Anda di halaman 1dari 22

Kisah Nusaibah Binti Ka'ab Perisai Rasulullah

Pada hari itu Nusaibah sedang berada di dapur. Suaminya, Said sedang istirahat di

kamar. Tiba-tiba terdengar suara bagaikan gunung-gunung batu yang runtuh dari

tentara musuh. Karna beberapa hari belakangan ketegangan memuncak di daerah

Gunung Uhud.

Dengan cepat, Nusaibah meninggalkan apa yang sedang dilakukannya dan masuk ke

kamar. Suamiku aku mendengar suara aneh menuju ke Uhud. Mungkin orang-orang

kafir telah menyerang. Dia segera bangun dan memakai pakaian perangnya.

Sewaktu dia menyiapkan kuda, Nusaibah menghampiri. Dia memberikankan sebilah

pedang kepada Said.

Suamiku, bawalah pedang ini. Jangan pulang sebelum menang.

Said memandang wajah istrinya. Setelah mendengar perkataannya seperti itu, tak

pernah ada keraguan padanya untuk pergi ke medan perang. Dengan sigap dinaikinya

kuda itu. Di satu sudut yang lain, Rasulullah melihatnya dan tersenyum kepadanya.

Senyum yang tulus itu semakin mengobarkan keberanian Said.

Di rumah, Nusaibah duduk dengan gelisah. Kedua anaknya, Amar yang baru berusia

15 tahun dan Saad yang dua tahun lebih muda, memperhatikan ibunya dengan

pandangan cemas. Ketika itulah tiba-tiba muncul seorang penunggang kuda yang

nampaknya sangat gugup.

Wahai Nusaibah, salam dari Rasulullah, berkata si penunggang kuda, Suamimu,

Said baru saja gugur di medan perang. Beliau syahid Nusaibah tertunduk

sebentar, Inna lillah.. gumamnya, Suamiku telah menang perang. Terima kasih,

ya Allah.

Setelah pemberi khabar itu meninggalkan tempat itu, Nusaibah memanggil

Amar. Ia tersenyum kepadanya di tengah tangis yang tertahan, Amar, kau lihat Ibu

menangis? Ini bukan air mata sedih mendengar ayahmu telah syahid. Aku sedih
karna tidak memiliki apa-apa lagi untuk diberikan pagi para pejuang Nabi. Maukah

engkau melihat ibumu bahagia?

Amar mengangguk. Hatinya berdebar-debar. Ambilah kuda di kandang dan bawalah

tombak. Bertempurlah bersama Nabi hingga kaum kafir kalah.

Mata Amar bersinar-sinar. Terima kasih, Ibu. Inilah yang aku tunggu sejak dari

tadi. Aku ragu-ragu seandainya Ibu tidak memberi peluang kepadaku untuk membela

agama Allah.

Putra Nusaibah yang berbadan kurus itu pun terus menaiki kudanya mengikut jejak

sang ayah. Tidak terlihat ketakutan sedikitpun dalam wajahnya. Di hadapan

Rasulullah, ia memperkenalkan diri. Ya Rasulullah, aku Amar bin Said. Aku datang

untuk menggantikan ayahku yang telah gugur.

Rasul dengan terharu memeluk anak muda itu. Engkau adalah pemuda Islam yang

sejati, Amar. Allah memberkatimu.

Hari itu pertempuran berlalu cepat. Pertumpahan darah berlangsung hingga sore.

Pagi-pagi seorang utusan pasukan Islam berangkat dari perkemahan mereka menuju

ke rumah Nusaibah. Setibanya di sana, wanita yang tabah itu sedang menunggu

berita, Ada kabar apakah gerangannya? serunya gementar ketika sang utusan

belum lagi membuka suaranya, Apakah anakku gugur?

Utusan itu menunduk sedih, Betul.

Inna lillah. Nusaibah bergumam kecil. Ia menangis.

Kau berduka, ya Ummu Amar?

Nusaibah menggeleng kecil. Tidak, aku gembira. Hanya aku sedih, siapa lagi yang

akan kuberangkatkan? Saad masih anak-anak.

Mendengar itu, Saad yang sedang berada tepat di samping ibunya, menyela, Ibu,

jangan remehkan aku. Jika engkau izinkan, akan aku tunjukkan bahwa Saad adalah

putra seorang ayah yang gagah berani.


Nusaibah terperanjat. Ia memandang putranya. Kau tidak takut, nak?

Saad yang sudah meloncat ke atas kudanya menggeleng yakin. Sebuah senyum

terhias di wajahnya. Ketika Nusaibah dengan besar hati melambaikan tangannya,

Saad hilang bersama utusan itu. Di arena pertempuran, Saad betul-betul

menunjukkan kemampuannya. Pemuda berusia 13 tahun itu telah banyak

menghempaskan banyak nyawa orang kafir. Hingga akhirnya tibalah saat itu, yakni

ketika sebilah anak panah menancap di dadanya.

Saad tersungkur mencium bumi dan menyerukan, Allahu akbar! Kembali Rasulullah

memberangkatkan utusan ke rumah Nusaibah. Mendengar berita kematian itu,

Nusaibah merinding bulu tengkuknya. Hai utusan, ujarnya, Kau saksikan sendiri

aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Hanya masih tersisa diri yang tua ini. Untuk

itu izinkanlah aku ikut bersamamu ke medan perang.

Sang utusan mengerutkan keningnya. Tapi engkau wanita, ya Ibu.

Nusaibah tersinggung, Engkau meremehkan aku karna aku wanita? Apakah wanita

tidak ingin juga masuk syurga melalui jihad?

Nusaibah tidak menunggu jawapan dari utusan tersebut. Ia bergegas menghadap

Rasulullah dengan kuda yang ada. Tiba di sana, Rasulullah mendengarkan semua

perkataan Nusaibah. Setelah itu, Rasulullah pun berkata dengan senyum. Nusaibah

yang dimuliakan Allah. Belum masanya wanita mengangkat senjata. Untuk sementara

engkau kumpulkan saja obat-obatan dan rawatlah tentara yang luka-luka. Pahalanya

sama dengan yang bertempur.

Mendengar penjelasan Nabi demikian, Nusaibah pun segera membawa obat-obatan

dan berangkatlah ke tengah pasukan yang sedang bertempur. Ketika dilihatnya Nabi

terjatuh dari kudanya akibat keningnya terserempet anak panah musuh, Nusaibah

tidak dapat menahan diri lagi. Ia bangkit dengan gagah berani. Diambilnya pedang

perajurit yang tewas itu. Dinaiki kudanya. Lantas bagaikan singa betina, ia
mengamuk. Musuh banyak yang terbirit-birit menghindarinya. Puluhan jiwa orang

kafir pun tumbang. Hingga pada suatu waktu seorang kafir menghadangnya dari

belakang, dan menebas putus lengan kirinya. Ia terjatuh terinjak-injak kuda.

Peperangan terus saja berjalan. Medan pertempuran makin menjauh, sehingga

Nusaibah teronggok sendirian. Tiba-tiba Ibnu Masud menunggang kudanya,

mengawasi kalau-kalau ada mangsa yang boleh ditolongnya. Sahabat itu, begitu

melihat sekujur tubuh bergerak-gerak dengan susah, segera mendekatinya.

Dipercikannya air ke muka tubuh itu. Akhirnya Ibnu Masud mengenalinya, Isteri

Said-kah engkau?

Nusaibah samar-sama memerhatikan penolongnya. Lalu bertanya, bagaimana dengan

Rasulullah? Selamatkah baginda?

Baginda tidak kurang suatu apapun

Engkau Ibnu Masud, bukan? Pinjamkan kuda dan senjatamu kepadaku.

Engkau masih luka parah, Nusaibah.

Engkau mau menghalangi aku membela Rasulullah?

Terpaksa Ibnu Masud menyerahkan kuda dan senjatanya. Dengan susah payah,

Nusaibah menaiki kuda itu, lalu menderapkannya menuju ke pertempuran. Banyak

musuh yang dijungkirbalikannya . Namun, kerana tangannya sudah putus, akhirnya

lehernya juga terbabat putus. Gugurlah wanita itu ke atas pasir. Darahnya

membasahi tanah yang dicintainya.

Tiba-tiba langit berubah hitam mendung. Padahal tadinya cerah terang benderang.

Pertempuran terhenti sejenak. Rasul kemudian berkata kepada para sahabatnya,

Kalian lihat langit tiba-tiba menghitam bukan? Itu adalah bayangan para malaikat

yang beribu-ribu jumlahnya. Mereka berduyun-duyun menyambut kedatangan arwah

Nusaibah, wanita yang perkasa.


Nusaibah Binti Ka'ab Perisai Rasulullah
Thursday, 01 Jan 1970

Kesetiaan sahabat Nabi Muhammad SAW dari golongan wanita atau sahabiyah sudah

tidak diragukan lagi. Mereka rela berkorban mempertaruhkan nyawa bahkan

hartanya demi membantu Nabi Muhammad SAW menyebarkan dakwah.

Salah satunya adalah Nusaibah binti Ka'ab, sahabiyah dari golongan Anshar.

Nusaibah rela kehilangan nyawanya bahkan sebelumnya rela ditinggal suami dan

anaknya agar bisa membantu Rasulullah berjihad.

Seperti tertulis di Perempuan Hebat Sepanjang Masa, ketika itu Nusaibah sedang

berada di dapur. Suaminya, Said, sedang tidur di bilik tidur. Tiba-tiba terdengar

suara gemuruh bagaikan gunung-gunung batu yang runtuh. Nusaibah mengira, itu

pasti tentara musuh karena memang beberapa hari belakangan ketegangan

memuncak di kawasan Gunung Uhud.

Setelah mendengar peristiwa itu, dia bergegas, meninggalkan apa yang sedang

dilakukannya, dan masuk ke bilik. Suaminya yang sedang tertidur dengan halus dan

lembut dikejutkannya.

"Suamiku tersayang," ujarnya, "Aku mendengar suara pelik menuju ke Uhud.

Mungkin orang-orang kafir telah menyerang."

Said yang masih belum sadar sepenuhnya langsung tersentak. Dia menyesal mengapa

bukan dia yang mendengar suara itu, malah istrinya.

Dia segera bangun dan mengenakan pakaian perangnya. Sewaktu dia menyiapkan

kuda, Nusaibah menghampiri. Dia menyodorkan sebilah pedang kepada Said.


"Suamiku, bawalah pedang ini. Jangan pulang sebelum menang," pintanya dengan

haru.

Said memandang wajah istrinya. Setelah mendengar perkataannya seperti itu, tak

pernah ada keraguan padanya untuk pergi ke medan perang.

Dengan sigap dinaikinya kuda itu, lalu terdengarlah derap suara langkah kuda menuju

ke utara. Said langsung terjun ke tengah medan pertempuran yang sedang

berkecamuk. Di satu sudut yang lain, Rasulullah melihatnya dan tersenyum

kepadanya.

Senyum yang tulus itu semakin mengobarkan keberanian Said. Di rumah, Nusaibah

duduk dengan gelisah. Kedua anaknya, Amar yang baru berusia 15 tahun dan Saad

yang dua tahun lebih muda, memperhatikan ibunya dengan pandangan cemas.

Ketika itulah tiba-tiba muncul seorang penunggang kuda yang tampaknya sangat

gugup. "Ibu, salam dari Rasulullah," berkata si penunggang kuda, "Suami Ibu, Said,

baru saja gugur di medan perang. Beliau syahid."

Nusaibah tertunduk sebentar, "Innalillah...," gumamnya, "Suamiku telah menang

perang. Terima kasih ya Allah."

Setelah pemberi kabar itu, Nusaibah memanggil Amar. Ia tersenyum kepadanya di

tengah tangis yang tertahan, "Amar, kau lihat Ibu menangis? Ini bukan air mata

sedih mendengar ayahmu telah syahid. Aku sedih karena tidak memiliki apa-apa lagi

untuk diberikan bagi para pejuang Nabi. Maukah engkau melihat ibumu bahagia?"

Amar mengangguk. Hatinya berdebar-debar. "Ambilah kuda di kandang dan bawalah


tombak. Bertempurlah bersama Nabi."

Mata Amar bersinar-sinar. "Terima kasih, Ibu. Inilah yang aku tunggu sejak tadi.

Aku ragu-ragu seandainya Ibu tidak memberi peluang kepadaku untuk membela

agama Allah."

Putra Nusaibah yang berbadan kurus itu pun terus menderapkan kudanya mengikut

jejak sang ayah. Tidak terlihat ketakutan sedikit pun dalam wajahnya.

Di hadapan Rasulullah, ia memperkenalkan diri. "Ya Rasulullah, aku Amar bin Said.

Aku datang untuk menggantikan ayahku yang telah gugur."

Rasulullah dengan terharu memeluk anak muda itu. "Engkau adalah pemuda Islam

yang sejati, Amar. Allah memberkatimu."

Hari itu pertempuran berlalu cepat. Pertumpahan darah berlangsung hingga petang.

Pagi-pagi seorang utusan pasukan Islam berangkat dari perkemahan mereka menuju

ke rumah Nusaibah.

Setibanya di sana, wanita yang tabah itu sedang termangu-mangu menunggu berita.

"Ada kabar apakah gerangannya?" serunya gementar ketika sang utusan belum lagi

membuka suaranya, "Apakah anakku gugur?"

Utusan itu menunduk sedih, "Betul."

Nusaibah meremang bulu tengkuknya. "Hai utusan," ujarnya, "Kausaksikan sendiri

aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Hanya masih tersisa diri yang tua ini. Untuk

itu, izinkanlah aku ikut bersamamu ke medan perang."


Sang utusan mengerutkan keningnya. "Tapi, engkau wanita, ya Ibu."

Nusaibah tersinggung, "Engkau meremehkan aku karena aku wanita? Apakah wanita

tidak ingin juga masuk surga melalui jihad?"

Nusaibah tidak menunggu jawaban dari utusan tersebut. Ia bergegas menghadap

Rasulullah dengan kuda yang ada.

Tiba di sana, Rasulullah mendengarkan semua perkataan Nusaibah. Setelah itu,

Rasulullah pun berkata dengan senyum. Beliau SAW meminta Nusaibah bergabung

dengan para Muslimah yang merawat pasukan yang terluka.

"Pahalanya sama dengan yang bertempur," katanya.

Mendengar penjelasan Nabi demikian, Nusaibah pun segera menenteng obat-obatan

dan berangkatlah ke tengah pasukan yang sedang bertempur.

Dirawatnya mereka yang luka-luka dengan cermat. Pada suatu saat, ketika ia sedang

menunduk memberi minum seorang prajurit muda yang luka-luka, tiba-tiba terpercik

darah di rambutnya. Ia memandang kepala seorang tentera Islam tergolek terbabat

senjata orang kafir.

Di sini timbul kemarahan Nusaibah menyaksikan kekejaman ini. Apalagi, ketika

dilihatnya Nabi terdesak karena serangan musuh, Nusaibah tidak dapat menahan

diri lagi.

Ia bangkit dengan gagah berani dan diambilnya pedang perajurit yang tewas itu. Dia

menaiki kudanya. Lalu, bagaikan singa betina, ia mengamuk.


Musuh banyak yang terbirit-birit menghindarinya. Puluhan jiwa musuh Allah pun

tumbang. Hingga pada suatu waktu seorang musuh mengendap dari belakang dan

melukainya. Ia tercatat menderita tak kurang 12 luka demi menjadi perisai Nabi

SAW.

Selain Padang Uhud yang menjadi saksi kehebatannya, beberapa jihad, seperti

Hudaibiyah, Perang Khaibar, Perang Hunain, dan Perang Yamamah tak pernah absen

diikuti Nusaibah. Dalam berbagai pertempuran itu, Nusaibah tak hanya membantu

mengurus logistik dan merawat orang-orang yang terluka, tapi juga memanggul

senjata menyambut serangan musuh.

Setelah Rasulullah SAW wafat, sebagian kaum Muslimin kembali murtad dan enggan

berzakat. Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq segera membentuk pasukan untuk

memerangi mereka. Abu Bakar mengirim surat kepada Musailamah Al-Kadzdzab dan

menunjuk Habib, putra Nusaibah, sebagai utusannya.

Namun, Musailamah menyiksa Habib dengan memotong anggota tubuhnya satu per

satu sampai syahid. Meninggalnya Habib meninggalkan luka yang dalam di hati

Nusaibah. Pada Perang Yamamah, Nusaibah dan putranya, Abdullah, ikut memerangi

Musailamah hingga tewas di tangan mereka berdua. Beberapa tahun setelah Perang

Yamamah, Nusaibah meninggal dunia. c62 ed: Hafidz Muftisany

Nusaibah binti Ka'ab, Si Perisai Rasulullah

Ummu Imarah adalah panggilan yang ditujukan untuk Nusaibah binti Ka'ab, ia adalah

seorang sahabat Rasulullah dari kalangan wanita yang telah mengukirkan banyak jasa

untuk dakwah Islam.

Nusaibah binti Ka'ab adalah wanita yang tangguh lagi pemberani, ia adalah lambang
keberanian yang abadi. Kisahnya yang paling dikenal adalah ketika umat Islam

berperang melawan orang-orang kafir dalam perang Uhud.

Pada saat itu Rasulullah tengah berdiri di puncak Uhud dan pada saat itu pula para

pasukan musuh tengah mendekat ke arah Rasulullah untuk menyerang beliau.

Nusaibah binti Ka'ab yang melihat hal itu lalu mencoba melindungi Rasulullah dengan

mengibas-ngibaskan pedangnya untuk menghalau anak panah yang mengarah kepada

Rasulullah.

Ia berperang dengan sungguh-sungguh dan penuh keberanian, bahkan demi

melindungi Rasulullah ia tidak memperdulikan keselamatan dirinya sendiri. Meskipun

pada saat itu ia menderita luka-luka di tubuhnya, namun ia tetap berusaha

melindungi Rasulullah SAW.

Ketika melihat Nusaibah binti Ka'ab terluka, beliau kemudian bersabda,

"Wahai Abdullah (putra Nusaibah), balutlah luka ibumu! Ya Allah, jadikanlah

Nusaibah dan anaknya sebagai sahabatku di dalam surga."

Mendengar do'a dari Rasulullah, semangatnya justru menjadi semakin bergejolak

dan tidak lagi memperdulikan rasa sakit ditubuhnya akibat luka tersebut dan terus

berperang untuk membela agama Allah dan Rasul-Nya, Nusaibah berkata, "Aku telah

meninggalkan urusan duniawi".

Nusaibah pun mengisahkan perjuangannya dalam pertempuran Uhud, "...saya pergi ke

Uhud dan melihat apa yang dilakukan orang. Pada waktu itu saya membawa tempat

air. Kemudian saya sampai kepada Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam yang

berada di tengah-tengah para sahabat. Ketika kaum muslimin mengalami kekalahan,

saya melindungi Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam, kemudian ikut serta di dalam
medan pertempuran. Saya berusaha melindungi Rasulullah Shallallahu alaihi

Wassalam dengan pedang, saya juga menggunakan panah sehingga akhirnya saya

terluka."

Nusaibah adalah juga merupakan wanita yang sabar, ia selalu mementingkan

kepentingan orang lain. Contoh dari kesabarannya adalah ketika ia menerima kabar

bahwa salah seorang putranya syahid, ia tidak bersedih tapi justru ia malah bangga

karena ia yakin bahwa Allah akan memuliakan anaknya di akhirat kelak.

Kisah Sahabat Nabi: Nusaibah binti Ka'ab, Perisai Rasulullah

Red: Chairul Akhmad

Blogspot.com

Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Nusaibah binti Ka'ab Al-Anshariyah adalah seorang sahabat

wanita yang agung lagi pemberani. Banyak jasa telah ia ukir dalam perjuangan

dakwah Islam. Ummu Imarah, demikian ia biasa dipanggil, adalah salah satu contoh

keberanian yang abadi.

Ia merupakan sosok pahlawan yang tidak pernah absen melaksanakan kewajiban

bilamana ada panggilan untuknya. Semua target perjuangannya ditujukan untuk


kemuliaan dunia dan akhirat.

Ummu Imarah adalah seorang sahabat wanita yang agung. Ia termasuk satu dari dua

wanita yang bergabung dengan 70 orang laki-laki Anshar yang hendak berbaiat

kepada Rasulullah dalam Baiat Aqabah Kedua. Pada waktu itu, ia berbaiat bersama

suaminya, Zaid bin Ashim, dan dua orang putranya.

Kisah kepahlawanan Nusaibah yang paling dikenang sepanjang sejarah adalah pada

saat Perang Uhud, di mana ia dengan segenap keberaniannya membela dan

melindungi Rasulullah.

Pada perang itu, Nusaibah bergabung dengan pasukan Islam untuk mengemban tugas

penting di bidang logistik dan medis. Bersama para wanita lainnya, Nusaibah ikut

memasok air kepada para prajurit Muslim dan mengobati mereka yang terluka.

Ketika kaum Muslimin dilanda kekacauan karena para pemanah di atas bukit

melanggar perintah Rasulullah, nyawa beliau berada dalam bahaya. Ketika melihat

Rasulullah menangkis berbagai serangan musuh sendirian, Nusaibah segera

mempersenjatai dirinya dan bergabung dengan yang lainnya membentuk pertahanan

untuk melindungi beliau.

Dalam berbagai riwayat disebutkan, bahwa ketika itu Nusaibah berperang penuh

keberanian dan tidak menghiraukan diri sendiri ketika membela Rasulullah. Saat itu,

Nusaibah menderita luka-luka di sekujur tubuhnya. Sedikitnya ada sekitar 12 luka di

tubuhnya, dengan luka di leher yang paling parah. Namun hebatnya, Nusaibah tidak

pernah mengeluh, mengadu, atau bersedih.

Ketika Rasulullah melihat Nusaibah terluka, beliau bersabda, "Wahai Abdullah

(putra Nusaibah), balutlah luka ibumu! Ya Allah, jadikanlah Nusaibah dan anaknya
sebagai sahabatku di dalam surga."

Mendengar doa Rasulullah, Nusaibah tidak lagi menghiraukan luka di tubuhnya dan

terus berperang, membela Rasulullah dan agama Allah. "Aku telah meninggalkan

urusan duniawi," ujarnya.

Dalam sejarah Islam, Nusaibah juga disebut-sebut sebagai seorang wanita yang

memiliki kesabaran luar biasa dan selalu mendahulukan kepentingan orang lain.

Ketika salah seorang putranya syahid dalam sebuah pertempuran, Nusaibah

menerimanya dengan penuh keyakinan bahwa putranya mendapatkan kedudukan

tinggi di sisi Allah. Ia menerima berita kematian anaknya dengan penuh serta

kebanggaan.

Selain Perang Uhud, Nusaibah bersama suami dan putra-putranya juga ikut dalam

peristiwa Hudaibiyah, Perang Khaibar, Perang Hunain dan Perang Yamamah. Dalam

berbagai pertempuran itu, Nusaibah tidak hanya membantu mengurus logistik dan

merawat orang-orang yang terluka, tapi juga memanggul senjata menyambut

serangan musuh.

Setelah Rasulullah SAW wafat, sebagian kaum Muslimin kembali murtad dan enggan

berzakat. Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq segera membentuk pasukan untuk

memerangi mereka. Abu Bakar mengirim surat kepada Musailamah Al-Kadzdzab dan

menunjuk Habib, putra Nusaibah, sebagai utusannya.

Namun, Musailamah menyiksa Habib dengan memotong anggota tubuhnya satu

persatu sampai syahid. Meninggalnya Habib meninggalkan luka yang dalam di hati

Nusaibah. Pada Perang Yamamah, Nusaibah dan putranya, Abdullah, ikut memerangi

Musailamah hingga tewas di tangan mereka berdua.


Beberapa tahun setelah Perang Yamamah, Nusaibah meninggal dunia. Semoga Allah

mencurahkan rahmat kepada Nusaibah binti Ka'ab Al-Anshariyah dengan curahan

rahmat-Nya yang luas, menyambutnya dengan keridhaan, serta memuliakan

kedudukannya.

Nusaibah binti Kaab, ra, Perempuan Perkasa "Sang Perisai

Rasulullah"

Posted by Hisyam Ad dien on 12.34 // 0 komentar

syahidah.web.id - Beliau dikenal dengan julukan Ummu

Umara atau Ummu Imarah. Beliau adalah anak Kaab bin Amr dan Rabbab binti

Abdullah bin Habib. Ia memiliki dua orang saudara yaitu Abdullah bin Kaab dan Abu

Laila Abdurrahman bin Kaab.

Nusaibah menikah dengan Zaid bin Asim. Dari pernikahannya, ia memiliki dua orang

anak yaitu Abdullah dan Habib. Pada suatu hari, Zaid pulang dengan gembira. Zaid

bercerita, bahwa ia baru saja mendengar kabar dari Mush'ab bin Umair, seorang

penduduk Mekkah utusan Muhammad bin Abdullah, tentang bangkitnya seorang

Rasul di kalangan kaum quraiys. Ia bercerita tentang Muhammad saw, sang Rasul

yang tetap tegar berda'wah walaupun dimusuhi kaumnya. Muhammad juga tidak

tergiur dengan harta dan kedudukan yang ditawarkan kepadanya.


Cerita itu sangat menyentuh hati Zaid.Kemudian Zaid berkata,"Demi Allah, saya

tidak hanya heran mendengar cerita itu, tetapi saya beriman dan bersaksi bahwa

tidak ada ilah selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah. Andaikata kedua

telingamu mendengarkan cerita Mush'ab tentang Muhammad dan da'wahnya, niscaya

engkau tidak akan mengingkarinya".

Mendengar perkataan suaminya, hati Nusaibah tergerak. Kemudian dengan penuh

keharuan ia berkata : "Saya beriman kepada Allah sebagai ilah dan Muhammad

sebagai nabi." Kemudian keduanya berjanji untuk melakukan bai'at pada musim haji

yang akan tiba beberapa saat kemudian.

Saat musim haji tiba, rombongan dari Madinah datang ke Mekkah. Mereka kemudian

dipertemukan oleh Mush'ab dengan Rasulullah dan melakukan bai'at. Nusaibah dan

suaminya termasuk orang yang ikut berbai'at kepada Nabi dalam keheningan malam

di Aqabah. Setelah peristiwa itu, Nusaibah dan suaminya beserta rombongan dari

Madinah kembali pulang.

Beberapa saat kemudian, Rasulullah berhijrah ke Madinah dan menjadikan Madinah

sebagai pusat da'wah dan pemerintahan. Nusaibah, suami dan kedua putranya adalah

orang-orang yang senantiasa istiqomah dengan keimanan mereka dan membantu

da'wah Rasulullah.

Saat Perang Badar, Abdullah putranya ikut berjuang dengan gagah berani

menegakkan panji-panji Islam sampai umat Islam mendapat kemenangan. Tak lama

setelah kembalinya pasukan dari Perang badar, Zaid meninggal dunia. Nusaibah
kemudian dilamar oleh Ghaziyah bin Amr. Dari pernikahannya dengan Ghaziyah,

Nusaibah mempunyai dua orang anak yaitu Tamim dan Khawlah. Kesibukan Nusaibah

mengurus rumah tangga, suami dan anak-anaknya tidak membuatnya mengurangi

perannya dalam da'wah dan perjuangan umat Islam.

Nusaibah bersama suami dan putra-putranya pun ikut dalam berbagai peristiwa

penting, seperti Perang Uhud, Peristiwa Hudaybiah, Perang Khaibar, Perang Hunain

dan Perang Yamamah. Dalam berbagai pertempuran itu, Nusaibah tidak hanya

membantu mengurus logistik dan merawat orang-orang yang terluka. Lebih dari itu,

ia juga terjun ke medan perang dan mengangkat senjata untuk melindungi Rasulullah

saw hingga Nusaibah terkenal dengan julukan 'Sang Perisai Rasulullah SAW'.

Waktu perang Uhud, Nusaibah keluar memberi minum kepada pasukan Muslimin yang

kehausan dan merawat mereka yang mendapat luka. Dan ketika tentera Islam

terlalaikan oleh ghanimah yang ditinggalkan musuh lalu terdesak dan lari dari medan

perang hingga cuma ada seratus orang saja yang bertahan,Nusaibah pun menjadi

salah seorang yang menghunuskan pedang serta memakai perisai untuk melindungi

Rasulullah dari sasaran musuh. Nusaibah saat itu berperang dengan gagah berani di

sisi Rasulullah dan melindungi beliau. Nusaibah tetap siaga, lincah bergerak ke sana

ke mari bersama puteranya. Bahkan dikatakan sampai para sahabat Rasul SAW malu

menyadari bahwa mereka kalah tegar, kalah gagah dan kalah perkasa pada waktu itu

bila dibandingkan beliau yang perempuan! Masya Allah!

Pada perang ini Nusaibah menderita dua belas luka pada tubuhnya dengan luka paling

parah di bagian lehernya. Kesungguhan Nusaibah melindungi Rasulullah begitu hebat,

hingga Rasulullah berkata, Aku tidak menoleh ke kiri dan ke kanan kecuali melihat
Ummu Imarah (Nusaibah) berperang dihadapanku. Ketika itu, anaknya Abdullah

luka parah ditikam musuh. Dia mengikat luka anaknya lalu berkata, Bangun wahai

anakku. Anaknya itu terus bangun dan melawan tentera musuh.

Rasulullah yang melihat peristiwa itu merasa terharu. Wahai Ummu Imarah,

siapakah yang mampu berbuat seperti mana yang engkau lakukan? kata Rasulullah

kepadanya. Ketika tentera musuh yang menikam anaknya itu menghampiri, Rasulullah

berkata kepadanya, Ini dia orang yang telah melukakan anakmu. Nusaibah

menghampiri orang itu dan menikam betisnya dengan pedang. Ya, Ummu Imarah!

Engkau berjaya membalasnya, kata Rasulullah sambil tersenyum melihat

kesungguhan Nusaibah.

Kemudian, Nusaibah dengan bantuan beberapa tentera Muslimin berjaya membunuh

orang itu. Melihat keadaan ini, Rasulullah berkata, Segala puji bagi Allah yang telah

menenangkanmu dan menggembirakan hatimu daripada musuhmu serta

memperlihatkan balas dendammu dihadapanmu. Ketika Perang Uhud ini, Nusaibah

mengalami luka yang banyak, terutamanya di bahagian bahu. Rasulullah memeriksa

lukanya lalu meminta Abdullah, anaknya untuk mengikat luka tersebut sambil

berkata, Semoga Allah sentiasa memberkati dan merahmati kamu semua. Nusaibah

mendengar kata-kata Rasulullah itu. Ya Rasulullah! Mohonlah kepada Allah agar

kami boleh menemanimu di syurga nanti, kata Nusaibah. Maka Rasulullah pun

berdoa, Ya Allah! Jadikanlah mereka semua ini penemanku di syurga kelak. Aku

tidak akan mengeluh setiap musibah yang menimpa diriku di dunia ini, kata

Nusaibah sebagai membalas.


Setelah Rasulullah saw meninggal dunia, sebagian kaum muslimin kembali murtad dan

enggan berzakat. Abu Bakar a Ash shiddiq yang menjadi khalifah pada waktu itu

segera membentuk pasukan untuk memerangi mereka. Abu Bakar mengirim surat

kepada Musailamah dan menunjuk Habib sebagai utusannya. Maka bersegeralah

Ummu Imarah mendatangi Abu Bakar dan meminta ijin kepada beliau utk begabung

bersama pasukan yg akan memerangi orang-orang yg murtad dari Islam. Abu Bakar

ash-Shidiq bekata kepadanya Sungguh aku telah mengakui peranmu di dalam perang

Islam maka berangkatlah dengan nama Allah. Maka beliau berangkat bersama

putranya yg bernama Hubaib bin Zaid bin Ashim. Di dalam perang ini Ummu Imarah

mendapatkan ujian yg berat. Pada perang tesebut putranya tertawan oleh

Musailamah al-Kadzab dan ia disiksa dengan bebagai macam siksaan agar mau

mengakui kenabian Musailamah al-Kadzab. Akan tetapi bagi putra Ummu imarah yg

telah terbiasa dididik untuk bersabar tatkala berperang dan telah dididik agar

cinta kepada kematian syahid, ia tidak kenal kompromi sekalipun diancam kematian.

Bahkan ketika Musailamah memerintahkan Habib untuk menyatakan bahwa ia adalah

utusan Allah, Habib menolaknya dengan berpura-pura tuli. Inilah dialog antara dia

dgn Musailamah. Kata Musailamah : "Engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah

Rasulullah?". Hubaib berkata : "Ya Musailamah, Engkau bersaksi bahwa aku adalah

Rasulullah? Aku tidak mendengar apa yg kamu katakan itu!". Musailamah pun marah

dan akhirnya menyiksa Habib dengan memotong anggota tubuhnya satu persatu

sampai syahid.

Meninggalnya Habib tentu saja meninggalkan luka yang dalam di hati Nusaibah.

Ummu Imarahpun ikut serta dalam perang Yamamah besama putranya yg lain yaitu

Abdullah. Beliau bertekad utk dapat membunuh Musailamah dgn tangannya sebagai

balasan bagi Musailamah yg telah membunuh Hubaib. Akan tetapi takdir Allah
menghendaki lain yaitu bahwa yg mampu membunuh adalah putra beliau yg satunya

yaitu Abdullah. Ia membalas Musailamah yg telah membunuh saudara kandungnya.

Tatkala membunuh Musailamah Abdullah bekerja sama dengan Wahsyi bin Harb.

Tatkala ummu imarah mengetahui kematian si Thaghut al-Kadzdzab maka beliau pun

bersujud syukur kepada Allah. Ummu Imarah pulang dari peperangan dgn membawa

dua belas luka pada tubuhnya setelah kehilangan satu tangannya dan kehilangan

anaknya yg terakhir yaitu Abdullah. Sungguh kaum muslimin pada masanya

mengetahui kedudukan beliau. Beliau wafat beberapa tahun kemudian setelah

peristiwa Perang Yamamah ini.[][] --------

Sungguh banyak pelajaran yang bisa dipetik dari sosok Nusaibah. Beliau bukanlah

sosok perempuan biasa. Kecintaan beliau pada surga menghantarkannya menjadi

wanita Anshar pertama yang beriman pada Rasulullah, istiqamah berjuang demi

Islam dengan segenap jiwa dan raganya. Sebagai istri, beliau berhasil mendukung

perjuangan suami-suaminya dan menghantarkan mereka pada kesyahidan. Sebagai

ibu, beliau tampil sebagai teladan dan berhasil mencetak generasi terbaik yang

berkontribusi besar pada perjuangan Islam.

Kecerdasan dan ketangguhan beliau nampak dalam setiap aktivitas yang senantiasa

bertarget, dan disiapkan dengan cermat demi mengarah pada tujuan yang jelas,

yakni ditujukan demi keridhaan Allah dan meraih kemenangan Islam. Beliau tak

pernah melewatkan sedikitpun peluang atau kesempatan yang sudah diberikan Allah

untuk mendapatkan pahala, kemuliaan dan syurga firdaus, karena kesadaran bahwa

kesempatan belum tentu datang untuk kedua kalinya.


Beliaupun senantiasa ada di barisan terdepan perjuangan dan seakan tak rela jika

termasuk orang yang tertinggal. Beliau pun seolah tak rela jika posisi/kesempatan

berharga tersebut digantikan oleh orang lain, sehingga nampak beliau tak pernah

memilih atau mengambil bagian yang terringan dari perjuangan.

Beliau juga bukan perempuan cengeng yang mudah lemah menghadapi situasi sesulit

apapun. Hal ini nampak ketika di Perang Uhud beliau terluka dengan 13 tusukan. Yang

saya bayangkan, saat satu demi satu tubuhnya terkena tusukan senjata musuh itu,

tentu beliau merasakan sakit yang amat sangat. Akan tetapi itu tak menjadikan

beliau mundur dari gelanggang peperangan.

Dikatakan bahwa salah satu lukanya sangat parah, yakni luka di bahu/dekat leher

dan memerlukan penyembuhan hingga 1 tahun. Namun pengalamannya ini tak

membuatnya mundur atau kapok untuk berjuang, bahkan sebelum lukanya benar-

benar sembuh, beliau ikut dalam perjuangan-perjuangan lainnya, hingga di perang

Yamamah beliau mendapatkan 11 luka dan lengannya terputus. Subhanallah. Alangkah

besar kecintaannya pada surga, hingga apapun bisa dikalahkannya. Lantas seberapa

besar arti surga bagi kita hingga belum cukup termotivasi untuk maksimal berjuang

demi Islam?[www.syahidah.web.id]

Wallahu`alam bisshawab

Title: Nusaibah binti Kaab, ra, Perempuan Perkasa "Sang Perisai Rasulullah"

Posted by:Hisyam Ad dien

Published :2015-09-01T12:34:00+07:00

Rating: 5
Reviewer: 564953 Reviews

Nusaibah binti Kaab, ra, Perempuan Perkasa "Sang Perisai Rasulullah"

Tags: Kisah , Muslimah , Sosok

Kisah Sahabat Wanita

Hindun binti Uqbah bin Rabiah

Hindun binti Uqbah adalah istri Abu Sofyan, pembesar Mekah. Tadinay ia amat

membeci Islam. Dalam Perang Badar, ia kehilangan ayah, paman dan kakaknya yang

berhasil dibunuh pasukan Muslim. Dalam beberapa peperangan lain, ia pun kehilangan

anak-anaknya. Pada Perang Uhud, Hindun berusaha membalaskan dendamnya dengan

menyuruh budaknya, Wahsyi, untuk membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib. Setelah

Wahsyi berhasil merobohkan Hamzah, Hindun mencincang jenazah paman Rasul yang

mulia itu. Rasulullah Saw dan para sahabatnya sempat sangat murka melihat

perbuatan keji ini sampai Allah SWT menurunkan ayat yang menentramkan mereka.

Kini Rasulullah Saw dan pasukannya berhasil menaklukan Mekah hampir tanpa

kekerasan sama sekali. Disaat itu Hindun binti Uqbah terbuka hatinya. Bersama para

perempuan Quraisy yang lain, Hindun mendatangi Rasululah Saw di Abtah untuk

memberikan sumpah setia kepada Islam. Namun ia ragu apakah Rasulullah Saw mau

memaafkan perbuatannya di masa lalu. Maka ia mengenakan kerudung untuk

menutupi wajahnya. Setelah bertemu Rasulullah Saw, Hindun berkata, "Rasulullah,

puji syukur kepada Allah yang telah memberi kemenangan kepada Dien

(agama/sistem hidup) yang dipilih-Nya bagi diri-Nya sendiri sehingga aku mendapat

manfaat dengan berkahmu."

Hindun mengehla nafas sejenak, kemudian berkata lagi, "Muhammad, aku seorang

wanita yang mengimani Allah dan mengakui Rasul-Nya."

Setelah itu ia membuka kerudungnya seraya berkata, "Aku Hindun binti Uqbah."
Ketika itu Hindun tidah tahu apakah Rasulullah Saw bersedia memaafkannya.

Alangkah leganya ketika ia mendengar Rasulullah Saw bersabda, "Ahlan wa Sahlan,

selamat datang (dalam agama Islam)."

Hindunpun berkata lagi, " Demi Allah, dulu tidak seorangpun di muka bumi ini dari

orang-orang di negeri manapun yang lebih ingin aku lecehkan selain tanah tempatmu

berdiri. Kini tak seorang pun di muka bumi ini yang tanahnya lebih akau ingin

agungkan selain tanah tempatmu berpijak."

Rasulullah Saw menerima pernyataan itu, lalu membacakan ayat-ayat Al Qur'an.

Setelah itu Hindun pulang dan menghancurkan berhala-berhala di rumahnya dengan

kapak sambil berkata, "Kami tertipu olehmu!"

Hindun menjadi muslimah yang baik berkat pemberian maaf yang begitu indah dari

Rasulullah Saw.