Anda di halaman 1dari 2

1.

Latar Belakang

Di Indonesia, data statistik yang berkaitan dengan MSDs masih belum tersedia secara
memadai. Kondisi industi Indonesia yang lebih dominan pekerjaan fisik dan masih lemahnya
pengawasan K3 dibandingkan negara-negara maju cukuplah mengisyaratkan bahwa prevalensi
MSDs di Indonesia pasti lebih tinggi. Beberapa penelitian pendahuluan telah dilakukan oleh
Laboratorium Rekayasa Sistem Kerja & Ergonomi dengan fokus tingkat prevalensi keluhan
yang dialami oleh pekerja. Perlu dicatat bahwa keluhan tidak sama dengan cedera atau kelainan,
namun keluhan dalam waktu lama tanpa penanganan lebih lanjut dapat berdampak pada
kelainan.

Keluhan pada sistem muskuloskeletal adalah keluhan pada bagian-bagian otot rangka yang
dirasakan oleh seseorang mulai dari keluhan sangat ringan sampai sangat sakit. Apabila otot
menerima beban statis secara berulang dan dalam waktu yang lama, akan dapat menyebabkan
keluhan berupa kerusakan pada sendi, ligament dan tendon. Dampak yang diakibatkan oleh
keluhan-keluhan pada tulang belakang yang dialami oleh pekerja jika terus dibiarkan berpeluang
besar menyebabkan dislokasi bagian tulang punggung yang menimbulkan rasa sangat nyeri dan
bisa irreversible serta fatal

Penjahit merupakan salah satu pekerjaan yang terkait dengan postur tubuh dan harus
melakukan pekerjaan yang berulang-ulang pada hanya hanya satu jenis otot. Penjahit
membutuhkan koordinasi gerakan postur tubuh dan konsentrasi tinggi. Perubahan gerakan ini
berlangsung sangat cepat tergantung posisi duduk dan tingginya frekuensi pengulangan gerakan
untuk kurun waktu yang lama akan mendorong timbulnya tekanan pada pinggang dan tulang
punggung serta tengkuk.

Dengan permasalahan di atas maka perlu dilakukan penilaian risiko ergonomi untuk melihat
dan menilai posisi kerja yang biasa dilakukan oleh pekerja. Salah satu metode yang dilakukan
adalah dengan menggunakan Metode Rapid Entire Body Assesement (REBA). Metode REBA
adalah merupakan suatu alat analisis postural yang sangat sensitif terhadap pekerjaan yang
melibatkan perubahan mendadak dalam posisi. Penerapan metode ini ditujukan untuk mencegah
terjadinya risiko cedera yang berkaitan dengan posisi, terutama pada otot-otot skeletal. Oleh
karena itu, metode ini dapat berguna untuk melakukan pencegahan risiko dan dapat sebagai
peringatan bahwa terjadi kondisi kerja yang tidak tepat ditempat kerja.
2. Tinjauan Pustaka
a. Pengertian risiko dan bahaya
Risiko merupakan besarnya penyimpangan antara tingkat pengembalian yang
diharapkan (expected return ER) dengan tingkat pengembalian aktual (actual return)
Hanafi (2006)
Risiko adalah prospek suatu hasil yang tidak disukai (operasional sebagai deviasi
standar) Menurut Arthur J. Keown (2000)
Atau dapat diambil kesimpulan bahwa definisi risiko adalah suatu kondisi yang
timbul karena ketidakpastian dengan seluruh konsekuensi tidak menguntungkan yang
mungkin terjadi.
Bahaya (hazard) ialah semua sumber, situasi ataupun aktivitas yang berpotensi
menimbulkan cedera (kecelakaan kerja) dan atau penyakit akibat kerja (OHSAS 18001,
2007).
Bahaya diartikan sebagai potensi dari rangkaian sebuah kejadian untuk muncul dan
menimbulkan kerusakan atau kerugian. Jika salah satu bagian dari rantai kejadian hilang,
maka suatu kejadian tidak akan terjadi. Bahaya terdapat dimana-mana baik di tempat
kerja atau di lingkungan, namun bahaya hanya akan menimbulkan efek jika terjadi
sebuah kontak atau eksposur (Tranter, 1999).
b. Pengertian REBA
REBA dikembangkan oleh Hignett dan McAtamney pada tahun 2000 sebagai alat
untuk menilai postur terhadap risiko Musculoskeletal Disorder (MSDs). Membentuk
penilaian kuantitatif dari tubuh yang berkaitan dengan beban aktivitas. Dapat digunakan
baik pada postur pergerakan dinamis dan statis, serta menilai hampir semua aktivitas.

http://digilib.esaunggul.ac.id/public/UEU-Undergraduate-6469-BABI.pdf

http://e-journal.uajy.ac.id/402/3/2MTS01427.pdf

http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/62846/Chapter
%20II.pdf;jsessionid=811079514D24EA0B2D1FD4DBF35B3815?sequence=4