Anda di halaman 1dari 41

LAPORAN PRAKTIKUM

IKLIM KERJA

KELAS C
KELOMPOK 3

Abd. Karim (K111 15 337)


A. Irmasari Sanih (K111 15 332)
Andi Muhammad Shalihin (K111 15 329)
Andi Rezki Nadillah (K111 15 335)
Ayu Auralia Safira (K111 15 321)
Indah Nur Insani (K111 15 338)
Naurah Nazipah Amalia (K111 15 323)
Nurfhadila Utami Husain (K111 15 336)
Nurul Muflisha (K111 15 328)
St. Rahmawati (K111 15 331)

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih Lagi Maha
Penyayang, Kami panjatkan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan Rahmat, Hidayah, dan Inayah-Nya kepada kami, sehingga Laporan
Praktikum Iklim Kerja ini dapat diselesaikan dengan baik. Laporan ini disusun
sebagai pelengkap tugas mata kuliah Praktikum Dasar Kesehatan Masyarakat.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa kehadiran laporan ini masih memerlukan
penyempurnaan. Karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang tentunya
bersifat membangun demi kesempurnaan laporan ini.
Tak lupa penulis menghaturkan banyak terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu baik dari segi moril maupun material mulai dari penyusunan
sampai pada pengumpulan laporan ini. Semoga Allah Subhana Wataala
memberikan rahmatNya untuk kita semua.

Makassar, April 2017

Praktikan

ii
DAFTAR ISI

Halaman Sampul ....................................................................................................... i


Kata Pengantar ......................................................................................................... ii
Daftar Isi................................................................................................................... iii
Bab I. Pendahuluan ...................................................................................................1
A. Latar Belakang ..............................................................................................1
B. Tujuan Praktikum ..........................................................................................6
Bab II. Tinjauan Pustaka ..........................................................................................7
A. Tinjauan Umum tentang Definisi Iklim Kerja ..............................................7
B. Tinjauan Umum tentang Jenis-jenis Iklim Kerja ..........................................8
C. Tinjauan Umum tentang Mekanisme Mekanisme Pertukaran Panas ............9
D. Tinjauan Umum tentang Faktor-faktor yang Mempengaruhi Iklim Kerja ..11
E. Tinjauan Umum tentang Nilai Ambang Batas (NAB) Iklim Kerja .............13
F. Tinjauan Umum tentang Dampak Iklim Kerja Terhadap Kesehatan ...........15
G. Tinjauan Umum tentang Pengendalian Iklim Kerja.....................................18
Bab III. Metodologi Praktikum ................................................................................23
A. Tempat dan Waktu Praktikum .....................................................................23
B. Instrument Praktikum ...................................................................................23
C. Prinsip Kerja ................................................................................................25
D. Prosedur Kerja ..............................................................................................26
Bab IV. Hasil dan Pembahasan ................................................................................29
A. Hasil .............................................................................................................29
B. Pembahasan ..................................................................................................31
Bab V. Penutup ........................................................................................................36
A. Kesimpulan ..................................................................................................36
B. Saran .............................................................................................................37
Daftar Pustaka ..........................................................................................................38
Lampiran Foto ..........................................................................................................40

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penggunaan teknologi maju tidak dapat dielakkan, terutama pada era

industrialisasi yang ditandai adanya proses mekanisme, elektrifikasi dan

modernisasi serta transformasi globalisasi. Dalam keadaan demikian

penggunaan mesin-mesin, pesawat, instalasi dan bahan-bahan berbahaya akan

terus meningkat sesuai kebutuhan industrialisasi. Memberikan kemudahan

bagi suatu proses produksi, tentunya efek samping yang tidak dapat dielakkan

adalah bertambahnya jumlah dan ragam sumber bahaya bagi pengguna

teknologi itu sendiri (Sari, 2014).

Kesehatan dan keselamatan kerja merupakan upaya, pemikiran serta

penerapannya ditujukan untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik

jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja khususnya dan manusia pada

umumnya, hasil karya dan budaya, untuk meningkatkan kesejahteraan tenaga

kerja. Perkembangan industri di Indonesia saat ini semakin maju tetapi

perkembangan itu belum diimbangi dengan kesadaran untuk memahami dan

melaksanakan keselamatan kerja secara benar untuk mencegah kecelakaan

yang sering terjadi di tempat kerja (Sucipto, 2014).

Kesehatan dan keselamatan kerja mengandung nilai perlindungan tenaga

kerja dari kecelakaan atau penyakit akibat kerja. Tenaga kerja merupakan aset

organisasi yang sangat berharga dan merupakan unsur penting dalam proses

produksi disamping unsur lainnya seperti material, mesin dan lingkungan

kerja. Upaya perlindungan kesehatan dan keselamatan kerja di Indonesia

2
telah diterapkan dengan dikeluarkannya Undang-undang No. 1 Tahun 1970

tentang Keselamatan Kerja. Perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja

juga mendapat perhatian ILO (International Labour Organization) melalui

berbagai pedoman dan konversi mengenai keselamatan dan kesehatan kerja.

Sebagai anggota ILO, Indonesia telah mengikuti berbagai standar dan

persyaratan kesehatan dan keselamatan kerja termasuk sistem manajemen K3

(Kesehatan dan Keselamatan Kerja) (Alamsyah dan Muliawati, 2013).

Lingkungan kerja yang aman dan nyaman yaitu kondisi di mana peluang

bahaya ditangani dengan benar sehingga pekerja dapat bekerja normal baik

fisik maupun mental sehingga pada akhirnya perusahaan akan lebih mudah

melaksanakan berbagai rencana peningkatan produktivitas kerja. Sebaliknya

pada tingkat pengelolaan kualitas lingkungan kerja yang tidak sesuai, peluang

tercapainya target-target dalam produktivitas kerja secara otomatis menjadi

kecil. Kondisi lingkungan kerja yang tidak nyaman dapat disebabkan antara

lain oleh iklim kerja yang ada di tempat kerja (Ghozali, 2013).

Menurut Permenakertrans Nomor 13 Tahun 2011, iklim kerja adalah

hasil perpaduan antara suhu, kelembaban, kecepatan gerakan udara dan panas

radiasi akibat dari tingkat pengeluaran panas dari tubuh tenaga kerja sebagai

akibat dari pekerjaannya. Jika pekerja terpapar dalam jangka waktu yang

lama maka pekerja yang terpapar panas dapat mengalami penyakit akibat

kerja yaitu menurunnya daya tahan tubuh dan berpengaruh terhadap

timbulnya gangguan kesehatan sehingga berpengaruh terhadap produktifitas

kerja.

3
Efisiensi kerja sangat dipengaruhi oleh iklim kerja. Temperatur yang

telalu panas dapat menjadikan perasaan cepat lelah dan mengantuk,

sebaliknya temperatur yang terlalu dingin dapat mengurangi tingkat atensi

dan ketenangan. Iklim (cuaca) kerja mempengaruhi daya kerja. Produktivitas,

efisiensi dan efektifitas kerja sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim (cuaca)

kerja. Iklim kerja yang termonetra (suhu netral) yang tidak dingin sehingga

tidak menyebabkan tenaga kerja kedinginan atau tidak panas sehingga tenaga

kerja tidak gerah kepanasan biasanya kondusif tidak hanya untuk

melaksanakan pekerjaan tetapi juga memperoleh hasil karya yang baik. Pada

kisaran suhu termonetral untuk bekerja, terdapat suhu yang nyaman atau

mendukung untuk bekerja (Sumamur, 2009).

Hasil penelitian oleh Multi dan Suryalena (2013) tentang Pengaruh Iklim

Kerja Terhadap Semangat Kerja Karyawan PT. Asia Sawit Makmur Jaya

mengatakan bahwa hasil analisis korelasi, nilai R didapat sebesar 0,544. Hal

ini berarti variabel bebas yaitu Iklim Kerja (X) mempunyai pengaruh tingkat

sedang terhadap variabel terikat yaitu semangat kerja karyawan (Y).

Kemudian bila dilihat nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,296, hal ini

menunjukkan bahwa variabel bebas (iklim kerja) tersebut memberikan

sumbangan sebesar 29,6% terhadap variabel terikat (semangat kerja

karyawan). Sedangkan sisanya sebesar 71,4% dipengaruhi oleh variabel

lainnya yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Variabel bebas yang memiliki

t hitung lebih besar dari t tabel, berarti bahwa iklim kerja berpengaruh

terhadap semangat kerja karyawan. Sehingga hipotesis iklim kerja

4
berpengaruh signifikan terhadap peningkatan semangat kerja karyawan

bagian produksi pengolahan CPO pada PT. Asia Sawit Makmur Jaya dapat

diterima.

Penelitian yang dilakukan oleh Indra (2014) tentang Determinan Keluhan

Akibat Tekanan Panas pada Pekerja Bagian Dapur Rumah Sakit di Kota

Makassar menyatakan bahwa sebagian besar responden mengalami keluhan

berat akibat tekanan panas bekerja di tempat yang suhu ruangannya tidak

memenuhi syarat (di atas NAB). Hasil uji statistik menunjukkan ada

hubungan antara suhu ruangan dengan keluhan akibat tekanan panas. Hal ini

terjadi karena paparan suhu tinggi dapat menyebabkan hipotalamus

merangsang kelenjar keringat untuk mengeluarkan keringat sebagai bentuk

respon dari keadaan lingkungan sekitarnya.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Nugroho (2013) tentang

Pengaruh Iklim Kerja Panas Terhadap Kelelahan Tenaga Kerja di Bagian

Peleburan Logam Koperasi Batur Jaya Ceper Klaten menunjukkan bahwa

tingkat kelelahan kerja pada bagian peleburan lebih tinggi dibandingkan

tingkat kelelahan kerja pada bagian produksi, hal ini disebabkan karena

sumber panas berada pada bagian peleburan yaitu tungku atau kuali besar

yang digunakan untuk meleburkan logam, jadi semakin tinggi tingkat

iklim kerja panas semakin tinggi juga tingkat kelelahan kerjanya. Beban

kerja juga mempengaruhi kelelahan kerja dari hasil pengukuran denyut

nadi untuk menentukan beban kerja didapatkan hasil rata-rata denyut

nadi/menit untuk bagian peleburan 130,2 denyut nadi/menit masuk dalam

5
kategori beban kerja sedang, pada bagian produksi 90,13 denyut

nadi/menit masuk dalam kategori beban kerja ringan. Semakin besar

beban kerja yang diterima tenaga kerja maka semakin besar pula tingkat

kelelahan kerjanya.

Berdasarkan penjelasan dan hasi penelitian diatas menggambarkan dapat

diketahui bahwa iklim kerja adalah faktor dari lingkungan yang harus

diperhatikan karena dapat memberikan pengaruh bagi pekerja baik bagi

kesehatan atau produktifitas pekerja. Perlu dilakukan pengukuran iklim

dengan menggunakan 3 (tiga) alat yaitu The WIBGET Heat Stress Monitor

RSS-214, Hygrometer Humadity Meter Lutron LM-8000 dan Anemometer

Lutron LM-8000. Maka praktikum ini dilakukan untuk mengetahui tingkat

tekanan panas dari lingkungan kerja membandingkannya dengan teori-teori

dan standar-standar yang telah di tentukan.

B. Tujuan Praktikum

Tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut.

1. Untuk mengetahui cara-cara pengukuran iklim kerja dengan

menggunakan The WIBGET Heat Stress Monitor RSS-214, Hygrometer

Humadity Meter Lutron LM-8000 dan Anemometer Lutron LM-8000.

2. Untuk mengetahui nilai ISBB, kelembaban udara, kecepatan angin pada

tempat kerja baik di dalam dan di luar ruangan.

6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum tentang Definisi Iklim Kerja

Iklim Kerja diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan

Transmigrasi Nomor 13 Tahun 2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor

Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja. Iklim kerja didefinisikan sebagai

hasil perpaduan antara suhu, kelembaban, kecepatan gerakan udara dan panas

radiasi dengan tingkat pengeluaran panas dari tubuh tenaga kerja sebagai

akibat dari pekerjaannya.

Menurut Sumamur iklim (cuaca) kerja adalah kombinasi dari suhu

udara, kelembaban udara, kecepatan gerak udara, dan panas radiasi. Keempat

faktor tersebut yang dipadankan dengan produksi panas oleh tubuh sendiri

disebut tekanan panas (heat stress) (Sumamur, 2009).

Kecepatan angin menunjukkan kecepatan pergerakan udara yang melalui

pekerja. Udara yang bertiup tersebut berguna untuk menyejukkan pekerja

apabila memiliki suhu lebih rendah dari lingkungan tempat kerja. Udara yang

tidak bergerak dalam ruang tertutup dapat menyebabkan pengap dan bau bagi

pekerja. Pergerakan udara di lingkungan bersuhu tinggi dapat mengurangi

panas aktivitas pekerja juga mempengaruhi pergerakan udara sehingga

kecepatan udara dapat dihitung untuk mengetahui tingkat aktivitas pekerja

(Haditia, 2012).

B. Tinjauan Umum tentang Jenis-jenis Iklim Kerja

Iklim kerja adalah suatu kombinasi dari suhu kerja, kelembaban udara,

kecepatan gerakan udara, dan suhu radiasi pada suatu tempat kerja. Cuaca

7
kerja yang tidak nyaman, tidak sesuai dengan syarat yang ditentukan dapat

menurunkan kapasitas kerja yang berakibat menurunnya efisiensi dan

produktifitas kerja. Kemajuan teknologi dan proses produksi di dalam industri

telah menimbulkan suatu lingkungan kerja yang mempunyai iklim dan cuaca

tertentu yang dapat berupa iklim kerja panas dan iklim kerja dingin (Putra,

2011).

Berikut adalah jenisjenis iklim kerja (Putra, 2011).

1. Iklim Kerja Panas

Iklim kerja panas merupakan meteorologi dari lingkungan kerja yang

dapat disebabkan oleh gerakan angin, kelembaban suhu udara, suhu

radiasi, sinar matahari. Dalam lingkungan kerja panas tenaga kerja

mendapatkan beban tambahan berupa tekanan panas.

Panas sebenarnya merupakan energi kinetik gerak molekul yang

secara terus-menerus dihasilkan dalam tubuh sebagai hasil samping

metabolisme dan panas tubuh yang dikeluarkan ke lingkungan sekitar.

Agar tetap seimbang anatara pengeluaran dan pembentukan panas maka

tubuh mengadakan usaha pertukaran panas dari tubuh ke lingkungan

sekitar melalui kulit dengan cara konduksi, konveksi, radiasi, dan

evaporasi.

Salah satu kondisi yang disebabkan oleh iklim kerja yang terlalu

tinggi adalah heat stress (tekanan panas). Tekanan panas adalah

keseluruhan beban panas yang diterima tubuh yang merupakan

8
kombinasi dari kerja fisik, faktor lingkungan (suhu udara, tekanan uap

air, pergerakan udara, perubahan panas radiasi) dan faktor pakaian.

2. Iklim Kerja Dingin

Pengaruh suhu dingin dapat mengurangi efisiensi dengan keluhan

kaku atau kurangnya koordinasi otot. Sedangkan pengaruh suhu ruangan

sangat rendah terhadap kesehatan dapat mengakibatkan penyakit

chilblains, trench foot, dan frostbite. Pencegahan terhadap gangguan

kesehatan akibat iklim kerja suhu dingin dilakukan melalui seleksi

pekerja yang fit dan penggunaan pakaian pelindung yang baik.

Pemeriksaan kesehatan perlu juga dilakukan secara periodic.

C. Tinjauan Umum tentang Mekanisme Pertukaran Panas

Panas sebenarnya merupakan energi kinetik gerak molekul yang secara

terus menerus dihasilkan dalam tubuh sebagai hasil sampng dari metebolisme

dan panas tubuh yang dikeluarkan ke lingkungan sekitar. Agar tetap

seimbang antara pengeluaran dan pembentukan panas panas maka tubuh

mengadakan usaha pertukaran panas dari tubuh ke lingkungan sekitar melalui

kulit dengan cara konduksi, konveksi, radiasi dan evaporasi (Sumamur

1996), yaitu:

1. Konduksi

Konduksi merupakan pertukaran diantara tubuh dan benda-benda

sekitar dengan melalui sentuhan atau kontak. Konduksi akan

menghilangkan panas dari tubuh apabila benda-benda sekitar lebih dingin

9
suhunya, dan akan menambah panas kepada tubuh apabila benda-benda

sekitar lebih panas dari tubuh manusia.

2. Konveksi

Konveksi adalah petukaran panas dari badan dengan lingkungan

melalui kontak udara dengan tubuh. Proses ini pembuangan panas

terbawa oleh udara sekitar tubuh.

3. Radiasi

Radiasi merupakan tenaga dari gelombang elektromagnetik dengan

panjang gelombang lebih panjang dari sinar matahari. Radiasi adalah

proses yang dengan gelombang elektromagnetik dipindahkan melalui

ruangan tanpa pemindahan materi dalam ruangan atau pancaran panas

yang dikeluarkan dari tubuh manusia kealam sekitarnya, dapat berbentuk

sebagai suatu gelombang elektromagnetik. Setiap benda termasuk tubuh

manusia selalu memancarkan gelombang panas.

4. Evaporasi

Evaporasi adalah keringat yang keluar melalui kulit akan cepat

menguap bila udara diluar badan kering dan terdapat aliran angin

sehingga terjadi pelepasan panas dipermukan kulit, maka cepat terjadi

penguapan yang akhirnya suhu badan bisa menurun.

D. Tinjauan Umum tentang Faktor-faktor yang Mempengaruhi Iklim

Kerja

Menurut World Health Organization (WHO) ditemukan bahwa respon

setiap orang terhadap panas berbeda, meskipun terpapar dalam lingkungan

10
panas yang sama. Hal ini menggambarkan adanya perbedaan kondisi fisiologi

dari masing-masing individu (Wahyu, 2003).

1. Aklimatisasi

Aklimatisasi terhadap suhu tinggi merupakan hasil penyesuaian

seseorang terhadap lingkungannya yang ditandai dengan penurunan

frekuensi denyut nadi dan suhu badan sebagai akibat pembentukan

keringat. Aklimatisasi panas adalah istilah yang diberikan pada suatu

keadaan penyesuaian fisiologik yang terjadi pada seseorang yang

biasanya hidup pada iklim dingin kemudian berada pada iklim panas.

2. Umur

Daya tahan tubuh terhadap panas akan menurun pada umur yang

lebih tua. Orang yang lebih tua akan lambat keluar keringatnya

dibandingkan dengan umur muda. Orang yang lebih tua akan

memerlukan waktu yang lebih lama untuk mengembalikan suhu badan

menjadi normal, demikian pula maksimal denyut jantung dan maksimal

kapasitas kerja berangsur-angsur menurun sesuai dengan bertambahnya

umur.

3. Jenis Kelamin

Terdapat perbedaan kecil dalam kapasitas laki-laki dan perempuan

untuk berkeringat secara cukup dalam iklim panas. Perempuan tidak

dapat beraklimatisasi secara baik seperti laki-laki, hal ini mungkin

disebabkan karena kapasitas cardiovascular perempuan lebih kecil.

Jumlah pengeluaran keringat laki-laki lebih banyak karena hal tersebut

11
merupakan mekanisme dalam tubuh seorang laki-laki agar lebih efisien

dalam bekerja sedangkan jumlah pengeluaran keringat perempuan lebih

sedikit karena hal itu merupakan strategi alamiah tubuh untuk beradaptasi

dengan lingkungan yang panas.

4. Kesegaran Jasmani

Kesegaran jasmani merupakan kemampuan seseorang untuk

melakukan suatu pekerjaan atau aktivitas dimana tubuh menyesuaikan

fungsi alat-alat tubuh dalam batas fisiologis terhadap keadaan lingkungan

atau kerja fisik secara efisien tanpa lelah berlebihan. Bila orang dengan

kesegaran jasmani yang lebih baik biasanya mempunyai kapasitas

cardiovascular yang baik pula.

5. Ukuran Badan

Perbedaan ukuran badan akan mempengaruhi reaksi fisiologis badan

terhadap panas. Orang gemuk mudah meninggal karena tekanan panas

bila dibandingkan dengan orang yang kecil badannya karena orang yang

kecil badannya mempunyai ratio luas permukaan badan yang lebih kecil

dan panas yang ditimbulkan lebih sedikit.

E. Tinjauan Umum tentang Nilai Ambang Batas (NAB) pada Iklim Kerja

Nilai Ambang Batas (NAB) adalah alternatif bahwa walau apapun yang

terdapat dalam lingkungan kerjanya, manusia merasa aman. Nilai Ambang

Batas (NAB) adalah kadar yang pekerja sanggup menghadapinya dengan

tidak menunjukkan penyakit atau kelainan dalam pekerjaan mereka sehari-

12
hari untuk waktu 8 jam per hari dan 40 jam per minggu, sebagai berikut

(Atmaja, 2012):

1. Iklim Kerja

Parameter yang digunakan di Indonesia untuk menilai tingkat iklim

kerja adalah Indeks Suhu Basah dan Bola (ISBB). Indeks Suhu Basah

dan Bola (ISBB) adalah parameter untuk menilai tingkat iklim kerja yang

merupakan hasil perhitungan antara suhu udara kering, suhu basah alami

dan suhu bola.

Berdasarkan Permenakertrans No. 13 Tahun 2011 tentang Nilai

Ambang Batas Faktor Fisika dan Kimia, NAB iklim kerja Indeks Suhu

Basah dan Bola (ISBB) yang diperkenankan, adalah sebagai berikut:

Tabel 2.1
Nilai Ambang Batas Iklim Kerja Indeks Suhu Basah dan Bola
(ISBB) yang Diperkenankan di Tempat Kerja

Pengukuran ISBB (C)


Waktu Kerja Beban Kerja
Setiap Jam Ringan Sedang Berat
75% - 100 % 31,0 28,0 -
50% - 75% 31,0 29,0 27,5
25% - 50% 32,0 30,0 29,0
0% - 25% 32,2 31,1 30,5
(Sumber : Permenakertrans No. 13 Tahun 2011)

Indeks Suhu Basah dan Bola (ISBB) untuk di luar ruangan dengan

panas radiasi adalah:

ISBB = 0,7 Suhu basah alami + 0,2 Suhu bola + 0,1 Suhu kering

Indeks Suhu Bola Basah (ISBB) untuk di dalam atau di luar ruangan

tanpa panas radiasi adalah:

13
ISBB = 0,7 Suhu basah alami + 0,3 Suhu bola
Catatan:

a. Beban kerja ringan membutuhkan kalori sampai dengan 200 kk/jam.

b. Beban kerja sedang membutuhkan kalori lebih dari 200 kk/jam

sampai dengan kurang dari 350 kk/jam.

c. Beban kerja berat membutuhkan kalori lebih dari 350 kk/jam sampai

dengan kurang dari 500 kk/jam.

2. Kelembaban Udara

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405

Tahun 2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja

Perkantoran dan Industri ditetapkan bahwa nilai kelembaban lingkungan

kerja ruang kantoran yang nyaman berkisar 40% RH-60% RH. Peraturan

ini pun menjelaskan bila kelembaban udara ruang kerja > 60% RH perlu

menggunakan alat dehumidifier sedangkan kelembaban udara ruang kerja

jika < 40% RH perlu menggunakan humidifier (misalnya mesin

pembentuk aerosol). Adapun untuk lingkungan kerja ruangan industri,

nilai kelembaban yang nyaman bagi pekerja berkisar 65% RH-95% RH

dengan penggunaan dehumidifer jika kelembabannya > 95% RH dan

penggunaan humidifer jika kelembabannya < 65% RH.

3. Kecepatan Angin

Menurut standar baku mutu Kepmenkes No. 261 Tahun 1998,

kecepatan aliran udara berkisar antara 0,15 m/s-0,25 m/s. Kecepatan

aliran udara < 0,1 m/s atau lebih rendah menjadikan ruangan tidak

14
nyaman karena tidak ada pergerakan udara, sebaliknya bila kecepatan

udara terlalu tinggi akan menyebabkan cold draft atau kebisingan di

dalam ruangan.

F. Tinjauan Umum tentang Dampak Iklim Kerja Terhadap Kesehatan

Salah satu kondisi yang disebabkan oleh iklim kerja yang terlalu tinggi

adalah apa yang dinamakan dengan heat stress (tekanan panas). Tekanan

panas adalah keseluruhan beban panas yang diterima tubuh yang merupakan

kombinasi dari kerja fisik, faktor lingkungan (suhu udara, tekanan uap air,

pergerakan udara, perubahan panas radiasi) dan faktor pakaian. Tekanan

panas akan berdampak pada terjadinya (Putra, 2011):

1. Dehidrasi

Penguapan yang berlebihan akan mengurangi volume darah dan

pada tingkat awal aliran darah akan menurun dan otak akan kekurangan

oksigen.

2. Heat Rash

Yang paling umum adalah prickly heat yang terlihat sebagai papula

merah, hal ini terjadi akibat sumbatan kelenjar keringat dan retensi

keringat. Gejala bias berupa lecet terus-menerus dan panas disertai gatal

yang menyengat.

3. Heat Fatigue

Gangguan pada kemampuan motorik dalam kondisi panas. Gerakan

tubuh menjadi lambat, kirang waspada terhadap tugas.

15
4. Heat Cramps

Kekejangan otot yang diikuti penurunan sodium klorida dalam darah

sampai di bawah tingkat kritis, dapat terjadi sendiri atau bersama dengan

kelelahan panas, kekejangan timbul secara mendadak.

5. Heat Exhaustion

Kelelahan ini disebabkan karena kekurangan cairan tubuh atau

elektrolit. Kelelahan timbul sebagai akibat kolaps sirkulasi darah perifer

akibat dehidrasi dan defisiensi garam. Kelelahan panas dapat terjadi pada

keadaan dehidrasi dan difisiensi garam tanpa dehidrasi. Kelainan ini

dapat dipercepat terjadinya pada orang-orang yang kurang minum,

berkeringat banyak, muntah-muntah, diare atau penyebab lain yang

mengakibatkan banyak pengeluaran air.

6. Heat Sincope

Keadaan kolaps atau kehilangan kesadaran selama penajanan panas

dan tanpa kenaikan suhu tubuh atau penghentian keringat. Kesadaran

menurun secara mendadak akibat kehilangan cairan yang berlebihan oleh

pengeluaran keringat dan terjadinya hipotensi serebri yaitu insufidiensi

aliran darak ke otak untuk sementara pada saat berdiri akibat terjadinya

vasodilitasi pembuluh darah kulit secara serentak sehingga darah

menumpuk di tungkai.

16
7. Heat Stroke

Kerusakan serius yang berkaitan dengan kesalahan pada pusat

pengatur suhu tubuh. Pada kondisi ini mekanisme pengatur suhu tidak

berfungsi lagi disertai hambatan proses penguapan secara tiba-tiba.

Adapun dampak yang ditimbulkan oleh iklim kerja dingin menurut

Sumamur (2009) yaitu:

1. Chilblains

Penderita chilblains, pada bagian tubuh yang terkena, menunjukkan

tanda yang khas, yaitu membengkak, merah, panas, dan sakit dengan

diselingi gatal. Chilblains diderita oleh seorang pekerja sebagai akibat

bekerja di tempat yang cukup dingin dengan waktu yang lama. Faktor

makanan (defisiensi gizi) juga akan berpengaruh terhadap terjadinya

penyakit tersebut.

2. Trench foot

Trench foot adalah kerusakan anggota-anggota badan terutama kaki,

akibat kelembaban atau dingin walaupun suhu masih di atas titik beku.

Awalnya kaki kelihatan pucat, nadi tidak teraba dan nampak pucat.

Pekerja yang kelelahan akan merasa kesemutan, kaku dan terasa berat

pada kakinya. Stadium ini diikuti hypetermis, yaitu kaki membengkak,

merah dan sakit.

3. Frostbite

Frostbite adalah akibat suhu yang sangat rendah dibawah titik beku.

Kondisi penderita sama seperti yang mengalami trench foot, namun

17
stadium akhir penyakit frostbite adalah gangrene. Perbedaan antara

ketiga penyakit di atas adalah cacat menetap pada frostbite serta cacat

sementara pada penyakit chilblains dan trench foot.

G. Tinjauan Umum tentang Pengendalian Iklim Kerja

Pengendalian iklim kerja sebagai upaya agar dapat mendorong

produktivitas kerja antara lain adalah penyelenggaraan air conditioning (AC)

di tempat kerja. Kesalahan sering terjadi dengan memasang suhu terlalu

rendah yang berakibat timbulnya aneka keluhan oleh karena udara ruang

kerja yang sangat dingin dan suhu sangat rendah di tempat kerja diikuti oleh

meningkatnya penyakit tenggorok dan pernafasan. Suhu yang terlalu dingin

menyebabkan tenaga kerja lebih sering buang air kecil dan hal ini cukup

menganggu kelancaran pelaksanaan pekerjaan (Sumamur, 2009):

1. Suhu disetel pada 24C-26C atau lebih rendah 1C-2C.

2. Penggunaan AC di tempat kerja disertai pula upaya pemasangan AC di

rumah agar tenaga kerja berada pada kondisi suhu yang stabil di rumah

dan di tempat kerja.

3. Bila perbedaan suhu diluar dan didalam ruangan lebih dari 5C, perlu

diadakan suatu kamar adaptasi untuk meniupkan udara di pintu keluar

sehingga perbedaan suhu berkurang.

Orang Indonesia umumnya beraklimatisasi iklim tropis, yang suhunya

sekitar 28C-32C dengan kelembaban sekitar 85% RH-95% RH bahkan

mungkin lebih. Aklimatisasi terhadap suatu iklim (cuaca) berarti penyesuaian

yang terjadi pada seseorang terhadap suatu iklim (cuaca) tertentu sehingga

18
menjadi terbiasa terhadap iklim (cuaca) tersebut dan kondisi fisik, faal dan

psikis tidak mengalami efek buruk dari cuaca yang dimaksud. Aklimatisasi

merupakan suatu proses yang pada akhirnya tercapai kesesuaian antara faktor

manusia dan faktor iklim (cuaca) (Sumamur, 2009).

Pencegahan timbulnya efek buruk lingkungan kerja dingin dilakukan

dengan seleksi tenaga kerja yang paling cocok untuk pekerjaan yang

dimaksud dan penggunaan pakaian pelindung yang benar-benar memadai.

Penyakit akibat kerja oleh suhu rendah belum merupakan penyakit penting

untuk iklim tropis, namun perhatian harus mulai lebi banyak diberikan

terhadapnya mengingat tidak jarang tenaga kerja tanpa proteksi pakaian yang

cukup bekerja di kamar pendingin dengan akibat menggigil kedinginan dan

wajah berwarna kebiru-biruan (Sumamur, 2009).

Menurut Mallapiang (2014), pengendalian bahaya iklim kerja merupakan

suatu hal yang wajib diterapkan dalam suatu area kerja yang memiliki

intensitas paparan radiasi yang tinggi. Risiko gangguan kesehatan akibat

bekerja di lingkungan kerja dengan keadaan yang tidak sesuai dengan NAB

dapat dikurangi dengan metode hierarcy of control. Metode tersebut terdiri

atas:

1. Eliminasi

Hierarki teratas yaitu eliminasi atau menghilangkan bahaya

dilakukan pada saat desain, tujuannya adalah untuk menghilangkan

kemungkinan kesalahan manusia dalam menjalankan suatu sistem karena

adanya kekurangan pada desain. Eliminasi dapat pula dilakukan dengan

19
cara memindahkan perlengkapan yang memiliki intensitas radiasi tinggi.

Penghilangan bahaya merupakan metode yang paling efektif sehingga

tidak hanya mengandalkan perilaku pekerja dalam menghindari resiko.

Penghapusan benar-benar terhadap bahaya tidak selalu praktis dan

ekonomis. Hal ini dilakukan untuk menutup area yang bersuhu tinggi,

menghilangkan sumber-sumber yang menyebabkan iklim melewati NAB.

2. Substitusi

Metode pengendalian ini bertujuan untuk mengganti bahan, proses,

operasi ataupun peralatan dari yang berbahaya menjadi lebih tidak

berbahaya. Pengendalian ini dapat menurunkan bahaya dan risiko

minimal melalui desain sistem ataupun desain ulang. Salah satu contoh

metode substitusi pada sumber bahaya iklim kerja yaitu mengganti mesin

yang menghasilkan tekanan panas dengan mesin yang lebih rendah

menghasilkan tekanan panas.

3. Pengendalian secara Teknik

Pengendalian secara teknik adalah pengendalian yang dilakukan

dengan memberikan perlakuan pada teknik penggunaan mesin ataupun

langsung pada bagian mesinnya. Pengendalian ini dilakukan bertujuan

untuk memisahkan bahaya dengan pekerja serta untuk mencegah

terjadinya kesalahan manusia. Pengendalian ini terpasang dalam suatu

unit sistem mesin atau peralatan. Pengendalian secara teknik dapat

berupa pembatas fisik yang diterapkan/diintegrasikan dalam teknik

proteksi sebagai berikut:

20
a. Mengurangi produksi panas metabolik tubuh.

b. Automatisasi dan mekanisasi beban tugas akan meminimalisir

kebutuhan kerja fisik para pekerja.

c. Mengurangi penyebaran panas radiasi dari permukaan benda-benda

yang panas.

d. Mengurangi bertambahnya panas konveksi. Kipas angin untuk

meningkatkan kecepatan gerak udara diruang kerja yang panas.

e. Mengurangi kelembaban.

4. Pengendalian secara Administratif

Pengendalian secara administratif adalah pengendalian yang

ditujukan pada sisi orang yang akan melakukan pekerjaan, dengan

dikendalikan metode kerja diharapkan orang akan mematuhi, memiliki

kemampuan dan keahlian cukup untuk menyelesaikan pekerjaan secara

aman. Suatu metode administrasi untuk mencegah atau meminimalkan

pajanan terhadap hazard iklim kerja meliputi:

a. Klasifikasi daerah kerja.

b. Pengaturan shift kerja.

c. Pemasangan tanda-tanda secara jelas.

d. Penyediaan air minum yang cukup.

e. Pelatihan untuk pekerja dan manajer.

f. Periode aklimatisasi yang cukup sebelum melaksanankan beban

kerja yang penuh.

21
g. Prosedur kerja yang mengintegrasikan faktor waktu, jarak dan

penahan.

h. Local rules (misalnya pembatasan akses, persyaratan untuk memakai

dosimeter alarm).

5. Alat Pelindung Diri (APD)

Alat Pelindung Diri (APD) merupakan pengendalian yang terakhir,

APD hanya berfungsi untuk mengurangi tingkat keparahan saja dan tidak

pernah menghilangkan bahaya. Praktisi K3 menilai pengendalian

menggunakan APD adalah pengendalian yang paling tidak efektif dan

cara terakhir jika pengendalian-pengendalian sebelumnya masih

menyisakan risiko (residual risk). Pemilihan dan penggunaan alat

pelindung diri merupakan merupakan hal yang paling tidak efektif dalam

pengendalian bahaya, dan APD hanya berfungsi untuk mengurangi risiko

dari dampak bahaya. Karena sifatnya hanya mengurangi, perlu dihindari

ketergantungan yang hanya mengandalkan alat pelindung diri dalam

menyelesaikan setiap pekerjaan. APD atau perlengkapan proteksi yang

biasa digunakan yaitu helm, kaca mata yang menyerap panas radiasi,

masker, sepatu dan pakaian kerja yang sesuai dengan iklim di lingkungan

kerja.

22
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

A. Waktu dan Lokasi Praktikum

Praktikum dilakukan pada hari Rabu tanggal 5 April 2017 pada pukul

13.00 WITA sampai selesai. Praktikum dilakukan di Ruang Kelas KB-114

FKM Universitas Hasanuddin untuk pengukuran indoor, serta di Lego-Lego

FKM Universitas Hasanuddin untuk pengukuran outdoor.

B. Alat dan Bahan

1. Alat

Alat yang digunakan dalam pengukuran iklim kerja yaitu :

a. Heat Stress Monitor RSS-214, terdiri dari 3 termometer yaitu :

1) Termometer Bola atau Globe Temperature

2) Termometer Kering atau Dry Temperature

3) Termometer Basah atau Wet Temperature

Gambar 1. The WIBGET Heat Stress Monitor RSS-214


Sumber : Data Primer 2017

23
b. Higrometer Lutron LM-8000 atau Humidity

Gambar 2. Higrometer Lutron LM-8000


Sumber : Data Primer 2017

c. Anemometer Lutron LM-8000

Gambar 3. Anemometer Lutron LM-8000


Sumber : Data Primer 2017

24
2. Bahan

a. Deminelaizier

Gambar 4. Deminelaizier
Sumber : Data Primer 2017

b. Aquades

Gambar 5. Aquades
Sumber : Data Primer 2017

C. Prinsip Kerja

A. Heat Stress Monitor RSS 214

The Wibget Heat Stress Monitor RSS 214 terdiri dari tiga termometer

yaitu, Termometer Bola/Globe Temperature yang berfungsi untuk

mengukur panas radiasi, Termometer Kering/Dry Temperature berfungsi

untuk mengukur suhu kering, dan Termometer Basah/Wet Temperature

25
untuk mengukur suhu basah. Heat Stress Monitor terdiri dari beberapa

komponen yaitu, tombol select untuk mengganti satuan OC atau OF, tombol

function untuk mengatur pengukuran di dalam atau di luar dan melihat

nilai WB, DB dan GB.

B. Hygrometer Lutron LM-8000/Humidity

Hygrometer dengan tipe Lutron LM-8000 adalah alat yang digunakan

untuk mengukur kelembaban atau Relatif Humidity (RH). Hygrometer

terdiri dari beberapa komponen yaitu, display yang berukuran 59 mm x 34

mm yang berfungsi untuk menampilkan hasil, tombol power untuk

menyalakan alat, tombol max/min untuk merekam nilai maksimum dan

minimum, tombol function untuk mengatur satuan, serta alat sensor.

C. Anemometer Lutron LM-8000

Anemometer Lutron LM-8000 terdiri dari beberapa komponen yaitu ,

display yang berukuran 59 mm x 34 mm yang berfungsi untuk

menampilkan hasil, tombol power untuk menyalakan alat, tombol max/min

untuk merekam nilai maximum dan minimum, tombol function untuk

mengatur satuan, serta kincir yang dapat berputar jika terkena angin.

D. Prosedur Kerja

1. Heat Stress Monitor RSS 214

a. Ketiga termometer dipasang ke alat sesuai dengan pot antena masing-

masing.

26
b. Deminelaizier dibasahi dengan meneteskan aquadesdengan campuran

deminelazier secukupnya. Jagalah agar termometer tetap basah selama

melakukan pengukuran.

c. Tombol Power dinyalakan.

d. Tombol select ditekan untuk menentukan derajat yang ingin digunakan

(dalam praktikum ini, kami menggunakan satuan C).

e. Untuk mengukur ISBB dalam ruangan, tombol view ditekan sampai

muncul kode WBGT in pada monitor, lalu ditunggu selama dua menit

lalu nilai WBGT pada monitor dicatat.

f. Untuk mengukur suhu basah, tombol view ditekan sampai muncul

kode WB in pada monitor, lalu ditunggu selama dua menit lalu nilai

WB pada monitor dicatat.

g. Untuk mengukur suhu radiasi, tombol view ditekan sampai muncul

kode GT pada monitor kemudia ditunggu selama dua menit lalu nilai

GT pada monitor dicatat.

h. Untuk mengukur ISBB di luar ruangan, tombol view ditekan sampai

muncul kode WBGT out pada monitor, lalu ditunggu selama dua menit

lalu nilai WBGT pada monitor dicatat.

i. Untuk pengukuran suhu basah dan suhu radiasi, sama dengan

pengukuran suhu basah dan suhu radiasi di dalam ruangan.

j. Khusus untuk pengukuran di luar ruangan, juga dihitung suhu kering

(DB), caranya tombol view ditekan sampai muncul kode DB pada

27
monitor lalu ditunggu selama dua menit lalu nilai DB pada monitor

dicatat.

2. Hygrometer/Humidity Lutron LM-8000

a. Sensor dengan alat dihubungkan.

b. Alat diarahkan pada sumber seperti dibawah kipas angin, AC, di depan

pintu Laboratorium dan di luar Laboratorium.

c. Tombol Power ditekan.

d. Kemudian tombol recditekan untuk merekam dan tunggu hingga 2

menit.

e. Lihat angka yang muncul pada display kemudian hasilnya dicatat.

3. Anemometer Lutron LM-8000

a. Alat diarahkan pada sumber angin seperti kipas angin, AC, di depan

pintu Laboratorium dan di luar Laboratorium.

b. Tombol Power ditekan.

c. Kemudian tombol rec ditekan untuk merekam dan tunggu hingga 2

menit.

d. Lihatlah angka yang muncul pada display kemudian hasilnya dicatat.

28
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

1. Hasil Pengukuran Indeks Suhu Basah dan Bola (ISBB)

Berdasarkan proses pengukuran kecepatan angin, suhu dan

kelembaban udara pada lingkungan kerja Ruang Kelas KB-114 dan Lego-

Lego FKM Universitas Hasanuddin, untuk itu diperoleh nilai indeks suhu

basah dan bola sebagai berikut :

Tabel 4.1
Hasil Pengukuran Indeks Suhu Basah dan Bola (ISBB)
dengan The Wibget Heat Stress Monitor RSS-214
di Ruang Kelas KB-114 dan Lego-Lego FKM Unhas
Tahun 2017

Pengukuran Percobaan (0C)


WB DB GT WBGT
Indoor 12,90C - 1190C 70,80C
Outdoor 12,80C 28,10C 117,10C 90,00C
(Sumber: Data Primer, 2017)
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa baik WB, GT, maupun WBGT

terdapat perbedaan antara pengukuran indoor dengan outdoor, dimana

hasil pengukuran outdoor lebih besar dari pada indoor.

2. Hasil Pengukuran Kecepatan Angin

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, hasil pengukuran kecepatan

angin adalah sebagai berikut :

29
Tabel 4.2
Hasil Pengukuran Kecepatan Angin dan Suhu
dengan Anemometer Lutron LM-8000
di Ruang Kelas KB-114 dan Lego-Lego FKM Unhas
Tahun 2017

No. Pengukuran Dalam Ruangan Luar Ruangan


(Indoor) (Outdoor)
1 Kecepatan Angin Maksimal 1,6 m/s 0,2 m/s
2 Kecepatan Angin Minimal 0,3 m/s 0,0 m/s
3 Suhu Maksimal 23,10C 29,20C
4 Suhu Minimal 21,20C 29,20C
(Sumber: Data Primer,2017)

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa terjadi perbedaan baik kecepatan

angin di luar maupun di dalam ruangan. Sementara tidak ada perbedaan

antara pengukuran suhu maksimal dan minimal di luar ruangan. Kecepatan

angin maksimal dalam ruangan 1,6 m/s dan kecepatan angin minimal 0,3

m/s. Suhu maksimal dan minimal dalam ruangan yaitu 23,10C dan 21,20C.

Kecepatan angin maksimal dan minimal di luar ruangan masing-masing

0,2 m/s dan 0,0 m/s. Suhu maksimal dan minimal di luar ruangan sama

yaitu 29,20C.

3. Hasil Pengukuran Kelembaban Udara

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan diperoleh hasil pengukuran

kelembaban udara dalam tabel berikut :

30
Tabel 4.3
Hasil Pengukuran Kelembaban Udara dan Suhu
dengan Hygrometer Lutron LM-8000
di Ruang Kelas KB-114 dan Lego-Lego FKM Unhas
Tahun 2017

No. Pengukuran Dalam Ruangan Luar Ruangan


(Indoor) (Outdoor)
1 Kelembaban Maksimal 68,7%RH 84,6%RH
2 Kelembaban Minimal 62,7%RH 80,1%RH
3 Suhu Maksimal 25,90C 28,30C
4 Suhu Minimal 25,90C 28,30C
(Sumber: Data Primer,2017)

Dari tabel pengukuran di atas dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan

antara kelembaban maksimal dan minimal antara indoor dan outdoor,

namun pada keduanya memiliki hasil suhu maksimal dan minimal yang

sama. Kelembaban maksimal dalam ruangan 68,7%RH dan kelembaban

minimal 62,7%RH. Suhu maksimal dan minimal dalam ruangan yaitu

25,90C. Kelembaban maksimal dan minimal di luar ruangan masing-

masing 84,6%RH dan 80,1%RH. Suhu maksimal dan minimal di luar

ruangan sama yaitu 28,30C.

B. Pembahasan

Pengukuran iklim kerja dilakukan di dua tempat yakni di Ruang Kelas

KB-114 dan Lego-Lego FKM Universitas Hasanuddin. Penentuan titik

pengambilan sampel berdasarkan identifikasi adanya kemungkinan terjadinya

tekanan panas karena adanya sumber atau pajanan panas. Pada praktikum ini

digunakan 3 (tiga) alat yaitu The Wibget Heat Stress Monitor RSS-214,

Anemometer Lutron LM-8000 dan Hygrometer Lutron LM-8000.

31
1. Iklim Kerja

Pengukuran iklim kerja dilakukan menggunakan alat The Wibget Heat

Stress Monitor RSS-214 untuk mengetahui nilai WBGT/ISBB (Indeks

Suhu Basah dan Bola), WB (suhu basah), DB (suhu kering) dan GT (suhu

bola). Nilai ISBB di dalam ruangan KB-114 dapat diketahui dengan

menggunakan The Wibget Heat Stress Monitor RSS-214 diperoleh nilai

70,8C. Adapun nilai WB yakni 12,90C dan nilai GT yaitu 1190C. Pada

pengukuran di dalam ruangan tidak dihitung nilai DB. Sementara pada

pengukuran di luar ruangan yakni di lego-lego FKM Unhas dengan

menggunakan alat The Wibget Heat Stress Monitor RSS-214 diperoleh

hasil 90,0C. Nilai WB yaitu 12,80C, besar nilai DB yaitu 28,10C, dan nilai

GT yakni 117,10C. Hasil pengukuran tidak dibandingkan dengan hasil

pengukuran dengan menggunakan rumus. Tetapi dibandingkan dengan

NAB yang sesuai dengan karakteristik beban kerja berdasarkan pengaturan

waktu kerja. Pada pasal 2 di Kep-51.Men/1999 tentang Nilai Ambang

Batas (NAB) iklim kerja ISBB yang diperkenankan tidak melebihi :

a. Jenis pekerjaan ringan, WBGT 30,00C

b. Jenis pekerjaan sedang, WBGT 26,70C

c. Jenis pekerjaan berat, WBGT 25,00C

Berdasarkan hasil pengukuran ISBB tersebut, iklim kerja dosen dan

mahasiswa berada pada ISBB yang tidak diperkenankan dan berada dalam

kondisi berisiko untuk terpajan iklim kerja yang dapat mengganggu

kesehatan, sehingga dengan demikian pengendalian terkait iklim kerja

32
harus dilakukan agar dapat tetap meningkatkan produktifitas dosen

maupun mahasiswa dan mencegah dari penyakit yang disebabkan oleh

faktor iklim kerja.

2. Kecepatan Angin

Pengukuran kedua dilakukan dengan mengukur kecepatan angin dan

suhu menggunakan alat Anemometer Lutron LM-8000. Pengukuran

dilakukan di dalam dan luar ruangan. Sama halnya dengan pengukuran

kelembaban, pengukuran di KB-114 FKM Unhas dilakukan di depan AC

dan untuk di luar ruangan dilakukan di Lego-lego FKM Unhas.

Berdasarkan pengukuran di dalam ruangan didapatkan hasil kecepatan

maksimum dan minimum masing-masing 1,6 m/s dan 0,3 m/s dengan suhu

maksimum dan minimum 23,1C dan 21,20C. Hasil tersebut berarti telah

melewati NAB yang diperkenankan yaitu 0,15 m/s-0,25 m/s. Hal tersebut

mungkin dikarenakan saat dilakukan pengukuran alat diarahkan terlalu

dekat dengan AC sehingga hasil tidak akurat.

Hasil pengukuran di luar ruangan yang dilakukan di Lego-lego FKM

Unhas didapatkan kecepatan angin maksimum yaitu 0,2 m/s dan minimum

0,0 m/s dengan suhu udara maksimum dan minimum 29,2C. Berdasarkan

hasil tersebut Lego-lego FKM bisa dikatakan sebagai ruangan nyaman

karena kecepatan angin 0,1 m/s atau lebih tinggi menjadikan ruangan

nyaman sebab ada pergerakan udara namun bila kecepatan angin terlalu

tinggi akan menyebabkan cold draft atau kebisingan di luar ruangan.

33
Perpindahan panas selalu proporsioanal dengan temperatur. Pada

kondisi lingkungan dingin, tubuh kehilangan banyak panas sehingga dapat

menimbulkan rasa tidak nyaman, kemudian tubuh berusaha mencegah

hilangnya panas dengan mengerutkan pembuluh darah yang berada dekat

permukaan kulit sehingga menyebabkan kulit terlihat lebih pucat. Pada

lingkungan yang dingin, tubuh akan mengurangi sirkulasi darah menuju

kulit serta getaran-getaran pada anggota tubuh. Jika temperatur udara

ruangan lebih rendah dari pada suhu permukaan tubuh, maka tubuh akan

meningkatkan transfer panasnya melalui proses konveksi dan radiasi

(Haditia, 2012).

3. Kelembaban Udara

Pengukuran kelembaban udara dilakukan dengan menggunakan alat

Hygrometer Lutron LM-8000. Pengukuran dilakukan di dalam dan di luar

ruangan. Pengukuran di dalam ruangan, titik sampel berada di KB-114

FKM Unhas yaitu diarahkan di depan AC dan diperoleh hasil kelembaban

maksimum dan minimum masing-masing 68,7%RH dan 62,7%RH. Sesuai

dengan NAB Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

1405/MENKES/SK/XI/2002 tentang persyaratan kesehatan lingkungan

kerja perkantoran dan industri menetapkan nilai kelembaban lingkungan

kerja ruang kantoran yang nyaman berkisar 40-60%RH maka hasil

tersebut sudah melewati batas yang diperkenankan.

Pengukuran diluar ruangan dilakukan di Lego-lego FKM dan hasil

pengukuran yang didapatkan yaitu kelembaban udara maksimum yaitu

34
84,6%RH dan minimum 80,1%RH yang berarti kelembaban yang dimiliki

masih aman dan tidak melewati NAB Keputusan Menteri Kesehatan

Republik Indonesia Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002 tentang

persyaratan kesehatan lingkungan kerja perkantoran dan industri

menetapkan nilai kelembaban lingkungan kerja ruang industri yang

nyaman berkisar 65-95%RH.

Kondisi lingkungan kerja dikatakan cukup baik jika perubahan laju

detak jantung yang dialami oleh pekerja selama bekerja di lingkungan

tersebut tidak terlalu besar. Semakin tinggi temperatur udara maka

seseorang akan semakin banyak melibatkan proses evaporasi dalam

transfer panas tubuhnya. Jika kelembaban udara tinggi maka dapat

menghambat proses evaporasi. Akibatnya akan menimbulkan perasaan

tidak nyaman (discomfort) yang ditandai dengan terpicunya jantung untuk

memompa darah lebih cepat. Selain itu, pada lingkungan yang sangat

lembab (kelembaban relatifnya mendekati 100%), udara akan dipenuhi

dengan uap air sehingga kadar oksigen di udara berkurang. Hal ini

menyebabkan jantung sulit memperoleh oksigen yang dibutuhkan darah

sehingga memacu jantung untuk bekerja lebih cepat (Sari, 2014).

35
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan dapat ditarik beberapa kesimpulan,

antara lain:

1. Alat yang digunakan untuk mengukur iklim kerja ada tiga yaitu The

Wibget Heat Stress Monitor RSS-214 untuk mengukur indeks suhu basah

dan bola (ISBB), hygrometer tipe Lutron LM-8000 untuk mengukur

kelembaban udara dan anemometer tipe Lutron LM-8000 untuk

mengukur kecepatan angin.

2. Hasil pengukuran iklim kerja di lokasi praktikum diperoleh data sebagai

berikut :

a. Iklim Kerja

Hasil menunjukkan ISBB didalam dan diluar ruangan

dikategorikan dalam standar aman untuk beban kerja ringan. Namun,

tetap diperlukan pengendalian untuk mencegah hal yang tidak

diinginkan.

b. Kecepatan Angin

Hasil pengukuran kecepatan angin yang dilakukan didalam

ruangan menunjukkan bahwa gerakan angin di depan AC kurang

nyaman sedangkan untun diluar ruangan kecepatan angin tergolongon

optimal

36
c. Kelembaban Udara

Pengukuran kelembaban udara didalam ruangan didapatkan hasil

pengukuran telah melewati batas yang diperkenankan. Dosen dan

mahasiswa berisiko mengalami gangguan akibat iklim kerja

sedangkan diluar ruangan hasil pengukuran masih dalam batas aman

dan diperkenankan

B. Saran

1. Bagi pihak yang selalu berada di ruangan yang agak tertutup seperti

ruangan kelas yang ber-AC untuk memperhatikan ventilasi agar

mengurangi temperatur dan kelembaban udara sehingga pekerja nyaman

dalam bekerja.

2. Bagi pihak dosen pengampuh mata kuliah praktikum K3, sebaiknya

mulai dari tahap pengambilan sampel hingga selesai di tahap langkah

kerja sebaiknya perlu langsung bimbingan dosen yang bersangkutan, agar

kita tidak salah menentukan kesimpulan dari hasil praktikum.

3. Bagi praktikan, agar hasil praktikum iklim kerja kali ini tidak sebatas

sampai disini, sebaiknya dilain waktu dapat menggunakan instrumen dan

metode yang berbeda beda sehingga pengetahuan kita terhadap iklim

kerja akan bertambah.

37
DAFTAR PUSTAKA

Alamsyah, D. dan Muliawati, R. 2013. Pilar Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat.


Yogyakarta: Nuha Medika.
Atmaja AK. 2012. Hubungan Antara Iklim Kerja Panas dengan Tingkat
Dehidrasi pada Tenaga Kerja di Unit Kantin PT. Indo Acidatama, Tbk,
Kemiri, Kebakkramat, Karanganyar. Skripsi Ilmiah. Surakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Sebelas Maret. Diakses pada 11 April 2017.
Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Undang-undang
Nomor 13 Tahun 2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor
Kimia di Tempat Kerja.
Ghozali, Imam. 2011. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IMB
SPSS19. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Haditia, Iftitah Putri. 2012. Analisis Pengaruh Suhu Tinggi Lingkungan dan
Beban Kerja terhadap Konsentrasi Pekerja. Skripsi.
Indra, Naiem, M. Furqaan, dan Wahyuni, A. 2014. Determinan Keluhan Akibat
Tekanan Panas pada Pekerja Bagian Dapur Rumah Sakit di Kota Makasssar.
Jurnal K3 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin. Diakses
pada 18 April 2017.
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 261 Tahun 1998
tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja.
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405 Tahun 2002
tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri.
Mallapiang, F., Samosir, Ismi Aulia. 2014. Analisis Potensi Bahaya dan
Pengendaliannya dengan Metode HIRAC (Studi Kasus: Industri Kelapa
Sawit PT. Manakarra Unggul Lestari (PT. Mul) pada Stasiun Digester dan
Presser, Clarifier, Nut dan Kernel, Mamuju, Sulawesi Barat). Jurnal Ilmu
Kesehatan Vol. VI, No. 2. Diakses pada 18 April 2017.
Multi, Riska P., dan Suryalena. 2013. Pengaruh Iklim Kerja Terhadap Semangat
Kerja (Kasus Karyawan Bagian Produksi PT. Asia Sawit Makmur Jaya,
Kabupaten Kuantan Singingi, Riau). Jurnal Aplikasi Bisnis, Vol. 4 No. 1,
Universitas Riau. Diakses pada 11 April 2017.

38
Nugroho, Ari Anggara Fajar. 2013. Pengaruh Iklim Kerja Panas Terhadap
Kelelahan Tenaga Kerja di Bagian Peleburan Logam Koperasi Batur Jaya
Ceper Klaten. Skripsi thesis, Universitas Muhammadiyah Surakarta. Diakses
pada 18 April 2017.
Putra, Dian Tri. 2011. Hubungan Antara Kebisingan, Iklim Kerja Dan Sikap
Tubuh Saat Bekerja terhadap Kelelahan Kerja Pada Pekerja Di Industri
Meubel Sinar Harapan Karang Paci Samarinda. Diakses pada 9 April 2017.
Sari, Nindi Puspita. 2014. Pengaruh Iklim Kerja Panas Terhadap Dehidrasi dan
Kelelahan pada Tenaga Kerja Bagian Boiler di PT Albasia Sejahtera
Mandiri Kabupaten Semarang. Jurnal Kesehatan Masyarakat Univ.
Muhammadiyah Surakarta. Diakses pada 11 April 2017.
Sucipto, C.D. 2014. Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Yogyakarta: Gosyen
Publishing.
Sumamur PK. 1996. Higene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Jakarta: PT.
Toko Gunung Agung.
Sumamur, P.K. 2009. Higiene Perusahaan dan KesehatanKerja (HIPERKES).
Jakarta: Sagung Seto.
Wahyu, Atjo. 2003. Higiene Perusahaan. Makassar: Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Hasanuddin.

39