Anda di halaman 1dari 2

Laporan kunjungan ke Yogya cimbuleuit

Pada hari Senin kemarin, saya bersama teman-teman sekelas memulai perkuliahan di
Yogya cimbuleuit, Di sana saya belajar banyak hal dan mengetahui lebih banyak hal
tentang perusahaan retail pertama di Indonesia ini.

Sejarah yogya
Yogya Group (PT. Akur Pratama) adalah sebuah perusahaan ritel modern asli
Indonesia dengan format Supermaket dan Departement Store. Yogya menjual berbagai
produk makanan, minuman dan barang kebutuhan hidup lainnya. Setiap minggunya,
Toserba Yogya melayani lebih dari 100 ribu pelanggan di lebih dari 100 titik termasuk
Toserba YOGYA, Toserba Griya, Yogya Express, Yomart, Griyamart, Griyatron
Toserba YOGYA berawal dari sebuah toko batik di daerah Kosambi Bandung dengan
nama DJOCJA yang didirikan tahun 1948 dan dikelola oleh Bapak Gondosasmito
bersama keluarga. Dengan luas toko hanya 100 m 2 dan 8 orang karyawan, Toko
DJOCJA berusaha dan selalu setia melayani konsumennya.
Pada tahun 1972, Bapak Boedi Siswanto Basuki dan Ibu Tina Handayani yang
merupakan anak dan menantu dari bapak Gondosasmito diserahkan pengelolaan toko
DJOCJA. Dengan kerja keras, keuletan dan pandangan yang jauh ke depan maka toko
yang semula merupakan toko batik ini memperluas bidang usahanya dengan menjual
barang-barang kebutuhan sehari-hari. Saat itu nama DJOCJA yang merupakan nama
asli toko batik itu tetap dipertahankan namun penulisannya di ubah menjadi YOGYA.
YOGYA berdiri pada tanggal 28 Oktober 1982 dengan cabang pertama toko YOGYA di
Jl. Sunda No. 60, Bandung. Disinilah tonggak penting dari awal sejarah toko YOGYA
dimulai. Manajemen yang lebih modern dan rekruitmen SDM yang berkualitas menjadi
bagian dari awal sebuah kesuksesan di kelak kemudian hari. YOGYA Group merupakan
perusahaan ritel dengan format Supermaket dan Departement Store berpengalaman di
Indonesia.

Untuk tetap bertahan ditengah banyaknya supermarket dan minimarket yang merajalela
di Indonesia, Yogya group mempunyai beberapa strategi diantaranya,

Strategi business unit. Yogya Group mempunyai beberap business unit seperti Bread
Co, chicken sumo, Fat cow, Magic pizza, Yogya Express, Paper Co.

Bisa dilihat dari strategi ini, yogya berusaha untuk memasuki pasar makanan fastfood
seperti magic pizza , chicken sumo, dan fatcow. Setiap rumah makan ini selalu ada di
setiap yogya di Bandung. Jadi, Yogya tidak memakai brand luar, melainkan brand
mereka sendiri. Contohnya, di foodcourt yogya khusus untuk makan ayam, Yogya
memiliki bisnis mereka sendiri yaitu chicken sumo. Yogya tidak memakai merk lain
seperti mcd, kfc,texas, dll. Selain itu, jika diperhatikan, di Yogya tidak menjual roti merk
lain seperti roti sari roti, roti Sharon, atau roti dengan merk lain. Tapi, yogya hanya
menjual roti Bread co yaitu merk bisnis mereka sendiri.

Selain itu, yogya juga bergerak di bidang fashion. Pesaing yogya yaitu department store
lain seperti matahari. Namun, harga di yogya seringkali lebih murah karena yogya
sering memberika promosi-promosi harga yang lumayan besar discount nya. Bahkan
untuk menarik pelanggan dan menaikan daya beli mereka melakukan system beli 2
disocunt 90% untuk pembelian ke-dua. Dengan demikian, konsumen akan langsung
membeli barang tersebut.

Beberapa promosi yang sering dilakukan oleh yogya fashion ketika menjelang event-
event tertentu seperti lebaran, natal, dan tahun baru. Sedangkan untuk supermarketnya
sendiri, seringkali yogya memberikan discount setiap minggunya selama periode satu
tahun. Untuk segmentasi nya sendiri, yogya membagi pasarnya bedasarkan kelas-
kelas. Seperti yang kita tahu, yogya junction terlihat lebih bersih, barang yang dijualnya
kebanyakan barang import, dan suasana di toko nya sendiri berbeda dengan yogya
biasa. Yogya junction memang ditargetkan untuk masyarakat kelas A. Harga yang
ditawarkan di junction pun bisa lebih mahal sekitar 2.000 rupiah, sedangkan untuk
yogya toserba dan griya ditargetkan untuk kelas menengah. Untuk yomart, ditargetkan
untuk kelas menengah ke bawah.

Yogya selalu ingin memuaskan konsumen, bagi mereka, kepuasan konsumen


merupakan nilai yang tidak bisa tergantikan. Maka dari itu, mereka harus memastikan
setiap barang yang dijual segar dan berkualitas. Untuk menjaga kualitas barang, yogya
melakukan system pergudangan dengan menggunakan metode FIFO. Setiap siang dan
malam, mereka selalu memeriksa gudang mereka. Jangan sampai barang yang datang
lebih dulu keluar paling terakhir karena bisa menyebabkan barang expired. Untuk
produk buah dan sayur, yogya memastikan bahwa produk tersebut harus terjual di hari
H. jangan sampai disimpan hingga keesokan harinya karena akan membuat produk
tidak fresh.

Demikian sedikit laporan yang saya dapat sampaikan dari kunjungan ke Yogya pada
hari senin kemarinl.