Anda di halaman 1dari 20

BAB 5

Hasil Penelitian
V.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Perkembangan RSUD Sidoarjo sampai tahun 1972 baik Rawat Jalan maupun

Rawat Inap berlokasi di jalan dr. Soetomo Sidoarjo yang ada saat itu, sekarang menjadi

gedung DPRD Kabupaten Sidoarjo. Pelayanan Rawat Jalan sudah biasa dilaksanakan

secara penuh di Rumah Sakit untuk pasien yang harus Rawat Inap secara definitif baru

dapat ditampung tahun 1974. Luas lahan yang dimiliki RSUD Sidoarjo yakni seluas

kurang lebih 50.014 m yang meliputi : Luas Bangunan Gedung : 32.433 2 , Luas

Taman : 17.581 2 .RSUD Sidoarjo memiliki produk pelayanan yang disediakan salah

satu diantaranya adalah Pelayanan Hemodialisis yang merupakan lokasi penelitian yang

telah dilakukan. Jumlah pasien hemodialisa dari tahun 2010 2014, dengan rincian

sebagai berikut; pada tahun 2010 sebanyak 108 orang, pada tahun 2011 sebanyak 150

orang, pada tahun 2012 sebanyak 213 orang, pada tahun 2013 sebanyak 291 orang, dan

pada tahun 2014 sebanyak 269 orang. Sedangkan jumlah pasien yang meninggal atau

drop out dari tahun 2010 2014 dengan rincian sebagai berikut; tahun 2010 sebanyak 73

orang, tahun 2011 tidak ada pasien yang meninggal atau drop out, tahun 2012 sebanyak

308 orang, pada tahun 2013 sebanyak 188 orang, tahun 2014 pada bulan Januari

sebanyak 55 pasien dan pada bulan Februari sebanyak 1 pasien.

V.2 Karakteristik Responden

Penelitian ini dilakukan di instalasi hemodialisis RSUD Sidoarjo pada januari

February 2014. Responden berasal dari pasien yang menjalani hemodialis dan berjumlah 28

responden. Tidak ada prasyarat khusus untuk usia atau jenis kelamin pada penelitian ini. Jenis

penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-analitik dengan menggunakan pendekatan


Cross sectional, yaitu melihat bagaimana Pengaruh Kepatuhan Minum Obat Anti diabetic

dengan terjadinya GGK serta menghitung rerata waktu di RSUD Sidoarjo.

Pada penelitian ini, peneliti mengambil data dari hasil kuisioner dan wawancara

dengan pasien yang berjumlah 28 responden. Dari hasil wawancara dan kuisioner yang

diambil didapat profil responden sebagai berikut:

Tabel V.1 Profil Data Responden

Jumlah Responden 28 Responden

Usia 36-67 Tahun

Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan


8 20
Lamanya 1-20th

Pendidikan SD SMP SMA S1


10 5 6 7
Penyakit Penyerta Hipertensi Bt.Ginjal Asam Urat Tidak ada
18 2 1 7

Obat yang diminum Glibenklamid Insulin


17 3
Kepatuhan Patuh Tidak patuh
6 6
Sumber: Hasil Kuesioner Penelitian 2014

V.3 Hasil Penelitian


a.Jenis Kelamin
Berdasarkan tabel V.2 diketahui bahwa jumlah responden yang berjenis

kelamin laki laki lebih sedikit yaitu 8 orang atau 28,57% dan responden perempuan

yang berjumlah 20 orang atau 71,43%. Sehingga dapat diketahui bahwa kelompok

terbesar pada sampel penelitian ini adalah wanita. Hal ini karena peneliti mengambil

secara acak pasien yang menjalani Hemodialis dan tidak memilih pasien secara

khusus.

b. Usia

Tabel V.3 Distribusi berdasarkan Usia

Usia

53 th
61 th
64 th
44 th
67 th
58 th
62 th
60 th
62 th
54 th
60 th
43 th
49 th
49 th
53th
51th
61 th
59th
48th
62 th
54 th
50 th
42 th
59 th
57 th
36 th
62th
53 th
Sumber . Hasil Olah data Penelitian 2014
Tabel V.3 Usia responden
Usia Jumlah Presentasi
36-40th 1 3,6%
41-50th 6 21,4%
51-60th 11 39,2%
61-70th 10 35,8%
Total 28 100%

Berdasarkan tabel V.3 diketahui bahwa Usia Responden tersebar 36-67 Tahun

dengan presentasi usia 36-40th sebanyak 1 orang atau 3,6% , 41-50th sebanyak 6

responden atau 21,4%,51-60th sebanyak 11 responden atau 39,2% dan61-70th

sebanyak 10 responden atau 35,8% al ini karena peneliti mengambil secara acak

pasien yang menjalani Hemodialis dan tidak memilih pasien secara khusus.
c. Lamanya

NO Lama
1 15 th
2 18 th
3 15 th
4 20
5 5 th
6 8th
7 14th
8 9th
9 19th
10 2 th
11 1 th
12 15 th
13 2th
14 5th
15 8th
16 4th
17 8th
18 13 th
19 7 th
20 9 th
21 1th
22 10th
23 3th
24 12th
25 2th
26 2th
27 1th
28 11th
Nilai rata-rata 20

Pada Penelitian ini Penulis Mengambil data mengenai lamanya dengan Maksud lama seorang
penderita diabetes Militus jatuh terkena GGK dihitung mulai pertama kali di diagnosis
menderita DM hingga Pertama kali Menjalai hemodialisis . Dan Berdasarkan hasil Penelitian
didapatkan bahwa lamanya pasien yang kurang dari 5 Tahun didapatkan 11 orang atau
39,28% sedangkan yang lebih dari 5 tahun didapatkan sebanyak 17 orang atau 60,72%.
Pada Penelitian Ini didapati bahwa penderita DM yang Jatuh ke GGK diatas Lima Tahun
lebih Banyak dari Pada yang lamanya Kurang dari 5 Tahun . dengan rata ratawaktu
sebanyak 20th

d. Pendidikan

Tabel V.5 Distribusi berdasarkan Pendidikan


Pendidikan Jumlah Presentase
SD 10 36%
SMP 5 18%
SMA 6 21%
S1 7 25%

Total 28 100%

Sumber : Hasil Olah data Kuesioner 2014


Berdasarkan Tabel V.5 distribusi Pendidikan di dapatkan SD sebanyak 10 Responden
atau sebesar 36% SMP 5 responden atau 18% ,SMA sebanyak 6 Responden atau 21% dan S1
sebanyak 7 Responden atau 25 %. Jadi kesimpulan nya di dapatkan bahwa Responden
terbanyak dengan Pendidikan SD dan Paling sedikit Dengan Pendidikan SMP. Hal ini di
dapat Karena Peniliti Mengambil data secara acak tanpa memilih responden secara spesifik
pada pasien hemodialis di RSUD Sidoarjo .
e.Penyakit Penyerta
Tabel V.6 Distribusi Berasarkan Penyakit Penyerta

Penyakit Penyerta Jumlah Presentasi

Hipertensi 18 64,3%
Batu Ginjal 2 7,1%
Asam Urat 1 3,6%

Tidak Ada 7 25%

Total 28 100%

Sumber: Hasil Olah data 2014

Berdasarkan Tabel V.6 didapatkan bahwa responden Dengan Penyakit Penyerta


terabanyak adalah Hipertensi sebanyak 18 responden atau 65 % , diikuti dengan tidak ada
penyerta sebanyak 7 orang atau 25 %, batu ginjal 2 responden atau 7,1 % dan yang paling
sedikit adalah asam urat yaitu satu responden atau 3,6 %. Hal ini di dapat Karena Peniliti
Mengambil data secara acak tanpa memilih responden secara spesifik pada pasien hemodialis
di RSUD Sidoarjo .

F.Kepatuhan
Tabel V.8 distribusi obat yang diminum
NO Kepatuhan JUMLAH PERSENTASE

1 Patuh 6 21,4 %

2 Tidak Patuh 22 78,6 %

TOTAL 28 100 %

Sumber : Hasil olah data 2014


Berdasarkan tabel V.8 diketahui bahwa jumlah responden yang Tidak Patuh Lebih
banyak Yaitu sebanyak 22 responden atau 78,6% sedangkan yang patuh minum obat
sebanyak 6 responden atau 21,4% Sehingga dapat diketahui bahwa kelompok terbesar pada
sampel penelitian ini adalah kelompok dengan Responden yang tidak Patuh Minum obat .
Hal ini karena peneliti mengambil secara acak pasien yang Menjalai Hemodialisis.
V.3 Analisis Data

CROSSTABS
/TABLES=kepatuhan BY lamanya
/FORMAT=AVALUE TABLES
/STATISTICS=CHISQ
/CELLS=COUNT

/COUNT ROUND CELL.

Crosstabs

Notes

Output Created 21-Mar-2014 22:26:25

Comments

Input Active Dataset DataSet0

Filter <none>

Weight <none>

Split File <none>

N of Rows in Working Data File 28

Missing Value Handling Definition of Missing User-defined missing values are treated as
missing.

Cases Used Statistics for each table are based on all the
cases with valid data in the specified
range(s) for all variables in each table.

Syntax CROSSTABS
/TABLES=kepatuhan BY lamanya
/FORMAT=AVALUE TABLES
/STATISTICS=CHISQ
/CELLS=COUNT
/COUNT ROUND CELL.

Resources Processor Time 00:00:00.032

Elapsed Time 00:00:00.017

Dimensions Requested 2

Cells Available 174762

[DataSet0]
Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent

kepatuhan * lamanya 28 100.0% 0 .0% 28 100.0%

kepatuhan * lamanya Crosstabulation

Count

lamanya

1 2 Total

Kepatuhan 1 6 0 6

2 11 11 22

Total 17 11 28

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)

Pearson Chi-Square 4.941a 1 .026

Continuity Correctionb 3.067 1 .080

Likelihood Ratio 7.022 1 .008

Fisher's Exact Test .055 .033

Linear-by-Linear Association 4.765 1 .029

N of Valid Casesb 28

a. 2 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2.36.

b. Computed only for a 2x2 table


BAB VI

PEMBAHASAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar Pengaruh Kepatuhan minum

Obat Anti diabetic dan rerata waktu dengan terjadinya Gagal Ginjal Kronis Pada pasien

instalasi Hemodialisis pada januari February 2014 .Jumlah sampel yang diperoleh

berdasarkan hasil perhitungan sejumlah 28 responden yang memenuhi kriteria inklusi yaitu

pasine hemodialis dengan riwayat DM. Responden yang diambil untuk sampel penelitian ini

merupakan pasien yang berobat di Instalasi Hemodialisis RSUD Sidoarjo, Jawa Timur.

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian NON EKSPERIMENTAL metode Deskriptif

Analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah

pasien yang berobat di Instalasi Hemodialis RSUD Sidoarjo. Kriteria eksklusi pada

penelitian ini adalah pasien yang tidak Punya riwayat DM yang berobat di Instalasi

Hemodialis RSUD Sidoarjo.

Distribusi responden pada penelitian ini 100 % merupakan pasien yang di diagnose

mengalami GGK dan Melakukan Cuci darah . Masing masing memiliki derajat waktu dan

kepatuhan minum obat yang berbeda, dalam hal ini peneliti membagi menjadi 2 bagian

waktu yaitu lama sebanyak 39,28% responden dan tidak lama 60,72% responden . Jenis

kelamin responden terbagi menjadi 2 yaitu laki laki dan perempuan dimana pada penelian

ini terdapat 28,57 % responden laki - laki dan 71,34 % responden wanita. Usia responden

peneliti bagi antara usia 36-67 th. Kepatuhan minum obat responden dibagi dua yaitu patuh

dan tidak patuh dimana pada penelitian ini didapat 21,4% responden patuh minum obat dan

78,6% responden tidak Patuh minum obat . penyakit penyerta pada penelitian ini dibagi

menjadi hipertensi sebanyak 64,3% batu 2%, asam urat 1% dan murni DM 25%.
1.Usia Responden

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dalam table V.3 dapat

diketahui bahwa mayoritas responden berusia di atas 50 tahun yaitu sebanyak 75%.

Jumlah pasien gagal ginjal kronik dengan riwayat DM usia 50 tahun ke atas lebih

banyak, hal ini menunjukkan bahwa usia merupakan salah satu risiko gagal ginjal

kronik..(Jireh.2014)

Menurut (miharja 2009)memperlihatkan prevalensi penderita DM(responden

dengan riwayat DM) meningkat sesuai usia, meningkat tajam pada kelompok usia

35 tahun ke atas, tertinggi pada kelompok 55-64 tahun, yaitu sebesar 28,7%, tetapi

mulai usia 65 tahun terlihat mulai menurun drastis. (miharja 2009)

Berdasarkan hasil penelitian, terlihat bahwa, usia pasien diabetes mellitus

yang mula menderita diabetik nefropati adalah dalam lingkungan usis 20 50 tahun

yaitu sebanyak 18 orang (45%) diikuti kelompok usia >50 tahun sebanyak 12 orang

(30%) dan kelompok usia < 20 tahun tahun sebanyak 10 orang (25%). Berdasarkan

analisis studi epidemiologi dari RS CMC yang dilakukan oleh John dkk (1985)

selama 5 tahun di daerah Vellore, Bangkok terhadap 498 pasien nefropati

mengindikasikan bahwa 78,3% pasien berada pada dekade usia ke-4 sampai ke-5

yaitu 45-54 tahun dan 55 64 tahun.(gayatri, 2011)

Secara Klinik di Indonesia Prevalensi penderita DM tertinggi terjadi pada

Usia 35 Tahun keatas , dan usia rentang 55-64 Tahun merupakan Usia terbanyak ,

sedangkan DM yang dengan komplikasi gagal Ginjal paling banyak terjadi pada

usia 50 tahun keatas hal ini dapat di simpulkan karena adanya kesamaan antara

penelitian penulis dengan gayatri 2011. Kesimpulanya adalah semakin tinggi usia

seseorang yang mengalami diabetes maka semakin tinggi juga resiko untuk

mengalami komplikasi diabete militus yaitu gagal ginjal.


2. Jenis Kelamin

Berdasarkan penelitian, didapatkan bahwa kelompok laki laki lebih banyak

menderita diabetik nefropati yaitu sebanyak 30 orang (75%) manakala perempuan pula

sebanyak 10 orang (25%). Hal ini mengindikasikan bahwa laki laki lebih rentan untuk

terjadinya diabetik nefropati. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan di New Delhi

bahwa pemeriksaan proteinuria positifpada 13,2% laki-laki dan 6,8% perempuan penderita

diabetes melitus dari total 555 pasien diabetes mellitus (Kumar, 1996). Menurut Hanifa

(2010), di RSUP Adam Malik Medan penderita GGK terbanyak pada laki-laki (61,4%) dan

perempuan sebanyak 38.6%. (gayatri,2011)

Berdasarkan penelitian ini, terdapat 31 orang (8,5%) yang menderita Diabetik

Nefropati dimana kebanyakannya adalah laki-laki yaitu 17 orang (54,8%). Sedangkan,

perempuan mempunyai 14 orang (45,2%) yang menderita penyakit Diabetik Nefropati. Hasil

ini sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Ainur Rokhmah (2010) dimana

kebanyakan pasien Diabetik Nefropati adalah laki-laki yaitu sebanyak 10 orang (55,56%) dan

terdapat 8 orang (44,44%) yang berjenis kelamin perempuan.(Leong,2010)

Berdasarkan hasil penelitian penuslis table V.2 didapatkan bahwa Penderita DM

dengan Gagal ginjal Kronis terbanyak terdapat pada wanita yaitu sebanyak 20 responden atau

71,43% sedangkan pada pria di dapatkan 8 responden atau 28,57% .

Dari beberapa penelitian di ketahui bahwa ada perbedaan antara penulis dengan

peneliti lain antara jumlah kasus terbanyak pada jenis kelamin ini hal ini dapat terjadi karena

peneliti mengambil sampel secara acak dan pada saat pengambilan sampel di instalasi

hemodialis lebih banyak wanita dari pada pria dan Perlu penelitian lebih lanjut untuk
mengetahui apakah ada Perbedaan antara laki-laki dan perempuan yang menderita DM

dengan angka terjadinya GGK terkhususnya di RSud Sidoarjo

3. Pendidikan

Berdasarkan Tabel V.5 distribusi Pendidikan di dapatkan SD sebanyak 10 Responden

atau sebesar 36% SMP 5 responden atau 18% ,SMA sebanyak 6 Responden atau 21% dan S1

sebanyak 7 Responden atau 25 %. Jadi kesimpulan nya di dapatkan bahwa Responden

terbanyak dengan Pendidikan SD dan Paling sedikit Dengan Pendidikan SMP.dari data hasil

penelitian diatas jumlah responden dengan pendidikan rendah cukup tinggi hal ini

dikarenakan peneliti mengambil responden di RSUD sidoarjo yang termasuk dalam rs umu

pemerintah sehingga orang orang yang tidak mampu secara ekonomi akan lebih banyak

berobat ke Rs umu karena mereka dapat berobat dengan menggunakan jamkesmas atau pun

BPJS, hal ini di dukung oleh biaya yang mahal untuk melakukan hemodialis karena itu

banyak orang yang berpendidikan rendah lebih cenderung berobat ke rumah sakit yang

menerima jamkesmas dan BPJS.

4.Penyakit Penyerta

Berdasarkan Tabel V.6 didapatkan bahwa responden Dengan Penyakit Penyerta

terabanyak adalah Hipertensi sebanyak 18 responden atau 65 % , diikuti dengan tidak ada

penyerta sebanyak 7 orang atau 25 %, batu ginjal 2 responden atau 7,1 % dan yang paling

sedikit adalah asam urat yaitu satu responden atau 3,6 %. Dari data hasil penelitian

didapatkan penyakit penyerta terbanyak adalah Hipertensi ,menurut corwin diabetes militus

memiliki banyak komplikasi jangka panjang. Sebagian besar disebabkan langsung oleh

tingginya konsentrasi glukosa darah. Komplikasi DM tersebut hampir mengenai semua organ

tubuh.18 Komplikasi kronis ini berkaitan dengan gangguan vaskular, yaitu: komplikasi

mikrovaskular dan komplikasi makrovaskular.hipertensi dapat mencapai dua kali lebih sering
terjadi pada diabetes dibandingkan dengan penderita non diabetes, pada DMT1 hipertensi

terdapat pada 10-30% penderita, sedangkan pada DMT2 30-50% penderita mengidap

hipertensi.(Corwin,2007)

Terjadi Kemiripan jumlah penderita Diabetes dengan penyakit penyerta hipertensi


dengan penelitian penulis dengan corwin hal ini menunjukan bahwa banyak penderita
Diabetes militus juga disertai dengan tekanan darah yang tinggi atau hipertensi hal ini dapat
terjadi kartena pola hidup yang tidak sehat seperti , merokok, minum alcohol , obesitas dan
factor factor lain, dan dengan adanya penyakit penyerta ini tidak menutup kemungkina akan
adanya pengaruh seseorang untuk terkana GGK , untuk itu menurtut penulis perlu adanya
penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh orang yang menderita DM dan hipertensi dengan
kejadian GGK,
sedangkan menurut corwin Penderita diabetes dengan tekanan darah &ge; 140/90
mmHg selain modifikasi gaya hidup perlu segera diberikan obat antihipertensi. dengan dosis
yang tersedia, kebanyakan obat antihipertensi akan menurunkan tekanan darah sistolik atau
diastolik pada 5-10% penderita dengan hipertensi ringan atau sedang. Karena itu bila target
penurunan tekanan darah sampai <130/80 mmHg umumnya diperlukan lebih dari satu
macam obat antihipertensi, bahkan mungkin tiga atau lebih macam obat. Selanjutnya dalam
memilih obat antihipertensi, perlu dipertimbangkan efek obat terhadap berkembangnya
komplikasi mikrovaskuler dan makrovaskuler. Pada umumnya obat-obat yang dianggap
sesuai untuk pengobatan awal adalah ACE inhibitor, ARB, diuretika thiazide dosis rendah,
dan betabloker.(Corwin,2007)
Oleh karenanya kontrol tekanan darah yang agresif harus dilakukan pada semua
penderita diabetes. UKPDS (United Kingdom Prospective Diabetes Study) menyimpulkan
bahwa setiap penurunan tekanan darah sistolik sebesar 10 mmHg akan mengurangi risiko
komplikasi diabetes sebesar 12%, mengurangi risiko kematian 15%, risiko infark miokard
11% dan komplikasi mikrovaskuler 13%.
5. Hubungan Kepatuhan minum obat dengan lamanya.
Berdasarkan tabel V.8 dan table V.4 hasil analisis data mengenai Pengaruh
Kepatuhan minum obat dengan lamanya waktu terjadinya, didapatkan hasil bahwa pada
Kepatuhan minum obat dapat menjadi suatu faktor predisposisi untuk menderita GGK
bermakna karena faktor Kepatuhan minum obat , hal ini terlihat pada perhitungan dengan
menggunakan uji statistik tabulasi silang (Crosstabs) dengan metode Chi square diketahui
hasil pengolahan pada responden kepatuhan nilai p dinyatakan bermakna yaitu nilai analisi
nya sebesar 0,026 , p< 0,05 dinyatakan p bermakna.
Dengan adanya pengaruh atara kepatuhan minum obat dangan lama nya waktu
seseorang terkena GGK. Hasil penelitian ini juga di dukung dengan teori hasil penelitian
sinaga 2012 Proporsi penderita DM dengan komplikasi berdasarkan kategori komplikasi
diperoleh proporsi tertinggi pada penderita DM yang mengalami komplikasi kronik
89,4%.(sinaga,2012).
Melihat hasil penelitian juga didapatkan banyak responden yang tiak patuh minum
obat sebesar 78,26 % hal ini dapat disebabkan o oleh adanya penyampaian informasi yang
kurang oleh Penyampai Informasi obat .menurut asih 2012. Hasil penelitianNya
menunjukkan bahwa masih terdapat 13 responden (81,3%) yang menyatakan bahwa metode
informasi yang dilakukan oleh petugas PIO tidak baik, dan 5 responden (41,7%) yang
menyatakan metode informasi yang dilakukan petugas PIO kurang baik. Hal ini berdampak
secara langsung terhadap kepatuhan minum obat pasien DM. Berarti metode informasi yang
dilakukan oleh petugas PIO belum cukup efektif dalam memberikan pemahaman kepada
pasien sehingga berdampak terhadap kepatuhan minum obat pasien
Menurut Bloom yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003), proses dalam penyampaian
informasi sampai dapat dipahami oleh seseorang tergantung pada kemahiran intelektualnya.
Untuk menangkap rangsangan atau stimulus dari orang lain sangat dipengaruhi oleh
karakteristik dari orang yang bersangkutan. Faktor karakteristik seseorang digunakan untuk
menggambarkan fakta bahwa tiap individu mempunyai tingkat pemahaman yang berbeda-
beda. Hal ini disebabkan karena adanya ciri-ciri individu yang berbeda-beda. Oleh sebab itu
dalam memberikan informasi hendaknya dilakukan dengan memperhatikan kondisi penerima
informasi dan teknik penyampaian informasi itu sendiri.
Menurut Depkes RI (1999), dalam melaksanakan Penyuluhan Kesehatan Masyarakat
Rumah Sakit (PKMRS) dapat menggunakan metode yang beragam, seperti ceramah dan
konseling serta menggunakan media penyuluhan seperti poster, leaflet, video/film, kaset
suara, flipchart dan pameran. Dengan metode dan media penyuluhan yang beragam
diharapkan dapat lebih meningkatkan pemahaman sasaran (pasien) terhadap informasi yang
disampaikan
Menurut hafiz 2010, menyatakan bahwa masih banyak penderita diabetes mellitus
yang kurang pengetahuan tentang penyakit tersebut, sehingga penderita bersikap tidak setuju
dengan apa yang dianjurkan oleh dokter. Faktor lainnya yang mempengaruhi kekurang
patuhan penderita adalah kurangnya dukungan keluarga dalam memberi bantuan dan
dorongan kepada penderita dalam menjalani pengobatandi puskesmas sesuai yang dianjurkan
oleh dokter. Hal tersebut diatas memiliki peran penting bagi pasienagar konsisten dalam
menjalani terapi.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa bila faktor predisposisi, dukungan dan dorongan telah
dimiliki dan dikuasai oleh penderita diabetes, maka tingkat kepatuhan akan tinggi sehingga
penderita diabetes mellitus patuh baik dalam menelan obat diabetes maupun kontrol ke
dokter. Sebaliknya, bila faktor-faktor tersebut tidak dimiliki oleh penderita, maka tingkat
kepatuhan akan rendah. .(hafis,2010)
Oleh karena itu, perlu ditingkatkan program penyuluhan kesehatan masyarakat yang
dapat dilakukan dengan berbagai macam media serta ditambahkan penyuluhan-penyuluhan
ditingkat yang lebih khusus, agar masyarakat memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi
tentang penyakit diabetes mellitus. Kepribadian masyarakat juga berperan dalam hal
menyikapi penyakit ini dengan menyetujui segala anjuran yang diberikan oleh dokter. Pada
hal ini, diperlukan juga dukungan keluarga dalam menasehati dan mengawasi penderita
menelan obat serta membantu penderita untuk pergi kontrol ke puskesmas.(hafis,2010)
Melihat pentingnya suatu Kepatuhan minum obat pada Pasien diabetes maka penting
untuk menyadarkan kepada pasien dan keluarga untuk menyadari penyakit yang dialami nya
, hal ini tidak seharusnya ditakuti oleh penderita Diabetes mellitus karena dengan pengobatan
yang baik dan kepatuhan minum obat dan control penyakit kedokter atau rumah sakit maka
komplikasi dapat diminimalisir dan kualitas hidup dapat ditingkatkan .
6.Rerata waktu

Berdasarkan table V.4 hasil penelitian dari hasil 28 responden didapatkan rata- rata
waktu terjadinya adalah sebesar 20th . hasil penelitian ini juga didukung oleh gayatri 2011
yang menyatakan bahwa waktu terjadinya GGK pasien dm adalah diatas 5 tahun . lamanya
waktu terjadinya ini dapat di dukung oleh beberapa factor seperti usia, jenis kelamin , gaya
hidup dan kepatuhan minum obat .
BAB VII

PENUTUP

VII.1 Kesimpulan

Dari hasil penelitian di Hemodialis RSUD Sidoarjo ini didapatkan kesimpulan

sebagai berikut:

1. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa usia responden 51-60 tahun merupakan usia

terbanyak GGK dengan Riwayat DM .

2. Didapatkan jeni kelamin wanita merupakan responden terbanyak yaitu 20 responden

atau 71,43% yang menderita GGK dengan riwayat DM

3. Pada tingkat pendidikan didapatkan pendidikan SD merupakan Pendidikan terbanyak

yaitu 10 responden atau 36%.

4. Hipertensi merupakan penyakit penyerta terbanyak pada responden dir RSUD

Sidoarjo yaitu 18 responden atau 65%.

5. Rata Rata lama waktu terjadinya GGK yaitu sebesar 20th.

6. Didapatkanya Pengaruh antara Kepatuhan Minum obat anti diabetic dengan waktu

lamanya terjadi GGK pada Pasien hemodialis RSUD Sidoarjo.


VII.2 Saran

Saran yang dapat peneliti ajukan antara lain:

1. Perlunya penelitian lebih lanjut mengenai judul yang penulis gunakan ini sehingga ke

depan dapat diperbaharui kemungkinan lain dan faktor resiko atau besar

kemungkinannya.

2. Perlunya penelitian dengan waktu yang lebih panjang dan dengan jumlah sampel yang

lebih banyak, sehingga didapatkan hasil yang lebih bermakna.

3. Pentingnya edukasi pasein DM supaya Patuh MInum obat sehingga komplikasi DM

lebih di minimalisir lagi

4. Pentingnya Penyuluhan dan edukasi pasien lebih supaya pasien lebih mengenal

Penyakit yang dideritanya