Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

Latar belakang

Kota merupakan ruang dengan aktivitaas yang sangat kompleks,


didalamnya terdapat keterkaitan antara sesama manusia, dan manusia dengan
lingkungan. Semakin lama, kebutuhan manusia akan ruang semakin bertambah
hal ini bukanlah sesuatu yang salah sebab populasi manusiapun ikut bertambah
sering berjalannya waktu, namun jika dibiarkan hal tersebut jelas akan berdampak
buruk terhadap wilayah perkotaan. Manusia akan membangun berdasarkan
kemauannya sendiri tanpa memperhatikan dampak maupun kerusakan yang
mereka timbulkan.

Tata guna lahan dalam hal ini jelas memiliki peranan penting. Tata guna
lahan sangat diperlukan untuk mengatur pola kehidupan masyarakat. Tata guna
lahan mengatur dan menata lahan sesuai dengan peruntukannya. Dengan adanya
tata guna lahan, wilayah perkotaan lebih teratur dan sesuai dengan peruntukan
yang telah ditetapkan

Tujuan :

- Mengetahui Ruang Lingkup Tata Guna Lahan


- Mengetahui Tata Guna Lahan Dan Hubungannya Dengan Perkembangan
Kota
BAB II

PEMBAHASAN

1. RUANG LINGKUP TATA GUNA LAHAN

PENGERTIAN TATA GUNA LAHAN (LAND USE)

Tata guna lahan (land use) adalah suatu upaya dalam merencanakan
penggunaan lahan dalam suatu kawasan yang meliputi pembagian wilayah untuk
pengkhususan fungsi-fungsi tertentu, misalnya :

- Kawasan permukiman
Kawasan permukiman ini ditandai dengan adanya perumahan yang
disertai prasana dan sarana serta infrastrukutur yang memadai.
Kawasan permukiman ini secara sosial mempunyai norma dalam
bermasyarakat. Kawasan ini sesuai pada tingkat kelerengan 0-15%
(datar hingga landai).
- Kawasan perumahan
Kawasan perumahan hanya didominasi oleh bangunan-bangunan
perumahan dalam suatu wilayah tanpa didukung oleh sarana dan
prasarana yang memadai. Kawasan ini sesuai pada tingkat kelerengan
0-15% (datar hingga landai).
- Kawasan perkebunan
Perkebunan ini ditandai dengan dibudidayakannya jenis tanaman
yang bisa menghasilkan materi dalam bentuk uang. Kawasan ini
sesuai pada tingkat kelerengan 8-15% (landai).
- Kawasan pertanian
Kawasan pertanian ditandai oleh adanya jenis budidaya satu
tanaman saja. Kawasan ini sesuai pada tingkat kelerengan 8-15%
(landai).
- Kawasan ruang terbuka hijau
Kawasan terbuka hijau ini dapat berupa taman yang hanya
ditanami oleh tumbuhan yang rendah dan jenisnya sedikit. Namun
dapat juga berupa hutan yang didominasi oleh berbagai jenis macam
tumbuhan. Kawasan ini sesuai pada tingkat kelerengan 15-25% ( agak
curam ).
- Kawasan perdagangan
Kawasan perdagangan ini biasanya ditandai dengan adanya
bangunan pertokoan yang menjual berbagai macam barang. Kawasan
ini sesuai pada tingkat kelerengan 0-8% ( datar )
- Kawasan industri
Kawasan industri ditandai dengan adanya proses produksi baik
dalam jumlah kecil maupun dalam jumlah besar. Kawasan ini sesuai
pada tingkat kelerengan 8-15% ( hingga landai ).
- Kawasan perairan
Kawasan perairan ini ditandai oleh adanya aktifitas perairan,
seperti budidaya ikan, pertambakan, irigasi, dan sumber air bagi
wilayah dan sekitarnya.

Tata guna lahan terdiri dari lahan terbangun (urban solid) dan lahan
terbuka (urban void)

a. Urban solid
Tipe urban solid terdiri dari:

1. Massa bangunan, monumen


2. Persil lahan blok hunian yang ditonjolkan
3. Edges yang berupa bangunan
b. Urban void
Tipe urban void terdiri dari:
1. Ruang terbuka berupa pekarangan yang bersifat transisi antara publik dan
privat
2. Ruang terbuka di dalam atau dikelilingi massa bangunan bersifat semi
privat sampai privat
3. Jaringan utama jalan dan lapangan bersifat publik karena mewadahi
aktivitas publik berskala kota
4. Area parkir publik bisa berupa taman parkir sebagai nodes yang berfungsi
preservasi kawasan hijau
5. Sistem ruang terbuka yang berbentuk linier dan curvalinier. Tipe ini
berupa daerah aliran sungai, danau dan semua yang alami dan basah.

PERUBAHAN TATA GUNA LAHAN

Koestoer (2001: 5), mendefinisikan bahwa kota adalah merupakan hasil kreasi
manusia. Kondisi fisik kota mencerminkan hasil olahan budaya penghuni kota
yang bersangkutan. Selanjutnya dia mengatakan bahwa peralihan ruang ditandai
dengan berubahnya area persawahan (non builit-up area) menjadi kawasan
permukiman, perdagangan, jasa, pusat pengembangan pendidikan dan fasilitas
perkotaan lainnya (built-up area).

Charles Colby (1933) dalam (Yunus, 2000: 177), pertama kali mencetuskan
ide tentang kekuatan-kekuatan dinamis yang mempengaruhi pola penggunaan
lahan kota. Dikatakan bahwa, di dalam kota terdapat kekuatan-kekuatan yang
dinamis yang mempengaruhi pola penggunaan lahan kota, oleh karena itu pola
penggunaan lahan kota menjadi dinamis dan mengalami perubahan-perubahan.
Penambahan dan pengurangan bangunan-bangunan, pengubahan bangunan-
bangunan, penambahan dan pengurangan fungsi-fungsi, perubahan jumlah
penduduk, perubahan struktur penduduk, perubahan tuntutan masyarakat,
perubahan nilai-nilai kehidupan dan aspek-aspek kehidupan (politik, sosial,
ekonomi, budaya , teknologi, psikologi, religius dan fisikal) dari waktu ke waktu
telah menjadikan kota menjadi bersifat dinamis dalam artian selalu berubah dari
waktu ke waktu, dan demikian pula pola penggunaan lahannya.

RENCANA TATA GUNA LAHAN

Rencana tata guna lahan merupakan kerangka kerja yang menetapkan


keputusan-keputusan terkait tentang lokasi, kapasitas dan jadwal pembuatan jalan,
saluran air bersih dan air limbah, gedun g sekolah, pusat kesehatan, taman dan
pusat-pusat pelayanan serta fasilitas umum lainnya.

Tata guna lahan merupakan salah satu faktor penentu utama dalam
pengelolaan lingkungan. Keseimbangan antara kawasan budidaya dan kawasan
konservasi merupakan kunci dari pembangunan berkelanjutan yang berwawasan
lingkungan.

Menurut Barlowe (1986) faktor-faktor yang mempengaruhi Tata guna


lahan adalah :

Faktor fisik dan biologis,


Faktor fisik dan biologis mencakup kesesuaian dari sifat fisik
seperti keadaan geologi, tanah, air, iklim, tumbuhtumbuhan,
hewan dan kependudukan.
Faktor pertimbangan ekonomi
Faktor pertimbangan ekonomi dicirikan oleh keuntungan, keadaan
pasar dan transportasi.
Faktor institusi (kelembagaan).
Faktor institusi dicirikan oleh hukum pertanahan, keadaan politik,
keadaan sosial dan secara administrasi dapat dilaksanakan.

Perencanaan tata guna lahan adalah inti praktek perencanaan perkotaan.


Sesuai dengan kedudukannya dalam prencanaan fungsional, perencanaan tata
guna lahan merupakan kunci untuk mengarahkan pembangunan kota. Hal itu ada
hubungannya dengan anggapan lama bahwa seorang perencana perkotaan adalah
seorang yang berpengetahuan secara umum tetapi memiliki suatu pengetahuan
khusus. Pengetahuan khusus kebanyakan perencana perkotaan ialah perencana
tata guna lahan. Pengembangan tata guna lahan yang disesuaiakan dengan
meningkatkan perekonomian suatu kota atau wilayah.

Catanesse (1988: 281), mengatakan bahwa secara umum ada 4 kategori


alat-alat perencanaan tata guna lahan untuk melaksanakan rencana, yaitu:

A. Penyediaan Fasilitas Umum


Fasilitas umum diselenggarakan terutama melalui program perbaikan
modal dengan cara melestarikan sejak dini menguasai lahan umum dan
daerah milik jalan (damija).
B. Peraturan-peraturan Pembangunan
Ordonansi yang mengatur pendaerahan (zoning), peraturan tentang
pengaplingan, dan ketentuan-ketentuan hukum lain mengenai
pembangunan, merupakan jaminan agar kegiatan pembangunan oleh
sektor swasta mematuhi standar dan tidak menyimpang dari rencana tata
guna lahan.
C. Himbauan, Kepemimpinan, dan Koordinasi
Sekalipun sedikit lebih informal daripada program perbaikan modal atau
peraturan-peraturan pembangunan, hal ini dapat menjadi lebih efektif
untuk menjamin agar gagasan-gagasan, data-data, informasi dan risat
mengenai pertumbuhan dan perkembangan masyarakat daat masuk dalam
pembuatan keputusan kalangan developer swasta dan juga instansi
pemerintah yang melayani kepentingan umum.
D. Rencana Tata Guna Lahan
Rencana saja sebenarnya sudah merupakan alat untuk melaksanakan
kebijakan-kebijakan serta saran-saran yang dikandungnya selama itu
semua terbuka dan tidak basi sebagai arahan yang secara terus-menerus
untuk acuhan pengambilan keputusan baik bagi kalangan pemerintah
maupun swasta. Suatu cara untuk melaksanakan hal itu adalah dengan cara
meninjau, menyusun dan mensahkan kembali rencana tersebut dari waktu
ke waktu. Cara lain adalah dengan menciptakan rangkaian
bekesinambungan antara rencana tersebut dengan perangkat-perangkat
pelaksanaan untuk mewujudkan rencana tersebut.

TUJUAN TATA GUNA LAHAN

Tujuan penatagunaan lahan sebagaimana dimaksud pada Pasal 4 Peraturan


Pemerintah No. 16 Tahun 2004 adalah :
a. Dalam rangka pemanfaatan ruang dikembangkan penatagunaan lahan yang
disebut juga pola pengelolaan tata guna lahan.
b. Penatagunaan lahan sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) merupakan
kegiatan dibidang perlahanan dikawasan lindung dan kawasan budidaya.
Penatagunaan lahan sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) diselenggarakan
berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota.

Tujuan dari tata guna lahan harus diarahkan untuk dapat mencapai
sebesar-besar kemakmuran rakyat. Usaha-usaha yang dilakukan untuk mencapai
tujuan tersebut:
1. Mengusahakan agar tidak terjadi penggunaan lahan yang salah tempat.
Maksudnya setiap kegiatan yang memerlukan lahan harus diperhatikan
mengenai data kemampuan fisik lahan untuk mengetahui sesuai tidaknya
kemampuan lahan tersebut dengan kegiatan yang akan dilaksanakan.
2. Mengusahakan agar tidak terjadi penggunaan lahan yang salah urus.
Maksudnya setiap harus melaksanakan kewajibannya memelihara lahan
yang dikuasainya. Hal ini untuk mencegah menurunnya kualitas sumber
daya lahan yang akirnya akan timbul kerusakan lahan.
3. Mengusahakan adanya penggendalian terhadap perkembangan kebutuhan
masyarakat akan lahan.
Pengendalian ini dilakukan untuk menghindari konflik kepentingan akibat
penggunaan lahan. Mengusahakan agar terdapat jaminan kepastian hukum
bagi hak-hak atas lahan warga masyarakat.
4. Jaminan kepatian hukum penting untuk melindungi warga masyarakat
yang lahannya diambil untuk kepentingan proyek pembangunan.

Berdasarkan ketentuan PP No. 16 Tahun 2004 tentang Penatagunaan


Lahan tujuan dari penatagunaan lahan ialah pemanfaatan lahan sebagai satu
kesatuan sistem untuk kepentingan masyarakat secara adil. Secara rinci
penatagunaan lahan bertujuan untuk:
a. mengatur penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan lahan bagi berbagai
kebutuhan kegiatan pembangunan yang sesuai dengan RTRW;
b. mewujudkan penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan lahan agar sesuai
dengan arahan fungsi kawasan dalam RTRW;
c. mewujudkan tertib perlahanan yang meliputi penguasaan, penggunaan dan
pemanfaatan lahan serta pengendalian pemanfaatan lahan;
d. menjamin kepastian hukum untuk memanfaatkan lahan bagi masyarakat
yang mempunyai hubungan hukum dengan lahan sesuai dengan RTRW
yang telah ditetapkan.

ASAS PENGGUNAAN LAHAN


Dalam literatur Hukum Agraria biasanya dibedakan 2 kelompok asas tata
guna lahan yang disebabkan oleh karena adanya perbedaan titik berat penggunaan
lahan diantara keduanya dimana penggunaan lahan di daerah pedesaan lebih
dititikberatkan pada usaha-usaha pertanian. Sedangkan penggunaan lahan di
daerah perkotaan dititikberatkan pada kegiatan non pertanian serta perbedaan ciri-
ciri kehidupan masyarakat pedesaan dengan perkotaan. Berdasarkan penjelasan
Pasal 13 ayat (5) PP No. 16 Tahun 2004 tentang Penatagunaan Lahan, bahwa
pedoman teknis penggunaan lahan bertujuan untuk menciptakan penggunaan dan
pemanfaatan lahan yang lestari, optimal, serasi dan seimbang (LOSS) diwilayah
pedesaan serta aman, tertib, lancar dan sehat (ATLAS) di wilayah perkotaan yang
menjadi persyaratan penyelesaian administrasi perlahanan. Secara rinci asas tata
guna lahan itu dijelaskan sebagai berikut:
Asas tata guna lahan untuk daerah pedesaan (rural land use planning). Biasanya
disingkat dengan LOSS.
1. Lestari
Lahan harus dimanfaatkan dan digunakan dalam jangka waktu yang lama
yang akan berdampak pada:
a. Akan terjadi penghematan dalam penggunaan lahan.
b. Agar supaya generasi yang sekarang dapat memenuhi kewajibannya untuk
mewarislan sumber daya alam kepada generasi yang akan datang.
Suatu ungkapan dari seorang raja Afrika bahwa: the land belongs to agreat
family of which many member are dead, some are living and the large number
still to the born. (jadi lahan bukan milik masyarakat sekarang saja, tetapi lahan
milik dari masyarakat dulu masyarakat sekarang dan masyarakat yang akan
datang).
2. Optimal
Pemanfaatan lahan harus mendatangkan hasil atau keuntungan ekonomis
yang setinggi-tingginya.
3. Serasi dan seimbang
Suatu ruang atas lahan harus dapat menampung berbagai macam
kepentingan pihak-pihak, sehingga dapat dihindari adanya pertentangan
atau konflik dalam penggunaan lahan.

Asas tata guna lahan untuk daerah perkotaan (urban land use planning)
1. Aman
Maksudnya aman dari: bahaya kebakaran, dari tindak kejahatan, bahaya
banjir, bahaya kecelakaan lalu lintas dan aman dari ketunakaryaan.
2. Tertib
Maksudnya tertib dalam bidang pelayanan, dalam penataan wilayah
perkotaan, dalam lalu lintas, dan dalam hukum.
3. Lancar
Maksudnya lancar dalam pelayanan, lancar berlalu lintas, dan lancar dalam
komunikasi.
4. Sehat
Maksudnya sehat dari segi jasmani dan sehat dari segi rohani.

Sedangkan asas penatagunaan lahan menurut PP No. 16 Tahun 2004


tentang Penatagunaan Lahan ialah keterpaduan, berdayaguna dan berhasilguna,
serasi, selaras, seimbang, berkelanjutan, keterbukaan, persamaan, keadilan dan
perlindungan hukum (Pasal 2).

2. PENGARUH TATA GUNA LAHAN TERHADAP PERTUMBUHAN


KOTA

Sangat terlihat bahwa tata guna lahan memberikan dampak besar tehadap
pertumbuhan wilayah perkotaan. Seperti yang kita ketahui bahwa tata guna lahan
dipergunakaan untuk peruntukan lahan sesuai dengan kriteria di daerah tersebut,
hal itu sudah tercantum pada Tata Ruang Wilayah Kota (RTRW) yang menjadi
acuan pada peruntukan lahan sehingga jika tata guna lahan di kesampingkan maka
akan berimbas pada kota yang tidak tertata dengan baik dan semrawut hal ini jelas
berdampak buruk terhadap lingkungan maupun kemajuan perkotaan kedepannya
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan :

Tata guna lahan sangat penting adanya untuk perkotaan karena seiring
bejalannya waktu populasi masyarakatpun kian bertambah hal ini jelas akan
menuntut masyarakat untuk membangun di segala tempat sehingganya jika tidak
diberikan peraturan yang mewadahi hal tersebut bukan tidak mungkin bangunan
kedepannya akan berdiri tidak sesuai dengan peruntukan lahan yang ada, hal ini
jika dibiarkan akan memberikan dampak buruk terhadap perkembangan perkotaan
dan lingkungan di area kota tersebut, pertumbuhan kota akan tidak tertata dan
semraut