliki peningkatan angka kejadian KPSW.
R. Operasi : -
R. KB : KB suntik 3 bulan Etiologi tersering penyebab KPSW pada
Golongan darah : O minggu < 24 minggu adalah ukuran serviks yang
Keadaan Umum : Baik pendek yaitu 25 mm pada pemeriksaan dengan
Kesan Sakit : Ringan USG transvaginal.
Kesadaran : Compos mentis
TTV : Patofisiologi :
T : 110/70 mmHg
Secara garis besar membran / selaput janin
R : 20 x/menit
terdiri dari amnion dan chorion. Lapisan amnion
N : 80x/menit S : 36,2C
terletak di sebelah dalam, lapisan ini walaupun
- Kepala : conjunctiva anemis -/-,
lebih tipis namun lebih kuat daripada lapisan
sklera ikterik -/- chorion. Pada permukaan luar, chorion melekat
- Leher : KGB Tidak teraba membesar, pada decidua capsularis. Dalam keadaan normal
selalu terdapat keseimbangan dalam sintesis dan
tiroid tidak membesar, JVP 5+2 cmH2O
degradasi dari jaringan amnion dan chorion7,9.
- Thorax : Pulmo : VBS +/+, kanan =
kiri, Rh -/-, Wh -/- Lapisan amnion tidak mengandung pembuluh
Cor : BJ murni, murmur - darah maupun saraf. Nutrisi diperoleh dari cairan
- Abdomen : datar, nyeri tekan -, bising amnion melalui proses difusi-osmosis. Lapisan
amnion terdiri dari 5 lapisan :
usus + normal, hepar lien tidak teraba,
1. Epitel amnion.
massa - Merupakan lapisan yang paling dalam dan
- Estremitas : oedem -/-, akral dingin, dekat dengan janin. Lapisan ini memproduksi
CRT <2 detik kolagen tipe III, IV, dan glikoprotein yang
Status Ginekologi : ketiganya ini akan membentuk lapisan
Leopold 1 berikutnya yaitu membrana basalis.
TFU: 34 cm
2. Membrana basalis
Bagian di fundus: Bokong
3. Lapisan jaringan ikat padat / kompakta.
Leopold 2 Lapisan ini melekat pada membrana basalis
dan merupakan kerangka utama dari lapisan
Letak janin: Memanjang amnion sekaligus kerangka dari selaput janin.
PuKa Lapisan ini terutama memproduksi kolagen
Leopold 3 interstitial (kolagen tipe I dan III), selain itu
juga kolagen tipe V dan VI.
Kepala
4. Lapisan fibroblas
Leopold 4 Merupakan lapisan yang paling tebal dari
Konvergen amnion. Lapisan ini mengandung
Pemeriksaan Lab: makrofag-makrofag yang berperan dalam
respon terhadap adanya inflamasi.
- Hb: 11,1 mg/dL
- Ht: 33% 5. Lapisan intermediet / spongiosa.
- Leukosit: 9,14 Merupakan perbatasan antara amnion dan
- Trombosit: 332.000 chorion. Lapisan ini terutama mengandung
- Eritrosit: 3,7 juta/mm3 kolagen tipe III dan berfungsi untuk meredam
- BT: 2 menit adanya gangguan fisika seperti tekanan
- CT: 8 menit maupun gesekan.
- MCV: 88
- MCH: 30 Sedangkan lapisan chorion yang lebih tebal dari
- MCHC: 34 lapisan amnion terdiri dari 3 lapisan :
1. Lapisan retikuler
2. Membrana basalis
3. Lapisan trofoblas

Kekuatan selaput janin bervariasi di setiap tempat,


bila terjadi perubahan perubahan dalam
komposisinya maka dapat terjadi KPSW.
Biasanya selaput janin ruptur secara fokal, tidak
secara menyeluruh menjadi lemah atau menipis.
Daerah di sekitar rupturnya selaput janin secara
mikroskopis ditandai dengan adanya
pembengkakan, dan terputusnya jaringan kolagen
pada lapisan kompakta, fibroblast, dan spongiosa.
Diagnosis :
Keluar cairan ketuban dari vagina
Inspekulo : keluar cairan dari OUE
pH alkalis (kertas nitrazin merah biru /
biru biru
Mikroskopis cairan : lanugo / vernix
caseosa
USG : cairan amnion (-) / sangat sedikit
Komplikasi :
Terhadap ibu
Infeksi
Gangguan psikososial
Akibat intrapartum
Perdarahan postpartum
Terhadap bayi:
Iahir prematur
Infeksi
Sindrom potter
Pada anamesis didapatkan pasien berusia 33 tahun, datang dengan keluhan keluar cairan
dari jalan lahir. Pasien direncanakan untuk operasi SC atas indikasi ketuban pecah sebelum
waktunya
2. Nama : Ny. Muna Siti Maemunah
Usia : 20 tahun
DPJP : dr. Erik Dwikurnia Saiman, Sp.OG
Diagnosis Masuk :G1P0A0 parturien aterm
Diagnosis Keluar : P1A0 partus maturus post SCTP a/i letak kaki

Pembahasan
Pasien G1P0A0 gravid 37-38 minggu usia 20 tahun Batasan: kehamilan dengan anak letak
datang dengan keluhan keluar lendir dan flek sejak 1 memanjang dengan bokong/ kaki
minggu yll. Pasien merasakan mulas. Cairan dari sebagai bagian terendah
jalan lahir. pasien masih merasakan gerakan janin.
R. Operasi : SCTP Klasifikasi:
Riwayat menstruasi :
Letak bokong murni
Haid : teratur, Siklus : 28 hari, lamanya : 4-5 hari Letak bokong kaki
Nyeri Haid : Selama Haid Letak kaki

Keputihan : tidak ada


A. Status Generalis Etiologi/ predisposisi:
Keadaan Umum : Baik Umumnya penyebabnya belum jelas,
Kesadaran : Compos Mentis tapi ada beberapa factor predisposisi:
Tanda Vital : Multiparitas
Tekanan Darah : 110/70 mmHg Bayi kembar
Hidramnion
Nadi : 88x/menit, Reguler Oligohidramnion
Respirasi : 20 x/menit Hidrosefal
Anensefal
Suhu : 37 C
Letak sungsang pada kehamilan
Abdomen :
sebelumnya
Inspeksi : Cembung gravida Tumor-tumor dalam panggul
Auskultasi : BU + normal
Perkusi : timpani
Palpasi : hepar lien tidak teraba Diagnosis:
Status Ginekologis : Diagnosis dengan pemeriksaan luar
TFU 28 cm Pemeriksaan penunjang:
LP 98 cm USG dilakukan pada usia kehamilan
His + 32-34 minggu untuk mengetahui:
Leopold I: kepala Kelainan janin yang
Leopold II: PuKi menyebabkan letak sungsang
Leopold III: kaki Kelainan diluar janin yang

Leopold IV: Divergen menyebabkan letak sungsang

VT tidak dilakukan

Dari anamesis didapatkan pasien mengeluh keluar lendir dan flek sejak 1 minggu yang lalu.
Pasien merasakan mulas. Cairan dari jalan lahir. pasien masih merasakan gerakan janin.+
3. Nama : Ny. Butet Elmaya
Usia : 33 tahun
DPJP : dr. Rimonta F. Gunanegara, SpOG, MPd.Ked
Diagnosis Masuk : G1P0A0 gr 37-38 mgg
Diagnosis Keluar : P2A0 partus maturus post SC a/i letak sungsang

Pembahasan
Pasien G1P1A0 gravida 37-38 Batasan: kehamilan dengan anak letak memanjang dengan
minggu usia 33 tahun datang bokong/ kaki sebagai bagian terendah
dengan keluhan keluar cairan
dari jalan lahir sejak 2 hari yang Klasifikasi:
lalu , cairan tidak terlalu banyak Letak bokong murni
tapi sampai ganti celana dalam, Letak bokong kaki
Letak kaki
tidak berbau. Mulas -,
pergerakan janin +, keluarnya Etiologi/ predisposisi:
cairan tidak dapat ditahan. Umumnya penyebabnya belum jelas, tapi ada beberapa
Lendir -, darah -, pusing -, nyeri factor predisposisi:
ulu hati -, pandangan kabur - Multiparitas
Riwayat menstruasi : Bayi kembar
HPHT : 21 Agustus 2016 Hidramnion
Oligohidramnion
Haid Teratur, siklus 28-30 hari,
Hidrosefal
lamanya 5-6 hari Anensefal
Nyeri saat haid Letak sungsang pada kehamilan sebelumnya
Tumor-tumor dalam panggul
Tidak terdapat keputihan.
Keadaan Umum : Baik,
Kesadaran : Compos mentis Diagnosis:
Tanda Vital : Diagnosis dengan pemeriksaan luar
Tensi : 120/60 mmHg Pemeriksaan penunjang:
Nadi : 110 x/menit USG dilakukan pada usia kehamilan 32-34 minggu untuk
Suhu : 36 C mengetahui:
Respirasi : 20 x/menit Kelainan janin yang menyebabkan letak sungsang
Status Generalis : DBN Kelainan diluar janin yang menyebabkan letak

Status Ginekologi : sungsang

TFU 36 cm
Leopold 1: -
Leopold 2: memanjang, PuKa,
kepala dan bokong
Leopold 3: -
Leopold 4: konvergen
Dari anamenis didapatkan pasien G1P1A0 gravida 37-38 minggu usia 33 tahun datang
dengan keluhan keluar ciran dari jalan lahir, tidak terlalu banyak, tidak dapat ditahan, tidak
berbau, tidak ada mulas, pergerakan janin masih dirasakan. Lendir, darah, pusing, nyeri ulu
hati, pandangan kabur tidak dikeluhkan pasien.

4. Nama Pasien : Ny. Maya India


Usia : 34 tahun
DPJP : dr. Erik Dwikurnia Saiman, Sp.OG
Diagnosis masuk : G1P1A0 gr 37-38 minggu
Diagnosis akhir : P2A0 partus maturus spontan

Anamnesis : Definisi : Persalinan normal adalah proses


Pasien G2P1A0 gravida 36-37 minggu dimana bayi, plasenta keluar dari uterus ibu.
datang dengan keluhan keluar cairan jernih Persalinan normal adalah persalinan yang terjadi
dari jalan lahir sejak 2 hari SMRS. Keluhan pada usia kehamian cukup bulan >37 minggu
tanpa tanda penyulit.
disertai mulas (+), lendir (+), darah (+).
Gerakan janin masih dirasakan sejak bulan Kala I
ke 5 kehamilan.
Kala I persalinan dimulai sejak terjadinya
kontraksi uterus yang teratur (frekuansi dan
HPHT: Lupa kekuatannya) hingga serviks membuka lengkap
- TTP : - (10cm).
- Riwayat menstruasi: teratur, 28 hari; lama
5-6 hari Tanda dan gejala inpartu :
- Riwayat ANC : ke dokter kandungan 1x 1. Penipisan dan pembukaan serviks
- Riwayat KB : (+) IUD 2. Kontraksi uterus yang mengakibatkan
- RPD : HT (-), DM (-), Asma (-) perubahan serviks (frekuensi minimal 2x
- RPK: HT (-), DM (-), Asma (-) dalam 10 menit)
- Riw Operasi : - 3. Cairan lendir bercampur darah melalui vagina
- Gol darah : O Kala I , dibagi dalam 2 fase:
Fase laten: berlangsung selama 8 jam.
PEMERIKSAAN FISIK: Pembukaan terjadi sangat lambat sampai
Keadaan Umum : baik pembukaan 3 cm
Kesadaran : CM
TTV :T: 110 / 70 mmHg Fase aktif : dibagi dalam 3 fase lagi, yakni :
R: 24 x/menit
a. Fase akselerasi.
N: 94 x/menit
S: 36,6 C Dalam 2 jam pembukaan 3 cm 4 cm.
Kepala: Conjuctiva anemis -/-
Sklera ikterik -/- b. Fase dilatasi maksimal.
Leher : KGB tidak teraba membesar
Thorax : Cor : BJM S1=S2, Murmur (-) Dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung
Pulmo: VBS ka=ki, Rh -/- , Wh -/- cepat, dari 4 cm 9 cm
Abdomen : cembung gravid, nyeri tekan (-) c. Fase deselerasi.
Ekstremitas: oedem -/-, CRT <2 ,akral
hangat, turgor baik Dalam waktu 2 jam pembukaan dari 9 cm 10
cm.

STATUS OBSTETRIKUS KALA II


Pemeriksaan luar : tidak dilakukan
Dimulai ketika pembukaan serviks sudah
Pemeriksaan dalam : tidak dilakukan
lengkap(10cm) & diakhiri dgn lahirnya bayi.
Status Ginekologi : KALA III
TFU 31 cm
Dimulai dari lahirnya bayi dan berakhir dengan
Leopold 1: bokong keluar plasenta dan selaput ketuban.
Leopold 2: memanjang, PuKi Biasanya plasenta lepas dlm 6 - 15 mnt stlh bayi
Leopold 3: kepala lahir.

Leopold 4: konvergen Tanda-tanda Pelepasan Plasenta :


Pemeriksaan laboratorium : 1 perubahan bentuk dan tinggi uterus
Hematologi rutin 2 Tali pusat memanjang
- Hb 9,3 3 Sering ada pancaran darah mendadak.
- Ht 28 Manajemen aktif Kala III
- Leukosit 9,20 Pemberian suntikan oksitosin dalam 1
- Trombosit 198000 menit pertama setelah bayi lahir
- MCV 79 Melakukan penegangan tali pusat
- MCH 27 terkendali
- MCHC 34 Masase fundus uteri segera setelah
plasenta lahir

Kala IV :
Dimulai setelah lahirnya plasenta dan berakhir 2
jam setelah itu.

Penatalaksanaan :

Persalinan spontan

Anamnesis, diagnosis dan penatalaksanaan sudah tepat karena sesuai dengan teori. Pada pasien
ini sudah dilakukan penanganan secara aktif dan tidak dilakukan induksi maupun episiotomy
pada saat proses persalinan.
5 Nama Pasien : Ny. Rini Handayani
Usia : 32 tahun
DPJP : dr. Arief Budiono, Sp.OG
Diagnosis masuk : Torsi Kista Ovarium
Diagnosis akhir : Torsi Kista Ovarium

Anamnesis : Definisi:
Pasien datang dengan keluhan nyeri perut Kista ovarium adalah masa kistik yang berasal
bagian bawah. Nyeri dirasakan sejak 6 hari dari ovarium yang bersifat jinak.
yang lalu. Nyeri seperti ditusuk-tusuk dan
Diagnosis:
terus menerus. Nyeri disertai mual dan Adanya massa kistik pada adneksa yang
muntah. dibuktikan melalui pemeriksaan dalam dan
HPHT: 21 April 2017 penunjang
TTP : -
Riwayat menstruasi: teratur, 28 hari; Pemeriksaan penunjang (USG):
lama 5-6 hari; nyeri saat haid; keputihan Masa kistik unilokuler atau multilokuler
(-) Tidak didapatkan pertumbuhan papilifer
Riwayat KB : (-) maupun neovaskularisasi
RPD : HT (-), DM (-), Asma (-)
RPK: HT (-), DM (-), Asma (-) Terapi:
Riw Operasi : - Observasi: dilakukan pada kista dengan
Gol darah : O ukuran kurang dari 7 cm.
PEMERIKSAAN FISIK: Operatif: bila ukuran kista lebih dari 7 cm,
atau kista mengalami puntiran, atau kista
Keadaan Umum : baik rupture, atau kista mengalami infeksi.
Kesadaran : CM Dilakukan kistektomi, ovarektomi, atau
TTV :T: 110 / 80 mmHg salpingo ovarektomi
R: 20x/menit
N: 100x/menit
S: 36, 2C
Kepala: Conjuctiva anemis --+
Sklera ikterik -/-
Leher : KGB tidak teraba membesar
Thorax : Cor : BJM S1S2, Murmur (-)
Pulmo: VBS ka=ki, Rh -/- , Wh -/-
Abdomen : nyeri tekan (+)
Ekstremitas: oedem -/-, CRT <2 ,akral
hangat, turgor baik
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hematologi Rutin
- Hb 13,1 gr%
- Ht 37
- Leukosit 12350
- Trombosit 194.000
- Eritrosit 4,6 jt
- BT 1,30 menit
- CT 7,00 menit
- SGOT 19
- SGPT 22
- Kreatinin 0,49
- eGFR 108
- GDS 108
- Ureum 25,6
- Na 132
- K 3,4
- Cl 87
- Test pack (-)
Urinalisis Rutin : TAK
USG
Adanya gambaran torsio kista ovarium
6. Nama Pasien : Ny. Widaningsih
Usia : 28 tahun
DPJP : dr. Arief Budiono, Sp. OG
Diagnosis masuk : G2P1A0 gravida 34-35 minggu + Premature kontraksi
Diagnosis akhir : G2P1A0 gravida 34-35 minggu + Premature kontraksi

Anamnesis : Prematur Kontraksi atau Persalinan Palsu adalah


kontraksi yang di alami dapat sangat tidak
Pasien G2P1A0 datang dengan keluhan nyaman atau berdurasi lebih lama, sehingga
mulas. Mulas dirasakan semakin kuat dan memberi kesan bahwa persalinan telah di mulai.
sering namun tidak seperti melahirkan . Dan lain pihak berulangnya episode persalinan
nyeri (-), bercak darah (-), ketubah utuh palsu dapat menandakan gangguan janin dan
perlunya pelahiran dini untuk menghindari
HPHT: September 2016
kematian janin.
TTP : Juni 2017
Riwayat menstruasi: teratur, 28 hari;
lama 5-7 hari Kontraksi palsu atau kontraksi Braxton Hicks
Riwayat ANC : ke dokter kandungan, merupakan kondisi menegangnya otot-otot rahim
teratur yang membuat otot perut ikut mengencang
Riwayat KB : IUD bahkan terasa keras jika disentuh. kondisi tersebut
RPD : HT (-), DM (-), Asma (-) diikuti dengan perasaan nyeri pada perut yang
kemudian menjalar ke tubuh bagian bawah.
RPK: HT (-), DM (-), Asma (-)
Biasanya kondisi ini hanya berlangsung selama 1-
Riw Operasi : -
2 menit saja.
Gol darah : A
PEMERIKSAAN FISIK:
Keadaan Umum : baik
Kesadaran : CM
TTV :T: 110 / 70 mmHg
R: 20x/menit
N: 80x/menit
S: 36,5C
Kepala: Conjuctiva anemis -/-
Sklera ikterik -/-
Leher : KGB tidak teraba membesar
Thorax : Cor : BJM S1S2, Murmur (-)
Pulmo: VBS ka=ki, Rh -/- , Wh -/-
Abdomen : cembung gravid, nyeri tekan (-)
Ekstremitas: oedem -/-, CRT <2 ,akral
hangat, turgor baik

STATUS OBSTETRIKUS

Pemeriksaan luar : tidak dilakukan


Pemeriksaan dalam : tidak dilakukan

Status Ginekologi :
TFU 28 cm
Leopold 1: bokong
Leopold 2: memanjang, PuKi
Leopold 3: kepala
Leopold 4: konvergen

PEMERIKSAAN LAB
Hematologi rutin

Hb 11,5
Ht 35
Leukosit 11610
Trombosit 237000
Eritrosit 4,0 juta
MCV 89 fl
MCH 29 pg/mL
MCHC 33 g/dL
GDS 79 mg/dL
Terapi
a. Kalmetason 3 ampul iv/6 jam
b. Cefadroxil 3x1 tab

Pembahasan :
Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik diatas, Pasien G2P1A0 gravida 34-35 minggu dengan
keluhan mulas yang dirasakan semakin kuat dan sering namun tidak seperti melahirkan .
Nyeri (-), bercak darah (-), ketubah utuh menandakan suatu premature kontraksi. Tindakan yang
dilakukan pada pasien ini adalah observasi TTV, obat untuk pematangan paru dan antibiotik.
7. Nama : Ny. Cucu Handayani
Usia : 44 tahun
DPJP : dr. Erik Dwikurnia Saiman, Sp.OG
Diagnosis Masuk : G3P2A0 gravida 40-41 minggu
Diagnosis Keluar : P3A0 partus maturus dengan SC a/i gagal oksitosin drip

Pembahasan

Seorang pasien G3P2A0 gravida 40-41 Bekas SC bukan merupakan indikasi mutlak
minggu datang dengan keluhan mulas. untuk persalinan SC berikutnya, namun untuk
Mulas dirasakan sejak 11 jam SMRS. Mulas dapat mengetahui tingkat keberhasilan
dirasakan hilang timbul dan masih jarang persalinan per vaginam, perlu dilakukan
Kontraksi dirasakan kurang kuat. Nyeri (-), penghitungan skor VBAC (vaginal birth after
bercak darah (-), ketuban utuh. caesarean section). Adapun hal-hal yang
BAB & BAK dalam batas normal
dinilai dengan VBAC adalah sebagai berikut:
RPD : -
RPK : - - Usia ibu < 40 tahun
R. Operasi : - - Ya (+2)
R. KB : IUD - Tidak (0)
Golongan darah : B
Keadaan Umum : Baik - Riwayat persalinan pervaginam
Kesan Sakit : Ringan
sebelumnya
Kesadaran : Compos mentis
- Persalinan PV sebelum dan sesudah
TTV :
T : 130/80 mmHg R : 20 x/menit SC pertama (+4)
N : 88x/menit S : 36,5C - Persalinan PV setelah SC pertama
- Kepala : conjunctiva anemis -/-,
(+2)
sklera ikterik -/- - Persalinan PV sebelum SC pertama
- Leher : KGB Tidak teraba
(+1)
membesar, tiroid tidak - Tidak pernah PV (0)
- Alasan SC selain PTM
membesar, JVP 5+2 cmH2O
- Ya (+1)
- Thorax : Pulmo : VBS +/+, kanan =
- Tidak (0)
kiri, Rh -/-, Wh -/- - Penipisan serviks saat masuk
Cor : BJ murni, murmur - - > 75% (+2)
- Abdomen : datar, nyeri tekan -, - 25-75% (+1)
- <25% (0)
bising usus + normal, hepar lien tidak
- Pembukaan > 4 cm saat masuk
teraba, massa - - Ya (+1)
- Estremitas : oedem -/-, akral dingin, - Tidak (0)
CRT <2 detik
Indikasi Sectio Cesarea:
Status obstetrikus : 1. CPD (Cephalo-Pelvic-Disproportion)
Pemeriksaan luar : 2. Uterine dysfunction, inertia, inability
Leopold 1
of cervix to dilate
TFU: 32cm 3. Neoplasm obstructing birth canal or
Bagian di fundus: Bokong
pelvis
Leopold 2 4. Malposition and malpresentation
5. Previous uterine surgery (cesarean
Letak janin: Memanjang
delivery, myomectomy, hystereotomy)
PuKa
or cervical surgery
Leopold 3
6. Complete or partial placenta previa
7. Premature separation of the placenta
Kepala 8. Prolapse of the umbilical cord
Leopold 4 9. Fetal distress

Konvergen

Pemeriksaan dalam: tidak dilakukan.


Pemeriksaan Lab:

Hb 12,1
Ht 38
Leukosit 10690
Trombosit 298000
Eritrosit 4,7 juta
MCV 80 fl
MCH 26 pg/mL
MCHC 32 g/dL
GDS 57 mg/dL
BT 1,30 menit
CT 7,30 menit

Penatalaksanaan:

Ceftriaxone 1x2 gr
Asam tranexamat 3x1 amp
Kaltrofen sup.
Ondancenron amp 3x4 mg
Ketorolac amp 3x30 mg

Anamnesis, diagnosis dan penatalaksanaan sudah tepat karena sesuai dengan teori. Pada
pasien ini sudah dilakukan penanganan secara aktif yaitu dilakukan induksi namun tidak
berhasil sehingga dilakukan SCTP.
8. Nama : Ny. Aning Suningsih
Usia : 38 tahun
DPJP : dr. Robiyanto, Sp.OG
Diagnosis Masuk : P3A0 post partus spontan + Hemorragic Post Partum
Diagnosis Keluar : P3A0 post partus spontan + Hemorragic Post Partum

Pembahasan

Pasien P3A0 gravid 32-33 minggu Definisi:


berusia 30 tahun datang dengan Perdarahan postpartum adalah perdarahan
keluhan keluar cairan dari jalan lahir pervaginam 500 cc atau lebih setelah kala III selesai
(setelah plasenta lahir)
sejak 2 jam SMRS karena plasenta
Etiologi :
sukar keluar. Tidak ada gangguan
BAB dan BAK - Atonia 50-60 %
- Retensio Plasenta 16-17 %
- Sisa Plasenta 23-24 %
RPD : -
- Laserasi Jalan Lahir 4-5 %
- Kealinan Darah 0,5-0,8 %
RPK : -
Klasifikasi :
R. Operasi : -
- Perdarahan Postpartum Primer yaitu
perdarahan pasca persalinan yang terjadi
R. KB : pil dalam 24 jam pertama kelahiran. Penyebab
utama perdarahan postpartum primer adalah
Riwayat menstruasi :
atonia uteri, retensio plasenta, sisa plasenta,
robekan jalan lahir dan inversio uteri.
Haid : teratur, Siklus : 28-30 hari, Terbanyak dalam 2 jam pertama.
lamanya : 7 hari - Perdarahan Postpartum Sekunder yaitu
perdarahan pascapersalinan yang terjadi
setelah 24 jam pertama kelahiran. Perdarahan
Nyeri Haid : tidak ada
postpartum sekunder disebabkan oleh infeksi,
penyusutan rahim yang tidak baik, atau sisa
Keputihan : tidak ada plasenta yang tertinggal.
Status Generalis Gejala Klinik:
Seorang wanita hamil yang sehat dapat kehilangan
Keadaan Umum : Baik darah sebanyak 10% dari volume total tanpa
mengalami gejala-gejala klinik, gejala-gejala baru
Kesadaran : Compos Mentis tampak pada kehilangan darah sebanyak 20%. Gejala
klinik berupa perdarahan pervaginam yang terus-
Tanda Vital : menerus setelah bayi lahir. Kehilangan banyak darah
tersebut menimbulkan tanda-tanda syok yaitu
Tekanan Darah : 110/60
penderita pucat, tekanan darah rendah, denyut nadi
mmHg cepat dan kecil, ekstrimitas dingin, dan lain-lain
Nadi : 84 x/menit, Reguler
Respirasi : 20x/menit
Suhu : 36,40C Diagnosis:

Status generalis:
Kepala : conjunctiva anemis +/
+, sklera ikterik -/-
Leher : KGB Tidak teraba
membesar, tiroid tidak
membesar, JVP 5+2 cmH2O
Thorax : Pulmo : VBS +/+,
kanan = kiri, Rh -/-, Wh -/-
Cor : BJ murni,
murmur -
Abdomen : datar, nyeri tekan -,
bising usus + normal, hepar
lien tidak teraba, massa -
Estremitas : oedem -/-, akral
dingin, CRT <2 detik
Pemeriksaan Lab:

Hb 10,6 g/dL
Ht 30 %
Leukosit 16130
Trombosit 217000
Eritrosit 3,2 juta
MCV 93 fl
MCH 33 pg/mL
MCHC 35 g/dL
Penatalaksanaan
Metergine 3x1 tab p.o
Pemberian antibiotik p.o
Amoxicilin tab 3x1 tab

Faktor Risiko:
- Usia <20, >35
- Pendidikan rendah
- Paritas >3
- Jarak kehamilan <2 tahun
- Riwayat persalinan buruk sebelumnya
- Anemia <11 gr%
Patofisiologi:
Perdarahan berasal dari tempat plasenta, bila tonus
uterus tidak ada, kontraksi uterus lemah, maka anteri-
Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik diatas, diagnosis P3A0 dengan perdarahan post
partum. Tindakan yang dilakukan pada pasien ini adalah pengeluaran plasenta untuk
menghentikan perdarahan.
9. Nama : Ny. Shelly Martini
Usia : 30 tahun
DPJP : dr. Arief Budiono, Sp. OG
Diagnosis Masuk : G5P3A1 gravida 35-36 minggu+ KPSW+ oligohidramnion+ bekas SC
Diagnosis Keluar : P4A1 gravida 35-36 minggu+ KPSW+ oligohidramnion+ bekas SC

Pembahasan

Pasien G5P3A1 usia 30 tahun datang Oligohidramnion adalah terdapatnya cairan amnion
kurang dari normal; dinyatakan sebagai 500 ml atau
dengan keluhan keluar cairan dari
kurang saat kehamilan cukup bulan dan lebih sedikit
jalan lahir sejak 1 minggu yang lalu , pada kehamilan dini.
Etiologi
cairan tidak terlalu banyak tapi sampai
Etiologi dari janin ; faktor kromosom, faktor
ganti celana dalam, tidak berbau. kongenital, pertumbuhan janin terhambat,
kehamilan serotin, ketuban pecah dini dan
Mulas -, pergerakan janin +, keluarnya
kematian janin.
cairan tidak dapat ditahan. Lendir -, Etiologi dari plasenta ; abrupsi plasenta dan
darah -, pusing -, nyeri ulu hati -, sindroma transfusi antar kembar (Twin-to-
twin transfusion syndrome) atau kembar
pandangan kabur - monokorionik.
Riwayat menstruasi : Etiologi dari ibu ; dehidrasi, insufisiensi
HPHT : 25 Juli 2016 uteroplasental, hipertensi, preeklamsia,
diabetes dan hipoksia kronis.
Haid Teratur, siklus 28-30 hari,
lamanya 5-6 hari Pengaruh obat-obatan ; indometasin dan
ACE inhibitor.
Nyeri saat haid
Terdapat keputihan, warna
Faktor Risiko :
kekuningan, gatal, tidak berbau
Anomaly kongenital
Riwayat KB : (-)
Retardasi pertumbuhan janin intrauterine
RPD : HT (-), DM (-), Asma (-)
KPD (24-26 minggu)
RPK: HT (-), DM (-), Asma (-)
Sindrom pasca maturitas
Riw Operasi : -
Gol darah : O
Keadaan Umum : Baik Manifestasi Klinis :
Uterus lebih kecil dari usia kehamilan dan
Kesadaran : Compos Mentis
tidak ada ballotemen
Tanda Vital : Ibu merasa nyeri perut setiap pergerakan
anak
Tekanan Darah : 100/60 Sering berakhir dengan partus prematurus
Bunyi jantung anak sudah terdengar mulai
mmHg
bulan kelima dan terdengar lebih jelas
Nadi : 88 x/menit, Reguler Persalinan lebih lama dari biasanya
Respirasi : 20 x/menit Sewaktu his akan sakit sekali
Bila air ketuban pecah, air ketuban sedikit
Suhu : 36,1 C sekali bahkan tidak ada yang keluar.

Diagnosis & Pemeriksaan


Status Generalis Pemeriksaan dengan USG dapat mendiagnosa
apakah cairan ketuban terlalu sedikit atau terlalu
Kepala : conjunctiva anemis -/-, sklera banyak. Umumnya para doketer akan mengukur
ketinggian cairan dalam 4 kuadran di dalam rahim
ikterik -/-
dan menjumlahkannya. Metode ini dikenal dengan
nama Amniotic Fluid Index (AFI). Jika ketinggian
Leher : KGB Tidak teraba amniotic fluid (cairan ketuban) yang di ukur kurang
membesar, tiroid tidak membesar, dari 5 cm, calon ibu tersebut didiagnosa mengalami
oligohydramnion. Jika jumlah cairan tersebut lebih
JVP 5+2 cmH2O dari 25 cm, ia di diagnosa mengalami
Thorax : Pulmo : VBS +/+, kanan = poluhydramnion
kiri, Rh -/-, Wh -/- Prognosis :
Cor : BJ murni, murmur - Semakin awal oligohidramnion terjadi pada
Abdomen : datar, nyeri tekan -,
kehamilan, semakin buruk prognosisnya
bising usus + normal, hepar lien
tidak teraba, massa Jika terjadi pada trimester II, 80-90% mortalitas
Estremitas : oedem -/-, akral dingin,
CRT <2 detik

Status obstetrikus :
Pemeriksaan luar :
Leopold 1
TFU: 28 cm
Bagian di fundus: Bokong
Leopold 2

Letak janin: Memanjang


PuKa
Leopold 3

Kepala
Leopold 4
Pemeriksaan Lab:

Hb 11,7 g/dL
Ht 32 %
Leukosit 14220
Trombosit 273000
Eritrosit 3,3 juta
MCV 96 fl
MCH 35 pg/mL
MCHC 36 g/dL
BT 1,30 menit
CT 7,30 menit

Penatalaksanaan
Kalmetason inj 3 amp iv/6 jam
Amoxicil inj 2 gr
Ceftriaxone 3x1 gram
Ketorolak amp 4x30 mg

Dari anamenis didapatkan pasien G5P3A1 datang dengan keluhan keluar ciran dari jalan
lahir, tidak terlalu banyak, tidak dapat ditahan, tidak berbau, tidak ada mulas, pergerakan
janin masih dirasakan. Lendir, darah, pusing, nyeri ulu hati, pandangan kabur tidak
dikeluhkan pasien.
10. Nama : Ny. Euis Nurhabibah
Usia : 29 tahun
DPJP : dr. Robiyanto, Sp. OG
Diagnosis Masuk : G3P2A0 gravida 36-37 minggu+ KPSW+ oligohidramnion
Diagnosis Keluar : P3A0 gravida 36-37 minggu+ KPSW+ oligohidramnion

Pembahasan

Pasien G3P2A0 usia 29 tahun datang Oligohidramnion adalah terdapatnya cairan amnion
kurang dari normal; dinyatakan sebagai 500 ml atau
dengan keluhan keluar cairan dari
kurang saat kehamilan cukup bulan dan lebih sedikit
jalan lahir sejak 2 hari yang lalu , pada kehamilan dini.
Etiologi
cairan tidak terlalu banyak tapi sampai
Etiologi dari janin ; faktor kromosom, faktor
ganti celana dalam, tidak berbau. kongenital, pertumbuhan janin terhambat,
kehamilan serotin, ketuban pecah dini dan
Mulas -, pergerakan janin +, keluarnya
kematian janin.
cairan tidak dapat ditahan. Lendir -, Etiologi dari plasenta ; abrupsi plasenta dan
darah -, pusing -, nyeri ulu hati -, sindroma transfusi antar kembar (Twin-to-
twin transfusion syndrome) atau kembar
pandangan kabur - monokorionik.
Riwayat menstruasi : Etiologi dari ibu ; dehidrasi, insufisiensi
HPHT : 1 Juni 2016 uteroplasental, hipertensi, preeklamsia,
diabetes dan hipoksia kronis.
Haid Teratur, siklus 28-30 hari,
lamanya 5-6 hari Pengaruh obat-obatan ; indometasin dan
ACE inhibitor.
Nyeri saat haid
Tidak terdapat keputihan
Faktor Risiko :
Riwayat KB : (+) suntik 3 bulan
Anomaly kongenital
RPD : HT (-), DM (-), Asma (-)
Retardasi pertumbuhan janin intrauterine
RPK: HT (-), DM (-), Asma (-)
KPD (24-26 minggu)
Riw Operasi : -
Sindrom pasca maturitas
Gol darah : O
Keadaan Umum : Baik
Manifestasi Klinis :
Kesadaran : Compos Mentis
Uterus lebih kecil dari usia kehamilan dan
Tanda Vital : tidak ada ballotemen
Ibu merasa nyeri perut setiap pergerakan
Tekanan Darah : 120/80 anak
Sering berakhir dengan partus prematurus
mmHg
Bunyi jantung anak sudah terdengar mulai
Nadi : 88 x/menit, Reguler bulan kelima dan terdengar lebih jelas
Respirasi : 20 x/menit Persalinan lebih lama dari biasanya
Sewaktu his akan sakit sekali
Suhu : 36,5 C Bila air ketuban pecah, air ketuban sedikit
sekali bahkan tidak ada yang keluar.

Status Generalis Diagnosis & Pemeriksaan


Pemeriksaan dengan USG dapat mendiagnosa
Kepala : conjunctiva anemis -/-, sklera apakah cairan ketuban terlalu sedikit atau terlalu
banyak. Umumnya para doketer akan mengukur
ikterik -/-
ketinggian cairan dalam 4 kuadran di dalam rahim
dan menjumlahkannya. Metode ini dikenal dengan
Leher : KGB Tidak teraba nama Amniotic Fluid Index (AFI). Jika ketinggian
membesar, tiroid tidak membesar, amniotic fluid (cairan ketuban) yang di ukur kurang
dari 5 cm, calon ibu tersebut didiagnosa mengalami
JVP 5+2 cmH2O oligohydramnion. Jika jumlah cairan tersebut lebih
Thorax : Pulmo : VBS +/+, kanan = dari 25 cm, ia di diagnosa mengalami
kiri, Rh -/-, Wh -/- poluhydramnion
Cor : BJ murni, murmur - Prognosis :
Abdomen : datar, nyeri tekan -, Semakin awal oligohidramnion terjadi pada

bising usus + normal, hepar lien kehamilan, semakin buruk prognosisnya


tidak teraba, massa
Estremitas : oedem -/-, akral dingin, Jika terjadi pada trimester II, 80-90% mortalitas
CRT <2 detik

Status obstetrikus :
Pemeriksaan luar :
Leopold 1
TFU: 29 cm
Bagian di fundus: Bokong
Leopold 2

Letak janin: Memanjang


PuKi
Leopold 3

Kepala
Leopold 4
Penatalaksanaan
Ceftriaxone 2 gr stat
Kalmetason inj 2 amp stat
Mefinal 3x1 p.o

Dari anamenis didapatkan pasien G3P2A0 datang dengan keluhan keluar cairan dari jalan
lahir, tidak terlalu banyak, tidak dapat ditahan, tidak berbau, tidak ada mulas, pergerakan
janin masih dirasakan. Lendir, darah, pusing, nyeri ulu hati, pandangan kabur tidak
dikeluhkan pasien.
11. Nama : Ny. Lisna
Usia : 24 tahun
DPJP : dr.Erik D. Saiman, Sp.OG
Diagnosis Masuk : G2P1A0 gravida 8=9 minggu HEG grade II + Asthma
Bronkiale
Diagnosis Keluar : G2P1A0 gravida 8-9 minggu HEG grade II + Asthma
Bronkiale

Pembahasan
Seorang pasien G2P1A0 mengaku Hiperemesis gravidarum Muntah yang terjadi pada
hamil 2 bulan datang dengan awal kehamilan sampai umur kehamilan 20 minggu
tidak berhubungan dengan kondisi medis lain, seperti
keluhan mual, muntah dan sesak
cholestasis, hepatitis,dan sebagainya.
nafas sejak 3 hari yang lalu. Muntah
Etiologi :
berupa sisa makanan
BAB & BAK dalam batas normal hormon estrogen dan progesterone
RPD : Asthma (+) hormone HCG
RPK : -
tekanan intragastrik
R. Operasi : -
R. KB : Suntik 3 bulan setelah kompetensi sfingter pilori
Gastroesophageal refluks ( 80% kasus)
melahirkan anak pertama tekanan sfingter esophageal bagian bawah
Golongan darah : O
Keadaan Umum : Sedang Insidensi :
Kesan Sakit : Ringan
Kesadaran : Compos mentis USA 5 dari 1000 kehamilan
TTV : >> negara dengan industri maju & daerah
T : 100/80 mmHg R : 20 perkotaan drpd daerah pedesaan
x/menit Faktor predisposisi dan factor lain
N : 80x/menit S :
Predisposisi
36,5C
Primigravida
- Kepala : conjunctiva anemis -/-,
Mola hidatidosa
sklera ikterik -/- Kehamilan ganda.
- Leher : KGB Tidak teraba Organik
membesar, tiroid tidak membesar, masuknya vili khorialis
JVP 5+2 cmH2O perubahan metabolik
- Thorax : Pulmo : VBS +/+, kanan resistensi ibu tehadap perubahan
Alergi
= kiri, Rh -/-, Wh -/-
Cor : BJ murni, Faktor Psikologik

murmur -
- Abdomen : datar, nyeri tekan -,
bising usus + normal, hepar lien
dbn, massa -
- Ekstremitas : oedem -/-, akral
dingin, CRT <2 detik
STATUS OBSTETRIKUS
hCG , estrogen Gangguan GIT
Gangguan pada CTZ
Pemeriksaan luar : tidak
dilakukan
Psikis
Pemeriksaan dalam : tidak
dilakukan Mual dan Muntah

Cadangan
Gangguan karbohidrat
keseimbangan dan lemak habis
Dehidrasi
elektrolit

Na & Cl Cl urin ketosis


darah

hemokonsentrasi

Tingkatan Hiperemesis Gravidarum :


Tingkat I (Ringan)
Muntah terus KU terpengaruh, N
100 x/mnt,
turgor
Tingkat II (Sedang)
Suhu kdg , mata sdkt ikterik, Ht,
oligouria, konstipasi, aseton tercium
dlm hawa pernapasa
Tingkat III (Berat)
Kesadaran (somnolen - koma), muntah berhenti,
ensefalopati Wernicke
Diagnosis :
Amenore disertai muntah hebat, pekerjaan
sehari-hari terganggu
Fungsi vital : nadi 100 kali per menit, tekanan
darah (keadaan berat, subfebril, dan
gangguan kesadaran)
Fisik : dehidrasi, kulit pucat, ikterus, sianosis,
berat badan menurun, uterus membesar sesuai
umur kehamilan

Penatalaksanaan :
Hiperemesis berat dianjurkan dirawat diRS, Stop
makanan per oral 24-48 jam
Infus glukosa 10% / 5% : RL = 2:1
40 tetes per menit
Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik diatas, diagnosis G1PoAo gravida 8-9 minggu dengan
hiperemesis gravidarum grade II dikatakan sudah tepat karena menurut teori dikatakan
hiperemesis gravidarum terjadi pada Trimester I kehamilan, pada pasien ini tepat karena
usia kehamilan 8-9 minggu, Tindakan yang dilakukan pada pasien ini adalah observasi TTV,
obat antiemetik dan follow-up pasien apakah terdapat perbaikan setelah diberikan terapi.
12. Nama : Ny. Darsih
Usia : 42 tahun
DPJP : Dr. dr. Roni Rowawi, Sp.OG(K)
Diagnosis Masuk : Kista Ovarium Sinistra
Diagnosis Keluar : Post Laparotomy Kista Ovarium Sinistra

Pembahasan
Pasien 42 tahun mengeluh nyeri perut bagian kiri Kista ovarium adalah massa kistik
bawah sejak 1 tahun yang lalu.. Keluhan dirasakan yang berasal dari ovarium dan
memberat 1 minggu terakhir sehingga datang ke bersifat jinak.
rumah sakit. Adanya massa kistik pada adneksa
Riwayat menstruasi :
didapatkan melalui pemeriksaan
Haid : tidak teratur, Siklus : 24-32 hari, lamanya : 3-4
dalam dan penunjang.
hari
Nyeri Haid : Selama Haid
Perawatan rumah sakit bila
Keputihan : tidak ada
a. kista direncanakan untuk diangkat
Status Generalis
melalui operasi.
Keadaan Umum : Baik
b. kista mengalami puntiran, ruptur,
Kesadaran : Compos Mentis
atau terinfeksi.
Tanda Vital :
Tekanan Darah : 120/80 mmHg
Nadi : 80x/menit, Reguler
Respirasi : 18x/menit
Suhu : 36,3 C
Abdomen :
Inspeksi : Datar
Auskultasi : BU + normal
Perkusi : timpani
Palpasi : hepar lien normal
Pemeriksaan Penunjang
- USG
Dari anamesis didapatkan pasien mengeluh nyeri perut bagian kiri bawah sejak 1 tahun yang
lalu. Pasien juga memiliki siklus menstruasi yang tidak teratur.

13. Nama : Ny. Susi Susanti


Usia : 33 tahun
DPJP : dr. Arief Budiono, SpOG
Diagnosis Masuk :G2P1A0 gr 36-37 mgg + oligohydroamnion
Diagnosis Keluar : P2A0 partus prematurus post SC a/i Oligohyramnion

Pembahasan
Pasien G2P1A0 usia 33 tahun Oligohidramnion adalah terdapatnya cairan amnion kurang
dari normal; dinyatakan sebagai 500 ml atau kurang saat
datang dengan keluhan keluar
kehamilan cukup bulan dan lebih sedikit pada kehamilan
cairan dari jalan lahir sejak 2 dini.
Etiologi
hari yang lalu , cairan tidak
Etiologi dari janin ; faktor kromosom, faktor
terlalu banyak tapi sampai kongenital, pertumbuhan janin terhambat, kehamilan
serotin, ketuban pecah dini dan kematian janin.
ganti celana dalam, tidak
Etiologi dari plasenta ; abrupsi plasenta dan
berbau. Mulas + , pergerakan sindroma transfusi antar kembar (Twin-to-twin
janin +, keluarnya cairan tidak transfusion syndrome) atau kembar monokorionik.
Etiologi dari ibu ; dehidrasi, insufisiensi
dapat ditahan. Lendir -, darah uteroplasental, hipertensi, preeklamsia, diabetes dan
-, pusing -, nyeri ulu hati -, hipoksia kronis.
Pengaruh obat-obatan ; indometasin dan ACE
pandangan kabur - inhibitor.
Riwayat menstruasi :
HPHT : 2 Oktober 2016 Faktor Risiko :
Anomaly kongenital
Haid Teratur, siklus 28-30 hari, Retardasi pertumbuhan janin intrauterine
lamanya 5-6 hari KPD (24-26 minggu)
Sindrom pasca maturitas
Nyeri saat haid
Terdapat keputihan, warna Manifestasi Klinis :
Uterus lebih kecil dari usia kehamilan dan tidak ada
kekuningan, gatal, tidak
ballotemen
berbau
Keadaan Umum : Baik, Ibu merasa nyeri perut setiap pergerakan anak
Kesadaran : Compos mentis Sering berakhir dengan partus prematurus
Bunyi jantung anak sudah terdengar mulai bulan
Tanda Vital : kelima dan terdengar lebih jelas
Tensi : 110/70 mmHg Persalinan lebih lama dari biasanya
Sewaktu his akan sakit sekali
Nadi : 80 x/menit Bila air ketuban pecah, air ketuban sedikit sekali
Suhu : 36,6C bahkan tidak ada yang keluar.
Diagnosis & Pemeriksaan
Respirasi : 20 x/menit Pemeriksaan dengan USG dapat mendiagnosa apakah
Status Generalis : DBN cairan ketuban terlalu sedikit atau terlalu banyak. Umumnya
para dokter akan mengukur ketinggian cairan dalam 4
Status Ginekologi : kuadran di dalam rahim dan menjumlahkannya. Metode ini
TFU 36 cm dikenal dengan nama Amniotic Fluid Index (AFI). Jika
ketinggian amniotic fluid (cairan ketuban) yang di ukur
L1: bokong kurang dari 5 cm, calon ibu tersebut didiagnosa mengalami
L2: puka oligohydramnion. Jika jumlah cairan tersebut lebih dari 25
cm, ia di diagnosa mengalami poluhydramnion
L3: kepala Prognosis :
L4: konvergen Semakinawaloligohidramnionterjadipadakehamilan,
BJA: 11-12-11
semakinburukprognosisnya
TBBA 3465gram
Tindakan : Jikaterjadipada trimester II, 80-90% mortalitas
Rawat inap
Infus RL 2L/24 jam
SCTP
Clavamox 2gr IV
Kalmetasone 3amp IV
Ceftriaxone 3x1gr IV
Kaltrofen 3x1supp
Scelto 4x1amp IV
Tramal 4x50mg PO
Gastrul 4tab PR
Gastrul 2x0.5tab SL
Oxytocin 2gr drip inf
Dari anamenis didapatkan pasien G2P1A0 datang dengan keluhan keluar ciran dari jalan
lahir, tidak terlalu banyak, tidak dapat ditahan, tidak berbau, ada mulas, pergerakan janin
masih dirasakan. Lendir, darah, pusing, nyeri ulu hati, pandangan kabur tidak dikeluhkan
pasien.
14. Nama Pasien : Nn. Tutut Sumartini
Usia : 60 tahun
DPJP : dr. Robiyanto, Sp. OG
Diagnosis masuk : Myoma Uteri dan kista ovarium
Diagnosis akhir : Post HTSOB a/i Myoma Uteri dan kista ovarium

Anamnesis : Myoma Uteri adalah tumor jinak dari unsur otot


Pasien G0P0A0 datang dengan keluhan polos dinding rahim.
mual, muntah dan nyeri pada perut bawah.
Keluhan sudah dialami sejak 1 bulan. Diagnosis:
- RPD : HT (+), DM (-), Asma (-) Mungkin tanpa gejala
- RPK: HT (+), DM (-), Asma (-)
- Mungkin ada gangguan haid
- Riw Operasi : - - Gangguan akibat penekanan tumor:
- Riw. Menstruasi : menopause (+)
- Gol darah : O polakisuri, retensi urin, konstipasi.
Pemeriksaan ginekologis :
PEMERIKSAAN FISIK:
Pembesaran uterus, konsistensi kenyal padat,
Keadaan Umum : Sedang
Kesadaran : CM berbatas jelas, permukaan berbenjol, umumnya
TTV :T: 130 / 80 mmHg multipel.
R: 20x/menit USG : massa homogen yang berasal dari dinding
N: 86x/menit rahim.
S: 36C
Kepala: Conjuctiva anemis -/- Terapi:
Sklera ikterik -/- Observasi bila ukuran mioma uteri kurang atau
Leher : KGB tidak teraba membesar sama dengan ukuran gravida 12 minggu.
Thorax : Cor : BJM S1S2, Murmur (-) Operatif bila :
Pulmo: VBS ka=ki, Rh -/- , Wh -/- 1. ukuran > gravida 12 minggu, atau ada penyulit
Abdomen :cembung, teraba massa dengan seperti perdarahan, torsi, infeksi, degenerasi,
konsistensi kenyal di perut bawah , nyeri
infertilitass, gejala penekanan akibat tumor.
tekan (+)
2. dilakukan miomektomi bila fungsi reproduksi
Ekstremitas: oedem -/-, CRT <2 ,akral
hangat, turgor baik masih diinginkan, dilakukan histerektomi jika
STATUS OBSTETRIKUS pertumbuhannya cepat atau tidak diperlukan lagi
Pemeriksaan luar : tidak dilakukan fungsi reproduksi.
Pemeriksaan dalam : tidak dilakukan

Pemeriksaan Penunjang:
- USG

Pembahasan :
Pasien G0P0A0 datang dengan keluhan mual, muntah dan nyeri pada perut bawah. Keluhan
sudah dialami sejak 1 bulan. Hasil USG menunjukan mioma uteri dan kista ovarium.
15. Nama Pasien : Ny. Jajah Ratna Kadijah
Usia : 41 tahun
DPJP : dr. Arief Budiono, Sp. OG
Diagnosis masuk : G3P1A1 gravida 38-39 minggu + bekas SC
Diagnosis akhir : P2A1 partus maturus dengan SC a/i bekas SC + MOW

Anamnesis : Bekas SC bukan merupakan indikasi mutlak


Pasien G3P1A1 mengaku hamil 9 bulan untuk persalinan SC berikutnya, namun untuk
datang dengan rencana SC karena bekas SC dapat mengetahui tingkat keberhasilan persalinan
Darah yang keluar selalu disertai rasa mulas.
Nyeri (-), mual muntah (-). per vaginam, perlu dilakukan penghitungan skor
VBAC (vaginal birth after caesarean section).
RPD : HT (-), DM (-) Asthma (-)
RPK : - Adapun hal-hal yang dinilai dengan VBAC adalah
R. Operasi : SC
sebagai berikut:
R. KB : -
PEMERIKSAAN FISIK: - Usia ibu < 40 tahun
- Ya (+2)
Keadaan Umum : baik - Tidak (0)
Kesadaran : CM - Riwayat persalinan pervaginam
TTV :T: 120 / 80 mmHg sebelumnya
R: 20x/menit - Persalinan PV sebelum dan sesudah SC
N: 88x/menit
pertama (+4)
S: 36C - Persalinan PV setelah SC pertama (+2)
Kepala: Conjuctiva anemis -/- - Persalinan PV sebelum SC pertama
Sklera ikterik -/-
(+1)
Leher : KGB tidak teraba membesar - Tidak pernah PV (0)
Thorax : Cor : BJM S1S2, Murmur (-) - Alasan SC selain PTM
Pulmo: VBS ka=ki, Rh -/- , Wh -/- - Ya (+1)
Abdomen : cembung gravid, nyeri tekan (-) - Tidak (0)
Ekstremitas: oedem -/-, CRT <2 ,akral - Penipisan serviks saat masuk
hangat, turgor baik - > 75% (+2)
- 25-75% (+1)
Status Obstetrikus:
- <25% (0)
TFU 35 cm - Pembukaan > 4 cm saat masuk
- Ya (+1)
L1: bokong, lunak, <bundar, < melenting
- Tidak (0)
L2: memanjang
L3: presentasi kepala
Indikasi Sectio Cesarea:
L4: konvergen
11. CPD (Cephalo-Pelvic-Disproportion)
BJA: 11-12-11 12. Uterine dysfunction, inertia, inability of
TBBA 3400gram cervix to dilate
13. Neoplasm obstructing birth canal or pelvis
14. Malposition and malpresentation
15. Previous uterine surgery (cesarean
delivery, myomectomy, hystereotomy) or
cervical surgery
16. Complete or partial placenta previa
17. Premature separation of the placenta
18. Prolapse of the umbilical cord
Fetal distress

Pasien 41 tahun G3P1A1 hamil 38-39 minggu datang dengan rencana SC. Pasien memiliki luka
bekas SC, selain itu pasien juga telah berusia >40 tahun, kurang mendukung untuk persalinan
normal. Maka dilakukan SC a/I bekas SC sebelumnya.
16. Nama Pasien : Ny. Fifian Hayeni
Usia : 39 tahun
DPJP : dr. Arief Budiono, Sp. OG
Diagnosis masuk : G2P1A0 parturien Kala II Fase Aktif
Diagnosis akhir : P2A0 partus maturus spontan

Anamnesis : Definisi : Persalinan normal adalah proses


dimana bayi, plasenta keluar dari uterus ibu.
Pasien G2P1A0 datang dengan keluhan Persalinan normal adalah persalinan yang terjadi
mulas 4 jam SMRS, mulas dirasakan sering pada usia kehamian cukup bulan >37 minggu
1 jam SMRS, keluar darah dan cairan dari tanpa tanda penyulit.
jalan lahir.
Kala I
HPHT: 15 Agustus 2016
TTP : 22 Mei 2017 Kala I persalinan dimulai sejak terjadinya
Riwayat menstruasi: teratur, 28 hari; lama kontraksi uterus yang teratur (frekuansi dan
5-6 hari kekuatannya) hingga serviks membuka lengkap
Riwayat ANC : ke dokter kandungan (10cm).
Riwayat KB : suntik 3 bulan
RPD : HT (-), DM (-), Asma (-) Tanda dan gejala inpartu :
RPK: HT (-), DM (-), Asma (-)
4. Penipisan dan pembukaan serviks
Riw Operasi : -
Gol darah : B
PEMERIKSAAN FISIK: 5. Kontraksi uterus yang mengakibatkan
Keadaan Umum : baik perubahan serviks (frekuensi minimal 2x
Kesadaran : CM dalam 10 menit)
TTV :T: 110 / 80 mmHg 6. Cairan lendir bercampur darah melalui vagina
R: 20x/menit Kala I , dibagi dalam 2 fase:
N: 80x/menit
S: 36C Fase laten: berlangsung selama 8 jam.
Kepala: Conjuctiva anemis -/- Pembukaan terjadi sangat lambat sampai
Sklera ikterik -/- pembukaan 3 cm
Leher : KGB tidak teraba membesar
Fase aktif : dibagi dalam 3 fase lagi, yakni :
Thorax : Cor : BJM S1S2, Murmur (-)
Pulmo: VBS ka=ki, Rh -/- , Wh -/- a. Fase akselerasi.
Abdomen : cembung gravid, nyeri tekan (-)
Ekstremitas: oedem -/-, CRT <2 ,akral Dalam 2 jam pembukaan 3 cm 4 cm.
hangat, turgor baik
STATUS OBSTETRIKUS b. Fase dilatasi maksimal.
TFU 34 cm Dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung
Leopold 1: bokong cepat, dari 4 cm 9 cm
Leopold 2: memanjang, PuKi
c. Fase deselerasi.
Leopold 3: kepala
Dalam waktu 2 jam pembukaan dari 9 cm 10
Leopold 4: divergen cm.
Pemeriksaan Dalam KALA II
V/V : TAK
Portio : portio tipis lunak Dimulai ketika pembukaan serviks sudah
Pembukaan : 4cm lengkap(10cm) & diakhiri dgn lahirnya bayi.
Ketuban : -
KALA III
Presentasi : kepala dengan denominator
ubun kecil Dimulai dari lahirnya bayi dan berakhir dengan
Hodge : II keluar plasenta dan selaput ketuban.
Biasanya plasenta lepas dlm 6 - 15 mnt stlh bayi
lahir.
Tanda-tanda Pelepasan Plasenta :
4 perubahan bentuk dan tinggi uterus
5 Tali pusat memanjang
6 Sering ada pancaran darah mendadak.
Manajemen aktif Kala III
Pemberian suntikan oksitosin dalam 1
menit pertama setelah bayi lahir
Melakukan penegangan tali pusat
terkendali
Masase fundus uteri segera setelah
plasenta lahir

Kala IV :
Dimulai setelah lahirnya plasenta dan berakhir 2
jam setelah itu.

Penatalaksanaan :

Persalinan spontan

Anamnesis, diagnosis dan penatalaksanaan sudah tepat karena sesuai dengan teori. Pada pasien
ini sudah dilakukan penanganan secara aktif dan tidak dilakukan induksi maupun episiotomy
pada saat proses persalinan.

17. Nama : Ny. Bunga


Usia : 16 tahun
DPJP : dr.AriefBudiono, Sp.OG
Diagnosis Masuk : G1P0A0 gravida 28-29 minggu + KPSW
Diagnosis Keluar : P1A0 partus prematurus dengan SC a/i letak kaki +
KPSW

Seorang pasien G1P0A0 datang dengan Ketuban Pecah Sebelum Waktunya dapat dibagi
menjadi 2, yaitu Premature Rupture of Membranes
keluhan keluar cairan jernih dari jalan
(PROM) dan Preterm Premature Rupture of
lahir, tidak bisa berhenti 7 jam SMRS. Membrane (PPROM). Premature rupture of
membranes (PROM) merupakan ruptur pada
Darah (-), Mulas (-).
membran bayi sebelum dimulainya waktu
kelahiran. Pada sebagian besar kasus, PROM
BAB & BAK dalam batas normal
terjadi dekat dengan waktu kematangan bayi, akan
RPD : -
tetapi jika membran pecah sebelum kehamilan 37
RPK : -
minggu, maka kejaian ini disebut sebagai PPROM.
R. Operasi : -
R. KB : Dalam penelitian, sebagai faktor etiologi
Golongan darah : B dari KPSW adalah bakteri yang menghasilkan
Keadaan Umum : Baik phospolipase A2, kolagenase, protease, dan
Kesan Sakit : Ringan perubahan pH. Pada sejumlah kasus, infeksi
Kesadaran : Compos mentis asending lokal dari vagina bertanggung jawab
TTV : terhadap melemah dan robeknya selaput ketuban.
T : 100/70 mmHg Pasien dengan kehamilan muda yang membawa
R : 20 x/menit (sebagai karier) satu atau lebih organisme yang
N : 80x/menit berkaitan dengan penyakit menular seksual
S : 36,5C memiliki peningkatan angka kejadian KPSW.
- Kepala : conjunctiva anemis -/-,
Etiologi tersering penyebab KPSW pada
sklera ikterik -/- minggu < 24 minggu adalah ukuran serviks yang
- Leher : KGB Tidak teraba pendek yaitu 25 mm pada pemeriksaan dengan
membesar, tiroid tidak USG transvaginal.

membesar, JVP 5+2 cmH2O Patofisiologi :


- Thorax : Pulmo : VBS +/+, kanan =
Secara garis besar membran / selaput janin
kiri, Rh -/-, Wh -/- terdiri dari amnion dan chorion. Lapisan amnion
Cor : BJ murni, murmur - terletak di sebelah dalam, lapisan ini walaupun
- Abdomen : datar, nyeri tekan -, lebih tipis namun lebih kuat daripada lapisan
bising usus + normal, chorion. Pada permukaan luar, chorion melekat
pada decidua capsularis. Dalam keadaan normal
hepar lien tidak teraba, massa - selalu terdapat keseimbangan dalam sintesis dan
- Estremitas : oedem -/-, akral dingin, degradasi dari jaringan amnion dan chorion7,9.
CRT <2 detik Lapisan amnion tidak mengandung pembuluh
Status obstetrikus : darah maupun saraf. Nutrisi diperoleh dari cairan
Pemeriksaan luar : amnion melalui proses difusi-osmosis. Lapisan
Leopold 1 amnion terdiri dari 5 lapisan :
TFU: 26cm
Bagian di fundus: Kepala 6. Epitel amnion.
Merupakan lapisan yang paling dalam dan
Leopold 2
dekat dengan janin. Lapisan ini memproduksi
Letak janin: Memanjang kolagen tipe III, IV, dan glikoprotein yang
PuKi ketiganya ini akan membentuk lapisan
berikutnya yaitu membrana basalis.
Leopold 3
7. Membrana basalis
kaki
8. Lapisan jaringan ikat padat / kompakta.
Leopold 4 Lapisan ini melekat pada membrana basalis dan
merupakan kerangka utama dari lapisan amnion
Konvergen sekaligus kerangka dari selaput janin. Lapisan
ini terutama memproduksi kolagen interstitial
(kolagen tipe I dan III), selain itu juga kolagen
Pemeriksaan dalam tipe V dan VI.
Vulva vagina : tak 9. Lapisan fibroblas
Portio : tebal, lunak Merupakan lapisan yang paling tebal dari
amnion. Lapisan ini mengandung
Pembukaan : 1-2cm makrofag-makrofag yang berperan dalam
respon terhadap adanya inflamasi.
Hodge : 1
10. Lapisan intermediet / spongiosa.
Merupakan perbatasan antara amnion dan
chorion. Lapisan ini terutama mengandung
kolagen tipe III dan berfungsi untuk meredam
adanya gangguan fisika seperti tekanan maupun
gesekan.
Sedangkan lapisan chorion yang lebih tebal dari
lapisan amnion terdiri dari 3 lapisan :
4. Lapisan retikuler
5. Membrana basalis
6. Lapisan trofoblas
Kekuatan selaput janin bervariasi di setiap tempat,
bila terjadi perubahan perubahan dalam
komposisinya maka dapat terjadi KPSW. Biasanya
selaput janin ruptur secara fokal, tidak secara
menyeluruh menjadi lemah atau menipis. Daerah di
sekitar rupturnya selaput janin secara mikroskopis
ditandai dengan adanya pembengkakan, dan
terputusnya jaringan kolagen pada lapisan
kompakta, fibroblast, dan spongiosa.
Diagnosis :
Keluar cairan ketuban dari vagina
Inspekulo : keluar cairan dari OUE
pH alkalis (kertas nitrazin merah biru /
biru biru
Mikroskopis cairan : lanugo / vernix
caseosa
USG : cairan amnion (-) / sangat sedikit
Komplikasi :
Terhadap ibu
Infeksi
Gangguan psikososial
Akibat intrapartum
Perdarahan postpartum
Terhadap bayi:
Iahir prematur
Infeksi
Sindrom potter
Gawat janin

Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik diatas, diagnosis G1P0A0 gravida 28-29 minggu
dengan KPSW. Pasien datang dengan keluhan utama keluar cairan dari jalan lahir sebelum
waktu persalinan. Pada pasien ini dilakukan SC karena letak kaki.
18. Nama : Ny. Santi Wediastuti
Usia : 32 tahun
DPJP : dr. Robiyanto, Sp.OG
Diagnosis Masuk : G2P1A0 gravida 37-38 minggu letak sungsang + KPSW +
bekas SC
Diagnosis Keluar : P3A0 partus prematurus dengan SC a/i letak sungsang +
KPSW + bekas SC

Pembahasan

Pasien G2P1A0 gravid 37-38 minggu berusia Ketuban Pecah Sebelum Waktunya dapat
dibagi menjadi 2, yaitu Premature Rupture of
32 tahun datang dengan keluhan mulas tiap
Membranes (PROM) dan Preterm Premature
10 menit sekali dan keluar cairan dari jalan Rupture of Membrane (PPROM). Premature
rupture of membranes (PROM) merupakan
lahir. Darah (-).
ruptur pada membran bayi sebelum
dimulainya waktu kelahiran. Pada sebagian
Tidak ada gangguan BAB dan BAK besar kasus, PROM terjadi dekat dengan
waktu kematangan bayi, akan tetapi jika
RPD : - membran pecah sebelum kehamilan 37
minggu, maka kejaian ini disebut sebagai
RPK : - PPROM.
Dalam penelitian, sebagai faktor
R. Operasi : etiologi dari KPSW adalah bakteri yang
menghasilkan phospolipase A2, kolagenase,
R. KB : IUD protease, dan perubahan pH. Pada sejumlah
kasus, infeksi asending lokal dari vagina
Riwayat menstruasi : bertanggung jawab terhadap melemah dan
robeknya selaput ketuban. Pasien dengan
Haid : teratur, Siklus : 28-30 hari, lamanya : kehamilan muda yang membawa (sebagai
7 hari karier) satu atau lebih organisme yang
berkaitan dengan penyakit menular seksual
memiliki peningkatan angka kejadian KPSW.
Nyeri Haid : tidak ada
Etiologi tersering penyebab KPSW
Keputihan : tidak ada pada minggu < 24 minggu adalah ukuran
Status Generalis serviks yang pendek yaitu 25 mm pada
pemeriksaan dengan USG transvaginal.
Keadaan Umum : Baik
Patofisiologi :
Kesadaran : Compos Mentis
Secara garis besar membran / selaput
Tanda Vital : janin terdiri dari amnion dan chorion.
Lapisan amnion terletak di sebelah dalam,
Tekanan Darah : 110/80 mmHg lapisan ini walaupun lebih tipis namun lebih
Nadi :82x/menit, Reguler kuat daripada lapisan chorion. Pada
Respirasi : 20x/menit permukaan luar, chorion melekat pada
decidua capsularis. Dalam keadaan normal
Suhu : 36,8 C
selalu terdapat keseimbangan dalam sintesis
Kepala : conjunctiva anemis -/-, sklera ikterik dan degradasi dari jaringan amnion dan
-/- chorion7,9.
Leher : KGB Tidak teraba membesar, tiroid Lapisan amnion tidak mengandung
tidak membesar, JVP 5+2 cmH2O pembuluh darah maupun saraf. Nutrisi
diperoleh dari cairan amnion melalui proses
Thorax : Pulmo : VBS +/+, kanan = kiri, Rh difusi-osmosis. Lapisan amnion terdiri dari 5
-/-, Wh -/- lapisan :

Cor : BJ murni, murmur - 11. Epitel amnion.


Merupakan lapisan yang paling dalam
Abdomen : datar, nyeri tekan -, bising usus + dan dekat dengan janin. Lapisan ini
normal, hepar lien tidak teraba, massa - memproduksi kolagen tipe III, IV, dan
glikoprotein yang ketiganya ini akan
Estremitas : oedem -/-, akral dingin, CRT <2 membentuk lapisan berikutnya yaitu
detik membrana basalis.
12. Membrana basalis
13. Lapisan jaringan ikat padat / kompakta.
Status obstetrikus :
Lapisan ini melekat pada membrana
Pemeriksaan luar :
basalis dan merupakan kerangka utama
Leopold 1
dari lapisan amnion sekaligus kerangka
TFU: 32 cm
dari selaput janin. Lapisan ini terutama
Bagian di fundus: kepala
memproduksi kolagen interstitial
Leopold 2 (kolagen tipe I dan III), selain itu juga
kolagen tipe V dan VI.
Letak janin: Memanjang
Leopold 3 14. Lapisan fibroblas
Merupakan lapisan yang paling tebal dari
Kepala amnion. Lapisan ini mengandung
Leopold 4 makrofag-makrofag yang berperan dalam
respon terhadap adanya inflamasi.
Divergen
15. Lapisan intermediet / spongiosa.
Merupakan perbatasan antara amnion dan
chorion. Lapisan ini terutama
mengandung kolagen tipe III dan
Pemeriksaan dalam : berfungsi untuk meredam adanya
Vulva vagina : tidak ada kelainan gangguan fisika seperti tekanan maupun
Portio tipis lunak gesekan.
8. Membrana basalis
9. Lapisan trofoblas
Kekuatan selaput janin bervariasi di setiap
tempat, bila terjadi perubahan perubahan
dalam komposisinya maka dapat terjadi
KPSW. Biasanya selaput janin ruptur secara
fokal, tidak secara menyeluruh menjadi
lemah atau menipis. Daerah di sekitar
rupturnya selaput janin secara mikroskopis
ditandai dengan adanya pembengkakan, dan
terputusnya jaringan kolagen pada lapisan
kompakta, fibroblast, dan spongiosa.
Diagnosis :
Keluar cairan ketuban dari vagina
Inspekulo : keluar cairan dari OUE
pH alkalis (kertas nitrazin merah
biru / biru biru
Mikroskopis cairan : lanugo / vernix
caseosa
USG : cairan amnion (-) / sangat
sedikit
Komplikasi :
Terhadap ibu
Infeksi
Gangguan psikososial
Akibat intrapartum
Perdarahan postpartum
Terhadap bayi:
Iahir prematur
Infeksi
Sindrom potter
Gawat janin
Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik diatas, diagnosis G2P1A0 gravida 37-38 minggu
dengan letak sungsang, KPSW, serta bekas SC . Pasien datang dengan keluhan mulas tiap 10
menit serta keluar cairan jernih dari jalan lahir, sehingga dilakukan sc pada pasien ini
19. Nama : Ny. Neng Mela
Usia : 22 tahun
DPJP : dr.Erik Dwikurnia Saiman, Sp.OG
Diagnosis Masuk : G1P0A0 gravida 8-9 minggu + Hiperemesis gravidarum
grade I
Diagnosis Keluar : G1P0A0 gravida 8-9 minggu + Hiperemesis gravidarum
grade I

Pembahasan
Pasien G1P0A0 gravida 8-9 Hiperemesis gravidarum Muntah yang terjadi pada
minggu usia 22 tahun datang awal kehamilan sampai umur kehamilan 20 minggu
tidak berhubungan dengan kondisi medis lain, seperti
dengan keluhan mual dan muntah.
cholestasis, hepatitis,dan sebagainya.
Mual dan muntah sejak 2 hari
SMRS. Muntah lebih dari 10 kali.
Pasien mengeluh tidak dapat Etiologi :
makan maupun minum. hormon estrogen dan progesterone
BAB & BAK dalam batas normal hormone HCG
RPD : pernah dirawat dirumah tekanan intragastrik
sakit 2 minggu sebelumnya kompetensi sfingter pilori
dengan keluhan yang sama Gastroesophageal refluks ( 80% kasus)
RPK : - tekanan sfingter esophageal bagian bawah
R. Operasi : -
R. KB : -
Keadaan Umum : Baik Insidensi :
Kesan Sakit : Ringan
Kesadaran : Compos mentis USA 5 dari 1000 kehamilan
TTV : >> negara dengan industri maju & daerah
T : 100/70 mmHg perkotaan drpd daerah pedesaan
R : 20 x/menit
N : 84x/menit
S : 36,6C Faktor predisposisi dan factor lain
Kepala : conjunctiva
anemis -/-, sklera ikterik -/- Predisposisi
Leher : KGB Tidak teraba Primigravida
Mola hidatidosa
membesar, tiroid tidak
Kehamilan ganda.
membesar, JVP Organik
5+2 cmH2O masuknya vili khorialis
Thorax : Pulmo : VBS +/+, perubahan metabolik
resistensi ibu tehadap perubahan
kanan = kiri, Rh -/-, Wh -/-
Cor : BJ murni, Alergi
Faktor Psikologik
murmur -
Abdomen : datar, nyeri hCG , estrogen Gangguan GIT
Gangguan pada CTZ
tekan -, bising usus +
normal, hepar lien Psikis
tidak teraba, massa -
Mual dan Muntah
Estremitas : oedem -/-,
akral hangat, CRT <2 detik
Riwayat menstruasi :
Cadangan
Gangguan karbohidrat
HPHT : 25 Maret 2017 keseimbangan dan lemak habis
Dehidrasi
elektrolit
Haid Teratur, siklus 28-30 hari,
lamanya 5-6 hari
Na & Cl Cl urin ketosis
darah

Status Obstetrikus
hemokonsentrasi
Pemeriksaan luar : tidak
dilakukan
Pemeriksaan dalam : tidak Tingkatan Hiperemesis Gravidarum :
dilakukan Tingkat I (Ringan)
Pemeriksaan Lab: Muntah terus KU terpengaruh, N

- Hb 13 mg/dL 100 x/mnt,
turgor
- Ht 36%
Tingkat II (Sedang)
- Leukosit 6,69 Suhu kdg , mata sdkt ikterik, Ht,
- Trombosit 290 oligouria, konstipasi, aseton tercium dlm
hawa pernapasa
- Eritrosit 4,4
Tingkat III (Berat)
- MCV 82 Kesadaran (somnolen - koma), muntah berhenti,
- MCH 29 ensefalopati Wernicke
- MCHC 36 Diagnosis :
- BT 2 menit
Amenore disertai muntah hebat, pekerjaan
- CT 8 menit sehari-hari terganggu
Fungsi vital : nadi 100 kali per menit, tekanan
darah (keadaan berat, subfebril, dan gangguan
kesadaran)
Fisik : dehidrasi, kulit pucat, ikterus, sianosis,
berat badan menurun, uterus membesar sesuai
umur kehamilan

Penatalaksanaan :

Hiperemesis berat dianjurkan dirawat diRS, Stop


makanan per oral 24-48 jam

Infus glukosa 10% / 5% : RL = 2:1

40 tetes per menit

Modifikasi diet

Makan dlm jumlah kecil tapi lbh sering

Hindari makanan pedas, berminyak & berbau lemak

Minuman teh herbal mgd peppermint



atau jahe
Konsumsi makanan ringan
protein, KH

Konsumsi vitamin sblm kehamilan


Komplikasi :

Ibu kelelahan
Wernickes encephalopathy
Ulkus lambung
Pada anamesis didapatkan pasien berusia 22 tahun mengeluh mual dan muntah setiap kali
makan dan minum. Tindakan yang dilakukan pada pasien ini adalah observasi TTV, obat
antiemetik dan follow-up pasien apakah terdapat perbaikan setelah diberikan terapi.
20. Nama : Ny. Desi Koswati
Usia : 30 tahun
DPJP : dr.Erik Dwikurnia Saiman, Sp.OG
Diagnosis Masuk : G2P1A0 parturien 37-38 minggu kala I fase aktif
Diagnosis Keluar : P2A0 partus maturus spontan

Pembahasan
Pasien G1P0A0 gravid 37-38 minggu usia 30 tahun Definisi : Persalinan normal adalah
proses dimana bayi, plasenta keluar
datang dengan keluhan mulas sejak 12 jam SMRS.
dari uterus ibu. Persalinan normal
Mulas dirasakan semakin sering dan kuat juga adalah persalinan yang terjadi pada
usia kehamian cukup bulan >37
disertai keluarnya lendir dan darah.
minggu tanpa tanda penyulit.
R. Operasi : kisterektomi tahun 2006
Riwayat menstruasi : Kala I

Haid : teratur, Siklus : 28 hari, lamanya : 4-5 hari Kala I persalinan dimulai sejak
terjadinya kontraksi uterus yang
Nyeri Haid : Selama Haid teratur (frekuansi dan kekuatannya)
Keputihan : tidak ada
Status Generalis hingga serviks membuka lengkap
(10cm).
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos Mentis Tanda dan gejala inpartu :

Tanda Vital : 7. Penipisan dan pembukaan


serviks
Tekanan Darah : 130/90 mmHg
8. Kontraksi uterus yang
Nadi : 90x/menit, Reguler mengakibatkan perubahan
serviks (frekuensi minimal 2x
Respirasi : 24x/menit dalam 10 menit)
Suhu : 36,6 C 9. Cairan lendir bercampur darah
melalui vagina
- Kepala : conjunctiva anemis +/+, sklera Kala I , dibagi dalam 2 fase:
ikterik -/-
- Leher : KGB Tidak teraba membesar, tiroid Fase laten: berlangsung selama 8
jam. Pembukaan terjadi sangat
tidak membesar, JVP 5+2 cmH2O lambat sampai pembukaan 3 cm
- Thorax : Pulmo : VBS +/+, kanan = kiri, Rh
Fase aktif : dibagi dalam 3 fase lagi,
-/-, Wh -/- yakni :
Cor : BJ murni, murmur -
a. Fase akselerasi.

Abdomen : Dalam 2 jam pembukaan 3 cm


4 cm.
Inspeksi : Cembung gravida
b. Fase dilatasi maksimal.
Auskultasi : BU + normal
Perkusi : timpani Dalam waktu 2 jam pembukaan
berlangsung cepat, dari 4 cm
Palpasi : hepar lien tidak teraba 9 cm
Status Ginekologis :
c. Fase deselerasi.
TFU 30 cm
Dalam waktu 2 jam pembukaan dari
LP 98 cm 9 cm 10 cm.
His -
Leopold I: bokong
KALA II
Leopold II: PuKi
Dimulai ketika pembukaan serviks
Leopold III: Kepala sudah lengkap(10cm) & diakhiri dgn
Leopold IV: Divergen lahirnya bayi.

KALA III
Dimulai dari lahirnya bayi dan
berakhir dengan keluar plasenta dan
selaput ketuban.
Biasanya plasenta lepas dlm 6 - 15
mnt stlh bayi lahir.
Anamnesis, diagnosis dan penatalaksanaan sudah tepat karena sesuai dengan teori. Pada
pasien ini sudah dilakukan penanganan secara aktif dan tidak dilakukan induksi maupun
episiotomy pada saat proses persalinan.
21. Nama : Ny. Atin Kristina
Usia : 32 tahun
DPJP : dr. Hermin Widjaja, Sp.OG
Diagnosis Masuk :G2P1A0 parturien 40 minggu kala I fase laten +
Oligohydramnion + NST non reaktif
Diagnosis Keluar :P2A0 partus maturus post SCTP a/i Fetal Distress +
Oligohyramnion

Pembahasan
Pasien G2P1A0 usia 32 tahun Oligohidramnion adalah terdapatnya cairan amnion kurang
dari normal; dinyatakan sebagai 500 ml atau kurang saat
datang dengan keluhan keluar
kehamilan cukup bulan dan lebih sedikit pada kehamilan
cairan dari jalan lahir sejak 1 dini.
Etiologi
hari yang lalu , jumlah cairan
Etiologi dari janin ; faktor kromosom, faktor
banyak. Mulas -, pergerakan kongenital, pertumbuhan janin terhambat, kehamilan
serotin, ketuban pecah dini dan kematian janin.
janin +, keluarnya cairan tidak
Etiologi dari plasenta ; abrupsi plasenta dan
dapat ditahan. Lendir -, darah sindroma transfusi antar kembar (Twin-to-twin
-, pusing -, nyeri ulu hati -, transfusion syndrome) atau kembar monokorionik.
Etiologi dari ibu ; dehidrasi, insufisiensi
pandangan kabur - uteroplasental, hipertensi, preeklamsia, diabetes dan
Keadaan Umum : Baik, hipoksia kronis.
Kesadaran : Compos mentis Pengaruh obat-obatan ; indometasin dan ACE
inhibitor.
Tanda Vital :
Tensi : 120/80 mmHg Faktor Risiko :
Anomaly kongenital
Nadi : 84 x/menit Retardasi pertumbuhan janin intrauterine
Suhu : 36,2 C KPD (24-26 minggu)
Sindrom pasca maturitas
Respirasi : 20 x/menit
Status Generalis : DBN Manifestasi Klinis :
Uterus lebih kecil dari usia kehamilan dan tidak ada
Status Ginekologi :
ballotemen
TFU 30 cm Ibu merasa nyeri perut setiap pergerakan anak
L1: bokong Sering berakhir dengan partus prematurus
Bunyi jantung anak sudah terdengar mulai bulan
L2: memanjang kelima dan terdengar lebih jelas
L3: kepala Persalinan lebih lama dari biasanya
Sewaktu his akan sakit sekali
L4: konvergen
Tindakan : Bila air ketuban pecah, air ketuban sedikit sekali
bahkan tidak ada yang keluar.
Rawat inap
Diagnosis & Pemeriksaan
Infus RL 2L/24 jam Pemeriksaan dengan USG dapat mendiagnosa apakah
cairan ketuban terlalu sedikit atau terlalu banyak. Umumnya
SCTP
para doketer akan mengukur ketinggian cairan dalam 4
Ceftriaxon 2x1 gr kuadran di dalam rahim dan menjumlahkannya. Metode ini
dikenal dengan nama Amniotic Fluid Index (AFI). Jika
As. Traxenamat 3x500mg
ketinggian amniotic fluid (cairan ketuban) yang di ukur
Induxin 3x10 U kurang dari 5 cm, calon ibu tersebut didiagnosa mengalami
oligohydramnion. Jika jumlah cairan tersebut lebih dari 25
Vit C 1x1 amp
cm, ia di diagnosa mengalami poluhydramnion
Kaltrofen 2x1 supp Prognosis :
Ketorolac 3x30 mg Semakinawaloligohidramnionterjadipadakehamilan,

Cefadroxil 2x1 semakinburukprognosisnya


Asam mefenamat 3x1 tab
Jikaterjadipada trimester II, 80-90% mortalitas

Dari anamenis didapatkan pasien G2P1A0 datang dengan keluhan keluar cairan dari jalan
lahir, banyak, tidak dapat ditahan, tidak berbau, tidak ada mulas, pergerakan janin masih
dirasakan. Lendir, darah, pusing, nyeri ulu hati, pandangan kabur tidak dikeluhkan pasien.
22. Nama Pasien : Ny. Titin Surtini Dibrata
Usia : 39 tahun
DPJP : dr. Arief Budiono, Sp.OG
Diagnosis masuk : Menometrorrhagia
Diagnosis akhir : Menometrorrhagia

Anamnesis : Menometrorrhagia adalah perdarahan menstruasi


yang diluar siklus menstruasi dengan durasi yang
Pasien berusia 39 tahun datang dengan lama serta jumlah perdarahannya banyak.
keluhan keluar darah dari jalan lahir sejak 1
hari SMRS. Darah merah segar, bergumpal- Etiologi
gumpal, jumlah banyak. Pasien merasakan
pusing, mata berkunang-kunang dan badan Dapat bersal dari luar uterus (gangguan
terasa lemas. Tidak menstruasi sejak pembekuan darah, terjadi infeksi pada uterus) atau
kuretase berasal dari uterus sendiri yaitu gangguan
hormonal dalam siklus menstruasi yang
Siklus haid : belum haid setelah kuretase mengaturnya.
Riwayat KB : pil
RPD : Blighted ovum 2 bulan yang lalu - Sebab-sebab organic
(post kuretase) Perdarahan dari uterus, tuba, dan ovarium
disebabkan oleh kelainan pada
a. Serviks uteri
PEMERIKSAAN FISIK: b. Korpus uteri
c. Tuba falopii
Keadaan Umum : baik d. Ovarium
Kesadaran : CM - Sebab-sebab fungsional
TTV :T: 100 / 70 mmHg a. Perdarahan ovulatoar
R: 20x/menit 1. Korpus luteum persistens
2. Insufisiensi korpus luteum
N: 101x/menit
3. Apopleksia uteri
S: 36,1C 4. Kelainan darah
Kepala: Conjuctiva anemis -/- b. Perdarahan anovulatoar
Sklera ikterik -/- Bersumber pada gangguan endokrin.
Leher : KGB tidak teraba membesar Perdarahan yang tidak normal
Thorax : Cor : BJM S1S2, Murmur (-) disebabkan oleh gangguan atau
Pulmo: VBS ka=ki, Rh -/- , Wh -/- lambatnya proses maturasi pada
hipotalamus, dengan akibat bahwa
Abdomen : BU (+) normal
pembuatan Releasing factor dan
Ekstremitas: oedem -/-, CRT <2 ,akral hormone gonadotropin tidak
hangat, turgor baik sempurna.

Patofisiologi
STATUS OBSTETRIKUS

Pemeriksaan luar : tidak dilakukan


Pemeriksaan dalam : tidak dilakukan
Pemeriksaan laboratorium :

Hematologi rutin

- Hb 12,5
- Ht 38
- Leukosit 12,3
- Trombosit 322
- Eritrosit 4,7
- MCV 81
- MCH 27
- MCHC 33

Penatalaksanaan

- Pada keadaan akut, dimana Hb <8gr/dL maka


pasien harus dirawat dan diberikan transfuse
darah
- Medikamentosa nonhormon yang dapat
digunakan untuk perdarahan uterus abnormal
adalah
1. NSAID
2. Antifibrinolisis
- Pada usia reproduktif, setelah perdarahan
dipastikan dari uterus bukan karena gangguan
kehamilan, maka dapat dilakukan dilatasi dan
kuretase yang kemudian diperiksakan
patologi-anatominya. Jika hasilnya perdarahan
karena hormonal, maka dapat diberikan terapi
hormonal estrogen-progesteron kombinasi
Pembahasan
Pasien datang dengan keluhan keluar darah dari jalan lahir. Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik
dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami menometrorrhagia. Keadaan umum pasien harus
diperhatikan karena pasien dapat menderita anemia.
23. Nama Pasien : Ny. Nurhasana
Usia : 39 tahun
DPJP : dr.Erik Dwikurnia Saiman, Sp.OG
Diagnosis masuk : Myoma uteri + anemia
Diagnosis akhir : Myoma uteri + anemia

Anamnesis : Definisi:
Pasien berusia 39 tahun datang dengan Mioma uteri adalah tumor jinak otot polos uterus
keluhan pusing. Pasien mengalami haid yang terdiri dari sel-sel jaringan otot polos,
lama dan banyak sekitar 2 minggu. Pasien jaringan pengikat fibroid dan kolagen.Mioma
juga mengeluh nyeri pada bagian perut saat uteri disebut juga dengan leimioma uteri atau
haid fibromioma uteri. Mioma ini berbentuk padat
karena jaringan ikat dan otot rahimnya dominan.
RPD : 2 tahun yang lalu didiagnosis terdapat Mioma uteri merupakan neoplasma jinak yang
myoma uteri, namun tidak dioperasi paling umum dan sering dialami oleh wanita.
Neoplasma ini memperlihatkan gejala klinis
RPK : -
berdasarkan besar dan letak mioma.
HPHT: 1 Mei 2017
Berdasarkan letaknya mioma uteri
PEMERIKSAAN FISIK: diklasifikasikan menjadi 3 bagian yaitu:

Keadaan Umum : baik - Mioma Uteri Subserosum


Lokasi tumor di sub serosa korpus uteri.
Kesadaran : CM
Dapat hanya sebagai tonjolan saja, dapat
TTV :T: 180 / 110 mmHg pula sebagai satu massa yang dihubungkan
R: 20x/menit dengan uterus melalui tangkai.
N: 80x/menit Pertumbuhan kearah lateral dapat berada
S: 36,6C di dalam ligamentum latum, dan disebut
Kepala: Conjuctiva anemis +/+ sebagai mioma intraligamen. Mioma yang
Sklera ikterik -/- cukup besar akan mengisi rongga
peritoneum sebagai suatu massa.
Leher : KGB tidak teraba membesar
Perlekatan dengan ementum di sekitarnya
Thorax : Cor : BJM S1S2, Murmur (-) menyebabkan sisten peredaran darah
Pulmo: VBS ka=ki, Rh -/- , Wh -/- diambil alih dari tangkai ke omentum.
Abdomen : BU (+) normal Akibatnya tangkai semakin mengecil dan
Ekstremitas: oedem -/-, CRT <2 ,akral terputus, sehingga mioma terlepas dari
hangat, turgor baik uterus sebagai massa tumor yang bebas
dalam rongga peritoneum. Mioma jenis ini
dikenal sebagai mioma jenis parasitik
PEMERIKSAAN PENUNJANG - Mioma Uteri Intramural
Disebut juga sebagai mioma intraepitalial,
Hematologi Rutin biasanya multiple. Apabila masih kecil,
tidak merubah bentuk uterus, tapi bila
- Hb 7,8
besar akan menyebabkan uterus berbenjol-
- Ht 26
benjol, uterus bertambah besar dan
- Leukosit 10,22
berubah bentuknya. Mioma sering tidak
- Trombosit 505
memberikan gejala klinis yang berarti
- Eritrosit 3,9 jt
kecuali rasa tidak enak karena adanya
MCV :71 massa tumor di daerah perut sebelah
bawah.
MCH :20 - Mioma Uteri Submukosum
Mioma yang berada di bawah lapisan
MCHC :28 mukosa uterus/endometrium dan tumbuh
Ca 125 :12,66 kearah kavun uteri. Hal ini menyebabkan
terjadinya perubahan bentuk dan besar
kavum uteri. Bila tumor ini tumbuh dan
bertangkai, maka tumor dapat keluar dan
masuk ke dalam vagina yang disebut
mioma geburt. Mioma submukosum
walaupun hanya kecil selalu memberikan
keluhan perdarahan melalui vagina.
Perdarahan sulit dihentikan, sehingga
sebagai terapinya dilakukan histerektomi
Epidemiologi
Mioma uteri merupakan tumor pelvis yang
terbanyak pada organ reproduksi wanita. Jarang
sekali ditemukan pada wanita berumur 20 tahun
dan belum pernah (dilaporkan) terjadi sebelum
menarche, paling banyak ditemukan pada wanita
berumur 35-45 tahun (proporsi 25%). Setelah
menopause hanya kira-kira 10% mioma masih
tumbuh. Proporsi mioma uteri pada masa
reproduksi 20-25%.
Diagnosis
1. Gejala Subjektif
Pada umumnya kasus mioma uteri
ditemukan secara kebetulan pada
pemeriksaan ginekologik karena tumor ini
tidak mengganggu. Timbulnya gejala
subjektif dipengaruhi oleh: letak mioma
uteri, besar mioma uteri, perubahan dan
komplikasi yang terjadi.
Gejala subjektif pada mioma uteri:
a. Perdarahan abnormal, merupakan
gejala yang paling umum dijumpai.
Gangguan perdarahan yang terjadi
umumnya adalah: menoragia, dan
metrorargia. Beberapa faktor yang
PEMERIKSAAN FISIK: menjadi penyebab perdarahan ini
antara lain adalah: pengaruh ovarium
Keadaan Umum : baik
sehingga terjadilah hiperplasia
Kesadaran : CM
endometrium, permukaan
TTV :T: 110 / 80 mmHg
endometrium yang lebih luas dari pada
R: 20x/menit
biasa, atrofi endometrium, dan
N: 80x/menit
gangguan kontraksi otot rahim karena
S: 36C
adanya sarang mioma di antara serabut
Kepala: Conjuctiva anemis -/-
miometrium, sehingga tidak dapat
Sklera ikterik -/-
menjepit pembuluh darah yang
Leher : KGB tidak teraba membesar
melaluinya dengan baik. Akibat
Thorax : Cor : BJM S1S2, Murmur (-)
perdarahan penderita dapat mengeluh
Pulmo: VBS ka=ki, Rh -/- , Wh -/-
anemis karena kekurangan darah,
Abdomen : cembung gravid, nyeri tekan (-)
pusing, cepat lelah, dan mudah terjadi
Ekstremitas: oedem -/-, CRT <2 ,akral
infeksi
hangat, turgor baik
b. Rasa nyeri, gejala klinik ini bukan
merupakan gejala yang khas tetapi
gejala ini dapat timbul karena
STATUS OBSTETRIKUS gangguan sirkulasi darah pada sarang
mioma, yang disertai nekrosis
setempat dan peradangan. Pada
Pemeriksaan luar : tidak dilakukan pengeluaran mioma submukosum yang
Pemeriksaan dalam : tidak dilakukan akan dilahirkan dan pertumbuhannya
yang menyempitkan kanalis servikalis
dapat menyebabkan juga dismenore.
c. Tanda penekanan, Gangguan ini
tergantung dari besar dan tempat
mioma uteri. Penekanan pada kandung
kemih akan menyebabkan poliuria,
pada uretra dapat menyebabkan
retensio urine, pada ureter dapat
menyebabkan hidroureter dan
hidronefrosis, pada rektum dapat
menyebabkan obstipasi dan tenesmia,
pada pembuluh darah dan pembuluh
limfe di panggul dapat menyebabkan
edema tungkai dan nyeri panggul
Penatalaksanaan
1. Pengobatan Konservatif
Dalam dekade terakhir ada usaha untuk
mengobati mioma uterus dengan
Gonadotropin releasing hormone (GnRH)
agonis. Pengobatan GnRH agonis selama
16 minggu pada mioma uteri
menghasilkan degenerasi hialin di
miometrium hingga uterus menjadi kecil.
Setelah pemberian GnRH agonis
dihentikan mioma yang lisut itu akan
tumbuh kembali di bawah pengaruh
estrogen oleh karena mioma itu masih
mengandung reseptor estrogen dalam
konsentrasi tinggi.
2. Pengobatan Operatif
Tindakan operatif mioma uteri dilakukan
terhadap mioma yang menimbulkan gejala
yang tidak dapat ditangani dengan
pengobatan operatif, tindakan operatif
yang dilakukan antara lain :
a. Miomektomi
Miomektomi adalah pengambilan
sarang mioma saja tanpa pengangkatan
uterus, misalnya pada mioma
submukosum pada mioma geburt
dengan cara akstirpasi lewat vagina.
Apabila miomektomi dikerjakan
karena keinginan memperoleh anak,
maka kemungkinan akan terjadi
kehamilan 30-50%. Pengambilan
sarang mioma subserosum dapat
dengan mudah dilaksanakan apabila
tumor bertangkai. Tindakan ini
seharusnya hanya dibatasi pada tumor
dengan tangkai yang jelas yang dengan
mudah dapat dijepit dan diikat. Bila
tidak mioma dapat diambil dari uterus
pada waktu hamil atau melahirkan,
sebab perdarahan dapat
berkepanjangan dan terkadang uterus
dikorbankan
b. Histerektomi
Histerektomi adalah pengangkatan
uterus yang umumnya merupakan
tindakan terpilih. Tindakan ini terbaik
untuk wanita berumur lebih dari 40
tahun dan tidak menghendaki anak lagi
atau tumor yang lebih besar dari
kehamilan 12 minggu disertai adanya
gangguan penekanan atau tumor yang
cepat membesar. Histerektomi dapat
dilaksanakan perabdomen atau
pervaginum. Adanya prolapsus uteri
akan mempermudah prosedur
pembedahan. Histerektomi total
umumnya dilakukan dengan alasan
mencegah akan timbulnya karsinoma
serviks uteri. Histeroktomi supra
vaginal hanya dilakukan apabila
terdapat kesukaran teknis dalam
mengangkat uterus keseluruhan.
Pembahasan :
Pasien datang dengan keluhan nyeri pada bagian
perut dan juga didapatkan haid yang lama. Dari
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
didapatkan myoma uteri. Dalam kasus ini
dilakukan myomektomi.
24. Nama Pasien : Ny. Suyani
Usia : 37 tahun
DPJP : dr. Arief Budiono, Sp.OG
Diagnosis masuk : G3P2A0 gravida aterm + varices vagina
Diagnosis akhir : G3P2A0 gravida aterm + varices vagina

Anamnesis : VARISES adalah pembuluh darah balik di bawah


kulit atau selaput lendir (mukosa) yang melebar
Pasien G1P2A0 gravida 9 bulan datang dan berkelok/melingkar akibat kelainan katup
dengan membawa surat rujukan dari Sp.OG dalam pembuluh darah balik tersebut. Biasanya
untuk dilakukan SC karena adanya varices varises terjadi pada tangan dan kaki, namun pada
vagina, belum ada mulas, keluar cairan (-), beberapa orang dapat terjadi di tempat-tempat lain
darah (-), lendir (-) dari jalan lahir seperti pada lambung, rectum (usus besar dekat
anus), vagina, skrotum, dan vulva (bibir
HPHT: September 2016
kemaluan). Sekira 20-30% wanita mengalami
Riwayat menstruasi: teratur, 28 hari; lama
varises, terutama pada kehamilan
5-6 hari
Riwayat ANC : ke dokter kandungan Varises vagina adalah pembuluh darah yang
Riwayat KB : pil terlihat menggembung di dinding vagina atau
RPD : HT (-), DM (-), Asma (-) terasa menggembung di dalam vagina itu sendiri.
RPK: HT (-), DM (-), Asma (-)
Riw Operasi : -
Gol darah : O
varises vulva adalah tonjolan vena yang melalui
kulit vulva atau bibir vagina baik kulit atau
PEMERIKSAAN FISIK: mukosa di pintu masuk vagina.
Keadaan Umum : baik Kadang-kadang varises vagina / vulva bisa sangat
Kesadaran : CM besar, membuat kulit vulva terlihat sangat
TTV :T: 110 / 70 mmHg abnormal. Pada umumnya varises tidak
R: 20x/menit menyebabkan gejala yang terlihat hanyalah
N: 84x/menit penonjolan pembuluh darah di bawah kulit atau
S: 36,6C mukosa. Pada varises vagina, pelebaran pembuluh
Kepala: Conjuctiva anemis -/- darah akan terlihat di bawah lapisan selaput lendir
Sklera ikterik -/- vagina. Pada sebagian penderita varises, terutama
Leher : KGB tidak teraba membesar varises pada kaki, kaki akan terasa berat, lelah dan
Thorax : Cor : BJM S1S2, Murmur (-) nyeri yang bertambah apabila ia banyak berdiri
Pulmo: VBS ka=ki, Rh -/- , Wh -/- atau duduk. Gatal-gatal atau perubahan warna
Abdomen : cembung gravid, nyeri tekan (-) kulit menjadi kebiruan juga merupakan ciri-ciri
Ekstremitas: oedem -/-, CRT <2 ,akral varises.
hangat, turgor baik
Pada kebanyakan wanita hamil yang mengalami
varises vagina, persalinan normal masih dapat
dilakukan, kecuali pada varises vagina yang
STATUS OBSTETRIKUS
sangat berat, dokter akan menganjurkan operasi
sesar. Dokter akan dapat mengetahuinya ketika
Pemeriksaan luar memeriksa panggul saat kehamilan atau
- Tinggi fundus : 32 cm pemeriksaan persalinan. Setelah persalinan,
- Letak janin : memanjang, puka, dengan sendirinya varises akan mengecil dan
presentasi kepala seringnya tidak mengganggu lagi. Apabila ibu
- BJJ : 13-13-12 hamil lagi, pada umumnya varises akan datang
kembali.

Pendarahan karena varises vagina, pada umumnya


Terapi terjadi saat persalinan karena pecahnya dinding
pembuluh darah akibat trauma/laserasi jalan pada
c. Kalmethazone 5 mg 3 amp STAT saat bayi lahir. Sangat jarang perdarahan akibat
varises biasanya terjadi lama setelah persalinan

Pembahasan :
Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik diatas, diagnosis G1PoAo gravida 6-7 minggu dengan
hiperemesis gravidarum grade II dikatakan sudah tepat karena menurut teori dikatakan
hiperemesis gravidarum terjadi pada Trimester I kehamilan, pada pasien ini tepat karena usia
kehamilan 6-7 minggu, Tindakan yang dilakukan pada pasien ini adalah observasi TTV, obat
antiemetik dan follow-up pasien apakah terdapat perbaikan setelah diberikan terapi.
25. Nama : Ny. Titi Dinarti
Usia : 39 tahun
DPJP : dr. Robiyanto, Sp.OG
Diagnosis Masuk : G3P2A0 parturien aterm kala I fase laten +
oligohydramnion + KPSW
Diagnosis Keluar : P3A0 partus maturus dengan SCTP a/i oligohydramnion
+ KPSW

Pembahasan

Seorang pasien G3P2A0 aterm Oligohidramnion adalah terdapatnya cairan amnion kurang
dari normal; dinyatakan sebagai 500 ml atau kurang saat
datang dengan keluhan
kehamilan cukup bulan dan lebih sedikit pada kehamilan
keluarnya cairan bening dari dini.
Etiologi
jalan lahir sejak jam 05.30.
Etiologi dari janin ; faktor kromosom, faktor
Keluhan disertai mulas. Mulas kongenital, pertumbuhan janin terhambat,
kehamilan serotin, ketuban pecah dini dan kematian
dirasakan bertambah sering.
janin.
Gerakan janin masih dirasakan Etiologi dari plasenta ; abrupsi plasenta dan
sejak bulan ke 5 kehamilan. sindroma transfusi antar kembar (Twin-to-twin
transfusion syndrome) atau kembar monokorionik.
BAB & BAK dalam batas Etiologi dari ibu ; dehidrasi, insufisiensi
uteroplasental, hipertensi, preeklamsia, diabetes dan
normal hipoksia kronis.
RPD : - Pengaruh obat-obatan ; indometasin dan ACE
RPK : - inhibitor.
R. Operasi : -
R. KB : Pil Faktor Risiko :
Golongan darah : B Anomaly kongenital
Keadaan Umum : Baik Retardasi pertumbuhan janin intrauterine
Kesan Sakit : Ringan KPD (24-26 minggu)
Kesadaran : Compos mentis Sindrom pasca maturitas
TTV :
T : 110/70 mmHg Manifestasi Klinis :
R : 20 x/menit Uterus lebih kecil dari usia kehamilan dan tidak ada
N : 80x/menit ballotemen
S : 36,5C Ibu merasa nyeri perut setiap pergerakan anak
- Kepala : conjunctiva anemis Sering berakhir dengan partus prematurus
-/-, sklera ikterik -/- Bunyi jantung anak sudah terdengar mulai bulan
- Leher : KGB Tidak teraba kelima dan terdengar lebih jelas
Persalinan lebih lama dari biasanya
membesar, tiroid tidak
Sewaktu his akan sakit sekali
membesar, JVP 5+2 cmH2O Bila air ketuban pecah, air ketuban sedikit sekali
- Thorax : Pulmo : VBS +/+, bahkan tidak ada yang keluar.
kanan = kiri, Rh -/-, Wh -/- Diagnosis & Pemeriksaan
Cor : BJ murni, Pemeriksaan dengan USG dapat mendiagnosa apakah
cairan ketuban terlalu sedikit atau terlalu banyak.
murmur - Umumnya para doketer akan mengukur ketinggian cairan
- Abdomen : cembung gravid, dalam 4 kuadran di dalam rahim dan menjumlahkannya.
nyeri tekan (-) Metode ini dikenal dengan nama Amniotic Fluid Index
- Estremitas : oedem -/-, akral (AFI). Jika ketinggian amniotic fluid (cairan ketuban) yang
di ukur kurang dari 5 cm, calon ibu tersebut didiagnosa
dingin, CRT <2 detik mengalami oligohydramnion. Jika jumlah cairan tersebut
Status obstetrikus : lebih dari 25 cm, ia di diagnosa mengalami
Pemeriksaan luar : poluhydramnion
Leopold 1 Prognosis :
TFU: 32cm Semakinawaloligohidramnionterjadipadakehamilan,
Bagian di fundus:
Bokong semakinburukprognosisnya

Leopold 2 Jikaterjadipada trimester II, 80-90% mortalitas

Letak janin: Memanjang


PuKi
Ketuban Pecah Sebelum Waktunya dapat dibagi menjadi
Leopold 3 2, yaitu Premature Rupture of Membranes (PROM) dan
Preterm Premature Rupture of Membrane (PPROM).
Kepala Premature rupture of membranes (PROM) merupakan
ruptur pada membran bayi sebelum dimulainya waktu
Leopold 4 kelahiran. Pada sebagian besar kasus, PROM terjadi dekat
dengan waktu kematangan bayi, akan tetapi jika membran
konvergen pecah sebelum kehamilan 37 minggu, maka kejaian ini
disebut sebagai PPROM.
Dalam penelitian, sebagai faktor etiologi dari
Penatalaksanaan KPSW adalah bakteri yang menghasilkan phospolipase A2,
kolagenase, protease, dan perubahan pH. Pada sejumlah
- Ceftriaxone : 2x1 gr kasus, infeksi asending lokal dari vagina bertanggung
- Ketorolac : 1x 30 mg jawab terhadap melemah dan robeknya selaput ketuban.
Pasien dengan kehamilan muda yang membawa (sebagai
Dari anamenis didapatkan pasien G3P2A0 datang dengan keluhan keluar cairan dari jalan
lahir, banyak, tidak dapat ditahan, tidak berbau, tidak ada mulas, pergerakan janin masih
dirasakan. Lendir, darah, pusing, nyeri ulu hati, pandangan kabur tidak dikeluhkan pasien.
26. Nama : Ny. Hoeriah
Usia : 37 tahun
DPJP : dr. H. Tatang Surachman, Sp.OG (K)
Diagnosis Masuk : G3P1A1 parturien aterm kala I fase laten + KPSW + HT
+ letak lintang
Diagnosis Keluar : P2A1 partus maturus dengan SC a/i letak lintang

Pembahasan

Pasien G3P1A1 parturien 36-37 minggu Ketuban Pecah Sebelum Waktunya dapat
dibagi menjadi 2, yaitu Premature Rupture of
berusia 37 tahun datang dengan keluhan
Membranes (PROM) dan Preterm Premature
keluar cairan dari jalan lahir. Keluarnya Rupture of Membrane (PPROM). Premature
rupture of membranes (PROM) merupakan
cairan sejak jam 5 pagi. Keluhan tidak
ruptur pada membran bayi sebelum
disertai mual dan mulas dimulainya waktu kelahiran. Pada sebagian
besar kasus, PROM terjadi dekat dengan
Tidak ada gangguan BAB dan BAK waktu kematangan bayi, akan tetapi jika
membran pecah sebelum kehamilan 37
minggu, maka kejaian ini disebut sebagai
RPD : Hipertensi
PPROM.
RPK : - Dalam penelitian, sebagai faktor
etiologi dari KPSW adalah bakteri yang
R. Operasi : operasi payudara tahun 2008 menghasilkan phospolipase A2, kolagenase,
protease, dan perubahan pH. Pada sejumlah
R. KB : Pil dan suntik 3 bulan. kasus, infeksi asending lokal dari vagina
bertanggung jawab terhadap melemah dan
Riwayat menstruasi : robeknya selaput ketuban. Pasien dengan
kehamilan muda yang membawa (sebagai
Haid : teratur, Siklus : 28-30 hari, lamanya : 7 karier) satu atau lebih organisme yang
berkaitan dengan penyakit menular seksual
hari memiliki peningkatan angka kejadian KPSW.

Nyeri Haid : tidak ada Etiologi tersering penyebab KPSW


pada minggu < 24 minggu adalah ukuran
serviks yang pendek yaitu 25 mm pada
Keputihan : tidak ada pemeriksaan dengan USG transvaginal.

HPHT : 4 september 2016 Patofisiologi :


Status Generalis Secara garis besar membran / selaput
janin terdiri dari amnion dan chorion.
Keadaan Umum : Baik Lapisan amnion terletak di sebelah dalam,
lapisan ini walaupun lebih tipis namun lebih
Kesadaran : Compos Mentis kuat daripada lapisan chorion. Pada
permukaan luar, chorion melekat pada
Tanda Vital : decidua capsularis. Dalam keadaan normal
selalu terdapat keseimbangan dalam sintesis
Tekanan Darah : 110/80 mmHg
dan degradasi dari jaringan amnion dan
Nadi : 112x/menit, Reguler chorion7,9.
Respirasi : 20x/menit
Suhu : 37,1 C Lapisan amnion tidak mengandung
Kepala : conjunctiva anemis -/-, sklera ikterik pembuluh darah maupun saraf. Nutrisi
diperoleh dari cairan amnion melalui proses
-/-
difusi-osmosis. Lapisan amnion terdiri dari 5
Leher : KGB Tidak teraba membesar, tiroid lapisan :
tidak membesar, JVP 5+2 cmH2O 21. Epitel amnion.
Merupakan lapisan yang paling dalam
Thorax : Pulmo : VBS +/+, kanan = kiri, Rh dan dekat dengan janin. Lapisan ini
-/-, Wh -/- memproduksi kolagen tipe III, IV, dan
glikoprotein yang ketiganya ini akan
Cor : BJ murni, murmur - membentuk lapisan berikutnya yaitu
membrana basalis.
Abdomen : cembung gravid, nyeri tekan (-)
22. Membrana basalis
Estremitas : oedem +/+, akral hangat, CRT <2 23. Lapisan jaringan ikat padat / kompakta.
detik Lapisan ini melekat pada membrana
basalis dan merupakan kerangka utama
dari lapisan amnion sekaligus kerangka
Status obstetrikus : dari selaput janin. Lapisan ini terutama
Pemeriksaan luar : memproduksi kolagen interstitial
Leopold 1 (kolagen tipe I dan III), selain itu juga
TFU: 30 cm kolagen tipe V dan VI.
Leopold 2
24. Lapisan fibroblas
Puka (melintang) Merupakan lapisan yang paling tebal dari
Leopold 3 amnion. Lapisan ini mengandung
makrofag-makrofag yang berperan dalam
Bagian kecil respon terhadap adanya inflamasi.
Leopold 4
25. Lapisan intermediet / spongiosa.
Konvergen Merupakan perbatasan antara amnion dan
chorion. Lapisan ini terutama
mengandung kolagen tipe III dan
DJJ : 12-13-12
berfungsi untuk meredam adanya
HIS : (+) 1-2x10 menit
gangguan fisika seperti tekanan maupun
gesekan.
Sedangkan lapisan chorion yang lebih tebal
Pemeriksaan dalam : dari lapisan amnion terdiri dari 3 lapisan :
13. Lapisan retikuler
Cairan ketuban (+) 14. Membrana basalis
Penatalaksanaan Kekuatan selaput janin bervariasi di setiap
tempat, bila terjadi perubahan perubahan
Amoxicilin 1gr 1 gr IV STAT dalam komposisinya maka dapat terjadi
Amoxsa tab 500mg 3x1 tab (PO) KPSW. Biasanya selaput janin ruptur secara
Kaltrofen sup 3x1 supp fokal, tidak secara menyeluruh menjadi
Torasic 4x30 mg (IV) lemah atau menipis. Daerah di sekitar
Clopedine inj 25 mg rupturnya selaput janin secara mikroskopis
Vomceran inj 4 mg ditandai dengan adanya pembengkakan, dan
Mefinal 500 mg 3x1 tab (PO) terputusnya jaringan kolagen pada lapisan
kompakta, fibroblast, dan spongiosa.
Diagnosis :
Keluar cairan ketuban dari vagina
Inspekulo : keluar cairan dari OUE
pH alkalis (kertas nitrazin merah
biru / biru biru
Mikroskopis cairan : lanugo / vernix
caseosa
USG : cairan amnion (-) / sangat
sedikit
Komplikasi :
Terhadap ibu
Infeksi
Gangguan psikososial
Akibat intrapartum
Perdarahan postpartum
Terhadap bayi:
Iahir prematur
Infeksi
Sindrom potter
Gawat janin
Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik diatas, diagnosis G3P1A1 gravida 36-37 minggu
dengan KPSW. Pasien datang dengan keluhan utama keluar dari jalan lahir sebelum waktu
persalinan.
Tindakan yang dilakukan pada pasien ini adalah terminasi kehamilan dengan cara SC
karena posisi janin dalam keadaan melintang.
27. Nama : Ny. Supriatin
Usia : 40 tahun
DPJP : dr. Hj. D. Dian Indahwati, Sp.OG
Diagnosis Masuk : G2P0A1 parturien aterm kala I fase laten + KPD
Diagnosis Keluar : P1A1 partus matures dengan SC a/I PTM pada KPD +
HT
Pembahasan

Seorang pasien usia 40 tahun, G2P0A1 Ketuban Pecah Sebelum Waktunya dapat
dibagi menjadi 2, yaitu Premature Rupture of
hamil 9 bulan datang dengan keluhan
Membranes (PROM) dan Preterm Premature
keluar cairan ketuban bercampur Rupture of Membrane (PPROM). Premature
rupture of membranes (PROM) merupakan ruptur
meconium dari jalan lahir sejak pukul
pada membran bayi sebelum dimulainya waktu
17.00. Pasien merasa mulas sejak pukul kelahiran. Pada sebagian besar kasus, PROM
terjadi dekat dengan waktu kematangan bayi,
18.00, 1 kali setiap 10 menit selama 10
akan tetapi jika membran pecah sebelum
detik. kehamilan 37 minggu, maka kejaian ini disebut
sebagai PPROM.
Tidak ada gangguan BAB dan BAK
Dalam penelitian, sebagai faktor etiologi
dari KPSW adalah bakteri yang menghasilkan
RPD : Hipertensi phospolipase A2, kolagenase, protease, dan
perubahan pH. Pada sejumlah kasus, infeksi
RPK : - asending lokal dari vagina bertanggung jawab
terhadap melemah dan robeknya selaput ketuban.
R. Operasi : - Pasien dengan kehamilan muda yang membawa
(sebagai karier) satu atau lebih organisme yang
R. KB : - berkaitan dengan penyakit menular seksual
memiliki peningkatan angka kejadian KPSW.
Riwayat menstruasi :
Etiologi tersering penyebab KPSW pada
minggu < 24 minggu adalah ukuran serviks yang
HPHT : tidak ingat pendek yaitu 25 mm pada pemeriksaan dengan
USG transvaginal.
Haid Teratur, siklus 30 hari, lamanya 5
Patofisiologi :
hari
Secara garis besar membran / selaput janin
Tidak nyeri saat haid terdiri dari amnion dan chorion. Lapisan amnion
terletak di sebelah dalam, lapisan ini walaupun
Tidak ada keputihan lebih tipis namun lebih kuat daripada lapisan
chorion. Pada permukaan luar, chorion melekat
pada decidua capsularis. Dalam keadaan normal
selalu terdapat keseimbangan dalam sintesis dan
Status Generalis degradasi dari jaringan amnion dan chorion7,9.
Lapisan amnion tidak mengandung pembuluh
Keadaan Umum : Baik darah maupun saraf. Nutrisi diperoleh dari cairan
amnion melalui proses difusi-osmosis. Lapisan
Kesadaran : Compos Mentis amnion terdiri dari 5 lapisan :
26. Epitel amnion.
Tanda Vital :
Merupakan lapisan yang paling dalam dan
dekat dengan janin. Lapisan ini memproduksi
Tekanan Darah : 170/90 mmHg kolagen tipe III, IV, dan glikoprotein yang
Nadi : 88x/menit, Reguler ketiganya ini akan membentuk lapisan
berikutnya yaitu membrana basalis.
Respirasi : 16 x/menit
27. Membrana basalis
Suhu : 36,6 C
28. Lapisan jaringan ikat padat / kompakta.
Kepala : conjunctiva anemis -/-, sklera Lapisan ini melekat pada membrana basalis
dan merupakan kerangka utama dari lapisan
ikterik -/-
amnion sekaligus kerangka dari selaput janin.
Lapisan ini terutama memproduksi kolagen
Leher : KGB Tidak teraba membesar, interstitial (kolagen tipe I dan III), selain itu
tiroid tidak membesar, JVP 5+2 juga kolagen tipe V dan VI.
cmH2O 29. Lapisan fibroblas
Merupakan lapisan yang paling tebal dari
Thorax : Pulmo : VBS +/+, kanan = kiri, amnion. Lapisan ini mengandung
makrofag-makrofag yang berperan dalam
Rh -/-, Wh -/- respon terhadap adanya inflamasi.

Cor : BJ murni, murmur - 30. Lapisan intermediet / spongiosa.


Merupakan perbatasan antara amnion dan
Abdomen : cembung gravid, nyeri tekan chorion. Lapisan ini terutama mengandung
kolagen tipe III dan berfungsi untuk meredam
(-) adanya gangguan fisika seperti tekanan
maupun gesekan.
Estremitas : oedem -/-, akral dingin, CRT
<2 detik Sedangkan lapisan chorion yang lebih tebal dari
lapisan amnion terdiri dari 3 lapisan :
16. Lapisan retikuler
Status obstetrikus :
17. Membrana basalis
Pemeriksaan luar :
18. Lapisan trofoblas
Leopold 1
Kekuatan selaput janin bervariasi di setiap tempat,
TFU: 30 cm
bila terjadi perubahan perubahan dalam
Leopold 2 komposisinya maka dapat terjadi KPSW.
Biasanya selaput janin ruptur secara fokal, tidak
Puka (melintang)
secara menyeluruh menjadi lemah atau menipis.
Leopold 3 Daerah di sekitar rupturnya selaput janin secara
mikroskopis ditandai dengan adanya
Bagian kecil
pembengkakan, dan terputusnya jaringan kolagen
Leopold 4 pada lapisan kompakta, fibroblast, dan spongiosa.
Konvergen Diagnosis :
Pemeriksaan penunjang: Akibat intrapartum
Perdarahan postpartum
Lab hematologi Terhadap bayi:
Iahir prematur
Hb 12,8 mg/dL Infeksi
Sindrom potter
Leukosit 12,12 Gawat janin

Trombosit 217

Penatalaksanaan
- Dopamel 3x2 tab
- Cefotaxime 1gr 1x2 gr
- Lactamor tab 3x1 tab
- Torasic 30 mg 4x30 mg
- Clopedine inj 4x25 mg
- Vomceran 4mg inj 3x4 mg
- Cefadroxil 500 mg 3x1 tab
- Mefinal 500 mg 3x1 tab

Dari anamenis didapatkan pasien

Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik diatas, diagnosis G2P0A1 parturien aterm dengan
KPSW dan Hipertensi . Pasien datang dengan keluhan utama keluar dari jalan lahir sebelum
adanya tanda- tanda persalinan
Tindakan yang dilakukan pada pasien ini adalah terminasi kehamilan dengan cara SC
karena pasien menderita hipertensi.

28. Nama : Ny. Nurliani


Usia : 41 tahun
DPJP : dr. Arief Budiono, SpOG
Diagnosis Masuk :G3P2A0 gr 38-39 mgg + PEB + BSC + CPD
Diagnosis Keluar :P3A0 partus maturus dengan SC a/I PEB + CPD
Pembahasan
Pasien G3P2A0 usia 41 tahun datang Preeklampsia adalah hipertensi yang timbul
dengan keluhan mulas dan keluar darah setelah 20 minggu kehamilan disertai dengan
dari jalan lahir proteinuria.Kriteria minimum untuk
Riwayat menstruasi : mendiagnosis preeklampsia adalah adanya
HPHT : 16 agustus 2016 hipertensi disertai proteinuria minimal.
Haid Teratur, siklus 28-30 hari, lamanya Hipertensi terjadi ketika tekanan darah sistolik
5-6 hari dan diastolik 140/90 mmHg dengan
Nyeri saat haid pengukuran tekanan darah sekurangkurangnya
Riwayat kontrasepsi : pil dilakukan 2 kali selang 4 jam. Kemudian,
Keadaan Umum : Baik, Kesadaran :
dinyatakan terjadi proteinuria apabila terdapat
Compos mentis
300 mg protein dalam urin selama 24 jam atau
Tanda Vital :
sama dengan 1+ dipstick. 1 Preeklampsia
Tensi : 180/100 mmHg
dengan tekanan darah sistolik 160 mmHg
Nadi :125 x/menit
dan tekanan darah diastolik 110 mmHg
Suhu : 36,3C
disertai proteinuria lebih 5 g/24 jam disebut
Respirasi : 21 x/menit
sebagai preeklampsia berat. Beberapa tanda
Status Generalis : DBN
dan gejala dari preeklampsia berat antara lain
Status Ginekologi :
nyeri epigastrium, sakit kepala dan gangguan
TFU 40 cm
penglihatan akibat edema serebral.
L1: bokong
Faktor Risiko
L2: memanjang, puki
Beberapa faktor risiko untuk terjadinya
L3: kepala
preeklampsia antara lain :
L4: konvergen
1. Primigravida
Pemeriksaan dalam
Primigravida diartikan sebagai wanita
V/V : TAK
yang hamil untuk pertama kalinya.
Pembukaan: 4 cm
Preeklampsia tidak jarang dikatakan
Portio: tipis dan lunak
sebagai penyakit primagravida karena
Ketuban : (+)
Tindakan : memang lebih banyak terjadi pada
Rawat inap primigravida daripada multigravida
Infus RL 2L/24 jam (Wiknjosastro,2002).
SCTP 2. Primipaternitas
Dovamet 250 4x2 tab Primipaternitas adalah kehamilan anak
Ceftriaxone 3x1 amp
pertama dengan suami yang kedua.
Cortidex 1 amp
Recodryl 1cc Berdasarkan teori intoleransi imunologik
antara ibu dan janin dinyatakan bahwa ibu
multipara yang menikah lagi mempunyai
risiko lebih besar untuk terjadinya
preeklampsia jika dibandingkan dengan
suami yang sebelumnya.
3. Umur yang ekstrim
Kejadian preeklampsia berdasarkan usia
banyak ditemukan pada kelompok usia ibu
yang ekstrim yaitu kurang dari 20 tahun
dan lebih dari 35 tahun. Tekanan darah
meningkat seiring dengan pertambahan
usia sehingga pada usia 35 tahun atau
lebih terjadi peningkatkan risiko
preeklamsia.
4. Hiperplasentosis
Hiperplasentosis ini misalnya terjadi pada
mola hidatidosa, kehamilan multipel,
diabetes mellitus, hidrops fetalis, dan bayi
besar.
5. Riwayat pernah mengalami preeklampsia
Wanita dengan riwayat preeklampsia pada
kehamilan pertamanya memiliki risiko 5
sampai 8 kali untuk mengalami
preeklampsia lagi pada kehamilan
keduanya. Sebaliknya, wanita dengan
preeklampsia pada kehamilan keduanya,
maka bila ditelusuri ke belakang ia
memiliki 7 kali risiko lebih besar untuk
Pasien G3P2A0 usia 41 tahun datang dengan keluhan mulas dan keluar darah dari jalan lahir.
Pasien diketahui memiliki riwayat hipertensi. Pada kasus ini pada pasien dilakukan SCTP
karena adanya PEB dan CPD sebagai indikasinya.
LAPORAN DEBORA PERIODE 15-20 Mei 2017

Periode Tugas : 13-18 Maret 2017

No. Nama NRP HP

1. Angellia Pangelah 1315014 08997119186

2. Yeremia Prasetyo 1315099 082115210027

3. Christine Herlina 1315222 087811347106

No. Kasus Jumlah Hidup/Mati Keterangan

1. Partus Normal 3 3/0

2. KPSW

KPSW + Preeklampsi Ringan

Partus SCTP 14 14/0

3. Bayi Sungsang 3 3/0

4. Bayi letak lintang 1 1/0

5. Gawat Janin 1 1/0

6. Persalinan Tidak Maju

7. Gagal Vakum + Suspek Bayi Besar

8. Bekas SC 1 1/0

9. Cephalo-Pelvic Disproprtion 1 1/0

10. Intra Uterine Growth Restriction

11. Peripartum cardiomiopati

12. Oligohidramnion dan bekas SC 4 4/0

13. Hiperemesis Gravidarum 2 2/0

14. Abnormal Uterine Bleeding


15. Kehamilan Ektopik Terganggu

16. Haemorrhagic antepartum

17. Abortus

Abortus inkomplet

Abortus iminens

Abortus komplet

Abortus Insipien

18. Menorrhagia 1 1/0

19. Perdarahan post partum 1 1/0

20. Mioma uteri 2 2/0

21. Torsio Kista Ovarium Bilateral 1 1/0

22. Blighted Ovum

23. Kista Ovarium 1 1/0

24. IUFD (Intra Uterine Fetal Death)

Bandung, Mei 2017

Mengetahui,

dr. Arief Budiono, Sp.OG